Docstoc

Perkembangan Bakat Khusus Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)

Document Sample
Perkembangan Bakat Khusus Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja) Powered By Docstoc
					                                          MAKALAH

     Perkembangan Bakat Khusus Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)



Perkembangan Bakat Khusus Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)
    Tidak dapat diingkari bahwa ada perbedaan individual antar individu dalam tingkat
kemampuan atau prestasi. Perbedan individual itu tampak dari perbedoan bakatnyo.
Perbedaan bakat itu dibawa sejak lahir dan hasil dari latihon atau pengalaman. Program
pendidikan dan latihan hendaknya dirancang dengan memperhatikon faktor perbedaan bakat
atau kecakapan khusus yang dimiliki siswa.

1. Pengertian Bakat
       Menurut William B. Michael (Sumadi Suryabrata, 199:168), bakat adalah "An
aptitude may be defined as a person's capacity, or hypothetical potentisf, for acquisition of a
certain more or less well defined pattern or behavior in me performance of a task respect to
which the individual has Had little or no previous training."
Bingham mendefinisikan bakat sebagai "An aptitude ...as a condition or set characteristics
regarded as symptomatic of an individual's ability to acquire with training some (usually
specified) knowledge, skill, or set of responses such as the ability to speak a language, to
produce music etc. Bingham menitikberatkan pada kondisi atau seperangkat sifat yang
dianggap sebagai tanda kemampuan individu untuk menerima latihan, atau seperangkat
respons seperti kemampuan berbahasa, musik dan sebagainya. Guilterd (Sumadi S., 1991:
169) mengemukakan bahwa bakat itu mencakup tiga dimensi psikologis, yaitu dimensi
perseptual, dimensi psikomotor, dan dimensi intelektual.
       Dimensi perseptual meliputi kemampuan persepsi, yang mencakup: kepekaan
pengindraan; perhatian; orientasi terhadap waktu; luasnya daerah persepsi; kecepatan
persepsi, dan sebagainya. Dimensi psikomotor mencakup enam faktor, yaitu:
       Kekuatan, impuls, kecepatan gerak, ketelitian (yang terdiri atas dua macam:
kecepatan    statis   yang     menitikberatkan   pada   posisi   dan   ketepatan   dinamisyang
menitikberatkan pada gerakan), koordinasi,

dan keluwesan (flexibility).
    Dimensi intelektual meliputi lima faktor berikut:
        a) Faktor ingatan, yang mencakup: substansi, relasi, dan system
        b) Faktor ingalan, mengenai pengenalan terhadap: keseluruhan informosi, golongan
           (kelas), hubungan-hubungan, bentuk atau struktur, dan kesimpulan.
        c) Faktor evaluatif, yang meliputi, identitas, relasi-relasi, system, dan problem yang
           dihadapi.
        d) Faktor berpikir konvergensi, yang meliputi, nama-nama, hubungan-hubungan,
           sistem-sistem, transformasi, dan implikasi-implikasi yang unik.
        e) Faktor berpikir divergen meliputi: menghasilkan unit-unit, seperti: word fluency,
           ideational fluency pengalihan kelas-kelas secara spontan, kelancaran dalam
           menghasilkan hubungan-hubungan, menghasilkan sistem, seperti expressional
           fluency, transformasi divergen, dan susun bagian-bagian menjadi garis besar atau
           kerangka.

       Apakah perbedaan antara bakat dengan kemampuan (ability), kapasitas (capacity),
dan insting? Bakat dapat diartikan sebagai bahwa kemampuan bawaan yang merupakan
potensi (potential ability) yana masih perlu dikembangkan melalui latihan. Kemampuan
adalah daya jiwa untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan.
Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilaksanakan sekarang, sedangkan
bakat memerlukan latihan agar suatu tindakan dapat dilakukan di masa yang akan datang.
Kapasitas sering digunakan sebagai sinonim untuk istilah kemampuan dan biasanya diartikan
sebagai kemampuan yang dapat dikembangkan sepenuhnya di masa mendatang jika latihan
dilakukan secara optimal. Adapun insting umumnya terdapat pada hewan. Dengan insting itu,
hewan dapat melakukan sesuatu tanpa harus latihan sebelumnya.
       Jadi, bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau
keterampilan yang relatif bersifat umum (misainya bakat intelektual umum) atau khusus
(bakat akademis khusus). Bakat khusus disebut juga talent (talenta).

2. Jenis-jenis Bakat Khusus
    Setiap individu memiliki bakat khusus yang berbeda-beda. Usaha pengenalan bakat
khusus ini mula-mula terjadi pada bidang pekerjaan, tetapi kemudian dalam bidang
pendidikan. Hampir semua ahli psikologi yang menyusun tes untuk mengungkap bakat
khusus bertolak dari dasar pemikiran analisis faktor. Menurut Guilford, pada setiap aktivitas
diperlukan berfungsinya faktor-faktor khusus.
    Pemberian nama terhadap jenis-jenis bakat khusus biasanya dilakukan berdasarkan
bidang apa bakat tersebut berfungsi, seperti bakat matematika, olah raga, seni, musik, bahasa,
teknik, dan sebagainya. Dengan demikian, bakat khusus ini sangat bergantung pada konteks
kebudayaan tempat seorang individu hidup dan dibesarkan. Faktor pengalaman atau
lingkungan sangat memengaruhi pengembangan bakat khusus ini.

3. Hubungan antara Bakat dan Prestasi
    Dengan adanya bakat, seseorang dapat mencapai prestasi dalam bidang tertentu, tetapi
diperlukan latihan, pengalaman, pengetahuan dan dorongan atau kesempatan untuk
pengembangannya. Jika orangtuanya menyadari bahwa anaknya mempunyai bakat
menggambar dan mengusahakan agar ia mendapat pengalamar yang sebaik-baiknya untuk
mengembangkan bakatnya, dan anak itu juga menunjukkan minat yang besar untuk
mengikuti pendidikan menggambar anak itu akan dapat mencapai prestasi yang unggul
bahkan dapat menjadi pelukis terkenal. Sebaliknya, seorang anak yang mendapat pendidikan
menggambar dengan baik, tetapi ia tidak memiliki bakat menggambar, ia tidak akan pernah
mencapai prestasi unggul untuk bidang tersebut. Dalam kehidupan di sekolah sering
ditemukan bahwa seseorang yang berbakat dalam olah raga, umumnya berprestasi di bidang
itu. Keunggulan dalam salah satu bidang tertentu, misalnya sastra, matematika atau seni,
merupakan hasil interaksi bakat yang dibawa sejak lahir dengan faktor lingkungan yang
menunjang.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bakat
    Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan bakat terletak pada anak itu sendiri dan
lingkungan.
   a. Anak itu sendiri. Misalnya, anak itu kurang berminat untuk mengembangkan bakat-
       bakat yang ia miliki, atau kurang termotivasi untuk mencapai prestasi yang tinggi,
       atau mungkin pula mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga ia mengalami
       hambatan dalam pengembangan bakatnya.
   b. Lingkungan anak. Misainya, orang tuanya kurang mampu untuk menyediakan
       kesempatan dan sarana pendidikan yang dibutuhkan anak, atau ekonominya cukup
       tinggi, tetapi kurang memberi perhatian terhadap pendidikan anaknya.
5. Pendidikan Anak Berbakat di Indonesia
   Membahas masalah sistem pendidikan di Indonesia, kita tahu bahwa anak usia sekolah
ditempatkan secara berjenjang sesuai dengan usianya. Mulai anak usia TK, SD, SLTP dan
SLTA. Kurikulum yang digunakan bersifat centralized (terpusat), artinya kurikulum yang
dipakai untuk seluruh wilayah Indonesia secara umum sama.
Dengan keterbatasan ini, ada beberapa hal yang belum tertangani dengan baik, misalnya,
penanganan anak berbakat. Anak berbakat perlu penanggulangan khusus sehingga segala
kemampuan yang ada pada dirinya dapat tersalurkan melalui suatu lernbaga pendidikan
khusus, seperti halnya sekolah luar biasa (SLB) yang menangani anak-anak yang memiliki
kelemahan dikarenakan tidak berfungsinya salah satu bagian pada tubuhnya (tunanetra,
tunarungu, tunawicara, dan sebagainya).
    Pendidikan anak berbakat, sebagaimana halnya pendidikan pada umumnya, hanya dilihat
secara sistematik meliputi program, fasilitas, guru, masukan, dan tujuan (Raka Joni, 1982).
Berdasarkan kenyataan yang universal dan alamiah bahwa manusia itu berbeda satu sama lain
dalam berbagai hal, seperti dalam hal intelegensi, bakat, kepribadian, kondisi jasmani dan
sebagainya sehingga perlu dipikirkan cara menangani penyaluran berbagai perbedaan ini.
    Pendidikan anak berbakat merupakan bagian integrasi pendidikan pada umumnya,
dengan kekhususan memberi kesempatan maksimal bagi anak berbakat untuk berfungsi
sesuai dengan potensinya, dengan harapan bahwa pada suatu saat ia akan memberi
sumbangan yang maksimal bagi peningkatan kehidupan sesuai dengan aktualisasi potensinya
itu. Hal itu sesuai dengan citra masyarakat yang kita anut dengan memerhatikan kaitan
fungsional antara individu dan masyarakat (Raka Joni, 1982).

a. Pengertian anak berbakat
    Menurut Renzuli, anak berbakat memiliki pengertian, "satu interaksi di antara tiga sifat
dasar manusia yang menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas
kemampuan rata-rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas-tugas dan kreativitas yang tinggi.
Anak berbakat ialah anak yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan gabungan ketiga
sifat ini dan mengaplikasikan dalam setiap tindakan yang bernilai. Anak-anak yang mampu
mewujudkan ketiga sifat itu harus memperoleh kesempatan pendidikan yang luas dan
pelayanan yang berbeda dengan program-program pengajaran yang reguler (Swssing, 1985).
    Pengertian lain menyebutkan bahwa anak berbakat adalah anak yang .mempunyai
potensi unggul di atas potensi yang dimiliki oleh anak-anak normal. Para ahli dalam bidang
anak-anak berbakat memiliki pandangan sama bahwa keunggulan lebih bersifat bawaan
daripada manipulasi lingkungan sesudah anak dilahirkan.
Keunggulan lain yang telah disepakati oleh para ahli ialah anak-anak berbakat mempunyai
superioritas dalam bidang akademik. Hal itu tidak sulit untuk dimengerti sebab salah satu
syarat penting untuk meraih prestasi akademik tertentu ialah persyaratan inteligensi.
    Kepribadian memang merupakan salah satu sumbangan yang dapat diberikan oleh anak
atau orang-orang berbakat. Dengan dasar kepribadian yang baik akan lahir karya-karya yang
baik pula, sehingga maslahat yang diberikan menjadi lebih besar dibandingkan mudharatnya.
Seperti kita ketahui bahwa sebuah karya yang besar tentu saja akan memberikan pengaruh
yang besar pula kepada hidup dan kehidupan manusia.

b. Karakteristik anak berbakat
    Sebagai mahluk sosial, anak berbakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang
sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat, pemikiran, sikap, dan aktivitas anggota masyarakat yang
lain. Dalam pergaulan inilah, mereka merasa sedih atau bahagia. Ditinjau dari budaya, anak
berbakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang dipengaruhi tingkat kebudayaan
tempat mereka memperoleh pengalaman budaya. Selain itu, faktor agama akan memberikan
dasar dan norma pribadi anak berbakat.
    Untuk mengenali karakteristik anak-anak berbakat dapat dilihat beberapa segi di
antaranya sebagai berikut.

1) Potensi
    Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak berbakat memiliki potensi yang
unggul. Potensi ini dapat disebabkan oleh faktor keturunan, seperti studi yang dilakukan U.
Branfenbrenner (1972) dan Scarr Salaptek (1975) yang menyatakan secara tegas bahwa tidak
ada keraguan bahwa faktor genetika mempunyai andil besar terhadap kemampuan mental
seseorang (Kitano, 1 986).
    Dilihat dari sudut ilmu pendidikan, untuk menjelaskan hal tsrsebut di atas, kita dapat
mengikuti penjelasan dari Jone Healy bahwa semua wanita harus menyadari pentingnya
nutrisi yanq baik demi anak yang dikandungnya. Selain itu, janin harus terhindar dari
keracunan atau pengaruh sinar x yang datang dari luar (Healy 1978). Dari sudut proses
belajar, faktor kesadaran seperti yang disarankan oleh Healy adalah satu prestasi belajar yang
sebelumnya melibatkan proses kompleks. Faktor inteligensi, motivasi, emosi dan sosialisasi
sangat menentukan pencapaian hasil atau prestasi belajar dalam bentuk kesadaran.
    Menurut penelitian Terman (1 925), pada saat anak dilahirkan anak berbakat memiliki
berat badan di atas berat badan normal. Dari segi fisik pada umumnya mereka juga memiliki
keunggulan seperti terlihat dari koordinasi, daya tahan tubuh, dan kondisi kesehatan pada
umumnya (French, 1959). Mereka juga sangat energik (Meyen, 1 978) sehingga orang salah
mendiagnosis mereka sebagai anak yang hyperactive (Swassing, 1985).
    Anak-anak berbakat berkembang lebih cepat atau bahkan sangat cepat bila dibandingkan
dengan ukuran perkembangan yang normal. Bila menemukan anak seperti itu, guru dapat
menduga bahwa ia tergolong anak berbakat. Hal ini disebabkan anak berbakat memiliki
superioritas intelektual (Gearheart, 1980), mampu dengan cepat melakukan analisis (Sunan, 1
983), dan dalam irama perkembangan kemajuan yang mantap (Swassing, 1985). Bahkan,
dalam berpikir, mereka sering meloncat dari urutan berpikir yang normal (Gearheart, 1980).
    Selain potensi inteligensi, anak-anak berbakat memiliki keunggulan pada aspek
psikologis yang lain, yaitu emosi. Menurut French (1959) dan Gearheart (1980), anak-anak
yang berbakat memiliki stabiiitas emosi yang mantap sehingga mereka akan mampu
mengendalikan masalah-masalah personal (Heward, 1980). Rasa tanggung jawab mereka pun
sangat tinggi serta mempunyai cita rasa humor yang tinggi pula.
    Karakteristik sosial yang dimiliki anak-anak berbakat ialah cakap mengevaluasi
keterbatasan dan kelebihan yang dimiliki dirinya dan orang lain. Sifat ini akan membuat anak
berbakat tampil bijaksana.

2) Cara menghadapi masalah
    Cara menghadapi masalah di sini adalah keterlibatan seluruh aspek psikologis dan
biologis setiap anak berbakat pada saat mereka herhadapan dengan masalah tersebut. Mereka
akan memilih metode, pendekatan, dan alat yang strategis sehingga diperoleh pemecahan
masalah yang efisien dan efektif. Langkah awal dapat dilihat bahwa setiap anak berbakat
mempunyai keinginan yang kuat untuk mengetahui banyak hal (Gearheart, 1980) kemudian
mereka akan melakukan ekspedisi dan eksplorasi terhadap pengukuran saja. Setelah berpikir
dengan baik, mereka akan memunculkan hasil pemikiran dalam bentuk dan tingkah laku.
Tingkah laku yang dimunculkan ialah mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara kritis.
Pertanyaan ini ditujukan pada diri sendiri atau orang lain (sebaya atau orang dewasa).
    Karakteristik yang dimiliki anak berbakat dalam menghadapi masalah di antaranya:
•   Mereka mampu melihat hubungan permasalahan itu secara komprehensif dan juga
    mengaplikasikan konsep-konsep yang kompleks dalam situasi yang konkret.
• Mereka akan terpusat pada pencapaian tujuan yang ditetapkan (Gearheart, 1980).
• Mereka suka bekerja secara independen dan membutuhkan kebebasan dalam bergerak dan
    bertindak.
• Mereka menyukai cara-cara baru dalam mengerjakan sesuatu dan mempunyai intens untuk
    berkreasi (Meyen, 1978).

3) Prestasi
    Prestasi anak berbakat dapat ditinjau dari segi fisik, psikologis, akademik, dan sosial,
Prestasi fisik yang dapat dicapai oleh anak-anak berbakat ialah memiliki daya tahan tubuh
yang prima serta koordinasi gerak fisik yang harmonis (French, 1959).
Anak berbakat mampu berjalan dan berbicara lebih awal dibandingkan dengan anak-anak
normal (Swanson, 1979). Secara psikologis, anak berbakat memiliki kemampuan emosi yang
unggul dan secara sosial pada umumnya mereka adalah anak-anak yang populer serta lebih
mudah diterima (Gearheart, Heward,1980)
    Berdasarkan prestasi akademik, anak berbakat pada dasarnya memiliki sistem syaraf
pusat (otak dan spinal cord) yang prima, Oleh karena itu, mereka dapat mencapai tingkat
kognitif yang tinggi Menurut Bloom, kognitif tingkat tinggi meliputi berpikir apiikasi
analisis, sintesis, evaluasi dan juga kognitif tingkat rendah terdiri dari berpikir, mengetahui,
dan komprehensif.
    Dalam usia yang lebih muda dari anak-anak normal, anak-anak berbakat sudah mampu
membaca dan kemampuan ini berkembonq terus secara konsisten (Swassing, 1985, French,
1959). Mereka mampu menggunakcn perbendaharaan kota yang sudah maju (Ingram, 1983).
     Selain memiliki keunggulan-keunggulan di atas, menurut Swassing, anak-anak berbakat
mempunyai karakteristik negatif, yaitu:
• mampu mengaktualisasikan pernyataan secara fisik berdasarkan pemahaman pengetahuan
    yang sedikit;

• dapat mendominasi diskusi;

• tidak sabar untuk segera maju ke tingkat berikutnya;

• suka ribut;
• memilih kegiatan membaca doripada berpartisipasi aktif dalam kegiatan masyarakat, atau
    kegiatan fisik;

• suka melawan aturan, petunjuk-petunjuk atau prosedur tertentu;
• jika memimpin diskusi akan membawa situasi diskusi ke situasi yang harus selalu tuntas;
• frustasi disebabkan tidak jalannya aktivitas sehari-hari;
• menjadi bosan karena banyak hal yang diulang-ulang;

• menggunakan humor untuk memanipulasi sesuatu;
•   melawan jadwal yang (hanya) didasarkan atas pertimbangan waktu saja, bukan atas
    pertimbangan tugas;

• mungkin akan kehilangan intens dengan cepat.
    Menangani anak berbakat
    Kemampuan dasar atau bakat luar biasa yang dimiliki seorang anak memerlukan
serangkaian perangsang (stimulasi) yang sistematis, terencana, dan terjadwal agar apa yang
ada, yang dimiliki, menjadi aktual dan berfungsi sebaik-baiknya. Membiarkan seorang anak
berkembang sesuai dengan asas kematangan saja akan menyebabkan perkembangan menjadi
tidak sempurna dan bakat-bakat |uar biasa yang sebetulnya memiliki potensi yang dapat
dikembangkan menjadi tidak berfungsi.
    Peran lingkungan sebagai pemicu rangsang sangat besar dalam menentukan sampai di
mana tahapan terealitas dan hasil akhir suatu perkembangan dicapai. Pendidikan khusus yang
direncanakan diberikan kepada anak-anak khusus (anak berbakat luar biasa), jelas
mempunyai tujuan mengaktualisasikan seiuruh potensi yang dimilikinya untuk mencapai
prestasi yang luar biasa, sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pendidik, masyarakat, dan
pemerintah.
    Dalam usaha memengaruhi perkembangan anak untuk mengaktualisasikan seluruh
potensi yang dimiliki agar berfungsi secara optimal, ada beberapa faktor yang perlu
diperhatikan agar mencapai hasil yang diharapkan.
1) Faktor yang ada pada anak itu sendiri, yaitu mengenai anak. Mengenali dalam arti
    mengetahui semua ciri khusus yang ada pada anak secara objektif. Dalam usaha
    memberikan pendidikan khusus kepada anak berbakat perlu terlebih dahuiu dibedakan
    beberapa pengertian, yakni:
   •       Berbakat luar biasa pada fungsi-fungsi yang berhubungan dengon proses informasi
           (kognitif) sehingga memengaruhi aspek-aspek lain.
   • Berbakat luar biasa hanya pada salah satu atau beberapa aspek, bisa mengenai aspek
           kognitif atau aspek yang berhubungan dengan keterampilan-keterampilan khusus.
           Adapun aspek-aspek lain secara umum tergolong biasa saja.
2) Faktor kurikulum yang meliputi:
            • Isi dan cara pelaksanaan yang disesuaikan dengan keadaan anak (child centered)
            dan dengan sendirinya telah dilakukan identifikasi mengenai keadaan khusus yang
            ada pada anak secara objektif.
       • Perlu ditekankan bahwa kurikulum pada pendidikan khusus hendaknya tidak terlepas
dari kurikulum dasar yang diberikan untuk anak lain. Perbedaan hanya terletak pada
penekanan dan penambahan suatu bidang sesuai dengan kebutuhannya dan tetap terpadu
dengan kurikulunn dasar,
       • Kurikulum khusus diarahkan agar perangsangan yang diberikan mempunyai pengaruh
untuk menambah atau memperkaya program (enrichment program) dan tidak semata-mata
untuk mempercepat (accelerate) berfungsi sesuai bakat luar biasa yang dimiliki.
       •     Isi kurikulum harus mengarah pada perkembangan kemampuan anak yang
berorientasi inovatif dan tidak reproduktif serta berorientasi untuk mencapai sesuatu dan
tidak hanya memunculkan apa yang dimiliki tanpa dilatih menjadi kreatif.
    Kreativitas yang diarahkan agortertanom sikap hidup yang mau mengabdi, melayani, dan
mengamalkan pengetahuannya untuk kemajuan mesyarakat bangsa dan negara.

d. Pelaksanaan pendidikan anak berbakat
1) Meloncatkan anak pada kelas-kelas yang lebih tinggi (skipping)
    Usia mental (mental age) pada anak berbakat yang lebih tinggi daripada usia sebenarnya
(cronological age) menimbulkan perasaan tidak puas dalam diri mereka karena belajar
bersama dengan anak-anak lain seumurnya. Meskipun banyak aspek perkembangan lain pada
anak ternyata memang lebih maju daripada anak-anak seumurnya, misalnya aspek sosial cara
percepatan dengan meloncatkan anak pada kelas-kelas yang lebih tinggi dianggap kurang
baik, antara lain karena mempermudah timbulnya masalah-masalah penyesuaian, baik di
sekolah, rumah maupun lingkungan sosialnya. Selain itu, norma yang dipakai adalah norma
dari kelas tinggi, yang belum tentu sesuai seluruhnya bagi anak karena norma yang diikuti
bukan norma dari anak berbakat itu sendiri.
    Percepatan yang diberikan kepada anak berbakat untuk menyelesaikan bahan pelajaran
dalam waktu yang lebih singkat sesuai dengan kemampuannya yang istimewa disebut Samuel
A. Klik dan James Gallagher sebagai "telescoping grades". Sebenarnya, cara ini tergolong
cara yang baik karena diberikan dan diselesaikan sesuai dengan keadaan, kebutuhan, dan
kemampuan anak itu sendiri.
    Kesulitannya ialah pengaturan administrasi sekolah yang meliputi nengaturan-pengaturan
tenaga pengajaran karena harus memberikan pelajaran secara individual kepada anak. Pada
anak pun, sebagaimana dikhawatirkan oleh para ahli, akan timbul kesulitan dalam
penyesuaian diri, baik sosial maupun emosional karena terbatasnya hubungan-hubungan
sosial dengan teman-teman sebayanya.

2) Pendidikan daiam kelompok khusus (special grouping segregation)
    Ada beberapa kemungkinan untuk melaksanakan pendidikan dalam kelompok khusus,
yaitu berikut ini.

a) Model A
    Kelas biasa penuh ditambah kelas khusus (mini). Cara ini bisa dilakukan di setiap
sekolah karena anak berbakat mengikuti secara penuh acara di sekolah dan setelah itu
memperoleh pelajaran tambahan dalam kelas khusus. Kelemahan model ini adalah sebagai
berikut.
     o Berkurangnya waktu untuk melakukan kegiatan lain yang
    diperlukan untuk memperkembangkan aspek kepribadiannya,
    misalnya pergaulan, olah raga, dan kesenian.
    o Pada waktu anak mengikuti kelas biasa, ia merasa bosan dan
    pada anak-anak yang masih kecil, kemungkinan akan
    mengganggu teman-temannya.
     o Di kelas biasa, anak tidak terlatih bersaing dan bekerja keras
    untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya.

b) Mode B
 Pada model ini, anak mengikuti kelas biasa, tetapi tidak seluruhnya (bisa 75%, 60% , 50% )
 dan ditambah dengan mengikuti keias khusus. Jumlah jam pelajaran tetap dan hal ini
 menguntungkan anak sehingga ia masih mempunyai waktu untuk melakukon dalam
 mengembangkan aspek-aspek kepribadiannya.
     Keuntungan lain ialah jumlah jam belaJar yang cukup lama di kelas khusus (meskipun
 mungkin kelas mini) mernbuatnya memperoleh kesempatan bersaing dengan teman-teman
 yann mempunyai potensi berbeda.
     Kerugian pada anak ialah seperti pada model A, yakni ketika berada di kelas bisa, anak
merasa bosan dan mungkin menganggap mudah semua mata pelajaran akibat mudah
tumbuhnya perasaan sombong dan terlalu percaya diri.

c) Model C
    Pada model ini, semua anak berbakat dimasukkan dalam kelas secara penuh. Kurikulum
dibuat secara khusus, demikian pula guru. gurunya. Keuntungan pada model ini ialah mudah
mengatur pelaksanaannya dan pada murid pun, ada persaingan dengan temannya yang
seimbang kemampuannya. Selain itu, jumlah pelajaran serta kecepatan dalam menyelesaikan
suatu mata pelajaran bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan anak. Kerugian -akan
terjadi pada anak-anak normal yang sebaya, sehingga proses sosialisasi di sekoloh menjadi
berkurang. Perlakuan istimewa oleh pihak sekolah dan guru-guru mudah menimbulkan
perasaan harga diri yang berlebihan (superiority complex) karena dalam kenyataannya ia
berada dalam kelas yang eksklusif.
d) Model D
Model ini merupakan sekolah khusus yang hanya mendidik anak berbakat. Dari sudut
administrasi sekolah, jelas mudah diatur, tetapi dari sudut anak, banyak kerugiannya karena
dengan mengikuti pendidikan sekolah khusus, anak terlempar jauh dari lingkungan sosialnya
dan menjadi anggota kelompok sosial khusus dan istimewa. Perkembangan aspek
kepribadian sangat mengkhawatirkan karena kurangnya kemungkinan untuk mendefinisikan
aspek-aspek kepribadian seluas-luasnya. Melalui pergaulan yang luas dan bervariasi, nilai
sebagai anggota masyarakat, ia akan mudah merasa sebagai anggota masyarakat dengan kelas
dan tingkatan tersendiri dan sulit menyesuaikan diri.
3) Kegiatan dalam implementasi kurikulum bidang studi tertentu
    Beberapa kegiatan khusus akan diuraikan secara konkret sebagai sampel (contoh-contoh)
program dalam menjalankan kurikulum anak berbakat di SD


    A. Membaca
    Mata pelajaran yang paling mudah dipenuhi dan paling banyak (manfaatnya adalah
memberikan bacaan-bacaan yang sangat berguna dan memberikan pendalaman tentang
masalah yang diminati anak berbakat.
    Seandainya sekolah tidak mempunyai perpustakaan, materi dapat diambil dari
perpustakaan lembaga lain. Selain itu, pemberian bacaan itu dapat dibarengi dengan tugas
memberikan komentar dan catatan tentang buku tersebut. Juga "display" tentang materi
bacaan yang dikumpulkan dari surat kabsr, majalah atau sumber lain, clipping tentang topik-
topik yang lagi "hangat" dibicarakan di sekolah atau masyarakat banyak membantu.
Meskipun anak berbakat gemar membaca, tidak semua masalah dijangkau oleh minatnya.
Pengarahan terhadap topik-topik yang relevan perlu diperhatikan. Demikian pula majalah
yang tidak menunjang pembentukan kepribadiannya merupakan masalah cukup penting.
Pengarahan terhadap catatan, komentar, sugesti yang harus diberikan anak berbakat terhadap
bacaan berasal dari guru, umpamanya; sesudah selesai membaca, beri tahu karakter mana
yang paling ia sukai atau kagumi dan mengapa? Tokoh mana yang paling tidak disukai dan
mengapa? Apakah daiam buku itu ada deskripsi jelas tentang pribadinya secara nyata atau
hanya disimpulkan dari kejadian-kejadian yang diceritakan. Moral apa yang terkandung
dalam buku tersebut. Pengayaan melalui peiajaran membaca dapat juga dilaksanakan dalam
keiompok kecil untuk memperoleh "interaksi yang hidup" dengan teman sebaya.
h) Menulis kreatif (mengarang)
    Kehidupan imajinasi anak berbakat biasanya sangat aktif, mengarang merupakan sesuatu
yang biosanya gemar dilakukannya. Namun, ada anak berboakat yang minatnya cenderung ke
ilmu pengetahuan alam (IPA) kadang memperoleh kesukaran dalam menyatakan dirinya,
meskipun ide-idenya banyak.
     Mengarang adalah suatu sarana yang dalam memperoleh keterampilan menyatakan diri.
Kebimbangan memilih judul yang sesuai dapat dipancing dan diarahkan melalui:

o gambar seseorang atau sesuatu yang diperhatikan;

o passage dalam bacaan seperti "penerbang roket mengambil
     tempat duduknya dalam kapsul, menunggu tanda ke-
     berangkatannya".
     c} limu Pengetahuan Sosial
     Pelajaran sejarah, pendidikan kewarganegaraan (PPKn), dan ilmu bumi dapat dikaitkan
dengan membaca dan mempelajari berbagai tajuk sejarah maupun ilmu bumi melalui
berbagai bacaan. Integrasi dari kedua bacaan ini memungkinkan pendalaman suatu
penguasaan yang konkret dalam kaitan dengan kedua pelajaran tersebut. Juga menyuruh anak
berbakat menemui beberapa tokoh tua di tempat tinggalnya untuk menanyakan peranan
dalam perang kemerdekaan kita, dan memungkinkan koitannya dengan PPKn. Suatu pameran
tentang mata uang logam kuno dari negeri sendiri atau negara lain, atau cara pakaian/ adat
perang dan benda lain dari masa lalu serta pembangunan kini dapat menghidupkan sejarah,
ilmu bumi, dan PPKn secara integral.
     Kejadian aktual seperti perjuangan bangsa Asia dan Afrika, perubahan dalam sistem
transportasi, penemuan baru seperti "concorde" dan sebagainya, dengan sendirinya
merupakan hal-hal yang sangat menumbuhkan motivasi belajar anak berbakat.
Mata pelajaran lain seperti politik, ekonomi, antropologi sosiologi, dan psikologi dapat
diberikan secara ilmiah populer. Umpamanya masalah "Intel-group relation" adalah suatu
topik yang dapat diperdalam dalam menggunting surat kabar atau majalah mengenai
  Contoh konflik ada atau tidaknya kerja sama dari kelompok tertentu. Demikian juga
 kejadian aktual seperti pemilu merupakan permasalahan politik yang dapat dijelaskan dalam
 kaitan dengan pemerintah. Suatu
  aktivitas longitudinal dalam hubungan dengan ekonomi adalah investasi dalam bidang
 bisnis yang berhubungan dengan usaha sekolah.

d) IPA dan Pendidikan Kesehatan
    Keterampilan proses (process skiSIs ] dalam IPA pada akhir abad ini telah digalakkan
sebagai metodologi IPA yang membantu anak didik mengaitkan IPA dengon dasar
kehidupan. Memecohkan masalah IPA bukan lagi menghapal hukum dan aksioma saja, tetapi
pengembangan aktivitas dan eksperimen yang membantu anak didik memperoleh
keterampilan mengamati, mengeiola, meramalkan suatu gejala, serta menilai proses tersebut.
Berbagai lornba ilmiah atau seminar para ahli di bidang IPA dan kesehatan dapat
diselenggarakan.

          f) matematika
    Mencari jalan terpendek atau termudah dalam menyelesaikan suatu soal matematika
patut     dilakukan   anak   berbakat.   Pemahaman    terhadap   hubungan     angka   dengan
membandingkan berbagai metode perkalian, pengurangan, atau penambahan merupakan
sesuatu yang menarik. Persoalan matematika yang dikaitkan dengon cerita akan sangat
melatih keterampiiannya. Demikian pula, teka-teki angka banyak memberi kesempatan
meiatih keluwesan kemampuan berhitung.
    f) Kesenian dan Bahasa
    Kreativitas anak berbakat dalam berbagai jenis kesenian mendapat kesempatan
berkembang dan mudah dikaitkan dengan perkembangan bahasa (umpama drama,
deklamasi). Ada juga kegiatan kesenian yang secara khusus memperkaya perkembangan
kesenian tertentu, seperti musik (band sekolah), melukis, membatik, dan lain-lain. Kreativitas
merupakan satu ciri khas anak berbakat. Kreativitas ini dapat diarahkan melalui berbagai
kegiatan positif dan menantang.
        4) Metode belajar dan guru
    Metode belajar yang paling cocok untuk anak berbakat adalah belajar melalui kelompok
kecil atau individual. Apabila anak;
        berbakat harus belajar dalam kelas besar, prinsip pendekatan full. out enrichment dan
akselerasi harus menjadi dasar untuk
        pengembangan pada perbedaan potensinya. Beberapa persyaratan yang diperlukan guru
ialah memiliki inteligensi tinggi dan mempunyai minat luas dalam berbagai bidang. Minat
tersebut harus dapat disampaikan dengan baik. Keinginan guru belajar mendalami ilrnu
bersama murid terus-menerus merupakan syarat lain yang harus dipenuhi guru anak
berbakat.

 6. Implikasi Pengembangan Bakat Khusus Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
        Bagaimana kita dapat mengidentifikasi para siswa yang mempunyai bakat khusus?
Bagaimana karakteristik atau ciri-ciri mereka? Alat-alat apa yang dapat digunakan untuk
mengetahui bakat-bakat khusus tersebut? Semua informasi ini diperlukan sebelum
    dilakukan upaya pengembangan bakat-bakat khusus bagi para siswa di sekolah.
    Sampai sekarang belum ditemukan tes bakat khusus yang cukup luas daerah
pemakaiannya (seperti tes inteligensi). Berbagai tes bakat yang sudah ada, seperti FACT
(Flanegen Aptitude Clasification Test) yang disusun oleh Flanagen, DAT (Differential
Aptitude Test) yang disusun oleh Binnet/ M-T test (Mathematical and Technical Test) yang
disusun oleh Luningprak masih sangat terbatas jangkauan dan daerah berlakunya. Hal ini
disebabkan tes bokot sangat terikat oleh konteks kebudayaan tempat tes itu disusun dan
diiaksanakan, Selain itu, macam-macam bakat khusus juga terikat oleh konteks pola
kebudayaan tempat seseorang dibesarkan.
    Alat ukur atau tes apa yang dipakai tentu saja bergantung pada macam bakat yang ingin
dikenali. Bagaimana orang tua dapat mengenal bakat khusus anak? Bakat anak dapat dikenali
dengan melakukon observasi terhadap apa yang selalu dikerjakan dan digemari anak.
Pengenalan terhadap bakat nak sangat bermanfaat, orang tua dan guru agar memahami dan
memenuhi kebutuhannya - butuhan mereka. Dengan mengenal ciri-ciri anak berbakat,
orangtua dapat menyediakan lingkungan pendidikan yang sesuai rienqan bakat anak tersebut.
Selain itu, dapat membantu anak-anak rialam memahami potensi dirinya, serta tidak melihat
sebagai suatu beban, tetapi sebagai suatu anugerah yang harus dihargai dan di-kembangkan.
Manfaat lain dari kemampuan orangtua untuk mengenal bakat anak ialah orangtua dapat
membantu sekolah dalam penyusunan program dan prosedur pemanduan anak-anak berbakat,
dengan memberikan informasi yang dibutuhkan tentang ciri-ciri dan keadaan anak mereka.
   Sebagai contoh, orangtua memberi keterangan tentang butir-butir berikut ini:
    a. hobi dan minat anak yang khusus,
    b. jenis buku yang disenangi,
    c. masalah dan kebutuhan pokok,
    d. prestasi yang pernah dicapai,
    e. pengalaman-pengalaman khusus,
    f. kegiatan kelompok yang disenangi,
    g. kegiatan mandiri yang disenangi
    h. sikap anak terhadap sekolah dan guru,
    i. cita-cita masa depan.

   Anak akan merasa aman secara psikologis apabila:
a. guru sebagai pendidik dopat menerima sebogaimana adanya, tanpa syarat dengan segala
   kekuatan dan kelemahannya, serta memberi kepercayaan bahwa pada dasarnya semua
   siswa baik dan mampu;
b. guru sebagai pendidik mengusahakan suasana yang mengondisikan anak tidak merasa
   dinilai. Sebab, memberi penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sebagai suatu
   ancaman, sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri;
c. pendidikan memberikan pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, dan perilaku
anak, dapat menempatkan diri daiam situosi anak dan melihat dari sudut pandang atau pola
pikir anak. Dalam suasana seperti ini, anak-anak akan merasa aman untuk mengungkapkan
atau mengekspresikan bakatnya.
Dengan demikian, anak akan merasakan kebebasan psikoloais apabila mendapat kesempatan
untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Selain itu, pendidikan hendaknya berfungsi
sebagai media pengembangan dan pembinaan bakat anak, sehingga tidak hanya semata-mata
menyajikan kumpulan pengetahuan yanq bersifat abstrak dan skalastik. Pengenalan bakat dan
upaya pengembangannya membantu remaja untuk menentukan pilihan yang tepat dan
menyiapkan dirinya untuk mencapai tujuan dan karier kehidupannya.




Daftar Pustaka
Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Pustaka Setia
Ali, Mohammad & Mohammad Asrori. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1182
posted:10/17/2012
language:Malay
pages:15