Docstoc

MODEL PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI

Document Sample
MODEL PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI Powered By Docstoc
					         MODEL PEMBELAJARAN APRESIASI PUISI DENGAN
          MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTESKTUAL


1.1 Latar Belakang Masalah

       Kemampuan        bersastra   dalam      proses   pembelajaran       bahasa

Indonesia di tingkat SMP masih sangat sulit pemahamannya, strategi dan

pendekatan pembelajaran diberikan kepada siswa selalu terbentur oleh

beberapa faktor di antaranya minimnya sumber belajar di lingkungan

siswa, langkanya buku bacaan di perpustakaan serta kurangnya

kemampuan guru memahami sastra itu sendiri.

       Dengan diluncurkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

sedikit banyak memberikan ruang kepada penulis untuk memberikan

bahan ajar yang lebih kreatif dan menyenangkan. Kurikulum Tingkat

Satuan     Pendidikan       merupakan       suatu   desain     kurikulum     yang

dikembangkan berdasarkan seperangkat kompetensi tertentu. Saylor

(dalam Gapur, dkk. 2001) mengartikan Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan     sebagai      rancangan       kurikulum   yang     dikembangkan

berdasarkan atas seperangkat kompetensi khusus, yang harus dipelajari

dan atau ditampilkan siswa. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),

memperkenalkan berbagai macam strategi pendekatan dan model

pembelajaran, sehingga proses pembelajaran Bahasa dan Sastra

Indonesia lebih variatif.




                                        1
                                                                     2




      Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan khususnya pelajaran bahasa

dan sastra Indonesia pada hakekat pembelajaran bahasa,yaitu belajar

berbahasa adalah belajar berkomunikasi sedangkan belajar sastra adalah

belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Standar

kompetensi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan di antaranya :

   1) Sebagai sarana peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa;

   2) Sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam

      rangka pelestarian dan pengembangan budaya.

   3) Sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk

      meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan

      seni;

   4) Sebagai sarana penyebarluasan pemakaian bahasa dan sastra

      Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan;

   5) Sebagai sarana pengembangan penalaran dan;

   6) Sebagai sarana keberanekaragaman budaya Indonesia melalui

      khasanah kesusastraan Indonesia.

      Berdasarkan uraian di atas pembelajaran bahasa dan sastra

Indonesia, lebih khusus pada pembelajaran sastra (puisi) harus dapat

menumbuhkan, mengembangkan, dan meningkatkan daya apresiasi

siswa terhadap karya sastra Indonesia. Dalam proses pembelajaran

bahasa dan sastra Indonesia, puisi merupakan salah satu karya seni

karena menyuguhkan keindahan yang artistic dalam segi bahasa,
                                                                          3




impresif,   imajinatif    serta   menumbuhkan   kreatifitas   yang   tinggi.

Pembelajaran sastra dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan akan

lebih bermakna apabila memakai model pendekatan Contextual Teaching

and Learning (CTL). Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and

Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara

materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan

mendorong     siswa      membuat   hubungan   antara   pengetahuan    yang

dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Dengan model ini siswa akan lebih kreatif untuk berapresiasi dan

berimajinasi, karena siswa akan langsung berkomunikasi dengan karya

sastra Indonesia melalui media pembelajaran . Siswa juga dapat

berekspresi dalam pembuatan sastra/puisi dengan mencoba dibawa

secara langsung ke dunia luar lingkungan sekolah, kebun, gunung,

sawah, pasar dan lain-lain.

       Pembelajaran sastra (puisi) selain untuk berapresiasi terhadap

karya lain, juga dapat digunakan untuk berimajinasi siswa itu sendiri

dengan bahasa yang sederhana, sehingga dapat mempertajam kepekaan

rasa, penghalusan jiwa, penalaran dan daya khayal serta kepekaan

terhadap budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat dan

lingkungan hidup, untuk mencapai tujuan seperti di atas siswa diharapkan

banyak membaca karya sastra dan banyak belajar mengolah kata dan

tentunya pihak sekolah harus mendukung dengan pengadaan buku-buku

sastra atau bacaan lainnya di perpustakaan.
                                                                         4




      Apresiasi siswa terhadap sastra (puisi) mempunyai peranan yang

sangat penting dalam mengisi kehidupan kini dan masa yang akan

datang. Nilai-nilai kehidupan yang baik, yang diperoleh dari proses

pembelajaran sastra (puisi) misalnya; nilai-nilai moral, nilai social

kemasyarakatan, keindahan rasa, perasaan halus, nilai kemerdekaan

serta nilai-nilai keagamaan.

      Pengajaran sastra harus lebih didahulukan dari pada memberikan

pengetahuan tentang sastra. Pengajaran sastra pada hakekatnya

menanamkan rasa peka terhadap hasil sastra, menanamkan rasa cinta,

sehingga timbul kegemaran, kemampuan penangkapan dan penilaian

terhadap hasil-hasil sastra (Brahim, dalam Situmorang. 1983.23)

      Pembelajaran sastra' bertujuan membina dan membimbing siswa

kearah apresiasi yang baik terhadap hasil-hasil karya sastra, membimbing

siswa untuk memiliki kepekaan rasa dan kesanggupan untuk memahami

sekaligus menikmati dan menghargai terhadap hasil karya sastra Tidak

menutup    kemungkinan     siswa   juga   diharapkan    dapat   berekspresi

menuangkan ide, gagasannya dan pengalaman estetiknya ke dalam

sebuah karya sastra (puisi) walaupun sangat sederhana.

      Dalam proses belajar mengajar di SMP YAS Bandung, memang

masih sangat banyak kelemahannya, disamping lingkungan keluarga yang

tidak kondusif dalam mendukung anaknya untuk belajar, juga faktor

ekonomi yang tidak cukup baik untuk terciptanya siswa belajar yang

optimal.   Sekolah   pun   masih    belum   punya      perpustakaan   yang
                                                                          5




representative untuk digunakan sebagai sumber belajar siswa. Latar

belakang penulis juga masih sangat kurang terhadap pemahaman puisi,

sehingga penulis juga harus ekstra keras untuk belajar lebih banyak.

      Dalam upaya mewujudkan proses pembelajaran apresiasi puisi di

SMP YAS Bandung, penulis mencoba melakukan uji coba dengan

mempraktekkan mengajar dengan menggunakan model pendekatan

kontekstual (CTL) khusus di kelas VII, dengan pendekatan tersebut

penulis membimbing dan membina siswa untuk berapresiasi puisi dengan

baik, sehingga tujuan pembelajaran puisi di SMP YAS Bandung tercapai

secara optimal. Adapun judul penelitian ini adalah "Model Pembelajaran

Apresiasi Puisi dengan Menggunakan Pendekatan Kontesktual di Kelas

VII SMP YAS Bandung Tahun Pelajaran 2011-2012.



1.2 Pembatasan dan Perumusan Masalah

      Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis membatasi

permasalahan    yang    akan   menjadi   obyek   penelitian   yaitu   Model

Pembelajaran    Apresiasi   Puisi   dengan   Menggunakan       Pendekatan

Kontekstual di Kelas VII SMP YAS Bandung Tahun Pelajaran 2011-2012

Kota Bandung.

      Adapun perumusan masalah model pembelajaran apresiasi puisi

dengan pendekatan kontekstual harus dirumuskan secara jelas, untuk

mempermudah mengawali penelitian serta mempermudah merumuskan

masalah yang akan penulis teliti.
                                                                         6




       Surakhmad (1993:36) menyatakan, bahwa ; perumusan masalah

itu diperlukan bukan saja untuk memudahkan dan menyederhanakan

masalah. Tetapi sangat diperlukan untuk menetapkan lebih dahulu segala

sesuatu yang erat kaitannya dengan pemecahan masalah itu sendiri,

tenaga, waktu dan biaya yang timbul dari rencana itu sendiri.

       Dari uraian di atas penulis ingin mengetahui sejauhmana apresiasi

puisi siswa berdasarkan model pendekatan kontekstual di kelas VII SMP

YAS Bandung. Dalam penelitian ini penulis merumuskan masalah sebagai

berikut:

   1. Apakah     model    pembelajaran   Apresiasi   Sastra/puisi   dengan

       menggunakan pendekatan kontekstual berhasil dengan baik?

   2. Apakah ada kendala/hambatan yang ditemui penulis dalam

       pelaksanaan proses pembelajaran apresiasi sastra/puisi dengan

       menggunakan pendekatan kontekstual di kelas VII SMP YAS

       Bandung?



1.3 Variabel Penelitian

       Variabel penelitian adalah sebuah konsep yang mempunyai

bermacam-macam nilai. Sutrisno Hadi (1989 :4) menyatakan bahwa

variable adalah obyek yang diteliti sedangkan menurut Suharsini Arikunto

(1999 : 91) menyatakan variabel adalah obyek penelitian yang terjadi titik

perhatian suatu penelitian.

       Dalam penelitian ini penulis menentukan 2 variabel yaitu:
                                                                         7




   1. Variabel pertama adalah pembelajaran apresiasi sastra/puisi

   2. Variabel kedua adalah proses pembelajaran dengan menggunakan

       pendekatan kontekstual.



1.4 Definisi Operasional

       Untuk menghindari salah persepsi, penulis membuat definisi

operasional dalam karya ilmiah ini. Berikut beberapa definisi operasional

serta penjelasannya.

       Tarigan (1995 : 5) mendefinisikan Pembelajaran sebagai berikut:

   a. Pembelajaran adalah pengalaman belajar yang dialami oleh siswa

       dalam proses menguasai tujuan pelajaran;

   b. Pembelajaran adalah pengalaman yang dapat diartikan sebagai

       penghayatan sesuatu yang actual;

   c. Penghayatan akan menimbulkan respon tertentu dari pihak

       pembelajar;

   d. Pengalaman yang berupa pelajaran akan menghasilkan perubahan

       seperti menjadi dewasa, perubahan perilaku serta menambah

       informasi.

       Dari   uraian   di   atas   penulis    dapat   menyimpulkan   bahwa

pembelajaran adalah suatu proses pengalaman belajar, dimana siswa

menemukan       informasi    berupa    ilmu    pengetahuan    yang   dapat

diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, berupa perubahan tingkah

laku, pola hidup dan Iain-Iain.
                                                                       8




       Apresiasi adalah pengenalan nilai pada bidang nilai yang lebih

tinggi sehingga siap untuk melihat serta mengenal nilai dengan tepat, dan

menjawab dengan hangat dan simpati (Yus Rusyana, 1984: 321).

Sedangkan menurut Poerwadarminta (1984 : 55) apresiasi merupakan

penilaian yang baik/penghargaan.

       Menurut penelitian, penulis berpendapat bahwa apresiasi puisi

pada siswa kelas VII SMP YAS Bandung, ditemukan beberapa tingkatan

pemahaman yaitu tingkat menggemari, menikmati dan mereaksi sehingga

siswa dituntut kesungguhan dalam belajar.

       Mengapresiasi berarti menikmati keindahan sebuah karya puisi,

mengapresiasi berarti menghayati dan memahami sebuah karya puisi

yang pada gilirannya memberikan penghargaan kepada sebuah karya

puisi itu sendiri.

       Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), adalah

sebuah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi

yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong

siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Depdiknas :2002 : 4). Model

pendekatan ini adalah model yang baru dalam proses pembelajaran, titik

berat pendekatan ini adalah siswa. Siswa belajar dari mengalami sendiri

bukan dari pemberian orang lain, siswa secara langsung bersentuhan,

mendengar dengan karya sastra melalui sumber belajar dan media

pembelajaran.
                                                                      9




1.5 Anggapan Dasar

      Anggapan dasar merupakan dugaan yang diterima sebagai dasar,

landasan berpikir, karena dianggap benar (Kamus Besar Bahasa

Indonesia). Anggapan dasar hendaknya disusun berdasarkan kebenaran

yang diperoleh dari penelitian. Dalam menentukan asumsi harus ada

relevansi yang mendasari anggapan dasar itu. Dalam hal ini sejalan

dengan pendapat Arikunto (1993:57) yang menyatakan bahwa anggapan

dasar merupakan asumsi dasar, postulat, atau anggapan dasar harus

disusun atas kebenaran yang diperoleh peneliti. Dalam penelitian ini

penulis merumuskan anggapan dasar sebagai berikut:

   1) Apresiasi adalah bagian penting dalam proses pembelajaran

      apresiasi puisi yang harus disampaikan kepada siswa

   2) Keberhasilan pembelajaran apresiasi puisi ditentukan oleh kegiatan

      penyampaian bahan pelajaran dalam proses pembelajaran

   3) Model pendekatan kontekstual memberi ruang kepada siswa dalam

      berapresiasi puisi

      Pembelajaran apresiasi puisi perlu terus diberikan untuk lebih

menggairahkan siswa dalam proses belajar mengajar dengan bertumpuk

pada tujuan pembelajaran yang sesuai dengan ketentuan Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan.


1.6 Hipotesis

      Hipotesis adalah pemikiran yang dinyatakan dalam bentuk positif.

Hipotesis sebagaimana yang dikemukakan oleh Arikunto (1993 : 62)
                                                                          10




"Merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan, penelitian".

Dengan demikian hipotesis merupakan jawaban yang sifatnya sementara

terhadap sebuah hasil penelitian sampai terbukti kebenarannya melalui

data dan keterangan yang terkumpul.

        Pada penelitian ini penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut:

Model    Pembelajaran        Apresiasi   Sastra/Puisi   dengan   Menggunakan

Pendekatan Kontekstual di Kelas VII SMP YAS Bandung Tahun Pelajaran

2011-2012 menunjukkan kemampuan siswa dengan apresiasi yang baik.


1.7 Tujuan Penelitian

        Berdasarkan pada pembatasan masalah yang telah ada, maka

penelitian ini bertujuan :

   1. Untuk mengetahui keberhasilan siswa SMP dalam mengapresiasi

        puisi dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

   2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi siswa SMP

        N 2 Bandung dalam mengapresiasi puisi dengan menggunakan

        pendekatan kontekstual.


1.8 Tempat dan Waktu Penelitian

        Sesuai dengan judul yang penulis ambil maka penelitian ini

dilaksanakan di SMP YAS Bandung pada tahun pelajaran 2011-2012.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember-Februari 2010, setelah

penulis mendapatkan surat izin dari kepala sekolah dan pihak dari STKIP

Siliwangi Bandung.
                                                                           11




1.9 Metode Penelitian

       Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk

mencapai     sesuatu     maksud       (dalam   ilmu    pengetahuan      dsb.)

(Poerwadarminta, 1985 : 649). Metode yang paling tepat menurut penulis

adalah metode deskriptif. Dengan metode penelitian ini bertujuan untuk

melihat hasil. Hasil yang dimaksud adalah hasil uji coba proses

pembelajaran      apresiasi   puisi   dengan   menggunakan         pendekatan

kontekstual dengan menggunakan media audio (kaset audio), sehingga

akhirnya akan dapat diambil kesimpulan apakah pembelajarannya akan

berhasil atau tidak.



1.10 Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

1.10.1 Populasi

       Populasi    adalah     keseluruhan   subyek    penelitian   (Suharsimi

Arikunto, 1993: 102). Sedangkan menurut pendapat (Surakhmad, 1994:

93) penarikan sebahagian dari populasi untuk mewakili seluruh populasi.

       Dalam penelitian uji coba ini penulis menentukan jumlah populasi

sebagai sumber data yang akan diteliti. Adapun yang dijadikan populasi

penelitian ini adalah siswa kelas 1 SMP YAS Bandung Tahun Pelajaran

2011-2012 yang berjumlah 150 siswa.


1.10.2 Teknik Pengambilan Sampel

       Sampel adalah bagian atau wakil yang diteliti (Suharsimi, 1998:

177). Sedangkan sample yang penulis ambil dari penelitian ini adalah 15
                                                                     12




% dari jumlah pupulasi kelas 1 SMP YAS Bandung yang berjumlah 150

siswa atau sebanyak 30 siswa. Kemudian teknik yang penulis gunakan

dalam penelitian ini yaitu teknik sampel random kelas.



1.11 Instrumen Penelitian

1.11.1 Persiapan Mengajar

      Menurut Poerwadarminta (1976 :29) yang dimaksud dengan

mengajar yaitu memberi pelajaran atau melatih.

      Mengajar merupakan kegiatan terpadu yang berkesinambungan

dengan berbagai komponen, antara lain : komponen guru, bahan, murid,

media .tujuan, kurikulum, lingkungan keluarga, masyarakat dan Iain-Iain.

Dewasa ini pengertian mengajar mengalami pergeseran makna . Hal ini

disesuaikan dengan peran dan fungsi guru sebagai pengajar. Istilah

mengajar dewasa ini lebih dititik beratkan pada kegiatan mengarahkan,

membimbing, memberi dorongan. Oleh karena itu, peran guru dalam

kegiatan mengajar adalah sebagai : pengarah belajar, pemberi fasilitas,

pendorong, dan pemberi motif. (Kosadi Hidayat dkk, 1995: 6)

      Berdasarkan uraian di atas, maka penulis berkesimpulan bahwa

mengajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru

agar bisa memberi pelajaran dengan cara mengarahkan, membimbing

serta memberikan dorongan kepada siswa. Agar kegiatan tersebut dapat

dilakukan dengan baik maka seorang guru harus mampu untuk

merancang kegiatan belajar mengajar secara efektif dengan suasana
                                                                       13




yang kondusif bagi siswa. Untuk itu ia harus memiliki pengetahuan yang

cukup tentang prinsip-prinsip belajar sebagai dasar dalam merancang

kegiatan belajar-mengajar .seperti merumuskan tujuan, memilih bahan,

menentukan waktu, memilih metode, kegiatan evaluasi, dsb.


1.11.2 Merumuskan Tujuan

       Pada kurikulum yang selama ini berlaku, upaya untuk mengetahui

tujuan pembelajaran dilihat melalui tercapai tidaknya tujuan khusus

pembelajaran. Sementara itu, untuk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar dilihat melalui

indikator. Pada prinsipnya indikator dikembangkan berdasarkan materi

pembelajaran dan atau kompetensi dasar. Satu kompetensi dapat

dikembangkan menjadi 2-5 indikator. Indikator adalah karekteristik, cirri-

ciri, perbuatan atau tanggapan yang ditunjukkan oleh siswa berkaitan

dengan kompetensi dasar. Indikator yang berisi kata kerja operasional

merupakan petunjuk tingkah laku siswa sebagai bukti hasil belajar yang

dapat diukur.

       Kompetensi dasar yang dipilih penulis yaitu :

      Mendengarkan, menanggapi, dan merefleksi pembacaan puisi.

       Indikatornya :

      Mampu menangkap isi puisi dengan mempertimbangkan nada,

       suasana, irama, dan pilihan kata puisi tersebut

      Mampu menangkap isi puisi seperti gambaran pengindraan,

       perasaan, dan pendapat.
                                                                    14




1.11.3 Memilih Bahan Pembelajaran

      Bahan pembelajaran sastra khususnya biasanya sudah tercantum

dalam buku pelajaran untuk siswa Sekolah Menengah Pertama, yang

sesuai dengan kurikulum 2004 (Berbasis Kompetensi). Apabila bahan

yang sudah ada tersebut tidak sesuai dengan situasi dan kondisi siswa.,

maka guru boleh menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi siswa.

      Pada penelitian ini bahan pembelajaran yang penulis ambil yaitu

Menanggapi dan Merefleksikan Pembacaan Puisi. Sedangkan bahan/

materinya diambil dari lagu Ebiet G. Ade yang berjudul "Berita Kepada

Kawan". Puisi yang dilagukan Ebiet G. Ade tersebut indah bahasanya dan

padat isinya.


1.11.4 Penetapan Alokasi Waktu

      Sesuai dengan bahan / materi pembelajaran di atas, maka waktu

yang dibutuhkan untuk penyampaiannya yaitu 4 jam pelajaran atau 4 x 45

menit. Penetapan waktu ini didasarkan pada pemikiran, bahwa kegiatan

ini bukanlah kegiatan rutin. Sehingga membutuhkan waktu yang lebih

banyak daripada penyampaian materi yang lainnya. Penetapan alokasi

waktunya adalah :

   1. Pendahuluan 15 menit

   2. Kegiatan inti 155 menit

   3. Penutup 10 menit
                                                                        15




1.11.5 Penetapan Bentuk Instrumen Tes

       Bentuk instrument tes atau soal ujian performansi berbahasa dan

bersastra dapat dibedakan ke dalam tiga bentuk, yaitu (1) tes objektif, (2)

tes nonobjektif, dan (3) tes perbuatan. Tes bentuk objektif mengacu pada

pengertian bahwa jawaban siswa diperiksa oleh siapapun dan kapanpun

akan menghasilkan skor yang sama, karena memiliki satu altematif

jawaban yang sama. Tes bentuk essay menunjuk pada pengertian cara

penskoran hasil pekerjaan siswa dipengaruhi oleh subjek pemeriksa. Tes

perbuatan manuntut siswa melakukan aktivitas tertentu dan penilaiannya

dilakukan dengan cara mengamati performansi bersastra siswa. Bentuk

instrument yang digunakan oleh penulis yaitu tes objektif dan tes

nonobjektif.


1.11.6 Penyusunan Rencana Pembelajaran

       Agar pembelajaran dapat dilakukan dengan baik dan terarah, maka

guru   sebelum    melakukan     KBM    diharapkan    menyusun     rencana

pembelajaran yang dapat digunakan setiap satu pertemuan. Dalam

penelitian ini penulis menyusun rencana pembelajaran untuk materi

Menanggapi dan Merefleksi Pembacaan Puisi.


1.12 Penyajian Pembelajaran

       Dalam penyajian bahan yang dilakukan penulis yaitu sesuai

dengan scenario pembelajaran. Langkah pertama yaitu pendahuluan

kemudian diteruskan kegiatan inti dan diakhiri dengan penutup.
                                                                      16




                            DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi.1993. Prosedur Penelitian. Jakarta : PT Rineka

Cipta Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual. Jakarta : Depdiknas.

--------------. 2003. Kurikulum 2004. Jakarta : Depdiknas.

--------------. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa

Indonesia. Jakarta: Dediknas.

--------------. 2004. Media Pembelajaran . Jakarta : Depdiknas.

-------------- 2004. Pedoman Pembelajaran Tuntas. Jakarta

: Depdiknas. Efendi. 1993. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta : Tangga

       Mustika

Alam. Hidayat, Kosadi. 1995. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia.

Bandung: Bina Cipta. Nurhadi. 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I

       unruk SMP kelas

VII. Jakarta: Erlangga Poerwadarminta. 1985. Kamus Besar Bahasa

       Indonesia. PN. Balai

Pustaka. Rusyana, Yus. 1992. Metode Pengajaran sastra. Bandung :

       Gunung

La rang. Saini, K.M. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta : Gramedia.

       Sudjana.1996. Metoda Statistik. Bandung : Tarsito Surakhmad,

       Winarno. 1994. Pengantar Penelitian llmiah. Bandung:

Tarsito. Suroto . 1989. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: PT Gelora

       Akasara
                                                                      17




Pratama. Suroso. 2000. Ikhtisar Seni Sastra. Surakarta : Tiga Bandungkai.

      Surya, Muhamad . 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran.

Jakarta : CV. Mahaputra Adidaya. Tarigan, Henry Guntur. 1993. Prinsip-

      prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:294
posted:9/28/2012
language:
pages:17