PTK – Model Examples Non Examples Dengan Pendekatan SAVI

Document Sample
PTK – Model Examples Non Examples Dengan Pendekatan SAVI Powered By Docstoc
					PTK

PTK
Mei 5, 2010 oleh tatangrustandi


A. Judul Penelitian


Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Ekonomi Menggunakan Model Examples
Non Examples Dengan Pendekatan SAVI di Kelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak.


B. Latar Belakang


Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan memiliki peranan yang sangat penting, yaitu
untuk menjamin kelangsungan kehidupan dan perkembangan bangsa itu sendiri. Hal ini sebagaimana
tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
(2003:3) pasal 1 yang berbunyi:


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. RENCANA PENELITIAN
TINDAKAN KELAS
Posted on 30 Juni 2008 by Abdul Majid


Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memerlukan guru dan murid karena salah satu unsur
dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang merupakan dua bentuk kegiatan yang tidak dapat
dipisahkan antar satu dengan lainnya.


Selain itu sekolah sebagai salah satu unsur dalam dunia pendidikan saat ini sedang mengalami
perhatian dari berbagai pihak, karena pendidikan sangat diperlukan oleh masyarakat dalam
menghadapi kehidupan yang sangat kompleks, dimana pendidikan saat ini terus berbenah diri
menemukan cara yang terbaik untuk mencapai hasil yang sesuai dengan tuntutan masyarakat.


Untuk meningkatkan mutu dan hasil belajar dalam pengajaran seorang guru dituntut supaya
menguasai dan menerapkan berbagai metode pengajaran IPS Ekonomi.


Pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas merupakan salah satu tugas utama guru, dan pembelajaran
dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam proses
pembelajaran masih sering ditemui adanya kecenderungan meminimalkan keterlibatan siswa.
Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan kecenderungan siswa lebih bersifat pasif
sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru dari pada mencari dan menemukan sendiri
pengetahuan, ketrampilan atau sikap yang mereka butuhkan.


Selama ini proses pembelajaran ekonomi yang ditemui masih secara konvensional, seperti ekspositori,
drill atau bahkan ceramah. Proses ini hanya menekankan pada pencapaian tuntutan kurikulum dan
penyampaian tekstual semata daripada mengembangkan kemampuan belajar dan membangun
individu. Kondisi seperti ini tidak akan menumbuhkembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa
seperti yang diharapkan. Akibatnya nilai-nilai yang didapat tidak seperti yang diharapkan.


Misalnya sering guru kecewa melihat hasil ulangan harian yang hanya mendapat daya serap kurang
dari 60% atau nilai rata-rata kelas kurang dari 5. Kadang-kadang guru merasa prihatin dan ingin
memperbaiki keadaan tersebut dengan mencobakan suatu pembelajaran yang belum pernah
dilaksanakan, yaitu pendekatan pembelajaran yang akan membuat siswa dapat belajar secara efektif.


Pembelajaran yang efektif adalah yang berpusat pada siswa yaitu, siswa sebagai subjek pembelajaran
yang harus aktif kreatif dan mampu berfikir kritis, dalam hal ini peran guru sebagai pembimbing dan
fasilitator. Guru memiliki peranan penting artinya selain sebagai pembimbing dan fasilitator bagi
siswa, guru juga harus bertindak secara profesional. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki
kemampuan dasar (kompetensi) antara lain sebagai berikut:


Menguasai bahan, mengelola program belajar-mengajar, mengelola kelas, menggunakan media atau
sumber, menguasai landasan-landasan kependidikan, mampu mengelola interaksi belajar mengajar,
mampu menilai prestasi untuk kepentingan pengajaran, mengenal fungsi dan program pelayanan
bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, memahami dan
menafsirkan hasil-hasil penelitian guna keperluan pengajaran (W. Gulo, 2002:37).


IPS Ekonomi merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan disekolah menengah pertama. Di
kalangan siswa terdapat kecenderungan, bahwa mata pelajaran ini kurang diminati. Padahal mata
pelajaran ini termasuk mata pelajaran yang di-Ebtanaskan. Kurangnya minat siswa terhadap mata
pelajaran ini, dimungkinkan karena kurangnya upaya guru untuk mengingkatkan kreatifitas belajar
siswa. Kebanyakan guru masih dominan menggunakan metode ceramah dalam mengajar sehingga
tidak terciptanya proses pembelajaran yang menyenangkan dan bervariasi, yang dapat menambah
semangat belajar siswa. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar kurang menarik dan membosankan
karena siswa tidak dirangsang atau ditantang untuk belajar dan berfikir kreatif.


Dalam proses belajar mengajar, khususnya dalam upaya meningkatkan hasil belajar para siswa,
idealnya para guru IPS-Ekonomi dituntut untuk memiliki kemampuan:
1. Memanfaatkan berbagai sumber belajar.


2. Memahami cara berpikir siswa.


3. Memahami cara siswa belajar.


4. Memilih dan menggunakan media secara tepat.


5. Memilih dan menggunakan metode secara tepat.


6. Menguasai bahan/materi pelajaran yang disampaikan kepada para siswa, (Depdikbud : 1998)


Seperti penjelasan di atas, yaitu di dalam pembelajaran mata pelajaran IPS-Ekonomi umumnya para
guru lebih banyak menggunakan metode ceramah. Hal ini menyebabkan siswa jadi pasif dan
kemampuan berpikirnya tidak berkembang secara baik.


Sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah menengah pertama IPS Ekonomi
memiliki tujuan. Adapun tujuan mata pelajaran IPS Ekonomi di sekolah menengah pertama adalah
sebagai berikut:


Mampu menghadapi fakta dan peristiwa ekonomi dilingkungannya.
Mampu berfikir kritis dan menggunakan atau menerapkan beberapa pengertian ekonomi dalam
kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.


Untuk mencapai tujuan diatas, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah proses belajar
mengajar yang terjadi dalam kelas. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan untuk
memper suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003:2).


Proses belajar dapat dirinci kedalam beberapa prinsip dasar. Dengan memahami dan menerapkan
prinsip-prinsip tersebut, kita akan dapat memiliki arah dan pedoman yang jelas dan relalif mudah
sehingga lebih cepat berhasil dalam belajar serta akan menentukan metode belajar yang efektif.


Menurut Thursan Hakim (2000:2) adapun prinsip-prinsip belajar tersebut sebagai berikut:
Belajar harus berorientasi pada tujuan yang jelas.
Proses belajar akan terjadi bila seseorang dihadapkan pada situasi problematis.
Belajar dengan pengertian akan lebih bermakna dari pada belajar dengan hafalan.
Belajar merupakan proses yang kontinyu.
Belajar memerlukan kemauan yang kuat.
Keberhasilan belajar ditentukan oleh banyak faktor.
Belajar secara keseluruhan akan lebih berhasil dari pada belajar secara terbagi-bagi.
Proses belajar memerlukan metode yang tepat.
Belajar memerlukan adanya kesesuaian antara guru dan murid.
Belajar memerlukan kemampuan dalam menangkap intisari pelajaran itu sendiri.


Sedangkan mengajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh guru dalam rangka penyampaian
materi kepada para siswa agar siswa tersebut menjadi tahu dan paham dengan menggunakan
berbagai teknik dan pendekatan pembelajaran. Agar proses dan pencapaian hasil belajar dapat
efesien dalam penggunaan waktu, terarah, tercapainya tujuan yang telah ditetapkan serta terciptanya
suasana pembelajaran yang menyenangkan.


Untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan melibatkan siswa dalam belajar tersebut
tidaklah mudah, khususnya mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan ekonomi dan pola pikir
ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membuat mereka terlibat secara langsung, dan
membuat mereka merasakan kegembiraan dalam belajar perlu diciptakan kondisi kelas yang
mendukung, dengan setting membuat mereka tetap dalam keadaan belajar. Hal itu dapat terlaksana
jika prinsip-prinsip dasar belajar dilaksanakan sepenuhnya.


Prinsip-prinsip dasar tersebut antara lain:


1. Belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh.


2. Belajar adalah berkreasi, bukan mengonsumsi.


3. Kerja sama membantu proses belajar.


4. Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan.


5. Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri (dengan umpan balik).


6. Emosi positif sangat membantu pembelajaran.


7. Otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis


(Meier, 2000:54-55).


Berdasarkan prinsip-prinsip dasar tersebut, diperlukan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang
membuat siswa terlibat secara aktif sepenuhnya. Menurut Meier (2000:90) Belajar Berdasar Aktivitas
(BBA) berarti bergerak aktif secara fisik ketika belajar, dengan memanfaatkan indra sebanyak
mungkin, dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat dalam proses belajar.
Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh orang berdiri dan bergerak kesana kemari.
Akan tetapi, menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra
dapat berpengaruh besar pada pembelajaran. Pendekatan yang dapat digunakan disini adalah
pendekatan SAVI. Menurut Meier (2000:91) pembelajaran dengan pendekatan SAVI adalah
pembelajaran yang menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua
indra yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran.


Unsur-unsur SAVI antara lain:


Somatis : Belajar dengan bergerak dan berbuat


Auditori : Belajar dengan berbicara dan mendengar


Visual : Belajar dengan mengamati


Intelektual : Belajar dengan memecahkan masalah dan berfikir.


Belajar bisa optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam satu peristiwa pembelajaran. Misalnya,
seorang siswa dapat belajar sedikit dengan menyaksikan presentasi (V), tetapi ia dapat belajar jauh
lebih banyak jika dapat melakukan sesuatu ketika presentasi sedang berlangsung (S), membicarakan
apa yang mereka pelajari (A), dan memikirkan cara menerapkan informasi dalam presentasi tersebut
untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada (I).


Saat ini pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah telah menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada (1) Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar isi
untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, dan (2) Permendiknas RI No. 23 Tahun 2006 Tentang
Standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. (Badan Standar Nasional
Pendidikan: 2006)


SMP Negeri 7 Pontianak merupakan salah satu diantara Sekolah Menengah Pertama Negeri yang ada
dikota Pontianak. Saat ini SMP Negeri 7 Pontianak telah menggunakan KTSP khususnya dikelas VII.
Dalam Kurikulum yang berlaku di SMP Negeri 7 Pontianak, IPS Ekonomi merupakan salah satu mata
pelajaran yang diajarkan pada siswa kelas VII yang diajarkan satu jam pelajaran tiap pertemuan
perminggu.


Berdasarkan hasil ulangan harian mata pelajaran IPS Ekonomi Semester 1 Tahun Ajaran 2006/2007
kelas VII SMP Negeri 7 Pontianak menunjukkan nilai rata-rata yang masih rendah, seperti yang
terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1: Nilai rata-rata Ulangan Harian Mata Pelajaran IPS Ekonomi kelas VII Semester 1 SMP Negeri
7 Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007.


Kelas
Jumlah Siswa
Jumlah Nilai
Nilai Rata-Rata


VII A


VII B


VII C


VII D


VII E
41 Orang


40 Orang


39 Orang


40 Orang


40 Orang
2.532


2.415


2.495


2.639


2.435
61.75


60.38


63.97
65.97


60.88


Sumber: Daftar Nilai Guru Mata Pelajaran IPS Ekonomi Kelas VII.


Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 7 Pontianak sebagian
besar menunjukkan hasil yang masih rendah. Nilai rata-rata tertinggi adalah 65.97, sedangkan nilai
rata-rata terendah adalah 60.38. Diantara kelas yang ada, kelas VII B adalah kelas yang nilai rata-
rata ulangan hariannya paling rendah. Dikarenakan oleh nilai rata-rata ulangan harian dan prestasi
belajar paling rendah dibandingkan dengan kelas lainnya, maka penelitian tidakan kelas ini hanya
dilakukan dikelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak. Berikut ditampilkan nilai ulangan harian mata
pelajaran IPS Ekonomi kelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007.


Tabel 2: Nilai Ulangan Harian Mata Pelajaran IPS Ekonomi kelas VII B Semester 1 SMP Negeri 7
Pontianak Tahun Ajaran 2006/2007.


No
Nama
Nilai
Keterangan


1.


2.


3.


4.


5.


6.


7.


8.


9.


10.
11.


12.


13.


14.


15.


16.


17.


18.


19.


20.


21.


22.


23.


24.


25.


26.


27.


28.


29.


30.


31.
32.


33.


34.


35.


36.


37.


38.


39.


40.
Agustina


Angga Indrawan


Aradhea Systia .P


Arina Milati


Defi Hardianti


Dian Novita


Dianita Utami


Didi Ariyadi


Eko Saputra


Eliyani


Fahru Rozi


Faisal .P
Ferdi Nandus Joko


Ismaya Dwi .A


Jennie Ivana


Juliadi


Lukman Nilhakim


Mariana


Marlina


Meilina


M. Reza


M. Subhan


Myrna H.R


Nurhasanah


Nurul Ismia


Paril


Petrus Kutul


Rohmatika


Sarah Nur Fadlun


Sarah Sepmikarlia


Satrio Suryo Dwi


Septian


Shintikhe D.G
Siti Deviro


Susilawati


Saiful


Tri Hardianti


Uswantun Hasanah .O


Vivie Febriyanti


Yuda Rezki .P
60


50


85


60


50


90


75


65


70


70


65


65


60


60
70


40


50


65


80


75


40


40


85


65


50


60


40


50


65


40


55


50


85


60


60
40


30


50


80


65
Tidak Tuntas


Tidak Tuntas


Tuntas


Tidak Tuntas


Tidak Tuntas


Tuntas


Tuntas


Tuntas


Tuntas


Tuntas


Tuntas


Tuntas


Tidak Tuntas


Tidak Tuntas


Tuntas


Tidak Tuntas
Tidak Tuntas


Tuntas


Tuntas


Tuntas


Tidak Tuntas


Tidak Tuntas


Tuntas


Tuntas


Tidak Tuntas


Tidak Tuntas


Tidak Tuntas


Tidak Tuntas


Tuntas


Tidak Tuntas


Tidak Tuntas


Tidak Tuntas


Tuntas


Tidak Tuntas


Tidak Tuntas


Tidak Tuntas


Tidak Tuntas
Tidak Tuntas


Tuntas


Tuntas


Jumlah
60.38
Tidak Tundas


Sumber: Daftar Nilai Guru Mata Pelajaran IPS Ekonomi Kelas VII B.


Berdasarkan pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa yang memperoleh nilai ≥ 65 (Ketuntasan)
berjumlah 18 orang atau mencapai 34.15% dan yang memperoleh nilai ≤ 65 (Tidak Tuntas)
berjumlah 22 orang atau mencapai 61,85%. Maka nilai rata-rata kelas VII B adalah 60.38 dan belum
mencapai ketuntasan


Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 5 Februari 2007 dengan guru mata pelajaran IPS Ekonomi
kelas VII B (Maskartini. S.pd) di SMP Negeri 7 Pontinak, rendahnya hasil belajar tersebut disebabkan
oleh kurangnya konsentrasi siswa dalam belajar, kurangnya minat terhadap bahan pelajaran,
kurangnya keaktifan siswa serta kurangnya media atau sumber pembelajaran berupa buku paket
sehingga menyebabkan siswa bergantung kepada guru sehingga siswa belum dapat belajar secara
mandiri dan yang disediakan hanyalah berupa LKS yang didalamnya hanya tertera ringkasan materi
dalam skala kecil. Serta dalam kegiatan mengajar guru cenderung menggunakan metode ceramah.
Hal ini menyebabkan siswa menjadi kurang aktif dalam proses belajar.


Penggunaan pendekatan SAVI khususnya dalam mata pelajaran IPS Ekonomi, diharapkan siswa dapat
lebih berkonsentrasi dan belajar aktif dalam proses pembelajaran, menambah minat siswa didalam
belajar, meningkatkan kreatifitas siswa, siswa mampu memahami fakta dan peristiwa ekonomi
dilingkungannya serta mampu berfikir kritis dan menggunakan atau menerapkan beberapa pengertian
ekonomi dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sesuai dengan tujuan mata pelajaran IPS
Ekonomi untuk Sekolah Menengah Pertama.


Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas
mengenai ” Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Ekonomi Menggunakan
Model Examples Non Examples Dengan Pendekatan SAVI di Kelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak”.


C. Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang, maka yang menjadi masalah umum dalam penelitian ini adalah
”Apakah dengan menggunakan pendekatan SAVI hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Ekonomi
pada siswa kelas VII B SMP Negeri 7 Pontianak dapat ditingkatkan?”.


Adapun sub-sub masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Kurangnya konsentrasi siswa dalam belajar.


2. Kurangnya minat dan motivasi siswa dalam belajar.


3. Kurangnya keaktifan siswa dalam belajar.


4. Kurangnya media atau sumber pembelajaran berupa buku paket.


5. Guru cenderung menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran.


D. Cara Pemecahan Masalah


Sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 7 Pontianak dalam
pembelajaran IPS Ekonomi adalah peneliti memilih beberapa alternatif antara lain:


1. Dengan melakukan penelitian tindakan kelas melalui pendekatan SAVI.


2. Menyarankan kepada siswa untuk melengkapi buku pelajaran yang diperlukan.


3. Dengan memberikan motivasi, membantu siswa yang kesulitan untuk memahami materi pelajaran
dan membantu siswa yang memiliki kesadaran masih rendah dalam mengerjakan tugas yang
diberikan oleh guru.


4. Memberikan variasi model pembelajaran yang digunakan oleh guru.


Usaha untuk memecahkan masalah tersebut diatas dalam penelitian tindakan kelas ini adalah dengan
melakukan langkah-langkah sebagai berikut:


1. Kolaborasi : Peneliti secara bersama-sama melakukan kegiatan mendiskuksikan hal-hal yang akan
dilakukan, utamanya untuk mendalami dan memahami pendekatan SAVI dalam rangka menyiapkan
strategi pembelajaran IPS yang sesuai dengan setting kelas yang akan diberi tindakan.


2. Brainstorming : Anggota tim melakukan musyawarah untuk menyusun skenario tindakan yang
perlu disiapkan dalam proses pembelajaran dikelas.
3. Observing : Anggota tim peneliti melakukan kegiatan pengamatan terhadap jalannya pemberian
tindakan yang dilakukan oleh guru berdasarkan skenario yang telah disiapkan. Kegiatan ini
dimaksudkan untuk memperoleh informasi keberhasilan maupun kegagalan dan penyebabnya.


4. Refleksi : Anggota tim peneliti melakukan diskusi bersama untuk membahas hasil pengamatan.
Hasil kegiatan ini akan memberikan manfaat yang berguna dalam menentukan cara pemecahan
masalah yang dihadapi dan sekaligus menjadi bahan pertimbangan untuk menyusun rencana tidakan
berikutnya.


E. Tujuan Penelitian


Setiap aktivitas atau kegiatan yang dilakukan tentunya harus memiliki tujuan yang hendak dicapai.
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:


1. Supaya siswa dapat lebih berkonsentrasi dalam proses pembelajaran.


2. Meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.


3. Meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar.


F. Manfaat Penelitian


Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:


1. Bagi Siswa.


a. Dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran ekonomi.


b. Dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih giat khususnya dalam pembelajaran ekonomi.


2. Bagi Guru.


a. Dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SAVI dalam
pembelajaran ekonomi.


b. Mampu melakukan penilaian terhadap media yang akan atau yang telah digunakan.


3. Bagi Penulis.


a. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan di bidang pendidikan.
b. Jika penulis menjadi seorang guru nantinya, penulis akan lebih mengetahui bahwa dengan
menggunakan pendekatan SAVI akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.


4. Bagi Lembaga atau Sekolah.


a. Memberikan sumbangan pemikiran yang baik dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran di
sekolah dan upaya meningkatkan hasil belajar siswa.


b. Untuk meningkatkan keterampilan guru dalam menerapkan pendekatan SAVI dalam kegiatan
belajar mengajar.


G. Defenisi Operasional


Agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian tindakan
kelas ini, maka perlu dibuat penjelasan istilah atau devinisi-devinisi yang di pakai dalam penelitian ini
sebagai berikut:


1. Aktivitas Belajar Siswa.


Aktivitas Belajar Siswa adalah Gerakan yang dilakukan untuk sama-sama aktif ketika belajar dengan
memanfaatkan sebanyak mungkin.


2. Mata Pelajaran IPS Ekonomi.


Mata Pelajaran IPS Ekonomi dalam pelaksanaan pembelajarannya lebih menekankan pada cara belajar
berfikir sistematis statistik untuk menyusun dan menarik kesimpulan suatu fenomena ekonomi yang
data atau faktanya sudah dikumpulkan sebelumnya sebagaimana tercatat dalam Kurikulum
Pendidikan Dasar 1994. Mata Pelajaran IPS Ekonomi untuk SLTP dengan tujuan umum sebagai
berikut:


a. Mampu memahami fakta dan peristiwa ekonomi dilingkungannya.


b. Mampu berfikir kritis dan menggunakan atau menerapkan beberapa pengertian ekonomi dalam
kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.


Selanjutnya Nasution (1978:1) menyatakan:


”Tiap-tiap mata pelajaran atau disiplin ilmu mempunyai struktur tertentu, struktur tersebut terdiri atas
konsep-konsep pokok, bila struktur itu dikuasai maka banyak hal lain yang berhubungan dengan itu
dapat dipahami maknanya, memahami struktur akan mempengaruhi cara berfikir seseorang
sepanjang hidupnya karena ditransfer ke hal-hal lain”.


Sedangkan menurut N. Daljoeni (1999:97) Ekonomi didefinisikan sebagai ”Study pengetahuan yang
membahas bagaimana manusia memproduksi, menukarkan dan mendistribusikan sebagai barang dan
jasa yang di butuhkan”.


Adapun isi mata pelajaran IPS Ekonomi di SLTP dan Petunjuk Teknis Depdikbud (1994:90) meliputi
bahan kajian sebagai berikut:


a. Faktor dan kenyataan keadaan dan peristiwa ekonomi, misalnya kekayaan alam Indonesia dan
jumlah penduduk yang besar yang menguntungkan dan dapat merugikan.


b. Pengenalan fakta dan peristiwa ekonomi yang disajikan dengan teori-teori sederhana.


c. Masalah-masalah ekonomi didalam masyarakat yang dikaitkan dengan usaha meningkatkan taraf
hidup semua warga negara Indonesia.


d. Tujuan, proses dan hasil pembangunan nasional.


Bahan kajian mata pelajaran IPS Ekonomi tersebut dilakukan secara terpadu dan bertolak dari
pemilihan pendekatan, metode media, dan sumber-sumber belajar serta alokasi waktu yang tersedia.
Hal diatas sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Muhammad Ali (1989:29-37) yang menyatakan
bahwa: proses pengajaran itu merupakan suatu rangkaian kegiatan yang bertujuan, yakni bertujuan
dalam suasana yang menyenangkan peserta didik dan mewujudkan pencapaian hasil belajar yang
tinggi.


3. Pendekatan SAVI.


Menurut Meier (2000:91) pembelajaran dengan pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang
menggabungkan gerakan fisik dengan Aktifitas Intelektual dan penggunaan semua indra yang dapat
berpengaruh besar pada pembelajaran.


H. Kerangka Teori dan Hipotesis Tindakan


1. Kerangka Teori.


a. Penelitian Tindakan Kelas


1) Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) disebut dengan classroom action research. Penelitian Tindakan Kelas
dapat didepenisikan sebagai suatu entuk kajian yang bersifat refleksi oleh pelaku tindakan yang
dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dan tindakan-tindakan mereka dlam
melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu
serta memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran dilaksanakan (Stephen Kemmis:
1993:44)


Selain itu menurut Rustam Mundilarto, Penelitian Tindakan Kelas adalah sebuah penelitian yang
dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan
tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru
sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. PTK memiliki karakteristik sebagai berikut:


a) Masalah berawal dari guru.


b) Tujuannya memperbaiki pembelajaran.


c) Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian.


d) Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran.


e) Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.


Berdasarkan defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk
penelitian yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, bertujuan untuk
memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa meningkat untuk mewujudkan
tujuan-tujuan tersebut. PTK itu dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yang terdiri
dari 4 tahap.


Secara singkat dapat dilihat pada gambar dibawah ini:


Merencanakan Melakukan Tindakan


Mengamati Merefleksi


Gambar 1: Kajian Berdaur A Tahap PTK.


PTK dimulai dengan adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran. Masalah
tersebut dapat berupa masalah yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa yang tidak
sesuai dengan harapan guru atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru dan
perilaku belajar siswa. Langkah menemukan masalah dilanjutkan dengan menganalisis dan
merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam bentuk tindakan perbaikan, mengamati,
dan melakukan refleksi.


Keempat langkah utama dalam PTK yaitu merencanakan, melakukan tindakan perbaikan, mengamati,
dan refleksi merupakan satu siklus dan dalam PTK siklus selalu berulang. Setelah satu siklus selesai,
barangkali guru akan menemukan masalah baru atau masalah lama yang belum tuntas dipecahkan,
dilanjutkan ke siklus kedua dengan langkah yang sama seperti pada siklus pertama. Dengan
demikian, berdasarkan hasil tindakan atau pengalaman pada siklus pertama guru akan kembali
mengikuti langkah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi pada siklus kedua. Keempat
langkah dalam setiap siklus dapat digambarkan sebagai berikut.


GAMBAR SIKLUS PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)


R1


L1


L2


M1


L2


R2


M3


R3


M2


Keterangan:


M = Merencanakan


L = Melaksanakan


R = Refleksi


Sumber: Rustam Mundilarto Tahun 2004
Gambar 2: Alur Pelaksanaan Tindakan Kelas


Berdasarkan gambar diatas menunjukkan bahwa sebelum melaksanakan tindakan peneliti terlebih
dahulu harus merencanakan secara bersama jenis tindakan yang akan dilakukan, setelah rencana
disusun secara matang barulah tindakan dilakukan, bersamaan dengan dilaksanakannya tindakan,
peneliti mengamati proses penelitian dan berdasarkan hasil, penelilti kemudian melakukan refleksi
atas tindakan yang dilakukan.


2) Prosedur Penelitian Tindakan Kelas


Prosedur Kerja Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri dari beberapa tahap. Tahap-tahap yang
ditempuh dalam kegiatan ini terdiri atas:


a) Monitoring proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).


b) Identifikasi temuan masalah.


c) Mendiskusikan cara-cara pemecahan masalah dan menentukan langkah tindakan mengatasinya.


d) Rencana tindakan.


e) Melakukan observasi pelaksanaan tindakan dan refleksi.


Berdasarkan konsep diatas, maka dapat disimpulkan bahwa metode penelitian tindakan kelas adalah
suatu metode yang bertujuan melakukan tindakan perbaikan, peningkatan dan juga melakukan suatu
perubahan kearah yang lebih baik dari sebelumnya agar suatu permasalahan dapat diatasi.


b. Metode Examples Non Examples


1) Pengertian Model Examples Non Examples


Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh
dapat dari kasus atau gambar yang relevan dengan KD.


2) Langkah-Langkah Model Examples Non Examples


a). Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.


b). Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.
c). Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan atau
menganalisa gambar.


d). Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dan analisa gambar tersebut dicatat pada
kertas.


e). Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.


f). Mulai dari komentar atau hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang
ingin dicapai.


g). Kesimpulan.


3) Kebaikan dan Kekurangan Model Examples Non Examples


a). Kebaikan Model Examples Non Examples


- Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.


- Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.


- Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.


b). Kekurangan Model Examples Non Examples


- Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.


- Memakan waktu yang lama.


c. Pendekatan SAVI.


1) Pengertian Pendekatan SAVI.


Menurut Meier (2000:91) pembelajaran dengan pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang
menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra yang dapat
berpengaruh besar pada pembelajaran.


Unsur-unsur SAVI, yaitu:


Somatis : Belajar dengan bergerak dan berbuat.
Auditori : Belajar dengan berbicara dan mendengar.


Visual : Belajar dengan melihat dan mengamati.


Intelektual : Belajar dengan memecahkan masalah dan berfikir.


a) Belajar Somatis


”Somatis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh-soma. Menurut Meier (2000:92), belajar
somatis berarti belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis-melibatkan fisik dan menggunakan
serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar.


Namun, dalam pembelajaran di sekolah terdapat pemisahan antara tubuh dan pikiran, sehingga yang
berlakuu adalah ”duduk manis, jangan bergerak, dan tutup mulut”, karena menurutnya belajar hanya
melibatkan otak saja. Kini, pemisahan tubuh dan pikiran dalam belajar mengalami tantangan serius,
karena penelitian neurologi menemukan bahwa ”Pikiran tersebar di seluruh tubuh” atau pada intinya,
tubuh adalah pikiran, dan pikiran adalah tubuh. (Meier,2000:93). Jadi, dengan menghalangi
pembelajar somatis menggunakan tubuh mereka sepenuhnya dalam belajar, kita menghalangi fungsi
pikiran mereka sepenuhnya.


b) Belajar Auditori


Pikiran auditori kita lebih kuat daripada yang kita sadari. Telinga kita terus menerus menangkap dan
menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa disadari. Ketika kita membuat suara sendiri dengan
berbicara, beberapa area penting di otak kita menjadi aktif.


Dalam merancang pembelajaran yang menarik bagi saluran auditori yang kuat dalam pikiran
pmbelajar, dapat dilakukan dengan cara mengajak mereka membicarakan apa yang sedang mereka
pelajari. Guru dapat menyuruh siswa menerjemahkan pengalaman mereka dengan suara, membaca
dengan keras atau secara dramatis jika mereka mau, ajak mereka berbicara saat mereka
memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan informasi, membuat rencana kerja,
menguasai keterampilan, membuat tinjauan pengalaman belajar, atau menciptakan makna-makna
pribadi bagi diri mereka sendiri.


c) Belajar Visual


Ketajaman visual, meskipun lebih menonjol pada sebagian orang, sangat kuat dalam diri setiap orang.
Alasannya adalah bahwa di dalam otak terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi
visual daripada semua indra yang lain. (Meier,2000:97). Setiap orang (terutama pembelajar visual)
lebih mudah belajar jika dapat melihat apa yang sedang dibicarakan. Pembelajar visual belajar paling
baik jika mereka dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, ikon, gambar, dan
gambaran dari segala macam hal ketika sedang belajar. Dan kadang-kadang mereka dapat belajar
lebih baik lagi jika mereka menciptakan peta gagasan, diagram, ikon, dan citra mereka sendiri dari hal
yang sedang dipelajari. Teknik lain yang bisa dilakukan semua orang, terutama orang-orang dengan
keterampilan visual yang kuat, adalah meminta mereka mengamati situasi dunia nyata lalu
memikirkan serta membicarakan situasi itu, menggambarkan proses, prinsip, atau makna yang
dicontohkan.


d) Belajar Intelektual


Yang dimaksud dengan Intelektual bukanlah pendekatan belajar yang tanpa emosi, tidak
berhubungan, rasionalitas, akademis, dan terkotak-kotak. (Meier,2000:99). Intelektual menunjukkan
apa yang dilakukan pembelajar dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan
kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan
nilai dari pengalaman tersebut. Intelektual adalah bagaian dari yang merenung, mencipta,
memecahkan masalah, dan membangun makna.


Intelektual adalah pencipta makna dalam pikiran; sarana yang digunakan manusia untuk berfikir,
menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru, dan belajar.


S-A-V-I : Satukanlah


Belajar bisa optimal jika keempat unsur SAVI dalam satu peristiwa pembelajaran. Misalnya, orang
dapat belajar sedikit dengan menyaksikan presentasi (V), tetapi mereka dapat belajar jauh lebih
banyak jika mereka dapat melakukan sesuatu ketika presentasi sedang berlangsung (S),
membicarakan apa yang sedang mereka pelajari (A), dan memikirkan cara menerapkan informasi
dalam presentasi tersebut pada pekerjaan mereka (I). Atau, mereka dapat memecahakan masalah (I)
jika mereka secara simultan menggerakkan sesuatu (S) untuk menghasilkan pictogram atau pajangan
tiga dimensi (V) sambil membicarakan apa yang sedang mereka kerjakan.


DIarsipkan di bawah: Tugas Kuliah


UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS VII.1 SMP NEGERI 212 JAKARTA MELALUI MODEL PEMBELAJARANCOOPERATIVE LEARNING
TYPE JIGSAW II
DALAM POKOK BAHASAN PERSAMAAN
LINEAR SATU VARIABEL
DISUSUN OLEH :
LASMI SIRAIT
NIP. 131 116 833


PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA
DINAS PENDIDIKAN
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA ( SMP ) NEGERI 212
JL. BENBDA ATAS CILANDAK TIMUR PASARMINGGU JAKSEL TELP 7800417


DAFTAR ISI


Halaman
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………….
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………..
BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………………………….
A. Latar Belakang Masalah……………………………………………………
B. Permasalahan ………………………………………………………………….
C. Tujuan Penelitian …………………………………………………………….
D. Manfaat Penelitian ………………………………………………………….
E. Sistematika Penulisan Skripsi…………………………………………….
BAB II. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN ………..
A. Landasan Teori………………………………………………………………….
1. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
dalam Pembelajaran ………………………………………………..
2. Proses Pembelajaran Model Cooperative Learning Type
Jigsaw II dalam Pembelajaran Matematika ………………..


!!


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran matematika di sekolah disarankan menggunakan pendekatan PAKEM. Pembelajaran
dengan model PAKEM di sekolah masih merupakan barang langka. Hal ini dapat mengakibatkan anak
tidak gemar matematika.
Pembelajaran kelompok tidak menjamin siswa aktif. Keaktifan siswa dalam belajar perlu dibangun
oleh seorang guru. Mesin pembangkit keaktifan merupakan seperangkat tugas dan pertanyaan yang
mewakili rantai kognitif.
Jika siswa dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan dapat menjawab semua pertanyaan dengan
benar, siswa akan menemukan konsep, prinsip, pola, teknik menghitung, dan bahkan solusi masalah.
Di sini siswa terlibat, sehingga mereka merasa senang, tumbuh motivasi, dan yakin bahwa belajar
matematika itu perlu bagi dirinya.
Sering terjadi guru dalam membangun proses pembelajaran belum tuntas. Dalam kondisi ini guru
melangkah ke materi berikutnya. Pasti akan terjadi kesulitan siswa dalam belajar. Ini mengakibatkan
siswa berpendapat bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit. Oleh karena itu, sering kali
terjadi taraf ketuntasan pada pelajaran matematika rendah terutama pada pokok bahasan persamaan
linear satu variabel. Hal ini dapat dilihat dari proses pembelajaran terutama pada pokok bahasan
persamaan linear satu variabel yang terdapat pada SMP Negeri 212 Jakarta Tahun Pelajaran
2009/2010 masih kurang mendapat perhatian dari siswanya. Oleh karena, itu peneliti mencoba
mengadakan observasi dengan membagi angket/brosur. Berdasarkan hasil informasi dari guru
matematika sebelumnya dan dengan melihat hasil wawancara siswa pada tahun pelajaran 2009/2010
itu (pedoman wawancara terlampir pada lampiran 2) maka disimpulkan bahwa kelemahan mereka
adalah sebagai berikut.
1. Rendahnya aktivitas (keterlibatan) siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Hal ini dapat ditunjukkan dengan sikap tidak mau menjawab dan tidak mau bertanya
bila diberikan soal oleh guru.
2. Kurangnya minat mengerjakan soal-soal pada diri siswa. Hal ini dapat ditunjukkan
dengan adanya siswa yang tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah.
3. Proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Hal ini ditunjukkan dengan adanya pada saat siswa mengerjakan soal di kelas, guru tidak/kurang
mengadakan pendekatan dengan siswa yang mengalami kesulitan.
4. Rendahnya tingkat ekonomi, sehingga tidak menunjang pendidikan . Hal ini dapat ditunjukkan
dengan tidak adanya siswa yang mempunyai buku pegangan selain dari sekolah ataupun LKS.
Sehubungan dengan itu, maka peneliti mempunyai beberapa
alasan untuk terus mencari cara-cara yang baik dan benar dalam pembelajaran pada pokok bahasan
persamaan linear satu variabel. Menurut Dewan Nasional Guru-guru Matematika di Amerika pada
tahun 1989 dalam bukunya “Bruce Cambell “ yang diterjemahkan Kelompok Intuisi (2004:43)
menyatakan: Pembelajaran seharusnya menggunakan kedua potensi siswa, baik intelektual maupun
fisik. Mereka harus menjadi pengajar yang aktif, ditantang untuk menerapkan pengetahuan utama
dan pengalaman baru mereka serta makin bertambahnya situasi-situasi yang lebih sulit. Berbagai
pendekatan pembelajaran daripada sekedar mengirimkan
informasi kepada mereka untuk diterimanya. Selanjutnya, peneliti mencoba untuk mengubah sikap
siswa yang tradisional dari pasif menjadi pelajar yang aktif. Guru dapat menemukan
sesuatu yang bernilai dari sub bab atau soal yang akan diberikan dan dikerjakan oleh siswanya.
Sedangkan alasan peneliti tertarik memilih cara pembelajaran kooperatif dengan tipe Jigsaw II dalam
melakukan penelitian adalah sebagai berikut.
1. Siswa dilatih keterampilan-keterampilan yang spesifik untuk membantu sesama temannya bekerja
sama dengan baik.
2. Adanya pengakuan atau ganjaran kecil yang harus diberikan kepada kelompok yang kinerjanya
baik.
3. Meningkatkan prestasi siswa melalui kesempatan bekerja sama dalam satu kelompok kecil.


B. Permasalahan
Pada penelitian tindakan kelas ini yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut.“Apakah
dengan menerapkan model pembelajaran cooperative learning type Jigsaw II dapat meningkatkan
hasil belajar siswa kelas VII. 1 SMP Negeri 212 Jakarta pada pokok bahasan persamaan linear satu
variabel tahun pelajaran 2009/2010?”


C. Tujuan Penelitian
Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII. 1 SMP Negeri
212 Jakartapada pokok bahasan persamaan linear satu variabel.


D. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat kepada banyak pihak antara lain siswa, guru dan
sekolah.
1. Manfaat yang diperoleh siswa.
a. Siswa merasa senang terhadap matematika terutama pada pokok bahasan persamaan
linear satu variabel.
b. Prestasi siswa meningkat.
c. Siswa mampu dan terampil dalam menyelesaikan soal yang berhubungan pada pokok
bahasan persamaan linear satu variabel.
2. Manfaat yang diperoleh guru.
a. Guru akan memiliki kemampuan penelitian tindakan kelas yang lebih inovatif.
b. Guru semakin kreatif dalam pengembangan materi pelajaran.
c. Memberikan kesempatan guru untuk lebih menarik perhatian siswa dalam proses belajar
mengajar.
2
3. Manfaat bagi sekolah.


a. Sekolah dapat memasukkan cara penelitian ini dalam kelas.
b. Dapat meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah.
c. Sekolah dapat dijadikan sebagai sekolah yang bermutu di antara sekolah lain.
E. Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu: bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir.
1. Bagian awal
Pada bagian awal penulisan memuat beberapa halaman yang terdiri dari halaman judul,
daftar isi dan daftar lampiran.
2. Bagian isi
Bagian isi memuat lima bab yaitu sebagai berikut.
Bab I. Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II. Landasan Teori dan Hipotesis Tindakan
Bab ini berisi landasan teoritis tentang model pembelajaran kooperatif, proses pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw II, uraian materi persamaan linear satu variabel, kerangka berpikir dan
hipotesis tindakan.
Bab III. Metode Penelitian
Bab ini membahas tentang lokasi penelitian, subjek penelitian, siklus penelitian, sumber data dan cara
pengumpulan data, serta tolok ukur keberhasilan. Siklus penelitian terdiri dari tiga siklus, dan tiap
siklus memuat empat tahapan yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Bab IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab ini membahas pelaksanaan siklus 1, siklus 2, dan siklus 3.
Bab V. Penutup
Bab ini memuat simpulan hasil penelitian dan saran-saran yang operasional dan relevan dalam
pembelajaran.
3. Bagian akhir
Bagian akhir skripsi berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.


3
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN


A. Landasan Teori
1. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) dalam Pembelajaran
Guru dalam kegiatan belajar mengajar tidak harus terpaku dengan menggunakan satu model. Guru
sebaiknya juga menggunakan model yang bervariasi agar jalannya pembelajaran tidak membosankan
tetapi menarik perhatian anak didik. Menurut Kiensmen (1992) dalam kurikulum 2004 (2003:2) suatu
model pembelajaran terdapat ciri-ciri sebagai berikut:
(1) adanya penjelasan teoritik, ilmiah dan penemuan,
(2) adanya tujuan yang akan dicapai,
(3) adanya tingkah laku guru dan siswa yang khusus, dan
(4) dalam model pembelajaran diperlukan suatu kondisi yang khusus.
Oleh karena itu, seorang guru harus kompeten dalam memilih suatu model pembelajaran untuk
menyampaikan materi pelajaran. Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada
pengajaran di mana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil yang saling membantu dalam
belajar.
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu teknik instruksional yang diteliti secara cermat di
Amerika Serikat. Ada banyak model, teori dan sumber dengan perspektif yang bermacam-macam
dalam pembelajaran kooperatif. Beberapa buku yang membahas masalah ini adalah Circle of Learning,
Learning Together and None, karya David dan Roger, ditambah Cooperative in The Classroom,
kemudian Spencer Kagan dalam bukunya Cooperative Learning: Resources for Teacher.
Menurut Johnson bersaudara komponen penting dari model cooperative learning meliputi hal-hal
sebagai berikut.
a. Pertanggungjawaban individual
Keberhasilan kelompok didasarkan pada kemampuan setiap anggota untuk menunjukkan bahwa dia
telah belajar materi-materi yang sangat dibutuhkan. Pencapaian siswa terlihat meningkat ketika
diketahui keberhasilan kelompok yang didasarkan pada nilai quiz anggota kelompok digabungkan.
b. Ketergantungan positif
Keberhasilan kelompok didasarkan atas kemampuan kelompok itu dalam bekerja sama untuk meraih
hasil yang diinginkan, misalnya tingkatan penghargaan dan ketenaran (pengakuan).
Ketika siswa mulai mempelajari keterampilan-keterampilan kooperatif, kelompok itu haruslah
kelompok kecil yang terdiri dari 4 atau 5 anak. Menurut Slavin (dalam Amin Suyitno), sejalan dengan
perkembangan keterampilan sosial, siswa diharapkan mulai mampu


4
bekerja sama dalam kelompok yang lebih besar. Penting juga untuk melihat lamanya waktu kelompok
itu dalam bekerja sama. Pertemuan kelompok yang teratur dalam jangka waktu tertentu akan dapat
meningkatkan kesuksesan dari pada kelompok yang hanya bekerja sama kadang-kadang saja.


Aktivitas pembelajaran kooperatif dapat memerankan banyak peran dalam pelajaran. Dalam skenario
yang lain, kelompok kooperatif dapat juga digunakan untuk memecahkan sebuah masalah kompleks.
2. Proses Pembelajaran Model Cooperative Learning Tipe Jigsaw II dalam Pembelajaran
Matematika
Langkah model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw II adalah sebagai berikut: (1) siswa
dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen (4 sampai 5 siswa). Setiap kelompok diberi
materi/soal-soal tertentu untuk dipelajari/dikerjakan, (2) ketua kelompok membagi materi/tugas guru
agar menjadi topik-topik kecil (sub-sub soal) untuk dipelajari/dikerjakan oleh masing-masing anggota
kelompok (misalnya, setiap siswa dalam 1 kelompok mendapat 1 soal yang berbeda), (3) anggota
kelompok yang mempelajari sub-sub bab atau soal yang sama bertemu untuk mendiskusikan sub-bab
(atau soal) tersebut sampai mengerti benar isi dari sub bab tersebut atau cara menyelesaikan soal
tersebut, (4) kemudian siswa itu kembali ke kelompok asalnya dan bergantian mengajar teman dalam
satu kelompoknya, dan (5) kegiatan diakhir dengan memberikan kuis kepada siswa.
C. Uraian Materi
1. Mengenal Persamaan Linear Satu Variabel dalam Berbagai Bentuk
a. Pernyataan
Pernyataan adalah kalimat yang bernilai benar atau salah.
Contoh:
(1) Pernyataan 5 + 4 = 9 bernilai benar.
(2) Pernyataan 3 x 4 = 10 bernilai salah.
b. Kalimat Terbuka
Kalimat terbuka adalah kalimat yang memuat suatu variabel.
Contoh:
(1) Kalimat x + 4 = 9 belum mempunyai nilai kebenaran.
(2) Kalimat 2 + 4p = 14 juga belum mempunyai nilai kebenaran.


5
Kalimat x + 4 = 9 dan 2 + 4p = 14 disebut persamaan. Jika x diganti 5
dan p = 3 diperoleh 5 + 4 = 9 dan 2 + 12 = 14 maka keduanya bernilai
benar. Sedangkan 5 disebut solusi (selesaian) x + 4 = 9 dan 3 disebut
solusi (selesaian) 2 + 4p = 14.
c. Persamaan Linear dengan Satu Variabel
Persamaan linear dengan satu variabel adalah persamaan dengan satu variabel dan berpangkat satu.
Contoh:
(1) Persamaan 4x – 9 = 11 merupakan persamaan linear dengan satu variabel.
(2) Persamaan x2 = 16, ini bukan merupakan persamaan linear dengan satu variabel.


2. Menentukan Solusi (Selesaian) Persamaan Linear dengan Satu Variabel
(1) Tentukan solusi (selesaian) persamaan linear dengan satu variabel x + 4 = 8.
Penyelesaian:
Jelas x + 4 = 8 ⬄ x = 4.
Jadi 4 adalah solusi (selesaian) x + 4 = 8.
(2) Tentukan solusi (selesaian) Persamaan linear dengan satu variabel
x – 3 = 2.
Penyelesaian:
Jelas x – 3 = 2 ⬄ x = 5.
Jadi 5 adalah solusi (selesaian) x – 3 = 2
(3) Tentukan solusi (selesaian) persamaan linear dengan satu variabel
2x = 20.
Penyelesaian:
Jelas 2x = 20 ⬄ x = 10
Jadi 10 merupakan solusi (selesaian) 2x = 20.
3. Menentukan Solusi (Selesaian) Persamaan Linear dengan Satu Variabel
pada Soal Cerita
Contoh:
a. Umur Andi sekarang adalah 2 kali umur Budi. Jumlah umur mereka
sekarang adalah 18 tahun. Tentukan umur mereka masing-masing.
Penyelesaian:
Tulis x = umur Budi.
Jelas 2x = umur Andi.
Dipunyai 2x + x = 18
⬄ 3x = 18
⬄ x = 6.
Jadi umur Budi adalah 6 tahun dan umur Andi adalah 12 tahun.


6
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian dari landasan teori dan kerangka berpikir maka
hipotesis tindakan yang akan diajukan adalah sebagai berikut.
“Melalui model pembelajaran Cooperative Learning type Jigsaw II dalam
pokok bahasan persamaan linear satu variabel maka hasil belajar siswa kelas
VII.1 SMP Negeri 212 Jakarta tahun pelajaran 2009-2010 dapat ditingkatkan”.


7


BAB III
METODE PENELITIAN


A. Lokasi Penelitian
Tempat penelitian adalah SMP Negeri 212 Jakarta yang beralamat di Jl. Benda Atas Cilandak Timur
Pasarminggu Jakarta Telp. (021) 7800417. Penelitian dilakukan di tempat ini dikarenakan penulis
adalah sebagai pengajar di SMP tersebut.


B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas VII .1 SMP Negeri 212 Jakarta tahun pelajaran 2009-2010
Adapun jumlah siswanya adalah 40 anak yang terdiri dari 21 siswa perempuan dan 19 siswa laki-laki.


C. Prosedur Kerja dalam Penelitian


Penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan
yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Dalam setiap tahapan siklus disusun dan
dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang dicapai.


Siklus I


1. Perencanaan
a. Menyusun rencana pembelajaran pokok bahasan persamaan linear satu variabel.
b. Merencanakan pembelajaran dengan membentuk kelompok yang beranggotakan 4-5
siswa dengan penyebaran tingkat kecerdasan.
c. Menyusun materi/soal
d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e. Merencanakan skor untuk individual atau skor kelompok.
2. Tindakan
a. Guru membagi dalam kelompok–kelompok kecil yang heterogen (4-5 siswa).
b. Guru membagi materi/soal untuk dipelajari/dikerjakan.
c. Guru menyuruh ketua kelompok membagi materi atau soal agar menjadi topik-topik
kecil (sub-sub) soal untuk dikerjakan oleh masing-masing anggota kelompok.
d. Guru menyuruh anggota kelompok yang mempelajari sub-sub bab atau soal yang sama
bertemu untuk mendiskusikan soal tersebut serta cara menyelesaikannya.
e. Guru menyuruh siswa kekelompok asalnya dan bergantian mengajar teman dalam satu
kelompoknya.
f. Guru memberikan kuis secara individu.
g. Guru memberikan penghargaan bagi siswa atau tim yang berprestasi.
8
3. Pengamatan
Dalam penelitian tindakan kelas ini, pengamatan dilaksanakan dengan beberapa aspek yang diamati
adalah sebagai berikut.
a. Pengamatan terhadap siswa
1) Kehadiran siswa.
2) Perhatian siswa terhadap guru yang menerangkan.
3) Jumlah siswa yang bertanya.
4) Aktivitas siswa bekerja sama dalam satu kelompok.
5) Antusias siswa untuk bekerja secara individual setelah bekerja sama.
b. Pengamatan terhadap guru
1) Kehadiran guru.
2) Penampilan guru di depan kelas dan mengelola kelas.
3) Penguasaan materi seorang guru.
4) Cara guru membagi kelompok yang beranggotakan 4 siswa dalam satu kelompok.
5) Cara penguatan guru terhadap kelompok yang berprestasi kinerjanya.
6) Pemberian bimbingan pada kelompok yang belum mampu bekerja sama dengan baik.
c. Sarana dan prasarana
Keadaan dan situasi kelas yang menyenangkan akan membantu
dalam proses penelitian ini. Penataan tempat duduk dalam membagi
kelompok tiap kelompok pun sangat membantu sekali. Setiap anak
dalam satu kelompok diharapkan harus sudah memiliki buku pegangan
untuk menunjang pelajaran.


4. Refleksi
Setelah siswa benar-benar menguasai pelajaran persamaan linear satu
variabel maka diadakan kuis. Kuis tersebut untuk perorangan/invidual guna
menambah poin skor kelompok.Penghargaan pada kelompok yang baik
kerja samanya harus diberikan agar mereka betul-betul dihargai. Pada tiap
akhir kegiatan diadakan evaluasi.


Siklus II
1. Perencanaan
a. Mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah berdasarkan refleksi pada siklus I.
b. Merencanakan skenario baru dengan perbaikan model dan meningkatkan keaktifan
siswa.
c. Menyusun materi atau soal
d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.


9
2. Implementasi Tindakan
a. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.
c. Memberikan kuis akhir siklus II.


3. Pengamatan
Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mengadakan pendataan ulang untuk mengetahui hasil dari
tindakan sklus II. Penulis menyiapkan angket observasi yang dilakukan dengan data pengukur.
4. Refleksi
Guru menganalisis semua tindakan pada siklus I dan II kemudian dicari kekurangan-kekurangan pada
siklus II.


Siklus III
1. Perencanaan
a. Mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah yang didasarkan pada siklus I dan
siklus II.
b. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
c. Menyusun lembar kegiatan siswa (LKS).
d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.
2. Implementasi Tindakan
a. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.
c. Memberikan kuis akhir siklus III.


3. Pengamatan
Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mengadakan pendataan ulang untuk mengetahui hasil dari
tindakan siklus III. Penulis menyiapkan angket observasi yang dilakukan dengan data pengukur.


4. Refleksi
Guru menganalisis semua tindakan pada siklus I, II, dan III. Pada
akhir siklus III, guru melakukan refleksi dengan adanya penerapan tipe Jigsaw II yang dilakukan
dalam tindakan kelas ini. Bila hasilnya meningkat artinya model pembelajaran yang diterapkan dalam
tindakan ini berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa.


D. Sumber Data dan Cara Pengambilan Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini melalui angket dan wawancara serta hasil tes tertulis. Cara
pengambilan data melalui lembar kegiatan siswa (LKS) setiap siklus atau nilai-nilai tes formatif tiap
siklus.


10
E. Tolok Ukur Keberhasilan
Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Secara individu bila mereka sudah dapat mencapai 6,0 atau lebih, berarti sudah menyerap
materi yang diajarkan sebesar 60% atau lebih dikatakan tuntas belajar.
b. Jumlah siswa dalam kelas dapat menyerap materi paling sedikit 70% dari jumlah siswa
keseluruhan dengan nilai rata-rata kelas mencapai ≥ 70.
11
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Pelaksanaan Siklus I
Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 2 November 2009 tentang pernyataan, kalimat terbuka,
dan himpunan selesaian kalimat terbuka. Pada siklus pertama ini, penulis melaksanakan kegiatan
sebagai berikut.
1. Perencanaan
Sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), maka yang dilakukan guru adalah sebagai
berikut.
a Menyusun rencana pembelajaran pokok bahasan persamaan linear satu variabel.
b Merencanakan pembelajaran dengan membentuk kelompok yang beranggotakan 4 – 5 siswa dengan
penyebaran tingkat kecerdasan.
c Menyusun materi/soal
d Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e Merencanakan skor untuk individual atau skor kelompok.
Setelah perencanaan ini tertata dengan baik maka yang dilakukan selanjutnya adalah melakukan
tindakan-tindakan sesuai dengan perencanaan di atas.
2. Tindakan
Tindakan guru selanjutnya adalah melaksanakan prosedur yang sudah direncanakan yaitu sebagai
berikut.
a. Guru membagi dalam kelompok–kelompok kecil yang heterogen (4-5 siswa).
b. Guru membagi materi/soal untuk dipelajari/dikerjakan.
c. Guru menyuruh ketua kelompok membagi materi atau soal agar menjadi topik-topik kecil
(sub-sub) soal untuk dikerjakan oleh masing-masing anggota kelompok.
d. Guru menyuruh anggota kelompok yang mempelajari sub-sub bab atau soal yang sama bertemu
untuk mendiskusikan soal tersebut serta cara menyelesaikannya.
e. Guru menyuruh siswa kekelompok asalnya dan bergantian mengajar teman dalam satu
kelompoknya.
f. Guru memberikan kuis secara individu.
g. Guru memberikan penghargaan bagi siswa atau tim yang berprestasi.
3. Pengamatan
Pada siklus I pengamatan dilaksanakan dengan beberapa aspek yang diamati.


Partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) selama siklus pertama digambarkan dengan
tebel berikut ini.
12
Siklus I
Partisipasi siswa Jumlah Siswa Prosentase
Acuh 12 29,27%
Sedang 13 31,73%
Aktif 15 30%
Jumlah 40 100%


Pada siklus I keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran tergolong meningkat. Hal ini dibuktikan
dengan adanya keaktifan siswa dalam pembelajaran yang pro aktif dibandingkan dengan cara/model
pembelajaran sebelumnya.
Siswa yang acuh pada siklus I berjumlah 12 orang atau 29,27 %.
Siswa yang tergolong sedang tingkat partisipasinya berjumlah 13 orang atau 31,73 %, dan yang
tergolong aktif berjumlah 15 orang atau 30 %.
Data ini menunjukkan bahwa adanya perubahan tingkat partisipasi belajar siswa setelah diterapkan
model pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya.
Pada siklus I ini, siswa yang aktif masih dinilai kurang karena baru 30 %. Pada umumnya, siswa yang
acuh disebabkan karena mereka kurang paham terhadap tugas yang harus dilakukan. Oleh karena itu,
siswa yang acuh terus diberi motivasi untuk lebih semangat dalam proses pembelajaran, yaitu melalui
pendekatan dan bimbingan khusus. Sedangkan siswa yang sedang tingkat partisipasinya diberikan
pula
motivasi agar lebih aktif yaitu dengan cara diberikan nilai bonus apabila bersungguh-sungguh dan bisa
dalam mengerjakan tugas kelompok.


4. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I maka perlu diadakan perbaikan diantaranya sebagai
berikut.
a. Mengeraskan suara pada saat menerangkan pelajaran.
b. Memberikan penguatan dan penghargaan pada kelompok yang berprestasi kinerjanya.
c. Meberikan bimbingan pada kelompok yang belum mampu bekerja sama dengan baik.
d. Memberikan kuis yang berkaitan dengan pokok bahasan ini.
Tujuannya untuk menggugah kreatifitas siswa dalam bekerja sama.


B. Pelaksanaan Siklus II
Siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 9 November 2009. Pada siklus II ini membahas tentang
persamaan dan himpunan selesaian persamaan dengan satu variabel. Sebelum melaksanakan siklus II
ini, penulis mengadakan kegiatan sebagai berikut.
1. Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan pada siklus II ini adalah sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah berdasarkan refleksi pada siklus I.
b. Merencanakan skenario baru dengan perbaikan model dan meningkatkan keaktifan siswa.
13
c. Menyusun materi atau soal.
d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.
2. Tindakan
Setelah perencanaan itu disusun maka langkah berikutnya adalah melaksanakan beberapa tindakan,
diantaranya sebagai berikut.
a. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.
c. Memberikan kuis akhir siklus II.
3. Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan pada siklus II ini meliputi beberapa aspek yaitu sebagai berikut.
a. Pengamatan terhadap siswa
Pengamatan yang dilakukan pada siklus II ini ternyata keadaan siswa berbeda dengan siklus I. Hal ini
dapat dilihat dari tabel berikut ini.


Siklus I Siklus II
Partisipasi Siswa Jumlah Siswa Prosentase Partisipasi Siswa Jumlah Siswa Prosentase
Acuh 12 30 % Acuh 8 20 %
Sedang 13 32,50 % Sedang 10 25 %
Aktif 15 37,50 % Aktif 22 55,50 %
Jumlah 40 100% Jumlah 40 100%


Perhatian siswa terhadap guru yang menerangkan mengalami peningkatan. Siswa yang dulunya acuh
terhadap pelajaran yang sedang disampaikan oleh gurunya kini mulai aktif. Siswa yang acuh dari 12
orang kini mengalami penurunan dan jumlahnya hanya 8 orang.
Proses KBM berjalan lebih efektif. Hal ini terlihat dari antusias siswa yang aktif dalam menerima
materi. Siswa banyak yang aktif untuk bertanya ataupun menjawab pertanyaan yang diberikan oleh
guru atau temannya. Pada siklus II ini siswa yang menjawab dengan benar dari 10 soal yang
diberikan mulai mengalami peningkatan. Pada siklus I yang menjawab benar baru 15 anak, tetapi
pada siklus II naik menjadi 22 anak.


b. Sarana dan prasarana
Siswa pada siklus II sudah mulai aktif untuk melengkapi kebutuhan yang menunjang proses KBM.
Mereka meminjam buku- buku matematika di perpustakaan atau pada teman. Hal ini tampak pada
saat KBM berlangsung, siswa sudah menyiapkan sumber bahan pelajaran yang akan dipelajarinya.
4. Refleksi
Setelah melihat hasil pengamatan yang dilakukan maka ada beberapa hal yang perlu diadakan
14
perbaikan di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Memberikan motivasi dan penguatan pada kelompok yang bagus kinerjanya.
b. Memberikan sanksi pada kelompok yang masih bergurau.
c. Memberikan kuis agar kreatifitas anak lebih maju lagi.


C. Pelaksanaan Siklus III
Siklus III dilaksanakan pada tanggal 24 November 2009 dan membahas tentang penyelesaian
persamaan linear satu variabel dalam bentuk soal cerita. Pada siklus III ini, penulis melaksanakan
kegiatan yang menunjang proses ini, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Perencanaan
Perencanaan dilakukan sebelum melaksanakan KBM. Hal-hal yang dilakukan dalam perencanaan
adalah sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi masalah dan perumusan masalah yang didasarkan pada siklus I dan siklus II
b. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
c. Menyusun lembar kegiatan siswa (LKS).
d. Merencanakan tempat duduk antar kelompok dalam satu kelompok.
e. Merencanakan kuis dan skor untuk individual atau skor kelompok.
2. Tindakan
Setelah perencanaan tersusun dengan baik, maka tindakan selanjutnya adalah sebagai berikut.
a. Melaksanakan skenario yang telah disusun dengan perbaikan metode.
b. Menjelaskan kembali konsep yang kurang dipahami siswa.
c. Memberikan kuis akhir siklus III.
3. Pengamatan
Keadaan siswa pada siklus III ini jauh lebih baik dibanding siklus sebelumnya. Hal ini dapat
diperlihatkan dari tabel berikut ini.


Partisipasi Siswa Siklus I Siklus II Siklus III
Jumlah
Siswa
Persentase Jumlah
Siswa
Persentase Jumlah
Siswa
Persentase
Acuh 12 30 % 8 20 % 3 7,31 %
Sedang 13 32,50 % 10 25 % 8 19,51 %
Aktif 15 37,50 % 22 55 % 30 73,18 %
Jumlah 40
100 %
40 100 % 41 100 %


15
Dari tabel tersebut terlihat bahwa proses KBM berjalan lebih efektif. Masing-masing anggota dalam
satu kelompok sudah bisa menempatkan posisinya. Kerja sama antar kelompok lebih maksimal.
Siswa yang acuh pada siklus III tinggal 3 orang atau 7,31%, siswa yang sedang tingkat partisipasinya
ada 8 orang atau 19,51%, dan yang aktif berjumlah 30 orang atau 73,18%. Ini menunjukkan adanya
peningkatan siswa yang aktif tingkat partisipasinya pada siklus III sebesar 17,08% dari siklus II.


4. Refleksi
Pada siklus III ini, ternyata sudah tidak perlu perbaikan-perbaikan lagi sebab dengan adanya model
pembelajaran Cooperative Learning tipe
Jigsaw II ini hasil prestasi siswa meningkat.


D. Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil penelitian pada tiap siklus ditunjukkan dengan tabel berikut ini.
Prestasi
Siswa
Siklus I Siklus II Siklus III


∑ Persentase ∑ Persentase ∑ Persentase
Nilai ≤ 60
14 34,14 10 24,39 6 14,63
Nilai > 60
27 65,86 31 75,61 35 85,37
Tuntas Belajar 27 65,86 31 75,61 35 85,37
Tidak Tuntas Belajar 14 34,14 10 24,39 6 14,63
Nilai Rata-rata 275:41 6,7 289:41 7,1 300:41 7,3
Taraf Serap 76/10×100@ 67 % 1,7/10×100% 71 3,7/10×100% 73


Dengan melihat tabel tingkat prestasi siswa diketahui pada siklus III mengalami peningkatan
dibandingkan siklus I dan siklus II. Jika melihat data ketuntasan belajar, maka terdapat 14 siswa yang
belum tuntas pada siklus I, 10 siswa pada siklus II, dan 6 siswa pada siklus III. Pada siklus III, siswa
yang tuntas belajarnya berjumlah 35 orang atau 85,37%.
16


Ketuntasan belajar siswa tiap siklus dapat dilihat dengan diagram batang sebagai berikut
Diagram Ketuntasan


DIAGRAM KETUNTASAN BELAJAR SISWA SMPN 212 JAKARTA
KELAS VII. 1


Ketuntasan dapat tercapai dikarenakan adanya keterlibatan guru atau pendekatan guru kepada siswa
untuk menanyakan kesulitan dalam mengerjakan soal-soal. Kreatifitas guru dalam memberikan kuis
dan pemberian semangat kepada siswa akan memacu siswa untuk senang siap dan lebih
berpengalaman dalam proses KBM sehingga hasil nilai lebih baik.


17
BAB V
PENUTUP


A. Simpulan
Berdasarkan pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) di kelas VIIF SMP N 212 Jakarta pada tahun
pelajaran 2009-2010 dapat disimpulkan bahwa dengan model pembelajaran Cooperative Learning tipe
Jigsaw II dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VII .1 pada pokok bahasan persamaan linear
dengan satu variabel.
B. Saran
Dari pengalaman selama melaksanakan penelitian tindakan kelas di kelas VII .1 SMP N 212 Jakarta
pada tahun pelajaran 2009-2010 dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut.
1. Dalam pembelajaran matematika pokok bahasan persamaan linier dengan satu variabel hendaknya
menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning melalui tipe Jigsaw II.
2. Hasil penelitian ini hendaknya dapat digunakan untuk refleksi bagi guru dari kepala sekolah.
3. Kepala sekolah diharapkan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan pola
pembelajaran di sekolah.


18


DAFTAR PUSTAKA


Campbell, Bruce. 2004. Teaching and Learning Trough, Multiple Inteligences. Jakarta: Intuisi Press.
Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Kagan, Spencer. 2003. Cooperative Learning Resources for Teacher. Jakarta: Intuisi Press.
Pandoyo, Dkk. 2004. Matematika 1a untuk Sekolah Menengah Pertama Kelas 7.
Jakarta: Balai Pustaka.
Rusoni, Elin. 1999. Buku Pedoman Guru Madrasah Tsanawiyah Bernuansa Islam dengan Pendekatan
Keterampilan Proses. Jakarta: BEP Dikjen Depag RI.
Suyitno, Amin. 2005. Petunjuk Praktis Penelitian Tindakan Kelas untuk
Penyusunan Skripsi. Semarang: UNNES.
Suyitno, Amin. 2005. Pemilihan Model-model Pembelajaran Matematika dan Penerapannya di
Madrasah Aliyah. Semarang: UNNES.
Zain, Aswan dan B.D, Syaiful. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.


19
Lampiran 2
DAFTAR NAMA SISWA SMPN 2I2 JAKARTA
TAHUN PELAJARAN 2009-2010
NO L/P Nama Siswa Keterangan
1 L ANDI RIAN JUBHARI
2 L ANDRE PRATAMA
3 L ANGGA MULYA AFREYMA.S
4 P ANNISA
5 P ARINA NUR ASINDI
6 P CANTIKA CITRA JATI ASTRIA
7 L CLEMENTIO WILLIAM PIERE
8 L DANDY ARYA DWIPAYANA
9 P DEVITA NURUL AULIA
10 P DIRA AYU LARASATI
11 P ERVINGKA NBIPI
12 P GITHA TRIA RAHMAN
13 L HAJI HANDIKA
14 L IKHWANUL NAFSIAH
15 L KAMAL HARTADI
16 P KHOIRUNNISA
17 P LIPANI HERAWATI
18 P LUNGGUH KHASANAH
19 P MEIZA ZULFA
20 P MIA AMELIA
21 L MUHAMMAD SULTAN ASYKARI
22 L MUKHBITAH WAFA
23 L NORMAN EDWARD
24 P NOVA AYU LESTARI
25 P NURUL FAJRIAH
26 P PUTRI NURAINI
27 L RAKA ANDIKA
28 L RAMADHAN ERSHAD.F
29 L REZA FIRDAUS
30 P RIANA WAHYULIANI
31 L RINO BAGUS BASKORO
32 L SAYID MUHAMMAD FAJRI.A
33 P SEPTI MENTARI
34 P SITI NUR HAIFA
35 P SITI SAWIYAH
36 L SYAHRUL RAMADAN
37 P SYIFA NUR OCTAVIA
38 L TAUFAN SAMUDRA AKBAR
39 P TSUAIBATUL ASLAMIAYYAH
40 L YOKI CANDRA
Jakarta, Nopember 2010
Mengetahui
Kepala SMPN 212 Jakarta Guru Mata Pelajaran


Drs. Nana Supriatna Lasmi Sirait
Nip. 131 266 954 Nip. 131 116 833


Lampiran 3
PEDOMAN WAWANCARA


No
Pernyataan


Ya
Tidak
1 Apakah kamu aktif bertanya jika penjelasan
bapak/ibu guru kurang jelas?


2 Jika menemukan kesulitan dalam belajar
matematika, apakah kamu menanyakan pada
bapak/ibu guru?
3 Apakah kamu senang mengerjakan soal-soal
matematika?


4 Apakah kamu memiliki buku pegangan atau LKS?


5 Kalau mendapatkan kesulitan dalam belajar, apakah
gurumu membantu menyelesaikan kesulitanmu?


Lampiran 4
DAFTAR OBSERVASI SISWA SIKLUS I
PADA SAAT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)


No. Kegiatan yang diamati
Jumlah siswa
1..
a. Memperhatikan saat guru menerangkan
b. Memperhatikan pendapat/jawaban teman
32
25
2. Kegiatan berbicara
a. Bertanya pada teman dalam satu kelompok
b. Menjawab pertanyaan temannya
c. Mengeluarkan pendapat
8
13


7
3 Hubungan kerja sama antar satu kelompok 35


4 4. Kegiatan emosional
a. Bersemangat
b. Bosan


33
10


Jakarta, 2 November 2009
Observer,
Lasmi Sirait
Nip. 131 116 833


Lampiran 5
DAFTAR OBSERVASI SISWA SIKLUS II
PADA SAAT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)


NO KEGIATAN YANG DIAMATI JUMLAH SISWA
1 a. Perhatikan saat guru menerangkan 35
b. Memperhatikan pendapat/jawaban teman 28
2 Kegiatan berbicara
a. Bertanya pada teman dalam satu kelompok 6
b. Menjawab pertanyaan temannya 17
c. Mengeluarkan pendapat 13
3 Hubungan kerja sama antar satu kelompok 38
4 . Kegiatan emosional
a. Semangat 34
b. Bosan 8


Jakarta, 2 November 2009
Observer,


Lasmi Sirait
Nip. 131 116 833


Lampiran 6
DAFTAR OBSERVASI SISWA SIKLUS III
PADA SAAT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (KBM)


NO KEGIATAN YANG DIAMATI JUMLAH SISWA
1 a. Memperhatikan saat guru menerangkan 38
b. Memperhatikan pendapat/jawaban teman 35
2 Kegiatan berbicara
a. Bertanya pada teman dalam satu kelompok 5
b. Menjawab pertanyaan temannya 24
c. Mengeluarkan pendapat 15
3 Hubungan kerja sama antar satu kelompok 39
4 . Kegiatan emosional
a. Bersemangat 39
b. Bosan 2


Jakarta, 24 November 2009
Observer,


Lasmi Sirait
Nip. 131 116 833


Lampiran 7
INSTRUMEN MONITORING OBSERVASI KELAS
SIKLUS I


Sekolah : SMP N 212 Jakarta
Kelas / Semester : VII .1 / Gasal
Hari / Tanggal : Kamis, 2 November 2009
Materi Pokok : Persamaan Linier Satu Variabel
Kompetensi Dasar : Pernyataan, Kalimat Terbuka, dan Himpunan Selesaian Kalimat
Terbuka
Waktu : 2 x 45 materi


NO YANG DIAMATI A B C D Keterangan
I Pendahuluan 1. Apersepsi
2. Motivasi
3. Revisi
II Pengembangan 1. Penguasaan materi
2. Penguasaan Metode
3. Keterampilan Guru:
a. Membagi kelompok
b. Pemberian Kuis
4. Menciptakan Suasana
Aktif dalam
Kelompok
III Penutup Pemberian Tugas


Jakarta, 2 November 2009
Keterangan Observer,
A = Baik sekali
C = Cukup
B = Baik
D = Kurang Lasmi Sirait Nip. 131 116 833


Lampiran 8
INSTRUMEN MONITORING OBSERVASI KELAS
SIKLUS II


Sekolah : SMP N 212 Jakarta
Kelas / Semester : VII F / Gasal
Hari / Tanggal : Kamis, 9 November 2006
Materi Pokok : Persamaan Linier Satu Variabel
Kompetensi Dasar : Persamaan dan Himpunan Selesaian Persamaan
dengan Satu Variabel
Waktu : 2 x 45 materi


NO YANG DIAMATI A B C D Keterangan
I Pendahuluan 1. Apersepsi
2. Motivasi
3. Revisi
II Pengembangan 1. Penguasaan materi
2. Penguasaan Metode
3. Keterampilan Guru:
a.Membagi kelompok
b.Pemberian Kuis
4. Menciptakan Suasana
Aktif dalam Kelompok
III Penutup Pemberian Tugas


Keterangan Jakarta, 9 November 2006
A = Baik sekali Observer.
C = Cukup
B = Baik
D = Kurang Lasmi Sirait
Nip. 131 116 833


Lampiran 9
INSTRUMEN MONITORING OBSERVASI KELAS SIKLUS III
Sekolah : SMP N 212 Jakarta
Kelas / Semester : VII F / Gasal
Hari / Tanggal : Jum’at, 24 November 2009
Materi Pokok : Persamaan Linier Satu Variabel
Kompetensi Dasar : Menyelesaikan Persamaan dengan Aturan Tertentu
dan dalam Bentuk Soal Cerita
Waktu : 2 x 45 materi


NO YANG DIAMATI A B C D Keterangan
I Pendahuluan 4. Apersepsi
5. Motivasi
6. Revisi
II Pengembangan 5. Penguasaan materi
6. Penguasaan Metode
7. Keterampilan Guru:
a.Membagi kelompok
b.Pemberian Kuis
8. Menciptakan Suasana
Aktif dalam Kelompok
III Penutup Pemberian Tugas
Jakarta, 24 November 2009
Keterangan
A = Baik sekali Observer
C = Cukup
B = Baik
D = Kurang Lasmi Sirait
Nip. 131 116 833

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:307
posted:10/8/2012
language:Malay
pages:48