Docstoc

ASKEP ANAK APENDIKSITIS

Document Sample
ASKEP ANAK APENDIKSITIS Powered By Docstoc
					               ASUHAN KEPERAWATAN APENDIKSITIS 2012
                                    APENDIKSITIS


A. Definisi
       Appendisitis adalah peradangan dari appendiks vermoformis (kantung buntu diujung
   sekum). (Donna L Wong, 2004)


B. Patofisiologi
       Hiperplasia folikel limfoid, fekalid, cacing, striktur, kanker dapat menyebabkan
   obstruksi apendik   yang mengakibatkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung.
   Makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding apendiks
   sehingga mengganggu aliran limfe dan menyebabkan dinding apendiks oedem, serta
   merangsang tonika serosa dan peritonium veceral. Persarafan appendiks sama dengan
   usus, yaitu torakal X (vagus) maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit sekitar
   umbilikus, mukus yang terkumpul lalu terinfeksi oleh bakteri dan menjadi nanah,
   kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu peradangan
   yang timbul meluas dan mengenai peritonium bawah. Bila dinding appendiks yang telah
   rapuh pecah maka dinamakan appendikitis perforasi. Pada anak-anak karena omentum
   masih pendek dan tipis, appendiks yang relatif lebih panjang, dinding apendiks yang lebih
   tipis dan daya tahan tubuh yang madsih kurang, maka perforasi akan lebih cepat.


C. Pathway




                                                                                          1
               ASUHAN KEPERAWATAN APENDIKSITIS 2012


D. Manifestasi Klinik
      Gejala utama dari appendiks adalah nyeri perut, rasa sakit ini disebabkan karena
   penyumbatan appendiks. Pada mulanya nyeri perut ini hilang timbul dan terasa di
   epigastrium atau regioumbilukus. Tiga gejala klasik terdiri atas nyeri, mual dan panas,
   Biasanya disertai anorexia, dan muntah, diare jarang terjadi terdiri dari sedikit tinja
   berlendir yang disebabkan oleh iritasi kolon sigmoid. Jika terjadi iritasi pada kandung
   kemih bisa menimbulkan gejala kencing seperti sering dan terburu-buru.
      Bila proses radang telah menjalar ke peritonium perietal setempat, maka akan timbul
   nyeri lokal pada perut kanan bawah didaerah Mc. Burney seperti nyeri tekan. Pada
   perforasi, nyeri menjadi menyeluruh.
      Gejala umum lainnya adalah bising usus menurun atau hilang sama sekali, demam,
   mula-mula demam tidak begitu tinggi tetapi menjadi hiperpireksia bila terjadi perforasi,
   bila proses appendiksitis menjadi kronis maka gejala-gejala menjadi tidak jelas.


E. Pemeriksaan Penunjang
   1. Hitung darah lengkap, didapatkan leukositosis, neutropilia.
   2. Ultrasound, didapatkan fekalit nonkalsifikasi, apendiks nonperforasi, abses apendiks.
   3. Pemeriksaan foto abdomen, didapatkan fekalit berkalsifikasi.


F. Fokus Pengkajian
   1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik diarahkan pada penentuan tanda apendiksitis.
              Aspek yang terkait riwayat yang mendukung diagnosis apendiksitis meliputi
      mulainya nyeri sebelum muntah dan diare, kehilangan nafsumakan, berpindahnya
      nyeri dari periumbilikus ke kuadran kanan bawah dan nyeri bertambah parah dengan
      pergerakan.
              Pemeriksaan fisik harus dimulai dengan inspeksi tingkah laku anak dan
      keadaan perutnya. Anak dengan apendiksitis sering bergerak dengan berlahan dan
      terbatas, membungkuk ke depan dan sedikit pincang. Anak tersebut akan memegang
      kuadran kanan bawah. Perut kembung menunukkan suatu komplikasi seperti
      perforasi/obstruksi. Auskultasi bisa menunjukkan suara usus abnormal (hipoaktif)
      ketika terjadi perforasi.
              Palpasi abdomen harus dilakukan dengan lembut, kuadran kanan bawah (titik
      McBurney, yaitu perpotongan lateral dan duapertiga dari garis yang menghubungkan
                                                                                     2
               ASUHAN KEPERAWATAN APENDIKSITIS 2012
      spina iliaka superior anterior kanan dan umbilikus). Tanda fisik yang paling penting
      pada apendiksitis adalah nyeri tekan menetap pada saat palpasi.
   2. Observasi adanya tanda-tanda peritonitis.
      Tanda terjadinya perforasi adalah demam, hilangnya nyeri secara tiba-tiba setelah
      perforasi, peningkatan nyeri yang biasanya menyebar dan disertai kaku abdomen,
      distensi abdmen progresif, menggigil.


G. Fokus Intervensi
   1. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif
      didalam abdomen, perforasi pada apendiks.
      Kriteria hasil : meningkatnya penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda
                      infeksi atau inflamasi.
      Intervensi :
         Pantau tanda-tanda vital dan jumlah leukosit. Perhatikan adanya demam,
          menggigil, berkeringat, meningkatnya nyeri abdomen.
         Beri perawatan luka dan penggantian balutan dengan menggunakan teknik septik.
         Minotor insisi dan balutan. Catat karakteristik drainase luka, adanya eritema.
         Beri antibiotik sesuai ketentuan.
   2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan.
      Kriteria hasil : nyeri dapat terkontrol, tampak rileks, dapat tidur secara cukup.
      Intervensi :
         Lakukan strategi nonfarmakologi untuk membantu anak mengatasi nyeri.
         Gunakan strategi yang dikenal anak atau gambarkan beberapa strtegi dan biarkan
          anak memilih salah satunya.
         Libatkan orang tua dalam pemilihan strategi.
         Minta orang tua untuk membantu anak dengan menggunakan strategi selama nyeri
          aktual.
         Beri obat analgesik sesuai ketentuan.
   3. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan tidak adanya motilitas usus.
      Kriteria hasil : anak tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan,
                      abdomen tetap lunak dan tidak distensi, anak tidak muntah
      Intervensi      :
         Pertahankan puasa pada pascaoperasi.

                                                                                           3
            ASUHAN KEPERAWATAN APENDIKSITIS 2012
      Pertahankan dekompresi selang NGT
      Kaji abdomen untuk adanya distensi, nyeri tekan dan bising usus.
      Pantau keluarnya flatus dan feses.


Intervensi Pasca Bedah :
1. Cegah dan pantau adanya distensi abdomen
   a. Puasa
   b. Pertahankan tetap terbukanya tuba nasogastrik
   c. Kaji ketegangan dinding abdomen (keras, lunak)
2. Cegah penyebab infeksi
   a. Lakukan perawatan luka sesuai indikasi dan pembuangan balutan yang benar.
   b. Berikan isolasi universal
3. Pantau adanya tanda-tanda infeksi
   a. Pantau tanda-tanda vital sesuai intruksi
   b. Observasi luka untuk adanay tanda-tanda infeksi : panas, nyeri, bengkak dan
       kemerahan.
   c. Beri antibiotik : pantau respon anak
   d. Pantau tempat pemasangan infus
4. Tingkatkan penyembuhan luka
   a. Lakukan perawatan luka : jaga agar tempat tersebut tetap kering dan bersih.
   b. Letakkan anak dalam posisi semi fowler untuk memudahkan drainase jika ada
       cairan.


5. Kaji nyeri dan lakukan tindakan penghilang nyeri
   a. Ajarkan teknik distraksi untuk mengurangi rasa sakit.
   b. Lakukan tindakan-tindakan pemberi rasa nyaman seperti masase dan pemberian
       posisi yang nyaman.
6. Bantu anak dan orang tua dalam mengatasi stress emosional karena hospitalisasi dan
   pembedahan.




                                                                                    4
ASUHAN KEPERAWATAN APENDIKSITIS 2012




                                   5

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:135
posted:10/5/2012
language:Indonesian
pages:5