7 Years Promies

Document Sample
7 Years Promies Powered By Docstoc
					7 Years Promies

Apa yang kau pikirkan ketika mendengar janji dua anak kecil untuk menikah ketika mereka
dewasa nanti?

Romantis..? menyentuh?

Sayangnya tidak, janji itu sama sekali tidak romantis. Terlebih lagi ketika satu dari dua orang itu
pergi menghilang entah kemana. Meninggalkan satu pihak terluka— menunggu hal yang tak
pasti.



                                             *******



Lonceng sekolah berbunyi, sesosok laki-laki berusia 17 tahun nampak mengemasi buku-
bukunya, lalu berjalan menuju Dojo silat di belakang gedung sekolah. Matanya menerawang,
memandangi danau luas yang terhampar di kejauhan. Sekolahnya terletak di atas bukit dekat
danau, namanya St. Novice Remarks.

Sosok itu bernama Haidi, ia menghela nafas perlahan dengan wajah lesu. Teringat akan seorang
gadis di masa kecilnya. Gadis cantik bernama July, namanya diambil dari bulan ke tujuh dalam
kalender masehi.

Dulu keduanya selalu bermain bersama, hari demi hari dilewati bercengkrama, atau berlatih silat
bersama. Mereka sangat akrab.. Begitu akrab hinga keduanya mengucapkan janji untuk menikah
jika sudah dewasa nanti.

“Dimana kau sekarang.. July.”

Haidi berucap pelan, membayangkan wajah gadis itu di atas langit biru. Wajah feminim dengan
senyum sehangat mentari, rambutnya hitam agak kemerahan. Mereka adalah teman satu
seperguruan. Gadis itu sangat tangguh walau masih berusia 10 tahun, Haidi bahkan sering kalah
dalam latihan sparring melawannya.

Namun gadis itu menghilang tanpa jejak, pindah ke luar negeri tanpa memberi kabar apapun
mengenai kepergiannya. Meninggalkan Haidi sendirian, untuk menjalani masa-masa penuh
kebosanan, tanpa teman yang bisa ia jadikan sandaran. Haidi memang membuat dinding dalam
hatinya, tak pernah ada yang bisa akrab dengannya. Selalu bersikap dingin, apalagi para mereka
yang bersikap ceria dan mudah mengakrabkan diri dengan siapapun. Ia benci pada orang seperti
itu, karena selalu mengingatkannya pada July yang juga memiliki sifat secerah mentari.
Tahun demi tahun berlalu, Haidi tetap tak bisa melupakan sosok yang sangat ia kagumi itu.

Di lorong sekolah, Haidi mendengar desas desus tentang seorang perempuan yang bermain biola
di taman sekolah. Pikirannya sontak teringat pada July, gadis itu memang pintar bermain biola,
mereka bahkan sering berduet menyanyikan lagu-lagu klasik.

Apa murid pindahan itu July? Jantung Haidi berdengup keras ketika memikirkan itu. Ah, tapi
kemungkinanya kecil sekali. July bukan satu-satunya perempuan yang bisa bermain biola di
sekolah ini.

Haidi bergegas menuruni tangga raksasa menuju jalan raya, mendapati konser kecil yang
dilakukan oleh seorang gadis berparas cantik. Rambutnya hitam agak kemerah-merahan,
mengenakan pakaian chinesse berwarna orange, dan sepatu merah dengan hak tinggi. Lengannya
dengan lembut bergerak menggesek biola di tangan. Matanya terpejam menghayati setiap
permainan yang ia lakukan, diselingi senyum lembut yang mengembang di wajah.

Tak salah lagi, dia memang July. Gadis itu telah kembali.

Haidi luar biasa senang, hampir saja ia bersorak kegirangan. Namun pria itu berusaha untuk tetap
tenang, tak mau mengganggu permainan biola gadis yang ia tunggu selama ini.

Haidi ingat lagu ini, dulu dia sering berduet dengannya, judul lagu itu Canon in D. Ia pun sontak
bergegas menuju belakang panggung untuk menyalakan piano elektrik. Drum dan beberapa gitar
listrik terpampang disampingnya. Tempat itu memang diperuntukkan untuk konser kecil dari
band sekolah.

Haidi menekan tuts piano dan mulai mengiringi irama lagu dari gesekan biola. Gadis itu terkejut,
tapi tak bisa menghentikan permainan begitu saja. Keduanya lantas memulai kembali duet yang
biasa mereka lakukan di masa kecil. Semua orang terkesima, takjub akan permainan musik
penuh dengan penghayatan.

Tak terasa lima menit telah berlalu, July menghentikan gesekan dari senar biola, sementara Haidi
menekan chord D dengan agak keras di akhir musik. Tepuk tangan sontak membahana. July
menoleh ke belakang, menatap sosok yang bermain musik dengannya barusan.

Haidi membalasnya dengan senyum lembut. Ia sangat bahagia bisa bertemu dengannya lagi,
mulutnya berucap dengan suara pelan.

“Hai July..”

Tak ada jawaban— July diam dengan wajah tanpa ekpresi.

Haidi melangkahkan kakinya sambil menggerakan kedua pergelangan tangan. Lalu dalam satu
hentakan cepat, sebuah bunga mawar mendadak muncul di hadapannya. Ia menyodorkan mawar
itu pada July. Semua orang tertegun, menatap Haidi yang memperagakan sulap untuk merayu
seorang gadis di atas panggung, tepat di hadapan puluhan murid yang sedang menonton.
“Maukah kau menikah denganku.”

Haidi berucap dengan suara agak di keraskan. Semua orang mendadak berhenti bernafas,
terbelalak tak mampu berucap apapun. Pemuda itu dengan lantang melamar July di atas
panggung.

Tatapan mata para penonton lalu tertuju pada July, kira-kira apa reaksi gadis itu?

July diam tak menjawab, beberapa saat termenung menatap bunga mawar di hadapannya.
Lengan kanan yang memegang biola diangkat dengan pelan, lalu diayunkan dengan keras,
menghantam wajah Haidi hingga menimbulkan sound effect layaknya dua truk bertabrakan.

DUAAAAK..!!

Haidi terlempar beberapa meter. Semua orang melongo, adegan barusan benar-benar di luar
dugaan.

July mengambil mawar yang tergeletak di lantai, lalu melempar benda itu jauh-jauh. Dua orang
pria dengan jas hitam sontak menangkap mawar itu dan menyimpannya di belakang.

July menatap wajah Haidi dengan mata dingin.

“Siapa kau..? lancang sekali.”

“Hah?” Haidi tertegun, apa July sudah tak ingat padanya? Gadis itu memang sudah berubah
menjadi sosok yang sangat cantik nan anggun, tapi tak mungkin Haidi salah orang. Dia ingat
betul pada sosok bernama July yang ada di hadapannya.

“July? Ini aku Haidi.. Masa kau lupa.”

“Aku tak kenal.” sanggah July dengan cepat.

Haidi bangkit dan mendekati gadis itu, memegang kedua tangan July sambil menatap gadis itu
dengan dalam.

“Ini aku Haidi! Dulu kita sering bermain bersama, apa kau lupa sama aku? Apa kau amnesia?!”

July memegang lengan Haidi, lalu memelintir pergelangan pria itu hingga jatuh ke tanah.

Haidi terkapar dengan pasrah, tepat di hadapan gadis itu. Matanya masih sempat mengadah ke
atas, menatap celana dalam dengan motif strawberry yang tersingkap dari balik rok panjang.

Sepatu dengan hak tajam sontak menempel di wajah pria itu.
“Orang seperti ini mau menjadi suamiku?” ia mengusap keningnya sambil membetulkan rok
yang tersingkap. “Menarik..” lanjutnya pelan, ekspresi wajah nampak termenung memikirkan
sesuatu, “Begini saja.. Aku akan menerima lamaranmu jika kau sanggup mengalahkanku.”

July menantang dengan tatapan mata meremehkan. Gadis itu bersikap layaknya seorang putri
seorang bangsawan.

Haidi sontak bangkit dan bersiap dalam kuda-kudanya. Menatap July yang mengangkat kedua
lengannya, bersiap dalam kuda-kuda kung fu aliran wing chun.

Kuda-kuda itu sangat familiar di mata Haidi. Ia sangat yakin, gadis itu memang July.

Haidi menyerang gadis itu dengan mengayunkan kaki kanannya, melakukan tendangan
menyamping dengan gerakan secepat kilat.

July menangkap kaki kanan Haidi, memegangi kaki pria itu dengan kedua tangan, lalu memutar
tubuhnya untuk melempar ke arah lain. Pria itu jatuh tersungkur oleh tenaganya sendiri.

“Cih..”

Haidi bangkit kembali, namun belum sempat bangkit seutuhnya, July sudah berada di hadapan
dengan lengan terayun.

BUK..!!

Sebuah pukulan telak menghantam wajah Haidi. Lengan gadis itu kecil nan ramping, namun
tenaga pukulannya terasa sangat menyakitkan, hingga membuat Haidi sempoyongan, kehilangan
kesadaran selama beberapa detik.

Merasa dipermalukan, Pria itu sontak berubah serius sambil melancarkan berbagai pukulan
balasan.

Namun tak ada satu pun dari pukulan itu yang mengenai targetnya, July dengan lincah
menggerakkan kepalanya untuk menghindar. Matanya berubah tajam, bersiap dalam serangan
balasan. Lengannya terkepal keras, lalu terayun sekuat tenaga.

BUAAK..!

Satu hantaman cukup untuk menghentikan gerakan Haidi. Seranganya itu dilanjutkan dengan
hantaman bogem mentah lainnya. Puluhan, bahkan mungkin ratusan pukulan secepat kilat
disarangkan dengan keras. Haidi seolah menjadi samsak hidup tak berdaya.

Puas menghajar habis-habisan, July mengambil satu langkah mundur, merobek rok sebelah
kanan sambil menjatuhkan sepatu hak tinggi yang ia kenakan. Kakinya terayun dengan keras,
menendang sekuat tenaga menggunakan seluruh bobot tubuhnya.
BUUGH!!

Haidi melayang beberapa meter di udara, pria itu pun jatuh terkapar di sudut panggung setelah
menabrak beberapa gitar listrik.

“Lemah” ucap July Dingin.

Gadis itu membalikan badannya untuk berlalu dari hadapan. Turun dari panggung, kemudian
menghilang dari balik tikungan.

Beberapa saat kemudian, sebuah helikopter melayang tak jauh dari tempat Haidy, di sana ada
July yang berdiri di pintu masuk.

 “Sayang sekali, kau belum bisa mengalahkanku.” ucap July dengan senyum meremehkan,
“Kalau jodoh, kita pasti akan bertemu lagi.”

Lengannya menutup pintu, helikopter itu lalu terbang menjauh.

“July..” ucap Haidi dengan suara lemah.

…

Sementara itu di dalam helikopter..

Salah satu pengawal berpakaian formal nampak khawatir terhadap July, “Anda yakin tidak apa-
apa?”

“Diam!”

Seolah tak ingin diganggu, July berusaha mengatur nafas sambil menggigit jarinya. Matanya
menerawang menembus jendela helikopter, tertuju pada taman di kejauhan. Ekspresi wajahnya
nampak sayu, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Pipi July merona kemerahan menahan malu, lalu mendekap bunga mawar pemberian Haidi
sambil memejamkan matanya.

Esok harinya…

July berdiri di depan kelas, dikenalkan sebagai murid pindahan dari Kanada. Wajahnya terlihat
kesal, pikirannya meracau tiada henti, menggerutu menumpahkan amarah dalam hati.

“Kepala sekolah sinting.. Berkat dia aku tak diterima di sekolah lain, ngotot sekali dia
menyuruhku sekolah disini hanya karena alasan konyol. Dia pikir aku reinkarnasi dari cinta
pertamanya yang sudah meninggal? Yang benar saja!”
Dilain pihak, Haidi tersentak kaget hingga membentur tembok di belakangnya. July di tempatkan
di kelas yang sama dengannya.

“Junie kenalkan dirimu pada teman-teman barumu..”

Seseorang di sampingnya mempersilakan untuk maju. Namanya March, kepala sekolah di St.
Novice Remarks. Pria itu entah kenapa memanggilnya dengan nama Junie.

“Namaku JULY..!! di baca, J—U—L—Y .. berapa kali harus di ingatkan sih!?” bentak July
kesal. Semua orang terperangah, berani sekali dia pada pimpinan sekolah ini.

“Kau bisa duduk di samping Haidi.”

Sang kepala sekolah menanggapi dengan santai, seolah menghiraukan sikap kasar gadis itu.
Wajahnya nampak sangat bahagia sekali, matanya tak henti menatap July dengan pandangan
berbunga-bunga. Semoga saja dia bukan tipe om-om genit.

July menerawang seisi kelas, lalu mendapati Haidi yang menatapnya tiada henti. Pandangan
mata mereka bertemu beberapa saat. Gadis itu lalu berkata sesuatu pada orang disampingnya,
“Pak, aku tak mau di tempatkan di samping pecundang, yang bahkan kalah dalam duel melawan
perempuan.”

Semua orang sontak menahan tawa, Haidi memang menjadi bahan lelucon semenjak dikalahkan
July.

“Aku bukan pecundang!” seru Haidi membela diri, ia berdiri dari bangku duduknya dan
menunjuk tepat ke arah gadis itu, “Kau memang benar-benar July kan?! Akan kubuat kau ingat
padaku! Aku menantangmu untuk duel nanti sore, jika kau kalah kau harus mengakui aku bukan
pecundang.” ucap Haidi agak berapi-api, ia lalu sedikit menunduk, “Lalu..”

“Lalu..?” sang kepala sekolah bernama March memancing kelanjutan ucapan Haidi.

“Jika aku menang, maka kau harus menepati janjimu kemarin itu.”

Wajah July berubah kaget dengan pipi merona kemerahan. Janji kemarin adalah untuk menerima
lamaran pernikahan jika pria itu sanggup mengalahkannya.

“Ba—baik! Akan kuterima.” ucap July agak terbata. Wajahnya terlihat kesal, namun pipinya
merona merah menahan malu, gadis itu terlihat cute sekali.

July lalu menegaskan perkataannya, “Aku akan menerima lamaranmu jika bisa mengalahkanku
nanti.”

Semua orang sontak bertepuk tangan, bersorak menyemangati Haidi. Pria itu tak bisa mundur
sama sekali. Ini adalah perjuangan untuk menegakkan harga diri sebagai laki-laki.
Esoknya, kedua orang itu berhadapan satu sama lain di gedung olahraga sekolah. July tampak
cantik dalam pakaian silat berwarna hitam. Para penonton bersorak sorai, para laki-laki bersatu
untuk mendukung Haidi. Sementara para perempuan bersorak menyemangati July. Tak ada
peraturan apapun dalam duel ini, siapapun yang berhasil menjatuhkan lawan akan di anggap
sebagai pemenang.

Mereka berdua bersiap dalam kuda-kuda bela diri. Sesosok pria bernama Nissan berdiri di tangah
arena bertindak sebagai wasit, ia mengayunkan untuk memulai pertandingan.

Haidi dan July menerjang satu sama lain. Haidi melancarkan pukulan awal dengan tangan kanan,
namun disambut dengan tangkisan July sembari melancarkan Counter Attack.

Pukulan tangannya terhempas menubruk bagian tubuh Haidi. July mengira ia sukses memukul
wajah pria itu, namun Haidi menahan pukulan barusan dengan tangan kiri yang ditempatkan
disamping pipi. Wajahnya tersenyum, sementara July menggeram diselingi rona kemerahan.

 July menepis kedua lengan mereka yang terkunci, mundur satu langkah lalu kembali
menyerang. Haidi bersiap menyerang balik dengan pukulan terbaiknya. Kedua lengan mereka
beradu dengan keras diikuti gerakan-gerakan tepis, hindar dan balas.

Keduanya sangat cepat, pukulan demi pukulan melayang di udara, namun tak ada satu pun yang
mengenai wajah masing-masing.

6 menit berlalu begitu saja, mereka masih terlibat baku hantam tanpa satu pun pukulan yang
mengenai sasaran.

Dalam satu kesempatan, Haidi berhasil menepis salah satu serangan hinga mendapat celah. Pria
itu mengambil inisiatif, memegangi kedua lengan July lalu mencium bibir gadis itu di tengah
pertarungan.

July membeku seketika, tubuhnya kaku seperti batang kayu gelondongan, tak bergerak sama
sekali dengan mata terbelalak lebar. Puluhan murid yang menjadi penonton mendadak
mengheningkan cipta, tak ada seorang pun yang bersuara. Tindakan Haidi kali ini benar-benar
berani. Atau bisa juga disebut nekat, bodoh, dan tanpa perhitungan. Tapi dalam lubuk hati paling
dalam, semua orang setuju bahwa gerakan itu sangat-sangat brilian.

Haidi menepis kaki July yang masih membeku hingga gadis itu terjatuh.

“Me.. menang.. Haidi dinyatakan sebagai pemenang,”

Nissan sang wasit, mengangkat bendera dengan senyum kaku yang dipaksakan.

“Aku menang.” ucap Haidi dengan senyum bangga.

July menghela nafas pelan sambil memejamkan mata, bersiap untuk melakukan jeritan terkuat
dalam hidupnya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!”



Sedetik kemudian, para penonton nampak sibuk membopong jasad Haidi ke dalam ambulan.
Tubuhnya babak belur dianiaya July yang mengamuk tanpa kendali. Gadis itu seolah melepaskan
chakra monster berekor sembilan yang tersegel dalam tubuhnya, tak terima ciuman pertamanya
diobral secara gratis di depan khalayak ramai.

..

Lalu esok harinya…

Keduanya duduk saling besebelahan di bangku taman samping danau, matahari tampak berwarna
orange, memedar di langit kejauhan. Mereka diam membisu tanpa satu kata pun meluncur dari
mulut masing-masing.

“Kau memang July cintaku di masa kecil.” ucap Haidi memecah suasana.

July tersentak kaget, “A.. ahahaha.. Kau.. mungkin salah orang.” Ia berusaha untuk tertawa,
namun senyumnya itu terlihat sangat kaku.

“Tak ada gunanya menyembunyikan itu.. Aku tahu siapa orang tuamu, mereka setuju saja waktu
aku bilang ingin melamar kamu.”

July hampir saja jatuh tersungkur, terkejut bukan main. Haidi sudah melangkah sejauh itu. Ia
hanya bisa terdiam dengan wajah bingung, tak tahu harus bereaksi apa, pipinya perlahan berubah
penuh rona kemerahan.

Wajahnya menoleh menatap Haidi, mendekatkan bibirnya ke hadapan pria itu lalu menciumnya
selama beberapa lama.

Mata Haidi terbelalak.

“Sudah tujuh tahun ya.. Aku kangen sama kamu Haidi..”

July berucap pelan, wajahnya sedikit tertunduk menahan malu.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:30
posted:10/11/2012
language:
pages:8
Description: kumpulan cerita pendek dan Puisi