analisis sperma

					            ANALISIS SPERMA IKAN NILEM




                         Oleh :
            Nama        : Prihanto Arif Hidayat
            NIM         : B1J010212
            Rombongan   :V
            Kelompok    :4
            Asisten     : Nina Agustina




LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN II




         DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
         UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
                FAKULTAS BIOLOGI
                  PURWOKERTO
                          2011
                               I. PENDAHULUAN



                                A. Latar Belakang


        Sperma merupakan gamet jantan yang sangat penting pada keberhasilan

munculnya individu baru, maka di dalam reproduksi diperlukan adanya suatu

prosedur standar kualitas spermatozoa. Analisis sperma merupakan pemeriksaan

kualitas, sifat-sifat, kuantitas dan morfologi sperma. Pemeriksaan sperma dilakukan

untuk memprediksi kemampuan sperma yang diperoleh dan diharapkan dapat

diberdayakan untuk kesejahteraan manusia khususnya dan elemen kehidupan lain

pada umumnya. Pemilihan sperma ikan nilem (Osteochillus hasselti) sebagai

preparat dikarenakan mudah didapat, ukurannya tidak terlalu besar, murah dan

produk telurnya relatif tinggi. Ikan nilem termasuk golongan hewan vertebrata

bersama mamalia, oleh karena itu diharapkan mampu untuk memberikan

keterampilan dasar bagi praktikan untuk menganalisis sperma. Pemeriksaan sperma

pada ikan nilem dapat diaplikasikan terhadap spesies lain asalkan dapat memenuhi

persyaratan yang berlaku (Sumantadinata, 1981).



                                     B. Tujuan


       Tujuan dari praktikum analisis sperma ini adalah untuk menentukan kualitas

dan kuantitas sperma ikan nilem (Osteochillus hasellti ♂).
                            II. TINJAUAN PUSTAKA



        Ikan nilem (Osteochillus hasselti) tergolong dalam keluarga Cyprinidae

seperti ikan mas dan ikan tawes. Bentuk badan mirip ikan mas, tetapi badannya lebih

memanjang pipih kesamping (compressed). Mulutnya terdapat terdapat dua pasang

kumis (barbels). Mulut berada di ujung tengah (terminal) dapat disembulkan dan

lunak, mulut relatif lebar dan dengan bibir yang berkerut-kerut sebagai tanda

pemakan jasad penempel (Sumantadinata, 1981).

        Jenis kelamin ikan nilem dapat dibedakan dengan cara memijat bagian perut

ke arah anus. Ikan jantan yang sudah masak kelamin, jika dilakukan striping akan

mengeluarkan cairan putih dari lubang genitalnya, operculumnya bila diraba kasar

dan kelihatan lebih agresif, sedangkan yang betina tidak (Effendi, 1997). Menurut

Moeller (2004), ikan nilem jantan mencapai matang kelamin lebih muda dari pada

betina yaitu usia 8 bulan, dengan berat badan 0.5 kg/ ekor. Ciri-ciri ikan nilem jantan

masak kelamin yaitu, badan tampak ramping, gerakan lincah dan gesit, dan jika

diurut perutnya mengeluarkan cairan berwarna putih. Berat testis lebih ringan

dibandingkan berat ovarium pada ikan yang sama umurnya, dari kedua testis dapat

dihasilkan sekitar 1-1,5 ml milt (Moeller, 2004).

         Gonad pada ikan nilem dapat dibedakan menjadi dua, yaitu testis dan

ovarium. Testis ikan berbentuk memanjang dalam rongga badan di bawah

gelembung renang di atas usus, terdapat sepasang. Ikan memiliki serangkaian sistem,

seperti sistem reproduksi, sistem pencernaan, sistem eksresi dan serangkaian sistem

lainnya. Sistem reproduksi pada ikan nilem dengan cara ovivar atau bertelur. Salah

satu organ pada ikan yang berfungsi untuk bereproduksi adalah testis yaitu tempat

yang hanya terdapat pada hewan jantan sebagai penyalur sperma yang bermuara pada
porus urogenitalis. Porus urogenitalis adalah tempat bermuaranya feses, urin dan alat

reproduksi, pada porus urogenitalis tersebut terletak pada bagian ujung badan bawah

dekat ekor (Kimball, 1983). Testis sebagai organ kelamin primer mempunyai dua

fungsi yaitu menghasilkan spermatozoa dan sel-sel kelamin jantan, dan

mensekresikan hormon kelamin jantan, testosteron. Spermatozoa dihasilkan di dalam

tubuli seminiferi atas pengaruh FSH, sedangkan testosteron diproduksi oleh sel – sel

interstitial dari leydig atas pengaruh ICSH. Organ reprodukasi pada vertebrata terdiri

dari gonad dengan saluran dan kelenjar asesorinya. Vertebrata tingkat rendah seperti

ikan memliki organ reproduksi jantan yang terdiri dari testis, vas deferens dan porus

urogenitalis. Adapun fungsi dari organ-organ tersebut menurut Ville (1988) adalah :

-   Testis sebagai organ kelamin jantan, berupa organ yang sepasang dengan

    dilengkapi saluran spermatozoa dan organ asesorinya. Testis merupakan

    sepasang alat berukuran sedang yang masing-masing mempunyai sejumlah besar

    tubulus seminiferus yang sangat berliku-liku. Ini merupakan suatu daerah yang

    cukup luas untuk memproduksi bermilyar-milyar sperma. Jika sperma ini

    matang, maka akan masuk dalam lumen tubulus dan bergerak ke arah saluran

    genital.

-   Vas deferens merupakan tempat penyaluran sperma yang bermuara pada porus

    urogenitalis. Vas deferens terdapat hanya pada hewan jantan.

-   Porus urogenitalis, lubang ini terletak di sebelah posterior dari anus, berfungsi

    sebagai tempat keluarnya sel-sel kelamin dan air seni (urine).

       Spermatozoa ikan tergolong kedalam tipe flagellata, karena mempunyai ekor

flagela yang panjang. Spermatozoa yang sudah matang terdiri dari kepala, leher dan

ekor flagellata.   Inti   spermatozoa terdapat     pada bagian kepala.       Menurut

Sumantadinata (1981), ada juga yang mempunyai middle piece sebagai penghubung
atau penyambung antara leher dan ekor. Ekor flagellata berguna sebagai organ

renang. Spermatozoa saat dikeluarkan dari alat kelamin jantan, berada dalam seminal

plasma dengan spermatozoa. Campuran antara seminal plasma dengan spermatozoa

disebut milt. Setiap testis milt terdapat jutaan spermatozoa. Spermatozoa ikan nilem

juga bertipe tak berakromosom. Spermatozoa normal memiliki kepala, leher, badan

dan ekor, jika dilihat di bawah mikroskop bagian dinding kepala yang mengandung

DNA di dalamnya tampak sekitar 2/3 bagiannya tertutup akrosoma dan diantara

kepala dan badan terdapat sambungan pendek yaitu leher yang berisi sentriole

proksimal, kadang-kadang dinyatakan sebagai pusat aktivitas kinetik spermatozoa.

Bagian badan dimulai dari leher dan berlanjut ke cincin sentriol. Bagian badan dan

ekor mampu bergerak bebas walaupun tanpa kepala. Ekor berupa cambuk yang

membantu mendorong spermatozoa bergerak maju (Paxton, 1986).

       Spermatozoa abnormal merupakan spermatozoa berbentuk lain dari biasa,

terdapat baik pada individu fertil maupun interfertil. Hanya saja pada individu fertil

keadarnya lebih sedikit. Bentuk abnormal terjadi karena berbagai gangguan dalam

spermatogenesis. Gangguan itu mungkin karena faktor hormonal, nutrisi, obat, akibat

radiasi atau oleh penyakit lain (Yatim, 1990).

       Djanuar (1985) menyatakan bahwa pada umumnya semua penyimpangan

morfologi dari kerangka normal spermatozoa dianggap sebagai bentuk-bentuk

abnormal. Abnormal ini diklasifikasikan dalam abnormalitas primer dan sekunder.

Abnormal primer disebabkan oleh gangguan dalam testis (kelainan spermatogenesis

di dalm tubuli seminiferi). Bentuk yang termasuk abnormalitas primer yaitu : kepala

berukuran kecil, kepala rangkap dan mempunyai 2 ekor. Abnormalitas sekunder

disebabkan karena perlakuan terlalu kasar, terlalu panas atau terlalu cepat

didinginkan. Bentuknya yaitu : kepala lepas, ekornya patah dan ekornya bergelung,
bengkok atau melipat. Haemocytometer mempunyai 4 bilik hitung disetiap tepi yang

tersusun dari 16 kolom dan 1 bilik hitung di tengah yang tersusun dari 25 kolom.

Praktikum ini menggunakan haemocytometer untuk menghitung jumlah sperma yang

tidak dapat dihitung dan dilihat dengan mata telanjang.
                           III. MATERI DAN METODE



                                        A. Materi


       Alat-alat yang digunakan dalam praktikum analisis sperma ikan nilem

(Osteochillus hasellti) adalah mikroskop cahaya, cawan petri, mangkuk, bak

preparat, bilik hitung (hemositometer), spuit injeksi, gelas obyek, cover gelas,

pengaduk, stop watch, tisu, pipet, dan pH indikator.

       Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sperma ikan nilem

(Osteochillus hasellti ♂), larutan ringer, metanol, larutan giemsa, dan air kran.



                                        B. Metode


1. Cara stripping

   a. Ikan dipegang dengan bagian ventral ada di atas dan bagian dorsal

       menghadap ke bawah

   b. Tangan kanan menutupi kepala, sedangkan tangan kiri menyanggan ekor

   c. Bagian lubang urogenitaldilap dengan tisu

   d. Abdomen ikan diurut dari anterior ke arah posterior menuju lubang urogenital

       hingga pada lubang tersebut keluar cairan berwarna putih susu (milt)

   e. Milt yang keluar langsung disedot dengan spuit injeksi tanpa jarum

2. Volume

   a. Milt ikan nilem yang tertampung pada spuit injeksi diukur volumenya dengan

       langsung membaca skalanya

   b. Volume sperma ikan nilem juga dapat diukur dengan menggunakan gelas

       ukur volume 5 atau 10 ml.
3. Warna

   Diamati secara visual dengan latar belakang warna putih.

4. Bau

   Dibaui dengan cara dikipas-kipas dengan tangan, jangan dihirup langsung.

5. pH lakukan pengamatan berikut ini

   Derajat keasaman (pH) diukur dengan menggunakan kertas pH, dengan cara

   mencelupkan kertas pH ke dalam sampel sperma, diamkan beberapa saat,

   kemudian cocokkkan perubahan warna yang terjadi dengan tube.

6. Cara pengenceran milt

   a. Sampel sperma diambil 1 ml dimasukkan di dalam cawan.

   b. Larutan ringer sebanyak 9 ml dicampurkan ke dalam cawan (perbandingan

      antara sampel dengan larutan pengencer harus selalu 1: 9).

   c. Diaduk-aduk dengan menggunakan batang pengaduk sampai benar-benar

      homogen.

   d. Sperma yang sudah diencerkan ini merupakan sperma dengan pengenceran

      10x.

   e. Sperma pengenceran 10x diambil dengan menggunakan spuit yang lain

      sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam cawan yang berbeda.

   f. Larutan ringer 9 ml dicampurkan ke dalam sperma tersebut.

   g. Sperma dengan pengenceran dua kali ini merupakan sperma dengan

      pengenceran 100x.

   h. Pengenceran dilakukan lagi untuk mendapatkan sperma dengan pengenceran

      1000x dan 10.000x.

7. Motilitas Spermatozoa

   a. Milt yang sudah diencerkan 1000x diambil dengan menggunakan pipet tetes.
   b. Milt diteteskan diatas objek glass.

   c. Ditetesi dengan aquades, kemudian dihomogenkan.

   d. Ditutup dengan cover glass dan diamati dengan menggunakan mikroskop.

   e. Bergerak atau tidak bergerak, ditentukan persentase motilitasnya.

8. Menghitung jumlah total spermatozoa

   a. Milt yang sudah diencerkan 10.000x diambil dengan menggunakan pipet

      tetes

   b. Diteteskan di bilik hitung Haemocytometer yang sudah ditutup denga cover

      glass melalui sela-sela paritnya

   c. Hitung jumlah sperma menggunakan lima kotak sedang di dalam kotak besar

      yang di bagian tengah

   d. Jumlah total spermatozoa dihitung denga rumus :

      ∑ total spermatozoa = (Rata-rata 5 kotak sedang x pengenceran x 2,5.105)

      sel/ml

9. Morfologi sperma

   a. Sediaan preparat apus spermatozoa dibuat dengan cara ; meneteskan sperma

      (pengenceran 100x) pada objek glass di salah satu ujungnya. Tetesan sperma

      disentuhkan dengan menggunakan ujung objek glass yang lain, yang

      diberdirikan    dengan   sudut     300.   Tetesan   sperma   diratakan   dengan

      menyorongkan gelas objek lain tadi menjkauhi titik tetesan tersebut

   b. Apusan spermatozoa dibiarkan kering udara selama 5 menit

   c. Difiksasi dengan larutan eter alkohol (1 : 1), selama 5 menit

   d. Ditetesi dengan pewarna larutan Giemsa (pengencer 20x), selama 10 menit
   e. Dibiarkan kering udara

   f. Dicuci dengan air mengalir

   g. Dibiarkan kering udara
h. Amati dengan menggunakan mikroskopis, spermatozoa dicari

i. Spermatozoa normal dan spermatozoa abdomal digambar

j. Hitung spermatozoa pada 5 lapang pandang yang berbeda

k. Persentase sperma normal dan abdomal ditentukan.
                           IV. HASIL DAN PEMBAHASAN



                                      A. Hasil


1. Volume     : 0,52 ml

2. Viskositas : menit ke- 8

Tabel. Akumulasi Data Pengamatan Viskositas Spermatozoa Rombongan V

No     Kelompok       Waktu Menggumpal

1      1              10

       2              18

       3              12

       4              8

       5              10



3. Warna      : Putih susu

4. pH         : 8,5

5. Motilitas : a. Sperma motil 20 %

                b. Sperma non motil 80 %

Tabel 2. Akumulasi Data Pengamatan Motilitas Spermatozoa Rombongan V

                            K1         K2        K3    K4    K5    Rata-rata
Persentase sperma motil (%)  25         30        70    20    25       44
Persentase sperma non motil  75         70        30    80    75       66
(%)

     Keterangan :

     K : Kelompok
6. Pengamatan bilik hitung :




                    Gambar 1. Bilik Hitung Haemocytometer

7. Jumlah total Spermatozoa

Tabel 3. Akumulasi Data Pengamatan  Total Spermatozoa Rombongan IV
                       K1         K2          K3         K4         K5
                                                                             Rata-rata
                    (sel/ml)   (sel/ml)    (sel/ml)   (sel/ml)   (sel/ml)
     Total         28,3x109   32x109     26,5 x109   35,5x109   3,09x109
                                                                            25,078x109
  Spermatozoa

   Keterangan :
   K = Kelompok
   Perhitungan:

  -   Jumlah Spermatozoa

      Kotak1 = 16                               Kotak2 = 14
      Kotak3 = 12                                Kotak5 = 17

      Kotak4 = 12                                Rata-rata 5 kotak = 14,2

       Total Sperma =  Rata- rata 5 kotak sedang x Pengenceran x 2,5 . 105

                     = 14,2 x 1000 x 2,5.105

                     = 35,5 x108 sel/ml



8. Morfologi Spermatozoa




                    Gambar 2. Morfologi Sperma Ikan Nilem
   Keterangan:

   A. Spermatozoa normal

      1. Kepala

      2. Leher

      3. Ekor

   B. Spermatozoa abnormal dengan kelainan kepala besar

   C. Spermatozoa abnormal dengan kelainan kepala dobel
          Gambar Mikroskopis Sperma Ikan Nilem (Osteochillus hasselti)

Perbesaran :

Keterangan :

   1. Kepala

   2. Leher

   3. Ekor

9. Kesimpulan/Diagnosa :
       Berdasarkan hasil praktikum analisis sperma pada Rombonga IV, diperoleh

hasil yaitu warna sperma putih susu dengan bau agak amis dan pHnya 8.5 (basa).

Viskositas terjadi pada menit ke-8, hal ini terjadi karena semakin lama sperma ikan

didiamkan pada suhu ruang, maka viskositasnya akan semakin tinggi. Persentase

sperma motil pada kelompok 5 sebanyak 20 %, sedangkan sperma non motil

sebanyak 80 %.. Sperma ikan mempunyai bau agak amis sesuai dengan bau sperma
yang berkualitas yaitu berbau agak langu (amis). Morfologi sperma normal terdiri

dari kepala, leher, dan, ekor.



                                  B. Pembahasan


       Milt merupakan campuran antara seminal plasma dan spermatozoa, dalam

setiap tetes milt yang dikeluarkan dari satu ekor ikan jantan jumlah spermatozoanya

berbeda-beda tergantung umur, ukuran dan frekuensi pengeluaran sperma

(Kazakov, 1981). Berdasarkan pengamatan yang telah dilaksanakan dalam praktikum

analisis sperma adalah dengan beberapa pemeriksaan makroskopis yang meliputi

pemeriksaan warna, bau dari sperma yang diamati, volume, pH, bentuk dan jumlah

sperma yang dimiliki oleh ikan nilem jantan (Osteochillus hasselti ♂). Volume

sperma yang dihasilkan sebanyak 0,14 ml. Menurut Hora dan Pillay (1962)

menyatakan bahwa rata-rata volume milt yang dapat dihasilkan satu ekor ikan nilem

± 0,5 ml dengan jumlah spermatozoa permililiter adalah 3,33x1011. Volume sperma

yang dihasilkan pada        praktikum jauh lebih sedikit dari referensi mungkin

dikarenakan ikan yang digunakan dalam praktikum tidak disuntikkan suspensi

kelenjar hypofisa yang dapat memperbanyak produksi sperma atau mungkin ikan

belum cukup umur.

       Menurut Yatim (1984), sperma pada umumnya mempunyai bau yang khas

yaitu bau amis (langu). Bau sperma dapat diketahui dengan cara dikipas-kipas

dengan tangan. Bau sperma yang khas tersebut disebabkan oleh oksidasi spermin

(suatu poliamin alifatik) yang dikeluarkan oleh kelenjar prostate. Berdasakan

pengamatan bau sperma Ikan nilem yang diperoleh tercium bau agak amis segar

seperti susu yang baru diperas.
       Warna sperma ikan nilem yang diperoleh hasil striping yaitu berwarna putih

susu. Hal tersebut menunjukan bahwa pada saat distriping tidak terjadi pendarahan

pada ikan tersebut. Milt tersebut diamati dengan latar belakang putih agar warna

aslinya dapat terlihat jelas. Pernyataan tersebut sesuai dengan referensi milt dari

beberapa spesies ikan famili cyprinidae berbentuk cairan yang berwarna putih atau

kekuning-kuningan seperti susu (Harvey dan Hoar dalam Risnawati, 1995). Milt

adalah campuran antara seminal plasma dan spermatozoa, dalam setiap tetes milt

yang dikeluarkan dari satu ekor ikan jantan jumlah spermatozoanya berbeda-beda

tergantung umur, ukuran dan frekuensi pengeluaran sperma. Milt dari famili

Cyprinidae berupa cairan yang berwarna putih susu (Kazakov, 1981). Sperma yang

diamati memiliki pH sebesar 8,5, hal ini tejadi karena sperma ikan Nilem bersifat

basa karena memiliki pH 8 (Yatim, 1990).

       Pemeriksaan mikroskopis sperma meliputi: jumlah total spermatozoa,

morfologi,   dan   motilitasnya.   Jumlah   spermatozoa   dapat   dihitung   dengan

menggunakan bilik hitung (hemositometer) diperoleh sperma sebanyak adalah 1,425

x 1010 sel/ml. Menurut Haryono (1978) jumlah spermatozoa/ml yang menjadi

pegangan untuk dikatakan cukup, kurang ataupun berlebih adalah 20 juta/ml. Istilah

yang dipakai adalah sbb :

1. 0 Juta/ml disebut Azoospermia

2. > 0 - 5 Juta/ml disebut Ekstrimoligozoospermia

3. < 20 juta disebut oligozoospermia

4. > 250 Juta/ml disebut Polizoospermia

Jumlah spermatozoa 20 – 250 juta/ml sudah dianggap masuk dalam batas-batas yang

normal. Ukuran spermatozoa pada ikan teleostei berkisar 40-60 µm dengan panjang

kepala hanya 2-3 µm, dengan produksi spermatozoa yang cukup tinggi. Ikan mas
jumlah spermatozoanya mencapai 1,9 ± 0,2 x 1012 sel spermatozoa per kg bobot

badan dan pada ikan rambow trout berkisar 3,5-4,5 ± x 1012 sel spermatozoa per kg

berat badan (Billard, 1992 dalam Fujaya, 2002). Hora dan Pillay (1992) dalam

Arimbi (2001) menyatakan bahwa untuk satu induk ikan nilem jantan per ekor rata-

rata menghasilkan spermatozoa 0,5 ml, dengan jumlah 3,33 x 1011 sel spermatozoa

per ml.

          Praktikum ini menghasilkan persentase sperma motil 70% dan yang non

mortil 30%. Faktor-faktor yang mempengaruhi motilitas spermatozoa antara lain

tinggi dari plasma semen atau oleh media hipotonik untuk ikan air tawar dan media

hipertonik untuk ikan air laut (Fujaya, 2002). Stimulasi dan lama pergerakan

spermatozoa dipengaruhi umur, kematangan sperma, temperature, dan faktor

lingkungan seperti ion-ion, pH dan osmolalitas. Spermatozoa yang belum matang

pergerkannya lebih singkat dibandingkan spermatozoa matang (Fujaya, 2002).

Terjadinya peningkatan waktu motilitas dan viabilitas spermatozoa diduga

pemberian fruktosa sebagai larutan fertilisasi dapat mengurangi kecepatan rusaknya

permeabilitas spermatozoa dibanding air sebagai larutan fertilisasi yangterjadi di

alam. Seperti diketahui permeabilitas membran sangat berkaitan dengan transportasi

nutrisi yang penting peranannya dalam metabolisme sel. Dengan mengurangi

kecepatan rusaknya permeabilitas membran spermatozoa, maka kebutuhan akan

nutrisi tidak terhambat dan selanjutnya sel spermatozoa tersebut dapat bertahan lama.

Robertis & Robertis (1979) menyatakan bahwa permeabilitas membrane erat

kaitannya dengan transportasi nutrisi yang diperlukan pada metabolisme sel dalam

menghasilkan energi. Hal ini didukung oleh Jeyendran (1986) dalam Purwaningsih

(2000) yang menyatakan, bahwa permeabilitas membran spermatozoa erat kaitannya

dengan motilitas dan viabilitas spermatozoa. Menurut Effendy (1997) kemampuan
spermatozoa hidup secara normal setelah keluar dari testis hanya berkisar antara 1–2

menit. Suquest (1994) dalam Cosson et al, (1999) mengatakan bahwa di alam durasi

motilitas terjadi dalam periode yang sangat pendek pada ikan air tawar. Motilitas

spermatozoa ikan dibatasi pada periode detik dan menit pada pembuahan ikan air

tawar karena adanya osmotic injury (Billard, 1978). Menurut Billard, 1978; Maggese

et al (1984) osmotic injury dapat diamati dalam spermatozoa setelah pelepasan

kedalam medium pembuahan alami. Kerusakan ini tidak dapat diperbaiki dan bisa

menyebabkankematian dalam hitungan detik untuk beberapa jenis ikan air tawar

(Jamieson (1990) dalam Hidayaturrahmah (2007)).

          Morfologi sperma yang terlihat adalah sperma yang normal yang hanya

memilki satu kepala, satu badan dan ekornya tidak patah. Menurut Billard (1992),

adapun faktor yang mempengaruhi perubahan morfologi sperma untuk manusia

adalah:

1.   Fungsi testis, makin banyak kepala normal berarti fungsi tesis baik.

2.   Gangguan pada epididymis, misalnya : radang, varikokel, dll akan terlihat banyak

     sel-sel immature.

3.   Abstinentia seksualisnya kurang lama atau sering ejakulasi

          Menurut Ginzburg (1972) kriteria morfologi sperma disebut normal bila

a. Kepala : berbentuk oval, akrosom menutupi 1/3nya, panjang 3-5 mikron, lebar ½

     s/d 2/3 panjangnya.

b. Midpiece : langsing (< ½ lebar kepala), panjang 2x panjang kepala, dan berada

     dalam satu garis lengan sumbu panjang kepala.

c. Ekor : batas tegas, berupa garis panjang 9 x panjang kepala.

Istilah-istilah yang dipakai pada bentuk yang abnormal adalah :

a. Makro : 25 % > kepala normal
b. Mikro : 25 % <>

c. Taper : kurus, lebar kepala ½ yng normal, tidak jelas batas akrosom, memberi

   gambaran cerutu

d. Piri : memberi gambaran ”tetesan air mata”

e. Amorf : Bentuk kepala yg ganjil, permukaan tidak rata, tidak jelas batas akrosom

f. Round : bentuk kepala seperti lingkaran, tidak menunjukkan akrosom

g. Piri : tidak jelas adanya kepala yg nyata, tampak midpiece dan ekor saja

h. Cytoplasmic droplet : menempel pada kepala atau midpiece, lebih cerah

i. Ekor abnormal : pendek / spiral / permukaan tidak halus / ganda

       Viabilitas adalah daya tahan spermatozoa atau telur untuk hidup, membuahi

dan dibuahi setelah dilepaskan dari induknya. Viabilitas spermatozoa dan telur pada

ikan nilem hanya sekitar 5 menit setelah ejakulasi atau oviposisi. Hal ini sangat

mempengaruhi daya fertilitas telur ikan karena telur dapat terbuahi apabila viabilitas

telur dan spermatozoa baik. Sangat pendeknya waktu viabilitas ini akan mempersulit

dikembangkannya manipulasi untuk reproduksi (Yatim, 1990). Air mani terdiri dari

komponen organik dan anorganik yang mendukung viabilitas sperma. Contohnya:

mineral (Potassium, Sodium, Magnesium, Calcium dan Klorida), pH, osmolasi,

protein, glukosa dan triglyserida (Hajirezaee, 2009).

       Penyimpanan spermatozoa pada temperatur ruang menyebabkan metabolisme

spermatozoa     meningkat.    Peningkatan     metabolisme     spermatozoa     tersebut

mengakibatkan persediaan substrat dalam spermatozoa cepat berkurang serta sisa

metabolisme cepat menumbuk yang pada akhirnya menurunkan motilitas

spermatozoa itu sendiri (Kimball, 1983). Spermatozoa keluar bersama-sama dengan

seminal plasma saat diejakulasikan, ejakulat ikan tersebut dikenal dengan istilah milt.

Spermatozoa umumnya tidak akan motil selama dalam saluran reproduksi ikan
jantan. Spermatozoa akan motil jika mulai dilepaskan ke lingkungan perairan saat

pemijahan atau dalam saluran reproduksi betina. Dimulainya motilitas spermatozoa

dipacu oleh beberapa faktor lingkungan (Morisawa, 1995 dalam Wijayanti, 1997).

        Larutan yang dipakai dalam praktikum analisis sperma antara lain adalah

larutan ringer, larutan metanol, larutan giemsa, dan air (akuades). Larutan ringer

digunakan untuk mengencerkan sperma agar sperma homogen (tidak menggumpal)

dan dapat pula memperpanjang umur sperma. Larutan metanol digunakan untuk

mengawetkan dan menempelkan sperma yang sudah mati maupun masih hidup yang

berada pada obyek glass agar tidak rusak. Larutan Giemsa digunakan sebagai

pewarna sperma sederhana agar sperma dapat dilihat dengan mikroskop cahaya

dengan mudah (jelas) baik yang normal maupun abnormal dan air (akuades)

digunakan untuk     aktivasi   spermatozoa (Soeminto,     2007).   Fujaya (2002),

menambahkan syarat pengenceran yang ideal adalah isotonik, mempunyai

kemampuan menyangga yang baik, mengandung nutrisi yang menstabilkan koloid-

koloid dan anti oksidan, anti bakteri serta mampu melindungi spermatozoa dari

kejutan dingin. Pada praktikum kali ini sperma ikan diencerkan dengan pengenceran

1000x dengan menggunakan larutan ringer. Digunakannya larutan ringer karena

larutan ini mudah didapat dan relatif lebih murah dan dapat mempertahankan viabiliti

sperma selama satu jam. Menurut Wijayanti dan Simanjuntak (2006) hasil penelitian

yang telah dilakukuan menunjukkan bahwa larutan Ringer dapat mempertahankan

motilitas sperma yang disimpan pada temperatur 4ºC. Methanol 10% digunakan

sebagai cryoprotectatn agar sel sperma tetap bertahan pada temperatur dingin dan

terhindar dari dehidrasi sel (Riley et al., 2004; dalam Wahyuningsih, 2007). Horvath

et al. (2005) dalam Wahyuningsih (2007) juga menyatakan bahwa methanol tidak

beracun saat digunakan sebagai cryoprotectant dan dilaporkan lebih baik digunakan
dibandingkan DMSO atau gliserol. Hal ini diketahui karena kecepatannya masuk ke

dalam sel. Kualitas dan kuantitas sperma yang baik memiliki bau khas mani atau

agak amis warna putih susu dan kental. Larutan yang digunakan dalam praktikum

analisis sperma adalah larutan Giemsa yang berfungsi sebagai pewarna sperma

sederhana agar sperma dapat dilihat dengan mudah (jelas) baik yang normal maupun

abnormal di dalam mikroskop cahaya. Larutan Ringer digunakan untuk pengenceran

sperma agar sperma homogen (tidak menggumpal), dapat melihat pergerakan sperma

di dalam mikroskop, dan dapat pula memperpanjang umur sperma. Alkohol untuk

membersihkan preparat agar steril dan larutan fiksatif. Air (akuades) digunakan

untuk aktivasi spermatozoa (Soeminto, 2000).

       Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas semen :

1. Makanan. Tingkatan makanan yang rendah dapat menghambat pertumbuhan

   pejantan muda, penurunan jumlah spermatozoa per ejakulat, dan kahilangan

   libido. Pada hewan muda menyebabkan katerlambatan masa pubertas

   (Almquist & Elipse, 1956).

2. Konstituen makanan. Apabila protein di dalam ransum kurang dari 2 persen,

   terjadi pengurangan konsumsi makanan, penurunan berat badan, kelemahan, dan

   penurunan libido dan produksi spermatozoa (Warnick et al., 1961).

3. Suhu dan musim. Suhu lingkunagn yang terlampau rendah atau terlalu tinggi

   dapat mempengaruhi reproduksi hewan jantan. Musim mempengaruhi pula

   kualitas dan kuantitas semen.

4. Frekuensi ejakulasi. Frekuensi ejakulasi yang terlalu sering daklam satuan waktu

   yang relatif pendek cenderung untuk menurunkan libido, volume semen dan

   jumlah spermatozoa per ejakulasi (Toelihere, 1977).
                         V. KESIMPULAN DAN SARAN



                                   A. Kesimpulan


1. Spermatozoa ikan nilem (Osteochillus hasselti ♂) termasuk spermatozoa flagellata

   dan spermatozoa tak berakromosom.

2. Volume sperma 0,52 ml, warnanya putih susu, berbau amis, pH 8,5, jumlah

   sperma yang motil 20 % dan sperma yang non motil 80 %.



                                        B. Saran


       Praktikum ini memerlukan ketelitian dalam menghitung jumlah sperma dan

menentukan motilitas sperma tersebut sehingga diharapkan dalam melakukan

praktikum ini praktikan harus bekerja dengan teliti dan berhati-hati.
                               DAFTAR REFERENSI


Arimbi, S. A. 2001. Pembuahan Telur Ikan Nilem Mangut oleh Spermatozoa Ikan
      Nilem Seruni dengan Pemijahan Jumlah Tertentu. Skripsi. Fakultas Biologi.
      Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Djanuar, R. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi pada Sapi. Gajah Mada
      University Press, Yogyakarta.

Effendi, Moch Ichsan. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantama,
       Yogyakarta.

Fujaya, Y. 2002. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. Dikti,
       Yogyakarta.

Hajirezaee, S., Bagher Mojazi Amiri dan Ali Reza Mirvaghefi. 2009. Effect of
       Stripping Frequency on Semen Quality of Endangered Caspian Brown Trout,
       Salmo trutta caspius. American Journal of Animal and Veterinary Sciences 4
       (3): 65-71.

Kazakov, R. V. 1981. Peculiarities of Sperm Production by Anadromous and
      Atlantic Salmon (Salmon salar) and Fish Cultural characteristic Such Sperm.
      J. Fish. Biol. 18 (I) : 1-8p.

Kimball, J. R. 1983. Biologi Jilid III. Erlangga, Jakarta.

Moeller, R. B. 2004. Biology of Fish California Animal Health and Food Safety
      Laboratory. System University of California, California.

Paxton, M. J. W. 1986. Endrocinology, Biologycal and Medical Prospective. Wm.C.
       Brown Publisher, Dubuque, Iowa.

Risnawati, N. W. 1995. Ukuran dan Morfologi Beberapa Species Ikan Famili
      Cyprinidae. Skripsi Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor, Bogor (tidak
      dipublikasikan).

Soeminto. 2007. Buku Petunjuk Praktikum SPH II. Universitas Jenderal Soedirman,
      Purwokerto.

Sumantadinata, K. 1981. Perkembangbiakan Ikan-Ikan Peliharaan di Indonesia. PT
      Sastra Hudaya, Bogor.

Ville, Claude A. Dan W. Barnes, R. 1988. Zoologi Umum. Erlangga. Jakarta.

Wijayanti, G. E. 1997. Fertilisasi Telur dan Sperma Ikan Nilem (Osteochilus hasselti
      C. V.) Pasca Stripping dalam Media Alami. Laporan Hasil Penelitian.
      Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Yatim, W. 1990. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito, Bandung.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: analisis
Stats:
views:553
posted:10/21/2012
language:Tagalog
pages:23