Penelurusan teori Kedua Einstein dalam Al Qur'an by z41n

VIEWS: 99 PAGES: 7

									            Penelurusan Teori Kedua Einstein dalam Al Qur’an


Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan cahaya “c” yang harganya sama
dengan 299.792,5 km/detik (berdasarkan Al-Qur’an) adalah suatu besaran atau
konstanta yang sangat penting dalam teori Einstein. Artinya, tanpa diketahui
harga "c" tersebut teori Einstein tidak ada artinya sama sekali! Melalui
penjelasan yang sederhana ini, maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur'an
dengan ayat-ayatnya yang tersurat maupun yang tersirat telah lebih dulu memuat
masalah cahaya maupun kecepatan cahaya dibandingkan dengan teori Einstein.
Sejak diturunkan 15 abad yang lalu, Al-Qur'an telah memuat masalah cahaya,
hanya saja kecepatan cahaya dalam Al-Qur'an baru terungkap dan bisa dihitung
pada masa sekarang. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa Al-Qur'an
telah memuat teori Einstein. Mungkin ada yang bertanya dan membantah
dengan mengatakan bahwa belum semua teori Einstein tersirat di dalam Al-
Qur'an, itu baru sebagian saja! Mungkin pertanyaan dan bantahan itu ada
benarnya. Akan tetapi kalau kita lihat teori Einstein yang lain, yaitu teori
Einstein kedua mengenai kesetaran energi dan massa suatu benda: E = m c2,
mungkin pertanyaan dan bantahan itu bisa dijawab.? Coba kita simak kembali
teori kesetaraan energi dan massa atau teori Einstein kedua:
    E = m c2
    E = energi.
    m = massa suatu benda.
    c = kecepatan cahaya.


    Berdasarkan teori kesetaraan energi dan massa tersebut, berarti energi suatu
benda itu ada, kalau benda tersebut masih mempunyai massa. Dengan kata lain,
kalau energi suatu bend y berkurang berarti mass y benda itu juga berkurang.
Teori kedua Einstein tersebut kiranya dapat diterapkan pada bintang yang
padam, atau lebih dikenal dengan "the whitedwarf". Bintang yang padam atau
tak bersinar lagi berarti energinya berkurang dan ternyata dari pengamatan
dengan telescope bintang yang padam tersebut akan menjadi ringan dan
kehilangan gaya gravitasinya, sehingga garis edarnya (orbit) menjadi tidak
teratur karena tertarik oleh gravitasi bintang lain.
     Ternyata apa yang diuraikan, di atas, yaitu bintang yang padam kemudian
garis edarnya berubah yang dalam astronomi disebut dengan "the white dwarf"
telah ada dalam Al-Qur'an! Cobalah simak ayat-ayat Al-Qur'an berikut ini:
"Maka apabila pemandangan telah kacau balau, dan bulan hilag cahayanya,
dan matahari dan bulan dikumpulkan" (QS. A Qiyaamah, 75:7-9).
     Kalau dicermati ayat tersebut di atas, bulan hilang cahayanya berarti bulan
sudah tidak mendapat sinar dari matahari karena matahari telah padam,
kemudian bulan dan matahari dikumpulkan berarti garis edarnya (orbit) telah
berubah.
     Contoh dari kejadian ayat tersebut sudah ditunjukkan oleh bintang yang
padam yang terjadi di luar tata surya kita, "the white dwarf"! Sedangkan contoh
bintang yang padam tersebut adalah penerapan dari teori kedua Einstein!
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Al-Qur'an secara tidak langsung sudah
memuat teori kedua Einstein!! Wallahu alam bishawab. Bagaimana pendapat
anda? Sama? Svukur Alhamdulillah! jadi, teori kedua Einstein juga sudah
tersirat di dalam Al-Qur'an. Akan tetapi, kalau anda tidak sependapat dengan
uraian tersebut di atas, tidak jadi masalah, mungkin pendapat anda justru akan
menambah kekayaari tafsir Al-Qur'an! Silahkan anda kemukakan pendapat anda.


                Penulusuran teori ketiga Einstein dalam Al-Qur'an.


     Sekarang coba kita simak teori ketiga Einstein, atau lebih dikenal sebagai
teori relativitas khusus Einstein Secara umum teori ketiga Einstein tersebut
mengemukakan bahwa benda yang bergerak yang sangat cepat akan mempunyai
massa yang lebih besar dari pada massa diamnya. Hubungan massa benda
bergerak dan massa diamnya adalah sebagai berikut:
           m=
dimana:
     m = massa benda bergerak.
      m0 = massa diam benda (tak bergerak).
      v = kecepatan benda bergerak.
     c = kecepatan cahaya.


     Teori relativitas Einstein tersebut kalau diterapkan kepada usaha manusia
untuk pergi ke bintang (angkasa luar) di luar tata surya kita, mengandung
pengertian bahwa manusia harus terbang dengan.kecepatan mendekati atau sama
dengan cahaya. Mengapa harus terbang mendekati atau sama dengan kecepatan
cahaya? Karena perjalanan menuju bintang di luar tata surya kita jaraknya
begitu jauh. Coba bayangkan, bintang terdekat dari tata surya kita, yaitu bintang
Alpha Centauri jaraknya kurang lebih 4 tahun cahaya. Jarak 4 tahun cahaya
dalam bidang astronomi akan sama dengan:
     (4 x 365 x 24 x 60 x 60) detik x 300.000 km/detik = 378,43-2 x 1011 km.
Atau sama dengan = 37.843.200.000.000 km.
     Berarti kalau manusia akan menempuh jarak tersebut dengan kecepatan
cahaya akan memerlukan waktu 4 tahun, terbang non stop!! Coba kita analisa
persoalan tersebut:
a.    Manusia terbang dengan kecepatan cahaya, jelas tidak bisa!
b.    Seandainya bisa terbang dengan kecepatan cahaya, maka massa manusia
      menjadi (dimana manusia terbang dengan kecepatan v = c):
       m=                                = tak terhingga



      massa manusia menjadi tak terhingga, ini jelas ti mungkin dan ini berarti
      analisa (b) juga tidak bisa'.
      Dari analisa (a) dan (b) dapat disimpulkan bahwa manusia kalau akan
      pergi ke bintang terdekat, di tata surya kita, jelas tidak bisa.
      Bagaimana kalau kecepatan terbang dikurangi, mica dengan kecepatan
      1/100 kecepatan cahaya. Berapa kecepatannya = 3000 km/detik = 3000 x
        3600 km/ jam 10.800.000 km/jam. Coba kita analisa kemungkinan
        persoalan ini.


 c.    Kendaraan/pesawat ruang angkasa berkecepatan juta km/jam, rasanya
        mustahil bisa diciptakan, faktor gesekan udara yang menimbulkan panas
        sangat tinggi pada pesawat yang menyebabkan pesawat akan terbakar.
        Jelas pengandaian ini tidak bisa!
 d.    Seandainya kecepatan 10,8 juta km/jam bisa dicapai, maka waktu tempuh
        ke bintang terdekat tersebut akan sama dengan:
        4 tahun/ 1/100 = 400 tahun.


        Berarti manusia harus terbang selama 400 tahun non stop! pengandaian ini
       jelas tidak bisa.
        Dari analisa (c) dan (d) dapat disimpulkan juga bahwa manusia kalau akan
pergi ke bintang terdekat, di luar tata surya kita, jelas tidak bisa. Jadi teori ketiga
Einstein tersebut jika diterapkan pada keinginan manusia untuk melakukan
penerbangan ke bintang (terdekat) di luar tata surya kita,
Jelas tidak mungkin bisa! Artinya teori ketiga Einstein tersebut benar! Lantas
bagaimana kaitannya dengan Al-Qur'an? Adakah Al-Qur'an memuat ayat-ayat
yang menyiratkan adanya teori ketiga Einstein tersebut? Coba kita simak ayat
Al-Qur'an berikut ini:
      “...... jika kamu mampu menembus (melintasi) penjtini langit dan bumi,
      maka tembuslah. Kamu tidak bisa menembusnya melainkan dengan
      kekuatan. ” (QS. Ar Rahmaan, 55:33)t
   Ayat 33 Surat Ar Rahmaan tersebut mengisyaratkan bahwa manusia tidak
bisa keluar dari tata surya, tidak bisa ang ke bintang terdekat, sesuai dengan
analisa (a), (b), (c) dan (d) tersebut di atas. Manusia pergi ke bulan sudah bisa,
karena sudah punya "kekuatan" yaitu ilmu peroketan untuk mengalahkan gaya
tarik bumi. Akan tetapi perjalanan manusia ke bulan, masih termasuk dalam tata
surya belum keluar dari tata surya kita. Perjalanan manusia keluar dari tata
surya, berdasarkan apa yang tersirat dalam ayat 33 Surat Ar Rahmaan dan
berdasarkan analiasa (a), (b), (c), (d) dari teori ketiga Einstein tersebut,
keduanya menyatakan bahwa manusia tidak mungkin untuk terbang menuju ke
bintang yang ada di luar tata surya kita. Berdasarkan penjelasan ini, maka secara
tidak langsung Al-Qur'an telah memuat teori ketiga Einstein!
    Jadi Al-Qur'an secara tidak langsung telah memuat keterangan teori
pertama, teori kedua dan teori ketiga Einstein. Al-Qur'an yang ditulis 15 abad
yang lalu, sudah mengisyaratkan ketiga macam teori Einstein tersebut. Hal ini
menambah keyakinan umat Islam akan kebenaran ayatayat Al-Qur'an yang
diwahyukan kepada Nabi akhirul zaman, pembawa rakhmat bagi semesta alam.
    Walaupun kecepatan cahaya dalam Al-Qur'an bare bisa diungkapkan dan
dihitung pada masa sekarang, akan tetapi hal ini justru menambah keyakinan
bahwa dengan mempelajari ilmu pengetahuan akan makin mendekatkan manusia
kepada Sang Pencipta. Selain dari pada itu, eksistensi Tuhan yang dicari oleh
para ilmuwan selama ini (terutama oleh para ilmuwan barat), makin terbukti
nyata adanya! Contoh perhitungan cahaya menurut ayat-ayat yang di dalam Al-
Qur'an tersebut, juga membuktikan bahwa kajian ayat-ayat kaunniyyah akan
makin mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta sesuai dengan firman
Allah berikut ini:
     "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan)
     Kami pada segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga
     jelaslah bagi mereka bahwa sesungguhnya (Al-Qur'an) itu adalah benar.
     Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu sesungguhnya Dia menyaksikan segala
     suatu?" (QS. Fushshilat, 41:53).
    Perlu juga diketahui bahwa ilmuwan-ilmuwan Muslim terkemuka pada
masa lampau memandang bahwa kajian dan pengamatan alam semesta adalah
sebagai cara untuk menyaksikan ayat-ayat Allah yang tersebar di jagat raga. Hal
ini sebagairnana yang diungkapkan oleh Al Biruni, seorang ilmuwan Muslim
terkemuka yang hidup pada abad 11 sebagai berikut:
    "Manakala seseorang memutuskan untuk membedakan antara kebenaran
    dan kebatilan, dia hares mengkaji alam semesta dan menemukan apakah ia
    abadi ataukah diciptakan. Iika seseorang mengira bahwa dia tidak mem-
    butuhkan jenis pengetahuan ini, dia poerlu berpikir tentang hukum-hukum
    yang mengatur dunia kita ini, sebagiannya atau keseluruhannya. Ini akan
    membawanya untuk mengetahui kebenaran mengenai mereka dan merintis
    jalan untuk mengetahui Wujud yang mengarahkan dan mengendalikan alam
    semesta dan untuk mengetahui sifat-sifatNya. Ini dalam kenyataannya,
    adalah sebentuk kebenaran yang telah diperintahkan Tuhan untuk dicari
    oleh hamba-hambaNya yang berihnu dan Tuhan mengatakan kebenaran
    ketika Dia mengatakan:
    ......... dan merekamerenungkan tentang peiiciptaaii laiigit dare bwni
    (seraya berkata), " Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini
    dengan sia-sia."(QS. Ali Imran, 3:191). Ayat ini berisi apa yang telah saya
    jelaskan secara terperinci; dan jika orang bekerja sesuai dengannya, ia akan
    bisa mempunyai akses kepada semua cabang ilmu pengetahuan."
    Ternyata apa yang dikatakan oleh Al Biruni seorang ilmuwan Muslim pada
abad ke 11 yang lalu, juga sama dengan apa yang dikatakan oleh seorang
ilmuwan barat perintis ilmu pengetahuan modern masa kini, yaitu Robert Boyle
yang mengatakan:
    "Manakala dengan teleskop yang kuat saya menjelajahi bintang-bintang
    dan planet-planet yang lama dan yang bare ditemukan...., manakala dengan
    mikroskop yang bagus saya menilik karya alam yang menarik perhatian....,
    manakala dengan bantuan pisau-pisau anatomi dan cahaya tanur-tanur
    kimiawi saya mengkaji kitab alam...., saya menemukan diri saya bersama
    pemazmur, Wahai, betapa banyaknya karya-Mu, Oh Tuhan. Engkau telah
    menciptakan itu semua dengan kebijaksanaan."
    Jadi, kalau dilihat pernyataan kedua orang ilmuwan tersebut di atas,
walaupun keduanya tidak saling mengenal dan hidup mereka juga terpisah 9
abad, tapi mereka mempunvai pandangan yang sama, bahwa pengamatan
tentang alam semesta ini akan membawa kedekatan manusia kepa _zz. Tuhan
seru sekalian alam! Persil sama dengan apa yang tersurat dan tersirat di dalam
Al-Qur'an. Subhanallah.
    Kalau diperhatikan lebih lanjut contoh perhitungan kecepatan cahaya
berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an tersebut atas, tampak jelas bahwa ilmu agama
dan ilmu astrofis, astronomi, matematika dapat saling melengkapi saling
memperkuat ilmu-ilmu tersebut. Dengan kata lain, ilmu agama dan ilmu non
agama tidak saling bertentangan manakala manusia ingin mencari kebenaran
dalam rangka mendapatkan eksistensi Tuhan. Hal ini kiranya sesuai pula dengan
pernyataan filosof Muslim Murtadha Mutahhari yang mengatakan bahwa:
     "Pada dasarnya, tidaklah benar membagai ihnu menjadi 2 kelompok ilmu
    agama dan ilmu non agama. Ini akan menimbulkan kesalahpahaman bahwa
    yang disebut ilmu-ihnu non agama adalah asing bagi Islam. Kelengkapan
    dan finalitas Islam menuntut bahwa ilmu apapun yang bermanfaat yang
    dibutuhkan oleh masyarakat Islam disebut ilmu keagamaan."
     Pernyataan Murtadha Mutahhari tersebut di atas, secara tersirat juga ingin
mengemukakan bahwa ilmu-ihnu non agama bila dirunut akan menuju kepada
sumbernya, vaitu Al-Qur'an. Lebih jauh lagi apa yang diungkapkan oleh
Murtadha Mutah hari tersebut, ternyata juga senada dengan pendapat ilmuwan
Muslim lainnya, yaitu Maududi yang menegaskan bahwa :
    "Harus diingat bahwa Islam berbeda dengan Kristen, tidak mengakui
    pemisahan pendidikan menjadi 2 bagian yang ketat, yakni pendidikan
    agama dan pendidikan sekuler. Islam tidak terbatas pada akidah dan etika
    saja. Bahkan is mencakup seluruh kehidupan kita. Karenanva, pendidikan
    Islam tidak dapat dipisahkan dari pendidikan sekuler."
     Pernyataan kedua orang cendekiawan Muslim tersebut di atas, patut untuk
diingat kaitannya dengan usaha pembuktian bahwa Al-Qur'an sudah memuat
terlebih dulu teori Einstein yang menjadi bahasan utama pada bab ini. Melalui
tulisan ini diharapkan akan makin banyak orang yang tertarik untuk mengkaji
ayat-ayat kaunniyyah kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi pada masa kini dan masa mendatang, sekaligus untuk membuktikan
bahwa Al Qur’an dapat dipakai sebagai rujukan atau acuan di dalam membahas
ilmu pengetahuan dan teknologi.

								
To top