MANAJEMEN PIUTANG DAN PERSEDIAAN

W
Shared by: HC121003041843
Categories
Tags
-
Stats
views:
227
posted:
10/2/2012
language:
Malay
pages:
17
Document Sample
scope of work template
							             MANAJEMEN PIUTANG DAN PERSEDIAAN


I.    Pentingnya Manajemen Investasi Dalam Piutang
        Dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan omzet penjualan, maka pada
     umumnya perusahaan melakukan penjualan secara kredit. Oleh karena itu pada saat
     penyerahan produk tidak terjadi penerimaan kas dan justru menimbulkan piutang. Disaat
     tertagihnya piutang maka terjadi aliran kas masuk pada perusahaan. Penjualan kredit
     selain merangsang pembeli maupun pelanggan agar membeli dalam jumlah besar, dilain
     pihak membutuhkan investasi pada aktiva lancar dan menimbulkan biaya lainnya. Pada
     kebanyakan perusahaan investasi pada aktiva lancar berupa piutang berkisar antara 40%
     sampai dengan 45% dari total aktiva lancar atau hampir 25% terhadap aktiva tetap.
        Oleh karena itu manajemen investasi dalam piutang merupakan bagian penting dalam
     manajemen keuangan karena berkaitan dengan pencapaian profit perusahaan.
     Manajemen piutang pada pembahasan ini akan ditekankan 2 persoalan yaitu kebijakan
     kredit dan kebijakan piutang.
        Apabila perusahaan melakukan kebijakan kredit akan berpengaruh terhadap
     meningkatnya penjualan, akan tetapi dilain pihak menimbulkan beban biaya karena
     lunaknya syarat kredit, termasuk biaya bad debt.
        Dilain pihak ketatnya kebijakan kredit akan cenderung memperkecil volume
     penjualan walaupun tidak terbebani biaya karena persyaratan penjualan kredit yang
     memberatkan pembeli maupun pelanggan.
        Berkaitan dengan kebijakan penagihan piutang, perusahaan hendaknya mampu
     merencanakan kebijakan yang menghasilkan tingkat investasi dalam piutang yang
     optimal. Dengan demikian pembahasan akan terbagi kedalam 2 bagian yaitu :
        1. Kebijakan kredit
        2. Kebijakan penagihan


II. Analisis Kredit
       Analisis kredit berusaha untuk menetapkan siapa yang harus menerima kredit dan
     bersasrkan kondisi apa. Dua aspek dari proses itu harus dibedakan : langganan baru
     versus langganan yang ada. Yang kedua tidak begitu sulit karena pengalaman
     memberikan informasi yang cukup banyak. Analasis kredit jelas merupakan masalah
     yang lebih sulit bagi langganan yang prospektif berilaku dengan pemasok lainnya. Jenis
formasi ini dapat diperoleh dengan biaya tertentu dari agen informasi keuangan
khususnya seperti Dun & Bradstreet.
  Selain itu, perusahaan akan melaksanakan analisisnya sendiri untuk mengambil
keputusan yang independen. Dalam kredit dagang, perusahaan melakukan baik penjualan
kredit maupun memberikan kredit. Kedua kegiatan itu saling berkaitan. Bagaimana
pelanggan berperilaku mungkin tergantung pada bagaimana organisasi penjualan
memperlakukan pelanggan. Selain itu, kebijakan dan praktik penagihan dari penjualan
yang tidak disukai mungkin mempengaruhi pelanggan.


  Sumber Informasi
  Ada 2 sumber informasi eksternal yang tersedia.
  1. Dengan mengadakan pertemuan kelompok lokal dan dengan surat menyurat,
       pengalaman berhubungan dengan debitor dipertukarkan melalui asosiasi para
       pemberi kredit.
  2. Suatu biro pelaporan kredit (di Indonesia). Salah satu biro yang paling terkenal di
       AS adalah Dun & Bradstreet.
  Sumber informasi kredit lainnya adalah bank-bank komersial dimana para pelanggan
berhubungan. Walaupun bank tidak dapat memberikan data tentang jumlah simpanan
dan pinjaman para nasabahnya, akan tetapi beberapa informasi umum dapat diperoleh.
Biasanya bank akan mencantumkan jumlah deposito atau rekening gironya atau
pinjaman dalam bentuk jumlah angka (misalnya enam angka menengah).


  Analisis Informasi Kredit
  Penilaian kredit akan timbuk dengan analisis rasio keuangan yang relatif baku, dengan
penekanan pada rasio likuiditas, leverage dan profitabilitas. Rasio tersebut akan
dibandingkan dengan rasio gabungan untuk bidang industri usaha dimana perusahaan
tersebut bergerak.
  Di samping analisis keuangan umum, juga dilakukan beberapa penilaian khusus yang
berkaitan dengan kegiatan kredit. Informasi tentang pembayaran kembali yang dilakukan
oleh para pelanggan dimasukkan dalam pertimbangan penilaian. Hal ini dilakukan
dengan cara mengambil data hutang dagang dari neraca dan menghitung umur rata-rata
hutang dagang. Periode pembayaran rata-rata tersebut kemudian dapat digunakan dengan
dua data pembanding lain.
  1.      periode pembayaran aktual dari syarat kredit
     2.     periode pembayaran rata-rata untuk bidang usaha dimana pelanggan bergerak.


     Sistem Penilaian Formal
     Setelah analisi informasi kredit, perusahaan mungkin berusaha mengungkapkan hasil-
  hasilnya dalam istilah kuantitatif. Ini secara umum dikenal sebagai penilaian kredit
  (kredit scoring). Ini menyangkut ukuran numerik untuk meramalkan probabilitas bahwa
  langganan tepat pada waktunya. Kadang-kadang analisis dibalik untuk meramalkan
  probabilitas bahwa langganan tidak akan membayar tepat pada waktunya atau
  sesungguhnya akan menjadi bangkrut.


III. Tujuan Penjualan Kredit
     1. Menaikan volume penjualan dalam suatu periode tertentu
     2. Strategi persaingan untuk memperbesar market share




IV. Resiko Penjualan Kredit
     1. Tidak terbayarnya piutang ;
     Menyediakan cadangan dana (Bad debt / piutang ragu2)
     Naiknya volume penjualan kredit akan menaikkan dana diinvestasikan dalam piutang
     dan menaikan resiko tidak terbayarnya piutang


     2. Keterlambatan Waktu pembayaran piutang
     Biaya pengumpulan piutang (cash discount)
     Untuk mengatasi cash discount dengan syarat biaya discount kurang dari tambahan
     laba


V. Kebijakan Kredit
     Tujuan mendapatkan laba yang optimbal dengan resiko minimal. Adapun faktor yang
  mempengaruhi besar kecilnya investasi dalam piutang :
     1. Volume Penjualan Kredit
     Naiknya proporsi penjualan kredit menyebabkan naiknya dana dlm piutang dan
     menaikan resiko juga menambah profit


     2. Syarat pembayaran penjualan kredit
       Ada 2 Alternatif :
       * Dg ketat : Piutang Kecil (Perusahaan sangat selektif)
       * Dg Lunak : Piutang besar (Perusahaan kurang selektif)


3. Ketentuan tentang Pembatasan Kredit
Menaikan plafon kredit menaikan dana dalam piutang
Makin selektif perusahaan menurunkan dana dalam piutang


4. Kebijakan dalam pengumpulan piutang
       Pengumpulan Piutang Aktif yaitu biaya pengumpulan piutangnya besar (dg
syarat biaya tambahan tidak melampaui besarnya tambahan revenue)
       Pengumpulan Piutang Pasif
Menurut Horne and Wachowicz, 1995 hal-hal yg terkait dalam pengumpulan piutang
dan kebijakan kredit adalah :
       * Standar Kredit
       Kualitas minimum penilaian kredit dari peminta kredit yang dapat diterima
       oleh perusahaan.
       Variabel yang harus dipertimbangkan dlm pemberian kredit :
               a. kualitas piutang dagang yang dapat diterima
               b. jangka waktu periode kredit
               c. potongan tunai untuk pembayaran lebih awal
               d. program pengumpulan piutang


       * Termin Kredit
       Jangka waktu periode kredit dan potongan tunai yang diberikan jika dilakukan
       pembayaran lebih awal


       * Potongan Tunai
       Prosentase pengurangan pembayaran dari jumlah bruto penjualan, karena
       pembayaran dilakukan dalam periode potongan tunai.




       * Default risk
       Kerugian dari piutang dagang tidak tertagih yang mungkin terjadi, karena
       pelonggaran standar kredit dan pelambatan waktu pengumpulan piutang.


5. Kebiasaan Membayar para langganan
Kebiasaan untuk membayar dengan menggunakan kesempatan mendapatkan cash
discount atau tidak menggunakan kesempatan tersebut.
Untuk menyeleksi para langganan yang akan diberi kredit dan berapa jumlah yang
harus diberikan. Hal ini berhubungan pula dengan :
       * Kebiasaan langganan dalam membayar kembali
       * Kemungkinan langganan tidak membayar
       * Rata-rata jangka waktu pembayaran


Penilaian terhadap calon pembeli (resiko kredit) dengan memperhatikan 5 C yaitu :
       * Character
       Menyangkut kejujuran, tanggung jawab dalam memenuhi kewajiban


       * Capasity
       Kemampuan untuk membayar hutangnya ( dilihat dari Aktiva dan jumlah
       hutang)


       * Capital
       Dilihat dari jumlah Modal Sendiri yang dimiliki perusahaan dari suatu periode
       perbandignan antara Modal Sendiri dan Modal Asing


       * Colleteral
       Jaminan dalam pengambilan kredit


       * Conditions
       Kondisi perekonomian secara umum




Langkah penyaringan para pelanggan yaitu :
            * Penentuan besarnya risiko yang akan ditanggung oleh perusahaan
            *Penyelidikan    tentang         kemampuan           perusahaan    untuk     memenuhi
           kewajibannya. Hal ini harus dipenuhi dengan tingkat Soliditas yaitu tingkat
           kepercayaan pihak luar terhadap suatu perusahaan yang dibagi menjadi 3 :
                   - Soliditas Komersiil
                  Ditunjukkan      dari      kebiasaan       /    kejujuran    perusahaan      dalam
                  kewajibannya pada pihak tertentu.


                  - Soliditas Finansiil
                  Jumlah modal kerja yang dimiliki perusahaan


                  - Soliditas Moril
                  Sifat dan moril dari pimpinan
           * Mengadakan klasifikasi dari para langganan berdasarkan risiko pembayaran
           * Mengadakan seleksi dari para langganan


VI. Model penilaian penjualan kredit:
                      Model Sartoris-Hill
           Model ini mengacu pada 1 konsep umum laba ( p = TR – TC )
            p = PVnet sales - cost
            1. Modal kerja tidak berubah
                   NPVo = Po.Qo (1-bo) - Co.Qo
                               (1 + k) to
                   NPV1 = P1.Q1 (1-b1) - C1.Q1
                                (1+k)t1


            2. Modal kerja berubah
                   NPVo = Po.Qo (1-bo) -         Co.Qo - W Po.Qo - Po.Qo
                                (1 + k) to                                      (1 + k) to


                   NPV1 = P1.Q1 (1-b1) - C1.Q1           -   W       P1.Q1 -    P1.Q1
                                        t1
                              (1 + k)                                             (1 + k) t1


            Keterangan :
              NPVo = Net Present Value untuk kebijakan lama
              NPV1 = Net Present Value untuk kebijakan baru
              P = harga jual per unit
              Q = unit produk terjual per hari
              b = tingkat kerugian karena piutang ragu-ragu
              k = biaya modal per hari (%)
              t = periode penagihan piutang rata-rata (DSO/ACP)
              c = biaya variabel per unit
              Bandingkan = NPV1 - NPVo ≥ 0 → kebijakan baru diterima


VII. Keuntungan Pelunakan Kredit
     Penjualan secara kredit merupakan uapaya bagian pemasaran guna meningkatkan
  omzet penjualan. Apabila perusahaan menempuh kebijakan melunakkan syarat penjualan
  kredit maka akan dapat meningkatkan jumlah pelanggan potensial yang mampu membeli
  produknya secara kredit. Pada gilirannya akan dapat meningkatkan volume penjualan
  dan pencapaian profit yang optimal.
     Dalam dunia bisnis ketidak pastian merupakan kenyataan yang harus dihadapi, maka
  kenaikan penjualan karena adanya pelunakkan standar kredit hanyalah dapat
  diestimasikan / diperkirakan. Guna menggambarkan bagaimana mengestimasikan
  rencana penjualan, berikut ini disajikan data distribusi penjualan pada berbagai kebijakan
  kredit. Distribusi penjualan diestimasikan berdasarkan 3 kondisi perekonomian dan tiga
  bentuk kebijakan kredit sebagaimana tampak pada tabel 1.1


  Tabel 1.1          Perkiraan Penjualan Pada Berbagai Bentuk Kebijakan Kredit
                     (dalam Ribuan Rupiah)
  Kondisi           Probabilitas                       Kebijakan Kredit
Perekonomian                                 Ketat            Tetap             Lunak
   Resesi               0,25                24.000            36.000            50.000
  Normal                0,50                30.000            43.000            58.000
   Bomm                 0,25                36.000            50.000            64.000


     Berdasarkan proyeksi ini perusahaan mengestimasikan penjualan tahun yang akan
  datang berdasarkan kondisi perekonomian dan kebijakan kredit yang ditetapkan. Dengan
  probabilitas yang sama (25%) kecuali dalam kondisi normal perkiraan penjualan berbeda
  diantara 3 kondisi perekonomian. Selain itu tampak dengan perubahan kebijakan kredit
  merubah perkiraan penjualan. Dalam kondisi perekonomian misalnya, kebijakan
  mengetatkan kebijakan kredit perkiraan penjualan menjadi Rp. 30.000.000, sedangkan
  dengan melunakkan kebijakan kredit perkiraan penjualan naik menjadi Rp. 58.000.000
  dari perkiraan penjualan normal sebesar Rp. 43.000.000.


VIII. Biaya – Biaya Pelunakkan Kredit
     a. Biaya produksi dan penjualan
        Dengan adanya kebijakan pelunakkan kredit diharapkan akan meningkatkan
        produksi dan penjualan maka tambahan biaya produksi dan penjualan merupakan
        suatu keniscayaan. Apabila ada tambahan penjualan berada dalam kapasitas
        produksi maka kenaikan tersebut hanya mempengaruhi tambahan biaya variabel.
        Misalkan    jika   perusahaan   dengan    melunakkan     kebijakan   kredit     akan
        meningkatkan produksi sebesar 20.000 unit dengan biaya produksi per unit
        sebesar Rp. 10.000 maka tambahan biaya variabel = Rp. 200.000.000


     b. Biaya administrasi
        Adanya perluasan produksi dan penjualan karena adanya kebijakan kredit
        hendaknya diperhitungkan sebagai biaya tambahan. Termasuk dalam biaya ini
        antara lain biaya administrasi kredit dan biaya administrasi penagihan


     c. Biaya karena tidak tertagihnya piutang
        Tidak   tertagihnya   piutang   pada     umumnya    disebabkan    karena      kondisi
        perekonomian yang memburuk. Kondisi seperti ini makin banyak pelanggan yang
        tidak mampu membayar maka kerugian tidak tertagih akan semakin meningkat.
        Selain itu kualitas pelanggan juga merupakan faktor lain penentu besarnya
        kerugian karena tidak tertagih piutang. Apabila kebijakan pelunakkan kredit
        banyak dimanfaatkan oleh pelanggan yang kurang berkualitas (tidak memiliki
        kemampuan dan kemauan bayar) maka kerugian karena tidak tertagih piutang
        akan meningkat. Sebagai contoh penjualan yang diharapkan Rp. 600.000.000 dan
        perkiraan kerugian tidak tertagih piutang 3%, maka penjualan bersih Rp.
        582.000.000
     d. Biaya potongan kas
        Demi merangsang para pembeli maupun pelanggan membayar lebih awal, maka
        kebanyakan perusahaan memberi potongan kas kepada pelanggan yang membayar
        pada tanggal dicount. Misalkan perusahaan menetapkan cash discount sebesar
        2,5% dari perkiraaan penjualan pertahun Rp. 600.000.000 dan diharapkan 70%
        pelanggan akan memanfaatkan tawaran ini, maka cash discount sebesar 0,025 x
        Rp. 600.000.000 x 0,7 = Rp. 10.500.000


     e. Opportunity cost of fund
        Meningkatkan jumlah piutang berarti adanya investasi pada piutang yang berarti
        pula adanya tambahan biaya sehubungan dengan tertanamnya dana dalam piutang
        yang lazim disebut Opportunity Cost of Fund. Untuk menghitung biaya ini maka
        variabel atas suatu produk yang berkaitan dengan kenaikan investasi pada piutang
        dikalikan Opportuniy Cost of Fund.
        Misalkan : dengan melunakkan syarat kredit berakibat naiknya piutang dari Rp.
        300.000.000 menjadi Rp. 450.000.000. Kenaikan jumlah piutang sebesar Rp.
        150.000.000 mendorong naiknya biaya produksi dan penjualan sebesar Rp.
        75.000.000 dan biaya administrasi sebesar Rp. 5.000.000
        Apabila diketahui Opportunity Cost of Fund sebesar 10% maka biaya dana yang
        terikat pada piutang sebesar :
        0,1 (Rp. 75.000.000 + Rp. 5.000.000) = Rp. 80.000.000
        Keseluruhan biaya yang terjadi karena adanya kebijakan pelunakkan kredit
        diperhitungkan dalam menetapkan besarnya pendapatan bersih apabila perusahaan
        menempuh kebijakan pelunakkan kredit.


IX. Syarat Kredit
     Syarat kredit adalah suatu spesifikasi kondisi dalam mana suatu perusahaan
  memberikan kredit kepada pelanggannya.
            a) Periode kredit
               Periode kredit merupakan lamanya perusahaan memberikan kredit atas
               suatu penjualan. Suatu contoh “net20”, dalam hal ini perusahaan
               mengharapkan pembayaran 20 hari terhitung sejak tanggal faktur atau saat
               barang diserahkan. Suatu perusahaan dapat memnerpanjang periode kredit
               tersebut untuk mendorong demandnya. Namun perlu disadari bahwa
                periode kredit yang lebih panjang menyebabkan makin besarnya piutang.
                Ini berarti ada sejenis biaya sehubungan dengan terikatnya dana-dana
                dalam piutang.


            b) Potongan kas
                Disini selain menyangkut periode kredit, juga menyangkut potongan yang
                diberikan. Suatu misal kredit “3\15\net 30”, berarti potongan 3% diberikan
                apabila kredit dibayar paling lambat hari yang ke 15 setelah tanggal faktur
                dan pembayaran harus sudah dipenuhi pada hari yang ke 30. Dalam hal ini
                periode kreditnya adalah 30 hari. Banyak perusahaan menawarkan
                potongan kas untuk merangsang para pelanggannya membayar lebih dini.
                Misalnya suatu perusahaan mengubah syarat kreditnya dari “net 45”
                menjadi “2\10\net 30”, hal ini diharapkan akan memikat para pelanggan
                yang ingin mengambil potongan kas. Keuntungan yang timbul dari
                perubahan syarat kredit ini antara lain meningkatnya penjualan dan
                mengecilnya dana – dana yang terikat dalam piutang, sedangkan dana –
                dana yang tidak terikat dalam piutang dapat dimanfaatkan pada
                pengoperasian dalam obyek lain.
                Sebaliknya disini perusahaan terbebani biaya yaitu biaya pemberian
                potongan kas. Sudah barang tentu potongan selain 2% mungkin akan
                memberikan pengaruh yang lebih menguntungkan. Selain periode
                discount, perusahaan dapat juga merubah panjangnya periode discount,
                misalnya dari syarat kredit “2\15\net 45 menjadi 3\10\net 30. Namun
                dalam kasus ini pengaruhnya biasanya sulit diukur. Secara serentak
                perusahaan     dapat   mengubah    besar   potongan    sekaligus   periode
                discountnya.


X. Seasonal Dating
    Adalah syarat kredit yang digunakan untuk mendorong konsumen untuk melakukan
  pembelian di luar musim (out of season) dengan tidak mengharuskan pembayaran
  sampai tanggal waktu yang telah ditentukan, tidak peduli kapanpun barang itu dibeli.
    Jika penjualan adalah musiman, perusahaan dapat menggunakan seasonal dating
  untuk menetapkan periode kresit. Contohnya, Slimware Inc., perusahaan baju renang,
  menjual dengan syarat kredit 2/10, net 30, May 1 dating. Ini berarti bahwa faktur baru
  mulai efektif pada tanggal 1 Mei, walaupun penjualan terjadi pada bulan januari. Diskon
  dapat diperoleh jika pembayaran dilakukan paling lambat tanggal 10; jika tidak
  pembayaran harus dilakukan secara penuh pada tanggal 30 Mei.


XI. Memantau Manajemen Piutang
    Dua masalah kunci yang dihadapi eksekutif dalam manajemen piutang dagang adalah
  peramalan dan pengendalian piutang dagang.


    Masalah dengan DSO dan AS
    Kita pertama akan menelaah dua metode yang digunakan secara luas oleh perseroan-
  perseroan, yaitu Tingkat Penjualan Harian dan Skedul Umur. Kita kemudian
  memusatkan perhatian kita pada pendekatan pola pembayaran, yang menawarkan cara
  yang lebih baik untuk memantau piutang dagang.
        Menurut hasil survei Stone, dari seluruh perusahaan yang dilaporkan
  menggunakan prosedur sistematik untuk memproyeksikan piutang dagang, pada
  umumnya menggunakan proyeksi pro forma DSO atau beberapa rasio piutang dagang
  lainnya terhadap penjualan. Dalam pengendalian piutang dagang, metode AS (skedul
  umur piutang dagang) merupakan metode yang banyak dipakai.


    Tingkat Penjualan Harian
    Tingkat Penjualan Harian Rata-rata (DSO atau Day’s Sales Outstanding) pada waktu
  tertentu t biasanya dihitung sebagai rasio piutang terhadap penjualan harian :


    DSOt = Total ARt
           Penjualan Harian


    Angka penjulan harian diperoleh dengan merata-ratakan penjualan sepanjang periode
  waktu yang terakhir. Periode rata-ratanya bisa 30 hari, 60 hari, 90 hari atau periode lain
  yang relevan. Jelas bahwa DSO dipengaruhi oleh tingkat penjualan dan periode rata-rata
  yang digunakan.


    Skedul Umur Piutang Dagang
    Skedul Umur Piutang Dagang adalah persentasi dari piutang dagang akhir kuartal
  dalam kelompok umur yang berbeda. Istilah kelompok umur di sini merupakan periode
  waktu di mana piutang dagang terjadi sejak waktu penjualan. Skedul Umur Piutang
  Dagang yang baik menunjukan persentase yang kecil piutang dagang akhir kuartal dari
  penjualan yang lama, dengan persentase yang tinggi berdasarkan penjualan bulan-bulan
  yang terakhir.


     Faktor - Faktor Lain Yang Mempengaruhi Kebijakan Kredit
     1. Potensi Laba (Profit Potential)
     Jika dapat menjual secara kredit dan sekaligus membebankan bunga pada piutang
  dagang tersebut, penjualan kredit sebenarnya lebih menguntungkan daripada penjualan
  tunai.


     2. Pertimbangan Legal (Legal Consideration)
     Adalah ilegal jika perusahaan membebankan harga yang berbeda diantar konsumen-
  konsumen kecuali perbedaan harga ini diperbolehkan secara legal.


     3. Instrumen Kredit (Credit Instruments)
       - Open Account
       - Promissory Note
       - Commecial Draft
       - Conditional Sales Contract


XII.Kebijakan Penagihan
     Jika seluruh pelanggan perusahaan membayar tepat pada waktunya, disini tidak akan
  memerlukan kebijakan penagihan. Sayangnya keadaan yang demikian ini terlalu ideal
  untuk dibayangkan, dan sebagian para pelanggan ada yang lambat membayarnya bahkan
  ada pula yang tidak membayar sama sekali. Kebijakan penagihan dimaksudkan untuk :
     a) Mempercepat penagihan dari para penunggak
     b) Membatasi kerugian – kerugian bad-debt
     Kebijakan penagihan menyangkut prosedur yang diikuti perusahaan dalam usahanya
  untuk memungut piutang – piutang yang telah jatuh tempo (tertunda). Setelah tanggal
  jatuh tempo tiba dan piutang dikategorikan terlambat, tahap pertama biasanya ialah
  diadakan pengiriman surat peringatan kepada si penunggak. Jika belum ada reaksi apa –
  apa, tahap kedua adalah dilakukan peringatan surat kedua dengan nada yang lebih keras,
  diikuti juga dengan peringatan melalui telpon.
     Apabila pembayaran juga masih belum dipenuhi, perusahaan dapat melimpahkan
  kepada agen penagihan untuk menanganinya dan sebagai tahap akhir tindakan hukum
  mungkin dapat dilakukan.
     Penentuan suatu kebijakan penagihan yang menunjukkan perkembangan optimal
  melalui rangkaian pertahapan tersebut, bukanlah tugas yang gampang. Jika suatu
  kebijakan penagihan sangat lunak maka biaya piutang akan meningkat, dan profitabilitas
  akan tertekan. Sebaliknya jika suatu kebijakan penagihan sangat ketat, biaya – biaya
  yang harus dikeluarkan berkenaan dengan usaha penagihan akan meningkat, dan bisa
  timbul kerugian karena musnahnya hubungan baik dengan para relasi. Walau demikian
  sekurang – kurangnya diperlukan suatu pendirian yang tegas guna mencegah periode
  penagihan yang berlarut – larut, dan meminimalisir kerugian – kerugian bad – debt.
  Disini diterapkan prinsip biaya dan manfaat. Suatu kebijakan penagihan optimal akan
  memberikan laba tahunan terbesar. Untuk itu kebijakan penagihan optimal memerlukan
  suatu perbandingan antara biaya – biaya dan manfaat – manfaat dari prosedur penagihan.


XIII. Perputaran Piutang
     Piutang sebagai bagian dari modal kerja, maka keadaannya akan selalu berputar dalam
  arti piutang itu akan tertagih pada saat tertentu, akan timbul lagi akibat penjualan kredit
  dan seterusnya.
     Periode perputaran piutang tergantung dari panjang pendeknya ketentuan waktu yang
  dipersyaratkan dalam syarat pembayaran kredit, sehingga semakin lama syarat
  pembayaran kredit berarti semakin lama terikatnya modal kerja tersebut dalam piutang
  dan berarti semakin kecil tingkat perputaran piutang dalam satu periode dan sebaliknya
  semakin pendek syarat pembayaran kredit berarti semakin pendek tingkat terikatnya
  modal kerja dalam piutang sehingga tingkat perputaran piutang dalam satu periode
  semakin besar.
     Tingkat perputaran piutang dapat dihitung :


     Penjualan neto kredit
     Rata – rata piutang


     Penjualan neto kredit artinya semua penjualan kredit sesudah dikurangi dengan
  potongan – potongan.
     Rata – rata piutang dapat dihitung dari piutang awal tahun ditambah piutang akhir
  dibagi dua.
     Sehingga hari rata – rata pengumpulan piutang


     360 hari (dalam 1 tahun)        = ....... hari
     Tingkat perputaran piutang


XIV. Pengevaluasian Manajemen Piutang
     Pengevaluasian fungsi kredit dalam perusahaan merupakan suatu pertanggung
  jawaban penting financial manajer. Pertanggung jawaban ini mencakup pengevaluasian
  kebijakan kredit dan performance departemen kredit dalam menjalankan kebijakan yang
  telah ditetapkan.


     Periode Penagihan Rata – Rata
     Salah satu metode untuk mengevaluasi hal tersebut adalah periode penagihan rata –
  rata, yang dirumuskan sebagai berikut :


     Piutang x 365
     Penjualan kredit


     Disini periode penagihan rata – rata perusahaan dibandingkan dengan syarat kredit
  yang diterapkannya. Jika syarat kreditnya net 30, sedang periode penagihan rata –
  ratanya 60 hari dalam hal ini jelas ada ketimpangan. Pola waktu dari periode penagihan
  rata – ratan hendaknya juga dianalisa untuk melihat apakah terdapat perubahan yang
  menyolok yang bakal menunjukkan berbagai kesulitan atau kelemahan dalam
  manajemen piutang. Metode pengevaluasian ini hanya didasarkan penilaian kwantitas
  piutang


     Aging Schedule
     Penilaian kwalitas yang belum terbayar tidak kalah pentingnya dengan penialaian
  kwantitasnya. Cairnya piutang yang lebih cepat dari penjualan yang lebih baru dapat
  dikaburkan oleh tambahan jumlah piutang lama yang mungkin tertunggak
     Manakala jumlah piutang meningkat, disini penting untuk menelusuri apakah
  peningkatan piutang ini timbul dari penjualan – penjualan terakhir ataukah disebabkan
  tertunggaknya piutang lama dan mungkin tidak bakal terbayar lagi.
     Analisa umur piutang yang lazim disebut “aging schedule” yang memperlihatkan
  volume dan presentase piutang yang belum tertagih pada berbagai periode adalah suatu
  pengukuran yang lebih cermat dalam manajemen piutang


     Budget Piutang
     Yaitu membuat estimasi penerimaan piutang (cash inflow)
     Yang perlu diperhatikan :
     1. Kebiasaan membeli dalam membayar hutang
     2. Kebijaksanaan cash discount
     3. Kebijaksanaan piutang ragu – ragu


XV. Manajemen Persediaan
     Pengertian
     Persediaan merupakan elemen yang cukup besar dari aktiva lancar yang dimiliki pada
  kebanyakan      perusahaan     sehingga   memerlukan    perhatian       yang   serius   dalam
  mengembangkan teknik – teknik pengendalian untuk memelihara saldo persediaan yang
  cukup dengan biaya yang sekecil – kecilnya.
     Dalam menentukan tingkat persediaan, perusahaan harus mencari suatu keseimbangan
  di antara konflik berbagi keperntingan, antara lain sebagai berikut :

     1. Manajer pemasaran menginginkan persediaan barang jadi dalam jumlah yang
        cukup untuk memuaskan pelanggan.
     2. Manajer produksi menginginkan suplai bahan baku dalam jumlah besar untuk
        menjamin kelancaran proses produksi.
     3. Manajer pembelian berorientasi pada order yang lebih besar dari yang diminta
        untuk menghindari kenaikan harga dan ongkos angkut serta mendapatkan
        potongan harga.
     4. Manajer keuangan menginginkan investasi persediaan dalam jumlah yang rendah
        untuk efisiensi penggunaan dana.
  Secara luas, fungsi manajemen persediaan meliputi pengarahan arus dan penanganan
bahan secara wajar, mulai dari penerimaan sampai peyimpanan, menjadi barang dalam
pengolahan dan barang selesai, sampai berada di tangan pelanggan.




  Tujuan Manajemen Persediaan

  1. Menekankan investasi modal dalam persediaan pada suatu tingkat yang minimal.
  2. Mengurangi pemborosan biaya yang timbul dari penyelenggaraan persediaan yang
      berlebihan, kerusakan, penyimpanan, kekunoan, dan pajak, serta asuransi
      persediaan.
  3. Mengurangi resiko kecurangan / kehilangan dan resiko kerugian akibat penurunan
      harga.
  4. Mengurangi investasi dalam fasilitas dan peralatan pergudangan.
  5. Mengurangi biaya mengadakan opname fisik persediaan.
  6. Mengurangi resiko penundaan produksi dengan cara selalu meyediakan bahan –
      bahan yang diperlukan.




  Faktor – Faktor Pendukung Suksesnya Manajemen Persediaan

  1. Adanya penetapan tanggung jawab dan kewenangan fungsional secara tegas
      sehubungan dengan persediaan.
  2. Adanya kebijakan – kebijakan yang telah dirumuskan dengan baik
  3. Adanya personal yang cakap dalam tugasnya guna melaksanakan kebijakan
      persediaan yang telah ditetapkan.
  4. Adanya sistem informasi persediaan yang selalu dapat menyajikan posisi
      persediaan setiap saat.




  Supply Chain Management (SCM)



                                        Pusat        Pedagang                       Pemakai
     Pemasok         Manufaktur                                        Pengecer
                                      Distribusi       Besar                         Akhir
  Berikut dijelaskan secara garis besar tentang prinsip SCM, faktor pendukung
suksesnya penerapan SCM, dan strategi penerapan SCM

  1. Prinsip SCM
      Prinsip SCM pada hakikatnya adalah sinkronisasi aktivitas – aktivitas yang
      berkaitan dengan aliran material dan / produk, baik yang ada dalam satu organisasi
      maupun antarorganisasi.
  2. Faktor pendukung suksesnya penerapan SCM
      -   Peningkatan pengetahuan
      -   Peningkatan teknologi
      -   Kompetensi organisasi
      -   Kompetensi pribadi
      -   Perubahan dan pembelanjaran
  3. Strategi penerapan SCM
      -   Strategi Lean Supply Chain. Strategi ini digunakan terhadap produk – produk
          fungsional. Produk – produk ini dicirikan oleh siklus hidup panjang, variasi
          produk sedikit, stabilitas permintaan tinggi, volume produksi tinggi, margin
          keuntungan rendah, dan biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan -
          kebutuhan dasar. Strategi ini adalah meningkatkan efisiensi dengan
          menekankan biaya – biaya fisik yang terjadi sepanjang SC.
      -   Strategi Agility Supply Chain. Strategi ini digunakan terhadap produk –
          produk inovatif. Produk ini dicirikan oleh siklus hidup pendek, variasi produk
          banyak, stabilitas permintaan rendah, volume produksi rendah, dan margin
          keuntungan tinggi. Strategi ini orientasinya bukan untuk meminimalkan biaya
          – biaya persediaan, tetapi lebih pada keputusan di mana persediaan harus
          disimpan.

  SCM pada dasarnya merupakan suatu mekanisme yang berorientasi pada sinkronisasi
proses untuk menyediakan, memproduksi, dan mengirim material dan / produk pada
konsumen.

						
Related docs
Other docs by HC121003041843
Eliminate exposure to dust
Views: 0  |  Downloads: 0
UM Directory and Authentication Strategy
Views: 0  |  Downloads: 0
Freedom's Holy Light
Views: 0  |  Downloads: 0
Gonzaga University FACHEX Policy
Views: 3  |  Downloads: 0
FrequencyABC11 25 09
Views: 0  |  Downloads: 0
REUSABLE RESPIRATOR FIT-TESTING
Views: 11  |  Downloads: 0
non Food Vendor Contract 2012
Views: 0  |  Downloads: 0
For Immediate Release
Views: 0  |  Downloads: 0
Senior Wardens 8 20 D
Views: 0  |  Downloads: 0