Lone Dormitory by gegeragung

VIEWS: 29 PAGES: 9

kumpulan cerita pendek dan Puisi

More Info
									Lone Dormitory (extra)
Aku memandangi serangga yang terbang menyusuri bunga-bunga, pepohonan rindang nampak
basah oleh hujan tadi malam. Udara pagi terasa sangat menyejukkan, ditambah dengan
pemandangan danau yang terhampar sejauh mata memandang.

“Dham, gimana? Masih suka ada yang mengganggu gak?”

Hosea menepuk bahuku, Wildan nampak berjalan disampingnya. Kami berdua berjalan mendaki
tangga utama, agar tiba di gedung sekolah di penghujung bukit.

“Nggak, nggak ada apapun.” jawabku pelan, aku tak ingin menceritakan kejadian semalam.
Terlalu menakutkan untuk diingat kembali.

“Aku ada kenalan yang bisa melihat hal begituan, mau aku ajak dia meriksa kamarmu?” ucap
Hosea.

“Boleh saja.” jawabku singkat.

Aku tiba di kelas, lalu dikenalkan dengan murid perempuan bernama Amelia. Dia dikabarkan
bisa melihat makhluk-makhluk astral. Wajahnya begitu datar, atau lebih tepat disebut wajah
malas. Alih-alih menatapku ketika berkenalan, dia malah terus menatap sesuatu di belakangku,
walau aku tahu tak ada apapun di sana.

Sepulang sekolah, Amel setuju untuk datang ke tempatku. Langkahnya terhenti di pintu masuk,
beberapa kali ia memegangi bulu kuduk yang sontak berdiri. Matanya menerawang kanan kiri,
menoleh atas bawah, lalu memeriksa pintu masuk toilet.

“Di sini ramai sekali ya..”

“Apanya?”

Jari Amel terangkat, mengacung tepat ke wajahku. “Kau.. sepertinya jadi magnet bagi para MG.”

“MG?” baru kali ini aku mendengar istilah itu.

“Ma, Machine Gun?” sambung Wildan.

“Bukan..” jawab Amel sambil menampar pemuda itu menggunakan gulungan majalah. “MG itu
singkatan dari Makhluk Gaib— Kerenan dikit lah, masa disebut hantu. Lagipula mereka itu
bukan arwah gentayangan, tapi hanya golongan Jin yang berusaha menyerupai seseorang.”

“Tapi dia bilang padaku kalau dia korban pemerkosaan dan pembunuhan.” aku menyanggah
ucapan Amel.
“Mungkin dia dari golongan Khodam.” jawab amel cepat.

“Khodam?”

“Jin pendamping.. Tiap manusia memiliki jin pendamping, dalam kasus tertentu jin itu tetap
berada di tempat orang meninggal, lalu mewujudkan diri menyerupai orang itu sendiri.”

“Oh..”

“Dia cantik ya..” lanjut Amel berkomentar. Matanya tertuju pada sudut kasur tempat tidurku.

“Hah?”

“Dia sering berdiam disampingmu ketika kamu tidur, juga mengikutimu kemanapun kau pergi.”

“What the..” aku speechless, tak mampu berkomentar apapun. Jadi selama ini aku telah diikuti
oleh makhluk halus?

“Tak hanya dia, beberapa makhluk lain juga entah kenapa selalu berada dekat denganmu.
Makanya kamarmu ini penuh sama makhluk-makhluk yang gak jelas wujudnya.”

“Ja, jadi?? Di tempat ini benar ada banyak hantunya?” Wildan sontak berdiri, hendak keluar
karena merinding.

Amel mengganguk pelan, dia menunjuk ke lemari. “Di sana ada Pochi, alias Pocong— hantu
berwujud pepesan manusia.”

“Gyaaaaa..!!!” Hosea sontak melarikan diri, meninggalkan Wildan yang terantuk kursi lalu jatuh
tersungkur.

Telunjuk Amel kemudian mengarah pada pintu toilet, “Di sana ada genderowo, di depan jendela
ada Miss Idol Merah, alias kuntilanak berbaju merah. Lalu di sebelah sini..”

“Cukup, cukup, cukup.” aku segera menghentikan kicauan Amel. Tak perlu kutahu makhluk-
makhluk penghuni kamar ini. Mungkin benar apa kata orang, manusia itu lebih bahagia jika
mereka tidak tahu.

Amel mendengus pelan, lalu berkata dengan nada jengkel, “Kau tak usah takut, mereka tak
berniat mengganggu. Entah katanya ada sesuatu dalam dirimu yang membuat mereka nyaman.”

“Jangan mengada-ada ah..” aku berusaha menyanggah.

“Terserah, mau percaya atau tidak.” Amel berlalu dari hadapanku, sambil membantu Wildan
berdiri dari tempatnya tersungkur.
Sendirian di dalam kamar, bulu kudukku sontak kembali berdiri. Apa benar kamar ini berisi para
makhluk astral? Tapi sepertinya nampak kosong di mataku. Tak ada apapun di sini. Mungkin
Amel hanya iseng mengerjaiku.

Bruk!

Botol air mineral di meja belajar mendadak jatuh tanpa sebab. Padahal tak ada hembusan angin
atau goncangan apapun.

“Jangan ganggu aku lah, kalau mau tetap di sini jangan ganggu, atau aku panggil orang pintar.”
ucapku mengancam.

Tak ada jawaban, semoga saja mereka bisa mengerti.



…..



Delapan bulan berlalu, aku kini duduk di semester dua. Banyak hal yang terjadi. Dimulai dari
kepindahan Luna ke sekolah SMA 1 Jatiluhur, hingga Kemunculan beberapa murid baru yang
digosipkan memiliki kekuatan super seperti Fia—kepala sekolah yang berstatus masih menjadi
murid di sini.

Aneh bukan? Tapi, aku tak peduli soal itu. Toh dunia sudah aneh tanpa kehadiran mereka.
Perang sedang berkecamuk di luar sana, belum lagi banyaknya ramalan akan serangan alien di
tanggal 21 Desember 2012—tepatnya besok, karena sekarang tanggal 20.

Minggu ini sedang diadakan School’s Festival. Aku mencari angin segar sehabis berpesta
bersama teman-teman klub Karate. Kakiku melangkah berjalan menikmati semilir angin di
taman dekat danau. Bulan purnama menyinari pepohonan, cahayanya memantul di atas air.

Di penghujung taman, nampak dua orang berdiri menghadap danau, mengobrol sambil
menikmati pemandangan kampung air. Aku hendak berjalan mendekat, namun seseorang
menarik tanganku memasuki rimbunnya pepohonan.

“Sssshhh..”

Dia menyuruhku untuk diam, seolah tak ingin percakapan dua orang dikejauhan terganggu.

“Orchid?”

Aku kenal dengan orang ini, gadis nyentrik yang selalu berpakaian serba hitam. Selalu tertawa
dan bersikap super kekanakan.
Tapi kali ini Orchid terlihat lain. Wajahnya nampak serius, memandangi dua orang di kejauhan.

“Tolong jangan ganggu Leon dan Fia ya..”

Oh, jadi dua orang itu Leon dan Fia. Mereka memang digosipkan sedang berpacaran, tapi baru
kali ini aku melihat keduanya berduaan seperti ini. Aku ingin bertanya kenapa, tapi lidahku
menjadi kelu ketika melihat sosok pepesan manusia menampakan diri di belakang Orchid. Dia
bergelantungan dengan santai di salah satu ranting pohon.

“Oh dia, namanya Gigo, teman aku dari gunung parang.” ucap Orchid sambil tertawa kecil.

“Te.. teman????”

“Lho kok kamu takut? Yang di belakang kamu itu juga teman kamu kan?” Orchid menunjuk ke
belakang tubuhku.

Aku sontak berbalik, namun tak ada siapapun di sana.

“Siapa??”

Orchid keheranan, “Hah? Kamu gak bisa melihat dia?”

Aku menggangguk pelan, bulu kuduk ini sontak berdiri.

“Dia ingin menyampaikan sesuatu.” gumam orchid pelan, lengannya bergerak memegangi
kening kepalaku, mengusap ubun-ubun lalu menariknya dengan keras. Seisi tubuh mendadak
tersentak hebat, pandangan terasa kabur beberapa saat. Lalu dua mata ini mulai menangkap apa
yang orang normal tak bisa lihat.

Aku menoleh ke belakang, menatap sosok perempuan berbaju putih lusuh yang melayang tak
jauh dariku. Kedua kaki bergerak mundur beberapa langkah, lalu sontak berlari menuju asrama.

“Berhenti mengikutiku!” ucapku setengah berteriak.

Sepanjang jalan, aku melihat berbagai macam hal aneh. Seperti monster berwujud lele dengan
badan manusia, manusia tanpa kepala, laba-laba dengan kaki dari tangan manusia, dan berbagai
macam hal aneh lainnya. Sosok kuntilanak yang selalu mengikutiku bahkan masih terbang
beberapa meter di belakang.

Orchid sepertinya telah membukakan mata batinku.

Aku membuka pintu kamar, tersentak kaget melihat para penghuni di dalamnya. Benar kata
Amel, di sana ada genderowo, pocong dan kuntilanak dengan baju berwarna merah.
Tubuhku sontak berbalik, berusaha mencari tempat aman yang tak ada makhluk halusnya. Aku
tiba di hanggar sekolah, di sana ada helikopter dan sebuah pesawat aneh berbentuk kubus dengan
dua roket pendorong di bagian belakang. Apa itu pesawat luar angkasa?

Sekolah macam apa ini? Mereka bahkan memiliki pesawat terbang.

Beberapa sedang tidur di luar, satu di antaranya masih mengenakan seragam sekolah. Memiliki
wajah seperti anak perempuan, berambut jabrik seperti bulu ayam, dan kulit berwarna putih
pucat. Aku kenal dengan dia, namanya Yuki, ketua Osis di sekolah ini.

“Ada perlu apa?” dia terbangun dari tidurnya, seolah menyadari keberadaanku.

“Maaf, boleh aku tidur di sini? Aku dikejar oleh.. eeeuh..” perkataanku terhenti, aku tak bisa
menceritakan bahwa aku dikejar oleh Kuntilanak.

Yuki terdiam beberapa saat, seolah sedang memikirkan sesuatu. “Kemarilah, kau aman di sini.
Makhluk itu tak akan mengikutimu hingga ke tempat ini.”

Eh? Yuki seolah mengetahui apa yang terjadi.

Aku berjalan mendekat, sesekali menoleh ke belakang. Sosok kuntilanak tadi terhenti beberapa
meter di luar hanggar, dia tak bisa masuk ke tempat ini. Yuki sepertinya memiliki kekuatan
supranatural.

Setidaknya, aku aman hingga keesokan hari. Pria itu begitu baik, hingga menawariku sleeping
bag secara cuma-cuma.

….

Tanah bergetar pelan, sontak membangunkanku dari tidur nyenyak. Alarm di handphone
berbunyi keras, di sana reminder bertuliskan “New World Order”.

Ah ya, aku mengikuti beberapa teori konspirasi, tentang tatanan dunia baru yang akan dimulai di
tanggal 21 Desember. Atau tepatnya hari ini, kira-kira apa yang akan terjadi?

Jam menunjukan pukul 11 siang, aku bangun kesiangan karena tidur di dini hari. Kakiku
melangkah keluar dari hanggar, menatap sesuatu di kejauhan. Dua mata ini terbelalak seolah tak
percaya.

Air danau nampak menggembung, lalu meledak memuntahkan jutaan ton air ke udara,
menciptakan hujan lokal hanya dari semburan air.

Di dalamnya, muncul pesawat raksasa berwarna hitam. Mendengung seperti suara jet lepas
landas, lalu melesat cepat dalam sekejap mata.
Apa-apaan itu barusan? Mendadak aku mendapatkan firasat buruk. Aku merogoh handphone,
berusaha menghubungi orang tua yang tinggal di Jakarta.

Namun nomor mereka tidak aktif. Kakiku melangkah kembali ke dalam hanggar, menyalakan tv
kecil yang terletak tak jauh dari pesawat bertuliskan Excaliber. Semua ini terasa seperti insting,
entah kenapa, aku merasa sesuatu tengah terjadi di kota tempat keluargaku berada.

Tulisan breaking news terpampang di layar utama, menyiarkan tentang kota Jakarta yang
digempur habis-habisan oleh pihak sekutu. Lalu pertempuran Fia melawan penyihir dari pihak
sekutu.

Apa-apaan ini? Perang dunia tiga kah? Bagaimana dengan keluargaku di Jakarta sana? Lututku
mendadak terasa lemas memikirkan mereka.

Di belakang tv yang kutonton, sosok perempuan berbaju putih menampakan diri memandangiku.
Yuki telah pergi dari tempat ini, itu sebabnya dia bisa masuk mendekatiku. Aku tak ingin
berurusan dengan dia, aku sontak berlari menuju asrama. Aku harus berangkat menuju Jakarta,
untuk memastikan ayah dan ibuku di sana.

Perempuan tadi kembali menampakan diri di bawah pohon, namun aku menghiraukannya. Dia
juga muncul di tikungan tangga utama, lagi-lagi aku bersikap acuh padanya.

Para murid di sekelilingku mengerumuni televisi di ruang Lobi, telingaku menangkap jalannya
pertempuran. Tentang serangan Ion Burst yang menyapu rata seisi Jakarta.

Langkahku sontak terhenti, menatap cahaya terang di tv. Wajahku menoleh ke luar bangunan,
tepatnya ke arah barat daya, di sana ada pancangan sinar dari arah langit, dengan gumpalan
cahaya terang memenuhi seisi daratan.

Tidak—

Ayah, Ibu mereka ada di sana, di tengah ledakan itu.

Tanah bergoncang tak lama kemudian, beberapa perabotan nampak berjatuhan. Serpihan beton
jatuh dari langit-langit, gedung ini bisa roboh setiap saat.

Pikiranku kosong, mataku menatap sosok perempuan dengan baju putih lusuh yang berteriak
beberapa meter dariku. Dia menampakan diri tepat dihadapanku, berusaha memperingatkan
sesuatu, namun suaranya tak terdengar sama sekali. Pikiranku terlalu hampa memikirkan
keluarga di Jakarta sana, hingga tak menyadari sebuah jam antik berukuran besar tumbang
menimpaku dari belakang.



….
Tubuhku terasa sakit, aku kembali sadarkan diri setelah pingsan beberapa jam lamanya. Langit
sudah menjadi malam, suasana begitu gelap, hanya cahaya lampu rusak yang menjadi sumber
penerangan. Tak ada seorangpun di asrama ini. Mereka sepertinya mengungsi ke tempat yang
lebih aman.

Sesosok gadis berusaha menarikku dari balik runtuhan jam. Berbeda dengan penampakan di
waktu siang. Kali ini dia nampak solid, memegangi tanganku sambil berusaha membuang kayu
yang menimpa punggungku.

“Kau.. yang waktu itu?” wajahnya sama dengan hantu yang mengaku diperkosa dan dibunuh.

“Maaf, aku sudah berusaha memperingatkan agar kau tidak ke sini. Tapi sepertinya kau tidak
mendengar suaraku.”

Dia cantik sekali, jauh lebih cantik dari pada yang pernah kulihat selama ini. Mengenakan
pakaian ala bangsawan berwarna putih, dengan renda kecil di bagian tangan dan dada. Mulutku
meracau pelan mengomentari keberadaannya, “Untuk ukuran hantu, kau nampak sangat nyata
dan solid..”

Gadis itu menghentikan gerakannya, “Entahlah, tubuhku tiba-tiba berada dalam satu dimensi
dengan alam para manusia. Itu sebabnya aku bisa memegangmu saat ini. Padahal sebelumnya
aku harus mengerahkan banyak energi hanya untuk menampakan diri.”

“Thanks..” aku berdiri lalu berjabat tangan dengannya.

“Kau harus segera pergi dari sini.” ucap gadis itu.

“Aku tahu..”

Gadis itu tersenyum, “Adham.. maaf sudah mengganggumu selama ini.”

Aku membalasnya dengan anggukan pelan, “Boleh tahu siapa namamu?”

“Dinar..”

“Dinar ya.. Seperti nama mata uang di Arab sana.”

“Ya, namaku memang berasal dari nama mata uang.”

Aku melangkah menaiki tangga, menuju lantai dua tempat kamarku berada. Di sana ada
Genderuwo dan kuntilanak lainnya, gendurowo itu nampak seperti Big Foot, sementara
kuntilanak berbaju merah kini terlihat sebagai perempuan anggun mengenakan gaun berwarna
merah. Tidak seperti sebelumnya, mereka tak lagi terlihat seperti bayangan tembus pandang
seperti hologram. Tubuh mereka kini benar-benar solid layaknya tubuh makhluk hidup normal.
Para penghuni alam gaib sepertinya termaterialisasi ke alam manusia khusus di hari ini. Ini kah
agenda New World Order yang dimaksud? Jauh lebih hebat dari pada yang pernah kubayangkan.

Mereka harus pergi menuju portal Alam Gaib, tak bisa lagi tinggal di sini. Letaknya berada di
kaki Gunung Parang. Aku memberitahu mereka tentang kapal boat di pinggir danau, yang bisa
mengantar menuju seberang sana.

Aku membereskan barang-barangku, lalu beranjak keluar. Di lorong asrama, aku berpapasan
dengan makhluk gaib lainnya yang termaterialisasi. Wujudnya aneh sekali, tubuhnya bulat bebal
seperti katak, namun memiliki kepala dengan moncong dan gigi tajam layaknya kadal. Dia
memiliki dua pasang lengan, beberapa sulur aneh muncul dari belakang tubuhnya.

“Halo, apa kau mau bergabung bersama mereka mencari portal?” ucapku ramah.

“Adham, hati-hati. Dia tidak bersahabat.” Dinar berusaha mencegahku.

Sosok gendurowo di belakangku berucap dengan suara parau. “Golongan Ifrit?”

“Bukan, dia dari golongan Riper.”

“Maksudmu Reaper?” aku pernah mendengar soal makhluk dari planet Nibiru bernama Reaper.
Ternyata alien yang disebut itu makhluk gaib juga.

“Adham lari!” Dinar memperingatkan sambil mendorong tubuhku dengan keras. Menghindar
dari hempasan Reaper yang melecutkan sulurnya, hingga mengenai tubuh sang Gendurowo.
Pergumulan dua makhluk itu pun dimulai, mereka berguling-guling, saling menghajar bersimbah
darah.

Aku dan Dinar melarikan diri dengan memutar, melewati tangga lain menuju lantai satu.

Sepanjang jalan aku mendapati bangkai manusia yang tergeletak dengan kondisi tubuh
mengenaskan. Usus mereka terburai, berceceran di lantai. Ada yang kepalanya terbelah,
potongan tangan dan kaki tergantung di samping vending machine, tak terkecuali aliran darah
yang menggenangi lantai. Reaper tadi sepertinya sudah membantai mereka.

Aku berusaha menghiraukan segala kekacauan itu, berlari keluar untuk menyelamatkan diri.

Langit sudah berubah warna kebiruan, matahari nampak terbit dari balik perbukitan. Aku
menatap ke arah danau, mendapati tiga buah benda raksasa melayang dengan bentuk yang sangat
aneh. Tak perlu kujelaskan seperti apa kapal alien itu, karena aku harus segera bergegas menuju
belakang asrama. Untuk berlari menyelamatkan diri, menerobos hutan menjauhi kerumunan
orang-orang.

Dinar berkata bahwa ini pilihan yang tepat, aku tak bisa bergabung dengan sisa murid yang lain,
dan menjadi korban dari serangan makhluk-makhluk itu. Kami berdua mendaki bukit, menubruk
semak belukar berisi daun berduri. Lengan ini berdarah, tergores mengeluarkan cairan kental
merah, rasa sakit yang muncul sama sekali tak kupedulikan.

Beberapa jam berlalu, aku beristirahat di puncak salah satu bukit. Letak kami cukup jauh dari St.
Novice Remarks. Kuharap makhluk itu tak akan menyusuri hingga ke sini. Ledakan demi
ledakan terdengar menggema di sana, pertempuran hebat tengah terjadi antara militer melawan
bangsa penyerang. Aku tak bisa membantu, hanya berharap bisa selamat hingga agenda New
World Order ini berakhir. Mereka berencana untuk memusnahkan 97% populasi manusia, itu
berarti aku harus bertahan hidup untuk menjadi bagian dari 3% yang tersisa.

Pancangan cahaya nampak menghujam dari arah langit, membentuk tiang penyangga langit dan
bumi. Senjata pemusnah massal akan di lancarkan terhadap St. Novice Remarks, teknologi yang
sama yang digunakan untuk menghapus kota Jakarta dari peta Indonesia.

“Apa itu?” Dinar nampak ketakutan, wajahnya semakin pucat.

Gawat, aku harus berlari menjauh. Jangkauan senjata ini mungkin setara dengan nuklir.

 Sinarnya memedar dari balik pepohonan, semakin lama semakin terang. Suasana sunyi selama
beberapa detik, untuk kemudian dilanjutkan dengan hempasan hebat dan suara memekakkan
telinga.

Tubuhku terpental hebat, berusaha menggapai tubuh Dinar. Pepohonan beterbangan, tercabut
lengkap hingga ke akar. Aku berguling-guling di tanah, berusaha melindungi Dinar, hingga
sebuah pohon menghantam tubuh kami, dan membuat segalanya menjadi gelap gulita.

								
To top