jbptunikompp gdl muhamadazi 19720 6 9 isi

Shared by: HC12100223544
Categories
Tags
-
Stats
views:
4
posted:
10/2/2012
language:
Malay
pages:
95
Document Sample
scope of work template
							                                    BAB I

                              PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah


   Kemajuan teknologi khususnya di bidang informasi dan telekomunikasi telah

   mendorong arus globalisasi di bidang industri dan perdagangan. Hal tersebut

   menjadikan dunia sebagai suatu pasar tunggal bersama. Dalam era

   perdagangan bebas dunia, Indonesia sebagai negara berkembang harus

   mampu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk dapat mengantisipasi

   segala perubahan serta kecenderungan global tersebut sehingga tujuan

   nasional dapat tercapai dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bagian

   dari sistem hukum sangat erat kaitannya dengan industri, perdagangan dan

   investasi, singkatnya adalah dunia usaha.


   Teknologi informasi dalam ruang lingkup hukum telematika merupakan cara

   atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan

   pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai

   bagi   pemenuhan    kebutuhan,    kelangsungan,   dan   peningkatan   mutu

   kehidupan manusia. Produk yang dihasilkan tersebut pada dasarnya

   membutuhkan perlindungan hukum. Perlindungan hukum yang paling sesuai

   adalah dengan menerapkan hukum Hak Kekayaan Intelektual. Indonesia

   sebagai anggota dari WTO dan secara sah telah ikut dalam TRIPs telah

   meratifikasi WTO Agreement melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994

   tentang Pengesahan Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan

   Dunia. Ratifikasi itu kemudian diimplementasikan dalam revisi terhadap




                                      1
                                                                          2



undang-undang bidang Hak Kekayaan Intelektual yaitu Undang-Undang

Nomor 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang Undang-Undang Nomor 31

Tahun 2000 tentang Desain industri, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000

tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Undang-Undang Nomor 14

Tahun 2001 Tentang Paten, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang

Merek dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.

Kemudian dampak dari perkembangan teknologi telah memberikan manfaat

yang luar biasa bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, globalisasi akan

sangat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, baik untuk perkembangan

ilmu pengetahuan maupun untuk kehidupan masyarakat.


Kemajuan teknologi informasi semakin memperlihatkan perkembangannya.

Perkembangan tersebut meliputi perkembangan di seluruh aspek kehidupan

yaitu ekonomi, budaya, hukum, agama, dan politik. Perkembangan teknologi

tersebut apabila dimanfaatkan secara tepat akan dapat meningkatkan

kesejahteraan masyarakat yang kemudian berdampak pada peningkatan

kemakmuran masyarakat suatu negara.



Seiring dengan kemajuan teknologi dan tekanan pasar, kebutuhan akan alat

telekomunikasi yang dilengkapi dengan teknologi semakin bertambah,

sehingga menimbulkan kemudahan bagi para             pemakainya.    Telepon

selular/telepon genggam, PDA (Personal Digital Assistant) adalah salah satu

alat   komunikasi   yang   dapat   memberikan     kemudahan     bagi   para

penggunanya. Kombinasi antara teknologi yang mutakhir dengan suatu alat

komunikasi telah menimbulkan daya tarik tersendiri bagi para penggunanya.

Para produsen alat telekomunikasi saat ini saling berlomba dalam meraih
                                                                         3



simpati pasar, yaitu dengan menciptakan alat telekomunikasi yang

dikombinasikan dengan berbagai macam teknologi terbaru. Beberapa inovasi

teknologi terus dilakukan oleh produsen alat telekomunikasi terhadap hasil

produknya. Salah satu inovasi terhadap teknologi tersebut yaitu dengan

mengaplikasikan teknologi Layar Sentuh (touch screen) pada suatu alat

telekomunikasi. Tujuannya adalah untuk memudahkan penggunanya dalam

berkomunikasi. Hal tersebut menyebabkan bidang Hak Kekayaan Intelektual

menjadi bidang yang sangat dinamis, Hak Kekayaan Intelektual saat ini tidak

lagi hanya menjadi perhatian pemerintah melainkan menjadi bisnis yang

besar. Salah satu     strategi bisnis yang dilakukan oleh produsen alat

telekomunikasi adalah untuk memberikan kepuasan kepada para konsumen

pengguna jasa alat telekomunikasi yang dihasilkannya. Lebih dari itu, para

produsen alat telekomunikasi juga memandang hukum Hak Kekayaan

Intelektual menjadi lahan bisnis tersendiri. Upaya mendaftarkan suatu

temuan yang baru terhadap suatu teknologi yang dapat diaplikasikan pada

suatu alat telekomunikasi oleh suatu produsen alat telekomunikasi, dapat

menghasilkan keuntungan yang lain selain dari hasil penjualan produknya

yaitu berupa royalti. Produsen alat telekomunikasi dapat mendaftarkan

temuannya tersebut kepada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual,

khusunya Direktorat Paten untuk nantinya temuan tersebut dapat dilindungi

oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten.



Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai dua ratus juta jiwa, menjadikan

Indonesia sebagai lahan bisnis bagi para produsen alat telekomunikasi.

Beberapa produsen alat telekomunikasi yang memasarkan produknya di
                                                                                   4



Indonesia yaitu Nokia, Sony Erikson, Motorolla, Samsung, dan produsen alat

telekomunikasi     lainnya,   terutama    setelah    masuknya       produsen     alat

telekomunikasi yang berasal dari China. Salah satu faktor untuk mendukung

keberhasilan produsen alat telekomunikasi tersebut dalam memasarkan

produknya,   yakni     teknologi   yang     diaplikasikan,   kemudahan         dalam

menggunakan alat telekomunikasi tersebut dan harga yang terjangkau

dengan konsumen.



Berbicara tentang teknologi Layar Sentuh (touch screen), berkembangnya

teknologi tersebut akhir-akhir ini membuat para produsen alat telekomunikasi

saling berlomba untuk mengaplikasikan teknologi tersebut pada produk yang

akan dipasarkannya. Di Indonesia saat ini, lisensi Hak Paten teknologi Layar

Sentuh (touch screen) dipegang oleh Motorola Inc. yang didaftarkan di

Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Direktorat Paten pada tahun

2003 dan telah dipublikasikan pada tahun 2005. Penemunya adalah Morton

Bruce Mc Kay dan Rollins Thomas James yang berasal dari Amerika Serikat.



Seiring   dengan     perkembangan        teknologi   saat    ini,   banyak     sekali

permasalahan-permasalahan yang timbul dari penerapan teknologi Layar

Sentuh (touch screen) yang diaplikasikan terhadap produk yang dihasilkan

oleh produsen alat telekomunikasi. Salah satu contoh permasalahannya

adalah mengenai teknologi Layar Sentuh (touch screen) yang diterapkan

pada produk Nokia terbaru yaitu Nokia 5800 Express Music, dalam kaitannya

dengan pemegang lisensi hak paten teknologi Layar Sentuh (touch screen) di

Indonesia yang dipegang oleh Motorola Inc. Penerapan teknologi Layar
                                                                    5



Sentuh (touch screen) tersebut dapat menimbulkan permasalahan hukum

terutama yang berkaitan dengan izin dari pemegang lisensi paten pada

teknologi tersebut. Masalah lain yang timbul adalah mengenai peranan

pemerintah selaku regulator dan supervisor dalam mengawasi mengenai

persaingan sehat dalam bidang perdagangan alat telekomunikasi. Hal ini

berkaitan dengan pemberian lisensi paten teknologi Layar Sentuh (touch

screen) kepada Motorola Inc. Untuk menghindari terjadinya monopoli

perdagangan terhadap penjualan alat telekomunikasi, maka diperlukan

adanya pengaturan mengenai pengalihan hak paten tersebut berdasarkan

perjanjian lisensi menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang

Paten.



Permasalahan di atas menggambarkan bahwa penerapan teknologi Layar

Sentuh (touch screen) dalam suatu alat telekomunikasi yang dilakukan

produsen alat telekomunikasi terhadap produknya yang akan dipasarkan

membutuhkan suatu perlindungan hukum atau peraturan yang mengaturnya

dengan jelas. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penulis sangat

tertarik untuk meneliti permasalahan diatas berdasarkan sudut pandang

hukum Hak Kekayaan Intelektual, dengan melihat kepada Undang-undang

Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten dan menuangkannya dalam penulisan

hukum dengan judul: TINJAUAN HUKUM TERHADAP PENGALIHAN HAK

PATEN     TEKNOLOGI       LAYAR      SENTUH      (TOUCH     SCREEN)

BERDASARKAN PERJANJIAN LISENSI MENURUT UNDANG-UNDANG

NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN.
                                                                             6



B. Identifikasi Masalah

   Adapun masalah-masalah yang dirumuskan, sebagai berikut :

   1. Bagaimana     Pengalihan      Hak   Paten Terhadap   Pemegang     Lisensi

      Teknologi Layar Sentuh (Touch Screen) berdasarkan Undang-Undang

      Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten?

   2. Bagaimana perlindungan hukum yang diberikan oleh Undang-Undang

      Nomor 14 tahun 2001 Tentang Paten terhadap pemegang Hak Paten

      Teknologi Layar Sentuh (touch screen)?



C. Maksud dan Tujuan Penelitian

   1. Untuk mengkaji dan menganalisis pengalihan hak paten terhadap

      pemegang lisensi teknologi Layar Sentuh (Touch Screen) berdasarkan

      perjanjian lisensi menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001

      Tentang Paten.

   2. Untuk mengkaji dan menganalisis perlindungan hukum yang diberikan

      oleh Undang-Undang Nomor 14 tahun 2001 Tentang Paten terhadap

      pemegang hak paten teknologi Layar Sentuh (touch screen).



D. Kegunaan Penelitian

   Dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh kegunaan baik secara teoritis

   maupun secara praktis, yaitu :

   1. Secara Teoritis

      Diharapkan dapat digunakan sebagai sarana pengembangan ilmu hukum

      terutama di bidang Hak Kekayaan Intelektual sehingga dapat menambah

      referensi ilmiah yang berguna untuk pengembangan ilmu hukum.
                                                                                   7



    2. Secara Praktis

        Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi aparat

        pembentuk    undang-undang       dan   penegak      hukum   lainnya   dalam

        hubungannya dengan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual.



E. Kerangka Pemikiran

    Para pencipta sebagai mahluk Tuhan yang dikaruniai akal dan budi pada

    umumnya berkemampuan menciptakan berbagai ciptaan di bidang ilmu

    pengetahuan, sastra dan seni seperti buku, program komputer, susunan

    perwajahan yang diterbitkan dan semua hasil karya tulis lainnya. 1 Hasil

    olahan tersebut berupa respon atau tanggapan yang berupa ucapan atau

    tulisan yang biasa disebut sebagai hasil karya cipta.



    Pembangunan nasional bertujuan untuk memajukan kesejahteraan umum

    sebagaimana tercantum dalam alinea kedua Undang-Undang Dasar 1945,

    yaitu :

    ”Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indoesia telah sampailah kepada

    saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan ke depan pintu

    gerbang kemerdekaan negara Indoesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat,

    adil dan makmur”



    Pembukaan alinea kedua ini nampak melekat dengan konsep pemikiran

    utilitarianisme, terutama pada makna ”adil dan makmur”. Sebagaimana

    bahwa tujuan hukum pada dasarnya adalah memberikan kesejahteraan bagi

1
 Lindsey BA Tim, B.,Blit., dan Eddy Damian, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar,
Alumni, Bandung: 2003, hlm. 23.
                                                                               8



    masyarakat, sebagaimana tokoh dari aliran Utility (kebahagiaan) yaitu

    Jeremy Bentham yang menjelaskan ”the great happiness for the greatest

    numbers”. Makna adil dan makmur, harus dipahami sebagai kebutuhan

    masyarakat Indonesia, baik yang bersifat rohani ataupun jasmani. Secara

    yuridis hal ini menunjuk kepada seberapa besar kemampuan hukum untuk

    dapat memberikan kemanfaatan kepada masyarakat. Dengan kata lain,

    seberapa besar sebenarnya hukum mampu melaksanakan atau mencapai

    hasil-hasil yang diinginkan, karena hukum dibuat dengan penuh kesadaran

    oleh negara dan ditujukan kepada tujuan tertentu.2



    Berbicara mengenai Hak Kekayaan Intelektual, berarti turut menyinggung

    mengenai unsur ekonomi yang dalam Penelitian ini diwujudkan dalam bentuk

    pembayaran royalti yang dilakukan oleh pemegang lisensi kepada pemegang

    hak paten teknologi layar sentuh (touch screen). Sesuai dengan makna ”adil

    dan makmur” itu sendiri yang ada kaitannya dengan unsur ekonomi.



    Kemudian selain dalam alinea ke 2, tujuan pembangunan nasional yaitu

    untuk memajukan kesejahteraan umum juga tercantum dalam alinea ke 4

    Undang-Undang Dasar 1945 yang menjelaskan bahwa:

    “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara
    Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
    darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
    kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
    berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka
    disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-
    Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan
    Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar
    kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab,

2
 Otje Salman Soemadiningrat, Teori Hukum Mengingat, Mengumpulkan dan membuka
kembali, Bandung: Refika Aditama, 2004, hlm 156-157.
                                                                             9



Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpi oleh hikmat kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”


Pembukaan alinea keempat ini menjelaskan tentang Pancasila yang terdiri

dari lima sila yang menyangkut keseimbangan kepentingan, baik kepentingan

individu, masyarakat dan penguasa. Alinea keempat pembukaan Undang-

Undang Dasar 1945, merupakan konsep yang luhur dan murni. Luhur karena

mencerminkan nilai-nilai bangsa yang diwariskan turun temurun dan abstrak.

Murni karena kedalaman substansi yang menyangkut beberapa aspek pokok,

baik agamis, ekonomis, ketatanan, sosial, dan budaya yang memiliki corak

partikular. Pancasila secara konsep dapat disebut sebagai suatu sistem

tentang segala hal, karena secara konseptual segala sesuatu yang tertuang

dalam sila-sila pancasila berkaitan erat dan tidak dapat untuk dipisahkan.



Sila-sila dalam pancasila seluruhnya dijiwai oleh oleh sila pertama. Apabila

dilihat secara bulat atau holistik (satu kesatuan), yaitu dengan melihat dasar

pikiran dalam sila pertama, ketiga, dan kelima maka keseimbangan

merupakan     substansi    pokok   yang    terkandung    didalam    Pancasila.

Keseimbangan     yang     dijelaskan   dalam   keseluruhan    silanya   adalah

keseimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan penguasa,

yang dituntun oleh ketuhanan.



Salah satu cara untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional tersebut

adalah melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang Hak

Kekayaan Intelektual. Memajukan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat

secara adil dan merata maksudnya adalah dalam fungsi perlindungan Hak
                                                                       10



Kekayaan Intelektual dalam hal ini kaitannya dengan perlindungan Hak Paten

yang dipegang oleh seseorang atas suatu temuannya berupa teknologi Layar

Sentuh (touch screen) bukan hanya mengejar kepentingan ekonomis saja,

tetapi juga sarat dengan fungsi-fungsi sosial.



Selain itu dalam perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dalam hal ini

kaitannya dengan perlindungan Hak Paten yang dipegang oleh seseorang

atas suatu temuannya berupa teknologi Layar Sentuh (touch screen) harus

memperhatikan keaslian ide dari temuannya tersebut, dalam hal ini

penemuan tersebut merupakan ide asli dari penemu atau berasal dari orang

lain. Kemudian harus dilihat penemuannya tersebut sudah ada yang

mendaftarkan sebelumnya atau belum, dan penemuannya tersebut berupa

temuan yang baru atau pengembangan dari hasil penemuan yang sudah

ada.



Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 berbunyi :

“Negara Indonesia adalah negara hukum”

Berdasarkan pasal tersebut, dapat diketahui bahwa landasan adanya negara

hukum (rechstaat), adalah bukan negara yang berdasarkan atas kekuasaan

belaka (machstaat), sehingga segala kekuasaan dan alat-alat pemerintahan

didasarkan atas hukum. Negara hukum adalah negara yang diperintah oleh

hukum bukan oleh orang atau kelompok orang (a state that not governed by

men, but by laws). Supomo dalam bukunya UUDS RI mengartikan istilah

negara hukum sebagai negara yang tunduk kepada hukum, peraturan

perundang-undangan yang berlaku bagi segala alat negara, badan negara,
                                                                               11



    dan semua komponen negara3. Oleh karena itu dalam mewujudkan

    perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi setiap karya cipta harus

    mendapatkan perlindungan hukum karena Indonesia adalah Negara hukum

    seperti apa yang telah dirumuskan dalam pasal tersebut.



    Peraturan Presiden No 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan

    Jangka Menengah Nasional (yang selanjutnya disebut RPJMN) yang

    berkaitan terhadap teknologi Layar Sentuh (touch screen) terdapat pada Bab

    9 yaitu mengenai Pembenahan Sistem dan Politik Hukum yang menyatakan

    bahwa:

    “Pasal 1 ayat (3) Bab I, Amandemen Ketiga Undang-Undang Dasar 1945,
    menegaskan kembali bahwa ‘Negara Indonesia adalah Negara Hukum’.
    Artinya. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang
    berdasar atas hukum (rechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan
    (machtstaat), dan pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi (hukum
    dasar), bukan absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Sebagai
    konsekuensi dari Pasal 1 ayat (3) Amandemen ketiga Undang-Undang Dasar
    1945, 3 (tiga) prinsip dasar wajib dijunjung oleh setiap warga negara yaitu
    supremasi hukum; kesetaraan di hadapan hukum; dan penegakan hukum
    dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan hukum.”

    “Peraturan perundang-undangan yang baik akan membatasi, mengatur dan
    sekaligus memperkuat hak warganegara. Pelaksanaan hukum yang
    transparan dan terbuka di satu sisi dapat menekan dampak negatif yang
    dapat ditimbulkan oleh tindakan warga negara sekaligus juga meningkatkan
    dampak positif dari aktivitas warga negara. Dengan demikian hukum pada
    dasarnya memastikan munculnya aspek-aspek positif dari kemanusiaan dan
    menghambat aspek negatif dari kemanusiaan. Penerapan hukum yang ditaati
    dan diikuti akan menciptakan ketertiban dan memaksimalkan ekspresi
    potensi masyarakat.”

    “Dengan demikian, penegakan hukum dan ketertiban merupakan syarat
    mutlak bagi upaya-upaya penciptaan Indonesia yang damai dan sejahtera.
    Apabila hukum ditegakkan dan ketertiban diwujudkan, maka kepastian, rasa

3
 Supomo, Dikutip dalam Skripsi Juju Juhariah, Tinjauan Hukum tentang Tindak Pidana
Penipuan Finansial melalui Media Elektronik Dihubungkan dengan Pasal 378 Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana, Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas
Komputer Indonesia, Bandung, 2007, hlm.9.
                                                                          12



aman, tenteram, ataupun kehidupan yang rukun akan dapat terwujud.
Ketiadaan penegakan hukum dan ketertiban akan menghambat pencapaian
masyarakat yang berusaha dan bekerja dengan baik untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang erat
antara damai, adil dan sejahtera. Untuk itu perbaikan pada aspek keadilan
akan memudahkan pencapaian kesejahteraan dan kedamaian.”


Berdasarkan huruf B Bab 9 RPJMN mengenai Sasaran dari Pembenahan

Sistem dan Politik Hukum yang menyatakan bahwa:

“Untuk mendukung pembenahan sistem dan politik hukum, sasaran yang
akan dilakukan dalam tahun 2004-2009 adalah terciptanya sistem hukum
nasional yang adil, konsekuen, dan tidak diskriminatif (termasuk tidak
diskriminatif terhadap perempuan atau bias gender); terjaminnya konsistensi
seluruh peraturan perundang-undangan pada tingkat pusat dan daerah, serta
tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang lebih tinggi; dan
kelembagaan peradilan dan penegak hukum yang berwibawa, bersih,
profesional dalam upaya memulihkan kembali kepercayaan hukum
masyarakat secara keseluruhan.”


Dilanjutkan dengan Peraturan Presiden No 7 Tahun 2005 Tentang Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional (yang selanjutnya disebut

RPJMN) yang berkaitan terhadap teknologi Layar Sentuh (touch screen)

terdapat pada Bab 22 yaitu mengenai peningkatan kemampuan ilmu

pengetahuan dan teknologi yang menyatakan bahwa:

 “Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya
ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka
membangun peradaban bangsa. Sejalan dengan paradigma baru di era
globalisasi yaitu Tekno-Ekonomi (Techno-Economy Paradigm), teknologi
menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan
kualitas hidup suatu bangsa. Implikasi paradigma ini adalah terjadinya proses
transisi perekonomian dunia yang semula berbasiskan pada sumber daya
(Resource Based Economy) menjadi perekonomian yang berbasiskan
pengetahuan (Knowledge Based Economy/KBE). Pada KBE, kekuatan
bangsa diukur dari kemampuan iptek sebagai faktor primer ekonomi
menggantikan modal, lahan dan energi untuk peningkatan daya saing.”

“Pembangunan iptek merupakan sumber terbentuknya iklim inovasi yang
menjadi landasan bagi tumbuhnya kreativitas sumberdaya manusia (SDM),
yang pada gilirannya dapat menjadi sumber pertumbuhan dan daya saing
ekonomi. Selain iptek menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi proses
transformasi sumberdaya menjadi sumberdaya baru yang lebih bernilai.
                                                                           13



    Dengan demikian peningkatan kemampuan iptek sangat diperlukan untuk
    meningkatkan standar kehidupan bangsa dan negara, serta kemandirian dan
    daya saing bangsa Indonesia di mata dunia.”


    Berdasarkan huruf B Bab 22 RPJMN mengenai Sasaran dari Peningkatan

    Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yaitu:

    “ Sasaran dari Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
    adalah:
    1. Tumbuhnya penemuan iptek baru sebagai hasil litbang nasional yang
        dapat dimanfaatkan bagi peningkatan nilai tambah dalam sistem produksi
        dan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara lestari
        dan bertanggung jawab.
    2. Meningkatnya ketersediaan, hasil guna, dan daya guna sumberdaya
        (SDM, sarana, prasarana dan kelembagaan) iptek.
    3. Tertatanya mekanisme intermediasi untuk meningkatkan pemanfaatan
        hasil litbang oleh dunia usaha dan industri, meningkatnya kandungan
        teknologi dalam industri nasional, serta tumbuhnya jaringan kemitraan
        dalam kerangka sistem inovasi nasional.
    4. Terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kreativitas, sistem
        pembinaan dan pengelolaan hak atas kekayaan intelektual, pengetahuan
        lokal, serta sistem standarisasi nasional.”


    TRIPs (Trade Related Intellectual Property Rights) sebagai lampiran WTO

    (World Trade Organitation) Agreement merupakan dokumen yang mengikat

    Indonesia karena telah meratifikasi persetujuan tersebut dengan Undang-

    Undang    Nomor    7   Tahun    1994   Tentang   Pengesahan   Persetujuan

    Pembentukan     Organisasi     Perdagangan   Dunia.   Berdasarkan   hukum

    internasional, persetujuan internasional yang telah diratifikasi merupakan

    hukum nasional bagi negara itu sendiri4.



    Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001

    Tentang Paten merumuskan, bahwa:




4
  Achmad Zen Umar Purba, Hak Kekayaan Intelektual Pasca TRIPs, Bandung, PT
Alumni, 2005, hlm 21.
                                                                         14



“Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas

hasil invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu

melaksanakan sendiri invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya

kepada pihak lain untuk melaksanakannya”.



Selanjutnya Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang

Paten merumuskan, bahwa:

“Paten diberikan untuk invensi yang baru dan mengandung langkah inventif

serta dapat diterapkan dalam industri”.



Berdasarkan ketentuan isi dari pasal tersebut, teknologi layar sentuh (touch

screen) yang merupakan suatu invensi di bidang teknologi adalah salah satu

ciptaan yang dapat dilindungi karena teknologi layar sentuh (touch screen)

dapat diterapkan dan dapat dilaksanakan dalam kegiatan industri. Invensi

teknologi tersebut dapat didaftarkan sebagai hak paten dan hasilnya dapat

dipublikasikan kembali untuk umum sebagai ilmu pengetahuan baru pada

teknologi informasi, yaitu sebuah teknologi yang dapat memberikan

kemudahan di bidang telekomunikasi yaitu teknologi layar sentuh (touch

screen).



Selanjutnya Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001

Tentang Paten merumuskan, bahwa:

“Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam Pasal 16 ayat (1), Pemegang

Paten wajib membuat produk atau menggunakan proses yang diberi Paten di

Indonesia”.
                                                                                15




    Isi pasal tersebut menjelaskan pemegang paten memiliki hak khusus

    melaksanakan paten yang dimiliki, dan melarang orang lain yang tanpa

    persetujuannya:

    a. Paten Produk

       Membuat, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, memakai,

       menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan hasil produksi

       yang diberi paten.

    b. Paten Proses

       Menggunakan proses produksi yang diberi paten untuk membuat

       barang5.



    Selanjutnya Pasal 1 angka 13 Undang-Undang No.14 tahun 2001 tentang

    Paten, menjelaskan:

    “Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Paten kepada pihak lain

    yang berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk menikmati manfaat

    ekonomi dari suatu Paten yang diberi perliindungan dalam jangka waktu dan

    syarat tertentu”.

    Berdasarkan isi pasal tersebut, maka terdapat jenis-jenis Lisensi Paten yaitu:

    a. Lisensi Ekslusif

       Penerima lisensi memiliki hak tunggal, membuat, mempergunakan atau

       menjual produk paten.

    b. Lisensi Noneksklusif




5
 Sentosa Sembiring, Prosedur Dan Tata Cara Memperoleh Hak Kekayaan Intelektual Di
Bidang Hak Cipta Paten Dan Merek, Yrama Widya, Bandung, 2002, hlm 29.
                                                                               16



          Penerima hak lisensi, membuat hak untuk mempergunakan temuan

          tersebut dan memberikan lisensi kepada pihak lain.

      c. Lisensi Silang

          Pemegang paten memberikan lisensi kepada ppihak lain, sebaliknya

          pihak lain juga memberi lisensi.

      d. Paket Lisensi

          Pemegang paten membuat perjanjian lisensi dalam satu paket.

      e. Dalam satu Pool (disamakan)

          Biasanya jenis paket ini berlaku untuk perusahaan kecil6.



      Pasal 73 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten yang

      menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai perjanjian lisensi diatur

      dengan Peraturan Pemerintah. Oleh karena hingga saat ini Peraturan

      Pemerintah tersebut belum ada maka segala ketentuan mengenai perjanjian

      lisensi wajib dibuat dan tunduk pada ketentuan umum sebagaimana diatur

      dalam Kitab Undang-Undang Perdata (BW) dan kesepakatan para pihak,

      selama tidak bertentangan dengan aturan-aturan hukum lainnya.



      Di Indonesia pengaturan mengenai perjanjian diatur melalui Pasal 1313 Jo.

      Pasal 1320 Jo Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW). Hal

      itu berarti pengalihan hak paten berdasarkan perjanjian lisensi harus tunduk

      mengikuti kepada ketiga pasal tersebut. Berdasarkan Pasal 1313 Kitab

      Undang-Undang Hukum Perdata (BW), menyatakan bahwa:




6
    Sentosa Sembiring, Loc. Cit
                                                                        17



“Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih

mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”

Hal itu menyiratkan bahwa perjanjian lisensi paten teknologi layar sentuh

(touch screen) dapat dilakukan kepada satu orang atau lebih.



Dalam prakteknya lisensi dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang menjadi

landasan hukum bagi pihak pemegang lisensi untuk melaksanakan

perbuatan (lisensi/pengalihan hak paten). Isi perjanjian hanya dibuat

berdasarkan kesepakatan para pihak dan harus memenuhi syarat sahnya

perjanjian. Berikut ini adalah syarat sahnya perjanjian:

Berdasarkan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW),

menyatakan bahwa:

“Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. Suatu hal tertentu;
4. Suatu sebab yang halal.”


1. Kesepakatan para pihak maksudnya adalah harus ada persesuaian

   kehendak antara pihak yang membuat perjanjian baik diungkapkan

   secara tegas maupun diam-diam. Apabila kesepakatan timbul karena

   adanya paksaan, kekhilafan atau kekeliuran maka perjanjian dapat

   dibatalkan artinya perjanjian masih berlaku sampai dibatalkan oleh hakim

   atas permintaan para pihak, dengan demikian kesepakatan ini merupakan

   salah satu syarat subjektif untuk sahnya perjanjian.

2. Kecakapan para pihak merupakan syarat umum untuk dapat melakukan

   perbuatan hukum yang sah. Seseorang dikatakan cakap hukum
                                                                        18



   (rechtsbekwaamheid) apabila telah dewasa, sehat akal pikiran dan tidak

   dilarang oleh peraturan perundang-undangan. Dewasa menurut Pasal 47

   Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan adalah telah

   berusia 18 tahun atau telah menikah. Sehat akal pikiran artinya tidak

   cacad mental, bukan pemboros,dan tidak berada di bawah pengampuan

   sesuai Pasal 1330 jo 433 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW).

   Apabila syarat kecakapan yang juga merupakan syarat subjektif ini tidak

   terpenuhi dalam satu perjanjian makaperjanjian dapat dibatalkan

   sebagaimana dijelaskan dalam pada bagian sebelumnya.

3. Suatu hal tertentu dalam perjanjian adalah barang yang menjadi objek

   suatu perjanjian yaitu barang yang dapat diperdagangkan sebagaimana

   diatur dalam Pasal 1332 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW)

   yang menjelaskan bahwa barang yang menjadi objek suatu perjanjian

   tertentu harus tertentu atau setidak-tidaknya harus ditentukan jenisnya,

   sedangkan jumlahnya tidak perlu ditentukan asalkan saja kemudian dapat

   ditentukan dan diperhitungkan.

4. Suatu sebab yang halal merupakan syarat objektif lain untuk sahnya

   perjanjian. Berdasarkan Pasal 1335 Kitab Undang-Undang Hukum

   Perdata (BW) yang menyatakan bahwa suatu perjanjian tanpa sebab atau

   yang telah dibuat karena suatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak

   mempunyai kekuatan.



Hal itu menyiratkan apabila salah satu dari syarat tersebut tidak terpenuhi

maka perjanjian lisensi pengalihan hak paten teknologi layar sentuh (touch

screen) tidak akan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dan batal

demi hukum.
                                                                                 19




    Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW),

    menyatakan bahwa:

    “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang

    bagi mereka yang membuatnya.”

    Hal itu menyiratkan, bahwa sesungguhnya kesepakatan perjanjian lisensi

    pengalihan hak paten teknologi layar sentuh (touch screen) berlaku sebagai

    undang-undang bagi kedua belah pihak yang melakukan perjanjian tersebut.



    Konsep teori hukum menurut Mochtar Kusumaatmadja adalah:

    1. Bahwa hukum tidak boleh menghambat proses moderenisasi

    2. Hukum dapat berfungsi sebagai sarana pembangunan

    3. Hukum dapat berfungsi sebagai sarana rekayasa kemasyarakatan7.

    Sehingga, ketiga teori tersebut dijadikan konsep negara hukum.



    Hukum tidak boleh menghambat moderenisasi adalah hukum yang

    berorientasi ke masa depan dan menciptakan manusia yang moderen yang

    ukurannya adalah rasional, jujur, tepat waktu, efisien, status timbul (tidak

    gengsi), hukum dalam hal ini tidak boleh mencegah perkembangan teknologi

    yang sedang berkembang di negara Indonesia saat ini karena teknologi

    merupakan ilmu pengetahuan yang dapat memajukan bangsa Indonesia

    menjadi lebih baik sehingga dapat bergabung di dunia internasional sebagai

    pengembang teknologi informasi terutama pada perkembangan teknologi

    informasi komputer. Hukum dapat berfungsi sebagai sarana pembangunan,

7
 R. Otje Salman. S, Filsafat Hukum, Catatan Perkuliahan, Fakultas Hukum, Universitas
Komputer Indonesia, Bandung, 2009.
                                                                        20



artinya merubah alam pikiran masyarakat dari pikiran tradisional ke moderen

dengan menciptakan pengetahuan dari hasil karya cipta. Teknologi Layar

Sentuh (Touch Screen) yaitu suatu peranti elektronik seperti suatu telepon,

PDA (Personal Digital Assistant), atau penyeranta, mencakup suatu masukan

yang dapat dioperasikan secara manual seperti suatu tombol elastomerik

atau tombol, atau suatu Layar Sentuh yang tidak dengan sendirinya

memberikan umpan balik yang nyata atau pergerakkan, dan juga mencakup

suatu transduser elektromekanik yang mampu membangkitkan suatu impuls

energi mekanik yang dapat dirasakan. Sebagai tanggapan atas pendeteksian

pergerakkan masukan yang dapat dioperasikan secara manual, transduser

elektromekanik digerakkan untuk menghasilkan suatu impuls energi mekanik

yang menyebarkan ke masukan yang dapat dioperasikan secara manual dan

memberikan umpan balik yang nyata kepada seorang pengguna. Teknologi

Layar Sentuh (Touch Screen) merupakan salah satu penemuan yang baru di

bidang teknologi, maka harus diatur sesuai dengan ketentuan hukum positif

di Indonesia yang dilandasi dengan fungsi hukum itu sendiri. Hukum dapat

berfungsi sebagai sarana rekayasa kemasyarakatan, rekayasa sama artinya

dengan alat (sarana industri dan informasi). Negara Indonesia saat ini

memiliki sarana untuk mendapatkan informasi secara global dan sudah

merupakan suatu industri baru, hal tersebut menyebabkan negara Indonesia

menjadi negara yang moderen sehingga dapat bermunculan kejahatan di

berbagai bidang termasuk bidang Hak Kekayaan Intelektual. Perkembangan

teknologi informasi yang pesat di Indonesia menyebabkan perlu adanya

peraturan yang melindungi suatu temuan yang baru di bidang teknologi.

Moderenisasi tersebut harus dibatasi oleh hukum karena hukum sebagai
                                                                               21



    social control (pengendalian masyarakat)8, dengan adanya kepastian hukum,

    maksudnya peraturan tersebut benar-benar dilaksanakan yang didukung oleh

    penegak hukum sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku di

    Indonesia maka hukum sebagai pengaturan yang tegas dalam menghadapi

    kejahatan yang lebih moderen sesuai dengan perkembangan zaman9.

    Tujuan terhadap perlindungan hukum terhadap Hak Kekayaan Intelektual

    dalam hal ini perlindungan terhadap Hak Paten atas penemuan teknologi

    Layar     Sentuh   (Touch   Screen)   adalah   untuk   mendorong     kegiatan

    perekonomian, memantapkan pertahanan dan keamanan, mencerdaskan

    kehidupan bangsa, memperlancar kegiatan pemerintah, memperkukuh

    persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka wawasan nusantara, dan

    memantapkan ketahanan nasional serta meningkatkan hubungan antar

    bangsa.



F. Metode Penelitian

    1. Spesifikasi Penelitian

       Spesifikasi penulisan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis yaitu

       dengan melukiskan fakta-fakta berupa data sekunder bahan hukum

       primer berupa peraturan perundang-undangan, data sekunder bahan

       hukum sekunder berupa pendapat para ahli di bidang hukum serta di

       bidang Hak Kekayaan Intelektual pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan

       Intelektual, Direktorat Paten, juga data sekunder bahan hukum tersier




8
 Otje Salman. S, Loc. Cit
9
 www.dgip.ipdl.go.id, Publikasi Paten Touch Screen, diakses pada 11 Februari 2009.
Pukul 12.30 WIB
                                                                            22



   berupa artikel, majalah, koran, buku-buku dan data yang diperoleh

   melalui media internet.



2. Metode Pendekatan

   Metode pendekatan dalam penelitian ini dilakukan secara yuridis normatif

   artinya penelitian yang didasarkan pada data sekunder dengan tujuan

   untuk   mengetahui     hukum     positif   yang   dapat   diterapkan   pada

   permasalahan tertentu. Penafsiran hukum yang dilakukan yaitu dengan

   melakukan penafsiran gramatikal, yaitu penafsiran yang dilakukan

   dengan kata-kata atau tata kalimat yang digunakan pembuat undang-

   undang dalam peraturan perundang-undangan tertentu.



3. Tahap Penelitian

   Studi Kepustakaan (Library Research)

   Peneliti dalam tahap penelitian ini, mendapatkan data melalui studi

   kepustakaan, diantaranya :

   a. Mencari data sekunder bahan hukum primer berupa peraturan

      perundang-undangan yang berkaitan dengan objek penelitian seperti

      Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten.

   b. Mencari data sekunder bahan hukum sekunder berupa buku-buku

      yang berkaitan dengan Hak Kekayaan Intelektual.

   c. Mencari data sekunder bahan hukum tersier yaitu data berupa artikel

      dari surat kabar yang diperoleh dari website-website di media internet

      serta data dari instansi terkait.
                                                                          23



4. Teknik Pengumpulan Data

   Teknik pengumpulan data diperoleh dari peraturan perundang-undangan,

   buku-buku yang berkaitan dengan Hak Kekayaan Intelektual, artikel dari

   beberapa surat kabar serta artikel yang diperoleh melalui website-website

   di internet yang mana keseluruhannya berkaitan dengan materi dalam

   pembahasan penulisan ini.



5. Analisis Data

   Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara yuridis kualitatif yang

   bertujuan agar hirarki peraturan perundang-undangan dapat diperhatikan,

   peraturan perundang-undangan yang satu tidak bertentangan dengan

   peraturan perundang-undangan yang lain, mencapai kepastian hukum

   dan sesuai dengan ketentuan Pasal 28 Undang-Undang No. 4 Tahun

   2004 Tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman yaitu untuk mencari

   hukum tertulis dan tidak tertulis.



6. Lokasi Penelitian

   Lokasi   penelitian   untuk    memperoleh   data   dalam   penulisan   ini

   diantaranya:

   a. Perpustakaan Universitas Komputer Indonesia di kota Bandung

   b. Perpustakaan Universitas Padjadjaran di kota Bandung.

   c. Kantor Wilayah Jawa Barat Direktorat Jenderal Hak Kekayaan

       Intelektual, Jl. Jakarta Nomor 27 Bandung 40272.

   d. Kantor Notaris dan PPAT Herati Adibah, S.H, Jl. Jalaprang No. 91

       Kota Bandung
                                                                         24



d. Kantor   Pusat    Direktorat   Jenderal   Hak      Kekayaan   Intelektual

   Departemen Hukum Dan HAM Republik Indonesia, Jl. Daan Mogot

   Km. 24 Tangerang15119 Banten

e. Website, dengan situs-situs sebagai berikut :

   Publikasi Paten Touch Screen, http://www.dgip.ipdl.go.id

   Definition of touch screen, http://www.wikipedia.com

   Peralatan bergerak, http://id.wikipedia.org/wiki

   Telepon genggam, http://id.wikipedia.org/wiki

   Perkembangan Teknologi Telepon selular di Indonesia,
       http://www.detik.com
   Mengenal Layar Sentuh & Komponen utamanya,
        http://www.okezone.com
   Teknologi Tua yang Masih Elegan, http://www.kompas.com

   Aplikasi layar sentuh pada peralatan elektronik jaman modern,
        http://www.bloraku.com
   Teknologi touch screen, http://www.blog.unila.ac.id

   Definiton of touch screen, http://groups.google.co.id
                                                                             25



                                     BAB II

  TINJAUAN TEORI MENGENAI PENGALIHAN HAK PATEN TEKNOLOGI

LAYAR SENTUH (TOUCH SCREEN) BERDASARKAN PERJANJIAN LISENSI



A. Ruang Lingkup Hak Paten

1. Pengertian dan istilah Hak Paten

   Menurut Undang-undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten, hak paten

   adalah hak ekslusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil

   invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu

   melaksanakan sendiri invensinya tersebut tanpa memberikan persetujuannya

   kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Ide inventor yang dituangkan ke

   dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi

   (invensi), dapat berupa produk atau penyempurnaan dan pengembangan

   produk atau proses. Suatu penemuan mengandung langkah inventif, apabila

   penemuan tersebut bagi seseorang yang mempunyai keahlian biasa

   mengenai teknik merupakan hal yang tidak dapat diduga sebelumnya.

   Penilaian bahwa suatu penemuan merupakan hal yang tidak dapat diduga

   harus dilakukan dengan meperhatikan keahlian yang ada pada saat diajukan

   permintaan pertama dalam hal permintaan itu diajukan dengan prioritas. Hak

   prioritas adalah hak pemohon untuk mengajukan permohonan yang berasal

   dari negara yang tergabung dalam Paris Convention For Protection Of

   Industrial   Property   atau   Agreement   Establishing   The   World   Trade

   Organization untuk memperoleh pengakuan bahwa tanggal penerimaan di

   negara asal merupakan tanggal prioritas di negara tujuan yang juga anggota

   salah satu dari kedua perjanjian itu selama pengajuan tersebut dilakukan
                                                                             26



     dalam kurun waktu yang telah ditentukan berdasarkan Paris Convention

     tersebut.



     Laten (latent) adalah kata dalam bahasa latin yang berarti terselubung.

     Sedangkan lawan dari kata laten adalah paten (patent) yang berarti terbuka.

     Arti kata terbuka di dalam paten adalah berkaitan dengan invensi yang

     dimintakan paten. Semua rahasia yang berkaitan dengan invensi tersebut

     harus diuraikan dalam sebuah dokumen yang disebut spesifikasi paten yang

     dilampirkan   bersamaan    dengan    permohonan     paten.    Pada   tahap

     pengumuman, informasi mengenai invensi yang diajukan paten tersebut,

     diumumkan kepada publik dengan cara menempatkannya pada Berita Resmi

     Paten dan pada sarana khusus yang disediakan oleh Dirjen10.



     Pada dasarnya paten adalah hasil kreatifitas seseorang dalam bidang

     teknologi yang membawa dampak pengembangan dalam ilmu pengetahuan

     dan memiliki nilai ekonomis. Segala macam invensi dapat dipatenkan,

     dengan syarat invensi tersebut berguna dan memang belum ada dalam

     lapangan teknologi yang bersangkutan. Senyawa kimia, mesin, proses

     pembuatan, bahkan jenis mahluk yang baru sekalipun dapat dipatenkan.



     Hak yang diperoleh melalui paten adalah hak khusus untuk menggunakan

     invensi yang telah dilindungi paten serta melarang pihak lain melaksanakan

     invensi tersebut tanpa persetujuan dari pemegang paten. Oleh karena itu,



10
  Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Buku Panduan Hak Kekayaan
Intelektual, DIRJEN HKI DEPHUMHAM RI, Tangerang: 2006, hlm 23
                                                                                      27



      pemegang paten harus mengawasi haknya agar tidak dilarang oleh pihak

      lain.



      Sebelum memutuskan untuk mengajukan permohonan paten, inventor harus

      mempertimbangkan          terlebih   dahulu   keuntungan      dan   kerugian   dari

      perlindungan paten tersebut. Selain itu, inventor juga harus mengungkapkan

      seluruh rahasia dagang invensinya termasuk contoh bagaimana sebaiknya

      menjalakan invensi tersebut yang tertuang dalam spesifikasi paten yang

      diajukan.



      Ada 4 (empat) keuntungan sistem paten jika dikaitkan dengan perannya

      dalam meningkatkan perkembangan teknologi dan ekonomi, yaitu:

      1.      Paten membantu menggalakkan perkembangan teknologi suatu Negara;

      2. Paten membantu menciptakan suasana yang kondusif bagi tumbuhnya

           industri-industri lokal;

      3. Paten membantu perkembangan teknologi dan ekonomi negara lain

           dengan fasilitas lisensi;

      4. Paten membantu tercapainya alih teknologi dari negara maju ke negara

           berkembang11.



      Selain keuntungan, terdapat juga kerugian dari sistem paten. Kerugian paten

      tersebut adalah berkaitan dengan biaya paten yang relatif begitu mahal dan




11
     Lindsey BA Tim, B.,Blit., dan Eddy Damian, Op. Cit, hlm. 184
                                                                                       28



      jangka waktu perlindungan yang relatif singkat, yaitu 20 (dua puluh) tahun

      untuk paten biasa dan 10 (sepuluh) tahun untuk paten sederhana12.



2. Sejarah Hak Paten.

      HaKI belum menjadi peranan yang penting di Indonesia sebelum tahun

      1980an. Pada awal 1980an terobosan di bidang HaKI telah banyak dilakukan

      oleh pemerintah seiring dengan berkembangnya perekonomian dan industri

      di   Indonesia.   Kesadaran      pemerintah      akan   arti   penting   HaKI   bagi

      pembangunan ekonomi menjadi faktor penyebab perubahan tersebut. Faktor

      lainnya yang tidak dapat dikesampingkan adalah karena permintaan dari

      negara-negara      maju    terhadap     negara-negara      berkembang     termasuk

      Indonesia untuk lebih memperhatikan dan meningkatkan perlindungan HaKI.

      Permintaan tersebut juga disertai ancaman berupa beberapa fasilitas dagang

      seperti Generalized System of Preference (GSP), jika pemerintah tidak

      membuat      undang-undang       yang    lebih    moderen      dan   komprehensif.

      Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka di buatlah beberapa peraturan

      perundang-undangan di bidang HaKI seperti Undang-undang Hak Cipta pada

      tahun 1982, Undang-undang Paten pada tahun 1989 dan Undang-undang

      Merek pada tahun 1992. Kehadiran Undang-undang Paten dari ketiga

      undang-undang mengenai HaKI merupakan sebuah momentum penting bagi

      bangsa Indonesia. Berbeda dengan Hak cipta yang telah diatur oleh

      Auteurswet 1912 serta Merek yang diatur dengan Undang-undang Merek

      Tahun 1962, sejak tahun 1945 Indonesia belum memiliki undang-undang

      satupun yang mengatur tentang paten. Sebelum kemerdekaan sebenarnya



12
     Lindsey BA Tim, B.,Blit., dan Eddy Damian, Loc. Cit
                                                                                   29



      sudah ada undang-undang yang mengatur tentang paten di wilayah Hindia

      Belanda yang dikenal sebagai Oktroi . Akan tetapi undang-undang tersebut

      tidak diberlakukan oleh pemerintah karena isi dari undang-undang tersebut

      dianggap melanggar kedaulatan Indonesia sebagai negara yang baru

      merdeka. Kekosongan perlindungan paten pada saat itu tidak dapat

      dihindarkan,    meskipun usaha        untuk    mengatasinya   sudah   dilakukan.

      Contohnya pada tahun 1953 melalui Menteri Kehakiman, pemerintah

      membolehkan para pemilik paten untuk mendaftarkan paten mereka di

      Indonesia . Usaha tetap berlanjut pada tahun-tahun berikutnya sehingga

      pada tahun 1955 Rancangan Undang-undang (RUU) Paten berhasil disusun.

      Pada akhirnya, RUU ini tidak ditindaklanjuti. Menyadari akan semakin

      pentingnya peran paten dalam pembangunan, pemerintah kembali membuat

      RUU Paten pada tahun 1965. Sama halnya dengan RUU Paten terdahulu,

      RUU ini pun tidak sampai melahirkan sebuah undang-undang yang sangat

      dinantikan oleh peneliti di Indonesia. Upaya untuk membuat sebuah Undang-

      undang Paten kembali dirintis oleh pemerintah pada tahun 1984 dan

      ditindaklanjuti dengan membuat tim khusus melalui Keppres Nomor 34 Tahun

      1986 yang bertugas membuat Undang-undang Paten yang lebih moderen

      dan sistematis. Usaha tersebut membuahkan hasil pada awal tahun 1989

      ketika pemerintah mengajukan RUU Paten ke DPR. Pada akhir tahun 1989,

      RUU Paten tersebut berhasil disahkan menjadi Undang-undang Nomor 6

      Tahun 1989 yang diberlakukan secara efektif pada tahun 199113. Seiring

      dengan kemajuan ekonomi dan perkembangan teknologi, usaha untuk

      menghadirkan Undang-undang Paten yang moderen dan sesuai dengan



13
     Lindsey BA Tim, B.,Blit., dan Eddy Damian, Op. Cit, hlm. 204
                                                                                        30



      kondisi perdagangan terus dilakukan oleh pemerintah. Terutama sejak

      Indonesia meratifikasi persetujuan pembentukan WTO beserta dengan

      perjanjian internasional yang terkait di dalamnya, salah satunya adalah

      perjanjian TRIPs, usaha untuk menyempurnakan isi hukum paten merupakan

      hal yang tidak terelakan. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah

      dengan mengamandemen beberapa ketentuan yang terdapat di dalam

      Undang-undang Paten Tahun 1989 melalui Undang-undang Nomor 13 Tahun

      1997.    Selanjutnya     keinginan    dari   pemerintah       untuk     menyesuaikan

      keseluruhan peraturan di bidang HaKI dengan ketentuan yang terdapat

      dalam perjanjian TRIPs menjadi faktor pendorong diamandemennya Undang-

      undang Nomor 13 Tahun 1997 Tentang Paten menjadi Undang-undang

      Nomor 14 Tahun 2001 melalui banyak sekali penyempurnaan, penambahan,

      dan     penghapusan      yang    dibuat   dengan     tujuan     untuk    memberikan

      perlindungan yang memadai terhadap paten14.



      Pengaturan HaKI secara internasional adalah bagian yang tidak dapat

      dipisahkan     dari   sistem    pengaturan    HaKI    Indonesia.      Standar   HaKI

      internasional telah menjadi sebuah sumber yang penting bagi hukum HaKI di

      Indonesia. Indonesia telah menjadi peserta aktif dalam pengembangan HaKI

      Internasional saat ini, khususnya melalui keikutsertaannya sebagai Negara

      peserta dalam organisasi perdagangan dunia (WTO) dan organisasi HaKI

      dunia (WIPO). Peran serta Indonesia dimulai sejak tahun 1950, saat

      Indonesia meratifikasi Konvensi Paris, sebuah perjanjian di bidang Hak

      Kekayaan Industri. Keikutsertaan Indonesia yang paling terakhir adalah ikut



14
     Lindsey BA Tim, B.,Blit., dan Eddy Damian, Op. Cit, hlm. 205
                                                                                      31



       mengambil bagian petama Putaran Uruguay pada tahun 1986 sampai

       dengan 1994 yang merupakan salah satu rangkaian terakhir perundingan

       perdagangan      multilateral    termasuk     menjadi       peserta   perundingan-

       perundingan perjanjian pendirian WTO. Perundingan putaran Uruguay

       menetapkan sebuah paket komprehensif yang mencakup aturan-aturan

       perdagangan dan pembentukan WTO sebagai sebuah lembaga formal untuk

       adminstrasi dan perundingan lebih lanjut dari aturan-aturan yang telah

       dihasilkan oleh negara peserta pendiri (original member) WTO pada saat

       organisasi tersebut didirikan pada tahun 199515.



       Perjanjian internasional/traktat yang berkaitan dengan perlindungan Hak

       Paten adalah :

       A. Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property

           Rights (TRIPs Agreement)

       TRIPs merupakan instrumen hukum internasional. Pada hakekatnya, TRIPs

       mengandung empat kelompok pengaturan yaitu:

       1. Pertama yang mengaitkan Hak Kekayaan Intelektual dengan konsep

           perdagangan internasional.

       2. Kedua yang mewajibkan negara-negara anggota untuk mematuhi

           Paris Convention (Konvensi Paris) dan Berne Convention (Konvensi

           Berne).

       3. Ketiga menetapkan aturan atau ketentuan sendiri.

       4. Keempat yang merupakan ketentuan atas hal-hal yang secara umum

           termasuk upaya penegakan hukum yang terdapat didalam upaya



15
     Lindsey BA Tim, B.,Blit., dan Eddy Damian, Op. Cit, hlm. 24
                                                                              32



          legislasi negara-negara anggota.



B. Paris Convention (Konvensi Paris)

      Konvensi ini adalah konvensi pertama yang membicarakan perlindungan bagi

      inventor. Konvensi ini merupakan dasar utama konsep industrial property

      meliput paten, merek dan desain industri. Konvensi ini dilakukan di Wina

      tahun 1873, kemudian konvensi ini diteruskan di Paris tahun 1878, dihadiri

      sekitar 500 peserta termasuk 11 negara serta 48 wakil kamar dagang dan

      industri serta masyarakat industri dan teknik yang berdiam di Paris. Pada

      intinya ketentuan dalam konvensi ini mengandung 3 kelompok ketentuan

      pokok, yaitu 16:

      1. National Treatment

          National Treatment adalah pemberian perlakuan yang sama dalam

          kaitannya dengan perlindungan kekayaan intelektual antara yang

          diberikan kepada warga negara sendiri dan warga negara lain. Akan

          tetapi National Treatment tidak berlaku dalam kaitannya dengan prosedur

          yudisial dan administratif suatu negara.

      2. Hak Prioritas

          Hak Prioritas adalah hak pemohon untuk mengajukan permohonan yang

          berasal dari negara yang tergabung dalam Paris Convention for the

          protection of Industrial Property atau Agreement Establishing the World

          Trade Organization untuk memperoleh pengakuan bahwa tanggal

          penerimaan di negara asal merupakan tanggal prioritas di negara tujuan

          yang juga anggota salah satu dari kedua perjanjian tersebut dilakukan



16
     Achmad Zen Umar Purba, Loc Cit
                                                                                33



          dalam kurun waktu yang telah ditentukan dalam Paris Convention

          tersebut. Hak Prioritas, yaitu hak yang diberikan oleh Negara dalam

          rangka paten termasuk utility models, merek dan desain industri.

      3. Ketentuan Umum (Common Rules)

          Ketentuan-ketentuan umum menyangkut berbagai macam ketentuan

          yang harus diikuti oleh semua negara anggota, misalnya mengenai paten,

          invensi yang dilakukan oleh masing-masing negara bersifat independen.

          Mengenai institusi adminstrasi Hak Kekayaan Intelektual, tiap-tiap negara

          harus mempunyai kantor pusat yang memberikan pelayanan kepada

          masyarakat sehubungan dengan bidang-bidang hak kekayaan intelektual.



C. General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) 1994

      Kaitannya dengan hak paten adalah GATT ini mengatur mengenai

      penyelesaian sengketa.



D. Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of

      Disputes (Dispute Settlement Understanding/DSU)

      Kaitannya dengan hak paten serupa dengan GATT yaitu mengatur mengenai

      penyesaian sengketa.

      Perjanjian Internasional tentang aspek-aspek yang dikaitkan dengan

      Perdagangan Kekayaan Intelektual (TRIPs), melahirkan beberapa ketentuan

      yaitu 17:




17
     Achmad Zen Umar Purba, Op Cit Hlm. 67
                                                                             34



a. Invensi yang Dapat Dipatenkan

   Paten diberikan pada setiap invensi baik produk maupun proses di semua

   bidang teknologi asalkan invensi tersebut :

   1).    Baru;

   2).    Memiliki langkah inventif serta;

   3).    Keterterapan industrial.

Selain itu paten diberikan tanpa diskriminasi dalam kaitan dengan tempat

invensi bidang teknologi dan produk tersebut, berkaitan dengan produk impor

atau diproduksi secara lokal. Negara-negara anggota TRIPs diperbolehkan

untuk tidak mematenkan suatu invensi atas alasan perlindungan ketertiban

umum atau moralitas, termasuk perlindungan terhadap mahluk hidup seperti

manusia, hewan atau tanaman, atau kesehatan, atau untuk mencegah

gangguan terhadap lingkungan dengan pengertian pengecualian bukan

semata-mata karena pelaksanaan paten tersebut dilarang.

b. Mahluk Hidup

   Anggota TRIPs juga dapat menerapkan dalam kebijakan nasionalnya

   untuk tidak mematenkan hal-hal sebagai berikut :

   1).    Metode    diagnostik,   terapeutik     dan   peralatan   untuk   untuk

          perawatan manusia atau hewan;

   2).    Tanaman dan hewan selain jasad renik;

   3).    Proses biologis yang penting untuk produksi tanaman atau hewan

          selain proses nonbiologis dan mikrobiologis. Disebutkan pula

          bahwa pengaturan bahwa pengaturan mengenai varietas tanaman

          dapat dilakukan melalui sui-generis atau kombinasi dengan paten.
                                                                             35



      Secara khusus masalah mahluk hidup masih menjadi topik kontroversial,

      terutama yang berkaitan dengan isu jasad renik. Negara-negara

      berteknologoi tinggi seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara

      Eropa lainnya menafsirkan bahwa unsur novelty juga dapat dikenakan

      terhadap jasad renik yang tadinya terisolasi dan kemunculannya dapat

      dideteksi. Beberapa negara berkembang menolak memberikan paten

      terhadap produk semacam ini walaupun datang dari keadaan terisolasi.

c. Hak yang Diberikan

   Paten memberikan hak ekslusif pada pemegangnya untuk melakukan

   kegiatan-kegiatan berikut :

   1). Paten produk, yaitu melarang pihak ketiga tanpa seizin pemegang hak

      untuk membuat, menjual atau mengimpor;

   2). Paten proses, yaitu melarang pihak ketiga tanpa seizin pemegang hak

      untuk   menggunakan,       menawarkan   untuk   menjual,   menjual   atau

      mengimpor produk yang dihasilkan oleh proses paten yang dilindungi

      paten

   Pemegang hak paten juga dijamin haknya untuk mengalihkan atau

   memindahkan berdasarkan warisan serta menutup perjanjian lisensi.

d. Keterbukaan Invensi

   Salah satu kondisi diberikannya paten adalah dibukanya invensi tersebut

   sedemikian rupa sehingga jelas dan lengkap untuk diketahui oleh orang yang

   ahli di bidang tersebut. Negara anggotapun bahkan dapat meminta pemohon

   paten untuk memberikan informasi sehubungan dengan permohonan paten

   untuk memberikan informasi sehubungan dengan permohonan paten di luar

   negeri yang mungkin dilakukan oleh pemohon.
                                                                           36



e. Pengecualian terhadap Hak yang Diberikan

     Negara aanggota dapat menetapkan pengecualian terbatas terhadap hak

     eksklusif yang melekat pada paten dengan pengertian bahwa pengecualian

     itu tidak boleh bertentangan secara tidak masuk akal dengan penggunaan

     normal dari paten dan tidak pula mengurangi secara tidak masuk akal

     kepentingan sah dari pemegang paten, dengan tidak pula mengabaikan

     kepentingan pihak ketiga.

f.   Penggunaan tanpa Otorisasi Pemegang Paten

     Negara anggota dapat pula mengizinkan penggunaan paten tanpa otorisasi

     dari pemegang paten, termasuk penggunaan oleh pemerintah, atau pihak lain

     yang ditunjuk oleh pemerintah.

g. Pembatalan

     Keputusan pembatalan paten harus dapat ditinjau oleh badan peradilan

     (judicial review)

h. Masa Perlindungan

     Masa perlindungan paten adalah minimum 20 tahun sejak tanggal

     dipenuhinya syarat formal permohonan paten.

i.   Pembuktian terbalik Paten Proses

     Hubungan pelanggaran paten dalam kaitannya dengan hukum perdata, maka

     pengadilan dapat memerintahkan pemegang paten untuk membuktikan

     bahwa proses guna menghasilkan produk yang identik berasal dari proses

     yang dipatenkan.
                                                                          37



3. Dasar Hukum Hak Paten

  Indonesia sebagai negara berkembang menempatkan pembangunan sebagai

  orientasi bagi kemasyarakatan sesuai dengan yang tersirat dalam Pasal 33

  Undang-undang     Dasar   1945.   Mochtar   Kusumaatmadja     dalam   teori

  pembangunannya sebagai jawaban atas pertanyaan BAPPENAS mengenai

  konsepsi hukum yang mendukung pembangunan yang kemudian dituangkan

  dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN), mengatakan:

  a. GBHN 1973

     Hukum tidak boleh menghambat proses modernisasi

  b. GBHN 1978

     Hukum dapat berfungsi sebagai sarana pembangunan

  c. GBHN 1993

     Hukum dapat berfungsi sebagai sarana rekayasa kemasyarakatan.



  Teori tersebut sesuai dengan tujuan Hak Paten yaitu memberikan

  perlindungan hukum kepada penemu dibidang teknologi, untuk nantinya hasil

  temuannya tersebut dapat dipergunakan oleh khalayak ramai dan dapat

  dipergunakan sebagai sarana pendukung pembangunan. Artinya, Hak Paten

  tidak menghambat proses modernisasi.

  Hak Paten di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001

  tentang Paten. Dalam Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun

  2001 yang menyatakan, bahwa :

  “Hak Paten adalah hak ekslusif yang diberikan oleh negara kepada inventor
  atas hasil invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu
  melaksanakan sendiri invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya
  kepada pihak lain untuk melaksanakannya”.
                                                                              38



Hak eksklusif yang dimaksud adalah hanya pemegang hak paten yang bebas

melaksanakan     hak    paten   tersebut,   sementara     pihak   lain   dilarang

melaksanakan hak paten tersebut tanpa izin atau persetujuan pemegang hak

paten. Hak eksklusif pemegang hak paten di Indonesia termasuk kegiatan

menerjemahkan,      mengadaptasi,     mengaransemen,        mangalihwujudkan,

menjual,    menyewakan,         meminjamkan,     mengimpor,       memamerkan,

mempertunjukan         kepada    public,    menyiarkan,      merekam,        dan

mengkomunikasikan ciptaan kepada publik melalui sarana apapun.



Beberapa istilah yang sering digunakan dalam hak paten dirumuskan dalam

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tenatang Paten, antara lain :

a. Pasal 2 angka 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang

   Paten:

   “Paten diberikan untuk invensi yang baru dan mengandung langkah

   inventif serta dapat diterapkan dalam industri”.

b. Pasal 6 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten:

   “Setiap invensi berupa produk atau alat yang baru dan mempunyai

   nilai kegunann praktis disebabkan oleh bentuk, konfigurasi, konstruksi,

   atau komponennya dapat memperoleh perlindungan hukum dalam bentuk

   paten sederhana”.

c. Pasal 7 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten :

   “Paten tidak diberikan untuk invensi tentang :

   1)       Proses atau produk yang pengumuman dan penggunaan atau
            pelaksanaannya bertentangan dengan peraturan perundang-
            undangan yang berlaku, moralitas agama, ketertiban umum, atau
            kesusilaan;
   2)       Metode    pemeriksaan,  perawatan,    pengobatan     dan/atau
            pembedahan yang diterapkan terhadap manusia dan/atau hewan;
                                                                             39



      3)      Teori dan metode di bidang ilmu pengetahuan dan matematika;
              atau
      4)      a)     Semua mahkluk hidup, kecuali jasad renik;
              b)     Proses biologis yang esensial untuk memproduksi
                     tanaman atau hewan, kecuali proses non-biologis atau
                     proses mikrobiologis”.

   d. Pasal 8 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten :

      “1)     Paten diberikan untuk jangka waktu selama 20 (dua puluh)
              tahun terhitung sejak Tanggal Penerimaan dan jangka waktu
              itu tidak dapat diperpanjang.
       2)     Tanggal mulai dan berakhirnya jangka waktu paten dicatat dan
              diumumkan”.

   e. Pasal 9 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten:

      “Paten sederhana diberikan untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun

      terhitung sejak Tanggal Penerimaan dan jangka waktu itu tidak

      diperpanjang”.



B. Perjanjian Lisensi

1. Definisi Lisensi

   Berdasarkan Pasal 1 angka 13 Undang-Undang No.14 tahun 2001 tentang

   Paten, menjelaskan:

   “Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Paten kepada pihak lain

   yang berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk menikmati manfaat

   ekonomi dari suatu Paten yang diberi perliindungan dalam jangka waktu dan

   syarat tertentu”.



   Menururt Black’s Law Dictionary , lisensi adalah the sale of a license

   permitting the use of patents, trademarks, or the technology to another firm.

   Artinya lisensi secara tidak langsung sudah bergeser ke arah “penjualan” izin

   (privilege) untuk mempergunakan paten, hak atas merek (khususnya merek
                                                                                             40



      dagang) atau teknologi (di luar perlindungan paten dan rahasia dagang)

      kepada pihak lain. Berdasarkan rumusan tersebut dapat ditarik kesimpulan

      bahwa lisensi merupakan hak privilege yang bersifat komersial, dalam arti

      kata memberikan hak dan kewenangan untuk memanfaatkan paten maupun

      merek dagang atau teknologi yang dilindungi secara ekonomis18.



      Betsy Ann Toffler dan Jane Imber dalam Dictionary of Marketing Terms,

      mengemukakan bahwa Lisensi adalah “contractual agreement between two

      business entities in which licensor permits the licensee to use a brand name,

      paten or other proprietary right, in exchange for a fee royalti. Licensing

      enables the licensor to profit from the skills, expansion, capital, or other

      capacity of the licensee. Licensing is ofter used by manufacturers to enter

      foreign markets in which they have no expertise. The licensee benefits from

      the name recognition and creativity of the licensor.” Artinya bahwa lisensi

      dalam pengertian lebih lanjut senantiasa melibatkan suatu bentuk perjanjian

      (kontrak tertulis) dari pemberi lisensi kepada penerima lisensi. Perjanjian ini

      sekaligus berfungsi sebagai dan merupakan bukti pemberian izin dari

      pemberi lisensi kepada penerima lisensi untuk menggunakan nama dagang,

      paten atau hak milik lainnya (Hak atas Kekayaan intelektual)19.

      Berdasarkan isi pasal tersebut, maka terdapat jenis-jenis Lisensi Paten yaitu:

      a. Lisensi Ekslusif

           Penerima lisensi memiliki hak tunggal, membuat, mempergunakan atau

           menjual produk paten.




18
     Gunawan Widjadja , Seri Hukum Bisnis Lisensi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, Hlm 8
19
     Gunawan Widjadja, Ibid, Hlm 9
                                                                            41



      b. Lisensi Noneksklusif

          Penerima hak lisensi, membuat hak untuk mempergunakan temuan

          tersebut dan memberikan lisensi kepada pihak lain.

      c. Lisensi Silang

          Pemegang paten memberikan lisensi kepada pihak lain, sebaliknya pihak

          lain juga memberi lisensi.

      d. Paket Lisensi

          Pemegang paten membuat perjanjian lisensi dalam satu paket.

      e. Dalam satu Pool (disamakan)

          Biasanya jenis paket ini berlaku untuk perusahaan kecil20.




20
     Sentosa Sembiring, Op. Cit, Hlm 30
                                                                                 42



2. Pengaturan Lisensi Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001

      tentang Paten



      Pengaturan Lisensi dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang

      Paten diatur dalam Pasal 69 hingga Pasal 73 Bagian kedua Bab V tentang

      Lisensi, dan Pasal 74 sampai Pasal 87 Bagian Ketiga Bab V tentang Lisensi

      Wajib. Rumusan yang diberikan dalam Pasal 69, menyatakan bahwa:

      “1. Pemegang Paten berhak memberi lisensi kepada orang lain berdasarkan
          surat perjanjian lisensi untuk melaksanakan perbuatan sebagaimana
          dimaksud dalam Pasal 16.
      2. Kecuali jika diperjanjikan lalin, maka lingkup lisensi sebagaimana
          dimaksud dalam Pasal 16, berlangsung selama jangka waktu lisensi
          diberikan dan berlaku untuk seluruh wilayah Negara Republik Indonesia.”

      Ini berarti Lisensi Paten memberikan hak kepada pemegang lisensi untuk :

      a. Dalam hal paten produk: membuat, menggunakan, menjual, mengimpor,

          menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk dijual atau

          diserahkan produk yang diberi paten;

      b. Dalam hal paten proses : menggunakan proses produksi yang diberi

          paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana

          dimaksud dalam huruf a.

      c. Dalam hal paten proses, melarang pihak lain yang tanpa

          persetujuannya melakukan impor produk yang semata-mata

          dihasilkan dari penggunaan paten-proses21.



      Pemberian lisensi oleh pemberi lisensi kepada penerima lisensi, tidak secara

      hukum melarang pemberi lisensi, sebagai pemegang paten untuk tetap

      melaksanakan sendiri paten yang dimiliki olehnya, termasuk juga untuk

21
     Gunawan Widjadja, Op. Cit, Hlm 58.
                                                                         43



memberikan lisensi lebih lanjut kepada pihak ketiga lainnya untuk tetap

melaksanakan hak paten sebagaimana disebutkan dalam Pasal 16

sebagaimana disebutkan diatas.



Pasal 70 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten menentukan

bahwa pemegang paten untuk tetap melaksanakan sendiri atau meberi

lisensi kepada pihak ketiga lainnya untuk melaksanakan hak paten tersebut

dalam Pasal 16.



Pasal 72 ayat (1) mewajibkan perjanjian lisensi untuk dicatatkan pada Kantor

Paten dan dimuat dalam Daftar Umum Paten. Atas pencatatan tersebut,

maka mereka yang mencatatkan paten dikenakan biaya pencatatan.

Perjanjian lisensi tidak dicatatkan di Kantor Paten, maka perjanjian lisensi

tersenut tidak mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga.



Rumusan Pasal 73 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten

yang menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai perjanjian lisensi

diatur dengan Peraturan Pemerintah. Oleh karena hingga saat ini Peraturan

Pemerintah tersebut belum ada maka segala ketentuan mengenai perjanjian

lisensi wajib dibuat dan tunduk pada ketentuan umum sebagaimana diatur

dalam Kitab Undang-Undang Perdata dan kesepakatan para pihak, selama

tidak bertentangan dengan aturan-aturan hukum lainnya yang berlaku

termasuk rumusan Pasal 71 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang

Paten yang dilarang dicantumkannya ketentuan dalam perjanjian lisensi yang

memuat ketentuan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat
                                                                                  44



      menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat

      pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam

      menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya dan yang

      berkaitan dengan penemuan yang diberi paten tersebut. Oleh karena itu

      Kantor Paten memiliki hak untuk menolak pencatatan lisensi paten atas

      perjanjian lisensi yang memuat ketentua tersebut. Dimuatnya larangan Pasal

      71 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten dapat membawa

      konsekuensi tidak terlindunginya perjanjian lisensi tersebut22.



      Ketentuan mengenai Lisensi Wajib diatur dalam Undang-Undang Nomor 14

      Tahun 2001 tentang Paten Pasal 74 hingga Pasal 87. Menurut Pasal 74,

      Lisensi Wajib diartikan sebagai lisensi untuk melaksanakan Paten yang

      diberikan berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan

      Intelektual. Permohonan tersebut dapat diajukan oleh setiap orang setelah

      lewatnya angka waktu 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung sejak tanggal

      pemberian paten dan diajukan kepada Direktorat Jenderal Hak atas

      Kekayaan Intelektual. Keputusan pemberian lisensi wajib harus diberikan

      dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak permohonan

      diajukan.



      Permohonan lisensi wajib hanya dapat dilakukan jika paten yang diberikan

      perlindungan     tersebut   tidak   dilaksanakan   atau    dilaksanakan   tidak

      sepenuhnya di Indonesia oleh pemegang paten atau dilaksanakan dalam

      bentuk dan dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat. Artinya


22
     Gunawan Widjadja, Ibid, Hlm 59.
                                                                         45



permohonan lisensi wajib juga dapat diajukan meskipun paten telah

dilaksanakan di Indonesia oleh pemegang paten atau pemegang lisensi

paten tersebut



Lisensi wajib tidak dapat dialihkan kecuali jika dilakukan bersamaan dengan

pengalihan kegiatan atau bagian kegiatan usaha yang menggunakan paten

yang bersangkutan atau karena pewarisan. Lisensi wajib yang beralih karena

pewarisan tetap terikat oleh syarat pemberiannya dan ketentuan lainnya

terutama mengenai jangka waktu dan harus dilaporkan kepada Kantor Paten

untuk dicatat dimuat dalam Daftar Umum Paten.



Lisensi wajib berakhir dengan selesainya jangka waktu yang ditetapkan

dalam pemberiannya, dibatalkan atau dalam hal pemegang lisen wajib

menyerahkan kembali lisensi yang diperolehnya kepada Kantor Paten

sebelum jangka waktu tersebut berakhir. Kantor Paten mencatat Lisensi wajib

yang telah berakhir jangka waktunyadalam buku daftar Umum Paten,

mengumumkan dalam berita resmi Paten dan memberitahukannya secara

tertulis kepada pemegang patenserta Pengadilan Negeri yang memutuskan

pemberiannya. Batal atau berakkhirnya lisensi wajib sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 83 dan Pasal 84 berakibat pulihnya hak pemegang paten atas

paten yang bersangkutan terhitung sejak tanggal pencatatannya dalam

Daftar Umum Paten.



Atas permintaan pemegang paten, Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan

Intelektual dapat membatalkan lisensi wajib yang semula diberikan apabila :
                                                                               46



      a. Alasan yang dijadikan dasar bagi pemberian lisensi wajib tidak ada

          lagi;

      b. Penerima lisensi wajib ternyata tidak melaksanakan lisensi wajib tersebut

          atau tidak melakukan usaha persiapan yang sepantasnya untuk segerea

          melaksanakannya;

      c. Penerima lisensi wajib tidak lagi menaati syarat dan ketentuan

          lainnyatermasuk kewajiban pembayaran royalti yang ditetapkan dalam

          pemberian lisensi wajib.

      Kemudian pembatalan tersebut dicatat dalam Daftar Umum Paten dan

      diumumkan dalam pemberian lisensi wajib23.




23
     Gunawan Widjadja, Ibid, Hlm 63.
                                                                                   47



C. Ruang Lingkup Layar sentuh (Touch Screen)

1. Definisi Teknologi Layar Sentuh (Touch Screen)


     Ada berbagai macam definisi dari layar sentuh (touch screen). Layar Sentuh

     (touch-screen) merupakan teknologi berupa layar yang dapat mendeteksi

     lokasi berdasarkan sentuhan jari. Sensor berupa sentuhan tersebut,

     memungkinkan layar tersebut dapat dijadikan sebagai perangkat input selain

     fungsi terdahulunya yaitu perangkat output. Beberapa produk yang

     menggunakan teknologi ini diantaranya monitor, PDA, sistem navigasi satelit,

     maupun telepon selular. Menurut Wikipedia touchscreen atau touch panels,

     atau touch monitor merupakan sebuah perangkat komputer yang biasanya

     digunakan untuk menampilkan informasi grafikal dan visual yang merupakan

     output dari sebuah perangkat komputer. Perbedaannya dengan monitor atau

     layar televisi biasa adalah apa yang ditampilkan di dalamnya dapat secara

     langsung berinteraksi fisik dengan penggunanya. Artinya, kita dapat langsung

     menyentuh layar penampil tersebut dengan tangan atau alat bantu untuk

     mengakses apa yang ditampilkan di dalamnya. Layar sentuh (touch screen)

     dengan kata lain merupakan sebuah monitor yang sensitif terhadap sentuhan

     dan tekanan (resistif), sehingga perangkat ini memiliki dua buah fungsi yaitu

     sebagai perangkat output karena menampilkan informasi dan input karena

     menerima informasi.24 Menurut Surahyo dalam blognya mengemukakan

     teknologi touch screen adalah suatu display atau layar yang digunakan untuk

     mengetahui keberadaan dan lokasi suatu “sentuhan” di dalam suatu area.



24
  www.wikipedia.com, Definition of touch screen diakses pada 1 April 2009. Pukul 12.30
WIB
                                                                             48



   Terminologi ini mengacu pada kontak atau sentuhan pada layar dengan

   menggunakan jari atau tangan. Teknologi ini juga dapat mengetahui

   sentuhan dari obyek pasif seperti stylus dan sejenisnya. Menurut Dirjen HKI,

   definisi teknologi layar sentuh (touch screen) yaitu suatu peranti elektronik

   seperti suatu telepon, PDA (Personal Digital Assistant), atau penyeranta,

   mencakup suatu masukan yang dapat dioperasikan secara manual seperti

   suatu tombol elastomerik atau tombol, atau suatu layar sentuh yang tidak

   dengan sendirinya memberikan umpan balik yang nyata atau pergerakkan,

   dan juga mencakup suatu transduser elektromekanik yang mampu

   membangkitkan suatu impuls energi mekanik yang dapat dirasakan. Sebagai

   tanggapan    atas   pendeteksian    pergerakkan    masukan     yang    dapat

   dioperasikan secara manual, transduser elektromekanik digerakkan untuk

   menghasilkan suatu impuls energi mekanik yang menyebarkan ke masukan

   yang dapat dioperasikan secara manual dan memberikan umpan balik yang

   nyata kepada seorang pengguna.


2. Sejarah Teknologi Layar Sentuh (Touch Screen)


   Interaksi antara pengguna dengan perangkat komputer memang terus

   berevolusi dari waktu ke waktu. Proses interaksinya semakin nyata dan

   mudah dari hari demi hari.


   Pada awal-awal penggunaan komputer, interaksi manusia dengan perangkat

   komputer hanya dapat dilakukan dengan punch card. Sebuah kartu yang
                                                                                      49



     diberi lubang-lubang menjadi media penyimpanan data. Kartu tersebut

     dilubangi oleh sebuah mesin bernama Keypunch25.


     Keypunch merupakan sebuah mesin pelubang kertas yang dihubungkan

     dengan keyboard seperti mesin ketik. Dengan mengetikkan sebuah kata,

     maka lubang-lubang yang mewakilinya akan terbentuk. Menginput data pada

     waktu itu tidak berbeda jauh dengan menulis dengan menggunakan mesin

     ketik. Setelah diinput, kartu berlubang tersebut kemudian dibawa ke mesin

     pembaca kartu yang terpisah dari mesin pelubangnya. Menginput dan

     membaca data pada waktu itu sangat sulit dan memakan waktu yang lama26.


     Evolusi perangkat komputer terus berlanjut. Jika dahulu masih banyak

     terdapat hubungan yang bersifat fisik antara manusia dengan komputer,

     sekarang hal tersebut semakin berkurang. Pada sekitar tahun 1980 komputer

     sudah lebih nyaman untuk digunakan karena sudah menggunakan keyboard

     dan monitor sebagai alat penginput dan penampil datanya. Namun tentu saja

     masih memiliki kekurangan. Pada waktu itu anda hanya dapat melihat dunia

     komputer dalam dua warna saja. Hitam dan putih, hitam dan hijau, hitam dan

     jingga, dan banyak lagi. Data yang anda input dan ditampilkan juga masih

     sangat terbatas. Pada era ini anda sudah dapat menginput data dengan

     menggunakan keyboard yang sudah lebih nyaman dibandingkan mesin ketik,

     namun kebanyakan keyboard pada zaman dahulu masih agak keras untuk

     ditekan. Perkembangan terus berlanjut ke arah yang lebih baik. Anda mulai

     dapat melihat warna yang bervariasi dalam monitor, keyboard sudah lebih

25
   www.blog.unila.ac.id, teknologi-touch-screen, diakses pada tanggal 1 Mei 2009, Pukul
21.00 WIB
26
   www.blog.unila.ac.id, Loc. Cit
                                                                                   50



     nyaman digunakan, kemudian diciptakan sebuah perangkat bernama mouse,

     joystick untuk bermain game. Namun, perkembangan tidak hanya sampai

     disitu saja. Membludaknya kebutuhan akan komputer dalam kehidupan

     sehari-hari, interaksi antara manusia dan komputer juga terus dipermudah.

     Menggunakan komputer harus dibuat semudah mungkin dengan tujuan agar

     informasi dapat cepat disampaikan atau pekerjaan dapat cepat diselesaikan.

     Oleh karena itu untuk menjawab kebutuhan itu para inventor perangkat

     komputer    menciptakan     sebuah     perangkat     interaksi   yang    sangat

     memudahkan manusia untuk menggunakan komputer. Perangkat tersebut

     adalah layar sentuh atau sering disebut dengan istilah touch screen27.


     Teknologi touch screen bukan teknologi baru karena sudah tercipta sejak

     1971 dan sudah digunakan secara luas pada era 90-an, Teknologi touch

     screen terus berkembang dari waktu ke waktu. Pada awalnya teknologi ini

     dipatenkan oleh pihak-pihak tertentu, pada sekitar tahun 1980-an hak paten

     tersebut telah berakhir dan teknologi ini menjadi milik umum yang bebas

     dikembangkan. Oleh karena itu, teknologi ini cukup banyak berkembang

     untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Pada dasarnya teknologi touch screen

     yg di aplikasikan pada telepon genggam itu sendiri adalah pengembangan

     dari teknologi touch screen terdahulu. Oleh karena dalam hak paten,

     teknologi touch screen pada telepon genggam tersebut termasuk kedalam

     paten sederhana28.




27
  www.kompas.com, Teknologi Tua yang Masih Elegan, diakses pada tanggal 1 Mei
2009, Pukul 21.00 WIB
28
  www.bloraku.com, Aplikasi layar sentuh pada peralatan elektronik jaman modern,
diakses pada tanggal 21 Mei 2009, Pukul 15.00 WIB.
                                                                                 51



      Pada awal tahun 1980, teknologi touch screen hanya dapat mengenali satu

      titik sentuhan, tetapi dalam perkembangannya sekarang dapat mengenali

      beberapa titik sentuhan (multi-touch).


3.     Cara Kerja Teknologi Layar Sentuh (Touch Screen)


       Teknologi berkembang sangat cepat. Semua hal yang dahulu hanya

       sekedar mimpi sekarang dapat menjadi kenyataan, termasuk teknologi touch

       screen. Dahulu, mungkin orang masih bertanya-tanya apakah mungkin

       sebuah input informasi dimasukkan ke dalam komputer tanpa menggunakan

       keyboard dan mouse, dengan kata lain pengguna dapat langsung kontak

       dengan komputer (dalam hal ini monitor) untuk memasukkan input informasi.

       Sekarang, semua itu sudah dapat dilakukan dengan teknologi touch screen.


       Touch screen dapat didefiniskan sebagai layar tampilan komputer yang

       sensitif terhadap sentuhan manusia, sehingga seseorang dapat berinteraksi

       dengan komputer dengan cara menyentuh gambar atau tulisan yang

       terpampang pada layar komputer. Di negara lain seperti Amerika Serikat,

       touch screen dapat ditemui di bandara-bandara, rumah sakit, ataupun pada

       ATM bank. Akan tetapi, kita tidak perlu jauh-jauh ke Amerika hanya untuk

       melihat teknologi touch screen. Di indonesia pun, kita dapat melihat dan

       mempergunakan touch screen pada berbagai jenis gadget, seperti telepon

       genggam (Telepon selular), tablet PC, personal digital assistant (PDA),

       mobil, motor, konsol game, mesin-mesin berat, pesawat terbang, dan

       banyak lagi perangkat yang dilengkapi oleh teknologi touch screen saat ini29.



29
     www.bloraku.com, Loc. Cit
                                                                             52



     Teknologi touch screen masuk ke dalam kategori micro computer system.

     Karena teknologi ini masuk ke dalam alat (device) dari kategori information

     appliance. Sama halnya seperti teknologi PDA yang masuk ke dalam

     kategori tersebut juga.


     Sebuah layar touchscreen yang paling sederhana terdiri dari tiga buah

     komponen utama dalam bekerja. Komponen tersebut adalah sebagai

     berikut:


     Secara garis besar, cara kerja touch screen dapat digambarkan sebagai
     berikut30:




30
  www.okezone.com, Mengenal Layar Sentuh & Komponen utamanya, diakses pada
tanggal 15 Mei 2009, Pukul 17.00 WIB
                                                                           53



1. Polyester Film

2. Upper Resistive Circuit Layer

3. Conductive ITO (Transparent Metal Coating)

4. Ower Resistive Circuit Layer

5. Insulating Dots

6. Glass/Acrylic Substrate

7. Dengan menyentuh permukaan, maka akan menyebabkan (2)

   Upper resistive circuit layer bersentuhan dengan (4) Lower

   Resistive Circuit Layer, kemudian akibat sentuhan tersebut

   Maka akan diproduksi sinyal-sinyal perintah untuk kemudian

   dikembalikan dalam bentuk reaksi pada layar tersebut.

8. Pengontrol touch screen akan mendapatkan sinyal-sinyal elektrik

   akibat sentuhan diatas (7) melalui dua circuit layers dan di ubah

   menjadi koordinat X dan Y dari area yang disentuh.



a. Touch Sensor


   Touch sensor merupakan sebuah lapisan penerima input dari luar monitor.

   Input dari touch screen adalah sebuah sentuhan, maka dari itu sensornya

   juga merupakan sensor sentuh. Biasanya sensor sentuh berupa sebuah

   panel terbuat dari kaca yang permukaannya sangat responsif jika disentuh.

   Touch sensor ini diletakkan di permukaan paling depan dari sebuah layar

   touch screen, dengan demikian area yang responsif terhadap sentuhan

   menutupi area pandang dari layar monitor. Maka dari itu ketika menyentuh

   permukaan layar monitor, input juga telah diberikan. Teknologi touch sensor
                                                                            54



   yang kini banyak digunakan terdiri dari tiga macam, yaitu Resistive Touch

   Screen, Capasitive Touch Screen, dan Surface Wave Touch Screen. Semua

   jenis sensor ini memiliki cara kerja yang sama, yaitu menangkap perubahan

   arus dan sinyal-sinyal listrik yang ada pada sensor tersebut, merekamnya

   dan mengubahnya menjadi titik-titik koordinat yang berada di atas layar,

   sehingga posisi tepat dari sebuah sentuhan dapat langsung diketahui dengan

   benar.


b. Controller


   Controller   merupakan    sebuah    perangkat    yang    digunakan    untuk

   menghubungkan antara sensor dengan perangkat komputer yang akan

   memproses sentuhan-sentuhan tersebut. Ketika sensor-sensor merekam

   sebuah even sentuhan, maka data yang dimilikinya diteruskan ke sebuah

   controller. Controller tersebut kemudian akan melakukan penerjemahan

   informasi dari sensor-sensor tersebut menjadi informasi yang dimengerti oleh

   prosessor komputer. Setelah informasi masuk dan diproses oleh prosessor,

   maka hasil akhirnya akan dikeluarkan lagi ke monitor untuk ditampilkan.

   Kembali controller bertugas untuk menterjemahkan informasi dari prosessor

   untuk diubah menjadi sebentuk gambar yang ditampilkan di atas layar

   monitor.


c. Software driver


   Software driver merupakan sebuah software pengatur yang diinstal pada

   perangkat komputer atau personal computer (PC) yang tugasnya adalah

   untuk mengatur agar perangkat touch screen dan komputer dapat bekerja
                                                                                    55



      sama untuk digunakan dalam berbagai macam keperluan. Software driver

      akan mengatur operating sistem dari perangkat komputer bagaimana

      caranya menangani even-even sentuhan yang berasal dari sensor-sensor di

      atas layar touch screen. Kebanyakan dari driver touch screen saat ini sudah

      menggunakan driver yang hampir sama dengan driver sebuah mouse. Hal ini

      akan membuat sebuah even sentuhan pada satu titik di layar monitor seperti

      sebuah even klik pada mouse di posisi yang sama. Dengan menggunakan

      driver dari perangkat mouse, maka para developer program tidak perlu

      pusing-pusing lagi memikirkan bagaimana programnya dapat berinteraksi

      dengan sebuah touch screen.


      Berikut ini adalah beberapa teknologi touchscreen yang masing-masing

      memiliki fungsi dan kegunaannya tersendiri dalam aplikasinya31:


      1). Resistive Touchscreen


          Touch screen yang termasuk dalam jenis ini adalah touch screen yang

          layarnya dilapisi oleh sebuah lapisan tipis berwarna metalik yang bersifat

          konduktif dan resistif terhadap sinyal-sinyal listrik. Maksud dari lapisan

          yang    bersifat   konduktif   adalah   lapisan      yang   bersifat   mudah

          menghantarkan sinyal listrik, sedangkan lapisan resistif adalah lapisan

          yang menahan arus listrik. Kedua lapisan ini dipisahkan oleh sebuah

          bintik-bintik transparan pemisah, jadi lapisan ini pasti terpisah satu sama

          lain dalam keadaan normal. Pada lapisan konduktif tersebut juga mengalir

          arus listrik yang bertugas sebagai arus referensi.



31
     www.okezone.com, Loc. Cit
                                                                        56



Ketika terjadi sentuhan kedua lapisan ini akan dipaksa untuk saling

berkontak langsung secara fisik. Karena adanya kontak antara lapisan

konduktif dan resistif maka akan terjadi gangguan pada arus listrik

referensi tersebut. Efek dari gangguan ini pada lapisan konduktif adalah

akan terjadi perubahan arus-arus listriknya sebagai reaksi dari sebuah

kejadian sentuhan. Perubahan nilai arus referensi ini kemudian dilaporkan

ke controllernya untuk di proses lebih lanjut lagi.


Informasi sentuhan tadi diolah secara matematis oleh controller sehingga

menghasilkan sebuah koordinat dan posisi yang akurat dari sentuhan

tersebut. Kemudian informasi ini diintegrasikan dengan program lain

sehingga menjadi aplikasi yang mudah digunakan.


Touch screen monitor yang dirancang dengan menggunakan media jenis

ini secara umum cukup nyaman digunakan, namun ada juga kekurangan

dari teknologi ini. Layar yang dihasilkan oleh teknologi ini hanya memiliki

tingkat kejernihan gambar sebesar 75% saja, sehingga monitor akan

tampak kurang jernih.


Kelemahan yang lainnya monitor dengan teknologi touch screen ini

sangat rentan dan lemah terhadap sentuhan benda-benda yang agak

tajam, sehingga penggunanya harus ekstra hati-hati. Teknologi ini tidak

akan terpengaruh oleh elemen-elemen lain di luar seperti misalnya debu

atau air, namun touchscreen ini akan merespon semua sentuhan yang

mengenainya, baik itu menggunakan jari tangan langsung maupun

menggunakan benda lain seperti stylus. Sangat cocok digunakan untuk
                                                                          57



   keperluan di dalam dunia industri seperti di pabrik, laboratorium, dan

   banyak lagi.


2). Surface Wave Touchscreen.


   Teknologi touch screen yang satu ini memanfaatkan gelombang

   ultrasonik untuk mendeteksi kejadian di permukaan layarnya. Di dalam

   monitor touch screen ini terdapat dua tranduser, pengirim dan penerima

   sinyal ultrasonik. Selain itu dilengkapi juga dengan sebuah reflektor yang

   berfungsi sebagai pencegah agar gelombang ultrasonik tetap berada

   pada area layar monitor. Kedua tranduser ini dipasang dalam keempat

   sisi, dua vertikal dan dua horizontal. Ketika panel touchscreen-nya

   tersentuh, ada bagian dari gelombang tersebut yang diserap oleh

   sentuhan tersebut, misalnya terhalang oleh tangan, stylus, tuts, dan

   banyak lagi. Sentuhan tadi telah membuat perubahan dalam bentuk

   gelombang yang dipancarkan.


   Perubahan gelombang ultrasonik yang terjadi kemudian diterima oleh

   receiver dan diterjemahkan ke dalam bentuk pulsa-pulsa listrik.

   Selanjutnya informasi sentuhan tadi berubah menjadi sebentuk data yang

   akan di teruskan ke controller untuk diproses lebih lanjut.


   Data yang dihasilkan dari sentuhan ini tentunya adalah data mengenai

   posisi tangan anda yang menyentuh sinyal ultrasonik tersebut. Jika ini

   dilakukan secara kontinyu dan terdapat banyak sekali sensor gelombang

   ultrasonik pada media yang disentuhnya, maka jadilah sebuah perangkat

   touchscreen yang dapat anda gunakan.
                                                                     58



Touch screen jenis ini diklaim sebagai jenis touch screen yang paling

canggih dan memiliki banyak keunggulan daripada kedua jenis touch

screen lainnya. Karena tidak menggunakan bahan pelapis metalik

melainkan sebuah lapisan kaca, maka tampilan dari layar touch screen

jenis ini mampu meneruskan cahaya hingga 90 persen, sehingga lebih

jernih dan terang dibandingkan dengan Resistive Touch Screen. Tanpa

adanya lapisan sensor juga membuat touch screen jenis ini menjadi lebih

kuat dan tahan lama karena tidak akan ada lapisan yang dapat rusak atau

haus ketika di sentuh, tidak ada lapisan yang akan rusak ketika terkena

air, minyak, debu, dan banyak lagi.


Namun touchscreen ini juga bukannya tanpa kelemahan. Meskipun

secara fisik kebal terhadap gangguan elemen-elemen luar, kinerja dari

touch screen ini dapat diganggu oleh elemen-elemen seperti debu, air,

dan benda-benda padat lainnya. Sedikit saja terdapat debu atau benda

lain yang menempel di atasnya maka touch sreen dapat mendeteksinya

sebagai suatu sentuhan. Sensor-sensor ultrasoniknya akan langsung

bekerja dengan baik. Maka itu touch screen jenis ini harus dijaga dengan

ekstra hati-hati. Touch screen jenis ini sangat cocok digunakan pada

ruangan training komputer, keperluan dalam ruangan untuk menampilkan

informasi dengan sangat jernih dan tajam, presentasi dalam ruangan, dan

banyak lagi.
                                                                             59



3). Capasitive Touch Screen


   Touchscreen jenis ini memiliki cara kerja yang cukup rumit, namun sangat

   andal dalam ketahanan dan kejernihannya. Capasitive Touch Screen

   memiliki sebuah lapisan pembungkus yang merupakan kunci dari cara

   kerjanya, yaitu pembungkus yang bersifat kapasitif pada seluruh

   permukaannya. Panel touch screen ini dilengkapi dengan sebuah lapisan

   pembungkus berbahan indium tinoxide yang dapat meneruskan arus

   listrik secara kontiniu untuk kemudian ditujukan ke sensornya.


   Lapisan ini dapat memanfaatkan sifat kapasitif dari tangan atau tubuh

   manusia, maka dari itu lapisan ini dipekerjakan sebagai sensor sentuhan

   dalam touch screen jenis ini. Ketika lapisan berada dalam status normal

   (tanpa ada sentuhan tangan), sensor akan mengingat sebuah nilai arus

   listrik yang dijadikan referensi. Ketika jari tangan kita menyentuh

   permukaan lapisan ini, maka nilai referensi tersebut berubah karena ada

   arus-arus listrik yang berubah yang masuk ke sensor. Informasi dari

   kejadian ini yang berupa arus listrik akan diterima oleh sensor yang akan

   diteruskan   ke   sebuah   controller.   Controller   ini   berfungsi   untuk

   meneruskan informasi tersebut ke mesin pengalkulasi posisi dari

   gangguan atau sentuhan tersebut. Proses kalkulasi posisi akan dimulai di

   sini.


   Kalkulasi ini menggunakan posisi dari ke empat titik sudur pada panel

   touch screen sebagai referensinya. Ketika hasil perhitungannya didapat,

   maka koordinat dan posisi dari sentuhan tadi dapat di ketahui dengan
                                                                        60



baik. Akhirnya informasi dari posisi tersebut akan diintegrasikan dengan

program lain untuk menjalankan sebuah aplikasi.


Capasitive Touch Screen sangat berbeda dengan kedua jenis touch

screen sebelumnya. Touch screen jenis ini baru dapat bekerja jika

sentuhan-sentuhan yang ditujukan kepadanya berasal dari benda yang

bersifat konduktif seperti misalnya jari-jari anda. Tidak seperti Resistive

atau Surface Wave yang dapat disentuh dengan jari tangan ataupun

stylus, touchscreen ini hanya dapat dioperasikan dengan jari saja. Tetapi

dengan adanya sifat seperti ini, maka touchscreen ini tidak mudah

terpengaruh oleh gangguan dari benda-benda lain di atasnya seperti

misalnya debu atau air. Tampilan layarnya pun sangat jernih daripada

jenis Resistive touch screen sehingga sangat cocok untuk digunakan

dalam berbagai keperluan interaksi dalam publik umum seperti misalnya

di restoran, kios elektronik, lokasi Point Of Sales, dan banyak lagi.
                                                                           61



                                   BAB III


  PENGGUNAAN TEKNOLOGI LAYAR SENTUH (TOUCH SCREEN) PADA

                            TELEPON SELULAR

A. Perkembangan Teknologi Telepon Selular dalam Industri Alat

   Telekomunikasi


   Perkembangan teknologi di Indonesia dapat dikatakan mengalami kemajuan

   yang cukup pesat. Salah satu contohnya adalah perkembangan penggunaan

   alat komunikasi seluler atau telepon selular telah mengalami masa

   pergantian versi terbaru dalam tempo yang sangat singkat. Hal ini

   dikarenakan para produsen alat komunikasi tersebut telah melihat pasar yang

   sangat luas di Indonesia, karena Indonesia terkenal sebagai masyarakat

   yang konsumtif (pada sebagian golongan masyarakat). Berdasarkan contoh

   tersebut, hal positif yang dapat ditarik kesimpulannya adalah bahwa

   mayarakat Indonesia telah memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk

   mendukung pembentukan masyarakat informasi (dari segi kepemilikan alat

   komunikasi).


   Perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia selalu berjalan dari masa

   ke masa. Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia selalu

   mengadaptasi berbagai teknologi informasi hingga saat ini. Teknologi adalah

   hasil penemuan yang memudahkan seseorang dapat saling berhubungan,

   berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Pada jaman dahulu sebelum

   berkembangnya teknologi, orang-orang di Indonesia harus menempuh jarak

   yang jauh untuk mengantarkan sebuah surat atau pesan kepada orang lain,

   tetapi hal tersebut tidak berlaku pada jaman sekarang. Perkembangan itu
                                                                               62



     sendiri di Indonesia dimulai dengan Satelit Palapa pada tanggal 9 Juli 1976

     yang memudahkan arus komunikasi dan teknologi, yakni telepon, fax, dll.

     Perkembangan berikutnya dilanjutkan dengan berkembangnya jaringan

     selular, yaitu GSM pertama di Indonesia, yakni sebuah teknologi komunikasi

     bergerak yang tergolong dalam generasi kedua (2G). Menurut Menteri Riset

     dan Teknologi Hatta Rajasa, melihat hasil penelitian human indeks dari 150

     (seratus lima puluh) negara, Indonesia hanya ada di posisi ke 110 (seratus

     sepuluh) dari negara yang mengaplikasikan dan menghasilkan ilmu

     pengetahuan dan teknologi yang untuk selanjutnya disebut IPTEK.

     Sedangkan dari achievement technology, Indonesia menduduki nomer 61

     (enam puluh satu) dari 64 (enam puluh empat) negara. Maka dari itu,

     Indonesia harus terus menerus berinovasi dan menghasilkan buah karya

     atau produk dari IPTEK, sehingga penanaman IPTEK terhadap anak-anak

     sebagai generasi penerus harus diupayakan sedini mungkin, sehingga pada

     masa yang akan datang Indonesia pasti akan dapat menyaingi


     negara-negara lainnya dalam hal teknologi.32


     Teknologi telepon selular itu sendiri mulai digunakan tahun 1970 yang diawali

     dengan penggunaan mikroprosesor untuk teknologi komunikasi. Dan pada

     tahun 1971, jaringan telepon selular pertama kali dibuka di Finlandia yang

     bernama ARP. Menyusul kemudian NMT di Skandinavia pada tahun 1981

     dan AMPS pada tahun 1983. Penggunaan teknologi analog pada generasi

     pertama menyebabkan banyak keterbatasan yang dimiliki seperti kapasitas

     trafik yang kecil, jumlah pelanggan yang dapat ditampung dalam satu sel


32
  www.detik.com, Perkembangan Teknologi Telepon selular di Indonesia, diakses pada
18 Mei April 2009. Pukul 12.30 WIB
                                                                         63



sedikit, dan penggunaan spektrum frekuensi yang boros. Selain itu,

meningkatnya jumlah pelanggan tidak bisa ditampung generasi pertama, dan

teknologi 1G hanya bisa melayani komunikasi suara, tidak seperti 2G yang

bisa digunakan untuk SMS. NMT atau Nordic Mobile Telephone adalah

jaringan telepon selular analog yang pertama kali digunakan secara

internasional di Eropa Utara. Jaringan ini beroperasi pada frekuensi 450 MHz

sehingga sering disebut NMT-450, ada juga NMT-900 yang beroperasi pada

frekuensi 900 MHz. Mengingat tuntutan pasar dan kebutuhan akan kualitas

yang semakin baik, lahirlah teknologi generasi ke dua atau 2G. Generasi ini

sudah menggunakan teknologi digital. Teknologi 2G lainnya adalah IS-95

CDMA, IS-136 TDMA dan PDC. Generasi kedua selain digunakan untuk

komunikasi suara, juga bisa untuk SMS dan transfer data dengan kecepatan

maksimal 9.600 bps (bit per second). Sebagai perbandingan, modem yang

banyak digunakan untuk koneksi internet berkecepatan 56.000 bps (5,6

kbps). Kelebihan 2G dibanding 1G adalah selain layanan yang lebih baik,

dari segi kapasitas juga lebih besar. Karena pada 2G satu frekuensi bisa

digunakan beberapa pelanggan dengan menggunakan mekanisme Time

Division Multiple Access (TDMA). Standar teknologi 2G yang paling banyak

digunakan saat ini adalah GSM (Global System for Mobile Communication),

seperti yang dipakai sebagian besar telepon selular saat ini. GSM beroperasi

pada frekuensi 900, 1800 dan 1900 MHz. GSM juga mendukung komunikasi

data berkecepatan 14,4 kbps. Setelah teknologi 2G, lahirlah generasi 2,5 G

yang merupakan versi lebih baik dari generasi kedua. Generasi 2,5 ini

mempunyai kemampuan transfer data yang lebih cepat. Yang terkenal dari

generasi ini adalah GPRS (General Packet Radio Service) dan EDGE.
                                                                          64



Kemudian, komunikasi seluler mulai beralih kepada generasi berikutnya yang

diprediksikan akan menjadi teknologi komunikasi seluler yang menjanjikan.

Generasi 3 atau 3G merupakan teknologi terbaru dalam dunia seluler.

Generasi ini lebih dikenal dengan sebutan UMTS (Universal Mobile

Telecommunication System) atau WCDMA (Wideband – Coded Division

Multiple Access). Kelebihan generasi terbaru ini terletak pada kecepatan

transfer data yang mencapai 384 kbps di luar ruangan dan 2 Mbps untuk

aplikasi indoor. Selain itu, generasi ini dapat menyediakan layanan

multimedia seperti internet, video streaming, video telephone, dan lain-lain

dengan lebih baik. Generasi ketiga ini menggunakan teknologi CDMA yang

awalnya muncul dari teknologi militer Amerika Serikat dan dikhususkan pada

standar IS-95. Beberapa paten pada jaringan-jaringan yang ada sekarang

yang berbasis pada teknologi CDMA dimiliki Qualcomm Inc., sehingga

pembuat peralatan membayar royalti. Teknologi CDMA membuat kapasitas

suatu sel menjadi lebih besar dibanding sistem GSM karena pada sistem

CDMA, setiap panggilan komunikasi memiliki kode-kode tertentu sehingga

memungkinkan banyak pelanggan menggunakan sumber radio yang sama

tanpa terjadinya gangguan interferensi dan cross talk. Sumber radio dalam

hal ini adalah frekuensi dan time slot yang disediakan untuk tiap sel. Sistem

komunikasi wireless berbasis CDMA pertama kali digunakan pada tahun

1995 dan sampai sekarang, CDMA merupakan saingan utama dari sistem

GSM    di   banyak    negara.    Pada    tahun   1999,    The   International

Telecommunication Union (ITU) memilih CDMA sebagai standar teknologi

untuk generasi ketiga (3G). Varian CDMA yang banyak digunakan adalah

WCDMA dan TD-SCDMA. Pada bulan Mei 2001 sudah terdapat 35 juta
                                                                                   65



     pelanggan CDMA di seluruh dunia. Dan pada tahun 2003, terdapat 100 juta

     pelanggan yang menggunakan CDMA di seluruh dunia. Kelebihan utama

     yang dimiliki generasi ketiga adalah kemampuan transfer data yang cepat

     atau memiliki bit rate yang tinggi. Tingginya bit rate yang dimiliki

     menyebabkan banyak operator CDMA dapat menyediakan berbagai aplikasi

     multimedia yang lebih baik dan bervariasi, dan menjadi daya tarik tersendiri

     bagi pelanggan. Saat ini, hanya dengan sebuah telepon selular, kita memiliki

     fasilitas kamera, video, komputer, stereo dan radio. Selain itu, berbagai

     fasilitas hiburan pun bisa dinikmati seperti video klip, keadaan lalu lintas

     secara real time, teleconference, bahkan sekadar memesan tempat di

     restoran, cukup dengan menekan tombol di telepon selular. Pada saat kita

     duduk di rumah, kita masih bisa melakukan berbagai hal tanpa harus keluar

     ruangan, seperti mememeriksa saldo pada bank, memesan makanan dan

     lain-lain. Kedepannya, CDMA dan teknologi-teknologi lainnya seperti GSM

     akan dibandingkan berdasarkan pada biaya total per pelanggan dari jaringan

     infrastruktur dan harga pesawat telepon33.


     Berdasarkan pengelompokan produknya, di Indonesia telepon selular,

     diarahkan sebagai produk spesifik dengan kategori konsumennya. Adapun

     ragam dan kegunaan telepon selular dimaksud mulai telepon selular kategori

     fashion, telepon selular multimedia, telepon selular smart.


     Telepon selular fashion saat ini, sosoknya tercermin dari desain dan material

     khusus yang digunakan untuk mempercantik penampilan handset. Desain

     unit telepon selular jenis ini tampak dari layar pembuka key pad yang dibuat

33
 http://id.wikipedia.org/wiki/Telepon_genggam, Diakses pada tanggal 12 Mei 2009,
Pada pukul 19.00 WIB
                                                                              66



memutar. Fiturnya pun sangat lengkap, dimulai dari kamera 1,3 megapixel,

efek suara 3D, stereo speaker, video ringtone, koneksi bluetooth & IR.

Kemudian juga telepon selular fashion yang didesain dalam bentuk candy bar

yang dilengkapi fitur kamera 1,3 megapixel, stereo FM, MP3 ringtone, push-

to-talk, X-ress adomessaging, handsfree, dan speaker phone. Ciri khas

telepon selular fashion lainnya adalah variasi warna yang sangat elok seperti

coffe brown dan warm amber.


Kategori telepon selular multimedia adalah telepon selular ini ditujukan untuk

konsumen yang gemar mendengarkan musik dan berbagai macam hiburan

multimedia lainnya. Telepon selular ini dilengkapi dengan jaringan generasi

ketiga (3G) dan handset imaging menarik, Selain itu telepon selular ini ada

pula yang didesain dengan desain putar (swivel) yang menawan. Kapasitas

memorinya dimulai dengan 1Gb dan mampu menampung 200 file-file musik

yang berformat MP3, AAC/AAC+, midi, WAV, XMF. Dengan fitur-fitur sangat

lengkap sepeti stereo musik playback, headphone jack, handsfree, dan HPM-

80. Dilengkapi pula dengan remote control dan dapat men-download music

pilihan. Fitur lain jenis ini dilengkapi inframerah, bluetooth, Java 3 D, graphic

accelelator, macromedia flashlite, dan lain-lain.


Kategori telepon selular smart adalah biasanya memiliki ukuran layar yang

besar yaitu 3.5 inches atau lebih dengan resolusi gambar dimulai 640x360

megapixels, kamera minimal diatas 2 megapixel, ada yang dilengkapi dengan

keyboard qwerty, HSDPA, Wi-Fi, memori onboard minimal diatas 1 GB

dengan standar baterai yang cukup untuk memutar lagu selama berjam-jam.

Telepon selular jenis ini juga dilengkapi dengan fitur layar sentuh TFT
                                                                                         67



     resistive touchscreen, dengan 16 MB colors of touch screen dan dilengkapi

     dengan jaringan ketiga (3G). Hal ini dilakukan berdasarkan pada sarana

     teknologi informasi sebelumnya, yaitu telepon, televisi, radio, komputer

     sampai internet yang juga tidak pernah berhenti dari proses inovasi. Oleh

     karena    itu   untuk    memenuhi      keperluan      itu   semua    maka      operator

     memperkenalkan teknologi EDGE (Enhanced Data Rates for GSM Evolution)

     yang menandai masuknya layanan selular generasi ketiga (3G) di Indonesia.

     Implementasi       perkembangan          teknologi      tersebut,     mengakibatkan

     pengembangan ke arah Global System for Mobile Communication (GSM) dari

     pada Code Division Multiple Access (CDMA). Penggunaan teknologi EDGE

     tersebut, membuat operator seluler dapat memberikan layanan komunikasi

     data dengan kecepatan lebih tinggi dibanding GPRS (General Packet Radio

     Service), dimana GPRS hanya mampu melakukan pengiriman data dengan

     kecepatan sekira 25 Kbps/ begitu juga bila dibandingkan platform lain,

     kemampuan EDGE mencapai 3-4 kali kecepatan akses jalur kabel telepon

     (biasanya sekira 30-40 Kbps) dan hampir 2 kali lipat kecepatan CDMA 2000

     1X yang hanya sekitar 70-80 Kbps34.


     Penggunaan layar sentuh (touch screen) pada telepon selular memang telah

     menjadi sesuatu yang fenomenal, karena fitur layar sentuh (touch screen) ini

     dahulu hanya ada pada PDA (Personal Digital Assistant) dan termasuk

     kedalam    sebuah       fitur   yang   istimewa.     Akan   tetapi   seiring   dengan

     perkembangan teknologi maka teknologi layar sentuh pun kini hadir di



34
  http://id.wikipedia.org/wiki/Peralatan_bergerak, diakses pada tanggal 12 Mei 2009,
Pada pukul 17.00 WIB
                                                                                 68



      telepon selular. Jenis-jenis teknologi layar sentuh (touch screen) itu sendiri

      telah dijelaskan dalam bab sebelumnya.


B. Peranan Pemerintah dalam Mengatur Pengalihan Hak Paten Teknologi

      Layar Sentuh (Touch Screen)


      Upaya pemerintah dalam memberikan perlindungan hukum di bidang paten

      secara khusus dan perlindungan hukum mengenai hak kekayaan intelektual

      secara umum yaitu, diawali dengan meratifikasi beberapa konvensi

      internasional dan ikut aktif dalam beberapa perundingan diantaranya, pada

      tahun 1950 Indonesia meratifikasi Konvensi Paris, sebuah perjanjian

      internasional dibidang hak kekayaan industri. Kemudian Indonesia ikut ambil

      bagian dalam Putaran Uruguay sejak tahun 1986 sampai dengan tahun 1994,

      yang merupakan rangkaian terakhir perundingan perdagangan multilateral.

      Indonesia juga menjadi peserta perundingan-perundingan Perjanjian World

      Trade Organization yang selanjutnya disebut WTO. Perjanjian tersebut

      kemudian melahirkan Trade Related Intellectual Property Rights yang

      selanjutnya disebut TRIPs. TRIPs hanya sebagian dari keseluruhan sistem

      perdagangan yang diatur WTO. Selain menjadi anggota WTO, Indonesia juga

      ikut serta dalam Organisasi HaKI Dunia yaitu, World Intellectual Property

      Organization atau disingkat menjadi WIPO. WIPO sendiri beberapa kali

      mengadakan perundingan yang kemudian menghasilkan WIPO Copyright

      Treaty yang kemudian disebut WCT. WCT merupakan kemajuan besar yang

      pertama dalam hukum HaKI internasional sejak dicetuskannya TRIPs dan

      Indonesia adalah negara pertama yang meratifikasi perjanjian tersebut35.



35
     Lindsey BA Tim, Blit dan Eddy Damian, Op. Cit, Hlm 25.
                                                                                69



      Berasal dari perjanjian dan perundingan tersebut Indonesia secara nyata

      berusaha memberikan perlindungan hukum dibidang HaKI yaitu dengan

      meratifikasi dan membentuk undang-undang yang berkaitan dengan bidang

      HaKI.



      Indonesia telah meratifikasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 Tentang

      Pengesahan Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia.

      Berdasarkan hukum internasional, persetujuan internasional yang telah

      diratifikasi merupakan hukum nasional bagi negara itu sendiri36. Hal tersebut

      menjadi dasar bagi peraturan lainnya terutama Undang-Undang Nomor 14

      tahun 2001 tentang Paten dan undang-undang lainnya dibidang hak

      kekayaan intelektual.



      Pemerintah selaku regulator telah telah berupaya untuk menjalankan

      perannya dibidang Hak Kekayaan Intelekual terutama bidang Paten

      mengenai pengaturan pengalihan Hak Paten Teknologi Layar Sentuh (Touch

      Screen) yang dapat dilihat dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2001

      tentang Paten yaitu dalam Pasal 1 angka 13.



      Rumusan Pasal 73 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten

      menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai perjanjian lisensi diatur

      dengan Peraturan Pemerintah. Oleh karena hingga saat ini Peraturan

      Pemerintah tersebut belum ada maka segala ketentuan mengenai perjanjian

      lisensi wajib dibuat dan tunduk pada ketentuan umum sebagaimana diatur


36
     Achmad Zen Umar Purba, Loc. Cit
                                                                                 70



      dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan kesepakatan para pihak,

      selama tidak bertentangan dengan aturan-aturan hukum lainnya yang

      berlaku. Termasuk rumusan Pasal 71 Undang-Undang Nomor 14 Tahun

      2001 tentang Paten yang dilarang dicantumkannya ketentuan dalam

      perjanjian lisensi yang memuat ketentuan yang secara langsung maupun

      tidak langsung dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian

      Indonesia atau memuat pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa

      Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya

      dan yang berkaitan dengan penemuan yang diberi paten tersebut.           Oleh

      karena itu Kantor Paten memiliki hak untuk menolak pencatatan lisensi paten

      atas perjanjian lisensi yang memuat ketentuan tersebut. Larangan dalam

      Pasal 71 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten dapat

      membawa konsekuensi tidak terlindunginya perjanjian lisensi tersebut37. Oleh

      karena itu, kedepannya diperlukan adanya perbaikan mengenai pengaturan

      perjanjian lisensi di dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang

      Paten agar pengalihan hak paten berdasarkan perjanjian lisensi kedepannya

      mendapatkan perlindungan hukum.



      Di Indonesia sendiri, saat ini lisensi Hak Paten teknologi Layar Sentuh (Touch

      Screen) dipegang oleh Motorola Inc. yang didaftarkan di Direktorat Jenderal

      Hak Kekayaan Intelektual Direktorat Paten pada tahun 2003 dan telah

      dipublikasikan pada tahun 2005. Penemunya adalah Morton Bruce Mc Kay

      dan Rollins Thomas James yang berasal dari Amerika Serikat.




37
     Gunawan Widjadja, Loc Cit.
                                                                                 71



     Seiring   dengan   perkembangan      teknologi   saat   ini,   banyak   sekali

     permasalahan-permasalahan yang timbul dari penerapan teknologi Layar

     Sentuh (touch screen) yang diaplikasikan terhadap produk yang dihasilkan

     oleh produsen alat telekomunikasi. Salah satu contoh permasalahannya

     adalah mengenai teknologi Layar Sentuh (Touch Screen) yang diterapkan

     pada produk Nokia terbaru yaitu Nokia 5800 Express Music, dalam kaitannya

     dengan pemegang lisensi hak paten teknologi Layar Sentuh (Touch Screen)

     di Indonesia yang dipegang oleh Motorola Inc. Penerapan teknologi Layar

     Sentuh (Touch Screen) tersebut dapat menimbulkan permasalahan hukum

     terutama yang berkaitan dengan izin dari pemegang lisensi paten pada

     teknologi tersebut. Hal ini merupakan sesuatu hal yang tidak melanggar

     hukum, karena dalam bidang Hak Kekayaan intelektual mengenal istilah hak

     prioritas yaitu hak pemohon untuk mengajukan permohonan yang berasal

     dari negara yang tergabung dalam Paris Convention for Protection of

     Industrial Property atau Agreement Establishing the World Trade Organitation

     untuk memperoleh pengakuan bahwa tanggal penerimaan di negara asal

     merupakan tanggal prioritas di negara tujuan yang juga anggota salah satu

     dari kedua perjanjian tersebut dilakukan dalam kurun waktu yang telah

     ditentukan berdasarkan Paris Convention tersebut38. Hal yang harus

     dilakukan oleh pihak Motorola Inc. selaku pemegang Lisensi Paten teknologi

     layar sentuh (touch screen) di Indonesia adalah melakukan perjanjian lisensi

     dengan pihak Nokia terkait dengan Paten teknologi tersebut. Hal itu untuk

     menghindari terjadinya sengketa atau permasalahan hukum dikemudian hari.



38
 Wawancara yang dilakukan dengan Tety Yuniar Andriati., Kasubag. Tata Usaha
Direktorat Merek Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan
HAM, pada tanggal 29 Mei 2009, Pukul 10.00 WIB
                                                                          72



                                     BAB IV

   ANALISIS HUKUM MENGENAI PENGALIHAN HAK PATEN TEKNOLOGI

     LAYAR SENTUH (TOUCH SCREEN) BERDASARKAN PERJANJIAN

                    LISENSI MENURUT UNDANG-UNDANG

                            NOMOR 14 TAHUN 2001

                               TENTANG PATEN



A. Pengalihan Hak Paten antara Motorola Sebagai Pemegang Lisensi

  Teknologi Layar Sentuh (Touch Screen) Dengan Nokia Selaku Pemohon

  Lisensi Teknologi Layar Sentuh (Touch Screen) berdasarkan Undang-

  Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten.



  Lisensi merupakan suatu tindakan hukum berdasarkan kesukarelaan atau

  kewajiban. Lisensi sukarela adalah salah satu cara pemegang HaKI dalam

  memilih untuk memberikan hak berdasarkan perjanjian keperdataan hak-hak

  ekonomi kekayaan intelektualnya kepada pihak lain sebagai pemegang

  Lisensi untuk eksploitasinya. Lisensi merupakan suatu bentuk pemberian hak

  yang melahirkan suatu perikatan, yang dapat bersifat ekslusif dan non

  ekslusif. Sebagai suatu perikatan pemberian lisensi ini memberikan hak

  kepada pemberi lisensi atas kontra prestasi dari penerima lisensi. Secara

  umum dapat dikatakan bahwa kontra prestasi yang diharapkan oleh pemberi

  lisensi dari penerima lisensi tersebut adalah suatu bentuk pembayaran (yang

  disebut dengan license fee atau Royalti).
                                                                                  73



      Berdasarkan Pasal 1 angka 13 Undang-Undang No.14 tahun 2001 tentang

      Paten menjelaskan, bahwa:

      “Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Paten kepada pihak lain

      yang berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk menikmati manfaat

      ekonomi dari suatu Paten yang diberi perliindungan dalam jangka waktu dan

      syarat tertentu”.

      Berdasarkan isi pasal tersebut, maka terdapat jenis-jenis Lisensi Paten yaitu:

      a. Lisensi Ekslusif

          Penerima lisensi memiliki hak tunggal, membuat, mempergunakan atau

          menjual produk paten.

      b. Lisensi Non Eksklusif

          Penerima hak lisensi, membuat hak untuk mempergunakan temuan

          tersebut dan memberikan lisensi kepada pihak lain.

      c. Lisensi Silang

          Pemegang paten memberikan lisensi kepada pihak lain, sebaliknya pihak

          lain juga memberi lisensi.

      d. Paket Lisensi

          Pemegang paten membuat perjanjian lisensi dalam satu paket.

      e. Dalam satu Pool (disamakan)

          Biasanya jenis paket ini berlaku untuk perusahaan kecil39.

      Motorola selaku pemegang lisensi paten teknologi layar sentuh (touch

      screen) berkewajiban memberikan lisensi patennya terhadap pihak lain yang

      ingin memanfaatkan Teknologi Layar Sentuh (Touch Screen) di Indonesia.

      Salah satunya kepada Nokia yang memasarkan produk telepon seluler Nokia


39
     Sentosa Sembiring, Op. Cit, Hlm 30
                                                                           74



5800 xpress music di Indonesia yang dilengkapi dengan Teknologi Layar

Sentuh (Touch Screen). Lisensi yang diberikan kepada pihak Nokia adalah

Lisensi Eksklusif yaitu penerima lisensi memiliki hak tunggal, membuat,

mempergunakan atau menjual produk paten. Artinya dengan mendapatkan

Lisensi Ekslusif, Nokia berhak membuat, mempergunakan atau menjual

produknya di Indonesia, akan tetapi Nokia berkewajiban membayar royalti

kepada pihak Motorola sebagai pemegang hak paten teknologi tersebut di

Indonesia.



Lisensi diatur dalam Pasal 69 hingga Pasal 73, dan Pasal 74 sampai Pasal

87 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Paten. Rumusan yang

diberikan dalam Pasal 69, menyatakan bahwa:

“(1). Pemegang     Paten   berhak   memberi   lisensi   kepada   orang   lain

     berdasarkan surat perjanjian lisensi untuk melaksanakan perbuatan

     sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16.

(2). Kecuali jika diperjanjikan lalin, maka lingkup lisensi sebagaimana

     dimaksud dalam Pasal 16, berlangsung selama jangka waktu lisensi

     diberikan dan berlaku untuk seluruh wilayah Negara Republik

     Indonesia.”

Ini berarti Lisensi Paten memberikan hak kepada pemegang lisensi untuk :

a. Dalam hal paten produk: membuat, menggunakan, menjual, mengimpor,

   menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk dijual atau

   diserahkan produk yang diberi paten;
                                                                             75



      b. Dalam hal paten proses : menggunakan proses produksi yang diberi

          paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana

          dimaksud dalam huruf a.

      c. Dalam hal paten proses, melarang pihak lain yang tanpa

          persetujuannya melakukan impor produk yang semata-mata

          dihasilkan dari penggunaan paten-proses40.

      Motorola selaku pihak yang memegang lisensi paten teknologi layar sentuh

      (touch screen), berkewajiban memberikan lisensi patennya kepada Nokia

      baik itu dalam hal paten produk yang mencakup membuat, menggunakan,

      menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk

      dijual atau diserahkan produk yang diberi paten, maupun dalam hal paten

      proses yang termasuk menggunakan proses produksi yang diberi paten

      untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana dalam paten

      produk. Nokia selaku penerima Lisensi berkewajiban menjalankan Lisensi

      yang sudah didapat dengan sebaik-baiknya dan membayar royalti kepada

      Motorola sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.



      Pemberian lisensi oleh Motorola kepada Nokia, tidak secara hukum melarang

      Motorola, sebagai pemegang paten untuk tetap melaksanakan sendiri paten

      yang dimiliki olehnya, termasuk juga untuk memberikan lisensi lebih lanjut

      kepada pihak ketiga lainnya untuk tetap melaksanakan hak paten

      sebagaimana disebutkan dalam Pasal 16 sebagaimana yang telah

      disebutkan diatas.




40
     Gunawan Widjadja, Op. Cit, Hlm 58.
                                                                         76



Pasal 70 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten menentukan

bahwa pemegang paten untuk tetap melaksanakan sendiri atau memberi

lisensi kepada pihak ketiga lainnya untuk melaksanakan hak paten tersebut

dalam Pasal 16.

Artinya, Nokia selaku penerima lisensi paten teknologi layar sentuh (touch

screen) dapat memberikan lisensi paten tersebut kepada pihak ketiga atau

pihak lain untuk melaksanakan lisensi paten tersebut.



Pasal 72 ayat (1) mewajibkan perjanjian lisensi untuk dicatatkan pada Kantor

Paten dan dimuat dalam Daftar Umum Paten. Atas pencatatan tersebut,

maka mereka yang mencatatkan paten dikenakan biaya pencatatan.

Perjanjian lisensi tidak dicatatkan di Kantor Paten, maka perjanjian lisensi

tersebut tidak mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga.

Pengalihan Lisensi Paten Teknologi Layar Sentuh (touch screen) antara

Motorola dengan Nokia, harus didaftarkan pada Kantor Paten dan dimuat

dalam Daftar Umum paten. Perihal biaya yang dikenakan atas pancatatan

tersebut, dapat dirundingkan oleh kedua belah pihak. Apabila pengalihan

lisensi tersebut tidak dicatatkan maka tidak akan mempunyai akibat hukum.



Pasal 73 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten yang

menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai perjanjian lisensi diatur

dengan Peraturan Pemerintah. Oleh karena hingga saat ini Peraturan

Pemerintah tersebut belum ada maka segala ketentuan mengenai perjanjian

lisensi wajib dibuat dan tunduk pada ketentuan umum sebagaimana diatur
                                                                         77



dalam Kitab Undang-Undang Perdata dan kesepakatan para pihak, selama

tidak bertentangan dengan aturan-aturan hukum lainnya yang berlaku.



Di Indonesia pengaturan mengenai perjanjian diatur melalui Pasal 1313 Jo.

Pasal 1320 Jo Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW). Hal

itu berarti pengalihan hak paten berdasarkan perjanjian lisensi harus tunduk

mengikuti kepada ketiga pasal tersebut. Berdasarkan Pasal 1313 Kitab

Undang-Undang Hukum Perdata (BW), menyatakan bahwa:

“Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih

mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”

Hal itu menyiratkan bahwa perjanjian lisensi paten teknologi layar sentuh

(touch screen) dapat dilakukan kepada satu orang atau lebih.



Dalam prakteknya lisensi dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang menjadi

landasan hukum bagi pihak pemegang lisensi untuk melaksanakan

perbuatan (lisensi/pengalihan hak paten). Isi perjanjian hanya dibuat

berdasarkan kesepakatan para pihak dan harus memenuhi syarat sahnya

perjanjian. Berikut ini adalah syarat sahnya perjanjian:

Berdasarkan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW),

menyatakan bahwa:

“Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. Suatu hal tertentu;
4. Suatu sebab yang halal.”
                                                                            78



1. Sepakat artinya adalah:

   a. Besarnya royalti harus ditentukan oleh kedua belah pihak yang

       mengadakan perjanjian lisensi pengalihan hak paten teknologi layar

       sentuh;

   b. Cara pembayaran royaltinya harus ditentukan oleh kedua belah pihak

       yang mengadakan perjanjian lisensi pengalihan hak paten teknologi

       layar sentuh;

   c. Lamanya lisensi paten yang akan diallihkan tersebut.

2. Kecakapan artinya adalah:

   a. Kedua belah pihak yang melakukan perjanjian harus cakap dalam

       melakukan perbuatan hukum;

   b. Kedua      belah    pihak   yang   melakukan   perjanjian   harus   dapat

       mempertanggungjawabkan kontrak yang telah disepakati;

   c. Kedua belah pihak yang melakukan perjanjian harus melaksanakan

       kontrak yang telah disepakati.

3. Suatu hal tertentu artinya adalah hak paten yang akan dialihkan yaitu

   paten teknologi layar sentuh (touch screen) harus dapat dijadikan sebagai

   objek dalam perjanjian.

4. Suatu sebab yang halal artinya adalah lisensi paten teknologi layar

   sentuh (touch screen) yang akan dialihkan tidak boleh bertentangan

   dengan     peraturan     perundang-undangan,      ketertiban   umum     dan

   kesusilaan.



Berdasarkan pada penjelasan diatas, menyiratkan apabila salah satu dari

syarat tersebut tidak terpenuhi maka perjanjian lisensi pengalihan hak paten
                                                                             79



      teknologi layar sentuh (touch screen) tidak akan mempunyai kekuatan hukum

      yang mengikat dan batal demi hukum.



      Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW),

      menyatakan bahwa:

      “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang

      bagi mereka yang membuatnya.”

      Hal itu menyiratkan, bahwa sesungguhnya kesepakatan perjanjian lisensi

      pengalihan hak paten teknologi layar sentuh (touch screen) berlaku sebagai

      undang-undang bagi kedua belah pihak yang melakukan perjanjian tersebut.



      Pasal 71 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten yang

      dilarang dicantumkannya ketentuan dalam perjanjian lisensi yang memuat

      ketentuan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan

      akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat pembatasan

      yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan

      mengembangkan teknologi pada umumnya dan yang berkaitan dengan

      penemuan yang diberi paten tersebut. Oleh karena itu Kantor Paten memiliki

      hak untuk menolak pencatatan lisensi paten atas perjanjian lisensi yang

      memuat ketentuan tersebut. Dimuatnya larangan Pasal 71 Undang-Undang

      Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten dapat membawa konsekuensi tidak

      terlindunginya perjanjian lisensi tersebut41.

      Pengalihan Paten Teknologi Layar Sentuh (touch screen) berdasarkan

      perjanjian lisensi antara Motorola dengan Nokia dapat dilakukan dengan


41
     Gunawan Widjadja, Ibid, Hlm 59.
                                                                          80



melihat kepada Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu

mengenai “Asas Kebebasan Berkontrak”. Hal ini dikarenakan sampai saat ini

belum adanya Peraturan Pemerintah yang mengatur secara khusus

mengenai pengalihan hak paten berdasarkan perjanjian lisensi. Artinya

pengaturan perjanjian antara kedua belah pihak sepenuhnya berdasarkan

pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pemerintah selaku regulator

yang dalam hal ini diwakili oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual

berhak menolak pencatatan lisensi paten atas perjanjian lisensi yang

dilakukan oleh kedual belah pihak yaitu Motorola dan Nokia apabila dapat

menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat

pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam

menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya dan yang

berkaitan dengan penemuan yang diberi paten tersebut



Ketentuan mengenai Lisensi Wajib diatur dalam Undang-Undang Nomor 14

Tahun 2001 tentang Paten Pasal 74 hingga Pasal 87. Menurut Pasal 74,

Lisensi Wajib diartikan sebagai lisensi untuk melaksanakan Paten yang

diberikan berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan

Intelektual. Permohonan tersebut dapat diajukan oleh setiap orang setelah

lewatnya angka waktu 36 (tiga puluh enam) bulan terhitung sejak tanggal

pemberian paten dan diajukan kepada Direktorat Jenderal Hak atas

Kekayaan Intelektual. Keputusan pemberian lisensi wajib harus diberikan

dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak permohonan

diajukan.
                                                                         81



Permohonan lisensi wajib hanya dapat dilakukan jika paten yang diberikan

perlindungan   tersebut   tidak   dilaksanakan   atau   dilaksanakan   tidak

sepenuhnya di Indonesia oleh pemegang Paten Teknologi Layar Sentuh

(touch screen) di Indonesia yaitu Motorola atau dilaksanakan dalam bentuk

dan dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat. Artinya

permohonan lisensi wajib juga dapat diajukan meskipun paten telah

dilaksanakan di Indonesia oleh pemegang paten atau pemegang lisensi

paten tersebut. Lisensi wajib tidak dapat dialihkan kecuali jika dilakukan

bersamaan dengan pengalihan kegiatan atau bagian kegiatan usaha yang

menggunakan paten yang bersangkutan atau karena pewarisan. Lisensi

wajib yang beralih karena pewarisan tetap terikat oleh syarat pemberiannya

dan ketentuan lainnya terutama mengenai jangka waktu dan harus dilaporkan

kepada Kantor Paten untuk dicatat dimuat dalam Daftar Umum Paten.



Lisensi wajib berakhir dengan selesainya jangka waktu yang ditetapkan

dalam pemberiannya, dibatalkan atau dalam hal pemegang lisensi wajib

menyerahkan kembali lisensi yang diperolehnya kepada Kantor Paten

sebelum jangka waktu tersebut berakhir. Kantor Paten mencatat Lisensi wajib

yang telah berakhir jangka waktunya dalam buku daftar Umum Paten,

mengumumkan dalam berita resmi Paten dan memberitahukannya secara

tertulis kepada pemegang paten serta Pengadilan Negeri yang memutuskan

pemberiannya. Batal atau berakkhirnya lisensi wajib sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 83 dan Pasal 84 berakibat pulihnya hak pemegang paten atas

paten yang bersangkutan terhitung sejak tanggal pencatatannya dalam

Daftar Umum Paten.
                                                                                   82




      Atas permintaan pemegang paten, Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan

      Intelektual dapat membatalkan lisensi wajib yang semula diberikan apabila :

      (1) Alasan yang dijadikan dasar bagi pemberian lisensi wajib tidak ada

          lagi;

      (2) Penerima lisensi wajib ternyata tidak melaksanakan lisensi wajib tersebut

          atau tidak melakukan usaha persiapan yang sepantasnya untuk segera

          melaksanakannya;

      (3) Penerima lisensi wajib tidak lagi menaati syarat dan ketentuan lainnya

          termasuk    kewajiban      pembayaran   royalti   yang   ditetapkan   dalam

          pemberian lisensi wajib.

      Kemudian pembatalan tersebut dicatat dalam Daftar Umum Paten dan

      diumumkan dalam pemberian lisensi wajib42.




42
     Gunawan Widjadja, Ibid, Hlm 63.
                                                                         83



B. Perlindungan hukum yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 14

  tahun 2001 Tentang Paten terhadap Motorola selaku pemegang Hak

  Paten Teknologi Layar Sentuh (touch screen)



  Pemerintah selaku regulator berupaya untuk memberikan perlindungan

  hukum terhadap teknologi layar sentuh (touch screen) melalui Undang-

  Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten. Hal ini dimaksudkan agar

  pemegang hak paten atas teknologi tersebut merasa aman dalam melakukan

  kegiatannya di Indonesia dan terjamin hak-haknya. Pada dasarnya segala

  macam invensi dapat dipatenkan selama invensi tersebut berguna dan belum

  ada dalam lapangan teknologi yang bersangkutan. Menurut Pasal 2 Undang-

  Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten, Paten diberikan untuk invensi

  yang baru dan mengandung langkah inventif serta dapat diterapkan dalam

  industri. Paten akan diberikan dengan syarat, inventor harus mengungkapkan

  seluruh   rahasia   invensinya   termasuk   contoh   bagaimana   sebaiknya

  menjalankan invensi tersebut yang tertuang dalam spesifikasi paten yang

  diajukan. Hal ini berguna bagi negara dalam hal alih teknologi. Sesuai

  dengan konsep Mochtar Kusumaatmadja yaitu teori pembangunan yang

  terdapat dalam GBHN Tahun 1973, GBHN Tahun 1978 dan GBHN Tahun

  1993 yaitu:

  1. GBHN Tahun 1973 yaitu, “Bahwa hukum tidak boleh menghambat proses

     moderenisasi”.

  2. GBHN Tahun 1978 yaitu, “Hukum dapat berfungsi sebagai sarana

     Pembangunan”.
                                                                                   84



     3. GBHN Tahun 1993 yaitu, “Hukum dapat berfungsi sebagai sarana

        rekayasa kemasyarakatan”.


     Berkaitan dengan teknologi layar sentuh (touch screen), teknologi layar

     sentuh (touch screen) bukan termasuk kedalam teknologi baru karena sudah

     tercipta sejak tahun 1971 dan sudah digunakan secara luas pada tahun

     1990-an, Teknologi touch screen terus berkembang dari waktu ke waktu.

     Pada awalnya teknologi ini dipatenkan oleh pihak-pihak tertentu, pada sekitar

     tahun 1980-an hak paten tersebut telah berakhir dan teknologi ini menjadi

     milik umum yang bebas dikembangkan. Oleh karena itu, teknologi ini cukup

     banyak berkembang untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Pada dasarnya

     teknologi layar sentuh (touch screen) yang di aplikasikan pada telepon

     genggam itu sendiri adalah pengembangan dari teknologi layar sentuh (touch

     screen) terdahulu. Oleh karena itu dalam hak paten, teknologi touch screen

     pada telepon genggam tersebut termasuk kedalam paten sederhana43.


     Menurut   Undang-Undang       Nomor     14   Tahun    2001    Tentang     Paten,

     Perlindungan Paten dengan Paten sederhana memiliki perbedaan dalam hal

     perlindungan hukumnya yaitu:




43
  www.bloraku.com, Aplikasi layar sentuh pada peralatan elektronik jaman modern,
diakses pada tanggal 21 Mei 2009, Pukul 15.00 WIB.
                                                                        85


 No.    KETERANGAN                  PATEN                    PATEN
                                                             SEDERHANA
 1.     Jumlah Klaim                Invensi atau beberapa    Invensi
                                    Invensi yang
                                    merupakan
                                    satu kesatuan invensi
 2.     Masa Perlindungan           20 Th terhitung sejak  10 Th terhitung
                                    tanggal penerimaan     sejak tanggal
                                                           penerimaan
                                                           paten
 3.     Pengumuman                  18 bulan setelah       3 bulan setelah
        Permohonan                  penerimaan             tanggal
                                                           penerimaan
 4.     Jangka waktu mengajukan     6 bulan sejak          3 bulan
        Keberatan                   diumumkan              terhitung sejak
                                                           diumumkan
 5.     Yang diperiksa dalam        Kebaruan (novelty)     Kebaruan
        Pemeriksaan suntantif       langkah inventif, dan  (novelty),
                                    dapat diterapkan dalam dapat
                                    industry               diterapkan
                                                           dalam bidang
                                                           industry
 6.     Lama pemeriksaan            36 bulan terhitung     24 bulan
        Subtantif                   sejak                  terhitung sejak
                                    tanggal penerimaan     tanggal
                                    Permohonan             penerimaan
                                    pemeriksaan            permohonan
                                    Subtantif              pemeriksaan
                                                           subtantif
 7.     Objek paten                 Produk atau proses     Produk atau
                                                           proses



Cara untuk menjamin kelangsungan paten tersebut dari tahun ke tahun yaitu,

pemegang paten harus membayar biaya. Berdasarkan Pasal 115 Undang-

Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten menyatakan bahwa paten

dinyatakan batal demi hukum jika kewajiban membayar biaya tahunan tidak

dipenuhi selama tiga tahun berturut-turut. Berarti pemegang paten teknologi

layar sentuh (touch screen) di Indonesia yaitu Motorola harus membayar

biaya setiap tahun walaupun pemegang paten tersebut belum tentu

menggunakan hak patennya tersebut untuk memproduksi suatu produk
                                                                         86



misalnya. Hal ini menjadi salah satu alasan bagi Motorola untuk memberikan

lisensi patennya kepada pihak lain yaitu Nokia melalui perjanjian lisensi.

Perjanjian lisensi harus dibuat dalam bentuk tertulis dan didaftar di Kantor

Paten serta dimuat dalam Daftar Umum Paten. Perjanjian lisensi seharusnya

mencantumkan hal-hal sebagai berikut:


1. Pihak yang akan membayar tahunan untuk kelangsungan paten;

2. Pihak yang akan menangani jika ada gugatan terhadap pelanggaran

   paten;

3. Adanya jaminan dari pemegang paten bahwa invensi yang dipatenkan

   adalah baru;

4. Adanya jaminan dari pemberi lisensi bahwa patennya sah menurut

   Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten.


Kemudian dalam Pasal 16, 17 dan 19 Undang-Undang Nomor 14 Tahun

2001 Tentang Paten menyebutkan mengenai bentuk-bentuk perlindungan

paten, yaitu:


“Pemegang Paten memiliki hak khusus untuk melaksanakan paten yang
dimilikinya, dan melarang orang lain yang tanpa persetujuannya membuat,
menjual, mengimpor, menyerahkan, memakai, meyediakan untuk dijual atau
disewakan atau diserahkan produk yang diberi paten.”

“Paten Indonesia tidak dapat mencegah pembuatan invensi paten itu di

Negara lain.”


“Paten Indonesia melarang impor dan penjualan produk dari luar negeri

apabila produk itu dipatenkan dan dibuat di Indonesia.”
                                                                              87



Berdasarkan ketentuan ketiga pasal tersebut dapat diartikan bahwa

pemegang paten dalam hal ini Motorola memiliki hak untuk melarang orang

lain tanpa persetujuannya mengimpor produk yang dipatenkan dengan syarat

produk tersebut telah dibuat di Indonesia dengan menggunakan proses yang

dilindungi oleh paten. Hal tersebut untuk memberikan rasa aman kepada

pemegang paten di Indonesia khususnya pihak Motorola selaku pemegang

paten teknologi layar sentuh (touch screen) di Indonesia.


Apabila terjadi sengketa yang berkaitan dengan Hak Paten yang dipegang

oleh seseorang di Indonesia, maka pemegang Hak Paten tersebut dapat

menyelesaikan sengketanya tersebut melalui 2 (dua) jalur, yaitu :


1. Penyelesaian sengketa melalui Litigasi ataupun pengadilan. Penyelesaian

      sengketa melalui jalur Litigasi ini dibedakan melalui dua cara yaitu secara

      perdata dan secara pidana.

2. Penyelesaian sengketa melalui jalur Non Litigasi atau Alternatif

      Penyelesaian Sengketa atau Arbitrase.


Penyelesaian sengketa melalui jalur Litigasi dengan cara perdata, pemegang

hak     paten   dapat   mengajukan     gugatan    kepada    Pengadilan    Niaga.

Penyelesaian sengketa secara perdata biasanya diselesaikan melalui ganti

rugi. Pengadilan dapat memutuskan sengketa tesebut dengan melihat

kepada unsur novelty (penemuan baru) dan tanggal permohonan karena

dalam HaKI menganut sistem first to file yaitu pihak yang dianggap paling

pertama mendaftarkan. Akan tetapi apabila salah satu pihak merasa kurang

puas dan dapat menunjukkan bukti bahwa mereka yang menemukan

pertama kali teknologi tersebut, maka hal tersebut dapat dijadikan sebagai
                                                                          88



dasar gugatan di Pengadilan Niaga. Berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang

Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten, terhadap putusan Pengadilan Niaga,

para pihak hanya dapat mengajukan kasasi.


Apabila   terdapat   unsur   pidana   dalam   pelanggaran   tersebut,   maka

penyelesainnya dapat dilakukan melalui Pengadilan Negeri dengan dilakukan

penyidikan terlebih dahulu oleh penyidik. Penyidik berdasarkan Pasal 129

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten, yaitu:


“Selain Penyidik Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri
Sipil tertentu di departemen yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya
meliputi bidang Hak Kekayaan Intelektual diberi wewenang sebagai penyidik
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981
tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan tindak pidana di bidang
Paten.

Sanksi yang dikenakan adalah sanksi pidana sesuai dengan Kitab Undang-

Undang Hukum Pidana (KUHP). Akan tetapi tidak menutup kemungkinan

juga untuk menggunakan Undang-Undang lain yang berkaitan dengan

pelanggaran tersebut. Misalnya adalah pelanggaran terhadap persaingan

tidak sehat untuk menentukan sanksi pidanya dapat menggunakan Undang-

Undang    Perlindungan Konsumen,       Undang-Undang    Larangan Praktek

Monopoli dan Undang-Undang Persaingan Tidak Sehat.


Berdasarkan Pasal 124 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang

Paten, selain Pengadilan Niaga para pihak juga dapat menyelesaikan

sengketa tersebut melalui jalur non Litigasi atau Alternatif Penyelesaian

Sengketa atau Arbitrase yaitu melalui Pengadilan Arbitrase atau Alternatif

Penyelesaian Sengketa. Menurut Pasal 1 Angka 1 Undang-undang nomor 30

tahun 1999 Tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa dan Arbitrase,
                                                                           89



“Arbitrase adalah cara penyelesaian sengketa diluar peradilan umum yang

didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh pihak

yang bersengketa”. Pasal 1 Angka 3 undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999

Tentang   Arbitrase     menyatakan,   “Perjanjian   arbitrase   adalah   suatu

kesepakatan berupa klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu

perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum terjadi sengketa atau suatu

perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah terjadinya

sengketa. Artinya, apabila penyelesaian sengketa dilakukan melalui jalur Non

Litigasi yaitu melalui Arbitrase, maka harus ada kesepakatan antara kedua

belah pihak dalam hal ini adalah pihak pemegang hak paten dan pemegang

lisensi yang dituangkan melalui suatu perjanjian Arbitrase baik itu merupakan

bagian dari perjanjian secara perdata antara kedua belah pihak sebelum

terjadinya sengketa ataupun perjanjian tersendiri setelah terjadinya sengketa.


Selanjutnya menurut Pasal 6 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999

Tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa dan Arbitrase, menyatakan bahwa,

“Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak

melalui alternatif penyesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik

dengan menyelesaikan secara litigasi di Pengadilan Negeri”. Artinya, selain

melalui arbitrase penyelesaian sengketa juga dapat diselesaikan melalui jalur

alternatif penyelesaian sengketa, diantaranya:


1) Melalui Negosiasi;

2) Melalui Mediasi, dan;

3) Melalui Konsiliasi
                                                                              90



Penyelesaian sengketa melalui salah satu dari 3 (tiga) macam alternatif

penyelesaian sengketa tergantung kepada kesepakatan tertulis masing-

masing pihak yang bersengketa.


Kaitannya dengan pemegang hak paten teknologi (touch screen) di Indonesia

yaitu Motorola, apabila terjadi sengketa dengan pihak Nokia selaku

pemegang lisensi hak paten tersebut, maka dapat diselesaikan dengan jalur

non litigasi atau diluar jalur pengadilan yaitu melalui Arbitrase atau Alternatif

Penyelesaian Sengketa. Di Indonesia sendiri, terdapat Badan Arbitrase

Indonesia (BANI) yang menangani penyelesaian sengketa melalui jalur

Arbitrase atau Alternatif Penyelesaian Sengketa. Undang-undang yang

mengaturnya adalah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang

Alternatif Penyelesaian Sengketa dan Arbitrase. Ada beberapa keuntungan

apabila penyelesaian sengketa yang terjadi diselesaikan melalui Alternatif

Penyelesaian Sengketa dan Arbitrase, yaitu:


1) Tidak    memerlukan      biaya    yang    banyak     dibandingkan     dengan

   penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi.

2) Penyelesaian sengketa tidak memakan waktu yang lama.

3) Kemungkinan tercapainya hasil win-win solution.

4) Kerahasiaan masing-masing pihak yang bersengketa terjaga (terhindar

   dari publisitas).

5) Hukum acara arbitrase bersifat fleksibel.

6) Putusannya bersifat final dan binding (mengikat)

7) Terjaganya hubungan baik antara kedua belah pihak yang saling

   bersengketa.
                                                                           91



8) Hasil putusan diambil oleh orang yang ahli.


Hasil putusan melalui jalur non litigasi yaitu melalui Alternatif Penyelesaian

Sengketa atau Arbitrase biasanya berupa ganti kerugian sesuai dengan yang

sudah disepakati.


Pasal 125 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten

menjelaskan bahwa para pihak yang dirugikan juga dapat mengajukan

Penetapan Sementara Pengadilan.


Pengaturan HaKI di Indonesia dipengaruhi juga oleh Traktat Hukum Paten

(Patent Law Treaty) yang salah satu dari isi Traktat tersebut adalah setiap

negara tetap memberlakukan hak-hak yang diperoleh melalui Konvensi Paris

yaitu salah satunya adalah Hak Prioritas. Hak Prioritas itu sendiri adalah hak

pemohon untuk mengajukan permohonan yang berasal dari negara yang

tergabung dalam Paris Convention for Protection of Industrial Property atau

Agreement Establishing the World Trade Organitation untuk memperoleh

pengakuan bahwa tanggal penerimaan di negara asal merupakan tanggal

prioritas di negara tujuan yang juga anggota salah satu dari kedua perjanjian

tersebut dilakukan dalam kurun waktu yang telah ditentukan berdasarkan

Paris Convention tersebut. Kaitannya dengan kasus Motorola selaku

pemegang hak paten teknologi layar sentuh (touch screen) di Indonesia

dengan pihak Nokia yang memasarkan produknya yaitu Nokia 5800 di

Indonesia merupakan sesuatu hal yang diperbolehkan. Inilah salah satu

kekurangan dari Pengaturan HaKI di Indonesia yang masih mengenal Hak

Prioritas dalam pengaturannya. Diketahui, Nokia juga telah mendaftarkan

teknologi layar sentuh (touch screen) pada produk telepon selularnya melalui
                                                                          92



UPSTO yaitu Kantor Paten Di Amerika Serikat. Sehingga pengumuman di

Amerika Serikat tersebut merupakan pengumuman di Indonesia juga. Hal ini

dapat mengakibatkan ketidakjelasan pemegang hak paten teknologi layar

sentuh di Indonesia.


Pasal   13   Undang-Undang     Nomor    14   Tahun    2001   tentang   Paten

menyebutkan bahwa barang siapa yang telah menjalankan sebuah invensi

pada saat invensi serupa dimintakan paten oleh pihak lain, orang tersebut

tetap menjalankan invensi tersebut sekalipun terhadap invensi yang sama

tersebut diberi paten. Artinya, dalam kasus ini apabila memang terbukti pihak

Nokia yang terlebih dahulu menjalankan teknologi layar sentuh (touch

screen) yang diterapkan dalam produk telepon selular yang dipasarkan di

Indonesia, berarti Nokia tetap dapat menjalankan kegiatannya tersebut

sekalipun terhadap invensi yang sama telah diberi paten. Akan tetapi Nokia

tetap harus melakukan perjanjian lisensi mengenai pengalihan hak paten

teknologi layar sentuh (touch screen) dengan Motorola selaku pemegang hak

paten teknologi tersebut.
                                                                           93



                                     BAB V


                             SIMPULAN DAN SARAN




A. SIMPULAN


Berdasarkan analisis yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya maka dapat

diambil simpulan sebagai berikut :


1. Pengalihan Hak Paten antara Motorola Sebagai Pemegang Lisensi

  Teknologi Layar Sentuh (Touch Screen) Dengan Nokia Selaku Pemohon

  Lisensi Teknologi Layar Sentuh (Touch Screen)

  Berdasarkan Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001

  Tentang Paten Pengalihan Hak Paten yang diberikan oleh Motorola selaku

  pemegang Hak Paten teknologi Layar Sentuh (Touch Screen) di Indonesia

  kepada Nokia selaku pemohon termasuk ke dalam lisensi eksklusif yaitu,

  penerima lisensi memiliki hak tunggal, membuat, mempergunakan atau

  menjual produk paten. Rumusan Pasal 73 Undang-Undang Nomor 14 Tahun

  2001 tentang Paten, menjelaskan akibat belum adanya Peraturan Pemerintah

  yang mengatur mengenai perjanjian lisensi hingga saat ini, maka segala

  ketentuan mengenai perjanjian lisensi wajib dibuat dan tunduk pada ketentuan

  umum sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Perdata dan

  kesepakatan para pihak, selama tidak bertentangan dengan aturan-aturan

  hukum lainnya     Artinya pengalihan Paten Teknologi Layar Sentuh (touch

  screen) berdasarkan perjanjian lisensi antara Motorola dengan Nokia dapat
                                                                                     94



  dilakukan dengan melihat kepada Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum

  Perdata.


2. Perlindungan hukum yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 14

  tahun 2001 Tentang Paten terhadap Motorola selaku pemegang Hak

  Paten Teknologi Layar Sentuh (touch screen)


  Perlindungan hukum tersebut dapat dilihat dalam Pasal 16, 17 dan 19

  Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten. Berdasarkan

  ketentuan ketiga pasal tersebut dapat diartikan bahwa pemegang paten dalam

  hal ini Motorola memiliki hak untuk melarang orang lain tanpa persetujuannya

  mengimpor produk yang dipatenkan dengan syarat produk tersebut telah

  dibuat di Indonesia dengan menggunakan proses yang dilindungi oleh paten.

  Apabila terjadi sengketa yang berkaitan dengan Hak Paten yang dipegang

  oleh seseorang di Indonesia, maka pemegang Hak Paten tersebut dapat

  menyelesaikan sengketanya tersebut melalui 2 (dua) jalur, yaitu :


  a.   Penyelesaian sengketa melalui litigasi ataupun pengadilan. Penyelesaian

       sengketa melalui jalur litigasi ini dibedakan melalui dua cara yaitu secara

       perdata dan secara pidana.

  b.   Penyelesaian    sengketa     melalui   jalur   non   litigasi   atau   alternatif

       penyelesaian sengketa atau arbitrase.


B. SARAN


1. Sebagai anggota aktif dari World Trade Organization (WTO), Indonesia harus

   turut serta mewujudkan ketertiban dunia dengan melaksanakan Undang-

   Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten sebagai konsekuensi dari
                                                                                 95



   Agreement        Establishing   the   World   Trade   Organization   (Persetujuan

   Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia) yang mencakup pula

   Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights yang

   diratifikasi oleh pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994

   Tentang Pengesahan Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan

   Dunia, sehingga para inventor dapat terlindungi haknya dengan baik.,

2. Berdasarkan Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang

   Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman bahwa apabila belum ada aturan

   secara khusus terhadap pengaturan pengalihan hak paten berdasarkan

   perjanjian lisensi, maka hakim sebagai penegak hukum dan keadilan selain

   dapat menggunakan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHP) sebagai

   dasar hukum, hakim juga wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai

   yang hidup dalam masyarakat. Kedepannya, pemerintah harus memperbaiki

   Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten, agar pengaturan

   mengenai pengalihan hak paten berdasarkan perjanjian lisensi dapat lebih

   jelas.

3. Apabila terjadi sengketa antara dua belah pihak, sebaiknya diselesaikan

   melalui jalur non litigasi yaitu melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa atau

   Arbitrase agar dapat tercapai keputusan yang saling menguntungkan (win-

   win solution).

						
Related docs
Other docs by HC12100223544
STRATEGI BISNIS DAN KEBIJAKSANAAN
Views: 68  |  Downloads: 1
THOMAS WINNINGER
Views: 0  |  Downloads: 0
PERENCANAAN PESAN-PESAN BISNIS
Views: 80  |  Downloads: 1
Statistics also show that in FY 2010 11
Views: 0  |  Downloads: 0
WITS Data Retrieval Course Empty
Views: 0  |  Downloads: 0
menu 461d10121000c
Views: 2  |  Downloads: 0
jbptunikompp gdl muhamadazi 19720 6 9 isi
Views: 9  |  Downloads: 0