; Sumber Hukum Islam
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Sumber Hukum Islam

VIEWS: 227 PAGES: 10

  • pg 1
									                       SUMBER HUKUM ISLAM


    Sumber hukum islam adalah segala sesuatu yang dijadikan dasar, acuan, atau
pedoman syariat islam. Pada umumnya para ulama fikih sependapat bahwa sumber
utama hukum islam adalah Al-Quran dan Hadis. Rasulullah bersabda : “Aku
tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat selama-
lamanya, selama kalian berpegangan pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur`an)
dan sunah ku (Hadis).” Disamping itu, para ulama fikih menjadikan ijtihad, sebagai
salah satu dasar hukum islam, setelah Al-Qur`an dan Hadis.


    Ajaran Islam adalah pengembangan agama Islam. Agama Islam bersumber dari
Al-Quran yang memuat wahyu Allah dan al-Hadis yang memuat Sunnah Rasulullah.
Komponen utama agama Islam atau unsur utama ajaran agama Islam (akidah,
syari’ah dan akhlak) dikembangkan dengan rakyu atau akal pikiran manusia yang
memenuhi syarat runtuk mengembangkannya. Mempelajari agama Islam merupakan
fardhu ’ain , yakni kewajiban pribadi setiap muslim dan muslimah, sedang mengkaji
ajaran Islam terutama yang dikembangkan oleh akal pikiran manusia, diwajibkan
kepada masyarakat atau kelompok masyarakat.


    Allah telah menetapkan sumber ajaran Islam yang wajib diikuti oleh setiap
muslim. Ketetapan Allah itu terdapat dalam Surat An-Nisa (4) ayat 59 yang artinya : ”
Hai orang-orang yang beriman, taatilah (kehendak) Allah, taatilah (kehendak) Rasul-
Nya, dan (kehendak) ulil amri di antara kamu ...”.

    Menurut hadis Mu’az bin Jabal (nama sahabat nabi yang diutus Rasulullah ke
Yaman untuk menjadi Gubernur di sana) sumber ajaran Islam ada tiga, yakni (1) Al-
Quran (Kitabullah), (2) As-Sunnah (kini dihimpun dalam al-Hadis) dan (3) Rakyu atau
akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad. Berijtihad adalah
berusaha sungguh-sungguh dengan memperguna kan seluruh kemampuan akal
pikiran, pengetahuan dan pengalaman manusia yang memenuhi syarat untuk
mengkaji dan memahami wahyu dan sunnah serta mengalirkan ajaran, termasuk
ajaran mengenai hukum (fikih) Islam dari keduanya.


                                                                                        1
1. Al-Quran : Isi dan Sistematikanya.


      Al-Qur`an berasal dari bahasa arab yang artinya bacaan atau himpunan.
   Al-Qur`an berarti bacaan karena Al-Qur`an merupakan kitab yang wajib dibaca
   dan dipelajari, dan berarti himpunan karena Al-Qur`an merupakan himpunan
   firman – firman Allah SWT ( wahyu ). Menurut istilah, Al-Qur`an adalah kitab suci
   umat islam yang berisi firman-firman Allah SWT yang diwahyukan dalam bahasa
   arab kepada rasul/nabi terakhir Nabi Muhammad SAW, yang membacanya adalah
   ibadah.


      Al-Quran adalah sumber ajaran agama Islam pertama dan utama yang memuat
   firman-firman (wahyu) Allah, yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi
   Muhammad sebagai Rasul Allah sedikit demi sediki selama 22 tahun 2 bulan 22
   hari, mula-mula di Mekah kemudian di Madinah. Ayat-ayat Al-Quran yang di
   turunkan selama lebih kurang 23 tahun itu dapat dibedakan antara ayat-ayat yang
   diturunkan ketika Nabi Muhammad masih tinggal di Mekah (sebelum hijrah)
   dengan ayat yang turun setelah Nabi Muhammad hijrah (pindah) ke Madinah.


      Al-Qur`an terdiri dari 30 Juz dan 114 surah ( 89 surah Makkiyah dan 25 surah
   Madaniyyah ), 6.236 ayat ( 4.726 ayat dari surah Makkiyyah dan 1.510 ayat dari
   surah Madaniyyah ). Ayat-ayat yang turun ketika Nabi Muhammad masih berdiam
   di Mekkah di sebut ayat-ayat Makkiyah, sedangkan ayat-ayat yang turun sesudah
   Nabi Muhammad pindah ke Medinah dinamakan ayat-ayat Madaniyah.

   Ciri-cirinya adalah :
   a. Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya pendek-pendek, merupakan 19/30 dari
      seluruh isi al-Quran, terdiri dari 86 surat, 4.780 ayat. Sedangkan ayat-ayat
      Madaniyah pada umumnya panjang-panjang, merupakan 11/30 dari seluruh isi
      al-Quran, terdiri dari 28 surat, 1456 ayat.
   b. Ayat-ayat Makkiyah dimulai dengan kata-kata yaa ayyuhannaas (hai manusia)
      sedang ayat –ayat Madaniyah dimulai dengan kata-kata yaa ayyuhallaziina
      aamanu (hai orang-orang yang beriman).
   c. Pada umumnya ayat-ayat Makkiyah berisi tentang tauhid yakni keyakinan pada
      Kemaha Esaan Allah, hari Kiamat, akhlak dan kisah-kisah umat manusia di

                                                                                       2
    masa lalu, sedang ayat-ayat Madaniyah memuat soal-soal hukum, keadilan,
    masyarakat dan sebagainya.


Al-Qur`an memiliki beberapa nama seperti :
-   Al-Kitab atau kitab Allah SWT, (Q.S. Al-Baqarah 2 : 2 ) ;



    “Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
    bertaqwa.”


-   Al-Furqan yang artinya pembeda antara benar dan salah (Q.S. Al-Furqan 25 :
    1);




    “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Qur'an) kepada
    hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”


-   Az-Zikr yang berarti peringatan (Q.S Al-Hijr 15 : 9 ) ;



    “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya
    Kami benar-benar memeliharanya”


-   At-Tanzil yang artinya diturunkan (Q.S Asy-Syu`ara 26 : 192 ) ;



    “Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta
    alam”




                                                                               3
      Al-Quran sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam hidup baik
   di dunia dan akhirat, berisi hal-hal antara lain :


   1. Petunjuk mengenai akidah yang harus diyakini oleh manusia. Petunjuk akidah
      ini berintikan keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan kepastian
      adanya hari kebangkitan, perhitungan serta pembalasan kelak.
   2. Petunjuk mengenai syari’ah yaitu jalan yang harus diikuti manusia dalam
      berhubungan dengan Allah dan dengan sesama insan demi kebahagiaan hidup
      manusia di dunia ini dan di akhirat kelak.
   3. Petunjuk tentang akhlak, mengenai yang baik dan buruk yang harus
      dihindarkan oleh manusia dalam kehidupan, baik kehidupan individual maupun
      kehidupan sosial.
   4. Kisah-kisah umat manusia di zaman lampau. Sebagai contoh kisah kaum Saba
      yang tidak mensyukuri karunia yang diberikan Allah, sehingga Allah
      menghukum mereka dengan mendatangkan banjir besar serta mengganti
      kebun yang rusak itu dengan kebun lain yang ditumbuhi pohon-pohon yang
      berbuah pahit rasanya.
   5. Berita tentang zaman yang akan datang. Yakni zaman kehidupan akhir
      manusia yang disebut kehidupan akhirat. Kehidupan akhirat dimulai dengan
      peniupan sangkakala (terompet) oleh malaikat Israil. “ Apabila sangkakala
      pertamaditiupkan, diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu keduanya
      dibenturkan sekali bentur. Pada hari itulah terjadilah kiamat dan terbelahlah
      langit...”. (Qs al-Haqqah (69) : 13-16.
   6. Benih dan Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.
   7. Hukum yang berlaku bagi alam semesta.



2. Al-Hadis : Arti dan Fungsinya.


      Hadis berasal dari bahasa arab yang artinya baru, tidak lama, ucapan,
   pembicaraan dan cerita. Menurut istilah ahli hadis, yang dimaksud dengan hadis
   adalah segala berita yang bersumber dari nabi Muhammad SAW, berita ucapan,
   perbuatan, dan takrir (persetujuan Nabi SAW) serta penjelasan sifat-sifat Nabi
   SAW.

                                                                                      4
   Al-Hadis adalah sumber kedua agama dan ajaran Islam. Sebagai sumber
agama dan ajaran Islam, al-Hadis mempunyai peranan penting setelah Al-Quran.
Al-Quran sebagai kitab suci dan pedoman hidup umat Islam diturunkan pada
umumnya dalam kata-kata yang perlu dirinci dan dijelaskan lebih lanjut, agar dapat
dipahami dan diamalkan.

   Ada tiga fungsi atau peranan al-Hadis disamping al-Quran sebagai sumber
agama dan ajaran Islam, yakni sebagai berikut :
1. Menegaskan lebih lanjut ketentuan yang terdapat dalam al-Quran. Misalnya
   dalam Al-Quran terdapat ayat tentang sholat tetapi mengenai tata cara
   pelaksanaannya dijelaskan oleh Nabi.
2. Sebagai penjelasan isi Al-Quran. Di dalam Al-Quran Allah memerintahkan
   manusia mendirikan shalat. Namun di dalam kitab suci tidak dijelaskan
   banyaknya raka’at, cara rukun dan syarat mendirikan shalat. Nabilah yang
   menyebut sambil mencontohkan jumlah raka’at setiap shalat, cara, rukun dan
   syarat mendirikan shalat.
3. Menambahkan atau mengembangkan sesuatu yang tidak ada atau samar-
   samar ketentuannya di dalam Al-Quran. Sebagai contoh larangan Nabi
   mengawini seorang perempuan dengan bibinya. Larangan ini tidak terdapat
   dalam larangan-larangan perkawinan di surat An-Nisa (4) : 23.


Hadis Nabi SAW dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

1. Hadis/sunah Qauliyah, yaitu hadis yang didasarkan atas segala perkataan dan
    ucapan Nabi SAW.
2. Hadis/sunnah Fi`liyah, yaitu hadis/sunah yang didasarkan atas segenap
    perilaku dan perbuatan Nabi SAW.
3. Hadis/sunah Takririyah, yaitu hadis yang disandarkan pada persetujuan Nabi
    SAW atas apa yang dilakukan para sahabatnya. Nabi SAW membiarkan
    penafsiaran dan perbuatan sahabatnya atas suatu hukum Allah dan Rasul
    Nya.

   Barang siapa yang tidak mengakui hadis sebagai sumber hukum islam atau
mengingkarinya, maka ia di anggap ingkar sunah dan dinyatakan murtad ( keluar
dari islam atau kafir ) (Q.S An-Nisa` 4 : 80 ) ;

                                                                                 5
       “Barangsiapa yang menta'ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta'ati Allah.
       Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta'atan itu), maka Kami tidak
       mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”



3. Rakyu atau Akal Pikiran ( Ijtihad )


      Menurut kebahasaan, kata Ijtihad berasal dari bahasa arab “jahada”, yang
   artinya berusaha dengan sungguh – sungguh. Menurut istilah dalam ilmu fikih,
   ijtihad berarti mengerahkan tenaga dan pikiran dengan sungguh – sungguh untuk
   menyelidiki dan mengeluarkan hukum-hukum yang terkandung didalam Al-Qur`an
   dan hadis dengan syarat – syarat tertentu.


      Ijtihad menempati kedudukan sebagai sumber hukum islam setelah Al-Qur`an
   dan hadis. Hadis yang dapat dijadikan dalil tentang kebolehan berijtihad adalah
   sabda Rasulullah SAW yang artinya : “ Apabila seorang hakim didalam
   menjatuhkan hukum berijtihad, lalu ijtihadnya itu benar, maka ia mendapat dua
   pahala. Apabila ijtiadnya itu salah, maka ia memperoleh satu pahala.” (H.R.
   Bukhari dan Muslim ).


      Seorang muslim yang melakukan ijtihad disebut mujtahid. Agar ijtihadnya dapat
   menjadi pegangan bagi umat, seorang mujtahid harus memenuhi beberapa
   persyaratan. Persyaratan pokok untuk menjadi mujtahid adalah :
      1. Memahami Al-Quran dan asbabun nuzul-nya (sebab – sebab turunnya ayat
         – ayat Al-Qur`an ), serta ayat – ayat nasikh ( yang menghapus hukum ) dan
         mansukh (yang dihapus).
      2. Memahami hadis dan sebab-sebab munculnya hadis – hadis, serta
         memahami hadis – hadis nasikh dan mansukh.
      3. Mempunyai kemampuan yang mendalam tentang bahasa arab.
      4. Mengetahui tempat – tempat ijmak.

                                                                                     6
   5. Mengetahui usul fikih.
   6. Mengetahui maksud – maksud syariat.
   7. Memahami masyarakat dan adat istiadatnya.
   8. Bersifat adil dan taqwa.

   Selain kedelapan persyaratan pokok tersebut beberapa ulama juga
menambahkan tiga persyaratan lagi, yaitu :

   1. Mendalami ilmu ushuluddin ( ilmu tentang akidah islam ).
   2. Memahami ilmu mantik ( logika ).
   3. Mengetahui cabang – cabang fikih.

   Fungsi ijtihad adalah untuk menetapkan hukum sesuatu, yang tidak ditemukan
dalil hukumnya secar pasti didalam Al-Quran dan hadis. Masalah - masalah yang
sudah jelas hukumnya, karena telah ditemukan dalilnya secara pasti di dalam Al-
Qur`an dan hadis seperti kewajiban beriman kepada rukun iman yang enam,
kewajiban melaksanakan rukun islam yang lima, maka masalah – masalah
tersebut tidak boleh di ijtihadkan lagi. Ditinjau dari segi sejarah ijtihad, ijtihad telah
dilakukan semenjak Rasulullah SAW masih hidup dan terus berlanjut setelah
beliau wafat.

   Bentuk bentuk ijtihad yang biasa digunakan oleh para mujtahid adalah :

   -   Ijma`, adalah kebulatan pendapat semua ahli ijtihad pada suatu masa atas
       suatu masalah yang berkaitan dengan syariat.
   -   Qiyas (Ra`yu), yaitu penetapan hukum atas suatu perbuatan yang belum
       ada ketentuannya, berdasarkan sesuatu yang sudah ada ketentuan
       hukumnya dengan memperhatikan kesamaan antara kedua hal itu.
   -   Istihab, yaitu melanjutkan berlakunya hukum yang tellah ada dan yang telah
       ditetapkan karena adanya suatu dalil, samapi ada dalil lain yang mengubah
       kedudukan hukum tersebut.
   -   Mashlahah Mursalah, yaitu kemaslahatan atau kebaikan yang tidak
       disinggung – singgung syara` untuk mengerjakan atau meninggalkannya.
   -   Urf, yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang
       baik dalam kata – kata atau perbuatan.



                                                                                             7
   Beberapa fatwa Majelis Ulama Indonesia yang merupakan hasil ijtihad
mereka, dimasa sekarang antara lain :

   -   Mengikuti natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram.
   -   Memakan daging kelinci hukumnya halal.
   -   Penulisan kitab Suci AL-Qur`an dengan huruf selain arab, karena mengikuti
       pendapat yang membolehkan, dan dianggap sangat perlu, harus dibatasi
       sekedar hajat dan ditulis disamping huruf arab aslinya.
   -   Penggunaan pil anti haid untuk kesempurnaan ibadah haji hukumnya
       mubah (boleh) sedangkan untuk mencukupi puasa bulan ramadhan sebulan
       penuh hukumnya makruh. Tetapi bagi wanita yang sukar meng-qada
       puasanya pada hari lain , hukumnya mubah. Selain itu penggunaan pil anti
       haid selain untuk hal - hal tersebut di atas, hukumnya tergantung pada
       niatnya. Bila untuk perbuatan yang menjurus kepada pelanggaran hukum
       agama, hukumnya haram.
   -   Vasektomi dan tubektomi termasuk usaha pemandulan, karena itu
       vasektomi dan tubektomi hukumnya haram.
   -   Seseorang yang semasa hidupnya berwasiat akan menghibahkan kornea
       matanya, sesudah wafatnya dengan diketahui dan disetujui dan disaksikan
       oleh ahli warisnya, wasiat itu dapat dilaksanakan dan harus dilakukan oleh
       ahli bedah.

   Menurut ajaran Islam manusia dibekali Allah dengan berbagai perlengkapan
yang sangat berharga antara lain akal, kehendak, dan kemampuan untuk
berbicara. Dengan akalnya manusia dapat membedakan antara yang benar
dengan yang salah, yang baik dengan yang buruk, antara kenyataan dengan
khayalan. Dengan mempergunakan akalnya manusia akan selalu sadar dan dapat
memilih jalan yang dilaluinya, membedakan mana yang mutlak mana yang nisbi.
Karena manusia bebas menentukan pilihannya, ia dapat dimintai pertanggungan
jawab mengenai segala perbuatannya dalam memilih sesuatu.


   Perkataan al-’aqal dalam bahasa Arab berarti pikiran dan intelek. Di dalam
bahasa Indonesia pengertian itu dijadikan kata majemuk akal pikiran. Perkataan
akal dalam bahasa asalnya dipergunakan juga untuk menerangkan sesuatu yang
mengikat manusia dengan Tuhan. Akar kata ’aqal mengandung makna ikatan.
                                                                                    8
   Sebagai sumber ajaran yang ketiga, kedudukan akal pikiran manusia yang
memenuhi syarat penting sekali dalam sistem ajaran Islam. Sumber ajaran Islam
ini biasa disebut dengan istilah ar-ra’yu atau sering juga disebut ijtihad. Namun
makna ijtihad sendiri sebenarnya adalah usaha yang sungguh-sungguh yang
dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang yang mempunyai ilmu
pengetahuan dan pengalaman tertentu yang memenuhi syarat untuk mencari,
menemukan dan menetapkan nilai dan norma yang tidak jelas atau tidak terdapat
patokannya di dalam Al-Quran dan Al-Hadis. Ia merupakan suatu proses, karena
itu ijtihad dapat dilakukan bersama-sama oleh beberapa orang (yang hasilnya
menjadi ijma’ atau konsensus dan dapat pula dilakukan oleh orang tertentu yang
hasilnya menjadi qiyas atau analogi).


   Sebagai hasil ketekunan keilmuwan muslim mempelajari Al-Quran dan Al-
Hadis (sebagai sumber utama agama dan ajaran Islam) dan kemampuan mereka
mempergunakan akal pikiran atau rakyu melalui ijtihad, mereka telah berhasil
menyusun berbagai ilmu dalam ajaran Islam seperti ilmu tauhid atau ilmu kalam
yang (kini) sering disebut dengan istilah teologi, ilmu fikih, ilmu tasawuf dan ilmu
akhlak.


   Di samping itu mereka juga telah berhasil menyusun norma-norma dan
seperangkat penilaian mengenai perbuatan manusia dalam hidup dan kehidupan,
baik dalam hidup pribadi maupun di dalam hidup kemasyarakatan. Sistem
penilaian mengenai perbuatan manusia yang diciptakan oleh ilmuwan muslim itu,
dalam kepustakaan Indonesia dikenal dengan nama al-khamsah (lima kategori
penilaian, lima kaidah atau sering disebut juga lima hukum dalam Islam).


   Menurut sistem al-ahkam al-khamsah ada lima kemungkinan penilaian
mengenai benda dan perbuatan manusia. Penilaian itu menurut Hazairin mulai dari
ja’iz atau mubah atau ibahah. Ja’iz adalah ukuran penilaian atau kaidah kesusilaan
(akhlak) pribadi, sunat dan makruh adalah ukuran penilaian bagi hidup kesusilaan
(akhlak) masyarakat, wajib dan haram adalah ukuran penilaian atau kaidah atau
norma bagi lingkungan hukum duniawi. Kelima kaidah ini berlaku di dalam ruang
lingkup keagamaan yang meliputi semua lingkungan itu. Pembagian ke alam
ruang lingkup kesusilaan, baik pribadi maupun perseorangan. Ukuran penilaian
                                                                                       9
tingkah laku ini dikenakan bagi perbuatan-perbutan yang sifatnya pribadi yang
semata-mata diserahkan kepada pertimbangan dan kemauan orang itu sendiri
untuk melakukannya.




                                                                                10

								
To top
;