PEMBERDAYAAN PETANI BAWANG MERAH

Document Sample
PEMBERDAYAAN PETANI BAWANG MERAH Powered By Docstoc
					PEMBERDAYAAN PETANI BAWANG MERAH MELALUI KEBIJAKAN HARGA
                  Oleh : Mohammad Wahyudin
A. PENDAHULUAN

   Indonesia adalah negara agraris yang banyak menghasilkan komoditas holtikultura.
Komoditas hortikultura terdiri dari buah-buahan, sayuran, tanaman hias dan tanaman obat.
Salah satu produk dari komoditas sayuran adalah bawang merah (Allium Cepa). Bawang
merah merupakan salah satu komoditas sayuran dataran rendah, meskipun bukan merupakan
kebutuhan pokok, tetapi hampir selalu dibutuhkan oleh konsumen rumah tangga sebagai
pelengkap bumbu masak sehari-hari. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok
rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan
obat tradisional.
   Di Indonesia tanaman bawang merah telah lama diusahakan oleh petani sebagai usahatani
komersial. Bawang merah merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja yang
memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi wilayah. Tingkat
permintaan dan kebutuhan bawang merah yang tinggi menjadikan komoditas ini sangat
menguntungkan untuk diusahakan. Konsumsi bawang merah penduduk Indonesia per kapita
per tahun mencapai 4,56 kilogram atau 0,38 kilogram per kapita per bulan. Oleh karena itu
permintaan bawang merah akan terus meningkat dengan perkiraan 5 persen per tahun sejalan
dengan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia.
   Namun demikian, bawang merah mempunyai permasalahan produksi bulanan yang sangat
fluktuatif sesuai dengan iklim/musim, selain itu juga disebabkan oleh cirinya yang sangat
khas sebagaimana komoditas hortikultura lainnya yaitu mudah rusak/busuk (perishable).
Keadaan produksi ini berdampak terhadap perkembangan harga bawang merah yang sangat
bergejolak.
   Walaupun produksi bawang merah di Indonesia cenderung meningkat setiap tahun,
namun sampai saat ini produksi dalam negeri belum dapat memenuhi seluruh permintaan
bawang merah di Indonesia. Untuk itu, sebagian kebutuhan bawang merah dipenuhi melalui
impor. Dibandingkan dengan tahun tahun 2006, jumlah impor tahun 2011 telah mengalaimi
kenaikan lebih dari 50%. Bahkan, sejak tahun 2003 Indonesia telah menjadi net importer
bawang merah. Ening Ariningsih dan Mari Komariah Tentamia (2004) mengatakan bahwa
importasi berpengaruh nyata terhadap fluktuasi harga bawang merah domestik.
   Berdasarkan hasil penelitian yang ada, sistem pemasaran bawang merah yang ada selama
ini belum dapat mensejahterakan petani produsen. Harga yang terjadi di tingkat konsumen
akhir selama ini belum seimbang jika dibandingkan dengan margin pemasaran yang diterima
oleh pedagang perantara. Sistem pemasaran yang belum efisien tersebut menyebabkan harga
bawang merah di tingkat konsumen relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan harga
bawang merah di tingkat petani. Ketidakseimbangan harga yang diterima petani dengan
margin di tingkat pedagang perantara dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti banyaknya
fungsi yang dilakukan lembaga pemasaran selain petani, kurangnya informasi pasar yang
dibutuhkan oleh pelaku pasar yang terlibat dalam aktivitas pemasaran dan tingginya biaya
pemasaran yang digunakan dalam kegiatan pemasaran bawang merah hingga ke tingkat
konsumen akhir.


B. PEMBAHASAN
  I. Produksi, Konsumsi, dan Fluktuasi Harga Bawang Merah

   Bawang merah dihasilkan di hampir semua wilayah di Indonesia. Namun demikian, yang
menjadi pusat penghasil bawang merah, dengan luas areal panen lebih dari 1.000 hektar per
tahun, tersebar di 10 provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara
Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, D.I. Yogyakarta, Sumatera Utara, Bali dan Nusa
Tenggara Timur. Provinsi-provinsi ini seluruhnya menyumbang 97,27 persen dari produksi
total bawang merah di Indonesia pada tahun 2008. Sebesar 81,46 persen disumbang oleh
provinsi-provinsi yang ada di Pulau Jawa (Deptan 2009).
   Tabel 1. Lokasi Pengembangan Bawang Merah Nasional




   Perkembangan luas panen, produksi dan produktivitas bawang merah di Indonesia tahun
2001-2010 yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Namun demikian, pada tahun 2011
produksi bawang merah mengalami penurunan sebanyak 14,85%, yaitu menjadi 893.124 ton.
Penurunan produksi bawang merah pada tahun 2011 lebih diakibatkan oleh turunnya luasan
lahan tanam bawang merah dan sedikit menurunnya tingkat produktifitas lahan jika
dibandingkan dengan tahun 2010. Menurunnya produktifitas lahan dapat disebabkan oleh
adanya ketidakefisienan dalam penggunaan faktor produksi, kondisi lahan yang semakin
rusak akibat penggunaan pestisida dan obat-obatan yang berlebihan, serta kesesuaian jenis
varietas yang digunakan dengan kondisi daerah. Pengalokasian sumberdaya yang efisien oleh
petani bawang merah diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi.

   Tabel 2. Luas Panen dan Produksi Bawang Merah Nasional Tahun 2001-2011.

                Luas Panen      Produksi     Produktifitas
      Tahun
                    (ha)          (ton)         (ton/ha)
       2005           83.614      732.610         8.76
       2006           89.188      794.931         8.91
       2007           93.694      802.810         8.57
       2008           91.339      853.615         9.35
       2009         104.009       965.164         9.28
       2010         109.634      1048.228         9.56
       2011           93.667      893.124         9.54
      Sumber : Deptan (2011), diolah.

   Bawang merah dibutuhkan oleh hampir semua kalangan yang umumnya digunakan
sebagai bumbu masak atau obat tradisional. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam
kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta
bahan obat tradisional. Sifat bawang merah yang tidak memiliki pengganti (substitusi) yaitu
tidak adanya komoditi yang memiliki sifat dan fungsi yang sama dengan bawang merah baik
yang alami maupun sintetis, membuat tingkat kebutuhan terhadap bawang merah semakin
meningkat setiap tahunnya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan
Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, oleh Ening Ariningsih dan Mari Komariah
Tentamia, permintaan bawang merah responsif terhadap perubahan jumlah penduduk, tetapi
tidak responsif terhadap harga bawang merah dan pendapatan per kapita,
   Gambar 1. Konsumsi Bawang Merah Nasional per kapita tahun 2005 - 2009




   Sumber : Pudatin, Departemen Pertanian (2011), diolah

   Menurut Ening Ariningsih dan Mari Komariah Tentamia (2004), Dalam jangka pendek
permintaan bawang merah responsif terhadap perubahan jumlah penduduk dengan nilai
elastisitas sebesar 5,33 persen. Artinya, dalam jangka pendek apabila jumlah penduduk naik 1
persen maka permintaan bawang merah akan naik 5,33 persen. Pusdatin Departemen
Pertanian (2011) mengatakan bahwa permintaan terhadap bawang merah diperkirakan akan
terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri
olahan (acar/pickles, bumbu, bawang goreng, dan bahan baku campuran obat-obatan) serta
pengembangan pasar ekspor (sumber : Direktorat Jendral Hortikultura,2008).

   Tabel 3. Perkiraan Kebutuhan Bawang Merah Nasional

            Jumlah       Kebutuhan
    Tahun
            Penduduk     Konsumsi    Benih   Industri   Ekspor Total

    2005    221782717    731883      91000   10000      15000   847883

    2006    225109458    754117      92000   10000      20000   876117

    2007    228486100    776853      93000   15000      25000   909853

    2008    231913391    800101      94200   15000      25000   934301

    2009    235392092    812103      96000   20000      35000   936103

    2010    238922973    824284      97000   20000      35000   976284

    2011    242506818    873025      98300   25000      50000   1046325

    Sumber : Ditjen BP Hortikultura (2005)
   Bawang merah merupakan salah satu komoditas yang sering mempengaruhi tingkat
inflasi. Fluktuasi harga komoditas bawang merah cukup tinggi. Fluktuasi harga bawang
merah dapat disebabkan dari berbagai faktor, seperti meningkatnya permintaan pasar, biaya
tanam, cuaca, pasokan, transporrtasi, dan bawang impor. Pada bulan Mei 2012 isu yang
mempengaruhi fluktuasi harga bawang merah karena faktor minimnya pasokan dan belum
masuknya masa panen raya di daerah sentra produksi. Maraknya bawang merah impor yang
masuk ke pasar tradisional juga akan mengakibatkan barang komoditas lokal anjlok.

   Menurut data yang dilansir oleh kementrian perdagangan (2012), harga rata-rata bawang
merah di 33 kota pada bulan Mei 2012 meningkat jika dibandingkan dengan bulan April 2012
yakni dari harga sebesar Rp. 13.909-/kg menjadi Rp.16.260,-/kg. Sedangkan jika
dibandingkan dengan Mei 2011, terjadi penurunan harga sebesar 12 %. Secara rata-rata
nasional, fluktuasi harga bawang periode bulan Mei 2011 sampai dengan bulan Mei 2012
cukup tinggi yaitu sebesar 18%, yang diindikasikan oleh koefisien keragaman harga bulanan.
Untuk periode bulan Mei 2011 sampai dengan bulan Mei 2012, harga rata-rata bawang merah
nasional yaitu sebesar Rp.15.563/kg, dengan fluktuasi harga yang menurun sejak bulan Juli
2011 hingga Januari 2012.

   Tingkat perbedaan harga bawang (disparitas) antar wilayah di Indonesia pada bulan Mei
2012 relatif tinggi, yaitu sebesar 23%. Artinya, perbedaan harga di suatu wilayah dengan
rata-rata nasional pada bulan April 2012 berada dalam kisaran 23%. Angka disparitas
tersebut masuk dalam kategori tinggi, karena berada dalam kisaran diatas 10%. Disparitas
harga ini dikarenakan minimnya pasokan bawang merah di daerah dan belum masuknya masa
panen raya di daerah sentra produksi. Jika dilihat berdasarkan per wilayah, Harga tertinggi
bawang merah berdasarkan wilayah terdapat di Manokwari sebesar Rp 25.338,- per kg,
Jayapura sebesar Rp 23.757,- per kg, dan Maluku Utara sebesar Rp 22.058,- per kg,
sedangkan harga terendah bawang berdasarkan wilayah terdapat di Surabaya sebesar Rp
10.862,- per kg, Semarang sebesar Rp 10.360,- per kg, dan Yogyakarta sebesar Rp 11.536,-
per kg. (Kementrian Perdagangan, 2012).
   Gambar 2. Grafik Harga Rata-rata Bawang Merah Nasional periode 2011 – 2012




   Sumber : BPS, Disperindag 2011-2012, diolah

   Menurut Ening Ariningsih dan Mari Komariah Tentamia (2004), harga bawang merah
berdampak negatif terhadap permintaan tetapi tidak nyata. Selain itu pendapatan per kapita
masyarakat Indonesia mempunyai tanda positif dan pengaruhya tidak nyata. Pada saat
produksi bawang merah nasional relatif tinggi, terjadi penurunan harga yang selanjutnya akan
mendorong peningkatan permintaan. Dalam jangka pendek respon permintaan bawang merah
terhadap perubahan harga bawang merah dan pendapatan per kapita bersifat inelastis, dengan
nilai elastisitas masing-masing –0,038 dan 0,113. Nilai elastisitas pendapatan tersebut
menunjukkan bahwa bawang merah tidak responsif terhadap perubahan pendapatan. Sebagai
gambaran, apabila pendapatan naik 10 persen, maka permintaan bawang merah hanya naik 1
persen. Hal ini dikarenakan bawang merah merupakan komoditas bahan pangan pokok yang
berfungsi sebagai bumbu, dengan volume kebutuhan setiap hari yang relatif kecil. Hutabarat
et al. (1999) melakukan penelitian system komoditas bawang merah dengan menggunakan
data Susenas tahun 1987-1996, mengemukakan bahwa meskipun harga bawang merah
berfluktuasi tinggi, tetapi karena tingkat konsumsinya relatif kecil, maka permintaan
komoditas ini tidak terlalu dipengaruhi oleh tingkat harga dan pendapatan penduduk.

   Selain hal diatas, Ening Ariningsih dan Mari Komariah Tentamia (2004) juga mengatakan
bahwa harga bawang merah Indonesia dipengaruhi secara sangat nyata oleh harga bawang
impor, dan jumlah penawaran (produksi) domestik. Dalam jangka pendek harga bawang
domestik tidak terlalu dipengaruhi harga impor, namun dalam jangka panjang peningkatan
harga impor perlu dipertimbangkan karena sangat berpengaruh terhadap tingkat harga
domestik. Pengaruh penawaran (produksi) dalam negeri (nasional) ditambah net impor sangat
nyata mempengaruhi harga bawang merah domestik. Dalam jangka pendek harga bawang
merah domestik tidak responsif terhadap perubahan jumlah produksi,namun dalam jangka
panjang akan menjadi responsive Dengan demikian dalam jangka panjang penawaran sangat
menentukan harga bawang merah di tingkat konsumen Indonesia. Oleh karena itu salah satu
cara untuk mengurangi fluktuasi harga bawang merah di Indonesia, dapat diupayakan dengan
mengurangi fluktuasi jumlah produksi di sentra bawang merah.


  II. Pola Saluran Pemasaran Bawang Merah

   Pemasaran sebagai serangkaian fungsi yang diperlukan dalam penanganan atau
pergerakan input ataupun produk mulai dari titik produksi primer sampai konsumen akhir
(Dahl dan Hammond, 1977). Serangkaian fungsi tersebut adalah fungsi pertukaran
(pembelian dan penjualan), fisik (pengolahan, pengangkutan dan penyimpanan) dan fasilitas
(pembiayaan, risiko, standarisasi dan grading dan inteligens pemasaran). Fungsi-fungsi
pemasaran tersebut adalah kegiatan produktif (meningkatkan nilai guna, bentuk, waktu,
tempat dan kepemilikan), sedangkan pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut dapat dilakukan oleh
kelompok perusahaan atau individu yang disebut lembaga pemasaran (Asmarantaka, 1999).

   Saluran pemasaran merupakan berbagai tingkatan pedagang perantara yang menjembatani
kegiatan   pemasaran   antara   petani   dengan   konsumen     akhir   maupun   konsumen
industri/perusahaan. Pola saluran pemasaran bawang merah terbentuk dari beberapa
komponen lembaga pemasaran, yaitu petani (kelompok tani), pedagang pengumpul,
pedagang pengirim, pedagang besar lokal, pedagang besar non lokal (luar daerah/propinsi
dalam pulau maupun luar pulau), dan pedagang pengecer. Lembaga pemasaran ini melakukan
kegiatan berupa fungsi-fungsi pemasaran yaitu kegiatan yang menjadikan bentuk, waktu dan
tempat komoditas bawang merah sesuai dengan yang diinginkan oleh konsumen.

   Hasil penelitian dari Rosantiningrum (2004) mengenai pola saluran pemasaran
menyatakan bahwa terdapat tiga pola saluran pemasaran bawang merah yang terjadi di Desa
Banjaranyar, Brebes, yaitu pola I dari petani – pedagang besar – pedagang pengecer –
konsumen non lokal, pola II dari petani – pedagang pengumpul – pedagang besar atau grosir
– pedagang pengecer – konsumen non lokal, dan pola III yaitu dari petani – pedagang
pengumpul – konsumen lokal. Dari ketiga pola tersebut, Rosantiningrum menyatakan bahwa
pola II merupakan pola yang paling banyak digunakan oleh pelaku tataniaga di Desa
Banjaranyar yaitu sebesar 86,87 persen.

   Sedangkan hasil penelitian Anggraini (2000) Di Desa Wanasari, Kecamatan Brebes,
mengatakan bahwa terdapat 4 pola saluran pemasaran bawang merah. Pola pola I adalah dari
petani – pedagang pengumpul desa – pedagang besar – pedagang grosir Pasar Induk –
pedagang pegecer Pasar Induk – konsumen Pasar Induk, pola II dari petani – pedagang besar
– pedagang grosir Pasar Induk – pedagang pengecer Pasar Induk – konsumen Pasar Induk.
Pola saluran III merupakan saluran terpanjang yang dilalui komoditas bawang merah di Desa
Wanasari, yaitu dari petani – pedagang pengumpul desa – pasar bawang – pedagang besar –
pedagang grosir Pasar Induk – pedagang pengecer Pasar Induk – konsumen Pasar Induk. Pola
saluran IV merupakan pola yang terjadi dalam lingkup pemasaran lokal yaitu dari petani –
pedagang pengumpul desa – pasar bawang – pedagang pengecer lokal – konsumen lokal.
Menurut Anggraini (2000), pola saluran pemasaran I dan II adalah yang paling banyak
digunakan yaitu sebesar 46,67 persen dan 33,33 persen.

   Berdasar pada hasil kedua penelitian diatas serta berdasarkan pengamatan yang dilakukan
oleh penulis sendiri di daerah kabupaten Probolinggo, secara umum pola saluran pemasaran
bawang merah dapat digambarkan sebagai berikut :

   Gambar 3. Pola Saluran Pemasaran Bawang Merah
Pola Saluran I :

                    Pedagang                     Pedagang
  Petani
                                Pedagang                        Pedagang         Konsumen
                   pengumpul    besar lokal        besar
                                                 non lokal      pengecer           akhir


Pola Saluran II :


                    Pedagang    Pedagang                         Pedagang        Konsumen
  Petani
                   pengumpul    besar lokal                      Pengecer          akhir


Pola Saluran III :


  Petani
                                Pedagang                         Pedagang        Konsumen
                                besar lokal                      pengecer          akhir
Pola Saluran IV :

                Pedagang       Pedagang                                          Konsumen
  Petani
               pengumpul       besar lokal                                        industri


   Pada pola saluran pemasaran I dan pola saluran pemasaran II menjual hasil panennya
kepada pedagang pengumpul karena beberapa alasan yaitu agar petani tidak mengalami
kesulitan dalam mencari pasar dan tidak perlu melakukan pasca panen lain seperti
pengolahan, pengangkutan dan penyimpanan. Pedagang pengumpul datang langsung ke lahan
petani untuk membeli hasil panen petani. Pedagang pengumpul akan melakukan tawar
menawar dengan petani mengenai harga bawang merah yang akan dibeli hingga mencapai
kesepakatan.

   Sedangkan pada pola saluran pemasaran III petani membawa hasil panennya ke pasar
induk daerah untuk dijual kepada langsung kepada pedagang besar lokal maupun non lokal.
Petani dengan pola saluran III ini memperoleh informasi harga langsung dari pedagang besar
lokal maupun non lokal yang ada di pasar induk. Pedagang besar (lokal maupun non lokal)
akan akan melakukan tawar menawar langsung dengan petani mengenai harga bawang merah
yang akan dibeli hingga mencapai kesepakatan.

   Pola saluran IV mempunyai kemiripan dengan pola saluran II namun berbeda pada
tingkat konsumen atau pmbelinya. Pada pola saluran IV, pedagang besar menjual bawang
merah kepada perusahaan tertentu. Umumnya, pedagang besar sudah terikat oleh
perjanjian/kontrak dengan perusahaan yang bersangkutan. Mengenai harga dan kulaitas
bawang merah –biasanya- sudah ada kesepakatam antara pihak perusahaan dengan para
pedagang besar (supplier) yang tertuang dalam surat perjanjian/kontrak. Salah satu
perusahaan yang intensif melakukan kerjasama dengan petani bawang merah adalah PT ISM.



  III. Struktur, Prilaku, dan Performa Pasar

   Struktur pasar dianalisis dengan melihat jumlah lembaga yang terlibat, jenis produk,
hambatan keluar masuk pasar, dan informasi pasar (Rosantiningrum, 2004). Struktur
merupakan karakteristik yang menggambarkan kondisi suatu pasar dalam hal jumlah penjual
dan pembeli, keadaan produk atau komoditi yang dijual dalam pasar, kemudahan dalam
keluar dan masuk pasar, serta bagaimana pelaku pasar dapat memperoleh informasi pasar
yang dibutuhkan dalam transaksi dan kegiatan pertukaran yang terjadi di dalam pasar.
   Dalam hal ini, penulis menggunakan teori dari Stephen Martin sebagi grand theory untuk
menganilsa struktur, perilaku, dan performa pasar industri bawang merah. Teori ini cukup
sederhana namun cukup representative untuk dapat menjelaskan fenoimena pasar dalam
industry holtikultura,khususnya dalam hal ini adalah bawang merah.


Gambar 4. Model Hubungan Keterkaitan antara Struktur, Perilaku, dan Performa Pasar




              Sumber : Stephen Martin (1993)

   a) Struktur Pasar

   Lembaga yang terlibat dalam saluran pemasaran bawang merah yaitu yaitu petani
(kelompok tani), pedagang pengumpul, pedagang pengirim, pedagang besar dan pedagang
pengecer. Jumlah petani sangat banyak dibandingkan dengan jumlah pedagang pengumpul
dan pedagang besar, sehingga tinkat persaingan antar petani menjadi sangat ketat dalam
mendapatkan market share. Hal yang sama juga terjadi antara pedagang pengepul yang
berhadapan dengan pedagang besar, karena pedagang pengepul jumlahnya lebih banyak
daripada pedagang besar. Antar sesame pedagang besar, baik lokal maupun non lokal, tidak
berlangsung dengan sangat ketat untuk mendapatkan market share karena jumlah mereka
relatif sedikit dibandingkan dengan palaku lain yang terlibat dalam saluran pemasaran
bawang merah. Selain itu pedagang besar juga akan berhadapan dengan pedagang pengecer
yang jumlahnya jauh lebih banyak dan tersebar diberbagai tempat, sehingga mereka
(pedagang besar) akan lebih mudah untuk mengendalikan pasar.

   Hambatan keluar masuk pasar bagi petani dan pedagang pengecer termasuk dalam
kategori rendah dilihat dari kebutuhan modal yang rendah untuk dapat masuk pasar.
Sedangkan bagi pedagang pengumpul dan pedagang besar dibutuhkan modal yang besar
untuk dapat masuk ke dalam kegiatan pemasaran bawang merah, sehingga hambatan masuk
dan keluar pasar relatif tinggi. Ditinjau dari sisi produk, mulai dari tingkat petani hingga
pedagang pengumpul, jenis produk yang dipasarkan adalah homogen. Sedangkan di tingkat
pedagang besar hingga pedagang pengecer produk yang dijual lebih beragam atau heterogen,
karena pedagang besar melakukan fungsi standarisasi dan grading pada bawang merah yang
akan dijualnya, bawang merah yang dijual dibedakan berdasarkan ukuran dan kualitasnya.

   Berdasarkan analisa diatas, dapat diesimpulkan bahwa struktur pasar yang dihadapi oleh
petani bersifat pasar persaingan sempurna, karena banyaknya jumlah petani yang terlibat
dalam kegiatan pemasaran bawang merah, dimana petani -secara individu- tidak dapat
mempengaruhi harga. Produk yang dihasilkan petani bersifat homogen yang terlihat dari
tidak adanya fungsi standarisasi dan grading yang dilakukan oleh petani. Karena banyaknya
jumlah petani yang terlibat dalam kegiatan pemasaran, maka kedudukan petani dalam sistem
pemasaran sangat lemah, petani hanya bertindak sebagai price taker.

   Struktur pasar yang dihadapi pedagang pengumpul dan pedagang besar mengarah kepada
pasar monopolistic atau perpaduan anatara pasar sempurna dengan pasar oligopoli. Dalam
tingkat saluran ini, pedagang pengumpul menjual komoditi yang hampir serupa tetapi tidak
sama. Diferensiasi produk tersebut menyebabkan penjual dapat mengendalikan harganya,
sehingga menghadapi kurva permintaan yang berlereng negatif. Akan tetapi, banyaknya
substitusi membuat kekuatan monopoli penjual terbatasi, yang mengakibatkan kurva
permintaan sangat elastis. Perilaku pasar persaingan monopolistik merupakan perpaduan
pasar persaingan sempurna dengan pasar monopoli yang memiliki tingkat. Pedagang
pengumpul –umumnya- melakukan hambatan strategis dengan cara membentuk kolusi antar
sesame pedagang pengumpul serta melakukan kerjasama non-formal (tidak tertulis) dengan
para pedagang besar. Hal ini dimaksdukan untuk meningkatkan hambatan bagi pendatang
baru yang akan masuk.

   Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang besar, baik lokal maupun non lokal, dapat
dikategorikan sebagai pasar oligopoli, dimana terdapat beberapa pedagang besar yang
menjual komoditi dengan konsentrasi tinggi dan sebagian besar pangsa pasarnya dikuasai
oleh beberapa pedagang. Perilaku masing-masing pedagang besar secara langsung akan
saling mempengaruhi. Meski masing-masing pedagang besar di pasar saling bersaing, namun
tidak harus terjadi secara terus-menerus karena di antara perusahaan dapat saling bekerja
sama. Pedagang besar memainkan hambatan struktural untuk menghalangi para pendatang
baru yang ingin masuk. Hambatan structural yang biasa dilakukan yaitu diferensiasi produk,
skala ekonomi, serta biaya modal dan modal.

   Terakhir, pada tingkat pedagang pengecer struktur pasar yang terbentuk adalah pasar
persaingan sempurna. Baik penjual maupun pembeli yang terlibat dalam kegiatan pemasaran
bawang merah di tingkat ini jumlahnya sama-sama banyak. Bawang merah yang dijual di
tingkat pedagang pengecer bersifat heterogen, karena sudah dibedakan berdasarkan ukuran
besar dan kecilnya. Hambatan keluar dan masuk pasar pada pasar yang dihadapi pedagang
pengecer relatif mudah, karena tidak adanya hambatan bagi pedagang pengecer lain untuk
memasuki pasar.

   b) Perilaku Pasar

   Selain struktur pasar, hal lain yang penting untuk di analisa adalah perilaku pasar.
Analisis perilaku pasar dapat diamati dengan melihat sistem penentuan harga bawang merah
serta kerjasama diantara berbagai lembaga pemasaran yang terlibat. Pada umumnya, sistem
penentuan harga yang terjadi baik di tingkat petani hingga pedagang pengecer adalah sistem
tawar menawar antar lembaga pemasaran tersebut, namun sebenarnya harga terbentuk dari
hasil penyesuaian terhadap harga yang berlaku di tingkat pedagang pengecer. Harga yang
berlaku di tingkat pedagang pengecer adalah harga yang berlaku umum di pasar, dimana
tingkat persaingan pasar sangat tinggi dan harga sangat bergantung pada volume bawang
merah yang ada di pasar dan jumlah pembelian konsumen pada saat itu.

   Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap lembaga pemasaran menghadapi harga yang telah
ditetapkan oleh lembaga pemasaran lain yang berada di atasnya, sehingga petani maupun
lembaga pemasaran lainnya hanya bertindak sebagai penerima harga (price taker). Dalam hal
ini, yang paling dirugikan adalah petani produsen. Petani bawang merah belum terkoordinasi
dengan baik seperti halnya petani tebu. Belum ada asosiasi petani bawang merah, kalaupun
ada kelompok tani, sebenarnya, kelompok tani yang dimaksud merupakan bentukan
pemerintah yang diproyeksikan untuk petani padi, hanya saja -terkadang- ada anggota mereka
yang juga menjadi petani bawang merah. Hal ini menyebabkan petani bwang merah tidak
mempunyai daya/posisi tawar saat menghadapi pasar (pedagang pengumpul atau pedagangn
besar).

   Sistem pembayaran bawang merah dari pedagang pengumpul ke petani yaitu dengan
sistem pembayaran sebagian terlebih dahulu. Pedagang pengumpul biasanya membayar
sebagian dari hasil tebasan yang diperkirakannya pada saat memperkirakan jumlah bawang
merah yang akan dipanen di lahan petani, dan membayar sebagian sisanya setelah selesai
melakukan panen dan mengangkut bawang merah ke pedagang besar atau langsung ke pasar
induk. Sistem pembayaran yang berlaku dari pedagang besar ke pedagang pengumpul adalah
sistem pembayaran yang disepakati oleh kedua pihak, yaitu dibayar dengan sistem sebagian
pada saat bawang merah akan dikirim oleh pedagang pengirim dan sebagian pada saat
bawang merah telah tiba di daerah tujuan pengiriman. Hal yang sama juga berlaku antara
pedagang besar lokal dengan pedagang besar non lokal.

   Sedangkan antara pedagang pengecer ke pedagang besar, pembelian dilakukan secara
tunai karena jumlah pembeliannya yang relatif kecil. Namun demikian, ada perbedaan prilaku
pada pedagang besar yang menjalin kontrak dengan perusahaan tertentu, misalkan PT ISM.
Mekanisme kerjasama PT ISM dengan supplier (pedagang besar) dilakukan dengan
menggunakan sistem kontrak harga yang diperbarui selama satu bulan sekali. Pembayaran
dilakukan oleh PT ISM setelah selama 21 hari bawang merah diterima pihak PT ISM
(Bambang Sayaka dan Yana Supriyatna, 2009).

   c) Performa Pasar

   Struktur dan perilaku pasar berhubungan dengan bagaimana industri dijalankan,
sedangkan performa pasar berhubungan dengan seberapa baik industri tersebut berjalan.
Performa pasar dapt diukur dari biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran. Biaya
pemasaran merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran yang
terlibat dalam kegiatan penyaluran bawang merah dari petani hingga ke konsumen akhir yang
dinyatakan dalam satuan rupiah per kilogram. Sedangkan keuntungan pemasaran merupakan
selisih antara margin pemasaran dengan biaya yang dikeluarkan selama kegiatan pemasaran.

   Hasil penelitian Anita Dwi S.W. (2011), di Kabupaten Brebes, menunjukkan bahwa biaya
pemasaran terbesar hingga terkecil pada pola saluran pemasaran ditanggung oleh pedagang
besar local, pedagang pengumpul, pedagang pengecar, dan petani. Untuk keuntungan
pemasaran, pada pola saluran pemasaran I, III dan IV, rasio keuntungan pemasaran terbesar
ada pada pihak pedagang pengumpul, yaitu sebesar 9,09. Sedangkan pada pola saluran
pemasaran III, rasio keuntungan terbesar ada pada pihak pedagang besar, yaitu sebesar 9,50.
Berdasarkan nilai rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran tersebut dapat dikatakan bahwa
pola saluran pemasaran bawang merah tersebut tidak memberikan keuntungan yang merata
pada setiap lembaga pemasaran yang terlibat. Dan dalam hal ini, petani produsen menjadi
pihak mendapatkan rasio keuntungan paling kecil pada setiap pola pemasaran yang ada.

   Anita Dwi S.W. (2011) juga menyajikan data perbandingan harga yang diterima petani
dengan harga yang diterima oleh konsumen akhir. Farmer’s share yang diterima petani pada
saluran pemasaran bawang merah dapat dilihat pada Tabel 13.

   Tabel 4. Farmer’s Share pada Saluran Pemasaran Bawang Merah di Kabupaten Brebes




   Farmer’s share yang diterima petani pada pola saluran pemasaran I yaitu sebesar 56,00
persen. Farmer’s share sebesar 56,00 persen berarti bahwa bagian yang diterima oleh petani
sebesar 56,00 persen dari harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir. Pola saluran
pemasaran ini memiliki farmer’s share terkecil diantara pola saluran pemasaran lainnya
karena pola saluran pemasaran ini merupakan pola saluran pemasaran terpanjang jika dilihat
dari jumlah lembaga pemasaran yang terlibat dan daerah tujuan pemasaran. Pada pola saluran
pemasaran ini, petani hanya melakukan sedikit fungsi pemasaran. Fungsi pemasaran pada
pola saluran pemasaran ini sebagian besar dilakukan oleh pedagang perantara yang terlibat.
Pada pola saluran pemasaran II farmer’s share yang diterima petani sebesar 65,33 persen,
sedangkan pada pola saluran pemasaran III sebesar 82,40 persen dan pada pola saluran
pemasaran IV sebesar 86,80 persen dari harga jual pedagang pengecer. Pola saluran
pemasaran IV merupakan pola saluran pemasaran dengan farmer’s share tertinggi
dibandingkan dengan pola saluran pemasaran lainnya. Hal ini disebabkan karena pola saluran
pemasaran IV merupakan pola dengan saluran pemasaran terpendek jika dilihat dari jumlah
lembaga pemasaran yang terlibat dan pasar tujuan. Dari farmer’s share tersebut, terlihat
bahwa pola saluran pemasaran IV merupakan saluran pemasaran yang paling menguntungkan
bagi petani karena memiliki nilai farmer’s share terbesar.



  IV. Perdagangan Internasional (Ekspor-Impor) Bawang Merah

   Sejak Tahun 2003 Indonesia telah menjadi net importer bawang merah, karena volume
ekspor secara konsisten selalu lebih rendah dibandingkan volume impornya. Tujuan ekspor
bawang merah dalam bentuk konsumsi segar sebagian besar adalah ke Thailan, Malaysia,
Singapura dan Taiwan. Impor bawang merah Indonesia terutama berasal dari Thailand,
Vietnam, Malaysia, Filipina, dan china. Ekspor-impor sejak 1983 hingga 2010 menunjukkan
selama periode tersebut Indonesia selalu melakukan impor bawang merah dengan jumlah
yang jauh lebih besar dibandingkan dengan bawang merah ekspor. Hal ini memberikan
indikasi bahwa bawang impor masuk sebagai respon dari berkurangnya pasokan domestik.

   Tabel 5. Volume Ekspor Impor Bawang Merah Tahun 2006-2011
                  Ekspor         Nilai        Impor            Nilai
     Tahun
                   (ton)        (US$)          (ton)          (US$)
      2006        2.969.134      823.619    24.244.765       14.556.230
      2007          314.916       91.994    28.240.334       16.824.780
      2008            2.495       11.478    42.787.259       23.387.928
      2009           85.025       68.915    33.861.715       12.826.154
      2010           31.201       39.899    52.699.078       22.919.472
      2011           21.263       30.482    53.046.297       23.083.169
      Total   3,424,034.00     1,066,387 234,879,448 113,597,733
   Sumber: BPS (2011), Data statistika ekspor impor

   Fakta di atas mengungkapkan bahwa secara agregat bawang merah nasional semakin
kalah bersaing dengan negara lain sehingga kebutuhan bawang merah dalam negeri semakin
banyak dipenuhi melalui impor. Fenomena ini dapat pula disimak dari laju pertumbuhan
kuantitas ekspor bawang merah yang terus mengalami perlambatan. Sebaliknya, laju
pertumbuhan kuantitas impor cenderung naik. Ekspor Indonesia dalam bentuk bawang
segar/beku, bawang goreng, vinegar dan acetic acid. Impor bawang merah disamping dalam
bentuk bawang segar/beku, lebih dominan dalam bentuk bibit. Dari segi volume, jumlah
impor 10 kali lebih tinggi sedangkan nilai devisa 100 kali lebih tinggi dibandingkan ekspor.

   Tujuan impor bawang merah adalah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga
jumlah impor tidak akan berkurang secara nyata meskipun harga impornya naik. Bawang
merah yang diimpor selalu dalam bentuk konsumsi segar, namun faktanya bawang merah
tersebut tak hanya digunakan untuk konsumsi namun juga dijadikan sebagi bibit. Observasi
lapang mengindikasikan bahwa 40% dari volume impor bawang merah dijual kembali
sebagai benih/bibit, (sumber : www.litbang.deptan.id).

   Ditinjau dari sisi harga, harga bawang merah lokal Indonesia masih di bawah harga dunia,
namun demikian hingga saat ini membanjirnya bawang impor ke daerah sentra produksi
bawang merah membuat petani bawang merah semakin cemas terhadap produksi bawang
merah lokal. Murahnya harga bawang impor akan menjadikan perbandingan pembelian bagi
konsumen. Berdasarkan laporan dan analisis hasil liaison ad hoc komoditas bawang merah
Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Harga bawang impor selama tahun 2009-2010 cenderung
stabil namun lebih rendah dibanding harga di tingkat petani. Sementara harga bawang di
tingkat konsumen, cenderung mengikuti perkembangan harga di tingkat petani.

   Gambar 5. Perbandingan Harga Bawang Merah ditingkat konsumen, Petani, dan Impor
Peride tahun 2009-2010.
   Sumber : Liaison Dispertan Brebes, Survei Pemantauan Harga, DW DSM (diolah)


   Hasil penelitaian Ening Ariningsih dan Mari Komariah Tentamia (2004) menunjukkan
bahwa peubah volume impor mempunyai tanda negatif dan pengaruhnya nyata pada taraf
1,92 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat produksi dalam negeri rendah untuk
memenuhi kebutuhan konsumsi domestik, maka volume impor akan tinggi dan pada saat
yang sama sebaliknya volume ekspor akan rendah. Pada saat produksi dalam negeri tinggi
maka volume ekspor akan tinggi, sedangkan volume impor rendah.

   Dalam jangka pendek respon harga bawang merah Indonesia terhadap perubahan harga
impor inelastis dengan nilai elastisitas -0,223, tetapi dalam jangka panjang harga bawang
merah Indonesia responsif terhadap perubahan harga impor dalam nilai rupiah dengan nilai
elastisitas -2,479. Hal ini merupakan gambaran bahwa dalam jangka pendek harga bawang
domestik tidak terlalu dipengaruhi harga impor, namun dalam jangka panjang peningkatan
harga impor perlu dipertimbangkan karena sangat berpengaruh terhadap tingkat harga
domestik.

   Untuk melindungi petani bawang merah dalam negri dari ancaman –harga- impor bawang
merah, pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa Keputusan Menteri Keuangan
No.96/KMK.01/2003 tentang penetapan sistem klasifikasi barang dan besarnya Tarif Bea
Masuk atas barang impor. Tarif yang berlaku bagi impor hortikultura dewasa ini hanya 5%.
Hal ini sudah dianggap tidak relevan lagi dengan kondisi pasar kita maupun dibandingkan
dengan tarif yang diberlakukan negara lainnya. Direktorat Jenderal Bina Produksi
Hortikultura mengusulkan kenaikan tarif impor untuk bawang merah menjadi 50%, tingkat
tarif pada maximum boundary rate.

   Kemudia, pada tahun 2008 pemerintah menetapkan kebijakan lagi berupa Peraturan
Menteri Pertanian (Permentan) No.18 Tahun 2008 yang mengatur tata niaga bawang merah.
Dengan adanya Permentan ini, dilakukan pembedaan kondisi produk bawang impor. Khusus
untuk impor bawang konsumsi, produk harus dipotong bagian atasnya untuk menghilangkan
daun, sehingga tidak dapat dialihkan perannya sebagai bawang bibit. Ketentuan ini dipandang
sangat menguntungkan petani, karena jika sebelumnya importir/spekulan berani mengimpor
bawang merah konsumsi dalam jumlah banyak karena sisa yang tak terjual dapat dijadikan
bibit, maka dengan dipotong bagian atasnya bawang merah impor konsumsi hanya bisa untuk
konsumsi. Dengan begitu maka para importer/spekulan –diharapkan- menjadi tidak berani
mengimpor bawang dalam jumlah banyak tanpa perhitungan yang matang karena
karakteristik produk yang cepat busuk. Namun fakta dilapangan menunjukkan bahwa
kebijakan tersebut belum diterapkan secara optimal.



  V. Pemberdayaan Petani Bawang Merah Melalui Kebijakan Harga



C. KESIMPULAN

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:390
posted:10/11/2012
language:Indonesian
pages:19