PEMBELAJARAN TERPADU by dDNZ70

VIEWS: 205 PAGES: 93

									    PELATIHAN PENGUATAN
KEMAMPUAN PENGAWAS SEKOLAH




      WORKSHOP ON-IN-ON PENGUATAN KEMAMPUAN PENGAWAS SEKOLAH
                   DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN
DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
                   KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
                                 2010
PEMBELAJARAN TERPADU

Pembelajaran yang bersifat menyeluruh
atau holistik.
Pendekatan ini menempatkan siswa dalam
posisi sentral, siswa sebagai peserta didik
yang aktif, terutama dalam keterampilan
berpikir.
Pengintegrasian Kurikulum
(lanjutan)
Model pembelajaran dalam Pembelajaran Terpadu


   Model-model pembelajaran berpikir yang dapat digunakan
    dalam pembelajaran terpadu adalah: pemecahan masalah,
    evaluasi kritis, penyelidikan, pengambilan keputusan,
    berpikir kritis, berpikir kreatif.

   Beberapa kegiatan utama dari model-model pembelajaran
    berpikir ini diuraikan sebagai berikut:

    1.   Pemecahan Masalah
     ·   Menghimpun fakta-fakta,
     ·   Merumuskan masalah,
     ·   Mengembangkan ide, pemikiran, alternative pemecahan,
     ·   Menentukan alternatif pemecahan,
     ·   Menyusun rencana tindakan pelaksanaan.
 2. Berpikir Kritis
  · Menjelaskan ide dan pemikiran
  · Menentukan tingkat ketepatan informasi dasar (hasil
    pengamatan dan komunikasi).
  · Menyusun argumentasi dan penyimpulan
  (berdasarkan data dan konsep)

 3. Berpikir Kreatif
  · Pengembangan ide-ide dalam beberapa kategori
  (kelenturan berpikir)
  · Pengembangan ide baru (kemurnian berpikir)
  · Penyempurnaan ide (elaborasi pemikiran)
 4. Evaluasi Kritis
  · Menentukan kriteria
  · Menyusun alternatif pemikiran, pemecahan,
  · Membuat perkiraan dan menentukan
    keputusan,
  · Memberikan alas an, argumentasi bagi
    keputusan.
Tujuan dan Manfaat Pembelajaran
Terpadu
 Meningkatkan efisiensi dan efektivitas
  pembelajaran
 Meningkatkan minat dan motivasi
 Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai
  sekaligus
 Motivasi belajar peserta didik dapat
  diperbaiki dan ditingkatkan.
 Pembelajaran terpadu membantu
  menciptakan struktur kognitif yang dapat
  menjembatani antara pengetahuan awal
  peserta didik dengan pengalaman belajar
  yang terkait
(lanjutan)


   Akan terjadi peningkatan kerja sama antar guru sub bidang kajian
    terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta
    didik, peserta didik/guru dengan nara sumber; sehingga belajar
    lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam
    konteks yang lebih bermakna.
   Dengan menggabungkan berbagai bidang kajian akan terjadi
    penghematan waktu, karena ketiga atau lebih disiplin ilmu dapat
    dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga dapat
    dikurangi bahkan dihilangkan.
   Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena
    peserta didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih
    luas dan lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.
   Pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang
    dunia nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
    memudahkan pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi
    dari mata pelajaran yang dipadukan.
Jenis Pembelajaran Terpadu di
SMP/A
 Pembelajaran yang dimungkinkan untuk dipadukan
  adalah mata pelajaran Kimia, Biologi dan Fisika
  menjadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Terpadu.
 Sedangkan kajian tentang sosiologi, sejarah, geografi,
  ekonomi, politik, antropologi, filsafat, psikologi sosial
  menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
  (IPS) Terpadu.
 Dalam hal ini Guru bekerja sama melihat dan
  memberikan topik-topik yang berkaitan dan tumpang
  tindih (dengan mencermati indikator yang telah
  disusun) dan memadukannya. Kemungkinan pada
  pemaduan IPA adalah Connected, Webbed (tematik)
  dan Integrated.
Pembelajaran IPA Terpadu
 Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengetahuan
  ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji
  kebenaran melalui metode ilmiah, dengan ciri:
  objektif, metodik, sistematis, universal, dan tentatif.
  Ilmu Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang pokok
  bahasannya adalah alam dan segala isinya.
 Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA sebagai
  “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara
  teratur, berlaku umum (universal), dan berupa
  kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”.
Hakikat IPA
Hakikat IPA meliputi empat unsur utama yaitu:
 Sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena
   alam, mahluk hidup, serta hubungan sebab akibat
   yang menimbulkan masalah baru yang dapat
   dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat
   open ended;
 Proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode
   ilmiah; metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis,
   perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi,
   pengukuran, dan penarikan kesimpulan;
 Produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum;
 Aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA
   dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap terhadap IPA
 Dalam kenyataan, memang tidak banyak peserta
  didik yang menyukai mata pelajaran IPA, karena
  dianggap sukar, keterbatasan kemampuan peserta
  didik, atau karena mereka tak berminat menjadi
  ilmuwan atau ahli teknologi. Namun demikian,
  mereka tetap berharap agar pembelajaran IPA di
  sekolah dapat disajikan secara menarik, efisien, dan
  efektif.
 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang akan
  dicapai peserta didik yang dituangkan dalam empat
  aspek yaitu;
 makhluk hidup dan proses kehidupan,
 materi dan sifatnya,
 energi dan perubahannya, serta
 bumi dan alam semesta.
Karakteristik Mata Pelajaran IPA
   Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang
    diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen,
    pengamatan, dan deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan
    tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya.
   Ada tiga kemampuan dalam IPA yaitu: (1)kemampuan untuk
    mengetahui apa yang diamati, (2) kemampuan untuk memprediksi
    apa yang belum diamati, dan kemampuan untuk menguji tindak
    lanjut hasil eksperimen, (3) dikembangkannya sikap ilmiah.
   Kegiatan pembelajaran IPA mencakup pengembangan kemampuan
    dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, memahami
    jawaban, menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”,
    dan “bagaimana” tentang gejala alam maupun karakteristik alam
    sekitar melalui cara-cara sistematis yang akan diterapkan dalam
    lingkungan dan teknologi.
   Kegiatan tersebut dikenal dengan kegiatan ilmiah yang didasarkan
    pada metode ilmiah.
(lanjutan)
   Pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya:
     (1) memberikan pengalaman pada peserta didik sehingga
    mereka kompeten melakukan pengukuran berbagai besaran
    fisis,
     (2) menanamkan pada peserta didik pentingnya
    pengamatan empiris dalam menguji suatu pernyataan
    ilmiah (hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari
    pengamatan terhadap kejadian sehari-hari yang
    memerlukan pembuktian secara ilmiah,
     (3) latihan berpikir kuantitatif yang mendukung kegiatan
    belajar matematika, sebagai penerapan matematika pada
    masalah-masalah nyata yang berkaitan dengan peristiwa
    alam,
     (4) memperkenalkan dunia teknologi melalui kegiatan
    kreatif dalam kegiatan perancangan dan pembuatan
    alatalat sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan
    keampuhan IPA dalam menjawab berbagai masalah.
TUJUAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU


 a. Meningkatkan efisiensi dan
  efektivitas pembelajaran
 b. Meningkatkan minat dan
  motivasi
 c. Beberapa kompetensi dasar
  dapat dicapai sekaligus
(lanjutan)

  Pembelajaran terpadu diawali dengan penentuan TEMA, karena
  penentuan tema akan membantu peserta didik dalam beberapa
  aspek
  yaitu:
  a. peserta didik yang bekerja sama dengan kelompoknya akan
  lebih
  bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri;
  b. peserta didik menjadi lebih percaya diri dan termotivas
  dalam belajar
  bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya;
  c. peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat
  karena
  mereka ‘mendengar’, ‘berbicara’, ‘membaca’, ‘menulis’ dan
  ‘melakukan’ kegiatan menyelidiki masalah yang sedang
  dipelajarinya;
(lanjutan)
 d. memperkuat kemampuan berbahasa peserta didik;
 e. belajar akan lebih baik bila peserta didik terlibat secara aktif
 melalui tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman,
 guru, dan dunia nyata.
 Oleh karena itu, jika guru hendak melakukan pembelajaran
 terpadu dalam IPA, sebaiknya memilih tema yang
 menghubungkaitkan antara
 IPA–lingkungan- teknologi-masyarakat.
 Berikut ini diberikan contoh pembelajaran IPA Terpadu dengan
 tema
 yang bernuansa IPA-lingkungan-teknologi-masyarakat.
4. PEMADUAN KONSEP DALAM
PEMBELAJARAN IPA
 Mengingat pembahasan materi IPA pada tingkat lebih
  tinggi semakin luas dan mendalam, maka pada
  jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA, akan lebih
  baik bila keterpaduan dibatasi pada mata pelajaran
  yang termasuk bidang kajian IPA saja. Hal ini
  dimaksudkan agar tidak terlalu banyak guru yang
  terlibat, yang akan membuka peluang timbulnya
  kesulitan dalam pembelajaran dan penilaian,
  mengingat semakin tinggi jenjang pendidikan, maka
  semakin dalam dan luas pula pemahaman konsep
  yang harus diserap oleh peserta didik.
Contoh: Jaringan Tema
5. Pengembangan Pembelajaran
IPA Terpadu
 a. PERENCANAAN
 Keberhasilan pembelajaran terpadu akan lebih
  optimal jika perencanaan mempertimbangkan kondisi
  dan potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan,
  dan kemampuan). Standar kompetensi dan
  kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik
  sudah tercantum dalam Standar Kompetensi dan
  Kompetensi Dasar per submata pelajaran IPA.
 Ada berbagai model dalam mengembangkan
  pembelajaran IPA Terpadu yang dapat dilihat pada
  alur penyusunan perencanaanpembelajaran terpadu
  berikut ini:
(lanjutan)
(lanjutan)


b. MODEL PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU
(Desain Pembelajaran/Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran)
Model pembelajaran dalam hal ini adalah menjabarkan silabus
menjadi desain pembelajaran/rencana pelaksanaan pembelajaran
terpadu, dikemas dalam kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan
kegiatan penutup/tindak lanjut.

Kegiatan awal/Pendahuluan:
Langkah-langkah dalam kegiatan pendahuluan ini terdiri atas
beberapa
tahap yaitu:
· menarik perhatian peserta didik untuk menumbuhkan kesiapan
belajar;
· memotivasi peserta didik: membangkitkan semangat dan minat
peserta didik untuk siap menerima pelajaran;
(lanjutan)

· memberikan acuan topik yang akan dibahas;
· mengaitkan topik yang akan dipelajari dengan topik yang telah
dipelajari yang dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan
tentang topik yang sudah dipelajari sebelumnya dan memberikan
komentar atas jawaban peserta didik

Dalam kegiatan pendahuluan ini guru dapat pula melakukan
penilaianvawal peserta didik (tes awal) yang dapat diberikan
secara lisan maupun tertulis.
(lanjutan)
Kegiatan Inti:
 Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan
   dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu, di
   antaranya adalah sebagai berikut ini.
 · Kegiatan yang paling awal: Guru memberitahukan
   tujuan atau kompetensi dasar yang harus dicapai oleh
   peserta didik beserta garis besar materi yang akan
   disampaikan. Cara yang paling praktis adalah
   menuliskannya di papan tulis dengan penjelasan
   secara lisanmengenai pentingnya kompetensi tersebut
   yang akan dikuasai olehpeserta didik.
(lanjutan)
· Alternatif kegiatan belajar yang akan dialami peserta didik.
Guru menyampaikan kepada peserta didik kegiatan belajar yang
harus ditempuh peserta didik dalam mempelajari tema atau
topik yang telah ditentukan. Kegiatan belajar hendaknya lebih
mengutamakan aktivitas peserta didik, atau berorientasi pada
aktivitas peserta didik. Guru hanya sebagai fasilitator yng
memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk belajar.
Peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri apa yang
dipelajarinya. Prinsip belajar sesuai dengan ’konstruktivisme’
hendaknya dilaksanakan dalam pembelajaran terpadu
(lanjutan)
Dalam membahas dan menyajikan materi/bahan ajar terpadu
harus diarahkan pada suatu proses perubahan tingkah laku
peserta didik, penyajian harus dilakukan secara terpadu melalui
penghubungan konsep di mata pelajaran yang satu dengan
konsep di mata pelajaran lainnya. Guru harus berupaya untuk
menyajikan bahan ajar dengan strategi mengajar yang bervariasi,
yang mendorong peserta didik pada upaya penemuan
pengetahuan baru, melalui pembelajaran yang bersifat klasikal,
kelompok, dan perorangan.
(lanjutan)

Kegiatan akhir/Penutup dan tindak lanjut
Secara umum
kegiatan penutup ini terdiri atas hal-hal sebagai berikut ini.
a) Mengajak peserta didik untuk menyimpulkan materi yang
telah
diajarkan.
b) Melaksanakan tindak lanjut pembelajaran dengan
pemberian tugas
atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan
kembali
bahan yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi
pelajaran tertentu, memberikan motivasi atau bimbingan
belajar.
c) Mengemukakan topik yang akan dibahas pada pertemuan
selanjutnya.
d) Memberikan evaluasi lisan atau tertulis.
(lanjutan)

Penilaian dal Pembelajaran IPA Terpadu
 Jenis penilaian terpadu terdiri atas tes dan bukan tes.
   Sistem penilaian dengan menggunakan tes
   merupakan sistem penilaian konvensional. Sistem ini
   kurang dapat menggambarkan kemampuan peserta
   didik secara menyeluruh, sebab hasil belajar
   digambarkan dalam bentuk angka yang gambaran
   maknanya sangat abstrak. Oleh karena itu untuk
   melengkapi gambaran kemajuan belajar secara
   menyeluruh maka dilengkapi dengan non-tes.
(lanjutan)
Contoh Penilaian untuk tema/topik tentang:
       LINGKUNGAN SEKITAR KITA




              Klick di
              sini!
6. Implikasi Pembelajaran IPA
Terpadu

a. Guru
   Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dapat dilakukan
   oleh tim pengajar atau guru tunggal. Hal ini tergantung
   pada kondisi sekolah. Bila di suatu sekolah guru IPA
   terdiri atas guru fisika, kimia, biologi, maka dalam
   penyusunan silabus, perencanaan pembelajaran,
   penggunaan media, dan strategi mengajar sebaiknya
   dibuat bersama hingga penyusunan alat penilaiannya.
   Namun dalam pembelajarannya dapat dilakukan oleh
   guru tunggal. Bila di sekolah, seorang guru mengajar
   semua mata pelajaran IPA, dan mengalami kesulitan
   untuk memadukan kompetensi dasar, indikator, dan
   materi, maka sangat dianjurkan agar guru tersebut
   bekerja sama dalam kelompok MGMP
(lanjutan)

b. Peserta didik
Bagi peserta didik, pembelajaran terpadu dapat mempertajam
kemampuan analitis terhadap konsep-konsep yang dipadukan,
karena dapat mengembangkan kemampuan asosiasi konsep dan
aplikasi konsep. Pembelajaran terpadu perlu dilakukan dengan
variasi metode yang tidak membosankan. Aktivitas
pembelajaran harus lebih banyak berpusat pada peserta didik
agar dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya.


c. Bahan ajar
Bahan ajar yang digunakan tidak hanya buku mata pelajaran
saja, tetapi dapat dari berbagai mata pelajaran yang direkatkan
oleh
tema. Peserta didik dapat juga mencari berbagai sumber belajar
lainnya. Bahkan bila memungkinkan mereka dapat menggunakan
teknologi informasi yang ada.
(lanjutan)
 d. Sarana dan Prasarana
 Dalam pembelajaran terpadu diperlukan
  berbagai alat dan media pembelajaran.
  Karena digunakan untuk pembelajaran
  konsep yang direkatkan oleh tema, maka
  penggunaan sarana pembelajaran dapat
  lebih efisien jika dibandingkan dengan
  pemisahan mata pelajaran. Memang tidak
  semua konsep dapat dipadukan. Konsep-
  konsep yang dipilih untuk direkat oleh tema
  dapat menghemat waktu dan ruang.
Kekuatan dan kelemahan
Pembelajaran IPA Terpadu
Kekuatan
· Dengan menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi
penghematan waktu, karena ketiga disiplin ilmu (Fisika, Kimia,
dan Biologi) dapat dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi
juga dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
· Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna
antarkonsep Fisika, Kimia, dan Biologi.
· Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena
peserta didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih
luas dan lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.
· Pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang
dunia nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
memudahkan pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi
IPA.
(lanjutan)
· Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan.
· Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif
yang dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik
dengan pengalaman belajar yang terkait, sehingga pemahaman
menjadi lebih terorganisasi dan mendalam, sehingga memudahkan
memahami hubungan materi IPA dari satu konteks ke konteks
lainnya.
· Akan terjadi peningkatan kerja sama antarguru submata
pelajaran terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan
peserta didik,
peserta didik/guru dengan narasumber; sehingga belajar lebih
menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks
yang lebih bermakna.
(lanjutan)
Beberapa kelemahan yang perlu diatasi
diuraikan sebagai berikut ini.
a. Aspek Guru: Guru harus berwawasan luas, memiliki
kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa
percaya diri yang tinggi, dan berani mengemas dan
mengembangkan materi. Secara akademik,
guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan
yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak
membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada
mata pelajaran tertentu saja.
b. Aspek peserta didik: Pembelajaran terpadu menuntut
kemampuan
belajar peserta didik yang relatif “baik”, baik dalam kemampuan
akademik maupun kreativitasnya.
(lanjutan)
c. Aspek sarana dan sumber pembelajaran: Pembelajaran
terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang
cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua
ini akan menunjang, memperkaya, dan mempermudah
pengembangan

d. Aspek kurikulum: Kurikulum harus luwes, berorientasi pada
pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada
pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu diberi
kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian
keberhasilan pembelajaran peserta didik.

e. Aspek penilaian: Pembelajaran terpadu membutuhkan cara
penilaian
yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan
belajar peserta didik dari beberapa mata pelajaran terkait yang
Dipadukan

f. Suasana pembelajaran: Pembelajaran terpadu
berkecenderungan
mengutamakan salah satu mata pelajaran dan ‘tenggelam’nya mata
pelajaran lain.
E. Pembelajaran IPS Terpadu
1. Pengertian
 Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan
   integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu
   sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi,
   ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu
   Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar
   realitas dan fenomena sosial yang
   mewujudkan satu pendekatan
   interdisipliner dari aspek dan cabang-
   cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah,
   geografi, ekonomi, politik, hukum, dan
   budaya).
       Keterpaduan Cabang IPS

  Sejarah
                               Ilmu Politik



 Geografi
                                 Ekonomi
                   Ilmu
                Pengetahuan
                   Sosial
 Sosiologi                    Psikologi Sosial



                                  Filsafat
Antropologi
2. Karakteristik Mata Pelajaran IPS
 Mata pelajaran IPS bertujuan
  mengembangkan potensi peserta didik agar
  peka terhadap masalah sosial yang terjadi
  di masyarakat, memiliki sikap mental
  positif terhadap perbaikan segala
  ketimpangan yang terjadi, dan terampil
  mengatasi setiap masalah yang terjadi
  sehari-hari baik yang menimpa dirinya
  sendiri maupun yang menimpa kehidupan
  masyarakat (Nursid Sumaatmaja, 1980;20)
(lanjutan)
 Karateristik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
  SMP/MTs antara lain sebagai berikut.
 · Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari
  unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan
  politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga
  bidang humaniora, pendidikan dan agama (Numan
  Soemantri, 2001).
 · Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan
  geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik,
  sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga
  menjadi pokok bahasan atau topik (tema) tertentu.
 · Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai
  masalah sosial yang dirumuskan dengan pendekatan
  interdisipliner dan multidisipliner.
(lanjutan)
 · Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat
  menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan
  masyarakat dengan prinsip sebab akibat,
  kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan,
  struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-
  upaya perjuangan hidup agar survive seperti
  pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan dan
  jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).
 · Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS
  menggunakan tiga dimensi dalam mengkaji dan
  memahami fenomena sosial serta kehidupan manusia
  secara keseluruhan.
             Dimensi IPS dalam Kehidupan
                       Manusia
    Dimensi dalam              Ruang                    Waktu                Nilai/Norma
  kehidupan manusia

Area dan substansi     Alam sebagai tempat    Alam dan kehidupan        Kaidah atau aturan
pembelajaran           dan penyedia potensi   yang selalu               yang menjadi perekat
                       sumber daya            berproses, masa lalu,     dan penjamin
                                              saat ini, dan yang        keharmonisan
                                              akan datang               kehidupan manusia
                                                                        dan alam
Contoh Kompetensi      Adaptasi spasial dan   Berpikir kronologis,      Konsisten dengan
Dasar yang                                                              aturan yang
                       eksploratif            prospektif, antisipatif   disepakati dan kaidah
dikembangkan                                                            alamiah masing-

                                                                        masing disiplin ilmu
Alternatif penyajian                                                    Ekonomi,
                       Geografi               Sejarah
dalam mata pelajaran                                                    Sosiologi/Antropologi
Tujuan Pembelajaran IPS
 Secara rinci tujuan Pembelajaran IPS
  dapat dsampaikani sebagai berikut
  (Awan Mutakin, 1998).
 · Memiliki kesadaran dan kepedulian
  terhadap masyarakat atau
  lingkungannya, melalui pemahaman
  terhadap nilai-nilai sejarah dan
 kebudayaan masyarakat.
(lanjutan)
   · Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu
    menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial
    yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan
    masalah-masalah sosial.
   · Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir
    serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan
    masalah yang berkembang di masyarakat.
   · Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah
    sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis,
    selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
   · Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga
    mampu membangun diri sendiri agar survive yang
    kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.
4. KONSEP PEMBELAJARAN TERPADU DALAM IPS


  Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem
  pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun
  kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta
  prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Salah
  satu di antaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar melalui
  pembelajaran terpadu siswa dapat memperoleh pengalaman langsung,
  sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan
  memproduksi kesan-kesan tentang
  hal-hal yang dipelajarinya.


  Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun
  dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan
  pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari
  suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas,
  dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema
  dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang
  berkembang.
(lanjutan)
a. Model Integrasi Berdasarkan Topik
Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan
berdasarkan topik yang terkait, misalnya ‘pariwisata’.
Pariwisata dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari
berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam Ilmu
Pengetahuan Sosial. Pengembangan pariwisata dalam hal
ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang
tercakup dalam disiplin Geografi.

Skema berikut memberikan gambaran keterkaitan suatu
topik/tema dengan berbaga disiplin ilmu.
(lanjutan)
b. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama
Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang
didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah
setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali Sebagai Daerah
Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan
dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor
alam, sosial/antropologis, historis kronologis dan
kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan.
Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya,
maka siswa selain dapat memahami kondisi daerahnya
juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang
terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam
Ilmu Pengetahuan Sosial.
(lanjutan)
(lanjutan)


c. Model Integrasi Berdasarkan
Permasalahan
Model pembelajaran terpadu pada
IPS yang lainnya adalah
berdasarkan permasalahan yang
ada, contohnya adalah
“Pemukiman Kumuh”. Pada
pembelajaran terpadu, Pemukiman
Kumuh ditinjau dari beberapa
faktor sosial yang
mempengaruhinya. Di antaranya
adalah faktor ekonomi, sosial, dan
budaya. Juga dapat dari faktor
historis kronologis dan kausalitas,
serta perilaku masyarakat
terhadap aturan/norma.
5. Pelaksanaa Pembelajaran IPS Terpadu


 a. Perencanaa
 Untuk menyusun perencanaan pembelajaran terpadu perlu
     dilakukan langkah-langkah berikut ini.
 · Pemetaan Kompetensi Dasar
 · Penentuan Topik/tema
 · Penjabaran (perumusan) Kompetensi Dasar ke dalam
   indikator sesuai topik/tema
 · Pengembangan Silabus
 · Penyusunan Desain/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


                       Contoh Pemetaan Kompetensi
                        Dasar pada Mapel IPS yang
                           dapat diintegrasikan!
                               Click di sini!.
(lanjutan)
Beberapa ketentuan dalam pemetaan Kompetensi Dasar dalam
pengembangan model pembelajaran terpadu Ilmu Pengetahuan
Sosial adalah sebagai berikut.
· Mengidentifikasikan beberapa Kompetensi Dasar dalam
berbagai Standar Kompetensi yang memiliki potensi untuk
dipadukan.
· Beberapa Kompetensi Dasar yang tidak berpotensi dipadukan,
jangan dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran.
Kompetensi Dasar yang tidak diintegrasikan
dibelajarkan/disajikan secara tersendiri.
· Kompetensi Dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua
Standar Kompetensi yang ada pada mata pelajaran IPS pada
kelas yang sama, melainkan memungkinkan hanya dua atau
tiga Kompetensi Dasar saja.
· Kompetensi Dasar yang sudah dipetakan dalam satu
topik/tema masih bisa dipetakan dengan topik/tema lainnya.
              Penentuan Topik/Tema


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan topik/tema
  pada pembelajaran IPS Terpadu antara lain meliputi hal-hal berikut
• Topik, dalam pembelajaran IPS Terpadu, merupakan perekat antar-
  Kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu rumpun mata pelajaran
  IPS.
• Topik yang ditentukan selain relevan dengan Kompetensi-kompetensi
  Dasar yang terdapat dalam satu tingkatan kelas, juga sebaiknya
  relevan dengan pengalaman pribadi siswa, dalam arti sesuai dengan
  keadaan lingkungan setempat
• Dalam menentukan topik, isu sentral yang sedang berkembang saat
  ini, dapat menjadi prioritas yang dipilih dengan tidak mengabaikan
  keterkaitan antar-Kompetensi Dasar pada satu rumpun yang telah
  dipetakan                  Di bawah ini contoh Topik yg relevan
                                    dg Kompetensi Dasar
                                         Click di sini!
b. Implikasi Pembelajaran IPS Terpadu
Implikasi pembelajaran IPS terpadu terhadap guru, peserta didik,
bahan ajar, sarana dan prasarana dalam pelaksanaannya
bergantung pada sekolah masing-masing sama seperti pada
pembelajaran IPA terpadu. Diharapkan guru yang profesional
sesuai dengan PP 74 dan minimal standar proses dapat
melaksanakan pembelajaran IPS terpadu tanpa mengalami
kendala.
      PEMBELAJARAN TEMATIK
a. Latar Belakang
- Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat
   segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta
   mampu memahami hubungan antara konsep secara
   sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada
   objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara
   langsung.
- Mata pelajaran Matematika, perlu diberikan kepada semua
   peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali
   peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis,
   sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan
   bekerjasama.
•Mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan tujuan agar
peserta didik dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai
dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis,
menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai
bahasa persatuan dan bahasa negara, memahami bahasa
Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk
berbagai tujuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk
meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan
emosional dan sosial.

•Demikian pula pada Kompetensi dasar Pendidikan Agama,
Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam,
Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni
Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga dan
Kesehatan perlu dikaji
(lanjutan)
 Dalam rangka implementasi Standar Isi, standar proses yang
 termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka
 pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu,
 dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran
 terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik. Untuk
 memberikan gambaran tentang pembelajaran tematik yang
 dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model
 pelaksanaan pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga
 kelas III.
b. Kerangka berpikir
 1. Karakteristik Perkembangan anak
  usia kelas awal SD
 2. Cara Anak Belajar
 Memperhatikan tahapanperkembangan
  berpikir tersebut, kecenderungan belajar
  anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri,
  yaitu:
 a. Konkrit
 b. Integratif
 c. Hierarkis
 3. Belajar dan Pembelajaran Bermakna
C. PENGERTIAN
PEMBELAJARAN TEMATIK
 Pembelajaan tematik adalah
  pembelajaran tepadu yang
  menggunakan tema untuk
  mengaitkan beberapa mata pelajaran
  sehingga dapat memberikan
  pengalaman bermakna kepada siswa.
  Tema adalah pokok pikiran atau
  gagasan pokok yang menjadi pokok
  pembicaraan (Poerwadarminta,
  1983).
(lanjutan)
 Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak
  keuntungan, di antaranya:
 1. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu
  tema tertentu,
 2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan
  mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar
  matapelajaran dalam tema yang sama;
 3. pemahaman terhadap materi pelajaran lebih
  mendalam dan berkesan;
 4. kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik
  dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan
  pengalaman pribadi siswa;
 5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna
  belajar karena materi disajikan dalam konteks tema
  yang jelas;
6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam
situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu
mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
7. guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang
disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan
dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan
untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa
dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran,
sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih
untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang
dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami
konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya
dengan konsep lain yang telah dipahaminya.
d. Landasan Pembelajaran Tematik
   Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat
    dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu:
   (1) progresivisme,
   (2) konstruktivisme, dan
   (3) humanisme.

   Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu
    ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah
    kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan
    pengalaman siswa.

   Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa
    (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut
    aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan
    manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui
    interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan
    lingkungannya.
(lanjutan)
   Aliran humanism melihat siswa dari segi
    keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang
    dimilikinya.

   Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik
    terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan
    peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan
    diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi
    pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar
    tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap
    perkembangan peserta didik.

   Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal
    bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut
    disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus
    mempelajarinya.
 Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik
  berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan
  yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik
  di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU
  No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang
  menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh
  pendidikan dan pengajaran dalam rangka
  pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya
  sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No.
  20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap
  satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan
  pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan
  kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).
e. Karakteristik Pembelajaran
Tematik
 Pembelajaran tematik memiliki karakteristik-
  karakteristik sebagai berikut:

 1. Berpusat pada siswa
 2. Memberikan pengalaman langsung
 3. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
 4. Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran
 5. Bersifat fleksibel
 6. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan
  kebutuhan siswa
 7. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan
  menyenangkan
    Implikasi Pembelajaran Tematik
Implikasi bagi:

Guru : harus kreatif dalam menyiapkan
 kegiatan/pengalaman belajar bagi peserta
 didik, memilih kompetensi dari berbagai
 mata pelajaran dan mengaturnya agar
 pembelajaran menjadi lebih bermakna,
 menarik, menyenangkan dan utuh.

Peserta didik: harus siap mengikuti kegiatan
 pembelajaran baik secara individual,
 pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal
 dan mengikuti secara aktif kegiatan
 pembelajaran yang bervariasi.
Implikasi Pembelajaran Tematik
(lanjutan…)

   Sarana prasarana, sumber belajar dan
    media:
   Memerlukan berbagai sarana dan
    prasarana belajar.
   Memanfaatkan berbagai sumber belajar
   Mengoptimalkan penggunaan media
    pembelajaran yang bervariasi
   Masih dapat menggunakan bahan ajar
    yang sudah ada saat ini untuk masing-
    masing mata pelajaran dan menggunakan
    buku suplemen khusus yang memuat
    bahan ajar yang terintegrasi
Implikasi Pembelajaran Tematik
(lanjutan…)

Pengaturan ruang kelas:
 Ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang
  sedang dilaksanakan.
 Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah
  disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang
  sedang berlangsung
 Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat
  duduk di tikar/ karpet
 Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang
  hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai
  sumber belajar
 Alat, sarana dan sumber belajar hendaknya
  dikelola sehingga memudahkan peserta didik untuk
  menggunakan dan menyimpannya kembali.
Pemilihan metode : pembelajaran dilakukan dengan
  menggunakan berbagai variasi metode (percobaan,
  bermain peran, tanya jawab, demonstrasi, bercakap-
  cakap) baik di dalam kelas maupun di luar kelas
Rambu-Rambu Pembelajaran Tematik
  Tidak semua mata pelajaran harus
   dipadukan
  Dimungkinkan terjadi penggabungan
   kompetensi dasar lintas semester.
  Kompetensi dasar yang tidak dapat
   dipadukan dapat diajarkan tersendiri.
  Kompetensi dasar yang tidak tercakup
   dalam tema tertentu harus diajarkan baik
   melalui tema lain maupun berdiri sendiri.
  Kegiatan ini ditekankan kepada
   kemampuan membaca, menulis, dan
   berhitung serta penanaman nilai-nilai
   moral dan cerita tanah air.
  Tema-tema yang dipilih disesuaikan
   dengan karakteristik siswa, minat,
   lingkungan, dan daerah setempat.
Pelaksanaan Pembelajaran Tematik



Tahap Persiapan:
1. Pemetaan Standar Kompetensi,
   Kompetensi Dasar, Indikator dalam
   Tema
2. Penetapan Jaringan Tema
3. Penyusunan Silabus
4. Penyusunan Rencana Pelaksanaan
   Pembelajaran
1.   Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi
     Dasar, Indikator Dalam Tema



      Kegiatan pemetaan ini dilakukan
      untuk memperoleh gambaran secara
      menyeluruh dan utuh semua standar
      kompetensi, kompetensi dasar dan
      indikator dari berbagai mata
      pelajaran yang dipadukan dalam
      tema yang dipilih.
Kegiatan Pemetaan


1. Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi
  Dasar ke dalam indikator
  Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
   mengembangkan indikator:
  Indikator dikembangkan sesuai
   dengan karakteristik peserta didik
  Indikator dikembangkan sesuai
   dengan karakteristik mata pelajaran
  Dirumuskan dalam kata kerja
   oprasional yang terukur dan/atau
   dapat diamati
Kegiatan Pemetaan (lanjutan...)
 2. Menentukan tema


  Cara penentuan tema
   Cara pertama, mempelajari standar
    kompetensi dan kompetensi dasar yang
    terdapat dalam masing-masing mata
    pelajaran, dilanjutkan dengan
    menentukan tema yang sesuai.

   Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu
    tema-tema pengikat keterpaduan, untuk
    menentukan tema tersebut, guru dapat
    bekerjasama dengan peserta didik
    sehingga sesuai dengan minat dan
    kebutuhan anak.
Kegiatan Pemetaan (lanjutan...)
 Prinsip Penentuan tema

  Memperhatikan lingkungan yang
   terdekat dengan peserta didik
  Dari yang termudah menuju yang sulit
  Dari yang sederhana menuju yang
   kompleks
  Dari yang konkret menuju ke yang
   abstrak.
  Tema yang dipilih harus memungkinkan
   terjadinya proses berpikir pada diri
   Peserta didik
  Ruang lingkup tema disesuaikan dengan
   usia dan perkembangan Peserta didik,
   termasuk minat, kebutuhan, dan
   kemampuannya
Kegiatan Pemetaan (lanjutan...)
3. Identifikasi dan Analisis Standar Kompetensi,
  Kompetensi Dasar dan Indikator

Mengidentifikasi dan menganalisis setiap
Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar
dan Indikator yang cocok untuk setiap
tema sehingga semua standar
kompetensi, kompetensi dasar dan
indikator terbagi habis dalam tema.
2. Menetapkan Jaringan Tema


   Hubungkan kompetensi dasar dan
   indikator dengan tema pemersatu
   sehingga akan terlihat kaitan antara
   tema, kompetensi dasar dan indikator
   dari setiap mata pelajaran. Jaringan
   tema ini dapat dikembangkan sesuai
   dengan alokasi waktu setiap tema.
3. Penyusunan Silabus


   Komponen silabus terdiri atas standar
   kompetensi, kompetensi dasar,
   indikator, pengalaman belajar,
   alat/sumber, dan penilaian.
4.   Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


       Komponen rencana pembelajaran tematik
         meliputi :
        Identitas mata pelajaran
        Kompetensi dasar dan indikator yang
         akan dilaksanakan.
        Materi pokok beserta uraiannya yang
         perlu dipelajari
        Strategi pembelajaran (kegiatan
         pembukaan, inti dan penutup).
        Alat dan media serta sumber bahan yang
         digunakan dalam kegiatan pembelajaran
         tematik
        Penilaian dan tindak lanjut
Tahap Pelaksanaan



1. Tahapan/jadwal kegiatan per hari
   - Kegiatan Pembukaan (± 1 jp)
   - Kegiatan Inti (± 3 jp)
   - Kegiatan Penutup (± 1 jp)

2. Pengaturan jadwal pelajaran
1. Tahapan Kegiatan

 Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari
 dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan.
  a. Kegiatan
     Pendahuluan/awal/pembukaan (1
     jam pelajaran)
     Kegiatan ini dilakukan terutama untuk
     menciptakan suasana awal
     pembelajaran berupa kegiatan untuk
     pemanasan. Pada tahap ini dapat
     dilakukan penggalian terhadap
     pengalaman anak tentang tema yang
     akan disajikan. Beberapa contoh
1. Tahapan Kegiatan (lanjutan…)

  b. Kegiatan Inti
    Dalam kegiatan inti difokuskan
    pada kegiatan-kegiatan yang
    bertujuan untuk pengembangan
    kemampuan baca, tulis dan hitung.
    Penyajian bahan pembelajaran
    dilakukan dengan menggunakan
    berbagai strategi/metode yang
    bervariasi dan dapat dilakukan
    secara klasikal, kelompok kecil,
    ataupun perorangan.
1. Tahapan Kegiatan (lanjutan…)

  c. Kegiatan Penutup/Akhir dan
     Tindak Lanjut
     Sifat dari kegiatan penutup adalah
     untuk menenangkan. Kegiatan
     yang dapat dilakukan adalah
     menyimpulkan/mengungkapkan
     hasil pembelajaran yang telah
     dilakukan, mendongeng,
     membacakan cerita dari buku,
     pantomim, pesan-pesan moral,
     musik/apresiasi musik.
Contoh Jadwal Harian (1)
Pembukaan   Anak berkumpul bernyanyi sambil menari
            mengikuti irama musik


Inti         Kegiatan untuk pengembangan
              kemampuan membaca
             Kegiatan untuk pengembangan
              kemampuan menulis
             Kegitan untuk pengembangan
              kemampuan berhitung

Penutup     Mendongeng atau membaca cerita dari
            buku cerita
Contoh Jadwal Harian (2)

Pembukaan   Waktu berkumpul (anak menceritakan
            pengalaman, menyanyi, melakukan kegiatan
            fisik sesuai dengan tema)
Inti        Pengembangan kemampuan menulis
             (kegiatan kelompok besar)
            Pengembangan kemampuan berhitung
             (kegiatan kelompok kecil atau berpasangan)
            Melakukan pengamatan sesuai dengan
             tema, misalnya mengamati jenis kendaraan
             yang lewat pada tema transporasi,
             menggambar hewan hasil pengamatan

Penutup     Mendongeng
            Pesan-pesan moral
            Musik/menyanyi
2. Pengaturan Jadwal Pelajaran

• Pengaturan jadwal dilakukan untuk
  memudahkan administrasi sekolah
• Guru bersama dengan guru mata pelajaran
  pendidikan agama, guru pendidikan
  jasmani dan guru muatan lokal dapat
  bersama-sama menyusun jadwal pelajaran
• Jadwal pelajaran ini bersifat fleksibel sesuai
  dengan situasi dan keperluan sekolah
Contoh Jadwal Pelajaran

Waktu       Senin      Selasa       Rabu      Kamis      Jumat       Sabtu

700-7.35     Mat       B. Indo       Mat      B. Indo    Penjaske      IPA
                                                            s
 7.35-       Mat       B. Indo       Mat      B.Indo     Penjaske      IPA
 8.10
                                                            s
 8.10-       Mat       B. Indo       Mat       KTK       Agama       Mulok
 8.45

 8.45-     Istirahat   Istirahat   Istiraha   Istiraha   Istirahat   Istiraha
 9.00
                                       t          t                      t
 9.00-     B. Indo       Mat         IPS       KTK       Agama       Mulok
 9.35

 9.35-     B. Indo       Mat         IPS       KTK
 10.10
     Penilaian Dalam Pembelajaran Tematik

 Penilaian dalam pembelajaran tematik adalah suatu usaha
  untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala,
  berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan
  hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah
  dicapai oleh peserta didik melalui pembelajaran.

 Penilaian di kelas I, II, dan III mengikuti aturan penilaian
  mata-mata pelajaran lain di Sekolah Dasar. Mengingat
  bahwa peserta didik kelas I SD belum semuanya lancar
  membaca dan menulis, maka cara penilaian di kelas I tidak
  ditekankan pada penilaian secara tertulis.

 Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung
  merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta
  didik. Oleh karena itu, penguasaan terhadap ke kemampuan
  tersebut adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.
 Penilaian Dalam Pembelajaran Tematik
 (lanjutan…)

 Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator
  masing-masing Kompetensi Dasar dari masing-masing
  mata pelajaran.

 Penilaian dilakukan secara terus menerus dan selama
  proses belajar mengajar berlangsung, misalnya sewaktu
  peserta didik bercerita pada kegiatan awal, membaca
  pada kegiatan inti, dan menyanyi pada kegiatan akhir.

 Hasil karya/kerja peserta didik dapat digunakan sebagai
  bahan masukan bagi guru dalam mengambil keputusan
  untuk peserta didik misalnya: penggunaan tanda baca,
  ejaan kata, maupun angka.
   Penilaian Dalam Pembelajaran
   Tematik (lanjutan…)
 Pada pembelajaran tematik penilaian dilakukan
  untuk mengkaji ketercapaian Kompetensi Dasar
  dan Indikator pada tiap-tiap mata pelajaran
  yang terdapat pada tema tersebut. Dengan
  demikian penilaian dalam hal ini tidak lagi
  terpadu melalui tema, melainkan sudah
  terpisah-pisah sesuai dengan Kompetensi Dasar
  dan Indikator mata pelajaran.

 Nilai akhir pada laporan (raport) dikembalikan
  pada kompetensi mata pelajaran yang terdapat
  pada kelas I, II, dan III Sekolah Dasar.
Selesai

								
To top