PKM GT 09 IPB Dedi Potensi Madu Sebagai by HE2YP6b

VIEWS: 229 PAGES: 18

									          PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA




POTENSI MADU SEBAGAI PENGGANTI HORMON SINTETIK UNTUK
           SEX REVERSAL DALAM AKUAKULTUR




                     BIDANG KEGIATAN:
                     PKM Gagasan Tertulis




                           Diusulkan oleh:
          Dedi Anwar Sipayung          C14053429   2005
          Dodi Ahmad Setiawibowo       C14052848   2005
          Gebbie Edriani               C14070066   2007




               INSTITUT PERTANIAN BOGOR
                              BOGOR
                                2009
1. Judul Kegiatan     : Potensi Madu Sebagai Pengganti Hormon Sintetik Untuk
                        Sex Reversal Dalam Akuakultur

2. Bidang Ilmu        : ( ) PKM – AI               ( x ) PKM – GT

3. Ketua Pelaksana Kegiatan
       a. Nama Lengkap                      : Dedi Anwar Sipayung
       b. NIM                               : C14053429
       c. Jurusan                           : Budidaya Perairan
       d. Universitas/Institut/Politeknik   : Institut Pertanian Bogor
       e. Alamat Rumah dan No Tel./HP       : Kost Villa Al Boejang, Jl. Bara II
                                              Kampus IPB Darmaga Bogor 16680
                                              / HP: 0899 8516 094
       f. Alamat Email                      : dean_spay71@yahoo.com

4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis       : 3 orang

5. Dosen Pendamping

       a. Nama Lengkap dan Gelar            : Dr. Dinar Tri Soelistyowati

       b. NIP                           : 131413353
       c. Alamat Rumah dan No. Telp./HP : Jl. Asahan No. 10, Laladon Indah
                                          Ciomas, Bogor / (0251) 628755 /
                                          HP: 0813 8055 8096

                                                           Bogor, 31 Maret 2009
Menyetujui,
Ketua Departemen Budidaya Perairan                 Ketua Pelaksana Kegiatan




(Dr. Odang Carman)                                 (Dedi Anwar Sipayung)
 NIP. 131788590                                     NIM. C14053429

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan                  Dosen Pendamping
Institut Pertanian Bogor




(Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS)              (Dr. Dinar Tri Soelistyowati)
 NIP. 131473999                                     NIP. 131413353
                           KATA PENGANTAR


       Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan proposal PKM
Gagasan Tertulis (PKM – GT) dengan judul “Potensi Madu Sebagai Pengganti
Hormon Sintetik Untuk Sex Reversal Dalam Akuakultur”.
       Pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
 1. Dr. Dinar Tri Soelistyowati selaku Pembimbing Akademik sekaligus Dosen
    Pembimbing PKM – GT.
 2. Dr. Odang Carman selaku Ketua Departemen Budidaya Perairan dan Dr.
    Alimuddin selaku Ketua Program Studi Departemen Budidaya Perairan.
 3. Seluruh dosen dan staf/pegawai Departemen Budidaya Perairan.
 4. Rekan-rekan mahasiswa BDP.
 5. Semua pihak yang telah ikut membantu.
      Penyusun menyadari bahwa proposal ini masih mempunyai banyak
kekurangan. Karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dalam penyempurnaan proposal ini. Penyusun berharap semoga
kegiatan PKM – GT ini dapat bermanfaat dan berjalan sesuai dengan yang
diharapkan.


                                                           Bogor, Maret 2009




                                                              Penyusun
                                                  DAFTAR ISI


                                                                                                               Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iv
RINGKASAN .........................................................................................................v
PENDAHULUAN ..................................................................................................1
          Latar Belakang ........................................................................................... 1
          Tujuan ......................................................................................................... 2
TELAAH PUSTAKA ............................................................................................ 3
          Sex Reversal ................................................................................................ 3
          Methyl Testosterone .....................................................................................3
          Madu.............................................................................................................4
METODE PENULISAN ........................................................................................ 5
ANALISIS DAN SINTESIS ...................................................................................5
          Analisis Permasalahan ..................................................................................5
          Sintesis .........................................................................................................6
KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................................8
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................9
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ..............................................................................10
LAMPIRAN ..........................................................................................................12
                                 RINGKASAN


        Akuakultur adalah suatu kegiatan memproduksi biota (organisme) akuatik
di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit) dengan
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Pada spesies ikan tertentu ditemukan
perbedaan laju pertumbuhan, tingkah laku, warna, bentuk, atau ukuran tubuh
antara jantan dengan betina. Perbedaan karakter ini dapat menyebabkan potensi
ekonomi antara ikan jantan dengan betina berbeda, sehingga dalam budidayanya
yang ingin diproduksi biasanya adalah jenis kelamin yang dianggap mempunyai
nilai lebih.

        Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memproduksi monoseks secara
komersial adalah dengan metode sex reversal atau pengarahan kelamin dengan
penggunaan hormon methyl testosterone (MT). Namun, ada kekhawatiran tentang
dampak negatif terhadap hormon yang mempengaruhi keamanan pangan dan
kelestarian lingkungan. Dengan demikian, diperlukan adanya bahan lain dalam
sex reversal.

        Salah satu cara yang dianggap aman yaitu dengan penggunaan bahan
alami yang aman dan ramah lingkungan, antara lain adalah dengan madu lebah
hutan. Madu dipilih karena mengandung kalium yang dapat merubah lemak
menjadi prenegnelon, dimana prenegnelon inilah yang akan merubah estrogen
menjadi progesteron. Dengan berubahnya estrogen menjadi progesteron, maka
ikan yang tadinya akan menjadi betina akan diarahkan menjadi ikan jantan.

        Tujuan penulisan proposal ini adalah untuk mengkaji potensi madu
sebagai bahan pengganti hormon sintetik dalam akuakultur. Pengguaan hormon
sintetik perlu dikurangi karena dapat menyebabkan ikan stres, harga relatif mahal,
dan tidak ramah lingkungan.

        Metode penulisan proposal ini berupa pengumpulan data sekunder yang
berasal dari data skripsi, buku, jurnal, maupun data sekunder lainya. Data tersebut
kemudian dikumpulkan, dipilih dan diinterpretasikan sesuai dengan bahasan
penulisan. Seluruh literatur yang digunakan dalam penulisan dicantumkan dalam
daftar pustaka.

       Berdasarkan literatur dan hasil penelitian, disimpulkan bahwa madu dapat
digunakan sebagai bahan pengganti hormon sintetik untuk sex reversal dalam
akuakultur. Metode perlakuan sex reversal dengan madu dapat dilakukan dengan
perendaman induk atau larva dalam larutan madu, dengan pemberian pakan yang
telah dicampur madu, atau melalui pakan alami yang diperkaya dengan madu.

       Untuk selanjutnya disarankan agar dibuat suatu bahan sex reversal dengan
berbahan dasar madu sehingga penggunaan hormon sintetik yang merugikan dapat
digantikan. Selain itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui metode
pemberian madu yang paling tepat dalam sex reversal.
                               PENDAHULUAN


Latar Belakang
       Akuakultur adalah suatu kegiatan memproduksi biota (organisme) akuatik
di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit) dengan
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Pada spesies ikan tertentu ditemukan
perbedaan laju pertumbuhan, tingkah laku, warna, bentuk, atau ukuran tubuh
antara jantan dengan betina. Sebagai contoh, laju pertumbuhan ikan nila jantan
lebih cepat daripada betina, atau sebaliknya ikan mas betina mempunyai laju
pertumbuhan yang lebih cepat daripada jantan. Pada beberapa jenis ikan hias air
tawar (seperti kongo, rainbow, alestes, dan guppy), karakteristik fenotip jantannya
lebih menarik dibandingkan dengan betina.

       Adanya perbedaan karakter ini dapat menyebabkan potensi ekonomi
antara ikan jantan dengan betina berbeda, sehingga dalam budidayanya yang ingin
diproduksi biasanya adalah jenis kelamin yang dianggap mempunyai nilai lebih,
dalam hal ini adalah ikan dengan jenis kelamin jantan. Pemenuhan akan
permintaan ikan dengan jenis kelamin tertentu dapat dilakukan dengan sistem
monoseks, yaitu memproduksi ikan yang berjenis kelamin jantan atau betina saja.

       Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memproduksi monoseks secara
komersial adalah dengan metode sex reversal atau pengarahan kelamin. Untuk
memproduksi benih monoseks jantan dapat digunakan hormon methyl
testosterone (MT), pada umumnya adalah 17α-methyltestosterone (17α-MT). Sex
reversal dapat dilakukan dengan perendaman induk atau perendaman larva dalam
larutan hormon, melalui pemberian pakan yang mengandung hormon.

       Walaupun penggunaan hormon dalam produksi benih ikan monoseks telah
digunakan secara komersial, namun demikian ada kekhawatiran tentang dampak
negatif terhadap hormon yang mempengaruhi keamanan pangan dan kelestarian
lingkungan. Pada saat ini umumnya konsumen ikan menghendaki agar ikan yang
dikonsumsinya diperoleh dari hasil produksi yang terbebas dari bahan-bahan yang
berbahaya. Sehingga apabila usaha budidaya ikan dalam proses produksinya
menggunakan bahan hormon (hormone based aquaculture), maka produk
budidaya tersebut akan sangat rawan terhadap propaganda negatif pasar.

       Disamping itu, berdasarkan penelitian telah ada bukti bahwa penggunaan
hormon dapat mengakibatkan hasil yang paradoxial menjadi betina, terutama bila
pemakaian dosis yang berlebihan atau waktu pemberian yang terlalu lama (Hanif
et. al, 2006). Selain itu, penggunaan hormon mempunyai beberapa kelemahan,
antara lain dapat menyebabkan ikan stres, harga relatif mahal, dan tidak ramah
lingkungan.

       Mengingat permasalahan penggunaan hormon sintetik tersebut, diperlukan
adanya bahan lain dalam sex reversal. Salah satu cara yang dianggap aman yaitu
dengan penggunaan bahan alami yang aman dan ramah lingkungan, antara lain
adalah dengan madu lebah hutan (Djaelani, 2007; Utomo, 2008; Sukmara, 2007).
Madu dipilih karena mengandung kalium yang dapat merubah lemak menjadi
prenegnelon, dimana prenegnelon inilah yang akan merubah estrogen menjadi
progesteron. Dengan berubahnya estrogen menjadi progesteron, maka ikan yang
tadinya akan menjadi betina akan diarahkan menjadi ikan jantan.

       Perlakuan madu dalam sex reversal dapat dilakukan dengan beberapa cara,
misalnya dengan perendaman induk atau larva dalam larutan madu, dengan
pemberian pakan yang telah dicampur madu, atau melalui pakan alami yang
diperkaya dengan madu.

       Dengan demikian, penggunaan madu diharapkan mampu mengatasi
masalah penggunaan       hormon sintetik untuk kegiatan sex reversal dalam
akuakultur, yang berdasarkan pada keamanan pangan dengan mengedepankan
konsep back to nature.



Tujuan
       Tujuan penulisan proposal ini adalah untuk mengkaji potensi madu
sebagai bahan pengganti hormon sintetik dalam akuakultur.
                              TELAAH PUSTAKA


Sex Reversal
       Secara harfiah, sex reversal dapat diartikan sebagai suatu teknologi yang
membalikkan arah perkembangan kelamin menjadi berlawanan. Dengan
penerapan teknologi ini, ikan yang seharusnya berkelamin jantan diarahkan
perkembangan gonadnya menjadi betina dan sebaliknya. Cara ini mungkin
dilakukan karena pada waktu menetas gonad ikan belum berdiferensiasi secara
jelas menjadi jantan atau betina. Dengan teknik sex reversal, fenotip ikan dapat
berubah, tetapi genotipnya tidak dapat berubah (Junior, 2002).

       Tujuan utama dari penerapan teknik sex reversal adalah menghasilkan
populasi monoseks (tunggal kelamin). Dengan membudidayakan ikan monoseks
akan didapatkan berbagai manfaat antara lain mendapatkan ikan dengan
pertumbuhan yang cepat, mencegah pemijahan liar, mendapatkan penampilan
yang baik, dan menunjang genetika ikan (teknik pemurnian ras ikan). Beberapa
jenis ikan, baik ikan konsumsi maupun ikan hias, telah berhasil diproduksi dengan
teknologi sex reversal (Junior, 2002).

Methyl Testosterone (MT)
       Hormon androgen yang paling umum yang digunakan dalam aplikasi sex
reversal untuk maskulinisasi (pengarahan kelamin menjadi jantan) adalah 17α-
methyltestosterone yang diperkirakan efektif digunakan pada lebih dari 25 spesies
yang telah diuji. Methyl testosterone merupakan androgen yang paling sering
dipakai untuk merubah jenis kelamin dan penggunaan metiltestosteron pada dosis
yang   berbeda    akan   memberikan      pengaruh   yang   berbeda   pula.   17α-
methyltestosterone (17α-MT) merupakan hormon sistetik yang molekulnya sudah
dimodifikasi agar tahan lama di dalam tubuh. Hal ini dikarenakan pada karbon ke-
17 telah ditempeli gugus metal agar tahan lama (Junior, 2002). Methyl
testosterone dibuat dengan cara menambahkan satu kelompok α-metil pada atom
karbon ke-17 di dalam gugus testosteron dengan rumus bangun kimia kimia
C20H30O2, berbobot molekul 302,05.
       Penggunaan 17-methyltestosterone saat ini sudah mulai dikurangi. Hal
ini dikarenakan diduga sifat 17-metiltestosteron yang dapat menimbulkan
pencemaran karena sulit terdegradasi, dan karena 17-metiltestosteron dapat
menyebabkan kanker pada manusia. Contreras – Sanchez et. al (2001)
menyatakan bahwa residu anabolik 17-methyltestosterone masih tertinggal pada
sedimen kolam setelah tiga bulan penggunaan pada maskulinisasi benih ikan nila.
Residu ini dikhawatirkan dapat menimbulkan ekspos yang tidak diharapkan pada
pekerja, ikan dan organisme lain. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
pemberian hormon 17-methyltestosterone mampu mempengaruhi perkembangan
gonad beberapa ikan.

Madu
       Madu merupakan larutan karbohidrat yang dihasilkan oleh lebah madu
(Apis mellifera) dari nektar bunga dan tepung sari. Komponen utama madu adalah
dektrosa dan levulosa. Madu mengandung 70 – 80 % gula invert yang terlarut
dalam air, sukrosa, maltose, dekstrin, vitamin C, B1, B2 dan B6, asam pantoneat,
asam folat, mineral (Na, K, Ca, Mn, Fe, Cu, P, dan S), enzim hormon, zat
bakterisida, fungisida, zat aromatic, lilin, protein, minyak atsiri, asam formiat, dan
serbuk sari bunga. Madu juga berfungsi sebagai antioksidan, diantaranya adalah
chrysin, pinobaksin, vitamin C, katalase, dan pinocebrin. Zat chrysin merupakan
salah satu jenis flavonoid yang diakui sebagai salah satu penghambat enzim
aromatase atau lebih dikenal sebagai aromatase inhibitor (Dean, 2004). Madu
mengandung kalium yang dapat merubah lemak menjadi prenegnelon, dimana
prenegnelon inilah yang akan merubah estrogen menjadi progesteron. Dengan
berubahnya estrogen menjadi progesteron, maka ikan yang tadinya akan menjadi
betina akan diarahkan menjadi ikan jantan.

       Aromatase merupakan enzim yang mangkatalis konversi testosteron
(androgen) menjadi estradiol (estrogen). Sehingga dalam proses stereoidogenesis
dalam sel, pembentukan estradiol dari konversi testosterone akibat adanya enzim
aromatase akan terhambat karena adanya chrysin yang berperan sebagai
aromatase inhibitor dan pada akhirnya proses stereoidogenesis berakhir pada
pembentukan testosterone yang akan merangsang pertumbuhan organ kelamin
jantan dan menimbulkan sifat-sifat kelamin sekunder jantan (Junior, 2002).




                            METODE PENULISAN


       Sumber penulisan PKM – GT ini berupa data sekunder yang berasal dari
data skripsi, buku, jurnal, maupun data sekunder lainya. Data tersebut kemudian
dikumpulkan, dipilih dan diinterpretasikan sesuai dengan bahasan penulisan.
Seluruh literatur yang digunakan dalam penulisan dicantumkan dalam daftar
pustaka.


                          ANALISIS DAN SINTESIS


Analisis Permasalahan
       Akuakultur adalah suatu kegiatan memproduksi biota (organisme) akuatik
di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit) dengan
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan (Effendi, 2004). Pada spesies ikan
tertentu ditemukan perbedaan laju pertumbuhan, tingkah laku, warna, bentuk, atau
ukuran tubuh antara jantan dengan betina. Hal ini mengakibatkan kecendrungan
untuk membudidayakan satu jenis kelamin tertentu saja, yang dapat dilakukan
dengan metode sex reversal (pengarahan kelamin).

       Tujuan utama dari penerapan teknik sex reversal adalah menghasilkan
populasi monoseks (tunggal kelamin). Dengan membudidayakan ikan monoseks
akan didapatkan berbagai manfaat antara lain mendapatkan ikan dengan
pertumbuhan yang cepat, mencegah pemijahan liar, mendapatkan penampilan
yang baik, dan menunjang genetika ikan (teknik pemurnian ras ikan). Beberapa
jenis ikan, baik ikan konsumsi maupun ikan hias, telah berhasil diproduksi dengan
teknologi sex reversal (Junior, 2002).
       Dalam menghasilkan monoseks ikan, umunya digunakan hormon sintetik
seperti methyl testosterone. Namun ada kekhawatiran tentang dampak negatif
terhadap hormon yang mempengaruhi keamanan pangan dan kelestarian
lingkungan. Pada saat ini umumnya konsumen ikan menghendaki agar ikan yang
dikonsumsinya diperoleh dari hasil produksi yang terbebas dari bahan-bahan yang
berbahaya. Sehingga apabila usaha budidaya ikan dalam proses produksinya
menggunakan bahan hormon (hormone based aquaculture), maka produk
budidaya tersebut akan sangat rawan terhadap propaganda negatif pasar.
Disamping argumen tersebut, berdasarkan penelitian telah ada bukti bahwa
penggunaan hormon mempunyai beberapa kelemahan, antara lain dapat
menyebabkan ikan stres dan tidak ramah lingkungan.

       Berikut adalah hasil sex reversal dengan menggunakan hormon sintetik.
Tabel 1. Hasil Sex Reversal Berbagai Jenis Ikan Dengan Menggunakan Bahan
           Hormon Sintetik
                                Metode
No.        Spesies Ikan                        Dosis        Hasil     Sumber
                               Pemberian
1.    Ikan Guppy             Perendaman    1 mg/L         93,4 %      Arfah,
      (Poecilia              induk                        jantan      1997
      reticulata)                          2 mg/L         100 %
                                                          jantan
                                           4 mg/L         93,8 %
                                                          jantan
                                           8 mg/L         94,6 %
                                                          jantan
2.    Ikan Guppy             Perendaman    500 ppm,       51,97 %     Utomo,
      (Poecilia              induk         selama 10      jantan      2008
      reticulata)                          jam


Sintesis
       Sesuai dengan pernyataan oleh Effendi (2004), yang menyatakan bahwa
akuakultur adalah suatu kegiatan memproduksi biota (organisme) akuatik di
lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit) dengan
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, maka untuk menghasilkan akuakultur
yang optimal salah satunya haruslah berwawasan lingkungan. Penggunaan
hormon sintetik seperti methyl testosterone sudah selayaknya ditinggalkan karena
telah terbukti dapat merusak organisme maupun lingkungan.
       Alternatif bahan pengganti hormon tersebut salah satunya adalah madu.
Madu, selain aman juga terbukti memiliki kandungan kalium dan zat chrysin yang
berefungsi sama dengan methyl testosterone. Kalium dapat merubah lemak
menjadi prenegnelon, dimana prenegnelon inilah yang akan merubah estrogen
menjadi progesteron. Dengan berubahnya estrogen menjadi progesteron, maka
ikan yang tadinya akan menjadi betina akan diarahkan menjadi ikan jantan.
Chrysin merupakan salah satu jenis flavonoid yang diakui sebagai salah satu
penghambat enzim aromatase atau lebih dikenal sebagai aromatase inhibitor
(Dean, 2004).

       Aromatase merupakan enzim yang mangkatalis konversi testosteron
(androgen) menjadi estradiol (estrogen). Sehingga dalam proses stereoidogenesis
dalam sel, pembentukan estradiol dari konversi testosterone akibat adanya enzim
aromatase akan terhambat karena adanya chrysin yang berperan sebagai
aromatase inhibitor dan pada akhirnya proses stereoidogenesis berakhir pada
pembentukan testosterone yang akan merangsang pertumbuhan organ kelamin
jantan dan menimbulkan sifat-sifat kelamin sekunder jantan (Junior, 2002).

       Berikut adalah hasil sex reversal dengan menggunakan bahan dasar madu.
Tabel 2. Hasil Sex Reversal Berbagai Jenis Ikan Dengan Menggunakan Bahan
        Dasar Madu
No.      Spesies Ikan           Metode Pemberian             Hasil     Sumber
1. Nila GIFT                 Melalui pakan, dosis 200      93,33 %    Syaifudin,
    (Oreochromis             ml/kg pakan                   jantan     2004
    niloticus)
2. Ikan Guppy (Poecilia      Perendaman induk selama       59,5 %     Martati,
    reticulata)              10 jam, dosis 60 ppm          jantan     2006
3. Ikan Guppy (Poecilia      Perendaman larva selama       46,90 %    Djaelani,
    reticulata)              10 jam, dosis 10 ppm          jantan     2007
4. Ikan Guppy (Poecilia      Perendaman larva selama       46,99 %    Sukmara,
    reticulata)              10 jam, dosis 5 ppm           jantan     2007
5. Ikan Guppy (Poecilia      Perendaman induk selama       56,68 %    Utomo,
    reticulata)              10 jam, dosis 60 ppm          jantan     2008
                         KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
        Madu dapat dapat dijadikan sebagai bahan pengganti hormon sintetik
untuk sex reversal dalam akuakultur. Metode perlakuan sex reversal dengan madu
dapat dilakukan dengan perendaman induk atau larva dalam larutan madu, dengan
pemberian pakan yang telah dicampur madu, atau melalui pakan alami yang
diperkaya dengan madu.

Saran
        Sebaiknya dibuat suatu bahan untuk sex reversal dengan berbahan dasar
madu sehingga penggunaan hormon sintetik yang merugikan dapat digantikan.
Selain itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui metode pemberian madu
yang paling tepat dalam sex reversal.




                             DAFTAR PUSTAKA


Arfah, H. 1997. Efektivitas Hormon 17α-metiltestosteron dengan Metode
       Perendaman Induk Terhadap Nisbah Kelamin dan Fertilitas Keturunan
       Ikan Gapi (Poecilia reticulata). [Tesis]. Program Pascasarjana, Institut
       Pertanian Bogor.

Contreras-Shanchez, W. M. and M. S. Fitzpatrick. 2001. Fate of
       Methyltestosteron in the Pond Environtment: Impact of MT-Contaminated
       Soil on Tilapia Sex Differentiation. Aquaculture, 33:329-354.

Dean, W. 2004. Chrysin: Is It An Effective Aromatase Inhibitor?. Vitamin
      Research News. Vol 18, No. 4. www.vrp.com [14 Januari 2007].

Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Jakarta: Penebar Swadaya.

Djaelani, F. 2007. Pengaruh Dosis Madu Terhadap Pengarahan Kelamin Jantan
       Pada Ikan Gapi (Poecilia reticulata Peters) dengan Metode Perendaman
       Larva). [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan
       Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Junior, M. Z. 2002. Sex Reversal: Memproduksi Benih Ikan Jantan Atau Betina.
        Jakarta: Penebar Swadaya.
Hanif, S., T. Yuniati, dan D. Junaedi. 2006. Teknik Produksi Induk Jantan YY Ikan
        Nila (Oreochromis Niloticus). Sukabumi: Balai Besar Pengembangan
        Budidaya Air Tawar.

Sukmara. 2007. Sex Reversal Pada Ikan Gapi (Poecilia reticulata Peters) Secara
      Perendaman Larva Dalam Larutan Madu 5ml/L. [Skripsi]. Departemen
      Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
      Pertanian Bogor.

Utomo, B. 2008. Efektivitas Penggunaan Aromatase Inhibitor dan Madu Terhadap
      Nisbah Kelamin Ikan Gapi (Poecilia reticulata Peters). [Skripsi]. Program
      Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu
      Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
                        DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Ketua Pelaksana
   1. Nama Lengkap                    : Dedi Anwar Sipayung
   2. NIM                             : C14053429
   3. Tempat/Tanggal Lahir            : Simalungun/7 Januari 1987
   4. Agama                  : Katholik
   5. Alamat Sekarang                 :Villa Al Boejang, Jln. Babakan Raya II
                                          Darmaga Bogor 16680
   6. Pendidikan                      :
              a. SDN 1 Terbanggi Subing Lampung Tengah (1993 – 1999)
              b. SLTPN 6 Gunung Sugih Lampung Tengah (1999 – 2002)
              c. SMUN 1 Terbanggi Besar Lampung Tengah (2002 – 2005)
              d. Institut Pertanian Bogor (2005 – sekarang)
   8.   Pengalaman Organisasi         :
              a. HIMAKUA IPB Divisi Sosial Kemasyarakatan (2006 – 2007)
              b. HIMAKUA IPB Divisi Olahraga dan Seni (2007 – 2008)


Anggota Pelaksana I
   1.   Nama Lengkap              : Dodi Ahmad Setiawibowo
   2.   NIM                       : C14052848
   3.   Tempat/Tanggal Lahir      : Rembang/7 Oktober 1986
   4.   Agama                     : Islam
   5.   Alamat Sekarang           : Wisma Asshobirin, Jln. Babakan Raya II
                                      Darmaga Bogor 16680
   6.   Pendidikan                :
              a. SDN Kutoharjo 4 Rembang (1993 – 1999)
              b. SLTPN 2 Rembang (1999 – 2002)
              c. SMUN 1 Rembang (2002 – 2005)
              d. Institut Pertanian Bogor (2005 – sekarang)
   8.   Pengalaman Organisasi         :
              a. HIMAKUA IPB Divisi PSDM (2006 – 2007)
Anggota Pelaksana II
   1. Nama Lengkap                     : Gebbie Edriani
   2. NIM                              : C14070066
   3. Tempat/Tanggal Lahir             : Padang/27 Oktober 1989
   4. Agama                  : Islam
   5. Alamat Sekarang                  : As-Sakinah Gg. Cangkir, Bateng, Darmaga
                                           Bogor 16680
   6. Pendidikan                       :
              a. SDN 39 Kuala Tungkal, Jambi (1995-2001)
              b. SMPN 2 Kuala Tungkal, Jambi (2001-2004)
              c. SMAN 1 Kuala Tungkal, Jambi (2004-2007)
              d. Institut Pertanian Bogor (2007 – sekarang)
   7.   Pengalaman Organisasi          :
              a. HIMAKUA IPB (2009)
   LAMPIRAN




Gambar 1. Ikan guppy jantan




Gambar 2. Ikan guppy betina

								
To top