Cerita Bijak by kampakfc

VIEWS: 39 PAGES: 60

									Dingin Sehari Tidak Dapat Membekukan Air Sedalam Tiga Kaki




Mencius, yang hidup pada jaman perang kerajaan, terkenal akan pidatonya yang ekspresif
dan keahliannya dalam berdebat. Dia tidak hanya berpengetahuan luas, tetapi juga
berkemampuan tinggi dalam menasihati orang, terutama melalui metafora yang
menakjubkan.

Ji Wang, Raja dari kerajaan Ji, bukanlah seorang yang cerdas. Bahkan, Dia seringkali gagal
dalam mengayomi prinsip dan hukum. Selain itu, Ji Wang lebih suka dengan pejabat-
pejabat yang menyanjungnya.

Mencius sangatlah tidak suka dengan sikap Ji Wang, jadi Dia berterus terang dan
memberitahu Ji Wang, “Tuan, Anda kurang begitu bijak. Saya tinggal di sini hanyalah
sebentar. Anda memperlihatkan kesungguhan untuk menjadi baik ketika saya di sini.
Tetapi, setelah saya pergi, Anda mudah ditipu oleh pejabat busuk. Anda kehilangan
pertimbangan Anda dan mendengarkan kata-kata manis mereka. Meskipun sekarang anda
dapat belajar dengan saya sekarang, namun setelah saya pergi, tak akan ada artinya lagi.
Ia lalu membuat metafora: "Dingin Sehari Tidak Dapat Membekukan Air Sedalam Tiga
Kaki."

Mencius lalu melanjutkan lagi: “Bermain catur hanyalah hal kecil. Tetapi, jika kita tidak
menaruh perhatian, kita akan kalah. Yi Qiu adalah seorang ahli catur. Dia memiliki dua
orang murid. Yang satu senantiasa memperhatikan instruksi dan bimbingan Yi Qiu,
sedangkan yang satu lagi hanya menunggu kesempatan besar datang. Hasilnya, mereka
memiliki kemampuan yang berbeda, bukan karena perbedaan intelektualitas, tetapi
karena perbedaan perhatian yang mereka curahkan."

Di kemudian hari, orang-orang Tionghoa menggunakan pepatah "Dingin Sehari Tidak Dapat
Membekukan Air Sedalam Tiga Kaki." untuk menunjuk pada seseorang yang tidak memiliki
ketekunan belajar atau mudah menyerah dalam mengerjakan tugasnya.

Mau Jadi Katak atau Ayam?

Tsu Chin bertanya-tanya di dalam hatinya, "Apa penyebab seseorang menjadi terhormat
dan mulia?" Lantas dia mengamati orang-orang yang berada di sekitarnya. Agaknya ia
memperoleh jawaban atas pertanyaan tadi, tetapi dia masih ragu-ragu. Oleh sebab itu ia
menghadap Mencius, seorang yang bijaksana, dan bertanya, "Guru, apa penyebab
seseorang menjadi terhormat dan mulia?"
                           "Mengapa kamu tanyakan hal itu kepadaku?" Mancius balik
bertanya. Tzu Chin bungkam, bukan karena dia tiba-tiba menjadi bisu, tetapi karena dia
malu mengemukakan alasan yang sesungguhnya. Untung saja Mencius tidak terus
mendesaknya.

Pertanyaan kedua yang diajukan oleh guru yang bijaksana ini, "Menurut engkau sendiri,
apa yang menyebabkan seseorang terhormat dan mulia?"

"Karena jumlah perkataan yang diucapkannya?" jawab Tzu Chin dalam nada bertanya.
"Tzu Chin, kenapa engkau tidak belajar dari alam?" sahut Mencius.

"Katak bersuara siang dan malam, namun banyak orang menyumpahinya. Selain itu, jumlah
pekataan sang katak yang banyak ternyata tidak menghasilkan perubahan apa-apa"

Tzu Chin manggut-manggut mendengar ajaran sang guru. "Benar juga," pikirnya.

"Tetapi," lanjut Mencius, "ayam jago hanya berkokok sekali saja pada waktu fajar. Apa
akibatnya?”

Tzu Chin tahu jawabannya. Namun sebelum ia sempat melontarkan jawaban, Mencius
sudah terlanjur mendahului," Segala sesuatu di langit dan di bumi mengalami perubahan,
pertanda pagi telah tiba.”

"Jadi?" tanya Tzu Chin. Ia mau tahu kesimpulan ajaran sang guru. "Lho, belum bisa
menyimpulkan?" tanya Mencius heran atas kekurangcerdasan Tzu Chin. Tzu Chin menjadi
kikuk dan serba salah. Oleh sebab itu Mencius tidak memperlama siksaan batin Tzu Chin
karena ketahuan dungunya. Ia segera memberi kesimpulan, "Yang penting bukan
banyaknya perkataan, tetapi perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya."
Istri yang Memenangkan Cinta Suaminya Untuk Selamanya

Xiao Yixin, istri pejabat Negara Liao (916-1125 SM) Ye Lunu, dikenal menampilkan
kebajikan tradisional wanita Tionghoa. Ayahnya adalah kaisar dan ibunya adalah
permaisuri Hutu. Xiao Yixin, adalah seorang wanita cantik luar dan dalam -- dia menikah
pada usia 20 tahun dan disetiap saat menghormati dan mencintai orangtua dan
keluarganya.




                                 Suatu hari, Xiao Yixin sedang mengobrol dengan sepupu
perempuannya- berbicara tentang bagaimana untuk memenangkan cinta suami mereka
selamanya dengan mengusir roh jahat. Xiao Yixin menyarankan, "Etika lebih baik
dibandingkan hal-hal magis" saudarinya bertanya mengapa. Xiao Yixin menjawab, "Jika kita
memperhatikan kultivasi diri dan perilaku yang tepat, jika kita merawat dan menghormati
orang tua dengan baik, jika kita lembut kepada suami dan toleran terhadap anak, kita
akan hidup dengan etika dan sopan santun. Ketika kita mencapai semua ini, kita secara
alami akan memperoleh kebaikan, cinta dan rasa hormat dari suami kita. Jika, di sisi lain,
kita menggunakan cara-cara magis untuk memenangkan hati suami, tidakkah kita akan
merasa bersalah karena kita belum jujur, dan pada saat yang sama akan menipu suami
kita" Mendengar kata-kata Xiao Yixin, sepupunya merasa tersipu dan malu.

Setahun kemudian, suaminya, Ye Lunu, diasingkan karena tuduhan palsu. Karena Xiao
Yixin adalah anak dari kaisar dan orangtuanya tidak ingin ia hidup menderita, mereka ingin
Xiao Yixin menceraikan suaminya. Tapi dia memohon kepada kaisar, "Yang Mulia, terima
kasih karena Ayah dan Ibu ingin mencoba menyelamatkan putrimu dari penderitaan di
pengasingan bersama suami, namun suami dan istri harus mengikuti prinsip-prinsip moral-
mereka harus bersama-sama berdua dalam keadaan baik dan buruk, sampai kematian
menjemput. Saya menikah dengan Ye Lunu ketika saya masih muda, dan kalau saya
sekarang meninggalkan suami ketika ia menghadapi kesulitan dalam hidupnya, akan
bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar perilaku dan saya tidak akan berbeda dari
binatang. Saya harap Yang Mulia akan memberikan rahmat kepada kami dan
memungkinkan saya untuk pergi dengan Ye Lunu. Saya tidak akan menyesal, bahkan jika
saya mati dalam pengasingan" Tergerak oleh permohonannya, Kaisar memberikan
persetujuan.

Di tempat pengasingannya, suaminya bekerja keras setiap hari, tanpa pernah mengeluh,
dan Xiao Yixin membantunya. Bahkan, Xiao Yixin menjadi lebih hormat dan sayang kepada
Ye Lunu.

Perkawinan abadi, hanya maut yang bisa memisahkan, saling menghormati dan mendukung
satu sama lain pada saat suka maupun duka.

Moralitas tradisional dan etika, yang telah dipelihara dan diatur hubungan manusia selama
ribuan tahun, telah hilang dalam delusi yang kita sebut dunia modern. Saling
menghormati, moralitas, saling mendukung dan rasa syukur adalah elemen kunci bagi
keharmonisan antara suami dan istri, yang dahulu sangat dihargai. Dalam masyarakat
sekarang aspek-aspek ini diabaikan, dan sebagian besar relatif jarang terjadi dalam
keluarga modern.
Penulis menyimpulkan cerita ini untuk kita renungkan - yaitu: Mengapa pernikahan
menjadi semakin lebih rapuh di dunia saat ini?



Kehidupan Seperti Bawang Bombay




                          Sebuah kado bagi yang telah menikah:
Semoga mensyukuri kehidupan pernikahan
————————————————–

Menjelang istirahat suatu kursus pelatihan, sang pengajar mengajak para peserta untuk
melakukan suatu permainan. ‘Siapakah orang yang paling penting dalam hidup Anda?’

Pengajar meminta bantuan seorang peserta maju ke depan kelas. ” Silakan tulis 20 nama
yang paling dekat dengan kehidupan Anda saat ini”

Peserta perempuan itu pun menuliskan 20 nama di papan tulis. Ada nama tetangga, teman
sekantor, saudara, orang-orang terkasih dan lainnya.


Kemudian pengajar itu menyilakan memilih, dengan mencoret satu nama yang dianggap
tidak penting. Lalu siswi itu mencoret satu nama, tetangganya. Selanjutnya pengajar itu
menyilakan lagi siswinya mencoret satu nama yang tersisa, dan siswi itu pun
melakukannya, sekarang ia mencoret nama teman sekantornya. Begitu seterusnya.

Sampai pada akhirnya di papan tulis hanya tersisa 3 nama. Nama orang tuanya, nama
suami serta nama anaknya.

Di dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi. Semua peserta pelatihan mengalihkan
pandangan ke pengajar. Menebak-nebak apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh
pengajar itu. Ataukah, selesai sudah tak ada lagi yang harus di pilih.

Namun dikeheningan kelas sang pengajar berkata :
“Coret satu lagi !!”
Dengan perlahan dan agak ragu siswi itu mengambil spidol dan mencoret satu nama.
Nama orang tuanya.
“Silakan coret satu lagi !”

Tampak siswi itu larut dalam permainan ini. Ia gelisah. Ia mengangkat spidolnya tinggi -
tinggi dan mencoret nama yang teratas dia tulis sebelumnya.
Nama anaknya.
Seketika itupun pecah isak tangis di kelas.

Setelah suasana sedikit tenang, pengajar itu lalu bertanya :
“Orang terkasih Anda bukan orang tua dan anak Anda? Orang tua yang melahirkan dan
membesarkan Anda. Anda yang melahirkan anak. Sedang suami bisa dicari lagi. Mengapa
Anda memilih sosok suami sebagai orang yang paling penting dan sulit dipisahkan?”

Semua mata tertuju pada siswi yang masih berada di depan kelas. Menunggu apa yang
hendak dikatakannya.

” Waktu akan berlalu, orang tua akan pergi meninggalkan saya. Anakpun demikian. Jika ia
telah dewasa dan menikah, ia akan meninggalkan saya juga. Yang benar-benar bisa
menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya. ”

……………………………………..
Kehidupan itu bagaikan bawang bombay.
Ketika di kupas selapis demi selapis, akan habis.
Dan adakalanya kita dibuat menangis



Kisah Sup dari Batu

Pada suatu hari, tiga orang bijaksana berjalan melintasi sebuah desa kecil.

Desa itu tampak miskin. Tampak dari sawah-sawah sekitarnya yang sudah tidak
menghasilkan apa-apa lagi. Ya, memang telah terjadi perang di negeri itu – dan sebagai
rakyat jelata – merekalah yang kena dampaknya. Macetnya distribusi pupuk, bibit, dan
kesulitan-kesulitan lain membuat sawah mereka tidak mampu menghasilkan apa-apa lagi.
Cuma beberapa puluh orang yang masih setia tinggal di desa itu.

Sekonyong-konyong beberapa orang mengerubuti tiga orang bijaksana itu. Dengan
memijit-mijit tangan dan punggung tiga orang itu, orang-orang desa memelas dan
meminta sedekah, roti, beras, atau apalah yang bisa dimakan.

Satu dari tiga orang bijaksana itu lalu bertanya kepada penduduk desa itu, “Apakah kalian
tidak punya apa-apa, hingga kalian meminta-minta seperti ini ?”

“Kami tidak memiliki apapun untuk dimakan, hanya batu-batu berserakan itu yang kita
miliki.” Jawab salah satu penduduk desa.

“Maukah kalian kuajari untuk membuat sup dari batu-batu itu ?” Tanya orang bijaksana
sekali lagi.

Dengan setengah tidak percaya, penduduk itu menjawab, “Mau..”

“Baiklah ikutilah petunjukku.” Orang bijaksana itu menjelaskan, “Pertama-tama, ambil
tiga batu besar itu, lalu cucilah hingga bersih !” perintah orang bijaksana sambil menunjuk
tiga buah batu sebesar kepalan tangan. Orang-orang pun mengikuti perintahnya.
                                                         \

Sesudah batu itu dicuci dengan bersih hingga tanpa ada pasir sedikitpun di permukaannya.
Orang bijaksana itu lalu menyuruh penduduk untuk menyiapkan panci yang paling besar
dan menyuruh panci itu untuk diisi dengan air. Ketiga batu bersih itupun lalu dimasukkan
ke dalam panci – dan sesuai dengan petunjuk orang bijaksana itu – batu-batu itupun mulai
direbus.

“Ada yang dari kalian tau bumbu masak ? Batu-batu itu tidak akan enak rasanya jika
dimasak tanpa bumbu.” Tanya orang bijaksana.

“Aku tahu !” seru seorang ibu, kemudian ia mengambil sebagian persediaan bumbu
dapurnya, kemudian meraciknya, dan memasukkannya kedalam panci besar itu.

“Adakah dari kalian yang memiliki bahan-bahan sup yang lain ?” Tanya orang bijaksana itu.
“Sup ini akan lebih enak jika kalian menambahkan beberapa bahan lain, jangan cuma batu
saja.”

Beberapa penduduk mulai mencari bahan-bahan makanan lain di sekitar desa. Beberapa
waktu kemudian dua orang datang dengan membawa tiga kantung kentang. “Kami
menemukannya di dekat kali, ternyata ada banyak sekali kentang liar tumbuh disana.”
Katanya. Kemudian orang itu mengupas, encuci, dan memotong-motong kentang-kentang
itu dan memasukkannya ke dalam panci.

Kurang dari satu menit, seorang ibu datang dengan membawa buncis dan sawi. “Aku masih
punya banyak dari kebun di belakang halaman rumahku.” Kata ibu itu, lalu ibu itu
meraciknya dan memasukkannya ke dalam panci.

Sesaat, datang pula seorang bapak dengan tiga ekor kelinci di tangannya. “Aku berhasil
memburu tiga ekor kelinci, kalau ada waktu banyak, mungkin aku bisa membawa lebih
lagi, soalnya aku baru saja menemukan banyak sekali kawanan kelinci di balik bukit itu.”
Dengan bantuan beberapa orang, tiga kelinci itu pun disembelih dan diolah kemudian
dimasukkan ke dalam panci.

Merasa telah melihat beberapa orang berhasil menyumbang sesuatu. Penduduk-penduduk
yang lain tidak mau kalah, mereka pun mulai mencari-cari sesuatu yang dapat dimasukkan
ke dalam panci sebagai pelengkap sup batu.

Kurang dari satu jam, beberapa penduduk mulai membawa kol, buncis, jagung, dan
bermacam-macam sayuran lain. Tak hanya itu, anak-anak juga membawa bermacam-
macam buah dari hutan. Mereka berpikir akan enak sekali jika buah-buah itu bisa
dijadikan pencuci mulut sesudah sup disantap. Ada pula seorang bapak yang membawa
susu dari kambing piaraannya, dan ada pula yang membawa madu dari lebah liar yang
bersarang di beberapa pohon di desa itu.

Beberapa jam kemudian sup batu itu telah matang. Panci yang sangat besar itu sekarang
telah penuh dengan berbagai sayuran dan siap disantap. Dengan suka cita, penduduk itu
makan bersama dengan lahapnya. Mereka sudah sangat kenyang, hingga mereka lupa
‘memakan’ batu yang terletak di dasar panci.

Tiga orang bijaksana itu hanya tersenyum melihat tingkah para penduduk itu. Dan mereka
pun sadar, sekarang waktunya mereka untuk meneruskan perjalanan. Mereka mohon diri
untuk meninggalkan desa itu. Sebelum beranjak pergi, seorang bapak sekonyong-konyong
memeluk dan menciumi ketiga orang itu sambil berkata, “Terima kasih telah mengajari
kami untuk membuat sup dari batu..”

Hari ini sudah bukan saatnya memiliki mental pengemis, yang hanya menunggu belas
kasihan, bantuan, dorongan dan semangat dari orang lain. Ciptakanlah itu dalam diri
anda dan jadilah orang yang berguna dan bermanfaat bagi sesama.

Kreativitas, kebersamaan dan kerja keras adalah cara untuk mendapatkan kehidupan yang
lebih baik.




Waktu adalah Emas




Waktu begitu cepat berlalu bagaikan kuda pacu berlari. Orang yang berprinsip kebaikan
mengetahui untuk menghargai waktu bagaikan emas murni. Ada seorang sejarawan
bernama Liu Shu pada dinasti Song Utara yang terkenal akan aspirasinya yang mulia. Ia
rajin belajar sepanjang hidupnya. Ia juga seorang yang punya disiplin teguh. Ia membuat
rencana setiap hari di dalam hidupnya dan tidak pernah menyia-yiakan waktu.

Liu belajar ajaran Konfusius klasik ketika muda dan mencoba setiap hari untuk
menghafalnya, terkadang sampai lupa makan atau tidur. Ketika Liu Shu berusia delapan,
seorang tamu di rumah nya berkata Konfusius tidak mempunyai saudara laki-laki. Liu Shu
dengan segera mengutip alenia yang membuktikan bahwa Konfusius mempunyai saudara
laki-laki. Pengetahuannya yang luas mengagumkan setiap orang. Liu Shu selalu mampu
menjawab pertanyaan -pertanyaan yang diberikan teman-temannya. Ia mengatakan
kepada mereka jawabannya bisa ditemukan di dalam buku dan kita hendaknya banyak
membaca untuk menemukan jawabannya.

Pada usia 18, Liu Shu meraih prestasi gemilang di tingkat propinsi dalam ujian seluruh
departemen Negara. Yan Shu, perdana menteri pada waktu itu, terkesan oleh jawaban
yang sempurna dari Liu Shu, maka ia mengundang Liu untuk memberi kuliah di perguruan
tinggi kerajaan. Yan Shu bahkan mengajak sekelompok pejabat untuk menghadiri kuliah
Liu Shu. Pengetahuan Liu Shu yang luas dan pemahamannya atas ajaran klasik, dan juga
karakter moralnya yang baik, telah mengilhami dan menjadikan trend orang-orang
menggemari ajaran klasik di waktu itu.
Ketika Liu Shu mendengar Song Cidao, seorang sarjana dan pejabat pemerintah di daerah
Hao, mempunyai koleksi buku yang besar, ia menempuh perjalanan beberapa ratus mil
hanya untuk meminjam buku. Song Cidao mengundang Liu Shu untuk tinggal di rumahnya
dan menyambut dia dengan sebuah pesta. Tetapi Liu Shu berkata dengan sopan, “Saya
datang kemari bukan karena ingin dijamu makan dan minum. Bisakah saya meminta Anda
untuk menyimpan semua hidangan? Saya datang untuk mencari pengetahuan pada buku-
buku milik Anda yang luar biasa ini.”

Setelah Song Cidao mengajak Liu Shu ke ruangan buku pribadinya, Liu mulai membaca dan
mencatat buku siang malam lebih dari dua minggu, ia telah belajar dan menulis
penjelasan semua buku yang ia tertarik. Song Cidao berkata padanya, “Benar-benar
mengagumkan melihat Anda mampu melewati penderitaan ini.” Liu Shu tersenyum,
“Penderitaan apa? Semakin banyak saya membaca, semakin pandai saya jadinya. Membaca
adalah kegembiraan yang tanpa batas!”

Liu Shu adalah sangat pemaaf dan juga merupakan pejabat pemerintah yang jujur. Ia terus
menerus berbicara kebenaran. Ia mendukung mengikuti kepemimpinan kedua rajanya yang
bijaksana, Yao dan Shun, dan mengatur rakyatnya dengan kebaikan. Karena Ia benar-benar
mengisi kebutuhan rakyatnya dan mendengarkan suara-suara mereka, mereka
menghormati dan mencintai dia. Ia mematut dirinya dengan ketat. Kecuali waktu yang
sedikit untuk tidur, waktunya digunakannya untuk belajar dan melakukan berbagai hal
penuh arti. Meskipun banyak godaan disekelilingnya, Liu Shu mendisiplinkan diri untuk
belajar setiap hari. Ia mencatat dalam daftar 20 kekeliruan yang ia buat dan 18 berbagai
hal yang ia bisa lakukan lebih baik. Ia mencari ke dalam saat menghadapi masalah untuk
memperbaiki kekeliruan-kekeliruannya. Kejujuran dan keberanian Liu Shu sangatlah
terpuji.

Sejak zaman lampau, mereka yang punya tujuan mulia selalu menghargai waktu. Ada
sebuah pepatah kuno yang mengatakan, “Orang yang bijaksana menghargai satu inchi
waktu lebih daripada giok sepanjang satu kaki.” Tao Yuanming, seorang penyair yang
terkenal pada dinasti Jin, mengatakan, “Kesempatan dari hidup seseorang tidak akan
datang lagi, seperti halnya pagi di suatu hari tidak akan datang lagi di hari tersebut.” Saya
sarankan anda untuk menghargai waktu, karena waktu tidak akan menunggu anda.”
Kultivasi sempurna mereka berkarakter moral mulia sudah memberikan kepada kita sebuah
teladan untuk dipelajari.




Inilah Kunci Didalam Belajar

Orang China kuno percaya belajar dengan ketekunan dan menekankan kegigihan serta
konsistensi dalam belajar. Tidaklah tepat apabila giat belajar satu hari dan bermalasan
untuk 10 hari berikutnya.

Konon dapat dikatakan rajin belajar adalah ukuran moralitas dalam menimba ilmu. Ketika
orang ingin maju dengan usaha terbaiknya, mereka akan berhasil meraih tujuannya. Sama
seperti pepatah tua yang mengatakan: Membaca buku 100 kali, Anda akan secara alami
memahami artinya. Berikut adalah dua buah cerita mengenai orang kuno yang memahami
makna belajar.

Rajin dan konsisten
                                            Selama era Dinasti Dong Jin (317-420M),
ada seorang penyair terkenal bernama Tao Yuanming yang juga merupakan seorang
bangsawan dan sarjana yang tahu banyak hal. Suatu kali seorang pemuda berkata
kepadanya, “Saya mengagumi Anda karena begitu tahu banyak hal. Maukah Anda memberi
tahu saya cara terbaik untuk belajar?”

Tao Yuanming menjawab, “Tidak ada cara terbaik. Jika kamu bekerja keras, kamu akan
mendapat kemajuan, dan jika kamu bermalasan, maka kamu akan tertinggal di belakang.”

Ia membawa pemuda tersebut dan menuntunnya ke sebuah lahan. Yuanming menunjuk ke
arah biji kecambah kecil dan berkata, “Lihatlah dengan cermat. Dapatkah kamu melihat
apa yang tumbuh di sana?”

Pemuda itu menatapnya dalam waktu lama dan kemudian berkata, “Saya tidak dapat
melihatnya tumbuh.”

Tao Yuanming bertanya, “Benarkah? Lantas bagaimanakah biji kecambah menjadi begitu
tinggi di kemudian hari? Pada kenyataannya, kecambah itu tumbuh setiap saat.
Bagaimanapun juga, kita tidak dapat melihatnya dengan mata kita.

“Sama seperti prinsip dalam belajar. Pengetahuan kita terakumulasi sedikit demi sedikit.
Terkadang bahkan kita tidak menyadarinya, namun apabila kita belajar terus-menerus,
maka akan membuat kemajuan luar biasa.”

Tao Yuanming kemudian menunjuk pada sebuah batu pengasah pisau di samping sungai
dan bertanya kepada pemuda itu, “Mengapa sisi cekung pada batu menurun seperti sebuah
pelana kuda?”

Pemuda itu menjawab, “Itu karena orang menggunakannya untuk mengasah pisau setiap
hari.”

Yuanming kemudian bertanya, “Lalu tepatnya di hari apa berbentuk seperti ini?” Pemuda
itu lalu hanya menggelengkan kepalanya. Tao Yuanming berkata, “Karena para petani
telah menggunakannya setiap hari. Sama halnya dengan belajar. Dengan belajar terus
setiap saat akan mengasah intelektual Anda.”

Pemuda tersebut akhirnya mengerti. Ia berterima kasih kepada Tao Yuanming, kemudian
menuliskan kalimat berikut untuknya, “Belajar dengan rajin adalah seperti sebuah
kecambah di musim semi. Meskipun kita tidak dapat melihat pertumbuhan sehari-harinya,
pada akhirnya tumbuh jadi besar. Belajar terus-menerus adalah seperti menggunakan batu
pengasah pisau. Pengetahuan Anda akan semakin tajam setiap saat, tidak hanya dalam
sekejab.”
Kokoh seperti Pohon

Gu Yewang dari Dinasti Selatan dan Utara (420-589 M) adalah seorang sejarawan terkenal.
Pengetahuannya luas di banyak bidang. Banyak orang datang kepadanya untuk bertanya.

Suatu hari, anak salah seorang kawannya, Hou Xuan bertanya kepadanya, “Anda telah
membaca banyak naskah. Saya ingin bertanya apakah ada jalan pintas dalam belajar.”

Setelah berpikir sejenak, Gu Yewang menunjuk pada sebuah pohon rindang dan
menjawab, “Jika kamu ingin mengetahui jalan pintasnya, kamu harus melihat ke pohon
ini.”

Hou Xuan melihat pohon tersebut dari atas hingga bawah sebanyak tiga kali namun tetap
tidak menemukan apa-apa yang tidak wajar. Kemudian Ia berkata, “Saya terlalu buta
untuk melihat segala sesuatunya. Tolong bimbing saya.”

Gu Yewang berkata, “Dengan akar-akarnya, pohon dapat tumbuh tinggi dan kokoh. Hanya
dengan batang pohon yang besar dan kokoh, pohon dapat tumbuh dengan dedaunan yang
lebat. Hanya dengan cita-cita yang mulia dan kuat, dipercaya akan memiliki satu masa
depan yang cerah. Ambil pohon sebagai contohnya, kuat dan pasti. Itulah kuncinya.”

Setelah itu, Hou Xan belajar dengan sabar dan meningkat dengan cepat. Teman-temannya
menyadari Ia begitu akrab dengan buku-buku dimana ia dapat membacakan untuk mereka
dari belakang ke depan. Lalu mereka bertanya kepadanya mengapa ia masih juga
membacanya.

Hou Xuan menjawab, “Tidak ada jalan pintas dalam belajar. Segala sesuatu ada saatnya
harus melangkah satu langkah. Saya masih belum dapat memberi penjelasan terlalu
banyak prinsip dan arti yang lebih dalam dari buku-buku tersebut. Oleh karena itu, saya
butuh untuk meninjau mereka kembali untuk belajar segala sesuatu yang baru setiap
saat.”

Orang kuno percaya bahwa belajar adalah sebuah proses untuk memperbaiki moral
seseorang dan kunci belajar terdapat pada kerja keras dan belajar terus-menerus.



  Nabi bersabda, " Belajar dan selalu dilatih, tidakkah itu menyenangkan? Kawan-kawan
 datang dari tempat jauh, tidakkah itu membahagiakan? Sekalipun orang tidak mau tahu,
                   tidak menyesali; bukankah ini sikap seorang Kuncu?"
                                     (Sabda Suci I : 1)

     "Memang ada hal yang tidak dipelajari, tetapi hal yang dipelajari bila belum dapat
    janganlah dilepaskan; ada hal yang tidak ditanyakan, tetapi hal yang ditanyakan bila
 belum sampai benar-benar mengerti janganlah dilepaskan; ada hal yang tidak dipikirkan,
   tetapi hal yang dipikirkan bila belum dapat dicapai janganlah dilepaskan; ada hal yang
tidak diuraikan, tetapi hal yang diuraikan bila belum terperinci jelas janganlah dilepaskan;
dan ada hal yang tidak dilakukan, tetapi hal yang dilakukan bila belum dapat dilaksanakan
sepenuhnya janganlah dilepaskan. Bila orang lain dapat melakukan hal itu dalam satu kali,
  diri sendiri harus berani melakukan seratus kali. Bila orang lain dapat melakukan dalam
                sepuluh kali, diri sendiri harus berani melakukan seribu kali."
                                  (Tengah Sempurna XIX : 20)
Berapa Harga Anak Anjing Ini?




Sebuah toko hewan peliharaan (pet store) memasang papan iklan yang menaik bagi anak-
anak kecil, "Dijual Anak Anjing".

Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya "Berapa harga
anak anjing yang anda jual itu?" Pemilik toko itu menjawab, "Harganya berkisar antara 30 -
50 Dollar."

Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, "Aku
hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?"
Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya.

Tak lama dari kandang aning munculah anjingnya yang bernama Lady yang diikuti oleh
lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu
anak anjing yang tampak berlari tertinggal paling belakang. Si anak lelaki itu menunjuk
pada anak anjing yang paling terbelakang dan tampak cacat itu.

Tanyanya, "Kenapa dengan anak anjing itu?" Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika
dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat
seumur hidupnya.

Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, "Aku beli anak anjing yang cacat itu." Pemilik
toko itu menjawab, "Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu. Tapi jika kau ingin
memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu."

Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, "Aku tak mau kau
memberikan anak anjing itu cuma-cuma padaku. Meski cacat anak anjing itu tetap
mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh
harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35 Dollar. Tetapi setiap hari akan
akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas harga anak anjing itu."

Tetapi lelaki itu menolak, "Nak, kau jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari
cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain sebagaiman anak anjing lainnya."

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana panjangnya. Dari balik
celana itu tampaklah sepasang kaki yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata,
"Tuan, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan
bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing
itu membutuhkan seseorang yang mau mengerti penderitaannya."

Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata menetes dari sudut matanya. Ia
tersenyum dan berkata, "Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai
majikan sebaik engkau."


Sesuatu yang tidak sempurna blum tentu memiliki nilai yang kurang. Jangan lah menilai
orang hanya dari bentuk fisik nya saja. Jangan meremehkan sesuatu hanya karena
bentuknya berbeda. Di mata kita mungkin sesuatu itu tidak bernilai, tapi mungkin di
mata orang lain sesuatu itu sangat lah berarti.




Cerita Seorang Ahli Filsafat




Oleh : 海宽 (Haikuan)

Penampilannya sangat anggun dan terpelajar, berpakaian necis, membuat banyak wanita
mabuk kepayang. Pada suatu hari, ada seorang wanita cantik mengetok pintu rumahnya,
wanita itu berkata, "jadikan saya sebagai istri kamu, jangan sampai salah, kamu akan
kehilangan kesempatan mencintai seorang wanita yang sangat mencintai kamu."

Ahli filsafat itu sangat tersentuh hatinya tapi ia tetap berkata, "beri aku waktu untuk
berpikir." Ahli filsafat itu menggunakan suatu ilmu analis memecahkan suatu masalah, ia
analisa dengan cermat, kalau kawin untungnya bagaimana? kalau tidak kawin baiknya
dimana? akhirnya ia mendapat kenyataan baik buruknya seimbang, maka ia tidak tahu apa
yang harus ia perbuat, maka ia terjerumus dalam masa bimbang yang panjang.

Meskipun ia menggunakan rumus yang lebih canggih, ia tetap menghadapi kesulitan untuk
memilih salah satu diantaranya, akhirnya ia mendapat suatu kesimpulan, manusia kalau
menghadapi pilihan yang sulit, ia harus memilih sesuatu yang belum pernah terjadi atau
dialami oleh dirinya.

Kalau tidak kawin saya kan sudah mengalami, kalau kawin bagaimana? saya kan belum
pernah merasakan, makanya kawin saja, saya harus meluluskan permintaan dari wanita
itu,m aka ahli filsafat datang ke rumah Si wanita cantik itu, ia berkata kepada orang tua
gadis itu, "anakmu dimana?"
Tolong sampaikan kepadanya, saya sudah memikirkan matang sekali, saya berjanji akan
mengawininya, orang tua dari si gadis itu menjawab dengan enteng, "kamu telah
terlambat datang sepuluh tahun, anak saya sekarang sudah mempunyai 3 anak yang lucu-
lucu dan cantik, mendengar ini semua ahli filsafat terhentak duduk kembali dalam kursi,
semangatnya seperti terbang di awang-awang. Dia merasa dirinya sangat pintar tapi yang
didapatnya adalah sebuah penyesalan.

Setelah itu ahli filsafat strees dan terjangkit penyakit, mendekati ajalnya ia meninggalkan
sebuah penilaian terhadap kehidupan manusia, kalau kehidupan bisa dibagi dalam dua
bagian, filosofi bagian atas kehidupan manusia adalah jangan ragu-ragu dan falsafah
bagian bawah kehidupan manusia adalah tidak menyesal.




8 KADO INDAH...




Delapan kado indah ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang kita   sayangi.
KEHADIRAN. Kehadiran orang yang dikasihi adalah kado terindah yang tak ternilai harganya.
Memang kita bisa juga hadir lewat surat, telepon, foto atau fax. Namun dengan berada di sampingnya,
kita dengan dia dapat berbagi perasaan, perhatian dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif.
Jadikan kehadiran kita sebagai pembawa kebahagiaan,.
MENDENGAR.Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih
suka didengarkan daripada mendengarkan pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah
menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan kita
dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang di sampaikan. Tatap matanya
dan pandangi wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan dia
menuntaskannya, ini memudahkan kita memberikan tanggapan yang tepat setelah itu kita memberikan
tanggapan yang tepat. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasih pun
terdengar manis baginya.
DIAM. Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum,
mengusir atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, diam juga bisa menujukkan
kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah
terbiasa gemar menasehati, mengatur , mengkritik, bahkan mengomel.
KEBEBASAN. Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau
mengatur kehidupannya. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya??
Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah “kamu bebas
berbuat semaumu”. Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh
untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.
KEINDAHAN. Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau
cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan sebuah kado yang indah.
TANGGAPAN POSITIF. Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negative terhadap pikiran,
sikap atau tindakan orang yang kita sayangi seolah-lah tidak ada yang benar dari dirinya dan
kebenaran mutlak hanya ada pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan
jelas dan tulus.
KESEDIAAN MENGALAH. Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertenagkaran. Palagi
sampai menjadi pertengakaran yang hebat. Bila kita memikirkan hal ini, berarti kita siap memberika
kado “KESEDIAAN MENGALAH”. Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati
dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna didunia ini.
SENYUMAN. Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang di
berian dengan tulus, bias menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semngat dalam
keputusasaan, pencerah susasana muram, bahkan obat penenang jiw ayang resah. Senyuman juga
merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliing kita. Kapan terakhir kali kita
menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi.




Koin Penyok




Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan
rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-
marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah,
ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan
pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak
dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan
dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa
keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu.
Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

"Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok," gerutunya kecewa. Meskipun
begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

"Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran.
Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali,
si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan
rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar
kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya
pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.
Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak
pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel
sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan
mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang
sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun
pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih
lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu
tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera
membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang
mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong
gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200
dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250
dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak
pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh
sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok
keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata,

"Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?"

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin
penyok yang kutemukan tadi pagi".


Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam
kepedihan yang berlebihan?
Kebosanan




Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu : "Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"

Pak Tua : "Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan
sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang
monoton dari waktu ke waktu."


Tamu : "Kenapa kita merasa bosan?"

Pak Tua : "Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."

Tamu : "Bagaimana menghilangkan kebosanan?"

Pak Tua : "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas
darinya."

Tamu : "Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"


Pak Tua : "Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi
yang sama rasanya setiap hari?"

Tamu : "Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."

Pak Tua : "Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka
kebosanan pun akan hilang."

Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"

Pak Tua :
"Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah
menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah
membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan
tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu : "Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih
merasa bosan juga?"

Pak Tua : "Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."
Tamu : "Contohnya? "

Pak Tua : "Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.



Tamu :
"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya
bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan
keajaibanpun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di
saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa
demikian, Pak Tua?"


Sambil tersenyum Pak Tua berkata:
"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu
pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain
seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi
karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan.
Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria
menjadikan kamu ceria."




Keledai dan Sumur Tua




Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur tua. Hewan itu menangis
dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus
dilakukannya.

Akhirnya, si petani memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu
ditimbun (ditutup – karena berbahaya), jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Dan
ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya.

Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya,
ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi
kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop
tanah lagi dituangkan ke dalam sumur.

Si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun
punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan
sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang
menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung
hewan itu, si keledai terus juga mengguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera
saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !


Pesan :

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan
kotoran.

Cara untuk keluar dari “sumur” (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan mengguncangkan
segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari
“sumur” dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat
keluar dari “sumur” yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !

Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :

   1.   Bebaskan dirimu dari kebencian
   2.   Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan.
   3.   Hiduplah sederhana.
   4.   Berilah lebih banyak.
   5.   Berharaplah lebih sedikit.
   6.   Tersenyumlah.
   7.   Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum




Sudut Pandang
Sudut pandang memang sangat berpengaruh pada kehidupan. Dan faktanya sudut pandang
cenderung di liat dari satu sisi saja. Sedangkan bumi itu bulat tidak akan pernah terlihat
sempurna kalau cuma di liat dari satu sisi.

Ketika kita menghadapi masalah dan gagal, merasa kecewa dan merasa paling sial sedunia.
Namun ketika memandang sedikit memutar disekitar kita ternyata masih banyak yang
lebih kurang beruntung.

Ada seorang ayah berpesan kepada kedua orang anaknya sebelum meninggal, di saksikan
ibu dan keluarganya.

Pesan yang pertama: Jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepada
kita.
Pesan yang kedua: Jangan sampai wajahmu terkena sinar matahari.

Beberapa tahun kemudian setelah ayahnya meninggal, Si Ibu bertanya kepada anaknya.
karena Si Ibu heran kenapa sang anak berbeda keberuntungannya. Si Sulung menjadi
miskin, dan Si Bungsu menjadi kaya.


Ketika ibu menanyakan kepada Si Sulung, "Nak kenapa kamu kurang beruntung?"
Si Sulung menjawab, "karena saya melaksanakan permintaan terakhir ayah bu."

"Saya sudah berusaha dengan berdagang namun karena melaksanakan permintaan ayah
saya jadi miskin."

"Saya melaksanakan permintaan ayah untuk tidak menagih hutang. Jadi setiap orang yang
berhutang kepada saya, tidak pernah membayarnya. Dan saya tidak bisa menagih utang
tersebut."

"Saya melaksanakan permintaan ayah, wajah tidak boleh terkena sinar matahari. Saya
terpaksa naik taxi untuk kemana-mana jadi keuntungan habis buat transport."

Kemudian Si Ibu menanyakan hal yang sama kepada Si Bungsu. Dan Si Bungsu pun
menjawab,
"Ini karena pesan ayah, sehingga saya dapat penghasilan yang besar. Saya buka sebuah
toko kecil. dan saya melaksanakan semua permintaan ayah."

"Karena ayah berpesan tidak menagih hutang kepada orang yang berhutang kepada kita.
Maka saya tidak memberikan hutang kepada siapapun. Sehingga saya mendapatkan modal
untuk memperbesar usaha saya. Jika orang benar-benar membutuhkan maka lebih baik
saya berikan sebisa saya bantu."

"Karena ayah berpesan supaya wajah tidak terkena sinar matahari, saya berangkat kerja di
pagi-pagi buta. Disaat matahari belum terbit. Dan pulang di saat matahari sudah
tenggelam sehingga saya punya waktu yang lebih untuk tetap bekerja. Ketika toko lain
belum buka saya sudah buka, ketika toko lain sudah tutup toko saya masih buka.

Si Ibu pun tersenyum sesudah menanyakan kepada anak-anaknya.


Pesan:
Sudut pandang berbeda dari pesan yang sama. Dari cerita di atas kita bisa belajar, betapa
pentingnya memandang dari sudut yang lebih luas. Sehingga dapat menghasilkan hasil
yang lebih besar. Cobalah hadir dalam sudut pandang Si Bungsu.




Pelari yang Menyerah




Setiap sore seorang pelari selalu latihan berlari. Biasanya, dia berlari mengelilingi sebuah
lapangan yang luas tanpa berhenti sebanyak lima keliling. Nah, karena lapangannya luas
sekali, jadi dia membutuhkan waktu satu jam untuk menyelesaikan lima keliling tadi.
Suatu hari, ada seorang tua yang menantang pelari tadi. Orang tua tadi bertanya
kepadanya, "anak muda, bisakah kamu menyelesaikan lima keliling tidak lebih dari 30
menit?" Si pelari tadi ragu karena selama ini dia selalu membutuhkan waktu satu jam. Dia
mulai berpikir, mengira-ngira apakah dia sanggup atau tidak.

Sayang ia melakukan hal yang sia-sia, padahal jelas bahwa pertanyaan orang tua tadi tidak
bisa dijawab dengan berpikir. Tetapi harus dengan tindakan! Tidak bisa dikira-kira tetapi
harus dicoba! Lama dia berpikir, sampai-sampai berita tentang tantangan orang tua tadi
sudah tersebar ke seluruh desanya. Menjelang sore, anak-anak dan pemuda sudah ramai
berkumpul, ingin melihat langsung. Dikelilingi orang ramai, si pelari malah menjadi
bingung. Ia takut kalau ia menjawab 'bisa', dan ternyata nantinya dia tidak bisa, tentu dia
mendapat malu di depan banyak orang. Ia bingung. Akhirnya, si perlari tadi menyerah, ia
mengambil kesimpulan bahwa ia memang tidak bisa melakukannya karena toh selama ini
juga belum pernah ada orang yang bisa berlari secepat itu.

Orang tua tadi menang, dan si pelari kalah tanpa berlari. Sayang, si pelari tadi melakukan
dua kesalahan. Yang pertama, ia menyerah begitu saja, tanpa pernah mencobanya. Ia
menyerah begitu saja, tanpa berkeringat sedikit pun. Karena ketidakyakinannya akan
dirinya sendiri, semudah itu dia menyerah. Ketika terbersit pikiran bahwa dia tidak bisa,
ketika itulah dia mulai kalah.

Kedua, ia menyimpulkan tidak bisa hanya karena belum pernah ada orang lain yang
melakukannya. Ia lupa bahwa di dunia ini selalu ada orang pertama yang melakukan suatu
hal. Pasti ada orang yang pertama kali berhasil mendaki gunung tertinggi di dunia. Pasti
ada orang pertama yang bisa menyelam 20 meter tanpa alat bantu. Pasti ada orang yang
pertama kali menginjak kaki di bulan. Pasti ada orang pertama untuk semua hal yang ada.
Dan hanya karena belum pernah ada orang yang melakukannya, ia mengambil kesimpulan
ia tidak bisa. Padahal, mungkin kesempatannya untuk menjadi yang pelari pertama yang
hanya membutuhkan 30 menit untuk lima putaran sangat terbuka lebar.
Sayang, kesempatan itu hilang karena keyakinannya akan ketidakbisaannya.




Pergi Ke Sawah Untuk Menggali Uang Perak




oleh : Xie Zheng Ming


Wang Da & Wang Er adalah sepasang saudara, setiap harinya cuma makan & bermalas-
malasan. Sang ayah sering menasehati mereka : menjadi orang harus tahan menghadapi
kesulitan, harus tekun bekerja, dengan bekerja rajin baru dapat memperoleh hasil yang
bagus. Wang Da & Wang Er hanya mendengarkan sambil lalu, mulut mengiyakan, tetapi
kenyataannya masih juga malas, tidak membajak sawah & memotong kayu bakar. Sang
ayah sangat kecewa terhadap mereka.

Akhirnya sang ayah menderita penyakit parah, sebelum meninggal memanggil kedua
anaknya, berkata: saya seumur hidup tidak kaya & tidak bisa meminggalkan harta benda
berharga kepada kalian, akan tetapi di halaman belakang rumah, saya memendam
beberapa ratus uang perak, saya pendam sedalam bibit padi, setelah saya meninggal
galilah.

Setelah sang ayah meninggal Wang Da & Wang Er menjalankan amanat sang ayah,
mulailah menggali. Mereka dengan sepenuh tenaga menggali. Akan tetapi walaupun
semuanya telah digali, satu uang perak pun belum juga mereka temukan.

Karena tidak menemukan uang perak, maka mereka berdua merasa kecewa & marah,
merasa sia-sia telah menggali sawah. Mereka berpikir tanah telah mereka bajak, tidak
dipergunakan juga sayang, akhirnya ditanami padi-padian.

Karena tanah telah dibajak menjadi sangat gembur, maka padinya tumbuh subur. Pada
saat panen pun, hasil yang di dapatkan lebih banyak daripada tahun lalu, uang yang
didapat pun otomatis lebih banyak. Setelah peristiwa ini kakak-beradik tadi barulah sadar
& memahami wasiat yang diberikan oleh mediang ayahnya.

Semenjak itu,Wang Da & Wang Er tidak lagi bermalas-malasan, tekun bekerja. Setiap
tahun memanen, ibarat menggali uang perak di sawah.
Kisah Batu Pualam




Alkisah terdapat sebuah museum yang lantainya terbuat dari batu pualam yang indah. Di
tengah-tengah ruangan museum itu dipajang sebuah patung pualam pula yang sangat
besar. Banyak orang datang dari seluruh dunia mengagumi keindahan patung pualam itu.
Suatu malam, lantai pualam itu berkata pada patung pualam. Lantai Pualam: "Wahai
patung pualam, hidup ini sungguh tidak adil. Benar-benar tidak adil! Mengapa orang-orang
dari seluruh dunia datang kemari untuk menginjak-injak diriku tetapi mereka
mengagumimu? Benar-benar tidak adil!"

Patung Pualam: "Oh temanku, lantai pualam yang baik. Masih ingatkah kau bahwa kita ini
sesungguhnya berasal dari gunung batu yang sama?"

Lantai Pualam: "Tentu saja, justru itulah mengapa aku semakin merasakan ketidakadilan
itu. Kita berasal dari gunung batu yang sama, tetapi sekarang kita menerima perlakuan
yang berbeda. Benar- benar tidak adil!"

Patung Pualam: "Lalu apakah kau masih ingat ketika suatu hari seorang pemahat datang
dan berusaha memahat dirimu, tetapi kau malah menolak dan merusakkan peralatan
pahatnya?"

Lantai Pualam: "Ya, tentu saja aku masih ingat. Aku sangat benci pemahat itu. Bagaimana
ia begitu tega menggunakan pahatnya untuk melukai diriku. Rasanya sakit sekali!"

Patung Pualam: "Kau benar! Pemahat itu tidak bisa mengukir dirimu sama sekali karena
kau menolaknya."

Lantai Pualam: "Lalu?"

Patung Pualam: "Ketika ia memutuskan untuk tidak meneruskan pekerjaannya pada
dirimu, lalu ia berusaha untuk memahat tubuhku. Saat itu aku tahu melalui hasil karyanya
aku akan menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda. Aku tidak menolak peralatan
pahatnya membentuk tubuhku. Aku berusaha untuk menahan rasa sakit yang luar biasa."

Lantai Pualam: "Mmmmmm…."

Patung Pualam: "Kawanku, ini adalah harga yang harus kita bayar pada segala sesuatu
dalam hidup ini. Saat kau memutuskan untuk menyerah, kau tak boleh menyalahkan siapa-
siapa atas apa yang terjadi pada dirimu sekarang."
Tubuh Kayu dan Hati Batu




Xia Tong hidup pada zaman Dinasti Jin. Ia berbakat dalam berbagai bidang, termasuk
menjadi seorang pembicara yang fasih. Suatu ketika ia berada di ibukota untuk melakukan
beberapa bisnis, seorang pejabat militer berpangkat tinggi bernama Jia Chong mendengar
reputasi Xia Tong dan bermaksud mengunjunginya.

Jia Chong tidak hanya mengagumi Xia Tong tetapi juga ingin menang darinya demi
memperkuat kekuasaannya.

Xia Tong tidak mementingkan keuntungan dan ketenaran, tidak suka bertarung demi
kekuasaan, dan tidak berkeinginan untuk ditunjuk menjadi seorang pejabat. Ketika Jia
Chong datang mengunjunginya, ia sudah mengetahui bahwa Jia Chong akan mencoba
meyakinkannya. Xia Tong menolak dengan halus. Namun, Jia Chong tidak menyerah dan
mencoba merayunya dengan cara lain.

Jia Chong segera memerintahkan pasukannya yang gagah, iringan kereta dan marching
band untuk melakukan pertunjukan tepat di depan Xia Tong dan berkata, “Jika Anda
menerima tawaran saya, Anda bisa menjadi pemimpin pasukan, begitu agungnya!”

Xia Tong tidak tergerak.

Jia Chong kemudian meminta banyak gadis-gadis cantik yang mengenakan gaun elegan dan
perhiasan berharga untuk menari mengelilingi Xia Tong.

“Jika Anda menerima tawaran saya untuk menjadi seorang pejabat, Anda dapat memiliki
semua gadis-gadis cantik ini.”

Xia Tong duduk di sana dengan tubuh tegak seolah-olah ia tidak melihat apa-apa.

Akhirnya Jia Zhong menyerah dan dengan marah berkata, “Tubuh Xia Tong terbuat dari
kayu dan hatinya dari batu!” Dengan demikian, Xia Tong kembali ke rumah.

Sejak itu ungkapan “Sebuah tubuh kayu dan hati batu” diteruskan kepada generasi
selanjutnya. Ini berarti bahwa seseorang sangat teguh dan tidak dapat tergoda oleh
ketenaran atau kekuasaan.
Seberapa Berat Segelas Air?




Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Steven Covey mengangkat
segelas air dan bertanya kepada para siswanya:

"Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?" Para siswa menjawab mulai dari 200 gr
sampai 500 gr.

"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya."
kata Covey.

"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya
selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari
penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya
sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."

"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu
membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.

"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum
mengangkatnya lagi".

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan
mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini,
tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok.
Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah
beristirahat nanti dapat diambil lagi.




Seorang Pemuda dengan Seekor Sapi Perahnya
oleh : Xie Zheng Ming


Alkisah pada jaman dahulu kala ada seorang pemuda mempunyai seekor sapi. Sapi ini
setiap harinya diperah menghasilkan seember penuh susu. Suatu hari dia mempunyai
sebuah pemikiran yang menurut dirinya adalah membanggakan. Setiap hari memerah susu
mendapatkan seember penuh, berarti dalam sebulan saya akan mendapatkan 30 ember.
Untuk apa setiap hari susah-susah bekerja, bukanlah sebulan sekali dengan bekerja lebih
keras sehari juga bisa mendapatkan 30 ember susu? Sejak hari itu ia tidak memeras susu
lagi. Setelah lewat 1 bulan ia mengundang kerabat dan teman-temannya untuk menikmati
susu segar bersama-sama. Ketika para tamu telah datang, pergilah dia ke kandang sapi
dan mulai memerah susu. Akan tetapi bagaimanapun kerasnya usaha dia mencoba, tak
sedikitpun susu ia dapat. Betapa malunya ia. Secara keilmuan susu sapi memang harus
diperah setiap hari, jika tidak sapi secara alami akan menghentikan produksi susunya.

Menulis cerita di atas menjadi teringat ketika masa-masa SMA saya. Ketika itu
matematika, akuntansi adalah momok bagi sebagian murid. Guru saya yang mengajar
pelajaran tersebut selalu menekankan pemahaman akan proses dan logika berpikir, bukan
hasil. Karena itu setiap kali ulangan beliau selalu memberikan soal dalam bentuk
uraian/essay tidak dalam bentuk pilihan objektif, sehingga akan dapat terbaca alur
berpikir masing-masing siswa, jawaban akhir salah bisa saja mendapatkan nilai yang
bagus.

Kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari hanya memikirkan hasilnya bukan
bagaimana cara untuk mencapai hasil tersebut. Melihat orang bisa kaya, memperoleh gelar
akademis yang tinggi, punya kedudukan dalam masyarakat hanya merasa iri hati. Mereka
bisa kaya, berpengetahuan luas, terpandang dalam masyarakat karena dulunya telah
melewati masa-masa perjuangan dan kini sedang memetik jerih payahnya. Orang bisa kaya
karena hidup hemat. Orang bisa memiliki wawasan luas karena rajin belajar dan
membaca. Orang bisa dihormati dalam masyarakat karena telah berkorban dan berdedikasi
bagi orang banyak.

Ada juga orang yang meninginkan hasil dalam waktu sekejab secara instant, maka jadilah
hasil yang instant. Coba bandingkan rasa buah antara yang masak di pohon dengan yang
masak karena karbit, mana yang lebih enak? Kalau kita telah menjalani proses itu setapak
demi setapak niscaya keberhasilan di depan mata. Tanpa mengalami proses bisa berhasil
itu hanya kebetulan saja, seperti ketika kita memilih jawaban yang pas atas pertanyaan
objektif yang tidak kita mengerti.

Raport Sang Suami
Ada seorang lelaki yang sering berkeluh kesah tentang istrinya kepada orang lain. Istri saya
setiap hari pekerjaannya ya cuma merawat 3 orang anak, tidak berkerja untuk menambah
penghasilan rumah tangga. Lelaki ini juga merasa jengkel atas sikap istrinya yang selalu
mengeluh merasa lelah. Suatu hari karena kelehan bekerja, sang istri jatuh sakit & harus
rawat inap. Si suami berpikir akan menggunakan kesempatan ini menunjukkan kepada sang
istri bahwa dia bisa melakukan segala pekerjaan rumah termasuk merawat 3 orang anak
dengan lebih baik. Apa susahnya melakukan pekerjaan rumah, mudah sekali, lihatlah
semuanya akan saya lakukan untuk kamu. Si suami dengan rinci mencatat segala aktivitas
selama seharian penuh selain mencuci-menyapu-memasak untuk diperlihatkan kepada sang
istri. Berikut adalah catatan “raport si suami”:

·     Membuka & menutup pintu untuk anak2 98x
·     Berteriak keras jangan ribut, diam 92x
·     Mengangkat telepon 12x
·     Membantu anak memakai & melepas sepatu 21x
·     Menjawab pertanyaaan konyol anak 120x
·     Melerai perdebatan antar anak 16x
·     Membuka kulkas, memberi air, menyiapkan makanan & susu 38x
·     Mengirim surat, menjualkan barang 6x
·     Ke jalan mengejar anak, kira-kira menempuh jarak 5. 5 km

Hari kedua si suami segera berlari menuju rumah sakit, memohon agar dokter bisa
memberikan obat untuk rawat jalan saja karena merasa sudah tidak tahan lagi. Pada hari
yang sama si suami juga pergi ke toko elektronik, membeli barang yang telah diinginkan
sang istri 3 tahun lalu, tetapi karena dianggap tidak seberapa penting jadi diabaikan, baru
sekarang menyadari betapa pentingnya alat tersebut. Alat itu adalah mesin cuci. Ketika
mesin cuci itu diantar ke rumah, ada secarik kertas merah yang menempel, tertulis
:"istriku, kamu memang hebat"

Dari kisah ini kita dapat belajar sesuatu: pekerjaan walaupun tampak sederhana namun
jika kita belum pernah merasakan sendiri tidak akan dapat menghayati betapa jerih
payahnya. Pernahkah kita membayangkan betapa sulitnya memasak itu? Ingin memasak
sesuatu tetapi bahan tidak komplit, akhirnya dengan bahan-bahan yang tersedia jadilah
seporsi makanan. Kita yang tinggal makan apa pantas berkomentar lain selain
mengucapkan terimakasih? saya pun belum tentu bisa demikian, semoga para pembaca
lebih bijaksana daripada saya.
Kedamaian Hati adalah Kedamaian Sejati




Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada
siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis
berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut. Sang Raja berkeliling melihat-lihat
hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukainya. Tapi,
sang Raja harus memilih satu diantara keduanya.

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga yang itu
bagaikan cermin sempurna yang mematulkan kedamaian gunung-gunung yang tenang
menjulang mengitarinya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-
arak. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik
mengenai kedamaian.

Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di
atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai,
sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Disisi gunung ada air terjun deras yang
berbuih-buih, sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang
raja melihat sesuatu yang menarik, di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil
diatas sela-sela batu. Didalam semak-semak itu seekor induk burung pipit meletakkan
sarangnya. Jadi, ditengah-tengah riuh rendahnya air terjun, seekor induk Pipit sedang
mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.

Lukisan manakah yang memenangkan lomba?
Sang Raja memilih lukisan nomor dua.

Tahukah Anda mengapa? karena jawab sang Raja, “Kedamaian bukan berarti Anda harus
berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk.
Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski Anda berada di tengah-tengah
keributan luar biasa.”

“Kedamaian hati adalah kedamaian sejati.”




Kisah 2 Orang Salesman
Joko dan Edi sama-sama diterima di sebuah perusahaan FMCG sebagai salesman. Mereka
berdua bekerja keras. Satu tahun kemudian bos Chandra mengangkat Edi menjadi Sales
Supervisor sedangkan Joko tetap saja menjadi Salesman.

Suatu hari Joko tidak tahan lagi dan mengajukan pengunduran dirinya kepada bos
Chandra. Alasan Joko perusahaan ini tidak memperhatikan orang yang bekerja keras,
hanya orang yang pandai menjilat bos saja yang bisa naik.

Bos Chandra tau bahwa Joko pekerja keras tetapi untuk menyadarkan Joko apa beda dia
dengan Edi maka ia memberikan satu tugas kepada Joko.Ia meminta Joko untuk
menemukan seorang pedagang semangka di pasar dekat kantor.

Saat Joko kembali, bos Chandra bertanya: “Sudah kau temukan Jok?”
“Sudah pak” jawab Joko.
“Berapa harga semangkanya?” tanya Bos Chandra.
Joko pun kemudian pergi ke pasar lagi untuk menanyakan harga semangka lalu kembali
menghadap bos Chandra dan berkata: “Rp 1000 per kg pak.”

Bos Chandra berkata kepada Joko bahwa sekarang dia akan memberi perintah yang sama
kepada Edi. Edi ke pasar dan setelah kembali menghadap ke bos Chandra. Edi lapor
kepada bos Chandra: “Di pasar hanya ada 1 pedagang semangka, harga semangka Rp 1000
per kg, kalau beli 100 kg hanya Rp 800 per kg nya,- ia mempunyai stok 324 biji, yang 32
dipajang di counternya. Semangka didatangkan dari Indramayu 2 hari yang lalu, warnanya
hijau segar dan isinya merah jingga, kualitasnya bagus.”

Joko sangat terkesan dengan laporan Edi dan memutuskan untuk tidak jadi mengundurkan
diri tetapi akan belajar lebih banyak dari Edi. Bekerja lebih keras saja tidak cukup.
Seorang yang lebih sukses meneliti lebih banyak, Berpikir lebih banyak dan Mengerti lebih
mendalam.

Untuk alasan yang sama seorang yang lebih sukses melihat beberapa tahun ke depan
sedangkan anda hanya melihat esok hari saja. Perbedaan antara 1 hari dan 1 tahun adalah
365 kali lipat. How could you win? Semoga memberi inspirasi untuk anda Agar Bisa menjadi
lebih Sukses

  Orang jaman dahulu yang hendak menggemilangkan Kebajikan Yang Bercahaya itu pada
    tiap umat di dunia, ia lebih dahulu berusaha mengatur negerinya; untuk mengatur
  negerinya, ia lebih dahulu membereskan rumah tangganya; untuk membereskan rumah
   tangganya, ia lebih dahulu membina dirinya; untuk membina dirinya, ia lebih dahulu
 meluruskan hatinya; untuk meluruskan hatinya, ia lebih dahulu mengimankan tekadnya;
 untuk mengimankan tekadnya, ia lebih dahulu mencukupkan pengetahuannya; dan untuk
mencukupkan pengetahuannya, ia meneliti hakekat tiap perkara. (Ajaran Besar Bab Utama
                                            : 4)
10 Kekuatan Manusia - Nasihat Zhuge Liang Kepada Anaknya




Zhuge Liang alias Kong Ming gemar membaca, dan menguasai bermacam ilmu pengetahuan
diantaranya ilmu geologi, sejarah, sampai strategi perang. Di usia 27 tahun ia diangkat
Raja Shu (Liu Bei) sebagai penasehat kerajaan. Selama menjadi penasehat, Zhuge Liang
pernah menulis sebuah surat kepada anaknya. Isi surat yang ditulis 1.800 tahun yang lalu
itu sarat dengan dengan kebijakan yang tak lekang oleh waktu dan perubahan, diantaranya
berisi tentang 10 kekuatan manusia, yaitu:

Kekuatan Keheningan

Keheningan membantu kita menenangkan diri untuk menjernihkan pikiran. Ia menjelaskan
bahwa suasana hening membantu kita melakukan introspeksi diri, mengevaluasi segala
tindakan, dan menumbuhkan tekad untuk memperbaiki diri. Ia juga menegaskan bahwa
kunci keberhasilan dalam belajar adalah keheningan, sebab dalam keheningan kita dapat
menelusuri apa sebenarnya visi dan misi hidup kita.


Kekuatan Hidup Hemat

Zhuge Liang memberikan petunjuk bahwa hidup bersahaja akan menyelamatkan diri kita
agar tidak diperbudak oleh materi. Hidup sederhana menurut sang penasehat ini
membentuk diri kita menjadi manusia yang lebih bermoral. Jangan terseret dalam pola
hidup boros, sebab pola hidup boros suatu saat dapat mengubur kita kedalam tumpukan
hutang dan puing-puing kehancuran.


Kekuatan Membuat Perencanaan

Dalam surat-surat itu Zhuge Liang menegaskan tentang pentingnya merencanakan hidup.
Fail to plan means plan to fail – Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal.
Dengan melakukan perencanaan yang baik, maka kita akan dapat menempatkan prioritas
dengan baik pula. Sebaliknya, tanpa perencanaan yang baik akan selalu membuat kita
gagal menyelesaikan apapun yang kita kerjakan.
Kekuatan Belajar

Zhuge Liang dalam suratnya menyebutkan bahwa keheningan memaksimalkan pencapaian
hasil dari tujuan belajar. Ia meyakini bahwa kemampuan manusia bukan berasal dari
pembawaan sejak lahir, melainkan merupakan hasil dari proses pembelajaran yang
dilakukan dengan konsisten. Oleh sebab itu ia menyarankan agar kita tak pernah berhenti
belajar sampai kapanpun. Sementara dalam proses pembelajaran, kerendahan hati akan
sangat membantu kita menyerap dengan mudah ilmu pengetahuan yang dibutuhkan.


Kekuatan Nilai Tambah

Nasehatnya ini menekankan kita agar lebih banyak memberi, karena hal itu akan membuat
kita lebih banyak menerima. Oleh sebab itu kita harus berusaha untuk selalu memberikan
yang terbaik untuk orang lain, diantaranya kepada keluarga, kerabat, teman, konsumen,
mitra bisnis, dan lain sebagainya. Bila kita mampu memberikan sesuatu yang ekstra atau
nilai tambah terhadap apa yang dibutuhkan orang lain, tentu saja mereka akan senang,
merasa tersanjung dan terpesona. Tak heran jika selanjutnya mereka ingin selalu menjalin
hubungan yang menguntungkan bagi Anda.


Kekuatan Kecepatan

Beliau menesehat anaknya agar tidak menunda-nunda pekerjaan karena penundaan artinya
menghambat usaha kita mencapai visi dan misi secepat mungkin. Ia menandaskan agar kita
menjalankan segala sesuatu dengan efektif dan efisien waktu. Dalam hal ini sangat
dibutuhkan kemampuan memanajemen waktu. Jika perlu, satu hal dilakukan bersama-
sama dengan tim agar lebih cepat terselesaikan, "Alone we can do so little; together we
can do so much. – Sendiri kita menyelesaikan sedikit pekerjaan; bersama kita kerjakan
sangat banyak pekerjaan," kata Hellen Keller.


Kekuatan Karakter

Zhuge Liang menasehati anaknya agar membiasakan diri tidak bersikap tergesa-gesa,
sebab segala sesuatu memerlukan proses. Kehati-hatian dalam bersikap dapat membentuk
sebuah karakter yang utuh. Dalam pepatah bangsa Tionghoa dikatakan, "Diperlukan waktu
hanya sepuluh tahun untuk menanam dan memelihara sebatang pohon, tapi memerlukan
waktu paling sedikit 100 tahun untuk membentuk sebuah watak yang utuh."


Kekuatan Waktu

Dalam suratnya Zhuge Liang menginginkan anaknya menghargai waktu. Sebab waktu
berlalu sangat cepat, tak jarang ikut mengikis semangat dan cita-cita kita. Oleh sebab itu
manajemen waktu dengan baik, jangan pernah menyia-nyiakan waktu dengan melakukan
aktifitas yang kurang bermanfaat.


Kekuatan Imaginasi

Zhuge Liang memberikan nasehat supaya kita berpikir jauh ke depan, agar kita tidak
tertinggal oleh jaman yang terus berkembang. Imajinasi tentang masa depan dikatakannya
lebih kuat dari pengetahuan. Hal ini juga pernah diucapkan oleh Albert Einstein,
"Imagination is everything. It is the preview of life's coming attractions. – Imajinasi adalah
segalanya. Imajinasi adalah penarik realitas yang akan datang."


Kekuatan Kesederhaan

Sang penasehat ini mencontohkan kekuatan kesederhanaan dalam setiap surat-suratnya
yang singkat dan mudah dimengerti tetapi sarat tuntunan hidup positif. Tidak ada teori
atau tuntunan hidup yang muluk-muluk, melainkan kebijaksanaan hidup yang sederhana.
Begitupun jika kita ingin menghasilkan prestasi hidup yang luar biasa, tak perlu
menggunakan teori yang rumit. Sekalipun tindakan atau langkah-langkah yang kita lakukan
sederhana tetapi jika dilakukan dengan konsisten maka kita akan mudah meraih visi dan
misi. "

Itulah beberapa inti pesan dalam surat-surat Zhuge Liang, yang ditujukan untuk anaknya
agar ia mampu berpikir, bersikap dan bertindak lebih baik dari hari ke hari. Kita dapat
menyerap pemikirannya untuk menjadi yang terbaik. Jika kita berhasil melakukan yang
terbaik artinya kita akan semakin dekat dengan kehidupan yang kita inginkan, kehidupan
yang indah.




Sayur Di Tukar Dengan Tepung Terigu
Lu Yan memikul dua buah keranjang sayur, dia berjalan menuju pasar untuk menjual
sayurnya, tetapi hari ini hanya beberapa orang saja yang membeli sayurnya. Tiba-tiba
pemilik toko tepung yang berada di pasar memanggilnya : "Lu Yan, aku ingin membeli
semua sayurmu! Tetapi, saat ini aku tidak punya uang tunai, bagaimana jika aku
menukarnya dengan tepung terigu saja?"


"Baiklah, bagaimana perhitungannya?"


"satu keranjang sayur ditukar dengan satu keranjang tepung terigu. Tetapi kamu harus
menggunakan keranjang sayurmu untuk mengisi tepung terigunya, selain itu kamu tidak
boleh meletakkan alas di bawah keranjang."

Ini jelas-jelas sebuah persoalan yang sulit. Jika tepung terigunya dimasukkan ke dalam
keranjang, pasti akan keluar lagi lewat lubang-lubang keranjang. Walaupun demikian, Lu
Yan setuju dengan persyaratan si pemilik toko tepung. Lu Yan mengeluarkan sayur yang ada
di keranjangnya, kemudian memberikan pada si pemilik toko tepung. Setelah itu, Lu Yan
mencuci keranjang bekas sayur itu sampai bersih. Lalu Lu Yan berkata pada si pemilik toko
sambil menunjuk keranjang sayurnya yang basah : "Silakan masukkan tepung terigunya ke
dalam keranjang ini!"

Si pemilik toko mulai memasukkan tepungnya ke dalam keranjang. Tetapi karena
keranjangnya basah, tepungnya dapat menempel pada keranjang,sehingga lubang-lubang
pada keranjang tersebut tertutup oleh tepung, dan tepungnya pun tidak tercecer keluar. Lu
Yan pun meninggalkan pasar sambil memikul dua keranjang penuh tepung terigu. Si pemilik
toko hanya bisa tertegun menatap kepergian Lu Yan yang membawa dua keranjang tepung
terigu miliknya. Tadinya dia ingin menipu Lu Yan, tetapi justru dia sendiri yang tertipu oleh
kebodohannya sendiri.




8 x 3 = 23

Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik.
Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain
sedang dikerumuni banyak orang.
Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3 X 8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”

Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3 X 8 = 24, tidak usah
diperdebatkan lagi.”

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa
minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius.
Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.”

Yan Hui: “Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain: “Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong
untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”

Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.”

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius. Setelah
Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil
tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia.”

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia
berikan kepada pembeli kain.
Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat.

Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar
darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga.
Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.
Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confucius memintanya cepat kembali
setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat : “Bila hujan
lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.”

Yan Hui menjawab, “Baiklah,” lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya
sudah mau turun hujan lebat.
Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat
Confucius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi.
Dia meninggalkan pohon itu.
Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur.
Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang?
Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu
tidur istrinya.
Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya.
Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri
ranjang dan seorang lagi di sisi kanan.
Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya.
Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confucius,
jangan membunuh.
Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah
adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confucius, berlutut dan berkata:
“Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”

Confucius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun
hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah
pohon.
Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru
mengingatkanmu agar jangan membunuh”.

Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”
Jawab Confucius : “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga.

Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.
Cobalah kamu pikir.
Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan
jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah
dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih
penting?”

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih
utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.”

Sejak itu, kemanapun Confucius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.




Bejana Tanah Liat




William seorang penasihat kerajaan yang disegani karena kebijaksanaannya, raja sangat
memperhatikan perkataan & nasihatnya. Wajah buruk & tubuhnya yang bongkok membuat
putri raja iri & bertanya sambil mengejek: “Jika engkau bijaksana, beritahu aku mengapa
Tuhan menyimpan kebijaksanaanNya dalam diri orang yang buruk rupa & bongkok.”

William balik bertanya: “Apakah ayahmu mempunyai anggur?” “Semua orang tahu ayahku
mempunyai anggur terbaik, pertanyaan bodoh macam apa itu”, putri raja menyahut sinis.
“Di mana ia meletakkannya ?” William bertanya lagi, “yang pasti di dalam bejana tanah liat.”
Mendengar itu William tertawa. “Seorang raja yang kaya akan emas & perak seperti ayahmu
menggunakan bejana tanah liat?”

Mendengar itu putri raja berlalu meninggalkannya dengan rasa malu, ia segera
memerintahkan pelayan memindahkan semua anggur yang ada di istana dari dalam bejana
tanah liat ke dalam bejana dari emas & perak.

Suatu hari raja mengadakan jamuan bagi para tamu kerajaan, alangkah kagetnya ia karena
anggur yang diminumnya rasanya sangat asam, lalu dengan geram ia memanggil semua
pelayan istana yang kemudian menceritakan bahwa anggur yang disuguhkan tadi berasal
dari bejana emas & perak atas instruksi putri raja sendiri, lalu raja menegur keras perilaku
putrinya itu.

Putri raja berkata kepada William, “Mengapa engkau menipu aku, aku memindahkan semua
anggur ke bejana emas tapi hasilnya semua anggur jadi terasa asam.” dengan ringan William
menjawab: “sekarang engkau tahu mengapa Tuhan lebih suka menempatkan kebijaksanaan
dalam wadah yang sederhana, kebijaksanaan itu sama seperti anggur ia hanya cocok dalam
bejana dari tanah liat.”

Ketika Tuhan mencari sarana yang ingin dipakaiNya, Ia tidak harus mencari yang terbuat
dari emas, tapi cukup dari tanah liat yang sederhana.




Buah Kejujuran




Pada suatu hari ada seorang penebang kayu yang sedang menebangi cabang sebuah pohon
yang melintang di atas sungai. Tiba-tiba kapaknya terjatuh ke sungai itu. Ketika ia mulai
menangis, Raja menampakkan diri dan bertanya, “Mengapa kamu menangis?” Si penebang
kayu menjawab bahwa kapaknya telah terjatuh ke dalam sungai.

Segera Raja masuk ke dalam air dan muncul dengan sebuah kapak emas.

“Inikah kapakmu?” Raja bertanya.

“Bukan,” si penebang kayu menjawab.

Raja masuk kembali ke air dan muncul dengan kapak perak. “Inikah kapakmu?” Raja
bertanya lagi.

“Bukan,” si penebang kayu menjawab.
Sekali lagi Raja masuk ke air dan muncul dengan kapak besi. “Inikah kapakmu?” Raja
bertanya.

“Ya!” jawab si penebang kayu.

Raja sangat senang dengan kejujurannya dan memberikan ketiga kapak itu kepadanya. Si
penebang kayu pulang ke rumahnya dengan hati bahagia.

Beberapa waktu kemudian, si penebang kayu berjalan-jalan di sepanjang sungai dengan
istrinya. Tiba-tiba sang istri terjatuh ke dalam sungai. Ketika ia mulai menangis, Raja
menampakkan diri dan bertanya, “Mengapa kamu menangis?”


Si penebang kayu menjawab bahwa istrinya telah terjatuh ke dalam sungai. Segera Raja
masuk ke dalam air dan muncul dengan Cleopatra. “Inikah istrimu?” Raja bertanya.

“Ya!” si penebang kayu menjawab, cepat.

Mendengar itu, Raja menjadi sangat marah. “Kamu berbuat curang! Aku akan
mengutukmu!” tegur Raja.

Si penebang kayu segera menjawab, “Maafkan saya, ya Raja. Ini hanya kesalahpahaman
belaka. Kalau saya berkata ‘Bukan’ pada Clopatra, Engkau pasti akan muncul kembali
dengan Ratu Interniti. Kalau saya juga berkata ‘Bukan’ kepadanya, pada akhirnya Engkau
pasti akan muncul dengan istri saya, dan saya akan berkata ‘Ya’. Kemudian Engkau pasti
akan memberikan ketiganya kepada saya.

“Raja, saya adalah orang miskin. Saya tidak akan mampu menghidupi mereka bertiga. Itu
sebabnya saya menjawab ‘Ya’.”

Hmm… Kejujuran, kapan pun memang selalu membawa kisah manis.
Kebajikan Bambu




Kalau kita perhatikan lukisan oriental, banyak yang mengambil tanaman bambu sebagai
objek. Tentu kita bertanya-tanya, "Mengapa bambu?" Apanya yang menarik atau unik dari
tanaman ini? Padahal kalau mau jujur, dari segi keindahan masih banyak tanaman atau
objek lain yang jauh lebih menarik. Mengapa harus bambu?

Ternyata bukan soal keindahan atau keunikan belaka yang menjadi dasar pertimbangan. Di
dalam tanaman bambu terkandung simbolisasi nilai-nilai luhur yang diajarkan Para Bijak
zaman dahulu, terutama oleh Sheng Ren Kong Zi atau Nabi Khonghucu. Nilai-nilai luhur itu
kemudian diejawantahkan dalam lukisan bambu, yang biasanya diperkaya dengan seuntai
puisi atau syair yang indah dan penuh makna.

Nilai pertama adalah tentang Xiao, Hauw atau Laku Bakti. Seseorang yang tidak memiliki
Xiao, dianggap orang yang tidak berbudi, tidak tahu terima kasih, seperti kacang lupa
kulitnya. Pada zaman dahulu, kalau seseorang dikatakan Bu Xiao, Put Hauw, atau tidak
berbakti, itu merupakan sebuah bentuk hukuman moral yang paling tinggi, paling berat. Bila
seseorang dianggap Bu Xiao, bisa jadi orang yang bersangkutan akan terasing hidupnya,
dicibir atau bahkan dijauhi oleh lingkungannya.

Yang dimaksud dengan Xiao adalah Laku Bakti dalam arti luas. Mulai dari berbakti kepada
orangtua, guru atau yang dituakan, keluarga, masyarakat, bangsa, negara sampai pada
kemanusiaan. Meski demikian tidak jarang perilaku Laku Bakti ini direduksi seolah-olah
hanya untuk orang tua atau untuk hal tertentu saja. Padahal bertanggung jawab atas
kesehatan dan kebaikan diri sendiri juga merupakan salah satu wujud dari Xiao atau Laku
Bakti.

Kalau kita lihat tanaman bambu, pada saat ia bertumbuh besar, secara hampir bersamaan ia
juga beranak-pinak dengan cara bertunas. Artinya bambu melakukan dua hal penting
sekaligus, yaitu: merawat diri dan berkembang biak. Keduanya merupakan lambang Xiao
atau Laku Bakti, menjaga warisan orangtua dan melanjutkannya sepenuh hati.

Mengapa bambu yang relatif jauh lebih kecil ketimbang pepohonan lain bisa lebih lentur dan
liat? Salah satu faktor penyebabnya adalah adanya ruang kosong di dalam batang bambu.
Ruang ini disamping bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan bunyi atau nada, juga
melambangkan sifat kosong atau rendah hati (Di). Karena ada kerendahan hati, merasa diri
masih kurang, maka seseorang bisa berniat atau berkeinginan untuk belajar. Kalau tidak
kosong, maka tidak ada ruang untuk menerima pendapat orang lain alias sombong.

Nilai Di atau kerendahan hati ini perlu dikembangkan terus-menerus. Hanya orang rendah
hati saja yang selalu merasa kurang pandai. Dengan sifat ini ia akan terus merasa terpacu
untuk belajar, yang pada akhirnya akan membuatnya semakin bertambah pengetahuan.
Sikap rendah hati juga akan membuat orang lain sulit mengukur kekuatan dan kelemahan
kita. Dengan demikian nilai tawar kita akan semakin tinggi karena sulit untuk diperkirakan
tinggi rendahnya.

Sifat bambu ketiga adalah lurus. Hampir tidak pernah dijumpai ada bambu yang tidak lurus
atau bercabang. Sifat ini melambangkan Zhong atau kesatyaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa. Namun yang sesungguhnya, Zhong bukanlah sekadar satya belaka, namun juga
melukiskan keseimbangan atau Tepat Tengah. Dengan demikian, seseorang yang sudah
sampai pada tahapan Zhong, sudah lepas dari subjektivitas diri yang berlebihan. Dengan
menghayati sikap Zhong, orang akan tahu kapan harus berjalan maju, berhenti atau bahkan
kapan harus berjalan mundur, sehingga ia akan mencapai tempat atau cita-cita yang tepat,
pas dan tidak berlebihan.

Kalau kita melihat rerumpun bambu yang rimbun, maka bisa kita melihat bahwa bambu-
bambu tersebut banyak yang condong ke berbagai arah. Ada yang condong ke depan, ke
belakang, ke kapan atau ke kiri. Namun meski berbeda-beda arah, rerumpunan bambu tetap
merupakan satu kesatuan utuh, karena mempunyai jalinan akar yang menyatu, tersambung
satu sama lain. Ini mengibaratkan perilaku seorang Junzi (beriman, terpelajar dan berbudi
luhur), yang meski berbeda-beda, namun tetap bisa rukun. Sementara Xiao Ren (orang
rendah budi), meski sama tidak bisa rukun.

Makna lebih jauh yang bisa dipetik adalah sikap Dapat Dipercaya atau Xin. Meski berbeda
pandangan, kalau sudah menyangkut hal mendasar, maka perbedaan akan luruh dikalahkan
kepentingan yang lebih besar. Dalam kalimat yang berbeda, kebenaran yang lebih kecil,
haruslah bisa mengalah pada Kebenaran Besar atau kepentingan bersama. Di sini kebenaran
kecil dilambangkan dengan arah bambu yang berlawanan, sedang Kebenaran Besar
dilambangkan dengan saling menyatunya jalinan akar satu bambu dengan lainnya.

Ciri khas bambu yang kelima adalah beruas-ruas alias berbuku-buku pada batangnya. Ini
melambangkan perlu adanya tahapan, tatanan atau aturan. Dalam bahasa yang lebih agamis
filosofis bisa diartikan sebagai kesusilaan atau kesantunan sosial. Dengan demikian ciri khas
bambu kelima ini bisa melambangkan nilai-nilai kesusilaan, tata susila atau Li. Selain bisa
melambangnya makna Li, ruas bambu juga melambangkan arti pentingnya sebuah proses.
Ini untuk mengingatkan kita semua yang sering tidak sabar melalui proses demi proses,
tahapan demi tahapan.
Nilai luhur keenam adalah Yi atau kebenaran. Simbolnya ialah akar bambu yang menghujam
lurus masuk ke dalam tanah. Ini berarti semua tindakan kita haruslah mempunyai dasar
pijakan yang tepat. Dengan demikian bisa dipertanggungjawabkan secara kuat.

Akar yang kuat, lurus dan menghujam dalam jauh ke bawah permukaan bumi inilah yang
membuat tanaman bambu kokoh dan tidak mudah tumbang. Demikian pula seharusnya
setiap tindakan kita.

Bila dilandasi oleh nilai kebenaran, maka setiap langkah atau tindakan yang kita ambil akan
lebih pasti, mantap, tugas dan tidak gamang.

Nilai moral ketujuh adalah Lian, Suci Hati, Tulus Hati atau Ketulusan, yang dilambangkan
dengan jalinan akar bambu. Dengan adanya sifat ini maka setiap orang akan dibuka mata
hatinya untuk saling menyapa, menolong dan membantu, seperti halnya bambu yang
kelebihan makanan karena tumbuh di tempat yang lebih subur menolong bambu yang
kekurangan makanan karena tumbuh di tempat yang kurang subur melalui transfer
makanan lewat jaringan akarnya.

Salah satu sifat manusia yang membedakannya dengan binatang adalah Tahu Malu atau
Che. Dengan demikian manusia yang kehilangan rasa Tahu Malunya bisa diartikan sudah
kehilangan pula rasa kemanusiaannya. Tahu Malu yang dimaksud di sini tidak saja
menyangkut hal yang terkait dengan kesopanan, moralitas dan kesusilaan, namun juga
menyangkut kemampuan diri memberikan makna dan kontribusi bagi keluarga, masyarakat,
bangsa, negara dan kemanusiaan.

Sebagai simbol Che adalah kemampuan bambu menyumbangkan semua bagian dirinya
untuk kehidupan. Tunas muda yang disebut rebung dapat diolah menjadi makanan lezat
seperti lumpia. Bambu berbagai ukuran bisa digunakan sebagai bahan: seruling, bambu
runcing, angklung, calung, rakit, sampai bahan bangunan. Bahkan daunnya pun dapat
digunakan sebagai bungkus bacang, jajanan khusus yang terbuat dari ketan. Dengan simbol
ini setiap orang dituntut terus belajar agar mempunyai multi talenta seperti bambu. Dengan
demikian kehadirannya menambah, sedang ketidakhadirannya akan mengurangi.

Memahami paparan di atas, dapatlah dimengerti mengapa lukisan oriental banyak
menampilkan bambu sebagai objek. Menjadi jelas bukan karena keindahannya saja, tapi
karena ciri tanaman bambu bisa dijadikan simbol nilai-nilai luhur Xiao, Di, Zhong, Xin, Li,
Yi, Lian, Che atau Laku Bakti, Rendah Hati, Satya, Dapat Dipercaya, Susila, Benar atau
Bajik, Tulus atau Suci Hati, dan Tahu Malu. Kedelapan nilai-nilai itu dikenal sebagai Ba De
atau Delapan Kebajikan yang merupakan salah satu mutiara ajaran agama Khonghucu.




Gasing Waktu
Alkisah, ada seorang pelajar di sebuah desa kecil, yang memiliki cita-cita sebagai pegawai
pemerintah. Demi mewujudkan cita-citanya, dia berangkat ke ibu kota untuk menempuh
ujian negara.

Di sela perjalanan yang jauh dan melelahkan, si pelajar berhenti sejenak melepas lelah.
Tak lama ia pun terbawa dalam lamunan. Muncul perasaan was-was terhadap kemampuan
dirinya dan sesaat kemudian dia membayangkan seandainya bisa diterima sebagai pegawai
pemerintah. Di tengah asyiknya melamun, tiba-tiba seorang kakek berdiri di hadapannya
menyapa: “Hai anak muda, engkau tampak bukan orang dari sini. Hendak ke mana?”

“Saya hendak ke ibu kota Kek, mengikuti ujian negara.”

“Kakek perhatikan dari tadi, apa yang sedang kamu lamunkan?”

Mereka pun terlibat pembicaraan seru.

Setelah bertukar pikiran, tiba-tiba sang kakek mengeluarkan suatu benda dari sakunya.
Lalu, iamemberikannya kepada si pelajar sambil berkata, “Mungkin ini yang kau perlukan,
Nak!”

“Sebuah gasing? Bagaimana sebuah gasing dapat mewujudkan cita-cita saya, Kek?” tanya si
pemuda keheranan.

Sang kakek menjawab, “Nak, ini adalah gasing waktu. Jika kamu memutar gasing ini ke
kanan, maka kamu akan sampai pada saat dan keadaan yang seperti kamu inginkan.”
Setelah si pelajar menerima gasing,si kakek pun berlalu pergi.

Merasa aneh, si pelajar segera mencoba kebenaran ucapan sang kakek. Sambil
membayangkan keberhasilan dirinya lulus ujian negara, ia memutar gasing ke kanan. Dan
tiba-tiba, si pelajarmendapati dirinya berada di depan papan pengumuman ujian negara
dan namanya tercantum pada pengumuman kelulusan. Ia sangat gembira. Namun
kegembiraannya tidaklah bertahan lama. Muncul perasaan tidak sabar untuk segera bisa
bekerja di pemerintahan. Maka ia pun kembali memutar gasingnya ke kanan dan dalam
sekejap si pelajar sudah berada pada pekerjaannya di kantor pemerintahan.

Kenikmatan sebagai pegawai pemerintahan juga tidak bertahan lama. Timbul keinginan
yang lebih, yaitu sebagai pejabat tinggi pemerintah. Maka segera dia pun kembali
memutar gasingnya. Dan pada saat itu juga ia berada pada posisi yang diinginkannya.Kini,
ia memutar gasing untuk mempercepat waktu dan menghindari kesulitan dalam mencapai
cita-cita telah menjadi kebiasaan si pelajar.

Secepat gasing berputar, si pelajar pun berubah menjadi tua dan menjelang ajal. Ada
penyesalan dalam dirinya, “Betapa singkat dan hambarnya kehidupanku! Alangkah baiknya
jika putaran gasing ini dapat mengembalikan aku pada masa lalu..”
Dalam kondisi putus asa sang pelajar memutar gasing ke arah yang berlawanan yaitu ke
arah kiri. Dan tiba-tiba dia pun terbangun dari tidurnya! Eh, ternyata peristiwa semua tadi
hanya mimpi belaka.

Sejenak, si pelajar merasa senang dan bersyukur bahwa semua itu cuma mimpi. Dia pun
berjanji pada dirinya sendiri, akan tetap berusaha dan menikmati setiap proses
perjuangan untuk mencapai apa yang menjadi cita-citanya.

Keinginan untuk sukses adalah impian setiap orang namun akan lebih bermakna apabila
kita merasakan setiap proses dan perjuangan untuk meraihnya.




Bayar Dengan Segelas Susu
Dikisahkan dari negeri Tirai Bambu Cina, ada seorang pemuda yang sangat miskin bernama
Hao Wude. Agar dapat membiayai sekolahnya dia menjajakan barang dagangan dari rumah
ke rumah hingga malam hari. Pada suatu malam dia merasakan perutnya sangat lapar
sedangkan uang di sakunya hanya tinggal sekeping uang receh. Dia lalu membulatkan
tekadnya, jika sampai di rumah berikutnya dia akan meminta makan kepada pemilik
rumah itu.

Namun ketika pintu rumah itu dibuka oleh seorang gadis yang berparas cantik, dia
kehilangan keberanian untuk meminta makan. Dia hanya berani meminta minum segelas
air putih. Anak perempuan itu rupanya bisa membaca wajahnya yang sedang kelaparan,
karena itu dia membawakan segelas besar susu segar. Dengan tenang pemuda itu
meminum habis susu itu, sambil bertanya, “Berapa saya harus membayar minuman lezat
ini?” Jawaban yang didapat dari gadis itu: “Anda tidak berhutang satu sen pun. Ibu saya
mengajarkan kami, jangan mengharapkan imbalan atas suatu perbuatan baik.”

Oleh sebab itu pemuda itu berkata: “Jika begitu saya hanya bisa dengan tulus hati
menyatakan terima kasih.” Saat Hao Wude meninggalkan rumah itu, ia tidak hanya
merasakan tubuh dirinya itu menjadi lebih kuat, melainkan juga keyakinan dirinya
terhadap orang lain menjadi bertambah kuat. Dia yang sebenarnya dalam keadaan putus
asa, bersiap-siap untuk menyerah, tetapi kini dia telah mendapatkan kepercayaan diri
kembali. Di kemudian hari dia selalu bekerja keras untuk maju dan akhirnya berhasil
menjadi dokter spesialis.

Beberapa tahun kemudian, gadis itu menderita sakit yang parah dan jarang ditemui. Para
dokter sudah angkat tangan terhadap penyakit yang dideritanya. Keluarga gadis itu
membawanya ke dokter spesialis di kota besar untuk diperiksa keadaannya. Mereka
meminta dokter Hao Wude untuk mendiagnosa penyakit anak mereka. Ketika dokter
mendengar bahwa si pasien adalah penduduk yang berasal dari kota tempat menimba
ilmunya dulu, sepasang mata dokter itu berbinar dengan rasa keingintahuan. Dia segera
mengenakan jubah dokter dan bergegas masuk ke kamar pasien itu. Setibanya di sana, dia
segera mengenali gadis itu.

Dia hanya menjenguknya sebentar dan segera kembali ke ruang kerjanya. Dokter itu
membulatkan tekadnya untuk menolong nyawa pasien itu. Sejak hari itu dia mengamati
dengan khusus keadaan penyakitnya. Setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya
dokter berhasil menyembuhkan pasien ini dari rengutan maut.

Akhirnya bagian penagihan dari rumah sakit membawa nota penagihan ongkos pengobatan
ke tangan dokter untuk ditanda-tangani dokter. Dokter hanya memandang sekilas nota
penagihan itu, lalu dia menuliskan beberapa kata di pinggir nota tagihan, kemudian
memasukkan kembali nota itu ke dalam amplop lalu diantarkan kekamar pasien itu.
Pada awalnya gadis itu tidak berani membuka nota tagihan itu, karena dia sudah bisa
memastikan biaya pengobatan untuk sakitnya ini tentu sangat besar hingga selama seumur
hidupnya dia tidak akan sanggup melunasi. Tetapi pada akhirnya dia memberanikan diri
untuk membukanya. Namun perhatiannya segera tertuju pada kata-kata yang tertulis di
pinggir nota itu.

Dia membaca berkali-kali tulisan itu dengan hampir tak percaya: “Satu gelas susu segar
sudah cukup untuk membayar lunas seluruh biaya pengobatan!” – Orang yang bertanda
tangan: Dr. Hao Wude -




Cerita Dari Gunung
Seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya.
Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. “Aduhh!”, jeritannya
memecah keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar
suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, “Aduhh!”

Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, “Hei…Siapa kau?” Jawaban yang terdengar, “Hei…Siapa
kau?” Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, “Pengecut
kamu!” Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa.
Ia bertanya kepada sang ayah, “Apa yang terjadi?”

Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, “Anakku, coba perhatikan.” Lelaki itu
berkata keras, “Saya kagum padamu!” Suara di kejauhan menjawab, “Saya kagum
padamu!” Sekali lagi sang ayah berteriak, “Kamu sang juara!” Suara itu menjawab, “Kamu
sang juara!”
Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah
menjelaskan, “Suara itu adalah GEMA, tapi sesungguhnya itulah KEHIDUPAN.”

Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu. Dengan kata lain,
kehidupan kita adalah sebuah pantulan atas bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin
mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hatimu. Bila kamu
menginginkan tim kerjamu punya kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuanmu. Hidup
akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. Ingat, hidup
bukan sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.




Salah Kira
Seorang pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, “Guru, saya tak mengerti mengapa
orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di
masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat diperlukan, bukan hanya untuk
penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain?”

Sang guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya lalu berkata,
“Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi terlebih dahulu lakukan satu hal
untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu
menjualnya seharga satu keping emas?”

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu. “Satu keping emas? Saya
tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”

“Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain,
pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak
seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu
keping perak. Tentu saja pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping
perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani
menawar lebih dari satu keping perak.”

Zun-Nun sambil tetap tersenyum arif berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di
belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana.
Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”

Pemuda itu bergegas pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun
dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru, ternyata para pedagang di
pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan
harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang
ditawar oleh para pedagang di pasar.”

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi,
sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya ‘para pedagang sayur, ikan
dan daging di pasar’ yang menilai demikian. Namun tidak bagi ‘pedagang emas’.”

“Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita
mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu
butuh proses, wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan
sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan
yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”



Jendela Rumah Sakit
Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah
sakit. Seorang diantaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di
tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-
parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di
kamar itu. Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri
dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat
yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore, pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela diperbolehkan untuk duduk,
ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya.
Selama satu jam itulah, pria kedua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan
betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warni indah yang ada di luar sana.

“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa
berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan.
Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan
berbagai macam bunga berwarna-warni. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu.
Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.”

Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detail, sedangkan pria yang
lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu.
Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu.
Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade
karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang kedua tidak dapat mendengar suara parade
itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang
menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.

Begitulah seterusnya, dari hari ke hari, dan satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati
ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang
dalam tidurnya. Perawaat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk
memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat
agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti
kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya
selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.
Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali
melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa
melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia
menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya?
Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah
wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di
balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang
buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun. “Barangkali ia ingin memberimu
semangat hidup,” kata perawat itu.




Kaisar dan Penunggang Kuda
Ada seorang Kaisar yang mengatakan kepada penunggang kudanya yang setia mengabdi,
apabila ia bisa mengendarai kudanya & menjangkau wilayah sebanyak yang ia mampu,
maka sang Kaisar akan memberikan wilayah sebanyak yang ia jangkau.

Tentu saja, sang penunggang kuda segera melompat naik ke atas kudanya & secepat
mungkin pergi melakukannya.

Dia terus memacu & memacu, mencambuk kudanya.

Ketika ia merasa lapar atau lelah, dia tidak berhenti karena dia sangat ingin memperoleh
wilayah sebanyak mungkin.

Pada akhirnya, saat ia telah menjangkau wilayah yang cukup besar, ia kelelahan &
sekarat.

Sang penunggang kuda lalu bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa aku memaksa diriku
begitu keras untuk menjangkau begitu banyak?

Sekarang aku sekarat & aku hanya memerlukan sebidang tanah yang sangat kecil untuk
menguburkan diriku sendiri.”



Kisah di atas sama dengan perjalanan hidup kita.

Tiap hari kita memaksa diri dengann keras untuk mengumpulkan uang, kekuasaan atau
ketenaran. Kita mengabaikan kesehatan, waktu bersama keluarga, sahabat, lingkungan
sekitar & hobi yang kita sukai.

Saat kita melihat ke belakang, kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita tak
membutuhkan sebanyak itu, namun kita tak bisa mengembalikan waktu yang terlewatkan.

Hidup ini bukan hanya bekerja menghasilkan uang, mendapatkan kekuasaan atau
ketenaran. Hidup adalah keseimbangan antara bekerja & bermain, untuk keluarga,
sahabat & waktu pribadi.

Jendral Kecil Merasa Jadi Raja
Alkisah di negeri Tiongkok kuno, terdapat sebuah kerajaan yang begitu megah, yang
dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana. Rakyat-rakyat begitu makmur, dan pajak
negara yang bebankan ke mereka pun telah dihapuskan oleh raja, sehingga rakyat sangat
memuja raja mereka tersebut.

Didalam kerajaan, terdapat jenderal-jenderal perang pilihan yang begitu gagahnya.
Mereka tampak begitu bersahaja dan melindungi bawahannya. Namun dari sekian banyak
jenderal perang tersebut, terdapat seorang jenderal perang yang sangat sombong dan
congkak. Dia sebenarnya adalah seorang prajurit yang baru saja diangkat menjadi jenderal
karena suatu jasa kepada raja. Namun hal itu malah membuatnya menjadi lupa diri dan
sombong.



Dia selalu mengeluarkan perintah-perintah yang aneh, dan meminta prajurit-prajuritnya
untuk menghormati nya layaknya seorang raja. Setiap bertemu dengan nya, prajurit-
prajurit akan menyembahnya dan mengucapkan salam "Wan Xui...Wan Xui...Wan Wan
Xui...." (" Panjang Umur..Panjang Umur...Panjang Umur Selama-lamanya"), yang
sebenarnya salam itu hanya harus diperuntukkan kepada raja.

"Aku Adalah pimpinan kalian, dan kalian harus mengikuti perintah ku, atau kalian akan
mati. Tidak ada ampun buat pembangkang" Sahut Jenderal tersebut kepada prajurit-
prajurit mereka

Prajurit-prajurit bawahannya pun merasakan tekanan moral yang sangat besar, dan
mereka pun dengan terpaksa mengikuti kemauan si Jenderal. Hal itu membuat jenderal-
jenderal senior pun prihatin.

Pada suatu hari seorang jenderal yang paling senior dikerajaan tersebut, bermaksud
memberikan petuah kepada jenderal kecil tersebut. Dia pun mengajak jenderal kecil itu
untuk pergi ke suatu padang rumput. Dengan perasaan terpaksa, jenderal kecil pun
mengikuti jenderal senior tersebut, dan berkata :

"Mengapa engkau mengajak ku kemari, wahai jenderal" sahut jenderal kecil dengan ketus
"Wahai jenderal , saya melihat engkau begitu pesat dalam berkarir dan memiliki wawasan
yang sangat luas, aku pun bermaksud ingin mengajak mu untuk berdiskusi sejenak" jawab
jenderal senior itu dengan ramah.

"Apa yang hendak engkau diskusi kan, kata kan lah" Kata jenderal kecil tersebut.

"Coba kau lihat kadal yang ada di sana, apakah menurut mu kadal dapat terbang seperti
burung diatas?" tanya jenderal senior tersebut.

"hahahha....pertanyaan bodoh, tentu saja tidak, kadal hewan darat, tentu saja tidak
dapat terbang seperti hewan di udara, itu pertanyaan gampang kenapa engkau bertanya
seperti itu" Tanya jenderal kecil itu sombong.

"Menurut mu apa yang akan terjadi apabila kadal tersebut ingin juga terbang wahai
jenderal" tanya jenderal senior itu kembali.

"Tentu saja dia akan mati karena akan jatuh ke tanah...., bukan begitu jenderal" sahut
jenderal kecil.

"Iya...begitu juga lah kita. Sebagai manusia kita pun harus tahu posisi kita, dan apabila
kita memaksakan untuk menjadi posisi yang bukan milik kita, kita pun akan "mati" seperti
halnya kadal itu bukan" kata jenderal senior itu sambil tersenyum ramah.

Seperti disambar petir, sang jenderal kecil pun merasa kesalahannya. Bahwa dia adalah
seorang jenderal dan tidak dapat menganggap dirinya sebagai raja, karena apabila hal itu
ketahuan raja, tentu saja kematian sudah di depan mata.




Merpati, Ayah dan Seorang Anak
Alkisah, pada suatu sore, seorang lelaki paruh baya bersama anaknya yang baru saja
menyelesaikan pendidikan tinggi, duduk santai di halaman sambil memerhatikan suasana
di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung merpati hinggap di ranting pohon tepat di depan si Ayah dan si
anak.

Si ayah lalu menunjuk jarinya ke arah merpati sambil bertanya,"Nak, apakah benda
itu?“Burung merpati", jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk, namun tidak lama kemudian sang ayah mengulangi
pertanyaan yang sama.

Si anak mengira ayahnya kurang mendengar jawapannya tadi lalu menjawab dengan
sedikit kuat, "Itu burung merpati ayah!"

Tetapi sesaat kemudian si ayah bertanya lagi persoalan yang sama. Si anak merasa agak
keliru dan sedikit pusing dengan pertanyaan sama yang diulang-ulang, lalu si anak
menjawab dengan lebih kuat, "Burung Merpati!!!" Si ayah terdiam seketika.

Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang serupa hingga
membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang sedikit
membentak si ayah, "Merpati la ayah.......". Tetapi agak mengejutkan si anak, ternyata si
ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali
ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.

"Ayah!!! Saya tak tahu apakah ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah
bertanya persoalan tersebut dan saya sudah pun memberikan jawapannya. Apalagi yang
ayah mau saya katakan? Itu burung merpati, dan burung merpati titik....", kata si anak
dengan nada yang begitu marah.

Si ayah terus bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang emosi. Sebentar
kemudian si ayah keluar semula dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu
kepada anaknya yang masih kesal dan tertanya-tanya. Benda itu adalah sebuah diary lama.
Coba kamu baca apa yang pernah ayah tulis di dalam diari itu", pinta si ayah.

Si anakpun mengikuti kata-kata ayahnya dan membaca buku diary yang diberikan... "Hari
ini aku di halaman duduk santai dengan anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba
seekor merpati hinggap di pohon didepan kami. Anakku terus menunjuk ke arah merpati
dan bertanya, "Ayah, apa tu?". Dan aku menjawab, "Burung merpati".
Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya persoalan yang serupa dan setiap kali aku
menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan
demi cinta dan sayangkupadanya, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin
tahunya. Aku berharap ini akan menjadi suatu pendidikan yang berharga."

Setelah selesai membaca diary yang di berikan tersebut si anak mengangkat muka
memandang si ayah dengan mata yang berkaca-kaca. Si ayah dengan perlahan bersuara, "
Hari ini ayah baru bertanya kamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah
kehilangan kesabaran dan marah." Anak tersebut terdiam seribu bahasa.

Betapa mulianya orang tua kita yang telah melahirkan kita, mendidik dan membesarkan
kita dengan segala kenakalan dan perbuatan yang tidak menyenangkan, namun mereka
senangtiasa bergembira, apabila melihat anaknya bahagia. Mereka tidak memperdulikan
semua segi negatif kita, dan selalu sabar untuk menasehati dan membimbing kita.
Alangkah bijaksananya, apabila kita bisa meniru sikap sabar yang penuh kasih sayang ini
kepada mereka, karena kapanpun, dan bagaimanapun caranya, kita tidak akan mampu
membalas kebaikkan orang tua kita, namun kita bisa menghormati dan meniru rasa sabar
yang mereka berikan kepada kita, dengan penuh kasih sayang, kepada orang tua kita.




Nilai Seikat Kembang
Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum.

Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata
adalah sopir itu berkata, "Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu?
Tolonglah Pak,karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!"

Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di
belakang sopir itu.

Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha
tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, " Saya Ny . Steven. Saya yang
selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu
agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya
datang untuk
berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa
hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya."

"O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf
kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi
saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda." jawab pria itu.

"Apa, maaf?" tanya wanita itu dengan gusar.

"Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati
tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang.

Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah
sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang
yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan
keharuman kembang-kembang itu, Nyonya," jawab pria itu.

Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan
anggun ke arah pos penjaga kuburan.

"Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny.Steven. Saya datang untuk
berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar
bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna
daripada meratapi mereka yang sudah meninggal.

Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau
panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya
juga turut bahagia.

Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar
yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!"

Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat
kita terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi
sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong diri
sendiri.




Kisah Ikan Barracuda




Seekor ikan Barracuda dimasukkan ke dalam sebuah akuarium berukuran sedang yang
bagian tengahnya dipisahkan oleh sebuah kaca pembatas transparan.
Di sisi lain, ada banyak ikan kecil yang merupakan makanan kesukaan si Barracuda.

Ketika lapar, berkali-kali ikan Barracuda mencoba untuk memangsa ikan kecil tersebut,
namun usahanya selalu sia-sia karena terbentur kaca pembatas transparan tadi.

Setelah berminggu-minggu mencoba & tetap tidak berhasil, si Barracuda menyerah dengan
menerima kenyataan bahwa perburuan ikan kecil tersebut hanya mengakibatkan kesakitan
pada hidung & mulutnya.

Setelah itu kaca pembatas transparan tadi diangkat. Apa yang terjadi ?

Si Barracuda tetap pada sisinya, tidak bergerak ke arah ikan kecil.

Rasa lapar mulai terasa hebat, akan tetapi si Barracuda sepertinya tidak berusaha sekali
pun untuk memangsa ikan-ikan kecil tersebut lagi.

Akhirnya, ia pun mati kelaparan padahal makanan kesukaannya tepat berada di depan
hidungnya.

Pesan cerita ini :

Pelajaran penting yg dapat disimpulkan & dapat kita ambil dari kisah Ikan Barracuda ini
adalah bahwa: "Masa lalu kita tidak sama dengan masa yang akan datang"

Hellen Keller : "Ketika satu pintu tertutup, pintu lainnya terbuka. Tetapi kita seringkali
mengamati pintu yang tertutup itu terlalu lama sehingga kita tidak melihat pintu lain
yang terbuka”.

Jangan putus asa,
Jangan pernah putus asa !
Sebab masa depan sungguh ada dan harapan kita tidak akan hilang.

Impian akan menjadi kenyataan. Jika kita yakin dan mau berusaha untuk mewujudkannya.

Profesor dan Toples




Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di depan
mejanya. Saat kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sebuah
toples mayones kosong yang besar dan mulai mengisi dengan bola-bola golf.

Kemudian dia berkata pada para muridnya, "apakah toples itu sudah penuh?"
Mereka menyetujuinya.

Kemudian dia mengambil sekotak batu koral dan menuangkannya ke dalam toples. Dia
mengguncang dengan ringan. Batu-batu koral masuk, mengisi tempat yang kosong di
antara bola-bola golf.

Kemudian dia bertanya pada para muridnya, "apakah toples itu sudah penuh?"
Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam toples.

Tentu saja pasir itu menutup segala sesuatunya. Profesor sekali lagi bertanya, "apakah
toples sudah penuh?"

Para murid dengan suara bulat berkata, “Yes”

Profesor kemudian menyeduh dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke
dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir. Para murid
tertawa.

“Sekarang,” kata profesor ketika suara tawa mereda, “Saya ingin kalian memahami bahwa
toples ini mewakili kehidupanmu.”

“Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting – Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan,
teman dan para sahabat. Jika segala sesuatu hilang dan hanya tinggal mereka, maka
hidupmu masih tetap penuh. Batu-batu koral adalah segala hal lain, seperti pekerjaanmu,
rumah dan mobil. Pasir adalah hal-hal yang lainnya – hal-hal yang sepele.

Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples,” lanjut profesor, “Maka tidak
akan tersisa ruangan untuk batu-batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama
akan terjadi dalam hidupmu.”

“Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal yang sepele, kalian tidak akan mempunyai
ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian.”

“Jadi …”

“Beri perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-
anakmu. Luangkan waktu untuk check up kesehatan. Ajak pasanganmu untuk keluar makan
malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah dan memperbaiki perabotan.”

“Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf – Hal-hal yang benar-benar
penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasir-nya.”

Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, “Kopi mewakili apa?”

Profesor tersenyum, “Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian,
sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk
secangkir kopi bersama sahabat.”
Kisah Lalat dan Semut




Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas sebuah tong sampah didepan sebuah
rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu
rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat
langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.

"Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar" katanya.

Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia
masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca
pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta
agar dia bergabung kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan
tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap
mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan
terus berulang-ulang.
Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak
lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar
dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya
itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga
mati.

Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju
sarang mereka.

Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua "Ada apa
dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?".

"Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini
telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca
itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga
akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita"

Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi "Aku
masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?".

Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab "Lalat itu
adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia
melakukannya dengan cara-cara yang sama".

Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan
perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius :

"INGAT anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang SAMA namun
mengharapkan Hasil yang ber-BEDA, maka nasib kamu akan seperti lalat ini
Jadilah Pelopor

Jangan menunggu bahagia, baru tersenyum.

Tapi tersenyumlah, maka kamu akan semakin bahagia.

Jangan menunggu kaya, baru mau beramal.
Tapi beramal lah, maka kamu pasti akan semakin kaya.

Jangan menunggu termotivasi, baru bergerak.
Tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.




                    Jangan menunggu dipedulikan orang baru anda peduli.
Tapi pedulilah dengan orang lain, maka anda pasti akan dipedulikan.

Jangan menunggu orang memahami kamu, baru kamu memahami dia.
Tapi pahamilah orang itu, maka orang itu akan paham dengan kamu.

Jangan menunggu terinspirasi, baru menulis.
Tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

Jangan menunggu proyek, baru bekerja.
Tapi berkerjalah, maka proyek akan menunggumu.

Jangan menunggu dicintai, baru mencintai.
Tapi belajarlah mencintai, maka anda akan dicintai.

Jangan menunggu banyak uang, baru hidup tenang.
Tapi hiduplah dengan tenang, maka bukan hanya sekadar uang yang datang, tapi damai
sejahtera.

Jangan menunggu contoh, baru bergerak mengikuti.
Tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

Jangan menunggu sukses, baru bersyukur.
Tapi bersyukurlah, maka semakin bertambahlah kesuksesanmu.

Jangan menunggu bisa, baru melakukan.
Tapi lakukanlah! Kamu akan terbiasa dan pasti bisa!

Para Pecundang selalu menunggu Bukti dan Para Pemenang Selalu Menjadi Bukti.
Seribu kata akan dikalahkan Satu Aksi Nyata!
Sukses selalu !!!

								
To top