Docstoc

Pholitics Article

Document Sample
Pholitics Article Powered By Docstoc
					                               Rekonsiliasi Setelah Memilih

     Berlalu sudah hiruk pikuk pilkada di Banjarnegara. Mestinya tidak menyisakan dendam. Tidak
ada amarah berlebihan terhadap hasil final. Walaupun bagi sebagian tidak mudah menerima realita
yang ada. Selisih jumlah suara yang tipis menjadikan rentan sengketa karena tipisnya perbedaan
perolehan suara. Namun rekonsiliasi tetap harus ada.
     Pilkada merupakan aktivitas rutin. Setiap lima tahun sekali akan ada pertarungan kepala daerah.
Akan banyak lagi peredaran spanduk, baliho dan spanduk. Akan bermunculan pula para tim sukses
yang mungkin saling bergesekan satu sama lain. Akan lebih banyak pihak yang kalah ketimbang yang
menang. Malah sangat mungkin terjadi sengketa hukum setelah Pilkada. Ada yang merasa dicurangi.
Apapun hasil akhirnya, pihak yang kalah tetap putra/putri terbaik daerah itu. Kepala daerah terpilih
tetap membutuhkan kontribusi mantan rivalnya. Itu sebabnya harus terjadi rekonsiliasi setelah
memilih.
     Larry Diamond dalam bukunya Developing Democracy (2003) menegaskan, tidak boleh ada aktor
atau kelompok yang mempunyai klaim veto terhadap tindakan pembuat keputusan yang sudah
terpilih secara demokratis. Prakondisi ini menunjukkan bahwa para aktor yang terlibat dalam
pertarungan politik yang demokratis seharusnya memiliki sikap untuk siap kalah dan siap menang
terhadap apa pun hasil pilkada. Apalagi bila hasil tersebut telah disahkan oleh lembaga yang
disepakati bersama sebagai ’wasit’ dalam pertarungan itu.
     Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan rekonsiliasi sebagai perbuatan memulihkan pada
keadaan semula, perbuatan memperbaharui seperti semula. Secara sederhana dapat diartikan
bahwa ada keadaan yang berubah dari keadaan semula sebagai akibat suatu kejadian tertentu. Ada
kondisi yang berubah akibat pelaksanaan Pilkada. Mungkin, dalam beberapa hal perubahan itu
terjadi secara ekstrim.
     Setidaknya ada dua alasan mengapa rekonsiliasi setelah memilih mesti dijadikan tradisi. Alasan
pertama dari aspek kandidat. Bukan mustahil diantara para kandidat sebelumnya adalah mereka
yang bersahabat satu sama lain. Tidak mustahil diantara mereka adalah sosok yang selama ini
berjuang side by side bagi daerahnya. Pertarungan di Pilkada memaksa mereka berada pada kondisi
ekstrim: berhadap-hadapan. Bahkan sebagian mempersepsikan terjadi kondisi saling bermusuhan.
     Namun ketika maju sebagai calon kepala daerah, semua kandidat pasti siap melakukan apa saja
demi kemenangan yang hendak dicapai. Pertarungan head to head sulit terhindarkan. Dimulai
dengan penentuan pasangan. Pastilah ada diantara kandidat yang mengidam-idamkan
berdampingan dengan sosok tertentu. Publik juga menebak-nebak komposisi masing-masing
pasangan. Walau terkadang tidak semata-mata atas dasar kalkulasi logika saja. Bahkan bukan langka
jika hitungan politik tak sejalan dengan etika.
     Ketegangan dan gesekan sulit terhindar. Bahkan sudah dimulai pada saat para kandidat secara
bersama-sama memeriksakan kesehatan. Begitu juga dalam pelaksanaan debat terbuka. Atas nama
demi kemenangan pula gesekan-gesekan semakin nyata pada masa kampanye. Malah ada yang
terlibat black campaign. Kondisi panas itu semakin menjadi ketika dihadapkan pada berbagai bisikan
dari orang-orang sekitar kandidat. Boleh jadi diantara bisikan itu bertujuan baik. Namun terkadang
justru kontra produktif dan menciptakan ketegangan baru.
     Para tim sukses dalam berbagai bentuknya juga menghadapi gesekan yang juga kompleks.
Sebagaimana dalam pertandingan sepakbola, para penonton seringkali lebih "genit" dan lebih gaduh
ketimbang para pemain. Terkadang diantara supporter saling serang pada saat pemain dalam
kondisi normal-normal saja. Dalam arena Pilkada jangan heran jika ada diantara tim sukses yang
justru lebih "was-was" ketimbang kandidatnya. Tim sukses panas dingin, takut jagoannya kalah.
Padahal kandidat justru merasa aman-aman saja.
     Rekonsiliasi harus terjadi baik sesama kandidat maupun diantara tim sukses. Para kandidat
adalah putra/putri terbaik didaerah itu. Semuanya mungkin pantas menjadi kepala daerah. Tetapi
rakyat telah menentukan pilihannya. Dalam satu periode hanya satu orang saja yang dapat menjadi
kepala daerah. Kandidat yang menang tidak boleh "mensoraki" yang kalah. Sebaliknya calon yang
kalah tidak larut dalam kekalahan seakan suatu kondisi the end of the world. Mungkin "uji nyali itu"
dapat dilakukan pada Pilkada kedepan.
    Dalam suatu pesta besar seperti Pilkada, pasti banyak pihak yang turut serta dan berjasa
memenangkan seorang kandidat. Macam-macam jasa tim sukses dalam memenangkan calonnya.
Dalam banyak hal mungkin jasa para tim sukses yang variatif itu tidak terbalaskan. Sukses seorang
kepala daerah merupakan akumulasi dari jasa orang banyak dalam berbagai wujudnya. Namun tim
sukses mestinya mampu menghadapi realita soal kemenangan yang tertunda. Hati boleh panas,
kecewa boleh ada tetapi laga yang fair dan sportivitas diutamakan. Inilah modal bagi kita dalam
memelihara sistem yang demokratis ini.**

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:35
posted:10/6/2012
language:Indonesian
pages:2