; mahasiswa ideal
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

mahasiswa ideal

VIEWS: 12 PAGES: 2

  • pg 1
									3 point yang seharusnya melekat di jiwa mahasiswa, yaitu :


-> MUDA
Yap…mahasiswa identik dengan yang namanya Muda, dimana jiwa Muda selalu bersemangat, selalu
bergelorah. Jiwa yang selalu berapi-api ketika akan melakukan sesuatu, bahkan Bang Haji Rhoma Irama
membuatkan sebuah lagu :


Jiwa Muda inilah yang seharusnya menjadi identitas mahasiswa, dimana-mana pergerakan sebuah
revolusi/perubahan dimulai dari yang muda-muda, maka dari itu ikrarkanlah mulai sekarang untuk dapat
berkontribusi bagi sebuah pergerakan walaupun itu masih dalam skala kecil. Mengutip salah satu tokoh
politik (*lupa namanya..hehe) pernah membuat jargon : ” Yang Muda Yang Berkarya”…


-> INTELEKTUAL
Seorang manusia pastinya diberi pemikiran dan intelektual yang sama ketika mereka lahir…proses
pembelajaran dan pendewasaan mereka lah yang membuat perbedaan intelektual mereka, begitu juga
dengan mahasiswa dimana mereka pasti mempunyai tingkat intelektual yang berbeda antara mahasiswa.
Disinilah peran mahasiswa dengan perbedaan intelektualnya agar “tidak hanya diam” terseret arus
globalisasi yang merajalela seperti saat sekarang ini. Mahasiswa pun jangan hanya menggunakan
intelektualnya di bidang akademik saja, tetapi kalo bisa juga menggunakan dalam bidang-bidang lainnya
seperti dalam hal berorganisasi, berwirausaha, seni ataupun bidang lainnya. Alangkah baiknya jika kita
memaksimalkan kedua fungsi otak kita yaitu, otak kiri yang identik dengan bidang akademik, dan otak
kanan yang identik non akademik.


-> IDEALISME
Mungkin bagi saya sendiri kata ini cukup berat, betapa tidak?? di zaman yang sekarang ini mungkin hanya
sedikit yang memiliki idealisme yang kokoh (*menurut saya lho). Contohnya saja para anggota Dewan baik
yang di DPR RI maupun di Daerah. Kebanyakan mereka adalah bekas mahasiswa yang notabene
beridealisme anti korupsi (*itu ketika masih mahasiswa lho), mereka sering turun ke jalan, membuat
debat politik, kontrak politik ataupun orasi-orasi lainnya, tapi lihatlah sekarang banyak dari mereka yang
kesandung kasus korupsi (*cuma sebagian kok)… Jadi patut dipertanyakan, kemana hilangnya idealisme
mereka ketika masih bertitle agen of change?? Tapi, bukan itu yang ingin saya paparkan disini, melainkan
sebuah idealisme yang sangat mencakup semua hal yaitu ISLAM. Yap…itu bukan hanya sekedar agama atau
kepercayaan, ISLAM merupakan RAHMATAN LIL ALAMIN, RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM. Seseorang yang
kokoh akan fondasi Idealismenya menurut Islam, yaitu Al-Quran dan Hadits, maka idealismenya tidak akan
lekang oleh yang namanya zaman. Idealisme berdasarkan Islam akan mampu menjadi firewall
bagi spyware-spyware ataupun kesempatan-kesempatan nakal yang menghinggapi. Wallahu’alam.
Mahasiswa merupakan icon bagi setiap moment perubahan kebijakan di
kampus. Bahkan dikatakan bahwa mahasiswa merupakan agent of change dan
iron stock masa depan. Paradigma ini menuntut setiap mahasiswa untuk aktif
dalam setiap moment di kampus bahkan sampai tingkat negara. Mengapa
paradigma ini perlu? Jika mahasiswa cuek terhadap perkembangan suatu
kebijakan kampus ataupun negara dan ternyata kebijakan tersebut merugikan
rakyat, siapa yang akan melakukan penentangan dan pengkritisan? Orang miskin,
tukang becak atau pengusaha?
Sejarah mencatat bahwa tahun 1996–1998, mahasiswa mengalami
masa–masa menegangkan dan penuh perjuangan dalam mengawal masa
kepemimpinan rezim Soeharto. Bukan hanya harta ataupun waktu, tetapi
nyawapun siap untuk mereka korbankan. ”Beda zaman, beda kondisi”. Mungkin
itulah yang sedang melanda sebagian besar mahasiswa Indonesia. Pernyataan di
atas ada benarnya. Namun, kebanyakan mahasiswa sekarang menafsirkan
berbeda. Mereka beranggapan bahwa kuliah itu yang penting lulus dengan IPK
bagus dan cepat kerja. Tidak seperti mahasiswa dulu yang lebih senang berurusan
dengan birokrasi. ”Sekarang kondisinya sudah lain, tak seperti dulu”. Inilah yang
menjadi trend mahasiswa sekarang.
Tampaknya telah terjadi pergeseran paradigma mahasiswa kemarin dan
saat ini. Kalau kemarin mahasiswa cenderung bergerak untuk kesejahteraan
rakyat, tetapi terkadang lupa akan studinya. Sekarang malah sebaliknya, aktif
mengejar urusan studi, tetapi jiwa sosialnya mulai luntur. Bila kita mencermati dua
kondisi mahasiswa di atas maka tampak bahwa tiap zaman, mahasiswa memiliki
kelebihan dan kelemahan yang berbeda. Lalu, tipe mahasiswa apa yang ideal ?
Mahasiswa merupakan golongan elit di bangsa ini. Dari sekian banyak
pemuda di negeri ini, merekalah yang memiliki kapasitas keilmuan lebih dari
sisanya. Sebenarnya, merekalah yang paling bisa diharapkan untuk memimpin
perubahan bangsa ini. Dan pada kenyataannnya memang bangsa ini berharap
pada mereka, walaupun bangsa ini tidak menyadarinya.
Karena itu, mahasiswa, telah dibebani tiga buah peran: 1) agen
perubahan, 2) penjaga nilai, dan 3) cadangan masa depan. Mahasiswa ideal
adalah mereka yang dapat menyadari, memahami, dan menjalankan peran yang
diberikan kepada mereka dengan sebaik-baiknya.
Diperlukan kapasitas yang cukup untuk menjalankan peran-peran
tersebut dengan baik. Ada tiga kelompok besar kapasitas yang diperlukan: 1)
kapasitas akhlak dan moral, 2) kapasitas sosial politik, 3) kapasitas keilmuan dan
keprofesian.
Seorang agen perubahan dituntut untuk memberikan pengaruh kepada
manusia yang lain sehingga perubahan itu dapat terjadi di sekitarnya. Ini menuntut
adanya pengetahuan yang cukup tentang manusia. Di sinilah letak pentingnya
kapasitas sosial politik. Agar para agen tersebut dapat berkomunikasi secara baik
dengan manusia lainnya untuk menyampaikan gagasan perubahan yang
dibawanya serta efektif dalam merekayasa perubahan sosial di sekitarnya.
Mahasiswa sebagai penjaga nilai memerlukan kapasitas akhlak dan
moral yang baik. Dapat disimpulkan secara sederhana bahwa akar permasalahan
yang ada di bangsa ini adalah busuknya moralitas. Mahasiswalah yang masih
dianggap idealis untuk mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salah.
Karena mahasiswa dinilai tidak memiliki kepentingan politis dalam
memperjuangkan apa yang dikatakannya.
Sebagai cadangan masa depan, mahasiswa yang akan mengisi pospos
kepemimpinan negeri ini. Mereka adalah calon ilmuan, insinyur, dokter,
menteri, jaksa, polisi, presiden, dsb. Untuk dapat memimpin, kemampuan retorika
dan moralitas yang baik saja tidak cukup. Melainkan diperlukan juga kompetensi
konkret yang mumpuni di bidang masing-masing. Semakin banyak bidang yang
kita unggul di dalamnya, semakin banyak bahasa yang bisa kita gunakan untuk
membahasakan kita.
Dengan keseimbangan antara ketiga peran dan kapasitas yang
diperlukan dalam menjalankan peran tersebut, maka akan mucul generasi baru
dan era baru mahasiswa yang lebih baik, generasi dari sebuah akumulasi dua era
sebelumnya, sudah saaatnya kita bergerak memulai era tersebut, mulailah saat ini,
dan mulailah dari diri kita masing – masing. Kalau bukan kita, lalu siapa
lagi?.

								
To top