Dasar-dasar Berpegang Teguh Pada Al Qur'an dan Hadist Nabi by eko_hartono69

VIEWS: 42 PAGES: 2

More Info
									    Dasar-dasar Berpegang Teguh Pada Al Qur’an dan
                     Sunnah Nabi
                                   Oleh Eko Hartono

        Al Qur’an adalah wahyu Allah yang harus kita jadikan sebagai sumber hukum
utama, sedangkan Hadist atau sunnah Nabi adalah pelaksanaan dari prinsip hukum yang
terdapat dalam Al Qur’an. Jadi antara Al Qur’an dan sunnah Nabi tak bisa dipisahkan. Jika
kita menentang sunnah Nabi, maka kita juga menentang Al Qur’an. Sebagaimana kita
tahu, semua yang dilakukan oleh Nabi adalah perwujudan dari Al Qur’an. Maka tak heran
bila Nabi disebut sebagai Al Qur’an berjalan.
        Karena itu wajib atau sudah seharusnya bagi kita untuk taat dan mengikuti sunnah
Nabi. Seperti yang difirmankan Allah dalam Surah Al Hasyr ayat 7 yang berbunyi:
“…..dan apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah sedang apa yang beliau
larang darinya maka berhentilah.” Juga yang terdapat dalam Surah An Nisa ayat 80 yang
berbunyi: “Barang siapa yang menataati Rasul berarti ia mentaati Allah Ta Ala”.
        Dalam surah Al Ahzab ayat 36 juga disebutkan: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki
yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin (mukminah) apabila Allah dan
Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara akan ada bagi mereka pilihan lain tentang
urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah
dia telah sesat, sesat yang nyata.” Ibnu Katsir mengatakan: “Ayat ini umum pada seluruh
perkara yaitu jika Allah dan Rasul-Nya menetapkan hukum sebuah perkara maka tidak
boleh bagi seorangpun untuk menyelisihinya. Tidak ada peluang pilihan, ide atau pendapat
bagi siapapun di sini.” (Tafsir Ibnu Katsir, bab 3/ halaman 498).
        Ketiga ayat ini menunjukkan secara jelas bagaimana semestinya kita menempatkan
Sunnah Nabi, yakni wajib mengambilnya dan merupakan keharusan yang tidak ada tawar-
menawar lagi. Kemudian menjadikan Sunnah tersebut sebagai pedoman dalam melangkah
melakukan ketaatan kepada Allah. Hal itu karena Allah menjadikan Rasulullah sebagai
penjelas Al Qur’an sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan kami turunkan kepadamu Al
Qur’an agar engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.”
(surah An-Nahl: 44).
        Selanjutnya kita lihat bagaimana hadits-hadits yang memerintahkan untuk
mengikuti Sunnah Nabi, di antaranya: Dari Al Irbadh bin Sariyah ia berkata: “Rasulullah
memberikan sebuah nasehat kepada kami dengan nasehat yang sangat mengena, hati
menjadi gemetar dan matapun menderaikan air mata karenanya, maka kami mengatakan:
‘Wahai Rasullullah seolah-olah ini nasehat perpisahan maka berikan wasiat kepada kami’,
lalu beliau mengatakan: ‘Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar
dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak karena sesungguhnya
barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia akan melihat perbedaan yang banyak, maka
wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa Ar
Rasyidin, gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian dan jauhilah oleh kalian perkara-
perkara yang baru atau bid’ah karena sesungguhnya semua yang bid’ah itu sesat.” (Hadist
Shahih riwayat Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al
Albani dalam Shahihul Jami’, nomer 2549).
        Demikian Nabi mewasiatkan kepada para sahabat beberapa wasiat penting di
antaranya perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnahnya dan Sunnah para Khulafa Ar
Rasyidin. Bahkan beliau menyuruh untuk menggigitnya dengan gigi kita yang paling kuat.
Di masa sahabat saja Rasulullah telah berwasiat demikian, lebih-lebih di zaman




                                                                                       1
sepeninggal beliau di mana kondisi masyarakat dari sisi keagamaan semakin buruk dengan
munculnya berbagai perselisihan dan bid’ah pada perkara-perkara yang prinsipil!




                                                                                    2

								
To top