spondias dulcis forst by zairbit

VIEWS: 43 PAGES: 6

									                        KEDONDONG
                          ( Spondias dulcis Forst )


                                          KLASIFIKASI ILMIAH



                                          Kerajaan    : Plantae

                                          Divisio     : Magnoliophyta

                                          Kelas       : Magnoliopsida

                                          Ordo        : Sapindales

                                          Familia     : Anacardiaceae

                                          Genus       : Spondias

                                          Spesies     : Spondias dulcis



                                          Nama binomial yaitu :

                                          Spondias dulcis Forst.
Nama umum / dagang yang biasanya dikenal yaitu : kedondong


      Kedondong ini merupakan tanaman buah yang umumnya banyak sekali

terdapat di seluruh daerah tropic dan termasuk ke dalam Angiospermae.

Biasanya dalam bahasa Inggris orang sering menyebutnya dengan ambarella,

otaheite apple, atau great hog plum. Dalam setiap Negara maupun daerah,

nama buah ini berbeda-beda seperti di Asia Tenggara biasa disebut :

kedondong (Indonesia & Malaysia), hevi (Filipina), gway (Myanmar), mokah

(Kamboja), kook kvaan (Laos), makak farang (Thailand), dan co'c (Vietnam).

Selain itu kedondong juga disebut Kadondong (Sunda), Kedondong (Jawa),
Kedundung    (Madura),    Kacemcem   (Bali),   Inci   (Bima,NTT),   Karunrung

(Makasar), dan Dau kaci (Bugis).

MORFOLOGI

Kedondong ini adalah buah yang berasal dari pohon dengan tinggi ± 20 m.

Daun        : Tumbuhan ini termasuk ke

            dalam        tanaman     berdaun

            majemuk, bagian yang terlebar

            yang berada di tengah-tengah

            helaian      daunnya   berbentuk

            jorong ( ovalis ), pangkal daun runcing ( acutus ), ujung daun

            meruncing ( acuminatus ), warna daun hijau dengan panjang

            daunnya 5-8 cm dan lebar 3- 6 cm, dilihat dari arah tulang-

            tulang cabang yang besar pada helaian daun daun kedondong ini

            termasuk daun yang bertulang menyirip dengan jumlah anak daun

            yang gasal ( imparipinnatus ) dan anak daun yang berpasang-

            pasangan, tepi daunnya rata ( integer ), tata letak daun tersebar

            ( folia sparsa ), permukaan daun licin (laevis) dan mengkilat (

            nitidus ).

Batang      : Tumbuhan ini mempunyai batang yang berkayu ( lignosus ) yang

            biasanya keras dan kuat karena sebagian besar terdiri dari kayu

            yang terdapat pada pohon dengan bentuk batangnya yang bulat (

            teres ) dan tumbuh tegak, percabangan batangnya yaitu

            simpodial dimana batang pokoknya sukar untuk ditemukan karena

            dalam perkembangannya kalah cepat dan besar pertumbuhannya

            dibandingkan dengan cabangnya, permukaan batang halus dan

            berwarna putih kehijauan.
Akar    : Tumbuhan ini berakar tunggang dan berwarna coklat tua.

Bunga   : Tumbuhan ini termasuk bunga

        majemuk      (       inflorescentia     ),

        berbentuk malai ( panicula ) dimana

        ibu      tangkainya         mengadakan

        percabangan monopodial, panjang

        24-40      cm,       panjang       kelopak

        bunganya ± 5 cm, jumlah benang sari delapan berwarna kuning,

        mahkota bunga berjumlah empat sampai lima, lanset, warna

        bunganya putih kekuningan.

Buah    : Berbuah buni ( bacca ) dimana buah ini mempunyai dinding

        lapisan luar yang tipis atau kaku seperti kulit dan lapisan dalam

        yang    tebal,    lunak,    dan    berair    serta   seringkali    dimakan,

        berbentuk        lonjong,   buah    sejati    tungga    yang      berdaging,

                                                mempunyai diameter ± 5 cm

                                                dan    berserat,    warna      buah

                                                hijau kekuningan dengan rata-

                                                rata beratnya ± 0,7-1 kg/buah,

                                                biasanya       buahnya      tumbuh

                                                dalam jumlah yang banyak.



Biji    : Bijinya bulat dan berserat kasar, warna biji putih kekuningan.
ANATOMI




Keterangan gambar :

1. Pembuluh yang berhubungan dengan floem : fasiculer dan intravasiculer 2.

Bagian pembuluh yang dibulatkan lumen, 3. pembuluh floem dengan lumen yang

oval, 4. Parenkim dengan sel epitel sekresi, 5. Sekresi translucent dalam

pembuluh lumen, 6. Lumen dari floem dengan sekresi translucent, 7. Lumen

elongasi dari bagian pembuluh, singkatannya :

Bd ( duct sheath ), Co ( kolenkim ), Ep ( Epidermis ), Es ( sekresi epithelium ),

Df ( pembuluh yang dihubungkan dengan floem ), Dm ( bagian pembuluh ), Id (

idioblast ), Mp ( parenkim ).
Pada penampang melintang pada daun terdapat epidermis papilla abaxial, juga

terdapat hypodermis adaxial, tetapi dalam urat daun minornya tidak terdapat

transfer sel floem. Pada stem terdapat lubang sekresi yang mengandung

resin dan getah, berkambium gabus, nodes tri-lakunar, jaringan pembuluh

darah utama sentrifugal, tidak terdapat floem internal, terdapat xylem tanpa

fiber trakeid melainkan dengan fiber libriform. Tipe reproduksi dari

tumbuhan ini yaitu hermaprodit.



FISIOLOGI

   Spondias dulcis ini atau lebih dikenal dengan nama kedondong ini termasuk
ke dalam tumbuhan C3 karena produk fiksasi karbon organic pertamanya ialah

senyawa berkarbon tiga ( 3-fosfogliserat), dimana tumbuhan ini melewati

reaksi gelap dan reaksi terang serta tumbuhan ini memproduksi sedikit

makanan apabila stomatanya tertutup pada hari yang panas dan kering.

Tingkat CO2 yang menurun dalam daun akan mengurangi bahan ke siklus

Calvin, dimana rubisko ini dapat menerima O2 sebagai pengganti CO2. Karena

konsentrasi O2 melebihi konsentrasi CO2 dalam ruang udara di dalam daun,

maka rubisko menambahkan O2 pada siklus Calvin dan bukannya CO2.

Akibatnya produknya terurai dan satu potong senyawa berkarbon dua dikirim

keluar dari kloroplas. Lalu mitokondria dan peroksisom akan memecah molekul

berkarbon dua itu menjadi CO2 sehingga proses ini sering juga disebut

fotorespirasi karena proses ini terjadi dalam cahaya dan mengkonsumsi O2.

Akan tetapi fotorespirasi ini tidak menghasilkan ATP. Tahap-tahap respirasi

dari tumbuhan ini juga sama secara umum, yaitu melalui tahap glikolisis,

grooming phase, siklus Krebs, fosforilasi oksidatif dan ETC.

   MANFAAT DAN KANDUNGAN
   Manfaat buah kedondong ini enak jika dimakan dalam keadaan segar,

tetapi sebagian buah matangnya bisa juga diolah menjadi selai, jeli, dan sari

buah. Buah yang direbus dan dikeringkan dapat disimpan untuk beberapa

bulan sedangkan buah mentahnya banyak digunakan dalam rujak dan sayur,

serta untuk dibuat acar. Daun mudanya dapat juga dikukus untuk dijadikan

sebagai lalapan. Buah dan daunnya juga dapat dijadikan sebagai pakan ternak

serta kayunya yang berwarna coklat muda dan mudah mengambang ini tidak

dapat digunakan sebagai kayu pertukangan, tetapi kadang-kadang dapat

dibuat perahu. Manfaat obat dari buah, daun, dan kulit batangnya yaitu dapat

digunakan untuk pengobatan borok, kulit perih, dan luka bakar.

   Dalam setiap 100 gram bagian buah kedondong yang dapat dimakan ini

biasanya mengandung 60-85 gram air, 0,5-0,8 gram protein, 0,3-1,8 gram

lemak, 8-10,5 gram sukrosa, dan 0,85- 3,60 gram serat. Dimana daging

buahnya ini merupakan sumber vitamin C dan zat besi sedangkan buah yang

belum matang mengandung pektin sekitar 10%. Daun, kulit batang dan kulit

akar Spondias dulcis ini juga mengandung saponin, flavonoida, dan tanin.

								
To top