Three Words Challenge

Document Sample
Three Words Challenge Powered By Docstoc
					[Three Words Challenge] The Fall of
Muranaga
Seorang prajurit mendatangi teras tempat seorang Taisho bernama Wakashiki berada. Dia segera
berlutut sambil berbicara dengan cepat, “Wakashiki-Taisho, ada rumor yang simpang-siur di
sekitar wilayah Muranaga. Katanya pasukan Tokiosaka akan melakukan penyerangan besar-
besaran malam ini.”

“Pelankan bicaramu, Shigeru-Heicho! Aku sedang menikmati permainan shogi ini,” ujar
Wakashiki sambil mengambil salah satu fuhyo dari atas papan shogi yang ada di hadapannya.
Tak tampak orang lain yang tengah bermain bersamanya. Wakashiki memainkannya seorang
diri.

“Tapi, Taisho! Ini berita penting. Bukankah sebaiknya kita memperkuat pertahanan di area timur
untuk berjaga-jaga?”

Wakashiki menoleh ke arah Shigeru. “Duduklah!”

“Eh? Apa?” tanya Shigeru kebingungan.

“Duduklah! Temani aku bermain shogi! Kau bisa memainkannya kan?”

“Te-tentu saja aku bisa memainkan shogi, Wakashiki-Taisho,” Shigeru menelan ludahnya dan
segera bangkit dari posisi berlututnya. Dia berjalan menaiki tangga di teras tersebut dan duduk
bersimpuh di hadapan Wakashiki.

“Lepaskan baju pelindungmu itu, Shigeru-Heicho! Bermainlah dengan santai,” Wakashiki
mengambil sebuah katana yang sejak tadi tergeletak di bagian kanan papan shogi.

Shigeru menelan ludah, masih bingung dengan kemauan Wakashiki yang mendadak
mengajaknya bermain shogi.

“Wa-Wakashiki-Taisho, kemampuanku setingkat dengan Dan 7, kuharap Tuan Wakashiki
bersedia menggunakan beberapa handicap melawanku,” ujar Shigeru.

“Bicara apa kamu? Kita main tanpa handicap!”

“Ta-tapi, Wakashiki-Taisho!”

Wakashiki mencabut katana dari dalam sarungnya dan mengacungkannya ke arah Shigeru.
Shigeru membelalak.

“Shigeru-Heicho, kau tahu kan hubungan baikku dengan Taisho dari klan Tokiosaka, Kirishima-
Taisho? Tak mungkin klan Tokiosaka berani menyerang klan Muranaga. Ingat itu baik-baik!”
“Ta-tapi, Wakashiki-Taisho…”

Wakashiki segera berdiri dari posisi bersimpuhnya dan menebas tubuh Shigeru dengan cepat.
Darah menyembur keluar dari tubuh Shigeru.

“Tu-tu-tuan, Wa-Wakashiki… Ke-kenapa…” Shigeru menggelepar menahan rasa sakit yang
menyerangnya hingga akhirnya kehilangan nyawa.

“Orang yang menyebarkan fitnah demi merusak hubungan baikku dengan Kirishima-Taisho,
harus dihukum mati,” ujar Wakashiki, “Genzo, Otohiri, bereskan mayat ini segera!”

“Si-siap, Wakashiki-Taisho!” jawab Genzo dan Otohiri bersamaan. Diangkutnya mayat Shigeru
ke suatu tempat khusus pemakaman tentara.

Wakashiki memasukkan kembali katana ke dalam sarung pedangnya, dan membetulkan posisi
yukata yang dikenakannya. Dilihatnya keadaan di sekitar teras istana yang kini benar-benar
hening.

“Penyerangan besar-besaran oleh Kirishima dari Tokiosawa? Jangan bercanda! Tak mungkin
adikku sendiri berniat menjatuhkan wilayah Muranaga yang sudah kubangun dengan susah
payah ini. Tidak mungkin!”

                                             ***

“Kirishima-Taisho dari klan Tokiosaka datang! Beri jalan menuju tempat tinggal Wakashiki-
Taisho!” seorang Gocho berteriak menyampaikan berita menggunakan sebuah megaphone yang
terbuat dari kerang-kerangan raksasa, “Beri jalan pada Kirishima-Taisho!”

Serentak semua prajurit yang berjaga di barisan depan area timur menyingkir dari tempatnya
berpatroli dan membentuk barisan lurus seperti ular dan membuat jalan bagi Kirishima.
Semuanya mengangkat senjata untuk memberi hormat.

“Hoo, penyambutan yang apik,” ujar Kirishima sambil tersenyum menatap para prajurit
Muranaga yang ada di sekitarnya. “Di mana kakakku?”

“Wakashiki-Taisho berada di kamarnya. Silakan ikut aku, Kirishima-Taisho!” jawab Genzo yang
baru saja kembali dari tempat pemakaman sambil memberikan hormat. Otohiri mempersilakan
Kirishima untuk berjalan.

                                             ***

“Kau di sini, Kak?” sapa Kirishima ketika memasuki teras tempat tinggal Wakashiki.

Wakashiki masih melakukan kegiatannya seperti biasa, bermain shogi sendirian. “Kirishima, apa
kabar?”
“Baik, Kak… baik… masih bermain shogi? Kau tak pernah berubah…”

“Duduklah! Main shogi dengan kakakmu ini,” ajak Wakashiki.

Kirishima menatap wajah Wakashiki dengan tajam untuk sesaat sebelum akhirnya memutuskan
untuk duduk bersimpuh di hadapan Wakashiki.

“Bagaimana Tokiosaka?”

“Baik, baik… Tokiosaka akan segera memperluas wilayah kekuasaannya,” jawab Kirishima
sambil tersenyum. Diambilnya bidak-bidak shogi yang berantakan dan menyusunnya dengan
rapi di atas papan.

“Hoo, memperluas kekuasaan? Pekerjaan berat menantimu kalau begitu, Kirishima,” kata
Wakashiki dengan nada tenang sambil mengambil sebuah kinsho dan menjalankannya.

Tidak, sepertinya untuk kali ini, aku tidak perlu bersusah payah, Kak.”

“Hoo, kau begitu percaya diri.”

“Tentu saja. Aku ahlinya bermain shogi, sudah tentu membuat sebuah strategi perang adalah
keahlianku.”

“Oh ya, ada sebuah rumor yang mengatakan Tokiosaka akan menyerang Muranaga,” ujar
Wakashiki.

“Hahahaha, siapa yang mengatakannya?”

“Shigeru-Heicho, prajurit kepercayaanku. Tak kusangka dia memiliki niat untuk mengadu
domba kita, adikku.”

“Hahahaha…” Kirishima tertawa. “Kak, Wakashiki, Muranaga sangat penting bagi
kelangsungan hidup Tokiosaka.”

“Jangan sebut itu! Muranaga dan Tokiosaka akan menjadi dua kubu dengan sistem kekerabatan
yang kuat. Walaupun kau adalah adik yang berbeda ayah denganku, kau sudah sangat kusayangi.
Tak mungkin aku membiarkan Tokiosaka tanpa dukungan.”

“Kau benar, Kak Wakashiki. Muranaga benar-benar titik vital bagi perkembangan Tokiosaka,”
senyum Kirishima.

Mendadak suara keras terdengar dari kejauhan. Seorang prajurit berteriak-teriak memberikan
peringatan kepada seluruh pasukan Muranaga menggunakan megaphone raksasa, “SERANGAN!
SERANGAN DARI ARAH TIMUR!”

Wakashiki membelalak.
“Serangan mendadak? Aku harus mengerahkan pasukan,” ujar Wakashiki seraya mengambil
katananya dan hendak berlari memasuki ruang penyimpanan baju pelindungnya.

“Tunggu sebentar, Kak Wakashiki!” kata Kirishima. Wakashiki menoleh ke arah Kirishima yang
tengah tersenyum sinis sambil menatap papan shogi. “Bukankah ini menarik? Permainan ini?”

“Apa maksudmu?” Wakashiki menelan ludah. Kirishima menghela napasnya dan mengambil
sebuah keima dari atas papan shogi dan meletakkannya berdekatan dengan gyakusho milik
Wakashiki.

“Skak mat, Kak…” kata Kirishima datar.

                                             ***

“Pasukan segera amankan wilayah timur! Pasukan pemanah bersiap!” teriak salah seorang Shosa
yang sedang bersiap di wilayah timur. “Kurang ajar! Di saat seperti ini melakukan penyerangan.”

“Siapa mereka? Siapa yang berani menyerang Muranaga!?”

“Bendera hijau dengan lambang ular yang melilit sebuah kastil. Eh? Masa?”

“Tokiosaka! Itu klan Tokiosaka!”

                                             ***

“Kirishima, jangan-jangan kau?” Wakashiki masih kebingungan dengan sikap dingin Kirishima.

“Kenapa? Kau masih belum menyadarinya, Kak Wakashiki?”

“SI-SIALAN!” Wakashiki segera berlari ke gerbang terasnya dan berteriak. “GENZO!
OTOHIRI!”

“Percuma saja, Kak Wakashiki...” Wakashiki menatap Kirishima dengan keringat mengalir
membasahi keningnya. “Genzo dan Otohiri, mereka sudah kubunuh di depan gerbang. Begitu
juga dengan pasukan keamanan yang menjaga tempat ini.”

“K-kau? Kenapa kau lakukan ini!” bentak Kirishima sambil mencabut katananya dari sarung.
“KATAKAN APA MAKSUDMU!!”

“Sederhana, kamu bilang Tokiosaka membutuhkan Muranaga untuk perkembangannya. Dan
inilah jawaban atas kenyataan itu. Aku akan mengambil alih Muranaga dan menggunakannya
untuk memperluas Tokiosaka. Sederhana.”

“SI-SIALAN! Aku kakakmu! Kau bisa membangun Tokiosaka berkat diriku!” bentak
Wakashiki.
“Tentu saja… Dan kini kau sudah tak kubutuhkan lagi, Kak…”

“A-apa kau bilang?”

“Kau akan kubunuh di sini. Dan Muranaga akan jatuh dan melebur ke dalam klan Tokiosaka.”

Kirishima melompat dan berlari ke arah Wakashiki yang masih berdiri diam karena terkejut.
Dicabutnya sebilah katana dari pinggang Kirishima dan menghujamkannya ke jantung
Wakashiki. Darah berhamburan keluar dari tubuh Wakashiki. Wakashiki mati seketika.

Suara teriakan kesakitan dan ketakutan para prajurit yang tengah berperang semakin lama
semakin berkurang. Digantikan oleh jeritan kemenangan. Bendera hijau klan Tokiosaka pun
berkibar dengan gagahnya.

                                             ***

“Kau tahu kenapa aku menyukai shogi, Kirishima?”

“Kenapa, Kak…”

“Bermain shogi membuatku dapat merasakan kenikmatan perang. Hanya dalam shogi, bidak
lawan yang terambil bisa kau jadikan pasukan pendukungmu, dengan kata lain, semua unsur
peperangan terdapat di dalam shogi. Pengorbanan, strategi, pengkhianatan.”

“Seperti itukah kakak membentuk Muranaga yang megah ini?”

“Ya, seperti itu adikku… seperti itu…”



                                         THE END



Vocabulary:

Taisho : Gelar Jenderal Besar

Shosa : Gelar Mayor

Heicho : Gelar Prajurit Kepala Senior

Gocho : Gelar Kopral

Shogi : Permainan Catur Jepang
Gyokusho : Bidak Raja dalam permainan shogi

Keima : Bidak Ksatria dalam permainan shogi

Fuhyo : Bidak Pion dalam permainan shogi

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:27
posted:10/11/2012
language:
pages:6
Description: kumpulan cerita pendek dan Puisi