Analisis Pilkada by alveroz

VIEWS: 128 PAGES: 3

									                  MENIMBANG NOVITA-TATTO DALAM PERSPEKTIF ILMU JAWA
(Menghitung Peluang Novita-Tatto Sebagai Pemenang Pilkada Cilacap Menurut Otak-Atik-Gatuk-Matuk
                                          Ilmu Kejawen)

 Orang Jawa, dikenal sebagai salahsatu suku yang paling gemar dengan ilmu “Otak-Atik-Gatuk-Matuk”,
dan sangat memperhatikan pertimbangan dalam melakukan seuatu secara cemat, detil dan njlimet,
sehingga mereka terkesan lamban dalam mengambil keputusan. Mereka juga kaya makna, sarat simbol
dan begitu menjunjung tinggi warisan adiluhung budaya Jawa.

 Orang Jawa yang ada di kepala umumnya orang Indonesia adalah manusia yang berbicara halus, lembut
tutur katanya, tidak suka berterus terang, pintar menyembunyikan amarah, tidak ambisius, dan lain
sebagainya. Bagi orang Jawa sendiri, sifat seperti itu diistilahkan dengan “njawani”. Tidak semua orang
Jawa pasti “njawani”, tapi pastilah orang Jawa ideal adalah yang bisa menunjukkan karakter seperti itu.

 Zaman terus berkembang membuat karakter orang Jawa juga berubah. Modernisasi yang hampir
semuanya berasal dari budaya Barat mau tak mau harus diterima, termasuk demokrasi dalam politik.
Pada dasarnya demokrasi bisa disesuaikan dengan budaya suatu negara. Tapi, otoritarianisme Indonesia
selama 39 tahun (1959-1998) membuat segelintir elit intelektual mau demokrasi yang asli. Bukan
demokrasi menurut pemimpin yang suka menggunakan budaya Indonesia sebagai pembenar tindakan
otoriter sang pemimpin.

 Bagi orang Jawa, pembuatan keputusan untuk urusan bisnis, perjodohan, permulaan melakukan
kegiatan, dan lainnya sangat dipengaruhi oleh hitungan-hitungan hari, weton, pasaran, wuku, neptu,
jem, dan lain sebagainya. Simbol-simbol pun di eksploitir sedemikian rupa untuk melengkapi hitungan-
hitungan yang serba njlimet tersebut. Mirip dengan tradisi yang berkembang di Tiongkok.

 Karena ke-njlimetan itulah, ada sebagian kalangan yang menolak keras segala ilmu yang terkait
perwetonan, hitungan hari, nasib, jem, naas, wuku, dan segala tetek bengek perhitungan yang
merupakan warisan adiluhung budaya jawa, bahkan kalangan ini menganggap hitung-menghitung nasib
adalah sesuatu yang mendekati syirik, cenderung tidak meyakini kekuasaan Alloh, sehingga mutlak harus
ditolak. Hitungan-hitungan tersebut membuat kita tersandera pada ramalan-ramalan yang tidak jelas
jluntrungnya, dan mirip seperti orang Cina yang selalu meyakini ramalan dan rumus-rumus hitungan
nasib (feng sui), sehingga jelas bukan merupakan budaya Islami yang diajarkan oleh Rosululloh SAW.

 Di sebagian lain, walaupun keyakinan keagamaannya sama dengan kelompok pertama di atas, namun
masih tetap mengakomodir –bahkan ada yang membenarkan- perhitungan Jawa tersebut. Kelompok ini
beralasan, sepanjang hal itu tidak diyakini sepenuhnya, dan hanya dijadikan pengetahuan, sebagai local
wisdom yang ada di Jawa, karena memang itu merupakan warisan budaya Jawa, maka pengetahuan
tentang ilmu kejawen bukanlah sesuatu yang harus di tolak. Soal bahwa ilmu itu lebih dekat kepada
budaya Cina ketimbang Arab, tidak menjadi masalah, karena Rosululloh SAW yang asli Arab juga tidak
gengsi mengajarkan agar kita menuntut ilmu walau sampai ke Negeri Cina. Uthlubul ilma wa lau bisshiin.
Carilah ilmu sampai ke negeri Cina.

Tulisan ini tidak dibuat untuk memperpanjang silang pendapat mengenai ilmu kejawen tersebut, tetapi
mencoba menyajikan bagaimana pasangan kedua calon dalam perspektif perhitungan ilmu kejawen, dan
bagaimana peluangnya dilihat dari berbagai sudut, dan sekali lagi, karena merupakan ilmu gotak-gatuk-
matuk, maka bukan kebenaran ilmiyah yang disajikan, namun lebih mengedepankan perhitungan secara
gotak-gatuk-matuk, berdasar pengetahuan ilmu kejawen yang saya ketahui.
 1. Tentang Nama Pasangan Calon, Novita – Tatto
 Pertama, mohon maaf, saya menggunakan penulisan Novita – Tatto, karena berdasar nomor urut
pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Cilacap, pasangan nomor urut satu adalah Hj. Novita Wijayanti,
SE. MM. – Muhammad Muslich, S.Sos. MM, dan Pasangan Calon nomor urut dua adalah H. Tatto
Suwarto Pamuji – H. Ahmad Edi Susanto, ST., sehingga penamaan yang saya gunakan adalah Novita-
Tatto.

 Dilihat dari Nama kedua pasangan calon, kadar Kandungan Jawaannya lebih kuat Pasangan Nomor urut
dua, karena baik Calon Bupati maupun Calon Wakil Bupati, keduanya memiliki kandungan nama
kejawen. SUWARTO PAMUJI adalah nama Jawa. Su berarti banyak, sedangkan Warto berarti berita,
Pamuji berarti pujian. Bisa diartikan menjadi banyak beritanya dan pujian, sedangkan EDI SUSANTO,
jelas mutlak nama yang sangat Jawa. Edi berarti bagus, Su berarti banyak, santo berarti lembut. Bisa
diartikan: orang baik yang memiliki banyak kelembutan.
 Sedangkan pasangan nomor urut satu, hanya calon bupati yang mengandung nama Jawa. Wijayanti,
sedangkan nama wakilnya tidak. Lebih dominan nama Arab.

 2. Tentang hitungan nama berdasar rumus Hanacaraka
 Pasangan nomor urut satu, diawali dengan huruf awal NO. Nilai angkanya dua, sedangkan pasangan
calon nomor urut dua, diawali dengan huruf awal TA, nilainya tujuh. Secara hitungan, lebih banyak
pasangan nomor urut dua, walaupun secara nilai sama, yakni dua. Dalam hitungan berdasar rumus ha-
na-ca-ra-ka, lebih kuat pasangan nomor urut dua.

 3. Tentang hitungan nomor urut berdasar perhitungan pertimbangan melakukan pekerjaan
 Dalam melakukan pekerjaan, ada rumus baku yang sangat terkenal, yakni SRI, LUNGGUH, DUNYA, LARA,
PATI. Nomor urut satu, SRI. Maknanya bagus, indah, subur. Maka nomor urut satu memiliki sisi
keindahan yang lebih dibanding lainnya, sedangkan nomor urut dua, LUNGGUH, maknanya duduk,
identik dengan kursi. Bisa dimaknai secara gotak-gatuk, yang akan duduk di kursi Bupati periode ini
adalah yang memiliki nomor urut dua, sehingga aura pasangan nomor urut dua memiliki dunung
dewandaru lebih kuat dari nomor lainnya.

4. Tentang hitungan sisi baik berdasar Posko.

Pasangan nomor urut satu, memiliki Posko di Jalan DI PANJAITAN, sedangkan Pasangan Nomor Urut
Dua di Jalan SLAMET.

 DI Panjaitan adalah nama salahsatu Pahlawan Revolusi. Pasangan nomor urut satu ini memiliki
semangat perubahan yang kuat dan radikal. Semangat Revolusi, sehingga tepat menggunakan posko di
Jalan DI PANJAITAN, namun perlu diingat bahwa DI PANJAITAN justru menjadi korban revolusi itu
sendiri. Dia mendapatkan pangkat Letnan Jendral Anumerta, yakni kenaikan pangkat sebagai bentuk
penghargaan atas jasa dan pengorbanan yang dilakukan, sehingga tidak sempat menikmati buah
revolusi itu sendiri.

 Pasangan nomor urut dua, sebagai calon incumbent, tentu sangat tepat menggunakan Jalan SLAMET
sebagai markan gerakannya, karena paling tidak, ilmu tertinggi dalam Jawa adalah ilmu slamet. Gunung
Slamet di Banyumas, adalah lambang kesuburan, kesehakteraan dan pengayoman. Bukan tidak mungkin
hal itu berefek baik pada Pasangan Nomor urut dua ini, sehingga selamat dalam memimpin Kabupaten
Cilacap yang super besar, luas, dan multikomplek permasalahannya, dan bisa jadi selamet mengarungi
samudera Pilkada Tahun 2012 yang penuh riak, ombak dan gelombang.

 Pemilihan alamat Posko oleh kedua pasangan ini tentu bukan sesuatu yang sejak awal direncanakan
oleh kedua pasangan calon, tetapi karena merupakan pertimbangan gotak-gatuk-matuk, secara
kebetulan sesuai dengan suasana batin yang dibangun oleh kedua pasangan calon, dan dalam filsafat
kosmologi Jawa, segalanya pasti bukan sesuatu yang kebetulan belaka, namun sudah diatur oleh Sang
Maha Pengatur, Alloh SWT. Wamaa romaa idz romaita walakinnallooha yarmu.. Bukan engkau yang
melontar, saat engkau melemparkan sesuatu, tetapi –Allohlah- yang menggerakkanmu untuk
melontarkannya.... semua, diatur dengan sempurna oleh Sang Kuasa, tanpa bisa kita menolaknya.

Berdasar ke empat rumus Otak-Atik-Gatuk-Matuk ini, secara pribadi, saya melihat peluang pasangan
nomor urut dua lebih kuat aura positifnya sesuai ilmu Jawa, dan memiliki peluang lebih besar untuk
memenangkan sebuah pertarungan.

 Karena hanya pengetahuan Otak-Atik-Gatuk-Matuk, maka tidak perlu ditanggapi secara emosional,
apalagi sampai muncul tahkim terhadap tulisan ini. Bagi yang auranya lebih kecil, secara Jawalogi, bisa
dicarikan penawarnya, biar tidak luput katuranggane. Karena ini adalah pilihan, maka katuranggan yang
paling pas untuk meyakinkan pilihan orang adalah KERJA KERAS dan KERJA CERDAS untuk memenangkan
sebuah pertarungan. Usaha tak kenal lelah, ikhtiar tak kenal bosan, serta terus menebarkan kebaikan,
meninggalkan sgala kepalsuan dan pepesan kosong kepada pemilih, adalah cara cerdas untuk
memenangkan pertarungan.

VENI, VIDI, VICI.. Saya datang, Saya Lihat, dan saya taklukkan. Saya Datang, bertarung dan menang.
Begitu kalimat Julius Caesar pada 47 Tahun sebelum Masehi, mengomentari perang singkat dengan
Pharnaces II dari Pontus di kota Zela yang dimenanginya dengan mudah.

Cilacap, 04 Agustus 2012
MOH. TAUFICK HIDAYATTULLOH
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Cilacap

								
To top