Docstoc

ASKEP ANAK ACUTE NONLYMPHOID (MYELOGENOUS) LEUKEMIA (ANLL ATAU AML)

Document Sample
ASKEP ANAK ACUTE NONLYMPHOID (MYELOGENOUS) LEUKEMIA (ANLL ATAU AML) Powered By Docstoc
					                               ASUHAN KEPERAWATAN ANLL 2012
              ACUTE NONLYMPHOID (MYELOGENOUS) LEUKEMIA
                                    (ANLL ATAU AML)


A. Definisi
         Acute Nonlymphoid (myelogenous) Leukemia (ANLL atau AML) adalah salah satu
    jenis leukemia; dimana terjadi proliferasi neoplastik dari sel mieloid (ditemukannnya sel
                                                               (1,2)
    mieloid : granulosit, monosit imatur yang berlebihan).             AML meliputi leukemia
    mieloblastik akut, leukemia monoblastik akut, leukemia mielositik akut, leukemia
    monomieloblastik, dan leukemia granulositik akut (1)


B. Penyebab
         Seperti halnya leukemia jenis ALL (Acute Lymphoid Leukemia), etiologi AML
   sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti, diduga karena virus (virus
   onkogenik). Faktor lain yang turut berperan adalah :
    1. Faktor endogen
       Faktor konstitusi seperti kelainan kromosom (resiko terkena AML meningkat pada
       anak yang terkena Down Sindrom), herediter (kadang-kadang dijumpai kasus
       leukemia pada kakak beradik atau kembar satu telur).
    2. Faktor eksogen
       Seperti sinar X, sinar radioaktif, hormon, bahan kimia (Benzol, Arsen, preparat
       Sulfat), infeksi (virus, bakteri).


C. Tanda dan Gejala
    1. Hipertrofi ginggiva
    2. Kloroma spinal (lesi massa)
    3. Lesi nekrotik atau ulserosa perirekal
    4. Hepatomegali dan splenomegali (pada kurang lebih 50% anak)
    5. Manifestasi klinik seperti ALL , yaitu
       a. Bukti anemia, perdarahan, dan infeksi : demam, letih, pucat, anoreksia, petekia
           dan perdarahan, nyeri sendi dan tulang, nyeri abdomen yang tidak jelas, berat
           badan menurun, pembesaran dan fibrosis organ-organ sistem retikuloendotelial
           (hati , limpa, dan limfonodus)


www.duniaaskep.com                                                                    Page 1
                              ASUHAN KEPERAWATAN ANLL 2012
       b. Peningkatan tekanan intrakranial karena infiltrasi meninges : nyeri dan kaku
           kuduk, sakit kepala, iritabilitas, letargi, muntah, edema papil, koma.
       c. Gejala-gejala sistem saraf pusat yang berhubungan dengan bagian sistem yang
           terkena; kelemahan ekstremitas bawah, kesulitan berkemih, kesulitan belajar,
           khususnya matematika dan hafalan (efek samping lanjut dari terapi).


D. Patofisiologi dan Pathways
         Jaringan pembentuk darah ditandai oleh pergantian sel yang sangat cepat.
    Normalnya, produksi sel darah tertentu dari prekusor sel stem diatur sesuai kebutuhan
    tubuh. Apabila mekanisme yang mengatur produksi sel tersebut terganggu, sel akan
    membelah diri sampai ke tingkat sel yang membahayakan (proliferasi neoplastik).
    Proliferasi neoplastik dapat terjadi karena kerusakan sumsum tulang akibat radiasi, virus
    onkogenik, maupun herediter.
         Sel polimorfonuklear dan monosit normalnya dibentuk hanya dalam sumsum
    tulang. Sedangkan limfosit dan sel plasma dihasilkan dalam berbagai organ limfogen
    (kelenjar limfe, limpa, timus, tonsil). Beberapa sel darah putih yang dibentuk dalam
    sumsum tulang, khususnya granulosit, disimpan dalam sumsum tulang sampai mereka
    dibutuhkan dalam sirkulasi. Bila terjadi kerusakan sumsum tulang, misalnya akibat
    radiasi atau bahan kimia, maka akan terjadi proliferasi sel-sel darah putih yang
    berlebihan dan imatur. Pada kasus AML, dimulai dengan pembentukan kanker pada sel
    mielogen muda (bentuk dini neutrofil, monosit, atau lainnya) dalam sumsum tulang dan
    kemudian menyebar ke seluruh tubuh sehingga sel-sel darah putih dibentuk pada banyak
    organ ekstra medula.
         Sedangkan secara imunologik, patogenesis leukemia dapat diterangkan sebagai
    berikut. Bila virus dianggap sebagai penyebabnya (virus onkogenik yang mempunyai
    struktur antigen tertentu), maka virus tersebut dengan mudah akan masuk ke dalam
    tubuh manusia dan merusak mekanisme proliferasi. Seandainya struktur antigennya
    sesuai dengan struktur antigen manusia tersebut, maka virus mudah masuk. Bila struktur
    antigen individu tidak sama dengan struktur antigen virus, maka virus tersebut akan
    ditolaknya. Struktur antigen ini terbentuk dari struktur antigen dari berbagai alat tubuh,
    terutama kulit dan selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh atau HL-A (Human
    Leucocyte Locus A). Sistem HL-A diturunkan menurut hukum genetik, sehingga
    etiologi leukemia sangat erat kaitannya dengan faktor herediter.
www.duniaaskep.com                                                                    Page 2
                             ASUHAN KEPERAWATAN ANLL 2012
        Akibat proliferasi mieloid yang neoplastik, maka produksi elemen darah yang lain
   tertekan karena terjadi    kompetisi nutrisi untuk     proses metabolisme (terjadi
   granulositopenia, trombositopenia). Sel-sel leukemia juga menginvasi tulang di
   sekelilingnya yang menyebabkan nyeri tulang dan cenderung mudah patah tulang.
   Proliferasi sel leukemia dalam organ mengakibatkan gejala tambahan : nyeri akibat
   pembesaran limpa atau hati, masalah kelenjar limfa; sakit kepala atau muntah akibat
   leukemia meningeal.




www.duniaaskep.com                                                               Page 3
                                     ASUHAN KEPERAWATAN ANLL 2012


                                          Sel mesenkim
                                      Stem cell, sel retikuler


       Sumsum tulang
                                                                          Jar. mieloid
                                                 Sel blast
                                               (mieloblast)



                                               Proliferasi SDP
                                                  immatur



                                                                          Hematopoesis
  Mekanisme                      Akumulasi                                  terganggu
imun terganggu


                                  infiltrasi              Prod. SDM
                                                           terganggu            Trombositopenia
risiko infeksi



    Hati           tulang          SSP          Limpa            Anemia        Pembekuan terganggu



                                                                                         Perdarahan
hepatomeg         Nyeri           Sist.                                                   spontan
                  tulang                        limpadenopati
       ali                     Neurologis
                                terganggu

       N     Ggn.                                                                      Risiko syok
yeri         nutrisi                                                                   hipovolemik
teka
n                            Sakit kepala,           Suplai O2
                           nausea, diplopia,        ke jaringan       Pucat, lesu,
                           penglihatan kabur         menurun           dispnea,
                                                                        letargi,



                                                                     Ggn. Pola nafas
                            Risiko injury

   www.duniaaskep.com                                                                            Page 4
                             ASUHAN KEPERAWATAN ANLL 2012
E. Komplikasi
   1. Gagal sumsum tulang
   2. Infeksi
   3. Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID/DIC)
   4. Splenomegali
   5. Hepatomegali


F. Pemeriksaan Diagnostik
   1. Hitung darah lengkap (CBC). Anak dengan CBC kurang dari 10.000/mm3 saat
       didiagnosis, memiliki prognosis paling baik. Jumlah leukosit lebih dari 50.000/mm3
       adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur.
   2. Pungsi lumbal, untuk mengkaji keterlibatan SSP.
   3. Foto thoraks, untuk mendeteksi keterlibatan mediastinum
   4. Aspirasi sumsum tulang, ditemuakannya 25% sel blast memperkuat diagnosis.
   5. Pemindaian tulang atau survei kerangka, mengkaji keterlibatan tulang.
   6. Pemindaian ginjal, hati, dan limpa, mengkaji infiltrat leukemik
   7. Jumlah trombosit, menunjukkan kapasitas pembekuan.


G. Penatalaksanaan
        Protokol pengobatan bervariasi sesuai jenis leukemia dan jenis obat yang diberikan
   pada anak. Proses remisi induksi pada anak terdiri dari tiga fase : induksi, konsolidasi,
   dan rumatan. Selama fase induksi (kira-kira 3 sampai 6 minggu) anak menerima
   berbagai agens kemoterapi untuk menimbulkan remisi. Periode intensif diperpanjang 2-3
   minggu selama fase konsolidasi untuk memberantas keterlibatan sistem syaraf pusat dan
   oragan vital lain. Terapi rumatan diberikan selama beberapa tahun setelah diagnosis
   untuk memperpanjang remisi. Beberapa obat yang dipakai untuk leukemia anak-anak
   adalah prednison, vinkristin, asparaginase, metrotreksat, merkaptopurin, sitarabin,
   alopurinol, siklofosfamid, dan daunorubisin.


Pengkajian Keperawatan
   1. Kaji adanya manifestasi klinik AML (kelelahan, nyeri, pucat, anoreksi, perdarahan,
      penurunan berat badan, letargi, hipertropi ginggiva, ulserosa perirektal, dll)


www.duniaaskep.com                                                                     Page 5
                                ASUHAN KEPERAWATAN ANLL 2012
     2. Kaji reaksi anak terhadap kemoterapi : diare, anoreksia, mual, muntah, retensi cairan,
        hiperuremia, demam, stomatitis, ulkus mulut, alopesia, nyeri, dll
     3. Kaji adanya tanda dan gejala infeksi : peningkatan leukosit, demam, peningkatan
        LED
     4. Kaji adanya tanda dan gejala hemoragi
     5. Kaji adanya tanda dan gejala komplikasi : somnolens radiasi, gejala SSP, lisis sel.
     6. Kaji koping anak dan keluarga.


H. Diagnosa Keperawatan
     1. Intoleransi aktivitas
     2. Resiko tinggi infeksi
     3. Kelebihan volume cairan
     4. Kerusakan integritas jaringan
     5. Resiko tinggi perubahan nutrisi
     6. Resiko tinggi cedera
     7. Gangguan citra diri
     8. Ansietas
     9. Resiko tinggi penurunan curah jantung
     10. Resiko tinggi keletihan
     11. Resiko tinggi perubahan pertumbuhan dan perkembangan
     12. Resiko tinggi perubahan proses keluarga
     13. Resiko tinggi penatalaksanaan aturan pengobatan yang tidak efektif




I.   Intervensi Keperawatan
     1. Pantau anak untuk mengetahui reaksi terhadap pengobatan
     2. Pantau adanya tanda dan gejala infeksi :
        a. Waspadai bahwa demam adalah tanda yang terpenting dari infeksi
        b. Obati semua anak seakan-akan mereka semua menderita neutropeni sampai
            diperoleh hasil test. Isolasi mereka dari pasien klinik lainnya, terutama anak-anak
            dengan penyakit infeksi, khususnya varisela.


www.duniaaskep.com                                                                      Page 6
                            ASUHAN KEPERAWATAN ANLL 2012
      c. Minta anak tersebut memakai masker bila bersama dengan orang lain dan bila
         menderita neutropeni berat ( leukosit kurang dari 1000/mm3).
      d. Waspadai bahwa jika seorang anak menderita neutropeni, ia tidak boleh menjalani
         kemoterapi. Anak tsb dapat menerima antibiotik Ivjika demam juga terjadi (lebih
         banyak pasien yang meninggal karena infeksi daripada karena penyakitnya).
   3. Pantau adanya tanda dan gejala hemoragi
      a. Periksa adanya memar dan petekia pada kulit
      b. Periksa danya mimisan dan gusi berdarah
      c. Jika diberi suntikan, tekan bekas tusukan lebih lama dari biasanya (kira-kira 3-5
         menit) untuk memastikan perdarahan telah berhenti. Perikas lagi untuk
         memastikan bahwa tidak ada perdarahan lagi.
   4. Pantau adanya tanda gejala komplikasi
      a. Somnolens radiasi : dimulai 6 minggu setelah menerima radiasi kraniospinal, anak
         menunjukkan keletihan berat dan anoreksia selama kira-kira 1-3 minggu. Orang
         tua sering kali mersa khawatir tentang terjadinya kambuhan pada saat ini dan
         perlu untuk diyakinkan.
      b. Gejala SSP : sakit kepala, penglihatan kabur atau ganda, muntah. Gejala-gejala
         tersebut dapat mengindikasikan keterlibatan SSP.
      c. Gejala pernafasan : batuk, kongesti paru, dispnea. Gejala-gejala tersebut
         mengindikasikan adanya pneumositis atau infeksi pernafasan lainnya.
      d. Lisis sel : lisis sel yang cepat setelah kemoterapi dapat mempengaruhi kimia
         darah, mengakibatkan peningkatan Kalsium dan Kalium.


   5. pantau adanya kekhawatiran dan ansietas tentang diagnosis kanker dan hubungannya
      dengan pengobatan; pantau respon emosional seperti marah, menyangkal, kesedihan
   6. Pantau adanya gangguan dalam fungsi keluarga
      a. Dasar semua intervensi pada latar belakang budaya, agama pendidikan, dan sosial
         ekonomi keluarga
      b. Libatkan saudara kandung sebanyak mungkin dalam perawatan karena mereka
         sangat prihatin terhadap perubahan yang terjadi pada anak yang sakit dan fungsi
         keluarga
      c. Pertimbangkan kemungkinan bahwa saudara kandung merasa bersalah dan
         disalahkan
www.duniaaskep.com                                                                 Page 7
                             ASUHAN KEPERAWATAN ANLL 2012
      d. Tingkatkan keutuhan keluarga dengan memberi kebebasan jam kunjung selama 24
         jam bagi semua anggota keluarga.


J. Hasil yang Diharapkan
   1. Anak mencapai remisi
   2. Anak bebas dari komplikasi penyakit
   3. Anak dan keluarga mempelajari tentang koping yang efektif untuk menghadapi
      hidup dan penatalaksanaan penyakit tersebut.




www.duniaaskep.com                                                           Page 8
                              ASUHAN KEPERAWATAN ANLL 2012
                                 DAFTAR PUSTAKA




1.   Whaley’s and Wong. Essential of Pediatric Nursing. Sixth Edition. USA : Mosby.
     2000.
2.   Betz, CL & Sowden, LA. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Jakarta : EGC.
     2002.
3.   Whaley’s and Wong. Clinical Manual of Pediatric Nursing. Edisi 4. USA : Mosby.
     2001.
4.   Joyce Engel. Pengkajian Pediatrik. Edisi 2. Jakarta : EGC. 1999
5.   Brunner& Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 2. Jakarta :
     EGC. 2002.
6.   Guyton. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Edisi III. Jakarta : EGC. 1995




www.duniaaskep.com                                                               Page 9

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:93
posted:10/5/2012
language:
pages:9