Docstoc

Makna Taqwa Yang Sebenarnya

Document Sample
Makna Taqwa Yang Sebenarnya Powered By Docstoc
					              Makna Taqwa Yang Sebenarnya
                              Oleh Eko Hartono

        Ketika seseorang bertanya kepada Abu Hurairah radhiallahu'anhu tentang
makna takwa, Abu Hurairah kemudian bertanya kepada orang tersebut, Apakah
engkau pernah melewati jalan yang berduri? Ia menjawab, Ya pernah. Abu
Hurairah bertanya lagi, Apa yang engkau lakukan, Ia menjawab, Jika aku melihat
duri maka aku menghindar darinya, atau melangkahinya, atau mundur darinya,
Abu Hurairah berkata, Seperti itulah takwa! Duri itu adalah perumpamaan dari
kemaksiatan atau hal-hal yang dilarang agama. Jika kita mengaku diri bertakwa
kepada Allah dan Rasul, maka kita harus melangkahi, menghindar, atau mundur
bila dihadapkan kesempatan untuk berbuat dosa.
        Bukanlah seorang muslim dikatakan bertakwa jika dia sengaja menerjang
rambu-rambu syariat, mengerjakan apa-apa yang diharamkan oleh Allah atau
meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Kemudian kita juga harus takut
karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput! Kita jangan beranggapan
bahwa mati hanya menimpa pada orang yang sudah tua, orang sakit, atau orang
lemah sehingga kita –khususnya orang-orang muda-- menunda-nunda untuk
mengerjakan amal shalih.
        Kita kadang berpikir mengerjakan ibadah nanti saja kalau sudah tua.
Padahal kalau kita amati disekitar kita, banyak kejadian dan musibah yang
menimpa orang-orang muda dan anak-anak. Mereka mati dalam keadaan muda.
Bagi yang sudah akil baliq menurut hukum agama sudah dihitung atau dicatat
amal dan perbuatannya. Jika mereka tidak mengerjakan syariat agama seperti
yang dituntunkan Allah dan Rasul tentu bila mati akan mendapat hisab yang pedih
di akherat. Mereka tidak memiliki timbangan amal ibadah!
        Berhati-hatilah kita dalam menjalankan aktivitas hidup di dunia.
Senantiasa kita jaga iman dan ketakwaan kita kepada Allah Azza Wajala.
Janganlah kita meremehkan dosa-dosa, sekecil apa pun, agar kita tidak seperti
yang digambarkan dalam ayat dan hadits di atas, semoga Allah menjadikan kita,
termasuk yang diseru dalam firman-Nya di surah Al Fajr ayat 27 – 30: Hai jiwa
yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-
Nya, Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, Maka masuklah ke
dalam Surga-Ku.
        Allah telah memberi peringatan kepada kita agar jangan berbuat maksiat,
jangan berbuat dosa. Jika kita taat kepada Allah niscaya Allah akan
melipatgandakan pahala kepada kita dan memberi kita tempat di Surga kelak.
Allah juga melimpahkan hidayah dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya
yang mau bertobat. Sebab, rahmat Allah seluas langit dan bumi. Kasih sayang
Allah melimpahi seluruh makhluk di muka bumi. Sebesar dan sebanyak apa pun
dosa-dosa kita bila kita benar-benar mau bertobat dan menjalankan syariat agama,
niscaya dosa kita akan diampuni.
        Sebaliknya, bila kita sudah bertobat nasuha tapi kemudian melakukan
maksiat atau perbuatan dosa lagi, maka sama halnya kita mempermainkan agama
dan dianggap murtad. Seperti yang tercantum dalam surah An-Nahl ayat 106 yang
terjemahannya sebagai berikut: Barang siapa yang kafir sesudah dia beriman (dia




                                                                              1
akan mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal
hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang
melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan
baginya azab yang besar.
       Maksud dari ayat ini adalah bahwa jika kita sudah beriman atau menjadi
mukmin, maka jangan sekali-kali kita jatuh kembali kepada perbuatan kafir yang
menghalalkan kemaksiatan dan perbuatan dosa. Sebab, Allah tak akan
mengampuni dosa orang yang suka berbuat demikian, yakni menggunakan agama
hanya sebagai simbol belaka. Mereka mengaku beriman tapi juga masih
melakukan perbuatan maksiat. Ini yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya
sebagai memperolok-olok agama, mempermainkan agama. Allah paling benci
kepada manusia yang suka mempermainkan agama.
       Dalam surah Al Hajj ayat 11 disebutkan: Dan diantara manusia ada orang
yang menyembah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebaikan
tetaplah ia dalam keadaan itu (beriman), dan jika ia ditimpa suatu bencana
(kesusahan) berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akherat. Yang
demikian itu adalah kerugian yang nyata.
       Maksud dari berada di tepi adalah tidak penuh keyakinan. Jadi dia
menyembah Allah tidak dengan penuh kesungguhan. Dia mau beriman bila Allah
memberinya kebaikan pada hidupnya seperti mendapat harta, jabatan, dan
kedudukan. Tapi sebaliknya, ketika ditimpa kesusahan atau musibah dia kembali
mengingkari Allah. Dia menyembah Allah hanya untuk mendapatkan kesenangan
dunia semata. Padahal kesenangan dunia hanya sementara.
       Bagi Allah, orang-orang seperti ini, beriman hanya karena mengharap
kepada kesenangan dunia, maka hanya dunia yang didapatkannya sedang di
akherat surga tidak akan didapatkan. Sebab, untuk mendapatkan surga, maka
kesabaran dalam keimanan dan ketakwaanlah yang dibutuhkan, meskipun dalam
keadaan kesulitan atau kesempitan seperti yang tercantum dalam Surat An-Nahl
ayat 110: Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang
berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar…
       Demikian, semoga kita jadikan sabar dan takwa sebagai tongkat penuntun
hidup kita dalam menjalankan Sunnah Allah dan Sunnah Nabi.




                                                                              2

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:31
posted:10/25/2012
language:Malay
pages:2
Description: artikel motivasi agama