Docstoc

Studi_Karakteristik_Perkerasan_Jalan_Beton_Aspal_Dengan_Menggunakan_Abu_Limbah_AMP_dan_Penambahan_Serat_Serabut_Kelapa

Document Sample
Studi_Karakteristik_Perkerasan_Jalan_Beton_Aspal_Dengan_Menggunakan_Abu_Limbah_AMP_dan_Penambahan_Serat_Serabut_Kelapa Powered By Docstoc
					     Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.41. Agustus 2011

      STUDI KARAKTERISTIK PERKERASAN JALAN BETON ASPAL
          DENGAN MENGGUNAKAN ABU LIMBAH AMP DAN
             PENAMBAHANM SERAT SERABUT KELAPA

                                         Salim
                        Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UMI
              Jl. Urip Sumoharjo Km 05 Makassar, Email : irsalim87@yahoo.co.id

                                         Abstrak

Penelitian ini bermaksud memanfaatkan abu limbah AMP sebagai filler dan
penambahan serat serabut kelapa untuk memberikan variasi additive dalam campuran
perkerasan lentur. Penelitian yang menggunakan filler serbuk bentonit pada HRS-
Base menunjukkan hasil yang baik pada kadar aspal tinggi, sedangkan penggunaan
serat serabut kelapa dapat meningkatkan kualitas perkerasan Hot Rolled Asphalt
(HRA). Berdasarkan data tersebut dilakukan penelitian dengan mengaplikasikan
kedua bahan tersebut untuk mengetahui pengaruhnya terhadap AC-WC. Penelitian
ini dilakukan dengan membuat benda uji menggunakan perbandingan berat 0 %, 0,25
%, 0,50 %, 0,75 %, 1,0 % additive serat serabut kelapa dan filler Abu Limbah AMP
9 % untuk masing-masing variasi. Selain itu juga sebagai pembanding dibuat
campuran AC-WC tanpa menggunakan additive dengan menggunakan Limbah Abu
AMP. Sampel dibuat untuk mendapatkan kadar aspal optimum masing-masing 3 buah
(4,5%, 5,0%, 5,5%,6,0%, 6,5%) , tiga buah sampel untuk pengujian Marshall
Immertion dan Masing-masing variasi penambahan serat serabut kelapadibuat 3 (tiga),
sehingga jumlah seluruh benda uji 33 buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penggunaan Abu Limbah AMP sebagai filler dapat memberikan hasil yang baik
dengan nilai stabilitas tertinggi 1327,89 Kg, dan indeks kekuatan sisa 86,84 % > 75 %
pada kadar aspal 5,95%, sedang bila ditambahkan serat serabut kelapa sebagai bahan
tambah maka campuran memberikan hasil yang kurang baik, hal ini terlihat pada hasil
pengujian Marshall Immertion dengan perosentase serat serabut kelapa 0,25 %
diperoleh indeks kekuatan sisa 72,36 % < 75 %.

Kata kunci : Serat serabut kelapa, Abu Limbah AMP, AC-WC, karakteristik Marshall,

PENDAHULUAN                                     saling       mengunci        (interlocking),
                                                menghasilkan geseran internal yang
        Lapisan beton aspal (laston)
                                                tinggi dan saling melekat bersama lapis
adalah lapisan permukaan konstruksi
                                                tipis aspal diantara butiran agregat.
perkerasan lentur jalan yang mempunyai
                                                       Perkembangan teknologi bahan
nilai struktural. Lapisan tersebut terdiri
                                                saat ini telah banyak mendorong
dari agregat kasar, agregat halus, bahan
                                                penelitian untuk mencoba menggunakan
pengisi (filler) dengan aspal keras,
                                                material alternatif sebagai komponen
dicampur pada tempat pencampuran
                                                dalam campuran aspal. Abu limbah
AMP (Asphalt Mixing Plant), diangkut
                                                AMP merupakan salah satu hasil limbah
kelokasi pekerjaan, dihamparkan dan
                                                pengolahan PT. Bumi Karsa Sulawesi
dipadatkan dalam keadaan panas pada
                                                Selatan, proses produksi campuran pada
suhu tertentu.
                                                AMP (asphalt mixing plant) tersebut
Kekuatan perkerasan lapisan beton aspal
                                                menghasilkan limbah berupa Abu
diperoleh dari kualitas agregat yang
                                                limbah yang jumlahnya cukup besar, abu
digunakan dan dari struktur agregat yang
                                                limbah AMP tersebut harus ditangani
     Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.41. Agustus 2011

atau dimanfaatkan dengan benar karena          lapisan beton aspal untuk tidak dapat
berpotensi      menimbulkan        masalah     dimasuki air ataupun udara ke dalam
lingkungan serta fenomena sosial               lapisan beton aspal, kemampuan
dimasyarakat.                                  campuran beton aspal untuk mudah
      Dari hal tersebut diatas, maka           dihampar dan dipadatkan.
diperlukan      suatu      upaya     untuk
mengoptimalisasikan            pemanfaatan
limbah industri. Salah satu bahan              METODE PENELITIAN
alternatif yang akan dimanfaatkan              Metode Pengujian Dan Analisis
sebagai bahan filler pada campuran             1. Metode Pengujian
beton aspal jenis AC adalah abu limbah                 Pengujian          Laboratorium
AMP .                                          dilakukan dalam dua langkah yaitu
Tujuan diadakannya penelitian ini adalah       pengujian terhadap material-material
untuk Mengevaluasi dan menganalisis            pembentuk campuran dan pengujian
nilai karakteristik campuran lapisan           terhadap campuran.
beton aspal dengan menggunakan abu             a. Pengujian Material
limbah AMP sebagai bahan filler dan                    Pengujian karakteristik agregat
Mengevaluasi pengaruh penambahan               bertujuan untuk mengetahui karakteritik
serat serabut kelapa ke dalam campuran         dari setiap bahan yang akan digunakan
beton aspal (AC-WC).                           untuk. Adapun metode pengujian
TINJAUAN PUSTAKA                               agregat     yang    digunakan     adalah
        Karakteristik campuran yang            mengikuti SNI (Standar Nasional
harus dimiliki oleh lapisan beton aspal        Indonesia) dan ASTM (American
adalah     stabilitas,   keawetan      atau    Society for Testing and Materials) yang
durabilitas, kelenturan (fleksibilitas),       telah umum digunakan. Agregat yang
ketahan terhadap kelelehan (fatique            akan diuji berupa agregat kasar, agregat
resistance), kekesatan permukaan atau          halus dan abu limbah AMP (filler),
ketahanan geser (skid resistance), kedap       agregat kasar untuk rancangan campuran
air (impermeabilitas), dan kemudahan           adalah bahan agregat yang tertahan
pelaksanaan (workability).                     saringan no. 8 ukuran 2,36 mm (menurut
  Oleh karena itu lapisan beton aspal          standar BSI) atau saringan
memiliki sifat stabilitas tinggi dan relatif
kaku, yaitu tahan terhadap pelelehan
plastis namun cukup peka terhadap
variasi kadar aspal dan perubahan
gradasi agregat, kemampuan lapisan
beton aspal menerima repetisi beban lalu
lintas, kemampuan lapisa beton aspal
untuk     menyesuaikan        diri   akibat
penurunan (konsolidasi/settlement) dan
pergerakan dari pondasi atau tanah
dasar, tampa terjadi retak, kemampuan
lapisan beton aspal menerima lendutan
akibat repitisi beban, tampa terjadinya
kelelehan berupa alur dan retak,
kemampuan permukaan lapisan beton
aspal terutama pada kondisi basah,
memberikan gaya gesek pada roda                  Gambar 1. Diagram Alir Penelitian
kendaraan sehingga kendaraan tidak
tergelincir, ataupun slip, kemampuan
     Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.41. Agustus 2011

ukuran no.4 ukuran 4,74 mm (menurut           contoh Marshall dibuat dengan berat
ASTM) atau saringan no.8 ukuran 2,36          total antara 1000-1200 gram. Berat
mm (menurut SNI), berupa baru pecah           material setiap ukuran saringan dihitung
atau kerikil. Sedangkan agregat halus         sedemikian rupa sesuai variasi yang
adalah bahan agregat yang lolos saringan      diinginkan agar dihsilkan campuran
no.8 ukuran 2,36 mm (menurut standar          yang mempunyai gradasi menerus
BSI) atau saringan no.4 ukuran 4,75 mm        memenuhi tabel spesifikasi. Setiap kadar
(menurut standar ASTM) atau saringan          aspal dibuat tiga buah briket.
no. 8 ukuran 2,36 mm (menurut SNI),           Pembuatan campuran untuk benda uji
berupa pasir. Bahan filler yang akan          Marshall dilakukan dengan temperatur
diuji berupa abu limbah AMP yang lolos        pada viscositas 170 ± 20 centistokes, dan
saringan no. 200 ukuran 0,075 mm. Jenis       temperatur pemadatan pada viscositas
dan metode pengujian yang dilakukan           280 ± 30 centistokes. Agregat yang
dari bahan agregat kasar, halus dan filler    sudah panas kemudian dituangkan
(abu limbah AMP) harus memenuhi               kedalam cawann pencampuran yang
spesifikasi.                                  sudah di siapkan di atas timbangan dan
b. Pengujian Aspal                            dicatat beratnya. Dari catatan berat
        Pengujian karakteristik aspal         agregat    tersebut     dapat    dihitung
bertujuan untuk mengetahui karakteristik      banyaknya aspal yang diperlukan agar
aspal yang akan digunakan. Aspal yang         didapatkan campuran dengan kadar aspal
akan digunakan adalah aspal penetrasi         yang diperlukan. Dalam keadaan di atas
60/70 yang memenuhi persyaratan               timbangan tersebut, maka masing-
seperti pada tabel 5                          masing      campuran       yang    sudah
c. Pengujian Campuran                         dipersiapkan dituangi aspal yang sudah
        Sampel akan diuji            untuk    panas secara hati-hati sampai jarum
memperoleh         stabilitas,   kelelehan,   timbangan menunjukkan keseimbangan
durabilitas berupa ketahanan terhadap         yang berarti jumlah aspal yang
air,    fleksibilitas     yang    dikaitkan   diperlukan sudah cukup. Selanjutnya
ketahanan terhadap kerusakan akibat           pencampuran dimulai sambil temperatur
tegangan tarik dan ketahanan terhadap         diukur dan disesuaikan dengan batasan
deformasi permanen Metode Marshall            di atas. Pencampuran dihentikan bila
dilakukan         untuk        menganalisis   campuran sudah kelihatan merata dan
karakteristik campuran aspal beton.           hasil pencampuran tersebut dituangkan
        Langkah-langkah        pelaksanaan    ke dalam mold Marshall yang sudah
pengujian ini meliputi ; penyiapan            disiapkan. Pada suhu yang disyaratkan
campuran untuk benda uji marshall,            seperti di atas, dilakukan penumbukan
pembuatan campuran untuk benda uji ,          dengan alat serta cara yang tandar yaitu
dan pengujian dengan metode tersebut.         metode SNI. Dalam penelitian ini
Untuk mendapatkan contoh campuran             pemadatan dilakukan 75 kali tumbukan
beraspal panas yang bergradasi menerus        pada tiap sisinya. Selanjutnya contoh
sesuai dengan spesifikasi yang ada,           yang sudah dipadatkan tersebut disimpan
maka agregat yang diteliti dipiah-            untuk diuji dengan cara Marshall pada
pisahkan dengan menggunakan saringan          keesokan harinya.
seperti tercantum dalam tabel spesifikasi     Untuk pengujian campuran dengan
sampai dihasilkan berat material yang         metode Marshall dilaksanakan sesuai
tertahan di saringan-saringan tersebut        dengan SNI. Briket ditimbang diudara
cukup untuk pengujian. Berat agregat          dalam keadaan kering, dalam keadaan
untuk setiap briket adalah 100  kadar      kering permukaan jenuh (SSD) serta
aspal 100  x berat total beriket-beriket     ditimbang di dalam air.
       Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.41. Agustus 2011

menghitung kadar ruang pori campuran.                   FF = Bahan Pengisi/filler
Selanjutnya briket direndam dalam air                         (material lolos saringan no.
dengan suhu 60ºC selama 30 menit,                             200.
kemudian briket diambil dari dalam               Nilai konstanta AC-WC adalah 0,5 – 1,0
rendaman dan langsung diuji dengan alat                  Selanjutnya dibuat benda uji
Marshall. Untuk mendapatkan hasil                dengan kadar aspal yang diperoleh dari
parameter-parameter      aspal,        maka      rumus (1). Pembuatan briket dengan
berdasarkan kadar aspal optimum dibuat           kadar aspal sesuai dengan hasil
benda uji dan pengujian dilaksanakan             perhitungan dan dengan dua kadar aspal
sesuai prosedur di atas. Khusus untuk            dibawah yang divariasikan dengan
Marshall        Immersion         diadakan       selisih 0,5 % dan dua kadar aspal diatas
perendaman briket selama ± 24 jam pada           yang divariasikan 0,5 %. Setiap kadar
temperatur 60ºC sebelum dilakukan                aspal tersebut dibuat benda uji masing-
pengujian dengan alat Marshall, untuk            masing tiga buah (jumlah 15 buah). 15
menentukan indeks kekuatan sisa                  benda uji tersebut dilakukan pengujian
digunakan persamaan sebagai berikut              terhadap flow, stabilitas, VIM, VMA,
(Hunter, 1994).                                  VFB, dan Marshall Quotient dan dibuat
                S                                grafik antara kadar aspal dengan masing-
         IKS  2  100%      ..............(4)   masing VMA, VIM, VFB, stabilitas,
                S1
                                                 flow,      dan     Marshall       Quotient.
                                                 Selanjutnya penentuan kadar aspal
 Keterangan :
                                                 optimum dilakukan dengan metode Bar-
 IKS = Indeks Kekuatan Sisa (%)
                                                 Chart yang merupakan rentang kadar
 S1     = rata-rata    nilai    stabilitas
                                                 aspal yang memenuhi semua syarat
           Marshall setelah perendaman,
                                                 kriteria campuran beraspal. Nilai Kadar
           selama t1 menit (Kg)
                                                 Aspal Optimum diperoleh sebesar 5,95
 S2     = rata-rata    nilai    stabilitas
                                                 %.
           Marshall setelah perendaman,
                                                 2. Pengujian Dengan Serat Serabut
           selama t2 menit (Kg)
                                                      Kelapa
 2. Metode Analisis                                      Persentase agregat kasar dan
           Metode      analisis     yang         agregat halus yang dipakai pada
 digunakan untuk campuran lapisan aspal          pembuatan sampel untuk pengujian ini
 beton jenis AC yang memenuhi                    juga sesuai dengan hasil rancangan AC –
 spesifikasi yaitu :                             WC, dan kadar aspal dipakai kadar aspal
 - Setiap sifat fisik agregat harus              optimum (Agregat kasar, agregat halus
      memenuhi spesifikasi yang telah            dan aspal sebagai variabel tetap).
 ditetapkan menurut Bina Marga,                  Persentase serat serabut kelapa pada
 AASHTO ataupun ASTM                             setiap sampel berturut-turut 0 %, 0,25
 PENGUJIAN CAMPURAN AC-WC                        %, 0,50 %, 0,75 %, dan 1,0 % terhadap
 1. Pengujian Marshall                           berat keringnya. Agregat dipanaskan dan
        Perkiraan kadar aspal optimum            di campurkan sejumlah kadar aspal
 diperoleh dari rumus persamaan :                optimum, untuk pemadatan dilakukan
 Pb = 0,035 (% CA) + 0,045 (% FA) + 0,18         sebanyak 2 x 75 tumbukan, dengan
 (% FF) + Konstanta                              menggunakan penumbuk marshall.
        (1)                                      Sampel yang dibuat untuk pengujian ini
 Dimana :                                        sama dengan sampel pengujian marshall
      Pb = kadar aspal perkiraan                 berbentuk silinder. Setiap kadar serat
      CA = Agregat kasar                         serabut kelapa dibuat masing-masing
      FA = Agregat Halus                         sampel sebanyak 3 buah. Benda uji
                                                 setelah dipadatkan disimpan pada suhu
                          Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.41. Agustus 2011

ruang selama 24 jam. Benda uji diukur                                                            perendaman 25 oC, setelah cukup umur
diameter dan tebalnya. Untuk sampel 0                                                            kemudian dilakukan perendaman selama
sampai 1,0 % dilakukan perendaman                                                                30 menit pada suhu 60 oC, dan dilakukan
selama 1 hari, untuk masing-masing                                                               pengujian         Marshall       dengan
kadar serat serabut kelapa dengan suhu                                                           menggunakan modifikasi alat marshall.
                                                                                                 60/70 yang digunakan dalam campuran
                                                                                                 AC-WC
HASIL DAN PEMBAHASAN
                                                                                                 tersebut memenuhi persyaratan yang
Hasil Pengujian Agregat dan Aspal
                                                                                                 ditentukan. Hasil Penggabungan Agregat
Hasil pengujian fisik agregat kasar,                                                             AC-WC terdiri atas Agregat Kasar = 58
agregat halus maupun bahan pengisi                                                               %, Agregat Halus = 33 %, Abu Limbah
(filler abu batu) dan aspal penetrasi                                                            AMP = 9 %.

                            100
                             90
                             80
       Prosen Lolos (%)




                             70                                                        Gradasi Agregat
                             60
                             50                                     Kurva Fuller
                             40
                             30
                             20
                             10
                              0                                                   Daerah TerLarang
                                         0,075                0,3       0,6           1,18      2,36                          4,75                9,5         12,7            19,0
                                                                        Ukuran Saringan (mm)


                                                        Gambar 3. Gradasi Penggabungan Agregat

      12.00                                                                                                               18.00

      10.00                                                                                                               17.00

               8.00
                                                                                                            VMA (%)




                                                                                                                          16.00
 VIM (%)




               6.00
                                                                                                                          15.00
               4.00

               2.00                                                                                                       14.00
                                                                                                                                  4.00        4.50    5.00 5.50 6.00            6.50   7.00
                          4.00    4.50    5.00  5.50  6.00                    6.50     7.00
                                                                                                                                                        Kadar Aspal (%)
                                            Kadar Aspal (%)


                                                                                                                       1500
                    5.00
                                                                                                                       1400
                    4.50
                    4.00                                                                                               1300
 Flow (mm)




                                                                                                      Stabilitas (%)




                    3.50
                                                                                                                       1200
                    3.00
                    2.50                                                                                               1100

                    2.00
                                                                                                                       1000
                        4.00      4.50    5.00      5.50            6.00       6.50     7.00                               4.00        4.50       5.00        5.50     6.00     6.50   7.00
                                          Kadar Aspal (%)                                                                                                Kadar Aspal (%)



                                                              500

                                                              450
                                                 MQ (kg/mm)




                                                              400

                                                              350

                                                              300

                                                              250

                                                              200
                                                                 4.00      4.50       5.00     5.50                     6.00         6.50      7.00
                                                                                       Kadar Aspal (%)
                  Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.41. Agustus 2011


                                                                     Karakteristik Marshall
                 Stabilitas (kg)                                 > 800

                 VIM (%)                                       3.5 - 5.5

                 VMA (%)                                         > 15

                 Flow (mm)                                        >3

       Marshall Q (kg/mm)                                        > 250
      Kadar aspal optimum = 5,95 %
                                       Gambar 4. Penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO)
                 17.00                                                                             6.00


                 16.00                                                                             5.00




                                                                                        VIM (%)
VMA (%)




                 15.00                                                                             4.00


                 14.00                                                                             3.00

                                                                                                   2.00
                 13.00
                                                                                                          0.00     0.25       0.50      0.75   1.00
                         0.00      0.25        0.50            0.75      1.00
                                                                                                                          Kadar Aspal (%)
                                          Kadar Aspal (%)



                  1500                                                                              5.00
                  1400

                  1300                                                                              4.00
                                                                                       Flow (mm)
Stabilitas (%)




                  1200
                                                                                                    3.00
                  1100

                  1000
                                                                                                    2.00
                   900                                                                                  0.00       0.25       0.50      0.75   1.00
                      0.00      0.25         0.50         0.75         1.00
                                                                                                                      Kadar Aspal (%)
                                       Kadar Aspal (%)




                                                               400.00


                                                               350.00
                                                      MQ (%)




                                                               300.00


                                                               250.00
                                                                        0.00    0.25               0.50     0.75    1.00
                                                                                   Kadar Aspal (%)
      Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.41. Agustus 2011




KESIMPULAN
         Berdasarkan      analisis    hasil   dan hasil stabilitas Marshall immertion
 pengujian      yang    dilakukan     pada    penambahan serat serabut kelapa 810,58
 penelitian ini, dapat diambil kesimpulan     kg, dan indeks kekuatan sisa tampa serat
 sebagai berikut :                            serbut kelapa 86,84 % > 75 % sedangkan
 1. Dari hasil pengujian agregat yang         indeks kekuatan sisa penambahan serat
 menggunakan abu limbah AMP sebagai           serabut kelapa 72,36 % < 75 %.
 filler, ternyata memenuhi spesifikasi        5. Campuran dengan abu limbah AMP
 Bina Marga, setelah dilakukan agregat        dapat memberikan hasil yang baik bila
 gabungan, dimana kurva agregat               digunakan sebagai filler dalam campuran
 gabungan berada di atas garis fuller         beton aspal, sedan bila ditambahkan serat
 dengan komposisi :                           serabut kelapa maka campuran
 a. Agregat Kasar                = 58 %       memberikan hasil yang kurang baik, hal
 b. Agregat Halus                = 33 %       ini dapat dilihat pada hasil pengujian
                                              marshall immertion. Hal ini disebabkan
 c.   Filler (abu limbah AMP)       = 9%
                                              karena tingginya daya serap serat serabut
 2. Hasil       pengujian    karakteristik    kelapa. Campuran ini peka terhadap air,
 Marshall dengan menggunakan abu              sehingga penggunaannya di indonesia
 limbah AMP sebagai filler tampa serat        dimana musim hujan yang relatif
 serabut kelapa diperoleh KAO 5,95 %,         panjang memungkinkan terjadinya resiko
 stabilitas 1393,06 kg, flow 4,27 mm,         tinggi.
 VIM 5,02 %, VMA 15,83 %, MQ 326,67           B. Saran
 kg/mm. Dengan penambahan serat                        Berdasarkan kesimpulan di atas,
 serabut kelapa 0,25 % yang memberi           maka dapat dikemukakan beberapa saran
 nilai karkteristik Marshall yang lebih       sebagai berikut :
 kecil dengan stabilitas 1120,15 kg, flow     1. Mengingat dalam penelitian ini
 3,47 mm, VIM 4,47 %, VMA 15,34 %,            mengabaikan sifat kimiawi dari serat
 dan MQ 324,94 kg/mm.                         serabut kelapa, maka perlu dilakukan
 3. Stabilitas pada KA 5,95 % tampa           penelitian lebih lanjut dengan terlebih
 serat serabut kelapa 1393,06 kg, jika        dahulu meninjau sifat kimiawinya.
 ditambahkan serat serabut kelapa 0,25 %      2. Penelitian sejenis dapat dilakukan
 maka stabilitas menjadi 1120,15 kg ini       untuk     perkerasan     lentur   dengan
 disebabkan karena serat serabut kelapa       persentase gradasi kasar tinggi, dengan
 menyerap aspal, sehingga aspal dalam         menggunakan serat serabut kelapa yang
 campuran berkurang, maka fungsi aspal        direkatkan dengan lateks.
 sebagai         pengikat       berkurang
 mengakibatkan stabilitas berkurang.
 4. Stabilitas     Marshall    immertion,
 tampa serat serabut kelapa 1209,77 kg
     Majalah Ilmiah Al-Jibra, ISSN 1411-7797, Vol. 12, No.41. Agustus 2011

DAFTAR PUSTAKA                             Direktorat Jenderal Bina Marga
                                                (1975), Pelapisan Aspal beton
Direktorat Jenderal Bina Marga
                                                serta Pengawasannya
     (2007), campuran beraspal panas
                                           Hamirhan Saodang, (2005), Konstruksi
     Buku V Spesifikasi Khusus
                                                Jalan Raya, Buku 2 Perencanaan
Silvia Sukirman (2003), Beton Aspal
                                                Perkerasan Jalan Raya, Bandung
     Campuran Panas, Jakarta
                                           Anonim, 1983, Petunjuk Pelaksanaan
Priyo Pratomo, 2006, Penggunaan
                                                Lapis Tipis Aspal Beton (Flexible)
     Limbah Abu (Marmer, Terbang,
                                                (Lataston)       No.12/PT/B/1983,
     Sawit) sebagai bahan pengisi pada
                                                Departemen Pekerjaan Umum
     campuran Lataston, Jurnal Forum
                                                Direktorat      Jendral      Bina
     Studi Transportasi antar Perguruan
                                                Marga,Jakarta.
     Tinggi (FSTPT), Udayana Bali.
                                           Anonim, 1987, Petunjuk Pelaksanaan
Silvia Sukirman (1992), Perkerasan
                                                Lapis Aspal Beton (Laston) SKBI –
     Lentur Jalan Raya, Bandung : Nova
                                                2.4.26, Departemen Pekerjaan
Balai Bahan dan Perkerasan Jalan
                                                Umum Direktorat Jendral Bina
     (2008), Modul pengendalian mutu
                                                Marga, Jakarta.
     Pekerjaan Aspal dan Agregat,
                                           Anonim, 2005, Petunjuk Pelaksanaan
     Puslitbang Jalan dan Jembatan,
                                                Lapis Aspal Beton (Laston),
     Dept. Pekerjaan Umum
                                                Departemen Pekerjaan Umum
Yamin, R.A. (2002) Penentuan gradasi
                                                Direktorat Jendral Bina Marga,
     Agregat Berdasarkan Spesifikasi
                                                Jakarta.
     Baru, Desiminasi Spesifikasi Baru
                                           Asphalt Institute, 1993, Mix Design
     Campuran Beraspal dengan Alat
                                                Methods For Asphalt Concrete And
     PRD,       Puslitbang    Prasarana
                                                Other Hot Mix Types, 6 edition,
     Transportasi, Dept. Kimpraswil,
                                                Manual Series No. 2 (MS-2),
     Modul 2.
                                                Kentucky, USA.
Direktorat Jenderal Bina Marga
     (1987), Petunjuk Perencanaan
     Pelaksanaan Lapis Aspal Beton
     (Laston) Untuk Jalan Raya SKB/-
     2.4.26.1987.
The Asphalt Institute (1993), Mix
     Design Methds for Asphalt Concrete
     and other Hot-Mix Types, Manual
     Series No. 2 Sixth Edition, The
     Asphalt Institute.
Direktorat Jenderal Bina Marga
     (1999), Pedoman Perencanaan
     Campuran Beraspal Panas dengan
     Pendekatan Kepadatan Mutlak,
     Pedoman Teknis No.025/T/BM/1999
Direktorat Jenderal Bina Marga
     (1993), Peroyek Peningkatan Jalan
     dan Penggantian Jembatan Propinsi
     Jawah Tengah, Modul m 2-5
Departemen        Kimpraswil     (2003),
     Campuran Beraspal Panas. Buku V
     Spesifikasi Khusus

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:45
posted:10/25/2012
language:Latin
pages:8