Docstoc

Bid'ah Sunnah Hari Raya

Document Sample
Bid'ah Sunnah Hari Raya Powered By Docstoc
					  Hari raya I’edul Fitri dan I’edul Adha merupakan dua hari raya Islam,di
mana dua hari raya ini menandai berakhirnya dua buah ibadah besar
yang diwajibkan Allah kepada hamba-Nya yaitu ibadah puasa dan
haji,ketika kita berada di ambang berakhirnya bulan suci Ramadhan
yang mulia ini ada dua buah perasaan yang bercampur baur perasaan
sedih ditinggalkan bulan yang suci mulia ini dibarengi pula rasa harap
dan cemas semoga Allah ta’ala memberi kita umur panjang untuk
bertemu lagi dengan Ramadhan berikutnya serta mengisinya dengan
berbagai amal shalih,di samping rasa sedih itu ada perasaan gembira
menyambut hari Raya I’edul Fitri semoga hari raya ini menjadi ajang
pemersatu kaum muslimin di atas al-Qur’an dan as-Sunnah,untuk
melengkapi kedatangan hari raya nan besar ini kami sajikan tentang
beberapa sunnah-sunnah yang hendaknya kita amalkan di hari raya
disertai beberapa perkara maksiat yang hendaknya kita hindari agar
hari raya kita benar-benar menjadi hari raya yang penuh
barokah,semoga bermanfa’at.

 Di antara perkara yang dianjurkan oleh Nabi-shallallahu alaihi
wasallam-untuk kita kerjakan di hari raya baik I’edul Fitri dan I’edul
Adha adalah:

  1. Dianjurkan mandi sebelum berangkat shalat I’ed,dari Ali-
     radhiallahu anhu-bahwasanya dia ditanya tentang kapan
     disunnahkan mandi,lalu dia menjawab:” Hari Jum’at,pada hari
     Arafah,I’edul Fitri dan I’edul Adha”(HR.al-Baihaqi).
  2. Memakai pakaian yang paling bagus berdasarkan hadits Ibnu
     Abbas dia berkata:”Kebiasaan Rasulullah-shallallahu alaihi
     wasallam-memakai baju bermotif merah beliau di hari
     I’ed”(HR.ath-Thabrany dishahihkan oleh al-Albany dalam as-
     Shahihah no.1279).
3. Makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat I’edul Fitri
   berdasarkan hadits Anas dia berkata:”Kebiasaan Rasulullah-
   shallallahu alaihi wasallam-beliau tidak keluar untuk shalat I’edul
   Fitri kecuali setelah beliau memakan beberapa biji kurma”(HR.at-
   Tirmidzi dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi
   no.448),namun pada waktu ingin pergi shalat I’edul Adha
   disunnahkan menunda makan sehabis shalat supaya bisa makan
   dari      hewan       kurbannya,dari     Abu      Buraidah      dia
   berkata:”Bahwasanya Nabi-shallallahu alaihi wasallam-terbiasa
   untuk tidak berangkat dulu pada waktu shalat I’edul Fitri kecuali
   setelah makan,dan beliau tidak makan pada hari I’edul Adha
   kecuali setelah menyembelih hewan kurban”(Shahih at-Tirmidzi
   no.4470.
4. Melakukan shalat I’ed di lapangan bukan di masjid,dari Abu Sa’id
   al-Khudri dia berkata:”Kebiasaan Nabi-shallallahu alaihi wasallam-
   melakukan shalat I’edul Fitri dan I’edul Adha di lapangan,ketika
   sampai lapangan hal pertama yang beliau lakukan adalah
   shalat…”(HR.Bukhari no.956,Muslim no.889).
5. Tidak ada adzan,iqamat maupun panggilan lainnya ketika akan
   melakukan shalat I’ed maupun setelah melakukannya,dari Jabir
   bin Abdillah dia berkata:”Tidak ada adzan untuk melakukan shalat
   I’edul Fitri ketika imam datang dan tidak pula setelah imam
   datang ,tidak ada adzan,iqamat serta panggilan yang lain,(sekali
   lagi)tidak ada adzan dan iqamat”(HR.Bukhari no.960).
6. Disunnahkan membaca surat al-A’la atau Qaaf pada raka’at
   pertama shalat I’edul Adha maupun I’edul Fitri serta membaca
   surat al-Gasyiah atau al-Qomar pada raka’at kedua,dari an-
   Nu’man bin Basyir dia berkata:”Bahwasanya Nabi-shallallahu
       alaihi wasallam-biasa membaca “sabbihisma rabbikal a’ala”serta
       “hal ataaka haditsul ghasyiah” ketika shalat Jum’at maupun
       shalat dua hari raya”(Shahih Ibnu Majah no.12281).
       Dari Ubaidillah bin Abdillah dia berkata:”Umar pernah keluar
       untuk melakukan shalat I’ed,lalu dia mengirim seseorang kepada
       Abu Waqid al-Laitsy(seorang shahabat) untuk bertanya:surat apa
       yang dibaca Nabi-shallallahu alaihi wasallam-pada hari I’ed seperti
       ini? Maka Abu Waqid menjawab: “Dengan surat Qaaf dan surat
       Iqtarabat (al-Qomar)”(Shahih Ibnu Majah 106).
    7. Melakukan Mukhalafat at-Tariiq yaitu pergi menuju lapangan
       untuk shalat I’ed menempuh sebuah jalan dan pulang dengan
       menempuh jalan yang lain,dari Jabir dia berkata:”Kebiasaan Nabi-
       shallallahu alaihi wasallam-pada hari I’ed beliau melakukan
       Mukhalafat at-Thariq”(Bukhari no.986).

Adapun perkara-perkara yang diada-adakan (bid’ah) serta perbuatan
maksiat yang sering kita temukan masyarakat berbondong-bondong
melakukannya sembari melupakan amalan-amalan sunnah maupun
perintah-perintah syari’at yang seharusnya dilakukan:

    1. Berhias serta merubah penampilan dengan mencukur
       jenggot,padahal mencukur jenggot merupakan perkara yang
       haram dalam agama Islam nan agung ini sebagimana yang
       ditunjukkan oleh hadits-hadits shahih yang memerintahkan kita
       untuk tidak sekali-kali mencukurnya1,salah satunya adalah sabda
       Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-:
                       ‫خالِفُوا المشركيْن,اُحْ فُوا الشوارب وأَ ْوفُوااللحى‬
                          َ          َ َ ِ َ             َ ِ ِ ْ ُْ       َ

1
  Larangan mencukur jenggot ini juga termaktub dalam kitab-kitab ulama’ madzhab yang empat,misalnya dalam
Fathul Baari (X/351) bagi yang bermadzhab Syafi’I,al-Muhalla (II/220),al-Iktiaraat al-Ilmiyyah (6),Gidza’ul Albab
(I/376).
       “Selisihilah orang-orang musyrik,dengan mencukur kumis kalian
       dan membiarkan jenggot kalian”(HR.Bukhari Musim,lihat al-
       Irwa’:77).
    2. Berjabat tangan dengan perempuan yang bukan
       mahram,perbuatan ini adalah haram berdasarkan2 sabda
       Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-:
            ‫لَنْ يطعن فيْ ر ْأس رجل بمخيْط مِنْ حديْد خ ْير مِنْ أَنْ َيمس امْرأَة َل َتحل لَه‬
            ُ ُّ ِ َ ً َ         َ               ٌ َ َِ              ِ َِ ُ َ ِ َ ِ َ َ ْ ُ َ
       “Seandainya kepala salah seorang ditusuk dengan sebuah jaraum
       dari besi,itu jauh lebih baik dari pada ia menyentuh seorang
       perempuan yang tidak halal baginya”(Hadits Shahih lihat takhrij
       lengkapnya di kutaib “Juz’u Ittiba’ as-Sunan” no.15 tahqiq:Syaikh
       Ali al-Halaby).
    3. Bertasyabbuh (menyerupakan diri) dengan orang-orang kafir dan
       barat dalam berpakaian,mendengar musik dan kemungkaran-
       kemungkaran lainnya,Nabi-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:
                                            ‫منْ َتشبه بق ْوم فهُو م ْنهم‬
                                            ُْ ِ َ َ َِ َ َ            َ
       “Barangsiapa yang menyerupakan dirinya dengan suatu kaum
       maka dia termasuk bagian dari mereka”(HR.Ahmad dengan sanad
       hasan(II/50,92).
       Beliau-shallallahu alaihi wasallam-juga bersabda:
                  ‫لَ َيك ْو َنن مِنْ أُمتِيْ أَقوام َيسْ َتحلُّ ْون الحِر والحريْروالخمْر والمعازف‬
                    َ ِ ََْ َ َ َ ْ ََ ِ َ ْ َ           ْ َ ِ           ٌ َْ               ُ
       “Akan ada sekelompok dari ummatku yang menghalalkan
       zina,sutra,minuman keras dan musik…”(HR.Bukhari no.5590
       secara mu’allaq,Abu Dawud no.4039).
    4. Mengkhususkan ziarah kubur pada hari I’ed lalu membagi-bagikan
       makanan di sana,kemungkaran ini terkadang juga dibarengi
       dengan kemungkaran lainnya,seperti:duduk di atas

2
 Larangan akan perkara ini juga termaktub dalam kitab-kitab karya para ulama’ madzhab yang empat,lihat Syarah
an-Nawawy (XIII/10),Hasyiah Ibnu Abidin (V/235),Aaridhatul Ahwadzy (VII/95),Adhwa’ul Bayan (VI/603).
     kuburan,ikhtilat,memamerkan aurat,meratap terhadap orang
     yang telah meninggal dan kemungkaran-kemungkaran lainnya.
5.   Perilaku menghambur-hamburkan harta benda dalam hal-hal
     yang tidak ada manfa’atnya,Allah berfirman:
                                   َ ِ ِ ْ                            ِ ُ َ
                                   ‫وَلَ تسْ رفُ ْوا إِنه َلَ يحِبُّ المُسْ رفيْن‬
                                                       ُ ُ
     “Janganlah kalian melampaui batas karena Allah tidak suka
     kepada orang yang melampaui batas” (QS.al-An’am:141).
6.   Sebagian kaum laki-laki sengaja meninggalkan shalat berjama’ah
     di masjid tanpa ada udzur syar’I,sebagian mereka mencukupkan
     hanya dengan shalat I’ed berjama’ah saja.
7.   Banyak kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi
     kuburan di pagi hari raya bahkan sampai shalat I’ednya tertinggal
     disebabkan keyakinan pahala yang besar dalam mengkhususkan
     ziarah kubur saat itu.
8.   Tidak menampakkan kasih sayang kepada orang-orang fakir dan
     miskin,maka sebagian anak-anak orang-orang kaya menampakkan
     kegembiraan dengan memakan makanan yang istimewa
     sementara tetangganya yang miskin hidup dibawah kepapaan
     tidak dipedulikan dan dikasihani,padahal Rasulullah-shallallahu
     alaihi wasallam-bersabda:
                      ‫َل يُؤمنُ أَحدكم حتى يحب لَخ ْيه ما يحبُّ لِ َنفسِ ه‬
                       ِ ْ           ِ ُ َ ِ ِ ِ ِ ُ َ ُْ َُ                     ِ ْ َ
     “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai dia
     mencintai untuk orang lain apa yang dia cinta untuk
     dirinya”(HR.Bukhari no.13,Muslim no.45).
9.   Keluarnya kaum perempuan ke pasar-pasar dan jalanan dengan
     menampakkan aurat dan perhiasannya disertai dengan pakaian-
     pakaian yang tidak mencerminkan pakaian muslimah yang
     syar’I,Allah ta’ala berfirman:
                     ‫وقرْ ن فِيْ بيُوتكن وَل َت َبرجْ ن َت َبرُّ ج الجاهِلية ال ُ ْولَى‬
                              ْ ِ       َ ْ َ        َ           َ َ ُِ ْ ُ         َ َ َ
“Tetaplah tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian
berhias sebagaimana yang dilakukan orang-orang jahiliyah
terdahulu”(QS.al-Ahzab:33).

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags: sunnah
Stats:
views:8
posted:10/7/2012
language:
pages:6