Docstoc

Makalah aqidah

Document Sample
Makalah aqidah Powered By Docstoc
					BAB I

A. Latar Belakang Masalah
Bahwasannya mazhab Ahli-Sunnah Wal-Jama’ah merupakan mazhab yang paling dominan
dalam sejarah ummat ini dan merupakan mazhab yang orthodoks; dalam pengertian yang asalnya
yaitu mazhab yang benar, asal, tepat mengikut apa yang dikehendaki oleh ajaran dan amalan
Islam itu sendiri. Walaupun di dalamnya terdapat beberapa pendirian yang mengambil peristiwa
sejarah awal Islam yang memang tidak boleh ditiadakan, hakikat ajaran dan pendiriannya adalah
hakikat yang telah ada dalam Islam sejak awal; penjelasan dalam sejarah kemudian dengan
istilah-istilah itu adalah merupakan ‘deployment’ proses perkembangan kemudian yang
semestinya berlaku sebagaimana berkembangnya pokok dari pada biji benihnya dengan segala
sifat-sifat yang telah ada padanya sejak awal lagi. Dalam makalah ringkas ini insya Allah akan
dibahas sedikit sebanyak perkembangannya dalam sejarah dan juga konsep-konsep asas yang
terlibat dalam perkembangan ini untuk memperingatkan kembali segi-segi yang berhubungan
dengan identitas umat ini. Semoga makalah ini bermanfa’at khususnya bagi penulis dan
umumnya bagi para siding pembaca.

B. Sejarah terbentuknya Ahli-Sunnah Wal-Jama’ah

Adapun sepeninggal Nabi s.a.w., maka Sayyidina Abubakar r.a. menjadi khalifah, sekalipun
dimasa kekhalifaan beliau sempat terjadi perselisisn-perselisihan kecil tentang beberapa hal.
Namun itu semua tiada berarti, karena kepemimpinan Abubakar r.a. mampu meredam perselisian
yang terjadi.
Demikian juga ketika jabatan khalifah berada pada tangan Sayyidina Umar bin Khattob r.a.Dan
pada saat Sayyidina Ustman bin Afan r.a. tampil sebagai khalifah, perselisihan diantara sahabat
mulai muncul kepermukaan. Sudah barang tentu orang-orang yang membenci Ustman bin Affan
r.a. selalu berusaha untuk melengserkan beliau dari jabatannya dengan melemparkan tuduhan-
tuduhan jahat. Sehingga pada puncaknya Sayyidina Ustman r.a. wafat karena dibunuh
sebagaimana pembunuhan yang menimpa Sayyidina Umar bin Khattob r.a.Barulah setelah itu
Imam Ali bin Abi Thalib k.w. di Baiat sebagai khalifah ke empat. Namun naiknya Imam Ali k.w.
kekursi khilafah diganjal oleh Muawiyah dan kelompoknya. Ketika itu Muawiyah r.a. didaulat
oleh kelompoknya untuk menjadi khalifah keempat, dan bagi mereka pembunuhan terhadap
Sayyidina Ustman r:a. harus diusut dengan tuntas sebelum pengangkatan khalifah. Namun
tampaknya sosok Imam Ali bin Abi Thalib lah yang lebih mendapat dukungan mayoritas untuk
menjadi khalifah .Bagi Imam Ali k.w. dan para pendukungnya, dalam masalah pengangkatan
khalifah dan pembentukan sebuah pemerintahan harus didahulukan sebelum mengusut
pembunuhan Sayyidina Ustman r.a., hal ini guna menghindari kevakuman.Rupanya perselisihan
kedua pihak ini dimanfaatkan oleh para provokator yang ingin memancing di airkeruh,
hinggaterjadilahbentrokan fisik antara kedua kelompok yang disebut dengan peperangan
siffin.Adapun Muawiyah dan kelompoknya dianggap sebagai kelompok bughot (kelompok yang



                                                                                              1
menentang pemerintaan yang sah) pada saat pasukan Muawiyah terdesak mereka mengangkat
Al-Qur'an dengan tombak sebagai tanda menyerah.

Ketika itu Imam Ali k.w. segera menghentikan peperangan. Akan tetapi sebagian dari pengikut
beliau ingin agar perang diteruskan sampai darah penghabisan. Karena adanya dua pendapat
inilah beliau k.w. memutuskan untuk melibatkan dua orang dari masing-masing kelompok yang
dianggap layak menjadi penengah, yaitu : Abu Musa Al-Asy'ari (dari kelompok Imam All k.w.)
dan Amr bin Ash (dari kelompok Muawiyah). Pada akhirnya perdamaianlah yang menjadi
keputusan final.

Sebagian orang yang tadinya menginginkan agar perang diteruskan merasa aspirasinya tidak
tertampung, lalu mereka membelot dari Imam Ali k.w.dengan membentuk kelompok sendiri, dan
mereka menamakan diri sebagai kelompok khowarij yang dikenal sebagai kelompok yang
antipati terhadap Iman Ali bin Abi Thalib k.w. Mereka tidak segan-segan menghujat, bahkan
mengkafirkan Iman Ali k.w. serta pengikutnya. Dalam situasi inilah muncul si raja provokator
yang bernama Abdullah bin Saba'. Tanpa henti-hentinya ia memprovokasi dan menghasut para
pengikut Imam Ali k.w. agar melakukan pembelaan sebagai reaksi atas kelompok Khowarij.
Rupanya usaha dari Abdullah bin Saba' ini membawa hasil hingga akhirnya ia dan para
pengikutnya yang mengaku sebagai pembela Iman Ali k.w. membentuk kelompok sendiri yang
menamakan diri sebagai kelompok Saba'iyyah. Mereka bukannya membela Imam Ali k.w. dalam
artian yang positif, akan tetapi mereka justru melakukan penyimpangan aqidah dengan
menuhankan Iman Ali k.w.

Kelompok inilah yang menjadi cikal bakal munculnya kelompok Rowafid.Imam Ali k.w. pun
tidak tinggal diam, beliau lalu memerangi kelompok tersebut hingga Ibnu Saba' diasingkan oleh
beliau ke sebuah tempat. Sepeninggal Imam Ali k.w., kelompok ini berkembang dan terpecah
menjadi beberapa kelompok, diantaranya adalah Zaidiyah, Imamiyah, Kaisaniyah, dan Ghulah,
hingga menjadi 22 golongan. Mereka saling mengkafirkan antara yang satu dengan lainnya.

Demikian pula yang terjadi dengan kelompok Khawarij. Mereka terpecah menjadi 20
sempalan.Hal ini terus berlangsung sampai munculnya kelompok Qadariyah pada zaman
Muta'akhirin dari sahabat. Kelompok mereka ini telah dinyatakan oleh Nabi s.a.w. sebelumnya
sebagai Majusi umat ini. Para sahabat yang ada pada saat itu, seperti Ibnu Umar, Jabir Al-
Anshari, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Anas bin Malik Radhiallahu'anhum. Mereka mewasiatkan
pada para penerusnya agar tidak memberi salam kepada kelompok Qadariyah, juga melarang
mensholati jenazah mereka, serta mengunjungi orang yang sakit dari mereka.

Pada zaman para tabi'in tepatnya pada masa Imam Hasan Al-Basri r.a., muncullah orang yang
bernama Wasil bin Atho' dan Amr bin Ubeid bin Babin yang membawa khilaf dalam masalah
takdir. Diantara pendapat mereka adalah bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri, juga
menyatakan orang yang fasiq (melakukan dosa besar), mereka dinyatakan bukan sebagai
mukmin bukan pula sebagai orang kafir. Ini yang disebut dengan manzilah bainal manzilatain .

                                                                                                2
Mereka berdua diusir oleh Imam Hasan Al-Basri r.a. dari majlisnya, lalu membentuk kelompok
Mu'tazilah (Ahlul adlwattauhid).

Maka sejak itu lahirlah nama Ahlus Sunnah Wal Jamaah untuk membedakan dari
kelompok-kelompok yang lain, dan sebagai satu-satunya kelompok yang tetap berpegang teguh
padaAssunnah,juga mengikuti serta melestarikan ajaran para salaf (sahabat). Baik dalam aqidah
maupun amaliyah. Sebagai kelompok mayoritas Ahlus SunnahWaljama'ah memiliki ciri
tersendiri dalam ajaranya yang jauh dari kedengkian dan kesesatan.

Sebagai Alfirqotun-najiyah, banyak sekali tokoh-tokoh yang membina lahirnya Ahli Sunnah
Waljamaah, diantaranya adalah para Ashabul Madzahib, seperti : Iman Syafi'i, Iman Malik,
Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Abu Hanifah.

Ahlus Sunnah Waljamaah berada dalam satu naungan aqidah, sedang dalam segi syari'ah
(masalah -masalah furu'iah) sekalipun ada perbedaan disana-sini, hanyalah sebatas perbedaan
ijtihad sesuai dengan madzhab yang diikuti dari empat macam madzhab tersebut diatas. Dengan
tetap berpegang pada sumber-sumber hukum Islam (Al-Quran, Assunnah, Ijma', Qiyas para
Mujtahidin) bukan perbedaan yang menimbulkan perpecahan, apalagi sampai mengkafirkan dan
menganggap sesat golongan yang berbeda, seperti yang terjadi pada kelompok-kelompok selain
Ahlus Sunnah Walj amaah.

Dari sekian banyak tokoh-tokoh Ahlus Sunnah Waljamaah ada yang menyibukkan dirinya dalam
urusan Fiqhiyah, dan mereka disebut para Fuqoha seperti empat iman diatas, sekalipun mereka
orang-orang yang memiliki andil yang cukup besar dalam masalah-masalah aqidah dan tasawuf,
akan tetapi tuntutan zaman pada saat itu membuat mereka memberikan perhatian yang besar
terhadap urusan-urusan syar'i.

Adapun diantara mereka yang lebih menitik beratkan pada masalah-masalah aqidah disebut
sebagai mutakalimin (ahlul kalam). Adapula yang lebih berkompeten dalam masalah-masalah
bathiniyah / pembenahan hati, dan mereka itulah yang disebut Sufi (ahli tasawuf), ada juga yang
disebut Ahlul Hadits dan Ahlul Tafsir (Muhaditsin dan Mufassirin).

Mereka semua adalah aset terbesar bagi umat ini dan bagi Ahlus Sunnah Walj ama' ah
khususnya. Mereka telah berjasa dalam memperkaya khasanah keilmuan bagi agama ini, mereka
juga telah mengabdikan diri dalam meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi
ditengah-tengah umat ini, hingga keberadaan mereka telah meminimalisir perpecahan umat.

Kebesaran Ahlus Sunnah Waljama'ah semakin kokoh dengan munculnya dua orang tokoh, yaitu
Abul Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansyur Al-Maturidi. Kedua tokoh inilah yang telah berjasa
dalam menetapkan pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah.

Pengikut Al-Asy'ari adalah para penganut madzhab Sayafii, sedangkan pengikut Al-Maturidi
adalah para penganut madzhab Abu Hanifah, tidak ada perbedaan yang berarti diantara mereka.


                                                                                                  3
 Bagi kita umat Islam Indonesia mayoritas adalah para penganut madzhab Syafii dalam syari'ah
dan Asy'ari dalam aqidah. Demikian juga dengan mayoritas para Habaib (Alawiyyin) yang ada
di Hadramaut. Sebagian dari mereka ada yang datang ke Indonesia guna berda'wah dengan
menanamkan pokok-pokok ajaran dari kedua Imam tersebut. Dapat kita lihat dari berbagai kitab
hasil karya mereka yang telah memperkenalkan kepada kita madzhab Syafii dalam Fiqh dan
Asy'ari dalam tauhid.

Dengan menyesal kami belum dapat menguraikannya pada edisi kali ini, dan Insya Allah
Pemuda Nabawiy akan mengulasnya pada edisi mendatang, sebagai upaya menjaga aqidah kita
dari hal-hal yang menyesatkan. Semoga Allah senantiasa menjaga diri dan keluarga kita dari
para-para Ahlul Bid'ah Waddolalah.


B. Perumusan Masalah
Setelah memperhatikan permasahan diatas agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam
penyusunan makalah ini, maka saya merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Tentang Bagaimana Definisi Sunah
2. Tentang Bagaimana Definisi Jama’ah
3. Tentang Bagaimana Definisi Ahlussunah Waljama’ah
4. Nama Lain Ahli Sunnah wal Jama’ah.


C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam membahas masalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana :
1. Tentang Bagaimana Definisi Sunah
2. Tentang Bagaimana Definisi Jama’ah
3. Tentang Bagaimana Definisi Ahlussunah Waljama’ah
4. Nama Lain Ahli Sunnah wal Jama’ah.


D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu memberikan gambaran tentang pendapat
pendapat yang berhubungan dengan permasalahan dan tentunya juga dengan metode
kepustakaan yang sebagian besar diambil dari bebrap rambkuman yang terdapat didunia internet
computer.


BAB II
AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH
A. Definisi Sunnah.
Menurut bahasa “Sunnah” berati cara dan jalan hidup. Di dalam qasidah
Ibnu Manzhur berkata :

                                                                                               4
“Kata Sunnah berarti jalan hidup yang baik maupun yang buruk. “
Sedangkan menurut istilah para ulama aqidah, “Sunnah” adalah petunjuk Rasulullah dan
sahabat-sahabatnya, baik berupa ilmu (pengetahuan), i’tiqad (keyakinan), ucapan, maupun
perbuatan. Dan itulah “Sunnah” yang wajib diikuti; penganutnya dipuji dan penentangnya
dicela.” Istilah Sunnah juga dipakai untuk menyebut sunnah-sunnah ibadah dan i’tiqad, di
samping menjadi lawan dari istilah “bid’ah”.4 Oleh karena itu, jika dikatakan, “Si Fulan
termasuk Ahli Sunnah,” maka itu berarti ia termasuk orang yang mengikuti jalan yang lurus dan
terpuji.
As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh atau cara pelaksanaan suatu amalan baik itu dalam perkara
kebaikan maupun perkara kejelekan. Maka As-Sunnah yang dimaksud dalam istilah Ahlus
Sunnah ialah jalan yang ditempuh dan dilaksanakan oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam
serta para shahabat beliau, dan pengertian Ahlus Sunnah ialah orang-orang yang berupaya
memahami dan mengamalkan As-Sunnah An-Nabawiyyah serta menyebarkan dan membelanya.


B. Definisi Jama’ah.
Menurut bahasa, “Jama’ah” diambi l dari kata dasar jama’a (mengumpulkan) yang berkisar pada
al-jam’u (kumpulan), al-ijma’ (kesepakatan), dan alijtima’ (perkumpulan) yang merupakan
antonim (lawan kata) at-tafarruq (perpecahan).
Ibnu Faris berkata :
“Jim, mim, dan ‘ain adalah satu dasar yang menunjukkan berkumpulnya sesuatu. Dikatakan,
jama’tu asy-syai’a jam’an (aku mengumpulkan sesuatu).
Menurut istilah para ulama aqidah, “Jama’ah” adalah generasi Salaf dari umat ini, meliputi para
sahabat Nabi , para tabi’in, dan semua orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari
Kiamat. Mereka adalah orang-orang yang bersepakat untuk menerima kebenaran yang nyata dari
Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Menurut bahasa Arab pengertiannya ialah dari kata Al-Jamu’ dengan arti mengumpulkan yang
tercerai berai. Adapun dalam pengertian Asyari’ah, Al-Jama’ah ialah orang-orang yang telah
sepakat berpegang dengan kebenaran yang pasti sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an dan Al-
Hadits dan mereka itu ialah para shahabat, tabi’in (yakni orang-orang yang belajar dari shahabat
dalam pemahaman dan pengambilan Islam) walaupun jumlah mereka sedikit, sebagaimana
pernyataan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu : “Al-Jama’ah itu ialah apa saja yang mencocoki
kebenaran, walaupun engkau sendirian (dalam mencocoki kebenaran itu). Maka kamu seorang
adalah Al-Jama’ah.”


C. Definisi Ahli Sunnah Wal Jama’ah
Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang menjalani sesuatu seperti yang dijalani oleh
Nabi _ dan sahabat-sahabatnya. Mereka adalah orangorang yang berpegang teguh pada Sunnah
Nabi _, yaitu para sahabat, para tabi’in, dan para imam petunjuk yang mengikuti jejak mereka.
Mereka adalah orang-orang yang istiqomah dalam mengikuti Sunnah dan menjauhibid’ah, di

                                                                                                5
mana saja dan kapan saja. Mereka tetap ada dan mendapatkan pertolongan sampai hari Kiamat.
Mengapa mereka disebut demikian? Karena mereka berafiliasi (menisbatkan diri) kepada Sunnah
Nabi _ dan bersepakat untuk menerimanya secara lahirbatin; dalam ucapan, perbuatan, maupun
keyakinan.
D. Nama Lain Ahli Sunnah wal Jama’ah.
Ahli Sunnah wal Jama’ah memiliki sejumlah nama lain.
1. Ahli Sunnah wal Jama’ah.
2. Ahli Sunnah (tanpa Jama’ah).
3. Ahli Jama’ah.
4. Jama’ah.
5. Salafush Shalih.
6. Ahli Atsar (Sunnah yang diriwayatkan dari Nabi _).
7. Ahli Hadis. Karena mereka lah orang-orang yang mau mengambi l Hadis Nabi, baik secara
riwayah (periwayatan) maupun dirayah (pemahaman), dan siap mengikuti petunjuk Nabi _,
secara lahirbatin.
8. Firqah Najiyah (Golongan yang Selamat). Karena, mereka selamat dari keburukan, bid’ah, dan
kesesatan di dunia, serta selamat dari api Neraka pada hari Kiamat. Hal itu disebabkan mereka
mengikuti Sunnah Nabi _.
9. To’ifah Manshuroh (Golongan yang Mendapatkan Pertolongan). Yaitu, golongan yang
mendapatkan bantuan dari Allah Ta’ala.
10. Ahli Ittiba’. Karena, mereka selalu mengikuti (ittiba’) Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar
generasi Salafush shalih.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari beberapa pembahasan mengenai ahli sunnah wal jama’ah diatas maka dapat diambil
beberapa kesimpulan yang diantaranya :
1. As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh atau cara pelaksanaan suatu amalan baik itu dalam
perkara kebaikan maupun perkara kejelekan
2. Adapun dalam pengertian Asyari’ah, Al-Jama’ah ialah orang-orang yang telah sepakat
berpegang dengan kebenaran yang pasti sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits
3. Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang menjalani sesuatu seperti yang dijalani
oleh Nabi _ dan sahabat-sahabatnya
4. Adapun nama nama lain dari istilah ahlusunnah wal jama’ah itu sendiri manyak macamnya


B. Saran- Saran
Adapun saran yang bisa saya berikan :
1. Kepada semua pembaca bila mendapat kekeliruan dalam makalah ini harap bisa

                                                                                             6
meluruskannya.
2. Untuk supaya bisa membaca kembali lieratur-literatur yang berkenaan dengan pembahasan
ini.
3. Yang benarnya hanya dari Allah SWT dan salahnya hanya dari kekurangan kita dan semoga
banyak manfaatnya.
DAFTAR PUSTAKA;
1. Nasution,Harun:Filsafat Pendidikan Islam 1982 Jakarta.
2. Situs www.google.com :AHLU SUNNAH WALJAMAAH




                                                                                           7

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:135
posted:10/26/2012
language:Malay
pages:7
Description: just share 2 u