PTK – MODELPEMBELAJARANKOOPERTIF TIPE STAD

Document Sample
PTK – MODELPEMBELAJARANKOOPERTIF TIPE STAD Powered By Docstoc
					HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN HASIL BELAJAR BIOLOGI
SISWA KELAS VII DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERTIF TIPE STAD

                                               BAB I
                                           PENDAHULUAN

ALatar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman, misalnya kemajuan di bidang teknologi dan invormatika, maka
harus diiringi dengan kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan kualitas keimanan setiap individu
terhadap Allah SWT. Kemajuan

di bidang pengetahuan tentunya yang dimaksud adalah bidang pendidikan. Bidang pendidikan yang
didalamnya meliputi sitem pendidikan, kurikulum, tenaga pendidik, dan sebagainya.
Kalau kita melakukan pengkajian mundur terhadap output dari sistem pendidikan yang ada di negara
kita Indonesia, sebenarnya banyak orang-orang yang cerdas dihasilkan dari sistem pendidikan itu namun
kecerdasasn yang dimaksud hanya cerdas dalam kemampun intelektual, tetapi buta dalam hal
emosional dan akhlaknya. Hal ini terbukti dengan makin maraknya orang-orang yang terlibat dalam hal
korupsi, kolusi dan nepotisme.
Orang yang cerdas intelektual tetapi akhlaknya buta termasuk tidak mempunyai kecerdasan emosional,
maka orang-orang seperti ini sekarang telah banyak tersebar di Indonesia, justru tidak mendukung
kemajuan bangsa, justru merusak citra bangsa. Orang orang seperti ini akan dengan mudah memperalat
orang-orang awam dengan kelincahan dan kelicikannya, menghalakan segala cara, yang penting tujuan
tercapai.
Sekarang ini kecerdasan intelektual bukan satu-satunya faktor yang mendukung kesuksesan seseorang,
bahkan kesuksesan yang dipengaruhi oleh kecerdaasan intelektual hanya sekitar 20%, sedangakan yang
lainnya dipengaruhi oleh kecerdasan lain termasuk kecerdasan emosional. Olehnya itu yang seharusnya
sekarang sitem pendidikan menekankan pada kecerdasan emosional disamping kecerdasan intelektual.
Sesuai dengan kurikulum terbaru yaitu kurikulum tingakat satuan pendidikan maka faktor kecerdasan
emosional yang meliputi afektif dan psikomotorik mulai dijadikan indikator keberhasilan dalam
pendidikan. Hal ini terbukti dengan bentuk penilaian di sekolah dasar dan menengah, ada penilaian yang
dikenal dengan penilaian konseptual, kemampuan penalaran dan kemampuan psikomotorik yang akan
mempertajam kecerdasan emosional siswa karena merangsan daya pikir dan kemampun siswa
mengkomuniksikan pelajaran yang sedang dipelajari dengan kata-kata sendiri berdasarkan hasil
pendalaman mereka pada hal-hal aplikasi dari mata pelajaran itu sendiri.
Kemampuan mereka dalam mengkomunikasikan mata pelajaran akan lebih nampak dan terarah pada
saat menggunakan model pembelajaran kooperatif, misalnya type STAD, karena mereka selain bisa
berkomunikasi di dalam kelompoknya, mereka juga akan mengkomunikasikan hasil belajar kelompok
mereka pada kelompok lain ketika mereka diberikan kesempatan mempersentasekan hasilnya maupun
menanggapi kelompok lain.
Kemampuan siswa dalam mengkomunikasikan hasil belajarnya akan meningkatkan kecerdasan
emosional mereka karena hal ini akan mendorong mereka lebih dewasa dalam menanggapai berbagai
persoalan, termasuk memanagemen kelompok mereka dalam belajar yang lebih efektif dan efisien.
Metode seperti ini dapat diterapkan pada semua mata pelajaran termasuk mata paealajaran biologi
pada tingkat pendidikan menengah.
Pada mata pelajaran biologi juga masih terbagi-bagi atas beberapa pokok bahasan, termasuk
didalamnya adalah materi tentang klasifikasi hewan dan tumbuhan. Metode belajar koopertif type STAD
untuk materi ini sangat dibutuhkan dalam hal menyatukan presepsi dalam kelompok ketika
mengklasifikasikan hewan dan tumbuhan yang ditemui di alam termasuk mengkomunikasikan berbagai
ciri-cirinya dan kemudian mengklasifikasikanya berdasarkan aturan klasifikasi hewan dan tumbuhan.
Tentunya alasan-alasan mereka dalam mengklasifikasikan hewan dan tumbuhan berdasarkan ciri-cirinya
dapat dipertahankan ketika mereka ditanya oleh kelompok lain. Kemampuan mereka mereka dalam
mempertahankan argumennya sangat ditunjang oleh kecerdasaan emosional mereka, terutama dalam
menghadapi berbagai karakter siswa.
Berdasarkan latarbelakang di atas maka timbul keinginan dari kami untuk mengetahui lebih jauh
bagaimana Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII SMP Negeri 1
Raha Dengan Model Pembelajaran Koopertif Tipe Stad Pada Materi Pencemaran Lingkungan.

ABatasan Masalah
Karena luasnya cakupan materi, Pencemaran Lingkungan maka kami membatasi cakupan materi dalam
penelitian ini yaitu hanya menyankut materi Pencemaran Lingkungan yang diajarkan pada sekolah
menengah pertama (SMP) atau sederajat. Adapun yang akan menjadi objek dalam penelitian ini adalah
siswa kelas VII SMP negeri 1 Raha.
BRumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka masalah yang akan diselidiki dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1.Bagaimana kecerdasan emosional siswa kelas VII SMP negeri 1 Raha dalam mengkomunikasikan
pelajaran mereka pada pokok bahasan Pencemaran Lingkungan
2. Bagaimana hasil belajar siswa kelas VII SMP negeri 1 Raha pada pokok bahasan Pencemaran
Lingkungan yang diajar dengan model pembelajaran koopertif type STAD?
3.Apakah ada hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dalam mengkomunikasikan
pelajaran biologi dengan hasil belajar siswa kelas VII pada pokok bahasan Pencemaran Lingkungan di
SMP Negei 1 Raha?
CTujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian iniadalah:
1.Dapat mengetahui bagaimana kecerdasan emosional siswa kelas VII SMP negeri 1 Raha dalam
mengkomunikasikan pelajaran mereka pada Pokok bahasan Pencemaran Limgkungan
2 Dapat mengetahui bagaimana hasil belajar siswa kelas VII SMP negeri 1 Raha pada pokok bahasan
Pencemaran Lingkungan yang diajar dengan model pembelajaran koopertif type STAD?
3.Dapat mengetahui ada tidaknya hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dalam
mengkomunikasikan pelajaran biologi dengan hasil belajar siswa kelas VII pada pokok bahasan
Pencemaran Lingkungan di SMP Negei 1 Raha?
DManfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan informasi bagi guru-guru SMPN 1 Raha khususnya guru biologi yang mengajarkan
materi Pencemaran Lingkungan dalam upaya meningkatkan hasil belajar,
2. Sebagai pengalaman berharga bagi penulis apabila membuat karya ilmiah selanjutnya,
3. Sebagai bahan informasi bagi peneliti yang akan datang yang penelitiannya relevan dengan penelitian
ini.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Hasil Belajar Biologi
Belajar biologi merupakan suatu aktifitas mental untuk memahami arti dari hubungan-hubungan dan
simbol-simbol yang terkandung dalam biologi secara sistematik, cermat dan tepat, kemudian
menerapkan konsep-konsep yang dihasilkan untuk memecahkan masalah dalam berbagai hal/ keadaan/
situasi nyata.
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa ditunjukkan oleh perubahan-perubahan dalam bidang
pengetahuan/ pemahaman, keterampilan, analisis, sintesis, evaluasi, serta nilai dan sikap. Perubahan
yang dihasilkan dari belajar dapat berupa perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu dilihat
sebagai tingkah laku (Soekamto dan Winataputra, 1997: 21). Adanya perubahan itu tercermin dalam
prestasi belajar yang diperoleh siswa.
Prestasi adalah bukti keberhasilan dari usaha yang dapat dicapai (Winkel, 1998: 102). Briggs (1979: 149)
memberikan pengertian bahwa hasil belajar adalah seluruh kecakapan dan segala hal yang diperoleh
melalui proses belajar mengajar di sekolah yang dinyatakan dengan angka dan diukur dengan
menggunakan tes hasil belajar.
Romiszowski membagi hasil belajar menjadi empat ranah yaitu: (1) kognitif, (2) psikomotorik, (3) reaksi
emosional, dan (4) interaksi yaitu merupakan keterampilan menerima dan menyampaikan informasi
(1981: 253). Gagne dan Briggs (79:49-50) membagi hasil belajar dalam lima kategori yaitu: (1)
keterampilan intelektual, (2) strategi kognitif, (3) informasi verbal, (4) keterampilan motorik, dan (5)
sikap.
Merril dan Twitcell (1994: 106) mengelompokkan hasil belajar ke dalam dua dimensi yaitu (1) tingkat
untuk kerja, dan (2) tipe isi. Bloom (1981: 7) membagi hasil belajar ke dalam tiga ranah yaitu (1) kognitif,
(2) afektif, dan (3) psikomotor. Ranah kognitif terbagi menjadi enam tingkatan yaitu: (a) ingatan, (b)
pemahaman, (c) penerapan, (d) analisis, (e) sintesis, dan (f) evaluasi. Gronlund (1982: 3) menyatakan
bahwa hasil belajar di ranah kognitif dibagi menjadi dua bagian besar yaitu (1) pengetahuan, dan (2)
kemampuan intelektual serta keterampilan.
Batasan mengenai hasil belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas sesuai dengan
hasil belajar matematika yang diharapkan pada jenjang pendidikan menengah umum yang meliputi tiga
aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Tetapi dalam penelitian ini, hasil belajar matematika yang
hendak diteliti dan diukur dibatasi hanya pada hasil belajar di ranah kognitif. Dengan demikian dapat
dirumuskan bahwa hasil belajar matematika pada ranah kognitif yang dimiliki siswa sebagai hasil dari
proses belajar mengajar matematika selama kurun waktu tertentu berdasarkan tujuan instruksional
tertentu yang mengacu pada garis besar program pengajaran matematika SMA.
B. Kecerdasan Emosional
Goleman (1995) dan Shapiro (1997) mengungkapkan bahwa secara neuroanatomis otak manusia terdiri
atas milyaran sel yang memainkan peranan berbeda-beda, ada bagian untuk berpikir konvergen dan ada
pula yang berkenaan dengan emosi, yang selanjutnya dikenal sebagai konsep kecerdasan emosi atau
emotional intelligence.
Kecerdasan emosi adalah suatu dimensi kemampuan manusia yang berupa keterampilan emosional dan
sosial yang kemudian membentuk watak atau karakter, yang di dalamnya terkandung kemampuan-
kemampuan seperti kemampuan mengendalikan diri, empati, motivasi, kesabaran, ketekunan,
keterampilan sosial, dan lain-lain. Salovey (1997) mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional terdiri
dari lima dimensi utama yaitu: (1) mengenali emosi diri, (2) mengelola emosi, (3) memotivasi diri sendiri,
(4) mengenali emosi orang lain, dan (5) membina hubungan.
Mengenali emosi diri yaitu kesadaran diri untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi
merupakan dasar kecerdasan emosional. Kesadaran diri merupakan prasyarat bagi keempat wilayah
utama lainnya. Hal itu dapat diartikan sebagai pintu masuk pada rumah emosi. Ketidakmampuan untuk
mencermati perasaan kita yang sesungguhnya membuat kita berada dalam kekuasaan perasaan. Orang
yang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaannya adalah pilot yang andal bagi kehidupan
mereka, karena mempunyai kepekaan lebih tinggi akan perasaan mereka yang sesungguhnya atas
pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi, mulai dari masalah siapa yang akan dinikahi sampai
kepekerjaan apa yang akan diambil.
Mengelola emosi adalah salah satu pekerjaan yang cukup sulit. Sebagai ilustrasi adalah bagaimana
sakitnya hati kita dan sulitnya meredakan kemarahan yang meluap keubun-ubun jika kita dipersalahkan
atas hal yang merupakan kesalahan orang lain. Namun jika emosi dapat dikuasai tentu emosi dapat
dikelola dengan baik, artinya dapat tercipta keseimbangan emosi atau pengendalian emosi yang
berlebihan.
Dimensi selanjutnya adalah memotivasi diri sendiri. Motivasi merupakan perubahan energi dalam diri
seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi yang mencapai tujuan. Motivasi dimulai
dari adanya perubahan energi di dalam diri pribadi. Selanjutnya motivasi ditandai oleh timbulnya
perasaan effective arousal, dan juga ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.
Mengenali empati orang lain merupakan salah satu dimensi yang penting dari emosi. Empati merupakan
kemampuan untuk mengenali perasaan dan keinginan orang dari kacamata orang tersebut. Di samping
itu empati merupakan kemampuan yang bergantung kepada kesadaran diri emosional, merupakan
keterampilan bergaul dasar, dan juga dapat menciptakan kebahagiaan dalam kehidupan asmara.
Dimensi terakhir dari emosi adalah membina hubungan. Seni membina hubungan dengan orang lain
erat kaitannya dengan keterampilan memahami emosi orang lain. Agar terampil membina hubungan
dengan orang lain, kita harus mampu mengenal dan mengelola emisi mereka. Untuk mengelola emosi
orang lain kita perlu lebih dahulu mampu mengendalikan diri, mngendalikan emosi yang mungkin
berpengaruh buruk dalam hubungan sosial, menyimpan dulu kemarahan dan bebas strea tertentu, dan
mengekspresikan perasaan diri.
EQ dan IQ adalah dua sumber sinergis, bila satu diantaranya tidak ada atau tidak seimbang maka
seseorang akan menjadi tidak lengkap dan tidak efektif. IQ tanpa EQ bisa saja mencetak nilai pada salah
satu ujian, tetapi tidak akan mambuat Anda dapat maju dalam hidup, bahkan dengan IQ tinggi tapi tidak
diimbangi dengan EQ yang baik maka keunggulan IQ bisa mengarah pada hal-hal yang merugikan
masyarakat. EQ mempunyai pengaruh yang besar dalam hal hubungan pribadi dengan orang lain, dia
bertanggung jawab untuk penghargaan diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan adaptasi sosial. Ini
berarti dengan EQ memungkinkan kita untuk memilih apa yang harus dilakukan, pekerjaan apa yang
diambil, dan bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan orang lain.
EQ merupakan kemampuan yang sebagian besar diperoleh dari pengalaman, berarti EQ dapat
ditingkatkan melalui usaha sungguh-sungguh dengan latihan oleh orang tua dan guru di sekolah. Dengan
demikian tentu hal ini akan memberikan harapan dan optimisme baru terhadap pendidikan, karena EQ
dapat dikembangkan pada anak.
Hasil dari beberapa survei membuktikan bahwa siswa yang telah mendapat pendidikan EQ mempunyai
sifat-sifat sebagai berikut :
1.Lebih pintar menangani emosinya dan lebih stabil emosinya.
2.Lebih dapat berkonsentrasi
3.Lebih tegas dan bertanggung jawab
4.Lebih dapat memahami orang lain
5.Lebih terampil menyelesaikan konflik
6.Lebih dapat berinteraksi dengan orang lain
Begitu pula sebaliknya, kemerosotan emosi siswa tampak dalam semakin parahnya masalah spesifik
seperti berikut :
1. Menarik diri dari pergaulan atau masalah sosial : lebih suka menyendiri, bersikap sembunyi-sembunyi,
banyak bermuram durja, kurang bersemangat, merasa tidak bahagia, dan terlampau bergantung.
2. Cemas dan depresi, menyendiri, sering takut dan cemas, ingin sempurna, merasa tidak dicintai,
merasa gugup atau sedih.
3. Memiliki masalah dalam hal perhatian dan berpikir, tidak mampu memusatkan perhatian dan duduk
tenang, melamun, bertindak tanpa berpikir, bersikap terlalu tegang untuk berkonsentrasi, sering
mendapat nilai buruk di sekolah, tidak mampu membuat pikiran jadi tenang.
4. Nakal dan agresif : bergaul dengan anak-anak yang bermasalah, bohong dan menipu, sering
bertengkar, bersikap kasar pada orang lain, menuntut perhatian, meruak milik orang lain, membandel di
sekolah dan di rumah, keras kepala dan suasana hati yang sering berubah-ubah.
Dalam kenyataannya keadaan manusia berada antara keduanya yaitu campuran antara kecerdasan
emosional dan kecerdasan intelektual dengan kadar yang berbeda-beda. Namun demikian kecerdasan
emosional manambah jauh lebih banyak sifat-sifat yang membuat individu lebih manusiawi.
Dengan demikian yang dimaksud dengan klecerdasan emosional adalah kemampuan siswa yang berupa
keterampilan emosional dan sosial yang terdiri dari lima dimensi utama yaitu: (1) mengenali emosi, (2)
mengelola emosi, (3) memotivasi diri sendiri, (4) mengenali emosi orang lain, dan (5) membina
hubungan.

G. HIPOTESIS PENELITIAN
Berdasarkan kajian pustaka yang telah dikemukakan, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai
berikut :
“Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar matematika
siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD kelas IX SMP Negeri 1 Raha”
Secara statistik dirumuskan sebagai berikut :
H0 : r = 0 H1 : r ≠ 0
Keterangan :
H0

H1
H1

:

:
:
Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar matematika
siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD kelas IX SMP Negeri 1 Raha..
Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar matematika siswa
melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD kelas IX SMP Negeri 1 Raha.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah korelasional yaitu penelitian yang bertujuan untuk menemukan apakah
terdapat hubungan antara dua variabel yakni variabel X dan variabel Y serta untuk mengetahui berapa
besar hubungan yang ada diantara variabel yang diteliti.
B.Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 14 Oktober 2006 s/d 9 September 2007 di SMP Negeri 1 Raha.
C.Variabel dan Desain Variabel
Variabel dalam penelitian ini ada dua macam yaitu kecerdasan emosional sebagai variabel bebas yang
disimbolkan dengan X dan hasil belajar biologi melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai
variabel tak bebas yang disimbolkan dengan Y.
Desain hubungan antara kedua variabel X dan Y digambarkan sebagai berikut :
D.Definisi Operasional Variabel
Untuk menghindari terjadi perbedaan dalam menginterpretasikan variabel yang diteliti maka variabel
yang dikemukakan di atas dijelaskan sebagai berikut :
1.Kecerdasan emosional adalah skor yang diperoleh setiap siswa dalam mengisi angket kecerdasan
emosional yang terdiri dari lima dimensi utama yaitu (1) mengenali emosi, (2) mengelola emosi, (3)
memotivasi diri sendiri, (4) mengenali emosi orang lain, dan (5) membina hubungan.
2. Hasil belajar biologi melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah skor biologi pada ranah
kognitif yang dicapai siswa dari hasil proses belajar mengajar Biologi semester II kelas IX SMP Negeri 1
Raha yang diukur dengan menggunakan tes hasil belajar Biologi yang disusun berdasarkan tujuan
instruksional yang telah ditetapkan dengan menggunakan model pembelajaran koperatif tipe STAD.

E.Populasi dan Sampel
1.Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SMP Negeri 1 Raha yang terdiri dari 7 kelas
dengan jumlah siswa 282 orang.
Tabel 1. Jumlah siswa dari masing-masing kelas VIIIA - VIIIG
No
Kelas
Populasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
VIII A
VIII B
VIII C
VIII D
VIII E
VIII F
VIII G
42 orang
41 orang
42 orang
43 orang
42 orang
37 orang
35 orang
Jumlah
282 orang

2.Sampel
Untuk memperoleh sampel yang representatif maka diambil dua kelas dari 7 kelas secara cluster
random sampling.
F. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa angket atau kuisioner, yaitu sejumlah
pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi (data) tentang kecerdasan emodional.
Penyusunan angket kecerdasan emosional terdiri atas lima dimensi yaitu (1) mengenali emosi, (2)
mengelola emosi, (3) memotivasi diri sendiri, (4) mengenali emosi orang lain, dan (5) membina
hubungan.
Pemberian skor menggunakan skala Likert (Sugiono, 2001: 73) yang terdiri dari lima alternatif jawaban
yaitu; sangat setuju (SS), setuju (S), ragu-ragu (R), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (ST).
Pemberian skor untuk tiap item adalah sebagai berikut; untuk pernyataan positif SS=5, S=4, R=3, TS=2
dan ST=1. Sebaliknya untuk pernyataan negatif SS=1, S=2, R=3, TS=4 dan ST=5.
Sedangkan tes hasil belajar biologi yang digunakan adalah adalah tes dua bentuk yaitu esai dan pilihan
ganda dengan lima option. Penyusunan tes hasil belajar Biologi ini diawali dengan menyusun kisi-kisi
yang memuat pokok bahasan dan sub pokok bahasan pada semester genap tahun ajaran 2007/2008.
Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan tes tersebut adalah 120 menit. Sebelum instrumen
tersebut digunakan untuk penelitian terlebih dahulu instrumen diuji coba untuk memperoleh validitas
(empirik) setiap butir dan reliabilitas instrumen.
F.Teknik Analisis Data
1.Analisis Instrumen
Sebelum digunakan instrumen angket terlebih dahulu diujicobakan untuk mengetahui tingkat validitas
dan reliabilitasnya. Adapun rumus validitas dan reliabilitas adalah sebagai berikut :
a.Validitas angket menggunakan rumus :

Dimana : rxy = koefisien korelasi
X = Skor item yang dicari validitasnya
Y = Skor total
N = Banyaknya responden (Arikunto, 1997: 162)
Adapun kriteria pengujian adalah sebagai berikut :
Jika nilai rxy ≥ rt, maka item tersebut valid
Jika nilai rxy ≤ rt, maka item tersebut tidak valid
Dengan rt adalah nilai pada tabel r product moment dengan taraf signifikan = 0,05.

b.Reliabilitas angket dengan rumus Alpha

Dimana :
r11 = reliabilitas instrumen.
k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal.
= jumlah varians butir.
= varians total.
(Arikunto, 1997: 193)

2.Analisis Data Penelitian
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif
dan teknik inferensial.
a.Analisis Statistik Deskriptif
Analisis deskriptif dimaksudkan untuk mendeskripsikan karakteristik responden dari masing-masing
variabel penelitian, dengan menggunakan rata-rata hitung, standar deviasi, nilai maksimum, nilai
minimum ke dalam bentuk tabel frekuesni dan persentase.
Mengkategorikan Kecerdasan Emosional (X) dan Nilai Hasil Belajar Biologi Siswa Melalui Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Y)
menggunakan rumus sebagai berikut:
Tabel 2. Pengkategorian Kecerdasan Emosional (X) dan Nilai Hasil Belajar Biologi Siswa Melalui Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Y)

Variabel (X)
Kategori
Variabel (Y)
Xi ³ + SD
− SD < Xi < + SD
Xi ≤ − SD
Tinggi
Sedang
Rendah
Yi ³ + SD
− SD < Yi < + SD
Yi ≤ − SD
(Arikunto, 2002)
dimana:
Xi = nilai variabel X untuk sampel ke-i
= nilai rata-rata untuk variabel X
Yi = nilai variabel Y untuk sampel ke-i
= nilai rata-rata untuk variabel Y
SD = standar deviasi (SD) untuk masing-masing variabel
dengan:
= dan ; dimana N = Jumlah data
SDx = ; dan SDy
b.Analisis Statistik Inferensial
Statistik inferensial dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji-t.
Sebelum pengujian hipotesis, data terlebih dahulu dilakukan uji dasar-dasar statistik yaitu uji normalitas
data dengan menggunakan uji chi-kuadrat.
1)Uji Normalitas Data
Uji normalitas data dimaksudkan untuk mengetahui apakah data yang berasal dari populasi yang
berdistribusi normal atau tidak. Untuk keperluan ini digunakan uji Chi-Kuadrat (c2) dengan rumus
sebagai berikut :
c2hit =
(Sudjana, 2002)
dengan:
c2hit = nilai Chi-Kuadrat hitung
Oi = frekuensi pengamatan untuk interval ke-i
Ei = frekuensi harapan untuk interval ke-i
Kriteria pengujian adalah bahwa jika c2hit < c2tab dengan derajat kebebasan (dk) = k – 3 pada taraf
signifikan a = 0,05, maka data yang diperoleh dinyatakan terdistribusi normal, dan jika c2hit ³ c2tab
dengan dengan derajat kebebasan (dk) = k – 3 pada taraf signifikan a = 0,05, maka data yang diperoleh
dinyatakan tidak terdistribusi normal.
2)Diagram Pencar (Scatter Diagram)
Untuk kumpulan data yang terdiri atas dua variabel diagramnya dibuat dalam sistem sumbu koordinat
dan gambarnya akan merupakan kumpulan titik-titik yang terpencar. Variabel bebas X (Kecerdasan
emosionala siswa) dan variabel tak bebas Y (Hasil belajar Biologi siswa melalui pembelajaran kooperatif
tipe STAD) digambarkan dengan sumbu datar menyatakan X dan sumbu tegak menyatakan Y. Jika letak
titik-titik itu berada di sekitar garis lurus maka dapat diduga regresinya adalah linier. Jika letak titik-titik
sekitar garis lengkung dapat diduga regresi adalah non linier. Regresi linier ditarik secocok mungkin
dengan letak titik-titik, kemudian persamaanya ditentukan dengan menggunakan dua titik yang dilalui.
Diagram pencar berikut memperlihatkan beberapa diagram pencar serta hubungan antara variabel yang
nantinya dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan hubungan antara kecerdasan emosional
dengan hasil belajar biologi melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

a) Hubungan garis positif b) Hubungan garis positif tapi lebih
terpencar

c) Hubungan garis negatif d) Hubungan garis lengkung negatif

e) Hubungan garis lengkung negatif f) Hubungan garis lengkung positif

g) Tidak ada hubungan (Supranto, 2000)
Gambar 3.1 Berbagai Bentuk Diagram Pencar
3.Pengujian Hipotesis
Untuk keperluan hipotesis diperlukan langkah-langkah sebagai berikut
a)Analisis korelasi product moment
Untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel, yaitu hubungan antara kecerdasan emosional
dengan hasil belajar matematika siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD kelas IX SMP
Negeri 1 digunakan rumus koefisien korelasi sebagai berikut:
(Sudjana, 1996: 369)
Dimana:
r = Korelasi product momen
Xi = Nilai keharmonisan keluarga responden ke-i
Yi = Nilai prestasi belajar matematika responden ke-i
n = Banyaknya responden
Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
1.Jika r > 0, berarti terdapat korelasi positif kecerdasan emsional siswa dengan hasil belajar biologi siswa
melalui model pembel;ajaran kooperatif tipa STAD siswa kelas IX SMP Negeri 1 Raha.
2.Jika r < 0, berarti terdapat korelasi negatif kecerdasan emsional siswa dengan hasil belajar biologi
siswa melalui model pembel;ajaran kooperatif tipa STAD siswa kelas IX SMP Negeri 1 Raha.
3.Jika r = 0, berarti tidak ada korelasi kecerdasan emsional siswa dengan hasil belajar biologi siswa
melalui model pembel;ajaran kooperatif tipa STAD siswa kelas IX SMP Negeri 1 Raha.
Adapun pengkategorian tingkat hubungan (korelasi) dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini:
Tabel 3. Pengkategorian Tingkat Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Hasil Belajar Biologi Siswa
Melalui Model Pembajaran Kooperstif Tipe STAD.
Interval Koefisien Korelasi (r)
Tingkat Hubungan
0,81 – 1,00
0,61 – 0,80
0,41 – 0,60
0,21 – 0,40
0,00 – 0,20
Sangat Tinggi
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat rendah
(Arikunto, 2002)
b)Koefisien determinasi
Uji ini dimaksudkan untuk menentukan besarnya kontribusi variabel bebas (X) terhadap variabel terikat
(Y) dengan menggunakan rumus:
KD = r2 x 100%
c)Menguji keberartian korelasi
Uji ini dimaksudkan untuk menentukan apakah koefisien korelasi berarti atau tidak, untuk pengujian
hipotesis dilakukan dengan rumus :
t = (Sudjana, 1996)
dengan kriteria : jika thit > ttab pada taraf nyata a = 0,05 dan dk = (n-2), maka H0 ditolak. Jika thit £ ttab
pada taraf nyata a = 0,05 dan dk = (n-2), maka H0 diterima.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:163
posted:10/8/2012
language:Malay
pages:10