KEBUDAYAAN DAYAK DAN MOMENTUM 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA: APA YANG by v53280

VIEWS: 55 PAGES: 3

									   KEBUDAYAAN DAYAK DAN MOMENTUM 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA: APA YANG
                           MASIH TERSISA?

                                            Kebudayaan Dayak di Kalimantan merupakan salah satu
                                            kekayaan kebudayaan nasional. Kebudayaan yang telah turun
                                            temurun diwariskan oleh nenek moyang suku Dayak telah
                                            membentuk kepribadian dan karakteristik kebudayaan Dayak
                                            yang dikenal sekarang ini. Namun, seberapakah nilai-nilai
                                            kebanggaan atas warisan kebudayaan itu bagi generasi masa
                                            kini? Tidak ditemukan suatu parameter akan hal itu, namun yang
                                            jelas sejak suku bangsa ini ada dan masa-masa kelam pasang
                                            surutnya peristiwa dalam sejarah—seperti tertuang dalam Tetek
                                            Tatum (riwayat manusia suku Dayak (Ngaju)) hingga terjajah oleh
                                            kolonialis dan masa global ini, suku Dayak dikenal sebagai suku
                                            yang pandai mewarisi kebudayaannya—terutama yang bersifat
                                            lisan (oral tradition). Riwayat tentang kepahlawanan (dalam
                                            Sansana Bandar), riwayat epos Tambun Bungai, dan tentang
filosofi kemanusiaan, dan kearifan tradisionalnya terhadap alam,serta ketuhanan seperti Kaharingan
mengetengahkan suatu fokus pemikiran bahwa suku Dayak adalah suku yang pandai mengartikulasi semua
noktah peristiwa dalam suatu konstelasi dan episode kehidupan yang amat memukau. Pandangan inilah yang
semakin mempertegas karakteristik dan etos masyarakat suku ini dalam memandang hidup dan menjalani
kehidupannya. Filosofi kehidupan suku Dayak yang sangat akrab dengan alamnya, tatanan sosiokultural
yang melekat padanya, sampai sifat terbuka mendudukkan suku ini sebagai suatu kesatuan yang inklusif dan
mampu berdampingan hidup secara egaliter dalam kelompok komunal yang lebih luas. Filosofi itu tergambar
dalam kehidupan komunal di dalam huma betang (rumah panjang yang dihuni oleh puluhan keluarga) yang
diilustrasikan sebagai cermin kebhinekaan. Hal ini sejalan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara
dalam konteks yang lebih luas. Namun, terlepas dari semua puja-puji tentang kepahlawanan manusia suku
Dayak, kekayaan budaya dan kearifan tradisionalnya, muncullah berbagai pertanyaan yang selalu
menggelitik menuntut jawab: apakah semuanya masih eksis dan bertahan dengan situasi suku Dayak di
masa kini? Apakah kita telah terjebak dalam buaian-buaian lullaby narsistik yang berlebihan sehingga lupa
untuk mengilhami makna kebudayaan itu? Sementara, bagaimana manifestasi dari nilai-nilai kepahlawanan
para leluhur itu disikapi generasi masa kini, atau masihkah filosofi huma betang yang amat dijujung tinggi itu
menjadi bagian keseharian Oloh Dayak (orang Dayak) di masa kini yang tercerai berai (mulus di luar, retak di
dalam) dengan konstelasi zaman yang serba individualistik dan hedonistis ini?
                                          ***********
                                    Saya jadi teringat dengan cerita orang tua dahulu ketika saya masih kecil
                                    bahwa ada tiga orang petinggi yang menumpang sebuah perahu. Ada
                                    tamanggung, damang, dan dambung. Di tengah perjalanan, perahu
                                    mengalami kebocoran di dasarnya, lalu tidak ada yang mau menambal
                                    atau menimba air agar keluar dari perahu itu karena masing-masing
                                    merasa gengsi (maklum, sama-sama pejabat), akhirnya perahu tersebut
                                    tenggelam dan mereka masing-masing menyelamatkan diri berenang ke
                                    tepian. Sungguh, cerita itu masih terekam dengan baik di otak saya
hingga kini, sampai saya mengamati dan menganalisis sendiri dalam hidup dan keseharian di tengah
masyarakat suku ini,—setidaknya untuk saya yang dilahirkan dan dibesarkan di kampung di era 70-an dan
bagian dari Oloh Dayak. Cerita tersebut selalu terngiang dan seolah terpampang pada papan-papan tulis di
sekolah dan menyisakan berbagai penafsiran bagi saya. Betapa tidak, suku Dayak telah sangat lama
membuat perbedaan status sosial: utus gantung (keturunan bangsawan; petinggi) dan utus randah/utus jipen
(keturunan budak belian dan termasuk di dalamnya utus hantuen/manusia jadi-jadian yang dapat menghisap
darah secara magis). Perbedaan tersebut menyisakan dua hal yang masih akrab dan bergelut dengan situasi
Dayak masa kini. Pertama, berkaitan dengan cerita tadi, Oloh Dayak/orang Dayak yang kebetulan dilahirkan
dengan strata sosial tinggi bertahan dengan gengsi status quo-nya, sehingga lebih baik sama-sama
tenggelam dan SDM (selamatkan diri masing-masing) daripada dipandang rendah oleh koleganya yang lain;
kedua, dalam konteks demikian mengapa filosofi huma betang, habaring hurung, handep hapakat kok tidak
diterapkan? Atas nama perbedaan yang ada dan sudah ada tersebut mengapa tidak dipandang sebagai
sebuah kekayaan/potensi untuk bersama-sama melakukan perubahan demi kepentingan dan kemajuan
bersama?
                                                   **********
         Lalu, apa hubungan filosofi, kearifan tradisional, dan kepahlawanan dan etos suku Dayak sebagai
anak alam dengan cerita di atas dengan kebudayaan Dayak pada masa kini? Orang lain, sebagai outer group
dari suku Dayak pantas bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan pergeseran kebudayaan dan pola pikir
masyarakat suku Dayak di tengah hiruk-pikuk modernisasi di zaman yang serba canggih (sophisticated) ini?
Adakah peran yang harus dimainkan untuk mencoba mereposisi pemikiran (mindset) Oloh Dayak atau
generasi masa kini terhadap pola-pola yang bergeser itu? Inikah dampak dan impak dari sebuah kata ajaib
yang bernama modernisasi? Apakah modernisasi itu harus meluluhlantakkan sendi-sendi budaya sehingga ia
bebas lepas untuk bergeser dan menyaru menjadi budaya lain? Apakah modernisasi menuntut manusia
Dayak menjadi individualistik dan hedonistis serta oprtunistis (SDM—selamatkan diri masing-masing)? Inikah
refleksi dari etos generasi Tambun Bungai yang terkenal mamut menteng (gagah berani) itu?Karena alasan
                            ekonomi kah gejala ini muncul? Mungkin masih banyak lagi pertanyaan apakah
                            lainnya.
                                                                ************
                            Dalam perspektif sosiologis, suku Dayak terbagi menjadi tiga bagian berkaitan
                            dengan pewarisan budaya yang dimilikinya. Bagian pertama, kelompok
                            masyarakat suku Dayak yang bermukim di pedalaman, di kampung-kampung yang
                            mungkin masih tersisa kemurnian kebudayaannya adalah bagian masyarakat yang
                            bertahan dengan pola budaya tolong-menolong, solider, dan loyal dengan ikatan
                            komunalnya. Bagian ini masih mewarisi budaya leluhur dan menganggap bahwa
                            kebudayaan merupakan bagian dari pembangunan kemanusiaan (human
                            development). Bagian ini sudah terserap modernisasi tetapi masih kuat bertahan
dengan kearifan tradisionalnya ; bagian kedua adalah bagian tengah yakni bagian masyarakat yang sedang-
sedang saja, artinya masih tetap bertahan dengan sebagian dari kebudayaannya namun juga sudah mulai
menyerap unsur-unsur modernisasi (tidak mundur tetapi tidak juga maju; jalan di tempat), bagian ini
merupakan bagian yang cenderung ambil posisi aman saja; ndak usah macam-macam; cenderung pasrah
dan acuh terhadap pewarisan budayanya kepada generasi setelahnya. Bagi mereka, budaya adalah budaya,
ia akan mengalami seleksi alamiah, tidak ada kewajiban yang mengharuskan untuk mewariskannya; dan
bagian ketiga adalah bagian dari pucuk piramida, kaum elite dan intelektual dan berwawasan luas,
menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan namun hampir sama dengan bagian kedua, yakni mewariskan
budaya menjadi bagian yang tidak terlalu penting dan harus di masa kini yang serba canggih. Hanya saja
yang membedakannya adalah cara pandang dan keprihatinan mereka dalam melihat eksistensi kebudayaan
dan kehidupan di masa yang akan datang.
                               Dalam konstelasi demikian, maka peranan kaum elite dan intelektual
                               merupakan garda depan yang harus menjadi motor penggerak masyarakat
                               bagian tengah untuk tetap mempertahankan kebudayaan dan mereposisi
                               perubahan pola pikir manusia suku Dayak. Kaum inilah (yang didominasi oleh
                               kaum muda yang progresif) yang menjadi pewaris kebudayaan, sehingga
                               maju-mundurnya kebudayaan di masa depan berada di tangan mereka.
                               Perubahan pola pikir tidak harus serta merta menanggalkan kebudayaan,
                               karena kebudayaan merupakan penapis/filter bagi kebudayaan lain yang tidak
                               sesuai dengan kepribadian manusia Dayak. Jika tidak, maka yang terjadi
                               adalah secara eskalatif muncullah gerakan eskapisme terhadap budaya
                               sendiri: lebih bangga dengan kebudayaan lain--kebudayaan baru sebagai
                               pengabur identitas lama—untuk dan atas nama sebuah identitas modern.
                                                 ***************
        Berkaitan dengan itu pula, 80 tahun setelah Sumpah Pemuda, yang dikumandangkan dan dimotori
oleh kaum muda Indonesia, telah tercatat dalam tinta emas sejarah. Peranan kaum muda dalam peristiwa
bersejarah Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan RI 1945, Orde
Baru 1966, dan Reformasi 1998, mengingatkan kita akan peran mereka dalam maju-mundurnya perjalanan
kebangsaan. Namun, mampukah kita sebagai bagian dari kaum muda Dayak menjadikan semua itu sebagai
‘kebangkitan’ soliditas dan solidaritas, serta pola pikir dan perspektif yang benar-benar baru (yang tidak
terjebak dalam romantisisme etnosentris berlebihan) untuk bergandeng tangan bersama-sama berjuang
mengembalikan filosofi huma betang, habaring hurung, handep hapakat kepada tempatnya untuk
membebaskan suku Dayak dari kebodohan, kemiskinan, dan pemarjinalan? Apabila tidak sekarang,kapan
lagi? Kalau bukan kita Oloh Dayak,lalu siapa lagi? Lalu, apalagi yang tersisa dari kebudayaan Dayak di masa
depan? Mungkin perlu adanya sumpah pemuda-sumpah pemuda Dayak, yang lepas dari vested interest agar
ada ikatan yang lebih solid untuk ikut membangun Tanah Dayak? Yang di dalamnya melebur ke dalam satu
kesatuan yang utuh tanpa melihat perbedaan utus gantung/utus randah, oloh Kahayan, oloh Kapuas, oloh
Katingan, oloh Maanyan, dan oloh-oloh lainnya, menjadi satu payung bernama Oloh Dayak Kalteng?
Sanggupkah kita mengumpulkan kembali bilah-bilah lidi yang tercerai-berai ini ke dalam satu ikatan sapu lidi
dan dapat menjadi satu kekuatan untuk melakukan perubahan?
        Sesungguhnya, kita hanya pandai membuat rencana (planner), tetapi mungkin harus belajar keras
untuk memulainya, melaksanakannya (kata seorang teman yang studi di Belanda) dan membina dari apa
yang telah kita lakukan. Kita harus belajar banyak untuk menjadi eksekutor, menjadi pelaksana atas apa yang
telah kita rencanakan dan mengevaluasinya.Tetapi benarkah kita juga semakin pandai meratapi,
menyalahkan dan memasrahkan diri atas takdir yang menimpa kita?
         Akankah kebudayaan Dayak seperti halnya kebudayaan Indian di Amerika yang lambat-laun akan
punah? Atau mungkin kita selama ini terlalu narsistik, mungkin benar, mungkin juga keliru. Hanya waktu yang
akan menjawabnya…Semoga!

								
To top