Docstoc

#Kepemimpinan Versi Kouzes dan Posner

Document Sample
#Kepemimpinan Versi Kouzes dan Posner Powered By Docstoc
					Edukasi
Daniel Ronda
Seorang dosen teologi yang tinggal di Makassar, mendalami bidang
kepemimpinan!
Kepemimpinan Versi Kouzes dan Posner


Praktik kepemimpinan harusnya seperti apa? Banyak calon pemimpin yang ditempatkan
dalam jabatan pemimpin sangat jarang dilengkapi dengan pelatihan kepemimpinan. Jika
ada, praktik kepemimpinan lebih kepada orientasi pemimpin agar mendatangkan
keuntungan bagi perusahaannya (profit oriented). Bagi perusahaan, nilai kepemimpinan
adalah kepada hasil yang dicapai pemimpin. Padahal kepemimpinan tidak hanya berfokus
kepada pencapaian perusahaan, tetapi juga pengembangan diri yang sejati (genuine
leader).

Ada buku yang menarik soal kepemimpinan lintas negara, di mana tulisan ini hasil dari
riset di berbagai negara yaitu “Leadership Challenge” tulisan Kouzes dan Posner. Dalam
bukunya Kouzes dan Posner menyebut ada lima praktik kepemimpinan (sebagai inti)
yang biasa dilakukan untuk menjadi pemimpin yang sukses. Fokus dari semua model ini
adalah hubungan (relasi) antara pemimpin dan pengikut. Memang ada yang menganggap
buku ini rancu karena tidak membedakan kepemimpinan dan manajemen, bahkan Kouzes
dan Posner mencampuradukkan antara keduanya. Memang hal ini terjadi karena buku ini
ditulis tahun 80-an di mana dunia kepemimpinan masih baru menjadi perhatian dan tren
yang mulai nampak dan diminati.

Tetapi kelima praktik kepemimpinan ini masih bisa diterapkan dalam konteks pemimpin
sebagai eksekutif. Bagaimanapun juga pemimpin berbeda dengan manajer, namun
pemimpin patut memiliki kemampuan manajerial. Kelima praktik kepemimpinan inti itu
adalah:

Pertama, menantang proses (challenging the process): di sini pemimpin mengambil
resiko, menantang sistem, menerima ide baru, inovasi, membuat dasar baru, dan bergerak
dari status quo. Di sini pemimpin mencari peluang untuk melakukan inovasi, lalu
bertumbuh dan meningkat.

Kedua, menginspirasikan visi bersama (Inspiring a shared vision): pemimpin bermimpi
dan memimpin visi untuk kebaikan, kesempatan. Ini berarti bila pemimpin memimpin
maka visi adalah tujuan yang hendak dicapai bersama. Kita tidak berhak disebut
pemimpin bila kita tidak tahu ke mana kita akan melangkah.

Ketiga, memberdayakan orang lain bertindak (enabling others to act): dalam mencapai
tujuan organisasi, maka penting memfasilitasi bawahan dalam mencapai tujuannya lewat
pemberdayaan dan motivasi.

Keempat, mencontohkan caranya (modeling the way): memimpin lewat contoh. Bagi
Kouzes dan Posner mengatakan bahwa perbuatan pemimpin jauh lebih penting dari
perkataannya. Pemimpin harus menunjukkan contoh terlebih dahulu dalam tindakan
sehari-hari dan mempertunjukkan komitmen yang mendalam atas apa yang diyakininya.
Di sini juga dikatakan bagaimana bawahan harus diperlakukan. Memang kepemimpinan
contoh sangat cocok diterapkan dalam kepemimpinan politik dan spiritual yang
memerlukan keteladanan.

Kelima, menyemangati jiwa (encouraging the heart): prinsip ini mirip dengan yang
nomor tiga (membardayakan orang lain bertindak). Di sini pemimpin juga memberikan
semangat, motivasi, dan kegairahan para bawahan dalam mencapai tujuan organisasi.

Di samping kelima praktik kepemimpinan inti di atas, maka ada beberapa prinsip
kepemimpinan yang mereka kemukakan. Pertama, kepemimpinan adalah sebuah
perjalanan (journey) yaitu perjalanan dalam meyakinkan orang-orang dan membawa
mereka kepada tujuannya.

Kedua, pentingnya kredibilitas sebagai dasar bagi kepemimpinan. Karakter telah menjadi
fokus juga bagi mahzab kepemimpinan yang menekankan kepada pentingnya integritas
dan kredibilitas pemimpin. Tidak mungkin bisa disebut pemimpin bila tidak memiliki
kredibilitas.

Ketiga, kepemimpinan juga disebutnya sebagai hubungan (relationship). Bagi pemimpin
yang memiliki kuasa memerlukan hubungan baik agar pencapaian organisasi meningkat
dan berhasil dan lewat relasi bawahan dapat menaruh kepercayaan lebih dalam kepada
pemimpinnya.

Keempat, pemimpin harus melihat di dalam dirinya dan menjelaskan nilai-nilai yang
diyakininya. Di sini pemimpin harus mengartikulasikan nilai yang dipercayainya dapat
meningkatkan kinerja.

Kelima, pemimpin perlu inspiratif dalam memimpin. Memang dalam pengambilan
keputusan perlu banyak faktor yang dipertimbangkan, tetapi umumnya selalu memakai
dasar bukti-bukti dalam pengambilan keputusan. Jadi pemimpin mesti berani dan tegas
dalam mengambil keputusan sepanjang ada bukti yang menguatkan.

Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kepemimpinan membutuhkan pembelajaran
dan proses waktu dalam pembentukan. Apa yang dikatakan Pouzes dan Kosner memang
sudah lama, tetapi masih bisa dipakai dalam konteks Indonesia. Prinsipnya tidak ada
suatu pun yang instan dalam menghasilkan kepemimpinan.




Tags: Kouzes dan Posner, Kepemimpinan

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:36
posted:10/9/2012
language:Unknown
pages:2
About tagged-basistik.blogspot.com,free-pdf-doc-xls-ppt.blogspot.com,fisika-basistik.blogspot.com,soccers-basistik.blogspot.com,pharaswork.blogspot.com