Docstoc

PTK – Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Kelas X SMA

Document Sample
PTK – Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Kelas X SMA Powered By Docstoc
					Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Perbandingan
Trigonometri Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Kelas
X SMA

A.JUDUL : Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Perbandingan
Trigonometri Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Kelas X SMA Negeri 4
Kendari
B.Latar Belakang
Matematika merupakan bidang ilmu yang memiliki kedudukan yang penting dalam
pengembangan dunia pendidikan. Hal ini disebabkan, karena matematika


merupakan ilmu dasar bagi pengembangan disiplin ilmu yang lain. Olehnya itu mata
pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang potensial untuk diajarkan di seluruh
jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan
kemampuan berfikir logis, kritis dan sistematis serta kemampuan bekerja sama sehingga
tercipta kualitas sumber daya manusia sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Keberhasilan proses pembelajaran matematika di sekolah tidak terlepas dari kesiapan guru
sebagai tenaga pengajar. Oleh sebab itu dalam penyelenggaraan proses pendidikan tenaga
pengajar bertindak sebagai komponen aktif yang sangat mempengaruhi hasil proses itu. Hal
ini mengandung makna bahwa dalam membelajarkan matematika kepada peserta didik,
guru sebagai tenaga pengajar hendaknya harus lebih cermat melihat aspek-aspek yang
dapat meningkatkan aktivitas proses belajar mengajar. Aspek-aspek tersebut misalnya,
memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, metode yang sesuai kondisi perkembangan
peserta didik demi tercapainya tujuan pelaksanaan pembelajaran.
SMA Negeri 4 Kendari merupakan salah satu sekolah yang diperhitungkan oleh perguruan-
perguruan tinggi di Indonesia. Sekolah ini sangat difavoritkan oleh masyarakat kota Kendari
pada khususnya dan masyarakat Sulawesi Tenggara pada umumnya. Di mata masyarakat
iklim pelaksanaan sistem pendidikan di sekolah ini cukup baik. Akan tetapi berdasarkan
hasil wawancara peneliti dengan beberapa guru khususnya guru matematika pada tanggal
17 November 2007 didapatkan informasi bahwa proses pembelajaran matematika masih
banyak ditemui permasalahan. Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh guru dalam
upaya meningkatkan kualitas hasil belajar matematika siswa adalah bertumpuk pada
pemilihan model pembelajaran yang tepat. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu
pemilihan model pembelajaran akan tergantung pada tujuan pembelajarannya, kesesuaian
dengan materi pembelajaran, tingkat kemampuan dan kondisi peserta didik, kemampuan
guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang
ada. Akibat dari hal tersebut model pembelajaran yang sering diterapkan oleh guru
kebanyakan menggunakan model pembelajaran langsung sehingga keterlibatan siswa
dalam proses pembelajaran sangat kurang. Perlu diketahui bahwa sekarang ini jika
membelajarkan matematika kepada siswa dengan pendekatan paradigma lama dalam arti
komunikasi dalam pembelajaran berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa, guru
lebih mendominasi pembelajaran maka pembelajaran cenderung mengakibatkan kejenuhan.
Hal ini juga akan mengakibatkan kekreatifan peserta didik dalam pembelajaran tidak
berkembang, cenderung pasif sehingga pemahaman mereka sangat tidak maksimal yang
akhirnya menyebabkan banyak hasil belajar mereka di bawah standar ketuntasan minimal
yang telah ditetapkan. Indikator yang dapat dijadikan tolak ukur adalah perolehan nilai
ulangan blok matematika siswa kelas X pada semester I hanya mencapai rata-rata 5,65. Hal
ini sangat memprihatikan karena dari rata-rata hasil yang dicapai siswa tergolong sangat
rendah bila dibandingkan dengan standar minimal ketuntasan hasil belajar sebesar 6,25
yang ditentukan oleh pihak sekolah.
Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti memandang perlu melakukan suatu penelitian
tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan
menerapkan suatu model pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar siswa sebagai
salah satu alternatif pemecahan masalah. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model
pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa
ditempatkan dalam tim belajar yang beranggotakan empat sampai lima orang. Komposisi
kelompok harus heterogen dilihat dari jenis kelamin, suku, agama, dan kemampuannya.
Selanjutnya guru memberikan konsep-konsep materi dan membagikan Lembar Kerja Siswa
(LKS) untuk diselesaikan secara berkelompok. Siswa dalam kelompok saling bertukar
pikiran, mengkaji, dan saling membantu untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. Hal
ini sesuai dengan tujuan pembelajaran kooperatif yaitu untuk membangkitkan interaksi
yang efektip diantara anggota kelompok melalui diskusi.
Untuk melihat sejauhmana efek dari pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap
peningkatan hasil belajar matematika siswa, maka penulis ingin berkolaborasi dengan guru
untuk melaksanakan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul "Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa Pada Pokok bahasan Perbandingan Trigonometri Melalui Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD Pada Kelas X SMA Negeri 4 Kendari ".
A.Permasalahan


Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka masalah dalam penelitian
ini adalah: Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam
pembelajaran pokok bahasan perbandingan trigonometri dapat meningkatkan hasil belajar
siswa kelas X SMA Negeri 4 Kendari?
B.Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan di atas maka penelitian ini bertujuan
untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan perbandingan trigonometri
melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD kelas X SMA Negeri 4 Kendari.
C.Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak seperti berikut ini :
1.Bagi siswa : Dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran melalui
model pembelajaran kooperatif tipe STAD sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.
2.Bagi guru : Diharapkan guru matematika dapat menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD sebagai upaya untuk membangkitkan motivasi, kerjasama, dan
partisipatif aktif siswa dalam proses belajar mengajar khusunya pada pokok bahasan
perbandingan.
3.Bagi Sekolah : Sebagai masukan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran
khususnya matematika.
4.Peneliti : Penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi peneliti sebagai wahana dalam
menerapkan metode ilmiah secara sistematis dan terkontrol, dalam upaya menemukan dan
menghadapi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan proses pembelajaran
matematika.
D.Definisi Operasional
1.Hasil belajar siswa pada pokok bahasan perbandingan trigonometri adalah hasil yang
dicapai siswa setelah mempelajari matematika pada pokok bahasan perbandingan
trigonometri dalam kurun waktu tertentu yang dinyatakan dengan angka dan diukur dengan
mengunakan tes. Batasan mengenai hasil belajar perbandingan trigonometri dalam
penelitian ini hanya dibatasi pada ranah kognitif.
2.Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah model pembelajaran yang mengikuti langkah-
langkah sebagai berikut: (1) Persiapan, (2) Persentase Kelas, (3) Tes Kegiatan, (4)
Penghargaan kelompok.


E.Kajian Teori
1.Pengertian Belajar
Wina Sanjaya (2006:195) menyatakan belajar adalah suatu proses yang dinamis,
berkembang secara terus menerus sesuai dengan pengalaman, semakin banyak
pengalaman yang dilakukan maka akan semakin kaya, luas dan sempurna pengetahuan.
Pengetahuan itu akan bermakna manakala diperoleh dari pengalaman melalui proses.
Pengalaman yang diperoleh dari hasil pemberitahuan orang lain seperti hasil penuturan
guru, hanya akan mampir sesaat untuk diingat dan setelah itu dilupakan. Oleh sebab itu
dalam konteks KBK, membelajarkan siswa tidak cukup hsnys dengan memberitahukan akan
tetapi mendorong siswa untuk melakukan suatu proses melalui berbagai aktivitas yang
dapat mendukung terhadap pencapaian kompetensi.
Slameto (1995: 2) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Pendapat
tersebut sejalan dengan pendapat Crow dan crow (Roestiyah, 1989: 8) menyatakan
seseorang dikatakan mengalami proses belajar jika ada perubahan dari tidak tahu menjadi
tahu dalam menguasai ilmu pengetahuan. Demikian juga pendapat Roestiyah (1989: 8),
bahwa belajar adalah proses aktivitas yang dapat membawa perubahan pada individu.
Sudjana (1991: 5) menyatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan yang relatif
permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek atau latihan.
Sudjana (2000: 28) juga menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai
dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar
dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pemahamannya,
pengetahuannya, sikap dan tingkah lakunya, daya penerimaan dan lain-lain aspek yang ada
pada individu siswa.
Gagne dalam Russefendi (1979:138) menyatakan bahwa dalam belajar matematika ada dua
aspek yang dapat dipahami siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek
langsung antara lain fakta, keterampilan, konsep dan aturan, sedangkan objek tidak
langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah mandiri.
Berdasarkan pengertian belajar diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses
perubahan tingkah laku yang mengakibatkan bertambahnya pengetahuan, keterampilan,
nilai dan sikap yang diperoleh dari interaksi individu dengan lingkungannya.
2.Pengertian Mengajar
Mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan
kepada anak didik kita. Adapun pengertian lain di negara-negara yang sudah maju
dikatakan bahwa mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar.
Pengertian ini menunjukkan bahwa yang aktif adalah siswa yang mengalami proses belajar.
Sedangkan guru hanya membimbing, menunjukkan jalan dengan memperhitungkan
kepribadian siswa. Kesempatan untuk berbuat dan aktif berpikir lebih banyak diberikan
kepada siswa (Slameto,1995: 29-30). Selanjutnya Hamalik (2001: 44) mengemukakan
bahwa mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid
sekolah. Sedangkan Ad. Rooijakkers (1989: 1) mengemukakan hal yang serupa yakni
mengajar adalah menyampaikan atau menularkan pengetahuan dan pandangan.
Pengertian mengajar yang dikemukakan di atas, menunjukkan bahwa mengajar adalah
suatu kejadian mengatur dan membimbing siswa sehingga terjadi proses belajar.
3.Proses Belajar Mengajar Matematika
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan
guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif
untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar mengajar tersebut terdapat adanya
suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara guru dan siswa yang belajar, antara
kedua kegiatan ini terdapat interaksi yang saling menunjang (Usman, 1995: 4). Sedangkan
James Popham (1992:141) menyatakan mengajar secara efektif bergantung pada pemilihan
dan penggunaan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan mengajar. Cara belajar
mengajar yang lebih baik ialah mempergunakan kegiatan murid-murid sendiri secara efektif
dalam kelas, merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan sedemikian rupa secara
kontinu dan juga melalui kerja kelompok.
Dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar matematika Slameto (2003:20)
mengemukakan bahwa belajar matematika adalah suatu bentuk belajar yang dilakukan
secara kontinyu dan penuh kesadaran, perhatian dan rencana yang dalam pelaksanaannya
membutuhkan proses yang aktif dari individu dalam memperoleh pengalaman maupun
pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku yang ditandai dengan
dengan pemahaman konsep dasar matematika yang akan mengatur individu ke arah
berfikir secara matematis berdasarkan aturan yang logis. Masih Slameto (2003:20)
mengatakan mengajar matematika adalah suatu kegiatan mengajar dengan tujuan agar
mendapatkan pengetahuan tentang matematika yang diberikan oleh guru. Oleh karena
harus terjadi interaksi yang baik antara guru dan siswa.
4.Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa ditunjukkan oleh perubahan-perubahan dalam bidang
pengetahuan/pemahaman, keterampilan, analisis, sintesis, evaluasi, serta nilai dan sikap.
Perubahan yang dihasilkan dari belajar dapat berupa perubahan persepsi dan pemahaman,
yang tidak selalu dilihat sebagai tingkah laku. Adanya perubahan itu tercermin dalam
prestasi belajar yang diperoleh siswa (Soekamto dan Winataputra, 1997 : 149). Selanjutnya
Sanjaya (2006:88) menyatakan keberhasilan belajar diukur dari hasil yang diperoleh,
semakin banyak informasi yang dihafal maka semakin bagus hasil belajar.
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari sesuatu yang telah dilakukan
(Poerwadharminata, 1984:169). Selanjutnya Winkel (1984:102) menyatakan bahwa
prestasi adalah bukti keberhasilan dari usaha yang dapat dicapai. Pernyataan-pernyataan
tersebut memberikan pengertian bahwa hasil belajar adalah seluruh kecakapan dan segala
hal yang diperoleh melalui proses belajar mengajar di sekolah yang dinyatakan dengan
angka dan diukur dengan menggunakan tes hasil belajar.
Gagne dalam Russefendi (1979 : 49 – 50) membagi hasil belajar dalam lima kategori yaitu :
(1) keterampilan intelektual, (2) strategi kognitif, (3) informasi verbal, (4) keterampilan
motorik, dan (5) sikap. Selanjutnya Bloom (1981) dalam Suharsimi (1997:114) membagi
hasil belajar dalam tiga ranah yaitu (1) kognitif, (2) efektif, (3) psikomotor. Ranah kognitif
terbagi atas enam tingkatan yaitu : (a) ingatan, (2) pemahaman, (3) penerapan, (d)
analisis, (e) sintesis, dan (f) evaluasi.
Batasan mengenai hasil belajar banyak dikemukakan oleh para ahli. Hasil belajar
matematika yang diharapkan pada jenjang pendidikan menengah umum yang meliputi tiga
aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Tetapi dalam penelitian ini, hasil belajar
matematika yang hendak diukur dibatasi hanya pada hasil belajar di ranah kognitif. Dengan
demikian dapat dirumuskan bahwa hasil belajar matematika pada ranah kognitif yang
dimiliki siswa sebagai hasil dari proses belajar mengajar matematika selama kurun waktu
tertentu berdasarkan tujuan instruksional tertentu yang mengacu pada garis besar program
pengajaran matematika SMA.
5.Model Pembelajaran Kooperatif
Model dan metode pembelajaran adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Di
dalam suatu model pembelajaran tentu menggunakan metode mengajar tertentu.
Soekamto (1993:109) memberi batasan tentang model pembelajaran yaitu kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu sebagai pedoman bagi guru dalam
melaksanakan pembelajaran di kelas.
Dewasa ini banyak ahli pembelajaran yang mengkonstruksi/mengembangkan model
pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran dimaksudkan untuk menciptakan
suasana proses belajar mengajar yang menyenangkan dan mudah dipahami peserta didik,
sehingga berimplikasi pada peningkatan kualitas hasil belajar mereka. Salah satu model
pembelajaran yang dikembangkan adalah model pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif dicirikan oleh struktur tugas dan penghargaan yang kooperatif.
Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan atau dikehendaki
untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan
usahanya dalam menyelesaikan tugas. Ismail (2002:20) menyatakan bahwa model
pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya
kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk
mempelajari materi pelajaran melalui diskusi untuk memecahkan masalah. Selanjutnya
Slavin dan Johson dalam Sanjaya (2006:195) mengatakan ada dua komponen yang sangat
penting dalam strategi pembelajaran kooperatif yaitu kooperatif dalam mengerjakan tugas-
tugas dan kooperatif dalam memberikan dorongan atau motivasi.
Beberapa ciri belajar kooperatif yaitu: (1) siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif
untuk menuntaskan materi belajarnya; (2) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki
kemampuan tinggi, sedang, rendah; (3) bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari
ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda; (4) penghargaan lebih berorientasi
pada kelompok ketimbang individu (Hartadji 2001:34). Selanjutnya Marpaung, dkk (2002)
menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif menerapkan prinsip-prinsip melalui tahapan
persiapan, presentasi kelas, kegiatan kelompok, tes, dan penghargaan. Uraian kegiatan
tersebut adalah sebagai berikut:
a.Persiapan
Hal-hal yang dipersiapkan pada tahap ini antara lain adalah (a) materi pelajaran; (b)
membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kooperatif; (c) menentukan skor dasar siswa;
(d) latihan kerjasama kelompok, dan (d) menentukan jadwal kegiatan.
b.Presentasi Kelas
Kegiatan pembelajaran dimulai dengan penyajian materi dengan rincian dimulai dari
pendahaluan, menjelaskan materi, dan latihan terbimbing yang ditekankan pada apa yang
akan dilakukan siswa dalam kelompok
c.Kegiatan Kelompok
Kegiatan ini dimulai dari penjelasan tentang kerja kelompok, aturan-aturan yang ditetapkan
dalam kelompok kooperatif, pelaksanaan kegiatan kelompok dengan membahas/
menyelesaikan yang diberikan oleh guru.



d.Pemberian Tes
Setelah selesai dalam kerja kelompok, siswa diberikan tes dengan lingkup materi yang
relevan, tes dikerjakan sekitar 40 menit secara individiual.
e.Penghargaan Kelompok
Setelah diberikan tes, segera diperiksa dan diberikan skor perkembangan individu dan skor
kelompok, kemudian memberikan sertifikat atau penghargaan kepada kelompok yang
mempunyai skor tertinggi. Pemberian penghargaan dalam pembelajaran kooperatif
merupakan insentif kelompok dan insentif individu, yang dapat mendorong siswa untuk
meningkatkan usaha belajarnya.
Dalam model pembelajaran kooperatif terdapat enam langkah utama yang dapat dilihat
pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Langkah-langkah dalam model pembelajaran kooperatif.
Langkah
Indikator
Tingkah Laku Guru
Langkah 1


Menyampaikan tujuan
dan memotivasi siswa.


Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran dan
mengkomunikasikan kompetensi
dasar yang akan dicapai serta
memotivasi siswa.
Langkah 2


Menyajikan informasi.


Guru menyajikan informasi kepada
Siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Langkah 3


Mengorganisasikan
siswa ke dalam
kelompok-kelompok
belajar.
Guru menginformasikan
pengelompokan siswa dan membantu setiap kelompok agar melakukan interaksi secara
efektif.
Langkah 4


Membimbing
kelompok bekerja dan belajar.
Guru memotivasi serta memfasilitasi
kerja siswa dalam kelompok kelompok belajar.
Langkah 5


Evaluasi.
Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi pembelajaran yang
telah dilaksanakan.
Langkah 6


Memberikan
penghargaan.
Guru memberi penghargaan hasil
belajar individual dan kelompok.


Bila diperhatikan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif di atas maka tampak
bahwa peran aktif siswa di kelas sangat menonjol (Ismail, 2002:15).
6.Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran
kooperatif yang menekankan struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi
pola-pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik.
Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawan di Universitas John
Hopkins.
Model pembelajaran ini dipandang paling sederhana diantara beberapa model pembelajaran
kooperatif. Para guru menggunakan model ini untuk mengajarkan informasi baru kepada
siswa setiap pekan. Para siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok masing-
masingterdiri atas 4 atau 5 orang. Tiap kelompok memiliki anggota yang heterogen baik
dari jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan (tinggi, sedang, rendah). Tiap anggota
kelompok saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab dan tiap 1
atau 2 pekan guru mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan
akademik yang telah dipelajari. Tiap siswa dan tiap lelompok diberi skor ats penguasaannya
terhadap bahan ajar yang telah dipelajari. Dan kepada tiap siswa atau kelompok yang
meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan (Nurhadi,
2004:116-117).
Sudikin dan kawan-kawan (2002:16) menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif
tipe STAD memiliki kelebihan antara lain: (a) siswa lebih mampu mendengar, menghormati
dan mendengar orang lain, (b) siswa mampu mengidentifikasi akan perasaannya juga
perasaan orang lain, (c) siswa dapat menerima pengalaman dan dimengerti orang lain, (d)
siswa mampu meyakinkan dirinya untuk saling memahami dan mengerti dan (e) siswa
mampu mengembangkan potensi individu yang berhasil guna dan berdaya guna, kreatif,
bertanggung jawab, mampu mengaktualisasikan dan mengoptimalkan dirinya terhadap
perubahan yang terjadi.
Dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD terdapat langkah-langkah secara khusus yang
dapat lihat pada tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
No.
Tahap
Perlakuan Guru
1.
Persiapan
Guru mempersiapkan materi pelajaran, membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil,
2.
Persentase kelas
Guru menyiapkan materi pelajaran yang diawali dengan pendahuluan, penjelasan materi,
dan latihan terbimbing.
3.
Tes kegiatan
Melaksanakan tes yang dikerjakan secara individu dan skor yang diperoleh siswa dalam
mengerjakan tes akan disumbangkan sebagai skor kelompok.
4.
Penghargaan kelompok
Menghitung skor perkembangan individu dan skor kelompok kemudian memberikan
penghargaan terhadap kelompok yang memperoleh skor tinggi.


Dari tabel di atas terlihat bahwa dalam melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD, guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam kelompok mereka
(Anonim, 1999:55).
Guru memberikan penghargaan kelompok berdasarkan pada perolehan nilai peningkatan
hasil belajar dari nilai dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok.
Cara-cara penentuan nilai penghargaan kepada kelompok dijelaskan sebagai berikut.
Langkah – langkah memberi penghargaan kelompok:
1.Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai dasar (awal) dapat berupa nilai
tes/kuis awal atau menggunakan nilai ulangan sebelumnya.
2.Menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan setelah siswa bekerja dalam kelompok,
misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa
yang kita sebut nilai kuis terkini.
3. Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih
nilai kuis terkini dan nilai dasar (awal) masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria
berikut ini.
Kriteri
Nilai Peningkatan
Nilai kuis/tes terkini turun lebih dari 10 poin di bawah nilai awal
5


Nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai dengan 10 poin di bawah nilai awal
10
Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 di atas nilai awal
20
Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 di atas nilai awal
30


Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh
masing-masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan
sempurna
Kriteria untuk status kelompok:
1.Cukup, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok kurang dari 15 (Rata-rata nilai
peningkatan kelompok < 15).
2.Baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok mulai dari 15 sampai di bawah 20 (15 ≤
Rata-rata nilai peningkatan kelompok < 20).
3.Sangat baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok mulai dari 20 sampai di bawah 25
(20 ≤ Rata-rata nilai peningkatan kelompok < 25).
4.Sempurna, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok lebih atau sama dengan 25 (Rata-
rata nilai peningkatan kelompok ≥ 25). (Ismail,2002:18)
7.Materi Perbandingan Trigonometri
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Materi Pokok Bahasan Perbandingan
Trigonometri meliputi:
Perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku.
Nilai perbandingan trigonometri dari sudut khusus
Perbandingan trigonometri dari semua kuadran.
Fungsi trigonometri dan grafiknya
Persamaan trigonometri sederhana
Identitas Trigonometri
Aturan sinus dan aturan kosinus
Rumus Luas segitiga
Pemakaian Perbandingan trigonometri.
(Depdiknas, 2006).
F.Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hilda Anastasia (2007), menyimpulkan bahwa dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD prestasi belajar matematika pada
pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel siswa kelas VII1 SMP
Negeri 10 Kendari dapat ditingkatkan.




G.Kerangka Berfikir
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika, guru harus
mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan model
pembelajaran. Suatu hal pokok yang harus diperhatikan oleh guru dalam mengajarkan
suatu pokok bahasan dalam matematika agar tercipta suasana belajar yang optimal adalah
pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi perkembangan peserta didik
karena melihat kondisi peserta didik yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda satu
dengan yang lainnya, materi pelajaran yang akan diajarkan karena setiap materi memiliki
sifat dan ciri khas tertentu baik dari tingkat kerumitannya maupun tingkat kemenarikannya
untuk dipelajari oleh peserta didik, serta sumber-sumber belajar yang ada yang dapat
mendukung dan memudahkan cara penyampaian materi kepada peserta didik.
Akibat dari kenyataan tersebut peneliti melihat adanya kecenderungan para pendidik untuk
mencari berbagai solusi pemecahan hal tersebut. Peneliti bersama guru bidang studi
matematika SMA Negeri 4 Kendari menganggap perlu menerapkan suatu pendekatan
pembelajaran yang tepat. Peneliti berasumsi bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD
adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang dari segi karakteristiknya dapat
memenuhi harapan tersebut.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan pembelajaran yang relatip sederhana yang
mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok melalui diskusi. Dalam hal
ini, sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa. Dengan demikian model
pembelajaran kooperatif sangat cocok untuk diterapkan sehingga akan berdampak pada
peningkatan hasil belajar siswa pada pokok bahasan perbandingan trigonometri di kelas X
SMA Negeri 4 Kendari.
H.Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoretik yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan
hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut "Bila diberikan pembelajaran
dengan model kooperatif tipe STAD, maka hasil belajar siswa pada pokok bahasan
Perbandingan Trigonometri di kelas X SMA Negeri 4 kendari dapat ditingkatkan".
I.Metode Penelitian
1.Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas. Ciri utama dari penelitian
tindakan kelas yakni adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses
belajar di kelas.
2.Setting Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Februari semester genap tahun
ajaran 2007/2008, di kelas X SMA Negeri 4 Kendari.
3. Faktor yang diselidiki
Dalam penelitian ini ada beberapa faktor yang akan diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah
sebagai berikut:
1.Faktor siswa : untuk melihat bagaimana cara belajar dan hasil belajar matematika siswa
khususnya pada pokok bahasan Perbandingan Trigonometri.
2.Faktor guru : untuk melihat bagaimana materi pelajaran dipersiapkan dan bagaimana
model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilakukan guru dalam pembelajaran di
kelas.
4.Prosedur Penelitian
Lewin memberikan gambaran tentang disain penelitian sebagai suatu spiral langkah-
langkah yang terdiri dari empat taraf yaitu planning, acting, observing, dan reflecting.
Keempat langkah tersebut merupakan satu putaran, kemudian dilanjutkan lagi dengan
putaran kedua, ketiga, dan seterusnya sampai dianggap cukup untuk menjawab masalah
yang ada.
Penelitian ini direncanakan pelaksanaannya sebanyak tiga siklus dengan pertemuan tiap
siklus sebanyak tiga kali sesuai jam pelajaran dalam silabus KTSP yang telah ditetapkan
oleh pihak sekolah. Sebelum pelaksanaan tindakan, direncanakan akan diadakan tes awal
yang berkaitan dengan materi yang akan diberikan. Hal ini dilakukan untuk melihat
kemampuan awal siswa dan hasilnya akan dijadikan acuan dalam pembagian kelompok
belajar siswa.
Selanjutnya, setiap siklus dalam penelitian ini terdiri dari tahapan kegiatan sebagai berikut:
1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan Tindakan, 3) Observasi dan Evaluasi, 4) Refleksi. Secara
rinci setiap tahapan kegiatan dijelaskan sebagai berikut:
a.Perencanaan
Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut
:
1.Membuat rencana pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif
2.Membuat LKS untuk membantu siswa memahami materi yang diajarkan
3.Membuat lembar observasi untuk siswa dan guru guna melihat bagaimana kondisi belajar
mengajar di kelas ketika model pembelajaran diterapkan
4.Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah prestasi belajar matematika siswa pada
pokok bahasan perbandingan trigonometri dapat ditingkatkan
5.Membuat jurnal untuk mengetahui refleksi diri
b.Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan rencana
pembelajaran yang telah dibuat.
c.Observasi dan Evaluasi
Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap ini adalah melakukan observasi terhadap
pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah dibuat dan
melaksanakan evaluasi pada setiap akhir siklus tindakan.
d.Refleksi
Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap ini adalah menganalisis hasil yang diperoleh
pada tahap observasi dan evaluasi. Selanjutnya dari hasil tersebut akan dilihat apakah telah
memenuhi target yang ditetapkan pada indikator kinerja. Selanjutnya hasil inipun akan
dijadikan acuan untuk melanjutkan siklus berikutnya.
5.Data dan Cara Pengambilan Data
a.Sumber data: personil penelitian yang terdiri dari siswa dan guru yang berupa hasil
observasi tentang keadaan proses belajar mengajar dan hasil evaluasi siswa.
b.Jenis data: jenis data yang akan diperoleh dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang
terdiri dari jurnal, lembar obsevasi dan data kuantitatif yang diperoleh dari tes evaluasi hasil
belajar.
c.Teknik pengambilan data:
1.Data tentang pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan diambil dengan
menggunakan tes hasil belajar.
2.Data tentang suasana proses belajar mengajar sebelum dan pada saat pelaksanaan
pembelajaran dengan model Pembelajaran kooperatif tipe STAD diambil dengan
menggunakan lembar observasi.
3.Data refleksi tentang perubahan yang terjadi diambil dengan jurnal.
6.Indikator Kinerja
Keberhasilan penelitian ini dilihat dari dua segi, yaitu dari segi proses dan dari segi hasil
(nilai) siswa.
Dari segi proses, tindakan dikategorikan berhasil bila minimal 85% proses pelaksanaan
tindakan telah sesuai dengan skenario pembelajaran.
Dari segi hasil, tindakan dikategorikan berhasil bila minimal 75% siswa telah memperoleh
nilai minimal 6,25 (Ketentuan SMA Negeri 4 Kendari).
7.Alur PTK Pada Setiap Siklus Kegiatan Penelitian
Gambar 1 Alur PTK
(Tim Proyek PGSM, 1999:27)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:351
posted:10/8/2012
language:
pages:13