Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Noeroso Obligasi 2001 by bH1nxDE0

VIEWS: 0 PAGES: 7

									                              Hasil Penelitian Tahun 2001
                POTENSI PASAR RITEL OBLIGASI PEMERINTAH PADA
                         KELOMPOK RUMAH TANGGA
Rekomendasi .
       Temuan – temuan dalam studi ini menunjukkan adanya potensi yang cukup
besar dari rumah tangga Indonesia untuk menjadi investor obligasi pemerintah secara
retail. Secara kuantitatif hal ini ditunjukkan oleh perkiraan daya serapnya sebesar Rp
4.3 – Rp 8.5 triliun pada tahun 2000, dan secara indikatif    juga direfleksikan oleh
pemilikian emas perhiasan dan pola diversifikasi portfolio investasi rumah tangga
(yang terdiri dari tabungan / deposito – emas – surat berharga). Mengingat keberadaan
‘potensial demand’ ini maka tindak lanjut yang perlu ditempuh adalah menentukan
disain produk / kemasan obligasi seperti apa     yang sesuai dengan selera pembeli /
konsumen pasar retail. Untuk itu akan dilakukan studi lanjutan yang difokuskan pada
aspek karakteristik dana / likuiditas yang diinvestasikan oleh rumah tangga dan tempat
/ lembaga yang secara efektif dapat menjadi ujung tombak pemasaran obligasi retail.


Permasalahan
       Studi ini dilakukan dengan pertimbangan semakin besarnya kebutuhan
pengeluaran negara (APBN) untuk menanggung ongkos – ongkos krisis dan desakan
publik yang semakin kuat agar keuangan negara mengurangi ketergantungan pada
hutang luar negeri. Penerbitan obligasi merupakan salah satu pilihan yang telah dan
dapat ditempuh pemerintah untuk memenuhi dua tuntutan tersebut.            Sementara
obligasi dalam rangka “Rekapitasi Perbankan” telah mampu meningkat “CAR” namun
illiquid. Agar “Bank Rekap” bisa liquid dengan perubahan struktur modal yang berasal
dari   “obligasi Rekap”, maka perlu diidentifikasi kemampuan masyarakat dalam
menyerap obligasi tersebut.




Tujuan
         Tujuan studi ini memperkiraan besarnya kemampuan masyarakat, khususnya
kelompok rumah tangga, dalam menyerap obligasi yang telah diterbitkan selama
krisis. Hal ini merupakan tahap pertama dari tiga tahapan studi yang direncanakan; (i)
identifikasi konsumen / pembeli potensial & potensi penyerapannya, (ii) mendisain
‘produk’ obligasi yang akan dijual, dan (iii) jalur pemasaran yang efektive. Dalam
tahap pertama ini dilakukan antara lain : i) Identifikasi Kelompok Investor Potensial
Untuk Obligasi Pemerintah Menurut Jenis Pekerjaan Utama, dan ii) Identifikasi Lokasi
(Propinsi) Investor Potensial Untuk Obligasi Pemerintah Dari Kelompok Rumah Tangga


Metodologi dan data.
        Metodologi
        Identifikasi jenis rumah tangga dan lokasinya dilakukan dengan menggunakan
diagram XY yang membagi wilayah diagram menjadi empat kuadrant.               Sumbu X
mengukur sifat investasi secara relatif; ‘tdk likuid’ --- ‘likuid’, sedangkan sumbu Y
mengukur kemampuan investasi secara relatif; ‘rendah’ – ‘tinggi’. Dengan demikian
masing – masing kuadrant merefleksikan kondisi sbb: i) Kuadrant I        : kemampuan
investasi tinggi dan sifatnya likuid, ii) Kuadrant II : kemampuan investasi tinggi dan
sifatnya tidak likuid, iii) Kuadrant III : kemampuan investasi rendah dan sifatnya tidak
likuid, dan iv) Kuadrant IV : kemampuan investasi rendah dan sifatnya likuid
Kuadran I adalah posisi identifikasi Investor yang “Potensial”.
Data.
        Untuk    mengidentifikasi kelompok rumah tangga yang potensial sebagai
pembeli obligasi dan prilaku investasinya dilakukan dengan menggunakan data yang
diperoleh dari BPS, PT. Danareksa (Persero), Bank Indonesia, BEJ, BES dan Perum
Pegadaian. Data BPS yang digunakan adalah data hasil Survai Khusus Tabungan dan
Investasi Rumah Tangga (SKTIR) tahun 2000, dengan jumlah responden sebanyak 5130
yang tersebar di 13 propinsi.      Data PT. Danareksa merupakan hasil studi yang
dilakukan oleh lembaga ini pada tahun 2000, dengan responden sebanyak 1214 yang
berasal dari lima kota besar (Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan dan Makassar). Data
BI meliputi jumlah tabungan, deposito dan deposan. Data BEJ & BES terdiri dari
pemilik saham menurut kelompok institusi dan individual. Data Perum Pegadaian
berkaitan dengan data penggadai emas di seluruh kantror cabangnya
Temuan
1. Potensi rumah tangga sebagai pembeli (konsumen) obligasi pemerinta diperkirakan
     cukup besar.      Total nilai investasi rumah tangga Indonesia pada tahun 2000
     mencapai sekitar Rp 347 triliun.
2. Jumlah ini kurang lebih setara dengan 27 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB)
     pada tahun tersebut. Investasi sebesar itu dilakukan oleh 49,6 juta rumah tangga
     dengan angka investasi rata – rata sebesar Rp 6,9 juta per rumah tangga. Angka
     investasi tersebut kurang lebih setara dengan 40 persen dari rata – rata pendapatan
     rumah tangga pada tahun 2000.
3. Profil investasi rumah tangga dicirikan oleh besarnya porsi bentuk investasi fisik ( 75.5
     persen) daripada yang berupa investasi finansial ( 24.5 persen). Jenis investasi fisik yang
     utama berupa ‘Bangunan tempat tinggal’ (37 persen), ‘Barang Tahan Lama’ (32 persen) dan
     ‘Alat Produksi’ (12 persen). Jenis investasi finansial di dominasi oleh bentuk tabungan di
     lembaga keuangan formal, dengan pangsa sebesar 95 persen.
4.    Perkiraan daya serap rumah tangga.         Diperkirakan kelompok rumah tangga mampu
     menyerap obligasi pemerintah sebanyak Rp 4.3 – Rp 8.5 triliun per tahun. Potensi ini dihitung
     berdasarkan angka pangsa pasar obligasi sebesar 5 – 10 persen dari investasi finansial rumah
     tangga yang nilainya mencapai Rp 8.5 triliun pada tahun 2000. Komponen terbesar dari
     investasi finansial berupa tabungan, sedangkan bentuk lainnya seperti saham, surat berharga
     lain dan premi asuransi kontribusinya sangat kecil.
5. Meskipun tabungan merupakan komponen utama dari bentuk investasi finansial rumah
     tangga, namun angka tabungan per rumah tangga relatif kecil, yakni; hanya sekitar Rp 1.63
     juta per tahun. Angka rata – rata tersebut berada pada kisaran Rp 1.1 – Rp 2.4 juta per tahun
     menurut jenis pekerjaan utama anggota rumah tangga atau berada pada kisaran Rp 0.7 – Rp
     3.9 juta per tahun berdasarkan lokasi (propinsi).
6. Bila angka kisaran tabungan per rumah tangga tersebut digunakan sebagai patokan untuk
     memasarkan obligasi pemerintah secara retail dengan pangsa sekitar 5 – 10 persen, maka daya
     beli per rumah tangga terhadap obligasi berkisar pada angka Rp 35000,- - Rp 390000,- per
     tahun. Mengingat hal ini maka perlu dipertimbangkan agar obligasi retail dapat dipasarkan
     dengan pecahan yang merupakan kelipatan Rp 50 ribu, yakni; (i) pecahan 50 ribu, (ii) pecahan
     100 ribu, dan (iii) pecahan 500 ribu.
7. Identifikasi investor potensial; jenis rumah tangga & lokasi (propinsi) Informasi lanjutan
     yang dibutuhkan dalam merancang pemasaran obligasi pemerintah secara retail adalah
     kelompok rumah tangga mana dan dimana yang memiliki potensi sebagai investor. Analisa
     dengan menggunakan diagram kuadrant memberikan hasil sebagai berikut:
     A. Kelompok rumah tangga yang potensial menjadi investor obligasi pemerintah
        terdiri dari rumah tangga dg pekerjaan utama anggota rumah tangga sebagai;
            1. Pimpinan dan Manajer Senior
            2. Teknisi dan Asisten Ahli
            3. Tenaga tata usaha dan usaha jasa tingkat lanjutan
            4. Tenaga tata usaha, penjualan dan usaha jasa tingkat menengah
            5. Tenaga Ahli


        Kelompok rumah tangga no. 1 – 4 berada di kuadrant I, yang berarti memiliki
potensi investasi tinggi dan investasinya bersifat likuid. Kelompok ini diperkirakan
memiliki surplus pendapatan diatas Rp 8.7 juta per tahun dan porsi investasi likuidnya
lebih dari 25 persen. Kelompok rumah tangga no. 5 (Tenaga Ahli) memiliki potensi
investasi yang sama, namun bentuk investasinya kurang likuid (<25 persen ).




           Identifikasi Kelompok Investor Potensial Untuk Obligasi Pemerintah
                             Menurut Jenis Pekerjaan Utama

                                   Tinggi
II                                                                                       I
                                            P
      Tenaga Ahli                           O        Pimpinan & Manajer Senior
                                             T        Teknisi & Asisten Ahli
                                             E        Tenaga Tata Usaha & Usaha Jasa Tk.
                                             N         Lanjutan
                                             S        Tenaga Tata Usaha, Penjualan &
                                             I         Usaha Jasa Tk. Menengah

               SIFAT                                          INVESTASI
Tidak likuid                                                                          Likuid
                                       I
     Tenaga Produksi & Pekerja Terkait               Pekerja Produksi & Angkutan Tk.
      N                                                Menengah
     Pekerja Kasar & Pekerja Terkait    V            Tenaga Tata Usaha, Penjualan &
                                       E               Usaha Jasa Tk. Rendah
                                      N               Anggota TNI
                                      T
                                      A                                                  IV
III                                   S
                                       I
                                 Rendah



     B. Lokasi rumah tangga yang potensial sebagai investor meliputi;
           1. Propinsi Riau
           2. Propinsi Sumatera Selatan
           3. Propinsi Bali
           4. Propinsi Sulawesi Selatan
           5. DKI Jakarta




        Identifikasi Lokasi (Propinsi) Investor Potensial Untuk Obligasi Pemerintah
                               Dari Kelompok Rumah Tangga

                                    Tinggi
II                                                                                         I
                                             P
      Jambi                                 O        Riau
       Sulawesi Utara                    T        Sumatera Selatan
                                        E          DKI Jakarta
                                        N          Bali
                                        S          Sulawesi Selatan
                                        I
                SIFAT                                   INVESTASI
Tidak likuid                                                                    Likuid
                                        I
          Lampung                       N
          Jawa Barat                   V
          Jawa Tengah                   E       Kalimantan Selatan
          DI Yogyakarta                  N
          Nusa Tenggara Barat            T
                                       A
                                       S
                                       I
III
                                  Rendah                                           IV




Perilaku investasi rumah tangga.


          Hasil survai Danareksa (2000) menunjukkan bahwa mereka yang memiliki
investasi dalam bentuk surat berharga juga memiliki investasi berupa tabungan (98
Persen) dan deposito berjangka (75 persen). Selain itu mereka juga melakukan investasi
dalam bentuk emas perhiasan dan asuransi kesehatan. Pemegang saham / obligasi ini
umumnya berpedidikan S1 atau lebih tinggi dan berkedudukan di middle hingga top
manajemen di tempat kerjanya.


      Apabila ketiga bentuk investasi tersebut merupakan suatu paket portfolio yang
biasa ditempuh oleh rumah tangga Indonesia, maka dapat dipastikan bahwa kenaikan
angka deposito dan pembelian emas juga akan diikuti oleh peningkatan permintaan
terhadap obligasi.       Indikasi adanya peningkatan potensi permintaan masyarakat
terhadap portfolio investasi dalam bentuk surat berharga ditunjukkan oleh kenaikan
jumlah simpanan berjangka di berbagai bank dan juga peningkatan jumlah nomor
rekening simpanan berjangka.
   Indikator lain yang secara kuat menunjukkan adanya peningkatan potensi
permintaan terhadap surat berharga sebagai bentuk investasi adalah luasnya
kepemilikan emas di tengah masyarakat. Data dari Perum Pegadaian menunjukkan
banyaknya transaksi gadai emas selama tahun 2000 di 14 kantor daerah (Kanda) yang
mencapai sekitar 6.1 juta.   Bila diasumsikan setiap nasabah melakukan dua kali
transaksi gadai selama setahun maka jumlah pemilik emas diperkirakan mencapai 3 juta
orang. Sesuai dengan pola investasi masyarakat pada umumnya maka 3 juta orang
tersebut tentunya juga berkeinginan untuk melakukan diversifikasi portfolio
investasinya dengan bentuk tabungan (baik berupa deposito maupun surat berharga).


   Disamping fenomena diversifikasi diatas, nampak pula bahwa investor dari
kelompok rumah tangga sangat menyukai bentuk investasi yang likuid. Artinya jenis
investasi dapat dengan mudah dikonversi menjadi uang tunai setiap saat dibutuhkan.
Hal ini berkaitan erat dengan sifat dana yang mereka investasikan merupakan cadangan
untuk membiayai berbagai keperluan mendadak (perawatan kesehatan, peluang –
peluang bisnis temporer dll.) ataupun merupakan dana yang sementara belum
digunakan. Prilaku lain yang patut diperhatikan berkaitan erat dengan kebutuhan
terhadap jaminan keamanan, sebagaimana terefleksi oleh besarnya pangsa tabungan
rumah tangga yang disimpan pada bank – bank milik negara.

								
To top