Docstoc

Implikasi IPS Terpadu

Document Sample
Implikasi IPS Terpadu Powered By Docstoc
					                           IMPLIKASI IPS TERPADU


                                        BAB I
                                 PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
   IPS Terpadu adalah mata pelajaran yang merupakan gabungan antara berbagai
disiplin ilmu-ilmu sosial, yang terdiri atas beberapa mata pelajaran seperti misalnya :
Geografi, Sosiologi/Antropologi, Ekonomi, dan Sejarah. Dalam mata pelajaran IPS
Terpadu banyak terdapat materi hafalan verbal / berupa fakta-fakta ( materi / bahan
ajar yang harus dihafal persis seperti apa adanya misalnya : nama tokoh, tahun
peristiwa, nama tempat, peristiwa sejarah, hasil keputusan sebuah konferensi dan
sebagainya ) yang untuk menguasainya siswa dituntut memiliki kemauan atau
motivasi dan ketekunan yang tinggi untuk menghafalnya. Dalam pembelajaran IPS
Terpadu kebanyakan siswa kurang berminat terhadap materi-materi hafalan verbal,
sedangkan materi/bahan ajar yang bersifat fakta-fakta jumlahnya banyak, ditambah
dari pihak guru lebih banyak menyampaikan materi secara verbal atau menggunakan
metode ceramah yang cenderung membosankan sehingga motivasi belajar siswa
berkurang/hilang, akibatnya daya serap atau hasil belajar siswa menjadi rendah.
   Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi
telah mampu menyajikan informasi dengan cara dan kemasan yang begitu menarik
dan kemudahan dalam mengaksesnya sehingga mampu menarik perhatian semua
pihak, termasuk para siswa dalam mengakses informasi. Menghadapi kondisi tersebut
justru dunia pendidikan khususnya dunia persekolahan, karena berbagai hal, menjadi
salah satu pihak yang tertinggal     dalam memanfaatkan perkembangan teknologi
informasi, akibatnya dunia persekolahan khususnya proses belajar mengajar menjadi
tempat yang kurang menarik bagi siswa untuk menggali informasi karena diluar
proses belajar mengajar para siswa mampu mengakses informasi-informasi tersebut




                                          1
dengan mudah melalui berbagai perangkat tehnologi informasi, internet khususnya.
Dampak mendasar dari masalah tersebut adalah hilangnya motivasi belajar siswa di
kelas karena para siswa menganggap semua materi ajar yang dipelajari dikelas dapat
dengan mudah diperoleh di luar kelas.
   Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang filosofinya konstruktivisme menawar-
kan berbagai model pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan,
tetapi tidak semua model pembelajaran cocok atau sesuai dengan materi ajar yang
berbentuk fakta atau materi ajar yang bersifat hafalan verbal. Oleh karena itu proses
pembelajaran di sekolah seyogyanya menggunakan model-model pembelajaran yang
sesuai dengan materi ajar hafalan verbal sehingga mampu membangkitkan minat dan
membangun kemauan siswa untuk membangun kompetensinya. Dalam rangka
meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa, perbaikan dan
pembenahan dalam berbagai hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran
khususnya penggunaan model-model pembelajaran yang sesuai harus dilakukan oleh
semua pihak, terutama oleh guru. Menurunnya motivasi belajar siswa khususnya
terhadap materi hafalan verbal yang mendorong penulis untuk mencoba
mengatasinya dengan menggunakan model pembelajaran yang dirasa penulis cocok
dan memaparkannya dalam bentuk makalah yang diberi judul “Upaya peningkatan
motivasi siswa dalam belajar IPS khususnya materi hafalan verbal dengan
menggunakan model pembelajaran Make A Macth”.


1.2 Tujuan Penulisan Makalah
   Tujuan penulisan makalah ini selain untuk memenuhi syarat kenaikan Pangkat /
Golongan bagi penulis di Perkumpulan Strada, juga bertujuan untuk melaksanakan
kebijakan Perkumpulan Strada untuk melatih dan membekali guru dan karyawannya
dalam mengembangkan ketrampilannya untuk menulis atau paling tidak menuliskan
berbagai pengalamannya sesuai dengan tugasnya selama berkarya di Perkumpulan
Strada dalam bentuk karya ilmiah. Hal ini menjadi penting mengingat menulis karya




                                         2
ilmiah memerlukan ketrampilan khusus yang tidak dimiliki oleh semua orang,
sehingga menuliskan berbagai pengalamannya dalam bentuk karya ilmiah atau
makalah yang tentu saja diawali dengan membaca berbagai buku sumber juga akan
membangun budaya membaca di kalangan guru dan karyawan Strada yang sungguh
sangat diperlukan bagi guru dan karyawan pada umumnya dan penulis pada
khususnya dalam meningkatkan pengetahuannya yang sesuai dengan bidang tugas
masing-masing, sehingga setiap guru dan karyawan Perkumpulan Strada pada
umumnya dan penulis pada khususnya dapat selalu mengungkapkan gagasannya
secara sistematis, mengikuti perkembangan jaman dan menjawab berbagai tantangan
dalam mendampingi para siswa dalam membangun kompetensinya.
   Tujuan lain dalam penulisan makalah ini adalah menambah wawasan, kreatifitas
dan ketrampilan bagi penulis dalam memilih maupun menerapkan berbagai model
pembelajaran yang sesuai dengan materi ajar hafalan verbal. Penulis merasakan
bahwa ketidaksesuaian pemilihan model pembelajaran dalam proses belajar mengajar
mengakibatkan proses pembelajaran menjadi tidak efektif dan tidak menyenangkan
bahkan membosankan sehingga, motivasi belajar siswa menjadi hilang, yang muara
akhirnya daya serap siswa menjadi rendah.


1.3 Pembatasan Masalah
   Latar belakang masalah yang telah penulis sampaikan diatas memberikan
gambaran kepada kita bahwa dalam proses belajar mengajar begitu banyak unsur-
unsur yang saling terkait satu sama lain dan dapat menimbulkan permasalahan yakni
menurunnya motivasi belajar siswa, yang jika tidak ditangani dengan baik tentu akan
membawa dampak rendahnya daya serap atau gagalnya siswa dalam membangun
kompetensinya. Tentunya dalam makalah ini penulis tidak akan membahas semua
akar permasalahan yang ada karena penulis sebagai guru berada pada pihak pelaksana
kebijakan pendidikan, bukan penentu kebijakan sehingga tidak semua sumber / akar
masalah, guru memiliki wewenang secara langsung untuk melakukan perubahan




                                        3
ataupun perbaikan. Hal yang sekiranya mungkin dilakukan oleh penulis adalah
menginventarisir, menganalisis permasalahan-permasalahan tersebut dan kemudian
menuliskannya dalam bentuk makalah yang dapat dijadikan sebagai masukan, usulan,
sumbang saran atau referensi bagi semua pihak yang terkait dalam dunia pendidikan
pada umumnya dan sesama guru pada khususnya untuk melakukan perbaikan-
perbaikan kualitas proses belajar mengajar.
   Dalam makalah ini penulis membatasi untuk membahas dan menuliskan masalah
menurunnya motivasi siswa dalam belajar materi-materi hafalan verbal yang salah
satu akar permasalahannya adalah ketidaktepatan guru dalam memilih dan
menentukan model pembelajaran yang digunakan. Pilihan ini dilakukan oleh penulis
karena pada bagian ini guru dan juga penulis memiliki wewenang penuh untuk
memilih dan menentukan model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan materi
ajar yang harus dikuasai siswa. Sedangkan pada bagian lain, misalnya materi ajar
yang perumusannya didasarkan pada hasil analisis standar kompetensi dan
kompetensi dasar, sehingga penulis memiliki keterbatasan wewenang dalam
menentukannya. Memang dalam Kurikulum tingkat satuan pendidikan perumusan
materi ajar dilakukan oleh guru, tapi perumusannya dalam silabus tidak bisa
“seenaknya” karena harus berdasar atau mengacu pada standar kompetensi yang
disusun oleh penyusun kurikulum. Kita semua tahu meskipun nama kurikulumnya,
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, dengan alasan standarisasi tingkat nasional,
tetap saja sekolah melalui para gurunya tidak memiliki wewenang dalam menentukan
standar kompetensinya, karena yang memiliki wewenang dalam hal ini adalah
pemerintah melalui Departemen Pendidikan. Itulah sebabnya dalam makalah ini
penulis membatasi masalah peningkatan motivasi belajar siswa terhadap materi
hafalan verbal melalui pemilihan model pembelajaran yang sesuai yaitu model
pembelajaran Make A Macth yang sudah sedikit dimodifikasi oleh penulis.


1.4 Hipotesis




                                          4
   Prinsip pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan antara lain didasarkan
pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi
yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan
pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan
dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan. Kurikulum dilaksanakan dengan
menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi
yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar,
E.Mulyasa, (2006 : 247). Mengacu pada permasalahan rendahnya motivasi siswa
dalam belajar materi ajar hafalan verbal, penulis berpendapat bahwa perlu
diupayakan peningkatan motivasi belajar siswa melalui penggunaan model
pembelajaran yang mampu membelajarkan siswa secara bebas, dinamis, efektif dan
menyenangkan. Dalam hal ini penulis berpendapat bahwa model pembelajaran yang
cocok adalah model pembelajaran Make-A Match ( mencari pasangan ) yang
dikembangkan oleh Lorna Curran. Sesuai dengan prinsip pelaksanaan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan tersebut diatas yaitu bahwa pelaksanaan kurikulum
didasarkan pada kondisi peserta didik, efektif, menyenangkan dan memanfaatkan
lingkungan sebagai sumber belajar, penulis melakukan modifikasi pada model
pembelajaran Make A Macth sehingga benar-benar bisa efektif dan menyenangkan
yang harapannya bermuara pada meningkatnya motivasi belajar siswa. Bagaimana
modifikasi itu penulis lakukan akan dipaparkan pada bab selanjutnya.


1.5 Metode Penulisan
   Metode penulisan makalah ini diawali dari refleksi penulis terhadap berbagai
kesulitan, hambatan dalam melaksanakan proses pembelajaran dikelas. Dari hasil
refleksi tersebut penulis menyimpulkan bahwa kesulitan dan hambatan bersumber
pada rendahnya motivasi belajar siswa. Karena rendahnya motivasi belajar siswa
menjadi faktor dominan terhadap rendahnya daya serap siswa atau hasil belajar siswa,
maka penulis berpendapat hal ini harus segera diatasi. Berangkat dari hasil refleksi




                                         5
tersebut penulis kemudian melakukan studi pustaka dengan membaca berbagai
sumber yang berkaitan dengan hal tersebut untuk memperoleh dasar teori yang
mendukung. Langkah selanjutnya penulis melakukan analisis terhadap berbagai
kemungkinan yang mungkin dapat dilakukan oleh penulis untuk mengatasi rendahnya
motivasi siswa, mengingat tidak semua faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi
belajar siswa dapat diatasi oleh penulis karena keterbatasan wewenang yang dimiliki
penulis sebagai guru. Dari hasil analisis, penulis memutuskan untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa, khususnya materi hafalan verbal dengan menggunakan model
pembelajaran Make A Macth ( mencari pasangan ). Agar penulisan makalah ini
menghasilkan makalah yang mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan seperti
tersebut diatas maka penulis mencoba menguraikannya menjadi beberapa bagian
yaitu :
1) Motivasi belajar siswa
2) Materi belajar IPS
3) Upaya peningkatan motivasi belajar
4) Modifikasi model pembelajaran Make A Macth
5) Kesimpulan dan usul / saran
   Sebagai langkah terakhir penulis kemudian mencoba untuk merangkai semua hal
tersebut diatas menjadi sebuah karya ilmiah yang sederhana yaitu makalah yang tentu
saja melalui kaidah-kaidah penulisan makalah yang baik dan benar.




                                        6
                                      BAB II


    UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI SISWA DALAM BELAJAR IPS
 KHUSUSNYA MATERI HAFALAN VERBAL DENGAN MENGGUNAKAN
 MODEL PEMBELAJARAN MAKE – A MATCH (MENCARI PASANGAN)


2.1 Pengertian Motivasi
   Dalam proses pembelajaran di kelas, seringkali guru harus berhadapan dengan
siswa-siswa yang prestasi akademisnya tidak sesuai dengan harapan guru. Bila hal ini
terjadi dan ternyata kemampuan kognitif siswa cukup baik, guru cenderung
mengatakan bahwa siswa tidak termotivasi atau motivasi belajarnya rendah.
Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan motivasi ? Untuk menjawab pertanyaan
tersebut ternyata tidak mudah karena banyak rumusan tentang pengertian atau definisi
motivasi yang disampaikan oleh para ahli. Dalam hal ini untuk memudahkan penulis
memahami definisi motivasi penulis mencoba mengaitkan dengan konsep-konsep lain
seperti kebutuhan, motif dan desakan/dorongan. Dengan mengaitkan dengan konsep
tersebut maka menurut penulis pengertian motivasi yang lebih mudah dipahami
adalah pengertian motivasi menurut Sudarwan Danim (2004 : 2) motivasi diartikan
sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau mekanisme
psikologis yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai
prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Dengan demikian motivasi
merupakan suatu kondisi yang terbentuk dari berbagai tenaga pendorong yang berupa
desakan (drive), motif dan kebutuhan (need). Sehingga untuk menyederhanakan
ketiga macam tenaga pendorong tersebut akan disebut dengan satu istilah saja yang
lebih bersifat umum yaitu motivasi.




                                         7
2.2 Pengertian Motivasi Belajar
   Mengacu pada pengertian motivasi tersebut diatas maka yang dimaksud dengan
motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak ( motif, desakan dan kebutuhan )
di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan
dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga
tujuan yang dikehendaki oleh siswa itu dapat tercapai. Hal ini sejalan dengan
pendapat Callahan and Clark dalam E.Mulyasa ( 2006 : 264 ) mengemukakan bahwa
motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah
laku kearah suatu tujuan tertentu. Peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh
apabila memiliki motivasi yang tinggi. Dengan kata lain seorang peserta didik akan
belajar dengan baik apabila ada faktor pendorongnya (motivasi). Dalam kaitan ini
guru dituntut memiliki kemampuan membangkitkan motivasi belajar peserta didik
sehingga dapat membentuk kompetensi dan mencapai tujuan belajar.
   Adapun bentuk motivasi belajar siswa di sekolah dapat dibedakan menjadi dua
yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik.


   2.2.1 Motivasi Instrinsik
       Motivasi intrinsik adalah keseluruhan daya penggerak yang berasal dari dalam
   diri siswa sendiri yang dapat mendorong siswa melakukan kegiatan belajar.
   Faktor-faktor yang dapat menimbulkan motivasi intrinsik adalah: (1) Adanya
   kebutuhan (2) Adanya pengetahuan tentang kemajuan dirinya sendiri (3) Adanya
   cita-cita atau aspirasi. Dengan adanya motivasi dari dalam diri siswa maka
   kegiatan belajar menjadi sungguh diminati dan dibarengi dengan perasaan senang
   karena didorong oleh rasa kebutuhan belajar, siswa percaya bahwa tanpa belajar
   yang keras, apa yang menjadi kebutuhan dan cita-citanya tidak akan tercapai.
   Dengan demikian motivasi intrinsik lebih signifikan bagi siswa karena motivasi




                                           8
   instrinsik lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau
   pengaruh orang lain.
   2.2.2 Motivasi Ekstrinsik
       Motivasi ekstrinsik adalah keseluruhan daya penggerak yang datang dari luar
   individu siswa, yang mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Bentuk
   motivasi ekstrinsik ini merupakan suatu dorongan yang tidak secara mutlak
   berkaitan dengan aktivitas belajar, misalnya siswa rajin belajar karena dorongan
   dari luar diri siswa seperti yang disampaikan oleh Winkel ( 1989 : 94 ) Beberapa
   bentuk motivasi belajar ekstrinsik diantaranya adalah : (1) Belajar demi
   memenuhi kewajiban; (2) Belajar demi menghindari hukuman yang diancamkan;
   (3) Belajar demi memperoleh hadiah material yang dijanjikan; (4) Belajar demi
   memperoleh pujian dari guru atau orang tua.
      Disini penulis perlu tegaskan bahwa meskipun motivasi ekstrinsik berasal dari
   luar diri siswa bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan tidak penting.
   Dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting, karena kemungkinan besar
   keadaan siswa itu dinamis berubah-ubah dan juga mungkin komponen-komponen
   lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa sehingga
   siswa tidak bersemangat dalam melakukan proses belajar mengajar baik di
   sekolah maupun di rumah. Bahwa setiap siswa tidak sama tingkat motivasi
   belajarnya, itulah sebabnya maka motivasi ekstrinsik sangat diperlukan asal
   diberikan secara tepat.


2.3 Fungsi Motivasi dalam Belajar
   Motivasi sangat berperan dalam belajar, siswa yang dalam proses belajar
mempunyai motivasi yang kuat dan jelas pasti akan tekun belajar dan berhasil
belajarnya. Makin besar motivasi yang dimiliki siswa, maka hasil belajar yang
diperoleh juga akan maksimal. Begitu juga sebaliknya makin kecil/rendah motivasi
yang dimiliki siswa maka makin rendah pula prestasi atau hasil belajar yang dicapai




                                        9
siswa. Maka motivasi senantiasa akan menentukan intensitas usaha belajar bagi
siswa. Dengan kata lain, adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya
motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.
Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian
prestasi belajarnya.
   Melihat begitu penting dan besarnya peranan motivasi belajar, bahkan boleh
dikatakan begitu menentukan terhadap tingkat pencapaian prestasi belajar siswa.
Ditambah dengan realita yang dihadapi penulis yaitu rendahnya motivasi belajar
siswa, khususnya terhadap materi ajar hafalan verbal maka penulis mencoba
mengatasinya dengan meningkatkan motivasi belajar siswa dengan memilih model
pembelajaran yang tepat yaitu model pembelajaran Make A Macth.


2.4 Materi / bahan ajar
   Materi atau bahan ajar adalah bahan-bahan yang akan dipelajari oleh siswa untuk
membangun kompetensinya yang sumbernya bermacam-macam. Berbagai sumber
bahan ajar dapat diperoleh melalui buku teks, internet, bahan terbitan, lingkungan,
media audiovisual dan sebagainya. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran
terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap
atau nilai. Selain itu, materi ajar merupakan seperangkat materi/substansi pelajaran
yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan
dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan materi ajar memungkinkan
siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan
sistematis, sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara
utuh dan terpadu. Materi ajar merupakan informasi, alat, dan teks yang diperlukan
guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
   Perlakuan terhadap bahan ajar ditinjau dari sisi guru dapat diartikan sebagai
kegiatan guru menyampaikan atau mengajarkan materi/bahan ajar kepada siswa.
Sebaliknya, ditinjau dari segi siswa, perlakuan terhadap materi pembelajaran berupa




                                        10
mempelajari atau berinteraksi dengan materi pembelajaran. Secara khusus dalam
mempelajari materi pembelajaran untuk membangun kompetensinya, kegiatan siswa
dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu menghafal, menggunakan, menemukan,
dan memilih. Sebelum siswa mampu untuk menemukan, memilih dan menggunakan,
siswa harus menghafal berbagai fakta yang menjadi dasar bagi siswa untuk
membangun kompetensinya.


2.5 Jenis – jenis Materi Ajar
   Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa berdasarkan kegiatan yang dilakukan
siswa materi ajar dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu : (1) menghafal, (2)
memilih, (3) menemukan, dan (4) menggunakan. Sedangkan berdasarkan jenisnya
materi pembelajaran terdiri dari : (1) pengetahuan yang terdiri dari fakta, konsep,
prinsip, prosedur, (2) keterampilan, dan (3) sikap atau nilai.
   Dalam makalah ini penulis sengaja hanya akan membahas materi ajar yang
berjenis fakta dengan kegiatan siswanya menghafal. Hal ini dilakukan oleh penulis
karena menurut pengalaman penulis dalam proses belajar mengajar di kelas materi
jenis fakta yang mengharuskan siswa tekun menghafal untuk menguasai materi ajar
tersebut, seringkali menjadi penyebab merosotnya motivasi belajar siswa.
Permasalahan ini menjadi semakin penting untuk diatasi karena semua mata pelajaran
memiliki materi/bahan ajar yang berupa hafalan verbal, seperti dalam pelajaran
matematika siswa harus mampu menghafal rumus-rumus yang ada dan sebagainya.
Ada dua jenis kegiatan menghafal, yaitu:


   2.5.1 Menghafal verbal
       Menghafal verbal adalah menghafal persis seperti apa adanya. Semua mata
   pelajaran memiliki materi pembelajaran yang memang harus dihafal persis seperti
   apa adanya, misalnya nama orang, nama tempat, nama zat, rumus, lambang,




                                           11
   peristiwa sejarah, nama-nama bagian atau komponen suatu benda, dan
   sebagainya.


   2.5.2 Menghafal paraphrase
        Menghafal paraphrase adalah menghafal materi pembelajaran yang tidak harus
   dihafal persis seperti apa adanya tetapi dapat diungkapkan dengan bahasa atau
   kalimat sendiri (hafal parafrase). Yang penting siswa paham atau mengerti,
   misalnya paham inti isi Pembukaan UUD 1945, definisi saham, dalil Archimides,
   dan sebagainya.
   Khusus dalam mata pelajaran IPS terpadu, lebih khusus lagi dalam cabang ilmu
sejarah begitu banyak materi/bahan ajar yang berupa fakta-fakta sejarah yang harus
dihafal oleh siswa. Oleh sebab itu kemampuan menghafal materi pembelajaran
memiliki peranan penting dalam mata pelajaran IPS karena kemampuan dan
ketekunan siswa dalam menghafal materi pembelajaran menjadi dasar bagi siswa
dalam membangun kompetensinya. Mengapa demikian, karena setelah materi
pembelajaran dihafal atau dipahami kemudian digunakan atau diaplikasikan. Jadi
dalam    proses   pembelajaran   siswa   akhirnya   memiliki   kemampuan    untuk
menggunakan, menerapkan atau mengaplikasikan materi yang telah dipelajari atau
dengan kata lain siswa mampu membangun kompetensinya.


2.6 Hubungan antara motivasi dengan materi ajar
  Seperti yang telah penulis uraikan diatas bahwa motivasi belajar siswa khususnya
motivasi instrinsik antara siswa yang satu dengan siswa yang lain tidak sama, ada
yang memiliki motivasi belajar yang tinggi dan ada yang memiliki motivasi belajar
yang rendah. Berdasarkan pengalaman penulis untuk menguasai materi ajar hafalan
verbal tidak memerlukan tingkat inteligensi yang tinggi tetapi lebih memerlukan
ketekunan yang tinggi untuk menguasainya sehingga semua siswa di kelas memiliki
peluang yang sama untuk mampu menguasainya, dan ketekunan akan muncul




                                         12
manakala siswa memiliki motivasi.     Persoalan muncul ketika siswa menghadapi
realita bahwa materi ajaran verbal pada mata pelajaran IPS jumlahnya banyak,
sehingga banyaknya materi hafalan verbal belum-belum sudah menurunkan motivasi
belajar siswa. Dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwa materi hafalan verbal
menjadi penyebab menurunnya motivasi belajar siswa, keadaan ini menjadi semakin
parah ketika guru dalam menyampaikan materi didominasi dengan ceramah sehingga
menimbulkan kebosanan pada siswa. Maka penulis berpendapat bahwa kesalahan
guru dalam memilih model pembelajaran untuk materi hafalan verbal akan membuat
semakin menurunnya motivasi belajar siswa yang memang sudah rendah akibat
menghadapi banyaknya materi hafalan verbal. Itulah sebabnya penulis mencoba
untuk   meningkatkan    motivasi   belajar   siswa   dengan   menggunakan   model
pembelajaran yang cocok untuk materi hafalan verbal yaitu model pembelajaran
Make A Macth.


2.7 Usaha peningkatan motivasi belajar siswa
   Pada bagian pendahuluan penulis telah menyampaikan bahwa permasalahan yang
melatar belakangi penyusunan makalah ini adalah merosotnya motivasi belajar siswa
khususnya terhadap materi ajar hafalan verbal. Sedangkan dari beberapa penyebab
merosotnya motivasi belajar siswa yang antara lain adalah banyaknya materi hafalan
verbal, mudahnya siswa mengakses informasi lewat internet yang memuat tentang
materi ajar dan ketidaktepatan guru dalam memilih model pembelajaran, penulis
mencoba untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menggunakan model
pembelajaran yang tepat. Penulis katakan model pembelajaran yang tepat karena
begitu banyaknya model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli yang
menerapkan hakikat PAKEM ( Pembalajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan
Menyenangkan ) tetapi tidak semua model pembelajaran tersebut sesuai dengan
materi ajar. Misalnya model pembelajaran Make A Macth cocok untuk materi ajar
hafalan verbal tapi tidak cocok untuk materi jenis prinsip atau prosedur. Disamping




                                        13
itu dalam memilih model pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan
pembelajaran ada beberapa hal yang harus dipertimbangan oleh guru antara lain
adalah jenis materi ajar. Berdasarkan kedua hal tersebut diatas maka upaya
peningkatan motivasi belajar siswa terhadap materi ajaran verbal dilakukan dengan
menggunakan model pembelajaran Make A Macth yang dimodifikasi oleh penulis.
   2.7.1 Model pembelajaran Make A Macth
      Model pembelajaran Make A Match atau mencari pasangan dikembangkan
   oleh Lorna Curran (1994). Langkah-langkah penerapan model pembelajaran
   Make A Match adalah sebagai berikut:
       1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik
          yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya
          kartu jawaban.
       2) Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
       3) Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
       4) Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya.
       5) Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu
          diberi poin.
       6) Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu
          yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
       7) Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi
          pelajaran.
      Dari langkah-langkah yang dikembangkan oleh Lorna Curran penulis melihat
   adanya kelemahan atau tepatnya ketidaksesuaian dengan kondisi siswa di tempat
   penulis mengajar. Itulah sebabnya penulis berpendapat bahwa model yang
   dikembangkan oleh Lorna Curaan perlu disesuaikan dengan kondisi siswa agar
   model pembelajaran ini benar-benar memenuhi hakekat PAKEM sehingga
   motivasi belajar siswa terangkat. Perbaikan-perbaikan atau penyesuaian yang
   penulis lakukan antara lain pada : (a) jumlah kartu yang diterima siswa, (b) tehnik




                                         14
permainan / pengalaman belajar siwa (c) perangkat pendukung dan sebagainya.
Penyesuaian ini dilakukan penulis untuk menarik perhatian siswa sehingga pada
akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan motivasi siswa dalam belajar. Hal ini
sejalan dengan pendapat Hamalik (1994:116), “Motivasi yang kuat erat
hubungannya dengan peningkatan keaktifan siswa yang dapat dilakukan dengan
strategi pembelajaran tertentu, dan motivasi belajar dapat ditujukan ke arah
kegiatan-kegiatan kreatif. Apabila motivasi yang dimiliki oleh siswa diberi
berbagai tantangan, akan tumbuh kegiatan kreatif.” Harapannya modifikasi model
pembelajaran Make A Match ini dapat membangkitkan keingintahuan dan
motivasi di antara siswa serta mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan
sehingga hasil proses belajar atau daya serap siswa tinggi.


2.7.2 Modifikasi model pembelajaran make a macth
   Sesuai dengan alasan bahwa penyesuaian dilakukan agar model pembelajaran
bisa benar-benar memenuhi hakekat PAKEM ( Pembelajaran yang aktif, kreatif,
efektif dan menyenangkan ) maka penulis berusaha melakukan penyesuaian
sebagai berikut :
   1) Jumlah kartu yang diterima siswa : dalam model pembelajaran Make A
   Macth yang dikembangkan oleh Lorna Curran jumlah kartu yang diterima
   siswa dalam satu sesi permainan hanya satu, bisa berupa kartu soal atau bisa
   juga kartu jawaban, kemudian siswa akan mencari pasangan kartu tersebut
   dengan kartu yang dipegang siswa lain, dan siswa yang berhasil menemukan
   pasangan kartunya dengan benar diberi poin dan kartu dikocok lagi agar siswa
   mendapat kartu yang berbeda begitu seterusnya.             Dalam hal ini penulis
   berpendapat bahwa teknik ini kurang efektif mengingat waktu tatap muka
   yang terbatas dan banyaknya materi hafalan verbal yang harus dikuasai siswa.
   Agar efektif, maka penulis mengembangkan menjadi sepuluh kartu dalam
   setiap sesi permainan.




                                      15
   2) Teknik permainan atau pengalaman belajar siswa : dalam model
   pembelajaran Make A Macth yang dikembangkan Lorna Curran seluruh siswa
   di kelas berada dalam satu kelompok permainan. Penulis berpendapat bahwa
   teknik permainan ini tidak cocok untuk diterapkan dikelas yang jumlah
   siswanya banyak ( 40 siswa keatas ) karena akan menimbulkan kegaduhan
   yang luar biasa, kegaduhan terjadi karena bisa saja kartu yang dipegang siswa
   yang duduk di barisan depan pasangannya ada di tangan siswa yang duduk di
   barisan belakang. Itulah sebabnya penulis kemudian memodifikasi permainan
   yang bisa dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan empat
   siswa sehingga model permainan ini bisa diterapkan dikelas yang jumlah
   siswanya banyak.
   3) Perangkat pendukung : karena penulis melakukan modifikasi, maka
   perangkat pendukung yang tidak diperlukan dalam model pembelajaran Make
   A Macth yang dikembangkan oleh Lorna Curran, dalam model pembelajaran
   yang sudah penulis modifikasi menjadi diperlukan. Perangkat pendukung
   tersebut antara lain adalah daftar soal beserta jawabannya yang akan
   dibagikan kepada seluruh siswa untuk dijadikan bantuan untuk menghafal
   fakta-fakta yang harus dikuasai siswa. Kemudian daftar score untuk
   menuliskan score poin yang diperoleh siswa dalam permainan pada masing-
   masing kelompok.
   Jadi dalam modifikasi ini penulis hanya memodifikasi teknik permainannya
bukan   pada   prinsip   model   pembelajarannya    agar   lebih   efektif   atau
menyenangkan. Dan yang lebih penting penulis hanya menyesuaikan dengan
kondisi kelas yaitu kelas yang jumlah siswanya banyak.


2.6.3 Langkah-langkah dalam model pembelajaran make a macth setelah
dimodifikasi




                                    16
   Setelah dimodifikasi langkah-langkah model pembelajaran Make A Macth
menjadi sebagai berikut :
   1) Untuk kelas dengan 40 siswa guru menyiapkan 10 set kartu masing-
       masing terdiri dari 40 kartu soal dan 40 kartu jawaban yang masing-
       masing berbeda warna, 40 lembar berisi daftar soal beserta jawaban
       sebagai alat bantu untuk menghafal materi ajar yang harus dikuasai siswa
       dan 10 lembar daftar score untuk menuliskan score poin siswa dalam satu
       kelompok.
   2) Siswa dibagi menjadi 10 kelompok dengan anggota masing-masing empat
       siswa, kemudian guru menjelaskan teknik permainannya.
   3) Setiap kelompok mendapatkan satu set kartu yang berisi 40 kartu soal dan
       40 kartu jawaban.
   4) Pembelajaran / permainan dimulai dengan membagi kartu soal kepada
       semua anggota kelompok sehingga masing-masing anggota/siswa
       mendapat 10 kartu soal, kemudian siswa mencari jawaban atas kartu soal
       yang dipegangnya di daftar soal dan jawaban yang telah dibagikan
       kemudian menghafalnya. Sedangkan 40 kartu jawaban diletakkan diatas
       meja / ditengah-tengah kelompok dalam keadaan tertutup.
   5) Salah satu siswa memulai, boleh diundi lebih dulu untuk menentukan
       siapa yang pertama mengambil kartu jawaban, kemudian mencocokan
       dengan kartu soal yang dipegangnya. Jika cocok maka siswa tersebut telah
       mendapatkan satu poin dan meletakkan pasangan kartu soal dan kartu
       jawaban tersebut dipinggir atau dipisahkan. Jika tidak cocok maka kartu
       jawaban tersebut diletakkan ditengah kelompok dalam keadaan terbuka
       sehingga semua anggota kelompok bisa melihatnya, jika cocok dengan
       kartu soal yang dipegang, ketika gilirannya tiba siswa tersebut bisa
       mengambilnya dan menjadikan poin bagi siswa tersebut. Begitu
       seterusnya sampai kesepuluh kartu soal yang dipegangnya mendapatkan




                                    17
       pasangannya. Dengan demikian satu sesi permainan telah selesai
       kemudian kartu dikocok dan kembali kartu soal dibagikan sehingga
       anggota kelompok dimungkinkan mendapatkan soal yang berbeda dengan
       sesi sebelumnya sedangkan kartu jawaban diletakkan ditengah-tengah
       kelompok, begitu seterusnya sampai kurang lebih 75% waktu tatap muka.
   6) Untuk mengukur daya serap pada proses pembelajaran / permainan, sisa
       waktu tatap muka yang kurang lebih 25% digunakan untuk satu atau dua
       sesi permainan tanpa melihat daftar soal dan jawaban. Pada sesi ini daftar
       soal beserta jawabannya hanya digunakan untuk mengoreksi pasangan-
       pasangan kartu yang dikumpulkan oleh masing-masing anggota kelompok
       untuk menentukan jumlah score poin yang dihasilkan. Jika scorenya tinggi
       berarti daya serapnya tinggi, sebaliknya jika scorenya rendah berarti daya
       serapnya rendah.
  Demikianlah langkah-langkah model pembelajaran Make A Macth yang sudah
dimodifikasi. Dari pengalaman penulis dalam melaksanakan model ini di kelas,
penulis menyimpulkan beberapa kelebihan dan kelemahan dari model
pembelajaran ini. Kelebihannya adalah (1) mampu meningkatkan motivasi belajar
siswa (2) mampu menyajikan sebuah proses pembelajaran yang menyenangkan
(3) efektif untuk menghafal materi hafalan verbal dalam jumlah banyak (4)
menghasilkan daya serap yang cukup tinggi. Sedangkan kelemahannya adalah :
(1) banyak menyita waktu guru dalam menyiapkan kartu dan perangkat
pendukungnya (2) cukup menimbulkan kegaduhan karena tidak jarang siswa
teriak kegirangan ketika kartu jawaban yang diambilnya ternyata cocok dengan
kartu soal yang dipegangnya.




                                     18
                                         III
                           KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan
   Menyajikan sebuah proses pembelajaran yang mampu membuat siswa aktif,
kreatif, efektif dan menyenangkan sehingga mampu memotivasi siswa untuk belajar
tentu menjadi harapan semua pihak yang terkait dengan dunia pendidikan, khususnya
guru dan tentu saja penulis yang juga berprofesi sebagai guru. Tetapi realita yang
ditemukan dilapangan ternyata tidak selalu seperti yang diharapkan, justru
kadangkala kita sebagai guru harus menghadapi situasi dimana siswa berada pada
titik motivasi yang paling rendah. Menghadapi situasi yang demikian tidak ada jalan
lain dan memang sudah menjadi tugas dan kewajiban guru untuk mengatasinya
dengan meningkatkan motivasi belajar siswa.
   Dari sekian banyak penyebab rendahnya motivasi belajar siswa, salah satu yang
paling dominan, khususnya dalam mata pelajaran IPS adalah banyaknya materi ajar
hafalan verbal. Persoalan ini tentu tidak bisa kita hindari, justru sebaliknya
merupakan tantangan bagi kita untuk diatasi. Untuk mengatasinya, penulis atau guru
harus mampu merancang sebuah model pembelajaran yang benar-benar mampu
membuat siswa termotivasi untuk belajar dengan giat. Dari sekian banyak model
pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli, penulis memutuskan untuk
merancang proses pembelajaran dalam model pembelajaran make a macth yang
dikembangkan oleh Lorna Curran. Agar model pembelajaran ini mampu memenuhi
harapan penulis serti tersebut diatas, maka penulis melakukan modifikasi atau
tepatnya menyesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat atau kelas dimana penulis
bekerja sebagai guru.




                                        19
   Berdasarkan pengalaman penulis dalam menerapkan model pembelajaran ini
ternyata membuahkan hasil yang baik, karena penulis mendapati sebuah proses
pembelajaran yang benar-benar membuat siswa termotivasi untuk belajar dengan
aktif dan dalam suasana yang menyenangkan meskipun siswa menghadapi materi ajar
hafalan verbal dalam jumlah banyak. Dengan demikian penulis berkesimpulan bahwa
model pembelajaran make a macth sangat efektif untuk meningkatkan motivasi siswa
dalam belajar materi ajar hafalan verbal.


3.2 Saran
   Seperti yang sudah penulis sampaikan pada bagian pendahuluan bahwa salah satu
tujuan penulisan makalah ini untuk menambah wawasan, kreatifitas dan ketrampilan
bagi penulis dalam memilih maupun menerapkan berbagai model pembelajaran,
maka penulis menyarankan kepada semua pihak, khususnya guru yang membaca
makalah ini untuk dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model
pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja
masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran
versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model
pembelajaran yang telah ada.




                                            20
                             DAFTAR PUSTAKA


Departemen Pendidikan Kebudayaan. 2006. Pembelajaran yang Efektif, Efisien dan
Menyenangkan, http://www.depdiknas.go.id

Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Cet. ke-3. Jakarta: PT Bumi
Aksara.

Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Mempraktikkan Cooperative Learning di
Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT. Grasindo.

Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: Grasindo




                                      21

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:71
posted:9/29/2012
language:Malay
pages:21