Docstoc

Cerita Pendek

Document Sample
Cerita Pendek Powered By Docstoc
					Malam

Malam; Pertemuan dan Sebuah Perpisahan Yang Lain
Saya pernah menuliskan entah di mana, bahwa saya adalah seorang yang menyukai malam. Entah
karena apa saya menyukai malam, padahal dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas
(SMP) saya hanya boleh keluar di malam hari sampai jam 20.00 WIB. Tapi saya tetap menyukai malam,
ya menyukai malam sekali lagi, karena malam adalah sebuah fragmen dari sebuah kehidupan. Malam
tak hanya menyimpan apa yang ada dalam mimpi, tapi juga menyimpan apa yang akan hilang besok
pagi, seakan membekukannya.

Saya suka malam, dan saya akui itu. Seperti apa yang dituliskan Chairil dalam Prajurit Jaga Malam

“…Aku suka pada mereka yang masuk menemu
Malam yang berwangi mimpi, berlucut debu…
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu”

Malam memang selalu menjadi misteri karena dia selalu membekukan apa yang akan datang esok pagi.
Seorang Chairil memang akrab dengan malam, perempuan dan botol minuman. Siapa yang tahu bahwa
dia adalah seorang bohemian di balik puisi-puisinya yang dianggap Jassin sebagai pelopor angkata ’45.
Tapi saya tidak ingin membicarakan tentang malam seorang Chairil.

Malam adalah waktu di mana kita akan sendiri, karena bayangan pun akan meninggalkan kita. Malam
adalah waktu di mana kita akan merasakan kehidupan dengan meraba, dan malam adalah waktu di
mana kita nikmati sebuah kontemplasi. Malam bagi saya adalah sebuah cinta bagi diri sendiri ketika kita
mengistirahatkan tubuh, bukan mata dan pikiran karena setiap malam saya selalu berpikir bagaimana
untuk mengawetkan sebuah malam.

Jika seorang Ulil dan Tyas mungkin merasakan ada yang berubah pada malam, itu tidak terjadi pada
saya. Malam tetaplah malam walaupun tanpa lampu ataupun dengan lampu. Malam diciptakan sebagai
gelap yang tak menceraikan kita pada kehidupan, karena dengan malam kita dengan mudah
membayangkan kehidupan di esok hari, membenamkan pikiran kembali kepada apa yang telah kita
lakukan seharian tadi dan lalu membayangkan apa yang akan terjadi yang tak akan terjadi malam ini.

Malam bukanlah sajak perpisahan, tapi sebaliknya. Malam adalah sajak pertemuan, dimana kita akan
ditemukan dengan sebuah hari yang baru dengan cahaya yang baru. Subagiyo Sastrowardoyo pernah
menulis sebuah puisi berjudul Maafkan Kalau Aku Lekas Lupa Kepada Nama. Dia tidak menuliskan
tentang malam di puisinya itu, tapi dia menuliskan tentang pertemuan dan perpisahan, bagaimana
sebuah pertemuan begitu dekat dengan perpisahan, seperti malam yang kita temui hari ini, tidak akan
kita temui lagi di hari yang lain.

“Maafkan kalau aku lekas lupa kepada nama
Kapan kita berkenalan dan di mana berjumpa?

Tubuhmu yang telanjang tinggal terkapar di ranjang
Hatiku terus lapar dikejar rindu….”

Seperti itulah Subagiyo menuliskan puisinya, tentang perempuan yang dia temui lalu sebentar saja dia
lupakan. Tapi selalu ada yang dikejar rindu. Begitu juga malam, selalu ada yang tersimpan dalam pikiran
kita apa yang terjadi malam ini, dan itu yang membuat kita selalu mengingat pertemuan dengan malam
ini.

Kenangan kenangan yang kita temui setiap malam itulah sebuah pertemuan yang tidak setiap malam
kita temui, tapi kenangan itu jugalah yang menjadi sebuah perpisahan yang membekas. Jika malam ini
kau mencium pacarmu untuk yang pertama kalinya itulah sebuah pertemuan, sekaligus juga sebuah
perpisahan karena tidak akan kau temui lagi ciuman pertama itu. Seperti juga lagu Nike Ardila, dalam
lagunya saya menemukan sebuah pertemuan yang cepat sekali diakhiri. “Malam-malam aku sendiri,
tanpa cintamu lagi” potongan lirik itulah yang melambangkan sebuah perpisahan juga sebuah
pertemuan yang selalu diingat.

Dan malam ini saya sedang ditemani oleh Taufik Ismail dan D.S Moeljanto dalam buku Prahara Budaya.
Sudah satu bulan lebih mungkin buku itu belum juga selesai saya baca, entah kenapa setiap malam bagi
saya saat ini adalah seberkas rindu hingga konsentrasi saya selalu terpecah dan sulit untuk
memfokuskan diri terhadap buku itu. Rindu, ya rindu setiap malam seperti membias dalam pikiran saya,
banyak sekali yang saya rindukan; keadaan rumah dengan lahirnya keponakan kedua saya, rindu kepada
Santi, wanita yang selalu membuat saya luluh, dan beberapa hal lain yang saya temui di malam malam
yang lain.

Barangkali malam ini saya harus bisa menyelesaikan Prahara Budaya, karena malam-malam selanjutnya
saya akan menemukan banyak pertemuan dan perpisahan yang lain. Sedikit mengutip sajak Sapardi
Djoko Damono “Masih datangkah semua yang ditunggu/detik-detik berjajar pada mistar yang
panjang/barangkali tanpa salam terlebih dahulu…” mungkin Sapardi juga mengalami pertemuan dan
perpisahan dalam waktunya menunggu, seperti malam ini saya menunggu sebuah jemputan kepada
pertemuan yang juga sebuah perpisahan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:28
posted:10/5/2012
language:Malay
pages:2