Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Kenali Tentang Penyakit Epilepsi

VIEWS: 21 PAGES: 4

									Kenali Tentang Penyakit Epilepsi
Do you like this story?




Penyakit epilepsi merupakan penyakit yang dapat terjadi pada siapa pun walaupun dari garis
keturunan tidak ada yang pernah mengalami epilepsi ini. Epilepsi tidak bisa menular ke orang
lain karena hanya merupakan gangguan otak yang tidak dipicu oleh suatu kuman virus dan
bakteri. Dengan pengobatan secara medis baik dokter maupun Rumah Sakit bisa membantu
pasien epilepsi untuk mengurangi serangan epilepsi maupun menyembuhkan secara penuh
epilepsi yang diderita oleh seseorang.

Epilepsi merupakan sindrom yang ditandai oleh kejang yang terjadi berulang-ulang. Diagnosa
ditegakkan bila seseorang mengalami paling tidak dua kali kejang tanpa penyebab (Jastremski,
1988).
Berikut beberapa pengertian epilepsi diantaranya yaitu : Epilepsi adalah gangguan kronik otak
dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang
disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan
berbagai etiologi. Penyakit epilepsi adalah merupakan gejala kompleks dari banyak gangguan
fungsi otak yang dikarakteristikkan oleh kejang berulang. Kejang merupakan akibat dari
pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel saraf korteks serebral yang ditandai dengan
serangan tiba-tiba, terjadi gangguan kesadaran ringan, aktivitas motorik, atau gangguan
fenomena sensori. Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan
ciri-ciri timbulnya serangan paroksimal dan berkala akibat lepas muatan listrik neuron-neuron
otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik.

Jadi dari beberapa pengertian epilepsi di atas bisa diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud
dengan epilepsi adalah sindrom gangguan fungsi otak kronik yang ditandai oleh serangan kejang
berulang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak. Pada tahun 2000,
diperkirakan penyandang epilepsi di seluruh dunia berjumlah 50 juta orang, 37 juta orang
diantaranya adalah epilepsi primer, dan 80% tinggal di negara berkembang. Laporan WHO
(2001) memperkirakan bahwa rata-rata terdapat 8,2 orang penyandang epilepsi aktif diantara
1000 orang penduduk, dengan angka insidensi 50 per 100.000 penduduk. Angka prevalensi dan
insidensi diperkirakan lebih tinggi di negara-negara berkembang. Hasil penelitian Shackleton
dkk (1999) menunjukkan bahwa angka insidensi kematian di kalangan penyandang epilepsi
adalah 6,8 per 1000 orang. Sementara hasil penelitian Silanpaa dkk (1998) adalah sebesar 6,23
per 1000 penyandang. Epilepsi atau yang sering kita sebut ayan atau sawan tidak disebabkan
atau dipicu oleh bakteri atau virus dan gejala epilepsi dapat diredam dengan bantuan orang-orang
yang ada disekitar penderita.




Penyebab epilepsi secara pasti memang tidak diketahui, dalam dunia medis hal ini biasanya
disebut dengan idiopatik. Namun beberapa hal yang bisa menyebabkan epilepsi atau faktor
predisisposisi penyakit epilepsi adalah :

   1. Asfiksia neonatorum.
   2. Riwayat ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar
      belakang sukar melahirkan, penggunaaan obat-obatan, diabetes, atau hipertensi).
   3. Pascatrauma kelahiran.
   4. Riwayat bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsan yang digunakan sepanjang
      kehamilan.
   5. Riwayat demam tinggi.
   6. Adanya riwayat penyakit pada masa kanak-kanak (campak, penyakit gondongan, epilepsi
      bakteri).
   7. Riwayat intoksikasi obat-obatan atau alkohol.
   8. Riwayat gangguan metabolisme dan nutrisi atau gizi.
   9. Riwayat keturunan epilepsi.

Selanjutnya kita menginjak kepada patofisiologi dari epilepsi ini. Adanya predisposisi yang
memungkinkan gangguan pada sistem listrik dari gangguan sistem saraf pusat pada suatu bagian
otak akan menjadikan sel-sel tersebut memberikan muatan listrik yang abnormal, berlebihan,
secara berulang, dan tidak terkontrol (disritmia).
Aktivitas serangan epilepsi dapat terjadi setelah suatu gangguan pada otak dan sebagian
ditentukan oleh derajat dan lokasi dari lesi. Lesi pada mesensefalon, talamus, dan korteks serebri
kemungkinan besar bersifat epileptogenik sedangkan lesi pada serebelum dan batang otak
biasanya tidak menimbulkan serangan epilepsi (Brunner, 2003)
Pada tingkat membran sel, neoron epileptik ditandai oleh fenomena biokimia tertentu. Beberapa
diantaranya yaitu :

      Ketidakstabilan membran sel saraf sehingga sel lebih mudah diaktifkan.
      Neuron hipersensitif dengan ambang yang menurun sehingga mudah terangsang dan
       dapat terangsang secara berlebihan
      Terjadi polarisasi yang abnormal ( polarisasi berlebihan, hiperpolarisasi, atau terhentinya
       repolarisasi).
      Ketidakseimbangan ion yang mengubah lingkungan kimia dari neuron. Pada waktu
       serangan, keseimbangan elektrolit pada tingkat neuronal mengalami perubahan.
       Ketidakseimbangan ini akan menyebabkan membran neuron mengalami depolarisasi.

Situasi ini akan menyebabkan kondisi yang tidak terkontrol, pelepasan abnormal terjadi dengan
cepat, dan seseorang dikatakan menuju ke arah epilepsi. gerakan-gerakan fisik yang tak teratur
disebut kejang. Akibat adanya distriknia muatan listrik pada bagian otak tertentu ini memberikan
manifestasi pada serangan awal kejang sederhana sapai gerakan konvulsif memanjang dengan
penurunan kesadaran. Keadaan ini dapat duhubungkan dengan kehilangan kesadaran, gerakan
berlebihan, hilangnya tonus otot serta gerakan dan gangguan perilaku, alam perasaan, sensasi,
dan persepsi. Sehingga epilepsi bukan penyakit tetapi suatu gejala.

Masalah dasarnya diperkirakan dari gangguan listrik (disritmia) pada sel saraf pada salah satu
bagian otak yang menyebabkan sel ini mengeluarkan muatan listrik abnormal, berulang, dan
tidak terkontrol. karakteristik kejang epileptik adalah suatu manifestasi muatan neuron
berlebihan ini.
Pola awal kejang menunjukkan daerah otak dimana kejang tersebut berasal. Juga penting untuk
menunjukkan jika klien mengalami aura (suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik yang
dapat menunjukkan asal kejang misalnya melihat kilatan sinar dapat menunjukkan kejang berasal
dari lobus oksipiatal).

Ada dua golongan utama penyakit epilepsi yaitu serangan parsial atau fokal yang mulai pada
suatu tempat tertentu di otak, biasanya di daerah korteks serebri, dan serangan umum yang
agaknya mencakup seluruh korteks serebri dan diensefalon (Price, 1995)
Gejala yang khas yang kita temui dan dapatkan dari pasien ataupun penderita epilepsi ini adalah
kejang.Kita bisa mengenali bahwa seseorang menderita kejang pertama kali yang dapat kita lihat
dan observasi adalah kejang ini.

Jenis kejang yang ada dalam penyakit epilepsi ini terbagi menjadi :
1. Kejang umum, kejang grand mal ditandai oleh empat fase yaitu :

   1. Fase AURA. Seseorang mengalami berbagai sensasi sebelum kejadian kejang kronik.
      Sensasi ini merupakan tanda akan datangnya kejang. Sensasi mungkin merupakan
      penciuman, pusing, cahaya, rasa tertentu, baal atau getaran pada tangan.Itu bagian awal
      dari kejang epilepsi
   2. Fase TONIK. Ditandai oleh hilangnya kesadaran, jeritan (suara bernada tinggi
      disebabkan lewatnya udara melalui laring yang menutup disertai kontraksi maksimal
      otot-otot dada dan perut), tubuh kaku karena kontraksi tiba-tiba dari seluruh otot
      volunteer ( tangan fleksi, kaki ekstensi dan gigi rapat).
   3. Fase KLONIK. Ditandai oleh gerakan-gerakan kejang agitasi seluruh tubuh karena
      pergantian relaksasi dan kontraksi yang cepat dari seluruh otot volunteer. Pernapasan
      terhenti dan terjadi sianosis. Mungkin disertai mulut berbusa karena banyaknya saliva
      yang mungkin berwarna merah bila terjadi pendarahan karena tergigitnya lidah.
   4. Fase PEMULIHAN / POSTIKTAL. Ditandai oleh terhentinya gerakan-gerakan kejang.
      Individu tidak sadar. Kesadaran dan semua gerakan volunteer perlahan kembali.
      Kebingungan, agitasi dan peka rangsang mungkin muncul. Individu akan merasa lelah.
      Mungkin mengalami inkontinensia urine. Individu jua lupa akan kejang yang dialaminya.

2. Kejang fokal atau parsial
Kejang fokal sederhana ditandai dengan kejang pada bagian tubuh tertentu merupakan tempat
dimana konduksi neural abnormal terjadi goncangan pada satu sisi wajah meluas kepada otot-
otot tubuh pada sisi yangt sama. Gejala somatosensori bisa terjadi misalnya kesemutan, rasa
logam, halusinasi visual; gejala otonom juga dapat terjadi seperti mual, berkeringat, individu
tidak mengalami kehilangan kesadaran.
Kejang fokal kompleks ditandai oleh adanya kehilangan kesadaran, disertai tingkah laku kacau
seperti lip smaking, menarik-narik pakaian, atau menunjukkan jari. Kemudian kacau mental dan
peka rangsang terjadi kemudian. Kejang parsial dapat berkembang menjadi kejang umum.
Dengan kejang pertama, seseorang dirawat dan mengalami pemeriksaan diagnostic lengkap
untuk menentukan penyebab kejang.

Demikian sahabat mengenai epilepsi dan juga pengertian epilepsi. Dan semoga bisa memberikan
manfaat sahabat. Dan untuk rekan-rekan sejawat perawat mungkin lain kali akan diposting
mengenai askep epilepsi yang ditinjau dari segi keperawatannya ini.

								
To top