Docstoc

Proposal Alo

Document Sample
Proposal Alo Powered By Docstoc
					                                          BAB I

                                    PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

      Pertanian adalah bagian dari sejarah kebudayaan manusia. Pertanian muncul ketika suatu

masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi dirinya sendiri.            Pertanian

memaksa suatu kelompok orang untuk menetap dan dengan demikian mendorong kemunculan

peradaban. Terjadi perubahan dalam sistem kepercayaan, pengembangan alat-alat pendukung

kehidupan, dan juga kesenian akibat diadopsinya teknologi pertanian. Kebudayaan masyarakat

yang tergantung pada aspek pertanian diistilahkan sebagai kebudayaan agraris. Sebagai bagian

dari kebudayaan manusia, pertanian telah membawa revolusi yang besar dalam kehidupan

manusia sebelum revolusi industri. Bahkan dapat dikatakan, revolusi pertanian adalah revolusi

kebudayaan pertama yang dialami manusia. Pembangunan pertanian dalam upaya memenuhi

kebutuhan pangan merupakan kebutuhan yang esensial bagi manusia. Tanpa pangan orang tidak

akan dapat hidup. Untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut,          manusia memanfaatkan

Sumber daya alam antara lain lahan, air, udara (iklim) dan fauna untuk dimanfaatakan sebagai

modal dasar usaha produksi pertanian, baik pertanian musiman, maupun tahunan dengan

tanaman tua.


     Pola manusia dalam mengelola sumberdaya alam untuk pemenuhan kebutuhan pangan ini

dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) sistem yaitu : 1) Pemburu dan Pengumpul; 2) Perladangan

Berpindah ; 3) Perladangan menetap. Dari ketiga pola pengelolaan pertanian tersebut, pola

pengelolaan pertanian yang lebih tinggi dari pemburu dan pengumpul adalah peladang

berpindah, pola pengelolaan pertanian yang lebih tinggi adalah peladang menetap. Peladang
berpindah telah melakukan bercocok tanam dengan menanam tanam-tanaman tertentu.

Umumnya, dalam pola ini para peladang telah menternakkan hewan tertentu. Karena itu mereka

melakukan pembudidayaan tumbuhan dan hewan yang dianggap berguna untuk memenuhi

kebutuhan pangannya pada sebidang lahan tertentu. Para peladang juga sudah memulai proses

seleksi bibit tanaman dan hewan yang akan mereka budidayakan. Dengan adanya seleksi itu

terjadilan perubahan evolusioner dalam sifat dan jenis yang dibudidayakan. Peladang berpindah

mempunyai bermacam-macam variasi. Pada dasarnya terdiri atas membuka sebidang hutan dan

menanami lahan hutan yang telah dibuka ini selama dua atau tiga tahun. Kemudian lahan itu

ditinggalkan dan membuka lahan hutan baru di tempat lain dan seterusnya. Setelah lahan dibuka,

sebagian kayu digunakan untuk memagari lahan yang telah dibuka tersebut untuk melindunginya

dari babi hutan. Kayu dan ranting yang tidak terpakai setelah kering di bakar. Pembakaran ini

membebaskan meneral yang terkandung di dalam bahan organik tumbuh-tumbuhan. Mineral

dalam abu inilah yan menjadi sumber hara tanaman. Setelah pembakaran dilakukan, dilanjutkan

dengan penaman tanpa didahuli oleh pengolahan tanah. Biji bibit tanaman dimasukkan ke dalam

lubang yang dibuat dengan kayu. Bahan tanaman lain, misalnya jagung, kacang tanah, batang

ubi jalar, tebu dan singkong, ditanam dengan sangat sederhana. Dalam perladangan berpindah,

kampung dapat berpindah pindah pula. Tetapi ada juga kampung yang menetap dan orang

membuat gubuk sementara di ladangnya. Setelah dua atau tiga kali panen, hasil panen akan

menurun, Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya kesuburan tanah, karena mineral dari abu

telah terserap oleh tanaman dan sebagian lagi tercuci oleh hujan. Penurunan hasil juga

disebabkan oleh makin banyaknya gulma, hama dan penyakit yang menggangu tanaman.

Selanjutnya tempat itu ditinggalkan dan akan kembali menjadi hutan baru lagi.
       Bagi sebagian masyarakat di Kecamatan kabawo, sistem perladangan berpindah

merupakan suatu bagian budaya dalam kehidupan komunitas masyarakat di desa – desa yang ada

di Kecamatan Kabawo. Sistem ladang berpindah adalah sistem perladangan dalam makna usaha

yang dilakukan oleh manusia secara berpindah dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan.

Sistem perladangan berpindah merupakan akumulasi dari berbagai pengalaman melalui babak

perjalanan waktu yang panjang, sebagai hasil penyaringan internal terhadap dinamika perubahan

lingkungan.


       Berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses sistim perladangan berpindah yang

dilakukan petani di Kecamatan kabawo adalah : (a). survei kesuburan tanah untuk menentukan

lahan hutan yang tepat untuk dilakukan perladangan. Biasanya indikator kesuburan tanah yang

umum dipakai adalah jenis tumbuhan dan aktivitas mikroorganisme tanah. (b). Penebasan

tumbuhan bawah untuk mempercepat proses pengeringan serasah. (c). Penebangan pohon. (d).

Proses pengeringan lahan kurang lebih 3 – 4 minggu. (e). Pembakaran dan pembersihan. (f).

Pemagaran, (g) Penanaman dan pemeliharaan, dan (g). Panen hasil.


       Jenis tanaman yang dibudidayakan pada sistim ladang berpindah di Kecamatan kabawo

adalah jagung dan kacang tanah dengan masa tanam 2-3 kali tanam, kemudian berpindah lagi

mencari lahan yang baru untuk diolah, karena lahan yang sudah ditanami 2-3 kali sudah tidak

produktif lagi. Lahan yang ditinggalkan tadi di biarkan untuk beberapa tahun menunggu sampai

lahan tersebut bisa di olah kembali. Akan tetapi dengan bertambahnya jumlah penduduk, lahan

yang telah ditinggalkan membutuhkan waktu yang agak lama untuk bisa diolah kembali,

sehingga lokasi tempat ladang berpindah mereka semakin jauh dari tempat tinggal mereka.

Adapun indikator yang digunakan masyarakat untuk melihat bahwa lahan yang ditinggalkan tadi

sudah bisa di olah kembali adalah jenis tumbuhan penutup lahan dan aktivitas mikroorganisme.
        Saat ini, masyarakat petani yang ada di Kecamatan Kabawo, jarak tempat perladangan

mereka mencapai 10 km sampai 15 km dari tempat tinggal mereka, karena lokasi untuk ladang

berpindah yang bisa diolah tidak tersedia. Walaupun lokasi lahan yang telah ditinggalkan sudah

bisa di olah kembali, tapi karena tidak tersedianya pohon dan kayu yang bisa di jadikan pagar

untuk melindungi tanaman mereka dari ancaman babi hutan, karena lahan yang telah diolah 3

sampai 4 kali sudah jarang ditumbuhi oleh pohon-pohon yang bisa dijadikan pagar. Dampak

dari adanya perubahan fungsi lahan yang telah diolah 2 sampai 3 kali tersebut, menyebabkan

masyarakat petani yang ada di Kecamatan Kabawo sulit untuk mendapatkan lokasi tempat

berladang mereka, karena lokasi yang bisa dijadikan lahan berpindah semakin sempit,

menyebabkan sebagian masyarakat terkadang untuk memenuhi kebutuhan pangan antara panen

dengan panen berikutnya tidak mencukupi. Selain itu dampak lain dari perubahan fungsi lahan

yaitu (1). Terjadi banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hasil

pengamatan di lapangan menunjukan bahwa hampir 100 % sungai yang terdapat di Kecamatan

Kabawo mengalami penurunan debit air yang drastis, bahkan pada musim panas banyak sungai

mengalami kekeringan.    Selain itu pada musim hujan, selalu terjadi banjir dan erosi yang

mampu mengikis dan mengangkut ribuan ton tanah permukaan ke sungai dan laut sehingga

terjadi pendangkalan sungai dan gangguan ekosistem laut. (2). Terjadi penurunan drastis

kesuburan tanah. Kondisi di lapangan menunjukan bahwa bekas-bekas areal berladang telah

menjadi semak belukar ataupun padang alang-alang, kondisi ekosistem yang miskin vegetasi

atau lahannya terbuka maka ketika musim hujan, banyak lapisan tanah permukaan yang terkikis

dan hanyut, sehingga kondisi kesuburan tanah menjadi menurun. Sehubungan dengan hal ini,

penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Dampak Perubahan Fungsi

lahan terhadap Sistim Pertanian ladang Berpindah di Kecamatan kabawo”
B. Identifikasi Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang yang telah di kemukakan di atas, maka identifikasi masalah

sebagai berikut :


   1. Tidak terkendalinya perubahan fungsi lahan akibat sistim ladang berpindah di kecamatan

       Kabawo.

   2. Semakin berkurangnya lokasi lahan yang bisa dijadikan untuk pertanian sistim lahan

       berpindah.

   3. Terjadi banjir pada musim hujan dan terjadi kekeringan pada musim kemarau

   4. Kondisi lahan bekas ladang berpindah telah menjadi semak belukar dan alang-alang

   5. Kondisi ekosistem yang miskin vegetasi atau lahannya terbuka maka ketika musim

       hujan, banyak lapisan tanah permukaan yang terkikis dan hanyut, sehingga kondisi

       kesuburan tanah menjadi menurun.

C. Batasan Masalah


       Berdasarkan identifikasi masalah yang telah di kemukakan di atas, maka batasan masalah

dalam penelitian ini dibatasi pada “Analisis Dampak tidak terkendalinya Perubahan fungsi lahan

akibat sistim ladang berpindah di Kecamatan Kabawo”.


D. Perumusan Masalah


Berdasarkan batasan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :


1. Bagaimana kondisi lahan pada bekas ladang berpindah di Kecamatan Kabawo
2. Bagaimana dampak tidak terkendalinya perubahan fungsi lahan akibat sistim ladang

    berpindah di Kecamatan Kabawo.

3. Sejauhmana dampak tidak terkendalinya perubahan fungsi lahan akibat sistim ladang

    berpindah di Kecamatan Kabawo.


E. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan perumusan masalah yang telah di kemukakan di atas, maka tujuan penelitian

yaitu sebagai berikut :

   1. Untuk mengetahui kondisi lahan pada bekas ladang berpindah di Kecamatan Kabawo.

   2. Untuk mengetahui dampak tidak terkendalinya perubahan fungsi lahan akibat sistim

       ladang berpindah di Kecamatan Kabawo.

   3. Untuk mengetahui seberapa besar dampak tidak terkendalinya perubahan fungsi lahan

       terhadap sistim pertanian ladang berpindah di Kecamatan Kabawo.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:43
posted:10/13/2012
language:Malay
pages:6