Docstoc

Aku Ingin Bertemu

Document Sample
Aku Ingin Bertemu Powered By Docstoc
					Aku Ingin Bertemu

Junie.. Nama yang diambil dari nama bulan ke enam dalam kalender Masehi, yang menjadi nama
gadis 15 tahun yang saat ini berdiri di hadapanku. Matanya bulat, menandakan sifatnya yang
ceria dan menyenangkan, memiliki rambut hitam mengkilat yang diikat rapi sepanjang pinggang.
Dia selalu mengajakku bermain ke luar mansion St. Novice, terletak di pinggir danau Jatiluhur
yang membentang luas.

St. Novice sendiri adalah kompleks bangunan megah, tiap penjuru lahan dikelilingi oleh pagar
raksasa. Tempat itu adalah rumah tinggal bagi aku dan sekeluarga, juga menjadi penjara yang
memisahkanku dari dunia luar, aku tidak boleh melewati pembatas dengan alasan keamanan.

Di luar mansion, terdapat pasar kecil berisi rakyat jelata, aku selau mengamati aktifitas mereka
dari menara paling tinggi di sudut barat daya.

Junie adalah anak dari seorang pedagang kaki lima yang menempati tempat itu. Entah apa yang
membuat orang pribumi itu menamai anak mereka dengan nama asing. Mungkin mereka
menyukai nama kebarat-baratan karena terdengar keren.

Gadis itu menemukan kerusakan di tembok mansion yang tak diketahui para penjaga. Kami
bertemu ketika dia kebingungan, tersesat di dalam kompleks bangunan. Sejak saat itu, dia selalu
mengajakku keluar dari mansion untuk bermain di pinggir danau.

Di belakang St. Novice terdapat hutan dan perbukitan, para penjaga yang aktif hanya bersiaga di
pintu depan. Jadi aku tak takut ketahuan karena aku selalu bermain di hutan belakang.

“Hey March, main apa kita hari ini?”

Junie berucap memanggil namaku, memutar-mutar ranting di tangan sambil mengukir nama
kami berdua di atas tanah.

Oh ya, namaku March, nama yang diambil dari bulan ketiga di kalender Masehi. Lalu gadis itu
bernama Junie, kami berdua lahir di tahun yang sama. Benar-benar suatu kebetulan yang aneh.

“Main apa? Terserah kamu..” jawabku singkat, mataku menatap danau berwarna biru. Kami
kembali ke pinggiran danau, di tempat yang jauh dari St. Novice.

“Gimana kalo petak umpet?”

Gadis itu berdiri dihadapanku, menghalangiku yang sedang menikmati panorama. Tersenyum
lebar sambil menggenggam ranting di belakang tubuh, seolah meminta jawaban. Pakaiannya
lusuh, lengkap dengan tanah yang menempel di sana sini.
“Petak umpet..? Bolehlah…” jawabku singkat.

Kami melakukan suit dengan aku sebagai pemenangnya. Junie berjaga sementara aku mencari
tempat persembunyian.

“8.. 9… 10..!”

Junie selesai menghitung dan mulai mencari keberadaanku. Aku berlari ke samping tembok
mansion dan bersembunyi di samping retakan tembok tempat kami biasa menyelinap.

“Dia tidak akan bisa menemukan aku disini.” ucapku tertawa jahil.

Namun seseorang memanggil di dalam mansion, para penjaga rupanya sedang mencariku. Aku
langsung masuk kedalam dan berpura-pura sedang berjalan-jalan.

“March! Kemana saja kamu? Ya tuhan, lihat bajumu. Kotor sekali.” ucap salah satu maid.
Lenganku langsung ditarik, memasuki bangunan utama untuk menyuruhku mandi.

“Tapi..!” seruku mengelak, aku hanya bisa menoleh ke belakang, menatap semak belukar
tempatku menyelinap keluar. Sejam lagi guru tutor akan datang, aku harus bersiap untuk
menerima pelajaran dan mengerjakan tugas darinya. Sepertinya aku tak bisa melarikan diri
kemanapun.

..

Aku menoleh ke arah jam dinding, beberapa jam berlalu sejak diseret masuk. Pikiranku tak
tenang, teringat akan Junie diluar sana, apa dia masih mencariku? Ah, mungkin dia sadar bahwa
aku kembali ke dalam kastil ditengah permainan, lalu kembali ke rumah dia dengan ekspresi
sedih. Tak tega hatiku membayangkan wajah kecewanya.

Jam menunjukan pukul 4 sore, pelajaran dari guru tutor pun berakhir. Aku langsung keluar
ruangan hendak memastikan sesuatu.

Mungkin Junie sudah pulang, mungkin dia marah karena aku pergi tanpa sepengetahuannya. Ya,
dia pasti marah, Jangan-jangan besok dia tidak akan datang lagi untuk mengajak bermain.
Semoga saja tidak, karena aku tak punya teman di tempat ini selain dia.

Namun beberapa langkah keluar dari ruangan, ayahku muncul dan mengajakku untuk makan
malam di luar. Aku tentu saja langsung menolak, tapi ia bersikeras untuk mengajak. Katanya aku
akan dikenalkan dengan anak perempuan dari teman lamanya.

Apa dia bermaksud menjodohkanku? Yang benar saja, aku baru berusia 15 tahun, aku cuma
bocah yang tidak mengerti apa-apa selain apa yang aku baca dari buku. Hanya Junie yang
menjadi sumber pengetahuanku akan dunia luar, dia sering bercerita tentang pergerakan partai
komunis yang hendak mengambil alih pemerintah. Juga tentang bung Karno sang tokoh
proklamator kemerdekaan, yang pernah datang berkunjung ke danau ini.
Aku menghabiskan waktu dua jam dengan bercengkrama sambil memasang senyum palsu. Aku
dikenalkan dengan gadis seusiaku. Dia cantik, rambutnya berwarna biru panjang, kornea
matanya berwarna Hijau. Mereka bercerita dengan panjang lebar, jika seluruh perempuan di
keluarga mereka selalu memiliki warna mata Hijau. Semua orang menganggap itu adalah sebuah
anugerah, karena status mereka yang hidup sebagai keluarga bangsawan.

Tapi apa kau tahu? Aku sama sekali tak peduli akan hal itu.

Aku semakin gelisah. Tidak mungkin Junie masih ada di luar sana, sekarang sudah larut malam.

Hatiku tidak pernah tenang jika belum memastikannya dengan mataku sendiri. Jam menunjukan
angka sepuluh, langit sudah sangat gelap. Hanya bulan dan bintang yang menjadi sumber cahaya.
Aku melangkahkan kakiku keluar dari mansion lewat retakan kecil di balik semak belukar. Aku
memberanikan diri menyusuri hutang belakang mansion untuk tiba di pinggir danau tempat kami
biasa bermain.

Di sana, sesosok gadis berpakaian lusuh tengah duduk memegangi kedua lututnya, menangis
tersedu-sedu sambil menundukan wajah berlinang air mata.

Tidak mungkin—

“Junie..?” ucapku meyakinkan.

Dia menoleh, menatapku dengan mata terbelalak lebar, “Maaarch..!!” serunya setengah
berteriak, tubuhnya bangkit dan sontak memelukku, “Kemana saja kau!?”

“Kamu nungguin aku dari tadi siang..? Di sini?” ucapku setengah tak percaya.

Ia menganggukan kepala sambil menyeka air mata, “Aku terus mencari, tapi kamu nggak ada di
manapun. Aku takut kamu di makan hewan buas atau di culik orang.”

Dia mencariku dari tadi siang hingga selarut ini? Di tengah hutan gelap tanpa satu pun
penerangan?

Aku terperangah, tak sanggup untuk berkata apapun.

“Maaf…” ucapku dengan suara nyaris tak terdengar.

“Yang penting kamu baik-baik aja.. Syukurlah..” ucapnya mendekap dadanya sendiri, lalu
berbalik untuk mengantarku pulang.

Aku menggigit bibirku sendiri, lenganku terkepal keras. Marah pada kebodohan yang kulakukan.
Mataku menatap punggung gadis itu lalu memeluknya dari belakang, entah kekuatan macam apa
yang mendorong bocah 15 tahun ini untuk berbuat demikian.

“Maaf ya.. Aku janji aku gak bakalan menghilang lagi.”
Junie hanya menganggukkan kepalanya perlahan, ia memegangi lenganku yang melingkar di
dadanya.

Para maid mulai curiga, aku sulit sekali untuk di temukan. Aku selalu berkilah kalau aku senang
bermain di gudang atau di taman labirin. Mereka tak boleh tahu kalau aku sering keluar dari
mansion lewat retakan di balik semak belukar. Jika mereka tahu, mereka pasti akan memperbaiki
celah itu dan kembali membuatku terkurung di dalam tempat ini.

Tapi aku salah— Mereka tahu akan hal itu.

Lidahku kelu, tak sanggup bahkan untuk mengutuk mereka yang memisahkanku dari dunia luar,
terdiam memandangi celah di balik semak belukar yang biasa aku lewati, kini bata dan semen
telah mengisi lubang itu. Aku mencoba untuk membobol tembok itu, tapi apa yang bisa
dilakukan anak 15 tahun yang lemah tak berdaya ini?

Hari berganti minggu, tiap pagi aku selalu melamun di atas balkon menghadap danau. Berharap
Junie ada di luar sana, menatapku dari kejauhan. Tapi itu mustahil, pesisir danau tempat kami
sering bermain terletak jauh di belakang hutan, tak mungkin dia bermain-main di sana seorang
diri.

Aku menundukan wajahku, mendekap pagar penyangga— Aku kesepian.

Lalu sesuatu muncul dari balik tembok, melayang ke dalam mansion dan mendarat di salah satu
sudut gedung. Kakiku sontak berayun kencang, melesat cepat menghampiri benda tadi, sebuah
kertas yang di lipat menyerupai pesawat menancap di sela-sela pagar balkon.

Aku memeriksa kapal-kapalan itu, sesuatu tertulis di dalamnya.

“Hey March, lama tak jumpa. Sayang sekali ya lubang tempatmu menyelinap keluar sudah di
tambal. Padahal hampir tiap hari aku selalu menunggumu di tempat biasa. Oh ya, seminggu ini
aku rajin belajar untuk membaca dan menulis demi menulis surat ini, jadi maaf ya kalau tulisan
tanganku jelek.”

Jadi dia masih sering bermain di sana, berkeliaran di hutan belakang Mansion walau tanpa
kehadiran diriku. Aku bosan di sini, aku harus mencari cara untuk keluar dari tempat ini.

Aku membalik kertas itu, ternyata isi surat tak terhenti hingga di sana.

“March, waktu itu aku pernah cerita soal Partai Komunis indonesia itu kan? Aku baru tahu
kalau ternyata kakak tiriku itu anggota dari PKI. Sekarang orang-orang pemerintah sedang
memburu para anggotanya, aku dan kedua orang tuaku takut jika kita sekeluarga dicap sebagai
anggota, lalu di jebloskan ke penjara. Aku bahkan mendengar bahwa di beberapa tempat
mereka akan langsung ditembak di tempat. Aku mohon, tolong bantu aku. Ayahmu itu kepala
keamanan di kecamatan ini kan? Tolong beritahukan perihal keluargaku pada dia.”
Sepertinya ini masalah yang serius, mataku kembali membaca tulisan tambahan di bagian paling
bawah.

“Oh ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi tengah malem yuk? Sambil liat bintang-bintang dan
bulan seperti di waktu itu.”

Tentu— tentu saja. Aku akan datang kembali ke sana, dan kita bermain bersama seperti biasa.

Di lorong mansion, aku melihat ayahku sedang berbicara dengan beberapa orang. Raut wajah
mereka tampak menyeramkan, mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang sangat
serius.

“Pak Len.. Aku sudah mengumpulkan bukti-bukti. Orang itu dan keluarganya memang benar-
benar anggota PKI, dia mungkin akan menjadi sumber informasi berharga jika kita bisa
menangkapnya hidup-hidup.”

“Tembak ditempat” tegas ayahku.

Aku terdiam, berusaha memikirkan sesuatu. Anggota PKI? Apa yang mereka maksud keluarga
Junie? Jangan-jangan benar dugaan Junie, dia dan dua orang tuanya juga dicap sebagai anggota
PKI, karena memiliki anggota keluarga yang bergabung di sana.

Mereka akan ditembak mati? Aku harus memberi tahu mereka.

Kakiku terayun berlari menuju ruangan ayah, aku harus memberi tahu yang sebenarnya. Junie
dan kedua orang tuanya bukan anggota partai itu, mereka tidak tahu menahu soal itu.

Namun ayahku sontak mengusirku ketika aku berusaha untuk memulai penjelasan. Aku berteriak
memberi tahu segala yang kutahu. Tapi dia tetap tak mempedulikanku, mungkin bocah berumur
15 tahun memang tak akan dipercaya dalam urusan seserius ini.

Junie dan keluarganya dalam bahaya, aku harus memberitahu mereka.

Aku berlari menuju pintu gerbang mansion, di sana dua orang penjaga tengah berdiri menghadap
keluar. Aku berlari sekencang mungkin, mereka tak akan sempat untuk menangkapku begitu aku
melewati mereka.

Benar saja, aku sukses keluar dari gerbang. Dua penjaga bodoh itu sontak berlari mengejarku,
tapi aku cukup luwes untuk masuk kedalam kerumunan warga dan menghilang di salah satu
sudut pasar.

Mataku menyusuri tiap sudut pasar, aku harus mencari rumah Junie dan memberitahu segalanya
sebelum terlambat.

Semua orang menoleh ke arahku, mungkin karena pakaianku yang terlihat bersih dan rapi. Tak
ada yang mengenakan kemeja dan stelan di tempat itu kecuali aku.
Aku menoleh kesana kemari, bertanya pada semua orang. Tentu saja perjuanganku itu segera
membuahkan hasil, lima belas menit kemudian aku menemukan rumah Junie. Di sana terdapat
kerumunan warga yang tengah menonton sesuatu.

Apa ini? Apa aku datang terlambat?

Tak jauh dari rumah Junie, beberapa orang tengah menodongkan senjata pada dua orang di
kejauhan. Seorang perempuan dan laki-laki, keduanya mengangkat tangan mereka tanda
menyerah.

Aku terperangah, apa mereka orang tua Junie? Belum sempat hilang kekagetanku, seseorang
tiba-tiba menyambarku dari belakang sambil menodongkan pistol tepat di kepala.

“Hentikan! Lepaskan ayah ibuku!”

Orang yang menyekapku menyeret tubuhku ke dalam hutan, menjadikanku tameng dari
moncong senjata pasukan berseragam sipil. Sepertinya dia kakak Junie yang diceritakan lewat
surat.

“Maaarch!”

Seseorang menerobos para warga dan berlari menerjang ke arahku. Sosok yang menyekapku
sontak menembakkan pistolnya tanpa melihat siapa yang ia tembak. Panik karena tengah berada
dalam keadaan terpojok.

Mataku terbelalak lebar, aku melihat Junie terkapar di tanah bersimbah darah.

“Tidak.. Junie..” ucap orang itu dengan mata berkaca-kaca, melepaskanku lalu bertekuk lutut.

Junie ditembak oleh kakak tirinya sendiri, orang panik memang cenderung berbuat bodoh.

Orang-orang bersenjata di kejauhan sontak memberondong tubuh pemuda itu dengan timah
panas, ia pun ambruk ke tanah.

Aku memangku tubuh Junie, gadis itu terbatuk mengeluarkan darah. Matanya sayu, menatapku
lalu mengangkat tangannya untuk membelai pipiku. Tak lama berselang, lengan itu terkulai
lemas seiring dengan berhembusnya nafas terakhir dari dadanya. Junie meninggal dunia tepat di
depan mataku.

Waktu serasa terhenti, deru angin yang berhembus bahkan kehilangan suaranya.

Aku menggigit bibir sendiri, terisak pelan sambil menahan lonjakan jantung yang berdetak tak
terkendali. Otakku macet, tak bisa berpikir apapun, dadaku sesak, darah terasa mendidih,
sementara air mata mengalir tiada henti. Tak kuasa menahan rasa sedih bercampur amarah,
tubuhku bergetar hebat.
Sakit— rasanya sakit sekali.



                                             *****



11 tahun semenjak kejadian itu..

Aku seperti mayat hidup, ayah menjadikan mansion St. Novice menjadi sebuah sekolah. Aku
menjabat sebagai kepala sekolah di sana, menikah dengan gadis yang dipilihkan oleh ayahku.
Setiap hari adalah rutinitas yang sama. Hidupku begitu datar, tak ada hal menarik yang terjadi
semenjak kepergian Junie.

Sesosok bayi kecil menangis di sudut ruangan, mata bayi itu berwarna hijau terang, dengan
rambut biru dan kulit seputih salju. Aku memberinya nama Yulia Faykreus, tak mempedulikan
celotehan orang-orang yang menganggap aku asal memberi nama. Toh aku memang tak peduli
pada bayi ini. Aku tak akan mengurusinya, atau memberinya kasih sayang, karena dia tak terlahir
dari rahim perempuan yang aku cintai.

Andai saja dia dilahirkan oleh Junie, sosok yang aku sayangi sejak kecil. Andai saja aku bisa
memberi tahu keluarga Junie lebih cepat, andai saja aku tidak dengan bodohnya datang ke
tempat Junie. Mungkin saat ini dia masih hidup, mungkin saat ini dia yang menggendong anakku
di sudut ruangan sana. Mungkin hidupku tak akan sedatar ini, dan aku akan lebih bahagia— jauh
lebih bahagia dari saat ini.

Aku memandangi sebuah foto lusuh, di dalamnya berisi foto diriku yang berusia 15 tahun. Lalu
di sudut kecil foto itu terdapat Junie yang muncul dari balik semak belukar.

Ya— dia ikut terfoto dalam foto pribadiku. Hanya itu satu-satunya kenangan tentang dirinya.

Air mata menetes dari kedua pelipis, lenganku tanpa sadar mengangkat sebuah pistol lalu
mengarahkannya pada samping kepala. Dua mata tertutup sambil menahan rasa pedih yang
kupendam bertahun-tahun lamanya. Dunia ini benar-benar membosankan tanpa dia...

Junie, aku ingin bertemu denganmu—

Jariku tertarik hendak memicu pelatuk pistol, namun telunjukku terasa sulit digerakkan. Mataku
sontak terbuka, menatap sosok perempuan yang berdiri di balik cermin. Tak ada diriku di
pantulan kaca, hanya ada perempuan berambut panjang dengan senyumnya yang menyejukkan.

“Junie..” ucapku tak percaya.
Ia membalasnya dengan senyum kecil, lembut penuh makna. Tubuhnya nampak sudah dewasa,
alih-alih menampakan diri sebagai sosok anak kecil yang aku ingat, dia muncul sebagai wanita
dewasa dengan perawakan langsing mengenakan pakaian simpel berwarna putih.

Mulutnya bergerak pelan, berusaha untuk mengucapkan sesuatu.

“Jangan mati, March.. Jangan sia-siakan nyawa yang sudah kuberikan padamu..”

Aku tersenyum sambil mengangguk pelan.

“Aku tahu.. Maafkan aku.”

Lengan yang memegang pistol turun dengan sendirinya. Entah ini mimpi atau hanya sekedar
ilusi. Tapi aku sangat senang bisa melihatnya kembali. Tiga puluh detik kehadirannya di sana
akan menjadi penyemangatku, untuk menjalani sisa hidup selama puluhan tahun kedepan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:42
posted:10/11/2012
language:
pages:8
Description: kumpulan cerita pendek dan Puisi