contoh hasil ptk by HC121002212521

VIEWS: 150 PAGES: 26

									 UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH HAM
       MELALUI PEMBELAJARAN PROBLEM BASE LEARNING

                                     BAB I

                               PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

        Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik
menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk
mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
        Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat
kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, perlu ditingkatkan terus menerus untuk
memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Konstitusi Negara Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh
komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus.
        Indonesia harus menghindari sistem pemerintahan yang memasung hak-hak
asasi manusia, hak-hak warganegara untuk dapat menjalankan prinsip-prinsip
demokrasi. Kehidupan yang demokratis didalam kehidupan sehari-hari di lingkungan
keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintahan, dan organisasi-organisasi non
pemeritahan perlu dikenal, dipahami, diinternalisasi, dan diterapkan demi
terwujudnya pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi serta demi peningkatan martabat
kemanusian, kesejahteraan, kebahagiaan, kecerdasan dan keadilan.
        Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik,
yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD
1945.
        Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship Education) merupakan mata
pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama,
sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa.
        Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan
(KBK 2004 dan Standar Isi 2006) ditegaskan bahwa :

B. Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan :

        Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan,
  pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri
  dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

  1. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan
      Standar isi Pendidikan Kewarganegaraan SMA/SMK/MA :
     a. Memahami hakekat Bangsa dan Negara kesatuan Republik Indonesia
     b. Menganalisis sikap positif terhadap penegakan hokum, peradilan nasional,
         dan tindakan anti korupsi
     c. Meganalisis pola-pola dan partisipasi aktif dalam pemajuan, penghormatan
         serta penegakan HAM baik di Indonesia maupun luar negeri
     d. Menganalisis peran dan hak warganegara dan system pemerintahan Negara
         Kesatuan Repbulik Indonesia

                                       1
   e. Menganalisis budaya politik demokrasi, konstitusi, kedaulatan Negara,
      keterbukaan dan keadilan di Indonesia
   f. Mengevaluasi hubungan Internasional dan sistem hokum internacional
   g. Mengevaluasi sikap berpolitik dan bermasyarakat madani sesuai dengan
      pancasila dan UUD 1945
   h. Mengaalisis peran Indonesia dalam politik dan hubungan Internasional,
      regional dan kerjasama Global lainnya
   i. Menganalisis sistem hokum internasional, timbulnya konflik internasional,
      dan mahkamah internasional.

        Dari Standar Isi dan Standar Kompetensi tersebut diatas, penulis memilih
butir ketiga yaitu meganalisis pola-pola dan partisipasi aktif dalam pemajuan,
penghormatan serta penegakan HAM baik di Indonesia maupun di luar negeri,
sebagai landasan judul penelitian tindakan kelas ini.
        Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, siswa kurang
aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Anak cenderug tidak begitu tertarik dengan
pelajaran PKn karena selama ini pelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran yang
hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran
sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PKn siswa di sekolah.
        Banyak faktor yang menyebabkan hasil belajar PKn siswa rendah yaitu
faktor internal dan eksternal dari siswa. Faktor internal antara lain: motivasi
belajar, intelegensi, kebiasan dan rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternal
adalah faktor yang terdapat di luar siswa, seperti; guru sebagai Pembina kegiatan
belajar, startegi pembelajaran, sarana dan prasarana, kurikulum dan lingkungan.
        Dari masalah-masalah yang dikemukakan diatas, perlu dicari strategi baru
dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Pembelajaran yang
mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa (Focus on
Learners), memberika pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan
kontekstual dalam kehidupan nyata (provide relevant and contextualized subject
matter) dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa.
        Disinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang
mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, ranah afektif
maupun psikomotorik siswa. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan
peciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan
hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn. Dalam hal ini penulis memilih
model “pembelajaran berbasis masalah (PROBLEM BASED LEARNING) dalam
meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam mata pelajaran
PKn.
        Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu proses belajar mengajar
didalam kelas dimana siswa terlebih dahulu diminta mengobservasi suatu
fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan
yang muncul, setelah itu tugas guru adalah merangsang untuk berfikir kritis dalam
memecahkan masalah yang ada. Tugas guru mengarahkan siswa untuk bertanya,
membuktikan asumsi, dan mendengarkan persfektif yang berbeda diantara mereka.
        Menurut E. Mulyana Pembelajaran aktif dengan menciptakan suatu kondisi
dimana siswa dapat berperan aktif, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator.
[1] Pembelajaran harus dibuat dalam suatu kondisi yang menyenangkan sehingga
siswa akan terus termotivasi dari awal sampai akhir kegiatan belajar mengajar
(KBM). Dalam hal ini pembelajaran dengan Problem Based Learning sebagai salah
satu bagian dari pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning)
merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan guru disekolah untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran PKn.

                                      2
        Berdasarkan uraian diatas maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini,
 dirancang untuk mengkaji penerapan pembelajaran model “Problem Based
 Learning” dalam meningkatkan kemampuan memecahkan masalah HAM dalam
 mata pelajaran PKn



B. PERUMUSAN MASALAH

     Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat
     dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

     1. Apakah pembelajaran model Problen Based Learning dapat meningkatkan
        kemampuan memecahkan masalah HAM dalam masalah PKn?
     2. Bagaimana penerapan pembelaran model Problem Based Learning di kelas
        dalam mata pelajaran PKn?
     3. Sejauh manakah pendekatan model Problem Based Learning dapat
        meningkatkan hasil belajar siswa?

C. PEMECAHAN MASALAH

          PKn sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan “How to Develop
     Better Civics Behaviours” membekali siswa untuk mengembangkan
     penalarannya disamping aspek nilai dan moral, banyak memuat materi sosial.
     PKn merupakan salah satu dari lima tradisi pendidikan IPS yakni citizenship
     transmission, saat ini sudah berkembang menjadi tiga aspek PKn (Citizenship
     Education), yakni aspek akademis, aspek kurikuler dan aspek sosial budaya.
           Secara akademis PKn dapat didefinisikan sebagai suatu bidang kajian
     yang memusatkan telaahannya pada seluruh dimensi psikologi dan sosial budaya
     kewarganegaraan individu dengan menggunakan ilmu politik dan pendidikan
     sebagai landasan kajiannya [2].

Implementasiya sangat dibutuhkan guru yang profesional, guru yang profesional
dituntut menguasai sejumlah kemampuan dan keterampilan, antara lain :

1.   Kemampuan menguasai bahan ajar
2.   Kemampuan dalam mengelola kelas
3.   Kemampuan dalam menggunakan metode, media dan sumber belajar
4.   Kemampuan untuk melakukan penilaian baik proses maupun hasil

Selanjutnya UNESCO dalam Soedijarto (2004 : 10-18) mencanangkan empat pilar
belajar dalam pembelajaran (termasuk model Problem Based Learning) :

1.   Learning to Know ( penguasaan ways of knowing or mode of inquire)
2.   Learning to do ( controlling, monitoring, maintening, designing, organizing)
3.   Learning to live together
4.   Learning to be [3]

Berdasarkan uraian analisis permasalahan diatas, pendekatan model Problem Based
Learning apabila diterapkan di kelas akan dapat meningkatkan kemampuan
memecahkan masalah HAM dalam mata pelajaran PKn.


                                           3
D. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan Penelititan Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan kemampuan
memecahkan masalah HAM dalam mata pelajaran PKn khususnya kelas X Ak pada
SMKN 3 Jakarta, sehingga pembelajaran PKn menjadi lebih menyenangkan dan
menimbulkan kreatifitas.

E. MANFAAT HASIL PENELITIAN

Secara teoritis dan praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :

1. Memperbaiki proses belajar mengajar dalam pelajaran PKn di Sekolah Menengah
   Kejuruan.
2. Mengembangkan kualitas guru dalam mengajarkan pedidikan kewarganegaraan di
   Sekolah Menengah Kejuruan.
3. Memberikan alterntif kegiatan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan
4. Menciptakan rasa senang belajar Pendidikan Kewarganegaraan selama pelajaran
   berlangsung dengan adanya “The Involvement of Participaton melalui Problem
   Based Learning.”

                                       BAB II

                  KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

A. KAJIAN TEORI

1. Hakekat Pembelajaran PKn

a. Pengertian belajar

Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui
penguatan ( reinforcement), sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan
persisten pada dirinya sebagai hasil pengalaman (Learning is a change of behaviour
as a result of experience), demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli
pendidikan Amerika Serikat dari aliran Behavioural Approach.

Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif,
megarah kepada kesmpurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari
tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive
domain), aspek afektif (afektive domain) maupun aspek psikomotorik
(psychomotoric domain). Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan
oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungan[4]

Ada empat pilar belajar yang dikemukakan oleh UNESCO, yaitu :

1) Learning to Know, yaitu suatu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa
   menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya
   memperoleh pengetahuan.
2) Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk
   melaksanakan Controlling, Monitoring, Maintening, Designing, Organizing.

                                          4
   Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret tidak hanya
   terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan
   berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi
   koflik
3) Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk hidup bersama
   dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertia dan
   tanpa prasangka.
4) Learning to be adalah keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan
   ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga
   pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan
   menemukan ilmu pengetahua yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama,
   bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya behasil
   dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga
   menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian mantap dan
   mandiri, memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat
   mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut emotional intelegence
   (kecerdasan emosi).

b. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan
kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung
jawab.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka “nation
and character building” :

Pertama : PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai
disiplin ilmu yang releven, yaitu: ilmu politik, hukum, sosiologi, antropologi,
psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk
melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai dan perilaku
demokrasi warganegara.

Kedua : PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik.
Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang
cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan
kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai
dan perilaku demokrasi.

Ketiga : PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang
digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan
penggunaan logika dan pealaran. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif
dikembangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai
paket seperti bahan belajar tercetak, terekam, tersiar, elektronik, dan bahan belajar
yang digali dari ligkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung (hand of
experience).

Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui PKn, pemahaman
sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar
demokrasi” (teaching democracy), tetapi melalui model pembelajaran yang secara
langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). Penilaian
bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat

                                         5
untuk memberikan bantuan belajar bagi siswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa
depan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh termasuk portofolio siswa dan evaluasi
diri yang lebih berbasis kelas.

B. KERANGKA BERPIKIR

1. Meningkatkan hasil belajar PKn melalui model Problem Based Learning

Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dapat dicapai siswa melalui proses
belajar yang berupa pemahaman dan penerapan pengetahuan dan keterampilan yang
berguna bagi siswa dalam kehidupannya sehari-hari serta sikap dan cara berpikir
kritis dan kreatif dalam rangka mewujudkan manusia yang berkualitas, bertanggung
jawab bagi diri sendir, masyarakat, bangsa dan negara serta bertanggung jawab
kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hasil belajar PKn adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses
pembelajara PKn berupa seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar
yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun
masa yang akan datang yang meliputi: keragaman suku bangsa dan budaya
Indonesia, keragaman keyakinan (agama dan golongan) serta keragaman tingkat
kemampuan intelektual dan emosional. Hasil belajar didapat baik dari hasil tes
(formatif, subsumatif dan sumatif), unjuk kerja (performance), penugasan (Proyek),
hasil kerja (produk), portofolio, sikap serta penilaian diri.

Untuk meningkatkan hasil belajar PKn, dalam pembelajarannya harus menarik
sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Diperlukan model pembelajara interaktif
dimana guru lebih banyak memberikan peran kepada siswa sebagai subjek belajar,
guru mengutamakan proses daripada hasil. Guru merancang proses belajar mengajar
yang melibatkan siswa secara integratif dan komprehensif pada aspek kognitif,
afektif dan psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar. Agar hasil belajar PKn
meningkat diperlukan situasi, cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk
melibatkan siswa secara aktif baik pikiran, pendengaran, penglihatan, dan
psikomotor dalam proses belajar mengajar. Adapun pembelajaran yang tepat untuk
melibatkan siswa secara totalitas adalah pembelajaran dengan Problem Based
Learning. Pembelajaran dengan model Problem Based Learning adalah suatu model
pembelajaran dimana sebelum proses belajar mengajar didalam kelas dimulai, siswa
terlebih dahulu diminta mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta
untuk mencatat permasalahan yang muncul, serta mendiskusikan permasalahan dan
mencari pemecahan masalah dari permasalahan tersebut. Setelah itu, tugas guru
adalah merangsang untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah
yang ada serta mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan
mendengarkan perspektif yang berbeda diantara mereka.

Dari uraian diatas dapat diduga bahwa pembelajaran dengan model Problem Based
Learning dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa dibandingkan dengan
pendekatan tradisional (metode ceramah).

2. Pendekatan dan penerapan model Problem Based Learning dalam mata pelajaran
PKn

Pembelajaran model Problem Based Learning berlangung secara alamiah dalam
bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, menemukan dan mendiskusikan

                                        6
masalah serta mencari pemecahan masalah, bukan transfer pengetahuan dari guru ke
siswa. Siswa megerti apa makna belajar, apa manfaatya, dalam status apa mereka,
dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna
bagi hidupnya nanti. Siswa terbiasa memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang
bergua bagi dirinya dan bergumul dengan ide-ide.

Dalam pembelajaran model Problem Based Learning tugas guru mengatur strategi
belajar, membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pngetahuan baru, dan
memfasilitasi belajar. Anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan
dan keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam
kehidupannya.

Dari pembahasan diatas dapat diduga bahwa pembelajaran dengan model Problem
Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar efektif dan
kreatif, diaman siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya, menemukan
pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui proses bertanya, kerja kelompok,
belajar dari model yang sebenarnya, bisa merefleksikan apa yang diperolehnya antara
harapan dengan kenyataan sehingga peningkatan hasil belajar yang didapat bkan
hanya sekedar hasil menghapal materi belaka, tetapi lebih pada kegiatan nyata
(pemecahan kasus-kasus) yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses
pembelajaran (diskusi kelompok dan diskusi kelas)

C. HIPOTESIS TINDAKAN

Dengan demikian dapat diduga bahwa:

1. Pembelajaran dengan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil
   belajar mata pelajaran PKn siswa kelas X Ak SMKN 3 Jakarta
2. Pedekatan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan
   siswa dalam pembelajaran efektif, aktif dan kreatif.

                                     BAB III

                           PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Perencanan Penelitian

1. Desain penelitian

Penelitian ini merupakan pengembangan metode dan strategi pembelajaran. Metode
dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (Class Action Research)
yaitu suatu penelitian yang dikembangkan bersama sama untuk peneliti dan decision
maker tentang variable yang dimanipulasikan dan dapat digunakan untuk melakukan
perbaikan.

Alat pengumpul data yang dipakai dalam penelitian ini antara lain : catatan guru,
catatan siswa, rekaman tape recorder, wawancara, angket dan berbagai dokumen
yang terkait dengan siswa.

Prosedur penelitian terdiri dari 4 tahap, yakni perencanaan, melakukan tindakan,
observasi,dan evaluasi. Refleksi dalam tahap siklus dan akan berulang kembali pada
siklus-siklus berikutnya.

                                         7
Aspek yang diamati dalam setiap siklusnya adalah kegiatan atau aktifitas siswa saat
mata pelajaran PKn dengan pendekatan Problem Based Learning (pembelajaran
berbasis masalah) untuk melihat perubahan tingkah laku siswa, untuk mengetahui
tingkat kemajuan belajarnya yang akan berpengaruh terhadap hasil belajar dengan
alat pengumpul data yang sudah disebutkan diatas.

Data yang diambil adalah data kuantitatif dari hasil tes, presensi, nilai tugas seta data
kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa, partisipasi dan
kerjasama dalam diskusi, kemampuan atau keberanian siswa dalam melaporkan
hasil.

Instrument yang dipakai berbentuk : soal tes, observasi, catatan lapangan. Data yang
terkumpul dianalisis untuk mengukur indikator keberhasilan yang sudah dirumuskan.

2. Tempat

       Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 3 Jakarta pada siswa kelas I AK,
dengan jumlah siswa 37 orang, yang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 34 orang
perempuan. Penelitian dilaksanakan pada saat mata pelajaran pendidikan
kewarganegaraan berlangsung dengan pokok bahasan “Peran Serta dalam
Penghormatan dan Penegakan HAM”.

3. Waktu Penelitian

Penelitian direncanakan selama 4 (empat) bulan dimulai pada pertengahan bulan
Agustus sampai dengan pertengahan bulan Desember 2007.

4. Prosedur Penelitian

Siklus I

A. Perencanaan

   1.   Identifikasi masalah dan penetapan alternative pemecahan masalah.
   2.   Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar
        mengajar.
   3.   Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
   4.   Memilih bahan pelajaran yang sesuai
   5.   Menentukan scenario pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dan
        pembelajaran berbasis masalah. (PBL).
   6.   Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat Bantu yang dibutuhkan.
   7.   Menyusun lembar kerja siswa
   8.   Mengembangkan format evaluasi
   9.   Mengembangkan format observasi pembelajaran.



B. Tindakan

   1.   Menerapkan tindakan yang mengacu pada skenario pembelajaran.
   2.   Siswa membaca materi yang terdapat pada buku sumber.


                                           8
   3.   Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang terdapat pada buku
        sumber.
   4.   Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang dipelajari.
   5.   Siswa berdiskusi membahas masalah (kasus) yang sudah dipersiapkan oleh
        guru.
   6.   Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi.
   7.   Siswa mengerjakan lembar kerja siswa (LKS).

C. Pengamatan

   1. Melakukan observasi dengan memakai format observasi yang sudah
      disiapkan yaitu dengan alat perekam, catatan anekdot untuk mengumpulkan
      data.
   2. Menlai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja siswa
      (LKS).

D. Refleksi

   1. Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasai mutu,
      jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
   2. Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evalusi tentang scenario
      pembelajaran dan lembar kerja siswa.
   3. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan
      pada siklus berikutnya.

Siklus II

A. Perencanaan

   1. Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi dan
      penetapan alternative pemecahan masalah.
   2. Menentukan indikator pencapaian hasil belajar.
   3. Pengembangan program tindakan II.

B. Tindakan

Pelaksanaan program tindakan II yang mengacu pada identifikasi masalah yang
muncul pada siklus I, sesuai dengan alternative pemecahan maslah yang sudah
ditentukan, antara lain melalui:

   1. Guru melakukan appersepsi
   2. Siswa yang diperkenalkan dengan materi yang akan dibahas dan tujuan yang
      ingin dicapai dalam pembelajaran.
   3. Siswa mengamati gambar-gambar / foto-foto yang sesuai dengan materi.
   4. Siswa bertanya jawab tentang gambar / foto.
   5. Siswa menceritakan unsure-usur Hak Asasi Manusia yang ada pada gambar.
   6. Siswa mengumpulkan bacaaan dari berbagai sumber, melakukan diskusi
      kelompok belajar, memahami materi dan menulis hasil diskusi untuk
      dilaporkan.
   7. Presentasi hasil diskusi.
   8. Siswa menyelesaikan tugas pada lembar kerja siswa.


                                        9
C. Pengamatan (Observasi)

   1. Melakukan observasi sesuai dengan format yang sudah disiapkan dan
      mencatat semua hal-hal yang diperlukan yang terjadi selama pelaksanaan
      tindakan berlangsung.
   2. Menilai hasil tindakan sesuai dengan format yang sudah dikembangkan.

D. Refleksi

   1. Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus II berdasarkan data yang
      terkumpul.
   2. Membahas hasil evaluasi tentang scenario pembelajaran pada siklus II.
   3. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai dengan hasil evaluasi untuk
      digunakan pada siklus III
   4. Evaluasi tindakan II

Indikator keberhasilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan mengalami kemajuan
minimal 10% dari siklus I.

Siklus III (bila diperlukan).

Kriteria keberhasilan penelitian ini dari sisi proses dan hasil. Sisi proses yaitu dengan
berhasilnya siswa memecahkan masalah melalui ” Pembelajaran berbasis masalah ”
dengan mengadakan diskusi kelompok belajar, dimana para siswa dilatih untuk
berani mengeluarkan pendapat dan / atau berbeda pendapat tentang masalah Hak
Asasi Manusia, khususnya :
1. Hak Hidup (pasal 9 UU no 39/1999)
2. Hak Wanita (pasal 45 – 51 UU no 39/1999 )
3. Hak Anak (pasal 52 – 66 UU no 39/1999)
4. HAka Berkeluarga dan Melanjutkan Ketuunan ( pasal 10 UU no. 39/1999)
5. Hak Mengembangkan Diri (pasal 11 – 16 UU no 39/1999)
6. Hak Memperoleh Keadilam (pasal 17 – 19 UU no 39/1999)
7. Hak Atas Kebebasan Pribadi (pasal 20 – 27 UU no 39/1999)
8. Hak Atas Rasa Aman ( pasal 28 – 35 UU no 39/1999)
9. Hak Atas Kesejahteraan (pasal 36 – 42 UU no 39/1999)
10. Hak Turut Serta dalam Pemerintah (pasal 43 – 44 UU no 39/1999)

Belajar PKn serasa lebih menyenagkan, meningkatkan motivasi / minat siswa,
kerjasama dan partisipasi siswa semakin meningkat.

Hal ini dapat diketahui melalui hasil pengamatan yang terekam dalam catatan
anekdot dan jurnal harian, serta melalui wawancara tentang sikap siswa terhadap
PKn. Bila 70% siswa telah berhasil , permasalahan kasus-kasus bentuk-bentuk HAM
dari pasal 9 uu no 39 tahun 1999 s/d pasal 66 uu no 39 tahun 1999 melalui metode
Problem Based Learning, maka tindakan tersebut diasumsikan sudah berhasil.

Kriteria hasil penelitian tentang penguasaan materi ” Masalah HAM ” dan aktivitas
siswa ditetapkan sebagai berikut :




                                           10
Table 1. Kriteria nilai penguasaan materi / kasus HAM (Hak Hidup, Hak Wanita,
Hak Anak)

 No                      NIlai                              Kriteria
  1                      < 5,9                              Kurang
  2                    6,0 – 7,50                           Sedang
  3                   7,51 – 8,99                             Baik
  4                    9,00 – 10                           Baik Sekali

Table 2. Kriteria aktivitas siswa yang relevan

 No                      NIlai                              Kriteria
  1                      < 50                               Kurang
  2                     60 – 69                             Sedang
  3                     70 – 89                               Baik
  4                    90 – 100                            Baik Sekali



                                       BAB IV

                      HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pembelajaran PKn dikelas I SMK Negeri 3 Jakarta ini dilakukan dalam dua siklus.
Pada setiap siklus, data yang diambil adalah aktivitas dan nilai evalusi pada akhir
siklus. Hasil Observasi aktivitas siswa dari siklus ke siklus dapat dilihat pada table-
tabel berikut ini :

Table 3. Data aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran.
 No                        Indikator                          Ketercapaian
                                                         Siklus I      Siklus II
1    Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemu-        52,75%         69,44%
     kakan pendapat
2    Motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pem-        63,82%         83,35%
     belajaran ( meyelesaikan tugas mandiri atau
     tugas kelompok )
3    Interaksi siswa dalam mengikuti diskusi             72,25%         88,32%
     kelompok
4    Hubungan siswa dengan guru selama kegiatan          75,00%         91,66%
     pembelajaran
5    Hubungan siswa dengan siswa lain selama             77,65%         86,11%
     pembelajaran ( Dalam kerja kelompok)
6    Partisipasi     siswa      dalam    pembelajaran    80,55%         94,45%
     (memperhatikan), ikut melakukan kegiatan
     kelompok, selalu mengikuti petunjuk guru).
     Rata -Rata                                          70,33%         85,55%



                                          11
Berdasarkan tabel 3 diatas, terlihat bahwa aktivitas siswa yang relevan dengan
kegiatan pembelajaran pada siklus 2 mengalami peningkatan dibandingkan dengan
siklus1 yaitu sebesar 12,42%.

Selanjutnya data aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran terlihat
pada table 4.

Table 4. Data Aktivitas Siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran.

 No                      Indikator                             Ketercapaian
                                                          Siklus I      Siklus II
1     Tidak memperhatikan penjelasan guru                 27,75%         13,88%
2     Mengobrol dengan teman                              19,44%          8,33%
3     Mengerjakan tugas lain                              16,60%          5,50%
      Rata – rata                                         21,26%          9,25%

Berdasarkan tabel 4 diatas terlihat bahwa aktivitas siswa yang kurang relevan dengan
kegiatan pembelajaran pada siklus 2 mengalami penurunan dibandingkan dengan
siklus 1 yaitu sebesar 12,01%.

Data pemahaman Siswa tentang masalah HAM dan ketuntasan belajar dari siklus ke
siklus dapat dilihat pada tabel 5 sebagai berikut.

Tabel 5. Data Pemahaman Siswa tentang masalah HAM dan ketuntasan belajar siswa
.

 No                 Aspek yang diamati                         Ketercapaian
                                                          Siklus I      Siklus II
1     Nilai Rata-rata pemahaman HAM                        7,01%          7,80%
2     Siswa yang telah tuntas                             74,82%         89,96%
3     Siswa yang belum tuntas                             16,52%          7,88%

Berdasarkan tabel 5 diatas, nilai rata-rata pemahaman siswa tentang masalah HAM
mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, begitu juga prosentase siswa yang
mencapai ketuntasan belajar meningkat dari siklus 1 ke siklus2 sebesar 15,14%.

B. Pembahasan

       Siklus pertama dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Siswa dibagi menjadi
delapan kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4 – 5 orang.
Setiap anggota kelompok diberi lembaran kasus yang telah disediakan oleh guru.
Tiap-tiap kelompok melakukan pembahasan dengan mengacu kepada buku
pegangan dan Undang-Undang no. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia serta
Undang Undang Dasar 1945 (yang telah diamandemen).
        Hasil pengamatan guru menunjukan pada pembahasan siklus pertama dengan
judul hak hidup (pro dan kontra masalah pengguguran kandungan/aborsi), terlihat
para siswa sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan dan memberikan
argumentasi.
        Berdasarkan tabel 3 diatas terlihat keberanian siswa bertanya dan
mengemukakan pendapat, rerata perolehan skor pada siklus pertama 52,75 %
menjadi 69,44 %, mengalami kenaikan 16,69 %. Begitupun dalam indikator motivasi

                                         12
dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran pada siklus pertama rata-rata 63,82 %
dan pada siklus kedus 83,35 % mengalami kenaikan 19,53 %. Dalam indikator
interaksi siswa selama mengikuti diskusi kelompok pada siklus pertama 72,25 % dan
pada siklus kedua 88,32 % mengalami kenaikan sebesar 16,07 %. Dalam indikator
hubungan siswa dengan guru selama kegiatan pembelajaran, pada siklus pertama 75
% dan pada siklus kedua 91,66 % mengalami kenaikan sebesar 16,66 %. Dalam
indikator hubungan siswa dengan siswa, pada siklus pertama 77,65 % sedangkan
pada siklus kedua 86,11 % mengalami kenaikan sebesar 8,46 %. Dalam indikator
partisipasi siswa dalam pembelajaraan terlihata pada siklkus pertama 80,55 %,
sedangkan pada silklus kedua 94,45 % mengalam kenaikan sebesar 13,9 %.
        Melalui model Problem Based Learning ini terlihat hubungan siswa dengan
guru sangat signifikan karena guru tidak dianggap sosok yang menakutkan tetapi
sebagai fasilitator dan mitra untuk berbagi pengalaman sesuai dengan konsep creatif
learning yaitu melalui discovery dan invention serta creativity and diversity sangat
menunjol dalam model pembelajaran ini. Dengan model problem based learning guru
hanya mengarahkan strategi yang efektif dan efisien yaitu belajar bagaimana cara
belajar ( learning how to learn). Dalam metode learning how to learn guru hanya
sebagai guide (pemberi arah/petunjuk) untuk membantu siswa jika menemukan
kesulitan dalam mempelajari dan menyelesaikan masalah. Melalui metode learning
how to learn siswa dapat mengeksplorasi dan mengkaji setiap persoalan, setiap kasus
Hak Asasi Manusia yang meliputi:

1. Hak untuk hidup (membahas tentang pro dan kontra pengguguran
    kandungan/aborsi)
2. Hak wanita (Hak perempuan) membahas tentang pro dan kontra perkawinan
    dibawah tangan ( nikah syiri)
3. Hak anak (membahas tentang peluang anak yang cacat untuk memperoleh
    pendidikan serta untuk memperoleh perlakuan bahwa setiap orang baik yang
    normal maupun yang cacat dilindungi oleh hukum
Dalam model Problem Based Learning melalui diskusi kelompok guru dapat
mengamati karakteristik atau gaya belajar masing-masing siswa. Ada kelompok
siswa yang lebih suka membaca daripada dibacakan kasusnya oleh orang lain. Siswa
yang lebih suka membacakan kasus dalam hal ini tergolong kepada siswa yang
memiliki potensi atau modalitas visual (gaya belajar visual). Sedangkan siswa yang
lebih suka berdialog, saling mngajukan argumentasi dengan cara mendengarkan
siswa yang lain sewaktu menyampaikan pendapatnya baru kemudian menyampaikan
pendapatnya tergolong kepada siswa yang memiliki potensi atau modalitas
Auditorial (gaya belajar Auditorial). Dan siswa yang dengan lugas, lincah dan
fleksibel, selain melihat, mendengar uraian dari siswa yang lain, dia juga
mengakomodir semua permasalahan, mampu membuktikan teori kedalam praktek,
mampu memecahkan masalah secara rasional, tergolong kepada kelompok belajar
yang memiliki potensi atau modalitas Kinestetik (gaya belajar Kinestetik). Kelompok
kinestetik ini tergolong kepada tipe belajar konvergen dimana siswa memiliki
kekuartan otak kiri lebih dominan dan cenderung bertanya dengan menggunakan
kata tanya “How” (bagaimana).
        Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas diatas prosentasi ketercapaian
pada siklus npertama mengalami peningkatan yang signifikan pada siklus kedua,
maka dapat disimpulkan bahwa temuan pada penelitian menjawab hipotesis yang
dirumuskan pada bab II bahwa melalui model Problem Based Learning dapat
meningkatkan kemampuan memecahkan masalah Hak Asasi Manusia dalam mata
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa SMK Negeri 3 Jakarta.


                                        13
                                      BAB V

                            SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian pada bab IV diatas, ada beberapa temuan dalam
penelitian tindakan kelas ini yaitu:

1. Skor rerata aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran mengalami
   peningkatan dari siklus pertama sampai siklus kedua. Pada siklus pertama
   keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat meningkat dari
   70.33 % menjadi 85,55 % mengalami kenaikan sebesar 15,22 %
2. 2. Skor rerata aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran
   mengalami penurunan dari siklus pertama sampai siklus kedua. Pada siklus
   pertama rerata skor aktivitas siswa yang tidak relevan sebesar 21,26 %,
   sedangkan pada siklus kedua sebesar 9,25 % mengalami penurunan sebesar 12,01
   %
3. 3. Skor rerata pemahaman siswa tentang masalah Hak Asasi Manusia, pada siklus
   pertama sebesar 7,01 % dan pada siklus kedua pada siklus kedua 7,80 %,
   tergolong baik demikian juga tentang penuntasan belajar pada siklus pertama
   74,82 % dan pada siklus kedua menjadi 89,96 %

       Berdasarkan temuan hasil penelitian ini dapat dismpulkan bahwa model
Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa memecahkan
masalah Hak Asasi Manusia dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada
siswa SMK Negeri 3 Jakarta.

B. Saran

Berdasarkan temuan-temuan diatas, dapat diasarankan agar:

1. Pembelajaran pengetahuan IPS pada umunya dan Pendidikan Kewarganegaraan
   pada khususnya dapat menggunkan mdel Problem Based Learning sebagai salah
   satu alternatif dalam proses penyampaian pembelajaran di Sekolah.
2. 2. melalui pembelajaran model Problem Based Learning, gurur dapat dengan
   mudah merespon potensi atau modalitas siswa daoam setiap kelompok belajar,
   apakah tergolong kepada kelompok Visual, atau kelompok Auditorial atau
   kelompok Kinestetik. Dengan demikian seorang guru yang profesional dapat
   elbih efektif dapat melakuakn kegiatan proses belajar mengajar, serta dengan
   mudah dapat merespon perbedaan0perbedaan potensi yang dimiliki peserta
   didiknya
3. 3. Bersyukurlah kita senantiasa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berbanggalah
   kita menjadi seorang guru yang dilibatkan (diikut-sertakan) dalam kegiatan
   penelitian kegiatan kelas tahun 2007 ini. Berbuat lebih baik lagi, agar kita dapat
   menuntut yang lebih baik. Bekerjalah hari ini lebih baik daripada hari kemarin,
   dan besok harus lebih baik daripada hari ini. Dengan demikian, maka kita
   termasuk orang-orang yang sukses.




                                         14
                              DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, H. Rozali, dan Syamsir, 2002, Perkembangan Hak Asasi Manusia dan
    Keberadaan Peradilan Hak Asasi Manusia di Indonesia, Jakarta, PT. Ghalia
    Indonesia

Affan Gaffar, 2002, Politik Indonesia, Transisi menuju Demokrasi, Jogjakarta,
     Pustaka Pelajar

Alfian, 1980, Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia, Jakarta, LP3ES

Anonim, 1993, Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 50 tahun 1993 tentang
    Kominsi Nasional Hak Asasi Manusia

        , 2006, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tentang
Standar Isi, Jakarta

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi, 2006, Penelitian Tindakan Kelas,
     Jakarta, Bina Aksara

Asshiddiqie, Jimly, 2005, Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran Kekuasaan
     dalam UUD 1945, Jogjakarta, FHUII Press

BP7 Pusat, 1995, UUD 1945, P4, GBHN, Bahan Penataran P4, Jakarta, BP7 Pusat

Budimansyah, Dasim, 2002, Model Pembelajaran dan Penelian Portofolio, Bandung,
    PT. Genesindo

Budiardjo, Miriam, 1995, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta, Gramedia

Depdiknas, 2006, Standar Kompetensi Kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan
    tahun 2006, Jakarta, Depdiknas

Gabriel A. Almond dan Sidney Verba, 1984, Budaya Politik, Jakarta, Bina Aksara

Kaelan, MS, 2004, Pendidikan Pancasila, Jogjakarta, Edisi reformasi, penerbit
Paradigma

Lemhanas, 2001, Pendidikan Kewarganegaraan., Jakarta, Gramedia Pustaka Umum

Magnis-Suseno, Franz, 200, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan
    Modern, Jakarta, Gramedia

Malian, Sobirin dan Marzuki Suparman, 2003, Pendidikan Kewarganegaraan dan
     Hak Asasi Manusia, Jogjakarta, UII Press

Republik Indonesia, Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia


                                       15
Tilaar, HAR, et, al, Dimensi-Dimensi Hak Asasi Manusia dalam Kurikulum
      Persekolahan Indonesia, Bandung, PT. Alumni



Lampiran 1. Pedoman Observasi

A. Data Aktivitas Siswa yang Relevan dengan Pembelajaran

                                                              Ketercapaian
 No.                          Indikator
                                                             Ya        Tidak
       Keberanian siswa dalam bertanya dan
  1.
       mengemukakan pendapat
       Motivasi dan kegairahan dalam mengikuti
  2.   pembelajaran (menyelesaikan tugas mandiri dan
       aktif mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru)
       Interaksi siswa dalam mengikuti kegiatan
  3.
       pembelajaran kelompok
  4.   Hubungan siswa dengan guru selama pembelajaran
       Hubungan siswa dengan siswa lain selama
  5.
       pembelajaran ( dalam kerja kelompok
       Partisipasi siswa dalam pembelajaran (melihat, ikut
  6.   melakukan kegiatan kelompok, selalu mengikuti
       petunjuk guru)

B. Data Aktivitas Siswa yang Kurang Relevan dengan Pembelajaran

                                                              Ketercapaian
 No.                          Indikator
                                                             Ya        Tidak
  1.   Tidak memperhatikan penjelasan guru
  2.   Mengobrol dengan teman
  3.   Mengerjakan tugas lain

                     FORMAT PENILAIAN KELOMPOK

                                                        Penguasaan   Ketepatan
No.        Nama.          Keberanian       Kerjasama
                                                          Materi      Jawaban
                          5      7    9    5   7   9    5   7    9   5 7 9
  1
  2
  3
  4
  5
  6
  7
  8
  9
 10
 11

                                          16
 12
 13
 14
 15
 16
 17
 18
 19
 20
 21
 22
 23
 24
 25
 26
 27
 28
 29
 30
 31
 32
 33
 34
 35
 36
 37



Nama :

Kelas :




          17
Lampiran 2. Lembaran Kasus

1. Lembar Kasus 1

                               HAK UNTUK HIDUP

Martina seorang gadis berusia 19 tahun berpacaran dengan pria bernama Anton
berusia 25 tahun. Mereka sudah berhubungan lebih kurang 1 tahun, sehingga dalam
hubungan mereka yang begitu akrab mereka melakukan hubungan suami istri yang
mengakibatkan Martina hamil. Pacarnya Anton tidak menghendaki kehamilan
tersebut karena Anton belum punya pekerjaan tetap dan belum siap untuk menikah.
Saat itu Anton menyuruh Martina menggugurkan kandungannya.

Pertanyaan untuk didiskusikan:

1. Apakah sikap Anton melanggar Hak Asasi Manusia
2. Bagaiman tindakan Martina seharusnya?
3. Dalam hal keadaan bagaimana seorang dokter dapat melayani pengguguran
   kandungan?
4. Kemukakan dampak negatif dari perbuatan Aborsi bagi seorang wanita!

Nilai :                    Paraf Guru:



Nama :

Kelas :

2. Lembaran Kasus 2

                                  HAK WANITA
Banyaknya kasus pernikahan dibawah tangan karena rendahnya sanksi hukum di
Jakarta, ternyata banyak para suami yuang memiliki istri lebuih dari satu dengan cara
dnikah di bawah tangan. Menurut ketua Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian
Perkawinan (BP4) Jakarta, Ismail, maraknya perkawinan dibawah tangan karena
dalam undang undang perkawinan tersebut tidak ada sanksi hukum yang cukup berat.
Menurut Ismail, secara keagamaan, pernikahan yang dilakukan di bawah tangan itu
tetap syah. Hanya saja secara hukum normatif, kegiatan perkawinan itu tidak tercatat.
Dampaknya istri maupun anak-anak dari hasil perkawinan dibawah tangan itu tidak
memiliki hak kepedataan misalnya, hak waris atau hak memperoleh nafkah.
(Sumber: Republika 28 Mei 2004)
Pertanyaan:
1. Bagaimana pendapat anda menganai praktek pernikahan di bawah tangan?
2. jika anda seorang perepuan, apakah anda setuju dengan praktek pernikahan di
    bawah tangan?
3. Bagaimana perlindungan Hak-hak istri serta anak dari hasil pernikahan di bawah
    tangan?
4. Pendapat apa yang dapat anda berikan untuk melindungi istri dan anak-anak dari
    hasil pernikahan di bawah tangan?

Nilai :                    Paraf Guru:

                                         18
Lampiran 3. DATA HASIL PENELITIAN

              Data Aktivitas Siswa yang Relevan dengan Pembelajaran

                                                  Jumlah Siswa            Prosentase
 No.                 Indikator
                                               Siklus 1   Siklus 2    Siklus 1   Siklus 2
        Keberanian siswa dalam bertanya dan
 1.                                              19          28        52,77       69,44
        mengemukakan pendapat
        Motivasi dan kegairahan dalam
        mengikuti               pembelajaran
 2.     (menyelesaikan tugas mandiri dan         23          30        63,88       83,33
        aktif mengerjakan tugas yang
        diberikan oleh guru)
        Interaksi siswa dalam mengikuti
 3.                                              26          32        72,22       88,32
        kegiatan pembelajaran kelompok
        Hubungan siswa dengan guru selama
 4.                                              27          33        75,00       91,66
        pembelajaran
        Hubungan siswa dengan siswa lain
 5.     selama pembelajaran (dalam kerja         28          32        77,65       86,11
        kelompok)
        Partisipasi siswa dalam pembelajaran
        (melihat, ikut melakukan kegiatan
 6.                                              29          34        80,55       94,55
        kelompok, selalu mengikuti petunjuk
        guru)
                     Rerata                     25,33      31,00       70,34       85,55

           Data Aktivitas Siswa yang Kurang Relevan dengan Pembelajaran

                                                  Jumlah Siswa             Prosentase
  No.                  Indikator
                                               Siklus 1   Siklus 2    Siklus 1    Siklus 2
          Tidak memperhatikan penjelasan
   1.                                             10          5        27,75        13,88
          guru
   2.     Mengobrol dengan teman                   7          3        19,44        8,33
   3.     Mengerjakan tugas lain                   6          2        16,60        5,50
                  Rerata                         7,66       3,33       21,26        9,23

               PEROLEHAN SKOR HASIL BELAJAR SISWA
                     TENTANG HAK ASASI MANUSIA
 No.                   Nama              Nilai Siklus 1                 Nilai Siklus 2
  1 Abdurrahman Saleh                         8,00                           8,50
  2 Agung Novianto                            8,00                           8,25
  3 Agustia Ardila                            7,50                           8,00
  4 Allisa Septia Indriani                    5,25                          6,.50
  5 Aprilia Rulis                             8,50                           8,50
  6 Dessy Lestari                             4,75                           6,00
  7 Dini Tri Rulita Sari                      9,00                           9,50
  8 Eka Novita Sari                           5,50                           7,00
  9 Elysa Andelany A                          6,75                           7,50

                                        19
10   Erliawati Suci                                    9,75   9,75
11   Evany Rodhiyah                                    7,75   8,75
12   Fina Nurfitriana                                  6,25   7,00
13   Fitria Aprilliani                                 6,00   7,00
14   Fitria Nurtiani                                   9,75   9,75
15   Ika Ayu Puji Lestari                              9,00   9,00
16   Kuni Julita Sari                                  6,50   7,50
17   Mentari                                           4,75   6,00
18   Nungki Saraswati                                  4,75   6,00
19   Okti Marina                                       8,00   8,50
20   Putri Dina Sulistiyani                            8,00   9,00
21   Resti Pratiwi                                     8,25   8,50
22   Ris Triadi                                          -      -
23   Septiasih                                         9,00   9,00
24   Siti Lutfiah                                      7,50   8,00
25   Sri Wahyuni                                       4,00   6,00
26   Syadat Faillah Syaifatul                          8,00   8,50
27   Syawallyyah Handayani                             4,00   6,00
28   Tia Ashari                                        5,25   6,75
29   Tria Oktarianti                                   8,75   9,00
30   Ulfah Nurillah                                    6,00   7,50
31   Umanti                                            7,75   8,00
32   Wenny Wulandari                                   6,00   7,00
33   Wike Widowati                                     7,25   7,75
34   Wina Waskilah Dewi                                9,00   9,00
35   Wisika                                            5,50   6,50
36   Wulandari                                         6,50   7,50
37   Yuli Yana Wulansari                               6,00   7,25
                     Rerata                            7,01   7,80

                                  Diketahui oleh:

                         Kepala SMK Negeri 3 Jakarta



                        Drs. Dedi Dwitagama, MM, Msi.
                                NIP. 131765462

                                Jakarta, Maret 2009

                                     Peneliti




                           Drs. Aston L. Toruan SH.
                                NIP. 130523414

                                        20
Lampiran 4

                         TIPE GAYA BELAJAR ANDA

PETUNJUK PENGISIAN

1. Baca pernyataan/pertanyaan, pilih jawaban yang paling cocok dan paling natural
   pada anda!
2. Pertanyaan yang mungkin perlu anda perhatikan adalah, “Manakah yang paling
   cocok dengan diri saya saat ini?”
3. Anda boleh memilih dua atau bahkan semua pilihan jawaban yang tersedia
   dengan catatan demikianlah adanya diri anda !
4. Tulis jawaban anda di lembar soal yang telah disediakan
5. Apabila anda tidak menjawab dengan akurat maka hasil tes ini tidak akan
   menggambarkan diri anda yang sesungguhnya.

SELAMAT MENGERJAKAN

1. Jika anda bertemu dengan teman baru, apa yang biasanya anda perhatikan
   pertama kali?
   a. penampilan dan cara berpakaiannya
   b. cara berbicara saat mengucapkan kata-kata atau suaranya
   c. cara mereka bertingkah laku atau berperilaku

2. Beberapa hari setelah anda bertemu dengan orang baru, apa yang biasanya paling
   anda ingat dari orang tersebut?
   a. wajah
   b. nama
   c. sesuatu yang anda lakukan bersamanya meski lupa nama dan wajahnya

3. Saat anda memasuki ruangan yang baru apa yang paling anda perhatikan
   a. keadaan ruangan
   b. suara ataupun diskusi yang berlangsung di ruangan tersebut
   c. aktifitas yang sedang berjalan yang dilakukan diruangan tersebut

4. Jika anda mempelajari sesuatu yang baru, cara mana yang paling anda sukai?

   a. diberui bahan untuk dibaca dan ditunjukkan buku-buku, gambar, grafik, peta,
      bagan atau objek
   b. diberikan penjelasan melalui diskusi dan kesempatan bertanya, tetapi tidak
      diberikan sesuatu untuk dilihat, dibaca, ditulis atau dikerjakan
   c. diberikan kesempatan untuk mengerjakan sebuah projek, simulasi, percobaan,
      permainan, eksplorasi dan penemuan-penemuan yang memungkinkan anda
      bergerak bebas dalam belajar



5. Saat anda harus mengajar orang lain, manakah yang akan anda lakukan?
   a. memberikan sesuatu kepada mereka untuk dihormati seperti suatu objek,
       gambar atau bagan

                                       21
   b. anda akan menjelaskan dengan berbicara, tetapi tidak memberikan materi
      visual apapun
   c. anda mendemonstrasikan dan mengajak mereka melakukan secara bersama-
      sama

6. Jenis buku apa yang paling anda suka?
   a. buku yang berisi penjelasan untuk membantu memahami situasi
   b. buku yang berisi informasi faktual, sejarah atau dialog-dialog
   c. buku saku yang berisi tips olahraga, hobi, atau cara mengembangkan bakat

7. Jenis aktivitas apa yang akan anda lakukan dalam waktu senggang anda?
   a. membaca buku atau majalah
   b. mendengarkan pelajaran lewat kaset atau radio
   c. berolahraga atau melakukan permainan yang membutuhkan gerakan tubuh

8. Berikut ini situasi mana yang anda anggap paling enak untuk membaca atau
   mempelajari sesuatu
   a. anda tetap bisa belajar dengan diiringi musik atau suara-suara bising
      disekelling anda
   b. anda tidak akan bisa belajar bila ada musik atau kebisingan di sekeliling anda
   c. anda harus merasa nyaman, tetap bisa belajar baik dengan atau tanpa musik
      tapi aktivitas dan kegiatan yang berlagsung di ruangan bisa mempengaruhi
      proses belajar anda

9. Saat anda berbicara dengan seseorang kemanakah arah pandangan mata anda?
    a. anda merasa harus melihat tepat diwajah orang yang anda ajak berbicara dan
        iapun harus melihat wajah anda
    b. anda memandangnya hanya sekilas saja dan kemudian mata anda melihat dari
        satu sisi ke sisi yang lain, ke kanan atau kekiri
    c. anda sering memandangnya dan melihat ke bawah atau ke arah lain, tetapi
        jika ada suatu gerakan maka anda akan mengalihkan pandangan ke arah
        gerakan tersebut

10. Pernyataan manakah yang paling pas menggambarkan diri anda
    a. anda senang mengamati warna, bentuk, dan desain
    b. anda tidak biasa tinggal diam dan jika sekeliling anda begitu sunyi maka anda
       akan bersenandung atau menghidupkan tv agar diruangan tersebut selalu ada
       suara
    c. Anda merasa kesulitan bila harus duduk berlama-lama dan harus banyak
       bergerak dan bila anda harus duduk anda akan membungkuk, bergeser-geser,
       atau sering menggerak-gerakkan kaki




                                         22
Lampiran 5

                            RENCANA PEMBELAJARAN

Nama Sekolah             : SMK Negeri 3 Jakarta
Mata Pelajaran           : Pendidikan Kewarganegaraan
Kelas                    : I (satu) SMK
Semester                  : 1 (satu)
Waktu                     : 2 X 45 menit (1 x pertemuan)
Kompetensi Dasar          : Kemampuan Menganalisis Penegakan HAM dan
Implikasinya

I.   Tujuan Pembelajaran

     Siswa dapat menganalisis pengertian HAM, macam-macam HAM dan
     perkembangan Hak Asasi Manusia

II. Materi Ajar

     Penegakan Hak Asasi Manusia dan Implikasinya:

     1. Pengertian Hak Asasi Manusia

      2. Macam-macam Hak Asasi Manusia

      3. Perkembangan Hak Asasi Manusia dalam piagam Hak Asasi Manusia

III. Media/Metode Pembelajaran

     1.   Kliping tentang Hak Asasi Manusia
     2.   Kasus yang berhubungan dengan Hak Asasi Manusia
     3.   Lembar pengamatan/skala sikap
     4.   Kertas
     5.   Alat tulis

IV. Langkah-Langkah Pembelajaran

     A. Langkah Pembelajaran 1 (Apersepsi):
        1. Melakukan tanya jawab dengan siswa tentang Hak Asasi Manusia
        2. Menunjukkan gambar-gambar tokoh-tokoh yang berjasa dalam
           memperjuangkan Hak Asasi Manusia

     B. Kegiatan Inti:
        1. Membagi siswa dalam kelompok belajar, masing-masing kelompok
           belajar terdiri dari 4 – 5 orang :

             a.   siswa 1 membahas hak untuk hidup
             b.   siswa 2 membahas hak wanita
             c.   siswa 3 membahas hak anak
             d.   siswa 4 membahas hak turut serta dalam pemerintah
             e.   siswa 5 membahas hak memperoleh keadilan


                                          23
     3. Siswa-siswa dengan nomor yang sama membentuk kelompok baru
        membahas hak asasi sesuai tugas pada nomornya
     4. Memastikan semua siswa memiliki catatan hasil diskusi tersebut,
        sehingga dalam waktu yang bersamaan semua siswa akan mendapat
        jawaban dari kelima kasus
     5. Salah satu siswa melaporkan hasilnya didepan kelas dan yang lainnya
        menyimak laporan tersebut
     6. Guru memberikan penguatan dan klarifikasi terhadap laporan dan
        jawaban siswa

C. Kegiatan Akhir:

     1. Penilaian

          Data kemajuan belajar siwa diperoleh dari:

          a.   Partisipasi siswa dalam kerja kelompok
          b.   Lembar kerja pengumpulan daftar kerja kelompk
          c.   Cara siswa menyampaikan usul deskriptif secara lisan
          d.   Hasil laporan siswa terhadap kasus yang dibahas
          e.   Lembar pengamatan/skala sikap
          f.   Sikap dan perilaku selama kerja kelompok

Catatan:

Dilakukan refleksi diakhir pembelajaran:

1. Bertanya kepada siswa apakah senang dengan kegiatan belajar yang baru
   saja diikuti?
2. Apakah melalui kegiatan belajar demikian anda lebih memahami Hak Asasi
   Manusia?

                                   Mengetahui,

                           Kepala SMK Negeri 3 Jakarta



                         Drs. Dedi Dwitagama, MM, MSi.
                                 NIP. 131765462

                             Jakarta, November 2007

                             Guru Yang Bersangkutan




                             Drs. Aston L. Toruan SH
                                 NIP. 130523414


                                        24
Lampiran 6

             DAFTAR RIWAYAT HIDUP PERSONALIA PENELITIAN

      Nama Lengkap dan Gelar : Drs. Aston L. Toruan SH
      Pangkat/Golongan : Pembina/IV/A
      NIP : 130523414
      Jabatan Fungsional : Guru
      Bidang Keahlian : Pendidikan Kewarganegaraan
      Tempat Kerja : SMK Negeri 3 Jakarta
      Agama : Kristen
      Umur : 56 tahun
      Alamat Rumah : Jl. Bambu Wulung Rt. 003/05

 No.14 Bambu Apus Cipayung

 Jakarta Timur

      Riwayat Pendidikan :

1. SMA Negeri Siborong-borong                   Lulus tahun 1969

2. IKIP Negeri Jakarta (S1)                    Lulus tahun 1978

3. Fakultas Hukum Universitas Indonesia (S1) Lulus tahun 1987

      Penelitian yang dilakukan : -
      Pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan : -

                              Jakarta, November 2007




                              Drs. Aston L. Toruan SH




                                        25
Lampiran 7

                  FOTO-FOTO KEGIATAN PEMBELAJARAN

 Guru Sedang Menjelaskan pengertian Hak Asasi Manusia dengan metode Problem
                               Based Learning



 Murid-murid sedang memperoleh penjelasan dari guru tentang masalah HAM dan
                 model pembelajaran Problem Based Learning

     Siswa-siswi sedang sibuk mendiskusikan materi dibawah bimbingan guru

             Guru menjelaskan dan mengarahkan pemecahan masalah.

   Para siswa sedang mendiskuskan materi/kasus dengan metode Problem Based
                                  Learning

   Para siswa sedang mendiskuskan materi/kasus dengan metode Problem Based
                                  Learning

  Kelompok diskusi sedang menyampaikan kesimpulan dari hasil kerja kelompok
                        mereka dengan bimbingan guru

  Guru sedang menulis pokok-pokok masalah HAM sesuai UU No. 39 tahun 1999
                  tentang Hak Asasi Manusia (gambar atas),

 Guru sedang memberikan pertanyaan kepada salah seorang siswa tentang masalah
                     Hak Asasi Manusia (gambar bawah)

  Kelompok diskusi sedang menyampaikan kesimpulan dari hasil kerja kelompok
                        mereka dengan bimbingan guru

  Para siswa melalui kelompok belajar (diskusi kelompok) mempresentasikan hasil
          kerja mereka di depan kelas dibawah bimbingan dan arahan guru


[1] E. Mulyana, Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteistik dan
implementasi ( Bandung, Remaja Rosda Karya, 2003) Halaman 45

[2] NADIROH, Profesionalisme Guru PKn sebagai esensi dari Social Studies, dalam
JURNAL DIAMIKA PENDIDIKAN ( Jurnal Pasca Sarjana UNJ) Volume 1, No.1,
Sept. 2007, p. 1-2

[3] NADIROH, Loc.Cit

[4] Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, Jakarta, Bina Aksara,
1998, h. 2

Filed under: Foto, Penelitian Tindakan Kelas , aston lumban toruan, dwitagama,
Penelitian Tindakan Kelas, PKn, s

                                        26

								
To top