Hakikat Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik by masfrendyku

VIEWS: 650 PAGES: 32

									    HAKIKAT PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
                                           BAG 1
    Dengan mempelajari perkembangan peserta didik kita akan memperoleh beberapa keuntungan:
   Pertama, kita akan mempunyai ekspektasi yang nyata tentang anak dan remaja. Dari psikologi
    perkembangan akan diketahui pada umur berapa anak mulai berbicara dan mulai mampu
    berpikif abstrak. Hal-hal itu merupakan gambaran umum yang terjadi pada kebanyakan anak, di
    samping itu akan diketahui pula pada umur berapa anak tertentu akan memperoleh keterampilan
    perilaku dan emosi khusus.
   Kedua, pengetahuun tentang psikologi perkembangan anak membantu kita untuk merespons
    sebagaimana mestinya pada perilaku tertentu dari seorang anak. Bila seorang anak dari Taman
    Kanak-kanak tidak mau sekolah lagi karena diganggu temannya, apa yang harus dilakukan oleh
    guru dan orang tuanya? Bila anak selalu ingin merebut mainan temannya apakah dibiarkan
    saja? Psikologi perkembangan akan membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan
    menunjukkan sumber-sumber jawaban serta pola-pola anak mengenai pikiran, perasaan dan
    perilakunya.
   Ketiga, pengetahuan tentang perkembangan anak akan membantu mengenali berbagai
    penyimpangan dari perkembangan yang normal. Bila anak umur dua tahun belum berceloteh
    (banyak bicara) apakah dokter dan guru harus mengkhawatirkannya? Bagaimana bila hal itu
    terjadi pada anak umur tiga atau empat tahun? Apa yang perlu dilakukan bila remaja umur lima
    belas tahun tidak mau lagi sekolah karena keinginannya yang berlebihan yaitu ingin melakukan
    sesuatu yang menunjukkan sikap “jagoan”? Jawaban akan lebih mudah diperoleh apabila kita
    mengetahui apa yang biasanya terjadi pada anak atau remaja.
   Keempat, dengan mempelajari perkembangan anak akan membantu memahami diri sendiri.
    Psikologi perkembangan akan secara terbuka mengungkap proses pertumbuhan psikologi,
    proses-proses yang akan dialami pada kehldupan sehari-hari. Yang lebih penting lagi,
    pengetahuan ini akan membantu kita memahami apa yang kita alami sendiri, misalnya mengapa
    masa puber kita lebih awal atau lebih lambat dibandingkan dengan teman- teman lain.
    Berikut ini adalah beberapa hal yang mendasari pentingnya mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan peserta didik:
     1. Masa perkembangan yang cepat pada anak terjadi pertumbuhan-pertumbuhan yang cepat
        dibandingkan dengan perubahan-perubahan yang dialami species lain. Perubahan flsik,
        misalnya pada tahun pertama lebih cepat dari pada tahun-tahun berikutnya. Hal yang sama
        terjadi juga pada perubahan yang menyangkut interaksi sosial, perolehan dan penggunaan,
        bahasa kemampuan mengingat serta berbagai fungsi lainnya.
     2. Pengaruh yang lama alasan lainnya mengapa mempelajari anak ialah bahwa peristiwa-
        peristiwa dan pengalaman-pengalaman pada tahun-tahun awal menunjukkan pengaruh
        yang lama dan kuat terhadap perkembangan individu pada masa-masa berkelanjutan.
            Kebanyakan ahli teori psikologi berpendapat bahwa apa yang terjadi hari-ini sangat
            banyak ditentukan oleh perkembangan kita sebagai anak.
         3. Proses yang kompleks sebagai peneliti yang mencoba memahami perilaku orang dewasa
            yang kompleks, berpendapat bahwa mengkaji tentang bagaimana perilaku itu pada saat
            masih sederhana akan sangat berguna. Misalnya ialah bahwa kebanyakan orang dapat
            membuat kalimat yang panjang dan dapat mengerti oleh orang lain. Manusia mampu
            berkomunikasi dari cara yang sederhana sampai yang kompleks karena bahasa yang
            dipergunakan mengikuti aturan-aturan tertentu. Tetapi menentukan apa aturan itu dan
            bagaimana menggunakan adalah sulit. Suatu pendekatan terhadap masalah ini adalah
            dengan mempelajari proses kemampuan berbahasa. Anak membentuk kalimat yang hanya
            terdiri atas satu atau dua kata, kalimat itu muncul dengan mengikuti aturan yang diajarkan
            orang dewasa. Dengan mengkaji kalimat pertama tersebut para peneliti bahasa bertambah
            wawasannya tentang mekanisme cara berbicara orang dewasa yang lebih kompleks.
         4. Nilai   yang   ditempatkan   kebanyakan     ahli   psikologi   perkembangan    melakukan
            penelitiannya dalam laboratorium dan sering kali mengkaji pertanyaan-perianyaan teoritis
            berdasarkan hasil penelitiannya. Produk penelitian ini kadang-kadang dapat diterapkan di
            dunia nyata. Misalnya penelitian tentang tahap awal perkembangan sosial yang secara
            relevan berkaitnn dengan orang tua tentang peranannya dalam kehidupannya sehari-hari,
            percobaan tentang strategi pemecahan masalah pada anak akan memberikan informasi
            berharga mengenai metode mengajar yang baik. Hasil dari penelitian atau pengkajian
            teoritis dapat secara langsung atau tidak dapat mempengaruhi pola pendidikan atau
            pengajaran.
         5. Masalah yang menarik anak merupakan makhluk yang mengagumkan dan penuh teka-teki
            serta menarik untuk dikaji. Kemudahan anak umur dua tahun untuk mempelajari bahasa
            ibunya dan kreativitas anak untuk bermain dengan temannya merupakan dua hal dari
            karakteristik anak yang sedang berkembang. Misalnya banyak lagi hal-hal yang berkaitan
            dengan perkembangan anak yang merupakan misteri dan menarik. Dalam hal ini ilmu
            pengetahuan lebih banyak menjumpai pertanyaan-pertanyaan daripada jawabannya.

A.        FAKTOR-FAKTOR              YANG          MEMPENGARUHI                 PERKEMBANGAN
       Sejak awal tahun 1980-an semakin diakuinya pengaruh keturunan (genetik) terhadap perbedaan
individu. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian perilaku genetik yang mendukung,
pentingnya pengaruh keturunan menunjukkan tentang pentingnya pengaruh lingkungan. Perilaku yang
kompleks yang menarik minat para ahli psikologi (misalnya temperamen, kecerdasan dan kepribadian)
mendapat pengaruh yang sama kuatnya baik dari faktor-faktor lingkungan maupun keturunan (genetik).
     Aspek apa sajakah yang mempengaruhi faktor genetik? Menurut Santrok (1992), banyak aspek
yang dipengaruhi faktor genetik. Para ahli genetik menaruh minat yang sangat besar untuk mengetahui
dengan pasti tentang variasi karakteristik yang dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Kecerdasan dan
temperamen merupakan aspek-aspek-yang paling banyak ditelaah yang dalam perkembangannya
dipengaruhi oleh keturunan.

   1. KECERDASAN
              Arthur Jensen (1969) mengemukakan pendapatnya bahwal kecerdasan itu diwariskan
       (diturunkan). la juga mengemukakan bahwa lingkungan dan budaya hanya mempunyai peranan
       minimal dalam kecerdasan. Dia telah melakukan beberapa penelitian tentang kecerdasan, di
       antaranya ada yang membandingkan tentang anak kembar yang berasal dari satu telur (identical
       twins) dan yang dari dua telur (fraternal twins). Identical twins memiliki genetik yang identik,
       karena itu kecerdasan (IQ) seharusnya sama. Fraternel twins pada anak sekandung genetiknya
       tidak sama karena itu IQ-nya pun tidak sama.
              Menurut Jensen bila pengaruh lingkungan lebih penting pada identical twins yang
       dibesarkan pada dua lingkungan yang berbeda, seharusnya menunjukkan IQ yang berbeda pula.
       Kajian terhadap hasil penelitian menunjukkan bahwa identical twins yang dibesarkan pada dua
       lingkungan yang berbeda korelasi rata-rata IQ-nya 82. Dua saudara sekandung yang dipelihara
       pada dua lingkungan yang berbeda korelasi rata-rata IQ-nya 50.
              Banyak ahli-ahli yang mengkritik Jensen. Salah seorang di antaranya mengkritik tentang
       definisi kecerdasan itu sendiri. Menurut Jensen IQ yang diukur dengan tes kecerdasan yang
       baku merupakan indikator kecerdasan yang baik. Kritik dari ahli lain ialah bahwa tes IQ hanya
       menyentuh sebagian kecil saja dari kecerdasan. Cara individu memecahkan masalah sehari-hari.
       penycsuaian dirinya terhadap lingkungan kerja dan lingkungan sosial, merupakan aspek-aspek
       kecerdasan yang penting dan tidak terukur oleh tes kecerdasan baku yang digunakan oleh
       Jensen. Kritik kedua menyatakan bahwa kebanyakan penelitian tentang keturunan dan
       lingkungan tidak mencakup lingkungan-lingkungan yang berbeda secara radikal. Karena itu
       tidaklah mengherankan bahwa studi tentang genetik menunjukkan bahwa lingkungan
       mempunyai pengaruh yang lemah terhadap kecerdasan. Menurut Jensen pengaruh keturunan
       terhadap kecerdasan sebesar 80 persen. Kecerdasan memang dipengaruhi oleh keturunan tetapi
       kebanyakan ahli perkembangan menyatakan bahwa pengaruh itu berkisar sekitar 50 persen.



   2. TEMPERAMEN
              Temperamen adalah gaya perilaku karakteristik individu dalam merespons. Ahli-ahli
       perkembangan sangat tertarik mengenai temperamen bayi. Sebagian bayi sangat aktif
       menggerak-gerakkan tangan, kaki dan mulutnya dengan keras, sebagian lagi lebih tenang,
       sebagian anak menjelajahi lingkungannya dengan giat dalam waktu yang lama dan sebagian
       lagi tidak demikian. Sebagian bayi merespons orang lain dengan hangat, sebagian lagi pasif dan
       acuh tak acuh. Gaya-gaya perilaku tersebut di atas menunjukkan temperamen seseorang.
              Menurut Thomas & Chess (1991) ada tiga tipe dasar temperamen yaitu mudah, sulit,
       dan lambat untuk dibangkitkan:
       a. Anak yang mudah umumnya mempunyai suasana hati yang positif dan dapat dengan
             cepat membentuk kebiasaan yang teratur, serta dengan mudah pula menyesuaikan diri
             dengan pengalaman baru.
       b. Anak yang sulit cenderung untuk bereaksi secara negatif serta sering menangis dan
             lambat untuk menerima pengalaman-pengalaman baru.
       c. Anak yang lambat untuk dibangkitkan mempunyai tingkat kegiatan yang rendah,
             kadang-kadang negatif, dan penyesuaian diri yang rendah dengan lingkungan atau
             pengalaman baru.
       Beberapa ahli perkembangan, termasuk Chess dan Thomas, Berpendapat bahvva
   temperamen adalah karakteristik bayi yang baru lahir dan akan dibentuk dan dimodifikasi oleh
   pengalaman-pengalaman anak pada masa-masa berikutnya. Para peneliti menemukan bahwa
   indeks pengaruh lingkungan terhadap temperamen sebesar 50 sampai 60 menunjukkan
   lemahnya pengaruh tersebut. Kekuatan pengaruh ini biasanya menurun saat anak itu tumbuh
   menjadi lebih besar. Menetap atau konsisten tidaknya temperamen bergantung kepada
   “kesesuaian” hubungan antara anak dengan orang tuanya. Orang tua mempengaruhi anak, tetapi
   anak pun mempengaruhi orang tua. Orang tua dapat menjauh dari anaknya yang sulit, atau
   mereka dapat menegur dan menghukumnya, hal ini akan menjadikan anak yang sulit menjadi
   lebih sulit lagi. Orang tua yang luwes dapat memberi pengaruh yang menenyangkan terhadap
   anak yang sulit atau akan tetap menunjukkan kasih sayang walau anak menjauh atau berkeras
   kepala.
       Dengan singkat dapat dikatakan bahwa keturunan mempengaruhi temperamen. Tingkat
   pengaruh ini bergantung pada respons orang tua terhadap anak-anaknya dengan pengalaman-
   pengalaman masa kecil yang ditemui dalam lingkungan.

3. INTERAKSI KETURUNAN LINGKUNGAN DAN PERKEMBANGAN
             Keturunan dnn lingkungan berjalan bersama atau bekerja sama dan menghasilkan
   individu dengan kecerdasan, temperamen tinggi dan berat badan, minat yang khas. Bila seorang
   gadis cantik dan cerdas terpilih menjadi ketua OSIS, apakah kita akan berkesimpulan bahwa
   keberhasilannya itu hanya karena lingkungan atau lainnya karena keturunannya? tentu saja
   karena keduanya. Karena pengaruh lingkungan bergantung kepada karakteristik genetik, maka
   dapat dikatakan bahwa antara keduanya terdapat interaksi.
             Pengaruh genetik terhadap kecerdasan terjadi pada awal perkembangan anak dan
   berlanjut terus sampai dewasa. Kita ketahui pula bahwa dengan dibesarkan pada keluarga yang
   sama dapat terjadi perbedaan kecerdasan secara individual dengan variasi yang kecil pada
   kepribadian dan minat. Salah satu alasan terjadinya hal itu ialah mungkin karena keluarga
   mempunyai penekanan yang sama kepada anak-anaknya berkenaan dengan perkembangan
   kecerdasan yaitu dengan mendorong anak mencapai tingkat tertinggi. Mereka tidak
   mengarahkan anak ke arah minat dan kepribadian yang sama. Kebanyakan orang tua
   menghendaki anaknya untuk mencapai tingkat kecerdasan di atas rata-rata.
               Apakah yang perlu diketahui tentang interaksi antara keturunan dengan lingkungan
        dalam perkembangan? Kita perlu mengetahui lebih banyak tentang interaksi tersebut dalam
        perkembangan yang berlangsung normal. Misalnya, apakah arti perbedaan IQ antara dua orang
        sebesar 95 dan 1257. Untuk dapat menjawabnya diperlukan informasi tentang pengaruh-
        pengaruh budaya dan genetik. Kita pun perlu mengetahui pengaruh keturunan terhadap seluruh
        siklus kehidupan. Contoh lain pubertas dan menopause bukanlah semata-mata hasil lingkungan,
        walaupun pubertas dan menopause dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti
        nutrisi, berat, obat-obatan dan kesehatan, evolusi dasar dan program genetik. Pengaruh
        keturunan pada pubertas dan menopause tidak dapat diabaikan.

B. FASE-FASE PERKEMBANGAN
        Setiap orang berkembang dengan karakteristik tersendiri. Hampir sepanjang waktu perhatian
kita tertuju pada keunikan masing-masing. Sebagai manusia, sctiap orang melalui jalan-jalan yang
umum. Setiap diri kita mulai belajar berjalan pada usia satu tahun, berjalan pada usia dua tahun,
tenggelam pada -permainan fantasi pada niasa kanak-kanak dan belajar mandiri pada usia remaja.
        Apakah yang dimaksud oleh para ahli psikologi dengan perkembangan individu? Menurut
Santrok dan Yussen (1992) perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai pada saat
terjadi pembuahan dan berlangsung terus selama siklus kehidupan. Dalam perkembangan terdapat
pertumbuhan. Pola gerakan itu kompleks karena merupakan hasil (produk) dari beberapa prose yaitu
proses biologis, proses kognitif dan proses sosial.
        Proses-proses biologis meliputi perubahan-perubahan fisik individu. Gen yang diwarisi dari
orang tua, perkembangan otak, penambahan tinggi dan berat, keterampilan motorik, dan perubahan-
perubahan hormon pada masa puber mencerminkan peranan proses-proses biologis dalam
perkembangan.
        Proses kognitif meliputi perubahan-perubahan yang terjadi pada individu mengenai pemikiran,
kecerdasan dan bahasa. Mengamati gerakan mainnn bayi yang digantung, menghubungkan dua kata
menjadi kalimat, menghafal, puisi dan memecahkan soal-soal matematika mencerminkan peranan
proses-proses kognitif dalam perkembangan anak.
        Proses-proses sosial meliputi perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan individu
dengan orang lain, perubahan-perubahan dalam emosi dan perubahan-perubahan dalam kepribadian.
Senyuman bayi sebagai respons terhadap sentuhan ibunya, sikap agresif anak laki-laki terhadap teman
mainnya, kewaspadaan seorang gadis terhadap lingkungannya mencerminkan peranan proses sosial
dalam perkembangan anak.
        Hendaknya selalu diingat bahwa antara ketiga proses, yaitu biologis, kognitif, dan sosial
terdapat jalinan yang kuat. Anda akan mengetahui bagaimana proses sosial membentuk proses-proses
kognitif. Akan sangat membantu untuk mempelajari berbagai proses yang mempengaruhi
perkembangan anak dengan tetap mengingat bahwa anda sedang mempelajari perkembangan anak
yang terintegrasi sebagai manusia seutuhnya dan memiliki seutuhnya dan memiliki kesatuan jiwa dan
raga.
       Perubahan pada perkembangan merupakan produk dari proses-proses biologis, kognitif dan
sosial. Proses-proses itu terjadi pada perkembangan manusia yang berlangsung pada keseluruhan siklus
hidupnya.
       Untuk memudahkan pemahaman tentang perkembangan maka dilakukan pembagian
berdasarkan waktu-waktu yang dilalui manusia dengan sebutan fase. Santrok dan Yussen membaginya
atas lima yaitu: fase pranatal (saat dalam kandungan), fase bayi, fase kanak-kanak awal, fase anak akhir
dan fase remaja. Perkiraan waktu ditentukan pada setiap fase untuk memperoleh gambaran waktu suatu
fase itu dimulai dan berakhir:

  1. Fase pra natal (saat dalam kandungan)
      Adalah waktu yang terletak antara masa pembuahan dan masa kelahiran. Pada saat ini terjadi
      pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel menjadi satu organisme yang lengkap dengan otak dan
      kemampunn berperilaku, dihasilkan dalam waktu lebih kurang sembilan bulan.

  2. Fase bayi
      Adalah saat perkembangan yang berlangsung sejak lahir sampai 18 atau 24 bulan. Masa ini
      adalah masa yang sangat bergantung kepada orang tua. Banyak kegiatan-kegiatan psikologis
      yang baru dimulai misalnya bahasa, koordinasi sensori motor dan sosialisasi.

  3. Fase kanak-kanak awal
      Adalah fase perkembangan yang berlangsung sejak akhir masa bayi sampai 5 atau 6 tahun,
      kadang-kadang disebut masa pra sekolah. Selama fase ini mereka belajar melakukan sendiri
      banyak hal dan berkembang keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan kesiapan untuk
      bersekolah dan memanfaatkan waktu selama beberapa jam untuk bermain sendiri ataupun dengan
      temannya. Memasuki kelas satu SD menandai berakhirnya fase ini.

  4. Fase kanak-kanak tengah dan akhir
      Adalah fase perkembangan yang berlangsung sejak kira-kira umur 6 sampai 11 tahun, sama
      dengan masa usia sekolah dasar. Anak-anak menguasai keterampilan-keterampilan dasar
      membaca, menulis dan berhitung. Secara formal mereka mulai memasuki dunia yang lebih luas
      dengan budayanya. Pencapaian prestasi menjadi arah perhatian pada dunia anak, dan
      pengendalian diri sendiri bertambah pula.
       Masa remaja adalah masa perkembangan yang merupakan transisi dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa awal, yang dimulai kira-kira timur 10 sampai 12 tahun dan berakhir kira-kira umur 18
sampai 22 tahun. Remaja mengalami perubahan-perubahan fisik yang sangat cepat, perubahan
perbandingan ukuran bagian-bagian badan, bcrkembangnya karakteristik seksual seperti membesarnya
payudara, tumbuhnya rambut pada bagian tertentu dan perubahan suara. Pada fase ini dilakukan upaya-
upaya untuk mandiri dan pencarian identifas diri. Pemikirannya Iebih logis, abstrak dan idealis.
Semakin          lama        banyak          waktu    dimanfaatkan         di        luar     keluarga.
Pada saat ini para ahli perkenibangan tidak lagi berpendapat bahwa perubahan-perubahan akan berakhir
pada fase ini. Mereka mengatakan bahwa perkembangan merupakan proses yang terjadi sepanjang
hayat.

C. POLA-POLA PERKEMBANGAN AFEKTIF PADA MANUSIA
   Seorang ahli teori psikoanalisa dan sekaligus seorang pendidik, Erik H. Erikson mengemukakan
bahwa perkembangan manusia adalah sintesis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas-tugas sosial.
Teorinya itu kemudian diterbitkan sebagai bukunya yang pertama dengan judul Childhood and Society.
Dikemukakannya bahwa perkembangan afektif merupakan dasar perkembangan manusia. Erikson
melahirkan teori perkembangan afektif yang terdiri atas delapan tahap:

   1. Trust vs Mistnis/Kepercayaan dasar (0;0 -1;0)
                    Bayi yang kebutuhannya terpenuhi waktu ia bangun, keresahannya segera terhapus,
         selalu dibuai dan diperlakukan sebaik-baiknya, diajak main dan bicara, akan tumbuh
         perasaannya bahwa dunia ini tempat yang aman dengan orang-orang di sekitarnya yang selalu
         bersedia menolong dan dapat dijadikan tempat ia menggantungknn nasibnya. Jika pemeliharaan
         terhadap bayi itu tidak menetap, tidak memadai sebagaimana mestinya, serta terkandung di
         dalamnya sikap-sikap menolak, akan tumbuhlah pada bayi itu rasa takut serta ketidakpercayaan
         yang mendasar terhadap dunia sekelilingnya dan terhadap orang-orang di sekitarnya. Perasaan
         ini akan terus terbawa pada tingkat-tingkat perkembanpan berikutnya.

   2. Autonomy vs Shame and Doubt/Otonomi (1;0 – 3;0)
                    Pada tahap ini Erikson melihat munculnya autonomy. Dimensi autonomy ini timbulnya
         karena adanya kemampuan motoris dan mental anak. Pada saat ini bukan hanya berjalan, tetapi
         juga memanjat, menutup-membuka menjatuhkan, menarik dan mendorong, memegang dan
         melepaskan. Anak sangat bangga dengan kemampuannya ini dan ia ingin melakukan banyak
         hal sendiri. Orang tua sebaiknya menyadari bahwa anak butuh melakukan sendiri hal-hal yang
         sesuai dengan kemampuannya menurut langkah dan waktunya sendiri. Anak kemudian akan
         mengembangkan perasannya bahwa ia dapat mengendalikan otot-ototnya, dorong-dorongannya,
         serta mengendalikan diri dan lingkungannya.
                    Jika orang dewasa yang mengasuh dan membimbing anak tidak sabar dan selalu
         membantu mengerjakan segala sesuatu yang sesungguhnya dapat dikerjakannya sendiri oleh
         anak itu, maka akan tumbuh pada anak itu rasa malu-malu dan ragu-ragu. Orang tua yang
         terlalu melindungi dan selalu mencela hasil pekerjaan anak-anak, berarti telah memupuk rasa
         malu dan ragu yang berlebihan sehingga anak tidak dapat mengendalikan dunia dan dirinya
         sendiri,
                    Jika anak, meninggalkan masa perkembangan ini dengan autonomi yang lebih kecil
         daripada rasa malu dan ragu, ia akan mengalami kesulitan untuk memperoleh autonomi pada
         masa remaja dan masa dewasanya. Sebaliknya anak yang dapat melalui masa ini dengan adanya
         keseimbangan serta dapat mengatasi rasa malu dan ragu dengan rasa outonomus, maka ia sudah
    siap menghadapi siklus-siklus kehidupan berikutnya. Namun demikian keseimbangan yang
    diperoleh pada masa ini dapat berubah ke arah positif maupun negatif oleh peristiwa-peristiwa
    di masa selanjutnya.

3. Initiatives vs Guilt/Inisiatif (3;0 – 5;0)
            Pada masa ini anak sudah menguasai badan dan geraknya. la dapat mengendarai sepeda
    roda tiga, dapat lari, memukul, memotong. Inisiatif anak akan lebih terdorong dan terpupuk bila
    orang tua memberi respons yang baik terhadap keinginan anak untuk bebas dalam melakukan
    kegiatan-kegiatan motoris sendiri dan bukan lainya bereaksi atau meniru anak-anak lain. Hal
    ynng sama terjadi pada kemampuan anak untuk menggunakan bahasa dan kegiatan fantasi.
    Dimensi sosial pada tahap ini mempunyai dua ujung inisiative suilt. Anak yang diberi
    kebebasan dan kesempatan untuk berinisiatif pada permainan motoris serta mendapat jawaban
    yang yang memadai dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya (intelectual full/live), maka
    inisiatifnya akan berkembang dengan pesat.

4. Industry vs litferioriry/Produkttvltns (6;0 – 11 ;00)
            Anak      mulai     mampu     berpikir   deduktif,   bermain    dan    belajar     menurut
    peraturan    yang    ada.   Dimensi     psikososial   yang   muncul    pada   masa   ini    adalah:
    sense of industry, sense of inferiority. Anak didorong untuk membuat, melakukan dan
    mengerjakan dengan benda-benda yang praktis dan mengerjakannya sampai selesai sehingga
    menghasilkan sesuatu. Berdasarkan hasilnya mereka dihargai dan di mana perlu diberi hadiah.
    Dengan demikian rasa/sifat ingin menghasilkan sesuatu dapat dikembangkan.
            Pada usia sekolah dasar ini dunia anak bukan hanya lingkungan rumah saja melainkan
    menecakup juga lembaga-lembaga lain yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan
    individu. Pengalaman-pengalaman sekolah anak mempengaruhi industry dan inferiority anak.
    Anak dengan IQ 80 atau 90 akan mempunyai pengalaman sekolah yang kurang memuaskan
    walaupun sifat industri dipupuk dan dikembangkan di rumah. Ini dapat menimbulkan rasa
    inferiority (rasa tidak mampu). Keseimbangan industry dan inferiority bukan hanya bergantung
    kepada orang tuanya, tetapi dipengaruhi pula oleh orang-orang dewasa lain yang berhubungan
    dengan anak itu

5. Identity vs Role Confusion/Identitas (12;0 – 18;0)
            Pada saat ini anak sudah menuju kematangan fisik dan mental. la mempunyai perasaan-
    perasaan dan keinginan-keinginan baru sebagai akibat perubahan-perubahan tubuhnya.
    Pandangan dan pemikirannya tentang dunia sekelilingnya mengilhami perkembangan. la mulai
    dapat berpikir tentang pikiran orang lain. la berpikir penuh apa yang dipikirkan orang lain
    tentang dirinya. la mulai mengerti tentang keluarga yang ideal, agama dan masyarakat, yang
    dapat diperbandingkannya dengan apa yang dialaminya sendiri.
            Menurut Erikson pada tahap ini dimensi interpersonal yang muncul adalah
    ego identity role confusion. Pada masa ini remaja harus dapat mengintegrasikan apa yang telah
   dialami dan dipelajarinya tentang dirinya sebagai anak, siswa, teman, anggota pramuka, dan
   lain sebagainya menjadi suatu kesatuan sehingga menunjukkan kontinuitas dengan masa lalu
   dan siap menghadapi masa datang. Peran orang tua yang pada masa lalu berpengaruh secara
   langsung pada krisis perkembangan, maka pada masa ini pengaruhnya tidak langsung. Jika anak
   mencapai masa remaja dengan rasa terima kasih kepada orang tua, dengan penuh kepercayaan,
   mempunyai autonomy, berinisiatif, memiliki sifat-sifat industry, maka kesempatannya kepada
   ego indentiti sudah berkembang.

6. Intimacy vs Isolation/Keakraban (19;0 – 25;0)
           Yang dimaksud dengan intimacy oleh Erikson selain hubungan antara suami istri adalah
   juga kemampuan untuk berbagai rasa dan memperhatikan orang lain. Pada tahap ini pun
   keberhasilan tidak bergantung secara langsung kepada orang tua. Jika intimacy ini tidak
   terdapat di antara sesama teman atau suami istri, menurut Erikson, akan terdapat apa yang
   disebut isolation, yakni kesendirian tanpa adanya orang lain untuk berbagai rasa dan saling
   memperhatikan.

7. Generavity vs Self Absorption/Generasi Berikut (25;0 – 45;0)
           Generativity   berarti   bahwa     orang   mulai   memikirkan   orang-orang   lain   di
   luar keluarganya sendiri, memikirkan generasi yang akan datang serta hakikat masyarakat dan
   dunia tempat generasi ini hidup. Generativity ini bukan hanya terdapat pada orang tua (ayah dan
   ibu), tetapi terdapat pula pada individu-individu yang secara aktif memikirkan kesejahteraan
   kaum muda serta berusaha membuat tempat bekerja yang lebih baik untuk mereka hidup. Orang
   yang tidak berhasil mencapai generativity berarti ia berada dalam keadaan self absorption
   dengan hanya memutuskan perhatian kepada kebutuhan-kebutuhan dan kesenangan pribadinya
   saja.

8. Integrity vs Despair/Integritas (45;0 …)
           Pada tahap ini usaha-usaha yang pokok pada individu sudah mendekati kelengkapan,
   dan merupakan masa-masa untuk menikmati pergaulan dengan cucu-cucu. Integrity timbul dari
   kemampupn individu untuk melihat kembali kehidupannya yang lalu dengan kepuasan.
   Sedangkan kebalikannya adalah despair, yaitu keadaan di mana individu yang menengok ke
   belakang dan meninjau kembali kehidupannya masa lalu sebagai rangkaian kegagalan dan
   kehilangan arah, serta disadarinya bahwa jika ia memulai lagi sudah terlambat.
           Sebagai rekapitulasi dapat dinyatakan bahwa penahapan perkembangan afektif manusia
   merupakan perpaduan dari tugas-tugas perkembangan dan tugas-tugas sosial. Perkembangan
   afektif suatu tahap dapat berpengaruh secara positif maupun negatif terhadap tahap berikutnya.
   Jika anak mencapai tahap ketiga yang bergaul dengan anak bukan hanya orang tuanya saja
   melainkan juga orang dewasa lainnya di sekolah, yaitu guru. Guru yang membimbing dan
   mengasuh peserta didiknya pada berbagai aspek tingkat kelas perlu memahami dan menyadari
   sikap, kebutuhan dan perkembangan mereka.
D. POLA PERKEMBANGAN KOGNITIF DARI JEAN PIAGET
       Perkembangan kognitif anak berlangsung secara teratur dan berurutan sesuai dengan
perkembangan umurnya. Maka pengajaran harus direncanakan sedemikian rupa disesuaikan dengan
perkembangan kecerdasan peserta didik.
       Piaget mengemukakan proses anak sampai mampu berpikir seperti orang dewasa melalui empat
tahap perkembangan, yakni:

    1. Tahap sensor motor (0;0 – 2;0)
               Kegialan     intelektual       pada   tahap   ini   hampir   seluruhnya   mencakup   gejala
        yang diterima secara langsung melalui indra. Pada saat anak mencapai kematangan dan mulai
        memperoleh keterampilan berbahasa, mereka mengaplikasikannya dengan menerapkannya
        pada objek-objek yang nyata. Anak mulai memahami hubungan antara benda dengan nama
        yang diberikan kepada benda tersebut.

    2. Tahap praoperasional (2;0 – 7;0)
               Pada tahap ini perkembangan sangat pesat. Lambang-lambang bahasa yang
        dipergunakan untuk menunjukkan benda-benda nyata bertambah dengan pesatnya. Keputusan
        yang diambil hanya berdasarkan intuisi, bukannya berdasarkan analisis rasional. Anak biasanya
        mengambil kesimpulan dari sebagian kecil yang diketahuinya, dari suatu keseluruhan yang
        besar. Menurut pendapat mereka pesawat terbang adalah benda kecil yang berukuran 30 cm
        karena hanya itulah yang nampak pada mereka saat mereka menengadah dan melihatnya
        terbang di angkasa.

    3. Tahap operasional konkrit (7;0 – II;0)
               Kemampuan berpikir logis muncul pada tahap ini. Mereka dapat berpikir secara
        sistematis untuk mencapai pemecahan masalah. Pada tahap ini permasalahan yang dihadapinya
        adalah permasalahan yang konkret. Pada tahap ini anak akan menemui kesulitan bila diberi
        tugas sekolah yang menuntutnya untuk mencari sesuatu yang tersembunyi. Misalnya, anak
        sering kali menjadi frustasi bila disuruh mencari arti tersembunyi dari suati kata dalam tulisan
        tertentu. Mereka menyukai soal-soal yang tersedia jawabannya.

    4. Tahap operasional formal (11; -15;0)
               Tahap ini ditandai dengan pola berpikir orang dewasa. Mereka dapat mengaplikasikan
        cara berpikir terhadap permasalahan dari semua kategori baik yang abstrak maupun yang
        konkret. Pada tahap ini anak sudah dapat memikirkan buah pikirannya, dapat membentuk ide-
        ide, berpikir tentang masa depan secara realistis.
               Sebelum menekuni tugasnya membimbing dan mengajar, guru atau calon guru
        sebaiknya memahami teori Piaget atau ahli lainnya tentang pola-pola perkembangan
        kecerdasan peserta didik. Dengan demikian mereka memiliki landasan untuk mengembangkan
        harapan-harapan yang realistik mengenai perilaku peserta didiknya

E. TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN
       Perkembangan menurut Robert J. Havighurs adalah sebagian tugas yang muncul pada suatu
periode tertentu dalam kehidupan individu yang merupakan keberhasilan yang dapat memberian
kebahagian serta memberi jalan bagi tugas-tugas berikutnya. Kegagalan akan menimbulkan
kekecewaan bagi individu, penolakan oleh masyarakat dan kesulitan untuk tugas perkembangan
berikutnya.

       Tugas perkembangan pada masa kanak-kanak:
 1. Belajar berjalan.
 2. Belajar makan makanan padat.
 3. Belajar mengendalikan gerakan badan.
 4. Mempelajari peran yang sesuai dengan jenis kelaminnya.
 5. Memperoleh stabilitas fisiologis.
 6. Membentuk konsep-konsep sederhana tentang kenyataan sosial dan fisik
 7. Belajar inenghubungkan diri secara emosional dengan orang tua, kakak adik dan orang lain.
 8. Pelajar membedakan yang henar dan salah.



    Tugas perkembangan masa anak:
 1. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan tertentu.
 2. Membentuk           sikap   tertentu   terhadap   dfri   sendiri   sebagai    organisme     yang
     sedang tumbuh.
 3. Belajar bergaul secara rukun dengan teman sebaya.
 4. Mempelajari peranan yang sesuai dengan jenis kelamin.
 5. Membina keterampilan dasar dalarr membaca, menulis dan berhitung.
 6. Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
 7. Membentuk kata hati, mbralitas dan nilai-nilai.
 8. Memperoleh kebebasan diri.
 9. Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan lembaga sosial.

     Tugas perkembangan masa Remaja:
 1. Memperoleh hubungan-hubungan baru dan lebih matang dengan yang sebaya dari
     kedua jenis kelamin.
 2. Memperoleh peranan sosial dengan jenis kelamin individu.
 3. Menerima fisik dari dan menggunakan badan secara efektif.
 4. Memperoleh kebebasan diri melepaskan ketergantupgan diri dari orang tua dan orang
    dewasa lainnya.
 5. Melakukan pemilihan dan persiapan untuk jabatan.
 6. Memperoleh kebebasan ekonomi.
 7. Persiapan perkavvinan dan kehidupan berkeluarga.
 8. Mengembangkan keterampilan intelektuai dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai
    warga negara yang baik.
 9. Memupuk dan memperoleh perilaku yang dapat dipertanggung jawabkan secara sosial.
 10. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman berperilaku.

     Tugas perkembangan masa dewasa awal:
 1. Memilih pasangan hidup.
 2. Belajar hidup dengan suami atau istri.
 3. Memulai kehidupan berkeluarga.
 4. Membimbing dan merawat anak.
 5. Mengolah rumah tangga.
 6. Memulai suatu jabatan.
 7. Menerima tanggung javvab sebagai warga negara.
 8. Menemukan kelompok sosial yang cocok dan menarik.

     Tugas-tugas perkembangan masa setengah baya:
 1. Memperoleh tanggung jawab sosi?l dan warga negara.
 2. Membangun dan mempertahankan s’andar ekonomi.
 3. Membantu anak remaja untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia.
 4. Membina kegiatan pengisi waktu serggang orang dewasa.
 5. Membina hubungan dengan pasanga.i hidup sebagai pribadi.
 6. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisik sendiri.
 7. Menyesuaikan diri dengan pertambuhan umur.

     Tugas-tugas perkembangan orang tua:
 1. Menyesuaikan diri dengan menurunnya kesehatan dan kekuatan fisik.
 2. Menyesuaikan diri terhadap masa pensiun dan menurunnya pendapatan.
 3. Menyesuaikan diri terhadap meninggalnya suami/istri.
 4. Menjalin hubungan dengan perkumpulan manusia usia lanjut.
 5. Memenuhi kewajiban sosial dan sebagai warga negara.
 6. Membangun kehidupan fisik yang memuaskan.
      Menurut Havighurst setiap tahap perkembangan individu hams sejalan dengan perkembangan
aspek-aspek lainnya, yaitu fisik, psikis serta emosional, moral dan sosial. Dikemukakannya
perkembangan yang dicapai individu pada masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, masa dewasa
awal, masa setengah baya dan masa tua.
      Ada dua alasan mengapa tugas-tugas perkembangan ini penting bagi pendidik
   Pertama, membantu memperjelas tujuan yang akan dicapai seholah. Pendidikan dapat dimengerti
    sebagai usaha masyarakat, melalui sekolah, dalam membantu individu mencapai tugas-tugas
    perkembangan tertentu.
   Kedua, konsep ini dapat dipergunakan sebagai pedoman. waktu untuk melaksanakan usaha-usaha
    pendidikan. Bila individu telah mencapai kematangan, siap untuk mencapai tahap tugas tertentu
    serta sesuai dengan tuntutan masyarakat, maka dapat dikatakan bahwa saal untuk mengajar
    individu yang bersangkutan (the-teachable moment) telah tiba. Bila mengajarnya pada saat yang
    tepat maka liasil pengajaraft
    yang optimal dapat dicapai.
                                    (Sumber Buku Perkembangan Peserta Didik oleh Mulyani Sumantri)
                                POTENSI DASAR MANUSIA
      Potensi diri merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah
terwujud, yang dimiliki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara
maksimal.

      Secara umum, potensi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

      • Kemampuan dasar, seperti tingkat intelegensi, kemampuan abstraksi, logika dan daya tangkap.

      • Etos kerja, seperti ketekunan, ketelitian, efisiensi kerja dan daya tahan terhadap tekanan.

      • Kepribadian, yaitu pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan, serta kebiasaan seseorang,
       baik jasmaniah, rohaniah, emosional maupun sosial yang ditata dalam cara khas di bawah
       aneka pengaruh luar.

      Menurut Howard Gardner, potensi yang terpenting adalah intelegensi, yaitu sebagai berikut:

      1. Intelegensi linguistik, intelegensi yang menggunakan dan mengolah kata-kata, baik lisan
       maupun tulisan, secara efektif. Intelegensi ini antara lain dimiliki oleh para sastrawan, editor,
       dan jurnalis.

      2. Intelegensi matematis-logis, kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan
       pada kepekaan pola logika dan perhitungan.

      3. Intelegensi ruang, kemampuan yang berkenaan dengan kepekaan mengenal bentuk dan benda
       secara tepat serta kemampuan menangkap dunia visual secara cepat. Kemampuan ini biasanya
       dimiliki oleh para arsitek, dekorator dan pemburu.

      4. Intelegensi kinestetik-badani, kemampuan menggunakan gerak tubuh untuk mengekspresikan
       gagasan dan perasaan. Kemampuan ini dimiliki leh aktor, penari, pemahat, atlet dan ahli
       bedah.

      5. Intelegensi musikal, kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati
       bentuk-bentuk musik dan suara. Kemampuan ini terdapat pada pencipta lagu dan penyanyi.

      6. Intelegensi interpersonal, kemampuan seseorang untuk mengerti dan menjadi peka terhadap
       perasaan, motivasi, dan watak temperamen orang lain seperti yang dimiliki oleh seserang
       motivator dan fasilitator.

      7. Intelegensi intrapersonal, kemampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri.
       Kemampuan ini berkaitan dengan kemampuan berefleksi(merenung) dan keseimbangan diri.

      8. Intelegensi naturalis, kemampuan seseorang untuk mengenal alam, flora dan fauna dengan
       baik.
      9. Intelegensi eksistensial, kemampuan seseorang menyangkut kepekaan menjawab persoalan-
       persoalan terdalam keberadaan manusia, seperti apa makna hidup, mengapa manusia harus
       diciptakan dan mengapa kita hidup dan akhirnya mati.


                   KARAKTERISTIK DAN PERBEDAAN INDIVIDU

A. Individu dan Karakteristiknya

   1. Pengertian Individu

             Manusia secara utuh artinya manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan
      menungalnya bergabagi cirri antar berbagai segi, yaitu antara segi individu dan social, jasmani
      dan rohani, serta dunia dan akhirat. Individu artinya tidak bias dibagi, tidak dapat dipisahkan,
      keberadaannya sebagai makhluk yang pilah, tunggal dan khas. Individu yang berarti orang,
      perseorangan yang diinginkan (Echlos, 1975 : Sunarto, dkk : 1994)


   2. Karakteristik Individu

             Karakteristik bawaan merupakan karakter keturunan yang dibawa sejak lahir, baik
      berkaitan dengan faktor biologis maupun sosial psikologis. Kepribadian, prilaku apa yang
      diperkuat, dipikirkan, dan dirasakan oleh seseorang (individu) merupakan hasil diri perpduan
      antara faktor biologis sebagaimana unsur bawaan dan pengaruh lingkungan.


B. Perbedaan Individu

             Sifat individual adalah sifata yang berkaitan dengan orang perseorangan, berkaitan
      perbedaan individual dengan perseorangan. Garry pada 1963 (Hartomo, dkk.1994)
      mengkategorikan perbedaan individu, sbb:

         a. Perbedaan fisik

         b. Perbedaan social

         c. Perbedaan kepribadian

         d. Perbedaan kemampuan

         e. Perbedaan kecakapan atau kepandaian disekolah
C. Perbedaan Kognitif

             Menurut Bloom, proses belajar, baik disekolah maupun diluar sekolah. Menghasilkan
      dan pembentukan kemampuan yang dikenal sebagi taxonomy Bloom, yaitu kemampuan
      kognitif. Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu
      pengetahuan dan tekonologi. Tingkat kemampuan kognitif tergambar pada hasil belajar yang
      diukur dengan tes hasil belajar. Tes hasil belajar nilai kemampuan kognitf yang bervariasi.
      Kemampuan kognitif berkolerasi posotif dengan tingkat kecerdasan seseorang.


D. Perberdaan dalam Kecakapaan Bahasa

             Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan individu untuk menyatakan buah
      pikiran dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat bermakna, logis dan sistematis, yang
      dipengaruhi oleh factor kecerdasan dan factor lingkungan, termasuk factor fisik yakni orang
      berbicara.


E. Perbedaan dalam Kecakapan Motorik

             Kecakapan motorik atau kemampuan untuk melakukan koordinasi kerja syaraf pusat
      (otak) untuk melakukan kegiatan. Saraf Rangsangan gerakan motoric saraf pusat sensoris
      Kemampuan motorik dipengaruhi kematanga fisik dan tingkat kempuan berfikir.


F. Perbedaan dalam Latar Belakang

             Latar belakang individu dimaksud dibedakan dari factor dalam dan luar dirinya. Factor
      dari dalam : kecerdasan, kemampuan, bakat, dll. Factor dari luar : social ekonomi, pola sikap
      orangtua, dll.


G. Perbedaan dalam Bakat

             Bakat adalah kemampuan khusus yang dibaca sejak lahir, kemampuan tersebut akan
      berkembang dengan baik bila mendapat ransangan / kesemapatan dan pemupukan secara tepat .


F. Perbedaan Dalam Kesiapan Belajar

             Kesiapan belajar individu didukung oleh kematangan fisik, mental, umur, kesehatan,
      dan pengalaman-pengalaman hasil persepsi dan perhatiannya terhadap lingkungan.
                                      POTENSI MANUSIA
       Memasuki abad ke-20 kita mengenal sebuah istilah populer yang berkaitan dengan kecerdasan
IQ, Intelligent Quotient. Sekarang ini hampir sulit menemukan ada istilah lain selain IQ yang demikian
sangat mempengaruhi seseorang dalam memandang diri mereka sendiri dan orang lain. Seorang
psikolog berkebangsaan Prancis, Alfred Binet, yang pada tahun 1905 menyusun suatu test kecerdasan
terstandardisasi untuk pertama kalinya. Berbeda dengan bagaimana IQ diposisikan kini dalam cara
masyarakat memandang dan mengklasifikasikan individu-individu, pada awalnya Binet justru
merancang test kecerdasannya ini untuk mengidentifikasi pelajar-pelajar di sekolahnya saat itu yang
membutuhkan bantuan khusus, dan bukannya untuk mencari anak-anak yang berbakat luar biasa seperti
yang berlangsung di kemudian hari. Lebih jauh lagi, Binet berusaha untuk memastikan bahwa anak-
anak yang memiliki persoalan-persoalan dalam perilaku ini tidak lantas dianggap secara terburu-buru
hanya sebagai orang yang bodoh/tidak cerdas.
       Test yang dikembangkan oleh Binet ini tak lama kemudian disusun kembali oleh Lewis
Terman, seorang profesor dalam bidang psikologi dari Stanford University di US. Terman
menggagaskan untuk memformulasikan suatu skor nilai yang disebutnya sebagai IQ–Intelligent
Quotient yang diperoleh dengan cara membagi ‘umur mental’ seseorang (yang didapat dari test
kecerdasan Binet) dengan umurnya yang sebenarnya atau umur kronologisnya.
       Sekarang metoda test IQ masih digunakan terutama seperti yang pertama kali diharapkan oleh
Binet untuk keperluan membantu para pelajar yang memerlukan pelajaran tambahan dan perhatian
ekstra. Namun sejarah membuktikan bahwa metoda ini bergerak lebih jauh lagi dalam mempengaruhi
aspek-aspek pemikiran masyarakat modern dalam cara mereka memandang aspek-aspek potensi
individu. Barangkali tidak ada yang salah dengan metoda penentuan IQ ini, namun peradaban modern
barat ketika itu (dan hingga kini) tidak memiliki konsepsi yang utuh dalam memandang diri manusia.
Wajar jika saat itu IQ yang merefleksikan kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi-situasi
praktis dalam hidupnya (aspek kecerdasan sebagai problem-solving capacity), dianggap sebagai satu-
satunya atribut kemanusiaan yang paling berharga. Pandangan ini juga dipengaruhi oleh perkembangan
teori kecerdasan abad ke-19 paduan antara sains dan sosiologi yang dipelopori oleh sepupu Charles
Darwin, Francis Galton, pada akhir abad ke-19 secara terpisah dari apa yang dikerjakan Binet saat itu.
Galton juga meyakini bahwa jika orang-orang yang memiliki banyak atribut kecerdasan ini dapat
diidentifikasi dan diletakkan dalam jabatan-jabatan kepemimpinan yang strategis, maka seluruh lapisan
masyarakat akan memperoleh manfaatnya. Ketika itu juga berkembang paham eugenics–populer di
Eropa dan US sebelum akhirnya Hitler menyadarkan mereka betapa mengerikannya gagasan itu yang
meyakini bahwa kecerdasan pada umumnya diwariskan lewat garis keturunan dan oleh karena itu
orang-orang yang kurang cerdas harus didorong agar tidak melakukan reproduksi. Gerakan ini juga
menggunakan IQ sebagai metoda justifikasinya.
       Dalam risetnya di Stanford, Terman memberikan usulan yang kemudian diterima secara luas di
US saat itu bahwa test IQ selayaknya digunakan untuk melakukan seleksi populasi sehingga para
pemuda dapat ditempatkan berdasarkan nilai IQ-nya di dalam sistem akademik dengan derajat-derajat
kelas tertentu, yang pada akhirnya akan mengarahkan mereka pada posisi dan status sosial-ekonomi
yang setaraf pula di masa depannya. Andaikan kita sedemikian pandainya dengan nilai test IQ tertinggi
1% dari seluruh warga US, maka pemerintah US akan sangat pandai juga dan dermawan dalam hal
mencarikan dan menawarkan kita akses menuju jenjang pendidikan kelas satu di sana, dan akhirnya
pula menuju kesempatan-kesempatan kerja dan posisi-posisi sosial yang bertaraf tinggi. Orang-orang
dengan IQ tinggi di sana tidak selalu memimpin jabatan penting dalam pemerintahan namun dapat
dipastikan mereka memiliki akses atas posisi-posisi istimewa dan hak-hak khusus lainnya. Dalam
istilah kontemporer, suatu negara yang mengorganisasikan dirinya berdasarkan nilai test IQ seperti di
US disebut meritokrasi (merit: jasa/guna).
       Meritokrasi yang jika diterjemahkan dalam prasangka baik pada dasarnya bertujuan untuk
mengaktualisasikan dan mengoptimalkan potensi-potensi setiap warga negaranya demi kepentingan
bersama, karena satu dan lain hal, menyebabkan terbentuknya kelas-kelas status sosial serta
memperlebar jurang antar kelas. Ironis sekali bahwa gagasan yang pada dasarnya cukup baik ini,
terpaksa harus membatasi kesempatan banyak orang hanya karena potensi-potensi mereka tidak terukur
oleh metoda test kecerdasan konvensional test IQ. Hal ini melahirkan gelombang gerakan protes dan
kritik dari berbagai kalangan, yang sebenarnya telah bermula sejak gagasan IQ diterima kalangan luas.
Gerakan anti IQ yang paling signifikan terjadi di Inggris sekitar tahun 1960-an. Ketika itu, mengadopsi
sistem seleksi berbasis IQ yang sangat ketat bagi anak-anak berumur belasan tahun yang masuk ke
sekolah-sekolah negeri. Gerakan ini secara umum tidak ditujukan pada metoda itu sendiri, namun pada
penerapannya yang kurang bijaksana. Jadi secara konseptual, masyarakat luas tetap menyadari arti
penting aspek kecerdasan ini sebagai satu-satunya aspek yang dominan dalam mengkarakterisasi diri
manusia. Kritik terhadap IQ sendiri tidak menjadi pendorong yang utama untuk gerakan anti IQ yang
justru semakin meluas memasuki dekade berikutnya. Bahkan pada tahun 1971 US Supreme Court telah
memutuskan untuk menghapuskan penggunaan metoda test IQ untuk masalah-masalah perekrutan dan
kepegawaian, kecuali dalam kasus-kasus tertentu.
       Yang perlu ditekankan di sini bukanlah pada betapa test IQ itu ternyata kurang efektif dalam
menyeleksi orang berdasarkan aspek kecerdasannya saja, namun pada betapa konsep kecerdasan ini
telah membentuk konsepsi diri manusia yang parsial dan reduksionistik sebagai akibat dari ketiadaan
konsep diri manusia seutuhnya dalam tradisi filosofis dan budaya barat yang berlaku saat itu hingga
kini. Barangkali akan lain halnya, jika konsep dan metoda test kecerdasan IQ ini muncul dalam tradisi
filosofis yang memandang potensi-potensi diri manusia secara utuh. Besar kemungkinannya gagasan
IQ ini akan melengkapi konsepsi integral yang ada ke dalam sebuah kerangka kerja yang koheren
dengan sebuah metoda praktis yang akan bermanfaat dalam memahami dan menyelidiki fenomena
kesadaran manusia lebih jauh lagi.
       Meski respon kritis secara teoritik atas penaksiran kecerdasan berbasis IQ ini telah muncul
sejak sebermula awal masa kelahirannya, namun baru satu dekade akhir abad ini kita mengenal suatu
rumusan-rumusan psikologi populer yang mengemas kontribusi-kontribusi studi dan riset dari para
penyelidik kecerdasan sebelumnya dengan cukup baik. Dalam awal tahun 1990-an kita mengenal
istilah Emotional Intelligence diusulkan oleh Daniel Goleman. Belakangan ini menjadi populer pula
istilah Spiritual Intelligence, yang diusulkan oleh pasangan Danah Zohar dan Ian Marshall. Meski
secara esensial tidak terdapat sebuah terobosan ilmiah yang betul-betul baru dalam gagasan-gagasan
mereka ini, namun para pakar ini telah berhasil mensintesakan, mengemas, dan mempopulerkan sekian
banyak studi dan riset terbaru di berbagai bidang keilmuan ke dalam sebuah formulasi yang cukup
populer untuk menunjukkan bahwa aspek kecerdasan manusia ternyata lebih luas dari sekedar apa yang
semula biasa kita maknai dengan kecerdasan.
       Goleman mempopulerkan pendapat para pakar teori kecerdasan bahwa ada aspek lain dalam
diri manusia yang berinteraksi secara aktif dengan aspek kecerdasan IQ dalam menentukan efektivitas
penggunaan kecerdasan yang konvensional tersebut. Ia menyebutnya dengan istilah kecerdasan
emosional dan mengkaitkannya dengan kemampuan untuk mengelola perasaan, yakni kemampuan
untuk mempersepsi situasi, bertindak sesuai dengan persepsi tersebut, kemampuan untuk berempati,
dll. Jika kita tidak mampu mengelola aspek rasa kita dengan baik, maka kita tidak akan mampu untuk
menggunakan aspek kecerdasan konvensional kita (IQ) secara efektif, demikian menurut Goleman.
Sementara itu Zohar dan Marshall mengikutsertakan aspek konteks nilai sebagai suatu bagian dari
proses berpikir/berkecerdasan dalam hidup yang bermakna, untuk ini mereka mempergunakan istilah
kecerdasan spiritual (SQ). Indikasi-indikasi kecerdasan spiritual ini dalam pandangan mereka meliputi
kemampuan untuk menghayati nilai dan makna-makna, memiliki kesadaran diri, fleksibel dan adaptif,
cenderung untuk memandang sesuatu secara holistik, serta berkecenderungan untuk mencari jawaban-
jawaban fundamental atas situasi-situasi hidupnya, dll. Sebagai konsekuensi melibatkan konteks nilai
dan makna dalam aspek berkecerdasan manusia, maka SQ sebetulnya mengalamati pelik-pelik
ontologis dan epistemologis dalam mencermati aspek-aspek kecerdasan/kesadaran diri manusia secara
utuh. Di sini barangkali kita bisa berharap akan adanya sebuah sintesa bangunan kerangka kerja yang
koheren dan komprehensif untuk mendekati konsepsi diri manusia dengan segenap aspek-aspeknya
yang tak terpisahkan, meskipun pada kenyataannya Zohar tidak menyelesaikan masalah ini dengan
cukup terperinci dan lebih memusatkan perhatiannya pada aspek-aspek aplikasi praktisnya.
       Namun, EQ dan SQ ini pun pada dasarnya tidak akan banyak membantu kita yang telah terbiasa
memahami apa-apa yang berlangsung di dalam benak kita dalam istilah-istilah intelligent dan quotient
seandainya kita tidak memiliki visi yang fundamental dan menyeluruh dalam memandang aspek-aspek
kedirian manusia secara utuh. Kita menyadari bahwa gelombang antusiasme yang berlebihan terhadap
kedua formulasi kecerdasan ini alih-alih bermanfaat, mungkin malah akan berbalik membatasi dan
mematikan banyak aspek dan potensi manusia yang belum terjamah. Di sisi lain, kita dituntut untuk
sedapatnya memanfaatkan formulasi kecerdasan ini dalam rangka membangun sebuah konsepsi
manusia yang utuh, radikal dan fundamental serta menerjemahkannya secara strategis dalam langkah-
langkah praktis agar dapat mengatasi masalah-masalah aktual di negeri kita.
       Seperti telah terungkap di atas, secara umum EQ dan SQ memiliki kesepakatan untuk
memandang aspek-aspek kecerdasan manusia lebih dari sekedar aspek kognitif konvensional yang
terukur dengan metoda test IQ. Keduanya pun sama-sama dirumuskan berdasarkan hasil-hasil
penelitian dalam bidang psikologi dan neuroscience terbaru, yang semakin berkembang terutama akibat
kemajuan teknologi instrumentasi kedokteran yang dapat mengamati aktivitas-aktivitas vital sistem
syaraf pusat dan organ-organ lainnya dengan metoda visualisasi yang cukup canggih. Hasil-hasil
penelitian ini, terutama dalam bidang neuroscience, digunakan sebagai basis untuk mendukung
formulasi-formulasi EQ dan SQ. Sementara EQ merujuk pada penemuan-penemuan penting dari
Joseph LeDoux tentang fungsi organ amigdala pada batang rongga otak, maka SQ merujuk pada hasil-
hasil penelitian terutama dari Rudolfo Llinas tentang proses-proses gelombang elektromagnetik
(electroencephalogram dan magnetoencephalogram) syaraf pusat yang berfungsi sebagai pengintegrasi
persepsi.
         LeDoux mengamati bahwa gejala-gejala emosi yang sebelumnya dianggap berlangsung sebagai
akibat dari aktivas-aktivitas fungsional otak besar, neokorteks dan sistem limbik, ternyata sebagian
besar berlangsung pula sebagai akibat dari organ amigdala yang terletak di bagian dalam tengah otak
kita. Dalam eksperimennya, LeDoux mengamati bahwa organ ini mengalami peningkatan aktivitas
seiring dengan respon-respon emosional manusia. Ketika syaraf sensorik kita teraktivasi oleh respon
inderawi dari luar (misalnya retina mata kita yang menerima cahaya/objek visual dan mengaktifkan
syaraf optik), maka impuls syaraf ini akan diterima oleh thalamus–sebuah bagian di dalam otak yang
menerjemahkan stimuli impuls syaraf menjadi bentuk-bentuk yang dipahami oleh otak–untuk
memudian diterima oleh neokorteks dan korteks visual yang mengolahnya dan merangsang amigdala
apabila stimulinya bersifat emosional.
         Namun ternyata menurut LeDoux, sebagian besar sinyal semula dari thalamus ini langsung
menuju amigdala tanpa melewati neokorteks/tanpa melalui proses konvensional, dengan transmisi yang
lebih cepat sehingga memungkinkan terjadinya respon yang lebih cepat (meskipun relatif kurang
akurat). Jadi LeDoux meyakini bahwa amigdala dapat memicu suatu respon-respon yang terkait dengan
aktivitas emosional sebelum otak besar kita memahami betul apa yang terjadi, bahkan lebih jauh lagi
sistem emosi ternyata dapat bekerja sendiri tanpa partisipasi kognitif: perasaan memiliki kecerdasannya
sendiri. Bukti ilmiah inilah yang dijadikan sebagai pendukung argumentasi Goleman bahwa EQ adalah
syarat utama penggunaan IQ secara efektif, yang kemudian mengkaitkan beberapa sikap mental tipikal
yang terkait dengan EQ–kesadaran untuk memahami perasaan diri sendiri dan orang lain, empati,
kasih-sayang, motivasi, serta kemampuan untuk merespon secara wajar atas situasi-situasi bahagia atau
sedih.
Sistem ‘kognisi’ emosional yang dijelaskan oleh LeDoux terjadi melalui aktivitas-aktivitas fungsional
organ-organ syaraf pusat di kepala kita, terbentuk dari suatu interaksi paralel dari ratusan ribu jalinan
sel syaraf yang terhubung dan bekerja secara paralel dalam suatu kumpulan jaringan syaraf yang amat
masif. Jaringan syaraf inilah yang melandasi dinamika sistem emosional sebagaimana yang
diungkapkan oleh Goleman. Menurutnya, jaringan yang bekerja secara paralel ini bertanggung jawab
terhadap aspek-aspek kecerdasan emosional yang seluruhnya terkait dengan dorongan-dorongan
perasaan, pembentukan kebiasaan/habituasi, dan pengenalan pola-pola. Mekanisme syaraf yang paralel
ini melengkapi mekanisme lintasan-lintsan jalur syaraf yang terhubung secara serial yang
memungkinkan otak besar kita untuk menelusuri aturan-aturan, untuk berpikir secara logis dan
rasional, dan sekuensial yakni aspek-aspek kognisi yang biasa kita kaitkan dengan kecerdasan IQ.
         Namun tentu saja, aktivitas kecerdasan dan kesadaran manusia tidak hanya terbentuk dari
mekanisme serial dan paralel yang terpisah seperti ini saja, karena kedua mekanisme ini sendiri bekerja
secara bersama-sama dalam satu kesatuan kesadaran yang berpusat di otak. Bagaimana kedua bentuk
organisasi syaraf serial dan paralel yang saling terpisah ini bisa membentuk sebuah persepsi dan
kesadaran yang utuh dikenal dengan nama ‘binding problem.’ Persoalan ini pertama kalinya didekati
oleh ahli syaraf dari Austria, Wolf Singer, pada pertengahan tahun 1990-an. Singer berhasil
menunjukkan bahwa terdapat suatu proses syaraf yang berlangsung dalam otak yang didedikasikan
untuk menyatukan pengalaman-pengalaman yang terpisah serta memberikannya suatu konteks makna.
Sebelum hasil penelitian Singer tentang gelombang syaraf sinkron yang menyatukan mekanisme syaraf
seluruh otak ini, para ahli syaraf dan cognitive scientist hanya mengenali dua bentuk organisasi dalam
susunan syaraf pusat kita. Belakangan kemudian hasil penelitian Singer ini dikembangkan kemudian
oleh Rudolfo Llinas dengan meneliti aktivitas kesadaran pada saat tertidur dan terbangun serta
pengikatan peristiwa-peristiwa kognitif dalam otak.



                             Faktor-Faktor yang mempengaruhi

                                           Perkembangan

   1. POLA ASUH ORANGTUA
              Pola asuh orang tua terhadap anak bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang
       dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja, sehingga ada yang bersifat otoriter, memanjakan
       anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga dengan penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh dari orang
       tua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi peserta didik.
       Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama dalam kehidupan anak, tempat belajar dan
       menyatakan diri sebagai mahluk sosial, karena keluarga merupakan kelompok sosial yang
       pertama tempat anak dapat berinteraksi. Dari pengalamannya berinteraksi di dalam keluarga ini
       akan menentukan pula pola perilaku anak tehadap orang lain dalam lingkungannya. Dalam
       pembentukan kepribadian seorang anak, keluarga mempunyai pengaruh yang besar. Banyak
       faktor dalam keluarga yang ikut berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seorang anak,
       salah satu faktor tersebut adalah
              Pengasuhan ini berarti orangtua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta
       melindungi anak sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Dimana suatu tugas
       tersebut berkaitan dengan mengarahkan anak menjadi mandiri di masa dewasanya baik secara
       fisik maupun psikologis (Andayani dan Koentjoro, 2004). Menurut Goleman (2002) cara orang
       tua memperlakukan anak-anaknya akan memberikan akibat yang mendalam dan permanen pada
       kehidupan anak. Goleman (2002) juga menemukan bahwa pasangan yang secara emosional
       lebih terampil merupakan pasangan yang paling berhasil dalam membantu anak-anak mereka
       mengalami perubahan emosi. Pendidikan emosi ini dimulai pada saat-saat paling awal dalam
       rentang kehidupan manusia, yaitu pada masa bayi. Idealnya orangtua akan mengambil bagian
       dalam pendewasaan anak-anak karena dari kedua orangtua anak akan belajar mandiri melalui
       proses belajar sosial dengan modelling (Andayani dan Koentjoro, 2004).
2. PENGALAMAN TRAUMATIK
           Kejadian-kejadian traumatis masa lalu dapat mempengaruhi perkembangan emosi
  seseorang, dampaknya jejak rasa takut dan sikap terlalu waspada yang ditimbulkan dapat
  berlangsung seumur hidup. Kejadian-kejadian traumatis tersebut dapat bersumber dari
  lingkungan keluarga ataupun lingkungan di luar keluarga (Astuti, 2005).


3. TEMPERAMEN
           Temperamen dapat didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan
  emosional kita. Hingga tahap tertentu masing- masing individu memiliki kisaran emosi sendiri-
  sendiri, temperamen merupakan bawaan sejak lahir, dan merupakan bagian dari genetik yang
  mempunyai kekuatan hebat dalam rentang kehidupan manusia (Astuti, 2005).




4. JENIS KELAMIN
           Perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya perbedaan
  hormonal antara laki- laki dan perempuan, peran jenis maupun tuntutan sosial yang
  berpengaruh pula terhadap adanya perbedaan karakteristik emosi diantara keduanya (Astuti,
  2005).


5. USIA
           Perkembangan kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan pertambahan
  usianya. Hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan
  kematangan fisiologis seseorang. Ketika usia semakin tua, kadar hormonal dalam tubuh turut
  berkurang, sehingga mengakibatkan penurunan pengaruhnya terhadap kondisi emosi (Moloney,
  dalam Puspitasari Nuryoto 2001). Namun demikian, dalam hal ini tidak menutup kemungkinan
  seseorang yang sudah tua, kondisi emosinya masih seperti orang muda yang cenderung
  meledak- ledak. Hal tersebut dapat diakibatkan karena adanya kelainan- kelainan di dalam
  tubuhnya, khususnya kelainan anggota fisik. Kelainan yang tersebut dapat terjadi akibat dari
  pengaruh makanan yang banyak merangsang terbentuknya kadar hormonal.


6. PERUBAHAN JASMANI
           Perubahan jasmani ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan yang sangat cepat dari
  anggota tubuh. Pada taraf permulaan petumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu
  saja yang mengakibatkan postur tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidak seimbangan tubuh ini
  sering mempunyai akibat yang tidak terduga pada perkembangan emosi peserta didik. Tidak
  setiap peserta didik dapat menerima perubahan kondisi tubuh seperti ini, lebih-lebih perubahan
  tersebut menyangkut perubahan kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat. Hormone-hormon
  tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga dapat
  menyebabkan rangsangan di dalam tubuh peserta didik dan seringkali menimbulkan masalah
  dalam perkembangan emosinya.


7. PERUBAHAN INTERAKSI DENGAN TEMAN SEBAYA
         Peserta didik sering kali membangun interaksi sesama teman sebayanya secara khas
  dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dengan membentuk emacam geng.
  Interaksi antar anggotanya dalam suatu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki
  kohesivitas dan solidaritas yang sangat tinggi. Fakor yang sering menimbulkan masalah emosi
  pada masa ini adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis. Gejala ini sebenarnya sehat
  bagi peserta didik, tetapi tidak jarang menimbulkan konflik atau gangguan emosi pada mereka
  jika tidak diikuti dengan bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa.


8. PERUBAHAN PANDANGAN LUAR
         Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-
  konflik emosional dalam diri peserta didik, yaitu:

      a. Sikap dunia luar terhadap peserta didik sering tidak konsisten

      b. Dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk peserta
         didik laki-laki dan perempuan.

      c. Seringkali kekosongan peserta didik dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak
         bertanggung jawab.


9. PERUBAHAN INTERAKSI DENGAN SEKOLAH
         Sekolah merupakan tempat pendidikan yang sangat diidealkan oleh pererta didik. Para
  guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka karena selain tokoh
  intelektual, guru juga merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu
  tidak jarang anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada
  kepada orang tuanya. Posisi guru disini amat strategis apabila digunakan untuk pengembangan
  emosi anak melalui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif.
                                 FASE-FASE PERKEMBANGAN
       Tahap tahap perkembangan manusia memiliki fase yang cukup panjang. Untuk tujuan
pengorganisasian dan pemahaman, kita umumnya menggambarkan perkembangan dalam pengertian
periode atau fase perkembangan.
       Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan meliputi urutan sebagai berikut:

1. Periode prakelahiran (prenatal period)
    Adalah saat dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa pertumbuhan yang luar
    biasa dari satu sel tunggal hingga menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan
    perilaku, yang dihasilkan kira kira dalam periode 9 bulan.

2. Masa bayi (infacy)
    Adalah periode perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi
    adalah masa yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi
    hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar
    sosial.

3. Masa awal anak anak (early chidhood)
    Adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun,
    periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah. Selama masa ini, anak anak kecil belajar
    semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan
    bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam jam untuk
    bermain dengan teman teman sebaya. Jika telah memasuki kelas satu sekolah dasar, maka secara
    umum mengakhiri masa awal anak anak.

4. Masa pertengahan dan akhir anak anak (middle and late childhood)
    Adalah periode perkembangan yang merentang dari usia kira kira enam hingga sebelas tahun, yang
    kira kira setara dengan tahun tahun sekolah dasar, periode ini biasanya disebut dengan tahun tahun
    sekolah dasar. Keterampilan keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung
    telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan.
    Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.

5. Masa remaja (adolescence)
    Adalah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki
    pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa
    remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang
    dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran
    buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini,
    pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan
    idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.
6. Masa awal dewasa (early adulthood)
    Adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia dua
    puluhan tahun dan yang berakhir pada usia tugapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan
    kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa
    pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan
    mengasuh anak anak.

7. Masa pertengahan dewasa (middle adulthood)
    Adalah periode perkembangan yang bermula pada usia kira kira 35 hingga 45 tahun dan merentang
    hingga usia enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung
    jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya menjadi individu yang
    berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam berkarir.

8. Masa akhir dewasa (late adulthood)
Adalah periode perkembangan yang bermula pada usia enampuluhan atau tujuh puluh tahun dan
berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan,
menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran peran sosial baru.


Sumber : id.google.book




Potensi diri merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud,
yang dimiliki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal.
Klasifikasi
Secara umum, potensi dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
      Kemampuan dasar, seperti tingkat intelegensi, kemampuan abstraksi, logika dan daya tangkap.
      Etos kerja, seperti ketekunan, ketelitian, efisiensi kerja dan daya tahan terhadap tekanan.
      Kepribadian, yaitu pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan, serta kebiasaan seseorang,
   baik jasmaniah, rohaniah, emosional maupun sosial yang ditata dalam cara khas di bawah aneka
   pengaruh luar.
Menurut Howard Gardner, potensi yang terpenting adalah intelegensi, yaitu sebagai berikut.
      Intelegensi linguistik, intelegensi yang menggunakan dan mengolah kata-kata, baik lisan
   maupun tulisan, secara efektif. Intelegensi ini antara lain dimiliki oleh para sastrawan, editor, dan
   jurnalis.
      Intelegensi matematis-logis, kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan
   pada kepekaan pola logika dan perhitungan.
      Intelegensi ruang, kemampuan yang berkenaan dengan kepekaan mengenal bentuk dan benda
   secara tepat serta kemampuan menangkap dunia visual secara cepat. Kemampuan ini biasanya
   dimiliki oleh para arsitek, dekorator dan pemburu.
      Intelegensi kinestetik-badani, kemampuan menggunakan gerak tubuh untuk mengekspresikan
   gagasan dan perasaan. Kemampuan ini dimiliki leh aktor, penari, pemahat, atlet dan ahli bedah.
      Intelegensi musikal, kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati
   bentuk-bentuk musik dan suara. Kemampuan ini terdapat pada pencipta lagu dan penyanyi.
      Intelegensi interpersonal, kemampuan seseorang untuk mengerti dan menjadi peka terhadap
   perasaan, motivasi, dan watak temperamen orang lain seperti yang dimiliki oleh seserang motivator
   dan fasilitator.
      Intelegensi intrapersonal, kemampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri. Kemampuan
   ini berkaitan dengan kemampuan berefleksi(merenung) dan keseimbangan diri.
      Intelegensi naturalis, kemampuan seseorang untuk mengenal alam, flora dan fauna dengan baik.
      Intelegensi eksistensial, kemampuan seseeorang menyangkut kepekaan menjawab persoalan-
   persoalan terdalam keberadaan manusia, seperti apa makna hidup, mengapa manusia harus
   diciptakan dan mengapa kita hidup dan akhirnya mati.
       IQ, EQ, Dan SQ
       Kecerdasan (IQ) ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang
mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah,
berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya
dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan
menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan
bahwa IQ merupakan usia mental yang dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis.
Terdapat beberapa cara untuk mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa
termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog
tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada
kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan
mengenai kecerdasa. Stenberg& Slater (1982) mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran
yang bertujuan dan adaptif.
Struktur kecerdasan
Kecerdasan dapat dibagi dua yaitu kecerdasan umum biasa disebut sebagai faktor-g maupun
kecerdasan spesifik. Akan tetapi pada dasarnya kecerdasan dapat dipilah-pilah. Berikut ini pembagian
spesifikasi kecerdasan menurut L.L. Thurstone:
      Pemahaman dan kemampuan verbal
      Angka dan hitungan
      Kemampuan visual
      Daya ingat
      Penalaran
      Kecepatan perseptual
Skala Wechsler yang umum dipergunakan untuk mendapatkan taraf kecerdasan membagi kecerdasan
menjadi dua kelompok besar yaitu kemampuan kecerdasan verbal (VIQ) dan kemampuan kecerdasan
tampilan (PIQ)
Faktor yang mempengaruhi kecerdasan
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan, yaitu:
       Biologis
       Lingkungan
       Budaya
       Bahasa
       Masalah etika
Kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ (bahasa Inggris: emotional quotient) adalah
kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan
oranglain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu
hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang
valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting
dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional
dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap
kesuksesan seseorang.
       Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional
seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap
emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat
menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.
        Para psikolog telah mengidentifikasi berbagai kecerdasan selama bertahun-tahun (Gardner,
1983),. Sebagian besar dapat dikelompokkan menjadi salah satu dari tiga kelompok "abstrak", beton
"atau" sosial "kecerdasan" kecerdasan Abstrak. Adalah kemampuan untuk memahami dan
memanipulasi simbol verbal dan matematis, sedangkan kecerdasan beton adalah kemampuan untuk
memahami dan memanipulasi objek. Sosial. intelijen, yang pertama kali diidentifikasi oleh Thorndike
pada tahun 1920, adalah kemampuan untuk memahami dan berhubungan dengan orang (Ruisel, 1992)
Emotional Intelligence berakar di kecerdasan sosial (Young, 1996).
        Sebuah rekap cepat melalui sejarah menunjukkan bahwa istilah ini pertama kali digunakan oleh
sebuah buku kritik sastra pada tahun 1961, yang mengusulkan bahwa beberapa Austin karakter Jane
dalam novelnya 'Pride and Prejudice' ditampilkan dengan "... kecerdasan, yang menginformasikan
emosi ..." Beberapa dari dekade kemudian, pada tahun 1985, sebuah disertasi yang tidak dipublikasikan
mengacu pada istilah Kecerdasan Emosional (Hein, 2003). Hal ini membawa kita ke Salovey Petrus
dan Yohanes (Jack) Mayer, yang sedang berusaha untuk mengembangkan cara ilmiah untuk mengukur
emosional 'kemampuan individu-individu yang berbeda , seperti mengidentifikasi perasaan mereka
sendiri, mengidentifikasi orang lain dan memecahkan masalah emosional,. Dengan demikian pada
tahun 1990 Emotional Intelligence disajikan sebagai "jenis kecerdasan sosial, yang melibatkan
kemampuan untuk memonitor sendiri dan satu orang lain emosi, untuk membedakan di antara emosi
dan menggunakan informasi ini untuk memandu berpikir satu dan tindakan "(Salovey & Mayer, 1990).
    Sampai sekarang, konsep teoritis masih kurang (Young, 1996),. Namun oleh konseptual
mengintegrasikan penelitian yang tersedia, Intelligence peran emosi dalam Psikologi dapat lebih mudah
dilihat berpendapat. Salovey dan Mayer bahwa Emotional Intelligence subsumes baik-dan
intrapersonal kecerdasan lain, seperti yang diusulkan oleh Howard Gardner (1983) fitur. mereka
Proposal menunjukkan bahwa Emotional Intelligence memiliki lima pokok:
     1.       Menyadari emosi sendiri salah satu
     2.       Mampu mengelola emosi sendiri salah satu
     3.       Peka terhadap emosi orang lain
     4.       Mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional
     5.       Dapat menggunakan salah satu emosi sendiri untuk memotivasi diri
   Kecerdasan spiritual atau yang biasa dikenal dengan SQ (bahasa Inggris: spiritual quotient)
adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui
penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. SQ merupakan fasilitas yang membantu
seseorang untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan persoalannya itu. Ciri utama dari SQ ini
ditunjukkan dengan kesadaran seseorang untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk
penerapan nilai dan makna.[1] Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik akan ditandai dengan
kemampuan seseorang untuk bersikap fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan,
memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi penderitaan dan rasa sakit, mampu
mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan, mampu mewujudkan hidup sesuai dengan
visi dan misi, mampu melihat keterkaitan antara berbagai hal, mandiri, serta pada akhirnya membuat
seseorang mengerti akan makna hidupnya
Keterampilan Spiritual Intelligence (SQ)
Tinggi Diri / Ego Kesadaran diri
   1. Kesadaran pandangan dunia sendiri
   2. Kesadaran hidup tujuan (misi )
   3. Kesadaran hirarki nilai-nilai
   4. Kompleksitas pemikiran batin
Kesadaran Universal
   5. Kesadaran keterkaitan dari semua kehidupan
   6. Kesadaran pandangan dunia orang lain
   7. Persepsi waktu yang luas
   8. Kesadaran akan keterbatasan kekuatan manusia
   9. Kesadaran hukum Spiritual
   10. Pengalaman kesatuan transenden
Ego Penguasaan diri
   11. Komitmen untuk pertumbuhan rohani
   12. Menjaga diri berkomitmen tinggi dalam bertugas
   13. Tujuan hidup anda dan nilai-nilai
   14. Mempertahankan iman a
Penguasaan Sosial / Kehadiran Spiritual
   15. Bijaksana
   16. Agen perubahan yang efektif bijaksana
   17. Membuat keputusan yang welas asih dan bijaksana
   18. Menjadi selaras dengan pasang surut dan aliran kehidupan
Sumber: www.wikipedia.com
FASE KEHIDUPAN
Dalam hidup ini, menurut ilmu perkembangan.. terdapat sediktnya 5 fase perkembangan yang secara
structural dari kita lahir hingga menuju remaja, ke 5 fase tersebut adalah :
   1. Fase oral (usia 0-1)
        Bayi merasakan kenikmatan pada daerah mulut. Mengunyah, menggigit, dan menghisap adalah
        sumber utama kenikmatan
   2. Fase anal (usia 1-3)
        Kenikmatan terbesar anak terdapat disekitar daerah lubang anus. Rangsangan pada daerah anus
        ini berkaitan erat dengan kegiatan buang air besar.
   3.   Fase Phalic (usia 3-6)
        Kenikmatan berfokus pada alat kelamin, ketika anak menemukan bahwa manipulasi diri dapat
        membawa kenikmatan. Anak mulai menaruh perhatian pada perbedaan-perbedaan anatomic
        antara laki-laki dan perempuan, terhadap asal-usul bayi dan terhadap hal-hal yang berkaitan
        dengan hubungan seks.
   4. Fase Latancy (usia 6-12)
        Anan menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan keterampilan social dan
        intelektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak energi anak kedalam bidang-bidang yang aman
        secara emosional dan menolong anak merupakan konflik pada tahap phallic yang sangat
        menekan.




   5. Fase Genital (usia 12-Dewasa)
        Dorongan-dorongan seks yang ada pada phallic kembali berkembang, setelah berada dalam
        keadaan tengang selama masa latency. Kematangan fisiologis ketika anak memasuki usia
        remaja, mempengaruhi daerah-daerah erogen pada alat kelamin sebagai sumber kenikmatan.
        Pakar psikologi Swiss terkenal yaitu Jean Piaget (1896-1980), mengatakan bahwa anak dapat
membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan
pemikiran mereka untuk menguasai gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan akan menambah
pemahaman mereka terhadap dunia.
        Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu,
yaitu pengorganisasian dan penyesuaian. Untuk membuat dunia kita diterima oleh pikiran, kita
melakukan pengorganisasian pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. Piaget yakin bahwa kita
menyesuaikan diri dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi.
        Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka
yang sudah ada. Sedangkan akomodasi adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan
informasi baru.
        Seorang anak 7 tahun dihadapkan dengan palu dan paku untuk memasang gambar di dinding. Ia
mengetahui dari pengamatan bahwa palu adalah obyek yang harus dipegang dan diayunkan untuk
memukul paku. Dengan mengenal kedua benda ini, ia menyesuaikan pemikirannya dengan pemikiran
yang sudah ada (asimilasi). Akan tetapi karena palu terlalu berat dan ia mengayunkannya dengan keras
maka paku tersebut bengkok, sehingga ia kemudian mengatur tekanan pukulannya. Penyesuaian
kemampuan untuk sedikit mengubah konsep disebut akomodasi.
          Piaget mengatakan bahwa kita melampui perkembangan melalui empat tahap dalam
memahami dunia. Masing-masing tahap terkait dengan usia dan terdiri dari cara berpikir yang
berbeda. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut:
Tahap sensorimotor (Sensorimotor stage), yang terjadi dari lahir hingga usia 2 tahun, merupakan
tahap pertama piaget. Pada tahap ini, perkembangan mental ditandai oleh kemajuan yang besar dalam
kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi (seperti melihat dan
mendengar)             melalui       gerakan-gerakan       dan        tindakan-tindakan        fisik.
Tahap praoperasional (preoperational stage), yang terjadi dari usia 2 hingga 7 tahun, merupakan
tahap kedua piaget, pada tahap ini anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar.
Mulai muncul pemikiran egosentrisme, animisme, dan intuitif. Egosentrisme adalah suatu
ketidakmampuan untuk membedakan antara perspektif seseorang dengan perspektif oranglain dengan
kata lain anak melihat sesuatu hanya dari sisi dirinya.
Animisme adalah keyakinan bahwa obyek yang tidak bergerak memiliki kualiatas semacam kehidupan
dan dapat bertindak. Seperti sorang anak yang mengatakan, “Pohon itu bergoyang-goyang mendorong
daunnya dan daunnya jatuh.” Sedangkan Intuitif adalah anak-anak mulai menggunakan penalaran
primitif dan ingin mengetahui jawaban atas semua bentuk pertanyaan. Mereka mengatakan mengetahui
sesuatu       tetapi       mengetahuinya        tanpa     menggunakan        pemikiran     rasional.
Tahap operasional konkrit (concrete operational stage), yang berlangsung dari usia 7 hingga 11
tahun, merupakan tahap ketiga piaget. Pada tahap ini anak dapat melakukan penalaran logis
menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam cotoh-contoh yang
spesifik atau konkrit.
Tahap operasional formal (formal operational stage), yang terlihat pada usia 11 hingga 15 tahun,
merupakan tahap keempat dan terkahir dari piaget. Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata,
pengalaman-pengalaman konkrit dan berpikir secara abstrak dan lebih logis.
Sebagai pemikiran yang abstrak, remaja mengembangkan gambaran keadaan yang ideal. Mereka dapat
berpikir seperti apakah orangtua yang ideal dan membandingkan orangtua mereka dengan standar ideal
yang mereka miliki.
Mereka mulai mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan bagi masa depan dan terkagum-kagum
terhadap apa yang mereka lakukan.
Perlu diingat, bahwa pada setiap tahap tidak bisa berpindah ke ketahap berikutnya bila tahap
sebelumnya belum selesai dan setiap umur tidak bisa menjadi patokan utama seseorang berada pada
tahap tertentu karena tergantung dari ciri perkembangan setiap individu yang bersangkutan. Bisa saja
seorang anak akan mengalami tahap praoperasional lebih lama dari pada anak yang lainnya sehingga
umur bukanlah patokan utama.
Daftar Pustaka
Santrok, John W. 2002. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5 Jilid 1. Jakarta:
Erlangga
Abu Abdilah Ahmad bin Ahmad Al Isawi. 2002. Ensiklopedi Anak Tanya Jawab Tentang Anak Dari A
sampai Z,


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Didik
       Persoalan mengenai faktor-faktor apakah yang memungkinkan atau mempengaruhi
perkembangan, dijawab oleh para ahli dengan jawaban yang berbeda-beda.
       Para ahli yang beraliran “Nativisme” berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-
mata ditentukan oleh unsur pembawaan. Jadi perkembangan individu semata-mata tergantung pada
faktor dasar/pembawaan. Tokoh utama aliran ini yang terkenal adalah Schopenhauer.
       Berbeda dengan aliran Nativisme, para ahli yang mengikuti aliran “Empirisme” berpendapat
bahwa perkembangan individu itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan,
sedangkan faktor dasar/pembawaan tidak berpengaruh sama sekali. Aliran Empirisme ini menjadikan
faktor lingkungan/pendidikan maha kuasa dalam menentukan perkembangan seorang individu. Tokoh
aliran ini adalah John Locke.
       Aliran yang tampak menengahi kedua pendapat aliran yang ekstrem di atas adalah “aliran
konvergensi” dengan tokohnya yang terkenal adalah William Stern. Menurut aliran konvergensi,
perkembangan individu itu sebenarnya ditentukan oleh kedua kekuatan tersebut. baik faktor dasar /
pembawaan maupun faktor lingkungan/pendidikan kedua-duanya secara convergent akan menentukan /
mewujudkan perkembangan seseorang individu. Sejalan dengan pendapat aliran ini Ki Hajar
Dewantara, tokoh pendidikan kita juga mengemukakan adanya dua faktor yang mempengaruhi
perkembangan individu yaitu faktor dasar/pembawaan (faktor internal) dan faktor ajar / lingkungan
(faktor eksternal).
Menurut Elizabeth B. Hurluck, baik faktor kondisi internal maupun faktor kondisi eksternal akan dapat
mempengaruhi tempo/kecepatan dan sifat atau kualitas perkembangan seseorang. Tetapi sejauh mana
pengaruh kedua faktor tersebut sukar untuk ditentukan, lebih-lebih lagi untuk dibedakan mana yang
penting dan kurang penting.
Selain faktor-faktor yang tersebut di atas, masih ada lagi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
perkembangan anak didik, diantaranya adalah faktor teman sebaya, keragaman budaya dan faktor
media massa.
1. Faktor teman sebaya
Makin bertambah umur, si anak makin memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengadakan
hubungan-hubungan dengan teman-teman sebayanya, sekalipun dalam kenyataannya perbedaan-
perbedaan umur yang relatif besar tidak menjadi sebab tidak adanya kemungkinan melakukan
hubungan-hubungan dalam suasana bermain.
Anak yang bertindak langsung atau tidak langsung sebagai pemimpin, atau yang menunjukkan ciri-ciri
kepemimpinan dengan sikap-sikap menguasai anak-anak lain, akan besar pengaruhnya terhadap pola-
pola sikap atau pola-pola kepribadian. Konflik-konflik terjadi pada anak bilamana norma-norma
pribadi sangat berlainan dengan norma-norma yang ada di lingkungan teman-teman. Di satu pihak ia
ingin mempertahankan pola-pola tingkah laku yang diperoleh di rumah, sedangkan di pihak lain
lingkungan menuntutsi anak untuk memperlihatkan pola yang lain, yang bertentangan dengan pola
yang sudah ada, atau sebaliknya.
Makin kecil kelompoknya, di mana hubungan-hubungan erat terjadi, makin besar pengaruh kelompok
itu terhadap anak, bila dibandingkan dengan kelompok yang besar yang anggota-anggota kelompoknya
tidak tetap.[11]
2. Keragaman budaya
Bagi perkembangan anak didik keragaman budaya sangat besar pengaruhnya bagi mental dan moral
mereka. Ini terbukti dengan sikap dan prilaku anak didik selalu dipengaruhi oleh budaya-budaya yang
ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Pada masa-masa perkembangan, seorang anak didik sangat
mudah dipengaruhi oleh budaya-budaya yang berkembanga di masyarakat, baik budaya yang
membawa ke arah prilaku yang positif maupun budaya yang akan membawa ke arah prilaku yang
negatif.
3. Media Massa
Media massa adalah faktor lingkungan yang dapat merubah atau mempengaruhi prilaku masyarakat
melalui proses-proses. Media massa juga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan seseorang,
dengan adanya media massa, seorang anak dapat mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan
dengan pesat. Media massa dapat merubah prilaku seseorang ke arah positif dan negatif. Contoh media
massa yang sangat berpengaruh adalah media massamassa saat ini berkembang semakin canggih.
Semakin canggih suatu media massa maka akan semakin terasa dampaknya bagi kehidupan kita.
elektronik antara lain televisi. Televisi sangat mudah mempengaruhi masyarakat, khususnya anak-anak
yang dalam perkembangan melalui acara yang disiarkannya media


  Drs. H. M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1995

								
To top