Contoh - DOC 3 by Tj0iyk

VIEWS: 0 PAGES: 92

									                                                                                1




                              I PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

          Kesehatan merupakan modal utama dalam kehidupan setiap orang,

   dimanapun dan siapapun pasti membutukan badan yang sehat, baik jasmani

   maupun rohani guna menopang aktifitas kehidupan sehari-hari.             Begitu

   pentingnya nilai kesehatan ini, sehingga seseorang yang menginginkan agar

   dirinya tetap sehat harus melakukan berbagai macam cara untuk meningkatkan

   derajat kesehatannya, seperti melakukan penerapan pola hidup sehat dan pola

   makan yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari (Mubarak, 2009).

          Seseorang yang hidup ditengah masyarakat sebagai warga masyarakat

   luas tentu mempunyai keterbatasan dalam hal kemampuan ekonomi, keterbatasan

   ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Oleh karena itu

   tentu membutuhkan bantuan orang lain baik sesama masyarakat maupun

   pemerintah terutama dalam hal penerapan pola hidup sehat dan pola makan yang

   baik dan benar. Untuk meningkatkan derajat kesehatan secara optimal tentu saja

   kedua hal tersebut sangatlah penting bagi masyarakat, baik itu masyarakat

   perkotaan   maupun    masyarakat    pedesaan,   namun   dengan   keterbatasan-

   keterbatasan yang dimiliki oleh masyarakat maka kedua hal tersebut sulit untuk

   diwujudkan oleh masyarakat itu sendiri.

          Memasuki abad ke-21, Indonesia menghadapi berbagai perubahan dan

   tantangan strategis yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan pembangunan
                                                                           2




kesehatan. Pembaharuan kebijakan pembangunan telah dilakukan pada tahun

1999 dan berhasil merumuskan visi pembangunan kesehatan Indonesia yang baru

yaitu Indonesia Sehat 2010. Indonesia Sehat 2010 merupakan strategi/kebijakan

nasional yang berdasarkan Gerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan.

Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah

meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap

orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui

terciptanya masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang ditandai oleh

penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku yang sehat, memiliki

kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil

dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah

Republik Indonesia (Depkes RI, 2002).

       Berdasarkan Undang-Undang Repulik Indonesia No. 29 Tahun 2004

tetang praktek kedokteran yang berbunyi     “bahwa pembangunan kesehatan

ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat

bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang

optimal sebagai salah satu unsur kesejahtraan umum sebagaimana dimaksud

dalam pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945. Pasal kedua undang-

undang tersebut disebutkan bahwa “kesehatan sebagai hak asasi manusia harus

diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh

masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berkualitas

dan terjangkau oleh masyarakat”, sebagai implementasi daripada Undang-Undang
                                                                                3




tersebut diatas, pemerintah telah menetapkan matriks program pembangunan

tahun 2006 dimana didalamnya terdapat 10 program kegiatan pokok, dalam 10

program tersebut telah ditentukan sasaran dan instansi yang bertanggung jawab

terhadap pelaksanaan program yakni 8 program dilaksanakan oleh Departemen

Kesehatan dimana salah satunya adalah program perbaikan gizi masyarakat dan 2

program dilaksanakan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Yudi Iswanto,

2008).

         Khusus untuk program perbaikan gizi masyarakat secara umum ditujukan

untuk meningkatkan kemampuan, kesadaran dan keinginan masyarakat dalam

mewujudkan kesehatan yang optimal khususnya pada bidang gizi, terutama bagi

golongan rawan dan masyarakat yang berpenghasilan rendah baik di desa

maupun di kota.

         Kegiatan pokok Departemen Kesehatan dalam menginplementasikan

Perbaikan    Gizi   Masyarakat     meliputi,      peningkatan   pendidikan   gizi,

penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP), anemia gizi besi, Gangguan

Akibat Kurang Yodium (GAKY), kurang Vitamin A, dan kekurangan zat gizi

lebih, peningkatan surveillance gizi, dan pemberdayaan masyarakat untuk

pencapaian keluarga sadar gizi (Perpres, 2007).

         Adapun sasaran pokok program Perbaikan Gizi Masyarakat yakni :

Menurunnya Prevalensi kurang gizi pada balita, terlaksananya penanggulangan

Kurang Energi Protein (KEP), anemia gizi besi, Gangguan Akibat Kurang
                                                                              4




Yodium (GAKY), kurang Vitamin A, gizi lebih, dan meningkatkan jumlah

keluarga yang sadar akan gizi (Depkes RI, 2004).

         Dalam pelaksanaan kegiatan ini Departemen Kesehatan melakukan

beberapa kegiatan meliputi: Penimbangan bulanan anak balita dengan

menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS), pendidikan gizi dan kesehatan bagi

ibu-ibu dari anak-anak balita tersebut pada saat ke posyiandu atau sebelum dan

sesudah dilakukannnya posyiandu, demonstrasi memasak makanan yang

memenuhi pensyaratan gizi yang baik atau anak balita, terutama yang menderita

gizi buruk, dan pemberian paket pertolongan gizi untuk mereka yang

memerlukan, yang terdiri dari pemberian vitamin A dosis tinggi kepada anak

balita, tablet besi, garam beryodium dan garam oralit (Depkes RI, 2004).

         Berdasarkan Laporan Dinas Kesehatan Kota Kendari menurut seluruh

data di Puskesmas, yakni distribusi masalah gizi masih menjadi masalah di Kota

Kendari untuk tahun 2008 masalah gizi buruk ditemukan sebanyak 123 penderita,

gizi kurang 514 penderita, gizi lebih 32 penderita, untuk ibu hamil dan ibu pada

masa nifasnya terdapat 157 kasus yang mengalami Kekurangan Energi Kalori

(KEK). Untuk tahun 2009 masalah gizi buruk sebanyak 142 penderita, masalah

gizi lebih berjumlah 40 penderita, gizi kurang sebanyak 535 penderita, untuk ibu

hamil dan ibu pada masa nifas yakni 163 kasus yang mengalami KEK (Dinkes,

2009).

         Untuk mengetahui lebih jauh implementasi atau pelaksanaan program ini

dilapangan perlu adanya suatu penelitian yang akan mendiskripsikan sudah sejauh
                                                                                  5




   mana program ini dilaksanakan?, bagaimana dengan dananya?, dan bagaimana

   hasil yang sudah dicapai, dan semua itu memerlukan evaluasi kinerja dari pada

   pelaksanaan program yang telah ditetapkan.

              Berdasarkan uraian diatas, sehingga saya merasa terinspirasi untuk

   mengadakan penelitian dengan mengambil judul yakni “Evaluasi pelaksanaan

   program perbaikan gizi masyarakat dalam mencapai Visi Misi Indonesia Sehat

   2010 di Kota Kendari tahun 2010”.


B. Rumusan Masalah

           Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat ditarik rumusan masalah

   penelitian yakni : Bagaimanakah gambaran pelaksanaan Program Perbaikan Gizi

   Masyarakat dalam mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010 di Kota Kendari

   tahun 2010?

C. Tujuan Penelitian

   1. Tujuan Umum

              Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan Program Perbaikan Gizi

      Masyarakat dalam mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010 di Kota Kendari

      tahun 2010.


   2. Tujuan Khusus

      a.   Mengevaluasi pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat dengan

           indikator pelaksanaan di nilai dari aspek input yang terdiri dari tenaga,

           fasilitas dan dana.
                                                                                6




        b.   Mengevaluasi pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat di nilai

             dari aspek proses yakni perencanaan dan pelaksanaan program.

        c.   Mengevaluasi pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat di nilai

             dari aspek output yang terdiri atas ketepatan sasaran dan tercapainya

             cakupan program.


D. Manfaat Penelitian


   1.    Manfaat praktis adalah sebagai sumber informasi tentang       pelaksanaan

         program perbaikan gizi masyarakat dalam mencapai Visi Misi Indonesia

         Sehat 2010 di Kota Kendari tahun 2010.

   2.    Manfaat ilmiah adalah sebagai bahan untuk menambah pengetahuan atau

         dapat menjadi tambahan asupan ilmu tentang pelaksanaan program

         perbaikan gizi masyarakat dalam mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010

         di Kota Kendari tahun 2010.

   3.    Manfaat bagi peneliti adalah untuk menambah ilmu pengetahuan dan

         pengalaman bagi penulis mengenai pelaksanaan program perbaikan gizi

         masyarakat dalam mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010 di Kota Kendari

         tahun 2010.
                                                                                        7




                           II TINJAUAN PUSTAKA



A. Tinjauan Tentang Evaluasi

   1. Ruang Lingkup Evaluasi

             Evaluasi merupakan kegiatan lebih lanjut dari kegiatan pengukuran

      dan pengembangan indikator; oleh karena itu dalam melakukan evaluasi

      harus berpedoman pada ukuran-ukuran dan indikator yang telah disepakati

      dan ditetapkan. Evaluasi juga merupakan suatu proses umpan balik atas

      kinerja masa lalu yang berguna untuk meningkatkan produktivitas dimasa

      datang, sebagai suatu       proses yang berkelanjutan, evaluasi menyediakan

      informasi mengenai kinerja dalam hubungannya terhadap tujuan dan

      sasaran (Notoatmodjo, 2003).

             Evaluasi adalah penilaian atas hasil (dalam hal pengetahuan,

      keterampilan, dan sikap yang baru atau yang telah ditingkatkan) dan dampak

      (pada pemecahan atau pengurangan masalah kesehatan dan pada keseatan

      masyarakat yang lebih baik) pelatihan dan proses yang melahirkan hasil dan

      dampak tersebut (Mc Mahon, 1999).

             Evaluasi program merupakan evaluasi terhadap kinerja program,

      sebagaimana     diketahui    bahwa     program    dapat    didefinisikan     sebagai

      kumpulan      kegiatan-kegiatan      nyata,   sistematis    dan    terpadu     yang

      dilaksanakan oleh satu atau beberapa instansi instansi pemerintah ataupun

      dalam rangka      kerjasama dengan masyarakat,             atau   yang merupakan
                                                                              8




   partisipasi aktif masyarakat, guna mencapai sasaran dan tujuan yang telah

   ditetapkan. Evaluasi program merupakan hasil komulatif dari berbagai

   kegiatan (Mac Kenzie, 2007).

          Evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaitu

   mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian

   pembinaan yang tepat pula. Evaluasi program sangat penting dan bermanfaat

   terutama bagi pengambil keputusan. Alasannya adalah dengan masukan hasil

   evaluasi program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tindak

   lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan (Antina Nevi, 2009).

          Evaluasi program kesehatan merupakan bagian dari proses manajerial

   pembangunan kesehatan nasional yang lebih luas. Dalam melakukan evaluasi

   kita sebenarnya menetapkan suatu nilai. Kita dapat mengurangi unsur

   subyektif pada penilaian tersebut dengan mendasarkan penilaian atas fakta-

   fakta yang ada. Penerapannya menghendaki pikiran yang terbuka dan mampu

   memberi kritik yang membangun menuju kepada pemikiran pendapat yang

   sehat (Soekarwati, 1995).


2. Tujuan Evaluasi

   Evaluasi memiliki tujuan sebagai berikut:

   a. Membantu perencanaan di masa yang akan datang.

   b. Mengetahui apakah sarana yang tersedia dimanfaatkan dengan sebaik-

      baiknya.
                                                                               9




c. Menentukan kelemahan dan kekuatan daripada program, baik dari segi

   teknis maupun administratif yang selanjutnya diadakan perbaikan-

   perbaikan.

d. Membantu menentukan strategi, artinya mengevaluasi apakah cara yang

   telah dilaksanakan selama ini masih bisa dilanjutkan, atau perlu diganti.

e. Mendapatkan dukunagn dari psonsor (pemerintah atau swasta), berupa

   dukungan moral maupun material.

f. Motivator, jika program berhasil, maka akan memberikan kepuasan dan

   rasa bangga kepada para staf, hingga mendorong mereka bekerja lebih giat

   lagi.

       Tujuan pokok atau tujuan utama dari evaluasi atau melakukan

penilaian di bidang kesehatan adalah adanya perubahan perilaku, dalam teori

dinyatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh sikapnya. Kalau

berhasil mengubah sikap seseorang, maka ia akan mengubah perilakunya

(Mubarak dkk., 2009).

       Penilaian sebagai salah satu fungsi manajemen bartujuan untuk

mempertanyakan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan dari suatu perencanaan,

sekaligus mengukur seobyektif mungkin hasil-hasil pelaksanaan itu dengan

memakai ukuran-ukuran yang dapat diterima pihak-pihak yang terlibat dalam

suatu perencanaan. Penilaian adalah suatu upaya untuk mengukur member

nilai secara obyektif pencapaian hasil-hasil yang telah direncanakan

sebelumnya. Tujuan utama dari penilaian adalah agar hasil penilaian tersebut
                                                                            10




   dapat dipakai sebagai umpan balik untuk perencanaan sebelumnya

   (Muninjaya, 2004).

3. Dinamika Evaluasi

          Salah satu ciri evaluasi adalah sebagai suatu proses yang

   berkesinambungan, maka dengan sendirinya disamping mempunyai ciri-ciri

   yang   khas   juga   mencerminkan     sifat   kedinamisannya   dengan   cara

   membedakan: input, procces dan output. Pada sisi input, evaluasi

   pengembangan personil sangat penting untuk melihat kebutuhan sesuai

   dengan keterampilan yang diharapkan, sehingga dapat dikembangkan

   pengawasan yang mendukung pada organisasi logistik serta mekanisme

   pendukung lainnya. Sebagai suatu langkah awal yang penting dalam sisi input

   adalah evaluasi terhadap penetapan tujuan, dikaitkan dengan visi dan misi

   program   atau   organisasi, serta   penetapan sasaran program itu sendiri

   (Azwar, 1996).

          Pada sisi proses adalah untuk mengarahkan sumber-sumber daya agar

   menghasilkan pelayanan yang diinginkan yang juga harus dievaluasi. Aspek

   proses evaluasi dapat diikut sertakan sebagai input sumber daya, atau

   dipandang sebagai proses output, akan tetapi harus di identifikasi secara

   terpisah untuk membedakan kapasitas tindakan dari penggunaan nyata dari

   kapasitas tersebut. Output adalah merupakan hasil pelayanan yang memberi

   dampak yang berbeda-beda terhadap status kesehatan (Mubarak dkk., 2009).
                                                                               11




4. Metode Evaluasi

          Berdasarkan waktunya evaluasi/penilaian, maka penilaian dapat

   dilakukan sebagai berikut:

   a. Penilaian rutin (concurrent evaluation atau progress report). Dalam setiap

      program penilaian rutin ini hendaknya merupakan bagian yang tidak

      terpisahkan dari program tersebut. Dengan demikian, penilaian akan

      berjalan berkesinambungan dan teratur, serta bersamaan dengan

      pelaksanaan program itu sendiri. Penilaian dilakukan oleh staf program

      dalam bentuk progres report, dengan cara ini perbaikan-perbaikan pun

      dilakukan sejak awal. Demikian pula kekuatan-kekuatan dari program

      dapat segera didapatkan dan dapat diterapkan dalam melanjutkan program

      tersebut. Penilaian meliputi semua aspek program, termasuk reaksi

      masyarakat terhadap program tersebut

   b. Penilaian Berkala (periodical evaluation), yaitu penilaian yang dilakukan

      pada setiap akhir dari suatu bagian tertentu dari program, seperti tiap enam

      bulan, satu tahun, dua tahun, dan sebagainya.

   c. Penilaian khusus (ad-hoc evaluation), yaitu penilaian yang dilakukan

      setiap saat yang diperlukan.

   d. Penilaian akhir (terminal evaluation), yaitu penilaian yang dilakukan pada

      akhir suatu program atau beberapa waktu sesudah akhir suatu program.

      Jadi ini merupakan penilaian terhadap pencapaian tujuan akhirnya.

      (Mubarak dkk., 2009)
                                                                        12




       Menurut Mantra (1997) secara umum evaluasi dapat dibedakan atas

beberapa tahap yaitu:

a. Evaluasi pada tahap awal program

           Evaluasi yang dilakukan pada tahap pengembangan program

   sebelum program dimulai. Evaluasi ini akan menghasilkan informasi yang

   akan di pergunakan untuk mengembangkan program agar program dapat

   lebih sesuai dengan situasi dan kondisi sasaran.

b. Evaluasi pada tahap proses

           Evaluasi yang dilakukan disini adalah pada saat program sedang

   dilakasanakan. Tujuannya adalah untuk mengukur apakah program yang

   sedang berjalan telah sesuai dengan rencana atau tidak atau apakah telah

   terjadi penyimpangan yang dapat merugikan pencapaian tujuan dari

   program.

c. Evaluasi pada akhir program

           Evaluasi yang dilakukan pada saat program telah selesai

   dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pernyataan efektifitas atau

   tidaknya suatu program selama kurun waktu tertentu. Sehingga dapat

   dipergunakan dalam pengambilan keputusan untuk merencanakan dan

   mengalokasikan resources.

d. Evaluasi dampak program

           Evaluasi yang menilai keseluruhan efektifitas program dalam

   menghasilkan perubahan sikap dan perilaku pada target sasaran, evaluasi
                                                                          13




   dampak merupakan kebalikan dari penilaian kebutuhan program mana

   kalau evaluasi kebutuhan menentukan kebutuhan suatu program

   sedangkan penilaian dampak akan menentukan tingkat kebutuhan yang

   nyata setelah diintervensi oleh program kesehatan.

           Sedangkan dilihat dari implikasi hasil evaluasi bagi suatu

    program, dibedakan adanya jenis evaluasi, yakni evaluasi formatif dan

    evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dilakukan untuk mendiagnosis suatu

    program yang hasilnya digunakan untuk pengembangan atau perbaikan

    program. Biasanya evaluasi formatif dilakukan pada proses program

    (program masih berjalan). Sedangkan evaluasi sumatif adalah suatu

    evaluasi yang dilakukan untuk menilai hasil akhir dari suatu program.

    Biasanya evaluasi sumatif ini dilakukan pada waktu program telah selesai

    (akhir program). Meskipun demikian pada praktek evaluasi program

    sekaligus mencakup kedua tujuan tersebut (Notoatmodjo, 2003).

Langkah-langkah dalam evaluasi/penilaian adalah sebagai berikut :

1. Menentukan tujuan evaluasi

          Tujuan    dari   evaluasi   harus   dimengerti,   sebab   hal   ini

   mempengaruhi bagian apa dari program yang perlu diamati, selanjutnya

   memengaruhi pula macam informasi yang akan dikumpulkan.

2. Menentukan bagian apa dari program yang akan dievaluasi

          Apakah yang dievaluasi masukannya, proses, kelauaran, atau

   dampaknya, atau kombinasi dari bagian-bagian tersebut.
                                                                          14




3. Mengumpulkan data awal (base line data)

          Data ini dapat dipergunakan sebagai pembanding, anatara sebelum

   diadakan suatu kegiatan dengan situasi sesudah diadakan kegiatan. Data

   awal yang diperlukan bergantung pada apa yang akan dinilai dan maksud

   penilaian.

4. Mempelajari tujuan program

          Tujuan program merupakan syarat penting sutau program, agar

   penilaian dapat dilakukan dengan baik. Tujuan harus dapat dikur dan jelas.

   Tujuan dapat dirumuskan menjadi tujuan jangka pendek, menengah, dan

   panjang. Tujuan jangka pendek adalah tujuan yang ingin dicapai dalam

   waktu dekat, merupakan loncatan untuk bisa sampai pada tujuan jangkat

   menengah. Tujuan jangka menengah untuk bisa samapi pada tujuan yang

   harus dicapai dulu, untuk bisa mencapai tujuan jangak panjang. Tujuang

   jangka pangjang merupakan tujuan akhir dari sebuah program.

5. Menentukan tolok ukur (indikator)

          Perlu ditetapkan patokan apa yang akan digunakan sebagai dasar

   pengukuran. Dengan kata lain, harus ditentukan apa yang akan diukur.

   Contoh, jika tujuannya adalah meningkatakan kesadaran masyarakat

   terhadap pentingnya olahraga, harus ditentukan dahulu apa yang akan

   dipakai untuk mengukur kesadaran masyarakat. Misalkan untuk mengukur

   berapa persen masyarakat yang berolahraga pada pagi hari, maka mereka
                                                                             15




      yang membiasakan olahraga pada pagi hari adalah tolok ukurnya. Hal ini

      harus dibandingkan antara sebelum dan sesudah kegiatan.

   6. Menentukan cara menilai, alat penilaian, dan sumber datanya

   7. Mengumpulkan data

   8. Mengolah dan menyimpulkan data yang didapat.

   9. Feedback (umpan balik) dan saran-saran kepada program yang akan

      dinilai (Notoatmodjo, 2007).

5. Ukuran Evaluasi

          Kegiatan dalam evaluasi, dimensi pengukuran kinerjanya harus

   ditentukan dengan jelas, yaitu meliputi ketepatan dan kesesuaian, efektifitas

   dan efisiensi, serta pertimbangan keadilan. Ketepatan dan kesesuaian

   memandang kinerja dengan apakah tindakan-tindakan yang diambil sudah

   sesuai dengan permasalahan yang ada, sehingga tidak terjadi pemborosan

   sumber daya yang terbatas tersebut. Dengan menggunakan asumsikan

   ketepatan, maka program yang dipertimbangkan ukurannya dan cakupannya

   cukup untuk membuat suatu perbedaan yang berarti.

          Ukuran-ukuran efektifitas dan efisiensi merupakan alat utama dasar

   evaluasi program. Efektifitas diartikan sebagai penyelesaian suatu program

   dalam kaitannya dengan kebutuhan atau perhatian. Sedangkan efisiensi dan

   efektifitas biaya adalah sering kali berhubungan dengan hasil terhadap input

   (rasio output terhadap input).
                                                                           16




          Ukuran keadilan, akan merupakan tambahan kepentingan dalam

   evaluasi program kesehatan. Pendapat ini telah berkembang secara sejajar

   dengan ukuran efektifitas dan efisiensi. Secara operasional ukuran keadilan

   menciptakan pertimbangan dalam efisiensi biaya dengan demikian program

   kesehatan sedapat mungkin melakukan keadilan terhadap pelayanan bagi

   populasi yang mampu secara ekonomi dengan populasi yang kurang mampu

   secara ekonomi (Asrun, 2004).


6. Prinsip-prinsip Evaluasi

   a. Sebagai kunci pengambilan keputusan yang baik, evaluasi harus melihat

      ke depan dan berorientasi pada tindakan.

   b. Evaluasi bersifat menyeluruh dan bersifat dinamis, menaruh perhatian

      pada kebijakan pengujian dan alternatif-alternatif rencana, mengawasi

      kemajuan dalam proses penerapan dan memberi penilaian sumatif kepada

      hasil akhir.

   c. Evaluasi dilandasi prinsip manajemen berdasarkan tujuan dan dimulai

      dengan pernyataan yang jelas mengenai pengaruh-pengaruh yang harus

      dicapai pada populasi mana dan dalam jangka waktu, berapa/kapan,

   d. Strategi untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan harus

      diperiksa ketepatan dan kesesuaiannya.

   e. Menyesuaikan diri dengan prinsip manajemen berdasarkan tujuan dan

      dengan kejelasan pengaruh yang harus dicapai pada populasi mana dan

      jangka waktu berapa/kapan.
                                                                          17




f. Ketepatan waktu dan tempat laporan evaluatif harus disesuaikan dengan

   kebutuhan akan keputusan yang tepat waktu.

g. Frekuensi pelaporan sangat banyak tergantung pada laju perubahan

   keadaan-keadaan yang menuntut tindakan.

h. Karena evaluasi bersifat membandingkan, maka evaluasi tergantung pada

   indikator-indikator yang menggambarkan tingkat dan rasio yang tepat dan

   pada tingkat-tingkat penyelesaian yang tepat.

i. Penilaian harus membedakan antara hasil yang merupakan pusat perhatian

   pengendalian keputusan dan keluaran yang timbul sebagai akibat

   ketidakpastian dan kesempatan.

j. Efisiensi, efektifitas, keadilan harus di definisikan dengan jelas dan

   perimbangan harus dibuat eksplisit.

       Evaluasi di bidang kesehatan adalah suatu kegiatan yang penting

untuk menilai kualitas, rasionalitas, efektifitas, efisiensi dan equitas pada

pelayanan kesehatan. Evaluasi suatu program kesehatan yang menyeluruh

adalah eveluasi yang dilakukan terhadap 3 komponen yaitu masukan (input),

pelaksanaan (procces), dan keluaran (output) (Seokarwati, 1995).


Tipe-tipe evaluasi adalah :

a. Penilaian akan kebutuhan program. Penilaian ini di laksanakan pada tahap

   sebelum program ini dilaksanakan disuatu daerah dengan maksud agar

   program yang direncanakan sesuai masalah dan kebutuhan masyarakat

   setempat.
                                                                       18




b. Penilaian perencanaan program. Penilaian ini dilaksanakan pada tahap

   untuk menilai kelayakan dan menandainya rencana program dan

   kebutuhan masyarakat.

c. Penilaian penampilan kerja. Penilaian untuk melihat kesesuaian antara

   pelaksanaan nyata program dan rencana dengan perhatian diarahkan pada

   hasilnya dalam segi kuantitas maupun kualitas.

d. Penilaian efek. Penilaian terhadap pengaruh langsung dari hasil suatu

   program.

e. Penilaian dampak. Penilaian untuk mengetahui pengaruh dilaksanakannya

   suatu program baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap

   masyarakat (Farida, Y.T, 2000)

         Evaluasi program kesehatan merupakan bagian dari proses

manajerial pembangunan kesehatan nasional yang lebih luas. Dalam

melakukan evaluasi kita sebenarnya menetapkan suatu nilai. Kita dapat

mengurangi unsur subyektif pada penilaian tersebut dengan mendasarkan

penilaian atas fakta-fakta yang ada. Penerapannya menghendaki pikiran yang

terbuka dan mampu memberi kritik yang membangun menuju kepada

pemikiran pendapat yang sehat (Rita, S., 1990).
                                                                              19




B. Tinjauan Tentang Visi Misi Indonesia Sehat 2010


   1. Ruang Lingkup Visi Misi Indonesia Sehat 2010

             Dalam Indonesia Sehat 2010, lingkungan yang diharapkan adalah

      yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat, yaitu lingkungan yang bebas

      dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai,

      perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang

      berwawasan kesehatan, serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling

      tolong menolong dengan memelihara nilai-nilai budaya bangsa. Perilaku

      masyarakat Indonesia Sehat 2010 yang diharapkan adalah yang bersifat

      proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko

      terjadinya penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan

      masyarakat. Selanjutnya kemampuan masyarakat yang diharapkan pada masa

      depan adalah yang mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu

      tanpa adanya hambatan, baik yang bersifat ekonomi maupun non ekonomi

      (Depkes RI, 1999).

             Pelayanan kesehatan bermutu yang dimaksud di sini adalah pelayanan

      kesehatan   yang     memuaskan   pemakai    jasa   pelayanan   serta   yang

      diselenggarakan sesuai dengan standar dan etika pelayanan profesi.

      Diharapkan dengan terwujudnya lingkungan dan perilaku hidup sehat serta

      meningkatnya kemampuan masyarakat tersebut di atas, derajat kesehatan

      perorangan, keluarga dan masyarakat dapat ditingkatkan secara optimal. Visi

      Indonesia Sehat 2010 yang telah dirumuskan menyatakan bahwa, gambaran
                                                                           20




masyarakat Indonesia dimasa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan

kesehatan adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh

penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku yang sehat,

memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu

secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-

tingginya diseluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 1999).

       Pengertian sehat meliputi kesehatan jasmani, rohani, serta sosial dan

bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Masyarakat

Indonesia yang dicita citakan adalah masyarakat Indonesia yang mempunyai

kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat sehingga tercapai

derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, sebagai salah satu unsur dari

pembangunan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya (Depkes RI, 2004).

       Visi tersebut telah tiga tahun yang lalu berhasil dirumuskan oleh

Departemen Kesehatan RI yang mestinya telah dijabarkan kedalam program

kerja yang lebih bersifat operasional untuk mencapai visi itu. Beberapa tahun

lagi kita akan mencapai tahun 2010, dan saat itu kita tentu akan menyaksikan

bersama apakah gambaran tersebut akan menjadi kenyataan?. Namun yang

perlu kita renungkan visi Indonesia sehat 2010 sebenarnya visi siapa? Bila itu

merupakan visi Departemen Kesehatan RI saja atau yang dirumuskan hanya

oleh beberpa pejabat saja sedangkan dalam cita citanya adalah masyarakat

Indonesia yang mempunyai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup

sehat (Depkes RI, 2004).
                                                                           21




       Pertanyaanya berikutnya adalah bagaimana masyarakat Indonesia ikut

merasa memiliki terhadap visi itu karena ia ditempatkan sebagai subyek yang

harus berubah. Namun jika itu adalah perwujudan dari visi bangsa Indonesia,

pertanyaanya adalah sejauh mana keterlibatan masyarakat/bangsa Indonesia

ini terlibat dalam merumuskan visi itu sehingga mereka juga punya komitment

untuk merealisasikan visi tersebut. Bila kita lupakan saja itu visi siapa yang

jelas seperti yang saya uraikan sebelumnya bahwa status kesehatan bangsa

Indonesia merupakan kegiatan atau upaya bersama, maka yang harus kita

upayakan adalah bagaimana visi Indonesia 2010 sehat, itu menjadi milik dan

bagian dalam kehidupan bangsa Indonesia. Tanpa masyarakat dan sektor lain

merasakan itu, maka komitmennya untuk ikut mewujudkan visi tersebut juga

akan lemah, karena untuk mewujudkan visi dibutuhkan komitmen semua

pihak-pihak yang ada dalam lingkungan visi Indonesia Sehat yakni

pemerintah dan masyarakat (stakeholder) (Depkes RI, 2004).

       Kita sebagai bangsa Indonesia perlulah merenung sejenak untuk

membayangkan dapatkan visi mulia “Indonesia Sehat 2010 ” itu akan

terwujud. Tentunya kita tidak berharap bahwa pada saatnya nanti visi itu akan

menjadi sekedar jargon yang terlewatkan dan terlupakan begitu saja.

Sementara dunia telah metapkan status kesehatan masyarakat menjadi salah

satu komponen Human Development Index ( HDI ) yaitu indikator kemajuan

kualitas SDM suatu bangsa (Yudi Iswanto, 2008).
                                                                            22




2. Dasar-Dasar Pembangunan Kesehatan

            Pada hakekatnya adalah nilai kebenaran dan aturan pokok sebagai

   landasan untuk berfikir atau bertindak dalam pembangunan kesehatan. Dasar

   ini merupakan landasan dalam penyusunan visi, misi, dan strategi kesehatan

   secara nasional yang meliputi: perikemanusiaan, pemberdayaan dan

   kemandirian, adil dan merata dan pengutamaan dan manfaat (Depkes RI,

   1999).

3. Visi

          Gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai

   melalui pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa, dan negara yang

   ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku

   hidup sehat secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang

   setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 1999).

4. Misi

            Untuk mewujudkan visi INDONESIA SEHAT 2010, ditetapkan empat

   misi pembangunan kesehatan sebagai berikut:

      a. Menggerakan pembangunan nasional berwawasan kesehatan

      b.    Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat

      c. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu,

            merata dan terjangkau

      d. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan

            masyarakat berserta lingkungannya (Depkes RI, 1999).
                                                                       23




5. Arah

          Arah pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 sesuai

  dengan arah pembangunan nasional selama ini, yakni:

   a. Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari pembangunan

      nasional.

   b. Pelayanan kesehatan baik oleh pemerintah maupun masyarakat harus

      diselengarakan secara bermutu, adil dan merata dengan memberikan

      pelayanan khusus kepada penduduk miskin, anak-anak, dan para lanjut

      usia yang terlantar, baik di perkotaan mapun di pedesaan.

   c. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan strategi pembangunan

      profesionalisme, desentralisasi dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

      Masyarakat (JPKM) dengan memperhatikan berbagai tantangan yang ada

      saat ini.

   d. Upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan masyarakat dilaksanakan

      melalui program peningkatan perilaku hidup sehat, pemeliharaan

      lingkungan sehat, pelayanan kesehatan dan didukung oleh sistem

      pengamatan, Informasi dan manajemen yang handal.

   e. Pengadaan dan peningkatan prasarana dan sarana kesehatan terus

      dilanjutkan.

   f. Tenaga yang mempunyai sikap nasional, etis dan profesional, juga

      memiliki semangat pengabdian yang tinggi kepada bangsa dan negara,
                                                                               24




         berdisiplin, kreatif, berilmu dan terampil, berbudi luhur dan dapat

         memegang teguh etika profesi (Depkes RI, 1999).

6. Tujuan

            Tujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup

     sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang

     optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang

     ditandai penduduk yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat,

     memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu

     secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di

     seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 1999).


7.     Sasaran

       a. Kerjasama lintas sektoral

       b. Kemandirian masyarakat dan kemitraan swasta

       c. Perilaku hidup sehat

       d. Lingkungan sehat

       e. Upaya kesehatan

       f. Manajemen pembangunan kesehatan

       g. Derajat kesehatan (Depkes RI, 1999).


 8. Kebijakan

        a. Peningkatan perilaku, kemandirian masyarakat dan kemitraan swasta

        b. Peningkatan kesehatan lingkungan
                                                                                25




       c. Peningkatan upaya kesehatan

       d. Peningkatan sumber daya kesehatan

       e. Peningkatan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan

       f. Peningkatan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penggunaan

          sediaan farmasi, makanan dan alat kesehatan yang tidak absah/ilegal

       g. Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan (Depkes RI,

          1999).


  9. Strategi

       a. Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan

       b. Profesionalisme

       c. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat

       d. Desentralisasi (Depkes RI, 1999).


10. Program Kesehatan Unggulan

         Menyadari keterbatasan sumber daya yang tersedia serta disesuaikan

   dengan prioritas masalah kesehatan yang ditemukan dalam masyarakat dan

   kecendrungannya pada masa mendatang, maka untuk meningkatkan

   percepatan perbaikan derajat kesehatan masyarakat yang dinilai penting untuk

   mendukung keberhasilan program pembangunan nasional, ditetapkan 10

   program kesehatan, sebagai berikut:

       a. Program Kebijakan Kesehatan, Pembiayaan Kesehatan dan Hukum

          Kesehatan
                                                                              26




         b. Program Perbaikan Gizi

         c. Program Pencegahan Penyakit Menular

         d. Program Peningkatan Perilaku Hidup Sehat dan Kesehatan Mental

         e. Program Lingkungan Pemukiman, Air dan Udara Sehat

         f. Program Kesehatan Keluarga, Kesehatan Reproduksi dan Keluarga

            Berencana

         g. Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja

         h. Program Anti Tembakau, Alkohol dan Madat

         i. Program Pengawasan Obat, Bahan Berbahaya, Makanan, dan

         j. Program Pencegahan Kecelakaan Keselamatan Lalu Lintas

          (Depkes, 2004).


C. Tinjauan Umum Tentang Gizi


          Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang

   dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi,

   penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk

   mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ,

   serta menghasilkan energy (Achmad Djaeni, 2000).

          Dalam definisi gizi dikemukakan bahwa akhir dari suatu proses gizi yang

   diharapkan adala terciptanya suatu keadaan yang menyehatkan jasmani dan

   rohani. WHO-1995 mendefinisikan sehat adalah suatu keadaan sehat secara

   prima baik fisik maupun mental yang komplet, sehat sosial dan produktif, tidak
                                                                           27




semata-mata hanya terhidar dari rasa sakit/penyakit dan kelemahan (Syahbudin,

2001).

         Dikatakan bahwa mempelajarai gizi berarti mempelajari makanan. Bila

demikian halnya hubugan gizi dengan kesehatan, berarti juga mempelajari

hubungan makanan dengan kesehatan. Jadi untuk memperoleh keadaan sehat

diatas, berbagai cara yang perlu ditempuh namun satu yang perlu dilakukan

ialah memenuhi kebutuhan tubuh akan nutrient atau zat gizi sehari-hari dengan

cara mengkonsumsi       berbagai   makanan dan minuman yang dianjurkan

(Khomsam, 2004).

         Persoalan timbul pada makanan adalah bukan semata makanan apa dan

makanan apa yang dapat mengenyangkan tubuh, tapi makanan juga hendaknya

dapat menyehatkan tubuh. Bagi sebagian masyarakat yang telah mengetahui akan

pentingnya gizi, umumnya mereka akan selalu berusaha untuk mencapai

makanan jenis apa dan berapa jumlah yang harus dimakan agar dapat

menyehatkan tubuh. Persoalan lain muncul dimana sering orang mengira bahwa

untuk mendapatkan nilai kesehatan tubuh yang optimal, harus makan yang

banyak tanpa melihat jenis dan jumlah makanan tersebut sesuai yang dianjurkan.

Tidak jarang orang merasa masih ingin makan tapi perut suda kenyang atau

sebaliknya sudah merasa puas/kenyang tapi kebutuhan akan gizi belum

terpenuhi.    Ini merupakan salah satu akibat dari salah makan, yang pada

gilirannya akan timbul gizi salah atau malnutrition, yang banyak diderita oleh

masyarakat (Syahbudin, 2001).
                                                                                 28




D. Tinjauan Tentang Program Perbaikan Gizi Masyarakat

           Status gizi masyarakat dapat digambarkan terutama pada status anak

   balita dan wanita hamil. Oleh karena itu sasaran dari program perbaikan gizi

   masyarakat ini berdasarkan siklus kehidupan yaitu dimulai dari wanita usia

   subur, dewasa, ibu hamil, bayi baru lahir, balita, dan anak sekolah.


   1. Masalah Gizi Masyarakat Indonesia

      a.   Berat Bayi lahir Rendah (BBLR)

      b.   Gizi Kurang pada Balita

      c.   Gangguan Pertumbuhan

      d.   Kurang Energi Kronis (KEP) pada Wanita Usia Subur (WUS)

      e.   Ibu Hamil (Bumil)

              Pokok masalah di masyarakat yakni kurangnya pemberdayaan

      keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat berkaitan

      dengan berbagai faktor langsung maupun tidak langsung dan yang menjadi

      akar masalah yakni kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga serta

      kurangnya    pemanfaatan     sumber    daya   masyarakat     terkait   dengan

      meningkatnya pengangguran, inflasi dan kemiskinan yang disebabkan oleh

      krisis ekonomi, politik dan keresahan sosial yang menimpa Indonesia sejak

      tahun 1997. Keadaan tersebut teleh memicu munculnya kasus-kasus gizi

      buruk akibat kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga yang tidak memadai

      (Depkes, 1999).
                                                                             29




2. Tujuan Program

         Program perbaikan gizi masyarakat diarahkan pada kelompok wanita

  usia subur, pria/wanita dewasa, bayi dengan berat lahir rendah, ibu hamil, ibu

  menyusui, ibu yang mempunyai balita, balita dan anak sekolah.

  a. Tujuan Umum:

    Menurunkan masalah gizi masyarakat utamanya masalah kurang energi

    kalori terutama di daerah miskin baik di pedesaan maupun di perkotaan.

  b. Tujuan Khusus:

    1. Program pemberdayaan keluarga, melalui Upaya Perbaikan Gizi

       Masyarakat secara terintegrasi dengan upaya peningkatan ekonomi dan

       ketahanan pangan

    2. Pemantauan dan promosi pertumbuhan balita, pokok program ini

       dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan keluarga melakukan

       deteksi dini gangguan pertumbuhan pada anak.

    3. Program Pendidikan gizi, untuk mendukung tercapainya keluarga sadar

       gizi.

    4. Program supplementasi gizi, bertujuan untuk memberikan tambahan gizi

       kepada kelompok rawan utamanya untuk keluarga miskin dalam jangka

       pendek. Jenis suplementasi gizi yang diberikan berupa :

        a. Makanan Pendamping ASI          untuk anak usia 6-11 bulan pada

               keluarga miskin

        b. Pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil.
                                                                               30




         c. Supplementasi kapsul Vitamin A untuk anak balita dan ibu nifas.

         d. Supplementansi zat besi untuk ibu hamil.

         e. Suppplementasi kapsul Yodium terutama pada daerah endemis

               sedang dan berat.

    5. Program Fortifikasi bahan makanan, bertujuan meningkatkan mutu gizi

         pada bahan makanan yang sering dan banyak dikonsumsi masyarakat

         utamanya pada keluarga miskin dan rawan gizi.

    6. Program pelayanan gizi, mencakup pengembangan tatalaksana kasus

         salah gizi, konsultasi gizi dan pelayanan gizi di institusi kesehatan dan

         non kesehatan.

    7. Program gizi klinik, bertujuan menyediakan sistem informasi untuk

         mendukung strategi dan kebijakan program gizi. Terdiri dari:

         pemantauan status gizi, masalah gizi, jejaring informasi pangan dan gizi

         (Perpres RI, 2007).


3. Sasaran Program

          Untuk mencapai tujuan tersebut, telah ditetapkan sasaran nasional

  pembangunan di bidang pangan dan gizi tahun 2005-2010. Sedangkan sasaran

  di tingkat daerah harus direncanakan sesuai dengan potensi daerah. Sasaran

  tingkat nasional adalah:

   a. Sekurang-kurangnya 80% keluarga telah mandiri sadar gizi

   b.   Menurunnya prevalensi kurang energi kronis (KEK) ibu hamil menjadi

        20 %
                                                                              31




   c. Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 26,4 % (1999)

         menjadi 20 % (2005) dan sasaran akhir untuk tahun 2010 menjadi 8 %

         dan gizi buruk dari 8,1% (1999) menjadi 5% (2005) dan sasaran akhir

         untuk tahun 2010 menjadi 3 %

   d. Pemantauan pertumbuha balita: Balita yang naik berat badannya (80 %),

         Balita Bawah Garis Merah (< 15 %).

   e.    Mencegah meningkatnya prevalensi gizi lebih pada anak balita dan

         dewasa setinggi-tingginya berturut-turut 3 % dan 10%

   f. Meningkatnya        persentase   ibu   hamil   yang   mendapatkan   yang

         mendapatkan tablet Fe mencakup 90 %

   g. Meningkatnya persentase bayi yang mendapatkan ASI Ekslusif mencakup

         60 %.

   h. Meningkatnya persentase balita yang mendaptkan Vitamin A 2 kali

         pertahun mencapai 90 %.

   i. Meningkatkan konsumsi garam beryodium dari 73,2 % menjadi 80 %.

         (Perpres RI, 2007).

4. Strategi Program dalam Penanggulangan Masalah Gizi

            Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, akan ditempuh strategi pokok

    sebagai acuan penanggulangan masalah gizi masyarakat, sebagai berikut :

    a.    Pemberdayaan keluarga di bidang kesehatan dan gizi

          Pemberdayaan keluarga adalah proses dimana keluarga-keluarga yang

          mempunyai masalah kesehatan dan gizi bekerja bersama-sama
                                                                        32




     menanggulangi masalah yang mereka hadapi. Cara terbaik untuk

     membantu mereka adalah ikut berpartisipasi dalam memecahkan

     masalah yang mereka hadapi. Upaya perbaikan gizi yang dilakukan

     adalah dengan meningkatkan kemandirian dengan fokus keluarga

     mandiri sadar gizi dengan harapan mereka dapat mengenal dan mencari

     pemecahan masalah yang dihadapi. Kegiatan operasional yang

     dilaksanakan adalah:

     1.   Pemetaan keluarga mandiri sadar gizi oleh dasawisma dalam rangka

          survey mawas diri masalah gizi keluarga.

     2.   Asuhan dan konseling gizi Pada akhir tahun 2005, 50% institusi

          pelayanan kesehatan telah melaksanakan asuhan dan konseling gizi

          bagi keluarga dengan tenaga profesional dengan menggunakan

          tatalaksana asuhan dan konseling gizi.

b.   Pelaksanaan intervensi harus dilakukan         secara fokus pada upaya

     menurunkan kematian bayi, ibu,          anak dan gizi kurang, dengan

     pendekatan pada daur kehidupan dan multi-program/pelayanan kepada

     masyarakat secara terpadu.

c.   Mengkaji semua komponen yang berakibat pada tingginya angka

     kematian. Komponen tersebut antara lain angka harapan hidup, angka

     melek huruf, pendapatan perkapita, presentase penduduk tanpa akses air

     bersih, fasilitas kesehatan dan persentase balita kurang gizi.
                                                                                33




    d.    Menggunakan peluang desentralisasi, yaitu pendelegasian wewenang

          yang lebih besar kepada pemerintah daerah untuk mengatur sistem

          pemerintah sendiri dan menyelenggarakan upaya penanganan masalah

          gizi harus mulai dari masalah dan potensi masing-masing daerah.

    e.    Pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Pada dasarnya

          kemampuan daya beli pangan dan akses pelayanan sosial sangat

          mempengaruhi keadaan gizi masyarakat

    f.    Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dengan meningkatkan

          cakupan pelayanan serta profesionalisme petugas.

    g.    Melaksanakan Program Perbaikan Gizi masyarakat sesuai dengan

          standart program perbaikan gizi masyarakat yang telah ditetapkan oleh

          pemerintah.

    h.    Mengalokasikan anggaran secara efektif sesuai skala prioritas (wilayah

          dan sasaran) (Depkes, 1999).


5. Tinjauan Tentang Input, Proses dan Ouput dari Program Perbaikan Gizi

   Masyarakat

   a. Input

         1.   Tenaga

                       Ketersediaan input untuk program perbaikan gizi masyarakat

              di Puskesmas yakni petugas gizi. Pelatihan petugas gizi dipakai salah

              satu metode pendidikan khusus untuk meningkatkan pengetahuan

              dan keterampilan petugas dan penanganan kasus gizi di Masyarakat.
                                                                      34




     Pelatihan seharusya merupakan fungsi yang terus menerus seperti

     pelatihan    peningkatan   manajemen    Program    Perbaikan   Gizi

     Masyarakat (PPGM) (Depkes, 2003).

              Dalam   Kepmenkes     No.     1202/MENKES/SK/VIII/2003

     tanggal 21 Agustus tentang Indikator Indonesia Sehat 2010 dan

     Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota

     Sehat, indikator tenaga kesehatan yang masuk dalam indikator

     sumber daya kesehatan adalah untuk jenis tenaga gizi memiliki

     standart pensyaratan tiap 100.000 penduduk memiliki 22 tenaga gizi

     yang berlatar belakang pendidikan dari gizi. Indikator diterjemahkan

     dalam bentuk angka kebutuhan tenaga dengan mengalihkannya

     terhadap proyeksi jumlah penduduk tahun 2010 untuk Kabupaten

     Kendari sebesar 256.975 jiwa (Depkes, 2003).

2.   Sarana

              Sarana pemeriksaan adalah sarana standar kebutuhan untuk

     pemeriksaan masalah gizi di masyarakat seperti timbangan seca,

     microtoice, leghtboard, pita lila, pita circumference, caliper,

     timbangan biasa, buku-buku pedoman khususnya yang menyangkut

     masalah gizi di masyarakat maupun bahan penyuluhan Perbaikan

     Gizi Masyarakat. Sarana obat-obatan di simpan digudang, obat harus

     tertata rapih dan telah dikelompokkan berdasarkan jenisnya, gudang

     obat diurus oleh petugas yang telah ditunjuk (Depkes, 2003).
                                                                       35




   3.    Dana

                Sumber dana untuk pelaksanaan program perbaikan gizi

         masyarakat di Puskesmas berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU)

         dan didistribusikan melalui Dinas Kesehatan berwujud dana

         operasional. Besar dana operasional yang diberikan tidak sama

         menurut jumlah desa/kelurahan yang menjadi tanggung jawab

         Puskesmas masing-masing (Depkes RI, 2002b).


b. Proses

   1. Perencanaan

                Perencanaan adalah suatu kegiatan atau proses analisis dan

        pemahaman sistem, penyusunan konsep dan kegiatan yang akan

        dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan demi masa depan yang

        baik (Notoatmodjo, 2007).

                 Perencanaan pada Puskesmas harus disesuaikan dengan

         analisa situasi yang ada pada program tersebut, dan perencanaan

         terhadap suatu kegiatan harus dilakukan tiap tahunnya, dengan

         menyusun waktu, dana, jadwal kegiatan, penanggung jawab tiap

         kegiatan, sasaran, dan target kedepan yang mesti diikuti pada

         kegiatan nantinya (Depkes, 2003).

   2. Pelaksanaan

                Pelaksanaan merupakan fungsi penggerak dari semua kegiatan

        program yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan program.
                                                                 36




Pelaksanaan untuk program perbaikan gizi masyarakat, terbagi atas 2

ada yang ditetapkan skala nasional, ada juga untuk skala lokalnya

tergantung dari provinsi itu masing-masing. Untuk pelaksanaan secara

Nasional meliputi kegiatan peningkatan kapasitas/kemampuan sumber

daya manusia tenaga gizi dan masyarakat menuju keluarga sadar gizi,

penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP) dilaksanakan tiap

bulan, penaggulangan anemia gizi besi dilaksanakan tiap bulan,

penanggulangan kurang vitamin A dilaksanakan 2 kali dalam setahun

yakni bulan Februari dan September, penanggulangan gizi lebih

dilaksanakan tiap ditemukannya kasus, peningkatan surveillance gizi,

dan pemberdayaan masyarakat untuk mencapai keluarga sadar gizi

(Perpres RI, 2007).

       Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat di Kota

Kendari yakni meliputi peningkatan kapasitas/kemampuan sumber

daya manusia tenaga gizi untuk menuju keluarga sadar gizi

dilaksanakan tiap tahun sekali, penanggulangan Kurang Energi Kalori

(KEK) dilaksanakan tiap bulan, penanggulangan anemia gizi besi

denga memberikan tablet Fe dilaksanakan tiap bulan, pemberian

Vitamin A dilaksanakan 2 kali dalam setahun yakni bulan Februari

dan September dan untuk Ibu Nifas pemberian Vitamin A

dilaksanakan tiap bulan, pemantauan dan pemeriksaan/penimbangan

status gizi dilaksanakan tiap bulan di posyiandu, penaggulangan gizi
                                                                       37




     buruk, gizi lebih dan gizi kurang dilaksanakan tiap ada kasus yang

     ditemukan dan Pemberian Makanan Pendamping ASI umur 6-11 bulan

     dilaksanakan pada bulan Maret tiap tahun (Dinkes, 2007).

            Program perbaikan gizi masyarakat terhadap Penetapan

     Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, pada saat

     melakukan pelaksanaan program, harus disesuaikan dengan standart

     pensyaratan pelaksanaan program yang telah ditetapkan tetapi dengan

     menyesuaikan keadaan atau wilayah yang akan dinilai (Depkes, 2003).


c. Output

  1. Ketepatan sasaran

            Sasaran utama dari program perbaikan gizi masyarakat di

     seluruh Puskesmas dalam mencapai visi misi Indonesia Sehat 2010

     yakni bayi, balita, ibu hamil dan ibu masa nifas serta penderita gizi

     buruk, gizi kurang, dan gizi lebih. (Perpres RI, 2007).

  2. Tercapainya cakupan program

            Cakupan program adalah hasil pencapaian langsung dari

     kegiatan Program Perbaikan Gizi Masyarakat. Sasaran akhir tahun

     2010 dalam mencapai visi misi Kabupaten Sehat 2010 yakni

     meningkatnya persentase ibu hamil yang mendapatkan              yang

     mendapatkan tablet Fe mencakup 90 %, menurunnya prevalensi

     kurang energi kronis (KEK) ibu hamil dan ibu nifas mencakup 10 %,

     menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 26,4 %
                                                                38




(1999) menjadi 20 % (2005) dan sasaran akhir untuk tahun 2010

menjadi 8 % dan prevalensi gizi buruk dari 8,1% (1999) menjadi 5%

(2005) dan sasaran akhir untuk tahun 2010 menjadi 3 %, mencegah

meningkatnya prevalensi gizi lebih pada anak balita dan dewasa

setinggi-tingginya berturut-turut      mencakup 3 % dan 10%,

meningkatnya persentase bayi yang mendapatkan ASI Ekslusif

mencakup 60 %, Pemberian Makanan Pendamping ASI umur 6-11

bulan dilaksanakan pada bulan Maret tiap tahun mencakup 100 %,

meningkatnya persentase balita yang mendaptkan Vitamin A 2 kali

pertain mencakup 90 % dan sekali sebulan untuk ibu pada masa nifas

dengan cakupan sebesar 90 %, meningkatkan konsumsi garam

beryodium dari 73,2 % menjadi 80 % serta pemantauan pertumbuha

balita: balita yang naik berat badannya (80 %), Balita Bawah Garis

Merah (< 15 %) (Perpres RI, 2007).

       Tiap   tahunnya   peningkatan    cakupan   Puskesmas   harus

meningkat dari tahun sebelumnya yakni sebesar 10 % tiap tahunnya

samapai mencapai target atau cakupan yang telah ditetapkan oleh

Pemerintah dalam program perbaikan gizi masyarakat menuju target

Indonesia Sehat tahun 2010 (Depkes, 2003).
                                                                              39




E. Kerangka Konseptual


          Sasaran program pelaksanaan Perbaikan Gizi Masyarakat di Kota Kendari

   tahun 2010 belum mencapai target yang ingin di capai. Banyak kendala yang

   menghambat pencapaian program tersebut. Dilihat dari aspek Input sangat erat

   kaitannya dengan tenaga yakni orang yang mengabdikan diri dan bertanggung

   jawab atas program, fasilitas atau alat yang digunakan untuk menunjang Program

   Perbaikan Gizi Masyarakat yang digunakan dan ketepatan penggunaan dana yang

   telah di anggarkan. Dari aspek process erat kaitannya dengan pelaksanaan dari

   kegiatan program dan juga perencanaan yang telah dibuat oleh Puskesmas

   terhadap Program Peraikan Gizi Masyarakat. Sedangkan dari aspek output erat

   kaitannya dengan ketepatan sasaran program, dan cakupan program atau hasil

   peningkatan derajat kesehatan masyarakat terhadap Program Perbaiakan Gizi

   Masyarakat.

          Berdasarkan uraian di atas, maka disusun kerangka konsep evaluasi

   pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat di Kota Kendari tahun 2010

   seperti yang digambarkan sebagai berikut:
                                                                          40




Input:

-     Manusia/tenaga
-     Dana
-     Fasilitas




Proses:
                                                   Evaluasi Pelaksanaan
-     Perencanaan                                   Program Perbaikan
-     Pelaksanaan                                    Gizi Masyarakat




    Output:

-     Ketepatan Sasaran
-     Tercapainya cakupan
      program




    Keterangan:

                    Variabel yang diteliti



                     Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian
                                                                                 41




                           III METODE PENELITIAN



A. Waktu dan Tempat Penelitian

    1. Tempat Penelitian

                Penelitian ini dilaksanakan pada seluruh Puskesmas di Kota Kendari

         tahun 2010 yang berjumlah 12 Puskesmas.

    2. Waktu Penelitian

                Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret tahun 2010.

B. Jenis Penelitian

             Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan survei, untuk

    mendapatkan informasi tentang gambaran pelaksanaan Program Perbaikan Gizi

    Masyarakat dalam mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010 di Kota Kendari

    tahun 2010 (Notoatmodjo, 2002).


C. Populasi dan Sampel

    1.    Populasi

                  Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga gizi pada

          seluruh Puskesmas di Kota Kendari yang berjumlah 45 petugas tenaga gizi.

   2. Sampel

                Sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu semua

         tenaga Gizi Masyarakat pada Wilayah Kerja Puskesmas di Kota Kendari

         tahun 2010.
                                                                                 42




D. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif

    Input

            Input adalah faktor-faktor pendukung dalam mencapai keberhasilan suatu

    usaha atau pekerjaan yang menyangkut berbagai pemanfaatan sumber daya atau

    sarana suatu program atau kegiatan, diantaranya yaitu:

    1.   Tenaga yakni orang yang mengabdikan diri dan memiliki kewenangan untuk

         melakukan upaya kesehatan di bidang pelayanan dan penanggulangan

         penyakit akibat malnutrisi meliputi petugas kesehatan yang memegang

         program Perbaikan Gizi Masyarakat.

         Kriteria penilaian didasarkan atas skala Guttman dengan jumlah pertanyaan

         yaitu sebanyak 3 pertanyaan yang diberi skor atau bobot nilai 1 (satu) jika

         menjawab benar atau “Ya” dan nilai 0 (nol) jika menjawab salah atau

         “Tidak”. Interval kelas dihitung berdasarkan rumus menurut Sudjana (2002)

         yaitu :

                            R              Dimana : I = Interval
                   I   =                         R = Range/Kisaran
                            K                        K = Jumlah Kategori



         Skor tertinggi : 1 x 3   = 3 (100 %)

         Skor terendah : 0 x 3    = 0 (0%)

         Interval kelas :
                                                                              43




                                 R
                I       =
                                 K
                                3–0
                        =
                                 2
                        =       1,5 (50 %)
   Kriteria obyektifnya adalah :

   Baik     : Bila skor jawaban responden memenuhi kriteria ≥ 50 % dari total

   skor (2-3)

   Kurang : Bila skor jawaban responden memenuhi kriteria < 50 % dari total

   skor (0-1)

2. Fasilitas yakni alat yang dapat digunakan untuk pelaksanaan suatu program

   dan dapat menunjang kelancaran suatu program yang meliputi kendaraan

   operasional, dan alat-alat lainnya.

   Kriteria penilaian didasarkan atas skala Guttman dengan jumlah pertanyaan

   yaitu sebanyak 12 pertanyaan yang diberi skor atau bobot nilai 1 jika

   menjawab benar atau “Ya” dan nilai 0 jika menjawab salah atau “Tidak”.

   Interval kelas dihitung berdasarkan rumus menurut Sudjana (2002) yaitu :

                            R                Dimana :   I = Interval
            I       =                                   R = Range/Kisaran
                            K                           K = Jumlah Kategori
                                                                           44




   Skor tertinggi : 1 x 12 = 12 (100 %)

   Skor terendah : 0 x 12    = 0 (0%)

   Interval kelas :

                            R
                I     =
                            K
                          12– 0
                      =
                            2
                      =    6 (50 %)

   Kriteria obyektifnya adalah :

   Baik : Bila skor jawaban responden memenuhi kriteria ≥ 50 % dari total

   skor (7-12)

   Kurang : Bila skor jawaban responden memenuhi kriteria < 50 % dari total

   skor (0-6)

3. Dana yakni sejumlah uang yang disediakan atau dihimpun untuk sesuatu

   maksud meliputi biaya yang dibutuhkan dalam proses pelaksanaan Program

   Perbaikan Gizi Masyarakat yang bersumber dari Dana Alokasi Umum

   (DAU) dan didistribusikan melalui Dinas Kesehatan berwujud dana

   operasional.

   Kriteria penilaian didasarkan atas skala Guttman dengan jumlah pertanyaan

   yaitu sebanyak 6 pertanyaan yang diberi skor atau bobot nilai 1 (satu) jika

   menjawab benar atau “Ya” dan nilai 0 (nol) jika menjawab salah atau
                                                                             45




“Tidak”. Interval kelas dihitung berdasarkan rumus menurut Sudjana (2002)

yaitu :

                         R                  Dimana :   I = Interval
          I      =                                     R = Range/Kisaran
                         K                             K = Jumlah Kategori



Skor tertinggi : 1 x 6        = 6 (100 %)

Skor terendah : 0 x 6         = 0 (0%)

Interval kelas :

                              R
             I       =
                              K
                             6–0
                     =
                              2
                     =       3 (50 %)

Kriteria obyektifnya adalah :

Baik : Bila skor jawaban responden memenuhi kriteria ≥ 50 % dari total

skor (4-6)

Kurang : Bila skor jawaban responden memenuhi kriteria < 50 % dari total

skor (0-3)
                                                                             46




Proses

         Proses adalah adanya pelaksanaan program dimana komponen yang satu

saling mempengaruhi komponen sistem ke komponen sistem yang lain, yang

meliputi perencanaan dan pelaksanaan yang meliputi :

1.   Perencanaan adalah suatu kegiatan atau proses analisis dan pemahaman

     sistem, penyusunan konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk

     mencapai tujuan-tujuan demi masa depan yang baik.

     Kriteria penilaian didasarkan atas skala Guttman dengan jumlah pertanyaan

     yaitu sebanyak 3 pertanyaan yang diberi skor atau bobot nilai 1 (satu) jika

     menjawab benar atau “Ya” dan nilai 0 (nol) jika menjawab salah atau

     “Tidak”. Interval kelas dihitung berdasarkan rumus menurut Sudjana (2002)

     yaitu :

                            R              Dimana :   I = Interval
               I   =                                  R = Range/Kisaran
                            K                         K = Jumlah Kategori
     Skor tertinggi : 1 x 3     = 3 (100 %)

     Skor terendah : 0 x 3      = 0 (0%)

     Interval kelas :



                                R
               I        =
                                K
                                                                              47




                                3–0
                        =
                                 2
                        =       1,5 (50 %)

     Kriteria obyektifnya adalah :

     Baik : Bila skor jawaban responden memenuhi kriteria ≥ 50 % dari total

     skor (2-3)

     Kurang : Bila skor jawaban responden memenuhi kriteria < 50 % dari total

     skor (0-1)

2.   Pelaksanaan merupakan fungsi penggerak dari semua kegiatan program yang

     telah direncanakan untuk mencapai tujuan program.

     Kriteria penilaian didasarkan atas skala Guttman dengan jumlah pertanyaan

     yaitu sebanyak 12 pertanyaan yang diberi skor atau bobot nilai 1 (satu) jika

     menjawab benar atau “Ya” dan nilai 0 (nol) jika menjawab salah atau

     “Tidak”. Interval kelas dihitung berdasarkan rumus menurut Sudjana (2002)

     yaitu :

                            R                Dimana :   I = Interval
               I   =                                    R = Range/Kisaran
                            K                           K = Jumlah Kategori
     Skor tertinggi : 1 x 12 = 12 (100 %)

     Skor terendah : 0 x 12       = 0 (0%)

     Interval kelas :
                                                                                  48




                             R
              I       =
                             K
                           12 – 0
                      =
                             2
                      =     6 (50 %)
    Kriteria obyektifnya adalah :

    Baik : Bila skor jawaban responden memenuhi kriteria ≥ 50 % dari total

    skor (7-12)

    Kurang : Bila skor jawaban memenuhi kriteria < 50 % dari total skor (0-6)

Output

         Output adalah hasil atau performance program dan kegiatan pelayanan

yang dihasilkan oleh suatu program, yang meliputi :

1. Ketepatan sasaran yaitu apakah semua sasaran dalam program perbaikan gizi

  masyarakat sudah dijangkau.

   Kriteria Objektif :

  Baik       : Apabila memenuhi standart untuk “Ketepatan Sasaran”.

                  Bila skor akhir memenuhi standart ≥ 50 % dari total penilaian

                  untuk tercapainya cakupan program kriteria penilaian hasilnya

                  “Ya (memenuhi standart)” antara 4-7 pertanyaan.
                                                                                   49




     Kurang     : Apabila memenuhi standart untuk “Ketepatan Sasaran”

                   Bila skor akhir memenuhi standart < 50 % dari total penilaian

                   untuk tercapainya cakupan program kriteria penilaian hasilnya

                   “Ya (memenuhi standart)” antara 0-3 pertanyaan.

   2. Tercapainya cakupan program dengan melihat apakah terjadi peningkatan

      masyarakat yang mengalami peningkatan derajat kesehatan khususnya

      mengenai gizi pada masyarakat dan juga penurunan jumlah masyarakat yang

      mengalami masalah gizi.

      Kriteria Objektif :

     Baik       : Apabila memenuhi standart untuk “Tercapainya Cakupan”.

                   Bila skor akhir memenuhi standart ≥ 50 % dari total penilaian

                   untuk tercapainya cakupan program kriteria penilaian hasilnya

                   “Ya (memenuhi standart)” antara 7-12 pertanyaan.

     Kurang     : Apabila memenuhi standart untuk “Tercapainya Cakupan”.

                   Bila skor akhir memenuhi standart < 50 % dari total penilaian

                   untuk tercapainya cakupan program kriteria penilaian hasilnya

                   “Ya (memenuhi standart)” antara 7-12 pertanyaan.

E. Instrumen Penelitian

            Instrumen atau alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah

   kuesioner dan wawancara langsung, yang berisi daftar pertanyaan mengenai

   penilaian atau evaluasi pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat dalam

   mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010 di Kota Kendari tahun 2010, dimana
                                                                                50




   akan ditanyakan langsung kepada responden yang dalam hal ini petugas

   kesehatan gizi Puskesmas di Kota Kendari tahun 2010 berdasarkan kuesioner

   yang telah dibuat. (Riduwan, 2008).


F. Teknik Pengumpulan Data

   1. Data Primer

              Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan responden

      menggunakan kuesioner serta melakukan observasi langsung dan juga melihat

      data administrasi pada tiap puskesmas.

   2. Data Sekunder

             Data sekunder diperoleh dari administrasi Puskesmas dan Dinas

      Kesehatan Kota Kendari yang ada hubungannya dengan penelitian ini.


G. Teknik Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data

   1. Pengolahan Data

             Proses    pengolahan    data      dilakukan   secara   manual   dengan

      menggunakan kalkulator.

   2. Analisis Data

            Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam

      bentuk tabel dan narasi.

   3. Penyajian Data

             Penyajian data dilakukan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi,

      persentase disertai dengan penjelasan.
                                                                          51




               IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Gambaran Lokasi Penelitian

          Kota Kendari terdiri atas 10     Kecamatan dan 54 Kelurahan, selain

   keberadaan Rumah Sakit baik milik pemerintah maupun swasta, pelayanan

   kesehatan di Kota Kendari juga didukung oleh 12 Puskesmas di bawah naungan

   Dinas Kesehatan Kota Kendari dengan rincian sebagai berikut:


   1. Puskesmas Mata terletak di Kecamatan Kendari

   2. Puskesma Benu-benua terletak di Kecamatan Kendari barat.

   3. Puskesmas Kemaraya terletak di Kecamatan Kendari barat

   4. Puskesmas Lepo-lepo terletak di Kecamatan Baruga.

   5. Puskesmas Puuwatu terletak di Kecamatan Puuwatu.

   6. Puskesmas Poasia terletak di Kecamata Poasia.

   7. Puskesmas Abeli terletak di Kecamatan Abeli.

   8. Puskesmas Labibia terletak di Kecamatan Mandonga.

   9. Puskesmas Perumnas terletak di Kecamatan Kadia.

   10. Puskesmas Mekar terletak di Kecamatan Wua-wua.

   11. Puskesmas Mokoau terletak di Kecamatan Kambu.

   12. Puskesmas Jatiraya terletak di Kecamatan Kadia

          Puskesmas mempunyai kegiatan pokok yaitu Kesehatan Ibu dan Anak

   (KIA), Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), Kesehatan Gigi dan Mulut
                                                                               52




(Gimul), Promosi Kesehatan Masyarakat (PKM), pelayanan rawat jalan/inap dan

kefarmasian dan juga Perbaikan Gizi Masyarakat.

       Jumlah tenaga gizi yang menjadi Pegawai Negri Sipil (PNS) tercatat yang

menempati seluruh Puskesmas yang ada di Kota Kendari, jumlah penduduk dan

distribusi tenaga gizi pada masing-masing Puskesmas disajikan pada tabel 1.

Tabel 1.    Distribusi Puskesmas, jumlah penduduk dan tenaga gizi di
           Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

  No       Kecamatan        Nama Puskesmas           Jumlah         Jumlah
                                                    Penduduk      Tenaga Gizi

  1.    Kendari         Puskesmas Mata             22.608 jiwa       5 orang

  2.    Kendari Barat   Puskesmas Benu-benua       21.724 jiwa       4 orang

  3.    Kendari Barat   Puskesmas Kemaraya         24.581 Jiwa       2 orang

  4.    Puuwatu         Puskesmas Puuwatu          21.919 jiwa       7 orang

  5.    Mandonga        Puskesmas Labibia          10.147 jiwa       4 orang

  6.    Baruga          Puskesmas Lepo-lepo        15.477 jiwa       2 orang

  7.    Kadia           Puskesmas Perumnas         29.345 Jiwa       3 orang

  8.    Wua-wua         Puskesmas Mekar            35.832 Jiwa       2 orang

  9     Poasia          Puskesmas Poasia           17.740 Jiwa       5 orang

  10    Kambu           Puskesmas Mokoau           12.964 Jiwa       3 orang

  11    Abeli           Puskesmas Abeli            19.214 Jiwa       5 orang

  12    Kadia           Puskesmas Jatiraya         25.345 Jiwa       3 orang

            Jumlah                 12             256.975 Jiwa      45 orang

Sumber : Data Sekunder, 2010
                                                                               53




B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

        Berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data di lokasi penelitian

   mengenai “Evaluasi pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat dalam

   mencapai Visi Misi Indonesia Sehat 2010 di Kota Kendari tahun 2010” yang

   dilaksanakan pada bulan maret tahun 2010 dapat diuraikan sebagai berikut:


   1. Karakteristik Responden

      a. Umur

                 Umur adalah satuan waktu yang mengukur keberadaan suatu

        mahluk, baik yang masih hidup maupun yang mati, yang diukur sejak dia

        lahir hingga waktu umur itu dihitung (Philip, 2003). Distribusi responden

        berdasarkan kelompok umur disajikan pada tabel 2.

          Tabel 2.     Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur di
                       Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

           No.       Kelompok Umur         Jumlah (n)         Persentase (%)

            1.           20-24                  1                  2,2%

            2.           25-29                 15                  33,3%

            3.           30-34                 13                  28,9%

            4.           35-39                  6                  13,3%

            5.           40-44                  8                  17,8%

            6.           45-49                  2                  4,4%

                      Total                    45                   100

        Sumber: Data Primer, 2010
                                                                        54




         Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa tenaga gizi di Puskesmas

  Kota Kendari, dari 45 responden, responden yang paling banyak adalah

  kelompok umur 25-29 tahun yaitu 15 responden (33,3%), sedangkan yang

  paling sedikit adalah 20-24 tahun yakni 1 respoden (2,2%), selanjutnya

  kelompok umur 30-34 tahun yakni 13 responden (28,9%), kelompok umur

  45-49 tahun (4,4 %) kelompok umur 35-39 tahun yaitu 6 responden

  (13,3%), dan kelompok umur 40-44 tahun yaitu 8 responden (17,8%).


b. Jenis kelamin

          Jenis kelamin adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan

   perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Jenis kelamin adalah

   kata yang umunya digunakan untuk membedakan seks seseorang (laki-

   laki dan perempuan) (Rush, 2001).

          Distribusi responden berdasarkan menurut jenis kelamin disajikan

   pada tabel 3.


    Tabel.3.   Distribusi Responden Menurut Jenis            Kelamin     di
               Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

    No             Jenis kelamin          Jumlah (n)            %

    1.               Laki-laki                 4               8,90

    2.              Perempuan                 41               91,10

                      Total                   45                100

   Sumber: Data Primer, 2010
                                                                         55




          Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 45 responden,

   responden yang banyak adalah perempuan yaitu 41 responden (91,10%),

   sedangkan jumlah tenaga gizi yang sedikit adalah laki-laki yaitu 4

   responden (8,90%).


c. Tingkat pendidikan

          Tingkat pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

   mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik

   secara aktif mengembangkan potensi dirinya (Rush, 2001). Distribusi

   responden menurut tingkat pendidikan disajikan pada tabel 4.

   Tabel 4. Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan di Puskesmas
            Kota Kendari Tahun 2010

    No            Pendidikan               Jumlah (n)              %

    1.             D1 GIZI                     5                  11,1

    2.             D3 GIZI                     32                 71,1

    3.              S1 GIZI                    2                  4,4

    4.               SKM                       1                  2,2

    5.                  SE                     1                  2,2

    6.               STP                       4                  8,9

                     Total                     45                 100

   Sumber: Data Primer, 2010

          Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa dari 45 responden,

   tingkat pendidikan responden yang banyak adalah D3 Gizi yaitu (71,1%),

   sedangkan yang paling sedikit adalah SKM dan SE yaitu 1 responden
                                                                      56




   (2,2%), selebihnya yaitu D1 GIZI 5 responden (11,1%), S1 GIZI 2

   responden (4,4%), dan STP 4 responden (8,9%).


d. Masa kerja Tenaga Gizi

         Masa kerja adalah jangka waktu orang sudah bekerja pada suatu

  instansi, kantor dan sebagainya. Distribusi responden berdasarkan masa

  kerja tenaga gizi di sajikan pada tabel 5.

  Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja Tenaga Gizi di
            Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

   No          Masa kerja(thn)                 Jumlah (n)     %

   1.                1-10                         31         68,9

   2.                11-20                        12         26,7

   3.                21-30                         2          4,4

                     Total                        45         100

  Sumber: Data Primer, 2010


         Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa dari 45 responden,

  responden dengan masa kerja 0-10 tahun sebanyak 28 responden (68,9%),

  masa kerja 11-20 tahun sebanyak 14 responden (26,7%) dan masa kerja 21-

  30 tahun sebanyak 3 responden (4,4%).
                                                                             57




2. Karakteristik Variabel Yang Diteliti

  a. Input

                Variabel input yakni faktor-faktor pendukung dalam mencapai

     keberhasilan suatu usaha atau pekerjaan yang menyangkut berbagai

     pemanfaatan sumber daya atau sarana suatu program atau kegiatan yang

     meliputi tenaga gizi untuk dapat melaksanakan tugasnya yang ditinjau oleh

     biaya dimana biaya yang dimaksud adalah biaya yang bersumber dari

     subsidi oleh pemerintah, standar biaya tidak menentu karena tergantung

     dari program yang direncanakan dan fasilitas yang memadai berupa

     kendaraan khusus (roda 2) dan komputer untuk dapat melaksanakan

     kegiatan gizi di masyarakat serta kecukupan Sumber Daya Manusianya

     atau tenaga (Azwar, 1999).

               Berdasarkan variabel input yang terdiri dari ketersediaan tenaga,

     fasilitas dan dana dalam program perbaikan gizi masyarakat maka dapat

     diketahui ketersediaan input secara keseluruhan menunjukkan bahwa

     ketersediaan input untuk program perbaikan gizi masyarakat dilihat dari

     aspek :


     1) Tenaga

                Tenaga yakni orang yang mengabdikan diri dan memiliki

        kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan di bidang pelayanan dan

        penanggulangan penyakit akibat malnutrisi meliputi petugas kesehatan

        yang memegang program Perbaikan Gizi Masyarakat. Petugas
                                                                     58




penanggung jawab gizi masyarakat kerjanya merangkap semua program

atau kegiatan gizi di Puskesmas tempat mereka bertugas. Petugas

penanggung jawab gizi masyarakat tidak hanya bekerja dilapangan saja

tetapi juga bekerja diintansi puskesmas untuk siap siaga mencari dan

menemukan kasus malnutrisi tiap bulannya. Petugas gizi masyarakat

harus selalu fokus terhadap masalah gizi dan perbaikan gizi sehingga

kegiatan yang dilakukan dapat lebih berjalan efektif dan efisien.

       Distribusi responden berdasarkan input tenaga gizi disajikan pada

tabel 6.

Tabel 6.      Distribusi Responden Berdasarkan Input Tenaga Gizi di
              Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

  No         Evaluasi Tenaga Gizi           N                 %

  1.                 Baik                   20               44,4

  2.                Kurang                  25               55,6

                     Total                  45               100

 Sumber: Data Primer, 2010

           Berdasarkan tabel 6, menunjukkan bahwa untuk variabel tenaga

gizi yang meliputi pelatihan, jumlah dan latar belakang pendididkan

petugas gizi yakni dari 45 responden (100%), 20 responden (44,4%)

yang memiliki kriteria baik dan 25 responden (55,6%) yang memiliki

kriteria kurang. Rendahnya pelayanan/perbaikan gizi kepada masyarakat

disebabkan oleh beberapa faktor salah satu diantaranya adalah
                                                                  59




kecukupan tenaga gizi untuk Puskesmas di Kota Kendari secara

keseluruhan belum memenuhi standart kesehatan yang telah ditetapkan.

        Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tenaga gizi

masih sangat kurang yaitu 25 responden (55,6%). Hal ini diakibatkan

karena kecukupan untuk tenaga gizi di Puskesmas kota Kendari belum

memenuhi standart kesehatan yang telah ditetapkan yakni dalam

Kepmenkes No. 1202/MENKES/SK/VIII/2003 tanggal 21 Agustus

tentang Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan

Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, indikator tenaga

kesehatan yang masuk dalam indikator sumber daya kesehatan adalah

untuk jenis tenaga gizi memiliki standart pensyaratan tiap 100.000

penduduk memiliki 22 tenaga gizi yang berlatar belakang pendidikan

dari gizi.

        Indikator ini diterjemahkan dalam bentuk angka kebutuhan

tenaga dengan mengalihkannya terhadap proyeksi jumlah penduduk

tahun 2010 untuk Kabupaten Kendari sebesar 256.975 jiwa (Depkes,

2003). Oleh sebab itu dengan jumlah tenaga gizi masyarakat di

Puskesmas kota Kendari saat ini yakni berjumlah 45 petugas gizi maka

kebutuhan akan tenaga gizi di seluruh Puskesmas kota Kendari masih

sangat kurang dengan pensyaratan tenaga puskesmas pada kabupaten

atau kota yang telah ditetapkan pada peraturan Kepmenkes No.

1202/MENKES/SK/VIII/2003 tanggal 21 Agustus tentang Indikator
                                                                    60




Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat

dan Kabupaten/Kota Sehat, karena dilihat dari besarnya jumlah

penduduk tahun 2010 untuk Kabupaten Kendari sebesar 256.975 jiwa

maka kebutuhan akan tenaga gizi yang memenuhi standart untuk tahun

2010 yakni 55 petugas gizi yang ada di Puskesmas Kota Kendari.

       Berdasarkan hasil penelitian bahwa tenaga gizi masyarakat

masih sangat kurang dan yang pernah mengikuti pelatihan sebanyak 20

responden (44,4%) dan yang tidak pernah mengikuti pelatihan tenaga

gizi yaitu sebanyak 25 responden (55,6%) dan semua tenaga gizi yang

pernah mengikuti pelatihan rata-rata hanya 1 kali dengan alasan kurang

ketersediaannya dana dari pemerintah khususnya pengembangan atau

kualifikasi untuk tenaga gizi, oleh sebab itu pelatihan terhadap tenaga

gizi umumnya untuk tiap puskesmas yang ada di kota kendari hanya

dilakukan atau diwakili oleh koordinator gizi saja yang melakukan

pelatihan gizi, padahal semestinya semua petugas gizi harus melakukan

pelatihan tiap tahunnya, agar dapat lebih memahami program serta

manajemen mengenai gizi masyarakat yang baik.

       Pelatihan petugas gizi dipakai salah satu metode pendidikan

khusus untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas dan

penanganan kasus gizi di Masyarakat. Pelatihan seharusya dilakukan

secara terus   terus-menerus seperti misalnya pelatihan peningkatan

manajemen Program Perbaikan Gizi Masyarakat (PPGM) bagi petugas
                                                                       61




  gizi agar dapat memanajem Program Perbaikan Gizi Masyarakat dengan

  baik (Depkes, 2003).

          Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, dan sering

  mengikuti pelatihan maka akan tercipta tenaga gizi yang terampil dan

  dapat diandalkan dalam memberikan\informasi mengenai masalah dan

  pebaikan gizi di masyarakat. Pendidikan itu sendiri sangat berhubungan

  dengan peningkatan pengetahuan umum dan pemahaman atas

  lingkungan kita secara menyeluruh. Pendidikan adalah suatu indikator

  yang mencerminkan kemampuan seseorang untuk dapat mengerjakan

  suatu tugas/jabatan, selain itu pendidikan merupakan hasil yang fantasis

  dari kemamapuan manusia yang dimaksudkan untuk memberi

  pandangan yang lebih luas yang memungkinkan manusia untuk dapat

  memperbaiki taraf hidupnya (Hasibuan, 2000).


2) Fasilitas

          Segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat untuk dapat

  mencapai     tujuan    dan   sesuatu   yang    merupakan     penunjang

  terselenggaranya suatu proses pelayanan kesehatan dengan semakin

  lengkapnya fasilitas yang dimiliki diharapkan dapat menunjang

  pelayanan kesehatan tersebut (Dainur, 2003).

          Fasilitas yakni alat yang dapat digunakan untuk pelaksanaan

  suatu program dan dapat menunjang kelancaran suatu program yang

  meliputi kendaraan operasional, dan alat-alat lainnya. Fasilitas harus
                                                                     62




ada pada setiap Puskesmas dan harus dalam kondisi yang baik

(ukurannya pasti) atau tidak rusak, fasilitas harus ada pada setiap

Puskesmas untuk membantu para petugas gizi dalam menemukan,

menanggulangi dan memperbaiki keadaan gizi di masyarakat.

       Distribusi responden berdasarkan input fasilitas gizi disajikan

pada tabel 7.

Tabel 7.     Distribusi Responden Berdasarkan Input Fasilitas Gizi di
             Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

  No       Evaluasi Fasilitas Gizi     Jumlah (n)            %

  1.                Baik                   33               73,3

  2.              Kurang                   12               26,7

                   Total                   45               100

 Sumber: Data Primer, 2010

           Berdasarkan tabel 7. menunjukkan untuk fasilitas gizi pada

 Puskesmas di Kota Kendari, dari 45 responden ada 33 responden

 (73,3%) yang setiap wilayah binaan yang dimana mereka sebagai

 penanggung jawab untuk perbaikan gizi masyarakatnya menyatakan

 baik dan 12 responden (26,7%) menyatakan masih kurang untuk

 fasilitas perbaikan gizi masyarakatnya. Baiknya fasilitas pada program

 perbaikan gizi masyarakat yang ada di Puskesmas Kota Kendari untuk

 tiap wilayah binaan para petugas gizi, hal ini disebabkan oleh beberapa

 faktor, diantaranya yakni kebutuhan untuk fasilitas perbaikan gizi
                                                                    63




masyarakat selalu diberikan secara lancar oleh Dinas Kesehatan Kota

Kendari tiap tiga bulannya.

       Berdasarkan hasil penelitian berupa obeservasi langsung

dengan melihat langsung fasilitas yang ada pada tiap wilayah binaan

dan juga di Puskesmas yang ada di Kota Kendari ada 33 responden

(73,3%) yang memang memiliki hampir semua fasilitas perbaikan gizi

masyarakatnya dalam kondisi yang baik (tidak rusak, tidak kadaluarsa,

ukurannya pasti) dan memiliki jumlah yang cukup pada setiap wilayah

binaan mereka terkecuali caliper yang tidak dimiliki oleh seluruh

puskesmas dan MP-ASI yang 2 tahun terakhir ini belum ada masukan

atau pemberian dari Dinas Kesehatan untuk MP-ASI umur 6-11 bulan.

       Bedasarkan hasil penelitian 12 responden (26,7%) memiliki

fasilitas perbaikan gizi masyarakat pada wilayah binaan mereka tetapi

masih belum memenuhi standart fasilitas perbaikan gizi masyarakat

yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk tiap puskesmas dalam

mencapai indikator Kabupaten atau Kota Sehat tahun 2010, hal ini

disebabkan karena fasilitas yang mereka punya itu sudah diberikan

sangat lama oleh Dinas Kesehatan, maka untuk sekarang ini fasilitas

gizi tersebut tidak layak untuk digunakan lagi karena alatnya rata-rata

sudah rusak dan tidak layak pakai lagi, jadi sebagai gantinya biasanya

mereka meminjam alat atau fasilitas di Puskesmas untuk melakukan

pemeriksaan gizi tiap bulannya.
                                                                     64




        Fasilitas gizi adalah fasilitas standar kebutuhan untuk

pemeriksaan masalah gizi di masyarakat seperti timbangan seca,

microtoice, leghtboard, pita lila, pita circumference, caliper,

timbangan biasa (lacin), buku-buku pedoman khususnya yang

menyangkut masalah gizi di masyarakat maupun bahan penyuluhan

Perbaikan Gizi Masyarakat untuk kasus gizi lebih dan juga masyarakat

umum, Pembeian Makanan Tambahan (PMT) untuk anak balita yang

kekurangan gizi serta Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) untuk

anak bayi umur 6-11 bulan. Sarana obat-obatan di simpan ditempat

yang aman, obat harus tertata rapih seperti tablet Fe untuk ibu hamil

dan juga tablet Vitamin A untuk anak balita dan ibu pada masa

nifasnya dan telah dikelompokkan berdasarkan jenisnya, gudang obat

diurus oleh petugas yang telah ditunjuk (Depkes, 2003).

        Oleh sebab itu, dengan fasilitas gizi yang ada di Puskesmas

Kota Kendari sudah baik dan hampir semua wilayah binaan pada

Puskesmas Kota Kendari telah memenuhi standart fasilitas gizi

masyarakat tetapi masih ada yang perlu ditambahkan fasilitasnya

seperti misalnya caliper untuk mengukur lemak seseorang, di

Puskesmas Kota Kendari, fasilitas berupa caliper itu sama sekali tidak

ada, pada hal untuk fasilitas caliper ini masuk dalam standart fasilitas

yang harus dimiliki oleh setiap puskesmas untuk mencapai Indikator

Kabupaten/Kota Sehat dan juga MP-ASI yang sekarang ini belum juga
                                                                       65




   diberikan oleh Dinas Kesehatan untuk tiap Puskesmas yang ada di

   Kota Kendari tahun 2010.


3) Dana

          Dana yakni sejumlah uang yang disediakan atau dihimpun untuk

  sesuatu maksud meliputi biaya yang dibutuhkan dalam proses

  pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat merupakan Dana

  Alokasi Umum (DAU) yang bersumber dari APBD (Anggaran

  Pendapatan dan Belanja Daerah) dan didistribusikan melalui Dinas

  Kesehatan berwujud dana operasional.

          Besar dana operasional yang diberikan tidak sama menurut

  jumlah desa/kelurahan yang menjadi tanggung jawab Puskesmas

  masing-masing. Penggunaan dana untuk kegiatan program perbaikan

  gizi masyarakat ditingkat Puskesmas dialokasikan untuk kegiatan dalam

  gedung seperti pengadaan formulir, biaya perjalanan petugas dan

  pemberian sarana yang tidak mahal harganya (Depkes RI, 2002b).

          Semakin besar dana yang dikeluarkan untuk memperbaiki

  sebuah program, maka hasilnya pun akan semakin efektif, apabila dana

  yang diberikan digunakan seefisien mungkin, dan semakin kecilnya

  dana yang digunakan untuk sebuah program, maka program hanya akan

  berjalan lambat, dan hasilnya pun tidak akan efektif (Aziah, 2007)

          Program-program kesehatan yang menjadi prioritas mendapat

  pembiayaan adalah program-program yang mempunyai dampak
                                                                         66




 langsung     di   masyarakat     seperti   penyakit-penyakit   yang   dapat

 menimbulkan kematian yang cepat serta dapat menimbulkan kejadian

 luar biasa di masyarakat seperti misalnya masalah gizi masyarakat

 (Depkes RI, 2002b).

        Distribusi responden berdasarkan input fasilitas gizi disajikan

 pada Tabel 8.

 Tabel 8. Distribusi Responden Berdasarkan Input Dana Gizi di
          Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

  No         Evaluasi Dana Gizi             Jumlah (n)           %

  1.               Kurang                      45               100

                    Total                      45               100

Sumber: Data Primer, 2010

            Berdasarkan Tabel 8. menunjukkan untuk dana program

  perbaikan gizi masyarakat pada Puskesmas di Kota Kendari, dari 45

  responden (100%), semua responden menyatakan kurang/kekurangan

  dana untuk program perbaikan gizi masyarakat. Kurangnya dana yang

  dimiliki oleh tiap Puskesmas di Kota Kendari, hal ini dapat

  menyebabkan berbagai dampak negatif bagi program perbaikan gizi

  masyarakat.

            Berdasarkan hasil penelitian untuk dana seperti pembuatan dan

  pengiriman laporan gizi masyarakat yang dilakukan tiap bulannya,

  dana transportasi, pemberian intensif atau honor terhadap petugas gizi
                                                                         67




     untuk memotivasi dan memudahkan petugas gizi dalam memperbaiki

     masalah gizi dimasyarakat, sarana perbaikan gizi berupa komputer dan

     buku-buku pedoman bagi petugas gizi, yang oleh responden yang

     dianggap dananya masih sangat kurang, seperti dana transportasi,

     menurut beberapa petugas gizi, untuk dana yang diberikan masih

     sangat kurang, apalagi para petugas gizi yang memiliki wilayah binaan

     yang jauh dari Puskesmas tempat mereka bertugas, tentu saja dalam

     pengawasan, pencarian, perbaikan serta penanggulangan masalah gizi

     membutuhkan dana yang lebih dari apa yang mereka dapatkan

     sekarang ini, serta intensif atau honor bagi para petugas gizi, hampir

     rata-rata setiap petugas gizi tidak pernah menerima intensif atau honor

     lain selain dari gaji mereka tiap bulannya.

              Oleh sebab itu, dengan dana yang minim atau kurang tersebut,

     para responden tetap melakukan tugasnya sesuai tanggung jawab

     mereka, walaupun terkadang mereka juga harus mengeluarkan dana

     dari kantong mereka sendiri untuk mengawasi dan memperbaiki

     masalah gizi masyarakat pada wilayah binaan mereka.


b. Proses

            Proses adalah adanya pelaksanaan program dimana komponen

   yang satu saling mempengaruhi komponen sistem ke komponen sistem

   yang lain, yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan (Notoatmodjo,

   2007) yang meliputi :
                                                                   68




1) Perencanaan

          Perencanaan adalah sebagai suatu proses penganalisaan da

   pemahaman tentang suatu sistem, perumusan tujuan umum dan

   tujuan khusus, perkiraan segala kemampuan yang dimiliki, penguaian

   segala kemungkinan rencana kerja yang dapat dilakukan untuk

   mencapai tujuan umum serta khusus tersebut, menganalisa efektifitas

   dan berbagai alternatif rencana dan memilih diantaranya yang

   dipandang baik serta menyusun, melaksanakan dan mengikutinya

   dalam suatu system pengawasan yang terus menerus sehingga

   tercapai hubungan yang optimal antara rencana tersebut dengan

   sistem yang ada.

          Perencanaan sangat dibutuhkan oleh para petugas gizi untuk

   menjalankan tugas dan fungsi mereka, karena dalam perencanaan

   gizi, dari sini dapat dilihat kegiatan mereka serta pemanfaatan

   seluruh ilmu pengetahuan yang modern serta pengalaman yang

   dimiliki, sedemikian rupa sehingga terpenuhi kebutuhan kesehata

   masyarakat berdasarkan sumber-sumber yang tersedia, perencaan

   kesehatan pada dasarnya merupakan suatu proses yang terdiri dari

   langkah-langkah yang berkesinambungan, artinya sesuatu langkah

   tidak dapat dilakukan sebelum langkah yang mendahuluinya

   terlaksana.
                                                                    69




        Distribusi   responden   berdasarkan       proses   perencanaan

 program perbaikan gizi disajikan pada tabel 9.

Tabel 9. Distribusi Responden Berdasarkan Proses Perencanaan Gizi
         di Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

  No       Evaluasi Perencanaan Gizi           N              %

  1.                  Baik                   45               100

                     Total                   45               100

 Sumber: Data Primer, 2010

       Tabel 9 menunjukkan bahwa dari 45 responden yang terdapat

 di Puskesmas Kota Kendari dan dengan melihat langsung

 perencanaan yang ada pada tiap puskesmas, semua responden 45

 (100%) menyatakan perencanaan yang ada pada puskesmas mereka

 masing-masing sudah sangat sangat baik.

       Selanjutnya dari 45 responden yang menganggap bahwa

 perencanaan akan program perbaikan gizi itu baik, yakni berdasarkan

 hasil penelitian diperoleh bahwa para petugas gizi sebelum mereka

 melaksanakan sebuah tugas dan kewajiban mereka, para petugas gizi

 yang dipimpin oleh koordinator gizi pada masing-masing Puskesmas

 yang diketahui oleh Kepala Puskesmas, pada awal bulan Januari,

 para petugas gizi melakukan rapat untuk membuat sebuah

 perencanaan sesuai dengan kebutuhan atau sumber daya yang ada

 berupa fasilitas seperti obat-obatan yakni Tablet Fe dan Vitamin A
                                                                    70




serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Makanan Pendamping-

ASI (MP-ASI), jadwal tugas, target untuk tahun demi tahun dan lain-

lain sebagainya yang nantinya akan dilaporkan kepada Dinas

Kesehatan Kota Kendari pada awal tahun.

      Sebagai umpan balik dari Dinas Kesehatan Kota Kendari

dengan memberikan kebutuhan atau sumber daya yang dibutuhkan

oleh Puskesmas sesuai dengan kebutuhan yang tertera pada laporan

perencanaan tiap puskesmas baik dalam bentuk barang ataupun dana

kepada Puskesmas. Para petugas gizi membuat perencanaan akan

kebutuhan gizi dimasyarakat dengan selalu memprioritaskan masalah

yang lebih penting dahulu yang meyebabkan masalah dimasyarakat,

hanya saja seluruh responden 45 (100%) agak kecewa dengan kinerja

yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Kendari, karena

menurut mereka, perencanaan yang telah mereka buat yang sesuai

kebutuhan atau sumber daya, terkadang fasilitas atau dana yang

dikirim ke Puskesmas tidak sesuai dengan permintaan yang petugas

gizi telah buat diperencanaannya, terkadang kurang dari perencanaan

atau kurang dari permintaan Puskesmas.

      Oleh sebab itu, para petugas gizi ,mesti membuat perencaan

kembali   secara     intern,   untuk   dapat    mengoptimalkan     dan

memanfaatkan       dana   dengan   fasilitas   yang   kurang   tersebut
                                                                       71




   dimaksudkan agar masyarakat dapat memdapatkan pelayanan akan

   gizi yang lebih baik.


2) Pelaksanaan

          Pelaksanaan merupakan fungsi penggerak dari semua kegiatan

   program yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan program.

   Pelaksanaan untuk Program Perbaikan Gizi Masyarakat dilakukan

   para petugas gizi yang ada pada wilayah kerja atau Puskesmas

   masing-masing.

            Distribusi     responden   berdasarkan    proses   pelaksanaan

    program disajikan di Puskesmas Kota Kendari pada tabel 10.

   Tabel 10. Distribusi Responden Berdasarkan Proses Pelaksanaan

               Program di Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

    No.     Evaluasi Proses Pelaksanaan       Jumlah (n)          %

                      Program

    1.                     Baik                  45              100

                         Total                   45              100

    Sumber: Data Primer, 2010

            Tabel 10, menunjukkan bahwa yang melakukan proses

    terhadap pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat di

    Puskesmas yakni petugas gizi, dari 45 responden (100%), semua

    responden atau petugas gizi telah melakukan pelaksanaan program
                                                                72




perbaikan gizi masyarakat dengan baik serta laporan akan gizi

dilaporkan kepada Dinas Kesehatan tiap bulannya.

         Berdasarkan standart yang telah ditetapkan oleh pemerintah

kegiatan gizi meliputi penyuluhan akan gizi kepada masyarakat;

penyebaran poster-poster, leaflet, dan brosur pada posyandu yang

terdapat pada wilayah kerja masing-masing; pemantauan dan

penimbangan IMT yang dilakukan tiap bulannya; pemberian

Makanan       Pendamping       ASI     (MP-ASI);     melaksanakan

penanggulangan terhadap gizi lebih berupa penyuluhan kepada

penderita; penanggulangan terhadap gizi kurang dan gizi buruk

berupa      pemberian     makanan      tambahan;     melaksanakan

penanggulangan dan pemantauan terhadap Kurang Energi Kalori

(KEK) terhadap Bumil dan Bufas tiap bulannya; melaksaakan

pemberian tablet Fe tiap bulannya pada Bumil; melaksanakan

pemberian Vitamin A kepada ibu pada masa nifas untuk tiap

bulannya dan juga kepada bayi dan anak balita yang dilaksanakan

tiap 2 kali dalam setahun yakni bulan Februari dan Agustus dan

pembuatan laporan tiap bulannya.

         Berdasarkan hasil penelitian dari 12 kegiatan pada Program

Perbaikan Gizi Masyarakat yang dilaksanakan oleh responden

semuanya telah dilakukan dengan baik, hanya saja ada beberapa

kegiatan yang sebelum-sebelumnya dilakukan tetapi untuk tiga
                                                               73




tahun terakhir ini tidak dilakukan lagi seperti misalnya pemberian

Makanan Pendamping-ASI (MP-ASI), karena Dinas Kesehatan

Kota Kendari tidak mendistribusikan lagi MP-ASI ke Puskesmas

yang ada di Kota Kendari.

       Kemudian dari kegiatan tersebut, ada beberapa kegiatan lagi

yang tidak dilakukan oleh responden di Puskesmas Kota Kendari,

seperti pelaksanaan penyuluhan akan gizi kecuali ada kasus gizi

lebih saja dan juga melakukan penyebaran atau pemberian poster-

poster, leaflet, brosur pada posyandu yang terdapat pada wilayah

kerja masing-masing mengenai kegiatan program perbaikan gizi

masyarakat, hal ini disebabkan karena menurut responden, tugas

penyuluan tersebut dilakukan oleh bagian Promosi Kesehatan yang

ada di Puskesmas, jadi petugas gizi hanya melaksanakan tugas pada

pelayanan gizi saja.

        Walaupun tugas penyuluhan gizi tersebut dilakukan oleh

petugas di bagian promosi kesehatan, petugas gizi juga mesti

dilibatatkan dalam melakukan penyuluhan dan pembuatan materi

akan gizi karena melihat dari professional latar belakang

pendidikan, petugas gizi jelas mengetahui lebih banyak akan

kegiatan dan juga permasalahan program perbaikan gizi di

masyarakat dan juga untuk kegiatan penyebaran poster, leaflet dan
                                                                          74




          brosur para petugas gizi tidak melakukan lagi hal ini disebabkan

          karena kekurangan dana akan kegiatan tersebut.


c.   Output

            Variabel output merupakan hasil langsung dari suatu program.

     Variabel output meliputi ketepatan sasaran yakni apakah semua sasaran

     dari program perbaikan gizi masyarakat sudah tercapai atau tidak dan

     juga tercapainya cakupan program dengan melihat apakah terjadi

     peningkatan masyarakat yang mengalami peningkatan derajat kesehatan

     khususnya mengenai gizi pada masyarakat dan juga penurunan jumlah

     masyarakat yang mengalami masalah gizi, dapat dilihat dari hasil

     pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat dari aspek :


     1. Ketepatan Sasaran

               Sasaran utama dari program perbaikan gizi masyarakat di

        seluruh Puskesmas terdapat dalam Peraturan Presiden No. 19 tahun

        2007 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2007-2010 terhadap

        Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator

        Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat yakni bayi, balita, ibu hamil

        dan ibu masa nifas serta penderita gizi buruk, gizi kurang, dan gizi

        lebih (Perpres RI, 2007).

               Distribusi data puskesmas berdasarkan output ketepatan

       sasaran disajikan pada tabel 11.
                                                                        75




Tabel 11. Distribusi Data Puskesmas Berdasarkan Output Ketepatan

            Sasaran di Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

    No.       Evaluasi Output Ketepatan         Jumlah (n)        %

                        Sasaran

    1.                   Baik                       12            100

                         Total                      12            100

   Sumber: Data Sekunder, 2009

         Tabel 11 menyatakan bahwa, semua sasaran yang terdapat

dalam pogram perbaikan gizi pada puskesmas yang ada di Kota

Kendari sudah sangat tepat sasaran yakni dari 12 puskesmas (100%)

yang ada semuanya sudah tepat sasaran dalam pelaksanaan kegiatan

program perbaikan gizi masyarakatnya.

         Berdasarkan hasil penelitian, dengan melihat data yang ada di

Puskesmas, ibu hamil yang mendapatkan tablet Fe; ibu pada nifas

dilakukan pemberian Vitamin A dan dilakukan pemantauan dan

pengukuran KEK; anak bayi (0-11 bulan) dilakukan pemberian

makanan pendamping ASI dan dilakukan penanggulangan terhadap

masalah gizi; anak balita usia dilakukan pemberian Vitamin A dalam 2

kali setahun yakni pada bulan Februari dan Agustus, pemantauan

pertumbuhan balita dan juga dilakukan penanggulangan terhadap

masalah gizi; penderita gizi buruk, gizi lebih dan gizi kurang.
                                                                 76




       Berdasarkan hasil penelitian semua sasaran sudah dijangkau,

karena menurut responden, sasaran dengan fasilitas yang ada berupa

suplemen seperti Vitamin A, tablet Fe dan juga fasilitas lain untuk

pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat sudah pasti dan sudah

tentu akan diberikan pada sasaran yang tepat, untuk kegiatan

penanggulangan gizi buruk dan gizi kurang terhadap kasus yang

terdapat pada wilayah kerja puskesmas di Kota Kendari, apabila

terdapat kasus, yang menjadi sasaran terhadap kegiatan program gizi,

harus diberikan bantuan makanan tambahan agar produktifitas pada

anak tersebut kembali lagi.

       Menurut salah satu responden yang ada pada puskesmas di

Kota Kendari yakni pernah suatu waktu untuk pemberian makanan

tambahan, berupa makanan tambahan yang didistribusikan langsung

oleh Dinas Kesehatan Kota Kendari, tidak tepat sasaran karena kasus

yang didapat untuk yang menderita terhadap masalah gizi yakni pada

usia balita, hanya saja Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang

datang tidak sesuai dengan umur si penderita, jadi terkadang PMT

hanya disimpan begitu saja, dan tidak digunakan sama sekali, dan

untuk menanggulanginya pihak puskesmas melakukan pemberian

makanan bukan secara produk tetapi para petugas gizi membuat

makanan jadi berupa bubur kacang ijo untuk anak balita di posyandu
                                                                    77




  dan pemberian kacang ijo yang akan diberikan kepada anak balita yang

  menderita kasus gizi buruk dan gizi kurang.


2. Cakupan Program

         Tercapainya cakupan program dengan melihat apakah terjadi

  peningkatan    masyarakat   yang   mengalami    peningkatan   derajat

  kesehatan khususnya mengenai gizi pada masyarakat dan juga

  penurunan jumlah masyarakat yang mengalami masalah gizi. Cakupan

  program adalah hasil langsung dari kegiatan program perbaikan gizi

  masyarakat. Hasil penelitian menunjukan cakupan program perbaikan

  gizi masyarakat di Puskesmas Kota Kendari belum tercapai. Hal ini

  terlihat dari capaian kegiatan dalam program perbaikan gizi

  masyarakat dan juga target nasional belum tercapai.

         Untuk mencapai cakupan program tersebut perlu adanya

  peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, penyediaan sarana dan

  prasarana gizi, dana yang cukup, perencanaan dan pelaksanaan yang

  baik serta sosialisasi ke masyarakat terhadap sasaran pada Program

  Perbaikan Gizi Masyarakat untuk tiap Puskesmas di Kota Kendari.

         Distribusi data puskesmas berdasarkan output cakupan program

  disajikan pada tabel 12.
                                                                  78




Tabel 12. Distribusi Data Puskesmas Berdasarkan Output Cakupan

Program di Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

No.      Evaluasi Output Cakupan        Jumlah (n)         %

                 Program

1.                 Baik                      5            41,7

2.                Kurang                     7            58,3

                   Total                    12            100

  Sumber: Data Sekunder, 2009

       Tabel 12 menunjukkan bahwa dari 12 puskesmas di Kota

Kendari ada 5 Puskesmas (41,7%) yang memiliki cakupan program

yang baik, dan 7 Puskesmas (58,3%) yang memiliki cakupan program

kurang. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh petugas gizi

dalam rangka memperbaiki gizi masyarakat pada wilayah kerja

puskesmas masing-masing, dari kegiatan tersebut sudah ditetapkan

sasaran dan target tiap tahunnya dan target nasional dalam pencapaian

visi dan misi Indonesia Sehat 2010 khususnya untuk program

perbaikan gizi masyarakat.

       Sasaran akhir tahun 2010 dalam mencapai visi misi Kabupaten

Sehat 2010 yakni meningkatnya persentase ibu hamil yang

mendapatkan yang mendapatkan tablet Fe mencakup 90 %,

menurunnya prevalensi kurang energi kronis (KEK) ibu hamil dan ibu

nifas mencakup 10 %, menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak
                                                                 79




balita dari 26,4 % (1999) menjadi 20 % (2005) dan sasaran akhir

untuk tahun 2010 menjadi 8 % dan prevalensi gizi buruk dari 8,1%

(1999) menjadi 5% (2005) dan sasaran akhir untuk tahun 2010

menjadi 3 %, mencegah meningkatnya prevalensi gizi lebih pada anak

balita dan dewasa setinggi-tingginya berturut-turut mencakup 3 % dan

10%, meningkatnya persentase bayi yang mendapatkan ASI Ekslusif

mencakup 60 %, Pemberian Makanan Pendamping ASI umur 6-11

bulan dilaksanakan pada bulan Maret tiap tahun mencakup 100 %,

meningkatnya persentase balita yang mendaptkan Vitamin A 2 kali

pertain mencakup 90 % dan sekali sebulan untuk ibu pada masa nifas

dengan cakupan sebesar 90 %, meningkatkan konsumsi garam

beryodium dari 73,2 % menjadi 80 % serta pemantauan pertumbuha

balita: balita yang naik berat badannya (80 %), Balita Bawah Garis

Merah (< 15 %) (Perpres RI, 2007).

       Tiap   tahunnya   peningkatan   cakupan   Puskesmas    harus

meningkat dari tahun sebelumnya yakni sebesar 10 % tiap tahunnya

samapai mencapai target atau cakupan yang telah ditetapkan oleh

Pemerintah dalam program perbaikan gizi masyarakat menuju target

Indonesia Sehat tahun 2010 (Depkes, 2003).

       Berdasarkan hasil penelitian dari 12 kegiatan yang dilakukan

oleh Puskesmas di Kota Kendari dengan target atau cakupan yang

telah ditetapkan oleh pemerintah, ada 5 puskesmas yang masuk dalam
                                                                   80




kategori baik (41,7%), tetapi masih ada juga kegiatan yang belum

memenuhi standart atau target tehadap cakupan program kegiatan.

        Sebagai contoh, kegiatan pemberian Vitamin A kepada balita

2 kali setahun dan ibu pada masa nifasnya diberikan sebulan sekali,

pemberian tablet Fe, pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

hanya saja untuk semua puskesmas di Kota Kendari cakupan

programmnya masih kurang dan masih jauh dari target nasional dalam

pencapaian visi Indonesia Sehat tahun 2010 dan juga untuk kegiatan

kepemilikan kartu terhadap yang menjadi sasaran program perbaikan

gizi masyarakat unuk tergetnya akhir untuk tahun 2010 ini yakni yang

memiliki kartu mesti mencapai 95 %, hanya saja sebagian puskesmas

saja yang bisa mencapai target tersebut dan juga cakupan sasaran pada

program perbaikan gizi masyarakat yang datang untuk memeriksakan

kesehatannya di Puskesmas Kota Kendari, semua puskesmas tidak

memenuhi target akhir atau target nasional yang telah ditetapkan yakni

95% dari sasaran harus memiliki kesadaran untuk memeriksakan

kesehatan di Puskesmas.
                                                                                81




                                V. PENUTUP


A. Simpulan

       Berdasarkan hasil penelitian ini tentang evaluasi pelaksanaan program

  perbaikan gizi masyarakat di Puskesmas Kota Kendari tahun 2010 dapat

  disimpulkan bahwa:

   1. Pelaksanaan evaluasi program perbaikan gizi masyarakat dalam upaya

     perbaikan gizi masyarakat dinilai dari aspek input yang meliputi tenaga, biaya

     atau dana dan fasilitas di Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010 dikategorikan

     masih kurang untuk program perbaikan gizi masyarakatnya..

   2. Pelaksanaan evaluasi program perbaikan gizi masyarakat dalam upaya

     perbaikan gizi masyarakat      dinilai dari aspek proses       yang meliputi

     perencanan dan pelaksanaan di Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

     dikategorikan baik untuk program perbaikan gizi masyarakatnya.

   3. Pelaksanaan evaluasi program perbaikan gizi masyarakat dalam upaya

     perbaikan gizi masyarakat dinilai dari aspek output yang meliputi ketepatan

     sasaran dan cakupan program di Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010

     dikategorikan masih kurang untuk program perbaikan gizi masyarakatnya.
                                                                            82




B. Saran

           Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian yang telah dilakuakan maka

  disarankan hal-hal sebagai berikut:


  1. Bagi Pemerintah Kota Kendari agar anggaran alokasi dana untuk Program

     Perbaikan Gizi Masyarakat di berikan sesuai kebutuhan masing-masing

     puskesmas dan pemberian dana ini diharapkan tidak tertunda lagi agar

     pelaksanaan pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat dapat berjalan

     dengan baik.

  2. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota agar dapat meningkatkan kualitas

     Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga gizi melalui pelatihan-pelatihan.

  3. Bagi Pemerintah Provinsi sebaiknya jumlah untuk tenaga gizi khususnya Kota

     Kendari masih sangat kurang oleh sebab itu kecukupan untuk tenaga gizi

     perlu diperhatikan lagi.

  4. Bagi Puskesmas diharapkan kiranya dalam kegiatan pelaksanaan program

     perbikan gizi masyarakat lebih diaktifkan koordinasi dan kerjasama lintas

     program di Puskesmas untuk mengurangi terjadinya kasus atau masalah gizi

     di Masyarakat.

  5. Agar Puskesmas Kota Kendari lebih meningkatkan keluarannya atau 0utput

     yang meliputi ketepatan sasaran dan juga cakupan program agar pelaksanaan

     program perbaikan gizi masyarakat dapat berjalan sesuai dengan yang

     diharapkan.
                                                                             83




                              DAFTAR PUSTAKA


Achmad Djaeni, 2000, Ilmu Gizi (Untuk Mahasiswa dan Profesi), Dian Rakyat,
      Jakarta.

Antina Nevi, 2009, Evaluasi Program, http://www. Google.com, diakses tanggal 18
      Desember 2009.

Athur Hilman, 2001, Community Organization and Planning, The Mac Millan
      Company, New York.

Azwar A., 1996, Pengantar Administrasi Kesehatan Edisi Ketiga, Binarupa Aksara,
      Jakarta.

Depkes, 1992, Mutu Pelayanan Kesehatan Puskesmas, Departemen Kesehatan
     Republik Indonesia, Jakarta.

______, 1999a, Indonesia Sehat 2010, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
     Jakarta.

______, 1999b, Status Gizi dan Imunisasi Ibu dan Anak di Indonesia, Departemen
     Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

______, 2002, Pengembangan Puskesmas Era Globalisasi, Pusat Penelitian dan
     Pengembangan Pelayanan dan Teknologi Kesehatan Departemen Kesehatan
     Republik Indonesia, Jakarta.

______, 2004, Indonesia Sehat 2010, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
     Jakarta.

Dinkes, 2007, Kabupaten/Kota Sehat 2010, Dinas Kesehatan Kota Kendari, Kendari.

Farida, Y.,T, 2000, Model Evaluasi, Agkasa, Bandung.
                                                                                84




Khomsam, A, 2004, Peranan Pangan dan Gizi Untuk Kualitas Hidup, PT. Gramedia,
       Jakarta.

Mac Kenzie, James, 2007, Kesehatan Masyarakat Suatu Pengantar, EGC, Jakarta.

Mc Mahon, R., 1999, Manajemen Pelayanan Kesehatan Primer, EGC, Jakarta.

Mubarak, dkk., 2009, Ilmu Kesehatan Masyarakat:Teori dan Aplikasi, Salemba
       Medika, Jakarta.

Muninjaya, A.A.Gde., 2004, Manajemen Kesehatan, EGC, Jakarta.

Notoatmodjo, S, 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.

__________, 2003, Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka
       Cipta, Jakarta.

__________, 2007, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni, Rineka Cipta, Jakarta.

Peraturan Presiden RI. No. 19, 2007, Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2007-2010,
       CV Eka Jaya, Jakarta.

Rita, S., 1990, Teknik Evaluasi, Angkasa, Bandung.

Soegianto, Benny, 2007, Kebijakan Dasar Puskesmas (Kepmenkes No. 128 Tahun
       2004), http://www. Google.com, diakses tanggal 19 Oktober 2009.

Soekarwati, 1995, Monitoring dan Evaluasi Proyek Pemikon, Pustaka Jaya, Jakarta.

Syahbudin S, 2001, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium, Kumpulan Naskah,
       Pemayun, UNDIP Semarang.

Yudi Iswanto, 2008, Visi Indonesia Sehat 2010, http://www. Google.com, diakses
       tanggal 18 Desember 2009.
85
                                                                          86




Lampiran 1.1 Kuesioner


 Evaluasi Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat Dalam Mencapai
         Visi Misi Indonesia Sehat 2010 di Kota Kendari Tahun 2010


I. Identitas
   1.   Nama Responden             :
   2.   Umur                       :
   3.   Jenis Kelamin              :
   4. Tingkat Pendidikan           :
   5. Tempat Tugas                 :
   6.   Lama Bertugas              :
   7.   Wilayah Binaan             :


II. Daftar Pertanyaan

Input

A. Tenaga

   1. Apakah ada yang bertanggung jawab mengenai gizi di Puskesmas ini?
        a. ya           b. Tidak

        Jumlah Tenaga Gizi:

   2. Ibu/Bapak pernah mengikuti pelatihan khusus mengenai Program Perbaikan
        Gizi Masyarakat ?
        a. ya (Lihat sertifikat ada/tidak)                b. Tidak

        Berapa kali:

   3. Apakah latar belakang pendidikan anda dari gizi ?

        a. Ya           b. Tidak
                                                                              87




B. Fasilitas

       No        Terdapatnya Fasilitas Perbaikan Gizi    Ya       Tidak
                                                        (ada)   (tidak ada)
                             Masyarakat

       1.      Timbangan seca


       2.      Microtoice


       3.      Lenghtboard


       4.      Pita Lila


       5.      Pita Circumference


       6.      Caliper


       7.      Timbangan biasa


       8.      Buku-buku Pedoman


       9.      Tablet Fe


       10. Vitamin A


       11. Pemberian Makanan Tambahan (PMT)


       12. Makanan Pendamping-ASI (MP-ASI)




Ket : Apabila jawabannya ya (lakukan observasi langsung)
                                                                          88




C. Dana

   Apakah ada tersedia dana untuk operasional program, seperti :

   1. Fasilitas Perbaikan Gizi Masyarakat?

         a. Ya         b. Tidak

   2. Pembuatan/pengiriman Laporan?
         a. Ya         b. Tidak

   3. Transportasi ?

          a. Ya        b. Tidak

   4. Apakah dana mencukupi?

         a. Ya         b. Tidak

  5.     Apakah penerimaan dana yang diberikan lancar?

         a. Ya         b. Tidak

  6. Apakah ada intensif/honor tenaga gizi?

         a. Ya         b. Tidak
Proses

A. Perencanaan

   1. Apakah kegiatan pelaksanaan program Perbaikan Gizi Masyarakat merupakan
         perencanaan kegiatan tahunan?
         a. Ya         b. Tidak

   2. Apakah dalam pelaksanaan program Perbaikan Gizi Masyarakat dilakukan
         penyusunan jadwal kegiatan?
         a. Ya         b. Tidak
                                                                               89




   3. Apakah semua fasilitas dan kebutuhan di Puskesmas yang ada sekarang ini,
       sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat ?
       a. Ya          b. Tidak

B. Pelaksanaan

   1. Apakah ada kegiatann penyuluhan akan gizi masyarakat di wilayah kerja
       puskesmas untuk program Perbaikan Gizi Masyarakat?

       a. Ya          b. Tidak

   2. Apakah ada penyebaran poster-poster, leaflet, dan brosur di wilayah kerja
       puskesmas untuk program Perbaikan Gizi Masyarakat?
       a. Ya          b. Tidak

  3.   Apakah pemeriksaan indeks massa tubuh telah dilakukan sebulan sekali?
       a. Ya          b. Tidak

  4.   Apakah Bapak/Ibu di Puskesmas ini melakukan Kegiatan Makanan
       Pendamping ASI untuk anak 6-11 bulan pada bulan Maret ini?

       a. Ya b. Tidak

  5.   Apakah Bapak/Ibu pada Puskesmas ini melaksanakan penanggulangan
       terhadap gizi lebih tiap ada kasus yang didapatkan?

       a. Ya          b. Tidak

  6.   Apakah Bapak/Ibu pada Puskesmas ini melaksanakan penanggulangan
       terhadap gizi kurang tiap ada kasus yang didapatkan?

       a. Ya          b. Tidak

   7. Apakah Bapak/Ibu pada Puskesmas ini melaksanakan penanggulangan
       terhadap gizi buruk tiap ada kasus yang didapatkan?
                                                                                  90




        a. Ya          b. Tidak

  8.    Apakah Bapak/Ibu melaksanakan penanggulangan dan pemantauan terhadap
        Kurang Energi Kalori (KEK) untuk ibu hamil dan ibu pada masa nifas tiap
        bulannya?
        a. Ya          b. Tidak

  9.    Apakah Bapak/Ibu melaksanakan pemberian trablet Fe tiap bulannya pada
        ibu hamil?
        a. Ya          b. Tidak

  10. Apakah untuk pelaksanaan pemberian Vitamin A kepada Ibu pada masa Nifas
        dilaksanakan tiap bulannya ?

        a. Ya          b. Tidak

 11. Apakah untuk pelaksanaan pemberian Vitamin A kepada bayi dan anak balita
       dilaksanakan tiap 2 bulan sekali yakni bulan februari dan september?

        a. Ya          b. Tidak

 12. Apakah pelaporan telah dilaksanakan setiap bulan?

        a. Ya          b. Tidak

Output

A. Ketetapan sasaran

Dengan Melihat Data Administrasi Kegiatan Program Perbaikan Gizi Masyarakat di
Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010.

 No.                      Sasaran Kegiatan                       Ya           Tidak


  1.       Ibu Hamil mendapatkan 90 tablet Fe dan
                                                                                  91




              dilakukan pengukuran KEK

     2.       Ibu pada masa nifas dilakukan pemberian
              Vitamin A dosis tinggi dan dilakukan
              pengukuran KEK

     3.       Anak Bayi (0-11 bulan) dilakukan pemberian
              makanan pendamping ASI dan dilakukan
              penanggulangan terhadap masalah gizi

     4.       Anak Balita (1-5 tahun) dilakukan pemberian
              Vitamin A dosis tinggi 2 kali setahun,
              pemantauan pertumbuhan balita, dan dilakukan
              penanggulangan terhadap masalah gizi

     5.       Penderita Gizi Lebih


     6.       Penderita Gizi Kurang


     7.       Penderita Gizi Buruk



B. Tercapainya Cakupan Program
Dengan Melihat Data Administrasi Kegiatan Program Perbaikan Gizi Masyarakat di
Puskesmas Kota Kendari Tahun 2010.

No. Tercapainya Cakupan Kegiatan                  Standart Persyaratan
    Program Perbaikan Gizi                            Keberhasilan
    Masyarakat                                       (Perpres, 2007)     Ya   Tidak
                                                   Target Tahun 2010

1.        Cakupan Ibu Hamil mendapatkan 90               90 %
          tablet Fe
2.        Cakupan Balita mendapatkan kapsul              90 %
                                                      92




      vitamin A 2 kali pertahun
3.    Cakupan pemberian makanan              100 %
      pendamping ASI umur 6-11 bulan
4.    Cakupan penanggulangan Gizi            95 %
      Buruk
5.    Cakupan penanggulangan Gizi            95 %
      Kurang
6.    Cakupan penanggulangan Gizi            95 %
      Lebih
7.    Cakupan Balita yang naik berat         80 %
      badannya
8.    Cakupan Balita Bawah Garis Merah       < 15 %
9.    Cakupan Vitamin A dilaksanakan         90 %
      tiap bulan untuk ibu pada masa nifas
10.   Cakupan Kekurangan Energi Kalori       10 %
      ibu hamil dan ibu nifas (KEK)
11.   Cakupan sasaran yang datang            95 %
      memeriksakan kesehatannya
12.   Cakupan bayi dan balita yang           95 %
      memiliki kartu
Keterangan :
Ya (Memenuhi Standart)
Tidak (Tidak Memenuhi Standart)

								
To top