Docstoc

Gambaran umum

Document Sample
Gambaran umum Powered By Docstoc
					Gambaran umum
Greeneration banyak dicanangkan di berbagai
negara maju seperti USA, Jepang, Inggris, China,
Australia,    dan     juga   Indonesia.    Alasan
dicanangkannya       hal   ini   adalah     untuk
menindaklanjuti dampak dari pemanasan global
yang semakin memperparah keadaan lingkungan
di permukaan bumi. Sesuai dengan rangkuman
dari isi perjanjian Kyoto maka sudah sewajibnya
kita sebagai generasi yang hidup di atas bumi ini
dapat menjaga dan memelihara keseimbangan
alam lingkangan hidup kita. Semuanya demi
kebaikan bersama dan demi masa depan yang
lebih baik.
Berbagai aksi para Greeneration dalam rangka
perbaikan infrastruktur kota yang dikenal dengan
Green Inrastructure adalah :
1.Program pavingisasi jalan di dalam kota guna
memperlancar perembesan air permukaan ke
bawah tanah.
2.Pembangunan Real Estate yang 35% dari
kawasannya dijadikan kawasan hijau dengan
membuat taman maupun kawasan agrowisata.
3.Penghijauan di kawasan perkotaan dengan
menanami pohon disepinggir jalan ataupun
memperluas kawasan hutan kota dan ruang
terbuka hijau.
4.Membuat Raingardens di halaman rumah
pribadi.
5.Menggalakan hari bebas kendaraan bermotor
dan hari tanpa listrik untuk penghematan energy
dan meminimalisasikan polusi udara.
6.Membuat rumah/banguna ramah lingkungan
yang menjadikan atap rumahnya sebagai taman
tadah hujan (Green Roofs).
7.Membuat Greenways di tengah kota sebagai
sarana rekreasi dan refreshing masyarakatnya.
8.Penggunaan lampu lalu lintas bertenanga
cahaya matahari.
9.Penggalakan program tanam seribu pohon di
lingkungan yang tercemar atau gersang.
10.Pencanangan Green Policy sebagai langkah
pemeliharaan lingkungan hijau, dll.
Dari berbagai aksi Greeneration di atas
menimbulkan banyak dampak positif bagi
perbaikan     lingkungan     kota   dan      wilayah
sekitarnya. Sebenarnya masih banyak lagi contoh
aksinya dan hal-hal yang disebutkan di atas
merupan beberapa contohnya saja. Hal tersebut
merupakan jaminan bahwa greeneration akan
membawa keuntungan bagi habitat maupun
ekosistem di lingkungan yang diperbaiki.
“Penerapan        infrastruktur     hijau      perlu
memerhatikan           prinsip-prinsip         dasar
pembangunan berbasi lingkungan agar tercapai
berbagai fungsi ekologis yang diembannya untuk
menjaga keseimbangan ekosistem. Hal ini sesuai
gagasan utama KTT Bumi dan Konferensi
Perubahan Iklim, yaitu adanya ”kebutuhan” dan
”keterbatasan”.       Keterhubungan       (linkages)
antarkawasan RTH dengan jalur dan koridor
hijau     merupakan        kunci     keberhasilan
infrastruktur hijau kota. Keterhubungan antar-
ruang hijau, baik area maupun jalur hijau,
merupakan      strategi   dalam    menanggulangi
degradasi lingkungan kota, seperti banjir, rob,
longsor, krisis air tanah, pemanasan lingkungan
kota, meningkatnya pencemaran udara, rusaknya
habitat satwa liar, dan kerusakan lingkungan
lainnya,”(Joga, Nirwono. 2010)
Infrastruktur hijau harus diintegrasikan dengan
rencana pembangunan infrastruktur kota, seperti
pembangunan jalan, drainase, dan prasarana lain,
termasuk keterkaitan dengan infrastruktur
antarkota pada skala wilayah, metropolitan,
ataupun megalopolitan. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa seluruh aksi Greeneration
berkaitan erat dengan Green Infrastructure yang
merupakan         langkah      terbaik     untuk
menyelamatkan kehidupan di bumi ini untuk
sekarang dan masa yang akan datang.




Diposkan oleh Greeneration for future di 19:36 0 komentar   Link ke posting ini

Reaksi:
Definisi
Greeneration merupakan suatu terobosan baru yang
dicanangkan oleh para generasi muda peduli lingkungan
untuk membuat hidup menjadi lebih baik dengan
mencintai lingkungan hijau dan memerangiglobal
warming. Sebenarnya Greeneration merupakan gabungan
atas kata Green danGeneration. Seperti yang diketahui
bahwa Greenartinya adalah hijau yang identik dengan
flora danGeneration berarti generasi, dari pengertian
terpisah berikut dapat kita simpulkan bahwa Greeneration
merupakan sebuah generasi pecinta lingkungan hijau.
Aksi Greeneration ini tidak      hanya dilakukan dan
ditampilkan secara karya tulis ilmiah belaka namun juga
terdapat aksi yang berkontak langsung dengan alam dan
lingkungannya. Sebenarnya banyak sekali contoh
aksi greeneration ini namun yang lebih ditekankan dalam
penyusunan tugas besar ini merupakan contoh
aksi greeneration yang      berhubungan    dengan green
infrastructure. Seperti yang diketahui bahwa green
infrastructuremerupakan        pembangunan      berbasis
lingkungan. Dalam panduan penataan dan perancangan
suatu wilayah dan kota selalu mengutamakan
pembangunan yang ramah lingkungan. Walaupun pada
kenyataannya masih banyak oknum-oknum yang tidak
bertanggung jawab yang mengesampingkan hal tersbut.
Akibatnya semakin marak pembangunan infrastruktur
yang memenuhi ruang kota tersebut sehingga menggusur
lingkungan hijau yang seharusnya menjadi sarana
resapan air dan CO2 dan juga tempat rekreasi
danrefreshing bagi masyrakat penghuni kota tersebut.
Green Infrastructure adalah suatu jaringan atau sarana
yang behubungan dengan free space, pedestrian walk,
bandara, pelabuhan, pabrik, sekolah, perkantoran, taman
kota, dll. Sedangkan yang berhubungan dengan Green
Infrastructure adalah seperti greenways, wetlands, tempat
parkir, hutan konservasi, kawasan habitat liar, hutan kota
dan suatu kawasan agro yang ditami berbagai macam
tumbuh-tumbuhan       ,   yang    dapat     secara      alami
mengatur stormwater, mengurangi resiko penggenangan
dan meningkatkan mutu air bawah tanah. Infrastruktur
hijau pada umumnya menghabiskan biaya lebih sedikit
untuk membangunnya dan memelihara dibandingkan
infrastruktur modern biasa. Proyek pembangunan
infrastruktur yang hijau juga membantu perkembangan
keterpaduan masyarakat dalam aksi peduli lingkungan
dengan       melibatkan    semua      masyrakat        dalam
perencanaan,      pengembangan       dan      pemeliharaan
lingkungan hijau di sekitar mereka.atau ruang terbuka dan area
alami. Infrastruktur sendiri merupakan sarana yang disediakan guna
menfasilitasi berbagai kegiatan fisik yang dilakukan oleh masyarakat.
Contoh dari infrasruktur tersebut seperti jalan raya, jembatan
penyebrangan
Dengan adanya Greeneration ini diharapkan daratan
tempat kita berpijak di bumi ini serta lingkungan sekitarnya
akan menjadi lebih baik terkonservasi dan dapat lebih
bersahabat dengan kita tanpa menimbulkan bencana.
Oleh karena itu para remaja putra dan putri yang ingin
hidup di lingkungan yang lebih baik dan sehat maka
jadilahFollowers Greeneration ini, tunjukan aksi peduli
lingkunganmu, buatlah inovasi-inovasi baru terutama yang
berkaitan    dengan green       infrastructure dan   raihlah
gelar Green Ranger(Pahlawan Lingkungan) sebagai
penghargaan dedikasi dan inovasi kamu untuk
melestarikan lingkungan hijau.




Diposkan oleh Greeneration for future di 19:17 0 komentar
http://greenerationforfuture.blogspot.com/2010_05_01_archive.html
Kamis, 19 April 2012

  Arsitektur Hijau
  ARSITEKTUR HIJAU
  Arsitektur hijau adalah suatu pendekatan perencanaan bangunan yang berusaha untuk
  meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan
  lingkungan. Untuk pemahaman dasar arsitektur hijau yang berkelanjutan, meliputi di
  antaranya lansekap, interior, dan segi arsitekturnya menjadi satu kesatuan. Dalam
  contoh kecil, arsitektur hijau bisa juga diterapkan di sekitar lingkungan kita.




                                                                Misalnya, dalam perhitungan
  kasar, jika luas rumah adalah 100 meter persegi, dengan pemakaian lahan untuk bangunan
  adalah 60 meter persegi, maka sisa 40 meter persegi lahan hijau, Jadi komposisinya adalah
  60:40. Selain itu membuat atap dan dinding menjadi konsep roof garden dan green wall.
  Dinding bukan sekadar beton atau batu alam, melainkan dapat ditumbuhi tanaman merambat.
  Selain itu, tujuan pokok arsitektur hijau adalah menciptakan eco desain, arsitektur ramah
  lingkungan, arsitektur alami, dan pembangunan berkelanjutan.

  Selain itu, arsitektur hijau diterapkan dengan meningkatkan efisiensi pemakaian energi, air dan
  pemakaian bahan-bahan yang mereduksi dampak bangunan terhadap kesehatan. Arsitektur
  hijau juga dapat direncanakan melalui tata letak, konstruksi, operasi dan pemeliharaan
  bangunan.

  PENGELOLAAN AIR
  Dalam perencanaan sebuah bangunan, seorang arsitek selalu dihadapkan pada masalah
  pengolahan air. Air hujan adalah salah satu yang perlu manajemen yang baik supaya tidak
  mengganggu kenyamanan hidup kita. Air hujan jamaknya dialirkan melalui saluran-saluran
  (vertikal maupun horizontal) yang ada di dalam lahan sebelum diteruskan ke sistem drainase
  kota. Pengaliran dengan mengandalkan sistem drainae kota ini terbukti sudah tidak efektif
  dalam mengelola air hujan.
Banjir besar di Jakarta tahun 2002 dan 2007 adalah bukti betapa lemahnya sistem drainase
kota menghadapi air hujan. Terlepas dari tingginya curah hujan, sistem drainae kebanyakan
kota di Indonesia memang sudah tidak memadai karena semrawutnya tata ruang. Selain itu,
kebiasaan hidup masyarakat membuang sampah ke sungai dan tinggal di bantaran kali juga
menyebabkan kurang berartinya sistem drainase dalam menghadapi limpahan air hujan.




                                                         Salah satu alternatif pengolahan air
hujan adalah menggunakan lubang resapan biopori ditemukan oleh Ir. Kamir R. Brata, Msc,
seorang Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB). Resapan biopori meningkatkan daya resapan air
hujan dengan memanfaatkan peran aktifitas fauna tanah dan akar tanaman.Lubang resapan
biopori adalah lubang silindris berdiameter 10-30 cm yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah
dengan kedalaman sekitar 100 cm. Dalam kasus tanah dengan permukaan air tanah dangkal,
lubang biopori dibuat tidak sampai melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang kemudian diisi
dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori.
                                                   Biopori adalah pori-pori berbentuk lubang
(terowongan kecil) yang dibuat oleh aktifitas fauna tanah atau akar tanaman. Kehadiran
terowongan/lubang-lubang biopori kecil tersebut secara langsung akan menambah bidang
resapan air. Sebagai contoh, bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm dan dengan kedalaman
100 cm, maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3140 cm² atau hampir 1/3 m².

Sementara, suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula
mempunyai bidang resapan 78.5 cm² setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman
100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3.218 cm². Lubang biopori disebar dalam jarak
tertentu sesuai dengan luas lahan yang hendak dicover. Selain itu, biopori juga bisa diterapkan
diselokan yang seluruhnya tertutup semen. Dibutuhkan dua sampai tiga kilogram sampah lapuk
untuk sebuah lubang biopori.

Agar orang yang menginjaknya tidak terperosok, lubang ditutup dengan kawat jaring. Selain
memperbesar bidang resapan melalui aktivitas organisme tanah, lubang resapan biopori juga
memiliki dapat mengubah sampah organik menjadi kompos. Lubang resapan biopori
"diaktifkan" dengan memberikan sampah organik didalamnya.

Sampah inilah yang akan menjadi sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan
kegiatan melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekompoisi ini dikenal sebagai
kompos. Melalui proses seperti itu maka lubang resapan biopori akan berfungsi sekaligus
sebagai "pabrik" pembuat kompos. Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan
dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman. Sampai saat ini
belum ditemukan apa yang menjadi kelemahan lubang biopori. Sampah organik yang ada pada
lubang biopori dirasa tidak akan mengganggu karena cepat diuraikan.

Sampah akan sulit diuraikan jika lubang resapan terlalu besar dan tidak disebar. Karena itu
sampah harus disebarkan, jangan hanya berada disatu tempat. Hasilnya itu juga bisa dijadikan
kompos. Memakai lubang resapan biopori adalah tampaknya merupakan langkah yang bijak
dalam merencanakan sebuah lingkungan binaan. Arsitek sebagai perencana seyogyanya tidak
hanya memikirkan kepentingan bangunan yang dirancangannya, tetapi juga memikirkan
bagaimana rancangannya itu dapat mandiri dan tidak menambah beban sistem drainase kota.




                                                            ECO ROOF
Di kawasan kota yang telanjur padat, memperoleh lahan terbuka bukanlah soal mudah. DKI
Jakarta dengan lahan seluas 66.126 hektar dan ruang hijau 9 persen atau 5.951 hektar, perlu
membebaskan sekitar 13.000 hektar lahan bila ingin memenuhi patokan lazim 30 persen lahan
terbuka hijau. Jepang juga menghadapi persoalan sama. Sejak abad ke-17, sifat land hungry
(lapar lahan) dalam praktik mengonsumsi lahan perkotaan telah menyebabkan tampilan kota di
Jepang tak jauh berbeda dari kota besar Asia lainnya.

Karena lahan perkotaan telah telanjur disesaki bangunan, maka sasaran perolehan sel-sel hijau
daun beralih pada hamparan atap datar gedung-gedung yang justru lebih banyak dibanjiri
cahaya matahari. Sebenarnya gerakan atap hijau telah muncul di Jepang sejak awal abad ke-
20 melalui konsep eco-roof, tetapi sifat pengembangannya masih ekstensif.
                                                           Atap hijau jenis ini ditandai
struktur atap beton konvensional dengan biaya dan perawatan taman relatif murah karena
penghijauan atap hanya mengandalkan tanaman perdu dengan lapisan tanah tipis. Ketika
Jepang semakin ketat menjaga lingkungan melalui pemberlakuan berbagai tolok ukur bangunan
ramah lingkungan, para perancang mulai berpacu mencari solusi cerdas dalam memanfaatkan
bidang datar atap bangunan.

Salah satunya adalah intensifikasi taman atap, atau upaya memadukan sistem bangunan
dengan sistem penghijauan atap sehingga dapat diciptakan taman melayang (sky garden).
Berbeda dengan atap hijau ekstensif yang hanya menghasilkan taman pasif, atap hijau intensif
dapat berperan sebagai taman aktif sebagaimana taman di darat.

Dengan lapisan tanah mencapai kedalaman hingga dua meter, atap hijau intensif mensyaratkan
struktur bangunan khusus dan perawatan tanaman cukup rumit. Jenis tanaman tidak hanya
sebatas tanaman perdu, tetapi juga pohon besar sehingga mampu menghadirkan satu
kesatuan ekosistem. Walaupun investasi yang dibutuhkan untuk membuat atap hijau cukup
tinggi, bukan berarti upaya peduli lingkungan ini bertentangan dengan semangat mengejar
keuntungan ekonomi, terbukti kini banyak fasilitas komersial yang menerapkan konsep atap
hijau intensif. Salah satu di antaranya adalah Namba Park, sebuah mal gaya hidup di pusat
kota Osaka.

Manfaat atap hijau bukan hanya sebatas peningkatan nilai estetika dan penghematan energi,
pengurangan gas rumah kaca, peningkatan kesehatan, pemanfaatan air hujan, serta penurunan
insulasi panas, suara dan getaran, tetapi juga penyediaan wahana titik temu arsitektur dengan
jaringan biotop lokal. Perannya sebagai "batu loncatan" menjembatani bangunan dengan
habitat alam yang lebih luas seperti taman kota atau area hijau kota lainnya.
                                                           ARSITEKTUR HIJAU DIRUMAH
KITA
Desain rumah yang green architecture bisa diterapkan dirumah kita. Sebagai sebuah kesatuan
antara arsitektur bangunan rumah dan taman tentu harus selaras. Untuk mendekatkan diri
dengan alam, fungsi ruang dalam rumah ditarik keluar. Ruang tamu di taman teras depan,
ruang makan dan ruang keluarga ditarik ke taman belakang atau ke taman samping, atau
kamar mandi semi terbuka di taman samping. Sebaliknya, fungsi ruang keluar menerus ke
dalam ruang. Ruang tamu atau ruang keluarga hingga dapur menyatu secara fisik dan visual.
Rumah dan taman mensyaratkan hemat bahan efisien, praktis, ringan, tapi kokoh dan
berteknologi tinggi, tanpa mengurangi kualitas bangunan.

Arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter lebih baik,
dapur bersih, desain hemat energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai
kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih.
Keterbukaan ruang-ruang dalam rumah yang mengalir dinamis. Ketinggian lantai yang
cenderung rata sejajar, distribusi void-void, pintu dan jendela tinggi lebar dari plafon hingga
lantai dilengkapi jalusi (krepyak), dinding transparan (kaca, glassblock, fiberglass, kerawang,
batang pohon), atap hijau (rumput) disertai skylight.

Penempatan jendela, pintu, dan skylight bertujuan memasukkan cahaya dan udara secara
tepat, bersilangan, dan optimal pada seluruh ruangan. Keberadaan tanaman hidup di ruang
dalam atau di taman (void) berguna menjaga kestabilan suhu udara di dalam tetap segar dan
sejuk. Pintu dan jendela kaca selebar mungkin dan memakai tembok dan kusen seminim
mungkin menjadikan ruang terasa lega. Pintu dan jendela bisa dibuka selebar-lebarnya. Lantai
teras dan ruang dalam dibuat dari material sama dan menerus rata (tidak ada beda ketinggian
lantai) membuat kesatuan ruang terasa luas dan menyatu dengan ruang luar di depannya.

Optimalisasi void menciptakan sirkulasi pengudaraan dan pencahayaan alami yang sangat
membantu dalam penghematan energi. Desain void yang tepat dapat mengurangi
ketergantungan penerangan lampu listrik terutama di pagi hingga sore hari dan pemakaian
kipas angin atau pengondisi udara yang berlebihan. Void dalam bentuk taman (kering) dapat
berfungsi sebagai sumur resapan air. Persenyawaan bangunan dan taman dalam konsep
arsitektur hijau memiliki banyak keuntungan bagi rumah itu sendiri, lingkungan sekitar, dan
skala kota secara keseluruhan. Rumah sehat memiliki sistem terbuka. Maka, setiap rumah yang
dibangun berdasarkan konsep arsitektur hijau dapat mengurangi krisis energi listrik dan BBM
serta krisis kualitas lingkungan.

sumber : www.rudydewanto.com

Diposkan oleh Sawal Bankzat di 13:33

http://sawalcore.blogspot.com/
21 September 2011

  Banda Aceh Kota Hijau




                    Jalan depan Mesjid Raya Baiturrahman


  Seiring dengan perkembangan zaman, sejumlah areal di
  perkotaan kini telah dipadati oleh bangunan gedung-
  gedung,      baik   pertokoan,     perkantoran,     pusat
  perbelanjaan, dan lain sebagainya. Lahan yang
  seharusnya menjadi ruang hijau akan semakin berkurang.
  Ini menjadi sangat memprihatinkan dari hari ke hari.
  Oleh sebab itu kepedulian terhadap lingkungan sekitar
  terhadap issue global sangatlah diperlukan agar terus
  tercipta lingkungan hidup yang hijau, alami, bersih, serta
  terhindar dari bahaya global warming.
                 Taman di pinggir Krueng Aceh




Dalam lomba yang bertajuk Indonesia Green Region
Award (IGRA) yang diselenggarakan oleh Kantor Berita
Radio KBR68H bersama Majalah SWA tahun ini, Banda
Aceh termasuk dalam lima kota yang dinobatkan sebagai
daerah terhijau di Indonesia selain Surabaya, Yogyakarta,
Denpasar dan Palangkaraya.



Di Banda Aceh sendiri hampir di setiap pinggiran dan
pembatas jalan ditumbuhi pohon. Selain itu juga
terdapat taman dan hutan kota. Alhamdulillah sampai
saat ini tidaklah sulit mencari tempat yang teduh di
seputaran Kota Banda Aceh.



Kota Banda Aceh memiliki sistem tata ruang yang jelas
sehingga tidak terjadi kehilangan ruang hijau sehingga
kondisi kota diharapkan tetap terjaga. Pemko talah
membuat Ruang Terbuka Hijau (RTH) dibeberapa
kawasan, sekaligus tempat wisata.



Tanaman dan tumbuhan yang ada berfungsi sebagai
pemancar oksigen bersih, menjaga kualitas air, dan
penyaring debu polusi udara yang dikeluarkan dari
kendaraan-kendaraan. Sehingga masyarakat kota Banda
Aceh masih dapat merasakan udara yang segar tanpa
polusi.


Taman dan hutan kota merupakan salah satu komponen
ruang terbuka hijau. Keberadaannya sangat berfungsi
sebagai sistem hidrologi, menciptakan iklim mikro,
menjaga keseimbangan oksigen (O2) dan karbon dioksida
(CO2), mengurangi polutan, dan meredam kebisingan.
Selain itu, berfungsi juga untuk menambah nilai estetika
dan keasrian kota sehingga berdampak positif terhadap
kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat




                      Hutan Kota
                                     Jalan Teuku Umar




                          Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah

http://nelva-amelia.blogspot.com/2011/09/banda-aceh-green-city.html

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:41
posted:10/9/2012
language:
pages:19