17 Mestiana Br Karo SK ep Ns

Document Sample
17 Mestiana Br Karo SK ep Ns Powered By Docstoc
					                                                                         Kultura Volume: 12 No. 1 September 2011



      ANALISIS MOTIVASI KEPUASAN PRAKTEK KLINIK TERHADAP PRESTASI
                 BELAJAR DI STIKes SANTA ELISABETH MEDAN

                                         Mestiana Br. Karo, S.Kep. Ns1

                                                   Abstrak

       Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh motivasi kepuasan
praktek klinik terhadap prestasi belajar di STIKes Santa Elisabeth, Medan. Penelitian ini
dilaksanakan di lingkungan STIKes Santa Elisabeth Medan dengan jumlah sampel sebanyak 40
orang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan pendekatan
korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi kepuasan praktek klinik
berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa STIKes Santa Elisabeth, Medan.
Untuk meningkatkan prestasi belajar mahasiswa perlu melakukan motivasi terhadap mahasiswa
dan perbaikan sarana dan prasarana praktek klinik masih dalam kategori cukup.

Kata kunci : motivasi kepuasan, praktek klinik dan prestasi belajar

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
           Pergeseran dalam pemahaman terhadap profesi keperawatan yang sedang berlangsung saat
ini mencoba mengubah anggapan keperawatan yang semula merupakan pekerjaan vokasional secara
bertahap mulai diterima keberadaannya sebagai profesi yang memberikan pelayanan yang
profesional. Upaya profesionalisasi bertujuan agar keperawatan mampu meningkatkan perannya
secara aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, walaupun juga tidak dapat
dilepaskan dari usaha dalam rangka mewujudkan pengakuan sebagai suatu profesi yang mandiri.
           Pendidikan kesehatan yang berkualitas akan sangat mendukung terselenggaranya pelayanan
kesehatan yang bermutu. Perawat adalah salah satu profesi kesehatan yang sangat berkompeten
dalam peningkatan pelayanan kesehatan. Sebagai profesi, keperawatan dituntut untuk memiliki
kemampuan intelektual, interpersonal, kemampuan teknis dan moral. Untuk memperoleh tenaga
keperawatan tersebut, diperlukan proses pembelajaran baik di institusi pendidikan maupun
pengalaman belajar klinik dirumah sakit dan komunitas. Pendidikan keperawatan sebagai pendidikan
profesional diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang menguasai pengetahuan dan ketrampilan
professional di bidang keperawatan serta menampilkan sikap professional. Profesionalisasi mulai
terbentuk ketika mahasiswa keperawatan menjalani tahap akademik. Tahap ini berlanjut, ketika


1
    Dosen STIKes Santa Elisabeth Medan


                                                      1
                                                                     Kultura Volume: 12 No. 1 September 2011



mahasiswa keperawatan menjalani tahap praktek klinik keperawatan di Rumah Sakit/ di Komunitas.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengaplikasikan ilmu pengetahuannya di dunia kerja yang
sesungguhnya. Selain sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan, tujuan lainnya agar
kemampuan dasar mahasiswa meningkat, mahasiswa mampu menghadapi tantangan dunia kerja dan
mampu menganalisis gejala yang timbul. Kemampuan tersebut diperoleh dengan strategi
belajarmengajar dalam bentuk pengalaman belajar ceramah, diskusi, laboratorium dan praktek klinik/
lapangan.
       Reilly dan Oermann (2002), menyatakan bahwa pengalaman pembelajaran klinik (rumah
sakit dan komunitas) merupakan bagian penting dalam proses pendidikan mahasiswa keperawatan,
karena memberikan pengalaman yang kaya kepada mahasiswa bagaimana cara belajar yang
sesungguhnya. Keberhasilan pendidikan tergantung ketersediaan lahan praktek di rumah sakit harus
memenuhi persyaratan, diantaranya 1) melaksanakan pelayanan atau asuhan keperawatan yang baik
(good nursing care), 2) lingkungan yang kondusife, 3) ada role model yang cukup, 4) tersedia
kelengkapan sarana dan prasarana serta staf yang memadai, 5) tersedia standar pelayanan / SOP
keperawatan yang lengkap. Dalam memasuki lahan praktek klinik, mahasiswa diharapkan
mempersiapkan diri dengan baik, faktor-faktor kesiapan mental mahasiswa dipengaruhi oleh
perkembangan, pengalaman, kepercayaan diri, dan motivasi (Minarsih, 2004).
       Setiap mahasiswa memiliki motivasi kepuasan yang berbeda dalam menjalani praktek klinik.
Mahasiswa dengan motivasi yang lebih baik dalam praktek klinik dapat meningkatkan prestasi
belajarnya, karena dengan motivasi yang lebih baik, ilmu yang diperoleh sewaktu melakukan praktek
klinik lebih banyak, sehingga waktu dilakukan ujian tentang praktek klinik terebut, mahasiswa dapat
melewati ujian yang dilakukan dengan nilai yang lebih baik.
       Dari uraian tersebut di atas penulis teratarik melakukan penelitian analisis motivasi kepuasan
praktek klinik terhadap prestasi belajar di STIKes Santa Elisabeth, Medan.

1.2. Tujuan Penelitian
       Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh motivasi kepuasan praktek
klinik terhadap prestasi belajar di STIKes Santa Elisabeth, Medan.

1.3. Metode Penelitian
       Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan STIKes Santa Elisabeth Medan dengan jumlah
sampel sebanyak 40 orang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan


                                                 2
                                                                    Kultura Volume: 12 No. 1 September 2011



pendekatan korelasional. Responden diberikan kuesioner untuk memperoleh skor tentang motivasi
kepuasan, sedangkan prestasi belajar diperoleh dari hasil berupa nilai sewaktu melakukan prakek
klinik dari dosen mata kuliah.

2. Uraian Teoritis
2.1. Motivasi
       Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu
untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan
ketekunan. Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan dengan
seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang
memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi.
Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang
dapat mempertahankan usahanya.         Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi,
karena kebutuhan dan keinginan setiap organisasi berbeda. Hal ini berbeda karena setiap anggota
suatu organisasi adalah “unik” secara biologis maupun psikologis dan berkembang atas dasar proses
belajar yang berbeda pula. Oleh karena itu seorang manajer perusahaan penting mengetahui apa yang
menjadi motivasi para karyawan atau bawahannya, sebab faktor ini akan menentukan jalannya
organisasi dalam mencapai tujuan.
       Motivasi merupakan salah satu aspek psikis yang memiliki pengaruh terhadap pencapaian
prestasi belajar. Dalam Psikologi, istilah motif sering dibedakan dengan istilah motivasi. Untuk lebih
jelasnya apa yang dimaksud dengan motif dan motivasi, berikut ini penulis akan memberikan
pengertian dari kedua istilah tersebut. Kata "motif" diartikan sebagai daya upaya yang mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu.

2.2. Praktek Klinik
       Praktek klinik keperawatan adalah tindakan mandiri perawat profesional melalui kerjasama
berbentuk kolaborasi dengan klien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan asuhan keperawatan
atau sesuai dengan lingkungan wewenang dan tanggung jawabnya (Nursalam,M.Nurs, 2002 : 81).
       Menurut CHS (1983) praktek keperawatan sebagai tindakan keperawatan profesional
menggunakan pengetahuan teoritik yang mantap dan kokoh dari berbagai ilmu dasar (biologi, fisika,
biomedik, perilaku dan sosial) dan ilmu keperawatan dasar, klinik dan komunitas sebagai landasan
untuk melakukan asuhan keperawatan.


                                                  3
                                                                 Kultura Volume: 12 No. 1 September 2011



        Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Klinik adalah rumah sakit atau lembaga kesehatan
tempat orang berobat dan memperoleh advis medis serta tempat mahasiswa kedokteran melakukan
pengamatan terhadap kasus penyakit yang diderita para pasien (Poerwodarminto, 2002).
        Jadi praktek klinik keperawatan adalah tindakan mandiri yang dilakukan mahasiswa
keperawatan di rumah sakit melalui kerjasama berbentuk kolaburasi dengan klien dan tenaga
kesehatan lain dalam memberikan asuhan keperawatan atau sesuai dengan lingkungan wewenang
dan tanggung jawabnya.
        ICN mendefinisikan praktek keperawatan sebagai cara untuk membantu individu atau
kelompok mempertahankan atau mencapai kesehatan yang optimal sepanjang proses kehidupan yang
mengkaji status kesehatan klien,menetapkan diagnosa keperawatan, rencana, tindakan keperawatan
untuk mencapai tujuan dan mengevaluasi respon klien terhadap intervensi yang diberikan (Nursalam,
M. Nurs, 2002 : 81).
        Praktek klinik merupakan salah satu matakuliah yang harus dilalui oleh setiap calon bidan,
selama praktek tersebt mahasiswa harus memenuhi target keterampilan yang ditetapkan oleh
institusi. Pada saat melaksanakan praktek klinik mahasiswa dibawah bimbingan mentor yang telah
ditetapkan oleh institusi dan rumah sakit. Dalam menjalankan tugas praktek, mahasiswa terbagi
dalam 3 shift yaitu pagi, sore, dan malam.
        Praktek klinik yang dilaksanakan merupakan wahana untuk mengaplikasikan teori yang
didapat dibangku perkuliahan. Disamping itu secara tidak langsung mahasiswa juga dilatih untuk
bertanggung jawab dan bertanggung gugat selama praktek, kemandirian dan kejujuran. Semangat
pantang menyerah, pekerja keras, sikap yang santun, gemar menolong tanpa membedakan suku,
agama dan ras. Praktek klinik dilaksanakan dengan harapan mahasiswa dapat menunjukkan sebagai
insan yang berpengetahuan, sikap yang santun dan terampil saat melaksanakan tugas.
        Manajemen pembelajaran klinik adalah suatu cara mengelola proses belajar mengajar dengan
menerapkan teori-teori manajemen untuk menunjang keberhasilan kegiatan pembelajaran klinik
(Larasati, 2004).
        Menurut Arikunto (1993) untuk mencapai manajemen pembelajaran yang berkualitas maka
diperlukan unsur-unsur yang secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran, yaitu
guru/dosen, peserta didik, kurikulum dan sarana. Hasil penelitian Mandriwati (1999) menunjukkan
bahwa kinerja lulusan bidan SPK di Jawa dan Bali dipengaruhi oleh manajemen pembelajaran klinik,
meliputi desentralisasi yakni peran pembimbing klinik, metode pembelajaran klinik, sarana dan

                                                4
                                                                      Kultura Volume: 12 No. 1 September 2011



prasarana serta kepuasan kerja pembimbing klinik, variasi kegiatan dalam penyelesaian tugas,
kebebasan dalam menjalankan tugas, kejelasan tugas, penghayatan tugas, kebebasan dalam
penyelesaian tugas, dan penghargaan terhadap prestasi kerja. Hasil penelitian Larasati (2004)
menyatakan ada hubungan manajemen pembelajaran klinik yang meliputi penerapan kurikulum
berbasis kompetensi, peran pembimbing klinik, metode pembelajaran klinik, sarana dan prasarana
klinik terhadap kemampuan mahasiswa merencanakan perawatan pelayanan asuhan kesehatan gigi di
klinik. Menurut Nawawi (1993) metode mengajar adalah kesatuan langkah kerja yang
dikembangkan oleh guru berdasarkan perkembangan profesional tertentu. Masing-masing jenisnya
bercorak khas dan semuanya berguna untuk mencapai tujuan administrasi pendidikan. Metode
pembelajaran klinik yang umum dipergunakan dalam melaksanakan asuhan kesehatan gigi dan mulut
adalah pembelajaran di samping pasien dan belajar berdasarkan masalah, seperti orientasi, diskusi,
demonstrasi, dan simulasi.
       Pendekatan pembelajaran klinik berorientasi pada kompetensi atau kemampuan yang sangat
kompleks, karena difokuskan pada belajar secara langsung menangani pasien untuk memecahkan
masalah yang sedang dihadapi pasien. Tujuan pembelajaran klinik berorientasi pada kompetensi
yaitu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap ke dalam situasi yang nyata,
sehingga mampu memberikan pelayanan asuhan sesuai dengan manajemen pelayanan asuhan
kesehatan gigi dan mulut (Larasati, 2004).

2.3. Prestasi Belajar
       Istilah prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaituprestasi dan belajar. Istilah prestasi di
dalam Kamus Ilmiah Populer (Adi Satrio, 2005: 467) didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai.
Noehi Nasution (1998: 4) menyimpulkan bahwa belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu
proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari
terbentuknya respon utama, dengan syarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah baru itu bukan
disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara karena sesuatu hal.
       Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti        kegiatan pengisian atau
pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini
dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa. Secara institusional (tinjauan
kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses “validasi” atau pengabsahan terhadap penguasaan
siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukan siswa telah



                                                   5
                                                                     Kultura Volume: 12 No. 1 September 2011



belajar dapat diketahui sesuai dengan proses mengajar. Ukurannya semakin baik mutu guru mengajar
akan semakin baik pula mutu perolehan pelaku belajar yang kemudian dinyatakan dalam skor.
        Adapun pengertian belajar secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti
dan pemahaman-pemahaman serta cara- cara menafsirkan dunia disekeliling pelaku belajar. Belajar
dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk
memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi pelaku belajar.
        Bertolak dari berbagai definisi yang telah diuraikan para pakar tersebut, secara umum belajar
dapat dipahami sebagai suatu tahapan perubahan seluruh tingkah laku inividu yang relatif menetap
(permanent) sebagai hasil pengalaman Sehubungan dengan pengertian itu perlu ditegaskan sekali
lagi bahwa perubahan tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan(maturation), keadaan gila,
mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang sebagai hasil proses belajar. Berdasarkan hal tersebut
dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu
yang relatif menetap(permanent) sebagai hasil atau akibat dari pengalaman dan interaksi dengan
lingkungan yang melibatkan proses kognitif, afektif dan psikomotor.
        Istilah menetap(permanent) dalam definisi ini mensyaratkan bahwa segala perubahan yang
bersifat sementara tidak dapat disebut sebagai hasil atau akibat dari belajar. Demikian pula istilah
pengalaman, ia menafikan keterkaitan antara belajar dengan segala tingkah laku yang merupakan
hasil dari proses kematangan(maturation) fisik atau psikis. Sehingga kemampuan-kemampuan yang
disebabkan oleh kematangan fisik atau psikis tidak dapat disebut sebagai hasil dari belajar.
        Adapun yang dimaksud dengan prestasi belajar atau hasil belajar menurut Muhibbin Syah,
sebagaimana yang dikutip oleh Abu Muhammad Ibnu Abdullah (2008) adalah “taraf keberhasilan
murid atau santri dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah atau pondok pesantren yang
dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran
tertentu”.

2.4.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
        Aktivitas belajar siswa tidak selamanya berlangsung wajar, kadangkadang lancar dan
kadang-kadang tidak, kadang-kadang cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa
sulit untuk dipahami. Dalam hal semangat pun kadang-kadang tinggi dan kadang-kadang sulit untuk
bisa berkosentrasi dalam belajar. Demikian kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap siswa
dalam kehidupannya sehari-hari di dalam aktivitas belajar mengajar.



                                                  6
                                                                    Kultura Volume: 12 No. 1 September 2011



          Setiap siswa memang tidak ada yang sama, perbedaan individual inilah yang menyebabkan
perbedaan tingkah laku belajar dikalangan siswa, sehingga menyebabkan perbedaan dalam prestasi
belajar. Prestasi belajar merupakan hasil dari suatu proses yang di dalamnya terdapat sejumlah faktor
yang saling mempengaruhi, tinggi rendahnya prestasi belajar siswa tergantung pada faktor-faktor
tersebut.
          Menurut M. Alisuf Sabri (2001), mengenai belajar ada berbagai faktor yang mempengaruhi
proses dan hasil belajar siswa di sekolah, secara garis besarnya dapat dapat dibagi kepada dua bagian,
yaitu :
a.   Faktor Internal (faktor dari dalam diri siswa), meliputi keadaan kondisi jasmani (fisiologis),
     dan kondisi rohani (psikologis)
b. Faktor Eksternal (faktor dari luar diri siswa), terdiri dari faktor lingkungan, baik social dan
     non social dan faktor instrumental.
3. Pembahasan
          Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi kepuasan praktek klinik berpengaruh
signifikan terhadap prestasi belajar. Uji korelasi menunjukkan bahwa koefisien korelasi product
moment diperoleh nilai sebesar 0,6776. Selanjutnya dilakukan uji signifikansi terhadap koefisien
korelasi tersebut dengan menggunakan uji t, diperoleh nilai t-hitung sebesar 5.6797. Harga t-tabel
pada db = 40 pada taraf signifikansi =0,01 diperoleh nilai t-tabel sebesar 2,42. Oleh karena t-hitung
(5,6797) > t-tabel (2,42), maka dapat disimpulkan bahwa motivasi kepuasan praktek klinik
berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa STIKes Santa Elisabeth, Medan.
          Dalam kegiatan praktek klinik terjadi hubungan antara motivasi kepuasan praktek klinik
dengan prestai belajar mahasiswa. Dalam praktek kliniks, mahasiswa belajar memberikan pelayanan
keperawatan kepada pasien dirumah sakit. Selama memberikan pelayanan kepada pasien, telah
terjadi proses belajar yang sangat komplek. Mahasiswa belajar mengidentifikasi keluhan dan tanda
penyimpangan kesehatan sebagai data pasien, menganalisa data, menentukan masalah, menetapkan
rencana tindakan, melakukan tindakan dan menilai efektifitas tindakan yang telah dilakukan. Dalam
memberikan pelayanan kepada pasien diperlukan berbagai jenis ketrampilan keperawatan, sehingga
kegiatan pembelajaran praktek klinik dapat menumbuhkembangkan kemampuan melakukan
berbagai jenis ketrampilan profesional.
          Motivasi kepuasan dalam kegiatan pembelajaran praktek klinik sangat berarti sekali agar
pelaksanaan pembelajaran menjadi efektif. Seperti dikemukakan Ewan, R, (1994 : 23) bahwa

                                                  7
                                                                     Kultura Volume: 12 No. 1 September 2011



pembelajaran praktek klinik merupakan masa transisi dari situasi belajar dikelas ke situasi pelayanan
yang sesungguhnya, yang memungkinkan mahasiswa mengalami kecemasan yang tinggi, keragu-
raguan dan kebingungan. Untuk mengatasi permasalahan pada diri mahasiswa, maka diperlukan
suatu motivasi agar praktek klinik berjalan yang baik. Dalam hal ini pembimbing praktek klinik
memiliki berbagai peran dan dapat menjadi indikator kinerja pembimbing praktek klinik. Peran
pembimbing praktek klinik tersebut meliputi peran manajer, peran konselor, peran instruktur, peran
observer, peran feedback dan peran evaluator. Bilamana pembimbing praktek klinik mampu
memberikan perannya tersebut, kinerja pembimbing praktek klinik menjadi baik dan pembelajaran
praktek klinik akan menjadi efektif yang artinya pembelajaran praktek klinik dapat mencapai tujuan,
yang pada akhirnya meningkatkan kualitas lulusan pendidikan keperawatan.
        Pembimbing praktek klinik mempunyai kontribusi meningkatkan kualitas pembelajaran
praktek klinik, karena memiliki berbagai peran mulai dari merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi pembelajaran praktek klinik. Sehingga untuk meningkatkan mutu pembelajaran
praktek klinik, dapat ditempuh dengan cara meningkatkan kinerja pembimbing praktek klinik.
        Prestasi belajar mahasiswa dipengaruhi motivasi kepuasan praktek klinik. Motivasi berprestasi
yang dapat mendorong semangat mahasiswa melakukan praktek klinik dan dapat mengendalikan
pelaksanaan pembelajaran praktek klinik tersebut. Menurut Ewan, R (1994 : 26) praktek klinik harus
memiliki kompetensi memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien, mulai dari mengkaji
masalah masalah pasien sampai memberikan tindakan mengevaluasi efektifitas tindakan tersebut,
sehingga dapat menjadi contoh bagi mahasiswa ditempat pelayanan tersebut. Kompetensi ini dapat
dipertahankan dengan cara pembimbing praktek klinik senantiasa secara rutin melakukan kegaiatan
memberikan pelayanan kepada pasien di rumah sakit bila mana tidak ada kegiatan mengajar di kelas.
Motivasi sangat diperlukan bagi mahasiswa yang melakukan praktek klinik. Orang yang memiliki
motivasi tinggi biasanya lebih gigih, realistis, agresif dan cenderung bertindak, sehingga motivasi ini
sangat diperlukan bagi pembimbing klinik yang membutuhkan inisiatif dan kreatif serta keahlian
tertentu. Faktor pola kepemimpinan mengelola, mengarahkan, mengendalikan kegiatan pembelajaran
praktek klinik juga tidak kalah pentingnya dalam rangka mensukseskan pelaksanaan pembelajaran
praktek. Seperti dikemukakan Makmuri Muchlas (1998 : 21) kepemimpinan merupakan proses yang
sangat penting dalam setiap organisasi, karena kepemimpinan akan menetukan sukses dan gagalnnya
sebuah organisasi. Kepemimpinan akan mengatur dan menggerakkan kegiatan pembelajaran praktek
klinik, sehingga menjadi efektif dan efisien.

                                                  8
                                                                 Kultura Volume: 12 No. 1 September 2011



4. Penutup
       Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa motivasi kepuasan praktek klinik berpengaruh
signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa STIKes Santa Elisabeth, Medan. Untuk meningkatkan
prestasi belajar mahasiswa perlu melakukan motivasi terhadap mahasiswa dan perbaikan sarana dan
prasarana praktek klinik masih dalam kategori cukup.
       Untuk memperlancar proses pembelajaran, sebaiknya dilakukan pretes sebelum melaksanakan
praktek, agar mahasiswa mempersiapkan diri sebelum masuk ke klinik.

Daftar Pustaka

A’yun, Q., 2004, Analisis Kinerja Mahasiswa Pada Praktek Klinik Menurut Penilaian Pasien dan
       Dosen Di Klinik Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Yogyakarta, Tesis, Program
       Pascasarjana Magister manajemen Pelayanan Kesehatan Universitas Gadjah Mada
       Yogyakarta.
Arikunto, S., 1993, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Jakarta, PT. Rineka Cipta.
Arikunto, S., 2001, Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V, Jakarta,
       Rineka Cipta.
Depkes RI., 2001, Pedoman Organisasi dan Tatalaksana Politeknik Kesehatan, Jakarta.
Diknas, 2005, Tanya Jawab Seputar Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Perguruan
       Tinggi, Jakarta.
Djamarah, S.B., 2002, Psikologi Belajar, Jakarta, PT.Asdi Mahasatya.
Gomes, F.C., 2000, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta, Andi Offset.
Gunawan, AH., 1996, Administrasi Sekolah : Administrasi Pendidikan Mikro, Jakarta,
     PT.Rineka Cipta.

Ilyas, Y., 2001, Kinerja Teori Penilaian dan Penelitian, Jakarta, FKM UI.

Irawan, P., 2001, Evaluasi Proses Belajar Mengajar, Jakarta, Diknas.

Irvine, P.P., 1992, Clinical Practice: Strategies for Planning and Assessing Field Work for
        Tertiary Students of Nursing, Report: New Direction in Nurse Education a Symposium
        With Workshops, Jointly Presented by Faculty of Medicine Gadjah Mada University
                                                                                        th
        Yogyakarta and Faculty of Health University of WesternSydney, September 28 -
                  nd
        October 2 .

Sabri, M. Alisuf, 2001. Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta : CV. Pedoman
       Ilmu Jaya.



                                                 9

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:54
posted:10/2/2012
language:Latin
pages:9