Analisis Laporan Keuangan Daerah by IdramM.Ladji2

VIEWS: 308 PAGES: 130

									Analisis Laporan
Keuangan
                              Daerah
                          Disusun Oleh:
Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik




            Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
                         2007
Analisis Laporan Keuangan Daerah
Oleh Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK)
Departemen Keuangan Republik Indonesia
Bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA)




Desain sampul dan isi : Tim YPIA




Diterbitkan pertama kali oleh :
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
Jl. Bintaro Utama Sektor V
Bintaro Jaya Tangerang 15223
Indonesia
Telp : 021 7361654 - 56
Fax   : 021 7361653


Cetakan Pertama : Desember 2007




Buku ini bisa di download bebas melalui Website :
www.stan-star.ac.id
                 Kata
                            Sambutan
        Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah pada tahun 2007 ini
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dipercaya oleh Asian Development
Bank (ADB) untuk melaksanakan salah satu kegiatan reformasi birokrasi yakni
penyusunan program pelatihan auditor internal non-gelar bagi Inspektorat di
daerah. Hal ini didasarkan pada tekad pemerintah untuk melakukan reformasi
dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kerangka good governance
mencakup reformasi audit pemerintahan daerah.


        Dalam hubungan ini, pemerintah telah menetapkan proyek yang
disebut dengan State Audit Reform Sector Development Project (STAR-SDP).
Pelaksanaan STAR-SDP mendapat dukungan pendanaan yang berasal dari
Asian Development Bank (ADB) dan pemerintah Belanda.


        Sejalan dengan tekad untuk menyukseskan penyelenggaraan otonomi
daerah, pemerintah juga menetapkan bahwa STAR-SDP mencakup proyek
peningkatan kuantitas dan kualitas auditor di lingkungan pemerintah daerah
melalui program pendidikan jangka pendek (non-gelar). Proyek pendidikan
non-gelar bagi auditor inspektorat daerah ini diserahkan kepada STAN –
Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan
RI dan pelaksanaannya harus melibatkan konsultan independen serta didukung
oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).


        Modul ini merupakan bagian dari kegiatan STAR-SDP tersebut yang
dikhususkan bagi auditor inspektorat daerah. Semoga modul ini bermanfaat
bagi para auditor inspektorat daerah dan para instruktur pelatihan audit internal
sektor publik serta pihak lain yang tertarik untuk mendalami audit internal
sektor publik.


        Selaku pimpinan STAN saya sangat bangga dengan kegiatan ini dan
peningkatan yang telah dicapai khususnya dalam hal pengembangan Sumber
Daya Manusia (SDM) aparatur negara, namun tidak cukup sampai di sini, kita
harus dapat mencapai kinerja yang lebih baik di masa mendatang.




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
       Akhirnya pada kesempatan ini, atas nama Direktur Sekolah Tinggi
Akuntansi Negara saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang
penuh dedikasi telah bekerja keras dalam pembuatan modul ini dan juga pihak
BAPPENAS serta Tim Teknis STAR-SDP STAN yang telah mendukung dengan
kemampuan profesionalisme sehingga proyek ini dapat berhasil dengan baik.
Semoga di tahun-tahun mendatang kita tetap meningkatkan kinerja.




                                                         Suyono Salamun, Ph.D

                                 Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara




              Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                        Analisis Laporan
                                                                                        Keuangan
                                                                                                      Daerah


                                         Daftar
                                                               Isi
Daftar Isi.......................................................................................................   i
Daftar Istilah................................................................................................. iii


Bagian I LAPORAN KEUANGAN PEMDA


Bab 1 Pelaporan Keuangan....................................................................... 01
          A. Pengantar ................................................................................... 01
          B. Akuntabilitas dan Transparansi................................................... 03
          C. Entitas Pelaporan dan Tanggung Jawab Pelaporan................... 05
          D. Peran dan Tujuan Pelaporan Keuangan..................................... 07
          E. Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan........................................... 10
          F. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan.................................. 11
          G. Prinsip-prinsip Pelaporan Keuangan.......................................... 13
          H. Pengguna Laporan Keuangan.................................................... 16
          I.    Rangkuman................................................................................. 17


Bab 2 Sekilas Pengelolaan Keuangan Daerah........................................ 19
          A. Ruang Lingkup Keuangan Daerah.............................................. 19
          B. Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah............................. 20
          C. Perangkat Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Daerah......... 21
          D. Rangkuman................................................................................. 24


Bab 3 Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD..................... 25
          A. Penyusunan Laporan Keuangan................................................. 25
          B. Laporan Realisasi Anggaran....................................................... 29
          C. Neraca......................................................................................... 38
          D. Laporan Arus Kas........................................................................48
          E. Catatan atas Laporan Keuangan................................................ 61
          F. Rangkuman................................................................................. 64


Bagian II DASAR-DASAR ANALISIS LAPORAN KEUANGAN


Bab 4 Konsep Analisis Laporan Keuangan............................................ 67
          A. Pendahuluan............................................................................... 67




                             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik                           i
Analisis Laporan
Keuangan
            Daerah

         B. Pengertian Analisis Laporan Keuangan..................................... 68
         C. Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan....................... 70
         D. Rangkuman................................................................................ 71


Bab 5 Analisis Laporan Keuangan Pemerintah...................................... 73
         A. Kondisi Saat Ini........................................................................... 73
         B. Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah.............. 74
         C. Teknik Analisis Laporan Keuangan Pemerintah......................... 75
         D. Rangkuman............................................................................... 76


Bagian III ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PEMDA


Bab 6 Analisis Hubungan......................................................................... 79
         A. Pendahuluan.............................................................................. 79
         B. Laporan Realisasi APBD............................................................ 80
         C. Neraca........................................................................................ 83
         D. Laporan Realisasi APBD dan Neraca........................................ 87
         E. Laporan Arus Kas, Realisasi APBD, dan Neraca....................... 88
         F. Rangkuman................................................................................ 93


Bab 7 Analisis Perbandingan.................................................................... 95
         A. Keunggulan dan Kelemahan Perbandingan............................... 95
         B. Jenis-jenis Perbandingan........................................................... 96
         C. Perbandingan Pos APBD........................................................... 99
         D. Perbandingan Pos Neraca......................................................... 106
         E. Rangkuman................................................................................ 109


Bab 8 Analisis Kecenderungan................................................................ 111
         A. Pengertian dan Sifat Analisis Kecenderungan........................... 111
         B. Analisis Kecenderungan dengan Tahun Dasar.......................... 112
         C. Analisis Kecenderungan Bergerak............................................. 113
         D. Analisis Kecenderungan dengan Diagram Pencar..................... 114
         E. Analisis Kecenderungan dengan Hubungan antar Variabel....... 116
         F. Rangkuman................................................................................ 117


Daftar Pustaka............................................................................................ 119




    ii              Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                Analisis Laporan
                                                                Keuangan
                                                                           Daerah


                        Daftar
                                    Istilah
1.   Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
     adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas
     dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan
     dengan peraturan daerah.


2.   Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)
     adalah SKPD/unit kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah daerah yang
     dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa
     penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari
     keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip
     efisiensi dan produktivitas.


3.   Belanja Daerah
     adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai
     kekayaan bersih.


4.   Bendahara Umum Daerah (BUD)
     adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum
     daerah.


5.   Dana Cadangan
     adalah dana yang disisihkan guna mendanai kegiatan yang memerlukan
     dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran.


6.   Defisit Anggaran Daerah
     adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah.


7.   Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD)
     adalah dokumen yang memuat pendapatan, belanja dan pembiayaan yang
     digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran.


8.   Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran SKPD (DPPA-SKPD)
     adalah dokumen yang memuat perubahan pendapatan, belanja dan
     pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan perubahan
     anggaran oleh pengguna anggaran.




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       iii
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

9.    Entitas akuntansi
      adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh
      karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan
      keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan.


10. Entitas pelaporan
      adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau Iebih entitas akuntansi
      yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampai-
      kan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan.


11. Kepala Daerah
      adalah gubemur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten
      atau walikota bagi daerah kota.


12. Keuangan Daerah
      adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan
      pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya
      segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban
      daerah tersebut.


13. Kinerja
      adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai
      sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas
      yang terukur.


14. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD)
      adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah (Kepala SKPKD)
      yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak
      sebagai bendahara umum daerah.


15. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD)
      adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada
      SKPD.


16. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)
      adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau
      beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya.


17. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah
      adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan
      menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah.




     iv            Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                             Analisis Laporan
                                                             Keuangan
                                                                        Daerah

18. Pemerintahan Daerah
   adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah
   dan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan
   tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem
   dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud
   dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.


19. Pemerintah Daerah
   adalah gubernur, bupati, dan/atau walikota, dan perangkat daerah sebagai
   unsur penyelenggara pemerintahan daerah.


20. Pendapatan Daerah
   adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan
   bersih.


21. Pengelolaan Keuangan Daerah
   adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,
   penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan
   keuangan daerah.


22. Pengguna Anggaran
   adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk
   melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya.


23. Pembiayaan Daerah
   adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran
   yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan
   maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya.


24. Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD)
   adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana
   pendapatan, rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana
   pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD.


25. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA)
   adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama
   satu periode anggaran.


26. Surplus Anggaran Daerah
   adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah.




                 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       v
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

27. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
     adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna
     anggaran/pengguna barang.


28. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD)
     adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna
     anggaran/pengguna barang, yang juga melaksanakan pengelolaan
     keuangan daerah.


29. Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD)
     adalah tim yang dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan dipimpin
     oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta
     melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD
     yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah, PPKD dan pejabat
     Iainnya sesuai dengan kebutuhan.




   vi              Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

                                                    Bab 1
           Pelaporan
                             Keuangan
  Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat:
  •   Memperoleh pemahaman mengenai perlunya akuntabilitas dan
      transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah.
  •   Memperoleh pemahaman mengenai tujuan, asumsi dasar, dan prinsip-
      prinsip pelaporan keuangan daerah.
  •   Memperoleh pemahaman mengenai karakteristik kualitatif dan
      kelompok pengguna laporan keuangan daerah.




A. Pengantar


        Dalam kehidupan sehari-hari, masing-masing dari kita yang merupakan
unsur terkecil dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat di lingkungan
Rukun Tetangga (RT) / Rukun Warga (RW), pasti secara rutin mengikuti (baik
secara langsung maupun tidak langsung) bagaimana proses yang dilakukan
oleh Ketua RT dan perangkatnya dalam merencanakan suatu kegiatan di
lingkungan RT.


        Ambil contoh misalnya kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT)
Kemerdekaan RI. Maka, pertama kali Ketua RT akan membicarakannya
dengan perangkatnya (sekretaris, bendahara, dan ketua-ketua seksi) mengenai
apa dan bagaimana kira-kira bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan
berapa dana yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut,
termasuk berapa dana yang bisa dipakai dari kas RT dan berapa yang perlu
dimintakan sumbangan dari warganya. Kemudian, usulan yang masih ‘mentah’
tersebut akan ‘dimatangkan’ melalui pembahasan dalam rapat warga.
Selanjutnya, rencana kegiatan yang sudah disetujui dalam rapat warga tersebut
akan menjadi dasar bagi Ketua RT dalam menyelenggarakan kegiatan perayaan
HUT Kemerdekaan RI tersebut.


        Dengan rangkaian kegiatan yang sudah terjadual rapi dan dengan
dukungan sejumlah dana yang sudah terkumpul sesuai dengan yang




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       01
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

direncanakan, maka di lingkungan RT tersebut dapat diselenggarakan seluruh
acara peringatan hari kemerdekaan RI. Mulai perlombaan anak-anak,
pertandingan olahraga bagi orang dewasa, sampai dengan puncak acara
yaitu malam pembagian hadiah yang dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan
musik dan tari. Singkat cerita, segala kegiatan berjalan dengan tertib-aman-
lancar dan acara klimaksnya pun sukses!


          Apakah sudah selesai ceritanya? Ya, betul, selesai tahap pelaksanaan
kegiatannya, namun tahap berikutnya harus dilakukan oleh Ketua RT, yaitu
pertanggungjawaban.


          Setelah berlalu sepekan sejak puncak acara peringatan hari kemerdekaan
RI yang terhitung sukses itu, seluruh warga RT menerima laporan pertangung-
jawaban yang ditandatangani oleh Ketua Panitia dan Ketua RT sebagai berikut.



                        Laporan Pertanggungjawaban
               Pelaksanaan Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-X

                                                                                 Rp

  A    Penerimaan:
       1. Iuran Warga*                                           900.000
       2. Sumbangan dari RW                                      250.000
                                                                              1.150.000
  B    Pengeluaran:
       1. Pelaksanaan Lomba Anak-anak*                           150.000
       2. Pelaksanaan Pertandingan OlahRaga*                     200.000
       3. Pembelian Hadiah Lomba dan Pertandingan*               650.000
       4. Penyelenggaraan Malam Puncak*                          500.000
                                                                              1.500.000
  C    Defisit (= A - B)                                                      (350.000)


  D    Ditutup dari Kas RT                                                     350.000


      * Masing-masing dilampiri dengan rinciannya



          Pada umumnya, dalam membaca laporan pertanggungjawaban yang
disampaikan oleh Panitia Pelaksana dan Ketua RT tersebut, warga akan
melihat, atau tepatnya melakukan penilaian, atas keakuratan dari laporan
tersebut. Pertama kali, warga akan melihat kewajaran angka-angka global
dari jumlah penerimaan dan pengeluaran, kemudian lebih jauh mencocokkan,
atau tepatnya menganalisis dan memverifikasi, dengan data rincian masing-
masing.




  02               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                Analisis Laporan
                                                                Keuangan
                                                                           Daerah

        Dari pengantar di atas, dengan mengambil contoh dari lingkup organisasi
terkecil yang sangat dekat dengan keseharian kita, dapat kita ambil pelajaran
bahwa pengelola dana tidak saja melaksanakan kegiatan melalui realisasi
dana sesuai yang direncanakan, tetapi juga harus mempertanggungjawabkan
pelaksanaan kegiatan yang dilakukannya. Dari contoh kecil tersebut di atas
kita bisa melihat perlunya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan
dana atau anggaran. Kemudian, terhadap laporan pertanggungjawaban yang
disampaikan oleh pengelola dana, maka warga sebagai pengguna laporan
tersebut perlu melakukan analisis atas ketepatan atau keakuratannya.


        Sejalan dengan jiwa yang terkandung dalam cerita kecil di atas, maka
secara garis besar modul ini akan diawali dengan pembahasan mengenai hal-
hal yang berkaitan dengan laporan apa saja yang harus disajikan dan disampaikan
oleh Pemerintah Daerah (sebagai wujud dari pertanggungjawaban atas realisasi
pengelolaan anggarannya), kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai
seluk-beluk analisis laporan keuangan Pemerintah Daerah.


B. Akuntabilitas dan Transparansi


        Tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas publik menimbul-
kan implikasi bagi manajemen pemerintahan (sektor publik) untuk memberikan
informasi kepada publik. Salah satu informasi yang dibutuhkan oleh publik
adalah informasi mengenai pengelolaan keuangan negara/daerah dalam bentuk
laporan keuangan.


Akuntabilitas
        Dari sudut pandang pengendalian tindakan pada pencapaian tujuan,
akuntabilitas mengandung arti kewajiban untuk menyajikan dan melaporkan
segala tindak-tanduk dan kegiatan seseorang atau lembaga, terutama di bidang
administrasi keuangan, kepada pihak yang lebih tinggi atau atasannya (LAN
dan BPKP, 2000). Dalam konteks pemerintahan, akuntabilitas mempunyai arti
pertanggungjawaban, yang merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan
pemerintahan yang baik.


        Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sejak berlakunya Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, maka setiap pengelola
keuangan daerah harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan
keuangannya dalam bentuk Laporan Keuangan, yang setidak-tidaknya meliputi
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas
Laporan Keuangan.




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       03
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

         Selanjutnya, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbenda-
haraan Negara menyebutkan bahwa Laporan Keuangan dimaksud harus
disusun berdasarkan proses akuntansi, yang wajib dilaksanakan oleh setiap
Pengguna Anggaran dan kuasa Pengguna Anggaran serta pengelola Bendahara
Umum Daerah. Sehubungan dengan hal tersebut, maka setiap Pemerintah
Daerah perlu menyelenggarakan sistem akuntansi untuk lingkungan pemerintah
daerahnya yang pedomannya ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.


Transparansi
         Dalam hubungannya dengan akuntabilitas keuangan, transparansi
mengandung arti penyajian laporan keuangan yang terbuka, terutama mengenai
informasi penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang oleh pengelola
keuangan daerah.


         Sebagaimana kita ketahui, perkembangan paket peraturan perundang-
undangan di bidang keuangan negara menunjukkan adanya upaya dalam
meningkatkan keterbukaan informasi. Hal ini terlihat dari upaya dalam mengatasi
kelemahan-kelemahan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah
sebelumnya. Dari ketentuan peraturan perundang-undangan sebelumnya,
yang hanya mengharuskan penyampaian laporan pertanggungjawaban dalam
bentuk perhitungan anggaran, paling tidak terdapat beberapa kelemahan
berikut ini.


         Pertama, laporan perhitungan anggaran hanya menginformasikan aliran
kas pada APBD sesuai dengan format anggaran yang disahkan oleh DPRD,
tanpa menyertakan informasi tentang posisi kekayaan dan kewajiban pemerintah.
Kedua, selain muatan informasinya terbatas, proses penyampaiannya kepada
legislatif sangat lambat. Ketiga, informasi keuangan yang disajikan dalam
perhitungan anggaran kurang dapat diandalkan karena sistem akuntansi yang
diselenggarakan belum didasarkan pada standar akuntansi dan tidak didukung
oleh perangkat data dan proses yang memadai.


         Dengan demikian, bila kita bandingkan bentuk laporan pertanggung-
jawaban pengelolaan keuangan daerah yang berlaku saat ini dengan periode
sebelumnya, dapat kita lihat bahwa cakupan informasi dalam laporan
pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah menjadi lebih luas namun
penyampaiannya tidak terlambat. Dengan kata lain, sejak diberlakukannya
paket peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara, terdapat
upaya nyata dalam mewujudkan akuntabilitas dan transparansi di lingkungan
pemerintah.




  04               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                              Analisis Laporan
                                                              Keuangan
                                                                         Daerah

       Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 juga disebutkan bahwa
laporan keuangan pemerintah harus diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) sebelum disampaikan kepada pihak legislatif sesuai dengan kewenangan-
nya. Pemeriksaan BPK dimaksud adalah dalam rangka pemberian pendapat
(opini) sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
Laporan Keuangan tersebut setelah diaudit oleh BPK perlu disesuaikan
berdasarkan temuan audit dan/atau koreksi lain yang diharuskan oleh Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP). Laporan Keuangan yang telah diaudit dan telah
diperbaiki itulah yang selanjutnya diusulkan oleh Pemerintah Daerah dalam
suatu rancangan peraturan daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah untuk dibahas dengan dan disetujui oleh DPRD.


       Selain itu, menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, pada
rancangan peraturan daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
disertakan atau dilampirkan informasi tambahan mengenai kinerja instansi
pemerintah, yakni prestasi yang berhasil dicapai oleh Pengguna Anggaran
sehubungan dengan anggaran yang telah digunakan. Disebutkan bahwa
pengungkapan informasi tentang kinerja tersebut adalah relevan dengan
perubahan paradigma penganggaran pemerintah yang ditetapkan dengan
mengidentifikasikan secara jelas keluaran (outputs) dari setiap kegiatan dan
hasil (outcomes) dari setiap program. Dengan demikian, perlu disusun suatu
sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang terintegrasi dengan
sistem perencanaan strategis, sistem penganggaran, dan Sistem Akuntansi
Pemerintahan.


C. Entitas Pelaporan dan Tanggung Jawab Pelaporan


       Unit pemerintahan Pengguna Anggaran yang berkewajiban
menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan disebut
sebagai Entitas Akuntansi. Bendahara Umum Daerah dan setiap Pengguna
Anggaran di lingkungan pemerintah daerah merupakan Entitas Akuntansi.


Entitas Pelaporan
       Unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi
yang berkewajiban menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa
laporan keuangan disebut sebagai Entitas Pelaporan. Jadi, laporan keuangan
yang disajikan oleh Entitas Pelaporan merupakan gabungan dari laporan
keuangan beberapa Entitas Akuntansi.




                  Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       05
Analisis Laporan
Keuangan
           Daerah

           Disebutkan bahwa dalam penetapan entitas pelaporan, perlu diper-
timbangkan syarat pengelolaan, pengendalian, dan penguasaan suatu entitas
pelaporan terhadap aset, yurisdiksi, tugas dan misi tertentu, dengan bentuk
pertanggungjawaban dan wewenang yang terpisah dari entitas pelaporan
lainnya.


           Berkaitan dengan entitas pelaporan tersebut, Halim (2007) menyebut-
kan bahwa pada ketentuan terdahulu terdapat dua pilihan bagi pemerintah
daerah dalam menentukan entitas pelaporan, yaitu sistem sentralisasi dan
desentralisasi pelaporan keuangan pemerintah daerah. Namun, saat ini
pemerintah daerah diwajibkan menggunakan sistem desentralisasi dalam
pelaporan keuangannya, sehingga baik satuan kerja maupun bagian keuangan
pemerintah daerah melaksanakan akuntansi. Satuan kerja melaksanakan
akuntansi terhadap transaksi ekonomi (dan menghasilkan laporan keuangan)
yang terjadi pada bagiannya, dan bagian keuangan akan menggabungkan
atau mengkonsolidasikan laporan keuangan semua satuan kerja (termasuk
bagian keuangan itu sendiri) untuk disusun menjadi laporan keuangan
pemerintah daerah secara keseluruhan.


Pernyataan Tanggung Jawab
           Dalam rangka memperkuat akuntabilitas pengelolaan anggaran dan
perbendaharaan, setiap pejabat yang menyajikan Laporan Keuangan diharuskan
memberi pernyataan tanggung jawab atas Laporan Keuangan yang
bersangkutan, yang ditandatangani oleh gubernur/bupati/walikota/kepala
Satuan Kerja Perangkat Daerah. Gubernur/bupati/walikota/kepala Satuan
Kerja Perangkat Daerah harus secara jelas menyatakan bahwa Laporan
Keuangan telah disusun berdasarkan Sistem Pengendalian Intern yang
memadai dan informasi yang dimuat dalam Laporan Keuangan telah disajikan
sesuai dengan SAP.


           Di bawah ini adalah contoh dari pernyataan tanggung jawab, yang
merupakan Lampiran VI-A Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
8 Tahun 2006.




  06               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                           Analisis Laporan
                                                                           Keuangan
                                                                                          Daerah

                          Pernyataan Tanggung Jawab


    Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga/Pemerintah Daerah/Satuan
    Kerja Perangkat Daerah ………………. Tahun Anggaran ……….. sebagaimana
    terlampir adalah merupakan tanggung jawab kami.


    Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian
    intern yang memadai, dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan
    anggaran dan posisi keuangan secara layak sesuai dengan Standar Akuntansi
    Pemerintahan.

                                        .........................., ………........................
                                        Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/
                                        Bupati/Walikota/Kepala Satuan Kerja
                                        Perangkat Daerah ……....,




                                        (............................................................)




        Untuk meningkatkan keandalan Laporan Keuangan dan Kinerja, setiap
Entitas Pelaporan dan Akuntansi wajib menyelenggarakan Sistem Pengendalian
Intern sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait. Dalam
Sistem Pengendalian Intern ini harus diciptakan prosedur rekonsiliasi antara
data transaksi keuangan yang diakuntansikan oleh Pengguna Anggaran/kuasa
Pengguna Anggaran dengan data transaksi keuangan yang diakuntansikan
oleh Bendahara Umum Daerah.


        Aparat Pengawas Intern Pemerintah pada pemerintah daerah melakukan
reviu atas Laporan Keuangan dan Kinerja dalam rangka meyakinkan keandalan
informasi yang disajikan sebelum disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota
kepada pihak-pihak terkait.


D. Peran dan Tujuan Pelaporan Keuangan


        Laporan keuangan merupakan bagian dari pelaporan keuangan.
Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang relevan
mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu
entitas pelaporan selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan terutama
digunakan untuk membandingkan realisasi (pendapatan, belanja, transfer,
dan pembiayaan) dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik                        07
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

keuangan, mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan,
dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang-
undangan.


         Mahsun (2007) menyebutkan beberapa tujuan pelaporan keuangan
sektor publik, yaitu:
a) Kepatuhan dan pengelolaan
b) Memberikan jaminan kepada pengguna dan penguasa bahwa pengelolaan
   sumber daya telah dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan
   yang berlaku.
c) Akuntabilitas dan pelaporan restropektif
d) Bentuk pertanggungjawaban kepada publik dan sebagai alat untuk memonitor
   dan menilai efisiensi kinerja, yang memungkinkan pihak eksternal untuk
   menilai efektifitas dan efisiensi penggunaan sumber daya.
e) Perencanaan dan informasi otorisasi
f) Memberikan dasar perencanaan kebijakan dan aktivitas di masa yang akan
   datang serta memberikan informasi pendukung mengenai otorisasi peng-
   gunaan dana.
g) Kelangsungan organisasi.
h) Membantu para pengguna laporan untuk menentukan apakah suatu
   organisasi atau unit kerja dapat melangsungkan usahanya.
i) Hubungan masyarakat.
j) Sebagai alat komunikasi dan media untuk menyatakan prestasi yang telah
   dicapai oleh organisasi.
k) Sumber fakta dan gambaran.
l) Merupakan sumber informasi bagi berbagai kelompok kepentingan yang
   ingin mengetahui organisasi secara lebih dalam.


         Pelaporan keuangan tidak hanya meliputi komponen laporan keuangan,
tetapi juga meliputi laporan-laporan lain yang diperlukan. Public Sector Committee
IFAC (1996) menyebutkan tujuan pelaporan keuangan sektor publik secara
umum adalah untuk memberikan informasi yang bermanfaat dan memenuhi
kebutuhan pengguna. Lebih lanjut disebutkan bahwa tujuan pelaporan keuangan
sektor publik, khususnya pemerintah daerah sesuai dengan pembahasan kita,
adalah sebagai berikut :
a) Mengidentifikasi sumber daya yang didapat dan digunakan sesuai dengan
   anggaran yang telah disetujui oleh DPRD.
b) Menyediakan informasi tentang sumber daya keuangan dan penggunaannya.
c) Menyediakan informasi tentang cara pemerintah daerah membiayai aktivitas
   dan memenuhi kebutuhan kasnya.




  08               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                Analisis Laporan
                                                                Keuangan
                                                                           Daerah

d) Menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
   kemampuan manajemen dalam membiayai aktivitasnya dan memenuhi
   kewajibannya.
e) Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan dan kinerja pemerintah
   daerah, terutama yang berkaitan dengan efisiensi biaya operasi dan
   pencapaian target.


        Sedangkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang
Standar Akuntansi Pemerintahan menyebutkan bahwa setiap entitas pelaporan
mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan
serta hasil yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan, secara sistematis dan
terstruktur pada suatu periode pelaporan, untuk kepentingan:


(a) Akuntabilitas
   Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan
   kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai
   tujuan yang telah ditetapkan secara periodik.


(b) Manajemen
   Membantu para pengguna untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan
   suatu entitas pelaporan dalam periode pelaporan, sehingga memudahkan
   fungsi perencanaan, pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset,
   kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah untuk kepentingan masyarakat.


(c) Transparansi
   Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat
   berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui
   secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah
   dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan
   ketaatannya pada peraturan perundang-undangan.


(d) Keseimbangan Antar generasi
   Membantu para pengguna dalam mengetahui kecukupan penerimaan
   pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai seluruh pengeluaran
   yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan datang diasumsikan
   akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut.


        Pelaporan keuangan pemerintah menyajikan informasi yang bermanfaat
bagi para pengguna laporan dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan,
baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik dengan:




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       09
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

(a) Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan
    untuk membiayai seluruh pengeluaran.
(b) Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber
    daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan
    peraturan perundang-undangan.
(c) Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang
    digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah
    dicapai.
(d) Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai
    seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya.
(e) Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas
    pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya, baik jangka
    pendek maupun jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan
    pajak dan pinjaman.
(f) Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas
    pelaporan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat
    kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan.


         Untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut, laporan keuangan menyediakan
informasi mengenai pendapatan, belanja, transfer, dana cadangan, pembiayaan,
aset, kewajiban, ekuitas dana, dan arus kas suatu entitas pelaporan. Lebih
lanjut mengenai laporan keuangan, yang merupakan bentuk pertanggungjawaban
pemerintah daerah, dibahas dalam bagian tersendiri.


E. Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan


         Asumsi dasar dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah
adalah anggapan yang diterima sebagai suatu kebenaran tanpa perlu dibuktikan
agar standar akuntansi dapat diterapkan, yang terdiri dari :
(a) Asumsi kemandirian entitas;
(b) Asumsi kesinambungan entitas; dan
(c) Asumsi keterukuran dalam satuan uang.


Kemandirian Entitas
         Asumsi kemandirian entitas, baik entitas pelaporan maupun akuntansi,
berarti bahwa setiap unit organisasi dianggap sebagai unit yang mandiri dan
mempunyai kewajiban untuk menyajikan laporan keuangan sehingga tidak
terjadi kekacauan antar unit instansi pemerintah dalam pelaporan keuangan.
Salah satu indikasi terpenuhinya asumsi ini adalah adanya kewenangan entitas
untuk menyusun anggaran dan melaksanakannya dengan tanggung jawab




  10               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                Analisis Laporan
                                                                Keuangan
                                                                           Daerah

penuh. Entitas bertanggung jawab atas pengelolaan aset dan sumber daya
di luar neraca untuk kepentingan yurisdiksi tugas pokoknya, termasuk atas
kehilangan atau kerusakan aset dan sumber daya dimaksud, utang-piutang
yang terjadi akibat putusan entitas, serta terlaksana tidaknya program yang
telah ditetapkan.


Kesinambungan Entitas
        Laporan keuangan disusun dengan asumsi bahwa entitas pelaporan
akan berlanjut keberadaannya. Dengan demikian, pemerintah diasumsikan tidak
bermaksud melakukan likuidasi atas entitas pelaporan dalam jangka pendek.


Keterukuran dalam Satuan Uang
        Laporan keuangan entitas pelaporan harus menyajikan setiap kegiatan
yang diasumsikan dapat dinilai dengan satuan uang. Hal ini diperlukan agar
memungkinkan dilakukannya analisis dan pengukuran dalam akuntansi.


F. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan


        Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif
yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi
tujuannya. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif
yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas
yang dikehendaki:
(a) Relevan;
(b) Andal;
(c) Dapat dibandingkan; dan
(d) Dapat dipahami.


Relevan
        Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang
termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan
membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini, dan
memprediksi masa depan, serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi
mereka di masa lalu. Dengan demikian, informasi laporan keuangan yang
relevan dapat dihubungkan dengan maksud penggunaannya.


Informasi yang relevan adalah informasi yang memenuhi karakteristik berikut:
(a) Memiliki manfaat umpan balik (feedback value)
   Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau mengoreksi
   ekspektasi mereka di masa lalu.




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       11
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

(b) Memiliki manfaat prediktif (predictive value)
    Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa yang akan
    datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini.
(c) Tepat waktu
    Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna
    dalam pengambilan keputusan.
(d) Lengkap
    Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap mungkin,
    yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi
    pengambilan keputusan. Informasi yang melatarbelakangi setiap butir
    informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan diungkapkan dengan
    jelas agar kekeliruan dalam penggunaan informasi tersebut dapat dicegah.


Andal
        Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang
menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur,
serta dapat diverifikasi. Informasi mungkin relevan, tetapi jika hakikat atau
penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut
secara potensial dapat menyesatkan.


Informasi yang andal memenuhi karakteristik sebagai berikut:
(a) Penyajian Jujur
    Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya
    yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk
    disajikan.
(b) Dapat Diverifikasi
    Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji, dan apabila
    pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda, hasilnya
    tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh.
(c) Netralitas
    Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada
    kebutuhan pihak tertentu.


Dapat Dibandingkan
        Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna
jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau
laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya.


        Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan eksternal.
Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan




  12               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                 Analisis Laporan
                                                                 Keuangan
                                                                            Daerah

kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. Perbandingan secara
eksternal dapat dilakukan bila entitas yang diperbandingkan menerapkan
kebijakan akuntansi yang sama. Apabila entitas pemerintah akan menerapkan
kebijakan akuntansi yang lebih baik daripada kebijakan akuntansi yang sekarang
diterapkan, perubahan tersebut diungkapkan pada periode terjadinya perubahan.


Dapat Dipahami
         Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami
oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan
dengan batas pemahaman para pengguna. Untuk itu, pengguna diasumsikan
memiliki pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan lingkungan operasi
entitas pelaporan, serta adanya kemauan pengguna untuk mempelajari
informasi yang dimaksud.


G. Prinsip-prinsip Pelaporan Keuangan


         Prinsip pelaporan keuangan dimaksudkan sebagai ketentuan yang
dipahami dan ditaati oleh penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan
dalam melakukan kegiatannya, serta oleh pengguna laporan keuangan dalam
memahami laporan keuangan yang disajikan.


Berikut ini prinsip-prinsip yang digunakan dalam pelaporan keuangan pemerintah:
(a) Prinsip nilai historis;
(b) Prinsip realisasi;
(c) Prinsip substansi mengungguli bentuk formal;
(d) Prinsip periodisitas;
(e) Prinsip konsistensi;
(f) Prinsip pengungkapan lengkap; dan
(g) Prinsip penyajian wajar.


Nilai Historis
         Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas yang dibayar
atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) untuk memperoleh aset
tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar jumlah kas dan
setara kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban di
masa yang akan datang dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah.


         Nilai historis lebih dapat diandalkan daripada penilaian yang lain
karena lebih obyektif dan dapat diverifikasi. Dalam hal tidak terdapat nilai
historis, dapat digunakan nilai wajar aset atau kewajiban terkait.




                     Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       13
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

Realisasi
         Bagi pemerintah, pendapatan yang tersedia yang telah diotorisasikan
melalui anggaran pemerintah selama suatu tahun fiskal akan digunakan untuk
membayar hutang dan belanja dalam periode tersebut.


         Prinsip merpertandingkan biaya-pendapatan dalam akuntansi pemerintah
tidak mendapat penekanan sebagaimana dipraktekkan dalam akuntansi komersial.


Substansi Mengungguli Bentuk Formal
         Informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi
serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka transaksi atau peristiwa
lain tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas
ekonomi, dan bukan hanya aspek formalitasnya. Apabila substansi transaksi
atau peristiwa lain tidak konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya, maka
hal tersebut harus diungkapkan dengan jelas dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.


Periodisitas
         Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan entitas pelaporan perlu
dibagi menjadi periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat di
ukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan. Periode utama
yang digunakan adalah tahunan. Namun, periode bulanan, triwulanan, dan
semesteran juga dianjurkan.


Konsistensi
         Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa
dari periode ke periode oleh suatu entitas pelaporan (prinsip konsistensi
internal). Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu
metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain.


         Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat bahwa
metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang lebih baik
dibanding metode lama. Pengaruh atas perubahan penerapan metode ini
diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.


Pengungkapan Lengkap
         Laporan keuangan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuh-
kan oleh pengguna. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan
dapat ditempatkan pada halaman depan laporan keuangan atau pada Catatan
atas Laporan Keuangan.




  14               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

Penyajian Wajar
        Laporan keuangan menyajikan dengan wajar Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.


        Faktor pertimbangan sehat bagi penyusun laporan keuangan diperlukan
ketika menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu. Ketidak-
pastian seperti itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatnya
dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan.
Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan
prakiraan dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau pendapatan tidak
dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban tidak dinyatakan terlalu rendah.


        Namun demikian, penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenan-
kan, misalnya, pembentukan cadangan tersembunyi, sengaja menetapkan
aset atau pendapatan yang terlampau rendah, atau sengaja mencatat kewajiban
atau belanja yang terlampau tinggi, sehingga laporan keuangan menjadi tidak
netral dan tidak andal.


Basis Akuntansi
        Selain prinsip-prinsip pelaporan keuangan tersebut di atas, terdapat
satu hal penting yang harus diperhatikan dalam pelaporan keuangan, yaitu
masalah penggunaan basis akuntansi.


        Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah
adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan
dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset,
kewajiban, dan ekuitas dalam Neraca.


        Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan
diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau
oleh entitas pelaporan, dan belanja diakui pada saat kas dikeluarkan dari
Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. Entitas pelaporan
tidak menggunakan istilah laba. Penentuan sisa pembiayaan anggaran (baik
lebih atau kurang) untuk setiap periode tergantung pada selisih realisasi
penerimaan dan pengeluaran. Pendapatan dan belanja bukan tunai seperti
bantuan pihak luar asing dalam bentuk barang dan jasa disajikan pada Laporan
Realisasi Anggaran.


        Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas
dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       15
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah, tanpa
memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.


         Entitas pelaporan yang menyajikan Laporan Kinerja Keuangan
menyelenggarakan akuntansi dan penyajian laporan keuangan dengan
menggunakan sepenuhnya basis akrual, baik dalam pengakuan pendapatan,
belanja, dan pembiayaan, maupun dalam pengakuan aset, kewajiban, dan
ekuitas dana. Namun demikian, penyajian Laporan Realisasi Anggaran tetap
berdasarkan basis kas.


H. Pengguna Laporan Keuangan


         Kelompok pengguna laporan keuangan pemerintah meliputi: lembaga
pemerintah, investor dan kreditor, penyedia sumber daya, badan pengawas,
dan konstituen (Mardiasmo, 2007). Pengelompokan yang kurang lebih sama
dikemukakan oleh Bastian (2001) yaitu: legislatif dan manajemen pemerintah,
masyarakat, investor dan kreditor, institusi internasional, pengamat, dan aparat
pemerintah.


         Untuk menyederhanakan dan menyamakan persepsi tentang kelompok
pengguna laporan keuangan ini, kita gunakan Peraturan Pemerintah Nomor
24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan sebagai acuan,
yang menyebutkan kelompok utama pengguna laporan keuangan pemerintah,
namun tidak terbatas, yaitu:
(a) masyarakat;
(b) para wakil rakyat, lembaga pengawas, dan lembaga pemeriksa;
(c) pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi, investasi, dan
    pinjaman; dan
(d) pemerintah.


         Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bertujuan umum
untuk memenuhi kebutuhan informasi dari semua kelompok pengguna. Dengan
demikian laporan keuangan pemerintah tidak dirancang untuk memenuhi
kebutuhan spesifik dari masing-masing kelompok pengguna. Namun demikian,
berhubung pajak merupakan sumber utama pendapatan pemerintah, maka
ketentuan laporan keuangan yang memenuhi kebutuhan informasi para
pembayar pajak perlu mendapat perhatian.




  16               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                 Analisis Laporan
                                                                 Keuangan
                                                                            Daerah

I. Rangkuman


         Sejalan dengan tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas
publik, maka manajemen pemerintahan daerah (sektor publik) harus mem-
berikan informasi kepada publik mengenai pengelolaan keuangan daerah,
yang diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan. Laporan keuangan (sebagai
laporan pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan daerah) meliputi:
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas
Laporan Keuangan. Dalam rangka memperkuat akuntabilitas pengelolaan
anggaran dan perbendaharaan, setiap pejabat yang menyajikan Laporan
Keuangan diharuskan memberi pernyataan tanggung jawab atas Laporan
Keuangan yang bersangkutan.


         Sebelum disampaikan kepada DPRD, laporan keuangan harus diaudit
oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Setelah disesuaikan berdasarkan
temuan audit dan/atau koreksi lain yang diharuskan oleh Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP) dan dilampiri informasi mengenai kinerja instansi
pemerintah, kemudian diusulkan oleh Pemerintah Daerah untuk dibahas
dengan dan disetujui oleh DPRD. Selain legislatif, pengguna laporan keuangan
pemerintah daerah adalah masyarakat, lembaga pengawas, lembaga
pemeriksa, pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi, investasi,
dan pinjaman.


         Asumsi dasar, karakteristik kualitatif, dan prinsip-prinsip dalam
pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah sebagai berikut:
•   Asumsi dasar: kemandirian entitas, kesinambungan entitas, dan keterukuran
    dalam satuan uang.
•   Karakteristik kualitatif: relevan, andal, dapat dibandingkan, dan dapat
    dipahami.
•   Prinsip-prinsip: nilai historis, realisasi, substansi mengungguli bentuk formal,
    periodisitas, konsistensi, pengungkapan lengkap, dan penyajian wajar.




                     Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       17
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah




                          Halaman ini sengaja dikosongkan




  18               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

                                                          Bab 2
   Sekilas Pengelolaan
   Keuangan Daerah
  Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat:
  •   Memperoleh pemahaman mengenai ruang lingkup keuangan daerah.
  •   Memperoleh pemahaman mengenai azas umum pengelolaan keuangan
      daerah.
  •   Memperoleh pemahaman mengenai hirarki perangkat daerah pada
      pemerintahan daerah yang terkait dalam pengelolaan keuangan daerah.




A. Ruang Lingkup Keuangan Daerah


        Sebelum membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan laporan
keuangan sebagai pertanggungjawaban pemerintah daerah atas pengelolaan
keuangan daerah, terlebih dahulu ada baiknya bila kita bahas sekilas tentang
pengelolaan keuangan daerah. Pada bab ini memang dimaksudkan hanya
mereviu sekilas (dengan rujukan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah), karena
pembahasan selengkapnya ada pada modul tersendiri dengan judul Pengantar
Keuangan Daerah.


        Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut dijelaskan bahwa
ruang lingkup keuangan daerah meliputi:
a. hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta
   melakukan pinjaman;
b. kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah
   dan membayar tagihan pihak ketiga;
c. penerimaan daerah;
d. pengeluaran daerah;
e. kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang,
   surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan
   uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah; dan
f. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka
   penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       19
Analisis Laporan
Keuangan
            Daerah

B. Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah


          Keuangan daerah dikelola dengan berdasarkan azas umum: tertib,
taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan,
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan,
dan manfaat untuk masyarakat.


Tertib
Secara tertib adalah bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan
tepat guna yang didukung dengan bukti-bukti administrasi yang dapat
dipertanggungjawabkan.


Taat Peraturan
Taat pada peraturan perundang-undangan adalah bahwa pengelolaan keuangan
daerah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan.


Efektif
Efektif merupakan pencapaian hasil program dengan target yang telah
ditetapkan, yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil.


Efisien
Efisien merupakan pencapaian keluaran yang maksimum dengan masukan
tertentu atau penggunaan masukan terendah untuk mencapai keluaran
tertentu.


Ekonomis
Ekonomis merupakan pemerolehan masukan dengan kualitas dan kuantitas
tertentu pada tingkat harga yang terendah.


Transparan
Transparan merupakan prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat
untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-Iuasnya tentang
keuangan daerah.


Bertanggung jawab
Bertanggung jawab merupakan perwujudan kewajiban seseorang untuk
mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan
pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian
tujuan yang telah ditetapkan.




  20               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                Analisis Laporan
                                                                Keuangan
                                                                           Daerah

Keadilan
Keadilan adalah keseimbangan distribusi kewenangan dan pendanaannya
dan/atau keseimbangan distribusi hak dan kewajiban berdasarkan pertimbangan
yang obyektif.


Kepatutan
Kepatutan adalah tindakan atau suatu sikap yang dilakukan dengan wajar
dan proporsional.


Manfaat
Manfaat untuk masyarakat adalah bahwa keuangan daerah diutamakan untuk
pemenuhan kebutuhan masyarakat.


C. Perangkat Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Daerah


        Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah adalah kepala
daerah, yang oleh karenanya mempunyai wewenang untuk:
a. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD;
b. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah;
c. menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang;
d. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran;
e. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan
   daerah;
f. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan
   piutang daerah;
g. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik
   daerah; dan
h. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan
   memerintahkan pembayaran.


        Melalui keputusan kepala daerah, kepala daerah selaku pemegang
kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dapat melimpahkan sebagian atau
seluruh kekuasaannya kepada:
a. sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah;
b. kepala SKPKD selaku PPKD; dan
c. kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang.
        Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah,
berkaitan dengan peran dan fungsinya dalam membantu kepala daerah,
menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan
pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah.




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       21
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

         Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab kepada
kepala daerah dan mempunyai tugas koordinasi di bidang:
a. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD;
b. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah;
c. penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD;
d. penyusunan Raperda APBD, perubahan APBD, dan pertanggungjawaban
   pelaksanaan APBD;
e. tugas-tugas pejabat perencana daerah, PPKD, dan pejabat pengawas
   keuangan daerah; dan
f. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban
   pelaksanaan APBD.


         Selain mempunyai tugas koordinasi sebagaimana tersebut di atas,
sekretaris daerah mempunyai tugas:
a. memimpin TAPD;
b. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD;
c. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah;
d. memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD/DPPA-SKPD;
e. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya
   berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah


Kepala SKPKD selaku PPKD mempunyai tugas:
a. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah;
b. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD;
c. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan
   dengan Peraturan Daerah;
d. melaksanakan fungsi BUD;
e. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban
   pelaksanaan APBD; dan
f. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh
   kepala daerah.


PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku BUD mempunyai wewenang:
a. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD;
b. mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD;
c. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD;
d. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran
   kas daerah;
e. melaksanakan pemungutan pajak daerah;
f. menetapkan SPD;




  22               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

g. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama
   pemerintah daerah;
h. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah;
i. menyajikan informasi keuangan daerah; dan
j. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan
   barang milik daerah.


       PPKD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada
kepala daerah melalui sekretaris daerah, dan selaku BUD dapat menunjuk
pejabat di Iingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa
BUD


       Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang
mempunyai tugas:
a. menyusun RKA-SKPD;
b. menyusun DPA-SKPD;
c. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran
   belanja;
d. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya;
e. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran;
f. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;
g. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas
   anggaran yang telah ditetapkan;
h. menandatangani SPM;
i. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang
   dipimpinnya;
j. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung
   jawab SKPD yang dipimpinnya;
k. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya;
l. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya;
m. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya
   berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah; dan
n. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah
   melalui sekretaris daerah.


       Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dalam melaksanakan
tugas-tugasnya dapat melimpahkan sebagian kewenangannya (ditetapkan
oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD) kepada kepala unit kerja pada
SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang.




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       23
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

         Selain itu, pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dan kuasa
pengguna anggaran/kuasa pengguna barang menunjuk pejabat pada unit
kerja SKPD selaku PPTK (dalam pelaksanakan program dan kegiatan).
Sedangkan untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD,
kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha
keuangan pada SKPD sebagai PPK-SKPD




D. Rangkuman


         Sebagaimana yang dinyatakan dalam Permendagri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, ruang lingkup keuangan
daerah meliputi: (a) hak daerah untuk memungut pajak dan retribusi daerah,
(b) kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah
dan membayar tagihan pihak ketiga, (c) penerimaan dan pengeluaran daerah,
(d) kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain, termasuk
kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah, dan (e) kekayaan pihak
lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan
tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum,


         Adapun azas umum pengelolaan keuangan daerah adalah: tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan,
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan,
dan manfaat untuk masyarakat.


         Hirarki perangkat daerah pada pemerintahan daerah yang terkait
dengan pengelolaan keuangan daerah adalah:
•   Kepala daerah – pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah;
•   Sekretaris daerah – koordinator pengelolaan keuangan daerah
•   Kepala SKPKD – pengguna anggaran/barang, yang juga melaksanakan
    pengelolaan keuangan daerah.
•   Kepala SKPD – pengguna anggaran/barang daerah.




    24             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

                                                 Bab 3
      Laporan
          Pertanggungjawaban
      Pelaksanaan APBD
  Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat:
  •   Memperoleh pemahaman mengenai bentuk laporan pertanggung-
      jawaban pemerintah daerah atas pengelolaan keuangan daerah.
  •   Memperoleh pemahaman mengenai proses penyusunan laporan
      pertanggungjawaban pemerintah daerah.
  •   Memperoleh pemahaman mengenai proses persetujuan laporan
      keuangan daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.




A. Penyusunan Laporan Keuangan


        Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai
posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas
pelaporan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi
mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan
suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat
dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya.


        Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk
menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk
menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercaya-
kan kepadanya, dengan:
a). menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban,
   dan ekuitas dana pemerintah;
b). menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi,
   kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah;
c). menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber
   daya ekonomi;
d). menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya;




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       25
Analisis Laporan
Keuangan
           Daerah

e). menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai
   aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya;
f). menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai
   penyelenggaraan kegiatan pemerintahan;
g). menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan
   entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya.


          Laporan keuangan untuk tujuan umum juga mempunyai peranan
prediktif dan prospektif, menyediakan informasi yang berguna untuk memprediksi
besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk operasi yang berkelanjutan,
sumber daya yang dihasilkan dari operasi yang berkelanjutan, serta risiko dan
ketidakpastian yang terkait. Pelaporan keuangan juga menyajikan informasi
bagi pengguna mengenai:
a). indikasi apakah sumber daya telah diperoleh dan digunakan sesuai dengan
   anggaran dan
b). indikasi apakah sumber daya diperoleh dan digunakan sesuai dengan
   ketentuan, termasuk batas anggaran yang ditetapkan oleh Dewan Perwakilan
   Rakyat Daerah.


          Untuk memenuhi tujuan umum ini, laporan keuangan menyediakan
informasi mengenai entitas pelaporan dalam hal:
a. aset;
b. kewajiban;
c. ekuitas dana;
d. pendapatan;
e. belanja;
f. transfer;
g. pembiayaan; dan
h. arus kas.


Laporan Keuangan SKPD
          Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) selaku Pengguna
Anggaran menyusun Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD pada Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan.
Laporan keuangan yang dihasilkan oleh SKPD selaku pengguna anggaran
adalah:
a. Laporan Realisasi Anggaran,
b. Neraca, dan
c. Catatan atas Laporan Keuangan.




  26               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

        Laporan keuangan tersebut harus disampaikan oleh Kepala SKPD
kepada gubernur/ bupati/walikota melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah
(PPKD) selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir.


        Selain laporan keuangan, Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah selaku
Pengguna Anggaran harus menyusun Laporan Kinerja dan menyampaikannya
kepada gubernur/bupati/walikota, dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir.


Laporan Keuangan PPKD
        Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah
menyusun Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban pengelolaan
perbendaharaan daerah. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh PPKD selaku
Bendahara Umum Daerah adalah:
a. Laporan Realisasi Anggaran,
b. Neraca,
c. Laporan Arus Kas, dan
d. Catatan atas Laporan Keuangan.


        Laporan keuangan tersebut oleh PPKD disampaikan kepada gubernur/
bupati/walikota selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran
berakhir.


Laporan Keuangan Pemda
        Berdasarkan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah serta
laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah tersebut,
Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Laporan Keuangan pemerintah
daerah yang terdiri dari:
a. Laporan Realisasi Anggaran,
b. Neraca,
c. Laporan Arus Kas, dan
d. Catatan atas Laporan Keuangan.


        Laporan Keuangan tersebut oleh PPKD disampaikan kepada gubernur/
bupati/walikota untuk memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.
Selanjutnya, laporan keuangan pemerintah daerah ini disampaikan oleh
gubernur/bupati/walikota kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambat-
lambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir.




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       27
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

         Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan, gubernur/
bupati/walikota memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap
Laporan Keuangan serta koreksi lain berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan.


         Selanjutnya, Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun rancangan
peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD, yang harus
disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir.


         Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD, Pemerintah
Daerah tidak hanya diwajibkan untuk menyusun dan menyajikan Laporan
Keuangan, tetapi juga harus membuat Laporan Kinerja, yang berisi ringkasan
tentang keluaran dari masing-masing kegiatan dan hasil yang dicapai dari masing-
masing program sebagaimana ditetapkan dalam dokumen pelaksanaan APBD.


         Laporan Kinerja dihasilkan dari suatu sistem akuntabilitas kinerja
instansi pemerintah (yang dikembangkan secara terintegrasi dengan sistem
perencanaan, sistem penganggaran, sistem perbendaharaan, dan Sistem
Akuntansi Pemerintahan) yang diselenggarakan oleh masing-masing Entitas
Pelaporan dan/atau Entitas Akuntansi.


         Selain laporan kinerja, Pemerintah Daerah (gubernur/ bupati/ walikota
selaku wakil pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan pemerintah
daerah yang dipisahkan) juga harus menyusun ikhtisar laporan keuangan
Perusahaan Daerah.


         Sehubungan dengan hal tersebut, maka Perusahaan Daerah diwajibkan
menyampaikan:
a. laporan keuangan Perusahaan Daerah yang belum diaudit kepada Pejabat
   Pengelola Keuangan Daerah selambat-lambatnya 2 1/2 (dua setengah)
   bulan setelah tahun APBD berakhir; dan
b. laporan keuangan Perusahaan Daerah yang telah diaudit kepada Pejabat
   Pengelola Keuangan Daerah selambat-lambatnya 5 1/2 (lima setengah)
   bulan setelah tahun APBD berakhir.


         Jadi, laporan keuangan pemerintah daerah beserta rancangan
Peraturan daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD, dilampiri
dengan ikhtisar laporan realisasi kinerja dan ikhtisar laporan keuangan
Perusahaan Daerah. Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama
dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, untuk tingkat pemerintah provinsi




  28               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                              Analisis Laporan
                                                              Keuangan
                                                                         Daerah

disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri, dan untuk tingkat pemerintah
kabupaten/kota disampaikan kepada gubernur.


       Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan
Dana Dekonsentrasi menyelenggarakan akuntansi dan menyusun Laporan
Keuangan dan Kinerja sebagaimana berlaku bagi kuasa Pengguna Anggaran
pada tingkat pemerintah pusat. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah
menyampaikan Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan
Dana Dekonsentrasi kepada gubernur. Selanjutnya, gubernur menyiapkan
Laporan Keuangan dan Kinerja gabungan berdasarkan laporan yang diterima
dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Dana
Dekonsentrasi, dan menyampaikannya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga
terkait serta kepada Presiden melalui Menteri Keuangan.


       Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan
Tugas Pembantuan menyelenggarakan akuntansi dan menyusun Laporan
Keuangan dan Kinerja sebagaimana berlaku bagi kuasa Pengguna Anggaran
pada tingkat pemerintah pusat. Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan
kegiatan Tugas Pembantuan disampaikan kepada gubernur/bupati/walikota
dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. Kemudian, gubernur/bupati/walikota
menyiapkan Laporan Keuangan dan Kinerja gabungan berdasarkan laporan
yang diterima dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana
kegiatan Tugas Pembantuan dan menyampaikannya kepada Menteri/Pimpinan
Lembaga terkait serta kepada Presiden melalui Menteri Keuangan.


       Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Dana
Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan dilaporkan secara terintegrasi dalam Laporan
Keuangan Kementerian Negara/Lembaga Pengguna Anggaran yang bersangkutan,
dan dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.


B. Laporan Realisasi Anggaran


       Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan
pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah,
yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam
satu periode pelaporan.


       Dengan demikian, Laporan Realisasi Anggaran harus menyajikan
informasi mengenai pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan. Pengertian
dari masing-masing unsur tersebut adalah sebagai berikut :




                  Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       29
Analisis Laporan
Keuangan
           Daerah

Pendapatan
(a) Pendapatan (basis kas) adalah penerimaan oleh Bendahara Umum Negara/
    Bendahara Umum Daerah atau oleh entitas pemerintah lainnya yang
    menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang ber-
    sangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali
    oleh pemerintah.
(b) Pendapatan (basis akrual) adalah hak pemerintah yang diakui sebagai
    penambah nilai kekayaan bersih.
(c) Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan
    dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana
    bagi hasil.
(d) Unsur Pendapatan Daerah terdiri dari:
    • Pendapatan Asli Daerah:
       -   Pajak Daerah,
       -   Retribusi Daerah,
       -   Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan,
       -   Lain-lain PAD yang Sah.
    • Pendapatan Transfer/Dana Perimbangan:
       -   Dana Bagi Hasil,
       -   Dana Alokasi Umum, dan
       -   Dana Alokasi Khusus.
    • Lain-lain Pendapatan yang Sah:
       -   Dana Darurat,
       -   Hibah


Belanja
(a) Belanja (basis kas) adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum
    Negara/Bendahara Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar
    dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh
    pembayarannya kembali oleh pemerintah.
(b) Belanja (basis akrual) adalah kewajiban pemerintah yang diakui sebagai
    pengurang nilai kekayaan bersih.
(c) Unsur Belanja Daerah terdiri dari:
    • Belanja Operasi:
       -   Belanja Pegawai
       -   Belanja Barang
       -   Bunga
       -   Subsidi
       -   Hibah
       -   Bantuan Sosial




  30               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

   • Belanja Modal:
      -   Belanja Tanah
      -   Belanja Peralatan dan Mesin
      -   Belanja Gedung dan Bangunan
      -   Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan
      -   Belanja Aset Tetap Lainnya
      -   Belanja Aset Lainnya
   • Belanja Tak Terduga


Pembiayaan
(a) Pembiayaan (basis kas) adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar
   kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada
   tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya,
   yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk
   menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran.
(b) Unsur Pembiayaan Daerah terdiri dari:
   • Penerimaan Pembiayaan:
      -   Penggunaan SiLPA
      -   Pencairan Dana Cadangan
      -   Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
      -   Penerimaan Pinjaman
      -   Penerimaan Pembayaran Piutang
   • Pengeluaran Pembiayaan:
      -   Pembentukan Dana Cadangan
      -   Penyertaan Modal Pemerintah Daerah
      -   Pembayaran Pokok Pinjaman
      -   Pemberian Pinjaman




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       31
Analisis Laporan
Keuangan
             Daerah

FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI
Sumber: Lampiran I-A.4 PP Nomor 8 Tahun 2006



                          LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI
                  UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
                                                                                        (Dalam Rupiah)
                                                                                             20X1               20X0
No.       Uraian
                                                                               Anggaran Realisasi        (%)   Realisasi


 1        PENDAPATAN
 2        PENDAPATAN ASLI DAERAH
 3        Pendapatan Pajak Daerah                                                 xxx         xxx        xx      xxx
 4        Pendapatan Retribusi Daerah                                             xxx         xxx        xx      xxx
 5        Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan            xxx         xxx        xx      xxx
 6        Lain-lain PAD yang sah                                                  xxx         xxx        xx      xxx
 7        Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6)                                xxxx         xxxx       xx      xxxx
 8
 9        PENDAPATAN TRANSFER
 10       TRANSFER PEMERINTAH PUSAT - DANA PERIMBANGAN
 11       Dana Bagi Hasil Pajak                                                   xxx         xxx        xx      xxx
 12       Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam                                        xxx         xxx        xx      xxx
 13       Dana Alokasi Umum                                                       xxx         xxx        xx      xxx
 14       Dana Alokasi Khusus                                                     xxx         xxx        xx      xxx
 15       Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14)                xxxx         xxxx       xx      xxxx
 16
 17       TRANSFER PEMERINTAH PUSAT – LAINNYA
 18       Dana Otonomi Khusus                                                     xxx         xxx        xx      xxx
 19       Dana Penyesuaian                                                        xxx         xxx        xx      xxx
 20       Jumlah Pendapatan Transfer Lainnya (18 s/d 19)                         xxxx         xxxx       xx      xxxx
 21       Total Pendapatan Transfer (15 + 20)                                    xxxx         xxxx       xx      xxxx
 22
 23       LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH
 24       Pendapatan Hibah                                                        xxx         xxx        xx      xxx
 25       Pendapatan Dana Darurat                                                 xxx         xxx        xx      xxx
 26       Pendapatan Lainnya                                                      xxx         xxx        xx      xxx
 27       Jumlah Pendapatan Lain-lain yang Sah (24 s/d 26)                        xxx         xxx        xx      xxx
 28       JUMLAH PENDAPATAN (7 + 21 + 27)                                        xxxx         xxxx       xx      xxxx
 29       BELANJA
 30       BELANJA OPERASI
 31       Belanja Pegawai                                                         xxx         xxx        xx      xxx
 32       Belanja Barang                                                          xxx         xxx        xx      xxx
 33       Bunga                                                                   xxx         xxx        xx      xxx




     32             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                                Analisis Laporan
                                                                                                Keuangan
                                                                                                          Daerah

                                        FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI
                                                       Sumber: Lampiran I-A.4 PP Nomor 8 Tahun 2006



                      LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI
              UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
                                                                                   (Dalam Rupiah)
                                                                                        20X1                 20X0
No.   Uraian
                                                                         Anggaran Realisasi         (%)     Realisasi


34    Subsidi                                                                xxx         xxx         xx       xxx
35    Hibah                                                                  xxx         xxx         xx       xxx
36    Bantuan Sosial                                                         xxx         xxx         xx       xxx
37    Jumlah Belanja Operasi (31 s/d 36)                                    xxxx         xxxx        xx      xxxx
38
39    BELANJA MODAL
40    Belanja Tanah                                                          xxx         xxx         xx       xxx
41    Belanja Peralatan dan Mesin                                            xxx         xxx         xx       xxx
42    Belanja Gedung dan Bangunan                                            xxx         xxx         xx       xxx
43    Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan                                    xxx         xxx         xx       xxx
44    Belanja Aset Tetap Lainnya                                             xxx         xxx         xx       xxx
45    Belanja Aset Lainnya                                                   xxx         xxx         xx       xxx
46    Jumlah Belanja Modal (40 s/d 45)                                      xxxx         xxxx        xx      xxxx
47
48    BELANJA TAK TERDUGA
49    Belanja Tak Terduga                                                    xxxx        xxxx        xx       xxxx
50    Jumlah Belanja Tak Terduga (49 s/d 49)                                xxxx         xxxx        xx      xxxx
51    Jumlah Belanja (37 + 46 + 50)                                         xxxx         xxxx        xx      xxxx


52
53    TRANSFER
54    TRANSFER/BAGI HASIL PENDAPATAN KE KABUPATEN/KOTA
55    Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota                                     xxx         xxx         xx       xxx
56    Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota                                 xxx         xxx         xx       xxx
57    Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota                        xxx         xxx         xx       xxx
58    Jumlah Transfer Bagi Hasil Pendapatan ke Kab./Kota (55 s/d 57)        xxxx         xxxx        xx      xxxx
59    JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER (51 + 58)                                 xxxx         xxxx        xx      xxxx
60    SURPLUS/DEFISIT (28 - 59)                                              xxx         xxx         xx       xxx
61
62    PEMBIAYAAN
63
64    PENERIMAAN PEMBIAYAAN




                                                 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik          33
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI
Sumber: Lampiran I-A.4 PP Nomor 8 Tahun 2006



                     LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI
             UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
                                                                                       (Dalam Rupiah)
                                                                                            20X1               20X0
No.    Uraian
                                                                              Anggaran Realisasi        (%)   Realisasi


 65    Penggunaan SiLPA                                                          xxx         xxx        xx      xxx
 66    Pencairan Dana Cadangan                                                   xxx         xxx        xx      xxx
 67    Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan                           xxx         xxx        xx      xxx
 68    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat                                  xxx         xxx        xx      xxx
 69    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya                         xxx         xxx        xx      xxx
 70    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank                             xxx         xxx        xx      xxx
 71    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank                       xxx         xxx        xx      xxx
 72    Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi                                          xxx         xxx        xx      xxx
 73    Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya                                           xxx         xxx        xx      xxx
 74    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara                      xxx         xxx        xx      xxx
 75    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                      xxx         xxx        xx      xxx
 76    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya              xxx         xxx        xx      xxx
 77    Jumlah Penerimaan (65 s/d 76)                                            xxxx         xxxx       xx      xxxx
 78
 79    PENGELUARAN PEMBIAYAAN
 80    Pembentukan Dana Cadangan                                                 xxx         xxx        xx      xxx
 81    Penyertaan Modal Pemerintah Daerah                                        xxx         xxx        xx      xxx
 82    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Pemerintah Pusat                           xxx         xxx        xx      xxx
 83    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Pemerintah Daerah Lainnya                  xxx         xxx        xx      xxx
 84    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Lembaga Keuangan Bank                      xxx         xxx        xx      xxx
 85    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Lembaga Keuangan Bukan Bank                xxx         xxx        xx      xxx
 86    Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi                                   xxx         xxx        xx      xxx
 87    Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya                                    xxx         xxx        xx      xxx
 88    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara                               xxx         xxx        xx      xxx
 89    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                               xxx         xxx        xx      xxx
 90    Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya                       xxx         xxx        xx      xxx
 91    Jumlah Pengeluaran (80 s/d 90)                                            xxx         xxx        xx      xxx
 92    PEMBIAYAAN NETO (77 - 91)                                                xxxx         xxxx       xx      xxxx
 93
 94    Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (60-92)                                   xxxx         xxxx       xx      xxxx




  34               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                               Analisis Laporan
                                                                                               Keuangan
                                                                                                          Daerah

                               FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA
                                                      Sumber: Lampiran I-A.5 PP Nomor 8 Tahun 2006



                LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
            UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
                                                                                   (Dalam Rupiah)
                                                                                        20X1                 20X0
No.   Uraian
                                                                         Anggaran Realisasi         (%)     Realisasi


1     PENDAPATAN
2     PENDAPATAN ASLI DAERAH
3     Pendapatan Pajak Daerah                                                xxx         xxx        xx        xxx
4     Pendapatan Retribusi Daerah                                            xxx         xxx        xx        xxx
5     Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan           xxx         xxx        xx        xxx
6     Lain-lain PAD yang sah                                                 xxx         xxx        xx        xxx
7     Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6)                               xxxx         xxxx       xx        xxxx
8
9     PENDAPATAN TRANSFER
10    TRANSFER PEMERINTAH PUSAT - DANA PERIMBANGAN
11    Dana Bagi Hasil Pajak                                                  xxx         xxx        xx        xxx
12    Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam                                       xxx         xxx        xx        xxx
13    Dana Alokasi Umum                                                      xxx         xxx        xx        xxx
14    Dana Alokasi Khusus                                                    xxx         xxx        xx        xxx
15    Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14)               xxxx         xxxx       xx        xxxx
16
17    TRANSFER PEMERINTAH PUSAT – LAINNYA
18    Dana Otonomi Khusus                                                    xxx         xxx        xx        xxx
19    Dana Penyesuaian                                                       xxx         xxx        xx        xxx
20    Jumlah Pendapatan Transfer Lainnya (18 s/d 19)                        xxxx         xxxx       xx        xxxx
21
22    TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI
23    Pendapatan Bagi Hasil Pajak                                            xxx         xxx        xx        xxx
24    Pendapatan Bagi Hasil Lainnya                                          xxx         xxx        xx        xxx
25    Jumlah Transfer Pemerintah Provinsi (23 s/d 24)                       xxxx         xxxx       xx        xxxx
26    Total Pendapatan Transfer (15 + 20 + 25)                              xxxx         xxxx       xx        xxxx
27
28    LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH
29    Pendapatan Hibah                                                       xxx         xxx        xx        xxx
30    Pendapatan Dana Darurat                                                xxx         xxx        xx        xxx
31    Pendapatan Lainnya                                                     xxx         xxx        xx        xxx
32    Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah (29 s/d 31)                       xxx         xxx        xx        xxx
33    JUMLAH PENDAPATAN (7 + 26 + 32)                                        xxx         xxxx       xx        xxxx
34
35    BELANJA




                                                 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         35
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA
Sumber: Lampiran I-A.5 PP Nomor 8 Tahun 2006



                   LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
               UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
                                                                                       (Dalam Rupiah)
                                                                                            20X1               20X0
No.    Uraian
                                                                              Anggaran Realisasi        (%)   Realisasi


 36    BELANJA OPERASI
 37    Belanja Pegawai                                                           xxx         xxx        xx      xxx
 38    Belanja Barang                                                            xxx         xxx        xx      xxx
 39    Bunga                                                                     xxx         xxx        xx      xxx
 40    Subsidi                                                                   xxx         xxx        xx      xxx
 41    Hibah                                                                     xxx         xxx        xx      xxx
 42    Bantuan Sosial                                                            xxx         xxx        xx      xxx
 43    Jumlah Belanja Operasi (37 s/d 42)                                       xxxx         xxxx       xx      xxxx
 44
 45    BELANJA MODAL
 46    Belanja Tanah                                                             xxx         xxx        xx      xxx
 47    Belanja Peralatan dan Mesin                                               xxx         xxx        xx      xxx
 48    Belanja Gedung dan Bangunan                                               xxx         xxx        xx      xxx
 49    Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan                                       xxx         xxx        xx      xxx
 50    Belanja Aset Tetap Lainnya                                                xxx         xxx        xx      xxx
 51    Belanja Aset Lainnya                                                      xxx         xxx        xx      xxx
 52    Jumlah Belanja Modal (46 s/d 51)                                         xxxx         xxxx       xx      xxxx
 53
 54    BELANJA TAK TERDUGA
 55    Belanja Tak Terduga                                                       xxx         xxx        xx      xxx
 56    Jumlah Belanja Tak Terduga (55 s/d 55)                                   xxxx         xxxx       xx      xxxx
 57    Jumlah Belanja (43 + 52 + 56)                                            xxxx         xxxx       xx      xxxx
 58
 59    TRANSFER
 60    TRANSFER/BAGI HASIL KE DESA
 61    Bagi Hasil Pajak                                                          xxx         xxx        xx      xxx
 62    Bagi Hasil Retribusi                                                      xxx         xxx        xx      xxx
 63    Bagi Hasil Pendapatan Lainnya                                             xxx         xxx        xx      xxx
 64    Jumlah Transfer Bagi Hasil ke Desa (61 s/d 63)                           xxxx         xxxx       xx      xxxx
 65    JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER (57+ 64)                                     xxxx         xxxx       xx      xxxx
 66    SURPLUS/DEFISIT (33 - 65)                                                xxxx         xxxx       xx      xxxx
 67
 68    PEMBIAYAAN
 69




  36               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                               Analisis Laporan
                                                                                               Keuangan
                                                                                                          Daerah

                            FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA
                                                   Sumber: Lampiran I-A.5 PP Nomor 8 Tahun 2006



                LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
            UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
                                                                                   (Dalam Rupiah)
                                                                                        20X1                 20X0
No.   Uraian
                                                                         Anggaran Realisasi         (%)     Realisasi


70    PENERIMAAN PEMBIAYAAN
71    Penggunaan SiLPA                                                       xxx         xxx        xx        xxx
72    Pencairan Dana Cadangan                                                xxx         xxx        xx        xxx
73    Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan                        xxx         xxx        xx        xxx
74    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat                               xxx         xxx        xx        xxx
75    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya                      xxx         xxx        xx        xxx
76    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank                          xxx         xxx        xx        xxx
77    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank                    xxx         xxx        xx        xxx
78    Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi                                       xxx         xxx        xx        xxx
79    Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya                                        xxx         xxx        xx        xxx
80    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara                   xxx         xxx        xx        xxx
81    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                   xxx         xxx        xx        xxx
82    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya           xxx         xxx        xx        xxx
83    Jumlah Penerimaan (71 s/d 82)                                         xxxx         xxxx       xx        xxxx
84
85    PENGELUARAN PEMBIAYAAN
86    Pembentukan Dana Cadangan                                              xxx         xxx        xx        xxx
87    Penyertaan Modal Pemerintah Daerah                                     xxx         xxx        xx        xxx
88    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Pemerintah Pusat                        xxx         xxx        xx        xxx
89    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Pemerintah Daerah Lainnya               xxx         xxx        xx        xxx
90    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Lembaga Keuangan Bank                   xxx         xxx        xx        xxx
91    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Lembaga Keuangan Bukan Bank             xxx         xxx        xx        xxx
92    Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi                                xxx         xxx        xx        xxx
93    Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya                                 xxx         xxx        xx        xxx
94    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara                            xxx         xxx        xx        xxx
95    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                            xxx         xxx        xx        xxx
96    Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya                    xxx         xxx        xx        xxx
97    Jumlah Pengeluaran (86 s/d 97)                                         xxx         xxx        xx        xxx
98    PEMBIAYAAN NETO (83 - 97)                                             xxxx         xxxx       xx        xxxx
99
100 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (66-98)                                  xxxx         xxxx       xx       xxx x




                                                 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         37
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

C. Neraca


         Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan pada
tanggal tertentu, dengan menyajikan informasi mengenai aset, kewajiban, dan
ekuitas dana. Pengertian dari masing-masing unsur Neraca sebagai berikut:


1. Aset
   Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh
   pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat
   ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik
   oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan
   uang, termasuk sumber daya non-keuangan yang diperlukan untuk
   penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber daya yang dipelihara
   karena alasan sejarah dan budaya.


   Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi
   aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak
   langsung, bagi kegiatan operasional pemerintah, berupa aliran pendapatan
   atau penghematan belanja bagi pemerintah.


   a. Aset Lancar
       Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera
       untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam
       waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. Aset yang tidak
       dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut diklasifikasikan sebagai
       aset non-lancar. Aset lancar meliputi kas dan setara kas, investasi
       jangka pendek, piutang, dan persediaan.


   b. Aset Non-Lancar
       Aset non-lancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang, dan aset
       tak berwujud yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung
       untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum.
       Aset non-lancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang, aset
       tetap, dana cadangan, dan aset lainnya.


       (1). Investasi Jangka Panjang
            Investasi jangka panjang merupakan investasi yang diadakan
            dengan maksud untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat
            sosial dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi. Investasi
            jangka panjang meliputi investasi non-permanen dan permanen.




  38               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                             Analisis Laporan
                                                             Keuangan
                                                                        Daerah

         Investasi non-permanen antara lain investasi dalam Surat Utang
         Negara, penyertaan modal dalam proyek pembangunan, dan
         investasi non-permanen lainnya. Investasi permanen antara lain
         penyertaan modal pemerintah dan investasi permanen lainnya.


     (2). Aset Tetap
         Aset tetap meliputi tanah, peralatan dan mesin, gedung dan
         bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan, aset tetap lainnya, dan
         konstruksi dalam pengerjaan.


     (3). Aset Lainnya
         Aset non-lancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset lainnya.
         Termasuk dalam aset lainnya adalah aset tak berwujud dan aset
         kerja sama (kemitraan).


2. Kewajiban
  Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
  penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi
  pemerintah.


  Karakterisitik esensial kewajiban adalah bahwa pemerintah mempunyai
  kewajiban masa kini yang dalam penyelesaiannya mengakibatkan
  pengorbanan sumber daya ekonomi di masa yang akan datang.


  Kewajiban umumnya timbul karena konsekuensi pelaksanaan tugas atau
  tanggungjawab untuk bertindak di masa lalu. Dalam konteks pemerintahan,
  kewajiban muncul antara lain karena penggunaan sumber pembiayaan
  pinjaman dari masyarakat, lembaga keuangan, entitas pemerintah lain,
  atau lembaga internasional. Kewajiban pemerintah juga terjadi karena
  perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah atau dengan
  pemberi jasa lainnya.


  Setiap kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi
  dari kontrak yang mengikat atau peraturan perundang undangan. Kewajiban
  dikelompokkan kedalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka
  panjang. Kewajiban jangka pendek merupakan kelompok kewajiban yang
  diselesaikan dalam waktu kurang dari dua belas bulan setelah tanggal
  pelaporan. Kewajiban jangka panjang adalah kelompok kewajiban yang
  penyelesaiannya dilakukan setelah 12 (dua belas) bulan sejak tanggal
  pelaporan.




                 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       39
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

3. Ekuitas Dana
   Ekuitas Dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih
   antara aset dan kewajiban pemerintah.


   Ekuitas Dana dapat dikelompokkan sebagai berikut:
   (a) Ekuitas Dana Lancar adalah selisih antara aset lancar dengan kewajiban
        jangka pendek.
   (b) Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan pemerintah yang
        tertanam dalam aset non-lancar selain dana cadangan, dikurangi
        dengan kewajiban jangka panjang.
   (c) Ekuitas Dana Cadangan mencerminkan kekayaan pemerintah yang
        dicadangkan untuk tujuan yang telah ditentukan sebelumnya sesuai
        peraturan perundang-undangan.




  40               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                             Analisis Laporan
                                                                                             Keuangan
                                                                                                        Daerah

                            FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA
                                                   Sumber: Lampiran I-A.5 PP Nomor 8 Tahun 2006



                           NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
                                 PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
                                                                                     (Dalam Rupiah)

No.   Uraian                                                                    20X1                  20X0



1     ASET
2
3     ASET LANCAR
4     Kas di Kas Daerah                                                           xxx                       xxx
5     Kas di Bendahara Pengeluaran                                                xxx                       xxx
6     Kas di Bendahara Penerimaan                                                 xxx                       xxx
7     Investasi Jangka Pendek                                                     xxx                       xxx
8     Piutang Pajak                                                               xxx                       xxx
9     Piutang Retribusi                                                           xxx                       xxx
10    Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara                             xxx                       xxx
11    Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                             xxx                       xxx
12    Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat                              xxx                       xxx
3     Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya                     xxx                       xxx
14    Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran                                    xxx                       xxx
15    Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi                                           xxx                       xxx
16    Piutang Lainnya                                                             xxx                       xxx
17    Persediaan                                                                  xxx                       xxx
18    Jumlah Aset Lancar (4 s/d 17)                                               xxx                   xxx
19
20    INVESTASI JANGKA PANJANG
21    Investasi Non-permanen                                                      xxx                       xxx
22    Pinjaman Kepada Perusahaan Negara                                           xxx                       xxx
23    Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah                                           xxx                       xxx
24    Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya                                   xxx                       xxx
25    Investasi dalam Surat Utang Negara                                          xxx                       xxx
26    Investasi dalam Proyek Pembangunan                                          xxx                       xxx
27    Investasi Non-permanen Lainnya                                              xxx                       xxx
28    Jumlah Investasi Non-permanen (22 s/d 27)                                   xxx                   xxx
29    Investasi Permanen
30    Penyertaan Modal Pemerintah Daerah                                          xxx                       xxx
31    Investasi Permanen Lainnya                                                  xxx                       xxx
32    Jumlah Investasi Permanen (30 s/d 31)                                       xxx                   xxx
33    Jumlah Investasi Jangka Panjang (28 + 32)                                   xxx                   xxx
34
35    ASET TETAP




                                                 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         41
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

FORMAT NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
Sumber: Lampiran I-B.4 PP Nomor 8 Tahun 2006



                                NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
                                      PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
                                                                                 (Dalam Rupiah)

No.    Uraian                                                                 20X1                20X0



 36    Tanah                                                                  xxx                  xxx
 37    Peralatan dan Mesin                                                    xxx                  xxx
 38    Gedung dan Bangunan                                                    xxx                  xxx
 39    Jalan, Irigasi, dan Jaringan                                           xxx                  xxx
 40    Aset Tetap Lainnya                                                     xxx                  xxx
 41    Konstruksi dalam Pengerjaan                                            xxx                  xxx
 42    Akumulasi Penyusutan                                                   (xxx)               (xxx)
 43    Jumlah Aset Tetap (36 s/d 42)                                          xxx                 xxx
 44
 45    DANA CADANGAN
 46    Dana Cadangan                                                          xxx                  xxx
 47    Jumlah Dana Cadangan (46)                                              xxx                  xxx
 48
 49    ASET LAINNYA
 50    Tagihan Penjualan Angsuran                                             xxx                  xxx
 51    Tuntutan Perbendaharaan                                                xxx                  xxx
 52    Tuntutan Ganti Rugi                                                    xxx                  xxx
 53    Kemitraan dengan Pihak Ketiga                                          xxx                  xxx
 54    Aset Tak Berwujud                                                       xx                  xx
 55    Aset Lain-lain                                                         xxx                  xxx
 56    Jumlah Aset Lainnya (50 s/d 55)                                        xxx                  xxx
 57
 58    JUMLAH ASET (18+33+43+47+56)                                           xxxx                xxxx
 59
 60    KEWAJIBAN
 61
 62    KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
 63    Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK)                                   xxx                  xxx
 64    Utang Bunga                                                            xxx                  xxx
 65    Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat                    xxx                  xxx
 66    Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya           xxx                  xxx
 67    Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank               xxx                  xxx
 68    Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank         xxx                  xxx
 69    Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Obligasi                            xxx                  xxx
 70    Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Lainnya                             xxx                  xxx




  42               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                              Analisis Laporan
                                                                                              Keuangan
                                                                                                         Daerah

                                           FORMAT NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
                                                      Sumber: Lampiran I-B.4 PP Nomor 8 Tahun 2006



                           NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
                                 PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
                                                                                      (Dalam Rupiah)

No.   Uraian                                                                      20X1                  20X0



71    Utang Jangka Pendek Lainnya                                                  xxx                   xxx
72    Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (63 s/d 71)                                   xxx                       xxx
73
74    KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
75    Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat                                        xxx                       xxx
76    Utang Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya                               xxx                   xxx
77    Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank                                   xxx                   xxx
78    Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank                             xxx                   xxx
79    Utang Dalam Negeri - Obligasi                                                xxx                   xxx
80    Utang Jangka Panjang Lainnya                                                 xxx                   xxx
81    Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (78 s/d 80)                                  xxx                   xxx
82    JUMLAH KEWAJIBAN (72+81)                                                     xxx                   xxx
83
84    EKUITAS DANA
85
86    EKUITAS DANA LANCAR
87    Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA)                                       xxx                   xxx
88    Pendapatan yang Ditangguhkan                                                 xxx                   xxx
89    Cadangan Piutang                                                             xxx                   xxx
90    Cadangan Persediaan                                                          xxx                   xxx
91    Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek              xxx                   xxx
92    Jumlah Ekuitas Dana Lancar (87 s/d 91)                                       xxx                       xxx
93
94    EKUITAS DANA INVESTASI
95    Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang                                xxx                   xxx
96    Diinvestasikan dalam Aset Tetap                                              xxx                   xxx
97    Diinvestasikan dalam Aset Lainnya                                            xxx                   xxx
98    Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang             xxx                   xxx
99    Jumlah Ekuitas Dana Investasi (95 s/d 98)                                    xxx                       xxx
100
101 EKUITAS DANA CADANGAN
102 Diinvestasikan dalam Dana Cadangan                                             xxx                   xxx
103 Jumlah Ekuitas Dana Cadangan (102)                                             xxx                   xxx
104 JUMLAH EKUITAS DANA (92+99+103)                                                xxx                   xxx
105
106 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (82+104)                                     xxx                       xxx




                                                  Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         43
Analisis Laporan
Keuangan
             Daerah

FORMAT NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH
Sumber: Lampiran I-B.5 PP Nomor 8 Tahun 2006



                                   NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH
                                        PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
                                                                                  (Dalam Rupiah)

No.       Uraian                                                               20X1                20X0



 1        ASET
 2
 3        ASET LANCAR
 4        Kas di Bendahara Pengeluaran                                          xxx                 xxx
 5        Kas di Bendahara Penerimaan                                           xxx                 xxx
 6        Piutang                                                               xxx                 xxx
 7        Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran                              xxx                 xxx
 8        Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi                                     xxx                 xxx
 9        Persediaan                                                            xxx                 xxx
 10       Jumlah Aset Lancar (4 s/d 9)                                          xxx                 xxx
 11
 12       ASET TETAP                                                            xxx                 xxx
 13       Tanah                                                                 xxx                 xxx
 14       Peralatan dan Mesin                                                   xxx                 xxx
 15       Gedung dan Bangunan                                                   xxx                 xxx
 16       Jalan, Irigasi, dan Jaringan                                          xxx                 xxx
 17       Aset Tetap Lainnya                                                    xxx                 xxx
 18       Konstruksi Dalam Pengerjaan                                           xxx                 xxx
 19       Jumlah Aset Tetap (13 s/d 18)                                         xxx                 xxx
 20
 21       ASET LAINNYA
 22       Tagihan Penjualan Angsuran                                            xxx                 xxx
 23       Tuntutan Ganti Rugi                                                   xxx                 xxx
 24       Kemitraan dengan Pihak Ketiga                                         xxx                 xxx
 25       Aset Tak Berwujud                                                     xxx                 xxx
 26       Aset Lain-Lain                                                        xxx                 xxx
 27       Jumlah Aset Lainnya (22 s/d 26)                                       xxx                 xxx
 28
 29       JUMLAH ASET (10+19+27)                                                xxxx               xxxx
 30
 31       KEWAJIBAN
 32
 33       KEWAJIBAN JANGKA PENDEK                                               xxx                 xxx




     44             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                              Analisis Laporan
                                                                                              Keuangan
                                                                                                         Daerah

                                                  FORMAT NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH
                                                          Sumber: Lampiran I-B.5 PP Nomor 8 Tahun 2006



                             NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH
                                  PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
                                                                                      (Dalam Rupiah)

No.   Uraian                                                                     20X1                  20X0



34    Uang Muka dari Bendahara Umum Daerah                                         xxx                       xxx
35    Pendapatan yang Ditangguhkan                                                 xxx                       xxx
36    Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (34 s/d 35)                                   xxx                       xxx
37    JUMLAH KEWAJIBAN (36)                                                        xxx                       xxx
38
39    EKUITAS DANA
40
41    EKUITAS DANA LANCAR
42    Cadangan Piutang                                                             xxx                       xxx
43    Cadangan Persediaan                                                          xxx                       xxx
44    Jumlah Ekuitas Dana Lancar (42 s/d 43)                                       xxx                       xxx
45
46    EKUITAS DANA INVESTASI
47    Diinvestasikan dalam Aset Tetap                                              xxx                       xxx
48    Diinvestasikan dalam Aset Lainnya                                            xxx                       xxx
49    Jumlah Ekuitas Dana Investasi (47 s/d 48)                                    xxx                       xxx
50    JUMLAH EKUITAS DANA (44+49)                                                  xxx                       xxx
51
52    JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (37 + 50)                                  xxxx                  xxxx




                                                  Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         45
Analisis Laporan
Keuangan
             Daerah

FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH
Sumber: Lampiran I-B.6 PP Nomor 8 Tahun 2006



                                        NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH
                                         PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
                                                                                 (Dalam Rupiah)

No.       Uraian                                                              20X1                20X0



 1        ASET
 2
 3        ASET LANCAR
 4        Kas di Kas Daerah                                                    xxx                 xxx
 5        Kas di Bendahara Pengeluaran                                         xxx                 xxx
 6        Kas di Bendahara Penerimaan                                          xxx                 xxx
 7        Piutang Pajak                                                        xxx                 xxx
 8        Piutang Retribusi                                                    xxx                 xxx
 9        Investasi Jangka Pendek                                              xxx                 xxx
 10       Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara                      xxx                 xxx
 11       Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                      xxx                 xxx
 12       Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat                       xxx                 xxx
 13       Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya              xxx                 xxx
 14       Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan                                xxx                 xxx
 15       Jumlah Aset Lancar (4 s/d 14)                                        xxx                 xxx
 16
 17       INVESTASI JANGKA PANJANG
 18       Investasi Non-permanen
 19       Pinjaman Kepada Perusahaan Negara                                    xxx                 xxx
 20       Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah                                    xxx                 xxx
 21       Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya                            xxx                 xxx
 22       Investasi dalam Surat Utang Negara                                   xxx                 xxx
 23       Investasi dalam Proyek Pembangunan                                   xxx                 xxx
 24       Investasi Non-permanen Lainnya                                       xxx                 xxx
 25       Jumlah Investasi Non-permanen (19 s/d 24)                            xxx                 xxx
 26       Investasi Permanen
 27       Penyertaan Modal Pemerintah Daerah                                   xxx                 xxx
 28       Investasi Permanen Lainnya                                           xxx                 xxx
 29       Jumlah Investasi Permanen (27 s/d 28)                                xxx                 xxx
 30       Jumlah Investasi Jangka Panjang (25 + 29)                            xxx                 xxx
 31
 32       DANA CADANGAN
 33       Dana Cadangan                                                        xxx




     46            Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                           Analisis Laporan
                                                                                           Keuangan
                                                                                                      Daerah

                                                          FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH
                                                           Sumber: Lampiran I-B.6 PP Nomor 8 Tahun 2006



                                 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH
                                  PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
                                                                                   (Dalam Rupiah)

No.   Uraian                                                                  20X1                  20X0



34    Jumlah Dana Cadangan (33)                                                 xxx                       xxx
35
36    ASET LAINNYA
37    Tuntutan Perbendaharaan                                                   xxx                       xxx
38    Aset Lain-lain                                                            xxx                       xxx
39    Jumlah Aset Lainnya (37 s/d 38)                                           xxx                       xxx
40
41    JUMLAH ASET (15+30+34+39)                                                 xxxx                  xxxx
42
43    KEWAJIBAN
44
45    KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
46    Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)                                      xxx                       xxx
47    Utang Bunga                                                               xxx                       xxx
48    Bagian Lancar Utang Jangka Panjang                                        xxx                       xxx
49    Utang Jangka Pendek Lainnya                                               xxx                       xxx
50    Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (46 s/d 49)                                xxx                       xxx
51
52    KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
53    Utang Dalam Negeri - Sektor Perbankan                                     xxx                       xxx
54    Utang Dalam Negeri – Obligasi                                             xxx                       xxx
55    Utang Jangka Panjang Lainnya                                              xxx                       xxx
56    Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (53 s/d 55)                               xxx                       xxx
57
58    JUMLAH KEWAJIBAN (50+56)                                                  xxx                       xxx
59
60    EKUITAS DANA
61
62    EKUITAS DANA LANCAR                                                       xxx                       xxx
63    Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA)                                    xxx                       xxx
64    Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jk. Pendek              xxx                       xxx
65    Jumlah Ekuitas Dana Lancar (63 s/d 64)                                    xxx                       xxx
66




                                               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         47
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH
Sumber: Lampiran I-B.6 PP Nomor 8 Tahun 2006



                                        NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH
                                         PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
                                                                                 (Dalam Rupiah)

No.    Uraian                                                                 20X1                20X0



 67    EKUITAS DANA INVESTASI
 68    Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang                           xxx                 xxx
 69    Diinvestasikan dalam Aset Tetap                                         xxx                 xxx
 70    Diinvestasikan dalam Aset Lainnya                                       xxx                 xxx
 71    Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jk. Panjang           xxx                 xxx
 72    Jumlah Ekuitas Dana Investasi (68 s/d 71)                               xxx                 xxx
 73
 74    EKUITAS DANA CADANGAN
 75    Diinvestasikan dalam Dana Cadangan                                      xxx                 xxx
 76    Jumlah Ekuitas Dana Cadangan (75)                                       xxx                 xxx
 77
 78    JUMLAH EKUITAS DANA (65+72+76)                                          xxx                 xxx
 79
 80    JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (58+78)                               xxxx               xxxx




D. Laporan Arus Kas


         Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan
aktivitas operasional, investasi aset non-keuangan, pembiayaan, dan transaksi
non-anggaran yang menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran,
dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu.


         Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri dari penerimaan
dan pengeluaran kas, yang masing-masing didefinisikan sebagai berikut:
(a) Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum
   Daerah.
(b) Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara Umum
   Daerah.




  48               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                             Analisis Laporan
                                                                                             Keuangan
                                                                                                        Daerah

                                                  FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI
                                               Lampiran I-C.3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                            LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI
                 Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                          Metode Langsung
                                                                         (Dalam Rupiah)

No.   Uraian                                                                    20X1                  20X0



1     Arus Kas dari Aktivitas Operasi
2     Arus Masuk Kas
3     Pendapatan Pajak Daerah                                                     xxx                       xxx
4     Pendapatan Retribusi Daerah                                                 xxx                       xxx
5     Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan                xxx                       xxx
6     Lain-lain PAD yang sah                                                      xxx                       xxx
7     Dana Bagi Hasil Pajak                                                       xxx                       xxx
8     Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam                                            xxx                       xxx
9     Dana Alokasi Umum                                                           xxx                       xxx
10    Dana Alokasi Khusus                                                         xxx                       xxx
11    Dana Otonomi Khusus                                                         xxx                       xxx
12    Dana Penyesuaian                                                            xxx                       xxx
13    Pendapatan Hibah                                                            xxx                       xxx
14    Pendapatan Dana Darurat                                                     xxx                       xxx
15    Pendapatan Lainnya                                                          xxx                       xxx
16    Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 15)                                            xxx                       xxx
17    Arus Keluar Kas
18    Belanja Pegawai                                                             xxx                       xxx
19    Belanja Barang                                                              xxx                       xxx
20    Bunga                                                                       xxx                       xxx
21    Subsidi                                                                     xxx                       xxx
22    Hibah                                                                       xxx                       xxx
23    Bantuan Sosial                                                              xxx                       xxx
24    Belanja Tak Terduga                                                         xxx                       xxx
25    Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota                                          xxx                       xxx
26    Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota                                      xxx                       xxx
27    Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota                             xxx                       xxx
28    Jumlah Arus Keluar Kas (18 s/d 27)                                          xxx                       xxx
29    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (16 - 28)                            xxx                       xxx
30    Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan
31    Arus Masuk Kas
32    Pendapatan Penjualan atas Tanah                                             xxx                       xxx
33    Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin                               xxx                       xxx




                                                 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         49
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI
Lampiran I-C.3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                                LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI
                     Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                              Metode Langsung
                                                                             (Dalam Rupiah)

No.    Uraian                                                                 20X1            20X0



 34    Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan                           xxx             xxx
 35    Pendapatan Penjualan atas Jalan, Irigasi dan Jaringan                   xxx             xxx
 36    Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Lainnya                            xxx             xxx
 37    Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya                                  xxx             xxx
 38    Jumlah Arus Masuk Kas (32 s/d 37)                                       xxx             xxx
 39    Arus Keluar Kas
 40    Belanja Tanah                                                           xxx             xxx
 41    Belanja Peralatan dan Mesin                                             xxx             xxx
 42    Belanja Gedung dan Bangunan                                             xxx             xxx
 43    Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan                                     xxx             xxx
 44    Belanja Aset Tetap Lainnya                                              xxx             xxx
 45    Belanja Aset Lainnya                                                    xxx             xxx
 46    Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d 45)                                      xxx             xxx
 47    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (38 - 46)    xxx             xxx
 48    Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan
 49    Arus Masuk Kas
 50    Pencairan Dana Cadangan                                                 xxx             xxx
 51    Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan                         xxx             xxx
 52    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat                                xxx             xxx
 53    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya                       xxx             xxx
 54    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank                           xxx             xxx
 55    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank                     xxx             xxx
 56    Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi                                        xxx             xxx
 57    Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya                                         xxx             xxx
 58    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara                    xxx             xxx
 59    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                    xxx             xxx
 60    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya            xxx             xxx
 61    Jumlah Arus Masuk Kas (50 s/d 60)                                       xxx             xxx
 62    Arus Keluar Kas
 63    Pembentukan Dana Cadangan                                               xxx             xxx
 64    Penyertaan Modal Pemerintah Daerah                                      xxx             xxx
 65    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Pemerintah Pusat                         xxx             xxx
 66    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Pemerintah Daerah Lainnya                xxx             xxx




  50               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                               Analisis Laporan
                                                                                               Keuangan
                                                                                                          Daerah

                                                FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI
                                             Lampiran I-C.3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                           LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI
                Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                         Metode Langsung
                                                                        (Dalam Rupiah)

No.   Uraian                                                                      20X1                  20X0



67    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Lembaga Keuangan Bank                          xxx                       xxx
68    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Lembaga Keuangan Bukan Bank                    xxx                       xxx
69    Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi                                       xxx                       xxx
70    Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya                                        xxx                       xxx
71    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara                                   xxx                       xxx
72    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                                   xxx                       xxx
73    Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya                           xxx                       xxx
74    Jumlah Arus Keluar Kas (63 s/d 73)                                            xxx                       xxx
75    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (61 - 74)                           xxx                       xxx
76    Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran
77    Arus Masuk Kas
78    Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)                                     xxx                       xxx
79    Jumlah Arus Masuk Kas (78)                                                    xxx                       xxx
80    Arus Keluar Kas
81    Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)                                    xxx                       xxx
82    Jumlah Arus Keluar Kas (81)                                                   xxx                       xxx
83    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Nonanggaran (79 - 82)                          xxx                       xxx
84    Kenaikan/Penurunan Kas                                                        xxx                       xxx
85    Saldo Awal Kas di BUD                                                         xxx                       xxx
86    Saldo Akhir Kas di BUD (84+85)                                                xxx                       xxx
87    Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran                                      xxx                       xxx
88    Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan                                       xxx                       xxx
89    Saldo Akhir Kas (86+87+88)                                                    xxx                       xxx




                                                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         51
Analisis Laporan
Keuangan
             Daerah

FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
Lampiran I-C.4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                             LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
                      Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                               Metode Langsung
                                                                              (Dalam Rupiah)

No.       Uraian                                                               20X1            20X0



 1        Arus Kas dari Aktivitas Operasi
 2        Arus Masuk Kas
 3        Pendapatan Pajak Daerah                                               xxx             xxx
 4        Pendapatan Retribusi Daerah                                           xxx             xxx
 5        Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan          xxx             xxx
 6        Lain-lain PAD yang sah                                                xxx             xxx
 7        Dana Bagi Hasil Pajak                                                 xxx             xxx
 8        Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam                                      xxx             xxx
 9        Dana Alokasi Umum                                                     xxx             xxx
 10       Dana Alokasi Khusus                                                   xxx             xxx
 11       Dana Otonomi Khusus                                                   xxx             xxx
 12       Dana Penyesuaian                                                      xxx             xxx
 13       Pendapatan Bagi Hasil Pajak                                           xxx             xxx
 14       Pendapatan Bagi Hasil Lainnya                                         xxx             xxx
 15       Pendapatan Hibah                                                      xxx             xxx
 16       Pendapatan Dana Darurat                                               xxx             xxx
 17       Pendapatan Lainnya                                                    xxx             xxx
 18       Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 17)                                      xxx             xxx
 19       Arus Keluar Kas
 20       Belanja Pegawai                                                       xxx             xxx
 21       Belanja Barang                                                        xxx             xxx
 22       Bunga                                                                 xxx             xxx
 23       Subsidi                                                               xxx             xxx
 24       Hibah                                                                 xxx             xxx
 25       Bantuan Sosial                                                        xxx             xxx
 26       Belanja Tak Terduga                                                   xxx             xxx
 27       Bagi Hasil Pajak                                                      xxx             xxx
 28       Bagi Hasil Retribusi                                                  xxx             xxx
 29       Bagi Hasil Pendapatan Lainnya                                         xxx             xxx
 30       Jumlah Arus Keluar Kas (20 s/d 29)                                    xxx             xxx
 31       Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (18 - 30)                      xxx             xxx
 32       Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan
 33       Arus Masuk Kas




     52             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                              Analisis Laporan
                                                                                              Keuangan
                                                                                                         Daerah

                                            FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
                                               Lampiran I-C.4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                        LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
                 Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                          Metode Langsung
                                                                         (Dalam Rupiah)

No.   Uraian                                                                     20X1                  20X0



34    Pendapatan Penjualan atas Tanah                                              xxx                       xxx
35    Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin                                xxx                       xxx
36    Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan                                xxx                       xxx
37    Pendapatan Penjualan atas Jalan, Irigasi dan Jaringan                        xxx                       xxx
38    Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap                                         xxx                       xxx
39    Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya                                       xxx                       xxx
40    Jumlah Arus Masuk Kas (34 s/d 39)                                            xxx                       xxx
41    Arus Keluar Kas
42    Belanja Tanah                                                                xxx                       xxx
43    Belanja Peralatan dan Mesin                                                  xxx                       xxx
44    Belanja Gedung dan Bangunan                                                  xxx                       xxx
45    Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan                                          xxx                       xxx
46    Belanja Aset Tetap Lainnya                                                   xxx                       xxx
47    Belanja Aset Lainnya                                                         xxx                       xxx
48    Jumlah Arus Keluar Kas (42 s/d 47)                                           xxx                       xxx
49    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (40-48)           xxx                       xxx
50    Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan
51    Arus Masuk Kas
52    Pencairan Dana Cadangan
53    Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan                              xxx                       xxx
54    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat                                     xxx                       xxx
55    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya                            xxx                       xxx
56    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank                                xxx                       xxx
57    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank                          xxx                       xxx
58    Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi                                             xxx                       xxx
59    Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya                                              xxx                       xxx
60    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara                         xxx                       xxx
61    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                         xxx                       xxx
62    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya                 xxx                       xxx
63    Jumlah Arus Masuk Kas (52 s/d 62)                                            xxx                       xxx
64    Arus Keluar Kas
65    Pembentukan Dana Cadangan
66    Penyertaan Modal Pemerintah Daerah                                           xxx                       xxx




                                                  Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         53
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
Lampiran I-C.4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                            LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
                     Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                              Metode Langsung
                                                                             (Dalam Rupiah)

No.    Uraian                                                                 20X1            20X0



 67    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat               xxx             xxx
 68    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya      xxx             xxx
 69    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank          xxx             xxx
 70    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank    xxx             xxx
 71    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi                       xxx             xxx
 72    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya                        xxx             xxx
 73    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara                             xxx             xxx
 74    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                             xxx             xxx
 75    Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya                     xxx             xxx
 76    Jumlah Arus Keluar Kas (65 s/d 75)                                      xxx             xxx
 77    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (63 - 76)                     xxx             xxx
 78    Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran
 79    Arus Masuk Kas
 80    Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)                               xxx             xxx
 81    Jumlah Arus Masuk Kas (80)                                              xxx             xxx
 82    Arus Keluar Kas
 83    Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)                              xxx             xxx
 84    Jumlah Arus Keluar Kas (83)                                             xxx             xxx
 85    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (81 - 84)                   xxx             xxx
 86    Kenaikan/Penurunan Kas
 87    Saldo Awal Kas di BUD                                                   xxx             xxx
 88    Saldo Akhir Kas di BUD (86+87)                                          xxx             xxx
 89    Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran                                xxx             xxx
 90    Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan                                 xxx             xxx
 91    Saldo Akhir Kas (88+89+90)                                              xxx             xxx




  54               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                             Analisis Laporan
                                                                                             Keuangan
                                                                                                        Daerah

                                                FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI
                                     Sumber: Lampiran I-C.5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                     LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI
                 Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                          Metode Langsung
                                                                         (Dalam Rupiah)

No.   Uraian                                                                    20X1                  20X0



1     Arus Kas dari Aktivitas Operasi
2     Arus Masuk Kas
3     Pendapatan Pajak Daerah                                                     xxx                       xxx
4     Pendapatan Retribusi Daerah                                                 xxx                       xxx
5     Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan                xxx                       xxx
6     Lain-lain PAD yang sah                                                      xxx                       xxx
7     Dana Bagi Hasil Pajak                                                       xxx                       xxx
8     Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam                                            xxx                       xxx
9     Dana Alokasi Umum                                                           xxx                       xxx
10    Dana Alokasi Khusus                                                         xxx                       xxx
11    Dana Otonomi Khusus                                                         xxx                       xxx
12    Dana Penyesuaian                                                            xxx                       xxx
13    Pendapatan Hibah                                                            xxx                       xxx
14    Pendapatan Dana Darurat                                                     xxx                       xxx
15    Pendapatan Lainnya                                                          xxx                       xxx
16    Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 15)                                            xxx                       xxx
17    Arus Keluar Kas
18    Belanja Pegawai                                                             xxx                       xxx
19    Belanja Barang                                                              xxx                       xxx
20    Bunga                                                                       xxx                       xxx
21    Subsidi                                                                     xxx                       xxx
22    Hibah                                                                       xxx                       xxx
23    Bantuan Sosial                                                              xxx                       xxx
24    Belanja Tak Terduga                                                         xxx                       xxx
25    Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota                                          xxx                       xxx
26    Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota                                      xxx                       xxx
27    Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota                             xxx                       xxx
28    Jumlah Arus Keluar Kas (18 s/d 27)                                          xxx                       xxx
29    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (16 - 28)                            xxx                       xxx
30    Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan
31    Arus Masuk Kas
32    Pendapatan Penjualan atas Tanah                                             xxx                       xxx
33    Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin                               xxx                       xxx




                                                 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         55
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI
Sumber: Lampiran I-C.5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                         LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI
                     Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                              Metode Langsung
                                                                             (Dalam Rupiah)

No.    Uraian                                                                 20X1            20X0



 34    Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan                           xxx             xxx
 35    Pendapatan Penjualan atas Jalan, Irigasi dan Jaringan                   xxx             xxx
 36    Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Lainnya                            xxx             xxx
 37    Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya                                  xxx             xxx
 38    Jumlah Arus Masuk Kas (32 s/d 37)                                       xxx             xxx
 39    Arus Keluar Kas
 40    Belanja Tanah                                                           xxx             xxx
 41    Belanja Peralatan dan Mesin                                             xxx             xxx
 42    Belanja Gedung dan Bangunan                                             xxx             xxx
 43    Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan                                     xxx             xxx
 44    Belanja Aset Tetap Lainnya                                              xxx             xxx
 45    Belanja Aset Lainnya                                                    xxx             xxx
 46    Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d 45)                                      xxx             xxx
 47    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (38 - 46)    xxx             xxx
 48    Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan
 49    Arus Masuk Kas
 50    Pencairan Dana Cadangan                                                 xxx             xxx
 51    Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan                         xxx             xxx
 52    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat                                xxx             xxx
 53    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya                       xxx             xxx
 54    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank                           xxx             xxx
 55    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank                     xxx             xxx
 56    Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi                                        xxx             xxx
 57    Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya                                         xxx             xxx
 58    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara                    xxx             xxx
 59    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                    xxx             xxx
 60    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya            xxx             xxx
 61    Jumlah Arus Masuk Kas (50 s/d 60)                                       xxx             xxx
 62    Arus Keluar Kas
 63    Pembentukan Dana Cadangan                                               xxx             xxx
 64    Penyertaan Modal Pemerintah Daerah                                      xxx             xxx
 65    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Pemerintah Pusat                         xxx             xxx
 66    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Pemerintah Daerah Lainnya                xxx             xxx




  56               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                               Analisis Laporan
                                                                                               Keuangan
                                                                                                          Daerah

                                               FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI
                                    Sumber: Lampiran I-C.5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                    LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI
                Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                         Metode Langsung
                                                                        (Dalam Rupiah)

No.   Uraian                                                                      20X1                  20X0



67    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Lembaga Keuangan Bank                          xxx                       xxx
68    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Lembaga Keuangan Bukan Bank                    xxx                   xxx
69    Pembayaran Pokok Pinjaman DN - Obligasi                                       xxx                       xxx
70    Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya                                        xxx                       xxx
71    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara                                   xxx                       xxx
72    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                                   xxx                       xxx
73    Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya                           xxx                       xxx
74    Jumlah Arus Keluar Kas (63 s/d 73)                                            xxx                       xxx
75    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (61 - 74)                           xxx                       xxx
76    Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran
77    Arus Masuk Kas
78    Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)                                     xxx                       xxx
79    Jumlah Arus Masuk Kas (78)                                                    xxx                       xxx
80    Arus Keluar Kas
81    Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)                                    xxx                       xxx
82    Jumlah Arus Keluar Kas (81)                                                   xxx                       xxx
83    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (79 - 82)                         xxx                       xxx
84    Kenaikan/Penurunan Kas
85    Saldo Awal Kas di BUD                                                         xxx                       xxx
86    Saldo Akhir Kas di BUD (84+85)                                                xxx                       xxx
87    Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran                                      xxx                       xxx
88    Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan                                       xxx                       xxx
89    Saldo Akhir Kas (86+87+88)                                                    xxx                   xxx




                                                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         57
Analisis Laporan
Keuangan
             Daerah

FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
Sumber: Lampiran I-C.6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                      LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA
                      Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                               Metode Langsung
                                                                              (Dalam Rupiah)

No.       Uraian                                                               20X1            20X0



 1        Arus Kas dari Aktivitas Operasi
 2        Arus Masuk Kas
 3        Pendapatan Pajak Daerah                                               xxx             xxx
 4        Pendapatan Retribusi Daerah                                           xxx             xxx
 5        Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan          xxx             xxx
 6        Lain-lain PAD yang sah                                                xxx             xxx
 7        Dana Bagi Hasil Pajak                                                 xxx             xxx
 8        Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam                                      xxx             xxx
 9        Dana Alokasi Umum                                                     xxx             xxx
 10       Dana Alokasi Khusus                                                   xxx             xxx
 11       Dana Otonomi Khusus                                                   xxx             xxx
 12       Dana Penyesuaian                                                      xxx             xxx
 13       Pendapatan Bagi Hasil Pajak                                           xxx             xxx
 14       Pendapatan Bagi Hasil Lainnya                                         xxx             xxx
 15       Pendapatan Hibah                                                      xxx             xxx
 16       Pendapatan Dana Darurat                                               xxx             xxx
 17       Pendapatan Lainnya                                                    xxx             xxx
 18       Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 17)                                      xxx             xxx
 19       Arus Keluar Kas
 20       Belanja Pegawai                                                       xxx             xxx
 21       Belanja Barang                                                        xxx             xxx
 22       Bunga                                                                 xxx             xxx
 23       Subsidi                                                               xxx             xxx
 24       Hibah                                                                 xxx             xxx
 25       Bantuan Sosial                                                        xxx             xxx
 26       Belanja Tak Terduga                                                   xxx             xxx
 27       Bagi Hasil Pajak                                                      xxx             xxx
 28       Bagi Hasil Retribusi                                                  xxx             xxx
 29       Bagi Hasil Pendapatan Lainnya                                         xxx             xxx
 30       Jumlah Arus Keluar Kas (20 s/d 29)                                    xxx             xxx
 31       Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (18 - 30)                      xxx             xxx
 32       Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan
 33       Arus Masuk Kas




     58             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                               Analisis Laporan
                                                                                               Keuangan
                                                                                                          Daerah

                                          FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
                                       Sumber: Lampiran I-C.6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA
                 Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                          Metode Langsung
                                                                         (Dalam Rupiah)

No.   Uraian                                                                      20X1                  20X0



34    Pendapatan Penjualan atas Tanah                                               xxx                       xxx
35    Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin                                 xxx                       xxx
36    Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan                                 xxx                       xxx
37    Pendapatan Penjualan atas Jalan, Irigasi dan Jaringan                         xxx                       xxx
38    Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap                                          xxx                       xxx
39    Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya                                        xxx                       xxx
40    Jumlah Arus Masuk Kas (34 s/d 39)                                             xxx                       xxx
41    Arus Keluar Kas
42    Belanja Tanah                                                                 xxx                       xxx
43    Belanja Peralatan dan Mesin                                                   xxx                       xxx
44    Belanja Gedung dan Bangunan                                                   xxx                       xxx
45    Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan                                           xxx                       xxx
46    Belanja Aset Tetap Lainnya                                                    xxx                   xxx
47    Belanja Aset Lainnya                                                          xxx                       xxx
48    Jumlah Arus Keluar Kas (42 s/d 47)                                            xxx                       xxx
49    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (40 - 48)          xxx                       xxx
50    Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan
51    Arus Masuk Kas
52    Pencairan Dana Cadangan                                                       xxx                       xxx
53    Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan                               xxx                       xxx
54    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat                                      xxx                       xxx
55    Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya                             xxx                       xxx
56    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank                                 xxx                       xxx
57    Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank                           xxx                       xxx
58    Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi                                              xxx                       xxx
59    Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya                                               xxx                       xxx
60    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara                          xxx                       xxx
61    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                          xxx                       xxx
62    Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya                  xxx                       xxx
63    Jumlah Arus Masuk Kas (52 s/d 62)                                             xxx                       xxx
64    Arus Keluar Kas
65    Pembentukan Dana Cadangan                                                     xxx                       xxx
66    Penyertaan Modal Pemerintah Daerah                                            xxx                       xxx




                                                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         59
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
Sumber: Lampiran I-C.6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006



                     LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA
                     Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
                                              Metode Langsung
                                                                             (Dalam Rupiah)

No.    Uraian                                                                 20X1            20X0



 67    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Pusat               xxx             xxx
 68    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya      xxx             xxx
 69    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank          xxx             xxx
 70    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank    xxx             xxx
 71    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi                       xxx             xxx
 72    Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya                        xxx             xxx
 73    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara                             xxx             xxx
 74    Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah                             xxx             xxx
 75    Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya                     xxx             xxx
 76    Jumlah Arus Keluar Kas (65 s/d 75)                                      xxx             xxx
 77    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (63 - 76)                     xxx             xxx
 78    Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran
 79    Arus Masuk Kas
 80    Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)                               xxx             xxx
 81    Jumlah Arus Masuk Kas (80)                                              xxx             xxx
 82    Arus Keluar Kas
 83    Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)                              xxx             xxx
 84    Jumlah Arus Keluar Kas (83)                                             xxx             xxx
 85    Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (81 - 84)                   xxx             xxx
 86    Kenaikan/Penurunan Kas
 87    Saldo Awal Kas di BUD                                                   xxx             xxx
 88    Saldo Akhir Kas di BUD (86+87)                                          xxx             xxx
 89    Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran                                xxx             xxx
 90    Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan                                 xxx             xxx




  60               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                  Analisis Laporan
                                                                  Keuangan
                                                                             Daerah

E. Catatan atas Laporan Keuangan


           Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian
dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan
Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang
kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi
lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar
Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan
penyajian laporan keuangan secara wajar.


           Catatan atas Laporan Keuangan mengungkapkan hal-hal sebagai
berikut:
(a) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro,
   pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD, berikut kendala
   dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;
(b) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan;
(c) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan
   kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-
   transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya;
(d) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Standar Akuntansi
   Pemerintahan yang belum disajikan pada lembar muka (on the face) laporan
   keuangan;
(e) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul
   sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja
   dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas; dan
(f) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang
   wajar, yang tidak disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan.


           Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Lampiran I-D menjelaskan
bahwa sistematika Catatan atas Laporan Keuangan terdiri dari: Kebijakan
fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Undang-Undang APBN/
Perda APBD, ikhtisar pencapaian kinerja keuangan, kebijakan akuntansi, dan
penjelasan atas perkiraan Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan
Arus Kas.


           Dari beberapa hal yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan, adalah yang terakhir yang perlu kita bahas karena hal tersebut
relevan dengan pokok bahasan dalam modul ini. Pengungkapan atas komponen
laporan keuangan adalah sebagai berikut.




                      Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       61
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

Laporan Realisasi Anggaran
1. Pendapatan
   -   Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih
       lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran pendapatan.
   -   Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih
       antara pendapatan periode ini dengan pendapatan periode yang lalu.
   -   Penjelasan atas masing-masing jenis pendapatan.


2. Belanja
   -   Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih
       lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran belanja.
   -   Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih
       antara belanja periode ini dengan belanja periode yang lalu.
   -   Penjelasan atas masing-masing jenis belanja.


3. Transfer
   -   Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih
       lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran transfer.
   -   Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih
       antara transfer periode ini dengan transfer periode yang lalu.
   -   Penjelasan atas masing-masing jenis transfer.


4. Pembiayaan
   -   Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih
       lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran pembiayaan.
   -   Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih
       antara pembiayaan periode ini dengan pembiayaan periode yang lalu.
   -   Penjelasan atas masing-masing jenis pembiayaan.


Neraca
1. Aset Lancar
   Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos aset lancar,
   seperti Kas di Bendahara Pengeluaran, Kas di Bendahara Penerimaan,
   dan Piutang.


2. Investasi Jangka Panjang
   Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos investasi jangka
   panjang, seperti Penyertaan Modal Pemerintah, Investasi dalam Obligasi,
   dan Pinjaman kepada Perusahaan Daerah.




  62               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                              Analisis Laporan
                                                              Keuangan
                                                                         Daerah

3. Aset Tetap
   Untuk seluruh perkiraan yang ada dalam kelompok aset tetap, diungkapkan
   dasar pembukuannya. Diungkapkan pula (apabila ada) perbedaan pencatatan
   perolehan aset tetap yang terjadi antara unit keuangan dengan unit yang
   mengelola/mencatat aset tetap. Daftar aset tetap juga disertakan sebagai
   lampiran laporan keuangan.


4. Aset Lainnya
   Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos aset lainnya,
   seperti Tagihan Penjualan Angsuran, Tuntutan Ganti Rugi, dan Kemitraan
   dengan Pihak Ketiga.


5. Kewajiban Jangka Pendek
   Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Kewajiban Jangka
   Pendek, seperti Uang Muka dari Kas Umum Negara (KUN), Pendapatan
   yang Ditangguhkan, Bagian Lancar Utang Jangka Panjang, dan Utang
   Bunga.


6. Kewajiban Jangka Panjang
   Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Kewajiban Jangka
   Panjang, seperti Utang Dalam Negeri Obligasi, Utang Dalam Negeri Sektor
   Perbankan, dan Utang Luar Negeri.


7. Ekuitas Dana Lancar
   Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Ekuitas Dana
   Lancar, seperti Cadangan Piutang dan Cadangan Persediaan.


8. Ekuitas Dana Investasi
   Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Ekuitas Dana
   Investasi, seperti Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang dan
   Diinvestasikan dalam Aset Tetap.


Laporan Arus Kas
1. Arus Kas dari Aktivitas Operasi
   Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas operasi,
   seperti Pendapatan Pajak dan Belanja Pegawai.


2. Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan
   Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas investasi
   aset non-keuangan, seperti Pendapatan Penjualan Aset dan Belanja Aset.




                  Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       63
Analisis Laporan
Keuangan
           Daerah

3. Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan
    Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas pembiayaan,
    seperti Penerimaan Pinjaman dan Pembayaran Pokok Pinjaman.


4. Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran
    Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas non-anggaran,
    seperti Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga dan Pengeluaran Perhitungan
    Fihak Ketiga.


           Adapun pengungkapan-pengungkapan lain yang perlu diungkapkan
dalam Catatan atas Laporan keuangan adalah hal-hal yang mempengaruhi
laporan keuangan, antara lain:
a. Penggantian manajemen pemerintahan selama tahun berjalan.
b. Kesalahan manajemen terdahulu yang telah dikoreksi oleh manajemen
    baru
c. Kontijensi, yaitu suatu kondisi atau situasi yang belum memiliki kepastian
    pada tanggal neraca. Misalnya, jika ada tuntutan hukum yang substansial
    dan hasil akhirnya bisa diperkirakan. Kontijensi ini harus diungkapkan dalam
    catatan atas neraca.
d. Komitmen, yaitu bentuk perjanjian dengan pihak ketiga yang harus di
    ungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
e. Penggabungan atau pemekaran entitas tahun berjalan.
f. Kejadian yang mempunyai dampak sosial, misalnya adanya pemogokan
    yang harus ditanggulangi pemerintah
g. Kejadian penting setelah tanggal neraca (subsequent event) yang berpengaruh
    secara signifikan terhadap perkiraan yang disajikan dalam neraca.


F. Rangkuman


Proses penyusunan laporan pemerintahan daerah sebagai berikut:
•   Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku Pengguna Anggaran
    menyusun Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan
    Keuangan, disampaikan kepada kepala daerah melalui Pejabat Pengelola
    Keuangan Daerah (PPKD).
•   Kepala SKPD juga menyusun Laporan Kinerja dan menyampaikannya
    kepada kepala daerah dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
    Negara.
•   PPKD selaku Bendahara Umum Daerah (BUD) menyusun Laporan Realisasi
    Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan,
    disampaikan kepada kepala daerah.




    64             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

•   Berdasarkan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah serta
    laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah tersebut,
    Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Laporan Keuangan
    pemerintah daerah yang terdiri dari: Laporan Realisasi Anggaran, Neraca,
    Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.
•   PPKD menyampaikan Laporan Keuangan Pemda kepada kepala daerah
    untuk memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Selanjutnya,
    kepala daerah menyampaikannya kepada Badan Pemeriksa Keuangan
    (BPK).


Laporan Keuangan Pemerintah Daerah terdiri dari:
•   Laporan Realisasi Anggaran, menyajikan informasi mengenai pendapatan,
    belanja, transfer, dan pembiayaan.
•   Neraca, menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan pada
    tanggal tertentu, dengan menyajikan informasi mengenai aset, kewajiban,
    dan ekuitas dana.
•   Laporan Arus Kas, menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas
    operasional, investasi aset non keuangan, pembiayaan, dan transaksi non-
    anggaran yang menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran,
    dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu.
•   Catatan atas Laporan Keuangan, yang meliputi: Kebijakan fiskal/keuangan,
    ekonomi makro, pencapaian target Undang-Undang APBN/Perda APBD,
    ikhtisar pencapaian kinerja keuangan, kebijakan akuntansi, dan penjelasan
    atas perkiraan Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas.




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       65
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah




                          Halaman ini sengaja dikosongkan




  66               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                 Analisis Laporan
                                                                 Keuangan
                                                                            Daerah


                                                             Bab 4
               Konsep Analisis
               Laporan               Keuangan
  Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat:
  •   Memperoleh pemahaman mengenai perbedaan analisis laporan
      keuangan sektor bisnis dan sektor pemerintahan.
  •   Memperoleh pemahaman mengenai teknik-teknik yang digunakan
      dalam analisis laporan keuangan pemerintah daerah.




A. Pendahuluan


        Dalam literatur akuntansi, keuangan, dan pemeriksaan akuntan, kalau
kita coba bandingkan antara buku-buku yang mengulas tentang sektor publik
dan sektor bisnis, terlihat bahwa literatur untuk sektor publik relatif lebih sedikit.
Lebih jauh lagi, kalau kita coba untuk mencari lliteratur mengenai analisis
laporan keuangan sektor publik, maka akan sangat sulit kita memperolehnya
atau bahkan tidak akan mendapatkannya, karena memang sampai saat ini
belum ada.


        Tentang analisis laporan keuangan, memang telah lama banyak
dilakukan oleh pengguna laporan keuangan, tetapi terbatas pada sektor bisnis.
Manajemen perusahaan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan, seperti
investor, kreditor, analis keuangan, telah banyak menerapkan metode-metode
analisis laporan keuangan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan
yang telah dicapai dan untuk memprediksikan prospek perusahaan di masa
yang akan datang. Jadi, pelaku bisnis dan pihak-pihak terkait lainnya telah
banyak memanfaatkan hasil analisis laporan keuangan sebagai dasar bagi
pengambilan keputusan ekonomis yang mereka buat.


        Di sisi lain, analisis laporan keuangan di sektor pemerintahan hampir
tidak pernah dilakukan. Kalaupun dilakukan perhitungan-perhitungan melalui
pembandingan beberapa pos laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah




                     Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       67
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

daerah, itu pun dengan perhitungan sederhana dengan penggunaan yang
terbatas. Misalnya, bila kita ingin mengetahui kinerja pencapaian pendapatan
daerah, kita bandingkan antara realisasi pendapatan asli daerah dengan target/
anggarannya, atau menghitung perbandingan antara realisasi pendapatan pajak
daerah dengan total realisasi pendapatan asli daerah. Untuk menilai pelaksanaan
belanja modal misalnya, kita dapat membandingkan realisasi belanja modal
dengan pagunya, atau membandingkan realisasi belanja modal dengan realisasi
total belanja.


          Seiring dengan makin majunya penerapan prinsip akuntabilitas dan
transparansi, yang ditandai dengan perkembangan peraturan perundang-
undangan dalam bidang keuangan negara/daerah, maka dengan sendirinya
terjadi perubahan kebutuhan atas teknik analisis laporan keuangan pemerintah
daerah.


          Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara, maka setiap pengelola keuangan daerah harus menyampai-
kan laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangannya tidak saja dalam
bentuk Laporan Realisasi Anggaran, tetapi juga meliputi Neraca, Laporan Arus
Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan Daerah. Dengan bertambahnya
komponen laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tersebut, seyogya-
nya terdapat pula perkembangan teknik analisis laporan keuangan pemerintah
daerah, agar pengguna laporan keuangan memiliki dasar yang memadai dalam
mengevaluasi kondisi dan kinerja keuangan pemerintah daerah, yang pada
akhirnya hasil analisis laporan keuangan tersebut dapat digunakan sebagai
dasar dalam perumusan kebijakan anggaran daerah di masa mendatang.


B. Pengertian Analisis Laporan Keuangan


          Secara singkat analisis laporan keuangan dapat diartikan sebagai
upaya untuk mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan
suatu entitas tertentu. Untuk itu, seseorang yang melakukan analisis atas
laporan keuangan perlu menguraikan pos-pos laporan tersebut menjadi unit
informasi yang lebih rinci dan melihat hubungan antara satu dengan yang
lainnya guna mengetahui kondisi keuangan entitas tersebut untuk dijadikan
dasar dalam pengambilan keputusan.


          Analisis laporan keuangan dilakukan dengan menggunakan metode
dan teknik analisis tertentu dalam melihat ukuran dan hubungan unsur laporan
keuangan. Hasil dari analisis tersebut diharapkan dapat meminimalkan bahkan




  68               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

menghilangkan penilaian yang bersifat dugaan semata, ketidakpastian,
pertimbangan pribadi dan lain sebagainya. Bahkan melalui analisis laporan
keuangan juga kemungkinan dapat diketahui adanya kesalahan proses
akuntansi. Dengan demikian akan menambah keyakinan pengguna laporan
atas data atau informasi yang tersedia sehingga pengambilan keputusannya
menjadi lebih akurat.


        Beberapa karakteristik dari analisis laporan keuangan dapat diringkas
seperti di bawah ini.


•   Fokus pada laporan keuangan utama
    Sesuai pembahasan dalam modul ini, maka fokusnya adalah pada Laporan
    Realisasi APBD, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan
    Keuangan.
•   Memuat analisis hubungan
    Dalam hal ini, analisis laporan keuangan menguraikan hubungan pos-pos
    dalam satu laporan keuangan, hubungan pos-pos antar laporan keuangan,
    serta perbandingan dan kecenderungan pos-pos tersebut.
•   Memuat implikasi dan prediksi
    Analisis laporan keuangan dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak
    kejadian atau transaksi masa lalu sekaligus untuk meramalkan prospek
    keuangan di masa mendatang.
•   Dipengaruhi oleh kemampuan analis
    Bila terdapat beberapa analis atas satu informasi yang sama, kemungkinan
    masing-masing analis dapat memberikan hasil analisis yang berbeda,
    tergantung pada kemampuan atau ketajaman masing-masing analis.


        Seperti yang disebutkan pada poin fokus analisis laporan keuangan
di atas, maka kita akan menggunakan laporan keuangan pemerintah daerah
sebagai bahan utama dalam melakukan analisis. Dengan demikian, akurasi
hasil analisis laporan keuangannya sangat tergantung pada akurasi dan
validitas angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah
daerah tersebut. Oleh karena itu, hasil analisis laporan keuangan akan lebih
baik bila laporan keuangannya dihasilkan dari sistem akuntansi pemerintah
daerah yang sudah berjalan dengan baik, dan laporan keuangan tersebut
telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan.




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       69
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

C. Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan


          Telah kita bahas di bab sebelumnya, bahwa informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan adalah untuk tujuan umum, yang berarti bahwa
laporan tersebut disajikan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi semua
kelompok pengguna laporan keuangan. Oleh sebab itu, jika pengguna laporan
keuangan menginginkan informasi tambahan dari laporan keuangan yang
tersedia, maka perlu melakukan analisis atas laporan keuangan tersebut.
Dalam laporan keuangan pemerintah daerah misalnya, tidak ada informasi
yang menyebutkan derajat kemampuan pemda dalam membayar kembali
pinjaman yang diterimanya. Bila kita ingin menilai seberapa besar tingkat
kemampuan pemda membayar kewajibannya, maka kita perlu melakukan
analisis atas pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan pemda tersebut.


          Secara umum telah kita peroleh pemahaman bahwa tujuan analisis
laporan keuangan adalah untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan dari
suatu entitas. Adapun tujuan dari analisis laporan keuangan pemerintah daerah
adalah untuk hal-hal berikut ini.


•   Meyakini ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
•   Mengetahui kondisi keuangan pemerintah daerah serta perubahan-perubahan-
    nya
•   Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya.
•   Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan dana
    untuk kegiatannya.
•   Mengevaluasi kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan program-
    programnya.
•   Mengetahui potensi pemerintah daerah dalam menghasilkan sumber daya.


          Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita formulasikan beberapa
manfaat yang dapat kita peroleh dari kegiatan analisis laporan keuangan,
antara lain sebagai berikut:


•   Dapat menyediakan tambahan penjelasan atas data dan informasi yang
    memang sudah tersedia pada laporan keuangan.
•   Dapat memberikan informasi yang tidak secara eksplisit disajikan di dalam
    laporan keuangan
•   Dapat mengetahui terdapatnya kesalahan dan hal-hal yang bersifat tidak
    konsisten yang terkandung dalam laporan keuangan.
•   Dapat mengetahui sifat-sifat dari hubungan baik antar-pos maupun antar




    70             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

    laporan, yang dapat digunakan untuk prediksi, rating, dan lain sebagainya.
•   Dapat menilai perkembangan dan pencapaian yang diperoleh oleh suatu
    entitas serta membuat proyeksi keuangan di masa mendatang.
•   Dapat mengevaluasi kondisi keuangan entitas masa lalu, saat ini, dan
    perkiraan di masa yang akan datang.
•   Dapat mengetahui komposisi struktur keuangan entitas, sehingga dapat
    memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami oleh suatu entitas.


D. Rangkuman


        Analisis laporan keuangan merupakan upaya untuk mengidentifikasi
ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan pemerintah daerah, dengan
menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih
rinci dan melihat hubungan antar pos untuk mengetahui kondisi keuangan,
sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.


        Hasil dari analisis laporan keuangan diharapkan dapat meminimalkan
bahkan menghilangkan penilaian yang bersifat dugaan semata, ketidakpastian,
pertimbangan pribadi, dan kesalahan proses akuntansi.


        Karakteristik dari analisis laporan keuangan adalah: (a) fokus pada
laporan keuangan utama, (b) memuat analisis hubungan, (c) mengandung
implikasi dan prediksi, dan (d) hasilnya tergantung pada kemampuan analisnya.


        Secara umum, tujuan analisis laporan keuangan adalah untuk menilai
kondisi dan kinerja keuangan; sedangkan tujuan analisis laporan keuangan
daerah adalah untuk: (a) mengetahui kondisi keuangan pemerintah daerah
serta perubahan-perubahannya, (b) meyakini ketaatan terhadap peraturan
perundang-undangan yang berlaku, (c) mengetahui kemampuan pemerintah
daerah dalam memenuhi kewajibannya, (d) mengetahui kemampuan pemerintah
daerah dalam menyediakan dana untuk kegiatannya, (e) mengevaluasi kinerja
pemerintah daerah dalam melaksanakan program-programnya, dan (f)
mengetahui potensi pemerintah daerah dalam menghasilkan sumber daya.




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       71
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah




                               Halaman ini sengaja dikosongkan




  72               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                Analisis Laporan
                                                                Keuangan
                                                                           Daerah

                                                        Bab 5
         Analisis Laporan
         Keuangan               Pemerintah
    Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat:
    •   Memperoleh pemahaman mengenai perbedaan analisis laporan
        keuangan sektor bisnis dan sektor pemerintahan.
    •   Memperoleh pemahaman mengenai teknik-teknik yang digunakan
        dalam analisis laporan keuangan pemerintah daerah.




A. Kondisi Saat Ini


          Landasan teori untuk analisis laporan keuangan pada sektor bisnis
sudah lama menjadi pokok bahasan dalam literatur akuntansi dan keuangan.
Dapat dikatakan bahwa penggunaan teknik-teknik analisis laporan keuangan
di sektor bisnis memang sudah memiliki pijakan teori yang sudah mapan
dengan nama dan kaidah pengukuran yang standar.


Sedangkan pada sektor publik, khususnya pada lingkungan pemerintah
daerah, adalah sebaliknya. Penggunaannya masih sangat terbatas, dengan
fokus pada laporan realisasi anggaran, karena memang belum didukung
dengan pembahasan teori analisis laporan keuangan pemerintah yang
memadai. Oleh karena itu, belum ada nama dan kaidah pengukuran yang
seragam.


          Mengenai terbatasnya penggunaan teknik analisis laporan keuangan
pada pemerintah daerah, khususnya analisis perbandingan atau rasio, bila
dibandingkan dengan sektor bisnis, Widodo (2007)                   mengemukakan
penyebabnya adalah:


•   Keterbatasan penyajian laporan keuangan pada lembaga pemerintah
    daerah yang sifat dan cakupannya berbeda dengan penyajian laporan
    keuangan oleh lembaga perusahaan yang bersifat komersial.




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       73
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

•   Selama ini penyusunan APBD sebagian masih dilakukan berdasarkan
    pertimbangan incremental budget (seharusnya disusun berdasarkan
    pendekatan kinerja sebagaimana tersebut dalam pasal 20 Peraturan
    Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000), yaitu besarnya masing-masing
    komponen pendapatan dan belanja dihitung dengan meningkatkan persentase
    tertentu (biasanya berdasarkan tingkat inflasi). Karena disusun dengan
    pendekatan secara incremental, maka sering kali mengabaikan rasio keuangan
    dalam APBD, seperti adanya prinsip “yang penting pendapatan naik meskipun
    untuk menaikkannya itu diperlukan biaya yang tidak efisien”.


•   Penilaian keberhasilan APBD sebagai penilaian pertanggungjawaban
    pengelolaan keuangan daerah lebih ditekankan pada pencapaian target,
    sehingga kurang memperhatikan bagaimana perubahan yang terjadi pada
    komposisi ataupun struktur APBDnya.




B. Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah


         Sudah kita bahas pada bab sebelumnya, bahwa akurasi hasil analisis
laporan keuangan sangat tergantung pada akurasi dan validitas angka-angka
yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah daerah tersebut. Selain
itu, pada analisis laporan keuangan itu sendiri terdapat keterbatasan yang
inheren, antara lain sebagai berikut.


1. Sifat laporan keuangan adalah historis.
    Laporan keuangan menyajikan informasi mengenai transaksi dan kejadian
    pada masa lalu. Oleh karena itu, laporan keuangan tidak dapat dianggap
    sebagai laporan mengenai keadaan saat ini. Akuntansi bukan merupakan
    satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan
    ekonomis.


2. Informasi dalam laporan keuangan adalah bertujuan umum
    Informasi dalam laporan keuangan tidak dirancang untuk memenuhi
    kebutuhan informasi secara khusus bagi setiap kelompok pengguna laporan
    keuangan. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah
    teknis, dan pengguna laporan diasumsikan memahami bahasa teknis
    akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan. Oleh karena itu, dibutuhkan
    pemahaman dasar terhadap akuntansi dan laporan keuangan yang disusun
    berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan.




    74             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                Analisis Laporan
                                                                Keuangan
                                                                           Daerah

3. Penggunaan taksiran dalam laporan keuangan
   Di dalam penyusunan laporan keuangan tidak dapat dihindari adanya
   penggunaan estimasi akuntansi, yang cenderung bersifat subyektif. Misalnya,
   estimasi atas kemungkinan tidak tertagihnya piutang, estimasi masa manfaat
   atau umur ekonomis aset tetap, dan lain sebagainya.


4. Hakikat laporan keuangan adalah informasi kuantitatif
   Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan, terutama berupa informasi
   kuantitatif yang bersifat keuangan. Oleh sebab itu, hasil analisis laporan
   keuangan dengan sendirinya juga bersifat kuantitatif. Sedangkan informasi
   yang dibutuhkan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja
   pemerintah bukan hanya informasi kuantitatif, tetapi juga informasi kualitatif.
   Contoh informasi kualitatif yang relevan dengan analisis laporan keuangan
   adalah opini auditor independen mengenai laporan keuangan pemerintah
   daerah, alasan-alasan tidak tercapainya target pajak daerah, alasan-alasan
   meningkatnya jumlah defisit dari yang dianggarkan.


5. Laporan keuangan lebih menggambarkan kinerja keuangan
   Laporan keuangan yang menjadi obyek analisis adalah laporan keuangan
   yang lebih menggambarkan kinerja keuangan. Meskipun APBD disusun
   dengan pendekatan kinerja, akan tetapi kinerja pelaksanaan program dan
   kegiatan tidak dapat dilihat dalam laporan realisasi anggaran, melainkan
   dalam laporan kinerja instansi pemerintah. Dengan demikian, analisis
   laporan keuangan dapat dikatakan lebih cenderung pada analisis kinerja
   keuangan. Namun demikian, analisis dapat dikembangkan sampai kepada
   analisis kinerja program/kegiatan dengan mengumpulkan data-data
   mengenai rencana dan realisasi program/kegiatan berikut target dan
   capaian kinerjanya.




C. Teknik Analisis Laporan Keuangan Pemerintah


        Pada sub bab terakhir ini, yang sekaligus merupakan sub topik terakhir
dari bagian kedua (Dasar-dasar Analisis Laporan Keuangan), akan dikemuka-
kan teknik-teknik yang akan digunakan dalam pembahasan Analisis Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah pada bagian ketiga, yang merupakan bagian
terakhir dari modul ini.


Teknik-teknik yang akan digunakan adalah sebagai berikut.




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       75
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

1. Analisis hubungan pos-pos laporan keuangan
   Teknik analisis hubungan dilakukan dengan menguji hubungan logis antar
   pos, baik dalam satu laporan keuangan maupun antar laporan. Tujuan
   analisis ini adalah untuk menguji kebenaran angka-angka laporan keuangan
   yang disajikan. Misalnya, adanya belanja modal di laporan realisasi APBD,
   semestinya berkorelasi langsung dengan kenaikan aset tetap. Untuk itu,
   harus dilakukan analisis apakah kedua pos tersebut terbukti berhubungan.
   Pembahasan selengkapnya terdapat di bab 6.


2. Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan
   Teknik analisis perbandingan dilakukan dengan membandingkan satu atau
   beberapa pos dengan satu atau beberapa pos lainnya dalam satu periode.
   Analisis ini dapat juga digunakan untuk membandingkan satu pos yang
   sama dalam laporan keuangan dua periode yang berurutan. Tujuan analisis
   ini antara lain untuk menilai kondisi atau kinerja keuangan pemerintah
   daerah. Misalnya, rasio realisasi pajak daerah, diperoleh dari perhitungan
   atau perbandingan antara realisasi pajak daerah dengan anggarannya
   atau target pajak daerah. Bila hasil perbandingannya menunjukkan angka
   lebih besar dari 1, berarti mengindikasikan tingkat capaian yang baik.
   Semakin besar angka rasionya, maka semakin baik pula kinerja dari
   pencapaian pajak daerah tersebut. Selengkapnya mengenai teknik analisis
   perbandingan ini, dibahas dalam bab 7.


3. Analisis kecenderungan pos-pos laporan keuangan
   Teknik analisis kecenderungan dilakukan dengan membandingkan pos yang
   sama untuk periode lebih dari dua tahun, sehingga diperoleh gambaran
   mengenai kecenderungan dari suatu pos dalam laporan keuangan pemerintah
   daerah. Analisis kecenderungan ini umumnya digunakan dalam membuat
   prediksi keuangan. Misalnya prediksi pencapaian pajak daerah pada tahun
   yang akan datang, diperkirakan berdasarkan data atau informasi ke-
   cenderungan pencapaian pajak daerah beberapa periode yang lalu sampai
   saat dilakukannya analisis kecenderungan. Teknik analisis kecenderungan
   ini akan dibahas di bab 8, yaitu bab terakhir dalam modul ini.


D. Rangkuman


          Akurasi hasil analisis laporan keuangan sangat tergantung pada
akurasi dan validitas laporan keuangan pemerintah daerah. Lebih jauh, analisis
laporan keuangan itu sendiri mengandung keterbatasan inheren, antara lain,
adalah:




  76               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

•   Sifat laporan keuangan adalah historis.
•   Informasi dalam laporan keuangan adalah bertujuan umum.
•   Penggunaan taksiran dalam laporan keuangan.
•   Hakikat laporan keuangan adalah informasi kuantitatif.
•   Laporan keuangan lebih menggambarkan kinerja keuangan.


        Teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan
Pemerintah Daerah adalah:
•   Analisis hubungan pos-pos laporan keuangan.
•   Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan.
•   Analisis kecenderungan pos-pos laporan keuangan.




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       77
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah




                          Halaman ini sengaja dikosongkan




  78               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

                                              Bab 6
                 Analisis
                      Hubungan
    Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat:
    •   Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos pada Laporan
        Realisasi APBD.
    •   Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos pada Neraca.
    •   Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos laporan
        keuangan pada Realisasi APBD dan Neraca.
    •   Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos laporan
        keuangan pada Arus Kas, Realisasi APBD dan Neraca.




A. Pendahuluan


          Pengguna laporan keuangan harus memahami bahwa pos-pos di
dalam suatu laporan keuangan dapat mempunyai kaitan atau hubungan satu
dengan lainnya. Contoh sederhana, jumlah ekuitas dana lancar, di dalam
neraca, harus sama dengan aset lancar dikurangi kewajiban jangka pendek.
Demikian halnya, beberapa pos antar laporan keuangan dapat mempunyai
kaitan satu dengan lainnya, misalnya jumlah akhir kas di dalam laporan arus
kas harus sama dengan jumlah akhir kas di dalam neraca. Contoh lain, jumlah
arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan di dalam laporan arus kas, harus
sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan di dalam laporan realisasi
anggaran.


Berikut adalah pembahasan mengenai hubungan pos-pos laporan keuangan
pemerintah daerah, yang meliputi:
•   Laporan Realisasi APBD,
•   Neraca,
•   Laporan Realisasi APBD dan Neraca,
•   Laporan Arus Kas, Laporan Realisasi APBD dan Neraca.




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       79
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

B. Laporan Realisasi APBD


         Pada saat penyusunan APBD harus diperhatikan rencana pembiayaan
untuk mengalokasikan (menutup) surplus/defisit. Untuk membahas beberapa
hubungan antar pos di dalam laporan realisasi APBD, perhatikan kembali
format laporan realisasi APBD pada bab 3, yang secara ringkas dapat dilihat
sebagai berikut:




                                   Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Y”
                                    Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200X




    PENDAPATAN
        Pendapatan Asli Daerah                                                xxx
        Dana Penimbangan                                                      xxx
        Lain-Lain Pendapatan yang Sah                                         xxx
            Total Pendapatan : (1)                                                  xxx


    BELANJA
        Belanja Operasi                                                       xxx
        Belanja Modal                                                         xxx
        Belanja Tak Terduga                                                   xxx
            Total Belanja : (2)                                                     xxx
        Surplus (Defisit) : (3) = (1) – (2)                                         xxx


    PEMBIAYAAN
        Penerimaan Pembiayaan : (4)                                           xxx
        Pengeluaran Pembiayaan : (5)                                          xxx
        Pembiayaan Neto : (6) = (4) – (5)                                           xxx


    Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) : (7) = (3) + (6)                        xxx




Hubungan antar pos laporan realisasi APBD adalah sebagai berikut:


1) Bila anggaran direncanakan defisit (negatif), maka jumlah pembiayaan
   neto harus positif dengan jumlah minimal sama dengan jumlah defisit
   tersebut. Jumlah pembiayaan neto positif berarti jumlah penerimaan
   pembiayaan lebih besar dari pada jumlah pengeluaran pembiayaan.




  80               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                 Analisis Laporan
                                                                 Keuangan
                                                                            Daerah

                                         Defisit < Pembiayaan neto positif



Kondisi yang salah :
                                         Defisit > Pembiayaan neto positif




  Ilustrasi:

                                                           (dalam jutaan rupiah)

       Pendapatan                                                          60.710
       Belanja                                                             69.800
       Defisit                                                             (9.090)
       Pembiayaan:
          Penerimaan Pembiayaan*                         9.590
          Pengeluaran Pembiayaan                         (500)
          Pembiayaan Neto                                                       9.090


       Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran                                               -



   *     Pembiayaan neto minimal harus sama dengan jumlah defisit yaitu Rp
         9.090. Bila direncanakan ada pengeluaran pembiayaan misalnya sebesar
         Rp 500, maka jumlah penerimaan pembiayaan minimal sebesar Rp
         9.590 atau dengan rumus:


        Penerimaan Pembiayaan > Defisit + Pengeluaran Pembiayaan



2) Pembiayaan neto yang jumlahnya negatif hanya diijinkan bila anggaran
   direncanakan surplus, dan jumlah surplusnya minimal sama dengan jumlah
   pembiayaan neto yang negatif tersebut. Jumlah pembiayaan neto negatif
   berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih kecil dari jumlah pengeluaran
   pembiayaan.


Kondisi yang benar :
                                         Surplus > Pembiayaan neto negatif



Kondisi yang salah :
                                         Surplus < Pembiayaan neto negatif




                     Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       81
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

    Ilustrasi:

                                                              (dalam jutaan rupiah)

    Pendapatan                                                                60.710
    Belanja                                                                   59.800
    Surpus                                                                       910
    Pembiayaan:
        Penerimaan Pembiayaan                                   3.000
        Pengeluaran Pembiayaan                                (3.500)
        Pembiayaan Neto                                                        (500)
    Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran                                               410




3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) akan muncul dalam beberapa
   kondisi berikut:


   (a) Bila jumlah pembiayaan neto positif lebih besar daripada jumlah defisit,
       maka selisihnya menjadi SiLPA.



                                   SiLPA = Defisit + Pembiayaan neto positif

                                   Syarat: Pembiayaan neto positif > Defisit




    Ilustrasi:

                                                              (dalam jutaan rupiah)

    Pendapatan                                                                60.710
    Belanja                                                                   69.800
    Defisit                                                                   (9.090)
    Pembiayaan:
        Penerimaan Pembiayaan                                 10.590
        Pengeluaran Pembiayaan                                  (500)
        Pembiayaan Neto                                       10.090
        Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran                                         1.000




   (b) Bila terjadi surplus dan pembiayaan neto positif.


                                   SiLPA = Surplus + Pembiayaan neto positif




  82               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

    Ilustrasi:

                                                         (dalam jutaan rupiah)

    Pendapatan                                                          60.710
    Belanja                                                             59.800
    Surplus                                                                   910
    Pembiayaan:
       Penerimaan Pembiayaan                             10.590
       Pengeluaran                                        (500)
       Pembiayaan Neto                                                  10.090
    Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran                                      11.000




   (c) Bila terjadi pembiayaan neto negatif tetapi surplusnya lebih besar.



                             SiLPA = Surplus + Pembiayaan neto negatif

                             Syarat: Surplus > Pembiayaan neto negatif




    Ilustrasi:

                                                         (dalam jutaan rupiah)

    Pendapatan                                                          60.710
    Belanja                                                             59.800
    Surplus                                                                   910
    Pembiayaan:
       Penerimaan Pembiayaan                              3.000
       Pengeluaran Pembiayaan                            (3.500)
       Pembiayaan Neto                                                    (500)
    Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran                                            410




C. Neraca




        Sebagaimana yang telah dibahas pada bab 3, neraca memberikan
informasi mengenai posisi keuangan, yaitu posisi aset, kewajiban dan ekuitas
dana pada tanggal tertentu. Informasi keuangan di dalam neraca dapat
memberikan manfaat, antara lain, sebagai berikut:




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik         83
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

•   Meningkatkan akuntabilitas untuk para manajer (kepala daerah dan para
    pejabat pemda) ketika mereka menjadi bertanggung jawab tidak hanya
    pada kas masuk dan kas keluar, tetapi juga pada aset dan utang yang
    mereka kelola;
•   Meningkatkan transparansi dari aktivitas pemerintah. Pemerintah umumnya
    mempunyai jumlah aset yang signifikan dan utang, pengungkapan atas
    informasi ini merupakan suatu elemen dasar dari transparansi fiskal dan
    akuntabilitas.
•   Memfasilitasi penilaian posisi keuangan dengan menunjukkan semua
    sumber daya dan kewajiban.
•   Memberikan informasi yang lebih luas yang dibutuhkan untuk pengambilan
    keputusan.


         Bila tidak ada informasi mengenai posisi aset, kewajiban dan ekuitas
dana seperti yang dilaporkan dalam neraca, maka akan mengakibatkan, antara
lain, hal-hal sebagai berikut:


•   Pengaruh dari transaksi keuangan pada pemerintah daerah dalam suatu
    periode tidak tercermin secara penuh, misalnya tidak ada pelaporan mengenai
    piutang pajak, saldo aktiva persediaan, aktiva dalam konstruksi, kewajiban
    saat ini untuk menyerahkan (membayar) sejumlah uang atau barang di masa
    yang akan datang.
•   Akuntabilitas terbatas pada penerimaan dan pengeluaran kas dan mengabai-
    kan transparansi dan akuntabilitas untuk pengelolaan aset dan utang;
•   Tidak memfasilitasi penilaian posisi keuangan, karena tidak menunjukkan
    semua sumber daya dan kewajiban.
•   Informasi yang dibutuhkan tidak memadai untuk pengambilan keputusan
    yang lebih baik.


         Untuk menguraikan beberapa hubungan antar pos di dalam neraca,
perhatikan kembali format neraca pada bab 3, yang secara ringkas terlihat
seperti di bawah ini.




    84             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                          Analisis Laporan
                                                                                          Keuangan
                                                                                                     Daerah

                                               NERACA
                                        Pemerintah Daerah “Y”
                                        Per 31 Desember 200X




ASET                                                   KEWAJIBAN
                                                       Kewajiban Jangka Pendek                           xxx
Aset Lancar                             xxx            Kewajiban Jangka Panjang                          xxx
Investasi Jangka Panjang                xxx                Total Kewajiban                               xxx


Aset Tetap                              xxx            EKUITAS DANA
Dana Cadangan                           xxx            Ekuitas Dana Lancar                               xxx
Aset Lainnya                            xxx            Ekuitas Dana Investasi                            xxx
                                                       Ekuitas Dana Cadangan                             xxx
                                                           Total Ekuitas Dana                            xxx
Total Aset                              xxx            Total Kewajiban dan Ekuitas Dana                  xxx




                           Hubungan antar pos-pos di dalam neraca adalah sebagai berikut:


                           1). Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas dana. Bila tidak,
                              dapat dipastikan masih ada kesalahan dalam penyusunan neraca tersebut.


                                                                  Aset = Kewajiban + Ekuitas Dana




                           2) Ekuitas dana menunjukkan jumlah aset bersih pemerintah daerah. Oleh
                              karena itu, total ekuitas dana harus sama dengan selisih antara total aset
                              dengan kewajiban.

                                                                  Ekuitas Dana = Aset – Kewajiban



                           3). Jumlah Ekuitas Dana Lancar harus sama dengan jumlah aset lancar di-
                              kurangi kewajiban jangka pendek.


                                Ekuitas Dana Lancar = Aset Lancar – Kewajiban Jangka Pendek


                           4). Jumlah SiLPA di dalam ekuitas dana lancar adalah jumlah total kas dikurangi
                              Utang Perhitungan Fihak Ketiga (potongan taspen, askes, PPh dan PPn).


                                                                     SiLPA = Total Kas – Utang PFK




                                              Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       85
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

5). Jumlah Ekuitas Dana Investasi diperoleh dengan persamaan berikut:


       Ekuitas Dana Investasi = Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap
                          + Aset Lainnya – Kewajiban Jangka Panjang



6) Jumlah ekuitas dana cadangan menunjukkan jumlah aset berupa dana
   cadangan. Oleh karena itu, jumlah ekuitas dana cadangan sama dengan
   jumlah dana cadangan.


                                  Ekuitas Dana Cadangan = Dana Cadangan




   Ilustrasi: Data aset dan kewajiban Pemda ‘P’ untuk menyusun Neraca
              per 31 Desember 200X adalah sebagai berikut:

                                                              (dalam jutaan rupiah)

    ASET
    Aset Lancar                                                       Rp 2.130
    Investasi Jangka Panjang                                          Rp 2.450
    Aset Tetap                                                        Rp 8.620
    Dana Cadangan                                                     Rp      560
    Aset Lainnya                                                      Rp       75
            Total Aset                                                Rp13.835
    KEWAJIBAN
    Kewajiban Jangka Pendek                                           Rp      500
    Kewajiban Jangka Panjang                                          Rp 2.500
            Total Kewajiban                                           Rp 3.000



Berdasarkan data di atas komponen ekuitas dana dapat dihitung sbb.:
1) Total Ekuitas Dana = Total Aset - Total Kewajiban
   Total Ekuitas Dana = Rp 13.835 - Rp 3.000
   Total Ekuitas Dana = Rp 10.835
2) Ekuitas Dana Lancar = Aset Lancar - Kewajiban Jangka Pendek
   Ekuitas Dana Lancar = Rp 2.130 – Rp 500
   Ekuitas Dana Lancar = Rp 1.630
3) Ekuitas Dana Investasi = (Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset
   Lainnya) – Kewajiban Jangka Panjang
   Ekuitas Dana Investasi = (Rp 2.450 + Rp 8.620 + Rp 75) – Rp 2.500
   Ekuitas Dana Investasi = Rp 8.645
4) Ekuitas Dana Cadangan = Dana Cadangan
   Ekuitas Dana Cadangan = Rp 560




  86               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                          Analisis Laporan
                                                                                          Keuangan
                                                                                                     Daerah

                       Setelah komponen ekuitas dana ditentukan, neraca dapat disusun sebagai
                       berikut:



                                             NERACA
                                      Pemerintah Daerah “P”
                                      Per 31 Desember 200X

ASET                                    Rp             KEWAJIBAN                                            Rp


Aset Lancar                           2.130            Kewajiban Jangka Pendek                             500
                                                       Kewajiban Jangka Panjang                           2.500
Investasi Jangka Panjang              2.450                Total Kewajiban                                3.000
Aset Tetap                            8.620            EKUITAS DANA
Dana Cadangan                          560             Ekuitas Dana Lancar                                1.630
Aset Lainnya                            75             Ekuitas Dana Investasi                             8.645
                                                       Ekuitas Dana Cadangan                               560
                                                           Total Ekuitas Dana                            10.835


Total ASET                           13.835            Total Kewajiban dan Ekuitas Dana                  13.835




                       D. Laporan Realisasi APBD dan Neraca


                                  Untuk mengetahui hubungan antara laporan realisasi APBD dan
                       neraca, dapat dilakukan analisis sebagai berikut :


                       1) Bila ada belanja modal dalam laporan realisasi APBD, maka jumlah aset
                           tetap di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama.


                       2) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penerimaan pinjaman dalam
                           laporan realisasai APBD, maka jumlah kewajiban (utang) di dalam neraca
                           harus bertambah dengan jumlah yang sama. Demikian sebaliknya, jika
                           terjadi pengeluaran pembiayaan berupa pembayaran pinjaman, jumlah
                           kewajiban di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama.


                       3) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penggunaan dana cadangan
                           dalam laporan realisasi APBD, maka jumlah dana cadangan (aset) di dalam
                           neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama. Demikian sebaliknya,
                           jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa pembentukan dana cadangan,
                           jumlah dana cadangan (aset) di dalam neraca harus bertambah dengan
                           jumlah yang sama.




                                              Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       87
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

4) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penjualan investasi perusahaan
   daerah dalam laporan realisasi APBD, maka jumlah investasi jangka
   panjang (aset) di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama.
   Demikian sebaliknya, jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa penyertaan
   modal dalam perusahaan daerah, jumlah investasi jangka panjang (aset)
   di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama.


5) SiLPA pada kelompok ekuitas dana lancar di neraca harus sama dengan
   jumlah SiLPA (akhir tahun) di laporan realisasi APBD. SiLPA di neraca
   diperoleh dengan perhitungan: jumlah total kas dikurangi kewajiban pada
   PFK (potongan taspen, askes, dan PPh dan PPn yang belum disetor).


E. Laporan Arus Kas, Realisasi APBD, dan Neraca


         Untuk mengetahui hubungan Laporan Arus Kas dengan beberapa
pos laporan keuangan lainnya, perhatikan kembali format Laporan Arus Kas
pada bab 3, yang bentuk ringkasnya seperti di bawah ini.


                               LAPORAN ARUS KAS
                              Pemerintah Daerah “Y”
                    Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200X



    Arus Kas Dari Aktivitas Operasi                                           xxx
    Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan                       xxx
    Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan                                        xxx
    Arus Kas Dari Aktivitas Non Anggaran                                      xxx
            Kenaikan/Penurunan Kas                                            xxx
            Saldo Kas Pada Awal Tahun                                         xxx
            Saldo Kas Pada Akhir Tahun                                        xxx




         Hubungan berikut perlu diperhatikan dalam menilai kebenaran angka-
angka dalam laporan arus kas, antara lain:


1) Saldo kas pada akhir tahun dalam Laporan Arus Kas harus sama dengan
   jumlah kas pada akhir tahun di Neraca (per 31 Desember 200X).


2) Apakah jumlah arus kas masuk dari aktivitas operasi sudah benar?. Untuk
   mengujinya dapat dibandingkan dengan jumlah pendapatan daerah dalam
   laporan realisasi anggaran dengan rumus sebagai berikut :




  88               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                              Analisis Laporan
                                                              Keuangan
                                                                         Daerah


  Arus kas masuk dari aktivitas operasi = jumlah pendapatan daerah
                     – penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan




Perhatikan:
   (a) Arus kas masuk dari aktivitas operasi yang berasal dari Lain-lain PAD
      tidak termasuk pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak
      dipisahkan. Alasannya, penjualan aset tersebut dalam laporan arus kas
      dilaporkan dalam arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non
      keuangan.
   (b) Laporan arus kas hanya melaporkan transaksi kas baik pendapatan,
      belanja maupun pembiayaan. Sebagai contoh, pendapatan berupa
      hibah dalam bentuk barang tidak akan dilaporkan dalam laporan arus
      kas, tetapi dalam laporan realisasi APBD hibah tersebut tentu akan
      dilaporkan, meski dalam bentuk barang.


3) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas operasi sama dengan jumlah total
   belanja dalam Laporan Realisasi Anggaran tetapi tidak termasuk belanja
   modal.


4) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama
   dengan jumlah pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan
   yang dilaporkan dalam Laporan Realisasi Anggaran sebagai kelompok
   Lain-lain PAD (perhatikan penjelasan pada angka 2 huruf (a) di atas)


5) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama
   dengan jumlah belanja modal di laporan realisasi anggaran.


6) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan tidak akan sama dengan
   jumlah penerimaan pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran, sebab
   SiLPA tahun anggaran sebelumnya tidak dianggap sebagai komponen
   arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan.


7) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan harus sama dengan
   jumlah pengeluaran pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran.




                  Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       89
Analisis Laporan
Keuangan
            Daerah

                              Laporan Realisasi APBD
                              Pemerintah Daerah “Q”
                    Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2005



     PENDAPATAN
     Pendapatan Asli Daerah
     (termasuk penjualan aset daerah yang dipisahkan
     sebesar Rp 10)                                               10.450
     Dana Perimbangan                                             50.000
     Lain-Lain Pendapatan yang Sah                                   260
     Total Pendapatan : (1)                                                      60.710


     BELANJA
     Belanja Operasi                                              40.200
     Belanja Modal                                                24.100
     Belanja Tak Terduga                                           5.500
              Total Belanja : (2)                                                69.800
     Surplus (Defisit) : (3) = (1) – (2)                                         (9.090)


     PEMBIAYAAN
     Penerimaan Pembiayaan : (4)
     (termasuk SiLPA tahun sebelumnya Rp 15.200)                  21.400
     Pengeluaran Pembiayaan (5)                                   (5.200)
     Pembiayaan neto : (6) = (4) – (5)                                           16.200
     Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA): (7) = (3) + (6)                      7.110




Data lainnya mengenai posisi utang PFK dan kas:


•   Data mengenai jumlah potongan PFK (Taspen, Askes, dan PPh 21) adalah
    sebagai berikut:



         Utang PFK per 31 Desember 2004 (PFK yang belum
         disetor sampai akhir tahun)                                            Rp 55
         Potongan PFK selama tahun 2005                                       Rp 4.800
         Jumlah PFK yang harus disetor                                        Rp 4.855
         Jumlah yang telah disetor selama tahun 2005                          Rp 4.820
         Utang PFK per 31 Desember 2005 (PFK yang belum
         disetor sampai akhir tahun)                                            Rp 35




    90             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                Analisis Laporan
                                                                Keuangan
                                                                           Daerah

•   Data saldo kas dalam neraca adalah sbb.:



      Saldo kas dalam Neraca per 31 Desember 2004                      Rp 15.255
      Saldo kas dalam Neraca per 31 Desember 2005                       Rp 7.145



         Berdasarkan data-data di atas laporan arus kas dapat disusun dengan
melakukan analisis sbb.:


1) Arus kas masuk dari aktivitas operasi =
    Total Pendapatan – Penjualan Aset Daerah yang Dipisahkan
    Arus kas masuk dari aktivitas operasi =
    Rp 60.710 – Rp 10 = Rp 60.700


2) Arus kas keluar dari aktivitas operasi =
    Total Belanja – Belanja Modal = Arus kas keluar dari aktivitas operasi =
    Rp 69.800 – Rp 24.100 = Rp 45.700


3) Arus kas masuk berasal dari aktivitas investasi non-keuangan =
    Lain-lain PAD yang berasal dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan.
    Arus kas masuk dari aktivitas investasi non-keuangan = Rp 10


4) Arus kas keluar dari aktivitas investasi non-keuangan = belanja modal.
    Arus kas keluar dari aktivitas investasi non-keuangan = Rp 24.100


5) Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan =
    Jumlah penerimaan pembiayaan – SiLPA tahun sebelumnya
    Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Rp 21.400 – Rp 15.200
    Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Rp 6.200


6) Arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan = jumlah pengeluaran pembiayaan
    Arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan = Rp 5.200


7) Arus kas masuk dari aktivitas non-anggaran = jumlah potongan PFK tahun
    berjalan
    Arus kas masuk dari aktivitas non-anggaran = Rp 4.800


8) Arus kas keluar dari aktivitas non-anggaran = jumlah potongan PFK yang
    disetor selama tahun berjalan
    Arus kas keluar dari aktivitas non-anggaran = Rp 4.820




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       91
Analisis Laporan
Keuangan
            Daerah

         Selanjutnya, laporan arus kas secara ringkas dapat disusun sebagai
berikut :



                               LAPORAN ARUS KAS
                              Pemerintah Daerah “Q”
                    Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2005
                                (dalam jutaan rupiah)

                                                                                Rp

    Arus Kas Dari Aktivitas Operasi
        (Rp 60.700 – Rp 45.700)                                                15.000
    Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Aset Non-Keuangan
        (Rp 10 – Rp 24.100)                                                   (24.090)
    Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan
        (Rp 6.200 – Rp 5.200)                                                   1.000
    Arus Kas Dari Aktivitas Non-Cadangan
        (Rp 4.800 – Rp 4.820)                                                     (20)
    Kenaikan (Penurunan) Kas                                                   (8.110)
    Saldo Kas Pada Awal Tahun                                                  15.255
    Saldo Kas Pada Akhir Tahun                                                  7.145




         Berdasarkan contoh di atas, SiLPA akhir tahun dalam Laporan Realisasi
APBD Pemda “Q” untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2005 adalah Rp
7.110. Jumlah SiLPA tersebut harus sama dengan jumlah SiLPA yang akan
dilaporkan pada kelompok “Ekuitas Dana Lancar” di Neraca, yang dapat
dihitung dengan rumus:


  SiLPA = Jumlah kas akhir tahun – Jumlah Kewajiban PFK akhir tahun



Berdasarkan data mengenai posisi kas dan utang PFK di atas, SiLPA dalam
neraca dapat dihitung:

                                          SiLPA = Rp 7.145 – Rp 35 = Rp 7.110.




         Ternyata, jumlah SiLPA akhir tahun di Laporan Realisasi APBD sudah
sama dengan jumlah SiLPA di Neraca. Pengujian ini memberikan salah satu
indikasi bahwa penyusunan laporan keuangan sudah benar.




  92               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                  Analisis Laporan
                                                                  Keuangan
                                                                             Daerah

F. Rangkuman


Hubungan antar pos laporan realisasi APBD adalah sebagai berikut:
1) Bila anggaran direncanakan defisit (negatif), maka jumlah pembiayaan neto
   harus positif, dengan jumlah minimal sama dengan jumlah defisit tersebut.
   (Jumlah pembiayaan neto positif berarti jumlah penerimaan pembiayaan
   lebih besar dari pada jumlah pengeluaran pembiayaan).
2) Pembiayaan neto negatif hanya diijinkan bila anggaran direncanakan
   surplus, dan jumlah surplusnya minimal sama dengan jumlah pembiayaan
   neto yang negatif tersebut. (Jumlah pembiayaan neto negatif berarti jumlah
   penerimaan pembiayaan lebih kecil dari jumlah pengeluaran pembiayaan).
3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) akan muncul dalam beberapa
   kondisi berikut:
   •   Bila jumlah pembiayaan neto positif lebih besar daripada jumlah defisit,
       maka selisihnya menjadi SiLPA.
   •   Bila terjadi surplus dan pembiayaan neto positif.
   •   Bila terjadi pembiayaan neto negatif tetapi surplusnya lebih besar.


Hubungan antar pos-pos di dalam neraca adalah sebagai berikut:
1). Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas dana. Bila
   tidak, dapat dipastikan masih ada kesalahan dalam penyusunan neraca
   tersebut.
2). Ekuitas dana menunjukkan jumlah aset bersih pemerintah daerah. Oleh
   karena itu, total ekuitas dana harus sama dengan selisih antara total aset
   dengan kewajiban.
3). Jumlah Ekuitas Dana Lancar harus sama dengan jumlah aset lancar di
   kurangi kewajiban jangka pendek.
4). Jumlah SiLPA di dalam ekuitas dana lancar adalah jumlah total kas dikurangi
   utang Perhitungan Fihak Ketiga (potongan taspen, askes, PPh dan PPn).
5). Jumlah Ekuitas Dana Investasi diperoleh dengan perhitungan:
   Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya – Kewajiban Jangka
   Panjang
6) Jumlah ekuitas dana cadangan menunjukkan jumlah aset berupa dana
   cadangan. Oleh karena itu, jumlah ekuitas dana cadangan sama dengan
   jumlah dana cadangan.


        Hubungan berikut dapat digunakan dalam menilai kebenaran angka-
angka dalam laporan arus kas:
1) Saldo kas pada akhir tahun harus sama dengan jumlah kas pada akhir
   tahun di Neraca.




                      Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       93
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

2) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas operasi dapat sama dengan jumlah
   pendapatan daerah dikurangi penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan
   (dalam laporan realisasi anggaran)
3) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas operasi sama dengan jumlah total
   belanja (dalam laporan realisasi anggaran) tetapi tidak termasuk belanja
   modal.
4) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama
   dengan jumlah pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan
   (dalam laporan realisasi anggaran).
5) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama
   dengan jumlah belanja modal di laporan realisasi anggaran.
6) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan harus sama dengan
   jumlah pengeluaran pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran.




  94               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                              Analisis Laporan
                                                              Keuangan
                                                                         Daerah

                                                     Bab 7
                             Analisis
         Perbandingan
  Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat:
  •   Memperoleh pemahaman mengenai keunggulan dan kelemahan
      analisis perbandingan.
  •   Memperoleh pemahaman mengenai jenis-jenis analisis perbandingan
      pada laporan keuangan daerah.
  •   Memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan untuk melakukan
      analisis perbandingan pada laporan keuangan daerah.




A. Keunggulan dan Kelemahan Perbandingan


        Perbandingan pos-pos laporan keuangan sering disebut dengan istilah
rasio keuangan. Oleh karena itu, jika seseorang atau lembaga melakukan
perhitungan dengan membandingkan pos-pos laporan keuangan suatu entitas,
dengan maksud untuk mengetahui capaian atau kinerja keuangan entitas
dimaksud, dikatakan ia/mereka melakukan analisis rasio keuangan.


        Dibandingkan dengan teknik analisis keuangan lainnya, analisis rasio
keuangan memiliki keunggulan, antara lain, sebagai berikut:
1. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah
   dibaca dan ditafsirkan;
2. Rasio merupakan pengganti (yang lebih sederhana) dari informasi yang
   disajikan di dalam laporan keuangan (yang rinci dan rumit);
3. Standarisasi unit-unit pengukuran komponen keuangan pemerintah daerah;
4. Lebih mudah memperbandingkan kondisi keuangan pemerintah daerah
   dengan pemerintah daerah lain atau melihat perkembangan pemerintah
   daerah secara periodik;
5. Lebih mudah melihat perkembangan pemerintah daerah serta melakukan
   prediksi di masa yang akan datang.




                  Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       95
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

         Di sisi lain, khususnya di sektor pemerintahan, analisis perbandingan
pos-pos laporan keuangan ini memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:
1. Belum ada keseragaman dalam hal istilah-istilah rasio maupun dalam
   kaidah pengukurannya.
2. Belum ada standar atau patokan yang dapat digunakan untuk menilai baik
   atau buruknya suatu angka rasio. Misalnya, bila rasio realisasi pendapatan
   pajak mencapai 110%, apakah angka tersebut berarti sangat baik, baik,
   sedang atau kurang; berapa angka rasio kemandirian yang harus dicapai
   oleh pemda untuk dapat dikatakan mandiri dalam hal pendanaan.
3. Angka rasio yang dihasilkan dari perhitungan perbandingan pos-pos laporan
   keuangan suatu pemda belum tentu dapat dibandingkan dengan angka
   rasio pemda lainnya, karena mungkin saja teknik perhitungannya berbeda
   atau pemilihan metode dan prinsip akuntasi yang berbeda.
4. Validitas angka rasio dipengaruhi secara otomatis oleh validitas angka-
   angka yang dilaporkan dalam laporan keuangan dan dipengaruhi oleh
   kelemahan inheren laporan keuangan, seperti nilai perolehan historis, nilai
   estimasian, kebebasan memilih metode akuntansi.


B. Jenis-jenis Perbandingan


         Pengguna hasil analisis laporan keuangan di sektor bisnis umumnya
adalah investor, kreditor, manajemen dan analis keuangan. Sedangkan di sektor
publik (pemerintahan), pengguna hasil analisis laporan keuangannya lebih luas
lagi, yaitu Pemerintah Daerah (eksekutif), Pemerintah Pusat, DPRD (legislatif),
masyarakat, investor dan kreditor.


         Di sektor bisnis (perusahaan), analisis perbandingan pos-pos laporan
keuangan umumnya dinyatakan dalam suatu ukuran rasio keuangan yang
terdiri dari:
1. Rasio likuiditas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan suatu entitas
   (organisasi) dalam membayar utangnya yang akan jatuh tempo dalam
   jangka pendek.
2. Rasio solvabilitas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan suatu entitas
   untuk membayar semua utangnya.
3. Rasio leverage yaitu rasio untuk mengukur perbandingan dana yang disedia-
   kan oleh pemilik dengan dana yang dipinjam dari kreditor;
4. Rasio aktivitas yaitu rasio untuk mengukur efektif-tidaknya perusahaan di
   dalam menggunakan dan mengendalikan sumber daya yang dimilikinya;
5. Rasio profitabilitas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan entitas dalam
   menghasilkan laba (keuntungan).




  96               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                Analisis Laporan
                                                                Keuangan
                                                                           Daerah

        Sedangkan di sektor publik (pemerintahan), beberapa perbandingan
pos-pos laporan keuangan, khususnya APBD, adalah sebagai berikut:
1. Dari format laporan realisasi APBD, sebagaimana yang telah dibahas di
   bab 3, terdapat dua perhitungan yaitu:
   a. Perbandingan Realisasi vs Anggarannya
   b. Perbandingan Realisasi Tahun Ini vs Tahun Lalu
2. Dari data APBD yang dikembangkan oleh Widodo (dalam Halim, 2007),
   antara lain terdapat empat perhitungan, yaitu:
   a. Kemandirian Keuangan Daerah
   b. Efektifitas Pendapatan Asli Daerah
   c. Efisiensi Pendapatan Asli Daerah
   d. Keserasian Belanja
3. Dari adaptasi terhadap rasio keuangan sektor bisnis, terdapat tiga
   perhitungan perbandingan, yaitu:
   a. Likuiditas,
   b. Solvabilitas, dan
   c. Leverage


        Untuk mempermudah penyebutannya, perbandingan dalam kelompok
1 dan 2 di atas (kecuali Kemandirian Entitas) disebut Perbandingan Pos APBD,
sedangkan kelompok 3 disebut Perbandingan Pos Neraca.


Perbandingan Realisasi vs Anggaran
        Perbandingan ini untuk mengukur realisasi pos-pos APBD yang meliputi
realisasi pendapatan, belanja, surplus (defisit) dan pembiayaan. Perbandingan
ini pada dasarnya untuk mengetahui keberhasilan pencapaian target pendapatan
dan mengevaluasi ketaatan dalam pelaksanaan belanja dan pembiayaan.


Perbandingan Realisasi Sekarang vs Tahun Lalu
        Perbandingan ini dimaksudkan untuk mengukur pertumbuhan (kenaikan/
penurunan) pos-pos APBD dalam dua tahun anggaran yang berurutan. Misalnya
perbandingan realisasi pajak daerah Tahun Anggaran (T.A.) 2006 terhadap
realisasi pajak daerah T.A. 2005 (komparatif vertikal). Bisa juga perbandingan
realisasi pos-pos APBD dilakukan antara satu pemda dengan pemda yang lain
untuk tahun anggaran yang sama (komparatif horizontal).


Efektifitas PAD
        Perbandingan ini digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah
daerah dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan
target yang ditetapkan (berdasarkan potensi riil daerah). Kemampuan daerah




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       97
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

dalam melaksanakan tugasnya dikatakan efektif, jika hasil perhitungannya
minimal sebesar 1 atau 100%.


Efisiensi PAD
         Perhitungan ini menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya
yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan (PAD) dengan realisasi
pendapatan yang diterima. Suatu pemerintah daerah dikatakan efisien dalam
melakukan pemungutan PAD, jika hasil perhitungannya kurang dari 1 atau
lebih kecil dari 100%. Semakin kecil hasil perhitungannya, berarti kinerja
pemerintah daerah semakin baik.


Keserasian Belanja
         Rasio keserasian ini digunakan untuk mengukur keserasian belanja
yang direalisasikan oleh pemda. Contoh, rasio total belanja tidak langsung
terhadap total belanja langsung, rasio biaya pemungutan pajak dengan
pendapatan pajak.


Likuiditas
         Perhitungan likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan
pemerintah daerah dalam membayar utang (kewajiban) jangka pendeknya.
Rasio ini bisa diukur dengan rasio lancar dan rasio kas.


Solvabilitas
         Perhitungan solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan
pemerintah daerah dalam membayar semua utangnya yang akan jatuh tempo.
Rasio ini bisa diukur dengan rasio utang terhadap aktiva atau rasio utang
terhadap ekuitas dana.


Leverage
         Perhitungan leverage digunakan untuk mengukur perbandingan
antara ekuitas dana (kekayaan bersih pemerintah daerah) dengan total utang.


Kemandirian
         Perbandingan ini digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian
pemerintah daerah dalam hal pendanaan aktivitasnya. Rasio ini dapat diukur
dengan membandingkan jumlah PAD terhadap jumlah DAU ditambah jumlah
pinjaman (selain utang PFK dan utang pajak PPn/PPh). Di samping itu, tingkat
kemandirian dapat juga dibaca sebagai indikator tingkat partisipasi masyarakat
lokal terhadap pembangunan daerah, indikator perkembangan ekonomi daerah
dan kesejahteraan masyarakatnya.




  98               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                        Analisis Laporan
                                                                                        Keuangan
                                                                                                   Daerah

                           C. Perbandingan Pos APBD


                                 Contoh laporan realisasi APBD di bawah ini akan digunakan untuk
                           memberikan ilustrasi mengenai beberapa perbandingan pos-pos APBD.



                        Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2”
                  Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006
                                                                                      (dalam jutaan rupiah)
                                              Anggaran Setelah            Realisasi             Realisasi
                                                 Perubahan                TA 2007               TA 2006
                                                  TA 2007


PENDAPATAN                                          359.995               3360.353                338.265
PENDAPATAN ASLI DAERAH                                38.200                38.603                 36.665
Pajak Daerah                                          21.250                21.568                 20.210
Retribusi Daerah                                      12.950                13.145                 12.560
Bagian Laba dari Perusda/BUMD                          1.800                  1.650                   1.750
Lain-lain PAD yang Sah                                 2.200                  2.240                   2.145


DANA PERIMBANGAN                                    321.795                321.750                301.600
Dana Bagi Hasil                                       34.750                34.750                 35.600
Dana Alokasi Umum                                   275.500                275.500                255.500
Dana Alokasi Khusus                                   11.545                11.500                 10.500


LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH                               0                     0                        0
BELANJA                                             349.820                347.933                281.200
BELANJA TIDAK LANGSUNG                              247.820                246.355                208.940
Belanja Pegawai                                     215.540                214.400                188.540
Belanja Bunga                                            120                    120                    150
Belanja Subsidi                                       10.000                10.000                    8.500
Belanja Bantuan Keuangan                              22.000                21.700                 11.600
Belanja Tak Terduga                                      160                    135                    150


BELANJA LANGSUNG                                    102.000                101.578                 72.260
Belanja Pegawai                                        8.000                  7.978                   7.160
Belanja Barang dan Jasa                               19.000                18.660                 14.500
Belanja Modal                                         75.000                74.940                 50.600
SURPLUS (DEFISIT)                                     10.175                12.420                 57.065
PEMBIAYAAN                                            56.515                56.515                    7.450
Penerimaan Pembiayaan                                 64.515                64.515                 10.450
Pengeluaran Pembiayaan                                 8.000                  8.000                   3.000
SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran)                66.690                68.935                 64.515




                                           Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik        99
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

1. Realisasi vs Anggaran
   Berdasarkan data di atas dapat digambarkan perhitungan realisasi anggaran
   sebagai berikut:




                           Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2”
                     Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006
                                                                                             (dalam jutaan rupiah)
                                                            Anggaran Setelah                       Rasio Realisasi
                                                           Perubahan TA 2007 Realisasi TA 2007           (%)
                                                                  (1)               (2)             (3) = (2) : (1)


   PENDAPATAN                                                    359.995           360.353               100,09
   PENDAPATAN ASLI DAERAH                                          38.200           38.603               101,05
   Pajak Daerah                                                    21.250           21.568               101,50
   Retribusi Daerah                                                12.950           13.145               101,51
   Bagian Laba dari Perusda/BUMD                                    1.800            1.650                91,67
   Lain-lain PAD yang Sah                                           2.200            2.240               101,82


   DANA PERIMBANGAN                                              321.795           321.750                99,97
   Dana Bagi Hasil                                                 34.750           34.750                   100
   Dana Alokasi Umum                                             275.500           275.500                   100
   Dana Alokasi Khusus                                             11.545           11.500                99,61


   LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH                                         0               0                     0
   BELANJA                                                       349.820           347.933                99,46
   BELANJA TIDAK LANGSUNG                                        247.820           246.355                99,41
   Belanja Pegawai                                               215.540           214.400                99,47
   Belanja Bunga                                                      120              120                   100
   Belanja Subsidi                                                 10.000           10.000                   100
   Belanja Bantuan Keuangan                                        22.000           21.700                98,64
   Belanja Tak Terduga                                                160              135                84,38


   BELANJA LANGSUNG                                              102.000           101.578                99,59
   Belanja Pegawai                                                  8.000            7.978                99,73
   Belanja Barang dan Jasa                                         19.000           18.660                98,21
   Belanja Modal                                                   75.000           74.940                99,92
   SURPLUS (DEFISIT)                                               10.175           12.420               122,06
   PEMBIAYAAN                                                      56.515           56.515                   100
   Penerimaan Pembiayaan                                           64.515           64.515                   100
   Pengeluaran Pembiayaan                                           8.000            8.000                   100
   SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran)                          66.690           68.935               103,36




 100               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                             Analisis Laporan
                                                             Keuangan
                                                                        Daerah

Realisasi anggaran dihitung secara sederhana yaitu dengan membandingkan
realisasi pos-pos APBD (kolom 2) dengan anggarannya masing-masing
(kolom 1). Perbandingan ini tidak hanya dihitung untuk mengetahui tingkat
realisasi tahunan, tetapi juga bisa dilakukan untuk melihat realisasi triwulanan
dan semesteran.


Realisasi Pendapatan
Semua pos PAD melampaui targetnya masing-masing, kecuali pos bagian
laba dari BUMD, meskipun pelampauannya sangat kecil. Harus dicermati
bahwa target pendapatan T.A. 2007 (setelah perubahan anggaran) idealnya
harus lebih besar atau paling tidak sama dengan realisasi pendapatan T.A.
2006. Untuk itu, agar mendapat gambaran yang lebih baik, seyogyanya
realisasi pendapatan tahun berjalan dibandingkan dengan tahun sebelumnya,
misalnya realisasi pajak daerah TA 2007 dibandingkan dengan realisasi
pajak daerah TA 2006.


Realisasi Belanja
Realisasi belanja tidak diperkenankan melebihi plafonnya. Analisis rasio
realisasi belanja di atas menunjukkan angka tertinggi 100%, hal ini menunjuk-
kan ketaatan pada peraturan. Sementara rata-rata tingkat penyerapan
adalah lebih dari 90%, hal ini menunjukkan tingkat penyerapan dana yang
optimal.


Harus dicermati bahwa persentase tingkat penyerapan dana idealnya
selaras dengan tingkat penyelesaian kegiatannya (kinerja program/kegiatan).
Sebagai contoh, realisasi belanja pembangunan gedung (belanja modal)
adalah 100%, akan tetapi tingkat penyelesaian gedung tersebut baru 90%.
Hal ini perlu mendapat jawaban tersendiri dari pihak pengelola kegiatannya
kenapa hal tersebut terjadi. Sebaliknya bila tingkat penyelesaian gedung
tersebut sudah 100% sementara penyerapan dananya adalah 96%, berarti
terdapat efisiensi 4% dari anggaran belanjanya.


Surplus (defisit)
Pemda yang mengalami defisit belum tentu kinerjanya lebih buruk dari pemda
yang surplus, karena mungkin saja pemda yang defisit tersebut mempunyai
anggaran belanja kegiatan yang jauh lebih besar dibanding dengan pemda
yang surplus. Surplus (defisit) hakikatnya bukan merupakan anggaran, tetapi
perhitungan yang menunjukan selisih dari anggaran pendapatan dan anggaran
belanja. Dengan demikian, tidak ada larangan atau bukan hal yang salah
bila realisasi defisit melebihi 100% dari yang direncanakan (misal karena




                 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik   101
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

   anjloknya realisasi pendapatan pajak dari yang ditargetkan), sepanjang
   jumlah pembiayaan netonya dapat menutup realisasi defisit tersebut.


   Realisasi Pembiayaan
   Anggaran pengeluaran pembiayaan sifatnya seperti belanja di mana jumlah
   yang dianggarkan merupakan pagu yang tidak boleh dilewati. Sedangkan
   anggaran penerimaan pembiayaan sifatnya seperti pendapatan di mana
   jumlah yang dianggarkan adalah target yang boleh dilampaui, sepanjang
   tidak ada peraturan khusus yang melarangnya.


   SiLPA akhir tahun
   Seperti halnya surplus (defisit), SiLPA hakikatnya bukan anggaran tetapi
   perhitungan yaitu selisih antara surplus (defisit) dengan pembiayaan neto.
   Dengan demikian, yang menjadi fokus evaluasi adalah realisasi pendapatan,
   belanja, dan pembiayaan.


2. Realisasi Sekarang vs Tahun Lalu


   Perhitungan perbandingan realisasi sekarang vs tahun lalu (rasio komparatif)
   pada dasarnya sama dengan perhitungan realisasi anggaran di atas, yaitu
   angka pada kolom (2) dibagi dengan angka pada kolom (1). Dalam hal ini,
   kolom (1) diisi dengan angka-angka realisasi APBD TA 2006 dan kolom (2)
   diisi dengan angka-angka realisasi APBD TA 2007.


   Berdasarkan data di atas dapat di gambarkan penggunaan rasio realisasi
   anggaran untuk perbandingan realisasi saat ini vs tahun lalu (komparatif)
   sebagai berikut:


                           Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2”
                     Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006
                                                                                                    (dalam jutaan rupiah)
                                                                                                     Rasio Komparatif
                                                            Realisasi TA 2006   Realisasi TA 2007           (%)
                                                                   (1)                 (2)             (3) = (2) : (1)


     PENDAPATAN                                                  338.265             360.353                 106,53
     PENDAPATAN ASLI DAERAH                                        36.665             38.603                 105,29
     Pajak Daerah                                                  20.210             21.568                 106,72
     Retribusi Daerah                                              12.560             13.145                 104,66
     Bagian Laba dari Perusda/BUMD                                  1.750              1.650                  94,29
     Lain2 PAD yang Sah                                             2.145              2.240                 104,43




 102               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                                        Analisis Laporan
                                                                                        Keuangan
                                                                                                   Daerah

                   Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2”
             Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006
                                                                                        (dalam jutaan rupiah)
                                                                                           Rasio Realisasi
                                              Realisasi TA 2006     Realisasi TA 2007            (%)
                                                     (1)                   (2)              (3) = (2) : (1)


DANA PERIMBANGAN                                    301.600               321.750                 106,68
Dana Bagi Hasil                                      35.600                34.750                  97,61
Dana Alokasi Umum                                   255.500               275.500                 107,83
Dana Alokasi Khusus                                  10.500                11.500                 109,52


LAIN2 PENDAPATAN YANG SAH                                  0                     0                      0
BELANJA                                             281.200               347.933                 123,73
BELANJA TIDAK LANGSUNG                              208.940               246.355                 117,91
Belanja Pegawai                                     188.540               214.400                 113,72
Belanja Bunga                                           150                    120                     80
Belanja Subsidi                                       8.500                10.000                 117,64
Belanja Bantuan Keuangan                             11.600                21.700                 187,07
Belanja Tak Terduga                                     150                    135                     90


BELANJA LANGSUNG                                     72.260               101.578                 140,57
Belanja Pegawai                                       7.160                  7.978                111,42
Belanja Barang dan Jasa                              14.500                18.660                 128,69
Belanja Modal                                        50.600                74.940                 148,10
SURPLUS (DEFISIT)                                    57.065                12.420                  21,76
PEMBIAYAAN                                            7.450                56.515                 758,59
Penerimaan Pembiayaan                                10.450                64.515                 617,37
Pengeluaran Pembiayaan                                3.000                  8.000                266,67
SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan                         64.515                68.935                 106,85
Anggaran)




                          a. Rasio komparatif untuk pendapatan dapat diturunkan menjadi rasio
                            pertumbuhan. Sebagai contoh pajak daerah TA. 2007 tumbuh 6,72%
                            (106,72%-100%). Harus dicermati untuk pos pendapatan yang cenderung
                            naik dan jumlahnya signifikan seperti pajak daerah, retribusi daerah, dana
                            alokasi umum (DAU). Bila rasio komparatif dari ketiga pos pendapatan ini
                            turun signifikan, misal rasionya 90% (angka ini bukan hasil penelitian),
                            maka perlu mendapat penjelasan dari pemda karena ketiga pos tersebut
                            secara normal cenderung naik setiap tahunnya dan rasio komposisinya
                            signifikan terhadap jumlah pendapatan daerah.




                                           Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik      103
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

b. Rasio komparatif baik untuk pos pendapatan dan pos belanja secara umum
   di atas 100%. Hal ini menunjukkan kondisi yang normal, terlebih lagi belanja
   yang cenderung naik setiap tahunnya.


c. Rasio komparatif untuk pos pembiayaan naik spektakuler hingga rasio
   tertinggi 758%. Hal ini disebabkan karena SiLPA awal tahun 2006 yang
   masuk ke penerimaan pembiayaan TA 2006 jumlahnya jauh lebih kecil
   (Rp 10.450 juta) dibanding SiLPA awal tahun 2007 yang masuk ke
   penerimaan pembiayaan TA 2007 (Rp 64.515 juta), bila dalam contoh di
   atas diasumsikan penerimaan pembiayaan hanya berasal dari SiLPA awal
   TA 2007 sebesar Rp 64.515 berasal dari SiLPA akhir TA 2006.


   Analisis rasio komparatif di atas dapat juga dikembangkan dengan me-
   nambahkan kolom baru untuk jumlah perubahannya (yang menggambarkan
   pertumbuhan positif/negatif), seperti berikut ini.


                                              Perubahan = Naik(Turun)               Rasio
                       Realisasi Realisasi                                       Komparatif
                       TA 2006 TA 2007        Jumlah           %                     (%)
  Pos/Rekening
                        ( 1 )      (2)     (3) =(2) - (1) (4) =(3) : (1)        (5) =(2) : (1)

  PAD
  Pajak Daerah            20.210     21.568       1.358          6,72              106,72
  Retribusi Daerah        12.560     13.145         585          4,66              104,66
  Dst….




          Perhitungan rasio komparatif lainnya adalah dengan membandingkan
Realisasi Anggaran T.A. 2007 terhadap nilai Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB). Sebagai contoh, bila PDRB pada T.A. 2007 sebesar Rp. 8,5 Triliun,
maka ilustrasinya dapat digambarkan sebagai berikut:


                                                                      (dalam jutaan rupiah)

                                                          Realisasi          (%) terhadap
                                                          TA 2007               PDRB


    PENDAPATAN                                            360.353                4.24%
    PENDAPATAN ASLI DAERAH                                 38.603                0.45%
    Pajak Daerah                                           21.568                0.25%
    Retribusi Daerah                                       13.145                0.15%
    Bagian Laba dari Perusda/BUMD                           1.650                0.02%
    Lain2 PAD yang Sah                                      2.240                0.03%




 104               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                  Analisis Laporan
                                                                  Keuangan
                                                                             Daerah

                                                                 (dalam jutaan rupiah)

                                                     Realisasi          (%) terhadap
                                                     TA 2007               PDRB


   DANA PERIMBANGAN                                   321.750               3.79%
   Dana Bagi Hasil                                      34.750              0.41%
   Dana Alokasi Umum                                  275.500               3.24%
   Dana Alokasi Khusus                                  11.500              0.14%


   LAIN2 PENDAPATAN YANG SAH                                 0              0.00%
   BELANJA                                            347.933               4.09%
   BELANJA TIDAK LANGSUNG                             246.355               2.90%
   Belanja Pegawai                                    214.400               2.52%
   Belanja Bunga                                           120              0.00%
   Belanja Subsidi                                      10.000              0.12%
   Belanja Bantuan Keuangan                             21.700              0.26%
   Belanja Tak Terduga                                     135              0.00%


   BELANJA LANGSUNG                                   101.578               1.20%
   Belanja Pegawai                                       7.978              0.09%
   Belanja Barang dan Jasa                              18.660              0.22%
   Belanja Modal                                        74.940              0.88%


   SURPLUS (DEFISIT)                                    12.420              0.15%
   PEMBIAYAAN                                           56.515              0.66%
   Penerimaan Pembiayaan                                64.515              0.76%
   Pengeluaran Pembiayaan                                8.000              0.09%
   SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan
   Anggaran)                                            68.935              0.81%




3. Keserasian
  Berdasarkan Pemendagri 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
  Keuangan Daerah, belanja dibagi ke dalam dua kelompok: belanja tidak
  langsung dan belanja langsung. Belanja tidak langsung adalah belanja
  yang tidak terkait langsung dengan adanya program dan kegiatan.
  Sedangkan belanja langsung adalah belanja yang terkait secara langsung
  dengan adanya program dan kegiatan.


  Belanja langsung harus ditetapkan indikator kinerjanya sebab akan diukur
  kinerja pelaksanaan program/kegiatannya. Sedangkan belanja tidak




                     Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik       105
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

   langsung tidak dapat (sulit) untuk ditetapkan indikator kinerjanya, karena
   itu belanja tidak langsung tidak perlu diukur kinerjanya. Berdasarkan konsep
   tersebut maka perbandingan yang serasi adalah bila belanja langsung
   lebih besar dan semakin lebih besar dibanding belanja tidak langsung.


   Analisis bisa dikembangkan lebih spesifik lagi dengan mencermati berapa
   komposisi antara belanja langsung yang dinikmati secara langsung atau
   sebagian besar oleh masyarakat (belanja publik) dan belanja langsung
   yang tidak dinikmati secara langsung oleh masyarakat (belanja non publik).
   Perbandingan yang serasi adalah bila belanja publik lebih besar dan semakin
   lebih besar dibanding dengan belanja non publik.


   Berdasarkan contoh di atas:
   Rasio keserasian belanja = belanja langsung : belanja tidak langsung
   Rasio keserasian belanja = 101.578 : 246.355 = 41,23%


   Dapat dikatakan bahwa rasio belanja masih jauh dari keseimbangan
   (keserasian) karena belanja tidak langsung masih mendominasi. Sedangkan
   kondisi ideal yang diharapkan adalah belanja langsung (terutama yang
   bermanfaat langsung bagi publik) yang lebih besar dan semakin lebih besar
   dari belanja tidak langsung.


D. Perbandingan Pos Neraca


         Data berikut ini diambil dari Neraca Pemerintah Daerah “Suka2” untuk
memberikan ilustrasi perhitungan rasio likuiditas, solvabilitas, leverage, dan
kemandirian.

                       NERACA Pemerintah Daerah “Suka2”
                            Per 31 Desember 2007
                                                              (dalam jutaan rupiah)

 AKTIVA                     Rp 663.325 PASSIVA                                Rp 663.325

 Aktiva Lancar                   72.825UTANG                                      12.890
 Kas                             68.935Utang Jk. Pendek                            6.890
 Piutang Pajak Daerah             2.350Utang Potongan PFK                          1.550
 Persediaan                       1.540Utang Pajak Pusat                           2.340
                                       Bagian Lancar Utang Jk. Panjang             3.000
 Investasi Jk Panjang           25.000 Utang Jk. Panjang                           6.000
 Aktiva Tetap                  560.500 EKUITAS DANA                              650.435
 Dana Cadangan                   5.000 Ekuitas Dana Lancar                        65.935
                                       Ekuitas Dana Investasi                    579.500
                                       Ekuitas Dana Cadangan                       5.000




 106               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

1. Likuiditas
   Rasio likuiditas mengukur kemampuan pemda untuk membayar utang
   (kewajiban) jangka pendeknya. Rasio ini bisa diukur dengan rasio lancar
   dan rasio kas (terhadap utang jk. Pendek). Pos persediaan pada neraca
   pemda umumnya bukan persediaan barang dagang yang ditujukan untuk
   dijual tetapi untuk digunakan dalam operasi pemerintah atau diserahkan
   kepada masyarakat. Oleh karena itu, dalam perhitungan rasio lancar
   sebaiknya pos persediaan tidak diperhitungkan.


      Rasio lancar = (aktiva lancar – persediaan) : utang jk. Pendek
      Rasio lancar = (72.825 – 1.540) : 6.890
      Rasio lancar = 10,35


   Rasio lancar ini menunjukkan perbandingan antara aktiva lancar (di luar
   persediaan) dengan utang jangka pendek yang besarnya adalah 10,53:1.
   Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang, pemda mempunyai Rp 10,35 aktiva
   yang sangat lancar. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan
   pemda sangat likuid.


      Rasio kas = kas dan setara kas : utang jk. Pendek
      Rasio kas = 68.935 : 6.890
      Rasio kas = 10


   Kesimpulan: rasio kas menunjukkan perbandingan yang lebih likuid dari
   rasio lancar, dalam hal ini perbandingan antara kas dengan utang jangka
   pendek adalah 10 : 1. Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang, pemda
   mempunyai Rp 10 kas dan setara kas. Kondisi ini menunjukkan bahwa
   kodisi keuangan pemda sangat likuid. Artinya tanpa harus menunggu
   ditagihnya piutang pajak, pemda sudah dapat melunasi utang jangka pendek
   tsb pada saat ini.


2. Solvabilitas
   Rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan pemda untuk
   membayar semua utangnya yang akan jatuh tempo. Rasio ini bisa diukur
   dengan rasio aktiva terhadap utang atau rasio ekuitas dana terhadap utang.


      Rasio solvabilitas = total aktiva : total utang
      Rasio solvabilitas = 663.325 :12.890 = 51,46


   Kesimpulan: rasio solvabilitas menunjukkan perbandingan antara total




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik   107
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

   aktiva dengan total utang yang besarnya adalah 51,46 : 1. Hal ini berarti
   untuk setiap Rp 1 utang, pemda mempunyai Rp 51,46 aset. Kondisi ini
   menunjukkan bahwa kondisi keuangan pemda masih sangat solvable.


3. Leverage
   Rasio leverage digunakan untuk mengukur perbandingan antara ekuitas
   dana (kekayaan bersih pemda) dengan total utang. Rasio leverage selama
   ini hanya digunakan di sektor perusahaan untuk mengukur komposisi sumber
   pembiayaan yang berasal dari kreditor dan investor. Di pemerintah daerah,
   rasio ini mungkin belum (tidak) merupakan rasio yang penting sebab tingkat
   utang daerah yang masih relatif kecil dan syarat penarikan pinjaman daerah
   menggunakan DSCR dan rasio maksimum pinjaman.


       Rasio leverage = total ekuitas dana : total utang
       Rasio leverage = 650.435 : 12.890 = 50,46


   Kesimpulan: rasio leverage menunjukkan perbandingan antara kekayaan
   bersih (ekuitas dana) dengan utang, yang besarnya adalah 50 : 1. hal ini
   menunjukkan bahwa kondisi keuangan Pemkab Masyarakat Sejahtera
   sangat solid.


4. Kemandirian
   Rasio kemandirian digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian pemda
   dalam hal pendanaan aktivitasnya. Rasio ini dapat diukur dengan membanding-
   kan jumlah PAD terhadap jumlah DAU ditambah jumlah pinjaman (selain
   utang PFK dan utang pajak PPn/PPh).


   Dana alokasi umum merupakan dana yang berasal dari APBN yang
   ditransfer ke pemda dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Dana
   alokasi umum masih merupakan sumber pembiayaan yang utama (andalan)
   bagi pemda-pemda pada umumnya. Dengan demikian, dapat dikatakan
   bila perbandingan sumber pembiayaan dari PAD terhadap DAU semakin
   besar, berarti hal ini menunjukkan tingkat kemandirian yang semakin
   meningkat pula. Bila pinjaman jumlahnya dianggap material, maka untuk
   mengukur kemandirian unsur pinjaman tersebut harus diperhitungkan,
   akan tetapi sebaiknya mengeluarkan utang PFK dan utang pajak pusat
   sebab kedua jenis utang tersebut tidak dimaksudkan untuk menambah
   sumber pendanaan pemda.




 108               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                               Analisis Laporan
                                                               Keuangan
                                                                          Daerah

       Rasio kemandirian =
       Realisasi PAD : {DAU + (Utang – Utang PFK – Utang pajak pusat)}
       Rasio kemandirian = 38.603 : {275.500 + (12.890 – 1.550 – 2.340)}
       Rasio kemandirian = 38.603 : 284.500 = 13,57%


E. Rangkuman


         Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah
memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:
•   Belum ada keseragaman.
•   Belum ada standar untuk melakukan penilaian
•   Hasil perhitungannya belum tentu dapat dibandingkan
•   Validitas hasil perhitungannya tergantung pada validitas angka-angka
    laporan keuangan


         Beberapa perbandingan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah
adalah sebagai berikut:
•   Perbandingan Realisasi vs Anggarannya
•   Perbandingan Realisasi Tahun Ini vs Tahun Lalu
•   Kemandirian Keuangan Daerah
•   Efektifitas Pendapatan Asli Daerah
•   Efisiensi Pendapatan Asli Daerah
•   Keserasian Belanja
•   Likuiditas
•   Solvabilitas
•   Leverage




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik   109
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah




                          Halaman ini sengaja dikosongkan




 110               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                 Analisis Laporan
                                                                 Keuangan
                                                                            Daerah

                                                  Bab 8
                  Analisis
           Kecenderungan
    Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat:
    •   Memperoleh pemahaman mengenai pengertian analisis kecenderungan
        beserta sifat-sifatnya.
    •   Memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan untuk melakukan
        analisis kecenderungan dengan menggunakan tahun dasar, bergerak,
        dan menggunakan diagram pencar.




A. Pengertian dan Sifat Analisis Kecenderungan


          Analisis kecenderungan (trend) adalah suatu teknik analisis yang
mencoba untuk mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahan-
perubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu) sebagai
dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa mendatang.


          Suatu perubahan tentunya dapat diakibatkan oleh adanya interaksi
dari sejumlah faktor (variabel). Apabila faktor-faktor tersebut diperkirakan
dapat menyebabkan perubahan terhadap data yang kita analisis, maka dalam
hal ini dapat digunakan analisis sebab-akibat. Penggunaan regresi linear
sederhana dan regresi berganda merupakan contoh dari analisis sebab-akibat.


          Sementara itu, apabila kita hanya menyusun suatu model dengan
menggunakan hubungan antara variabel tanpa memperhatikan apakah yang
satu mempengaruhi yang lain atau tidak, maka kita melakukan analisis
kecenderungan sederhana. Dengan demikian, sifat-sifat analisis kecenderungan
dapat disimpulkan sebagai berikut :
•   Bertujuan untuk mengetahui arah atau kecenderungan suatu pos (misalnya
    pos belanja pemeliharaan, pos pendapatan pajak daerah).
•   Membutuhkan data runtut waktu (time series data) selama beberapa tahun
    sebagai bahan analisis.




                     Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik   111
Analisis Laporan
Keuangan
            Daerah

•     Analisis dilakukan dengan membandingkan (menghubungkan) angka-
      angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan.


           Pada bagian berikut akan dibahas tiga metode analisis kecenderungan
sederhana, yaitu analisis kecenderungan dengan tahun dasar, analisis
kecenderungan bergerak (dari tahun ke tahun), dan analisis kecenderungan
dengan diagram pencar.


B. Analisis Kecenderungan dengan Tahun Dasar


           Analisis kecenderungan sederhana dimaksudkan hanya untuk me-
ngetahui kecenderungan suatu pos (naik atau turun) dengan membandingkan
angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan,
tanpa mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi perubahan dari
pos tersebut.


           Data berikut adalah untuk contoh perhitungan analisis kecenderungan
dengan menggunakan tahun dasar.

                                                                     (dalam jutaan rupiah)

    Jenis Belanja                       Th. 2001 Th. 2002 Th. 2003 Th. 2004 Th. 2005

    Belanja Pemeliharaan Gedung           200        220       245        260       270
    Kecenderungan (%)                     100        110       123        130       135
    Kenaikan dari tahun dasar               -         10        23        30         35


           Analisis kecenderungan pada contoh di atas menggunakan belanja
tahun 2001 sebagai tahun dasar, dengan jumlah belanja sebesar Rp 200 juta.
Dengan demikian, indeks belanja pemeliharaan gedung tahun 2001 sampai
dengan 2005 dihitung dengan rumus:


                                                 Belanja tahun n
                                                 ----------------------------------- X 100%
                                                 Belanja tahun 2001


           Dengan demikian, kita dapat melihat besarnya kenaikan dari tahun
ke tahun dengan membandingkan kecenderungan (persentase dari tahun
dasarnya) tahun ke (n) dikurangi dengan kecenderungan tahun ke (n-1). Dari
perhitungan di atas, dengan melihat kenaikan dari tahun 2002 sampai dengan
2005, maka kita dapat memperkirakan kenaikan tahun 2006, yaitu kurang
lebih 40% atau besarnya belanja pemeliharaan gedung tahun 2006 kira-kira
sebesar Rp 280 juta atau 140% X Rp 200 juta.




    112             Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                   Analisis Laporan
                                                                   Keuangan
                                                                              Daerah

C. Analisis Kecenderungan Bergerak


        Kelemahan dari analisis kecenderungan dengan tahun dasar adalah
tidak dapat diketahui secara langsung berapa rata-rata kenaikan per tahunnya.
Oleh sebab itu, kita dapat menggunakan analisis kecenderungan bergerak
(dari tahun-ke-tahun) untuk mengetahui rata-rata kenaikan per tahun.


Misalnya terdapat data tentang Belanja Pemeliharaan Gedung sbb

                                                              (dalam jutaan rupiah)
    Tahun         Jumlah             Kenaikan                  Keterangan

     2001            200
     2002            220                10%              Kenaikan dari th. 2001
     2003            245              11,36%             Kenaikan dari th. 2002
     2004            260               6,12%             Kenaikan dari th. 2003
     2005            270               3,85%             Kenaikan dari th. 2004
  Rata-rata kenaikan per tahun         7,83%             Kenaikan dari th. 2005


        Analisis kecenderungan perubahan pada contoh tersebut menggunakan
tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menghitung perubahan (kenaikan
atau penurunan), atau dapat dinyatakan dengan rumus:


                                 Belanja tahun n+1 – Belanja tahun n
                                 ------------------------------------------------- X 100%
                                                Belanja tahun n


        Teknik analisis ini pada dasarnya sama dengan teknik analisis rasio
komparatif hanya di sini melibatkan data beberapa tahun agar diperoleh rata-
rata kenaikan per tahunnya. Selanjutnya, rata-rata kenaikan per tahun tersebut
dapat digunakan untuk mengestimasi kenaikan yang normal untuk tahun
berikutnya.


        Dari contoh tersebut diketahui bahwa kenaikan belanja pemeliharaan
gedung berkisar antara 3,85% s.d. 11,36% atau rata2 sebesar 7,83%. Implikasi
dari hasil analisis ini adalah bila belanja pemeliharaan gedung yang diusulkan
untuk tahun 2006 naik di atas 11,36% (dari belanja th. 2005), maka perlu lebih
dicermati, apakah karena faktor inflasi semata, faktor volume pemeliharaan
gedung yang meningkat, atau kedua-duanya.


        Selanjutnya, bila kita menggunakan angka kenaikan rata-rata untuk
mengestimasi belanja pemeliharaan gedung tahun 2006, maka diperkirakan
belanja pemeliharaan gedung tahun 2006 adalah sekitar Rp 300 juta, dengan
perhitungan: Rp 270 juta x 107,83% = Rp 299,76 juta




                   Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik        113
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

D. Analisis Kecenderungan dengan Diagram Pencar


         Metode ini dilakukan dengan penarikan garis kecenderungan yang
mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang ada dalam grafik.
Penggambaran garis kecenderungan dapat dilakukan dengan tangan bebas
atau dengan bantuan penggaris.


         Berikut ini disajikan data tentang hasil pajak daerah suatu pemda
selama 10 tahun terakhir dan langkah-langkah bagaimana menentukan garis
kecenderungannya.


Pendapatan Pajak Daerah, periode 1996 s.d. 2005

                                          (dalam jutaan rupiah)
                                  Tahun          Pajak daerah

                                  1996               14.750
                                  1997               12.245
                                  1998               10.320
                                  1999               11.145
                                  2000               23.730
                                  2001               23.766
                                  2002               18.165
                                  2003               26.680
                                  2004               28.465
                                  2005               37.062


Maka diagram pencarnya akan nampak seperti di bawah ini.
Pendapatan Pajak Daerah, periode 1996 s.d. 2005
(dalam jutaan rupiah)


      40.000



      30.000



      20.000



      10.000


                       96    97    98    99    00   01    02    03    04      05




 114               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                  Analisis Laporan
                                                                  Keuangan
                                                                             Daerah

         Langkah-langkah menentukan garis kecenderungan tersebut di atas
adalah sebagai berikut:
-   Buat sumbu tegak Y (yang menunjukkan variable pendapatan pajak daerah)
    dan sumbu mendatar X (yang menggambarkan tahun anggaran).
-   Dari data yang tersedia pada contoh di atas, buat scatter plot, yaitu kumpulan
    titik-titik koordinat (X,Y)
-   Dengan jalan observasi atau pengamatan langsung terhadap bentuk scatter
    plot, tariklah garis yang kira-kira mendekati (mengikuti) pola dari titik-titik
    koordinat yang ada.


         Dari diagram di atas maka kita dapat memprediksi pendapatan pajak
daerah untuk tahun-tahun yang akan datang. Garis kecenderungan di atas
juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya keanehan atau ketidak-
aturan yang terjadi. Dengan membandingkan garis kecenderungan dengan
sebaran titik-titik berdasarkan data yang sebenarnya, maka kita dapat melihat
adanya titik-titik yang ‘tidak mengikuti aturan’ misalnya terlalu jauh dari garis
kecenderungan.


         Langkah selanjutnya adalah meneliti mengapa situasi tersebut terjadi,
atau kita dapat melakukan analisis hubungan antar variabel, misalnya antara
keadaan ekonomi, kesadaran masyarakat untuk membayar pajak, biaya
sosialisasi dan pemungutan pajak dengan jumlah pendapatan pajak daerah.


         Bagi pemerintah daerah, analisis di atas tentunya sangat bermanfaat
sebagai bahan pertimbangan untuk mengevaluasi kinerja satker yang bertanggung
jawab atas perolehan pajak daerah, misalnya Dinas Pendapatan Daerah. Di
samping itu, analisis ini dapat juga digunakan sebagai dasar pertimbangan
untuk perencanaan pada tahun-tahun berikutnya.


         Bagi auditor, hasil diatas dapat digunakan untuk membuat perencanaan
audit dalam menentukan luasnya dan lokasi bukti-bukti yang akan diuji. Di
samping itu, hasil analisis tersebut dapat juga digunakan sebagai bahan untuk
membuat kesimpulan audit dan saran-saran perbaikan yang diperlukan oleh
manajemen pemerintah daerah.


         Perlu diperhatikan bahwa pembuatan garis kecenderungan sifatnya
sangat subyektif. Artinya bila ada beberapa orang diminta untuk menarik garis
kecenderungan dengan, maka kemungkinan akan diperoleh garis kecenderungan
lebih dari satu, sebab masing-masing orang mempunyai pilihan sendiri sesuai
dengan anggapannya garis mana yang mewakili diagram pencar. Oleh karena




                      Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik   115
Analisis Laporan
Keuangan
             Daerah

itu, metode ini tidak dapat memberikan alasan yang kuat secara ilmiah untuk
digunakan sebagai alat analisis.


E. Analisis Kecenderungan dengan Hubungan Antar Variabel


           Terjadinya suatu biaya dan/atau pendapatan tentu ada pemicunya
yang lazimnya disebut sebagai variabel independen. Dalam berbagai situasi,
menentukan hubungan antara dua variablel (dependen dan independen) tidak
mudah dilakukan. Pada bagian ini akan diberikan ilustrasi analisis hubungan
antar dua variabel dengan teknik regresi linier sederhana.


           Misalnya terdapat data yang menunjukkan hubungan antara biaya
pemeliharaan jalan (Y) dan luas jalan yang diperbaiki (X) di suatu pemda
dalam lima tahun terakhir sebagai berikut.



                       Biaya Pemeliharaan Jalan, periode 2001 s.d. 2005

           Tahun                           Luas Jalan (m2)              Biaya (jutaan Rp)

            2001                                 50.000                        6.250
            2002                                 60.000                        7.320
            2003                                 40.000                        5.200
            2004                                 55.000                        7.700
            2005                                 65.000                        9.230




           Dari data diatas, kita dapat menentukan hubungan antara X dan Y
dengan menghitung koefisien korelasi (r) dan koefisien penentu (r2) serta
membuat perkiraan berapa besarnya belanja pemeliharaan pada luas jalan
tertentu sebagai berikut.



  X              Y                 X-X     Y-Y               X2               y2                xy
  (ribuan)       (jutaan)           x      y


  50             6.250             -4            -890        16                     792.100 3.560
  60             7.320              6            180         36           32.400             1.080
  40             5.200             -14         -1.940       196        3.763.600           27.160
  55             7.700              1            560          1          313.600               560
  65             9.230             11          2.090        121        4.368.100           22.990


      Xi = 270       Yi = 35.700   xi= 0       yi = 0     2          2
                                                        xi = 370   yi = 9.269.800     xiyi = 55.350
  X= 54          Y = 7.140




 116                 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                             Analisis Laporan
                                                                             Keuangan
                                                                                       Daerah

    a). Koefisien korelasi ( r )


                                      xiyi
                =      -------------------------------
                        √      xi2            √       yi2

                               55.350                              55.350
                =      ----------------------------------- = -------------- = 0,95
                             370 x            9.269.800             58.548




       Koefisien korelasi 0,95 menunjukkan bahwa hubungn X (luas jalan) dan
       Y (biaya pemeliharaan) sangat kuat dan positif.


(b). Koefisien penentu (KP) = r2 = (0,95)2 = 0,9025
       Hal ini menunjukkan bahwa 90% dari perubahan biaya pemeliharaan (Y)
       dipengaruhi oleh luas jalan (X), sedangkan 10% nya disebabkan oleh
       faktor lain.


(c). Persamaan regresi linier: Y’ = a + bX


                                     xiyi               55.350
                      b =      ---------          =    ------------- = 150
                                          2                 370
                                     xi

                      a = Y - b X = 7.140 – (150 x 54) = 7.140 – 8.100 = - 960



      Dengan demikian, bila luas jalan 100 m 2 maka perkiraan belanja
      pemeliharaan adalah: Y’ = a + bX = -960 + 150 (100) = Rp14.040 juta


F. Rangkuman


           Analisis kecenderungan mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan
(perubahan-perubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu)
sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa
mendatang.


Sifat-sifat analisis kecenderungan adalah:
•     Bertujuan untuk mengetahui arah atau kecenderungan suatu pos laporan
      keuangan.




                            Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik        117
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah

•    Membutuhkan time series data selama beberapa tahun.
•    Dilakukan dengan membandingkan (menghubungkan) angka-angka untuk
     pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan.


          Analisis kecenderungan sederhana, baik dengan tahun dasar maupun
dengan bergerak, membandingkan angka-angka untuk pos yang sama dari
laporan beberapa tahun yang berurutan, tanpa mengidentifikasi variabel-
variabel yang mempengaruhi perubahan dari pos tersebut. Sedangkan analisis
kecenderungan dengan diagram pencar dilakukan dengan penarikan garis
kecenderungan yang mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang
ada dalam grafik.




    118            Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik
                                                                Analisis Laporan
                                                                Keuangan
                                                                           Daerah


              Daftar
                                Pustaka
Bastian, Indra. 2001. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Yogyakarta:
Penerbit BPFE Yogyakarta.


Halim, Abdul. 2007. Akuntansi Keuangan Daerah, edisi 3. Jakarta: Penerbit
Salemba Empat.


LAN dan BPKP, 2000. Akuntabilitas dan Good Governance. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara


Mahsun, Mohamad, Firma Sulistyowati dan Heribertus A. Purwanugraha,
2007. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit BPFE Yogyakarta


Mardiasmo. 2005. Akuntansi Sektor Publik, edisi 2. Yogyakarta: Penerbit Andi
(CV Andi Offset).


Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah.


Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan.


Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah


Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan
dan Kinerja Instansi Pemerintah


Widodo, 2007. “Analisis Rasio Keuangan pada APBD Kabupaten Boyolali”
dalam Abdul Halim. Akuntansi Keuangan Daerah, edisi 3. Jakarta: Penerbit
Salemba Empat.




                    Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik   119
Analisis Laporan
Keuangan
          Daerah




                          Halaman ini sengaja dikosongkan




 120               Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

								
To top