skripsi juliana

Document Sample
skripsi juliana Powered By Docstoc
					     ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI

NON PERFORMING LOAN (NPL) PADA BANK BUMN DI INDONESIA



                         SKRIPSI
            Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
                   Guna Memperoleh Gelar
                      Sarjana Ekonomi




                         JULIANA

                        A 211 07 621

                   FAKULTAS EKONOMI

                  JURUSAN MANAJEMEN

               UNIVERSITAS HASANUDDIN

                        MAKASSAR

                            2011
             ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


    NON PERFORMING LOAN (NPL) PADA BANK BUMN DI INDONESIA




                                      Diajukan Oleh

                                      JULIANA

                                     A211 07 621




                 Skripsi sarjana lengkap untuk memenuhi salah satu syarat

                         Guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

                        Jurusan Manajemen pada Fakultas Ekonomi

                                 Universitas Hasanuddin

                                        Makassar




                                  Telah Disetujui Oleh :



        Pembimbing I                                       Pembimbing II




    Dr. Idayanti, SE, M.Si                            Drs. Fauzi R Rahim, M.Si

NIP. 19691020 198403 2 001                         NIP. 19691020 198403 2 001
                                   KATA PENGANTAR




       Puji syukur atas berkat yang telah dilimpahkanNya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Penyusunan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi

sebagian dari syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi pada Universitas Hasanuddin.

Penulis mengkonsentrasikan pada kredit macet dan penggunaan kredit kerja dengan judul

“ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NON PERFORMING LOAN

(NPL) PADA PT. BANK BUMN”.


       Penulis telah berusaha untuk menyusun tugas akhir ini dengan sebaik-baiknya dengan

berusaha mempelajari dan menekuni bahan-bahan yang diperlukan meskipun demikian penulis

menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari kesempurnaan, karena pengetahuan dan

pengalaman penulis masih terbatas, namun harapan penulis tugas akhir ini dapat memberikan

manfaat khususnya bagi perusahaan tempat penulis melakukan riset serta bagi para pembaca.


       Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan terimakasih yang tidak terhingga

atas dukungannya baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga tersusunnya skripsi ini

kepada pihak-pihak berikut ini:


   1. Orang tua papa yang ada disurga A.Zainal Abidin, mama A.Januati yang tidak berhenti

       untuk memberi doa dan memberi semangat, kakakku A.Juwita, dan buat akang Murham

       Muchtar yang telah banyak meluangkan waktunya untuk menemani penulis

       mengerjakan skripsi dan dalam menyelesaikan studi di Fakutas Ekonomi Universitas

       Hasanuddin. Terima kasih pula atas cinta dan kasih sayangnya.
2. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Ali, SE., M.S, selaku Dekan Fakultas Ekonomi

   Universitas Hasanuddin.

3. Bapak Dr. Muhammad Yunus Amar, MT, selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas

   Ekonomi Universitas Hasanuddin.

4. Ibu Dr. Idayanti SE, M.Si dan Bapak Drs. Fauzi R Rahim, M.Si, selaku Dosen

   Pembimbing yang telah meluangkan waktu dan memberikan bimbingan serta pengarahan

   kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu dosen Universitas Hasanuddin Fakultas Ekonomi yang telah memberi

   ilmunya kepada penulis.

6. Teman-teman KKN Reguler Gelombang 80 khususnya Desa Bonto Tangnga Handayani,

   Cakra Januar Hakim, Muh. Ilham Yasin, Rahmat AR dan teman-teman dari

   Kecamatan Ulu Ere yang telah banyak membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi

   ini.

7. Sahabatku tercinta yang tergabung dalam Aulley Melisa Anastasia, Pascoela Viera,

   Brigita Ayu, Dewi Perdana, Nurjannah, Reyni Prasetyani, Stella, Asniar AS, Anissa

   Engelen, A.Sitti Khadijah, Vola Winestia, Mulyana, Yolanda Soma, Selvy Juniarti,

   Masriati.

8. Teman-teman dan juga sahabatku Rini Adriyanti, Kartini Rizky, Fajrina Tamsil,

   Hermita, Anwar, Nurul Widya, Rima Hastuti, A.Faturrahman, Muayyidil dan

   Aditya Basri yang tak henti-hentinya memberi semangat kepada penulis.

9. Orang-orang di rumah yang memberikan dukungan A.Nur Dwiyanti, A.Aldiansyah,

   kak Ayu.
10. Serta semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini yang tidak dapat penulis

   sebutkan satu persatu, terima kasih banyak.



       Demikian ucapan terima kasih penulis kepada semua pihak yang telah membantu dan

semoga budi baiknya dibalas oleh ALLAH SWT. Akhirnya penulis berharap agar skripsi ini

dapat menambah manfaat bagi pembaca dan semua pihak yang berkepentingan.




                                                    Makassar, 27 November 2011


                                                                  Penulis



                                                                 JULIANA
                                         ABSTRAK



JULIANA. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Non Performing Loan (NPL) Pada Bank
BUMN Di Indonesia (dibimbing oleh Dr. Idayanti, SE, M.Si dan Drs. Fauzi R Rahim, M.Si).
       Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah kredit yang diterima oleh bank
(X) dan kredit bermasalah (Y), pada PT Bank BUMN Se- Indonesia. Teknik analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi sederhana, analisis korelasi (r), serta
pengujian hipotesis dengan analisis uji-t.
       Dari hasil perhitungan regresi sederhana diperoleh nilai konstanta (a) adalah 0.66846 dan
nilai koefisien regresi (b) adalah 0,279, sehingga diperoleh persamaan regresi sederhana yaitu Y^
= 0.66846 + 0,279X yang berarti koefisien intercept (a) atau nilai konstanta = 0.66846 ini
menunjukkan jika tingkat penyaluran kredit konsumtif Rp 0, maka pendapatan bunga kredit akan
mengalami peningkatan sebesar Rp 668.460. Sedangkan koefisien regresi (b) = 0,279
menunjukkan bahwa setiap terjadi perubahan tingkat kredit konsumtif sebesar Rp 1, maka akan
menyebabkan peningkatan pendapatan bunga kredit sebesar Rp 0,279.
       Hasil korelasi (r) antara jumlah kredit yang diterima oleh bank (X) dan kredit bermasalah
(Y) diperoleh r = 0,279 yang menunjukkan terjadi korelasi yang sangat kuat antara kredit
konsumtif dan pendapatan bunga kredit. Hal ini berarti bahwa apabila penyaluran kredit
konsumtif meningkat, maka pendapatan bunga kredit pada PT Bank BUMN Se-Indonesia juga
meningkat.
       Sedangkan kontribusi kredit konsumtif terhadap pendapatan bunga kredit dapat dilihat
melalui nilai koefisien determinasi yang diperoleh yaitu r2 = 0,28, yang berarti bahwa kredit
konsumtif berpengaruh sebesar 28% terhadap pendapatan bunga kredit, sedangkan sisanya yaitu
sebesar 72% dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
       Dari hasil perhitungan análisis uji-t, diperoleh thitung = 2.890 dan ttabel = 1,860, dengan
signifikansi 0,000 < 0,05. Karena thitung > ttabel, maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha
diterima, yang berarti bahwa terdapat pengaruh dan kontribusi yang signifikan antara jumlah
kredit (X) secara parsial terhadap kredit macet (Y) pada PT Bank BUMN Se-Indonesia. Dengan
demikian, hasil penelitian ini mendukung hipotesis.
                          DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………....                  i


HALAMAN PERSETUJUAN………………………………………………….                ii


HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………………                 iii


KATA PENGANTAR…………………..…………………………………..                 iv


ABSTRAK……………………………………………………………………….                    vii


DAFTAR ISI………………………………………………………………                     viii


DAFTAR TABEL……………………………………………………….. .......            xii

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………….. .......            xiv

DAFTAR GRAFIK……………………………………………………… .......             xv

BAB I PENDAHULUAN                                      1


     1. Latar Belakang Masalah……………………………………………        1

     2. Rumusan Masalah………………………………………………….            5

     3. Tujuan dan Manfaat Penelitian…………………………………….   5

     4. Sistematika Penulisan………………………………………………        6


BAB II TINJUAN PUSTAKA                                 8


     1. Bank………………………………………………………………..                 8
  A. Pengertian Bank dan Perbankan………………………………..     9

  B. Fungsi dan Tujuan Bank…………………………………………          10

  A. Klasifikasi Bank…………………………………………….......        12

  B. Jenis-jenis Resiko dalam Perbankan……………………………   15


3. Kredit ………………………………………………………………                   18


  A. Pengertian Kredit………………………………………….…….           18


  B. Pengertian Kredit Bermasalah…………………………………… 18


  C. Penyebab Kredit Macet………………………………………….. 18


  D. Unsur-Unsur Kredit………………………………………………            26

  E. Fungsi Kredit……………………………………………………..             27

  F. Penilaian Dalam Pemberian Kredit……………………………….   28

3. Jenis-Jenis Kredit……………………………………………………            29

  A. Menurut Jangka Waktu (maturity)………………………………     30

  B. Menurut Tujuan Kredit…………………………………………..         31

  C. Menurut Penggunaan Kredit……………………………………..       31

4. Faktor-Faktor Kredit Macet………………………………………….       32

  A. Pengertian Kredit Macet…………………………………………         32

  B. Gejala-Gejala Kredit Macet……………………………………...     33

  C. Non-Performing Loan (NPL)………………………………. ……       38

  D. Loan to Deposite Ratio (LDR)…………………………………… 40

5. Penelitian Sebelumnya………………………………………………….. 40

6. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis…………………………………… 41
         A. Kerangka Pemikiran……………………………………………….. 42

         B. Hipotesis…………………………………………………………… 43

BAB III METODE PENELITIAN                                                                        44

     1. Lokasi Penelitian ……………..………………………………..……….. 44


     2. Jenis dan Sumber Data ………………...………………………………….. 44


              A. Jenis Data………………………………………………………. 44


              B. Sumber Data……………..……………………………………... 44


     3. Metode Pengumpulan data...……..……………………………………. 45

     4. Definisi Operational Variabel...…..…………………………………… 46

     5. Teknik Analisis Data………………………………………………….. 47

        A. Ananlisis Deskriptif……………………………………………….. 47

        B. Analisis Regresi Sederhana……………………………………….. 47


     6. Rancangan Pengujian Hipotesis............................................................. 48

        A. Uji Koefisien Korelasi (r)…………………………………………. 48

        B. Uji Koefisien Determinasi (r2)…………………………………….. 49


        C. Uji-t………………………………………………………………... 50

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN                                                                  52


4.1 PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk……………………………………. 52


        A. Sejarah Singkat Perusahaan……………………………………....... 52

        B. Visi dan Misi PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk…………. 54
    4.2 PT Bank Mandiri (Persero), Tb………………………………………. 55

       A. Sejarah Singkat Perusahaan…………………..……………………. 55

       B. Visi dan Misi PT Bank Mandiri (Persero), Tbk……………............ 58

    4.3 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk……………………………. 58

       A. Sejarah Singkat Perusahaan……………………………………...… 58

    4.4 PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk…………………………… 61

       A. Sejarah PT Bank Tabungan Negara (PERSERO), Tbk…………… 61

       B. Visi dan Misi PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk………… 64

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN                                                                  65

    5.1 Analisis Non Performing Loan (NPL)…………………….................. 65

    5.3 Analisis Loan to Deposit Ratio (LDR)………………………………. 67

    5.3 Analisis Regresi Sederhana……….………………………………….                                                   70

       A. Uji Heteroskedisitas………………………………………………..                                                     72

       B. Uji Normalitas……………………………………………………… 77

       C. Uji t………………………………………………………………… 77

    5.4 Hasil Pengujian Hipotesis..................................................................... 78


       A. Analisis korelasi (r)......................................................................... 79

       B. Analisis Determinasi (r2)................................................................    80

BAB VI PENUTUP                                                                                         81

    6.1. Kesimpulan…………………………………………………………..                                                            81


    6.2. Saran………………………………………………………………… 82

DAFTAR PUSTAKA                                                                                         8
                         DAFTAR TABEL



Tabel 5.1 Total Non Performing Loan (NPL) Bank BRI (dalam %) Periode       2006

          2010…………………………………………………………………… 65

Tabel 5.2 Total Non Performing Loan (NPL) Bank BNI (dalam %) Periode 2006-

          2010…………………………………………………………………….. 65

Tabel 5.3 Total Non Performing Loan (NPL) Bank BTN (dalam %) Periode 2006-

          2010…………………………………………………………………….. 65

Tabel 5.4 Total Non Performing Loan (NPL) Bank Mandiri (dalam %) Periode 2006-

          2010…………………………………………………………………….. 66

Tabel 5.5 Total Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank BRI (dalam %) Periode 2006-

          2007…………………………………………………………………… 67

Tabel 5.6 Total Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank BNI (dalam %) Periode 2006-

          2007…………………………………………………………………… 67

Tabel 5.7 Total Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank BTN (dalam %) Periode 2006-

          2007…………………………………………………………………… 67

Tabel 5.8 Total Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Mandiri (dalam %) Periode 2006-

          2007…………………………………………………………………… 68
                                  DAFTAR GAMBAR




Gambar 2.1   Kerangka Pikir................................................................................. 41
                                                     DAFTAR GRAFIK




Grafik 5.8 Scatterplot ............................................................................................ 73


Grafik 5.9 Histogram ............................................................................................. 74


Grafik 5.10 Normal P-P plot of Regression Standardized Residual ....................... 75
                                       BAB I

                               PENDAHULUAN


1. Latar Belakang Masalah

          Bank adalah lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan

   kembali pada masyarakat dalam bentuk kredit. Oleh karena itu, kredit menjadi salah satu

   kegiatan operasional utama bank dalam upaya memperoleh laba. Penggunaan dana untuk

   kredit perbankan mencapai 70%-80% dari volume usaha bank.

          Walaupun kredit dianggap sebagai salah satu sumber utama, namun bukan berarti

   perbankan lancar dalam kegiatan penyaluran kreditnnya. Kondisi dimana kredit yang

   telah disalurkan bank kepada masyarakat dan ternyata tidak dapat dibayar kembali pada

   pihak bank tepat pada waktunya sesuai dengan perjanjanjian kreditnya, yang meliputi

   pinjaman pokok dan bunga, menyebabkan kredit dapat digolongkan menjadi kredit

   bermasalah atau non performing loan (selanjutnya disingkat NPL).


          Jenis resiko ini tampaknya cukup berpotensi menimbulkan tekanan terhadap

   stabilitas perbankan atau risiko kredit. Meskipun data yang ada pada PT. Bank BUMN

   menunjukkan bahwa risiko ini cukup terkendali di tahun 2009 dan bahkan dari sisi rasio

   NPL terdapat penurunan dalam beberapa tahun terakhir, namun kedepan akan mengalami

   peningkatan.
       Keberadaan kredit macet dalam dunia perbankan merupakan suatu penyakit kronis yang

sangat mengganggu dan mengancam sistem perbankan Indonesia yang harus diantisipasi oleh

semua pihak terlebih lagi keberadaan bank mempunyai peranan strategis dalam kegiatan

perekonomian Indonesia. Kredit yang diberikan oleh bank mempunyai pengaruh yang sangat

penting dalam kehidupan perekonomian suatu negara, karena kredit yang diberikan secara

selektif dan terarah oleh bank kepada nasabah dapat menunjang terlaksananya pembangunan

sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Kredit yang diberikan oleh bank sebagai

sarana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baik secara umum maupun khusus untuk sektor

tertentu. Adapun tujuan utama pemberian suatu kredit antara lain :

       1. Mencari Keuntungan

          Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit tersebut. Hasil tersebut

          terutama dari bentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas jasa dan biaya

          administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah.

       2. Membantu Usaha Nasabah

          Tujuan lainnya adalah untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik

          dana investasi maupun dana untuk modal kerja, maka pihak debitur akan dapat

          mengembangkan dan memperluas usahanya.

       3. Membantu Pemerintah

          Bagi pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan maka

          semakin baik, semakin banyak kredit berarti adanya peningkatan pembangunan

          diberbagai sektor. Bank dalam memberikan kredit, wajib mempunyai kenyakinan atas

          kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang

          diperjanjikan, serta harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat karena
  kredit yang diberikan oleh bank mengandung resiko. Dalam pemberian kredit ini bank

  menghendaki adanya jaminan atau agunan yang dapat digunakan sebagai pengganti

  pelunasan hutang bilamana dikemudian hari debitur cedera janji atau wanprestasi.

  Jaminan kredit merupakan jaminan akan pelunasan kredit

  yang diberikan kepada debitur dengan cara mengeksekusi objek jaminan kredit.

       Hal-hal yang mendasari perkiraan ini adalah, pertama krisis global belum

sepenuhnya berakhir sehinga masih mungkin menyisakan dampak berupa peningkatan

resiko kredit. Kedua, dengan mulai membaiknya kondisi perekonomian pertumbuhan

kredit biasanya akan meningkat, sehingga kalau terlalu cepat bertumbuh dapat berpotensi

meningkatkan risiko kredit. Ketiga, jumlah kredit dengan kolektibilitas Dalam Perhatian

Khusus (golongan 2) pada PT. Bank BUMN masih cukup besar yaitu Rp. 670.603.710

per desember 2009. Apabila kondisi ekonomi tiba-tiba memburuk sehingga misalnya

25% dari kredit Dalam Perhatian Khusus akan mengalami peningkatan. Untuk

meminimalisir resiko kredit ini, kehati-hatian sangat perlu dijaga oleh bank.



       Non Performing loan (NPL) adalah salah satu cara untuk menilai kinerja fungsi

bank dalam mengelola bisnisnya. NPL yang tinggi menyebabkan timbulnya masalah

likuiditas (ketidakmampuan membayar pihak ketiga), rentabilitas (utang tidak bisa

ditagih), ataupun solvabilitas (modal berkurang).

       Penyebab terjadinya NPL pada sektor perbankan dapat dikelompokkan menjadi

dua, yaitu: faktor internal bank, yang berhubungan dengan kebijakan dan strategi yang

ditempuh pihak bank, baik manajemen maupun kualitas sumber daya manusia dan faktor

eksternal yang berhubungan dengan perekonomian, persaingan dan kondisi usaha debitur.
               Faktor-faktor internal bank merupakan faktor yang dapat dikendalikan dan

       dikelola secara langsung oleh bank. Oleh kerena itu, Dalam penelitian ini penulis

       menggunakan variable-variabel perhitungan rasio perbankan sebagai faktor-faktor

       internal bank, yaitu Loan to Deposite Ratio (LDR) terhadap kredit macet Non Performing

       Loan (NPL) pada Bank BUMN untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi

       tingkat NPL.


               Kondisi tersebut menarik perhatian peneliti untuk menyusun Tugas Akhir dengan

       judul   “ANALISIS       FAKTOR-FAKTOR           YANG      MEMENGARUHI           NON

       PERFORMING LOAN (NPL) PADA BANK BUMN”.




    2. Rumusan Masalah

       Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi rumusan

       masalah adalah :

       1. Apakah Non Performing Loan (NPL) berpengaruh positif dan signfikan terhadap

          profitabilitas (LDR) PT Bank BUMN di Indonesia?

    2. Tujuan dan Manfaat Penelitian


`      A. Tujuan penelitian


               Sesuai dengan permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini, maka tujuan

          penelitian adalah untuk menunjukkan:


       1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Non Performing Loan (NPL)             terhadap

          (LDR) pada PT Bank BUMN Di Indonesia.
    B. Manfaat Bagi penulis


         Manfaat yang diharapkan dari kajian penelitian ini adalah sebagai berikut:


    1. Sebagai literature tambahan bagi mahasiswa/i fakultas ekonomi yang ingin

         melakukan penelitian selanjutnya.

    2. Sebagai sumbangan informasi mengenai beberapa faktor yang memengaruhi non

         performing loan untuk semua pihak yang membutuhkan

    3.   Untuk menambah pengetahuan penulis mengenai perbankan.



4. Sistematika Penulisan

            Sistematika penulisan yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara

    keseluruhan mengenai hal-halyang akan diuraikan dalam proposal ini. Secara garis besar

    proposal ini terdiri dari tiga bab, yaitu :


    BAB I PENDAHULUAN

            Pada bab ini berisi tentang : latar belakang masalah yang merupakan uraian

    tentang aspek-aspek yang diungkapkan berupa fenomena-fenomena yang menjadi

    masalah penelitian, perumusan masalah yang merupakan pertanyaan penelitian yang

    didasarkan pada ruang lingkup permasalahan yang diteliti, pembatasan masalah yang

    diperlukan agar permasalahan yang ada tidak akan meluas, tujuan penelitian dan manfaat

    penelitian merupakan jawaban terhadap rancangan yang akan dikaji dalam penelitian,

    metode penelitian menjelaskan mengenai cara yang digunakan dalam melakukan

    penelitian, dan yang terakhir sistematika skripsi yang berisi garis besar skripsi ini.

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA
      Dalam bab ini diuraikan tentang : tinjauan pustaka yang berhubungan dengan objek

penelitian. Dalam menganalisis permasalahan yang akan diulas yaitu Loan to Deposite

Ratio (LDR) terhadap Non Performing Loan (NPL). Secara keseluruhan terdiri dari :

tinjauan umum tentang bank, dana bank, biaya dana bank, suku bunga, dan pendapatan

bunga bank, hasil penelitian sebelumnya, kerangka pikir, hipotesis, serta model

penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

      Dalam bab ini diuraikan tentang : metode yang digunakan, jenis dan sumber data,

teknik dan metode pengumpulan data, metode analisis data, operasionalisasi variabel,

serta teknik pengolahan data.

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

      Dalam bab ini diuraikan tentang : gambaran umum perusahaan yang diteliti dalam

hal ini bank persero yang ada di Indonesia.

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

      Dalam bab ini diuraikan tentang : Loan to Deposite Ratio (LDR) terhadap Non

Performing Loan (NPL) dan pengujian hipotesis.

BAB VI PENUTUP

      Dalam bab ini diuraikan tentang : simpulan yang berisi kesimpulan yang telah teruji

dalam penelitian dan saran.
                                       BAB II


                              TINJAUAN PUSTAKA


1. Bank


A. Pengertian Bank dan Perbankan


      Undang-undang RI nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah

  diubah dengan undang-undang nomor 10 Tahun 1998 menyatakan Bank adalah badan

  usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan menyalurkan

  kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka

  meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.


      Hasibuan (2007) bahwa bank adalah lembaga keuangan berarti bank adalah badan

  usaha yang kekayaannya terutama dalam bentuk aset keuangan (financial asset) serta

  bermotifkan profit dan juga sosial, jadi bukan hanya mencari keuntungan saja.


      Dahlan Siamat (2001) menjelaskan bahwa bank dalam melakukan usahanya

  dalam menghimpun dana dalam bentuk simpanan yang merupakan sumber dana bank.
B. Fungsi dan Tujuan Bank


      Undang-undang RI nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah

  diubah dengan undang-undang nomor 10 Tahun 1998, menjelaskan bahwa fungsi

  utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana

  masyarakat. Tujuan Perbankan Indonesia menunjang pelaksanaan pembangunan

  nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, stabilitas

  ekonomi kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.


      Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso (2006 menyatakan bahwa fungsi bank

  secara umum adalah menghimpun dana dari masyarakat untuk berbagai tujuan atau

  sebagai financial intermediary. Secara lebih spesifik bank dapat berfungsi sebagai

  agent of trust, agen of development, dan agen of service.


  1. Agent of trust

      Dasar utama kegiatan perbankan adalah kepercayaan (trust), baik dalam

      penghimpunan dana maupun penyaluran dana. Masyarakat akan mau menitipkan

      dananya di bank apabila dilandasi adanya unsur kepercayaan. Masyarakat percaya

      bahwa dananya tidak disalahgunakan oleh bank, uangnya akan dikelola dengan

      baik, bank tidak akan bangkrut, dan pada saat yang ditentukan simpanan tersebut

      dapat ditarik kembali dari bank. Pihak bank sendiri akan menempatkan atau

      menyalurkan dananya pada debitur atau masyarakat apabila dilandasi adanya

      unsur kepercayaan.

  2. Agen of development
     Kegiatan bank berupa penghimpunan dan penyaluran dana sangat diperlukan bagi

     lancarnya kegiatan perekonomian disektor riil. Kegiatan bank tersebut

     memungkinkan masyarakat melakukan kegiatan investasi, distribusi, serta

     kegiatan konsumsi barang dan jasa, mengingat bahwa investasi, distribusi,

     konsumsi tidak dapat dilepaskan dari adanya penggunaan uang. Kelancaran

     investasi-distribusi-konsumsi ini adalah kegiatan pembangunan perekonomian

     masyarakat.

  3. Agen of service.

     Disamping melakukan kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana, bank juga

     melakukan penawaran jasa perbankan yang lain kepada masyarakat. Jasa yang

     ditawarkan bank ini erat kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat

     secara umum. Jasa ini antara lain dapat berupa jasa pengiriman uang, penitipan

     barang berharga, bagian jaminan bank, dan penyelesaian tagihan.




C. Klasifikasi Bank

     Berdasarkan fungsi dan tujuan operasional, bank dapat dibagi menjadi:

 1. Bank Sentral

     Bank sentral memiliki tujuan untuk menjaga stabilitas perekonomian makro. Bank

     sentral melakukan fungsinya dengan melakukan pengaturan, pengawasan, dan
     pembinaan terhadap sektor perbankan. Bank yang menjalankan fungsinya sebagai

     bank sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia.

  2. Bank Komersial

     Bank komersial memiliki tujuan untuk menghasilkan keuntungan. Keuntungan

     bank komersial diperoleh dari selisih antar suku bunga pinjaman dan suku bunga

     penempatan dana pihak ketiga.


      Bank komersial di Indonesia berdasarkan cakupan kegiatan operasionalnya dapat

  dibagi menjadi :


1. Bank Umum

   Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau

   berdasarkan prinsip syariah yang ada dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu

   lintas pembayaran. Para ahli mendefinisikan bank umum sebagai institusi keuangan

   berorientasi laba.




2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

   BPR adalah bank yang dalam kegiatannya jasa lalu lintas pembayaran dimana

   kegiatan BPR hanya dibatasi pada intermediasi pada keuangan saja. Oleh karena itu,

   biasanya BPR hanya beroperasi pada wilayah terbatas dan memiliki jumlah aset yang

   lebih kecil dibandingkan bank umum.

      Berdasarkan tata cara pengelolaan kegiatan operasionalnya, bank terbagi atas:

1. Bank Konvensioanal
   Bank konvensional adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya secara

   konvensional.

2. Bank Syariah

   Bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip

   syariah.

      Perbedaan mendasar antara kedua jenis bank ini salah satunya adalah dengan

   tidak menerapkan sistem bunga, namun bedasarkan bagi hasil sesuai dengan ajaran

   agama islam yang mengharamkan hukum riba (bunga).


      Berdasarkan status kepemilikannya, bank di Indonesia dibedakan menjadi :




1. Bank Persero/ Bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara)

   Bank persero atau juga sering disebut BUMN adalah bank yang seluruh atau sebagian

   besar sahamnya dimiliki oleh pemerintah pusat.

2. Bank Pemerintah Daerah

   Bank pemerintah daerah adalah bank yang seluruh atau sebagian besar sahamnya

   dimiliki oleh daerah.

3. Bank Swasta Nasional

   Bank swasta nasional adalah bank yang seluruh atau sebagian besar sahamnya

   dimiliki oleh pihak swasta nasional.

4. Bank Asing
     Bank asing adalah bank yang seluruh atau sebagian besar sahamnya dimiliki oleh

     pihak asing, yang membuka kantor cabangnya di Indonesia, dimana kantor pusatnya

     berada diluar negeri.

  5. Bank Campuran

     Bank campuran adalah bank yang seluruh atau sebagian besar sahamnya dimiliki

     pihak asing dan pihak swasta nasional.

         Bedasarkan perizinan untuk melakukan transaksi dalam mata uang asing, bank

  dapat dibedakan menjadi :

  1. Bank Devisa

     Bank devisa adalah bank yang memiliki perizinan untuk dapat melakukan transaksi

     dalam mata uang asing.



  2. Bank non Devisa

     Bank non devisa adalah bank yang tidak memiliki perizinan untuk dapat melakukan

     transaksi dalam mata uang asing dan hanya menggunakan satu jenis mata uang

     (rupiah) dalam transaksi perbankan.

C. Jenis-jenis Resiko dalam Perbankan

         Resiko dalam konteks perbankan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang

  dapat diperkirakan (anticipated) maupun yang tidak dapat diperkirakan (unantisipated)

  yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan bank. Untuk dapat

  menerapkan proses manajemen resiko, maka pada tahap awal bank harus secara tepat

  mengidentifikasi resiko dengan cara mengenal dan memahami seluruh resiko yang sudah
ada (inherent risks) maupun yang mungkin timbul dari suatu bisnis baru bank, termasuk

risiko yang bersumber dari perusahaan terkait dan afiliasi lainnya.

       Sesuai dengan surat edaran Bank Indonesia Nomor 5/21/DPNP/2003 tentang

Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum, maka proses

identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan sistem informasi risiko Bank Umum dilakukan

terhadap jenis-jenis risiko tersebut:

1. Risiko Kredit

   Risiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan pihak lawan (counterparty)

   memenuhi kewajibannya. Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas

   fungsional bank seperti perkreditan (penyediaan dana), treasuri dan investasi, dan

   pembiayaan perdagangan, yang tercatat dalam banking book maupun trading book.

2. Risiko Pasar

   Risiko pasar adalah risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar dari

   portofolio yang dimilki oleh bank, yang dapat merugikan bank (adverse movement).

   Yang dimaksud dengan variabel pasar adalah suku bunga dan nilai tukar.

3. Risiko Likuiditas

   Risiko likuiditas adalah risiko yang antara lain disebabkan bank tidak mampu

   memenuhi kewajiban yang telah jatuh waktu. Risiko likuiditas dapat melekat pada

   aktivitas fungsional perkreditan (penyediaan dana), treasuri dan investasi, kegiatan

   pendanaan dan instrumen utang.

4. Risiko Operasional

   Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh ketidakcukupan

   atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem atau
   adanya problem eksternal yang memengaruhi operasional bank. Risiko operasional

   dapat melekat pada setiap aktivitas fungsional bank, seperti kegiatan perkreditan

   (penyediaan dana), treasuri dan investasi, operasional dan jasa, pembiayaan

   perdagangan, pendanaan dan instrumen utang, teknologi dan sistem informasi

   manajemen, dan pengelolaan sumber daya manusia.



5. Risiko Hukum

   Risiko hukum adalah risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek yuridis,

   yang antara lain disebabkan adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan perundang-

   undangan yang mendukung, atau kelemahan perikatan seperti tidak dipenuhi syarat

   sahnya kontrak dan pengikat agunan yang tidak sempurna.

6. Risiko Reputasi

   Risiko reputasi adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya publikasi

   negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank atau persepsi negatif terhadap bank.

   Bank harus melaksanakan prosedur untuk mengendalikan risiko reputasi secara

   material memengaruhi kondisi usaha bank.

7. Risiko Strategik

   Risiko strategik adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya penetapan dan

   pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak

   tepat atau kurang responsifnya bank terhadap perubahan eksternal. Bank harus

   menetapkan rencana strategik (corporate plan) dan rencana bisnis (business plan)

   yang berjangka waktu sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun secara tertulis dan

   melaksanakan kebijakan tersebut.
8. Risiko Kepatuhan

   Risiko kepatuhan merupakan risiko yang disebabkan bank tidak mematuhi atau tidak

   melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.


2. Kredit

   A. Pengertian Kredit


        Berdasarkan Undang – Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU

   No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, yang dimaksud dengan kredit adalah

   penyediaan uang atau tagihan yang dapat disamakan, berdasarkan persetujuan atau

   kesepakatan pinjam meminjam antar bank dengan pihak lain yaitu mewajibkan pihak

   peminjaman untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan

   pemberian bunga.


   B. Pengertian Kredit Bermasalah


       Kredit bermasalah adalah suatu keadaan dimana nasabah sudah tidak sanggup

  membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang telah

  diperjanjikan.




   C. Penyebab kredit macet
       a. Error Omission (EO)


          Timbulnya kredit macet yang ditimbulkan oleh adanya unsur kesengajaan

          untuk melanggar kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan.


       b. Error Commusion


          Timbulnya kredit macet karena memanfaatkan lemahnya peraturan atau

          ketentuan yaitu memang belum ada atau sudah ada, tetapi tidak jelas.


       Kredit-kredit yang disalurkannya jika banyak yang macet akan menimbulkan

kerugian yang besar. Kerugian yang besar ini akan menghambat operasi perusahaan. Dan

supaya kegiatan perbankan tidak terganggu, maka nanti Pemerintah juga yang harus

memberi injeksi modal. Pemerintah hingga kini masih dominan dalam jumlah asset

terhadap keseluruhan aset perbankan nasional. Biasanya di saat kredit macet terjadi dan

dilakukan pemeriksaan, maka persoalannya tidak akan lepas dari EO dan EC atau bahkan

karena dua-duanya.


       Berdasarkan pengalaman kasus-kasus perbankan nasional yang berkaitan dengan

kredit macet menimbulkan semacam persepsi yang cenderung menjadi suatu “mitos”

yang masih dianut, antara lain adalah :


       1). Bahwa bank tidak mengalami kerugian akibat resiko kredit. Atas pemahaman

           ini, maka merupakan kesalahan sekaligus “kejahatan” besar apabila pada

           sebuah bank tercatat adanya kredit macet. Padahal risiko kredit jelas

           merupakan risiko yang selalu ada dan tidak bisa dihindari.
       2). Dalam setiap kasus kredit macet selalu diartikan itu karena terjadi kolusi dan

          atau korupsi apakah oleh pihak oknum bankir ataupun oknum nasabahnya.

          Hal tersebut bisa saja terjadi, tetapi tidak semua kredit macet karena kolusi

          dan korupsi.


       3). Dalam setiap penanganan kredit macet selalu mengutamakan pendekatan

          “sapu jagat” di mana going concern baik bank dan perusahaannya menjadi

          diabaikan. Kalau kredit macet itu karena ulah oknumnya, maka bukan berarti

          bank ataupun perusahaannya harus dimatikan.


       4). Ada kecenderungan kajian atas kredit macet mengabaikan term of reference

          masa lalu. Kredit yang diputus tahun 2000, misalnya, dan kemudian macet

          pada tahun 2004, maka berusaha dikaji atas dasar term of reference pada

          tahun 2000. Misalnya, hal-hal yang berkaitan dengan asumsi.


       Dengan pedekatan term of reference, biasanya akan diketahui apakah kredit macet

itu karena error omission atau error commission. Jadi kesalahannya bisa saja bukan pada

dasar keputusannya, tetapi karena masalah monitoring dan pembinaan bank terhadap

nasabahnya. Sama-sama salah, tetapi esensinya menjadi lebih jelas dan memudahkan

menemukan siapa yang bertanggung jawab, bukan siapa yang dipersalahkan.


       Harusnya kalau kredit macet itu terbukti memang karena oknumnya yang salah,

maka segera saja proses secara hukum terhadap oknumnnya. Itu pun dengan tetap

menjaga asa praduga tak bersalah. Adalah sangat bijak kalau bank dan perusahaannya

bisa dibiarkan berjalan terus apakah oleh manajemen baru atau kalau perlu ditunjuk dari
kalangan professional atas dasar penugasan dari negara. Sebab sangatlah tidak tepat dan

bijaksana kalau perusahaannya harus ditutup dimana para pekerjanya yang sama sekali

tidak bersalah akan ikut menjadi korbannya.




  4. Penyelamatan dan penyelesaian kredit macet


       Apabila sampai terjadi kredit bermasalah, maka harus melakukan upaya-upaya

  dalam mengatasi kredit bermasalah sampai tidak ada alternative lainnya, serta

  melakukan penghapusan kredit dan pengelolaan kredit yaitu telah dihapus bukukan.

  Penyelamatan kredit bermasalah tersebut dilakukan dengan cara (Recedulling,

  Reconditioning, Retructurng).


       a. Penjadwalan kembali (Rescheduling), yaitu perubahan syarat kredit yang hanya

          menyangkut jadwal pembayaran dan atau jangka waktunya.


       b. Persyaratan kembali (Reconditioning), yaitu perubahan sebagian atau seluruh

          syarat-syarat kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran,

          jangka waktu dan atau persyaratan lainnya, sepanjang tidak menyangkut

          maksimum saldo kredit.


      c. Penataan kembali (Restructuring), yaitu perubahan syarat-syarat kredit yang

          meliputi reschedulling, reconditioning.
   5. Mencegah terjadinya kredit macet


    Untuk mencegah terjadinya kredit macet pihak bank harus melakukan analisis

sebagai berikut kepada calon krediturnya. Analisis ini dapat dilakukan dengan

menggunakan kerangka 5C, 3R dan analisis Rasio.


    a. Kerangka 5C


    · Character


    Pihak bank harus mengenali sifat dan watak calon kreditur. Apakah ia mau

    memenuhi kewajibannya untuk melunasi kredit? Hal ini penting untuk diketahui,

    karena dapat memengerahui keputusan untuk dapat memberikan kredit atau tidak.

    Pihak bank harus memahami karakter calon kreditur menyangkut apakah kreditur

    seseorang yang dapat dipercaya. Pihak bank dapat mengetahui dengan melihat

    latar belakang calon kreditur baik itu pekerjaan, sifat pribadi, cara hidup, gaya

    hidup, keadaan keluarga, hobi dan jiwa sosial.


    · Capacity


    Pihak bank harus mengukur kemampuan nasabah untuk melunasi kewajiban

    hutangnya, melalui pengelolaan perusahaannya secara efektif dan efisien. Jika
nasabah dapat menegelola perusahaannya dengan baik, maka perusahaan bisa

memperoleh keuntungan dan memungkinkan untuk dapat mengembalikan

pinjaman. Capacity dapat dilihat dari data-data masa lalu (track record)

perusahaan.


· Capital


Pihak bank dapat melihat kondisi keuangan nasabah melalui analisis keuangan,

seperti analisis rasio. Pihak bank sebaiknya melihat komposisi hutang dan modal

sendiri. Jika hutang terlalu besar, maka kemungkinan perusahaan akan mengalami

kesulitan keuangan juga akan semaikn besar. Selain itu untuk melihat penggunaan

modal apakah efektif atau tidak, dapat dilihat dari laporan keuangan yang

disajikan dengan pengukuran atas rasio-rasio keuangan. Analisis capital juga

harus menganalisis dari sumber mana saja modal yang ada sekarang ini, termasuk

persentase modal yang digunakan untuk membiayai proyek yang akan dijalankan

(Capital Structure).


· Collateral


Collateral adalah aset yang dijaminkan untuk suatu pinjaman. Jika karena sesuatu

hal, pinjaman tidak bisa dikembalikan, maka pihak bank berhak untuk meminta

jaminan tersebut.




· Conditions
      Pihak bank sebaiknya mempertimbangkan kondisi perekonomian, sosial, dan

      politik yang dapat memengaruhi kemampuan nasabah untuk mengembalikan

      pinjaman. Jika kondisi perekonomian memburuk, maka kemungkinan nasabah

      mengalami kesulitan keuangan dapat semakin tinggi, yang membuat kemampuan

      perusahaan mengalami kesulitan melunasi pinjaman.


      b. Kerangka 3R


      a. Returns


        Pihak bank harus dapat memperkirakan bahwa kredit yang diberikan kepada

        nasabah dapat menghasilkan return (pendapatan) yang memadai.


      b. Repayment capacity


       Pihak bank harus dapat memastikan bahwa nasabah mampu untuk melunasi

       pinjamam dan bunganya pada saat pembayaran tersebut jatuh tempo.




      c. Risk-bearing ability


        Pihak bank perlu mempertimbangkan jaminan yang dimiliki oleh nasabah.

        Jaminan tersebut dapat digunakan apabila nasabah menghadapi risiko

        kegagalan atau ketidakpastian yang berkaitan dengan


D. Unsur-Unsur Kredit
        Pengertian tersebut bahwa pemberian kredit adalah pemberian kepercayaan. Hal

ini berarti bahwa prestasi yang diberikan benar-benar diyakini dapat dikembalikan oleh

penerima kredit sesuai dengan waktu dan syarat-syarat yang disetujui bersama,

berdasarkan hal-hal tersebut, maka unsur-unsur dalam kredit (Sinungan, 1993 : 3 - 4)

adalah sebagai berikut :

1. Kepercayaan

  Kepercayaan adalah suatu keyakinan pemberi kredit bahwa prestasi (uang, jasa atau

   barang) yang diberikannya akan benar-benar diterimanya kembali dimasa tertentu

   yang akan datang.

2. Waktu

  Waktu adalah bahwa antara pemberi prestasi dan pengembaliannya dibatasi oleh suatu

   masa atau waktu tertentu. Dalam unsur waktu ini terkandung pengertian tentang nilai

   agio uang bahwa uang sekarang lebih bernilai dari uang dimasa yang akan datang.

3. Degree of Risk

   Degree of Risk adalah pemberian kredit menimbulkan suatu tingkat resiko, dimasa-

   masa tenggang adalah masa yang abstrak. Resiko timbul bagi pemberi karena

   uang/jasa/barang, jasa atau prestasi telah lepas kepada orang lain.

4. Prestasi

  Prestasi adalah yang diberikan merupakan suatu prestasi yang dapat berupa barang,

   jasa atau uang. Perkembangan pengkreditan di alam modern ini maka yang

   dimaksudkan dengan prestasi dalam pemberian kredit adalah uang.

E. Fungsi Kredit
      Fungsi kredit (Sinungan, 1993 : 5-10) dalam kehidupan perekonomian,

perdagangan dan keuangan, pada garis besarnya meliputi hal yang utama sebagai berikut

:

      1. Kredit dapat meningkatkan “Utility” dari modal atau uang

      2. Kredit dapat meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang.

      3. Kredit dapat meningkatkan daya guna (utility) dan peredaran barang.

      4. Kredit sebagai alat untuk stabilitas ekonomi

      5. Kredit menimbulkan kegairahan berusaha pegawai (masyarakat).

      6. Kredit sebagai jembatan untuk meningkatkan pemerataan pendapatan.

      7. Kredit sebagai alat untuk meningkatkan hubungan ekonomi internasional.

F. Penilaian Dalam Pemberian Kredit

        Calon nasabah yang mengajukan permohonan kredit diharuskan memenuhi

persyaratan yang telah dipenuhi tersebut, bank akan memberikan penilaian apakah calon

nasabah tersebut layak atau tidak untuk mendapatkan kredit. Penilaian permohonan kredit

(Suyatno, 1997 :51-52) tersebut, terdapat lima faktor yang perlu diperhatikan oleh bank

antara lain :

1. Character (Kepribadian atau watak).

    Character adalah penilaian kepada calon debitur tentang kebiasaankebiasaan, sifat

    pribadi, cara hidup, keadaan keluarga, hobi dan keadaan sosial. Penilaian karakter

    memang cukup sulit, karena masing-masing individu memiliki watak dan sifat yang

    berbeda-beda. Oleh karena itu para pengelola harus mempunyai keahlian dan

    keterampilan serta pengetahuan psikologis untuk dapat menganalisa watak calon
  nasabah. Penilaian karakter ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana tingkat

  kejujuran serta itikad baik nasabah untuk memenuhi kewajibannya.

2. Capacity (kemampuan atau kesanggupan).

  Capacity adalah suatu penilaian kepada calon debitur mengenai kemampuan melunasi

  kewajiban-kewajibanya dari kegiatan usaha yang dilakukanya yang akan di biayai

  dengan kredit dari lembaga pemberi kredit, kemampuan calon debitur ini dapat dilihat

  dari maju mundurnya usaha serta manajemennya.



3. Capital (modal atau kekayaan).

  Capital adalah jumlah dana sendiri yang dimiliki oleh calon debitur, yang

  diikutsertakan dalam kegiatan usahanya. Penyelidikan terhadap capital pemohon tidak

  hanya dilihat dari besar kecilnya gaji setiap bulannya, tetapi bagaimana distribusi gaji

  bulananya ditempatkan oleh calon debitur.

4. Collateral (Jaminan)

  Collateral (Jaminan) adalah barang jaminan yang diserahkan oleh calon debitur

  sebagai agunan (jaminan) kredit yang diterimanya. Jaminan yang dimaksud meliputi

  jaminan yang berupa benda bergerak dan tidak bergerak.

5. Condition of Economy

  Condition of Economy adalah kondisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang dapat

  memengaruhi perekonomian pada kurun waktu tertentu yang secara langsung atau

  tidak langsung memengaruhi kegiatan usahannya.



4. Jenis-Jenis Kredit
       Kredit (Siamat, 2001: 165-166) dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :




A. Menurut Jangka Waktu (maturity)

1. Kredit jangka pendek (short term-loan)

  Kredit jangka pendek adalah kredit yang jangka waktu pengembaliannya kurang dari

  satu tahun. Misal kredit untuk membiayai kelancaran operasi perusahaan termasuk

  kredit modal kerja.

2. Kredit Jangka menengah (medium-term loan)

  Kredit Jangka menengah adalah kredit yang jangka waktu pengembaliannya 1 s/d 3

  tahun. Biasanya kredit ini untuk menambah modal kerja misal untuk membiayai

  pengadaan bahan baku. Kredit jangka menengah dapat pula dalam bentuk kredit

  investasi.

3. Kredit jangka Panjang (long-term loan)

  Kredit jangka Panjang adalah kredit yang jangka waktu pengembaliannya atau jatuh

  temponya melebihi 3 tahun

B. Menurut Tujuan Kredit

  Menurut Tujuan Kredit di bagi atas :

1. Kredit konsumtif (consumer loan).
  Kredit konsumtif adalah kredit yang diberikan oleh bank untuk memenuhi kebutuhan

  debitur yang bersifat konsumtif misalnya, untuk membeli kendaraan, rumah, dan

  sebagainya.

2. Kredit Produktif

  Kredit Produktif adalah kredit yang diberikan oleh bank dalam rangka membiayai

  kebutuhan modal kerja debitur sehingga dapat mempelancar produksi. Misalnya :

  kredit untuk pembelian bahan mentah biaya pemasaran dan sebagainya.

3. Kredit komersil (commercial loan)

  Kredit komersil adalah kredit yang diberikan memperlancar kegiatan usaha nasabah di

  bidang perdagangan. Kredit komersil ini meliputi antara lain : kredit untuk usaha

  tokoan, kredit ekspor dan sebagainya.

C. Menurut Penggunaan Kredit

     Berdasarkan penggunaanya, kredit dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :

1. Kredit modal kerja

  Kredit modal kerja adalah kredit yang diberikan oleh bank untuk menambah modal

  kerja debitur. Kredit modal kerja ini pada prinsipnya meliputi modal kerja kerja untuk

  tujuan komersil, industri, kontraktor bangunan dan sebagainya.

2. Kredit investasi

  Kredit investasi merupakan kredit yang diberikan oleh bank kepada perusahaan untuk

  digunakan melakukan investasi dengan membeli barang-barang modal. Seperti untuk

  membiayai pengadaan barang-barang modal atau jasa yang diperlukan dalam rangka

  rehabilitasi, modernisasi, ekspansi, relokasi dan sebagainya.
5. Faktor-Faktor Kredit Macet

   E. Pengertian Kredit Macet

       Kredit macet menurut (Sinungan, 1993 : 57) adalah kredit yang tidak lancar dan

telah sampai pada jatuh temponya belum dapat juga diselesaikan oleh nasabah

bersangkutan, sedangkan menurut (Djumhana, 1996 : 267) kredit macet yaitu apabila

tidak memenuhi kriteria lancar, kurang lancar, dan diragukan atau memenuhi kriteria

diragukan, tetapi dalam jangka waktu 21 bulan sejak digolongkan diragukan belum ada

pelunasan atau usaha penyelamatan kredit atau kredit tersebut penyelesaiannya telah

diserahkan kepada Pengadilan Negeri atau Badan Urusan Piutang Negara (BUPN), atau

telah diajukan penggantian ganti rugi kepada perusahaan asuransi kredit.

       Kredit macet menurut (Sukardji, 1984 :115) adalah piutang tak tertagih, Piutang

tak tertagih adalah jumlah klaim perusahaan yang ada pada pelanggan yang tidak dapat

ditagih karena suatu alasan tertentu, sedangkan menurut (Siamat, 1993 : 201) Kredit

Macet atau Problem Loan adalah kredit yang mengalami kesulitan pelunasan akibat

adanya faktor-faktor atau unsur-unsur kesengajaan atau karena kondisi diluar

kemampuan debitur. Pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kredit macet adalah

Piutang yang tak tertagih atau kredit yang mempunyai kriteria kurang lancar, diragukan

karena mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor-faktor tertentu.




B. Gejala-Gejala Kredit Macet
       Gejala kredit macet (Mahmoedin 1995 : 134-135). antara lain disebabkan oleh :

1. Menurunnya pendapatan bersih

   Turunnya pendapatan bersih dapat disebabkan oleh menurunnya penerimaan atau

   naiknya biaya.

2. Menurunnya Penjualan Secara tajam

  Turunnya penjualan secara tajam adalah wajar dalam siklus hidup perusahaan, tetapi

  jika penurunan penjualan secara sangat tajam merupakan tanda perusahaan akan

  menemui titik kritis.

3. Menurunnya perputaran persediaan

  Perputaran persediaan yang cepat akan memberikan kelancaran bagi perusahaan.

  Tetapi jika perputaran tersebut kecepatannya menurun berarti banyak barang yang

  tidak laku, berarti perusahaan diambang kesulitan.

4. Meningkatnya penjualan secara tajam

  Naiknya penjualan secara tajam disebabkan perusahaan ingin mempunyai uang secara

  cepat guna melakukan penjualan sehingga harga jual dibawah harga pokok.

5. Menurunnya perputaran piutang

  Perputaran piutang yang cepat juga akan memberikan bagi perusahaan untuk segera

  melikuiditas. Tetapi jika piutang sulit ditagih akan menimbulkan bagi perusahaan

  dalam melanjutkan operasionalnya.

6. Menurunnya Modal lancar

  Turunnya modal lancar dapat disebabkan karena melakukan pembelian, membekaknya

  hutang kepada pihak ketiga dan mungkin karena pemborosan.

7. Nasabah mulai ingkar janji
8. Nasabah membuat laporan fiktif

9. Nasabah tidak terbuka, yaitu dengan mengrahasiakan sesuatu hal yang erat kaitannya

  dengan penggunaan kredit.

Apabila dilihat dari segi pelaku kredit, maka faktor-faktor kredit macet dari nasabah

adalah :

1. Kelemahan nasabah

  a. Manajemen kurang (kurang menguasai manajemen kredit).

  b. Tidak memiliki perencanaan yang baik

  c. Produk ketinggalan jaman

  d. Kalah bersaing

  e. Lokasi usaha yang tidak tepat

  f. Adminitrasi yang kacau

2. Kenakalan nasabah

  a. Tidak jujur dan sukar ingkar janji

  b. Melakukan penyimpangan penggunaan

  c. Pola hidup yang boros atau mewah

  d. Suka berbuat skandal

  e. Suka berjudi dan berspekulasi.

Sinungan (1993 : 58-59) menyatakan bahwa penyebab kredit macet adalah kesulitan

keuangan yang dialami oleh debitur. Penyebab kesulitan keuangan dapat dikategorikan

menjadi 2 yaitu :

1. Faktor-faktor Intern (managerial Factor).
       Faktor-faktor Intern adalah faktor-faktor yang ada dalam diri perusahaan sendiri.

Dari segi managerial factor terjadinya kredit macet disebabkan oleh :

a. Kelemahan dalam kebijaksanaan pembelian dan penjualan

b. Tidak efektifnya kontrol atas biaya dan pengeluaran.

c. Kebijaksanaan tentang kebijaksanaan piutang yang tidak efektif

d. Penempatan yang berlebihan pada aktiva tetap

e. Permodalan yang tidak cukup.

2. Faktor-faktor ekstern

       Faktor-faktor ekstern adalah faktor-faktor yang berasal dari luar perusahaan.

Faktor-faktor ekstern meliputi :

a. Bencana Alam

  Bencana alam adalah sesuatu yang tidak kita inginkan. Misalnya kebakaran, gempa

  bumi, gunung meletus, angina topan, banjir, dan sebagainya.




b. Peperangan

  Perang merupakan pengrusakan dan akibat dari peperangan ini merupakan bencana

  yang diperbuat manusia, misal demontrasi, penjarahan, pembakaran dan lain-lain.

c. Perubahan kondisi perekonomian

  Misal peraturan pemerintah terhadap suatu jenis barang,keadaan kritis misalnya

  demontrasi, penjarahan, pembakaran dan lain-lain.

d. Perubahan teknologi
  Semakin majunya teknologi maka semakin efisien barang yang diproduksi sehingga

  perusahaan yang tidak menggunakan modern akan kalah bersaing.

Berbagai pendapat tersebut maka faktor-faktor yang menyebabkan kredit macet adalah :

1. Faktor Intern

a. Kelemahan bank dalam melakukan analisis, sehingga terjadi kesalahan dalam

   pengambilan keputusan.

b. Kelemahan nasabah

    1. Perencanaan

    Perencanaan adalah gambaran sebelum sesuatu dilaksanakan. Untuk memulai usaha

    tentunya harus ada rencana tentang pinjaman yang diambil untuk memperlancar

    usaha atau memulai usaha agar usaha dapat berjalan dengan baik. Tanpa adanya

    perencanaan maka pinjaman yang diperoleh tidak akan dapat dimanfaatkan untuk

    menjalankan usaha secara lancar dan tidak terarah pada pencapaian tujuan usaha.

    2. Pendapatan yang relatif rendah

     Jika pendapatan yang diperoleh relatif rendah, nasabah sulit untuk mengembalikan

    pinjaman, karena pendapatan yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi

    kebutuhan sehari-hari.

    3. Administrasi

     Administrasi merupakan pengaturan suatu kegiatan secara teratur. Berjalannya

    usaha harus dapat diatur administrasinya dan dikendalikan tentang pemasukan dan

    pengeluaran keuangan agar jalannya usaha dapat teratur.

c. Kenakalan nasabah
  1. Pengambilan kredit diharapkan dapat digunakan sepenuhnya untuk menambah

    modal, tetapi belum tentu hal itu dilakukan semua para pengusaha karena ada yang

    menggunakan pinjaman tersebut untuk keperluan sehari-hari atau melunasi hutang

    pada pihak lain sehingga pinjaman tersebut tidak optimal penggunaannya.

  2. Itikad nasabah

     Itkikad nasabah adalah niat atau keinginan untuk membayar pinjaman yang ada pada

    diri responden.

       Berdasarkan uraian tersebut telah dijelaskan beberapa faktor yang menyebabkan

timbulnya kredit macet tetapi dalam penelitian ini hanya dibatasi pada beberapa faktor

saja, seperti faktor Character, Capacity, Capital, Collateral dan Condition yang

kesemuanya itu dapat memberikan sebagai dasar penilaian kepada seseorang debitur

apakah layak untuk diberikan kredit atau tidak.

6. Non Performing Loan (NPL)

           Salah satu resiko yang dihadapi oleh suatu bank adalah risiko tidak terbayarnya

    kredit yang telah diberikan atau sering disebut dengan risiko kredit. Risiko kredit umumnya

    timbulnya dari berbagai kredit bermsalah. Oleh sebab itu bank dituntut untuk selalu menjaga

    kreditnya agar tidak berada dalam kategori kredit bermasalah.

           Pengertian non performing loan menurut As. Mahmoeddin (2001), yaitu bahwa non

    performing loan adalah kredit menepati jadwal angsuran sehigga terjadi tunggakan.

           Menurut Rivai (2007), ada beberapa pengertian kredit bermasalah atau non

    performing loan, yaitu:

    1. Kredit yang di dalam pelaksanaannya belum mencapai/memenuhi target yang

        diinginkan oleh pihak bank.

    2. Kredit yang memiliki kemungkinan timbulnya risiko di kemudian hari bagi bank dalam

        arti luas.
     3. Kredit yang mengalami kesulitan di dalam penyelesaian kewajibannya terhadap bank,

         baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya dan atau pembayaran bunga, enda

         keterlambatan, serta ongkos-ongkos bank yang berangkutan.

     4. Kredit di mana terjadi cedera janji dalam pembayaran kembali sesuai perjanjian

         sehingga terdapat tunggakan karena ada potensi kerugian di perusahaan debitur.

           Non performing loan merupakan salah satu pengukuran risiko bank yang

     menunjukkan besarnya risiko kredit bermasalah yang ada pada suatu bank. Ukuran terbaik

     NPL sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia untuk NPL gross adalah dibawah 5%. Semakin

     besar rasio NPL, semakin besar pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank dan juga

     mengindikasikan bahwa bank tersebut dapat mengalami masalah profitabilitas, karena

     seharusnya bank memperoleh profit dari kegitan pemberian kredit, tetapi karena banyaknya

     kredit bermasalah menimbulkan potensi kerugian kerugian bagi bank.

           Sesuai dengan Surat Ederan Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP tanggal 14 Desember

     2001 tentang Laporan Keuangan Publikasi Triwulan dan Bulanan Bank Umum serta Laporan

     tertentu yang disampaikan kepada Bank Indonesia, NPL dirumuskan sebagai berikut:


                      Total Kredit Bermasalah
        NPL =                                        x 100%            (I)
                          Total Kredit


     Keterangan:

     1. Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.

     2. Kredit merupakan kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit

        kepada bank lain).

     3. Kredit bermasalah dihitung secara gross (tidak dikurangi Penyisihan Penghapusa Aktiva

        Produktif).



7.   Loan to Deposite Ratio (LDR)
      Adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang

    diterima oleh bank. Rasio ini menunjukkan salah satu penilaian likuiditas bank

    (Teguh,1995).


                      Total Kredit
      LDR =                                    x 100%           ( II )
                Total Dana Pihak Ketiga

8. Penelitian Sebelumnya

      Penelitian yang dilakukan oleh Yuliana Theodora (2011) menunjukkan bahwa

   dari hasil uji statistic faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan non performing

   loan, maka variabel Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh secara tidak signifikan

   terhadap NPL. Koefisien LDR bertanda negatif, menunjukkan antara NPL dan LDR

   yang berlawanan. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi nilai LDR, maka nilai NPL

   akan cenderung turun. Sedangkan variabel suku bunga kredit mempengaruhi nilai

   NPL dengan tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat suku bunga kredit

   ternyata tidak berpengaruh secara teoristis langsung terhadap tingkat NPL. Meskipun

   efek kenaikan suku bunga secara teoristis langsung berpengaruh pada kemampuan

   membayar kembali debitur dan berpotensi langsung berpengaruh pada kemampuan

   membayar kembali debitur dan berpotensi meningkatkan kredit bermasalah (NPL).

      Penelitian yang dilakukan oleh Suryanti Lubis (2006) dengan mengambil sampel

   pada perbankan di Sumatra Utara tentang faktor-faktor yang mempengaruhi non

   performing loan, menunjukkan bahwa hasil regresi hubungan antara variabel suku

   bungan SBI mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan NPL

   perbankan di Sumatra Utara.
       Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadi non performing

   loan juga dilakukan oleh Hermawan Soebagio (2005). Penelitian tersebut dilakukan

   terhadap bank umun komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kualitas Aktiva

   Produktif (KAP) mempunyai pengaruh paling kuat. Kondisi ini menunjukkan bahwa

   baik buruknya kualitas kredit sangat kuat pengaruhnya terhadap terjadinya NPL.

   Sedangkan variabel lainnya, yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR), tingkat suku bunga

   Pinjaman Bank dan Loan to Deposit Ratio (LDR), ketiganya relatif lebih lemah,

   namun ketiganya secara signifikan mempunyai andil dalam mempengaruhi terjadinya

   NPL.

6. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

       Atas dasar pemikiran teoritis dan beberapa hasil penelitian terdahulu,

sebagaimana dijelaskan diatas, maka faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya non

performing loan dapat digambarkan sebagai berikut :
Kerangka Pikir :

                                     Skema 1

                                        BUMN



                                   Pengelolaan Keuangan




                               -    Tingkat Kesehatan Bank
                               -    Pemberian Kredit Nasabah



                                           LDR



                                           NPL


                                       Kesimpulan



                                      Rekomendasi



Sumber : Peneliti ( 2011)
       Bank BUMN bergerak sebagai pengelolaan keuangan pada Bank BUMN Di Indonesia.

Dari pengeloalan keuangan dapat dilihat tingkat kesehatan bank dan pemberian kredti yang

diberikan oleh bank kepada masyaratkat. Pemberian kredit dapat dilihat menggunakan LDR atau

total kredit, untuk menentukan kredit tersebut bermasalah atau tidak dapat diukur menggunakan

NPL.
   Hipotesis :


   Dari pokok permasalahan yang telah diuraikan dan kerangka pemikiran teoritis, maka

hipotesis yang dapat dikemukakan pada penelitian ini yaitu “diduga bahwa Non Performing

Loan (NPL) pada PT Bank BUMN di Indonesia berpengaruh positif dan signifikan terhadap

Loan to Deposite Ratio (LDR)“.
                                                 BAB III


                                   METODOLOGI PENELITIAN


3.1.         Lokasi Penelitian


             Penelitian ini dilakukan di PT Bank BUMN se Indonesia.


3.2.         Jenis dan Sumber Data

3.2.1.       Jenis Data


             Jenis data yang digunakan:


    1.       Data Kuantitatif, yaitu data yang dapat dihitung atau data yang berupa angka-angka,

             dalam hal ini data yang merupakan laporan keuangan PT Bank BUMN Se-Indonesia.

3.2.2.       Sumber Data

             Sumber data yang digunakan yaitu:

            1. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari luar perusahaan berupa buku-buku,

              majalah, dan literatur yang berkaitan erat dengan masalah yang dibahas.

3.3.         Metode Pengumpulan Data

             Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:

       1.    Penelitian Pustaka (Library Research) adalah suatu metode pengumpulan data dengan

             cara melakukan peninjauan pustaka dari berbagai literartur karya ilmiah, majalah dan

             buku-buku yang menyangkut teori-teori yang relevan dengan masalah yang dibahas.

       2.    Dokumentasi adalah metode yang dilakukan dari internet.
3.4.     Identifikasi Variabel Penelitian

         Penelitian ini merupakan penelitian untuk mengetahui ada pengaruh loan to deposit

   ratio terhadap pendapatan non performing loan. Adapun variabel yang terkait dalam

   penelitian ini adalah :

   1.    Variabel bebas (Independent Variable) adalah variabel yang mempengaruhi variabel

         tidak bebas/terikat. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah loan to deposit.

         Variabel ini diberi simbol X.

   2.    Variabel terikat (Dependent Variable) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel

         bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah non performing loan. Variabel ini

         diberi simbol Y.

         Atas dasar variabel di atas, maka desain penelitian yang digunakan dalam penelitian,

yaitu:


                        X                             Y



         Dimana: X = Loan to Deposit Ratio

                  Y = Non Performing Loan



3.5.     Definisi Operasional Variabel


         Tabel berikut ini menggambarkan penjabaran dari variabel-variabel penelitian dalam

konsep dan indikator-indikator yaitu:
                                          Tabel 3.1

                               Definisi Operasional Variabel

 Jenis Variabel      Sub.                 Konsep               Indikator      Skala
                    Variabel
                                Loan to Deposit Ratio
                                merupakan rasio untuk         LDR =
                                mengukur      komposisi       Persentase
   Kebijakan        Loan to     jumlah    kredit   yang       Loan to         Rasio
   Pemberian      Deposit Ratio diberikan dibandingkan        Deposit Ratio
     Kredit                     dengan jumlah dana yang
      (X)                       masyarakat         yang
                                digunakan.
                                Non Performing Loan
                                 merupakan persentase
      Non            Non         kredit bermasalah dengan     NPL =           Rasio
   Performing     Performing     kriteria kurang lancar,      Persentase
      Loan           Loan        diragukan dan macet          Non
                                 terhadap total kredit yang   Performing
       (Y)
                                 disalurkan (SK Dir BI
                                                              Loan
                                 Nomor 31/147/KEP/DIR
                                 tahun 1998).
Sumber: Peneliti 2011


3.6.    Teknik Analisis Data

        Data dan informasi yang diperoleh dari perusahaan yang berhubungan dengan penelitian

ini dianalisis agar dapat memecahkan masalah dan membuktikan kebenaran hipotesis yang telah

diajukan sebelumnya dengan menggunakan teknik analisis sebagai berikut :

A. Ananlisis Deskriptif

        Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis kebijakan pemberian kredit pada PT

Bank BUMN Se-Indonesia. Analisis deskriptif adalah analisis yang mengacu pada deskripsi

kondisi perusahaan yang di lakukan dan kemudian dari analisis yang dilakukan ditarik sebuah

kesimpulan.
B. Analisis Regresi Sederhana

        Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh hubungan antara variabel independen

Kebijakan pemberian kredit (Loan to Deposit Ratio) terhadap variabel dependen (Non

Performing Loan) dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana dengan rumus :

              Y^ = a + bx                                             (III)


Untuk mendapatkan nilai a dan b digunakan rumus sebagai berikut:


              b=                                                       (IV)


              a=                       atau     a=     -               (V)




   Dimana :


              X = Loan to Deposit Ratio dalam persentase

              Y = Non Performing Loan dalam persentase

              a = penduga bagi intercept (α)

              b = penduga bagi koefisien regresi (β)

              n = jumlah periode sampel (laporan keuangan)




3.5 Rancangan Pengujian Hipotesis


       Untuk menguji hipotesis yang diajukan “kebijakan pemberian kredit (LDR) berpengaruh

signifikan terhadap Non Performing Loan pada PT Bank BUMN Se-Indonesia”, maka digunakan

pengujian sebagai berikut :
a. Uji Koefisien Korelasi (r)

        Antara Kebijakan pemberian kredit (LDR) dan Non Performing Loan dapat dihitung

korelasinya (r) dengan rumus :

              rxy =                                                        (VI)

       Dimana:

              n = jumlah periode sampel (laporan keuangan)

              r = koefisien korelasi

        Untuk mengetahui besarnya hubungan dengan koefisien korelasi antara kedua variabel,

maka digunakan patokan interpretasi nilai r dari Sugiyono (2008:124) sebagai berikut :



                                              Tabel 3.2
                                         Interpretasi Nilai r

                 Interval Koefisien                    Tingkat Hubungan

                      0,00 – 0,199                        Sangat rendah
                      0,20 – 0,399                           Rendah
                      0,40 – 0,599                           Sedang
                      0,60 – 0,799                              Kuat
                      0,80 – 1,000                         Sangat Kuat

       Sumber : Sugiyono (2008:124)

b. Uji Koefisien Determinasi (r2)

        Digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel bebas
dengan variabel terikat. Nilai r2 terletak antara 0 sampai dengan 1 (0 ≤ r2 ≤ 1). Tujuan

menghitung koefisien determinasi adalah untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat.

Perhitungan nilai koefisien deteminasi ini diformulasikan sebagai berikut :

                Kd = r2 x 100%                                                (VII)

        Dimana :

                Kd = koefisien determinasi

                r2 = jumlah kuadrat dari koefisien korelasi

c. Uji-t

           Uji-t dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (Loan to Deposit

Ratio) terhadap variabel dependen (Non Performing Loan). Adapun langkah-langkah yang harus

dilakukan dalam uji-t ini yaitu :

1) Merumuskan hipotesis

        H0 : Tidak terdapat pengaruh dan kontribusi yang signifikan antara Loan to Deposit

              Ratio terhadap Non Performing Loan pada PT Bank BUMN Se-Indonesia.

        Ha : Terdapat pengaruh dan kontribusi yang signifikan antara Loan to Deposit Ratio

              terhadap Non Performing Loan pada PT Bank BUMN Se-Indonesia.

2) Menentukan tingkat signifikasi (α) dengan degree of freedom (df) dengan rumus

    n – k – 1 dengan tujuan untuk menentukan ttabel.

3) Menentukan thitung dengan rumus :


        t=                                                                    (VIII)
       Dimana :

               t = nilai thitung

               r = nilai koefisien korelasi

               r2 = jumlah kuadrat dari koefisien korelasi

               n = jumlah periode sampel (laporan keuangan)


4) Membandingkan hasil thitung dengan ttabel dengan kriteria sebagai berikut :

       H0 ditolak, Ha diterima jika thitung > dari ttabel

       H0 diterima, Ha ditolak jika thitung ≤ dari ttabel
                                          BAB IV


                          GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


4.1 PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk

   a. Sejarah Singkat Perusahaan

             Berdiri sejak 1946, BNI yang dahulu dikenal sebagai Bank Negara Indonesia,

      merupakan bank pertama yang didirikan dan dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Bank

      Negara Indonesia mulai mengedarkan alat pembayaran resmi pertama yang dikeluarkan

      Pemerintah Indonesia, yakni ORI atau Oeang Republik Indonesia, pada malam menjelang

      tanggal 30 Oktober 1946, hanya beberapa bulan sejak pembentukannya. Hingga kini,

      tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Keuangan Nasional, sementara hari

      pendiriannya yang jatuh pada tanggal 5 Juli ditetapkan sebagai Hari Bank Nasional.


             Menyusul penunjukan De Javsche Bank yang merupakan warisan dari Pemerintah

      Belanda sebagai Bank Sentral pada tahun 1949, Pemerintah membatasi peranan Bank

      Negara Indonesia sebagai bank sirkulasi atau bank sentral. Bank Negara Indonesia lalu

      ditetapkan sebagai bank pembangunan, dan kemudian diberikan hak untuk bertindak

      sebagai bank devisa, dengan akses langsung untuk transaksi luar negeri.




              Sehubungan dengan penambahan modal pada tahun 1955, status Bank Negara

       Indonesia diubah menjadi bank komersial milik pemerintah. Perubahan ini melandasi

       pelayanan yang lebih baik dan tuas bagi sektor usaha nasional.


              Sejalan dengan keputusan penggunaan tahun pendirian sebagai bagian dari

       identitas perusahaan, nama Bank Negara Indonesia 1946 resmi digunakan mulai akhir
tahun 1968. Perubahan ini menjadikan Bank Negara Indonesia lebih dikenal sebagai

'BNI 46'. Penggunaan nama panggilan yang lebih mudah diingat - 'Bank BNI' -

ditetapkan bersamaan dengan perubahaan identitas perusahaan tahun 1988.


       Tahun 1992, status hukum dan nama BNI berubah menjadi PT Bank Negara

Indonesia (Persero), sementara keputusan untuk menjadi perusahaan publik diwujudkan

melalui penawaran saham perdana di pasar modal pada tahun 1996.


       Kemampuan BNI untuk beradaptasi terhadap perubahan dan kemajuan

lingkungan, sosial-budaya serta teknologi dicerminkan melalui penyempurnaan identitas

perusahaan yang berkelanjutan dari masa ke masa. Hal ini juga menegaskan dedikasi

dan komitmen BNI terhadap perbaikan kualitas kinerja secara terus-menerus.


       Pada tahun 2004, identitas perusahaan yang diperbaharui mulai digunakan untuk

menggambarkan prospek masa depan yang lebih baik, setelah keberhasilan mengarungi

masa-masa yang sulit. Sebutan 'Bank BNI' dipersingkat menjadi 'BNI', sedangkan tahun

pendirian - '46' - digunakan dalam logo perusahaan untuk meneguhkan kebanggaan

sebagai bank nasional pertama yang lahir pada era Negara Kesatuan Republik

Indonesia.


       Berangkat dari semangat perjuangan yang berakar pada sejarahnya, BNI

bertekad untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi negeri, serta senantiasa

menjadi kebanggaan negara.


b. Visi dan Misi PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk

      Visi BNI
               Menjadi Bank kebanggaan nasional yang Unggul, Terkemuka dan Terdepan

               dalam Layanan dan Kinerja.


               Pernyataan Visi


               Menjadi Bank kebanggaan nasional, yang menawarkan layanan terbaik dengan

               harga kompetitif kepada segmen pasar korporasi, komersial dan konsumer.


              Misi BNI

               1. Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh

                  nasabah, dan selaku mitra pillihan utama (the bank choice).

               2. Meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi investor.

               3. Menciptakan kondisi terbaik sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan

                  berprestasi.

               4. Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial.

               5. Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik.


4.2 PT Bank Mandiri (Persero), Tbk

   a. Sejarah Singkat Perusahaan


              PT Bank Mandiri (Persero), Tbk berdiri tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian

      dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia.

      Pada bulan Juli 1999, empat bank milik pemerintah yaitu Bank Bumi Daya (BBD), Bank

      dagang Negara, Bank Ekspor Impor (Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia

      (Bapindo) bergabung menjadi Bank Mandiri. Sejarah keempat bank tersebut dapat

      ditelusuri lebih dari 140 tahun yang lalu. Keempat bank tersebut telah turut membantu

      riwayat perkembangan dunia perbankan di Indonesia.
       Bank Dagang Negara (BDN) merupakan salah satu bank tertua di Indonesia.

Sebelumnya, BDN dikenal sebagai Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij yang

didirikan di Batavia (Jakarta) pada tahun 1875. Pada tahun 1949, namanya berubah

menjadi Escompto Bank NV. Selanjutnya pada tahun 1960, Escompto Bank

dinasionalisasi dan berubah nama menjadi Bank Dagang Negara, sebuah bank

pemerintah yang membiayai sektor industri dan pertambangan.


       Bank Bumi Daya (BBD) didirikan melalui proses panjang yang bermula dari

nasionalisasi sebuah perusahaan Belanda De Nationale Handlesbank NV menjadi Bank

Umum Negara pada tahun 1959. Pada tahun 1964, Chartered Bank (sebelumnya

merupakan bank milik Inggris) juga dinasionalisasi, dan Bank Umum Negara diberi hak

untuk melanjutkan operasi bank tersebut pada tahun 1965. Bank Umum Negara

digabungkan kedalam Bank Negara Indonesia dan berganti nama Bank Negara Indonesia

Unit IV beralih menjadi Bank Bumi Daya .


       Sejarah Bank Ekspor Impor (Exim) Indonesia berawal dari perusahaan dagang

Belanda NV Nederlandsche Handles Maatschappijin, pada tahun 1870 pemerintah

Indonesia menasionalisasi perusahaan ini pada tahun 1960 dan selanjutnya pada tahun

1965 perusahaan ini digabung dengan Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun1968

Bank Negara Indonesia dipecah menjadi dua unit, salah satunya adalah Bank Negara

Indonesia Unit II divisi Ekspor Impor, yang pada akhirnya Bank Exim, Bank Pemerintah

yang membiayai kegiatan ekspor impor.


       Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) berasal dari Bank Industri Negara (BIN)

sebuah bank industri yang didirikan pada tahun 1951. Misi Bank Industri Negara adalah
mendukung pengembangan sektor-sektor ekonomi tertentu, khususnya perkebunan,

industri, dan pertambangan. Bapindo dibentuk sebagai Bank Milik Negara pada tahun

1970, Bapindo ditugaskan untuk membantu pembangunan nasional melalui pembiayaan

jangka menengah dan jangka panjang pada sektor manufaktur, transportasi, dan

pariwisata. Kini, Bank Mandiri menjadi penerus suatu tradisi layanan jasa perbankan dan

keuangan yang telah berpengalaman selama 140 tahun. Masing-masing dari empat bank

bergabung memainkan peranan yang penting dalam pembangunan ekonomi.


       Setelah melalui proses panjang dan persiapan yang sangat berat, pada tanggal 14

Juli 2003 akhirnya Bank Mandiri melaksanakan pencatatan saham perdana dengan kode

saham BMRI di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Pada penawaran saham

perdana tersebut, saham Bank Mandiri mengalami oversubscribed sebesar lebih dari 7

kali. Proses diinvestasi saham pemerintah pada Bank Mandiri tersebut didasarkan pada

Peraturan pemerintah No.27 tahun 2003 tentang penjualan saham Negara RI pada Bank

Mandiri. Dalam peraturan pemerintah tersebut dijelaskan bahwa penjualan saham Bank

Mandiri akan dilakukan melalui pasar modal dan atau kepada mitra strategis dengan

jumlah maksimal 3% dari jumlah saham yang telah dikeluarkan dan disetor.


       Dengan kinerja yang semakin membaik dan keberhasilan program transformasi

bisnis dalam beberapa tahun terakhir, Bank Mandiri bertekad memasuki tahapan strategis

yaitu menjadi salah satu bank terkemuka di kawasan Regional Asia Tenggara. Visi

strategis tersebut diawali dengan tahapan mengembangkan kekuatan di semua segmen

nasabah untuk menjadi universal bank yang mendominasi pasar perbankan domestik,

dengan fokus pada pertumbuhan segmen consumer dan commercial. Dengan menguasai
      pasar Indonesia sebagai Fastest Growing Market di Asia Tenggara. Bank Mandiri berada

      dalam posisi lebih menguntungkan dibandingkan pesaing-pesaing regional.


   b. Visi dan Misi PT Bank Mandiri (Persero), Tbk

            Visi Bank Mandiri yaitu : “Bank Terpercaya Pilihan Anda”.

            Misi Bank Mandiri yaitu :

                1. Berorientasi pemenuhan pasar.

                2. Mengembangkan sumber daya manusia profesional.

                3. Memberi keuntungan yang maksimal bagi stakeholder.

                4. Melaksanakan manajemen terbuka.


4.3 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk

   a. Sejarah Singkat Perusahaan


             PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (“BRI”, “Bank”, atau “Perseroan”)

      merupakan salah satu bank terbesar dan tertua di Indonesia yang berdiri sejak 16

      Desember 1895. Saat ini, BRI berkantor pusat di Gedung BRI I, Jl. Jenderal Sudirman

      Kav. 44-46, Jakarta 10210, Indonesia. Pada awalnya, Perseroan adalah sebuah

      badanpengelola dana masjid yang bertugas untuk mengelola dan menyalurkan dana

      kepada masyarakat dengan skema yang sangat sederhana. Seiring perjalanan waktu, De

      Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden lahir pada tanggal 16

      Desember 1895 di Purwokerto, Jawa Tengah. Lembaga yang didirikan oleh Raden Aria

      Wiriatmaja ini semakin berkembang dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Setelah

      mengalami beberapa kali perubahan nama, seperti Hulp-en Spaarbank der Inlandshe

      Bestuurs Ambtenareen, De Poerwokertosche Hulp Spaar-en Landbouw Credietbank atau
Volksbank, pada tahun 1912 berubah menjadi Centrale Kas Voor Volkscredietwezen

Algemene, dan Algemene Volkscredietbank (AVB) tahun 1934.


       Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, AVB diubah menjadi Syomin Ginko.

Pada 22 Februari 1946, Pemerintah Indonesia mengubah lembaga ini menjadi Bank

Rakyat Indonesia (BRI) dengan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946, dan BRI

menjadi bank pertama yang dimiliki Pemerintah Republik Indonesia. Sebagai bank

pemerintah, BRI banyak berperan sebagai ujung tombak Pemerintah dalam pembangunan

perekonomian nasional. Pemerintah kemudian mengubah nama BRI menjadi Bank

Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) pada 1960. Berdasarkan Undang-undang No. 21

tahun 1968, Pemerintah menetapkan kembali nama Bank Rakyat Indonesia sebagai bank

umum, kemudian berdasarkan Undangundang Perbankan No. 7 tahun 1992, BRI berubah

nama dan status badan hukumnya menjadi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero).

Perseroan hingga kini tetap fokus pada bisnis di segmen Usaha Mikro, Kecil, dan

Menengah (UMKM) dan member inspirasi berbagai pihak untuk mendayagunakan sektor

UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.


       BRI menjadi Perseroan Terbuka pada 10 November 2003 dan mencatatkan 30%

sahamnya di Bursa Efek Jakarta, kini Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan kode saham

BBRI. Saat ini saham Perseroan tergabung dalam indeks saham LQ45 dan termasuk salah

satu saham blue chip di BEI. BRI tumbuh pesat baik dari segi aset, jumlah kredit yang

dikucurkan, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun, laba yang dihasilkan, dan

kualitas aset yang terjaga. Sampai dengan 31 Desember 2009, BRI memiliki lebih dari 32

juta rekening yang terdiri dari nasabah perorangan, pelaku usaha mikro dan kecil,

perusahaan menengah dan besar, baik lembaga swasta maupun pemerintahan.
      Pertumbuhan kredit mencapai 27,62% pada tahun 2009, sedangkan pertumbuhan DPK

      mencapai 26,12%. Hingga akhir tahun 2009, BRI memiliki lebih dari 6.300 unit kerja

      yang terdiri dari Kantor Wilayah, Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, Kantor Kas,

      BRI Unit maupun Teras BRI. Selain memiliki jaringan kerja yang luas BRI juga

      memberikan layanan BRI Prioritas bagi nasabah pilihan di beberapa Kantor Cabang.

      Sedangkan untuk mendekatkan diri dengan nasabah, hingga 31 Desember 2009 BRI

      memiliki 3.778 Anjungan Tunai Mandiri (ATM), 60 kiosk, 20 Cash Deposit Machine

      (CDM), 6.398 Electronic Data Capture (EDC) dan terintegrasi ke lebih dari 25.000

      jaringan ATM Link, ATM Bersama, dan ATM Prima. Selain jaringan ATM, layanan

      elektronik BRI juga dilengkapi oleh fasilitas phone banking 24-jam, SMS Banking dan

      Internet Banking. Pada penghujung 2009, Pemerintah Republik Indonesia memiliki

      56,77% saham dan sisanya dimiliki oleh masyarakat pemodal. Nilai kapitalisasi pasar

      saham BRI pada akhir tahun 2009 mencapai Rp94,37 triliun atau sekitar 4,82% dari total

      kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.


4.4 PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk

   a. Sejarah PT Bank Tabungan Negara (PERSERO), Tbk

             Awal sejarah berdirinya BTN dimulai sejak Belanda menginjakkan kakinya

      pertama kali di Indonesia. Puncak dari perjuangan BTN dalam memperjuangkan

      keberadaannya itu pada tahun 1897. Para pelaku dalam pengembangan BTN pada saat itu

      yakin bahwa tahun itulah sebagai puncak dari cikal bakal berdirinya BTN. Hal ini

      didasari oleh adanya Koninklijk Besluit No. 27 di Hindia Belanda yang menyatakan

      adanya pendirian Postpaarbank ini berkedudukan di Batavia. Pendirian Postpaarbank
tersebut mempunyai tujuan antara lain untuk mendidik masyarakat pada saat itu agar

gemar menabung.


       Pada tahun 1942, Jepang memasuki Indonesia dan secara resmi mengambil alih

kekuasaan Belanda di Indonesia dan Postpaarbank yang merupakan bank karya kolonial

Belanda dibekukan. Sebagai gantinya pemerintah Jepang mendirikan Tyokin Kyoku.


       Setelah kemerdekaan diproklamasikan, maka Tyokin Kyoku diambil alih oleh

pemerintah Indonesia dan namanya diubah menjadi Kantor Tabungan Pos atau disingkat

KTP. Pembentukan KTP pada saat iti diprakarsai oleh Bapak Darmoesoesanto selaku

direktur pertama KTP.


       Pada tahun 1946 terjadi Agresi Militer Belanda dan berhasil menduduki kantor-

kantor cabang KTP yang tersebar di Indonesia. Namun Agresi Belanda tidak berlangsung

lama dan pada tahun 1949 pemerintah RI membuka kembali KTP sekaligus mengganti

nama KTP menjadi Bank Tabungan Pos Republik Indonesia. Usai dikukuhkannya Bank

Tabungan Pos RI sebagai satu-satunya lembaga tabungan di Indonesia, pada tahun 1950

kemudian pemerintah mengganti namanya menjadi Bank Tabungan Pos.


       Selanjutnya dalam perjalanannya BTN merupakan sebuah unit dari Bank Negara

Indonesia, dimana saat itu BTN masuk ke dalam Unit V. Karena sebagai sebuah unit dari

Bank Negara Indonesia, maka pada saat itu BTN sempat kehilangan kekuasaan dan

wewenang. Hal ini patut dimaklumi karena BTN langsung ditempatkan di bawah

kekuasaan urusan Bank Sentral masa itu, sementara BTN hanya dipimpin oleh seorang

Direktur Koordinator yang sangat sulit dalam pengembangannya.
       Berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 4 tahun 1963

Lembaran Negara Republik Indonesia No. 62 tahun 1963 tanggal 22 Juni 1963, maka

resmi sudah nama Bank Tabungan Pos diganti namanya menjadi Bank Tabungan Negara.


       Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden No. 17 tahun 1965, seluruh Bank

Umum Milik Negara termasuk Bank Tabungan Negara beralih statusnya menjadi Bank

Tunggal Milik Negara, yang pada akhirnya berdasarkan Undang-Undang No 20 tahun

1998 yang sebelumnya diprakarsai dengan Undang-Undang Darurat No. 50 tahun 1950

tanggal 9 Februari 1950 resmi sudah status Bank Tabungan Negara sebagai salah satu

bank milik negara dengan tugas utama saat itu untuk memperbaiki perekonomian rakyat

melalui penghimpunan dana masyarakat terutama dalam bentuk tabungan. Kemudian

sejarah BTN mulai diukir kembali dengan ditunjuknya oleh Pemerintah Indonesia pada

tanggal 29 Januari 1974 melalui Surat Menteri Keuangan RI No. B-49/MK/I/1974

sebagai wadah pembiayaan proyek perumahan rakyat.


       Pada tahun 1989 Bank BTN beroperasi sebagai bank umum dan mulai

menerbitkan obligasi. Pada tahun 1992 status hukum Bank BTN berubah menjadi

perusahaan perseroan. Bank BTN selanjutnya mendapat ijin sebagai Bank Devisa pada

tahun 1994. Kemudian sekuritisasi aset Bank BTN menjadi bank pertama di Indonesia

yang melakukan pendaftaran transaksi Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset

(KIK EBA) di Bapepam yang kemudian dilakukan dengan pencatatan perdana dan listing

transaksi tersebut di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009.
b. Visi dan Misi PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk


           Sebagai pedoman dalam mengelola usahanya, Direksi Bank BTN telah

  menetapkan Visi dan Misi Bank BTN yang wajib diketahui, dihayati, dan diamalkan oleh

  setiap pegawai. Adapun visi dan misi Bank BTN ialah sebagai berikut :


           Visi

            Menjadi bank yang terkemuka dalam pembiayaan perumahan.

           Misi

            1. Memberikan pelayanan unggul dalam pembiayaan perumahan dan industri

               terkait, pembiayaan konsumsi dan usaha kecil menengah.

            2. Meningkatkan keunggulan kompetitif melalui inovasi pengembangan

               produk, jasa dan jaringan strategis berbasis teknologi terkini.

            3. Menyiapkan dan mengembangkan Human Capital yang berkualitas,

               profesional dan memiliki integritas tinggi.

            4. Melaksanakan manajemen perbankan yang sesuai dengan prinsip kehati-

               hatian dan good corporate governance untuk meningkatkan Shareholder

               Value.

            5. Mempedulikan kepentingan masyarakat dan lingkungannya.
                                               BAB V

                    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



5.1 Analisis Non Performing Loan (NPL)

       Data mengenai NPL diperoleh dari laporan keuangan dalam bentuk perhitungan rasio

keuangan masing-masing bank pada tahun 2006-2010. Berdasarkan ketentuan yang telah

ditetapkan oleh Bank Indonesia, perhitungan NPL adalah dengan cara membandingkan jumlah

kredit bermasalah yang disalurkan oleh bank dengan penjumlahan total kredit tidak dikurangi

Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif. Perhitungan dilakukan oleh bank yang bersangkutan

kemudian laporannya dipublikasikan di Bank Indonesia selaku Bank Sentral. Perhitungan Non

Performing Loan (NPL) seperti yang disajikan seperti di bawah ini :

                            Total Kredit Bermasalah
              NPL =                                        x 100%      (IX)
                                Total Kredit


       Berikut ini disajikan besarnya Total Non Performing Loan (NPL), dan Loan to Deposit

Ratio (LDR) Tahun 2006-2010.

                                          Tabel 5.1
                               Total Non Performing Loan (NPL)
                                       Tahun 2006-2010
                                          (dalam %)

                      No.       Tahun          Non Performing Loan (NPL)
                      1.         2006                    75.69
                      2.         2007                    69.80
                      3.         2008                    79.93
                      4.         2009                    72.88
                      5.         2010                    88.98
                 Sumber : Laporan Keuangan PT. BRI, 2011
                        Tabel 5.2
             Total Non Performing Loan (NPL)
                     Tahun 2006-2010
                        (dalam %)

    No.       Tahun          Non Performing Loan (NPL)
    1.         2006                    49.20
    2.         2007                    60.60
    3.         2008                    68.60
    4.         2009                    70.46
    5.         2010                    70.55
  Sumber : Laporan Keuangan PT. BNI, 2011

                         Tabel 5.3
             Total Non Performing Loan (NPL)
                      Tahun 2006-2010
                    (dalam jutaan rupiah)

    No.       Tahun          Non Performing Loan (NPL)
    1.         2006                     78.93
    2.         2007                     83.75
    3.         2008                     92.38
    4.         2009                    101.83
    5.         2010                    108.42
Sumber : Laporan Keuangan PT. BTN, 2011




                        Tabel 5.4
             Total Non Performing Loan (NPL)
                     Tahun 2006-2010
                        (dalam %)

    No.     Tahun          Non Performing Loan (NPL)
    1.       2006                    57.70
    2.       2007                    57.20
    3.       2008                    54.30
    4.       2009                    56.64
    5.       2010                    61.32
Sumber : Laporan Keuangan PT. Mandiri, 2011
5.2 Analisis Loan to Deposit Ratio (LDR)

       Data mengenai LDR diperoleh dari laporan keuangan dalam bentuk perhitungan rasio

keuangan masing-masing bank pada tahun 2006-2010. Berdasarkan ketentuan yang telah

ditetapkan oleh Bank Indonesia, perhitungan LDR adalah dengan cara membandingkan jumlah

kredit yang disalurkan oleh bank dengan penjumlahan total dana pihak ketiga ditambah dengan

modal sendiri. Perhitungan dilakukan oleh bank yang bersangkutan kemudian laporannya

dipublikasikan di Bank Indonesia selaku Bank Sentral. Perhitungan Loan to Deposit Ratio

(LDR) seperti yang disajikan seperti di bawah ini :

                      LDR



       Berikut ini disajikan besarnya Rasio LDR tahun 2006-2010.

                                          Tabel 5.5
                              Total Loan to Deposit Ratio (LDR)
                                      Tahun 2006-2010
                                          (dalam %)
                     No.     Tahun        Loan to Deposit Ratio (LDR)
                     1.       2006                    3.05
                     2.       2007                    2.05
                     3.       2008                    3.75
                     4.       2009                    3.52
                     5.       2010                    2.28
                 Sumber : Laporan Keuangan PT. BRI, 2011

                                          Tabel 5.6
                              Total Loan to Deposit Ratio (LDR)
                                      Tahun 2006-2010
                                          (dalam %)
                     No.     Tahun        Loan to Deposit Ratio (LDR)
                     1.       2006                    1.66
                     2.       2007                    2.80
                     3.       2008                    3.21
                     4.       2009                    2.90
                     5.       2010                    3.17
                   Sumber: Laporan Keuangan PT. BNI, 2011



                                            Tabel 5.7
                                Total Loan to Deposit Ratio (LDR)
                                        Tahun 2006-2010
                                            (dalam %)
                       No.     Tahun        Loan to Deposit Ratio (LDR)
                       1.       2006                    2.46
                       2.       2007                    2.65
                       3.       2008                    2.98
                       4.       2009                    2.66
                       5.       2010                    2.89
                   Sumber: Laporan Keuangan PT. BTN, 2011




                                            Tabel 5.8
                                Total Loan to Deposit Ratio (LDR)
                                        Tahun 2006-2010
                                            (dalam %)
                       No.     Tahun        Loan to Deposit Ratio (LDR)
                       1.       2006                    1.55
                       2.       2007                    1.35
                       3.       2008                    1.16
                       4.       2009                    1.40
                       5.       2010                    1.45
                   Sumber: Laporan Keuangan PT. Mandiri, 2011



          Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui tingkat Loan to Deposite Ratio (LDR) yang

dimiliki oleh PT. BRI selama lima tahun terakhir adalah sebagai berikut : pada tahun 2006

tingkat NPL nya adalah sebesar 3.05% dimana nilai ini dapat diinterpretasikan bahwa 3.05% dari

total kredit bermasalah yang berhasil dihimpun dan total pinjaman, disalurkan dalam bentuk

kredit.
Pada tahun 2007 mengalami penurun sebesar 1% dari tahun sebelumnya menjadi 2.05% yang

dapat diinterpretasikan bahwa 2.05% total kredit bermasalah yang berhasil dihimpun dan total

pinjaman, disalurkan dalam bentuk kredit.

          Pada tahun 2008 mengalami kenaikan menjadi 3.75% yang berarti bahwa dari total total

kredit bermasalah yang berhasil dihimpun dan total pinjaman, 3.75% disalurkan dalam bentuk

kredit.

          Pada tahun selanjutnya 2009 kembali mengalami penurunan sebesar 0.23% menjadi

3.52%, yang berarti 3.52% dari total kredit bermasalah yang berhasil dihimpun dan dari total

pinjaman, disalurkan dalam bentuk kredit.

          Sementara pada tahun 2010 tingkat NPL yang dimiliki menurun jika dibandingkan tahun

2008 yaitu sebesar 2.28% yang berarti dari total total kredit bermasalah yang berhasil dihimpun

dan total pinjaman, 2.28% disalurkan dalam bentuk kredit.

          Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat Non Performing Loan (NPL) yang

dimiliki PT. Bank BUMN se-Indonesia selama lima tahun terakhir (2006-2010) memenuhi syarat

penilaian tingkat kesehatan bank yang telah ditetapkan yaitu sebesar 5%, dimana pada tahun

2006-2010 dibawah 5% menunjukkan bahwa bank yang bersangkutan berada dalam kondisi

yang sehat jika berdasarkan teori, kondisi ini akan berdampak menurunnya kredit bermasalah

yang diperoleh oleh Bank BUMN.

5.3 Analisis Regresi Sederhana

                 Dari data yang telah diperoleh dari PT bank Tabungan Negara (Persero), penulis

dapat melakukan pembahasan tentang pengaruh loan to deposit ratio terhadap non performing

loan selama periode 2006-2010.
            Selanjutnya untuk membuktikan hipotesa pada poin dua yang diajukan dalam penulisan

ini maka dalam pengujian empiris penulis menggunakan metode regresi linier sederhana. Untuk

mempermudah perhitungan regresi, maka dalam penelitian ini diselesaikan dengan bantuan

perangkat lunak komputer program SPSS 16.0. Dari output Variables Entered/Removed,

diperoleh bahwa variabel independen (X) yang dimasukkan ke dalam model adalah loan to

deposit ratio dan variabel dependennya (Y) adalah non performing loan dan tidak ada variabel

yang dikeluarkan (removed). Pembuatan persamaan regresi sederhana dapat dilakukan dengan

menginterpretasikan angka-angka yang ada di dalam unstandardized coefficient beta.




                                       Tabel 5.9
Hasil Analisis Regresi Sederhana antara Non Performing Loan (NPL) dan Loan to Deposit
                               Ratio (LDR) Se- Indonesia
                               Periode Tahun 2006-2010
                                                                    Standardized
                               Unstandardized Coefficients          Coefficients


Model                                B            Std. Error           Beta           t           Sig.


1   (Constant)                           .438                .711                          .617          .545


    LDR                                  .028                .010              .563       2.890          .010


    a.     Dependent Variable: NPL

Sumber ; hasil SPSS (Lampiran)



    Sumber : Data Statistik yang Diolah, 2011



            Pada penelitian ini menggunakan model persamaan regresi linear sederhana sebagai

berikut:
                 Y^ = a + bX                                        (X)

        Dari tabel di atas tersebut dengan memerhatikan angka yang berada pada kolom

Unstandardized Coefficients Beta, maka dapat dibentuk persamaan regresi sederhana sebagai

berikut :

                 Y^ = 0.428 – 0.028X                                (XI)

            Angka-angka dalam persamaan di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

1. Nilai koefisien intercept (a) adalah 0.438

   Nilai koefisien intercept (a) sebesar 0.438 mengandung pengertian bahwa pada saat tingkat
   loan to deposit ratio 0%, maka tingkat pendapatan non performing loan (Y) adalah sebesar
   0.438

2. Nilai koefisien regresi (b) adalah 0.028

   Nilai koefisien regresi (b) sebesar 0.028 mengandung pengertian bahwa setiap terjadi

   perubahan tingkat loan to deposit ratio (X) sebesar 1 %, maka akan menyebabkan penurunan

   tingkat non performing loan (Y) sebesar 0.028%.


A. Uji Heteroskedisitas

             Uji heteroskedasitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi

  ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi

  yang baik adalah yang tidak terjadi heteroskedasitas. Metode yang dapat dipakai untuk

  mendeteksi gejala heterokedasitas antara lain: metode grafik, park glejser, rank spearman dan

  barlett.


        Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk mendeteksi gejala heteroskedasitas

dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi varabel terikat (ZPRED) dengan residualnya

(SRESID). Deteksi ada tidaknya heteroskedasitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya
pola tertentu pada grafik scatterplot antara ZPRED dan SPRESID dimana sumbu Y adalah Y

yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang terletak

di Studentized.


         1) Jika   ada   titik-titik    yang   membentuk   pola   tertentu   yang   teratur   maka

           mengidentifikasikan telah terjadi heterokedasitas.

         2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan dibawah angka 0

           pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedasitas. Jika ada titik-titik yang

           membentuk pola tertentu yang teratur maka              mengidentifikasi telah terjadi

           heterokedasitas.



                                       Grafik 5.1




                                                                                    Sumber ; hasil
SPSS (Lampiran)
       Berdasarkan plot di atas bahwa tidak ada plot yang jelas dan titik-titik menyebar di atas

dan di bawah sumbu y sehingga bisa disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedisitas.

                                      Grafik 5.2




             Sumber ; hasil SPSS (Lampiran)




             Berdasarkan dari histogram di atas, menunjukkan pola regresi normal yang

       memenuhi asumsi normalitas karena histogram yang ada menyerupai lonceng

       (mendekati pola distribusi normal)
                                  Grafik 5.3




            Data Sumber:Data Statistik yang Diolah

      Selain melihat histogram, normalitas bisa diuji dengan melihat analisis grafik.

Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi

normalitas data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti garis diagonal

tersebut.
  B. Uji Normalitas

        Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel terikat dan

variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik

adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Metode yang dapat dipakai untuk

normalitas antara lain : analisis grafik dan analisis statistik.


        Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara analisis grafik. Normalitas

dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau

dengan melihat histogram dari residualnya :


         2) Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti garis diagonal atau grafik

             histogramnya menunjukkan pola distribusi normal regresi memenuhi asumsi

             normalitas.

         3) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis

             diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka

             model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

C. Uji t

           Untuk menguji hipotesis yang diajukan apakah hipotesis null (H0) dan hipotesis

alternatif (Ha) diterima atau ditolak, maka dilakukan uji statistik t (uji-t) dengan tingkat

signifikansi 5% (α = 0,05). Uji-t ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh

variabel independen (loan to deposit ratio) terhadap variabel dependen (non performing loan).

Pada tabel berikut dapat kita lihat hasil uji-t yaitu :
                                                                    a
                                                    Coefficients

                                                                        Standardized
                               Unstandardized Coefficients              Coefficients


Model                                B            Std. Error               Beta           t           Sig.


1     (Constant)                         .438                .711                              .617          .545


      LDR                                .028                .010                  .563       2.890          .010


      b.   Dependent Variable: NPL

Sumber ; hasil SPSS (Lampiran)

            Nilai statistik uji t yang diperoleh dari hasil perhitungan SPSS adalah sebesar 2.890

dengan signifikansi 0.010. Hal ini berarti telah memenuhi syarat thitung > ttabel yakni 2.890 > 2.88

dan signifikansi kurang dari 5% pada taraf kepercayaan 61.7%. Dapat disimpulkan bahwa H0

ditolak dan Ha diterima.


5.4        Hasil Pengujian Hipotesis


           Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dan kontribusi loan to

deposit ratio (X) terhadap non performing loan (Y), maka dilakukan pengujian hipotesis, untuk

menjawab hipotesis yang dikemukakan sebelumnya melalui analisis berikut ini :

A. Analisis korelasi (r)

            Analisis korelasi (r) dilakukan untuk mengetahui sejauh mana korelasi atau hubungan

antara kredit konsumtif dan pendapatan bunga kredit. Dari data yang telah diolah, maka

diperoleh hasil :
                                             Model Summary

                                                         Adjusted R
Model                   R              R Square           Square       Std. Error of the Estimate


1                               .563              .317          .279                         .66846

    a.   Predictors: (Constant), LDR
    b. Dependent Variabel: NPL

         Sumber ; hasil SPSS (Lampiran)
          Nilai r menunjukkan korelasi antara variabel independen dengan variabel dependen.

Nilai r berkisar antara 0 sampai 1. Jika nilainya mendekati 1, maka hubungan akan semakin erat.

Sebaliknya, jika mendekati 0, maka hubungan semakin lemah. Nilai r pada tabel di atas yaitu

0.563, artinya korelasi antara variabel loan to deposit ratio dengan variabel non performing loan

sebesar 0,563. Hal ini menunjukkan terjadi hubungan yang tidak erat antara loan to deposit ratio

dengan non performing loan karena nilai r tidak mendekati 1.

B. Analisis Determinasi (r2)

          Koefisien determinasi (r2) digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara

variabel independen dengan variabel dependen. Nilai r2 yang semakin mendekati satu maka

variabel independen yang ada dapat memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan

untuk memprediksi variabel dependen, dan begitu juga sebaliknya. Besarnya koefisien

determinasi (r2) antara 0 sampai dengan 1. Dari analisis data, diperoleh hasil :
                                                Tabel

                                   Koefisien Determinasi (r2)
                                                           b
                                         Model Summary



                                                      Adjusted R
Model               R               R Square            Square        Std. Error of the Estimate


1                          .563                .317            .279                         .66846




        Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai R Square atau koefisien determinasi (r2)

adalah 0.563. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan lon to deposit ratio dalam mempengaruhi

tingkat non performing loan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk sebesar 56.3% atau

dengan kata lain loan to deposit ratio berpengaruh sebesar 56.3% terhadap tingkat non

performing loan bank. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 43.7% dipengaruhi oleh variabel-

variabel lainnya yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
                                             BAB VI


                                           PENUTUP

6.1.        Kesimpulan


       Berdasarkan uraian-uraian yang telah peneliti paparkan terhadap data penelitian yang

telah tekumpul yang kemudian di olah, mengenai pengaruh dari tingkat Non Performing Loan

(NPL) terhadap Loan to Deposit Ratio (LDR) bank pada PT Bank BUMN di Indonesia yang

menjadi objek penelitian, maka peneliti dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai jawaban

atas pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada identifikasi masalah yang menjadi acuan dasar

dari maksud dan tujuan penelitian ini, antara lain sebagai berikut :

       Non Performing Loan (NPL) tidak mempunyai hubungan yang sangat kuat terhadap

Loan to Deposite Ratio (LDR). Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan koefisien korelasi

dengan menggunakan analisis korelasi. Dari hasil perhitungan tersebut diperoleh nilai koefisien

korelasi yang tidak positif. Nilai korelasi tidak positif berarti bahwa apabila Non Performing

Loan (NPL) bank tidak meningkat.

            Tingkat Loan to Deposite Ratio (LDR) berpengaruh lemah terhadap Non Performing

Loan (NPL) pada PT. Bank BUMN di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari hasil koefisiensi

kolerasi.
       Kontribusi loan to deposit ratio terhadap non performing loan pada PT Bank BUMN

(Persero) dapat dilihat dari nilai koefisien determinasinya. Hal ini berarti kontribusi loan to

deposit ratio berpengaruh terhadap non performing loan. Dan sisanya sebesar di penegaruhi oleh

variabel lainnya.


       Hasil estimasi dari model regresi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel

independen menjelaskan jumlah LDR, sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar

model penelitian ini.

       6.2. Saran

               Setelah melakukan penelitian, pembahasan, dan merumuskan kesimpulan dari

       hasil penelitian, maka penulis memberikan beberapa saran yang berkaitan dengan

       penelitian yang telah dilakukan untuk dijadikan masukan dan pertimbangan yang berguna

       bagi pihak-pihak yang berkepentingan, antara lain :


   1. Bagi Pihak Perbankan

       Setelah mengamati dan menganalisa hasil penelitian, penulis melihat terdapat beberapa

       hal yang dapat dijadikan masukan bagi praktisi dan pengguna jasa industri perbankan.

              Peneliti menyarankan agar bank lebih meningkatkan lagi kualitas penyaluran

               kreditnya agar tidak terjadi kredit bermasalah, dan lebih aktif menyalurkan dana

               kepada masyarakat sampai pada batas yang diterapkan oleh Bank Indonesia yaitu

               sebesar 85%-110%. Hal ini disarankan karena hasil persentase Non Performing

               Loan (NPL) yang dicapai oleh Bank BUMN di Indonesia selama lima tahun

               terakhir masih di bawah standar tersebut. Beberapa cara yang dapat dilakukan
          adalah antara lain dengan mempermudah syarat pengajuan kredit dan memberi

          tingkat suku bunga yang relatif rendah.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

   Diharapkan pada peneliti selanjutnya untuk meneliti lebih lanjut mengenai masalah ini

   secara mendalam. Pendalaman pada penelitian ini akan lebih akurat dan maksimal

   apabila sampel yang diambil diperluas, baik dari jenis-jenis bank maupun periode tahun-

   tahun yang diteliti.
LAMPIRAN
REGRESSION

/DESCRIPTIVES MEAN STDDEV CORR SIG N

/MISSING LISTWISE

/STATISTICS COEFF OUTS CI BCOV R ANOVA COLLIN TOL CHANGE ZPP

/CRITERIA=PIN(.05) POUT(.10)

/NOORIGIN

/DEPENDENT Y

/METHOD=ENTER X

/SCATTERPLOT=(*SRESID ,*ZPRED)

/RESIDUALS DURBIN HIST(ZRESID) NORM(ZRESID)


/CASEWISE PLOT(ZRESID) OUTLIERS(3).
Regression



                                                          Notes


Output Created                                                                                           08-May-2011 17:11:03


Comments


Input                    Active Dataset                           DataSet0


                         Filter                                   <none>


                         Weight                                   <none>


                         Split File                               <none>


                         N of Rows in Working Data File                                                                      35


Missing Value Handling   Definition of Missing                    User-defined missing values are treated as missing.


                         Cases Used                               Statistics are based on cases with no missing values for any
                                                                  variable used.
Syntax                                                REGRESSION

                                                      /DESCRIPTIVES MEAN STDDEV CORR SIG N

                                                      /MISSING LISTWISE

                                                      /STATISTICS COEFF OUTS CI BCOV R ANOVA COLLIN
                                                      TOL CHANGE ZPP

                                                      /CRITERIA=PIN(.05) POUT(.10)

                                                      /NOORIGIN

                                                      /DEPENDENT Y

                                                      /METHOD=ENTER X

                                                      /SCATTERPLOT=(*SRESID ,*ZPRED)

                                                      /RESIDUALS DURBIN HIST(ZRESID) NORM(ZRESID)

                                                      /CASEWISE PLOT(ZRESID) OUTLIERS(3).




Resources   Processor Time                                                                  00:00:03.978


            Elapsed Time                                                                    00:00:03.528


            Memory Required                                                                  1348 bytes


            Additional Memory Required for Residual
                                                                                               912 bytes
            Plots
[DataSet0]




                    Descriptive Statistics


                  Mean       Std. Deviation         N


NPL                2.4470             .78720            20


LDR               72.9580           16.09577            20




                            Correlations


                                              NPL       LDR


Pearson Correlation          NPL                1.000         .563


                             LDR                 .563        1.000


Sig. (1-tailed)              NPL                    .         .005
                                 LDR               .005               .


N                                NPL                   20            20


                                 LDR                   20            20




                                                   b
                  Variables Entered/Removed


                                       Variables
Model     Variables Entered            Removed              Method

              a
1         LDR                                          . Enter


a. All requested variables entered.


b. Dependent Variable: NPL




                                                                                                     b
                                                                                       Model Summary




Model               R                    R Square                  Adjusted R Square          Std. Error of the Estimate

                             a
1                     .563                                  .317                .279                                       .66846
                                                                                                      b
                                                                                   Model Summary




Model              R                  R Square                 Adjusted R Square               Std. Error of the Estimate

                             a
1                     .563                             .317                 .279                                            .66846


a. Predictors: (Constant), LDR


b. Dependent Variable: NPL




                                                                                           b
                                                                          Model Summary


                                                    Change Statistics


    R Square Change              F Change                df1                 df2                   Sig. F Change            Durbin-Watson


                 .317                       8.349                1                    18                            .010                    .998


a. Predictors: (Constant), LDR


b. Dependent Variable: NPL
                                                             b
                                                ANOVA


Model                        Sum of Squares             df           Mean Square       F                  Sig.

                                                                                                                    a
1        Regression                    3.731                     1           3.731         8.349             .010


         Residual                      8.043                 18               .447


         Total                        11.774                 19


a. Predictors: (Constant), LDR


b. Dependent Variable: NPL




                                                    a
                                     Coefficients


                                               Unstandardized Coefficients                                 Standardized Coefficients


Model                                                   B                             Std. Error                        Beta           t           Sig.


1        (Constant)                                                            .438                .711                                     .617          .545


         LDR                                                                   .028                .010                         .563       2.890          .010
                                                       a
                                        Coefficients


                                                 Unstandardized Coefficients                            Standardized Coefficients


Model                                                      B                           Std. Error                 Beta                     t                Sig.


1         (Constant)                                                        .438                .711                                             .617               .545


          LDR                                                               .028                .010                         .563               2.890               .010


     a.   Dependent Variable: NPL




                    a
     Coefficients



     95% Confidence Interval for B                                             Correlations                                              Collinearity Statistics


    Lower Bound         Upper Bound                            Zero-order                     Partial               Part            Tolerance           VIF


            -1.055              1.932


              .008               .048                                                 .563          .563                     .563       1.000                      1.000




a. Predictors: (Constant), LDR
b. Dependent Variable: NPL

                                         a
              Coefficient Correlations


Model                                        LDR


1        Correlations        LDR                1.000


         Covariances         LDR             9.078E-5


a. Dependent Variable: NPL




                                                           a
                              Collinearity Diagnostics


                                                                Variance Proportions
         Dimensi
Model    on             Eigenvalue       Condition Index       (Constant)      LDR


1        1                     1.978                1.000               .01            .01


         2                      .022                9.407               .99            .99


a. Dependent Variable: NPL
                                                          a
                                   Residuals Statistics


                              Minimum     Maximum         Mean          Std. Deviation    N


Predicted Value                  1.7929      3.4233           2.4470            .44313        20


Std. Predicted Value             -1.476       2.203             .000              1.000       20


Standard Error of Predicted
                                   .149        .369             .203               .059       20
Value


Adjusted Predicted Value         1.8191      3.6579           2.4744            .47655        20


Residual                        -.77333     1.11106           .00000            .65063        20


Std. Residual                    -1.157       1.662             .000               .973       20


Stud. Residual                   -1.234       1.714             -.019             1.020       20


Deleted Residual                -.87951     1.18182           -.02736           .71665        20


Stud. Deleted Residual           -1.253       1.821             -.006             1.042       20


Mahal. Distance                    .000       4.854             .950              1.239       20


Cook's Distance                    .000        .202             .052               .051       20


Centered Leverage Value            .000        .255             .050               .065       20


a. Dependent Variable: NPL
Charts

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:122
posted:9/29/2012
language:Unknown
pages:100