Docstoc

35575605-laporan-penelitian-komunitas-tentang-hasil-program-demam-berdarah-di-puskesmas-bareng

Document Sample
35575605-laporan-penelitian-komunitas-tentang-hasil-program-demam-berdarah-di-puskesmas-bareng Powered By Docstoc
					                                   BAB I
                               PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang

             Sampai saat ini penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih
      menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Hal ini didukung oleh
      data-data berikut ini.
      1.         Sejak ditemukan kasus DBD pada tahun 1968 di Surabaya dan
             Jakarta, angka kejadian penyakit DBD meningkat dan menyebar ke
             seluruh daerah kabupaten di wilayah Republik Indonesia termasuk
             kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Timor Timor.
      2.         Pada pengamatan selama kurun waktu 20-25 tahun sejak awal
             ditemukan kasus DBD, angka kejadian luar biasa penyakit DBD
             diestimasikan setiap 5 tahun dengan angka kematian tertinggi pada
             tahun 1968 awal ditemukan kasus DBD dan angka kejadian
             penyakit DBD tertinggi pada tahun 1988.
      3.         Angka kematian kasus DBD masih tinggi, terutama penderita
             DBD yang datang terlambat dengan derajat IV.
      4.         Vektor penyakit DBD nyamuk Aedes aegypti dan Aedes
             albopictus masih banyak dijumpai di wilayah Indonesia.
      5.         Kemajuan teknologi dalam bidang transportasi disertai
             mobilitas penduduk yang cepat memudahkan penyebaran sumber
             penularan dari satu kota ke kota lainnya. (Soegijanto, 2006)


             Indonesia menempati peringkat kedua negara endemis DBD di
      Asia Tenggara. Angka kesakitan DBD di Indonesia tahun 1998 adalah
      22,1 per 100.000 penduduk, sedangkan di Jawa Timur Incidence Rate (IR)
      tertinggi tahun 1996 yaitu 38,05 per 100.000 penduduk. Sejak itu penyakit
      DBD menunjukkan kecenderungan peningkatan jumlah kasus dan luas
      daerah terjangkit. Seluruh wilayah Indonesia mempunyai risiko untuk
      terjangkit penyakit DBD, terutama dengan faktor risiko dari host usia 5-9



                                                                             1
tahun, genetik, strain virus dengue, dan infeksi virus dengue sekunder
(Andajani, 2006).
       DBD merupakan penyakit yang sering menimbulkan suatu letusan
Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan jumlah kematian yang besar. Penyakit
DBD yang pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dengan
kasus 58 orang anak, 24 diantaranya meninggal dengan Case Fatality Rate
(CFR) = 41,3%. Mengingat angka CFR – nya yang tinggi, cepatnya
penyebaran dan kecenderungan terjadi peningkatan maka DBD merupakan
salah satu masalah yang harus segera ditangani dengan cepat di Indonesia
(Ditjen PPM&PL, 2001).
        Menurut data yang didapatkan di Puskesmas Bareng, Kabupaten
Jombang ditemukan 1 kasus DBD pada 31 Desember 2008 dan 1 kasus
kematian karena DBD pada Februari 2009 di Desa Tebel. Sedangkan pada
desa –desa yang lain pada Kecamatan Bareng didapatkan juga kasus DBD
tetapi tidak sampai ada yang meninggal. Dengan adanya kasus kematian
tersebut maka dapat dikatakan Desa Tebel merupakan Desa Endemis
karena terdapat Kejadian Luar Biasa (KLB) disana.
       Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit demam
berdarah   dengue,    antara    lain   faktor   hospes   (host),   lingkungan
(environment), dan     faktor     virus itu sendiri. Faktor hospes yaitu
kerentanan (susceptability), dan respons imun. Faktor lingkungan
(environment) yaitu kondisi geografis (ketinggian dari permukaan laut,
curah hujan, angin, kelembapan, musim), kondisi demografis (kepadatan,
mobilitas, perilaku, adapt istiadat, sosial ekonomi penduduk), jenis dan
kepadatan nyamuk sebagai vektor penular penyakit. Faktor agent yaitu
sifat virus dengue yang hingga saat ini telah diketahui ada 4 jenis serotype
virus dengue yaitu Dengue 1, 2, 3, dan 4. Dari berbagai penelitian yang
telah dilakukan di India telah terjadi pergeseran genotipe virus Dengue
strain Den-2. Demikian pula kejadian di 4 negara di Amerika Latin dan
Srilangka menunjukkan bahwa timbul genotipe baru dari Den-2 yang
berhubungan dengan terjadinya DHF-DSS. Di Indonesia khususnya Jawa




                                                                           2
Timur belum pernah dilakukan penelitian tentang pengaruh geografis
terhadap karakteristik serotype virus Dengue. (Soegijanto, 2006)
       Penyakit DBD sampai sekarang belum ditemukan obat maupun
vaksinnya,    sehingga satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya
penyakit ini dengan memutuskan rantai penularan. Baru-baru ini
pemerintah mencanangkan metode 3M Plus, yaitu mengubur sejumlah
kaleng atau plastik bekas yang dapat menampung air sehingga jadi media
bertelur nyamuk Aedes aegypti. Menutup dan menguras berbagai tempat
penampungan air di rumah masing-masing dengan periode tertentu.
Setelah melakukan kegiatan 3M, dilanjutkan dengan pelaksanaan abatisasi
masal untuk membunuh jentik. (Elmy Rustam, plt Asisten III sekprov
Kaltim ).
       Angka bebas jentik merupakan prosentase jumlah rumah bebas
jentik dibanding dengan jumlah rumah diperiksa. Peran serta masyarakat
sangat dibutuhkan untuk meningkatkan angka bebas jentik misalnya
dengan kegiatan 3M dan PSN (www.desentralisasi-kesehatan.net).
       Pada bulan Januari 2009 didapatkan Angka Bebas Jentik rata-
rata dari 13 desa di Kecamatan Bareng sebesar 77,78%, pada bulan
Februari rata-rata Angka Bebas Jentik di Kecamatan Bareng mengalami
peningkatan menjadi 79,10%. Desa Pakel memiliki Angka Bebas Jentik
terendah yaitu sebesar 43%, sedang Angka Bebas Jentik terbesar yaitu
sebesar 94% didapatkan pada Desa Bareng dan Desa Mundusewu.
       Di Puskemas Bareng didapatkan angka kejadian DBD pada bulan
Januari dan Februari 2009 sebanyak 5 kasus, 4 kasus pada bulan Januari
dan 1 kasus pada bulan Februari 2009. Pada bulan Februari terdapat 1
kasus meninggal dunia. Oleh karena itu, perlu tindak lanjut untuk
menangani permasalahan ini sehingga angka penderita dan angka
kematian akibat DBD dapat dikurangi.




                                                                     3
1.2    Strategi, Kebijakan dan Pokok-pokok Kegiatan Program P2 DBD
1.2.1. Strategi
      A. Pemberdayaan Masyarakat
          Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan
      penanggulangan penyakit DBD merupakan kunci keberhasilan upaya
      pemberantasan penyakit DBD. Untuk mendorong meningkatnya peran
      aktif masyarakat, maka upaya-upaya KIE, social marketing, advokasi dan
      berbagai penyuluhan dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan
      melalui berbagai media massa dan sarana.
      B. Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas Penyakit DBD
           Peran sektor terkait sangat menentukan sekali dalam pemberantasan
      penyakit DBD. Oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi stakeholder
      baik sebagai mitra maupun pelaku merupakan langkah awal dalam
      menggalang,      meningkatkan   dan   mewujudkan     kemitraan.   Jejaring
      kemitraan dilaksanakan melalui pertemuan berkala guna memadukan
      berbagai    sumber   daya   masing-masing   mitra.   Pertemuan    berkala
      dilaksanakan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian program.
      C. Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program
           Pengetahuan mengenai bionomic vektor, virologi, faktor perubahan
      iklim, penatalaksaan kasus harus dikuasai oleh pengelola program sebagai
      landasan dalam menyusun         program pemberantasan DBD, sehingga
      diperlukan adanya peningkatan SDM misal : pelatihan, sekolah dan
      sebagainya.
      D. Desentralisasi
           Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelolaan program kepada
      kabupaten/kota.
      E. Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan
           Lingkungan hidup yang sehat akan mengurangi angka kesakitan
      penyakit DBD, sehingga diperlukan adanya peningkatan mutu dari
      lingkungan itu sendiri melalui orientasi, advokasi, sosialisasi tentang
      pemberantasan penyakit DBD yang berwawasan lingkungan kepada semua
      pihak terkait.



                                                                              4
1.2.2    Kebijakan
      a) Meningkatkan perilaku hidup sehat dan kemandirian terhadap P2 DBD
      b) Meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD
      c) Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program P2 DBD
      d) Memantapkan kemitraan baik lintas sektor/program, LSM, organisasi
         profesional dan dunia usaha
1.2.3. Pokok-Pokok Kegiatan
         1.   Melakukan surveilans epidemiologi dimana dilakukan kewaspadaan
              dini penyakit    DBD melalui kegiatan      penemuan dan pelaporan
              penderita baik dari RS, Puskemas, Pemantauan Jentik Berkala.
         2.   Tatalaksana kasus
         3.   Pemberantasan vektor melalui program pemberantasan             sarang
              nyamuk (PSN)
         4.   Penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)
         5.   Penggerakan peran serta masyarakat
         6.   Pelatihan guna meningkatkan SDM yang profesional terhadap petugas
              kesehatan,   petugas   laboratorium,   pelaksana   program,    petugas
              lapangan penyemprot, dokter puskesmas, dokter swasta, dan dokter
              RS
         7.   Promosi DBD yaitu melalui penyuluhan media massa, pengadaan
              leaflet, poster dan seminar


1.3      Rumusan Masalah
              1. Bagaimana pencapaian program P2P DBD tentang ABJ, apakah
              telah mencapai angka ≥ 95% di wilayah kerja Puskesmas Bareng dari
              bulan Januari dan Februari 2009?
              2. Bagaimana pencapaian program P2P DBD tentang abatisasi,
              Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan penyuluhan di wilayah
              kerja Puskesmas Bareng dari bulan Januari dan Februari 2009?




                                                                                  5
1.4.   Tujuan
         1. Untuk mengetahui pencapaian program P2DBD tentang ABJ,
         apakah telah mencapai angka ≥ 95% di wilayah kerja Puskesmas
         Bareng dari bulan Januari dan Februari 2009.
         2. Untuk mengetahui pencapaian program P2DBD tentang abatisasi,
         Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan penyuluhan di wilayah
         kerja Puskesmas Bareng dari dari bulan Januari dan Februari 2009




                                                                            6
                                   BAB II
                           ANALISA SITUASI


2.1 DATA UMUM
2.1.1 Geografi
          Bareng merupakan sebuah kecamatan yang terletak dalam wilayah
     Kabupaten Jombang dengan wilayah seluas 5421,20 Ha dan berada di
     ketinggian 90m di atas permukaan laut. Suhu udara berkisar antara 230C
     hingga 300C. Kecamatan Bareng terdiri atas 13 desa, 52 Dusun, 115 RW dan
     306 RT dengan ibukota kecamatan berada di wilayah Desa Bareng. Desa
     yang menjadi bagian Kecamatan Bareng adalah sebagai berikut:
                      1. Desa Banjaragung
                      2. Desa Bareng
                      3. Desa Jenis Gelaran
                      4. Desa Karangan
                      5. Desa Kebon Dalem
                      6. Desa Mojo Tengah
                      7. Desa Mundusewu
                      8. Desa Ngampungan
                      9. Desa Nglebak
                      10. Desa Ngrimbi
                      11. Desa Pakel
                      12. Desa Pulosari
                      13. Desa Tebel


          Daerah yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Bareng adalah seluruh
     wilayah kecamatan Bareng itu sendiri karena Puskesmas Bareng merupakan
     satu-satunya Puskesmas di kecamatan Bareng. Puskemas Bareng terletak di
     Jalan Raya Dr. Sutomo No. 47 Bareng Kabupaten Jombang. Puskesmas
     Bareng merupakan      puskesmas perawatan      dan puskesmas PONED
     (Pelayanan Obstetri dan Neonatologi Esensial Dasar).




                                                                           7
1.    Letak puskesmas ditinjau dari :
a. Ibukota Kecamatan         : 500 m
b. Ibukota Kabupaten         : 25 km
c. Ibukota Propinsi          : 80 km
2.    Batas Wilayah Kecamatan Bareng
a. Sebelah utara             : Kecamatan Mojowarno
b.Sebelah timur               : Kecamatan Wonosalam dan Kecamatan
                               Kandangan
c. Sebelah selatan           : Kecamatan Jatirejo
d. Sebelah barat             : Kecamatan Ngoro
3.    Keadaan Medan
a. Luas wilayah : 63,112 km2
b. Data guna tanah sebagian besar adalah areal persawahan
c. Situasi daerah merupakan dataran rendah.
4.    Wilayah kecamatan Bareng terdiri dari :
a. Sawah              : 31,19 km
b. Tegalan            : 22,24 km2
c. Hutan              : 0,63 km2
d. Pemukiman          : 7,33 km2
e    Perkebunan       : 0,63 km2
f. Lain-lain          : 0,65 km2




                                                                8
                                             Gambar 2.1 Peta Kecamatan Bareng


2.1.2 Demografi
    1. Terdapat 13 desa dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 14.286
      KK.
    2. Jumlah penduduk Juli 2008 sebanyak 52.536 jiwa dengan jumlah
      terbanyak yaitu 11.797 jiwa pada kelompok usia 10-19 tahun.




                                                                            9
Tabel 2.1 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur Kecamatan Bareng, Kabupaten
Jombang
NO DESA                  0–9       10      – 20 - 30       - 40 – 50         - 60      - >70
                                   19        29    39    49            59        69
1     Bareng             1,856     2,110     1,378 1,425 655           638       656          627
2     Mojotengah         676       758       496   519   239           229       236          227
3     Tebel              814       916       596     626      292      277       285          269
4     Kebondalem         1,082     1,230     811     848      393      378       387          366
5     Karangan           671       742       483     506      235      224       231          221
6     Pakel              735       831       542     569      265      255       258          247
7     Mundusewu          759       861       559     589      275      262       267          255
8     Ngampunan          724       817       533     561      262      249       258          246
9     Jenis Gelaran      464       527       345     361      167      159       163          156
10    Pulosari           695       786       514     539      248      241       245          233
11    Ngrimbi            687       779       512     532      246      236       242          232
12    Nglebak            441       385       254     257      123      115       119          57
13    Banjaragung        958       1,081     712     742      345      329       339          321
      JUMLAH             10,56     11,82     7,735 8,074 3,745 3,592             3,686        3,457
                         2         3
Sumber : Data demografi Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang 19 Juli 2008




2.1.3 Sosial Ekonomi
      Sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah petani. Adapun
      selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.2
Tabel 2.2 Daftar mata pencaharian penduduk Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang




                                                                                         10
     NO DESA                      PETANI WIRA-               PEG.          TNI   / PURNAWIRA
                                               SWASTA        SWASTA        POLRI WAN PNS DAN
                                                                                  TNI / POLRI
     1      Bareng                3,548        525           179           195    85
     2      Mojotengah            1,245        111           83            62     30
     3      Tebel                 737          175           81            71     29
     4      Kebondalem            1,219        455           72            60     32
     5      Karangan              1,191        390           79            55     25
     6      Pakel                 1,553        193           145           75     17
     7      Mundusewu             1,467        541           431           47     25
     8      Ngampunan             1,626        377           367           34     17
     9      Jenis Gelaran         1,184        161           165           20     16
     10     Pulosari              1,239        375           325           45     18
     11     Ngrimbi               511          69            169           28     19
     12     Nglebak               1,077        55            105           19     13
     13     Banjaragung           2,246        132           210           49     20
            JUMLAH                18,843       3,559         2,411         760    346
     Sumber : Data demografi Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang 15 Juli 2008


     2.1.4 Hasil Utama Daerah
            Hasil utama daerah Bareng adalah :
1.   Padi dari sektor pertanian
2.   Jagung dari sektor pertanian
3.   Kedelai
4.   Ketela pohon
5.   Tebu




     2.1.5 Sosial Budaya
            Perilaku, adat, dan kebiasaan penduduk Kecamatan Bareng, Kabupaten
            Jombang masih kental dengan tradisi yang ada. Media kesenian yang masih
            lestari antara lain adalah : samroh, karawitan, dan ludruk.


                                                                                        11
2.1.6 Agama dan Sarana Ibadah
      Agama yang dipeluk oleh penduduk Kecamatan Bareng, Kabupaten
      Jombang sebagian besar adalah agama Islam. Agama yang lain adalah
      Kristen Protestan, Kristen Katolik, Budha, Hindu dan Aliran Kepercayaan.


Tabel 2.3 Agama yang dipeluk oleh penduduk Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang
NO     DESA                   ISLAM       KRISTEN        KRISTEN           HINDU   BUDHA
                                          PROTES         KATOLIK
                                          TAN
1      Bareng                 9,104       203            23                -       19
2      Mojotengah             3,222       152            -                 9       -
3      Tebel                  3,550       525            -                 -       -
4      Kebondalem             5,383       114            -                 -       -
5      Karangan               3,204       77             34                -       -
6      Pakel                  3,592       42             73                -       -
7      Mundusewu              3,392       437            -                 -       -
8      Ngampunan              3,527       125            -                 -       -
9      Jenis Gelaran          2,204       109            -                 31      -
10     Pulosari               3,306       199            -                 -       -
11     Ngrimbi                3,263       205            -                 -       -
12     Nglebak                1,641       92             18                -       -
13     Banjaragung            4,736       63             -                 -       -
       JUMLAH                 50,124      2,343          148               40      19
Sumber : Data demografi Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang 15 Juli 2008




2.1.7 Pendidikan
      Tingkat pendidikan yang terdapat di Kecamatan Bareng, Kabupaten
      Jombang adalah seperti yang terlihat pada Tabel 2.4


Tabel 2.4 Tingkat Pendidikan Penduduk Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang




                                                                                   12
NO    DESA                TK     SD            SLTP          SLTA          PERGU-    LAIN-
                                 SEDERA        SEDERA        SEDERA        RUAN      LAIN
                                 JAT           JAT           JAT           TINGGI
1     Bareng              160    3,000         1,050         750           90        3,817
2     Mojotengah          90     1,330         715           325           45        663
3     Tebel               84     1,989         835           255           15        782
4     Kebondalem          81     3,760         535           370           19        314
5     Karangan            72     2,350         300           250           19        413
6     Pakel               55     1,590         375           220           19        1,036
7     Mundusewu           79     2,005         52            285           30        819
8     Ngampunan           54     2,752         193           142           30        411
9     Jenis Gelaran       65     1,583         285           137           15        360
10    Pulosari            70     2,384         530           215           15        220
11    Ngrimbi             65     1,031         120           150           19        1,888
12    Nglebak             40     1,440         115           45            7         175
13    Banjaragung         115    2,220         455           219           25        905
      JUMLAH              1,0    27,434        5,560         3,363         348       11,803
                          30
Sumber : Data demografi Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang 15 Juli 2008




2.2 Data Khusus (Sumber : Data Puskesmas Bareng 2009)
2.2.1 Data Sarana Kesehatan
      Sarana kesehatan yang ada di wilayah Puskesmas Bareng pada tahun 2009
      dapat dilihat pada tabel 2.5 berikut :
Tabel 2.5 Data sarana dan prasarana Puskesmas Bareng per Maret 2009

No             Uraian                                                      Jumlah


                                                                                    13
1              Puskesmas Pembantu                                    3
2              Puskesmas Keliling                                    1
3              Kendaraan operasional (sepeda motor)                  4
4              Rumah Dinas Dokter                                    4
5              Rumah Dinas Paramedis                                 -
6              Pondok Bersalin Desa                                  9
7              BP/RB Swasta                                          -
8              RS Swasta                                             -
9              Posyandu                                              70
10             Praktek dokter
               a. Spesialis                                          1
               b. Umum                                               2
               c. Gigi                                               1
11             Bidan Praktek Swasta                                  1
12             Apotik                                                1
13             Toko obat / jamu                                      3
Sumber : Data Laporan Tahunan Puskesmas Bareng Tahun 2009




2.2.2 Data Ketenagaan
      Data Ketenagaan Puskesmas Bareng dapat dilihat pada tabel 2.6 berikut

Tabel 2.6. Data Ketenagaan Puskesmas Bareng perFebruari 2009

                                KONTRAK
                         PN                                    SUKARELA   MANDI
 NO      JABATAN                PEM      DIN     PTT                                JML
                         S                                     WAN        RI
                                DA       KES
         Dokter
 1                       1      -        -       -             -          -         1
         Spesialis
 2       Dokter          3      -        -       -             -          -         3



                                                                               14
         Umum
 3       Dokter Gigi       1       -       -      -             -                -        1
 4       Perawat           13      -       8      -             5                -        26
         Perawat
 5                         1       -       -      -             -                -        1
         Gigi
 6       Bidan             15      -       -      4             -                1        20
 7       Sanitarian        2       -       -      -             -                -        2
 8       Promkes           1       -       -      -             -                -        1

 9       Gizi              1       -       1      -             -                -        2

         Analis
 10      laboratoriu       1       -       -      -             -                -        1
         m
 11      Farmasi           1       -       1      -             -                -        2
         Pranata
 12                        -       -       -      -             -                -        0
         rontgen
         Rekam
 13                        -       -       -      -             -                -        0
         medik
 14      Staf TU           3       1       3      -             1                -        8
 15      Sopir             1       -       -      -             -                -        1
         Penjaga
 16                        1       -       -      -             -                -        1
         kebun
         TOTAL             45      1       13     4             6                1        70
Sumber : Data Laporan Tahunan Puskesmas Bareng per Maret 2009


2.2.3 Organisasi
      2.2.3.1 Struktur Organisasi
                Struktur    organisasi   Puskesmas    Bareng        Kabupaten   Jombang
                berdasarkan Keputusan Bupati Jombang No 78 Tahun 2005 adalah
                sebagai berikut:
                   a.          Kepala Puskesmas
                   b.      Unit tata usaha yang bertanggung jawab membantu kepala
                   puskesmas dalam pengelolaan :



                                                                                     15
                     •        Data dan informasi
                     •        Perencanaan dan penilaian
                     •        Keuangan
                     •        Umum dan kepegawaian
              c.      Unit pelaksana teknis fungsional puskesmas :
                     •        Upaya kesehatan masyarakat, termasuk pembinaan
                     terhadap UKBM
                     •        Upaya kesehatan perorangan
                     •        Jaringan pelayanan puskesmas
              d.      Jaringan pelayanan puskesmas :
                     •        Unit puskesmas Pembantu
                     •        Unit puskesmas keliling
                     •        Unit bidan di desa / komunitas




2.2.3.2 Kriteria Personalia
         1.        Kepala UPTD Puskesmas Bareng adalah Jabatan Struktural
         Eselon IVa.
         Kepala UPTD Puskesmas Bareng Kabupaten Jombang Kepala UPTD
         Pukesmas Bareng dijabat oleh sarjana dibidang kesehatan dan
         merupakan jabatan yang tidak boleh dirangkap oleh pemegang jabatan
         fungsional atau pemegang jabatan struktural lainnya. Apabila Kepala
         UPTD berhalangan melaksanakan tugasnya, Kepala UPTD dapat
         mengusulkan salah satu staf untuk mewakilinya.
         2.        Kepala UPTD Puskesmas Bareng            dibantu staf   sesuai
         kebutuhan.
         Uraian Tugas Operasional Staf dibawah Kepala UPTD Puskesmas
         Bareng Kabupaten Jombang, menyesuaikan dengan fungsi Kepala
         UPTD Puskesmas Bareng.




                                                                             16
2.2.4 Upaya Penyelenggaraan
       Upaya kesehatan pada Puskesmas Bareng dibagi menjadi dua yakni :
         1. Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), dibagi 2 yakni:
                •   Wajib,antara lain :
                          a.    Upaya promosi kesehatan
                          b.    Upaya kesehatan lingkungan
                          c.    Upayakesehatana ibu dan anak serta keluarga
                          berencana
                          d.    Upaya perbaikan gizi masyarakat
                          e.    Upaya Pencegahan dan pemberantasan penyakit
                          menular
                          f.    Upaya pengobatan
                •   Inovasi, antara lain :
                          a.    UKS
                          b.    UKGM
                          c.    Remaja
                          d.    Usila
                          e.    Poskestren Haji
                          f.    PONED


         2. Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP), dibagi menjadi 5 yakni :
                    •   IRJ (Instalasi Rawat Jalan)
                    •   IRNA (Instalasi Rawat Inap)
                    •   UGD (Unit Gawat Darurat)
                    •   Farmasi
                    •   Laboratorium


2.2.5 Struktur Organisasi Puskesmas


                                       Kepala Puskesmas
                                  dr. Gigih Setijawan, MARS

    • Promkes     : Puguh Saneko, SKM         •   UKS           : Uning A Kepala TU
                        Polindes
    • Kesling     : Mudjiana                  •   UKGM          : drg. Nurul Hidayati
                                                                               Soetojo
    • Imunisasi   : Nila Rahmawati            •   Usila         : Hadi Pranoto
                                                          • Renev                 : Puguh Saneko, SKM
                                                                                        17
•   •Pustu
      KIA         : Ulfa Ida                  •   Remaja        : Nisful Lailiyah
•   •Pusling
      KB          Jar Yan
                  : Syamsiah                  •           • Keuangan Haji : : Lilik
                                                  Poskestren – Kesehatan
•   •Dansa
      Gizi        : Endang                                • EDP
                                                  Hadi Pranoto                    : dr. Agustinus S
•   •Unit Pengaduan Hadi Pranoto : Anik W •
       P2P Wajib: Masyarakat
                          UKM         Inovasi     PONED• Umum personalia :UKP
                                                                : Putoyah           Soetojo
                                                        • IRJ          : dr. Sri Rahayu
                                                        • UGD          : Norman Mahendra
                                                        • Farmasi      : Dyah
Gambar 2.2 Struktur Organisasi
                                                        • Laborat      : Aris S
2.3     Puskesmas                                       • IRNA         : Amik S
2.3.1   Batasan puskesmas
              Menurut Dinkes Provinsi Jawa Timur tahun 2008 dijelaskan bahwa
        puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan (UPTD)
        kabupaten atau kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan
        pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
              Pembangunan kesehatan yang dimaksud adalah penyelenggaraan
        upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran,
        kemauan dan kemauan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat
        kesehatan masyarakat.




                                                                            18
                  Puskesmas sebagai unit pelaksana tingkat pertama serta ujung
             tombak pembangunan kesehatan di Indonesia bertanggung jawab langsung
             kepada dinas kesehatan kabupaten/kota. Adapun standar wilayah kerja
             puskesmas adalah satu kecamatan. Akan tetapi bila di satu kecamatan
             terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja
             dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah
             (desa/kelurahan atau RW). Masing-masing puskesmas tersebut secara
             operasional bertanggung jawab langsung kepada dinas kesehatan
             kabupaten/kota.


     2.3.2   Visi puskesmas
                  Visi puskesmas adalah untuk mewujudkan tercapainya kecamatan
             sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat. Yang dimaksud dengan
             kecamatan sehat yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan
             dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
             kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat
             kesehatan yang setinggi-tingginya.
                  Indikator keberhasilan kecamatan sehat adalah sebagai berikut:
1.   Lingkungan sehat
2.   Perilaku sehat
3.   Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu
4.   Derajat kesehatan masyarakat kecamatan


     2.3.3   Misi puskesmas

             1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah
               kerjanya.
             2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di
               wilayah kerjanya.
             3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan
               pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
             4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan
               masyarakat beserta lingkungannya.


                                                                                   19
     2.3.4   Tujuan puskesmas
                  Tujuan      pembangunan    kesehatan   yang   diselenggarakan   oleh
             puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan
             nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup
             sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas
             agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka
             mewujudkan Indonesia Sehat 2010.


     2.3.5 Fungsi puskesmas
1.   Pusat penggerakan pembangunan berwawasan kesehatan
               a. Menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas
                  sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah
                  kerjanya.
               b. Melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program
                  pembangunan di wilayah kerjanya.
2.   Pusat pemberdayaan masyarakat
               a. Berupaya agar masyarakat memiliki kesadaran, kemauan dan
                  kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat
               b. Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan.
               c. Ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan
                  program kesehatan.
3.   Pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama.
               Pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan
               berkesinambungan, meliputi:
               a. Pelayanan kesehatan perorangan meliputi rawat jalan dan untuk
                  beberapa puskesmas melayani rawat inap.
               b. Pelayanan kesehatan masyarakat (public goods) meliputi promosi
                  kesehatan,    pemberantasan     penyakit,   penyehatan   lingkungan,
                  perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana
                  kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai program kesehatan
                  masyarakat lainnya.



                                                                                   20
           Dalam melaksanakan fungsinya ditempuh langkah-langkah strategis
     sebagai berikut:
     1. Mengumpulkan informasi keadaan lingkungan, geografi, demografi,
        morbiditas, sosio-budaya dan sosio-ekonomi penduduk serta keadaan
        infrastruktur untuk melakukan analisis situasi dan menetapkan
        diagnosis masalah kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.
     2. Berdasarkan hasil diagnosis masalah dengan kebijaksanaan dan
        petunjuk yang diberikan dari Dinas Kesehatan Dati II sebagai
        atasannya.
     3. Mengamati dan menganalisis data atau informasi yang dikumpulkan
        secara     berkala   untuk   kewaspadaan   timbulnya   keadaan   yang
        membahayakan kesehatan masyarakat.
     4. Merangsang masyarakat termasuk untuk melaksanakan kegiatan dalam
        rangka menolong mereka sendiri.
     5. Memberi petunjuk kepada masyarakat bagaimana menggali dan
        menggunakan sumber daya setempat yang ada secara efektif dan
        efisien.
     6. Memberikan bantuan yang bersifat teknis, materi dan rujukan medik
        maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan
        bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan.
     7. Memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada masyarakat
        dengan memperhatikan kebutuhannya, mutu pelayanan dan Penilaian
        masyarakat yang dilayani.
     8. Bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan dalam
        melaksanakan program puskesmas.


2.3.6 Kedudukan Puskesmas
           1.         Sistem kesehatan nasional
         Sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama.
           2.         Sistem kesehatan Kabupaten/Kota
         Unit pelaksana teknis dinas kesehatan Kabupaten/Kota.
           3.         Sistem pemerintahan daerah



                                                                          21
                Unit struktural pemerintah daerah Kabupaten/Kota bidang kesehatan
                di tingkat kecamatan.
                  4.       Antar sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama
a.                  Mitra organisasi pelayanan kesehatan tingkat pertama yang
     dikelola oleh lembaga masyarakat dan swasta.
b.                  Pembina bentuk upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat
     seperti Posyandu dan Polindes.


     2.3.7   Upaya dan asas penyelenggaraan
             1. Bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan
               upaya kesehatan masyarakat pada tingkat pertama (primer).
             2. Upaya dijabarkan dalam bentuk kegiatan yang ditetapkan dinas
               kesehatan Kabupaten/Kota bersama puskesmas.
     2.3.7.1 Upaya puskesmas
             1. Upaya kesehatan wajib puskesmas
               Yang termasuk didalamnya adalah :
               a. Promosi kesehatan
               b. Kesehatan lingkungan
               c. Kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana
               d. Perbaikan gizi masyarakat
               e. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
               f. Pengobatan
             2. Upaya kesehatan pengembangan puskesmas


     2.3.7.2 Asas penyelenggaraan :
                1. Asas pertanggungjawaban wilayah
                2. Asas pemberdayaan masyarakat
                3. Asas keterpaduan
               a. Lintas program
               b. Lintas sektor
                4. Asas rujukan
               a. Rujukan medis



                                                                              22
         b. Rujukan kesehatan masyarakat


2.3.8   Manajemen puskesmas
2.3.8.1 Perencanaan
            Proses penyusunan rencana tahunan puskesmas untuk mengatasi
        masalah kesehatan di wilayah kerja puskesmas dibedakan atas dua
        macam :

        1. Perencanaan upaya kesehatan wajib
        2. Perencanaan upaya kesehatan pengembangan termasuk kegiatan
          operasional puskesmas (pusling, manajemen, dsb) dan perbaikan
          sarana puskesmas, rumah dokter serta perawat/ bidan


        Langkah kegiatan perencanaan :
        1. Identifikasi masalah
        2. Menyusun usulan kegiatan
        3. Mengajukan usulan kegiatan
        4. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan

2.3.8.2 Pelaksanaan dan Pengendalian
            Puskesmas dalam mencapai tujuannya dapat melaksanakan kegiatan
        bulanan (lintas program) maupun tribulanan (lintas sektor, swasta, LSM
        dan BPP). Tahapan kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:
        1. Pengkajian ulang rencana pelaksanaan.
        2. Penyusunan    jadwal    kegiatan    bulanan   untuk     tiap   petugas
          penanggungjawab.
            3.    Penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan jadwal.
        Dan sebagai langkah pemantauan dilaksanakan kegiatan seperti:
        1. Memeriksa penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai
          kemudian dibandingkan dengan rencana.
        2. Menyusun acara peningkatan penyelenggaraan kegiatan.




                                                                              23
     2.3.8.3 Pengawasan dan Pertanggungjawaban
             1. Pengawasan puskesmas dilakukan melalui dua cara, yaitu:
                   a.       Internal
                   b.       Eksternal
             2.Pertanggungjawaban, berupa laporan pertanggungjawaban bulanan,
               tahunan maupun jenis laporan pertanggungjawaban khusus seperti
               laporan tribulanan dan laporan harian yang biasanya digunakan untuk
               kejadian luar biasa (KLB) atau wabah.

     2.3.9 Indikator keberhasilan
1.            Pencapaian kecamatan sehat 2010, yang diukur :
              a. Lingkungan sehat
              b. Perilaku sehat
              c. Yankes
              d. Status kesehatan
           2. Pencapaian program puskesmas, yang diukur:
              a. Penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
              b. Pemberdayaan masyarakat dan keluarga
              c. Pelayanan kesehatan tingkat pertama




                                                                               24
                                      BAB III
                              HASIL PROGRAM


3.1.      Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P)

           Tujuan pelaksanaan UPK bidang pencegahan dan pemberantasan
penyakit menular adalah menemukan kasus penyakit menular sedini mungkin dan
mengurangi faktor risiko yang memudahkan terjadinya penularan penyakit,
kesakitan, dan kematian. Sasarannya adalah: ibu hamil, balita dan anak-anak
sekolah serta kelompok masyarakat tertentu yang berperilaku resiko tinggi.
Sasaran sekunder kegiatan ini adalah lingkungan pemukiman masyarakat. Ruang
lingkup kegiatan meliputi surveilans epidemiologi, imunisasi, dan pemberantasan
vektor.
           Berbagai kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
yang dilakukan di Puskesmas Bareng adalah:
    1. Mengumpulkan dan menganalisis data penyakit
    2. Melaporkan penyakit menular pada Dinas Kesehatan Dati II Jombang
    3. Menyelidiki lapangan untuk mengetahui sumber-sumber penularan dan
          menemukan kasus-kasus lain
    4. Tindakan yang dilakukan untuk menahan penjalaran penyakit endemik
    5. Penyembuhan penderita sehingga tidak menjadi sumber infeksi
    6. Pengebalan atau imunisasi yang bertujuan menurunkan angka kematian
          dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (TBC paru, difteri,
          pertusis, tetanus neonatorum, polio, campak)
    7. Pemberantasan penyakit
    8. Pendidikan kesehatan

           Di Puskesmas Bareng pelaksanaan UPK salah satunya di bidang
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P2P) adalah menemukan kasus
penyakit menular sedini mungkin dan mengurangi faktor risiko yang
memudahkan terjadinya penularan penyakit, kesakitan, dan kematian. Sasarannya
adalah: ibu hamil, balita dan anak-anak sekolah serta kelompok masyarakat



                                                                            25
tertentu yang berperilaku resiko tinggi. Sasaran sekunder kegiatan ini adalah
lingkungan pemukiman masyarakat. Ruang lingkup kegiatan meliputi surveilans
epidemiologi, imunisasi, dan pemberantasan vektor.
         Berbagai kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
yang dilakukan di Puskesmas Bareng adalah mengumpulkan dan menganalisis
data penyakit, melaporkan penyakit menular pada Dinas Kesehatan Dati II
Jombang, menyelidiki lapangan untuk mengetahui sumber-sumber penularan dan
menemukan kasus-kasus lain, tindakan yang dilakukan untuk menahan penjalaran
penyakit endemik, penyembuhan penderita sehingga tidak menjadi sumber
infeksi, pengebalan atau imunisasi yang bertujuan menurunkan angka kematian
dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (TBC paru, difteri, pertusis,
tetanus neonatorum, polio, campak), pemberantasan penyakit dan pendidikan
kesehatan
        Jenis pelayanan kesehatan pokok pencegahan dan pemberantasan penyakit
menular (P2P) yang dilakukan di Puskesmas Bareng diantaranya P2P Malaria P2P
polio, P2P TB Paru, P2P ISPA, P2P Demam Berdarah Dengue, P2P HIV-AIDS,
P2P Diare. Dari beberapa kegiatan P2P yang telah dilakukan, untuk bulan Januari
dan Februari 2009, P2P DBD menjadi prioritas dibandingkan kegiatan P2P yang
lain. Hal ini karena terdapat 1 orang yang meninggal dunia dengan diagnosa
Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Puskesmas Bareng, sementara jumlah
kasus DBD yang tercatat sejumlah 4 kasus dalam kurun waktu Januari – Februari
2009.
3.2.    Pencegahan dan Pemberantasan DBD (P2 DBD)
         Tujuan umum pemberantasan DBD adalah menurunkan angka kesakitan
dan kematian karena DBD serta mencegah dan membatasi kejadian luar biasa atau
wabah. Tujuan khusus pemberantasan DBD adalah:
    1. Menurunkan insiden DBD non endemis < 20/100.000,
    2. Menurunkan kematian < 2 %
    3. Meningkatkan angka bebas jentik (ABJ) 95 %
    4. Cegah/batasi KLB/wabah
         Sasaran pemberantasan DBD adalah masyarakat di daerah endemis dan
non endemis.



                                                                            26
Kegiatan pemberantasan DBD di Puskesmas Bareng adalah:
   1. Melakukan pemeriksaan jentik berkala (PJB) pada 400 rumah
     2. Menemukan tersangka kasus DBD (20/100.000 penduduk)
     3. Menangani penderita DBD sesuai standar
     4. Meningkatkan kepatuhan provider terhadap prosedur penanganan DBD
     5. Melengkapi alat pelayanan DBD di Puskesmas


Tabel 3.1. Pencapaian Puskesmas Bareng dalam Pemberantasan Penyakit
Menular Demam Berdarah Dengue (DBD) bulan Januari dan Februari 2009
No                              Kegiatan                                    Jumlah
                                                                     Jan 2009    Feb 2009
1       Jumlah pelacakan penderita DBD                                   4          1
2       Jumlah penderita DBD yang meninggal                              0          1
3       Jumlah fogging
        Fogging fokus                                                    0            1
        Fogging massal (ULV)                                             0            1
4       Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB)
        Jumlah rumah yang dilakukan pemeriksaan jentik                  450           445
        Jumlah rumah yang ada jentik                                    100            93
        Angka bebas jentik                                            77,78%        79,10%
        Jumlah Container yang dilakukan pemeriksaan jentik              775           735
        Jumlah Container yang ada jentik                                79            86
        Container index                                               10,19%        11,70%
5       Jumlah rumah yang diabatisasi selektif                           0            0
6       Penyuluhan Kesehatan tentang DBD                                 0            0

Sumber :    Laporan Bulanan Pemberantasan Penyakit Menular Demam Berdarah
            Dengue (DBD) di Puskesmas Bareng bulan Januari dan Februari 2009




                                                                               27
                                  BAB IV
                        MASALAH PROGRAM


       Salah satu parameter keberhasilan program upaya kesehatan yang
dilakukan Puskesmas adalah target yang telah ditetapkan Puskesmas tersebut di
awal tahun yang didasarkan pada target dari Dinas Kesehatan Dati II dimana
puskesmas itu berada. Sehingga nantinya dapat dievaluasi dan ditindak lanjuti
dengan perbaikan-perbaikan untuk mencapai targetan tersebut.
       Jumlah insidens kasus Demam Berdarah Dengue pada Januari dan
Februari 2009 adalah sebesar 5 kasus dengan jumlah penduduk kecamatan Bareng
sebanyak 52.536 jiwa. Sehingga didapatkan besar insidens kasus DBD di
kecamatan Bareng adalah sebesar 10/ 100.000 jiwa. Angka nasional yang
ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang untuk insidens DBD adalah
kurang dari 20/100.000 jiwa. Dari angka insidens DBD tersebut maka insidens
kasus DBD di wilayah Puskesmas Bareng dalam batas normal.
       Kasus kematian karena DBD di kecamatan Bareng sebanyak 1 jiwa pada
bulan Februari 2009 dari 1 kasus yang ditemukan. Sementara pada bulan januari
kasus kematian karena DBD tidak ditemukan dari 4 kasus yang ditemukan.
Sehingga terjadi peningkatan (Case Fatality Rate) CFR DBD dari bulan Januari
sebesar 0% ke bulan Februari 2009 sebesar 100%. Peningkatan ini perlu
mendapatkan penanganan yang khusus dari pihak puskesmas setempat.
       Kegiatan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) yang dilakukan pada bulan
Januari 2009 didapatkan data Angka Bebas Jentik (ABJ) sebesar 77,78%,
sementara pada bulan Februari 2009 didapatkan data data Angka Bebas Jentik
(ABJ) sebesar 79,10%. Angka nasional untuk Angka Bebas Jentik (ABJ) adalah
sebesar lebih dari 95%. Jadi indeks Angka Bebas Jentik untuk bulan Januari dan
Februari 2009 masih berada dibawah Angka nasional Angka Bebas Jentik (ABJ).
Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak bangunan yang didalamnya terdapat
tempat penampungan air yang mengandung jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti.




                                                                           28
           Dari beberapa permasalahan yang terdapat dalam program P2P DBD
       Puskesmas Bareng dilihat dari segi UKP, UKM dan Menajemen
       Puskesmas. Prioritas masalah sendiri ditentukan oleh beberapa foktor,
       diantarannya :
               1. Emergency
               2. Severity
               3. Magnitude/greatest member
               4. Rate of increases
               5. Expanding scope
               6. Public concern
               7. Degree of unmeet need
               8. Tecnological feasibility
               9. Benefit
               10. Keterpaduan
               11. Pertimbangan politik dan spesial mandat
4.1.   Upaya kesehatan Perseorangan
           Puskesmas Bareng dalam pelaksanaan upaya kesehatan individu di
       wilayah kerjanya yang menyangkut program P2P DBD belum memiliki
       alur penanganan pasien yang baik. Sering kali pasien yang berobat di
       Puskesmas dengan diagnosa DBD langsung di rehidrasi cepat. Tanpa
       melihat tingkat keparahan dari penyakit DBD itu sendiri. Padahal
       berdasarkan pedoman tatalaksana dari WHO rehidrasi pasien berbeda tiap
       tingkat keparahannya.
           Selain itu, dalam penatalaksanaan pasien DBD di rawat inap masih
       belum memiliki rencana asuhan keperawatan yang baik sehingga sulit
       untuk dilakukan evaluasi kondisi pasien yang di rawat di Rawat inap
       tersebut. Juga tidak bisa dinilai rasionalisasi terapi dan asuhan
       keperawatan yang telah diberikan ke pasien.
           Disamping itu, kurangnya tenaga dokter di Puskesmas Bareng
       menyebabkan pasien yang berobat di sana lebih banyak ditangani secara
       penuh oleh perawat, mulai dari penegakan diagnosa sampai pemberian
       terapi. Padahal penanganan pasien yang seharusnya atas instruksi dari



                                                                          29
       dokter kepada perawat, perawat melakukan intruksi terapi dari dokter yang
       menangani pasien tersebut.
4.2.   Upaya Kesehatan Masyarakat
           Angka bebas jentik di Kecamatan Bareng bulan Januari- Februari
       2009 masih berada di bawah standar angka bebas jentik nasional. Padahal
       Departemen Kesehatan RI menetapkan untuk angka bebas jentik nasional
       harus di atas 95 %. Angka bebas jentik menunjukkan perbandingan antara
       jumlah rumah ataubangunan dan tempat penanmpungan air yang bebas
       jentik nyamuk aedes aegypti di suatu wilayah kerja Puskesmas dalam
       kurun waktu tertentu dengan seluruh jumlah rumah atau bangunan dan
       tempat penampungan air yang di periksa dalam kurun waktu yang sama.
       Penghitungan    ABJ     berpedoman     pada    buku    petunjuk    teknis
       penanggulangan Demam Berdarah Dengue Depkes RI.
           Pelaksanaan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan
       pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) oleh Puskesmas Bareng dalam wilayah
       kerjanya masih belum optimal. Sementara pelaksaan PSN dan PJB
       merupakan salah satu kegiatan dalam program P2P DBD yang
       keberhasilannya memerlukan peran aktif masyarakat. Hambatan yang
       muncul dala pelaksanaan PSN dan PJB berasal dari sumber daya manusia
       yang kurang baik kualitas maupun kuantitas.
           Program abatisasi yang dilaksanakan bekeja sama dengan masyrakat
       dalam distribusi bubuk abate. Puskesmas memberikan bubuk abate
       dibagikan ke masyarakat saat penyuluhan dan di titipkan pada bebrapa
       orang untuk di bagikan ke masyarakat sekitarnya. Puskesmas melakukan
       kontol pembagian bubuk abate itu dengan cara menanyakan ke perangkat
       desa atau orang yang di tunjuk tanpa mengecek langung ke masyarakat.
       Dari survey yang kami lakukan di desa Tebel, banyak masyarakat yang
       tidak menerima bubuk abate dari puskesmas tetapi secara pribadi
       membelinya dari penjual yang ada.
4.3.   Manajemen Puskesmas
           Program puskesmas sangat banyak sehingga memerlukan manajemen
       yang baik. Saat ini di Puskesmas Bareng banyak program yang berjalan



                                                                             30
sendir-sendiri tanpa adanya kerjasama lintas program dan lintas sektoral.
Lokakarya mini puskesmas seharusnya dijadikan forum bersama antar
program internal puskesmas dan masyarakat, tetapi dalam pelaksanaannya
kurang efektif. Akibatnya suatu program yang seharusnya melibatkan
beberapa bidang hanya dibebankan pada satu bidang saja. Pada
pelaksanaan program PSN dan PJB oleh Puskesmas Bareng hanya
melibatkan bidang P2P DBD saja. Padahal bidang-bidang seperti bidang
Promosi Kesehatan, Penyehatan Lingkungan, Gizi, dan Balai Pengobatan
juga ikut berperan dalam Program P2P DBD tersebut.
    Proses pendelegasian tugas dan beban tidak merata antara pegawai
puskesmas. Sebagai contoh penanggung jawab P2P DBD merangkap
tanggung jawab program yang lain diluar program P2P DBD. Sehingga
pelaksana program tersebut kurang fokus dan hasil dari program yang
dicapai kurang dari target yang telah ditentukan Dinas Kesehatan
Kabupaten Jombang dan Puskesmas Jombang.




                                                                      31
                                       BAB V
                         PENYEBAB MASALAH


       Pelaksanaan program P2P Demam Berdarah Dengue di Puskesmas Bareng
telah di rencanakan dengan target yang dapat diukur berupa angka. Dari beberapa
kegiatan P2P yang telah dilakukan, untuk bulan Januari dan Februari 2009, P2P
DBD menjadi prioritas dibandingkan kegiatan P2P yang lain. Hal ini karena
terdapat 1 orang yang meninggal dunia dengan diagnosa Demam Berdarah
Dengue di wilayah kerja Puskesmas Bareng, sementara jumlah kasus DBD yang
tercatat sejumlah 4 kasus dalam kurun waktu Januari – Februari 2009.
5.1    Upaya Kesehatan Perseorangan
           Beberapa permasalahan seperti belum tersedianya alur penanganan
       pasien yang standart, penatalaksanaan pasien DBD di rawat inap masih
       belum memiliki rencana asuhan keperawatan yang baik, penderita DBD
       lebih banyak ditangani oleh tenaga perawat. Permasalahan tersebut apabila
       ditelusuri lebih lanjut akan diperoleh beberapa faktor yang mendukung.
           Belum berjalannya alur penanganan pasien DBD yang standart dan
       penatalakasaan pasien DBD di rawat inap Pasien Bareng disebabkan oleh
       beberapa faktor diantaranya :
               1.    Belum dipatuhinya alur penatalaksanaan dan Prosedur
               Pelaksanaan
               sesuai standar WHO
               2.    Penatalaksanaan pasien DBD sebagian besar dilakukan
               tenaga kesehatan perawat
               3.    Tenaga kesehatan berupa dokter kurang


5.2    Upaya Kesehatan Masyarakat
           Upaya kesehatan masyarakat yang menyangkut program-program P2P
       DBD yang memerlukan peran serta aktif masyarakat. Sementara kondii
       dilapangan angka keberadaan jentik cukup tinggi sehingga angka bebas
       jentiknya rendah. Hal ini berarti program P2P DBD yang berbasis




                                                                                32
      masyarakat belum terlaksana dengan baik. Beberapa faktor yang
      mempengaruhi diantaranya:
      1. Masyarakat
            a. kurangnya pengetahuan tentang Demam Berdarah dengue dan
            cara pencegahannya
            b. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menindaklanjuti
            program     dari   Puskesmas     terutama   program   PSN   sesuai
            denganpenelitian kami didesa Tebel Kecamatan Bareng.
            c. kualitas dan kuantitas kader kesehatan yang kurang memadai.
            d. adanya keengganan sebagian masyarakat untuk mendukung
            dan berperan aktif dalam program PSN karena ketidakpahaman
            mereka. Contohnya penolakan masyarakat untuk diperiksa jentik di
            penampungan airnya oleh kader kesehatan.
            e. penggunaan bubuk abate yang kurang benar.
      2. Puskesmas
            a.       penyuluhan tentang DBD dan pencegahannya dilakukan
            Puskesmas Bareng bila ada permintan dari daerah tertentu atau ada
            kasus DBD yang terjadidi daerah tersebut.
            b.       Program PSN dan PJB, pelaksanaanya dilakukan oleh bidan
            desa atau kader, sehingga evaluasi program bergantung pada
            kinerja bidan desa atau kader.
            c.       kurangnya pelatihan dan pembekalan kader kesehatan
            tentang DBD dari Puskesmas Bareng.


5.3   Manajemen Puskesmas
          Kebijakan puskesmas dalam pelaksanaan program-program bidang
      P2P DBD mempengaruhi kinerja dan pencapaian program tersebut.
      Kebijakan puskesmas Bareng sendiri mengatur segala hal yang
      menyangkut setiap program yang dilaksanakan bidang P2P DBD
      Puskesmas Bareng, baik internal maupun eksternal. Beberapa faktor yang
      menyebabkan masalah dalam manajemen puskesmas menyangkut kinerja
      bidang P2P DBD diantaranya :



                                                                           33
1. Dalam pelaksanaan program-program P2P DBD, masih kurang
   melibatkan bidang-bidang selain bidang P2P DBD. Hal ini disebabkan
   karena kurangnya transfer informasi antar bidang-bidang yang ada di
   Puskesmas Bareng.
2. Pendelegasian tanggung jawab program P2P DBD tidak berjalan
   dengan baik. Hal ini disebabkan karena penanggung jawab P2P DBD
   merangkap kesibukkan lain internal puskesmas.
3. Penanggung jawab P2P DBD juga kurang diberi wewenang untuk
   pendelegasian tugas-tugasnya kepada pegawai puskesmas yang lain.
4. Dalam lokakarya mini, setiap program sering tidak dipresentasikan
   tentang gambaran dan pencapaian karena tidak ada waktu. Serta tidak
   mencari solusi bersama bidang-bidang yang lain, sehingga proses
   diskusi yang terjadi adalah komunikasi 1 arah.




                                                                      34
                                   BAB VI
      PENYELESAIAN MASALAH DAN RENCANA TINDAK
                                  LANJUT


6.1    Upaya Kesehatan Perseorangan
       1. pelatihan dan pembekalan tenaga kesehatan puskesmas mengenai
          standar prosedur dan operasional penanganan pasien DBD
       2. pengawasan dan evaluasi berkala mengenai penatalaksanaan pasien
          DBD.
       3. pembuatan lembar observasi asuhan keperawatan.
       4. pembuatan alur diagnosa dan penatalaksanaan pasien yang mudah
          dipahami dan dilaksanakan oleh tenaga medis non dokter.
6.2    Upaya Kesehatan Masyarakat
       1. penambahan jumlah kader dengan cara perekrutan kader baru melalui
          PKK dan pemberian Surat Tugas dari Puskesmas Bareng dan
          pemerintahan Desa.
       2. pertemuan rutin kader kesehatan yang diadakan Puskesmas tiap bulan
          untuk mengevaluasi program yang sudah disepakati sebelumnya dan
          membahas masalah yang ada di masing-masing wilayah kerja
          kemudian mencari solusi dari masalah tersebut.
       3. pelatihan dan pembekalan kader kesehatan tentang ciri-ciri jentik
          nyamuk aedes aegypti.
       4. pertemuan masyarakat desa untuk diberikan penjelasan dari perangkat
          desa mengenai pentingnya kerja sama semua pihak dalam mengatasi
          masalah kesehatan yang ada.
       5. melakukan penilaian tingkat pengetahuan masyarakat tentang DBD
          dan pencegahannya sebagai pedoman dalam memilih daerah yang
          menjadi prioritas dilaksanakannya penyuluhan. Penyuluhan ditindak
          lajuti dengan monitoring tindak lanjut dan evaluasi hasil yang dicapai.




                                                                               35
6.3   Manajemen Puskesmas
      1. Pembagian tugas dan beban yang merata diantara pegawai puskesmas
         Bareng, agar pegawai puskesmas yang mendapat tugas dapat fokus
         dalam bekerja sehingga setiap program dapat berjalan dengan baik.
      2. Pemberian wewenang bagi penanggung jawab program dalam
         membentuk tim pelaksana program atas persetujuan kepala Puskesmas
      3. Dalam lokakarya mini disediakan waktu untuk diskusi antar bidang
         untuk membicarakan program-program dari tiap bidang sehingga
         terjadi komunikasi dua arah. Diharapkan adanya kerjasama lintas
         program dalam pelaksanaan program P2P DBD.




                                                                             36
                                 BAB VII
                     KESIMPULAN DAN SARAN


   7.1.       KESIMPULAN
1. Jumlah insiden kasus DBD di wilayah Puskesmas Bareng untuk bulan Januari
   – Februari 2009 dalam batas normal.
2. Kasus kematian karena DBD di kecamatan Bareng pada Februari 2009
   meningkat dari bulan Januari 2009 sebesar 100%.
3. Indeks Angka Bebas Jentik bulan Januari 2009 sebesar 77,78 % dan bulsn
   Februari 2009 sebesar 79,10 %, dibawah Angka Nasional untuk Angka Bebas
   Jentik sebesar 95 %.
4. Masih dijumpai masalah dalam Upaya Kesehatan Perseorangan pasien DBD
   di Puskesmas Bareng
5. Masih dijumpai masalah dalam Upaya Kesehatan Masyarakat program P2P
   DBD di Puskesmas Bareng
6. Masih dijumpai masalah dalam Manajemen pencegahan dan penanggulangan
   DBD di Puskesmas Bareng


   7.2.       SARAN
   1.     Perlunya peran serta aktif masyarakat dalam pencegahan dan
   penanggulangan DBD di kecamatan Bareng
   2.     Pemilihan dan pemberian penghargaan kepada kader kesehatan idola
   setiap tahun oleh Puskesmas Bareng dan pemerintahan Kecamatan Bareng.
   3.     Meningkatkan hiegene perorangan, bekerjasama dengan Program
   Kesehatan Lingkungan (KesLing) Puskesmas Bareng untuk mengurangi
   angka kejadian DBD.
   4.     Meningkatkan penyuluhan mengenai pemberantasan sarang nyamuk
   terutama di tingkat RT dan kelurahan dan sekolah-sekolah sehingga nilai ABJ
   dapat lebih ditingkatkan sampai angka ≥ 95%, bekerjasama Program Promosi
   kesehatan (Promkes) Puskesmas Bareng




                                                                           37
5.    Mengadakan kerjasama dengan praktek dokter swasta atau tempat
pelayanan kesehatan lainnya yang berada di wilayah kerja Puskesmas Bareng
dalam pendataan penderita DBD.




                                                                      38

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:265
posted:10/11/2012
language:Indonesian
pages:38