Koperasi Mitra Sukamaju Berhasil Tingkatkan by HC12100222045

VIEWS: 43 PAGES: 41

									               Koperasi Mitra Sukamaju Berhasil Tingkatkan
                      Kesejahteran Petani Paprika

JAKARTA – Sebanyak 40 petani yang tergabung dalam koperasi petani Mitra Sukamaju di
Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, giat mengembangkan budi daya paprika di lahan
seluas kurang lebih enam hektare. Lahan seluas itu terbagi dalam 100 unit dan masing-masing
unit memanfaatkan lahan antara 500 sampai 1.500 meter persegi.
Paprika di sana dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik. Dengan sistem ini, tanah tidak
digunakan sebagai media tumbuh namun diganti dengan media lain seperti rockwool, arang
sekam, cocopeat, atau material lainnya selain tanah. Media tersebut tidak mengandung unsur
hara yang diperlukan oleh tanaman. Karenanya, unsur hara tersebut diberikan melalui pupuk.
Dalam hidroponik istilah pupuk disebut juga nutrisi.
Khusus untuk budi daya paprika yang dilakukan para petani di Sukamaju, media tumbuh yang
digunakan adalah arang sekam yang didatangkan dari daerah Subang dengan pertimbangan
ekonomis.
“Karena relatif mudah didapat, harganya pun lebih murah ketimbang memakai rockwool, media
tumbuh yang dipakai para petani paprika di negeri Belanda,” kata Sutardi (40), Ketua Koperasi
Mitra Sukamaju di sela –sela mengikuti pameran di Gedung Bidakara, Jakarta baru–baru ini.
Terlihat banyak sekali pengunjung tertarik dengan buah paprika yang bentuknya seperti cabai
raksasa dan beraneka warna. Buah paprika itu sengaja dipamerkan lengkap dengan pohon-
pohonnya. Selain pertimbangan ekonomis, lanjut Sutardi, kelebihan dibanding media tanam lain,
penggunaan arang sekam membuat tanaman paprika menjadi lebih steril atau tahan terhadap
penyakit dan juga yang tak kalah penting, daya cengkram airnya juga baik.
Sebelum ditanam di arang sekam, terlebih dulu biji pabrika yang diimpor langsung dari Belanda
tersebut disemai selama satu bulan menggunakan media tanah.
Sementara itu, untuk iklim ideal penanaman, Sutardi menjelaskan paprika cocok tumbuh di
kawasan beriklim sub tropis atau di atas ketinggian 1000 m dpl. Namun begitu, tanaman paprika
sangat rentan terhadap air hujan. Untuk menyiasatinya, para petani menaruh pot-pot tanaman di
bawah naungan rumah plastik (green house) sehingga terlindung dari air hujan.

Perawatan Intensif
Dibanding budi daya tanaman lain yang menggunakan media tanam tanah, paprika
membutuhkan perawatan yang cukup intensif dan agar hasil buahnya pun baik. Sutardi
mengatakan pemberian pupuk dilakukan setiap hari. Pupuk yang diramu sendiri oleh Sutardi dan
kawan-kawan ini terdiri dari 10 macam yang dicampur dengan air. Ia mengatakan ramuan pupuk
ini tidak bisa sembarangan diungkapkan kepada khalayak. “Ramuannya rahasia,” katanya.
Tentang ancaman hama yang kerap menjadi momok bagi petani, Sutardi mengatakan, untuk
yang satu ini tidak menjadi permasalahan besar karena sudah bisa dikendalikan penyebarannya.
Ia menyebutkan hama yang sering menyerang paprika, kutu dan trips.
Pertumbuhan buah paprika dimulai sejak tanaman berumur dua bulan sampai delapan bulan.
Dua bulan setelah masa tanam, buah paprika yang berwarna hijau ini sudah mulai bisa dipanen.
Ia mengungkapkan, untuk pasar lokal paprika hijaulah yang paling digemari. Selain warna hijau
mampu memberikan kesan segar dalam makanan dan menambah selera makan orang
Indonesia, harganya pun lebih murah. Masyarakat bisa mendapatkan paprika hijau dengan harga
berkisar antara Rp 6.000-7.000 per kilogram. Sementara untuk paprika merah dan kuning
masing-masing dijual dengan harga Rp 8.000 dan Rp 9.000.
Ditanya berapa keuntungan yang diperoleh para petani setiap masa panen, Sutardi tidak bisa
memberi angka persisnya dan hanya memberikan gambaran. Setiap satu meter persegi bisa
ditanam 3-4 pohon paprika. Satu pohon tersebut bisa menghasilkan 2,5-3 kilogram buah paprika
dalam satu musim tanam (delapan bulan). Sementara modal kerja yang dikeluarkan petani per
pohon Rp 1.000 sudah termasuk penyusutan.
Dari situlah, paprika tersebut didistrubusikan oleh para supplier ke supermaket, hotel maupun
restoran. Kepada pembaca SH, Pria yang memulai usaha budi daya paprika ini sejak 10 tahun
lalu mengungkapkan bagaimana cara mengenali buah paprika yang bagus dari penampilan fisi
               Koperasi Mitra Sukamaju Berhasil Tingkatkan
                      Kesejahteran Petani Paprika

JAKARTA – Sebanyak 40 petani yang tergabung dalam koperasi petani Mitra Sukamaju di
Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, giat mengembangkan budi daya paprika di lahan
seluas kurang lebih enam hektare. Lahan seluas itu terbagi dalam 100 unit dan masing-masing
unit memanfaatkan lahan antara 500 sampai 1.500 meter persegi.
Paprika di sana dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik. Dengan sistem ini, tanah tidak
digunakan sebagai media tumbuh namun diganti dengan media lain seperti rockwool, arang
sekam, cocopeat, atau material lainnya selain tanah. Media tersebut tidak mengandung unsur
hara yang diperlukan oleh tanaman. Karenanya, unsur hara tersebut diberikan melalui pupuk.
Dalam hidroponik istilah pupuk disebut juga nutrisi.
Khusus untuk budi daya paprika yang dilakukan para petani di Sukamaju, media tumbuh yang
digunakan adalah arang sekam yang didatangkan dari daerah Subang dengan pertimbangan
ekonomis.
“Karena relatif mudah didapat, harganya pun lebih murah ketimbang memakai rockwool, media
tumbuh yang dipakai para petani paprika di negeri Belanda,” kata Sutardi (40), Ketua Koperasi
Mitra Sukamaju di sela –sela mengikuti pameran di Gedung Bidakara, Jakarta baru–baru ini.
Terlihat banyak sekali pengunjung tertarik dengan buah paprika yang bentuknya seperti cabai
raksasa dan beraneka warna. Buah paprika itu sengaja dipamerkan lengkap dengan pohon-
pohonnya. Selain pertimbangan ekonomis, lanjut Sutardi, kelebihan dibanding media tanam lain,
penggunaan arang sekam membuat tanaman paprika menjadi lebih steril atau tahan terhadap
penyakit dan juga yang tak kalah penting, daya cengkram airnya juga baik.
Sebelum ditanam di arang sekam, terlebih dulu biji pabrika yang diimpor langsung dari Belanda
tersebut disemai selama satu bulan menggunakan media tanah.
Sementara itu, untuk iklim ideal penanaman, Sutardi menjelaskan paprika cocok tumbuh di
kawasan beriklim sub tropis atau di atas ketinggian 1000 m dpl. Namun begitu, tanaman paprika
sangat rentan terhadap air hujan. Untuk menyiasatinya, para petani menaruh pot-pot tanaman di
bawah naungan rumah plastik (green house) sehingga terlindung dari air hujan.

Perawatan Intensif
Dibanding budi daya tanaman lain yang menggunakan media tanam tanah, paprika
membutuhkan perawatan yang cukup intensif dan agar hasil buahnya pun baik. Sutardi
mengatakan pemberian pupuk dilakukan setiap hari. Pupuk yang diramu sendiri oleh Sutardi dan
kawan-kawan ini terdiri dari 10 macam yang dicampur dengan air. Ia mengatakan ramuan pupuk
ini tidak bisa sembarangan diungkapkan kepada khalayak. “Ramuannya rahasia,” katanya.
Tentang ancaman hama yang kerap menjadi momok bagi petani, Sutardi mengatakan, untuk
yang satu ini tidak menjadi permasalahan besar karena sudah bisa dikendalikan penyebarannya.
Ia menyebutkan hama yang sering menyerang paprika, kutu dan trips.
Pertumbuhan buah paprika dimulai sejak tanaman berumur dua bulan sampai delapan bulan.
Dua bulan setelah masa tanam, buah paprika yang berwarna hijau ini sudah mulai bisa dipanen.
Ia mengungkapkan, untuk pasar lokal paprika hijaulah yang paling digemari. Selain warna hijau
mampu memberikan kesan segar dalam makanan dan menambah selera makan orang
Indonesia, harganya pun lebih murah. Masyarakat bisa mendapatkan paprika hijau dengan harga
berkisar antara Rp 6.000-7.000 per kilogram. Sementara untuk paprika merah dan kuning
masing-masing dijual dengan harga Rp 8.000 dan Rp 9.000.
Ditanya berapa keuntungan yang diperoleh para petani setiap masa panen, Sutardi tidak bisa
memberi angka persisnya dan hanya memberikan gambaran. Setiap satu meter persegi bisa
ditanam 3-4 pohon paprika. Satu pohon tersebut bisa menghasilkan 2,5-3 kilogram buah paprika
dalam satu musim tanam (delapan bulan). Sementara modal kerja yang dikeluarkan petani per
pohon Rp 1.000 sudah termasuk penyusutan.
Dari situlah, paprika tersebut didistrubusikan oleh para supplier ke supermaket, hotel maupun
restoran. Kepada pembaca SH, Pria yang memulai usaha budi daya paprika ini sejak 10 tahun
lalu mengungkapkan bagaimana cara mengenali buah paprika yang bagus dari penampilan fisi
Jumat, 2008 Februari 08
Pemeliharaan Tanaman Paprika-1




Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman yang dilakukan akan berbeda, ini tergantung dari jenis tanaman
apa yang dipilih. Tetapi pemeliharaan pada tanaman paprika pada umumnya sebagai
berikut:

a. Pemilihan cabang produksi
Pada tanaman Paprika perlu dilakukan pemilihan cabang utama untuk produksi, dengan
hanya membiarkan 2 batang cabang yang hidup sebagai cabang utama. Pemilihan cabang
produksi ini dilakukan karena tanaman paprika secure alami akan membentuk semak,
dari batang utama akan bercabang dan dari setiap cabang akan membentuk dua cabang
sehingga tanaman akan kelihatan bergerombol. Apabila tidak dilakukan pemilihan
cabang, akan menghasilakan bunga yang banyak, karena pada sudut diantara dua cabang
berpotensi menghasilkan bunga. Pemilihan cabang produksi ini juga dimaksudkan
mengefesienkan translokasi hasil fotosintesis dari daun menuju buah dan untuk
mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman agar mampu berproduksi
dengan baik. Di dalam pemilihan cabang produksi sebaiknya mempunyai kriteria, antara
lain :
- kondisi cabang lebih baik dan sehat daripada cabang lain yang tumbuh.
- jarak antar cabang berjauhan dan menghadap keluar.
- ukuran atau besarnya cabang seimbang.
- mempunyai vigor yang baik.
- bebas dari penyakit.
b. Pembuangan daun semu
Daun-daun semu yang tumbuh diantara ketiak daun sebaiknya dibuang. Selain daun
tersebut tidak bermanfaat, juga akan menyerap energi hasil asimilasi tanaman itu sendiri.
Di dalam pembuangan daun semu ini dapat dilakukan bersamaan dengan pewiwilan.


c. Pengikatan/pengajiran/pelilitan .

pada tanamanTanaman yang tumbuh semakin besar dan tinggi, diperlukan pegangan
untuk menopang tumbuhnya tanaman dengan benang/tali agar bisa berdiri tegak sesuai
dengan pengaturan jalur yang direncanakan. Pengikatan/pelilitan benang/tali pada
tanaman dilakukan bersamaan dengan pewiwilan

Bagaimana Membuat Ramuan Pupuk Hidroponik ?




Dasar pembuatan Pupuk hidroponik atau dikenal larutan nutrisi hidroponik akan saya
tulis sederhana saja.

Yang perlu kita ketahui adalah nama bahan pupuk/kimia dan kandungannya, sebab ada
beberapa kandungan yang tidak sama, sehingga akan merubah komposisi larutan nutrisi,
ini akan membuat pupuk yg dibuat tidak optimal.

Pupuk hidroponik juga bisa dibeli yang sudah siap pakai, ini memudahkan dalam
aplikasi, sebab kalau kita mau buat sendiri perlu beberapa invest alat dan bahan-bahan
pupuk atau kima yang harus kita beli.

Pupuk hidroponik biasa konsentrasi larutan dengan ppm (part per million), atau mg/l
(mili gram per liter).

1 ppm = 1 mg/L = 1 g/1.000 L

Lebih lanjut lagi kita juga harus mengerti tentang berat atom setipa unsur, ini penting
untuk orang yang mau memperdalam perhitungan nutrisi hidrponik.
Ramuan/rumus kandungan nutrisi hidroponik (dalam mg/L) minimal sbb:

Makro element:
Nitrogen -Nitrate (N/NO3) : 200
Nitrogen-Amonium (N/NH4) : 20
Kalsium (Ca) : 200
Fospor (P) : 50
Magnesium (Mg) : 40
Sulfur (S) : 117

Mikro element:
Besi (Fe) : 2
Boron (B) : 0.5
Mangan (Mn) : 0.5
Kopper (Cu) : 0.1
Molibdenum (NaMo) : 0.05

Dan bagaimana cara menghitung kebutuhan bahan pupuk agar sesuai dengan komposisi
tersebut diatas, kami contohkan sbb :

Misalkan kita beli Calsium Nitrtae, Ca(NO3)2.4H2O dengan kandungan Kalsium nitra :
19% kalsium dan 14.5% nitrate.

Kita perlu kalsium : 200 mg/L.

200 mg/L x 100/19 = 1.052,6 mg/L Kalsium Nitrtate.

begitu seterusnya dengan bahan pupuk yang lain juga.


Unsur hara & Gejala Kekurangan Unsur hara , pupuk




UNSUR HARA MAKRO


1. NITROGEN (N)
Nitrogen diserap oleh tanaman dalam bentuk NO3- (N-nitrat) atau NH4+ (N-
amonium) atau keduanya, Tanaman yang hidupnya dengan media yang banyak
berisi air akan lebih suka menyerap N dalam bentuk NH4-, sedangkan tanaman
yang hidupnya dengan media di darat akan lebih baik tumbuhnya bila tersedia N
dalam bentuk NO3-. Sebaiknya N-amonium tidak lebih dari 30% dari N total yang
diberikan untuk tanaman.

Fungsi NH4+ terhadap pertumbuhan tanaman akan menyebabkan tanaman
tumbuh pesat, sel-sel membesar, daun melebar tipis, lemas, cepat layu, dan
rentan terhadap serangan penyakit.
Fungsi NO3- terhdap pertumbuhan tanman adalah bisa memperpanjang fase life
atau daya simpan bunga/buah, toleran terhadap kekurangan air, membuat butir
hijau daun lebih bagus, mengurangi keguguran bunga (bunga terbentuk lebih
sempurna).

FUNGSI :
- Membentuk klorofil, membuat protein
- Membuat enzim-enzim yang berperan dalam membentuk daun
dan produksi bahan kering
- Termasuk unsur hara yang mobil di dalam tanaman (apabila daun-daun muda
kekurangan N, maka N dari daun-daun tua akan ditranslokasikan ke daun-daun
muda)

GEJALA KEKURANGAN :
- Proses kecepatan pertumbuhan rata-rata lambat
- Daun terlihat hijau muda dan dapat menjadi kuning
- Biasanya daun paling rendah posisinya yang paling pertama terlihat gejalanya

2. POSPHOR (P)
Phospor/fosfor diserap tanaman dalam bentuk ion H2PO4-, dan sebagian kecil
dapat diserap dalam bentuk ion HPO4=.
Pemberian P bersama-sama dengan NH4+ dapat merangsang pertumbuhan
akar, tetapi penyerapan P oleh akar meningkat apabila yang digunakan adalah
NO3- daripada menggunakan NH4+.

FUNGSI :
- Mempercepat pertumbuhan dan perkembangan ujung-ujung akar dan titik
tumbuh
- Mempunyai peranan dalam proses fotosintesis, pembakaran karbohidrat
- P dalam tanaman bersifat mobil

GEJALA KEKURANGAN :
- Warna daun berubah menjadi gelap dan selanjutnya menjadi kelabu
- Sistem perakaran kurang baik perkembangannya
- Pada tanaman yang muda dapat menghambat pertumbuhan pucuk
3. KALIUM (K)
Kalium diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+ dan ketersediaan K dari
pupuk relatif lebih cepat daripada dengan fosfat.

FUNGSI :
- Sangat diperlukan pada fase reproduksi tanaman untuk menghasilkan kualitas
bunga dan buah yang lebih baik
- Sebagai katalisator proses-proses metabolisme tanaman
- Berperan penting dalam penyusunan protein dan karbohidrat
- Mempercepat pertumbuhan jaringan maristematik
- Memperkuat atau memepertebal sel-sel tanaman pada dalam batang dan kulit
serta resisitensi terhadap penyakit
- Dapat menghasilakan kualitas bunga dan buah yang lebih baik
- K dalam tanaman bersifat mobil
GEJALA KEKURANGAN :
- Kekurangan Kalium ditandai dengan berubahnya tepi daun dari warna hijau
menjadi kuning muda
- Warna kuning tersebut berlanjut menjadi kecoklatan
- Pada tepi daun menjadi robek yang membentuk seperti gerigi
- Dapat menurunkan daya tahan terhadap serangan hama dan penyakit

4. CALSIUM (Ca)
Calsium diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Ca++, ketersediaan Ca ternyata
dapat mempengaruhi unsur hara lain terutama Mg, apabila Ca pada kondisi
kekurangan, maka penyerapan Mg akan terlalu besar dan dapat meracuni
tanaman. Penambahan atau pemberian Ca bersama-sama dengan unsur N akan
menguntungkan pada perkembangan batang dan pembentukan tunas-tunas
baru. Ca banyak terdapat dibagian tanaman yang tua dan bersifat immobil.

FUNGSI :
- Menguatkan dinding sel, pembentukan pucuk tanaman dan pemanjangan
ujung-ujung akar
- Berperan dalam pembentukan protein dan penyerapan nitrat

GEJALA KEKURANGAN :
- Daun-daun berukuran kecil dan gagal berkembang penuh
- Warna daun menjadi gelap

5. MAGNESIUM (Mg)
Tanaman menyerap Magnesium dalam bentuk ion Mg++, ketersediaan Mg tidak
boleh berlebihan karena dapat meracuni tanaman, sehingga unsur Mg harus
dalam kondisi seimbang terutama dengan umsur Ca. Unsur hara Ca adalah
bersifat mobil.

FUNGSI :
- Berperan dalam proses fotosintesis dan pembentukan klorofil
- Untuk pembentukan enzim dan protein dalam tanaman
- Menaikan kadar minyak pada tanaman
- Termasuk unsur hara yang mobil didalam tanaman
GEJALA KEKKURANGAN :
- Gejala ini biasanya terlihat pada daun tua
- Diantara tulang daun terlihat klorosis
- Perubahan warna daun menjadi kuning, dan terdapat bercak-bercak warna
coklat pada daun tetapi tulang daun tetap berwarna hijau
- Dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan dan perkembangan kuncup
bunga

6. SULFUR (S)
Tanaman menyerap Sulfur melewati akar dalam bentuk ion SO4= dan dapat
diserap melalui daun dalam bentuk ion SO2-, tetapi pada kadar yang terlalu
tinggi dapat meracuni tanaman. Kadar S di dalam tanaman rata-rata 0,1 – 0,4 %.
Unsur S di dalam tanaman dapat menekan kelebihan nitrat sehingga akibat
negatif dari penumpukan nitrat yang terlalu tinggi dapat dicegah. Sulfur adalah
unsur hara yang bersifat mobil.

FUNGSI :
- Menyusun asam amino, aktifator enzim dan pembentukan
Vitamin

GEJALA KEKURANGAN :
- Daun berwarna gelap pada sebagian daun yang paling dekat dengan batang
- Urat-urat daun berubah menjadi kuning
- Batang tanaman kurus dan kecil

UNSUR HARA MIKRO
1. BORON (B)
Tanaman menyerap Boron dalam bentuk ion BO33-, walaupun B merupakan
unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, tetapi harus tersedia untuk
pertumbuhannya. Boron adalah unsur hara yang bersifat immobil.

FUNGSI :
- Berperan dalam pembentukan dinding sel, pembentukan buah
- Pembentukan titik tumbuh dan penting dalam penyerbukan
- B dalam tanaman bersifat tidak mobil



GEJALA KEKURANGAN :
- Gejala dapat dilihat pada daun dengan tanda-tanda yang mengering dan kurus,
ujung daun menjadi coklat
- Apabila temperatur tinggi dan tanaman kekurangan B dapat menyebabkan
kelopak bunga menjadi pecah (calyx splinting) atau dapat juga sebagai akibat
perbedaan temperatur udara siang dan malam terlalu tinggi (lebih dari 10°C).
- Pertumbuhan rata-rata tanaman merosot, pertumbuhan kerdil dengan ruas-ruas
yang pendek dan dapat juga berhenti pertumbuhannya
- Batang dari tanaman kaku menjadi pecah-pecah/retak

2. BESI (Fe)
Tanaman menyerap Besi dalam bentuk ion Fe3+, tetapi lebih banyak diserap
dalam bentuk ion Fe2+. Besi juga dapat diserap dalam bentu garam-garam
kompleks organik (chelate) dan dapat juga diserap oleh daun dalam bentuk Fe
sulfat. Fe adalah salah satu unsur immobil.

FUNGSI :
- Membentuk klorofil, diperlukan dalam membentuk fotosintesis
- Berperan dalam mengaktifkan berbagai enzim

GEJALA KEKURANGAN :
- Warna daun akan pudar dan menjadi kering lalu menjadi keriput
- Pada ujung daun menjadi terkikis tetapi urat-urat daun masih tetap hijau

3. MANGAN (Mn)
Mangan diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Mn2+ dan juga dalam bentuk
kompleks organik. Apabila kadar Mn berelebihan bagi tanaman dapat
menyebabkan keracunan. Sifat dari Mangan adalah immobil

FUNGSI :
- Berfungsi dalam pembelahan sel
- Di gunakan dalam proses pernapasan dan fotosintesis

GEJALA KEKURANGAN :
- Daun akan tampak berwarna gelap dan muda
- Perkembangan kuncup akan mengalami kegagalan
- Pertumbuhan tanaman terhambat

4. TEMBAGA (Cu)
Tanaman menyerap Cu dalam bentuk Cu2+ dan dapat diserap melalui daiun
dalam bentuk molekul kompleks organik

FUNGSI :
- Cu diserap oleh tanaman dalam jumlah sedikit
- Berfungsi sebagai aktifator beberapa enzim laktase, oksidase dan asam
askorbat

GEJALA KEKURANGAN :
- Terlihat pada ujung daun yang mengisut dan merana, dan terkadang terlihat
seperti gejala kekurangan K, karena tepi-tepi daunnya mengering.
5. SENG (Zn)
Tanaman menyerap Zn dalam bentuk ion Zn2+ dan dapat dalam bentuk
kompleks organik, seperti EDTA.

FUNGSI :
- Berperan dalam pembentukan Asam-asam Indolasetic Acid (IIA), sehingga
akan banyak berperan dalam pembelahan sel-sel maristem

GEJALA KEKURANGAN :
- Terjadi salah tumbuh pada ujung akar dan terjadi kelambatan tunas di pucuk
karena pembelahan sel maristem tidak sempurna
- Daun berwarna hijau muda, kuning atau putih di antara tulang daun, dan ruas-
ruas batang memendek, daun menjadi kecil, sempit dan agak tebal, kemudian
dapat menyebabkan daun menjadi gugur.

6. MOLIBDENIUM (Mo)
Tanaman menyerap Mo dalam bentuk ion MoO4= dan dalam jumlah sedikit,
kelebihan sedikit saja dapat menyebabkan keracunan bagi tanaman.

FUNGSI :
- Berfungsi dalam reduksi nitrat (fiksasi N) dan asimilasi nitrogen

GEJALA KEKURANGAN :
- Kekurangan Mo dapat mempengaruhi berlangsungnya sintesis asam-asam
amino dan protein, sehingga dapat mempengaruhi fungsi N di dalam tanaman

Penyiraman dan Nutrisi Hidroponik
PENYIRAMAN DAN PEMUPUKAN

Pemupukan dalam istilah disini adalah pemberian larutan nutrisi yang digunakan
untuk menyuplai hara yang dibutuhkan bagi tanaman melalui penyiraman di
media tanam, atau dapat juga disebut Fertigation (fertilizer and irrigation). Pada
budidaya secara hidroponik, penyiraman larutan nutrisi bagi tanaman dilakukan
secara bertahap atau berkali-kali melalui sistem dan kebutuhan tanaman.
Kebutuhan larutan nutrisi akan bertambah sesuai dengan tingkat pertumbuhan
tanaman.

Penyerapan unsur hara oleh tanaman
Unsur hara yang terdapat pada media tanam akan diserap melalui akar,
penyerapan air beserta hara dilakukan oleh ujung-ujung akar dan bulu-bulu akar,
dengan demikian pembentukan akar sebagai awal pertanaman harus
memperhatikan faktor-faktor yang dapat mendorong perkembangan akar.
Dengan perkembangan akar beserta bulu-bulu akar yang banyak, serapan air
dan hara bisa menjadi lebih besar dan akan terjadi keseimbangan volume akar
dengan pertumbuhan tanaman.

Penyerapan elemen-elemen oleh akar dipengaruhi oleh faktor di dalam
lingkungan akar dan faktor di luar akar. Faktor dilingkungan akar misalnya jenis
media tanam, kualitas air, pH dan EC larutan nutrisi. Sedangakan faktor luar
misalnnya temperatur, angin, kelembaban, dan cahaya.
Elemen-elemen diserap oleh akar dalam bentuk ion-ion, yaitu anion yang
bermuatan negatif dan kation yang bermuatan positif. Adanya perbedaan muatan
antara ion-ion di dalam larutan hara dengan ion-ion dalam akar, menyebabkan
terjadinya proses tukar-menukar ion. Contoh, ion K+ dari garam KNO3 akan
masuk ke dalam akar karena tarikan ion OH- dari H2O, sedangkan ion NO3-
akan tetap diluar karena terjadi ikatan dengan
ion H+.



PUPUK
Secara umum pupuk adalah semua bahan kimia yang bisa digunakan untuk
menyuplai hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk yang dibutuhkan oleh
tanaman adalah yang mengandung elemen-elemen yang menentukan
pertumbuhan dan produktivitas tanaman, oleh sebab itu pemilihan pupuk dan
aplikasinya merupakan salah satu aspek yang sangat penting di dalam budidaya
tanaman komersial secara hidroponik.

Keberadaan pupuk tersebut harus memiliki unsur hara yang tersedia secara
seimbang, baik unsur-unsur makro maupun unsur-unsur mikro. Keseimbangan
unsur hara sebagai nutrisi adalah sangat penting agar tanaman dapat menyerap
unsur yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup, sehingga tanaman dapat
tumbuh dan berkembang secara optimal.

Unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dibagi menjadi 2 kelompok
yaitu, unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro adalah hara
yang diperlukan tanaman dalam jumlah banyak, diantaranya : C, H, N, O, S, P,
K, Mg, Ca. Sedangkan unsur hara mikro adalah hara yang diperlukan tanaman
dalam jumlah sedikit tetapi harus tersedia, diantaranya : Fe, Si, Mn, B, Zn, Mo,
Cu.

Ada beberapa faktor yang berkaitan erat dengan penyiraman dan pemberian
larutan nutrisi, baik faktor tanaman itu sendiri maupun faktor luar yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Hal ini penting, karena apabila tidak
diperhatikan akan menyebabkan kerusakan bagi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Faktor dari tanaman yang dapat mempengaruhi
penyiraman larutan nutrisi adalah jensi tanaman, varietas, umur tanaman dan
volume akar. Sedangkan faktor luar adalah, jenis media tanam, EC dan pH
nutrisi di dalam media tanam, cahaya, temperatur, kelembaban dan angin.

Volume dan frekuensi penyiraman
Di lihat dari faktor yang berkaitan erat dengan penyiraman, maka volume dan
frekuensi penyiraman tidak semuanya sama pada suatu tempat tertentu. Untuk
menentukan volume dan frekuensi penyiraman harus melihat atau menganalisa
hasil penyiraman sebelumnya, hal ini dilakukan untuk menentukan volume,
waktu dan frekuensi penyiraman. Pengalaman seperti itu penting, karena untuk
menghasilkan cara penyiraman yang optimal harus sesuai dengan kondisi
setempat, cara orang lain atau saran dari luar hanya merupakan bahan
perbandingan untuk menentukan aktifitas penyiraman.

Volume penyiraman pada ketinggian lebih dari 700 meter dari permukaan laut
biasanya antara 0.7 – 2.5 liter perhari, dengan frekuensi penyiraman 3 – 7 kali
penyiraman per hari. Semakin tinggi temperatur dan rendahnya kelembaban di
dalam greenhouse, maka volume dan frekuensi penyiraman akan meningkat, hal
ini disebabkan aktifitas di dalam tanaman juga akan meningkat, evaporasi tinggi
dan penyerapan unsur hara oleh akar akar cepat pula. Sehingga dibutuhkan
unsur hara yang banyak juga. Apabila dalam keadaan penyerapan unsur hara
yang tinggi tetapi larutan nutrisi tidak tersedia, maka akan menyebabkan
berbagai kemungkinan yang dapat merugikan pertumbuhan tanaman .

Di sini akan dibahas beberapa pengalaman yang berhubungan dengan masalah
penyiraman, antara lain;
1. Tanaman muda mudah layu
Tanaman yang baru pindah dari nursery ke dalam greenhouse seringkali agak
layu atau benar benar lemas daunnya, hal ini wajar karena tanaman baru
adaptasi. Tetapi jika ini terjadi lebih dari 10 hari, maka dapat juga disebabkan
karena temperatur yang terlalu tinggi atau teknis penyiraman yang kurang benar.

Di dalam kasus ini, jika akibat temperatur yang terlalu tinggi maka perlu di
usahakan untuk menurunkan temperatur atau menaikan kelembaban, misalnya
dengan cara penyemprotan dengan air bersih pada setiap ruas jalan antar
bedengan, ini akan membantu meningkatkan kelembaban, karena air yang
terdapat di setiap ruas jalan akan menguap ke atas yang akan menyebabkan
terdapatnya titik-titik air di dalam greenhouse. Akan tetapi layu tanaman tersebuti
apabila benar-benar suhu di dalam greenhouse memang tinggi.

Penyebab layu tanaman sebagai akibat teknis penyiraman yang kurang benar
akan terjadi biasanya selama beberapa hari atau sampai lebih dari seminggu,
layunya tanaman ini hanya terjadi pada saat suhu meningkat, tetapi pada sore
atau pagi hari biasanya kembali normal. Peristiwa ini dapat terjadi jika pertama
kali tanaman diletakan di atas media slab (transplant) dan media slab tidak
segera di buka drainasenya, atau juga karena setelah penanaman tanaman
terlalu banyak disiram. Terlalu banyak penyiraman di dalam media slab akan
menyebabkan akar sulit/lambat berkembang, karena media tanam penuh
dengan air dan komposisi udara yang sangat sedikit, padahal dalam
pertumbuhan akar diperlukan prosentasi udara yang cukup antara 15-17%
udara. Perkembangan akar yang lambat sedangkan pertumbuhan vertikal terus
berlangsung menyebabkan perbandingan volume akar dan volume di atas akar
(daun, cabang dan batang) tidak seimbang. Apabila perbandingan tidak
seimbang , pada saat evaporasi di atas tanaman tinggi akar tidak akan cukup
mampu untuk menyerap air dan unsur hara secara baik, sehingga daun maupun
batang tanaman akan terlalu banyak mengalami penguapan.
Penguapan/evaporasi yang tidak seimbang inilah yang menyebabkan tanaman
menjadi layu.

Untuk mencegah kejadian seperti tersebut di atas, sebaiknya media slab/polybag
yang baru di tanam secepatnya dilakukan pembuangan drainase, dimana jika
media slab masih lembab sebaiknya belum perlu dilakukan penyiraman larutan
nutrisi. Keadaan seperti ini tentu akan memaksa perakaran tanaman agresif
dalam pertumbuhannya, dibandingkan bila media slab terlalu basah.

2. Fitotoksisitas
Gejala kerusakan fitotoksisitas pada daun tanaman paprika dapat disebabkan
apabila temperatur tinggi sedangkan hara kurang tersedia atau penyiraman
larutan nutrisi tidak mencukupi. Bila temperatur terlampau tinggi dan kelembaban
rendah maka evapotranspirasi tanaman akan sangat pesat. Tekanan negatif ini
akan mengisap air dan hara dari media ke arah atas. Air akan keluar dalam
bentuk uap dai saringan hidatoda sepanjang tepi daun, akibatnya garam-garam
mineral akan tersaring dan terakumulasi di tepi daun. Jika melampaui kepekatan
tertentu, akan terjadi fitotoksisitas yang dimulai pada tepi daun yang menguning,
dan kemudian menjadi nekrosis cokelat-kehitaman seperti kebakar.

Minggu, 2008 Maret 23
PUPUK HIDROPONIK




PUPUK DALAM SISTEM HIDROPONIK ADALAH



- BAHAN KIMIA YANG DIBUTUHKAN UNTUK PERTUMBUHAN TANAMAN
- ELEMEN-ELEMEN YANG MENENTUKAN PERTUMBUHAN DAN
PRODUKTIFITAS TANAMAN
- TERDIRI DARI UNSUR HARA MAKRO DAN MIKRO

UNSUR HARA MAKRO
- UNSUR HARA YANG DIPERLUKAN TANAMAN DALAM JUMLAH BANYAK
- C, H, N, O, S, P, K, Mg dan Ca

UNSUR HARA MIKRO
- UNSUR HARA YANG DIPERLUKAN TANAMAN DALAM JUMLAH SEDIKIT
TETAPI HARUS


TERSEDIA
- Fe, Si, Mn, B, Zn, Mo dan Cu

MASING- MASING UNSUR HARA MEMPUNYAI FUNGSI TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TANAMAN

PEMUPUKAN DALAM SISTEM HIDROPONIK
- PEMBERIAN LARUTAN NUTRISI YANG YANG DIBUTUHKAN UNTUK
TANAMAN MELALUI


PENYIRAMAN

PENYIRAMAN DALAM SISTEM HIDROPONIK /FERTIGATION (FERTILIZER
AND IRRIGATION)
- PENYIRAMAN DILAKUKAN BERSAMA DENGAN LARUTAN NUTRISI
- MENYEDIAKAN UNSUR HARA UNTUK TANAMAN
- MEMENUHI KEBUTUHAN PERTUMBUHAN TANAMAN

TEKNIK PEMUPUKAN / PENYIRAMAN
- CARA MANUAL
- IRIGASI TETES (DRIP IRRIGATION SYSTEM)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYIRAMAN



1. FAKTOR TEKNIS
- TEKNIK PENYIRAMAN (MANUAL / IRIGASI TETES)
- KUALITAS PUPUK
- KUALITAS AIR
- JENIS DAN UMUR TANAMAN
- VOLUME AKAR
- TENAGA KERJA

2. FAKTOR NON TEKNIS
- JENIS MEDIA TANAM
- EC DAN PH NUTRISI DI DALAM MEDIA TANAM
- TEMPERATUR
- KELEMBABAN
- CAHAYA
- ANGIN
- CUACA (HUJAN, MENDUNG, CERAH)

MENENTUKAN KEBUTUHAN PUPUK DAN TEKNIK PENYIRAMAN



1. MENENTUKAN KEBUTUHAN PUPUK
- JUMLAH PUPUK YANG DIBERIKAN SESUAI DENGAN UMUR DAN JENIS
TANAMAN
- UNSUR-UNSUR PADA PUPUK HARUS SESUAI DENGAN KEBUTUHAN
JENIS TANAMAN

2. MENGHITUNG KEBUTUHAN PENYIRAMAN
- BERAPA LUASANYA GREENHOUSE
- BERAPA JUMLAH TANAMAN
- BERAPA JUMLAH VOLUME DAN FREKWENSI PENYIRAMAN PER
TANAMAN

3. MEMBUAT LARUTAN PEKAT NUTRISI (UNTUK 90x200 L)
- PUPUK A DILARUTKAN PADA 90 LITER AIR DI TANGKI A
- PUPUK B DILARUTKAN PADA 90 LITER AIR DI TANGKI B
- ADUK HINGGA BENAR-BENAR LARUT

KENAPA PUPUK A DAN B HARUS
DIPISAH………………………………………………………?
- DALAM PAKET A TERDAPAT UNSUR Ca
- DALAM PAKET B TERDAPAT UNSUR SO4, PO4
-APABILA KEDUA UNSUR ITU DICAMPUR DAPAT TERJADI
PENGGUMPALAN (PENGENDAPAN/ GIPSUM), SEHINGGA AKAN SULIT
TERSEDIA BAGI TANAMAN.
- CaSO4, Ca3(PO4)2.

4. PEMBUATAN LARUTAN NUTRISI SIAP SIRAM
- BERAPA LARUTAN NUTRISI YANG DIBUTUHKAN
- BERAPA EC DAN PH LARUTAN (EC /PH IN)
-AMBIL LARUTAN PEKAT NUTRISI DARI TANGKI A DAN DARI TANGKI B KE
TANGKI


PENYIRAMAN SESUAI DENGAN KEBUTUHAN EC DAN KEBUTUHAN
PENYIRAMAN
- ADUK HINGGA RATA DAN CEK EC / PH LARUTAN NUTRISI DARI TANGKI
YANG SIAP SIRAM
- LAKUKAN PERUBAHAN APABILA EC / PH BELUM SESUAI DENGAN
KEBUTUHAN
- APABILA AKAN MENURUNKAN pH DAPAT MENGGUNAKAN HNO3 (ASAM
NITRAT) UNTUK DICAMPUR KEDALAM LARUTAN NUTRISI PADA TANGKI
YANG SIAP SIRAM
- APABILA AKAN MENAIKAN pH DAPAT MENGGUNAKAN SODA KUE UNTUK
DICAMPUR KEDALAM LARUTAN NUTRISI PADA TANGKI YANG SIAP SIRAM

5. TEKNIK PENYIRAMAN
- CEK TEMPERATUR, KELEMBABAN
- CEK DATA EC /PH MEDIA (OUT) PENYIRAMAN SEBELUMNYA, VOLUME
DRAINASE DAN PROSENTASI DRAINASE
- LAKUKAN PENYIRAMAN DENGAN VOLUME DAN FREKWENSI SESUAI
DENGAN KONDISI SETEMPAT
- REGISTRASI SEMUA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYIRAMAN

6. VOLUME DAN FREKWENSI PENYIRAMAN
- TIDAK SEMUA SAMA PADA SETIAP LOKASI
- CEK DATA PENYIRAMAN SEBELUMNYA
- TERGANTUNG DARI UMUR TANAMAN, JENIS TANAMAN, EC / PH OUT,
TEMPERATUR, KELEMBABAN DAN CUACA

PERUBAHAN EC / PH

BERAPA EC /PH IN (MASUK) DAN EC / PH OUT (KELUAR) UNTUK PAPRIKA,
TOMAT DAN TIMUN
- EC / PH IN MASA VEGETATIF……………………………….?
- EC / PH OUT MASA VEGETATIF……………………………?
- EC / PH IN MASA GENERATIF……………………………….?
- EC / PH OUT MASA GENERATIF……………………………?

BAGAIMANA SITUASI EC / PH DI DALAM MEDIA SLAB PADA SAAT
PERTUMBUHAN VEGETATIF DAN
GENERATIF……………………………………………..?

BAGAIMANA CARA MENAIKAN EC / PH DI MEDIA
SLAB……..………………….?
BAGAIMANA CARA MENURUNKAN EC / PH DI MEDIA
SLAB…………………….?

LAKUKAN ANALISA EC / PH DARI HASIL REGISTRASI PADA TANAMAN
TEKNIK BUDIDAYA SAYURAN SECARA HIDROPONIK




PENDAHULUAN

Pandun hidroponik komersial ini didasarkan pada pengalaman, penelitian dan
pengamatan saya terhadap teknologi hidroponik yang telah diterapkan lebih dari
14 tahun di Indonesia. Panduan ini merupakan salah satu kegiatan untuk
memenuhi kebutuhan petani maupun perusahaan pertanian yang ingin
menerapkan teknologi pertanian, agar dapat meningkatkan produktifitas maupun
kualitas dengan hasil produksi yang kontinyu.

Kurangnya para pengusaha dan petani yang berkecimpung dalam memproduksi
sayuran dengan teknologi hidroponik agar berkualitas dan berkesinambungan,
menyebabkan lambatnya laju pertumbuhan produksi dan tingkat persaingan
yang kurang tajam. Kendala utama untuk menerapkan teknologi tersebut adalah
kurangnya tenaga terampil, terutama pada tingkat manager.

PENGENALAN

Budidaya pertanian yang menggunakan teknologi hidroponik, tidak lepas dari
sarana yang dapat menunjang optimalisasi dalam pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Mengingat hidroponik ini bukan suatu keharusan,
melainkan suatu jalan keluar, maka komoditi yang ditanam pun harus
mempunyai pasar khusus dengan harga khusus pula.


Sarana penunjang tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang saling terkait
pada suatu sistem hidroponik. Ada beberapa hal yang penting agar hidroponik
secara kualitas dan kuantitas dapat berhasil, antaralain sumber daya manusia,
manajemen kebun, greenhouse, nursery, sistem irigasi, benih, media tanam dan
peralatan pendukung lainnya. Dengan demikian, praktek yang berlangsung
secara aktif di dalam kebun produksi akan dapat memberikan ketrampilan secara
menyeluruh terhadap penerapan teknik budidaya tanaman sayuran
menggunakan teknologi hidroponik

MATERI DALAM PANDUAN SISTEM HIDROPONIK

POKOK-POKOK MATERI PANDUAN HIDROPONIK

KONSTRUKSI GREENHOUSE
- Pengertian greenhouse dalam pertanian
- Syarat-syarat pembangunan greenhouse
- Bahan pembangun greenhouse
- Bentuk-bentuk bangunan greenhouse
- Fungsi bentuk-bentuk bangunan greenhouse
- Keuntungan greenhouse dalam pertanian

MEDIA TANAM HIDROPONIK
- Pengertian media tanam untuk hidroponik
- Jenis dan fungsi media tanam
- Syarat-syarat media tanam yang baik
- Dimana media tanam dapat diperoleh
- Pembuatan media tanam hidroponik


TEKNIK PERSEMAIAN
- Pengertian semai
- Bahan dan alat umtuk persemaian
- Teknik persemaian
- Registrasi dan pengontrolan

MANAJEMEN NURSERY
- Teknik sterilisasi dan desinfektan
- Teknik pemindahan bibit
- Pemeliharaan bibit di nursery
- Pemupukan dan penyiraman di nursery
- Registrasi dan pengontrolan

TEKNIK BUDIDAYA HIDROPONIK
- Teknik budidaya tanaman paprika, tomat dan timun
- Teknik pemeliharaan
- Pemupukan dan penyiraman
- EC dan pH di dalam media tanam
- Pengendalian hama dan penyakit
- Teknik penyemprotan
- Teknik pemanenan

PEMUPUKAN DAN PENYIRAMAN
- Pengertian pupuk dan penyiraman
- Penyerapan unsur hara oleh tanaman
- Cara pembuatan larutan nutrisi
- EC dan pH di dalam pembuatan larutan nutrisi
- Waktu dan teknik penyiraman dengan sistem manual dan irigasi tetes
- Registrasi dan pengecekan penyiraman
- Unsur hara dan fungsinya

EC DAN PH DALAM SISTEM HIDROPONIK
- Pengertian EC dan pH dalam pertanian
- Fungsi EC dan pH dalam pertanian hidroponik
- Teknik perubahan EC dan pH dalam pembuatan larutan nutrisi
- Teknik perubahan EC dan pH di dalam media tanam
- Masalah yang timbul akibat perubahan EC dan pH

SISTEM IRIGASI HIDROPONIK
- Pengertian irigasi hidroponik
- Bak penyimpan air
- Sistem irigasi tetes (drip irigation system)
- Fungsi dan instalasi irigasi tetes

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
- Pengenalan hama dan penyakit tanaman sayuran hidroponik
- Jenis-jenis hama dan penyakit tanaman sayuran
- Gejala serangan hama dan penyakit tanaman sayuran
- Teknik pengendalian hama dan penyakit

SOSIAL MASYARAKAT
- Pengenalan lingkungan di lokasi kebun
- Hubungan pertanian dengan masyarakat
- Hubungan masyarakat dengan organisasi dan pemerintah
- Aspek sosial dalam penerapan teknologi baru dalam bidang pertanian
- Peranan masyarakat dalam pelaksanaan proyek pertanian

REGISTRASI DAN PENGAMATAN
- Pengertian registrasi dan pengamatan dalam sistem hidroponik
- Fungsi dan tujuan registrasi dan pengamatan
- Teknik registrasi dan pengamatan

ANALISA HASIL DAN PASCA PANEN
- Analisa hasil per tanaman dan per satuan luas
- Analisa hasil produksi per tahun
- Perencanaan panen
- Teknik quality control
- Teknik pengepakan
- Transportasi dan distribusi
APA ITU MEDIA TANAM HIDROPONIK




Dalam budidaya sayuran yang menggunakan sistem hidroponik, ada beberapa
bahan dan alat yang perlu dipergunakan antara lain, media tanam, benih, dan
larutan nutrisi. Mengingat hidroponik ini bukan suatu keharusan ataupun
kebutuhan, melainkan suatu jalan keluar, maka komoditi yang ditanam pun harus
mempunyai pasar khusus dengan harga yang khusus pula. Karena komoditi
secara hidroponik akan merugi, jika yang ditanam itu adalah jenis tanaman
murah dan rendah nilai jualnya. Hal ini adalah karena akibat dari sistem
pemeliharaan hidroponik yang memerlukan cara intensif dengan biaya produksi
yang relatif lebih tinggi.


MEDIA TANAM

Media tanam hidroponik merupakan bagian yang penting juga untuk menunjang
keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Karena itu, media ini
harus poros dan dapat mempertahankan kelembaban. Media tanam dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu media untuk persemaian, pembibitan dan media
untuk tanaman dewasa. Tetapi biasanya, jenis media yang digunakan disamping
dapat untuk persemaian juga dapat pula untuk pemebibitan dan tanaman
dewasa.

Media untuk persemaian
Media untuk persemaian dapat menggunakan berupa arang sekam atau
rockwool. Untuk persemaian yang menggunakan arang sekam, harus benar-
benar diketahui kualitasnya, terutama kebersihan dan bebas dari hama penyakit.

Untuk persemaian yang menggunakan rockwool, akan lebih mudah dalam
pemindahan bibit ke media pembibitan, karena persemaian menggunakan
potongan-potongan kecil rockwool yang dimasukan ke setiap lubang tray.
Media untuk pembibitan
Dalam pembibitan ini media yang dapat digunakan antara lain arang sekam dan
rockwool. Tapi semua media yang digunakan akan memerlukan tempat atau
wadah untuk media, tempat atau wadah ini bisa menggunaka polybag atau
plastik yang sesuai dengan ukuran media.

Media untuk tanaman dewasa
Media untuk tanaman yang dewasa hampir sama dengan media yang digunakan
untuk persemaian atau pembibitan. Akan tetapi ada juga yang
mengkombinasikannya dengan media yang berbeda. Misalnya, untuk pembibitan
menggunakan media rockwool dan untuk tanaman yang dewasa dengan media
arang sekam, ataupun kebalikannya.

Untuk tanaman dewasa media tanamnya harus lebih besar volumnya, karena
dalam media ini merupakan tempat pertumbuhan dan perkembangan akar, serta
sebagai media untuk menyerap unsur hara.

Busuk pangkal batang (gummy stem bligh)

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella melonis (Passerini)
Chiu et Walker. Penyakit busuk pangkal batang banyak ditemukan di sentra-
sentra penanaman semangka, timun dan melon di Indonesia. Gejala serangan
ini ditandai pada batang yang terserang seperti tercelup minyak, kemudian
keluar lendir berwarna merah coklat, pada akhirnya tanaman layu dan mati.

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Phytopthora sp. Cendawan ini
menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat atau layu tiba-tiba, pada bagian
batang di atas media tanam yang terinfeksi menjadi lunak dan berwarna hijau
gelap atau coklat gelap. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan batang roboh atu
bengkok. Penyakit tersebut menyukai media tanam dan tanaman yang terlalu
lembab dan suhunya lebih dari 20°C.

Teknik pengendalian
Pada beberapa kasus, penyakit busuk pangkal batang sebagai akibat dari media
tanam yang tidak steril, dengan demikian untuk pencegahan preventif media
penanaman harus steril. Pada tanaman yang terserang daun-daunnya harus
dirompes (dibersihkan), kemudian tanaman disemprot dengan fungisida , dan
pada pangkal batang yang terserang dioles dengan larutan fungisida tersebut.
Fungisida yang biasa digunakan adalah Derosal 500 SC, Sandofan MZ10/56
WP, Dithane M-45 80 WP, dan Ridomil MZ8/64 WP.
Diposting oleh mr_edsu di 08:06 0 komentar Link ke posting ini

Jenis Penyakit di Paprika (Layu Bakteri (bacterial wilt)

Penyakit layu pada tanaman in disebabkan oleh bakteri Erwinia tracheiphila E.F.
Sm pada tanaman Cucurbitaceae. Tetapi pada tanaman Solanaceae disebabkan
oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Tanaman yang terserang penyakit
layu bakteri akan ditandai dengan daun tanaman layu satu persatu meskipun
warna daun tetap hijau, dan akhirnya tanaman layu secara keseluruhan. Apabila
pangkal batang tanaman yang layu dipotong melintang akan mengeluarkan
lendir putih kental dan lengket.

Teknik pengendalian
Cara pengendalian yang dapat dilakukan adalah , dengan sterilisasi media,
penggunaan bibit yang sehat, atau dengan perlakuan preventif benih yang
direndam dengan bakterisida Agrimycin (oxytetracyclin dan streptomycin
sulphate) atau Agrept (streptomycin sulphate) dengan kosentrasi yang di
anjurkan. Cara lain adalah usahakan disekitar tanaman bersih dan kondisi tidak
terlalu lembab.

Layu Fusarium
Penyakit layu fusarium ( Fusarium oxysporum f-sp. melonis Snyd. et Hans)
menyerang pada tanaman Solanaceae dan Cicurbitaceae dari muali fase
pembibitan. Layu fusarium menginfeksi tanaman lewat perakaran dan
berkembang di pembuluh kayu. Di dalam tanaman, jamur tersebut menyebabkan
penyumbatan jaringan yang mentranslokasikan air, sehingga terjadi
penguningan pada daun-daun dan tanaman menjadi layu.

Gejala serangan pada tanaman dewasa ditandai adanya daun-daun menjadi
pucat, bagian atas tanaman layu dan akhirnya mati. Apabila diamati pada batang
tanaman terdapat goresan dan mempunyai massa spora cendawan berwarna
merah jambu, dan bila batang dibelah tampak pembuluh kayu berwarna coklat
mulai dari akar sampai ke cabang-cabang. Pada penampang melintang batang
tampak adanya cincin berwarna coklat di bawah kulit batang. Pembuluh kayu
berwarna coklat tetap kering dan tidak basah seperti pada layu bakteri.

Teknik pengendalian
Pengendalian penyakit layu fusarium dapat dilakukan dengan penggunaan
media tanam yang steril dan ber-pH netral. Dapat juga dilakukan secara kimawi
pada tanaman dengan menggunakan fungisida Derosal 500 SC, Benlate, dan
Ridomil MZ8/64 WP.
Diposting oleh mr_edsu di 08:03 0 komentar Link ke posting ini

Jenis Hama di Paprika (Leaf Miner)
Leaf Miner
Jenis yang banyak menyerang beberapa jenis tanaman bunga seperti chrysant
adalah Liriomyza trifolii. Serangga ini bersifat polifag (memakan berbagai jenis
tanaman), mempunyai lebih dari 70 jenis tanaman inang. Tanaman yang sering
menjadi inang adalah tanaman yang termasuk dalam famili Leguminoseae,
Malvaceae, Solanaceae, dan Compositae.

Gejala serangan
Lalat betina yang akan bertelur memasukkan ovipositornya (alat bertelur) ke
dalam jaringan daun, dan akan terlihat bintik-bintik warna putih yang merupakan
telur-telur serangga. Telur-telur tersebut kemudian akan menetas menjadi larva.
Pada stadia inilah serangan leaf miner sangat merugikan karena mengorok
jaringan daun, sehingga pada daun terlihat adanya garis-garis bewarna putih.
Larva Liriomyza mengorok daun di bawah epidermis daun, sehingga terbentuk
bekas korokan berbentuk jala tidak teratur berwarna putih dengan diameter
bekas korokan 1,5-2 mm. Bila terjadi serangan hebat, daun akan tampak putih,
karena yang tersisa hanya lapisan tipis bagian luar saja.

Siklus hidup
Leaf miner berkembang biak dengan telur. Jumlah telur yang dihasilkan oleh
seekor lalat sekitar 600 butir dalam 2-3 hari musim bertelur. Telur tersebut akan
menetas dalam waktu 2-8 hari yang akan menjadi larva. Larva di dalam daun
akan bertahan selama 4-6 hari, kemudian berubah menjadi pupa. Pada stadia
pupa ini leaf miner akan beristirahat selama 8-11 hari, kemudian akan keluar dari
jaringan daun dan terbang sebagai imago leaf miner. Pada umur 5-8 setelah
menjadi imago, leaf miner siap untuk meletakkan telurnya pada tanaman inang.
Lubang di dalam daun bekas tempat menetas telur leaf miner akan berwarna
hitam bila imago sudah keluar dari dalam daun.

Leaf miner untuk menyelesaikan satu siklus hidupnya memerlukan waktu sekitar
19-33 hari, sehingga dalam setahun terjadi 8-12 generasi.

Teknik pengendalian
Leaf miner mempunyai banyak tanaman inang, sehingga penggendalian dengan
kultur teknis dapat dengan cara membersihakan tanaman inang yang ada di
sekitar tanaman produksi, sehngga dapat menurunkan populasinya. Karena telur
berada di dalam jaringan daun, maka insektisida yang biasa di pakai adalah
sistemik, misalkan Trigard (siromazin 75%), minimal 14 hari sekali dilakukan
penyemprotan, supaya siklusnya terputus.

Apabila pengendalian terhadap telur dan larva leaf miner sudah dilakukan,
selanjutnya dilakukan pengendalian terhadap stadia dewasanya agar tidak
menyebar ke tanaman lain. Untuk pengendalian leaf miner dapat dilakukan
penyemprotan Agrimec 18 EC, Pegasus 500 SC, dan Matador 25 EC.
Penyemprotan dilakukan pada seluruh bagian tanaman dan tanaman inang
disekitarnya.
Diposting oleh mr_edsu di 07:39 0 komentar Link ke posting ini

Jumat, 2008 Februari 08
Jenis Hama di Paprika (Aphis-Kutu daun)

Kutu Daun (Aphis gossypii Glover)
Kutu daun termasuk dalam famili Aphididae ordo Homoptera, serangga ini
bertubuh lunak, berukuran 4-8 mm. Kelompok Aphids biasanya berkoloni di
bawah permukaan daun atau sela-sela daun, hama ini mengekskresikan embun
madu, adanya embun madu yang dikeluarkan kutu daun dapat dilihat dengan
terdapatnya semut atau embun jelaga yang berwarna hitam. Munculnya embun
jelaga ini menyebabkan permukaan daun tertutupi sehingga akan menghambat
proses fotosintesis. Aphids menyerang tanaman Cabe, Paprika, Timun,
Semangka, Melon, Kubis dan Kailan.

Gejala serangan
Hama ini mengisap cairan daun, sehingga daun tanaman menggulung,
sedangkan pucuk tanaman menjadi keriting. Aphids juga merupakan vektor
penyakit virus. Pada fase nimfa dan imago dapat mengisap cairan pada dasar
bunga, sehingga mengakibatkan bentuk bunga rusak.

Siklus hidup
Perkembangan kutu daun secara partenogenetik dan vivipar. Di daerah tropis
umumnya populasi kutu daun dengan cepat, populasi kutu daun sangat tinggi
pada awal musim kering, sedangkan pada periode kering yang panjang dan
hujan lebat populasinya sangat menurun.

Kebanyakan telurnya hidup di musim dingin, kemudian menghasilkan individu-
individu yang tidak bersayap dan bersayap. Pada jenis bentuk-bentuk yang
bersayap ini pndah ke tumbuhan inang yang berbeda dan proses produksi
berlanjut. Di daerah tropis untuk menyelesaiakan satu siklus hidupnya diperlukan
waktu rata-rata 8,2-11, 4 hari.

Teknik pengendalian
Hama Aphids bisa dikendalikan dengan cara melakukan penanaman serempak,
sehingga tidak ada perbedaan umur tanaman dalam satu hamparan. Dengan
melihat gejala serangan di permukan daun yang kelihatan mengkilap, maka bisa
dilakukan penyemprotan dengan pestisida. Pestisida yang biasa digunakan
untuk mengendalikan Aphids adalah Confidor 200 SL, Curacron 500 EC, dan
Pegasus 500 SC.
Diposting oleh mr_edsu di 19:26 0 komentar Link ke posting ini

Jenis Hama di Paprika (Thrips)
Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Jenis serangga ini bentuknya kecil, mempunyai sayap seperti duri yang tidak
berangka. Kebanyakan jenis ini akan loncat dari satu tempat ke tempat lain, dan
gerakannya cukup lincah. Karena kemampuan terbangnya lemah, maka untuk
perpindahan da
tempat ke tempat lainnya sangat dipengaruhi oleh angin dan para pekerja dapat
juga sebagai mediator perpindahan tempat.

Gejala serangan
Hama ini menyerang mulai dari pembibitan sampai tanaman dewasa. Thrips
menyerang tanaman cabai, Paprika, Timun, Semangka dan Melon. Thrips
menyerang tanaman dengan cara meraut-mengisap. Gejala serangan terlihat
pada pucuk tanaman, daun-daun muda atau tunas-tunas baru keriting bahkan
berbecak-becak kekuningan, tanaman keriting dan kerdil tidak dapat
membenetuk buah secara normal, sebagai akibat diisapnya isi sel yang
kemudian terisi dengan udara. Kalau gejala ini timbul perlu diwaspadai karena
tanaman bisa juga telah tertular virus yang dibawa hama thrips.

Siklus hidup
Thrips berukuran sangat kecil antara 0,5 – 1,5 mm. Imago meletakan telur di
permukaan bawah daun atau pada kelopak dan mahkota bunga. Jumlah telur
yang dihasilkan oleh seekor betina berkisar antara 30-300 butir, tergantung mutu
dan jumlah makanan yang tersedia. Thrips mengalami dua instar nimfa dan
stadia pupa, nimfa thrips berwarna kekuning-kuningan, sedangkan thrips dewasa
berwarna coklat kehitaman. Instar pertama dan kedua merupakan fase aktif,
sedang nimfa instar selanjutnya adalah prapupa dan pupa yang mempunyai fase
istirahat. Untuk menyelesaikan satu siklus hidup thrips, paling sedikit
membutuhkan waktu sekitar 10 hari.

Teknik pengendalian
Teknik pengendalian yang cukup efektif adalah dengan cara pencegahan
serangan thrips dengan aplikasi pestisida. Pestisida yang biasa digunakan
adalah Agrimec 18 EC, Confidor 200 SL, Curacron 500EC, Mesurol 50 WP, dan
Pegasus 500 SC.
Diposting oleh mr_edsu di 09:02 0 komentar Link ke posting ini

Jenis Hama di Paprika (Tungau/mites)
JENIS-JENIS HAMA DAN PENGENDALIANNYA


Ada beberapa jenis-jenis hama yang akan diuraikan dibawah ini, yang dapat
menyebabkan kerusakan terhadap tanaman sayuran di dalam greenhouse,
berikut cara pengendaliannya.

Tungau (mites)
Tungau yang menyerang tanaman sayuran adalah tungau merah (Tetranychus
cinnabarinus Boisduval) dan tungau kuning (Polyphagotarsonemus latus Bank).
Tungau menyerang tanaman dengan memasukan stiletnya menyerang tanaman
dengan memasukan stiletnya dengan menyuntikkan air ludahnya yang beracun.

Gejala serangan
Gejala serangan tungau ditandai berupa titik kecil berwarna terang yang
kemudian berkembang menjadi bercak tidak teratur berwarna putih atau hijau.
Sering juga terjadi perubahan warna daun dari kuning menjadi keperakan.
Kemudian kerusakan lainnya adalah daun mengeriting, melengkung dan
terpelintir, nekrosis pada daun muda, dan bahkan pada tanaman yang baru
tumbuh.

Apabila daun di balik maka pada daun sebelah bawah akan terlihat sekumpulan
hama yang tampak seperti titik-titik merah atau kuning.

Siklus hidup
Perkembangan populasi tungau sangat cepat, karena siklus hidupnya pendek
dan fertilitasnya tinggi. Pada kondisi udara yang panas dan kelembaban rendah
serta sedikit hujan, populasi tungau akan berkembang cepat. Hampir semua telur
berpotensi menetas menjadi larva, meskipun telur tersebut tidah dibuahi. Telur
yang dibuahi akan berkelamin betina sedangkan yang tidak dibuahi akan
berkelamin jantan.

Sejak dari fase larva, spider mite sudah menjadi parasit dan menghisap cairan
pada daun-daun tanaman yang terserang, dan semakin berat bila larvanya
sudah tumbuh dewasa, karena gerakannya akan semakin aktif dan menyebar ke
banyak tanaman.

Teknik pengendalian.
Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan cara menjaga
kelembaban agar tetap cukup tinggi, karena tungau menyukai kelembaban yang
rendah (<80%)>30ºC), sehingga dengan peningkatan kelembaban dan
penurunan suhu, akan terjadi kondisi fisik yang kurang mendukung bagi
perkembangan tungau, hal ini dapat menghambat kemampuan makan dan
menurunkan perkembang biakan tungau.
Alternatif lain adalah pengendalian secara kimiawi, dengan menggunakan
pestisida. Jenis pestisida yang digunakan adalah akarisida. Beberapa pestisida
yang dapat digunakan adalah Kelthane 200 EC, Agrimec 18 EC, Pegasus 500
EC, Curacron 500 EC, dan Mitac 200 EC.
Diposting oleh mr_edsu di 08:35 0 komentar Link ke posting ini

Pengendalian Hama & Penyakit Sayuran Hidroponik

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
SAYURAN HIDROPONIK

Istilah hama dan penyakit sering dianggap sama, karena keduanya sama-sama
dapat merugikan bagi tanaman dan manusia. Tetapi sebenarnya keduanya
berbeda. Hama merupakan binatang yang merusak tanaman dan umumnya
merugikan manusia dari segi ekonomi. Kerugian tersebut dihubungkan dengan
nilai ekonomi, karena apabila tidak terjadi penurunan nilai ekonomi, maka
kehadiran hama tersebut pada tanaman tidak perlu dikendalikan/diberantas.
Sedangkan penyakit tanaman dapat berupa bakteri, jamur, ganggang dan virus.

Pada umumnya benih tanaman hidroponik yang digunakan bukanlah asli dari
Indonesia, sehingga belum beradaptasi secara luas dengan iklim Indonesia, oleh
sebab itu akan menjadi peka terhadap serangan hama dan penyakit.
Pengamatan dini terhadap gejala serangan hama dan penyakit merupakan cara
yang dapat mempermudah dalam menentukan jenis hama dan penyakit yang
menyerang, sehingga dapat mempermudah pula untuk tindakan
pengendaliannya.

Tanaman hidroponik juga sangat peka terhadap kekurangan unsur hara. Gejala
kekurangan unsur hara ini mirip dengan gejala awal serangan penyakit. Oleh
karena itu diperlukan keahlian dan ketelitian dalam menentukan apakah tanaman
terserang penyakit atau kekurangan salah satu unsur hara.
Diposting oleh mr_edsu di 08:33 0 komentar Link ke posting ini
a. Pewiwilan
Untuk menghasilkan cabang dan produski buah yang baik, harus dipilih
pembentukan tunas yang tumbuh dengan baik. Tunas inilah yang akan
menghasilkan pertumbuhan cabang berikutnya. Pada pertumbuhan selanjutnya,
cabang yang dibiarkan tumbuh akan menghasilkan cabang yang baru lagi.
Cabang yang baru tumbuh ini masih harus diseleksi lagi, tunas yang baik di
pelihara sedangkan yang tidak baik dibuang dengan menyisakan 2-4 daun paling
bawah. Demikian seterusnya sehingga cabang yang dipelihara tetap dua
cabang.

b. Seleksi bunga dan buah
Pembuangan bunga dan buah yang tidak diharapkan harus dilakukan sedini
mungkin agar perkembangan bunga dan buah dapat berlangsung dengan baik.
Oleh karen itu, setelah buah tumbuh membesar harus dilakukan seleksi buah di
pohon. Seleksi buah dapat dilakukan bersamaan dengan pewiwilan, pada saat
itu juga dapat di buang bunga yang tidak baik. Setiap buku cabang utama
berpotensi menghasilkan dua buah paprika, untuk mendapatkan kualitas yang
baik sebaiknya diseleksi hanya satu buah saja yang dibiarkan, agar
perkembangan buah menjadi optimal.
Diposting oleh mr_edsu di 08:24 0 komentar Link ke posting ini

Pemeliharaan Tanaman Paprika-1
Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman yang dilakukan akan berbeda, ini tergantung dari jenis tanaman
apa yang dipilih. Tetapi pemeliharaan pada tanaman paprika pada umumnya sebagai
berikut:

a. Pemilihan cabang produksi
Pada tanaman Paprika perlu dilakukan pemilihan cabang utama untuk produksi, dengan
hanya membiarkan 2 batang cabang yang hidup sebagai cabang utama. Pemilihan cabang
produksi ini dilakukan karena tanaman paprika secure alami akan membentuk semak,
dari batang utama akan bercabang dan dari setiap cabang akan membentuk dua cabang
sehingga tanaman akan kelihatan bergerombol. Apabila tidak dilakukan pemilihan
cabang, akan menghasilakan bunga yang banyak, karena pada sudut diantara dua cabang
berpotensi menghasilkan bunga. Pemilihan cabang produksi ini juga dimaksudkan
mengefesienkan translokasi hasil fotosintesis dari daun menuju buah dan untuk
mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman agar mampu berproduksi
dengan baik. Di dalam pemilihan cabang produksi sebaiknya mempunyai kriteria, antara
lain :
- kondisi cabang lebih baik dan sehat daripada cabang lain yang tumbuh.
- jarak antar cabang berjauhan dan menghadap keluar.
- ukuran atau besarnya cabang seimbang.
- mempunyai vigor yang baik.
- bebas dari penyakit.

b. Pembuangan daun semu
Daun-daun semu yang tumbuh diantara ketiak daun sebaiknya dibuang. Selain daun
tersebut tidak bermanfaat, juga akan menyerap energi hasil asimilasi tanaman itu sendiri.
Di dalam pembuangan daun semu ini dapat dilakukan bersamaan dengan pewiwilan.
c. Pengikatan/pengajiran/pelilitan .

pada tanamanTanaman yang tumbuh semakin besar dan tinggi, diperlukan pegangan
untuk menopang tumbuhnya tanaman dengan benang/tali agar bisa berdiri tegak sesuai
dengan pengaturan jalur yang direncanakan. Pengikatan/pelilitan benang/tali pada
tanaman dilakukan bersamaan dengan pewiwilan
Diposting oleh mr_edsu di 08:18 0 komentar Link ke posting ini

Cara Tanam & Pemeliharaan




PENANAMAN

Pemindahan tanaman (transplant) dari nursery ke dalam greenhouse, dilakukan
apabila bibit sudah cukup umur untuk di tanam, juga bibit dalam keadaan sehat
dan bebas dari penyakit. Sebaiknya pemindahan tanaman dilaksanakan pada
pagi hari, karena pada pagi hari evaporasi pada tanaman belum tinggi sehingga
kondisi stres tanaman dapat ditekan. Sebab, bibit yang dipindahkan dari nursery
ke dalam greenhouse akan mengalami perbedaan kondisi, sehingga penanaman
di pagi hari dapat membantu tanaman untuk beradaptasi di dalam greenhouse.


Persiapan tanam
Sebelum tanaman dipindahkan kedalam greenhouse, segala sesuatu yang ada
didalam greenhouse harus sudah siap, baik bedengan, kawat penggantung
benang ajir, benang ajir, slab yang berisi media tanam maupun sistem irigasi
yang sudah siap pakai. Ada beberapa hal juga yang perlu dipersiapkan dan
dikerjakan, antara lain pembuatan nutrisi, pembuatan lubang tanam (apabila
menggunakan media tanam di slab) dan pengisian atau penyiraman larutan
nutrisi dengan EC 2.0 dan pH 5.5 kedalam media tanam sampai jenuh. Maksud
pengisian larutan nutrisi ke dalam media tanam slab/polybag agar tanaman yang
baru dipindah dapat langsung menyerap unsur hara yang terdapat di media
tanam. Sebab, apabila media tanam kering akan merusak sistem perakaran
tanaman yang relatif masih muda, sehingga dapat menyebabkan masuknya
panyakit ke tanaman dan terganggunya sistem pertumbuhan tanaman. Media
tanam yang kering juga dapat menyebabkan akar tanaman tidak dapat
menyerap unsur hara yang dibutuhkan, kondisi seperti ini dapat merugikan
pertumbuhan tanaman.

Transplant
Transplant adalah pemindahan bibit tanaman kedalam greenhouse untuk
diletakan diatas media slabs (media tanam yang terbungkus plastik) atau
diletakan diatas polybag dengan jarak tanam tertentu. Pemindahan bibit atau
penanaman dilakukan setelah bibit berumur 18-20 hari setelah di polybag atau
tanaman mempunyai 6-8 helai daun. Setelah bibit di tanam, apabila
menggunakan irigasi tetes, maka regulator stick harus ditancapkan pada media
di polybag/block kecil diatas polybag besar atau diatas media slabs. Apabila
penanaman selesai dapat dilakukan pembuatan lubang drainase di bawah slab
atau polybag besar.

Pembuatan larutan nutrisi
Pada budidaya hidroponik, pemberian nutrisi menjadi kunci penting dari
keberhasilan pengusaha/petani. Keterlambatan pemberian nutrisi atau
perbandingan unsur yang tidak tepat akan berakibat fatal terhadap pertumbuhan
dan perkembangan tanaman, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Sebaliknya, apabila pemberian nutrisi dilakukan dengan tepat dan baik, tanaman
akan tumbuh optimal dan dapat hidup lebih lama. Agar tanaman tumbuh secara
optimal, komposisi unsur hara harus sesuai yang dibutuhkan oleh tanaman,
karena masing-masing tanaman membutuhkan formulasi pupuk yang berbeda-
beda.

Misalkan pembuatan larutan nutrisi dengan pupuk Joro A&B Mix untuk 90 x 200
liter, artinya adalah pupuk A dilarutkan pada 90 liter air di tangki/bak A dan pupuk
B juga dilarutkan pada 90 liter air di tangki/bak B untuk 18.000 liter larutan.
Apabila akan melakukan penyiraman dengan laruran nutrisi maka pupuk dari
tangki/bak A dan B dilarutkan pada air dalam satu tanki/bak yang siap untuk
disiramkan. Volume pupuk dari A & B disesuaikan dengan kebutuhan EC
maupun volume penyiraman. Contoh, 1 liter dari pupuk A dan 1 liter dari pupuk B
untuk 200 liter air yang dilarutkan, sehingga terdapat 200 liter larutan nutrisi yang
siap untuk disiramkan. Tetapi itu tergantung dari kebutuhan EC, semakin tinggi
EC yang dibutuhkan untuk penyiraman semakin banyak juga pupuk yang
digunakan. Hal ini penting, karena kepekatan larutan nutrisi mempunyai
pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Penyiraman dan Pemupukan
Penyiraman dan pemupukan budidaya secara hidroponik pada umumnya
dilakukan secara bersamaan. Penyiraman dan pemupukan sangat menentukan
pertumbuhan, produktifitas dan kualitas tanaman, karena tanaman hanya
tergantung pada suplai hara yang diberikan, dan tidak ada penunjang dari media
yang digunakan.

Teknis penyiraman dan pemupukan dapat dilakukan dengan cara manual atau
menggunakan sistem irigasi tetes (drip irigation system).




Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyiraman, yaitu :



Larutan nutrisi yang akan digunakan untuk penyiraman tanaman harus
mempunyai
kepekatan (EC) dan nilai pH yang sesuai dengan jenis tanaman dan umur
tanaman,
yang dapat diukur dengan alat EC dan PH meter sebelum didistribusikan ke
tanaman.

Volume dan kepekatan larutan nutrisi diberikan sesuai dengan kebutuhan
tanaman, umurtanaman, virietas dan tipe iklim setempat.Frekuensi penyiraman
larutan nutrisi tergantung pada kondisi setempat, dan berbeda antara tanaman
yang masih kecil dengan tanaman yang sudah dewasa.



Apabila penyirman larutan nutrisi dengan cara manual (penyiraman dilakukan
oleh orang untuk setiap polybag) agar dihitung kebutuhan tenaga kerja tiap
satuan luas kebun, sehingga tidak mengalami kesulitan dalam waktu dan
frekuensi penyiraman.
Penyiraman larutan nutrisi dengan irigasi tetes perlu diperhatikan pemasangan
regulator stick dan pengukuran tekanan agar volume penyiraman dan waktu
yang diperlukan untuk menyiram dapat berjalan secara optimal.

Diposting oleh mr_edsu di 06:54 1 komentar Link ke posting ini

Semai & Pembibitan di Nursery




PERSEMAIAN

Sebelum melakuakan persemaian perlu terlebih dahulu dipersiapkan media
semai yang sudah ditempatkan di wadah semai (tray/penampan). Media semai
tersebut dalam keadaan basah dengan air yang bersih tanpa mengandung
nutrisi, tetapi tidak terlalu lembab, Ada beberapa cara untuk melakukan
persemaian, yaitu :

a. Meletakan benih di tray/penampan


Apabila benih sudah siap untuk di semai, dan media semai sudah dalam
keadaan basah, maka benih dapat dimasukan/diletakan di media dengan
menggunakan pinset. Apabila benih sudah selesai dimasukan di media, maka
setelah itu tray/penampan dapat ditutup dengan plastik mulsa hitam perak atau
dapat juga kertas tisu yang lembab, kemudian letakan persemaian di tempat
yang tidak terkena matahari secara langsung atau dapat juga diletakan pada
lemari semai.


b. Pengontrolan suhu dan kelembaban
Agar berkecambah dengan baik, setiap jenis tanaman memerlukan kondisi iklim
mikro yang berbeda-beda. Pada persemaian paprika memerlukan suhu 24-30ºC
dan kelembaban 70-85%. Tetapi suhu optimum untuk persemaian paprika 25°C.
Perlakuan untuk mengadaptasikan iklim mikro ini dapat mengguakan lampu
apabila suhu terlalu rendah, dan dapat menggunakan hand sprayer untuk
menyemprot apabila suhu terlalu tinggi.


c. Membuka penutup tray semai


Dalam membuka penutup semai, perlu diperhatikan seberapa banyak benih
sudah germinit/tumbuh, karena setiap jenis tanaman mempunyai masa germinit
yang berbeda-beda. Pentingnya membuka penutup tray ini adalah apabila
penutup terlambat dibuka, kecambah akan menjadi panjang. Pada persemaian
paprika penutup tray semai biasanya di buka sekitar 4-5 hari setelah semai


d. Pemindahan tray semai


Pemindahan tray semai ini biasanya dimaksudkan untuk mendapatkan sinar
matahari yang cukup, sampai bibit sudah siap untuk dipindah ke polybag/block.
Biasanya tray diletakan pada rak semai yang terdapat di nursery.


e. Pembumbunan (transblock)


Setelah bibit mempunyai dua buah daun atau berumur sekitar 7-10 hari setelah
semai, dapat dilakuakn pembumbunan atau dipindah ke polybag/block.
Pemindahan bibit kecil sebaiknya dengan menggunakan pinset agar mudah
dimasukan ke lubang media polybag/block. Sebelum pemindahan bibit
sebaiknya media polybg sudah dibuat lubang dengan ukuran yang sesuai,
kemudian media di polybag disiram dengan larutan nutrisi dengan EC dan pH
yang sesuai.


f. Penyiraman dengan larutan nutrisi


Tanaman yang sudah dipindahkan ke polybag/block, perlu dilakukan penyiraman
dengan fungisida agar luka pada akar tidak terinfeksi oleh penyakit, fungisida
disiramkan sehari setelah di polybag. Pada penyiraman di polybag dengan
larutan nutrisi disesuaikan dengan kondisi iklim setempat. Dalam penyiraman di
nursery, dapat juga dilakukan secara manual dengan menggunakan measuring
cup atau alat siram dengan ukuran tertentu. Biasanya penyiraman dengan
larutan nutrisi dengan kenaikan EC yang bertahap. Misalnya dari EC 2.0 –3.0
yang disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan tanaman. Agar bibit dapat
menyerap unsur-unsur hara secara optimal maka pH di dalam media harus
sesuai dengan kehendak dari jenis tanaman itu sendiri, untuk paprika biasannya
menggunakan pH 5.5 pada pembibitan di dalam nursery.

Penyiraman larutan nutrisi dapat dilakukan tergantung kebutuhan bibit tanaman
tersebut, biasanya tidak setiap hari dilakukan penyiraman, tetapi dapat juga
melihat kondisi media tanam. Apabila media tanam polybag/block masih lembab
atau masih penuh dengan larutan nutrisi maka biasanya penyiraman belum perlu
dilakukan, tetapi apabila media polybag sudah mulai kering atau ringan kalau
diangkat biasnya dapat dilakukan penyiraman. Kondisi seperti ini biasanya
sampai bibit berumur 10 hari setelah di polybag, dan setelah itu biasanya di
siram setiap hari satu kali penyiraman.

g. Perawatan tanaman di nursery


Perawatan tanaman di nursery harus benar-benar dilakukan secara sungguh-
sungguh dan hati-hati, perawatan ini meliputi pengelolaan hama dan penyakit,
kebersihan nursery dan pengaturan jarak antar polybag/block. Pengaturan jarak
antar polybag dapat dilakukan pada umur tanaman 10 hari setelah di polybag.
Apabila terlihat ada indikasi serangan hama dan penyakit dapat dilakukan
secepat mungkin pengendaliannya. Untuk mengetahui indikasi jenis hama
tertentu, misalnya thrips, aphids biasanya menggunakan yellow sticky trap dan
green sticky trap. Sedangakan pengendalian dengan pestisida tergantung dari
jenis hama dan penyakitnya, penyemprotan pestisida dapat dilakukan satu
minggu setelah
tanaman di polybag.
Diposting oleh mr_edsu di 06:45 0 komentar Link ke posting ini

PAPRIKA : Tanam dengan sistem hiroponik
PAPRIKA
Tanaman paprika mempunyai nama ilmiah Capsicum anum var, grossum, dan
dikenal dengan nama sweet pepper. Jenis cabai ini merupakan tanaman sayuran
yang masih relatif baru di kenal oleh masyarakat Indonesia, keistimewaan
paprika adalah rasanya yang tidak pedas tetapi cenderung manis, karena
paprika tidak mengandung zat capcaisin (C9H12O2) yang menyebabkan rasa
pedas.

Budidaya paprika secara hidroponik diperlukan perencanaan yang matang agar
diperoleh hasil yang maksimal, karena tujuan dari budidaya secara hidroponik
adalah untuk menghasilkan kualitas, produktifitas, dan kontinuitas yang baik.

Pada dasarnya paprika dapat tumbuh pada semua dataran di Indonesia, karena
pertumbuhan vegetatif paprika baik pada temperatur 25-30°C dan temperatur
optimum untuk perkembangan bunga dan buah adalah 22-25°C pada siang hari
dan 18-19°C pada malam hari. Temperatur seperti biasanya terdapat pada
dataran menengah dan dataran tinggi di Indonesia, yaitu dengan ketinggian
sekitar 700-1500 meter dari permukaan laut. Daerah-daerah yang sudah banyak
menanam paprika misalnya di Lembang, Pengalengan, Cipanas, Cianjur,
Sukabumi, Nongkojajar, Ijen, Brastagi, Lombok dan Malakaji.

Faktor iklim linnya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan paprika adalah
intensitas cahaya dan kelembaban. Intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah 5-
7 jam per hari, tetapi diusahakan intensitas cahaya matahari yang masuk ke
dalam greenhouse adalah 60-70 %. Kelembaban yang dikehendaki paprika
sekitar 60-80%, sebab pada kelembaban yang terlalu rendah dapat
menyebabkan aborsi pada bunga, dan pada kelembaban yang terlalu tinggi
dapat menyebabkan banyaknya serangan penyakit, misalnya Botrytis dan
Antracnosa.
Diposting oleh mr_edsu di 06:35 0 komentar Link ke posting ini

KOMODITI HIDROPONIK
BENIH

Pemilihan benih adalah sangat penting sekali sebagai tolak ukur produktifitas
budidaya hidroponik. Hal ini bisa dimengerti, karena produktifitas tanaman
tergantung pula terhadap keunggulan jenis benih/bibit yang kita tanam. Pada
sekala usaha yang besar, pemilihan atas komoditi atau jenis tanaman yang akan
di tanam harus dipikirkan terhadap pemasaran produk yang akan dihasilkan.
Dengan varietas yang unggul dan sesuai dengan permintaan pasar, di harapkan
pengusaha/petani dapat berproduksi dengan optimal tanpa kesulitan tarhadap
pemasarannya.

JENIS TANAMAN

Pemilihan jenis tanaman yang akan dibudidayakan untuk skala usaha komersial
harus diperhatikan. Sebagai contoh jenis tanaman yang mempunyai nilai jual
diatas rata-rata, yaitu:
a. Paprika
b. Tomat
c. Timun Jepang
d. Melon
e. Terong Jepang
f. Selada

Selain jenis tanaman di atas, banyak lagi yang dapat dibudidayakan dengan
teknik hidroponik apabila dilakukan hanya pada kegiatan hobby saja.
2008-05-04
TIPS MEMPENGARUHI ORANG LAIN UNTUK MEMBELI APA SAJA




Keinginan setiap manusia untuk memenuhi kebutuhannya merupakan tujuan hidup yang
nyata. Perubahan zaman yang serba instan mendorong manusia berlomba-lomba
memenuhi kebutuhannya,baik materil dan spiritual

Berbagai cara dilakukan setiap manusia agar dapat hidup sejatera. Kehidupan yang
mapan secara materil merupakan tolak ukur yang mana manusia dapat dikatakan berhasil.
Lazimnya kebutuhan manusia tersebut yaitu sandang, pangan,dan papan.

Manusia senantiasa berusaha untuk meningkatkan kepuasannya. Hal ini terbukti dari
permintaan terhadap barang dan jasa yang meningkat setiap tahunnya. Semakin tingginya
permintaan barang terhadap pasar sangat mempengaruhi harga barang dan daya beli
terhadap masyarakat. Banyak orang berpikir sekarang ini duit adalah segala-segalanya.
Dengan duit apapun bisa dimiliki dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hal
seperti ini sangat menguntungkan bagi pelaku-pelaku pasar untuk memasarkan
produknya.

Tetapi tidak mudah sebagian dari para pelaku pasar memperkenalkan dan menjualkan
barang/produk tersebut. Disinilah peran seorang tenaga marketing menjadi sangat
penting. Marketing berasal dari kata market yang berarti pasar,dan marketing berarti
pemasaran.

Namun menjadi seorang marketer juga tidaklah mudah. Menurut hemat saya ada
beberapa karakter yang harus dimiliki seorang marketer untuk sukses dalam
penjualan,yaitu : 1). Mengenal dan memahami produk, seorang marketing mengerti
kelebihan dan kekurangan produk tersebut 2) Disiplin dan tanggung jawab : memiliki
rasa peduli terhadap pekerjaan (loyalitas yang tinggi)3)Berpenampilan baik dan menarik :
mempunyai kepribadian yang baik dalam arti sopan dan santun pada tutur bahasa dengan
senyuman 4)Aktif dan kreatif : kepedulian terhadap pelanggan atau barang dan keadaan
sekitarnya 5)Kerja keras dan kejujuran : semangat yang kuat,pantang menyerah dan rasa
yang memiliki 6) Kesabaran dan doa : menjadikan pekerjaan adalah ibadah..
Hal diatas berperan penting untuk mendukung seorang marketer menjalankan profesinya.
Disamping itu ada juga beberapa poin penting yang harus diketahui oleh marketer untuk
mendorong terciptanya kepuasan konsumen/pelanggan, yaitu : 1) Siapakah
konsumen/pelanggan 2) Apa yang membuat kita berbeda dan istimewa 3) Bagaimana
pelayanan yang memuaskan konsumen 4) Nilai apa yang kita berikan kepada konsumen...

Dengan kata lain seorang marketing harus mampu memiliki berbagai keistimewaan di
mata konsumen/pelanggan.

Kepuasan konsumen merupakan tujuan yang penting dalam meningkatkan daya jual.
Persaingan pasar yang tinggi membuat para pelaku pasar memberikan pelayanan yang
lebih dengan cara apapun untuk menarik perhatian konsumen. Berdasarkan pengalaman
saya ini ada beberapa kiat penting untuk dapat mempengaruhi konsumen membeli apa
yang kita tawarkan. Pertama Mari memanjakan konsumen, hal ini diwujudkan dengan
memahami kemauan konsumen serta memberikan pelayanan yang memuaskan demi
meningkatkan gairah untuk membeli. Atrategi kedua tawarkan produk-produk yang
menggoda dengan karakteristik, harga relatif murah namun kualitas bersaing. Intinya
harga barang yang ditawarkan tengkau oleh konsumen namun kualitasnya sangat
memuaskan. Strategi Ketiga Berikan konsumen insentif tambahan ketika ia mau
membeli. Nilai ini akan memberikan daya tarik dan sebagai keistimewaan tersendiri buat
konsumen. Strategi terakhir adalah resposif terhadap keluhan konsumen. Hal ini
dimungkinkan jika terbina komunikasi yang baik dengan pelanggan dan siap menerima
saran dan kritik.

Tips diatas sudah terbukti berhasil saya terapkan dalam memasarkan berbagai jenis
produk dan mendapatkan prestasi penjualan yang luar biasa. Namun tentunya
keberhasilan penjualan akan semakin bebas peluangya jika perusahaan pemilik produk
juga aktif mempromosikan produk dan mampu memberikan kenyamanan ketika
konsumen datang berkunjung ke counter secara langsung. Oleh sebab itu usaha
pemasaran oleh marketer perlu didukung oleh pengelola usaha dengan melakukan 1)
pemasangan iklan : memperkenalkan tema dan konsep barang dagangan kepada
pelanggan melalui media cetak dan media elektronik 2) pengaturan pajangan 3)
penentuan letak toko yang strategisyang memudahkan pelanggan mengakses 4)
pembuatan kemasan barang yang memberikan kesan pertama penuh daya tarik bagi
pelanggan.

Tulisan ini dibuat oleh David Tambunan yang memiliki pengalaman di dunia marketing
selama 5 tahun dan meraih prestasi luar biasa di berbagai perusahaan swasta ternama
seperti Telkomsel, Honda, Yamaha. Dan penulis membuka diri untuk membantu divisi
field marketing pada perusahaan yang membutuhkan revolusi sistem pemasaran. (David
Tambunan, Depok-Jakarta, 081381716841)

(Bagi rekan-rekan yang ingin menampilkan karya atau mempromosikan diri Anda pada
blog saya silahkan mengirimkan tulisan dan data-data pribadi ke email
hendra_has@deptan.go.id dan CC ke moan_bb@yahoo.com)

								
To top