#Lihatlah Apa yang Dikatakan

Document Sample
#Lihatlah Apa yang Dikatakan Powered By Docstoc
					Lihatlah Apa yang Dikatakan

Rahmat Buldani
| 13 November 2009 | 10:47

287

7
2 dari 3 Kompasianer menilai Inspiratif.

Suatu hari mobil seorang pemuda mogok. Pemuda itu seorang sarjana tehnik
lulusan dari salah satu perguruan tinggi. Ia membetulkan mobilnya tapi tak
kunjung-kunjung jalan. Tiba-tiba datanglah pembantunya, si pembantu itu hanya
lulusan SMP, ia memberi tahu kerusakan-kerusakannya. Tapi karena si sarjana
itu merasa lebih tahu maka ia tidak mendengarkan kata-kata pembantunya yang
ternyata apa yang dikatakannya terbukti benar. Walaupun dikritik bahkan diberi
tahu tapi si sarjana tidak mau menerimanya karena ia melihat pembantunya
hanyalah lulusan SMP.

Cerita tadi bukanlah hal yang aneh dan langka di sekeliling bahkan di negeri kita.
Di lingkungan kita, seseorang lebih melihat subjek dari pada objek yang
dikatakan. Seseorang lebih memilih siapa yang mengatakan dari pada
kebenaran yang dikatakannya. Bukan hal aneh ketika orang yang berpengaruh
berpidato, maka kata-katanya akan diikuti walaupun apa yang dikatakan ternyata
agak menyimpang. Tapi sebaliknya akan menutup mata dan telinga kalau
seandainya semua itu dikatakan oleh orang-orang biasa. “Emangnya lo siapa sih,
ah lo kan anak kemarin sore, ah lo kan cuma lulusan SD, gua kan udah sarjana,
emang lo tau apa tentang ini” mungkin seperti inilah jawaban ketika kalimat yang
terucap hanya dikatakan oleh orang-orang biasa dan berada di bawah kita.

Kita sering sombong dan merasa lebih tahu dari mereka, sehingga dengan
kesombongan itu kita sering menutup telinga dan tidak mau mendengarkan apa
yang terucap darinya. Tapi sebaliknya kita sering berkata-kata layaknya orang
yang sudah tahu. Kita hanya mau mendengar ucapan dan nasehat orang lain
kalau orang itu punya status sosial yang tinggi. Selebihnya kita tidak memberikan
kesempatan pada telinga untuk mendengarkan nasehat dan kata-kata orang
yang status sosialnya tidak tinggi (kalau tidak mengatakan rendah).

Para ahli mengatakan ada empat bentuk ucapan. Pertama, ucapan berbobot
penuh kebenaran dan hikmah yang diucapkan oleh orang terpandang. Kedua,
ucapan penuh kebenaran tapi keluar dari orang yang biasa-biasa saja. ketiga,
ucapan kurang mengandung kebenaran dan itu terucap dari orang yang
terpandang. Keempat, ucapan kurang ma’na dan itu keluar dari orang yang
biasa-biasa saja. Dari keempat tadi selain yang pertama yang manakah yang
sering kita dengarkan kata-katanya?.
Kalau ucapan dan nasehat itu penuh ma’na yang keluar dari orang yang di
bawah kita, mengapa kita menolaknya daripada menerima ucapan dan petuah
yang salah walaupun dari orang yang terpandang. Karena tidak mustahil orang
terpandang dan berilmu pun mempunyai kekhilafan. Padahal sayyidina Ali
karramallahu wajhah pernah berujar dalam sabdanya “Lihatlah apa yang
dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan”

Apakah negeri kita terbelakang karena para penguasa tidak melihat dan
mendengarkan rintihan rakyatnya? Apakah mereka menutup telinga karena
menurut mereka rakyat tidak tahu apa-apa? Entahlah tapi kenyataan-kenyataan
seperti ini nampaknya bukan hal yang tidak mungkin. Karena ucapan dan tulisan
seperti inipun tak pernah didengarkannya kalau yang menulisnya orang biasa
seperti saya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:34
posted:10/9/2012
language:Indonesian
pages:2
Denok  Fransiska Denok Fransiska oprektor docushared.blogspot.com
About tagged-basistik.blogspot.com,free-pdf-doc-xls-ppt.blogspot.com,soccers-basistik.blogspot.com,pharaswork.blogspot.com,docushared.blogspot.com