Docstoc

makalah enelisis kalimat majemuk pada koran jawa pos by maxgnet conference

Document Sample
makalah enelisis kalimat majemuk pada koran jawa pos by maxgnet conference Powered By Docstoc
					MAKALAH

PENGGUNAAN KALIMAT MAJEMUK DALAM OPINI DI KORAN JAWA POS
Hal. 4 [Rabu, 20 agustus 2008] Makalah ini disusun sebagai syarat untuk mengikuti Ujian Semester Genap Tahun 2008 / 2009

Disusun Oleh : ARIP PRASETYO BUDI XI IPA 1

SMAN NEGRI 1 PESANGGARAN
Jl. Pesanggaran No. 50 Pesanggaran Telp. (0333) 710091 (68488)

MOTTO

 99% kegagalan lahir dari kita yang memiliki kebiasaan tidak peduli.  Antusias adalah mesin penggerak kesuksesan.  Cara terbaik menjadi cerdas adalah tidak menjadi bodoh.            Dimana ada kemauan, niscaya ada jalan. Dimanapun anda berada,jadilah manusia berguna. Hanya tindakan yang dapat memberikan kekuatan. Hasil dari belajar adalah tindakan, bukan pengetahuan. Hidup terbentuk dari arus pikiran yang mengalir di kepala. Ilmu itu penting, namun harga diri penting. Kegagalan adalah celaka kecil. Kemenangan adalah hasil dari berpikir menang. Kesalahan adalah pelajaran untuk menjadi bijak. Kesuksesan berasal dari kemauan yang kuat. Lari dari kesulitan-kesulitan adalah suatu kesalahan.  Jangan habiskan waktu untuk menunggu.

i

HALAMAN PENGESAHAN Makalah yang berjudul “Penggunaan Kalimat Majemuk Dalam Opini di Koran Jawa Pos“ ini telah disusun oleh Arip Prasetyo Budi kelas XI IPA 1 siswa SMA Negri 1 Pesanggaran yang telah disetujui dan disyahkan oleh Bapak Achmad Nurhuda Spd. Selaku guru pembimbing.

Pesanggaran,09 Juni 2009

Mengetahui, Kepala SMA Negeri 1 Pesanggaran

Drs. Rodiwanto, M..M. NIP. 131856986

Wali Kelas

Pembimbing

Samsiti, S.pd Nip :

Achmad Nurhuda, S.pd Nip : 131.158.330

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya, sehingga makalah yang berjudul “Penggunaan Kalimat Majemuk Dalam Opini di Koran Jawa Pos” dapat terselesaikan dengan apa adanya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas guru bidang studi Bahasa Indonesia dan sebagai persyaratan untuk mengikuti ujian semester genap di SMA Negri 1 Pesanggaran. Dengan terselesaikannya makalah ini, tiada berlebihan kirannya jika pada kesempatan ini disampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat: 1. Bapak Achmad Nurhuda,S.pd, selaku guru pembimbing 2. Kedua orang tua yang kirannya telah memberikan dukungan, baik secara moral maupun spiritual. 3. Teman-teman yang ikut serta dalam memberikan dukungan dan informasi. 4. Dan semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan, meskipun penyusunan makalah ini telah diusahakan sebaik mungkin, tetapi pepatah menyatakan pada “ Tiada Gading Yang Tak Retak. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun demi peningkatan karya tulis dimassa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Amin…Amin….walhamdulillahi robilallamin.

Pesanggaran,05 Maret 2009 Penyusun

Arip Prasetyo Budi

iii

DAFTAR ISI MOTTO…………………………………………………………………………………i HALAMAN PENGESAHAN………………………………………..............................ii KATA PENGANTAR………………………………………………..............................iii DAFTAR ISI…………………………………………………………………................iv BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………………………………………………………………1 1.2 Tujuan …………………………...………………………………………….2 1.3 Rumusan Masalah…………………………………………………………...2 BAB II KAJIAN TEORI…………………………………………………………...3 2.1.2 Pengertian Fakta………………………………………………….…....3 2.2 Pengertian Kalimat ……...……………………………………………... ...4 2.3 Pembagian Kalimat………………………………………………………..5 2.4 Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatiknya…………………………….6 2.5 Jenis Kalimat Menurut Bentuk Gayanya (Retorikanya) …………………11 2.6 Jenis Kalimat Menurut Fungsinya ………………………………………..12 2.7 Kalimat Efektif …………………………………………………………...14 2.8 Kalimat Salah dan Kalimat Benar ………………………………………..20 2.9 Kalaimat Aktif dan Kalimat Pasif…………………………………………21 2.10 Pengertian kalimat Majemuk…………………………………………….24 2.10.1 Kalimat Majemuk Setara …………………………………………24 2.10.2 Kalimat Majemuk Bertingkat……………………………………..26 2.10.3 Kalimat Majemuk Campuran ………………………………...…..28 2.10.4 Kalimat Majemuk Rapatan …………………………………….…28 BAB III PEMBAHASAN………………………………………………………….30 3.1 Jenis Kalimat Majemuk Yang Sering Digunakan Dalam Opini…………...30 3.2 Kata Penhubung Yang Sering Digunakan Dalam Opini…………………...35 BAB IV PENUTUP………………………………………………………………..36 2.1 Pengertian Opini …………………………………………………………...3

Simpulan…………………………………………………………………...36 Saran…………………………………………………………………….....36 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………....37 Lampiran ……………………………………………………………………………...38

iv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Opini merupakan suatu hasil pemikiran atau perkiraan tentang suatu masalah yang sedang dihadapi dari sudut pandang yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lainnya agar tercipta suatu pemecahan masalah yang bervariasi. Pendapat (Opini) memiliki peran dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional seseorang dan merupakan penunjang keberhasilan dalam dunia bisnis maupun berkelompok. Pembelajaran untuk mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam diri seseorang hal itu akan memacu seseorang untuk dapat menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapinya. Pembelajaran tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dalam meyelesaikan masalah dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap suatu hasil karya manusia didunia yang penuh persaingan. Mengemukakan suatu pendapat bertujuan untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. Di dalam mengemukakan suatu pendapat kita membutuhkan suatu kalimat yang baik agar dapat diterima sebagai ide yang baik pula, sehinga jika kita mau menyampaikan suatu pendapat maupun mengemukakan gagasan dan perasaan sebelumnya kita harus merangkai kalimat demi kalimat agar perasaan atau ide kita dapat diterima oleh lawan bicara kita. Jadi kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut,disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!). Di dalam kalimat itu sendiri terdapat berbagai jenis kalimat diantaranya yaitu kalimat majemuk dan kalimat tunggal. Kalimat Majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Setiap kalimat majemuk mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya. Jenis-jenis kalimat majemuk yaitu: Kalimat Majemuk Setara, Kalimat Majemuk Bertingkat, Kalimat Majemuk Campuran dan Kalimat Majemuk Rapatan. Kalimat majemuk setara yaitu penggabungan 2 kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya sejajar atau sederajat. Kalimat majemuk bertingkat, Yaitu penggabungan 2 kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya berbeda. Kalimat majemuk rapatan adalah gabungan beberapa kalimat tunggal yang karena subjek atau predikatnya sama maka bagian yang sama hanya disebutkan sekali. 1

Kalimat majemuk campuran yaitu penggabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat yang sekurang-kurangnya dibentuk oleh tiga pola kalimat tunggal. Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk setara dibagi menjadi 6 macam, yakni: Kalimat Majemuk Setara Penggabungan/sejalan: Menggunakan kata penghubung dan, dan lagi, lagi pula, sedang, sedangkan, lalu, kemudian.Kalimat Majemuk Setara Penguatan: Menggunakan kata penghubung bahkan Kalimat Majemuk Setara Pemilihan: Menggunakan kata penghubung atau Kalimat Majemuk Setara Berlawanan: Menggunakan kata penghubung sedangkan, tetapi, melainkan, padahal, hanyalah, walaupun, meskipun, biarpun, kendatipun, jangankan, namun.Kalimat Majemuk Setara Urutan Waktu: Menggunakan kata penghubung kemudian, lalu, lantas.Kalimat Majemuk Setara Sebab Akibat:Menggunakan kata penghubung sebab, karena, oleh karena itu, sehingga. Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk bertingkat dibagi menjadi 7 macam, yakni: kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu: menggunakan kata penghubung ketika, selama, sewaktu, setelah, sesudah, semenjak, sejak, sementara, tengah, sewaktu, selagi, semasa, demi, setiap, sehabis, sampai, sebelum, dan selagi. Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk campuran dihubungkan dengan kata penghubung setara dan bertingkat. Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk rapatan dihubungkan dengan kata penghubung “dan”.

1.2

Tujuan Tujuan-tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : 1 Untuk mengetahui jenis-jenis kalimat majemuk apa yang sering digunakan dalam opini. 2 Untuk mengetahui kata penghubung apa saja yang sering digunakan dalam opini.

1.3

Rumusan Masalah Di dalam makalah ini juga mempunyai tujuan masalah yaitu sebagai berikut : 1 Jenis Kalimat majemuk apa yang sering digunakan didalam opini ? 2 Kata penghubung apa saja yang sering digunakan dalam penulisan opini ?

2

BAB II KAJIAN TEORI

Informasi dapat disampaikan melalui tuturan langsung, pembacaan teks, atau disiarkan melalui media elektronika. Bagaimana cara menangkap informasi secara lengkap ?

Informasi yang kita dapatkan ada dua macam, yaitu Opini dan Fakta. 2.1 Pengertian Opini Latin: opinio. Pendapat, pendirian, anggapan, perasaan, keyakinan, sangkalan, buah pikiran, pertimbangan tentang sesuatu, hal. Dapat pula berarti pernyataan formil oleh eksper (Komaruddin,1985:54). Opini adalah buah pemikiran atau perkiraan tentang suatu hal (seperti orang atau peristiwa). Pendapat yang dikeluarkan selalu bergantung pada sudut pandang dan latar belakang yang dimiliki (suparyanta,2005:110). Contoh : Menurut Andar, pencuri ketiga sapundu tersebut merupakan bentuk pelecehan terhadap etnis Dayak. Ketiga sapundu itu selama ini diyakini sebagai peninggalan leluhur suku Dayak yang masih dilihat. Diduga kuat penjarah benda purbakala itu merupakan sindikat yang berhubungan didengan wisatawan mancanegara. 2.1.1 Pengertian Fakta adalah hal(keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan atau sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Setiap orang akan memiiki kesamaan dalam suatu fakta (Hamzah,1996:118). Contoh : Kini pencuri benda purbakala, seperti sapundu (patung khas suku Dayak), semakin marak. Pecan lalu sedikitnya tiga sapundu di Sempang Simin, kecamatan Sempang Simin, Kabupaten Kapuas, dan dua sapundu di kawasan daerah aliran sungai (DAS) Katiga, Kabupaten kota Waringin Timur, hilangdicuri Perbedaan Fakta dan Pendapat (opini) Pembeda Pengertian Fakta Hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan, sesuatu yang benar-benar terjadi. Gambar, foto, fable, data statistik, atau uraian kalimat yang mendeskripsikan keadaan atau peristiwa yang benarbenar terjadi. Menunjukkan. Pendapat Pikiran, anggapan, buah pikiran, atau perkiraan. Berupa saran, kritik, harapan, atau nasihat. Mengharapkan.

Bentuk

Sifat

3

2.2 Pengertian Kalimat Kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketata bahasaan. Dalam wujud lisan kalimat diiringi oleh alunan titinada, disela oleh jeda, diahiri oleh intonasi selesai, dan diikuti kesenyapan yang memustahilkan adanya perpaduan atau asimulasi bunyi (Anton M,1988:254). Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!). Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). kalau tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Dengan kata yang seperti itu hanya dapat disebut sebagai frasa. Inilah yang membedakan kalimat dengan frasa (http//:raf1816phyboy.blogspot.com/2008/12/kalimatmajemuk.html). Menurut keraf ( 1987:46) pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: 1. KB + KK : Mahasiswa berdiskusi. 2. KB + KS : Dosen itu ramah. 3. KB + KBil : Harga buku itu sepuluh ribu rupiah. 4. KB + (KD + KB) : Tinggalnya di Palembang. 5. KB1 + KK + KB2 : Mereka menonton film. 6. KB1 + KK + KB2 + KB3 : Paman mencarikan saya pekerjaan. 7. KB1 + KB2 : Rustam peneliti. Bagian-bagian kalimat Jikia kita mengamati kaimat, secara sepintas saja dapat kita temukan perbedaan bagian-bagiannya. Berikut ini akan dibicarakan ihwal bagian-bagian kalimat. A). Bagian inti dan Bagian bukan inti Bagian yang tidak dapat dihilangkan adalah bagian inti, sedangkan yang dapat dihilangkan adalah bagian bukan inti. Contoh: Kami kemarin sore mendatangi pertemuan itu. Kalimat diatas terdiri atas empat bagian yaitu (1) kami (2) kemarin sore (3) mendatangi (4) pertemuan itu. Dari keempat bagian itu, hanya bagian (2) kemarin sore yang dapat dihilangkan, sedangkan ketiga yang lain tidak. B). Bagian inti dan Kalimat tunggal Penghilangan salah satu bagian saja dari bagian kalimat inti akan meruntuhkan identitas sisanya sebagai kalimat. Contoh: Kami mendatangi pertemuan itu -------- kami mendatangi……..(?)

4

2.3 Pembagian Kalimat Kalimat dapat dibagi menurut (a) bentuk, dan (b) maknanya (nilai komunikatifnya). Menurut bentuknya, kalimat ada yang tunggal dan ada yang majemuk. Berdasarkan macan predikatnya, kalimat tunggal dapat lagi dibagi menjadi kalimat yang berpredikat (1) nomina atau frasa nomina, (2) adjektiva atau frasa adjektiva, (3) verba atau frasa verba, dan (4) kata-kata lain seperti sepuluh, hujan, dan sebagainya. Kalimat majemuk juga dapat dibagi lagi menjadi kelompok yang lebih kecil, yakni kalimat majemuk setara dan bertingkat. Dari segi maknanya (nilai komunikatifnya) kalimat terbagi menjadi kalimat (1) berita, (2) peerintah, (3) Tanya, (4) seru, dan (5) emfatik. Secara diagramatik pembagian kalimat bahasa Indonesia adalah sebagai berikut. a. Predikat Frasa Nomina b. Predikat Frasa Adjektiva Tunggal c. Predikat Frasa Verbal d. Predikat Frasa Lain

Bentuk

Kalimat Majemuk

a. Setara

b. Bertingkat a. b. c. d. e. Berita Perintah Tanya Seru Emfatik

Makna

2.4

Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya

Menurut strukturnya, kalimat bahasa Indonesia dapat berupa kalimat tunggal dan dapat pula berupa kalimat mejemuk. (Alwi,2000:370-373) Kalimat majemuk dapat bersifat setara (koordinatif0, tidak setara (subordinatif), ataupun campuran (koordiatif-subordinatif). Gagasan yang tunggal dinyatakan dalam kalimat tunggal; gagasan yang bersegi-segi diungkapkan dengan kalimat majemuk.

5

A. Kalimat Tunggal Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Pada hakikatnya, kalau dilihat dari unsur-unsurnya, kalimat-kalimat yang panjang-panjang dalam bahasa Indonesia dapat dikembalikan kepada kalimat-kalimat dasar yang sederhana. Kalimat-kalimat tunggal yang sederhana itu terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Sehubungan dengan it, kalimat-kalimat yang panjang itu dapat pula ditelusuri pola-pola pembentukannya. Pola-pola itulah yang dimaksud dengan pola kalimat dasar. Mari kita lihat sekali lagi pola-pola kalimat dasar tersebut. 1. Mahasiswa berdiskusi S: KB + P: KK 2. Dosen t ramah S: KB + P: KS 3. Harga buku itu sepuluh ribu rupiah. S: KB + P: Kbil Pola-pola kalimat dasar ini masing-masing hendaklah dibaca sebagai berikut. Pola 1 adalah pola yang mengandung subjek (S) kata benda (mahasiswa) dan predikat (P) kata kerja (berdiskusi). Kalimat itu menjadi Mahasiswa berdiskusi SP Contoh lain: 1. Pertemuan APEC sudah berlangsung. SP 2. Teori itu dikembangkan. SP Pola 2 adalah pola kalimat yang bersubjek kata benda (dosen itu) dan berpredikat kata sifat (ramah). Kalimat itu menjadi Dosen itu ramah. SP Contoh lain: 1. Komputernya rusak. SP 2. Suku bunga bank swasta tinggi. SP Pola 3 adalah pola kalimat yang bersubjek kata benda (harga buku itu) dan berpredikat kata bilangan (sepuluh ribu rupiah). Kalimat selengkapnya ialah Harga buku itu sepuluh ribu rupiah. SP Contoh lain: 1. Panjang jalan tol Cawang-Tanjung Priok tujuh belas kilometer. SP 2. Masalahnya seribu satu. SP 6

Ketiga pola kalimat di atas masing-masing terdiri atas satu kalimat tunggal. Setiap kalimat tunggal di atas dapat diperluas dengan menambahkan kata-kata pada unsur-unsurnya. Dengan menambahkan kata-kata pada unsur-unsurnya itu, kalimat akan menjadi panjang (lebih panjang daripada kalimat asalnya), tetapi masih dapat dikenali unsur utamanya.

Kalimat Mahasiswa berdiskusi dapat diperluas menjadi kalimat Mahasiswa semester III sedang berdiskusi di aula. SPK Perluasan kalimat itu adalah hasil perluasan subjek mahasiswa dengan semester III. Perluasan predikat berdiskusi dengan sedang, dengan menambahkan keterangan tempat di akhir kalimat. Kalimat 2, yaitu Dosen itu ramah dapat diperluas menjadi Dosen itu selalu ramah setiap hari. SPK Kalimat 3, yaitu Harga buku itu sepulu ribu rupiah dapat diperluas pula dengan kalimat Harga buku besar itu sepuluh ribu rupiah per buah. SP Memperluas kalimat tunggal tidak hanya terbatas seperti pada contoh-contoh di atas. Tidak tertutup kemungkinan kalimat tunggal seperti itu diperluas menjadi dua puluh kata atau lebih. Perluasan kalimat itu, antara lain, terdiri atas: 1. keterangan tempat, seperti di sini, dalam ruangan tertutup, lewat Yogyakarta, dalam republik it, dan sekeliling kota; 2. keterangan waktu, seperti setiap hari, pada pukul 19.00, tahun depan, kemarin sore, dan minggu kedua bulan ini; 3. keterangan alat seperti dengan linggis, dengan undang-undang itu, dengan sendok dan garpu, dengan wesel pos, dan dengan cek; 4. keterangan modalitas, seperti harus, barangkali, seyogyanya, sesungguhnya, dan sepatutnya;

7

5. keterangan cara, seperti dengan hatihati, seenaknya saja, selakas mungkin, dan dengan tergesa-gesa; 6. keterangan aspek, seperti akan, sedang, sudah, dan telah. 7. keterangan tujuan, seperti agar bahagia, supaya tertib, untuk anaknya, dan bagi kita; 8. keterangan sebab, seperti karena tekun, sebab berkuasa, dan lantaran panik; 9. frasa yang, seperti mahasiswa yang IPnya 3 ke atas, para atlet yang sudah menyelesaikan latihan, dan pemimpin yang memperhatikan takyatnya; 10. keterangan aposisi, yaitu keterangan yang sifatnya saling menggantikan, seperti penerima Kalpataru, Abdul Rozak, atau Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso. Perhatikan perbedaan keterangan alat dan keterangan cara berikut ini. Dengan + kata benda = keterangan alat Dengan + kata kerja/kata sifat = keterangan cara. Contoh kemungkinan perluasan kalimat tercantum di bawah ini. 1. Gubernur/memberikan/kelonggaran/kepada pedagang/. 2. Gubernur DKI Jakarta/memberikan/kelonggaran/kepada pedagang/. B. Majemuk Majemuk Setara Kalimat majemuk setara terjad dari dua kalimat tunggal atau lebi. Kalimat majemuk setara dikelompokkan menjadi empat jenis, sebagai berikut. 1. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata dan atau serta jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu sejalan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara penjumlahan. Contoh: Kami membaca Mereka menulis Kami membaca dan mereka menulis. Tanda koma dapat digunakan jika kalimat yang digabungkan itu lebih dari dua kalimat tunggal.

8

Contoh: Direktur tenang. Karyawan duduk teratur. Para nasabah antre. Direktur tenang, karyawan duduk teratur, dan para nasabah antre. 2. Kedua kaltunggal yang berbentuk kalimat setara itu dapat dihubungkan oleh kata tetapi jika kalimat itu menunjukkan pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat majemu setara pertentangan. Contoh: Amerika dan Jepang tergolong negara maju. Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara berkembang. Amerika dan Jepang tergolong negara maju, tetapi Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara berkembang. Kata-kata penghubung lain yang dapat digunakan dalam menghubungkan dua kalimat tunggal dalam kalimat majemuk setara pertentangan ialah kata sedangkan dan melainkan seperti kalimat berikut. Puspiptek terletak di Serpong, sedangkan Industro Pesawat Terbang Nusantara terletak di Bandung. Ia bukan peneliti, melainkan pedagang. 3. Dua kalimat tunggal ata lebih dapat dihubungkan oleh kata lalu dan kemudian jika kejadian yang dikemukakannya berurutan. Contoh: Mula-mula disebutkan nama-nama juara MTQ tingkat remaja, kemudian disebutkan namanama juara MTQ tingkat dewasa. Upacara serah terima pengurus koperasi sudah selesai, lalu Pak Ustaz membacakan doa selamat. 4. Dapat pula dua kalimat tunggal atau lebih dihubungkan oleh kata atau jika kalimat itu menunjukkan pemilihan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pemilihan. Contoh: Para pemilik televisi membayar iuran televisinya di kantor pos yang terdekat, atau para petugas menagihnya ke rumah pemilik televisi langsung. C. Kalimat Majemuk tidak Setara Kalimat majemuk tidak setara terdiri atas satu suku kalimat yang bebas dan satu suku kalimat atau lebih yang tidak bebas. Jalinan kalimat ini menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda di antara unsur gagasan yang majemuk.

9

Inti gagasan dituangkan ke dalam induk kalimat, sedangkan pertaliannya dari sudut pandangan waktu, sebab, akibat, tujuan, syarat, dan sebagainya dengan aspek gagasan yang lain diungkapkan dalam anak kalimat. Contoh: 1. a. Komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern. (tunggal) b. Mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer. (tunggal) c. Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer itu. 2. a. Para pemain sudah lelah b. Para pemain boleh beristirahat. c. Karena para pemain sudah lelah, para pemain boleh beristirahat. d. Karena sudah lelah, para pemain boleh beristirahat. Sudah dikatakan di atas bahwa kalimat majemuk tak setara terbagi dalam bentuk anak kalimat dan induk kalimat. Induk kalimat ialah inti gagasan, sedangkan anak kalimat ialah pertalian gagasan dengan hal-hal lain. Mari kita perhatikan kalimat di bawah ini. Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas, saya akan membawamu ke hotel-hotel besar. Anak kalimat: Apabila engkau ingin melihat bak mandi panas. Induk kalimat: Saya akan membawamu ke hotel-hotel besar. Penanda anak kalimat ialah kata walaupun, meskipun, sungguhpun, karena, apabila, jika, kalau, sebab, agar, supaya, ketika, sehingga, setelah, sesudah, sebelum, kendatipun, bahwa, dan sebagainya D. Kalimat Majemuk Campuran Kalimat jenis ini terdiri atas kalimat majemuk taksetara (bertingkat) dan kalimat majemuk setara, atau terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk taksetara (bertingkat). Misalnya: 1. Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang. 2. Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai. Penjelasan Kalimat pertama terdiri atas induk kalimat yang berupa kalimat majemuk setara, kami pulang, tetapi mereka masih bekerja, dan anak kalimat karena tugasnya belum selesai. Jadi, susunan kalimat kedua adalah setara + bertingkat.

10

2.5 Jenis Kalimat Menurut Bentuk Gayanya (Retorikanya) Menurut Mulyono (1988:219-220) Tulisan akan lebih efektif jika di samping kalimatkalimat yang disusunnya benar, juga gaya penyajiannya (retorikanya) menarik perhatian pembacanya. Walaupun kalimat kalimat yang disusunnya sudah gramatikal, sesuai dengan kaidah, belum tentu tulisan itu memuaskan pembacanya jika segi retorikanya tidak memikat. Kalimat akan membosankan pembacanya jika selalu disusun dengan konstruksi yang monoton atau tidak bervariasi. Misalnya, konstruksi kalimat itu selalu subjek-predikat-objek-ketengan, atau selalu konstruksi induk kalimat-anak kalimat. Menurut gaya penyampaian atau retorikanya, kalimat majemuk dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu (1) kalimat yang melepas (induk-anak), (2) kalimat yang klimaks (anak-induk), dan (3) kalimat yang berimbang (setara atau campuran). A. Kalimat yang Melepas Jika kalimat itu disusun dengan diawali unsur utama, yaitu induk kalimat dan diikuti oleh unsur tembahan, yaitu anak kalimat, gaya penyajian kalimat itu disebut melepas. Unsur anak kalimat ini seakan-akan dilepaskan saja oleh penulisnya dan kalaupun unsur ini tidak diucapkan, kalimat itu sudah bermakna lengkap. Misalnya: a. Saya akan dibelikan vespa oleh Ayah jika saya lulus ujian sarjana. b. Semua warga negara harus menaati segala perundang-undangan yang berlaku agar kehidupan di negeri ini berjalan dengan tertib dan aman. Anda buatlah lima buah kalimat lainnya. B. Kalimat yang Klimaks Jika kalimat itu disusun dengan diawali oleh anak kalimat dan diikuti oleh induk kalimat, gaya penyajian kalimat itu disebut berklimaks. Pembaca belum dapat memahami kalimat tersebut jika baru membaca anak kalimatnya. Pembaca akan memahami makna kalimat itu setelah membaca induk kalimatnya. Sebelum kalimat itu selesai, terasa bahwa ada sesuatu yang masih ditunggu, yaitu induk kalimat. Oleh karena itu, penyajian kalimat yang konstruksinya anak-induk terasa berklimaks, dan terasa membentuk ketegangan. Misalnya: a. Karena sulit kendaraan, ia datang terlambat ke kantornya. b. Setelah 1.138 hari disekap dalam sebuah ruangan akhirnya tiga sandera warga negara Prancis itu dibebaskan juga. Anda buatlah lima buah contoh lainnya.

11

C. Kalimat yang Berimbang Jika kalimat itu disusun dalam bentuk majemuk setara atau majemuk campuran, gaya penyajian kalimat itu disebut berimbang karena strukturnya memperlihatkan kesejajaran yang sejalan dan dituangkan ke dalam bangun kalimat yang bersimetri. Misalnya : 1. Bursa saham tampaknya semakin bergairah, investor asing dan domestik berlomba melakukan transaksi, dan IHSG naik tajam. 2. Jika stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja dengan tenang dan dapat beribadat dengan leluasa. Silakan Anda buat lima buah contoh lainnya. Ketiga gaya penyampaian tadi terdapat pada kalimat majemuk. Adapun kalimat pada umumnya dapat divariasikan menjadi kalimat yang panjang-pendek, aktif-pasif, inversi, dan pengedepanan keterangan. 2.6 Jenis Menurut Fungsinya Menurut fungsinya, jenis kalimat dapat dirinci menjadi kalimat pernyataan, kalimat pertanyaan, kalimat perintah, dan kalimat seruan. Semua jeis kalimat itu dapat disajikan dalam bentuk positif dan negatif. Dalam bahasa lisan, intonasi yang khas menjelaskan kapan kita berhadapan dengan salah satu jenis itu. Dalam bahasa tulisan, perbedaannya dijelaskan oleh bermacam-macam tanda baca(Ramlan,1987:66). A. Kalimat Pernyataan (Deklaratif) Kalimat pernyataan dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap pada waktu ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan berbahasanya. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca titik). Misalnya: Positif 1. Presiden Gus Dur mengadakan kunjungan ke luar negeri. 2. Indonesia menggunakan sistem anggaran yang berimbang. Negatif 1. Tidak semua bank memperoleh kredit lunak. 2. Dalam pameran tersebut para pengunjung tidak mendapat informasi yang memuaskan tentang bisnis komdominium di kotakota besar. Silakan Anda buat lima buah contoh lainnya!

12

B. Kalimat Pertanyaan (Interogatif) Kalimat pertanyaan dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi (jawaban) yang diharapkan. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca tanda tanya). Pertanyaan sering menggunakan kata tanya seperti bagaimana, di mana, mengapa, berapa, dan kapan. Misalnya: Positif 1. Kapan Saudara berangkat ke Singapura? 2. Mengapa dia gagal dalam ujian? Negatif 1. Mengapa gedung ini dibangun tidak sesuai dengan bestek yang disepakati? 2. Mengapa tidak semua fakir miskin di negara kita dapat dijamin penghidupannya oleh nefara? Coba Anda buat lima buah contoh lainnya. C. Kalimat Perintah dan Permintaan (Imperatif) Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin “menyuruh” atau “melarang” orang berbuat sesuatu. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca titik atau tanda seru). Misalnya: Positif 1. Maukah kamu disuruh mengantarkan buku ini ke Pak Sahluddin! 2. Tolong buatlah dahulu rencana pembiayaannya. Negatif 1. Sebaiknya kita tidak berpikiran sempit tentang hak asasi manusia. 2. Janganlah kita enggan mengeluarkan zakat kita jika sudah tergolong orang mampu. Coba Anda buat lima buah contoh lainnya! D. Kalimat Seruan Kalimat seruan dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan “yang kuat” atau yang mendadak. (Biasanya, ditandai oleh menaiknya suara pada kalimat lisan dan dipakainya tanda seru atau tanda titik pada kalimat tulis). Misalnya: Positif 1. Bukan main, cantiknya. 2. Nah, ini dia yang kita tunggu. 13

Negatif 1. Aduh, pekerjaan rumah saya tidak terbawa. 2. Wah, target KONI di Asian Games XIII tahun 1998 di Bangkok tidak tercapai. Silakan Anda buat lima buah contoh lainnya! 2.7 Kalimat Efektif Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Kalimat sangat mengutamakan keefektifan informasi itu sehingga kejelasan kalimat itu dapat terjamin. Sebuah kalimat efektif mempunyai ciri-ciri khas, yaitu kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa (Soenjono,1988:188-189). A. Kesepadanan Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti tercantum di bawah ini. 1. Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek. Contoh: a. Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Salah) b. Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Benar) 2. Tidak terdapat subjek yang ganda Cotoh: a. Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen. b. Saat itu saya kurang jelas. Kalimat-kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara berikut. a. Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh paradosen. 14

b. Saat itu bagi saya kurang jelas. 3. Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal Contoh: a. Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. b. Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki. Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan kedua gantilah ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai berikut. a. Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. Atau Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama. b. Kakaknya membeli sepeda motor Honda, sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki. Atau Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki. 4. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang. Contoh: a. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu. b. Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting. Perbaikannya adalah sebagai berikut. a. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. b. Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting. B. Keparalelan Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Contoh: a. Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes. 15

b. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang. Kalimat a tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu. Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes. Kalimat b tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang. C. Ketegasan Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat. 1. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat). Contoh: Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Penekanannya ialah presiden mengharapkan. Contoh: Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya. Penekanannya Harapan presiden. Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat. 2. Membuat urutan kata yang bertahap Contoh: Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. Seharusnya: Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. 3. Melakukan pengulangan kata (repetisi). Contoh: Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka. 4. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan. 16

Contoh: Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur. 5. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan). Contoh: Saudaralah yang bertanggung jawab. D. Kehematan Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan. 1. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek. Perhatikan contoh: a. Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu. b. Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang. Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut. a. Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu. b. Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang. 2. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata. Kata merah sudah mencakupi kata warna. Kata pipit sudah mencakupi kata burung. Perhatikan: a. Ia memakai baju warna merah. b. Di mana engkau menangkap burung pipit itu? Kalimat itu dapat diubah menjadi a. Ia memakai baju merah. b. Di mana engkau menangkap pipit itu? 3. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat. Kata naik bersinonim dengan ke atas. Kata turun bersinonim dengan ke bawah. Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini. a. Dia hanya membawa badannya saja. 17

b. Sejak dari pagi dia bermenung. Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi a. Dia hanya membawa badannya. b. Sejak pagi dia bermenung. 4. Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak. Misalnya: Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku para tamu-tamu para tamu beberapa orang-orang beberapa orang E. Kecermatan Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda. Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut. 1. Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah. 2. Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan. Kalimat 1 memilikimakna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguran tinggi. Kalimat 2 memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah. Perhatikan kalimat berikut. Yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri. Kalimat ini salah pilihan katanya karena dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritakan. Kalimat itu dapat diubah menjadi Yang diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri. F. Kepaduan Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah. 1. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris. Oleh karena itu, kita hidari kalimat yang panjang dan bertele-tele. Misalnya: Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak ke luar dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab. Silakan Anda perbaiki kalimat di atas supaya menjadi kalimat yang padu. 2. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona. 18

a. Surat itu saya sudah baca. b. Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan. Kalimat di atas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk a. Surat itu sudah saya baca. b. Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan. 3. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripad atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita. Perhatikan kalimat ini a. Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat. b. Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat. Seharusnya: a. Mereka membicarakan kehendak rakyat. b. Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat. G. Kelogisan Yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Perhatikan kalimat di bawah ini. 1. Waktu dan tempat kami persilakan. 2. Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini. 3. Haryanto Arbi meraih juara pertama Jepang Terbuka. 4. Hermawan Susanto menduduki juara pertama Cina Terbuka. 5. Mayat wanita yang ditemukan itu sebelumnya sering mondar-mandir di daerah tersebut. Kalimat itu tidak logis (tidak masuk akal). Yang logis adalah sebagai berikut. 1. Bapak Menteri kami persilakan. 2. Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini. 3. Haryanto Arbi meraih gelar juara pertama Jepang Terbuka. 4. Hermawan Susanto menjadi juara pertama Cina Terbuka. 5. Sebelum meninggal, wanita yang mayatnya ditemukan itu sering mondar-mandir di daerah tersebut.

19

2.8 Kalimat Salah dan Kalimat Benar Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini. Bentuk yang Salah Bentuk yang Benar 1. Untuk mengetahui baik atau buruknya pribadi seseorang dapat dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari. 2. Semoga dimaklumi. 3. Pekerjaan itu dia tidak cocok. 4. Perkara yang diajukan ke meja hijau berjumlah 51 buah. Sedangkan perkara yang telah selesai disidang-kan berjumlah 23 buah. 5. Halamannya sangat luas, rumah paman saya di Cibubur. Baik atau buruknya pribadi seseorang dapat dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari Semoga Bapak dapat memakluminya. Pekerjaan itu bagi dia tidak cocok. Perkara yang diajukan ke meja hijau berjumlah 51 buah, sedangkan perkara yang telah selesai disidangkan berjumlah 23 buah. Halaman rumah pamas saya di Cibubur sangat luas. 2.9 Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif Perhatikan contoh berikut! 1. a. b. 2.a. b. Desi mengosok gigi sesudah makan. (Kalimat Aktif) Gigi digosok Desi sesudah makan. (Kalimat Pasif). Ibu menyediakan makanan degan senang hati. (Kalimat Aktif) Makanan disediakan oleh ibu dengan senang hati. (Kalimat Pasif)

Cir-ciri kalimat aktif adalah sebagai berikut: a. b. c. Subjek melakukan pekerjaan. Predikat kata kerja aktif (umumnya berawalan me-, me-kan, me-I, ber-). Objek sebagai penderita. 20

Ciri-ciri kalimat pasif: a. b. c. Subjek dikenai pekerjaan. Predikat kata kerja pasif (umumnya berawalan di-, di-kan, di-i). Objek sebagai pelaku.

2.10 Pengertian Kalimat Majemuk Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Setiap kalimat majemuk mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya. Kalimat majemuk dapat berupa kalimat majemuk setara, bertingkat, campuran atau rapatan (http//:raf1816phyboy.blogspot.com/2008/12/kalimat-majemuk.html). (Bahasa dan Sastra Indonesia,1984:90). Kalimat majemuk setara adalah penggabungan dua kalimat tunggal atau lebih yang kedudukan tiap unsurnya setara atau sederajat. Pembentukan gabungan itu dapat dilakukan baik secara eksplisit maupun implisit. Dengan kata lain, pembentukannya ada yang memerlukan kata penghubung, dan ada pula yang tidak. A. Penjenisan Kalimat Majemuk Menurut Soekono Wirjosoedarmo Soekono Wirjosoedarmo (1987) dalam bukunya Tata Bahasa Bahasa Indonesia mengatakan bahwa ada empat macam kalimat majemuk, yaitu kalimat majemuk setara, kalimat majemuk rapatan, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk berganda. Selanjutnya Soekono Wirjosoedarmo menyebutkan kalimat majemuk sama dengan kalimat tersusun. Dikatakan juga bahwa kalimat majemuk setara terdiri dari kalimat majemuk setara sejalan, kalimat majemuk setara berlawanan, dan kalimat majemuk sebab akibat. Kalimat majemuk setara sejalan adalah kalimat majemuk setara yang terdiri alas beberapa kalimat tunggal persamaan situasinya. Contoh kalimat majemuk setara sejalan adalah sebagai berikut: Ibu berbelanja ke pasar, ayah berangkat ke kantor, sedang adik pergi ke sekolah. Kalimat majemuk setara berlawanan adalah kalimat majemuk setara yang terdiri alas beberapa kalimat tunggal yang isinya menyatakan situasi berlawanan. Contoh kalimat majemuk setara berlawanan adalah : Adiknya pandai, sedang kakaknya bodoh. Kalimat majemuk setara sebab akibat ialah kalimat majemuk setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang isi bagian yang satu menyatakan sebab akibat dari bagian-bagian yang lain. Contoh kalimat tersebut adalah :

Orang itu ditahan, karena ia telah menggelapkan uang negara. 21

B. Penjenisan Kalimat Majemuk Menurut Asmah Haji Omar Asmah Haji Omar (1973) mengatakan bahwa kalimat yang mempunyai lebih dari satu subjek dan predikat disebut sebagai kalimat selapis atau kalimat majemuk. Kalimat majemuk diartikan sebagai kalimat luas yang terdiri kalimat-kalimat kecil yang dihubungkan dengan kata penghubung dan atau tetapi. Contohnya adalah sebagai berikut : Saya pergi dan emak pergi.

C. Penjenisan Kalimat Majemuk Menurut Nik Safiah Karim Nik Safiah Karim (1979) mengatakan bahwa kalimat majemuk ialah kalimat yang terdiri dari dua atau lebih dari dua ayat tunggal, sama ada disambung secara terus menerus dengan menggunakan kata sambung seperti : dan, atau, tetapi, atau dengan sistem hubungan yang lebih rumit yang memerlukan proses-proses yang memasukkan atau mengugurkan struktur-struktur tertentu, misalnya memasukkan perkataan yang, bahwa, dan sebagainya. Nika Safiah Karim mengajukan tiga jenis kalimat majemuk, yaitu : a. Ayat gabungan (Conjoined sentence) b. Ayat Pancangan (Embedden Sentence) c. Ayat majemuk berketerangan (kalimat yang mempunyai sentence adverbial) Menurut Nik Safiah Karim (1979) kalimat-kalimat dalam bahasa Melayu boleh disambung a.Tanpa menyingkirkan bagian-bagiannya, misalnya :

Penonton itu menendang bola dan penonton-penonton bersorak dengan gembira. b.Dengan menyingkirkan bagian yang sama, misalnya (i) Ahmad pergi, Ali pergi (ii) Ahmad dan Ali pergi c.Dengan menyingkirkan subjek yang sama

. (i) Ahmad bertempik, Ahmad bersorak (ii) Ahmad bertempik dan bersorakd.Dengan menyingkirkan bagian-bagian yang sama, misalnya (i) Ahmad belajar pada waktu malam. (ii) Aminah membaca dan Aminah membaca surat khabar pada waktu malam. Nik Safiah Karim membagi kalimat gabungan ke dalam dua jenis lagi yaitu: 22

a. Kalimat-kalimat yang terdiri dari dua kata kerja. Misalnya : Anak itu duduk menangis seorang diri b. Kalimat-kalimat yang digabungkan dengan kata sambung yang berpasangan. Misalnya : Berita itu entah benar entah bohong Untuk kalimat pancangan Nik Safiah Karim membaginya menjadi dua jenis, yaitu : a. Kalimat relatif, contoh Budak yang gemuk itu berlari Saya membeli buku yang ditulis olehnya. b. Kalimat komplemen, contoh. Dia mengetahui bahwa Ahmad telah pergi Mereka datang untuk membuka perniagaan Jadi dapat disimpulkan bahwa kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Setiap kalimat majemuk mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya. Jenis-jenis kalimat majemuk antara lain:
   

Kalimat Majemuk Setara Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat Majemuk Campuran Kalimat Majemuk Rapatan

1. Hubungan atau relasi eksplisit (beberapa kalimat digabungkan dengan memakai kata penghubung). Contoh : a. 1) Ibu melarang ita pergi. 2) Ayah menyuruh ita pergi. Ibu melarang ita pergi, tetapi ayah menyuruhnya pergi. b. 1) Uang itu akan dibelikan rumah. 2) Uang itu akan dibelikan mobil. 3) Uang itu akan dibelikan rumah atau mobil. 2. Hubungan atau relasi implisit (beberapa kalimat digabungkan tanpa kata penghubung) Contoh : a. 1) Amin belajar di kelas. 2) Udin bermain di halaman sekolah. 3) Amin belajar di kelas, Udin bermain di halaman sekolah. 23

b.

1) Ibunya berjualan di pasar. 2) Ayahnya di rumah. 3) Ibunya berjualan di pasar, ayahnya di rumah.

Nik Safiah Karim (1979;203) Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk setara dibagi menjadi 6 macam, yakni:


Kalimat Majemuk Setara Penggabungan/sejalan: Menggunakan kata penghubung dan, dan lagi, lagi pula, sedang, sedangkan, lalu, kemudian.

  

Kalimat Majemuk Setara Penguatan: Menggunakan kata penghubung bahkan Kalimat Majemuk Setara Pemilihan: Menggunakan kata penghubung atau Kalimat Majemuk Setara Berlawanan: Menggunakan kata penghubung sedangkan, tetapi, melainkan, padahal, hanyalah, walaupun, meskipun, biarpun, kendatipun, jangankan, namun.



Kalimat Majemuk Setara Urutan Waktu: Menggunakan kata penghubung kemudian, lalu, lantas.



Kalimat Majemuk Setara Sebab Akibat:Menggunakan kata penghubung sebab, karena, oleh karena itu, sehingga.

2.10.1 Kalimat Majemuk Setara Berdasarkan sifat hubungannya serta kata penghubung yang digunakan, kalimat majemuk setara dapat digolongkan sebagai berikut. a) Kalimat majemuk setara “sejalan/penggabungan” Kalimat majemuk setara “penggabungan” ialah kalimat majemuk setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang bersamaan situasinya. ditandai dengan kata penghubung dan, lagi, serta, lagi pula, dan disamping. Contoh : b) Kalimat majemuk setara “penguatan” Kalimat majemuk setara “penguatan” ditandai dengan kata penghubung bahkan, apalagi, dan malah. Contoh : a. Ia siswa terpandai di kelasnya, bahkan bulan kemarin ia dinobatkan sebagai siswa teladan sekabupaten. b. Tika bercita-cita menjadi guru, bahkan kalau dapat ia ingin menjadi dosen. c. Majikan itu tidak hanya marah-marah, malah memukul pembantunya. c) Kalimat majemuk setara “pemilihan” Kalimat majemuk setara “pemilihan” ditandai denga kata penghubung atau dan baik….maupun……. 24

Contoh : a. Engkau bernyanyi atau bermain piano ? b. Baik adiknya maupun kakaknya sama-sama pandai. d) Kalimat majemuk setara “pertentangan” Kalimat majemuk setara “pertentangan” ialah kalimat majemuk setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang isinya menyatakan situasi berlawanan. ditandai dengan kata penghubung tetapi, hanya dan melainkan. Contoh : a. Toni itu pandai, tetapi ia malas mengerjakan tugas rumah. b. Rumah itu bagus, hanya perkarangannya tidak terpelihara. c. Dia tidak langsung pulang, tetapi berjalan-jalan dahulu di Jalan Malioboro. e) Kalimat majemuk setara “urutan waktu” Kalimat majemuk setara “urutan waktu” ditandai dengan kata penghubung kemudian, lalu, lantas, dan selanjutnya. Contoh : a. Dia mandi, kemudian mengenakan pakaian seragannya. b. Ia mengunci sepedahnya, lalu masuk ke sebuah toko. c. Paman jendela mobil, lantas keluar. d. Kami berhenti sebentar, selanjutnya kami mengeluarkan bekal. f) Kalimat Majemuk Setara yang menyatakan “sebab akibat”, ialah kalimat majemuk setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang isi bagian yang satu menyatakan sebab akibat dari bagian yang lain. Contoh: Roy Marten ditahan, karena ia telah membawa sabu-sabu. Anak itu luka parah, sehingga ia harus dibawa ke rumah sakit.

25

2.10.2 Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang bagian- bagian kalimatnya tidak sederajat atau tidak setara. Dalam kalimat majemuk bertingkat ada bagian yang disebut induk kalimat dan anak kalimat. Dengan kata lain, kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau lebih, yang terbentuk dari induk kalimat dan anak kalimat yang berkedudukan tidak setara. Induk kalimat adalah bagian yang lebih tinggi kedudukannya, sedangkan anak kalimat adalah bagian yang lebih rendah kedudukannya. Anak kalimat merupakan pengembangan dari induk kalimat (keraf,1978:92). Contoh : 1. Adik surat di kamar. (kalimat tungal) 2. Ibu membaca surat kabar. (kalimat tunggal) Kedua kalimat tersebut jika dijadikan kalimat majemuk bertingkat menjadi sebagai berikut. Adik menulis surat di kamar ketika ibu membaca surat kabar Induk kalimat Anak kalimat

Kalimat tersebut terbentuk dari dua kalimat tunggal yang digabungkan dengan kata penghubung (konjungsi) ketika. Kalimat majemuk bertingkat biasanya terdiri atas dua unsur. Unsur pertama di sebut inti berupa induk kalimat dan unsur kedua disebut kalimat perluasan berupa anak kalimat. Unsur kalimat perluasan atau anak kalimat ini terletak sebelum ataupun sesudah kalimat inti atau kalimat induk. Chaer (1995:181) Konjungsi atau kata penghubung yang digunakan dalam kalimat majemuk bertingkat menunjukkan ada hubungan antar klausa. Kalimat majemuk bertingkat terdiri atas tujuh macam, meliputi jenis-jenis berikut. 1. kalimat majemuk bertingkat berhubungan “waktu” kalimat majemuk bertingkat berhubungan “waktu”adalah kalimat majemuk yang anak kalimatnya menunjukkan “waktu” berlangsungnya atau hal yang dinyatakan pada induk kalimatnya. Kata penghubung yang digunakan, antara lain: ketika, selama, sewaktu, setelah, sesudah, semenjak, sejak, sementara, tengah, sewaktu, selagi, semasa, demi, setiap, sehabis, sampai, sebelum, dan selagi. Contoh: Semasa orang tuamu ada di luar kota, aku yang menjagamu. 2. kalimat majemuk bertingkat hubungan “tujuan” kalimat majemuk hubungan “tujuan” adalah kalimat majemuk yang anak kalimatnya menyatakan “tujuan” atau “harapan” hal yang disebut dalam induk kalimat. Kata penghubung yang digunakan, antara lain: agar, supaya, dan biar. Contoh: Kartika membuang pandangannya ke samping supaya ibu tidak melihat air matanya.

26

3. kalimat majemuk bertingkat hubungan “konsensif” kalimat majemuk bertingkat hubungan “konsensif” adalah sebuah kalimat majemuk yang anak kalimatnya memuat pernyataan yang tidak engubah hal yang dinyatakan dalam induk kalimat. Dengan kata lain, tidak ada suatu syarat bagi terlaksananya apa yang tersebut dalam induk kalimat atau disebut pula hubungan tidak bersyarat. Kata penghubung yang biasa dipakai, antara lain: walau(pun), kedati(pun), biar(pun), meski(pun), sekali(pun), dan sunguh(pun). Contoh: Meskipun kesehatannya terganggu, ayah tetap saj berangkat ke kantor. 4. kalimat majemuk bertingkat hubungan “syarat” kalimat majemuk bertingkat hubungan “syarat” adalah anak kaimat yang anak kalimatnya menyatakan “syarat” terlaksananya hal yang disebut dalam induk kalimat. Kata penghubung yang digunakan antara lain: jika(lau), seandainya, apabila, andaikata, andaikan, bilamana, manakala, dan asal(kan). Contoh: Cita-citamu akan tercapai asalkan engkau berusaha bersungguh-sungguh. 5. kalimat majemuk bertingkat hubungan”sebab” kalimat majemuk bertingkat hubungan “sebab” adalah kalimat yang anak kalimatnya menyatakan “sebab” atau “alasan” terjadi sesuatu yang dinyatakan dalam induk kalimat. Kata penghubung yang digunakan antara lain: karena, oleh karena, sebab, berhubung, dan lantaran. contoh: berhubung nama kakak sudah tercemar, lebih baik kakak mengundurkan diri saja 6. kalimat majemuk bertingkat hubungan “akibat” kalimat majemuk bertingkat hubujngan “akibat” adalah anak kalimat yang anak kalimatnya menyatakan “akibat” yang dinyatakan dalam induk kalimat. Kat apenghubung yang digunakan antara lain: maka, sehinga, dan sampai(-sampai).contoh:adik tertawa tergelak-gelak sampai merah mukannya. Kalimat majemuk bertingkat hubungan “penerang”kalimat majemuk bertingkat hubungan “penerang”adalah kalimat yang anak kalimatnya menerangkan yang dinyatakan induk kalimat. Kata penghubung yang digunakan untuk menandai hubungan ini ialah: yang dan tempat.contoh: Sebelum tidur, waktunya dipergunakan untuk membalas surat-surat yang jumlahnya amat banyak

27

2.10.3 Kalimat Majemuk Campuran Kalimat majemuk campuran adalah gabungan antara kalimat majemuk setar dan kalimat majemuk bertingkat, yang sekurang-kurangnya dibentuk oleh tiga pola kalimat tunggal. Artinya antar pola kalimatnya dihubungkan dengan kata bawahan atau dua pola atasan dan satu atau lebih pola bawahan (Tim Penyusun PR Bahasa Indonesia Kelas 3 SMP,2004:100-101). Contoh: 1. Satu pola atasan dan dua pola bawahan (klausa sematan) a. Marni duduk di tempat tidur. b. Kedua kakinya pun ditumpangkan. c. Lukisan pemandangan tertempel di dinding kamarnya. Tiga kalimat tunggal itu bila digabungkan akan menjadi sebuah kalimat majemuk campuran: Marni duduk di tempat tidur dengan kedua kakinya di tumpangkan, sembari Pola atasan pola bawahan I

memandang lukisan pemandangan yang tertepel di dinding kamarnya. Pola bawahan II 2. Dua pola atasan (klausa utama) dan satu atau lebih pola bawahan (klausa sematan). a. Dia mengeluarkan buku dari tasnya. b. Dia mulai membaca buku itu. c. Tangan kanannya mengaduk isi cangkir perlahan-lahan. Tiga kalimat itu bila digabungkan akan menjadi sebbuah kalimat majemuk campuran: Dia mengeluarkan buku dari tasnya dan mulai membaca, sambil Pola atasan I pola atasan II

tangan kanannya mengaduk isi cangkir perlahan-lahan. Pola bawahan Jadi kaimat majemuk campuran itu sekurang-kurangnya terdiri atas dua klausa bawahan dan sebuah klausa inti atau terdiri atas dua klausa inti dan sebuah klausa bawahan (Masnur,1992:68)

Kalimat majemuk rapatan adalah gabungan beberapa kalimat tunggal yang karena subjek atau predikatnya sama maka bagian yang sama hanya disebutkan sekali (http//:raf1816phyboy.blogspot.com). Contoh: (1a) Pekerjaannya hanya makan. (1b) Pekerjaannya hanya tidur. (1c) Pekerjaannya hanya merokok.

28

Semua kalimat tersebut kemudian dirapatkan menjadi: (1d) Pekerjaannya hanya makan, tidur, dan merokok.

(2a) Mereka tidak perlu tahu kapan kita harus pergl (2b) Mereka tidak perlu tahu bagaimana kita harus pergi. Yang pentlng tugas itu harus terlaksana. Kedua kalimat tersebut kemudian dirapatkan menjadi: (2c) Mereka tidak perlu tahu kapan dan bagaimana kita harus pergi. Yang penting tugas ltu harus tertaksana

29

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Kalimat Majemuk Yang Sering Digunakan Dalam Opini Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih sehingga dalam pengabungannya membutuhkan kata penghubung, sedangkan kata penghubung yang digunakan berbeda-beda kemudian kalimat majemuk apa yang sering digunakan?. Coba kita lihat contoh opini dibawah ini. Kalimat ke-1 PERBINCANGAN tentang ujian nasional (unas), terutama bagi Sekolah Menengah Atas, kembali menghangat setelah dilontarkannya ide penggunaan unas sebagai salah satu tolok ukur seleksi masuk perguruan tinggi negri (PTN) oleh direktur jendral pendidikan tinggi. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu yaitu:” setelah” kalimat ke-2 Suatu gagasan yang tepat terkait dengan usaha peningkatan efesiensi dan efektivitas penyelenggara unas itu sendiri, yang selama ini dianggap tidak ada gunanya, paling tidak dari kacamata PT. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu:” yang “, kalimat majemuk setara pengabungan yaitu: “dan”, dan kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu yaitu: “selama” pada bagian ini terdapat gabungan dua kata penghubung maka kata penghubung yang digunakan adalah”selama” karena kata penghubung tersebut merupakan kata penghubung inti dan kata penghubung “yang” merupakan kata hubung pendamping. Kalimat ke-3 Mengapa unas menjadi penting bagi PT, tak lain terkait dengan misi pendidikan SMA, yakni untuk menyiapkan peserta didik agar mampu melanjukan studi di PT dan bukan dipersiapkan memasuki dunia kerja, seperti halnya Sekolah Menengah Kejuruan. Terdapat kalimat majemuk beringkat hubungan tujuan yaitu: “agar” dan kalimat majemuk setara pengabungan yaitu: “dan” Kalimat ke-4 Sayang, sampai saat ini belum satu pun PTN yang berusaha memanfaatkan hasil unas tersebut dan bahkan lebih senang menggunakan nilai rapor sebagai alat seleksi untuk masuk PTN. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan akibat yaitu: “ sampai” , kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu: “ yang” dan kalimat majemuk setara penguatan yaitu: “bahkan” pada bagian ini terdapat gabungan dua kata penghubung maka kata penghubung yang digunakan adalah”bahkan” karena kata penghubung tersebut merupakan kata penghubung inti dan kata penghubung “dan” merupakan kata hubung pendamping.

30

Kalimat ke-5 Lalu, untuk apa unas dilakukan? Pada kalimat ini ada kata penghubung kalimat majemuk setara urutan waktu tetapi kalimat ini bukan kalimat majemuk karena kalimat ini merupakan kalimat tunggal.

Kalimat ke-6 Unas dimaksudkan untuk mengukur kualitas sekolah secara nasional. Pada kalimat ini tidak ada unsure kalimat majemuk dan merupakan kalimat tunggal. Kalimat ke-7 Oleh karena itu, pemerintah perlu memandang unas tersebut sebagai perangkat untuk menetapkan baku mutu penyelenggara suatu lembaga pendidikan. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan sebab yaitu: “oleh karena” Kalimat ke-8 Begitu urgennya masalah itu sehingga Wakil Presiden Jusuf kala pada Rakornas Revitalisasi Pendidikan Nasional dua tahun yang lalu menyatakan kepriatinannya terhadap kualitas pendidikan di Negara kita dibandingkan dengan Negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan akibat yaitu: “sehingga” dan kalimat majemuk setara hubungan urutan waktu yaitu: “lalu” pada bagian ini terdapat gabungan dua kata penghubung maka kata penghubung yang digunakan adalah”lalu” karena kata penghubung tersebut merupakan kata penghubung inti dan kata penghubung “yang” merupakan kata hubung pendamping.

Kalimat ke-9 Di Malaysia syarat kelulusan sudah mencapai 7, bahkan Singapura menetapkan angka 8, sementara di Indonesia masih sekitar 5, itu pun dalam implementasinya sering dipaksa-paksakan agar tingkat kelulusan sekolah dapat dicapai setinggi mungkin meski dengan cara-cara yang tidak terpuji. Terdapat kalimat majemuk setara hubungan penguatan yaitu: “bahkan” , kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu yaitu; “sementara” , kalimat majemuk bertingkat hubungan konsensif yaitu:” meski”, dan kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang Kalimat ke-10 Pelaksanaan unas memang masih jauh dari ranah kejujuran sehingga bukan hanya Pemerintah dan PTN yang meragukan akurasi hasil unas. Terdapat kalimat majemukbertingkat hubungan akibat yaitu: “sehingga”, kalimat majemuksetara pertentangan yaitu: “hanya”, kalimat majemuk setar penggabungan yaitu: “dan”, kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu: “yang” 31

Kalimat ke-11 Masyarakat pun belum mempercayai hasil unas itu sebagai alat untuk menilai kualitas suatu SMA. kalimat ini tidak termasuk kalimat majemuk dan merupakan kalimat tunggal. Kalimat ke-12 Suatu sekolah dengan tingkat unas 100% tidak serta merta SMA tersebut dinilai berkualitas oleh Masyarakat. Terdapat kalimat majemuk setara penggabungan yaitu: “serta” Kalimat ke-13 Masyarakat justru menilai kualitas SMA dari banyaknya lulusan SMA itu yang diterima di PT berkualitas. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu: ”yang” Kalimat ke-14 Kasus yang banyak terjadi selama ini, SMA yang lulusannya tidak laku di PT berkualitas justru hasil unasnya bisa 100%, itu pun dengan nilai yang bagus-bagus. Pada kalimat ini sering digunakan kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu: “yang”, kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu yaitu: “selama Kalimat ke-15 Kasus lain yang juga aneh, rata-rata hasil unas sekolah-sekolahdi kota besar lebih rendah dari pada sekolah-sekolah di daerah. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu:”yang” Kalimat ke-16 Apa pun alasannya, kasus demikian rasanya sulit diterima akal sehat. Bukan termasuk kalimat majemuk Kalimat ke-17 Langkah-langkah perbaikan perlu segera dipersiap[kan bila kita tetap melaksanakan unas. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan syarat yaitu: “bila” Kalimat ke-18 Sanksi yang tegas bagi pelanggar, baik guru maupun murid, harus dipersiapkan Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu:”yang”

mulai perangkat hukum sampai pada teknis pelaksanaannya. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu yaitu:”sampai” Kalimat ke-19 Di Jerman misalnya, murid ketahuan nyontek harus berurusan dengan polisi. Bukan kalimat majemuk 32

Kalimat ke-20 Di Jepang kasus yang sama mengakibatkan seorang siswa bunuh diri. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu:”yang” Kalimat ke-21 Di Indonesia siswa tidak mau memberi “contoh” kepada temannya pada waktu dimarahi gurunya. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan peneran yaitu: “waktu” Kalimat ke-22 Pelaksanaan unas sebaiknya juga melibatkan PT sebagai konsumen, dari penentuan materi soal, pelaksanaan ujian , sampai pengolahan hasil ujian. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu yaitu:”sampai” Kalimat ke-23 Sinergi antara SMA dan PT perlu terus ditingkatkan. Kalimat ini merupakan kalimat tunggal meskipun terdapat kata penghubung milik kalimat majemuk setara penggabungan. Kalimat ke-24 Kerterlibatan dalam pembuatan soal dimaksudkan agar terjadi sinkronisasi kurikulum antar SMA dan PT yang selama ini menjadi kendala utama peningkatan kualitas dan efesiensi di Indonesia. Terdapat kalimat majemuk kaimat bertingkat hubungan waktu dan hubungan tujuan yaitu: “selama” dan “agar”, kalimat majemuk setara penggabunganyaitu; “dan” Kalimat ke-25 Efensiensi penyelenggaraan pendidikan tinggi akan terwujud bila terjadi keterpaduan kurikulum dan proses pembelajaran antara SMA dan PT. Terdapat kalimat majemuk setara hubungan penggabungan yaitu:”dan”

Kalimat ke-26 Program sarjana dengan masa studi minimum 5 tahun bisa diperpendek menjadi 3,5 saja karena mahasiswa tidak perlu mengulangi lagi mata kuliah dasar, seperti:( matematika, biologi, kimia, fisika, dan bahasa Indonesia) yang pernah diperoleh di SMA. Terdapat kalimat majemuk setara penggabungan yaitu: “lagi”, kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu: “yang’ dan pada kalimat ini terdapat kalimat majemuk rapatan yaitu pada kalimat ( matematika, biologi, kimia, fisika, dan bahasa Indonesia). Kalimat ke-27 Hal lain yang perlu dilakukan bila unas akan digunaka sebagai salah satu komponen dalam seleksi masuk PTN adalah pembobotan sekolah. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu:”yang”

33

Kalimat ke-28 Artinya, kualitas Sma perlu dipertimbangkan dalam menentukan jumlah siswa yang diterima di PTN dan bukan semata-mata dilihat dari hasil unas. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu:”yang”,

Kalimat ke-29 Sekolah yang berkualitas mendapat jatah lebih banyak daripada sekolah yang kurang bermutu. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu:”yang” Kalimat ke-30 Mutu sekolah ditentukan berdasarkan dua hal. Merupakan kalimat tunggal Kalimat ke-31 Pertama, persyaratan NEM minimum lulusan SMP yang dapat diterima di sekolah itu pada tahun sebelumnya. Kedua, rata-rata indeks prestasi mahasiswa yang berasal dari sekolah itu selama di PT yang bersangkutan. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu:”yang” dan kalimat yang menerangkan waktu yaitu pada kalimat (pada tahun sebelumnya), kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu yaitu: “selama” Kalimat ke-32 Kedua tolok ukur ini dinilai lebih objektif dan transparan ketimbang hasil unas. Terdapat kalimat majemuk setara yaitu; “dan” Kalimat ke-33 Sebagai contoh , nilai nilai yang sama dari dua orang siswa yang berbeda sekolah belum sepenuhnya menggambarkan kualitas akademik yang sama dari dua siswa tersebut setelah menempuh studi di PT. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu: yang , kalimat majemuk beringkat hubungan waktu yaitu: “setelah” Kalimat ke-34 Sebab, sebenarnya kemampuan akademik mereka tidak sama. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan sebab yaitu: “ sebab” Kalimat ke-35 Hal itu yang di khwatirkan PTN dan sekaligus menjadi keprihatinan pemeritah dan masyarakat. Terdapat kalimat majemuk setara pengabungan yaitu: “dan”

34

Kalimat ke-36 Karena itu, pembobotan perlu dilakukan selama praktik-praktik pelanggaran unas belum bisa di hindari. Terdapat kalimat majemuk bertingkat hubungan sebsb yaitu: karena dan kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu yaitu: “selama” Kalimat ke-37 Nilai unas siswa hanya berfungsi untuk menentukan peringkat siswa di sekolah itu. Terdapat kalimat majemuk setara pertentangan yaitu:” hanya” Kalimat ke-38 Selanjutnya, siswa yang di terima di PT di tentukan berdasarkan urutan peringkat tersebut sebanyak kouta yang diberikan PTN kepada suatu sekolah. Terdapat kalimat majemuk setara urutan waktu yaitu: “selanjutnya” dan kalimat majemuk bertingkat hubungan penerang yaitu: “ yang” Setelah diteliti ternyata kalimat majemuk bertingkat yang merupakan kalimat majemuk yang sering digunakan dalam mengabungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya pada contoh opini tersebut. 2.101.2 Kata Penghubung Yang Sering Muncul Dalam Opini Kata penghubung pada kalimat majemuk hubungan penerang yang sering muncul ialah kata penghubung “yang” karena kata penghubung “yang” mempunyai ciri khas yang digunakan untuk menjelaskan induk kalimat. . Dengan mengunakan kata penghubung “yang” maka kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dapat terpadu dengan baik dan enak untuk dibaca dan dipahami. Sedangkan pada kalimat majemuk setara kata hubung yang sering muncul ialah “dan”.lalu, mengapa kata penghubung “dan” dan “yang “ sering muncul? Yaitu karena kata penghubung “yang” dan “dan” mampu megabungkan kata maupun kaimat yang berukuran pendek sehingga apabila seseorang membuat kalimat berukuran pendek maupun diperpanjang akan lebih mudah bila menggunakan kata penghubung tersebut. Tapi jika kata penghubung “yang” dan “dan” terlalu sering digunakan maka kalimat itu mejadi sulit dicari pola kalimatnya.

35

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan Kalimat majemuk yang sering ditemui dalam opini tersebut yaitu kalimat majemuk

bertingkat hubungan penerang . Karena suatu opini akan lebih jelas maksud dan tujuannya apabila kalimat-kalimatnya diberi penerang, yaitu anak kalimatnya menerangkan apa yang dinyatakan oleh induk kalimatnya agar pembaca tidak kebingunggan mencari kalimat pokok dari opini tersebut.

Saran Dalam Pembuatan makalah ini saya juga memberikan saran-saran antara lain:   Apabila membuat suatu kalimat ide pokok alangkah baikknya bila juga diberi kalimat penerangnya. Dalam membuat kalimat majemuk harus diperhatikan pola-pola dan syarat-syarat yang telah ditentukan, karena tidak sembarang kalimat yang memiliki kata penghubung merupakan kalimat majemuk.  Gunakanlah salah satu kata penghubung yang paling dominan pengaruhnya terhadap kaimatnya apabila ada kata penghubung yang bergabung menjadi satu atau berjajar.

36

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun PR. 2004. Bahasa Indonesia Kelas 3 SMP. Klaten: Intan Pariwara. Komaruddin. 1985.Kamus Istilah Skripsi dan Tesis. Bandung : Angkasa. Moeliono,Anton. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Perum Balai Pustaka. Muslich,Masnur.1992.Bahasa Dan Sastra Untuk SMA Kelas 2. Malang: IKIP Malang. Suparyanta,Anton.2005.Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X. Klaten: Intan Pariwara Www.raf1816phyboy.blogspot.com/2008/12/kalimat-majemuk.html.

37

LAMPIRAN [Rabu, 20 agustus 2008]

Hasil Ujian Nasional SMA
Bisakah Digunakan untuk seleksi PTN? Oleh : Yogi Sugito PERBINCANGAN tentang ujian nasional (unas), terutama bagi Sekolah Menengah Atas, kembali menghangat setelah dilontarkannya ide penggunaan unas sebagai salah satu tolok ukur seleksi masuk perguruan tinggi negri (PTN) oleh direktur jendral pendidikan tinggi. Suatu gagasan yang tepat terkait dengan usaha peningkatan efesiensi dan efektivitas penyelenggara unas itu sendiri, yang selama ini dianggap tidak ada gunanya, paling tidak dari kacamata PT. Mengapa unas menjadi penting bagi PT, tak lain terkait dengan misi pendidikan SMA, yakni untuk menyiapkan peserta didik agar mampu melanjukan studi di PT dan bukan dipersiapkan memasuki dunia kerja, seperti halnya Sekolah Menengah Kejuruan. Sayang sampai saat ini belum satu pun PTN yang berusaha memanfaatkan hasil unas tersebut dan bahkan lebih senaangmenggunakan nilai rapor sebagai alat seleksi untuk masuk PTN. Lalu, untuk apa unas dilakukan? Kualitas Sekolah Unas dimaksutkan untuk mengukur kualitas sekolah secara nasional. Oleh karena itu, pemerintah perlu memandang unas tersebut sebagai perangkat untuk menetapkan baku mutu penyelenggara suatu lembaga pendidikan. Begitu urgennya masalah itu sehingga Wakil Presiden Jusuf kala pada Rakornas Revitalisasi Pendidikan Nasional dua tahun yang lalu menyatakan kepriatinannya terhadap kualitas pendidikan di Negara kita dibandingkan dengan Negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Di Malaysia syarat kelulusan sudah mencapai 7, bahkan Singapura menetapkan angka 8, sementara di Indonesia masih sekitar 5, itu pun dalam implementasinya sering dipaksa-paksakan agar tingkat kelulusan sekolah dapat dicapai setinggi mungkin meski dengan cara-cara yang tidak terpuji. Pelaksanaan unas memang masih jauh dari ranah kejujuran sehingga bukan hanya Pemerintah dan PTN yang meragukan akurasi hasil unas. Masyarakat pun belum mempercayai hasil unas itu sebagai alat untuk menilai kualitas suatu SMA. Suatu sekolah dengan tingkat unas 100% tidak serta merta SMA tersebut dinilai berkualitas oleh Masyarakat. Masyarakat justru menilai kualitas SMA dari banyaknya lulusan SMA itu yang diterima di PT berkualitas. Kasus yang banyak terjadi selama ini, SMA uyang lulusannya tidak laku di PT berkualitas justru hasil unasnya bisa 100%, itu pun dengan nilai yang bagus-bagus. Kasus lain yang juga aneh, ratarata hasil unas sekolah-sekolah di kota besar lebih rendah dari pada sekolah-sekolah di daerah. Apa pun alasannya, kasus demikian rasanya sulit diterima akal sehat.

38

Mendayagunakan Unas Langkah-langkah perbaikan perlu segera dipersiap[kan bila kita tetap melaksanakan unas. Sanksi yang tegas bagi pelanggar, baik guru maupun murid, haru dipersiapkan mulai perangkat hokum sampai pada teknis pelaksanaannya. Di Jerman, misalnya, murid ketahuan nyontek harus berurusan dengan polisi. Di Jepang kasus yang sama mengakibatkat seorang siswa bunuh diri. Di Indonesia siswa tidak mau memberi “contoh” kepad temannya pada waktu dimarahi gurunya. Pelaksanaan unas sebaiknya juga melibatkan PT sebagai konsumen, dari penentuan materi soal, pelaksanaan ujian , sampai pengolahan hasil ujian. Sinergi antara SMA dan PTperlu teru ditingkatkan. Kerterlibatan dalam pembuatan soal dimaksudkan agar terjadi sinkronisasi kurikulum antar SMA dan PT yang selama ini menjadi kendala utama peningkatan kualitas dan efesiensi di Indonesia. Efensiensi penyelenggaraan pendidikan tinggi akan terwujud bila terjadi keterpaduan kurikulum dan proses pembelajaran antara SMA dan PT. program sarjana dengan masa studi minimum 5 tahun bisa diperpendek menjadi 3,5 saja karena mahasiswq tidak perlu mengulangi lagi mata kuliah dasar, seperti: matematika, biologi, kimia, fisika, dan bahasa Indonesia yang pernah diperoleh di SMA. Hal lain yang perlu dilakukan bila unas akan digunaka sebagai salah satu komponen dalam seleksi masuk PTN adalah pembobotan sekolah. Artinya, kualitas Sma perlu dipertimbangkan dalam menentukan jumlah siswa yang diterima di PTN dan bukan semata-mata dilihat dari hasil unas. Sekolah yang berkualitas mendapat jatah lebih banyak daripada sekolah yang kurang bermutu. Mutu sekolah ditentukan berdasarkan dua hal. Pertama, persyaratan NEM minimum lulusan SMP yang dapat diterima di sekolah itu pada tahun sebelumnya. Kedua, rata-rata indeks prestasi mahasiswa yang berasal dari sekolah itu selama di PT yang bersangkutan. Kedua tolok ukur ini dinilai lebih objektif dan transparan ketimbang hasil unas. Sebagai contoh , nilai nilai yang sama dari dua orang siswa yang berbeda sekolah belum sepenuhnya menggambarkan kualitas akademik yang sama dari dua siswa tersebut setelah menempuh studi di PT. Sebab, sebenarnya kemampuan akademik mereka tidak sama. Hal itu yang di khwatirkan PTN dan sekaligus menjadi keprihatinan pemeritah dan masyarakat. Karena itu, pembobotan perlu dilakukan selama praktik-praktik pelanggaran unas belum bisa di hindari. Nilai unas siswa hanya berfungsi untuk menentukan peringkat siswa di sekolah itu. Selanjutnya, siswa yang di terima di PT di tentukan berdasarkan urutan peringkat tersebut sebanyak kouta yang diberikan PTN kepada suatub sekolah. Prof Dr Yogi Sugito, rector Universitas Brawijaya, Malang

39

CATATAN ………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:24525
posted:10/15/2009
language:Indonesian
pages:45
Description: contoh makalah bahasa indonesia tentang kalimat majemuk