MAKALAH GEMPA BUMI by YogaSanithemas

VIEWS: 538 PAGES: 13

More Info
									       MAKALAH
        “ GEMPA “




        DISUSUN OLEH :

         KELOMPOK I

        ADELA RETA JAYANTI
        AFRISHA WISNA
        ANDI SAPUTRA
        ANDRI WIJAYA
        ALISYA WULANDARI


         KELAS       : X




PEMERINTAH KABUPATEN KAUR
  DINAS PENDIDIKAN
   SMA NEGERI 4 KAUR
         TAHUN 2010

          Kata Pengantar
     Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. atas rahmat yang diberikannya sehingga
kami bisa menyelesaikan Makalah tentang Bencana Gempa ini.

     Makalah ini kami susun untuk menambah wawasan tentang bencana gempa dalam
kehidupan kita.

     Makalah ini juga kami tulis dalam bahasa yang sederhana dan semoga saja bagi yang
membacanya dapat memahami isi dari makalah yang kami buat ini.

     Apabila makalah ini terdapat kesalahan dan kekurangan, kami mohon kritik dan sarannya
untuk perbaikan di masa yang akan datang. Dan semoga saja makalah ini bermanfaat bagi kita
semua. AMIN.




                                                                    PENULIS




                                       DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL       …………………………………………………………………….                 i


KATA PENGANTAR …………………………………………………………………….                      ii


DAFTAR ISI   ……………………………………………………………………………..                    iii


BAB 1 Pendahuluan
      1.1 Fenomena Gempa Bumi …………………………………………………….             1


BAB 2 Studi Mengenai Gempa Bumi
      2.1 Klasifikasi Gempa Bumi …………………………………………...…………        2
      2.2 Parameter Gempa Bumi ……………………………………………………..           3
      2.3 Zonasi Wilayah Gempa Bumi Indonesia ………………………….…………   3
      2.4 Pengukuran Gempa Bumi         ……………………………………………..     3
      2.5 Studi Mekanik Gempa Bumi dengan Menggunakan GLOBAL
          POSITIONING SYSTEM ( GPS ) ………………………………...…………..      3
      2.6 Prediksi Gempa Bumi     …………………………………………..…………        7
      2.7 Alat Pendeyteksi Gempa Bumi   ………………………………...…………..   7


BAB 3 Penutup
      3.1 Kesimpulan     ………………………………………………………………               9


Daftar Pustaka




                                   BAB 1
                                PENDAHULUAN
1.1.   Fenomena Gempa Bumi

            Gempa bumi merupakan fenomena alam yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua,
       karena seringkali diberitakan adanya suatu wilayah dilanda gempa bumi, baik yang ringan
       maupun yang sangat dahsyat, menelan banyak korban jiwa dan harta, meruntuhkan
       bangunan2 dan fasilitas umum lainnya. Gempa bumi disebabkan oleh adanya pelepasan
       energi regangan elastis batuan pada litosfir.

            Semakin besar energi yang dilepas semakin kuat gempa yang terjadi. Terdapat dua
       teori yang menyatakan proses terjadinya atau asal mula gempa yaitu pergeseran sesar dan
       teori kekenyalan elastis. Gerak tiba2 sepanjang sesar merupakan penyebab yang sering
       terjadi. Klasifikasi gempa bumi secara umum berdasarkan sumber kejadian gempa
       (R.Hoernes, 1878). Setiap bencana alam selalu mengakibatkan penderitaan bagi
       masyarakat, korban jiwa dan harta benda kerap melanda masyarakat yang berada di
       sekitar lokasi bencana .

            Gempa bumi didefinisikan sebagai getaran yang bersifat alamiah, yang terjadi pada
       lokasi tertentu, dan sifatnya tidak berkelanjutan. Getaran pada bumi terjadi akibat dari
       adanya proses pergeseran secara tiba-tiba (sudden slip) pada kerak bumi. Pergeseran
       secara tiba-tiba terjadi karena adanya sumber gaya (force) sebagai penyebabnya, baik
       bersumber dari alam maupun dari bantuan manusia (artificial earthquakes). Selain
       disebabkan oleh sudden slip, getaran pada bumi juga bisa disebabkan oleh gejala lain yang
       sifatnya lebih halus atau berupa getaran kecil-kecil yang sulit dirasakan manusia. Getaran
       tersebut misalnya yang disebabkan oleh lalu-lintas, mobil, kereta api, tiupan angin pada
       pohon dan lain-lain. Getaran seperti ini dikelompokan sebagai mikroseismisitas (getaran
       sangat kecil). Dimana tempat biasa terjadinya gempa bumi alamiah yang cukup besar,
       berdasarkan hasil penelitian, para peneliti kebumian menyimpulkan bahwa hamper 95
       persen lebih gempa bumi terjadi di daerah batas pertemuan antar lempeng yang menyusun
       kerak bumi dan di daerah sesar atau fault.

            Para peneliti kebumian berkesimpulan bahwa penyebab utama terjadinya gempa
       bumi berawal dari adanya gaya pergerakan di dalam interior bumi (gaya konveksi mantel)
       yang menekan kerak bumi (outer layer) yang bersifat rapuh, sehingga ketika kerak bumi
       tidak lagi kuat dalam merespon gaya gerak dari dalam bumi tersebut maka akan membuat
       sesar dan menghasilkan gempa bumi. Akibat gaya gerak dari dalam bumi ini maka kerak
       bumi telah terbagi-bagi menjadi beberapa fragmen yang di sebut lempeng (Plate). Gaya
       gerak penyebab gempa bumi ini selanjutnya disebut gaya sumber tektonik (tectonic
       source).

            Selain sumber tektonik yang menjadi faktor penyebab terjadinya gempa bumi,
       terdapat beberapa sumber lainnya yang dikategorikan sebagai penyebab terjadinya gempa
       bumi, yaitu sumber non-tektonik (non-tectonic source) dan gempa buatan (artificial
       earthquake).

                                            BAB 2
                                  STUDI MENGENAI GEMPA BUMI
2.1.   Klasifikasi Gempa Bumi

            Kejadian bencana alam tidak dapat dicegah dan ditentukan kapan dan dimana
       lokasinya, akan tetapi pencegahan jatuhnya korban akibat bencana ini dapat dilakukan bila
       terdapat cukup pengetahuan mengenai sifat-sifat bencana tersebut.

            Klasifikasi gempa, antara lain:

            A. Berdasarkan penyebabnya :
                 Gempa tektonik, yaitu gempa yang disebabkan oleh pergeseran lapisan
                   batuan pada daerah patahan.
                 Gempa vulkanik,yaitu gempa yang diakibatkan oleh aktivitas vulkanisme.
                 Gempa guguran (gempa runtuhan), yaitu disebabkan oleh runtuhnya bagian
                   gua.
                 Gempa tumbukan, yaitu gempa yang disebabkan oleh meteor besar yang
                   jatuh ke bumi.
            B. Berdasarkan bentuk episentrum :
                 Gempa sentral, yaitu gempa yang episentrumnya titik
                 Gempa linier, yaitu gempa yang episentrumnya garis.
            C. Berdasarkan kedalaman hiposentrum
                 Gempa dalam, yaitu lebih dari 300 km
                 Gempa menengah, yaitu antara 100-300 km
                 Gempa dangkal, yaitu kurang dari 100 km
            D. Berdasarkan jarak episentrum
                 Gempa lokal, yaitu episentrumnya kurang dari 10000 km.
                 Gempa jauh, yaitu episentrumnya sekitar 10000 km.
                 Gempa sangat jauh, yaitu episentrumnya lebih dari 10000 km.




            Data dalam ilmu kebumian selalu berkaitan dengan kedalaman dan ketebalan. Oleh
       karena itu, seorang ahli ilmu kebumian harus mempunyai kemampuan untuk menentukan
       kedalaman dan ketebalan. Kedalaman sendiri sebebarnya adalah lokasi sebuah titik, yang
       diukur secara vertikal terhadap ketinggian titik acuan. Dalam ilmu Geofisika misalnya.
       Dikenal klasifikasi gempa berdasarkan kedalaman. Menurut Fowler, 1990, klasifikasi gempa
       berdasarkan kedalaman fokus adalah :

       1.   Gempa dangkal : kedalaman fokus gempa kurang dari 70 km
       2.   2.Gempa sedang : kedalamanan fokus gempa kurang dari 300 km
       3.   Gempa dalam : kedalaman fokus gempa lebih dari 300 km (kadang-kadang lebih dari
            450 km)

            Seperti halnya kedalaman, kemampuan untuk menentukan ketebalan juga sangat
       diperlukan dalam ilmu kebumian. Dengan mengetahui cara menghitung ketebalan, ahli
       kebumian bisa menyelidiki ketebalan lapisan-lapisan penyusun bumi sehingga kita bisa
       mengetahui bahwa ketebalan kerak bumi mencapai 100 km, ketebalan matel adalah sekitar
       2900 km, liquid outercore sekitar 2200 km, dan solid inner core sekitar 1250 km.

             Analisis geometri akifer (aquifer : lapisan yang dapat menyimpan dan mengalirkan air
       dalam jumlah yang ekonomis. Contoh : pasir, kerikil, batupasir, batugamping rekahan.) juga
       melibatkan analisis kedalaman dan ketebalan.

             Selain klasifikasi gempa di atas dikenal juga gempa laut, yaitu gempa yang
       episentrumnya terdapat di bawah permukan laut. Gempa ini menyebabkan terjadinya
       gelombang pasang yang dahsyat, disebut tsunami.

             Seismograf adalah alat pencatat gempa, sedang seismogram adalah rekaman atau
       hasil catatan seismograf.

2.2.   Parameter - Parameter Gempa Bumi
       a. Gelombang Gempa bumi

                 Secara sederhana dapat diartikan sebagai merambatnya energi dari pusat
          gempa atau hiposentrum (fokus) ke tempat lain di bumi. Gelombang ini terdiri dari
          gelombang badan dan gelombang permukaan. Gelombang badan adalah gelombang
          gempa yang dapat merambat di lapisan bumi, sedangkan gelombang permukaan adalah
          gelombang gempa yang merambat dipermukaanbumi.

       b. Ukuran besar Gempa bumi

                 Magnitudo gempa merupakan karakteristik gempa yang berhubungan dengan
          jumlah energi total seismic yang dilepaskan sumber gempa. Magnitude ialah skala
          besaran gempa pada sumbernya. Jenis-magnitude/ besaran gempa bumi. Magnitude
          gelombang badan, mb, ditentukan berdasarkan jumlah total energi gelombang elastis
          yang ditransfer dalam bentuk gelombang P dan S Magnitude gelombang permukaan: Ms
          ditentukan berdasarkan berdasarkan jumlah total energi gelombang love (L) dan
          gelombang Rayleigh (R) dengan asumsi hyposenter dangkal (30 km) dan amplitude
          maksimum terjadi pada periode 20 detik.

                 Moment gempa seismic moment : Mo merupakan skala yang menentukan
          magnitude suatu gempa bumi menurut momen gempa, sehingga dapat merupakan
          gambaran deformasi yang disebabkan oleh suatu gempa.

       c. Intensitas

                 Intensitas adalah besaran yang dipakai untuk mengukur suatu gempa selain
          dengan magnitude. Intensitas dapat didefenisikan sebagai suatu besarnya kerusakan
          disuatu tempat akibat gempa bumi yang diukur berdasarkan kerusakan yang terjadi.

                 Harga intensitas merupakan fungsi dari magnitude.jarak ke episenter, lama
          getaran, kedalaman gempa, kondisi tanah dan keadaan bangunan. Skala Intensitas
          Modifikasi Mercalli (MMI) merupakan skala intensitas yang lebih umum dipakai.

                 Dibawah ini akan diuraikan pembagian intensitas serta efek yang diakibatkan
          oleh besarnya intensitas tersebut dan nilai intensitas dalam satuan skala richter.
2.3.   Zonasi Wilayah Gempa Bumi Indonesia

                Berdasarkan sejarah kekuatan sumber gempa, aktifitas gempa bumi di Indonesia
         bisa dibagi dalam 6 daerah aktifitas :

                Daerah sangat aktif, magnitude lebih dari 8 mungkin terjadi di daerah ini yaitu di
         Halmahera, pantai utara Irian.

                1.    Daerah aktif, magnitude 8 mungkin terjadi dan magnitude 7 sering terjadi
                      yaitu di lepas pantai barat Sumatra, kepulauan Sunda dan Sulawesi tengah.
                2.    Daerah Lipatan dengan atau tanpa retakan, magnitude kurang dari tujuh bisa
                      terjadi yaitu di Sumatra, kepulauan Sunda, Sulawesi tengah.
                3.    Daerah lipatan dengan atau tanpa retakan, magnitude kurang dari 7 mungkin
                      terjadi, yaitu di pantai barat Sumatra, jawa bagian utara, Kalimantan bagian
                      timur.
                4.    Daerah gempa kecil, magnitude kurang dari 5 jarang terjadi, yaitu di daerah
                      pantai timur Sumatra, Kalimantan tengah
                5.    Daerah stabil, tak ada catatan sejarah gempa, yaitu daerah pantai selatan
                      Irian,Kalimantanbagianbarat.
2.4.   Pengukuran Gempa Bumi

                Aktifitas kerak bumi dapat diukur dengan berbagai cara yaitu :

                     Seismometer, pendeteksi getaran bumi
                     Scintilation Counter, pengukur gas radon yg aktif
                     Tiltmeter, pengukur pengangkatan atau penurunan permukaan bumi
                     Magnetometer, pengukur perubahan local medan magnit bumi
                     Pengukuran geodesi, baik dengan penggunaan GPS maupun Theodolit yg
                      digunakan untuk mengukur perubahan titik-titik triangulasi suatu patahan
                     Alat-alat laser, pengukur round trip travel time
                     Resistivity gauge, digunakan untuk mengungkapkan variasi konduktivitas
                      batuan
                     Creep meter, alat untuk mengukur gerak horizontal semua patahan
                     Gravimeter, pengukur gaya berat bumi
                     St raimeter, pengukur ekspansi dan konstraksi kerak bumi.


2.5.   Studi Mekanik Gempa Bumi Dengan menggunakan Global Positioning

       System (GPS)

                Dengan adanya fakta, maka langkah pemantauan potensi dan usaha mitigasi
         bencana jelas penting sekali untuk dilakukan, sehingga diharapkan efek negatif yang
         dapat ditinggalkan oleh bencana tersebut dapat direduksi.

                Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pemantauan potensi dan
         mitigasi bencana alam gempa bumi yaitu melalui penelitian serta analisis mekanisme
         siklus dan tahapan gempa bumi. Siklus gempa bumi (earthquake cycle) didefinisikan
  sebagai perulangan gempa. Satu siklus dari gempa bumi ini biasanya berlangsung
  dalam kurun waktu puluhan sampai ratusan tahun.

          Dalam satu siklus gempa bumi terdapat beberapa mekanisme tahapan terjadinya
  gempa bumi, diantaranya yaitu tahapan interseismic, pre-seismic, co-seismic, dan post-
  seismic [Mori (2004), Vigny (2004), Ando (2005), Natawidjaja (2004)]

          Bentuk analisis siklus gempa bumi dilakukan dengan cara meneliti dokumen
  sejarah kejadian gempa bumi, dan penelitian-penelitian geologi, geofisika seperti
  stratigrafi batuan, terumbu karang (coral microattols), paleo-tsunami, paleo-likuifaksi, dan
  lain-lain. Sementara itu bentuk analisis tahapan gempa bumi dilakukan dengan cara
  melihat dan meneliti fenomena-fenomena yang menyertai tahapan gempa bumi seperti
  deformasi, seismisitas, informasi pengukuran geofisika (reseistivitas elektik, pengamatan
  muka dan temperature air tanah), dan lain-lain. [Mori (2004), Vigny (2004; 2005), Ando
  (2005), Natawidjaja (2004)].

Studi Mekanisme Gempa Bumi Aceh 2004 dengan GPS.

          Untuk melihat mekanisme dari gempa bumi Aceh 2004 dapat dilakukan salah
  satunya dengan memanfaatkan teknologi Global Positioning System (GPS). Data GPS
  dapat dengan baik melihat deformasi yang mengiringi tahapan mekanisme terjadinya
  Gempa Bumi. Studi mengenai tahapan mekanisme gempa ini akan sangat berguna
  dalam melakukan evaluasi potensi Bencana Alam gempa bumi, untuk memperbaiki
  upaya mitigasi dimasa datang.

          Data GPS yang digunakan dalam penelitian mekanisme gempa Aceh ini
  diantaranya yaitu data GPS hasil dari program SEAMERGES yang telah mengumpulkan
  data-data GPS dari lebih 60 stasiun titik pengamatan yang berkaitan dengan pergerakan
  lempeng di Asia Tenggara dan data-data GPS yang berkaitan dengan gempa Aceh 2004
  dan Gempa Nias 2005. Sebagian data berupa data kontinyu, dan sebagian lagi berupa
  data campaign. Kemudian pada bulan Februari dan Maret 2005, ITB bekerjasama
  dengan Nagoya Univerisity, BPPT, LIPI, dan Universitas Syiah Kuala mengadakan
  kerjasama penelitian Near field co-seismic dan post-seismic gempa yang terjadi di Aceh,
  dan Near Field co-sesimic gempa Nias dengan menggunakan teknologi GPS. Pekerjaan
  survai dilakukan masing-masing selama kurang lebih 10 hari dengan memantau titik-titik
  benchmark yang dulu di bangun oleh BPN dan BAKOSURTANAL. Selain itu pada survei
  lapangan juga di pasang titik-titik baru guna pemantauan pergerakan tanah di sekitar
  Aceh pasca gempa bumi 2004. Di bawah ini diberikan foto-foto yang diambil dari
  kegiatan survey lapangan di daerah Lok Nga di Pantai Barat Aceh, dan Sigli di pantai
  Utara Aceh.

Analisis tahapan Interseismic

          Dari hasil pengolahan data interseismic dapat disimpulkan bahwa akumulasi
  deformasi pada tahapan interseismic di sekitar wilayah Aceh ternyata cukup besar
  sebelum terjadinya gempa bumi di akhir tahun 2004, dan apabila kita sebelumnya
  menyadari akan hal tersebut maka bukan tidak mungkin kita dapat melakukan bentuk
  mitigasi bencana yang lebih baik lagi.
       Kemudian apabila kita tengok hasil pemodelan block rotation (solusi geodessya
1999 dalam vigny 2005) di daerah Sumatera, kita bisa melihat indikasi deformasi yang
cukup besar di daerah Sumatera bagian utara apabila dibandingkan dengan bagian
selatan-nya. Indikasi “high” deformasi dimungkinkan karena terdapatnya area wide
coupling di sekitar zona subduksi tersebut. Area wide coupling ini dimungkinkan oleh
pola sudut kemiringan dangkal yang menyusun zona subduksi Sumatera bagian utara.
Sementara itu makin ke selatan sudut kemiringan-nya membesar.

       Analisis tahapan Pre-seismic Pengolahan data pre-seismic signal, dilakukan
dengan menggunakan data GPS kontinyu yang terletak di daerah paling dekat dengan
episenter gempa, yaitu GPS di stasiun Sampali Sumatera Utara, dan stasiun Phuket
Thailand. Sinyal yang dicoba dilihat adalah sinyal pre-seismic deformasi, dan
karakteristik ionosfer pada gempa Aceh 2004. Berdasarkan hasil penelitian pre-seismic
signal deformasi dari gempa Aceh- 2004 ternyata tidak ditemukan adanya bentuk
anomali deformasi berupa akselerasi deformasi. Hasil pengolahan data GPS daily
solution di stasiun Sampali selama 15 hari sebelum terjadinya gempa di Aceh tidak
menunjukkan adanya akselerasi deformasi. Kumpulan nilai koordinat daily solution
hanya berubah dalam fraksi mili saja. Sementara itu hasil pengolahan data GPS daily
solution di stasiun Phuket selama 15 hari sebelum terjadinya gempa di Aceh juga tidak
menunjukkan adanya akselerasi deformasi. Kumpulan nilai koordinat daily solution di titik
Phuket juga hanya berubah dalam fraksi mili saja. Berbeda halnya kalau kita lihat hasil
pengolahan data 15 hari setelah gempa di titik Sampali dan Phuket, masing-masing
dengan jelas menunjukkan sinyal deformasi post-seismic.

       Analisis tahapan Coseismic Berdasarkan hasil perhitungan, besarnya co-seismic
deformation akibat gempa Aceh 2004 di beberapa titik pantau near field adalah sebagai
berikut: titik Banda Aceh terdeformasi 2.4 meter, titik pulau Sabang telah terdeformasi
1.8 meter, Sigli mengalami deformasi 70 centimeter, titik Meulaboh terdeformasi 1.9
meter dan Lok Nga terdeformasi sebesar 2.7 meter. Sementara itu co-seismic
deformation di beberapa titik pantau far field adalah      sebagai berikut: titik Phuket
Thailand terdeformasi sebesar 27 sentimeter, titik Langkawi Malaysia terdeformasi
sebesar 17 sentimeter, dan titik Sampali Sumatera Utara terdeformasi 15 sentimeter.

       Dari hasil co-seismic deformation gempa Aceh 2004, kita kemudian membuat
model co-seismic slip (pergeseran pada bidang sesar) dengan menggunakan formula
elastic half space modeling (Okada 1999). Input parameter utama yaitu vektor co-
seismic deformation, parameter sekundernya diantaranya konstanta rigiditas, kemudian
beberapa parameter untuk pendekatan model (apriori model) yaitu geometri bidang
sesar (panjang dan lebar bidang sesar), serta informasi sudut kemiringan bidang sesar.
Pendekatan nilai sudut kemiringan diperoleh dari plotting vertikal gempa susulan
(aftershock).

       Informasi co-seismic slip gempa Aceh yang dibuat, dapat digunakan dalam
melihat mekanisme release energi, kemudian perhitungan besar energi, serta
mekanisme transfer energy (stress transfer) yang berguna dalam hal evaluasi potensi
gempa.
                   Analisis Post-Seismic Post-seismic pada gempa Aceh 2004 dimulai tepat setelah
            berakhirnya deformasi elastis pada tahapan co-seismic. Nilai deformasi bertambah
            sebesar 4 sentimeter dalam kurun waktu 15 hari di stasiun PHKT (Phuket Thailand).

                   Rekaman sinyal post-seismic menunjukan pola eksponensial sesuai dengan
            hukum omori mengenai tahapan ini. Nilai deformasi di stasiun PHKT (Phuket

                   Thailand) setelah 50 hari dari waktu kejadian gempa mencapai 34 cm, dan nilai
            ini cukup signifikan, mencapai 1.25 kali nilai deformasi yang diberikan tahapan co-
            seismic. Sementara itu stasiun GPS yang dipasang kontinyu di Universitas Syah Kuala
            Banda Aceh menunjukkan nilai deformasi post-seismic sebesar 15 sentimeter setelah 90
            hari pengamatan. Deformasi post-seismic ini dapat terjadi bertahun-tahun lamanya.

                   Seperti telah disebutkan di atas bahwa studi mengenai tahapan mekanisme
            gempa ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi potensi Bencana

                   Alam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasi di masa datang. Setelah
            melihat mekanisme fase gempa bumi di Aceh 26 Desember 2004. ditambah dengan
            informasi penelitian siklus gempa bumi lainnya, maka kita dapat melakukan evaluasi
            potensi gempa bumi di masa yang akan datang di sekitar zona subduksi Sumatera
            pasca terjadinya gempa besar tersebut.

2.6.   Prediksi Gempa Bumi

       Prediksi dengan peralatan dan metode ilmiah

        Pengetahuan tentang zona seismic dan daerah beresiko yang dipelajari lewat studi
            dampak historis dan lempeng tektonik
        Memonitor aktifitas seismikdengan menggunakan seismogram dan instrument lain
        Menggunakan observasi ilmiah
        Memonitor tingkat seismic global.
2.7.   Alat pendeteksi gempa Bumi
       1.    Earth Queke Alarm

                   Alarm ini merupakan alat peringatan/penanda adanya getaran (gempa) bumi
             dengan cara mendeteksi kedatangan gelombang seismik P-Wave sebelum kedatangan
             S-Wave dan Surface Wave (Q-wave Page 14 dan R-wave) yang berbahaya dan
             bersifat merusak, kemudian memicu alarm sebagai peringatan tanda bahaya. Dengan
             auto-reset speaker alarm yang sangat nyaring, mampu membangunkan orang yang
             sedang tidur sehingga mendapatkan kesadarannya untuk cepat tanggap/bereaksi dan
             segera berlindung ke tempat yang aman sebelum gelombang seismik yang merusak
             datang.

                   Alat ini mendeteksi P-wave menggunakan Tabung Sensor SMST. Ini sangat
            compact dan portable. Casing-nya sangat kokoh dengan permukaan casing belakang
            yang simetris, menjamin kesimetrisan posisi pada dinding bagi kesempurnaan dan
            keakuratan penerimaan resonansi gelombang seismik.
              Tempat pemasangan dapat dipindah-pindahkan sesuai keinginan. Cocok
     dipasang pada semua jenis gedung (bertingkat maupun tidak), baik untuk fasilitas umum
     atau rumah pribadi. Alat ini bersifat maintenance-free, bebas perawatan. Baterainya
     mampu bertahan hingga 12 bulan dan mudah untuk diganti, dilengkapi tombol battery-
     check. Alarm ini menggunakan sensor part teknologi berstandar internasional yang
     berkualitas tinggi yang support untuk mendeteksi semua jenis gempa.

2.    Jam Pendeteksi Gempa

              Bagi negara yang posisinya di antara lempeng bumi, seperti Jepang, gempa bumi
     merupakan suatu gangguan yang hampir setiap hari terjadi. Untuk itu, diperlukan sistem
     peringatan dini yang bisa diakses semua orang sebelum gempa terjadi. Citizen,
     produsen jam asal Jepang, menangkap peluang ini dengan menciptakan Seismic Watch.
     peranti tersebut merupakan alat deteksi gempa bumi berbentuk jam tangan dan jam
     dinding analog. Didalamnya, terdapat receiver EEW (early earthquake warning). EEW
     merupakan sinyal early warning system gempa bumi yang telah lama diterapkan di
     Jepang. Sistem sinyal itu dikelola Lembaga      Meteorologi Nasional. Sinyal tersebut
     dipancarkan oleh lebih dari seratus stasiun pemantau gempa yang tersebar di seluruh
     negara tersebut. Dalam keadaan normal, Seismic Watch berfungsi layaknya jam tangan
     biasa.

              Namun, ketika tiba-tiba menangkap sinyal EEW, ia akan langsung menghitung
     besarnya gempa dan interval waktu hingga gempa datang. Perhitungan ini berdasar data
     lokasi di mana jam sedang dipakai pemiliknya. Setelah menghitung, jam langsung
     memperingatkan pemiliknya lewat bunyi alarm dan getaran. Putaran jarum jamnya akan
     makin cepat sesuai dengan intensitas perkiraan gempa. Sementara itu, jarum menit dan
     jarum detiknya akan memulai countdown hingga gempa benar-benar tiba.




                                        BAB 3
                                       PENUTUP
3.1.   Kesimpulan

             Gempa Bumi merupakan fenomena alam yang sudah tidak asing lagi, tidak dapat
       dicegah dan ditentukan dimana lokasinya. Untuk melihat mekanisme dari gempa bumi
       dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi Global Positioning System ( GPS ). Data
       GPS dapat dengan baik melihat deformasi yang mengiringi tahapan mekanisme terjadinya
       gempa bumi.

             Studi mengenai tahapan mekanisme gempa bumi ini akan sangat berguna dalam
       melakukan evaluasi potensi bencana alam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasi
       dimasa depan.




                                    DAFTAR PUSTAKA
http://http://www.pirba.ristek.go.id/det.php?id=4

http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1030986000&34

http://http://72.14.235.104/search?q=cache:B5UgCE2vrygJ:jurnalsipil

ukm.tripod.com/v2n2_2theo_ari.pdf+ketebalan+inner+core&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id

								
To top