Kumpulan Hikmah Republika 3

Document Sample
Kumpulan Hikmah Republika 3 Powered By Docstoc
					Inilah Tiga Tingkat Kenikmatan Manusia
Selasa, 28 Agustus 2012, 17:09 WIB
                                   REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hasan Basri

                                       Dalam shalat kita memanjatkan doa kepada Allah. “Ya Allah,
                                       tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Yakni, jalan orang-orang yang
                                       telah Engkau beri nikmat atas mereka. Bukan jalan orang-orang
                                       yang Engkau murkai dan orang-orang yang sesat.” (QS al-Fatihah
                                       [1]: 6-7).

                                      Siapakah orang-orang yang telah diberi nikmat itu? Allah SWT
mempertegasnya dalam surah an-Nisa’ ayat 69, yakni an-nabiyyin(para nabi), ashshiddiqin( orang-orang
yang benar dan jujur), asy-syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan ash-shalihin(orang-orang saleh).

Tentu saja, kenikmatan yang mereka peroleh tidak pada bendawi, tapi nikmat iman dan Islam. Itulah
nikmat yang paling tinggi nilainya. Nikmat yang menjadikan segala nikmat duniawi menjadi berharga dan
maslahat. Jika tanpa nikmat iman dan Islam, semuanya bisa menjadi malapetaka yang menjerumuskan.

Sungguh nikmat Allah SWT begitu banyak tak terhingga. Sekiranya kita menghitung, tak sanggup
menghitungnya. Karena itulah, Allah SWT tak menyuruh kita menghitung, tapi bersyukur. (QS [2]:
152,172, [31]: 12). Kenyataannya, sedikit sekali manusia yang bersyukur. (QS [7]: 10, [14]: 34, [23]: 78,
[67]: 23). “Lalu nikmat Tuhanmu mana lagi yang kaudustakan?” Sebanyak 31 kali diulang dalam surah
ar-Rahman.

Ada tiga kategori kenikmatan yang sekaligus menjadi tingkatan yang ingin diraih manusia. Pertama,
kenikmatan fisik. Kategori ini paling rendah dan menjadi kebutuhan dasar manusia ( basic needs).
Kenikmatan fisik (material) berhubungan dengan jasmaniah, yakni makan dan minum (termasuk buang
hajat), harta, tidur, dan seks. Tidak jauh dari sejengkal dari pusar ke atas (perut) dan ke bawah (kemaluan).

Kedua, kenikmatan sosial. Kalau manusia meraih nikmat fisik, berarti dia telah memperoleh kelezatan
dunia wi (lazaat) yang sifatnya individual. Tapi, dia belum meraih kebahagian ( assa’adah). Sebenarnya,
binatang juga tidak bisa hidup tenang hanya dengan fisik belaka. Mereka membutuhkan keluarga dan
komunitas (sosial). Demikian pula manusia. Nikmat sekali hidup seorang yang masih punya istri/suami,
orang tua, anak, anggota keluarga, sahabat, dan tetangga yang baik. Jika tak bertemu, rasa rindu tak
terkira. Keletihan dan penderitan sepanjang mudik pada Hari Lebaran terabaikan.

Ketiga, kenikmatan spiritual. Ketika seseorang memiliki harta, kedudukan, sehat, rumah yang indah,
kendaraan yang bagus, istri dan anak yang saleh, peduli pada tetangga dan kaum dhuafa, serta
mustadh‘afin. Masya Allah, nikmat sekali hidupnya. Tapi, kedua kenikmatan tersebut masih nisbi dan
bisa hilang tak berbekas dalam sekejap. Kedua kenikmatan itu akan lebih bermakna lagi jika kita meraih
kenikmatan spiritual.

Kenikmatan spiritual bersifat ruhaniah (ilahiah) yang didapat ketika seseorang berhasil membersihkan hati,
pikiran, dan perbuatannya dari segala macam keburukan (QS [91]: 9-10). Sehingga, cahaya ilahi merasuk
ke dalam kalbu, pikiran, dan perbuatan.

Dia akan merasakan nikmat menjalani keadaan apa pun. Musibah bukan lagi derita, melainkan jalan
bahagia. Tidak hanya merasa nikmat ketika lapang, tetapi dalam derita dan perjuangan. Wallahu a’lam.
Redaktur: Heri Ruslan
Nasruddin Hoja dan Cincin di Rumah Gelap Gulita
Rabu, 29 Agustus 2012, 12:34 WIB

                                            Oleh: Syahruddin El-Fikri
                                            Suatu hari Nasruddin Hoja, sang sufi yang humoris,
                                            kehilangan cincin di dalam rumahnya yang gelap gulita.
                                            Anehnya, ia justru mencari cincinnya di halaman rumah,
                                            bukan di dalam rumahnya.

                                              Bahkan, tetangganya pun turut serta membantu mencari
                                              cincin Nasruddin. Namun, saat dikatakan bahwa cincinnya
                                              hilang di dalam rumah, tetangganya jengkel dan
meninggalkan Nasruddin sendirian. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita, bahwa jika
kehilangan suatu barang, maka carilah ia di tempat hilangnya, jangan mencari di tempat lain.

Tapi, kisah yang terkesan konyol itu tentu memiliki makna lain. Melalui kisah di atas, Nasruddin
tampaknya ingin mengajarkan kepada kita makna berbeda di balik alasannya mencari cincin yang hilang
itu di luar rumahnya. Dan, makna itu relevan pada masa kini.

Pertama, berapa banyak dari kita yang begitu bangga mencari idola atau tokoh panutan di luar rumah kita
sen diri, di luar agama Islam? Kita seakan bangga ketika mengenal nama Karl Marx (tokoh komunis),
Adolf Hitler (Nazi), Neil Armstrong (manusia pertama yang menjejakkan kaki di Bulan), dan Sigmund
Freud (filosof). Atau, bahkan sejumah selebritas dunia seperti Ma riah Carey, Michael Jackson, Whitney
Houston, dan Lady Gaga. Begitu pula dengan olahragawan top dunia lainnya.

Tapi, kita tidak pernah bangga dengan pemimpin umat ini, Nabi Muhammad SAW, teladan yang paling
baik, dan khulafaur rasyidin seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, juga Ali bin Abi
Thalib. Begitu pula dengan tokoh Muslim lainnya semacam Al-Biruni (tokoh astronomi), Ibnu Sina
(kedokteran), al-Jabbar (matematika), Ibnu Rusyd (filosof), dan al-Khawarizmi.

Kedua, tentang rumah Nasruddin yang gelap gulita dan ia justru mencari cincinnya yang hilang itu di luar
rumahnya. Ini bisa memberi pelajaran kepada kita bahwa rumah kita sesungguhnya sama dengan rumah
Nasruddin, gelap gulita tanpa ada pelita atau cahaya (penerangan) sedikit pun.

Gelap gulita itu bukan semata-mata karena tidak ada lampu, tapi rumah kita gelap karena kita sendiri tak
pernah mau meneranginya dengan cahaya ilahi. Kita berada dalam kegelapan karena kita disibukkan
dengan urusan materi. Kita tak menerangi rumah kita dengan lantunan kalam ilahi atau shalat di dalamnya.
Akibatnya rumah kita gelap gulita seperti kuburan.

Kita disibukkan dengan gadgetse perti ponsel, Blackberry, atau Ipad yang menjadi kebanggaan kita.
Bahkan, hampir setiap hari kita bersentuhan dengan ponsel, tapi tak pernah menyentuh Alquran. Padahal,
kalam ilahi merupakan cara kita berkomunikasi dengan Sang Pencipta Alam Semesta ini.

Rasulullah SAW sudah mengingatkan kita, “Hiasilah rumahmu dengan shalat dan (lantunan) Alquran.”
(HR Bukhari). Dalam riwayat lain disebut kan, “Hiasilah rumahmu dengan shalat dan membaca Alquran,
jangan jadikan ia seperti kuburan.”

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Nasruddin Hoja di atas, dengan menjadikan pemimpin
umat (Rasulullah SAW) dan para tokoh Muslim sebagai teladan terbaik bagi kita. Selain itu, kita juga
perlu memperbanyak cahaya penerangan rumah kita dengan membaca dan menadaburi Alquran. Wallahu
a’lam.
Redaktur: Heri Ruslan
Kewajiban Menjaga Kesehatan
Rabu, 29 Agustus 2012, 13:13 WIB
                                      Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

                                      Islam merupakan satu-satunya agama yang memberikan perhatian
                                      utama terhadap kesehatan manusia. Setiap Muslim wajib secara
                                      agama menjaga kesehatannya dan menyeimbangkannya dengan
                                      kebutuhan rohaninya.

                                       Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, badanmu memiliki hak
                                       atas dirimu." (HR. Muslim). Di antara hak badan adalah
memberikan makanan pada saat lapar, memenuhi minuman pada saat haus, memberikan istirahat pada
saat lelah, membersihkan pada saat kotor dan mengobati pada saat sakit.

Sedemikian besar perhatian Islam terhadap kesehatan badan pemeluknya, sampai-sampai di dalam
beberapa ayat Alquran, As-sunnah dan kitab-kitab fikih terdapat bahasan khusus mengenai kesehatan,
penyakit dan petunjuk Rasul SAW dalam hal pengobatan.

Bahkan, penjagaan dan pemeliharaan kesehatan menjadi bagian pemeliharaan kedua dari prinsip-prinsip
pemeliharaan pokok dalam syariat Islam yang terdiri dari; pemeliharaan agama, kesehatan, keturunan,
harta dan jiwa.

Sebaliknya, Islam melarang berbagai tindakan yang membahayakan fisik/badan atas nama pendekatan
keagamaan sekalipun sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT, "Dan janganlah kamu menjatuhkan
dirimu dalam kerusakan." (QS. Al-Baqarah: 195) dan "Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh
Allah Mahapenyayang kepadamu." (QS. An-Nisaa': 29).

Demi penjagaan terhadap kesehatan, syariat Islam juga memberikan berbagai keringanan di dalam
beribadah dengan tujuan meringankan, memudahkan dan tidak membuat payah badan.

Dalam pemberian keringanan berbuka bagi orang yang sakit dan bepergian, Allah SWT berfirman, "Allah
menghendaki kelonggaran dan tidak menghendaki kesempitan bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185). Dalam
kaitannya dengan keringanan bertayamum, Allah SWT berfirman, "Allah tidak menghendaki kesulitan
bagimu, tetapi hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu
bersyukur." (QS. Al Maidah: 6).

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Rasulullah SAW mengutus Amr bin Ash RA sebagai Amir di
Suriah. Pada saat kembali ke Madinah, Amr bin Ash mengadukan masalah menyucikan diri dari hadas
besar melalui tayamum dengan pertanyaannya, "Wahai Rasul, malam itu cuaca sangat dingin dan aku
ingat firman Allah SWT: "Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Mahapenyayang
kepadamu." (QS. An-Nisaa': 29). Rasulullah SAW lantas menjawab pengaduan Amr bin Ash tersebut
dengan senyuman yang menegaskan persetujuannya atas tindakan yang diambil.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim wajib memelihara kesehatan badannya,
sebagaimana kewajiban negara menjaga kesehatan masyarakatnya dan menanggulangi wabah penyakit
yang menyerang rakyatnya. Sehingga di kalangan kaum Muslimin telah masyhur penyataan yang
menyebutkan "kesehatan badan/ fisik didahulukan dari kesehatan beragama karena Tuhan
Mahapengampun dan Penyayang".

Bahkan, dalam kaitannya dengan penghindaran diri dari penyakit yang mewabah pada suatu kawasan,
seorang Muslim diperkenankan untuk menghindarkan diri dari kawasan tersebut menuju kawasan lain
yang lebih aman dengan istilah "pindah dari qadar (ketentuan) Allah menuju pada qadar yang lain."

Lebih jauh, seorang Muslim harus senantiasa berupaya untuk menyembuhkan penyakit yang sedang
dideritanya dengan asumsi semua penyakit ada obatnya. Lebih dari itu, sebagaimana penyakit merupakan
qadar dari Allah, maka upaya mencari kesembuhan dan obat pun juga merupakan bagian dari qadar Allah
SWT. Dengan demikian seorang Muslim senantiasa berupaya menghadapi qadar Allah dengan qadar
Allah yang lain. Wallahu A'lam.


Redaktur: Chairul Akhmad
Waspadai Sembilan Keturunan Setan
Kamis, 30 Agustus 2012, 13:30 WIB
                                                     Oleh: Ina Salma Febriani

                                                     Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya setan itu hanya
                                                     menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan
                                                     terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah:
                                                     169).

                                                     Setan, makhluk yang sungguh menggemaskan—beragam
                                                     cara mereka gunakan untuk menggelincirkan manusia. Tak
                                                     hanya itu, setan juga selalu berusaha tak kenal lelah dan putus
                                                     asa untuk menjauhkan kita dari ibadah maupun menjadikan
                                                     manusia durhaka pada Allah.

Karena memang sifatnya yang pembangkang, tugas setan jelas, mencari sebanyak-banyaknya teman untuk
menemani mereka di neraka kelak. Misi setan sudah jelas bagi kita semua, menggangu, menggoda, datang dari arah
manapun, dan menggelincirkan manusia seluruhnya agar makin jauh dengan Allah SWT. Nabi Adam pun pernah
digoda hingga beliau melakukan apa yang dilarang Allah. Berbagai cara setan menjatuhkan manusia ke dalam
lubang kehinaan.

Karena busuknya metode setan dalam menenggelamkan manusia ke lembah kekufuran itulah, Rasulullah SAW
bersabda, “Anak keturunan setan ada sembilan, yaitu Zalitun, Watsin, Laqus, A’wan, Haffaf, Murrah, Masuth,
Dasim, dan Walhan.”

Adapun setan Zalitun ialah setan yang bertugas menggoda penghuni pasar dalam transaksi jual beli dengan
menyuruh untuk melakukan kedustaan, penipuan, memuji-muji barang dagangan, mencuri timbangan dan
bersumpah palsu.

Kedua, setan Watsin bertugas menggoda manusia yang tertimpa musibah agar tidak bersabar sehingga yang
sebagian dari mereka yang berhasil digelincirkan setan berteriak histeris, menampar-nampar pipi dan sebagainya.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku putus hubungan dengan orang-orang yang menjerit-jerit ketika
kematian, mencukur rambut di kepalanya, atau bahkan merobek-robek bajunya ketika tertimpa musibah.” (HR.
Bukhari Muslim).

Ketiga, setan A’wan—mereka bertugas menggoda para penguasa untuk berbuat zalim. Jabatan terkadang membuat
seseorang lupa diri bahwa semua perbuatan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan pengadilan Allah
SWT kelak. Cerminan penguasa zalim telah Allah contohkan dalam sosok yang sangat fenomenal, Firaun.

Keempat, setan Haffaf, yakni setan yang bertugas membujuk dan menggoda orang untuk menenggak minuman
keras. Kelima, setan Murrah bertugas menggoda orang agar asyik bermain seruling atau alat musik berikut
nyanyiannya.

Sebagai manusia, kita memang butuh hiburan. Namun, hiburan dalam Islam tentu sudah diatur dengan baik dan
tidak berlebihan. Artinya, jangan sampai bermain musik menjadi prioritas utama kita sebagai manusia. Tugas
manusia ialah ibadah. (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Keenam, Setan Laqus bertugas menggoda untuk menyembah api. Menyembah api, atau apa pun selain Allah adalah
salah satu bentuk kemusyrikan. Ketujuh, setan Masuth, menggoda manusia untuk menyebarkan berita-berita dusta
lewat lisan manusia sehingga sulit ditemukan berita yang sebenarnya.

Kedelapan, setan Dasim, setan yang berada dalam rumah. Jika seseorang tidak mengucapkan salam sewaktu
memasuki rumah dan tidak pernah menyebut asma Allah di dalamnya, maka setan akan mengadakan perselisihan di
antara anggota keluarga sehingga akan terjadi talak, khulu, maupun tindak kekerasan.

Terakhir, setan Walhan, bertugas menggoda manusia dalam beribadah seperti berwudhu, shalat, dan ibadah-ibadah
lain. Setan Walhan, menurut riwayat lain tugas utamanya adalah menggoda manusia saat berwudhu untuk boros
dalam menggunakan air. Padahal sudah jelas bagi kita, perilaku boros dalam berwudhu ialah salah satu makruh
wudhu.

Kami berlindung pada-Mu ya Allah, dari godaan setan yang terkutuk. Wallahu a’lam bish shawwab.

Redaktur: Chairul Akhmad
Mengokohkan Ukhuwah Islamiyah
Jumat, 31 Agustus 2012, 09:50 WIB

                                    REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein

                                    Peristiwa kekerasan kembali terjadi. Kali ini bahkan lebih
                                    mengenaskan. Hanya gara-gara selisih paham antarkeluarga di
                                    Sampang, Madura, Jawa Timur, dua kelompok warga berbeda paham
                                    keagamaan terlibat kerusuhan. Kondisi ini mengakibatkan dua orang
                                    tewas dan 37 rumah hangus dibakar.

Mendengar peristiwa tersebut, miris hati ini. Seakan-akan sudah tidak ada akal sehat lagi. Saat ini setiap
permasalahan yang terjadi masyarakat (grassroot) seakan-akan diselesaikan dengan tindakan kekerasan.
Cara ini sepertinya sudah menjadi kebiasaan bahkan membudaya.

Jika kita renungkan, masyarakat kita saat ini sudah bagaikan padang rumput yang kering. Hanya disundut
api kecil saja, sudah langsung terbakar. Cara main ’hakim sendiri’ yang kian marak di masyarakat kita
merupakan gejala yang sangat mengkhawatirkan.

Yang mengherankan juga, Indonesia, yang mayoritas beragama Islam, sebagai suatu bangsa dijuluki
ramah dan halus budi pekerti (dalam bahasa Belanda : het zachtste volk op aarde) dengan beberapa
perkecualian. Tetapi ternyata kini telah terperangkap dalam menawarkan upaya dengan menggunakan
kekerasan dan kadang-kadang dengan mendalihkan ajaran agamanya, entah itu benar atau tidak, entah itu
rasionalistik atau emosional.

Lalu mengapa semua itu bisa terjadi? Di manakah nilai-nilai Islam berada?

Melalui tulisan ini, ada baiknya saya mengajak kepada seluruh masyarakat untuk kembali memperkuat
tali persaudaraan sesama anak bangsa, agar terwujud masyarakat ideal. Dalam pandangan Alquran,
konsep masyarakat ideal akan tercapai apabila persaudaraan sesama warganya dapat tercipta.

Persaudaraan yang dimaksud bukan hanya sebatas antarsesama Muslim akan tetapi dengan seluruh warga
masyarakat yang boleh jadi sangat plural. Maka sikap terbuka dan toleran menjadi sebuah keniscayaan.

Islam tidak hanya mengajarkan persaudaraan antarsesama Muslim, namun juga ukhuwah ‘ubudiyyah
(persaudaraan dalam ketundukan kepada Allah), ukhuwah insĕniyyah/basyariyyah (persaudaraan
antarsesama manusia), ukhuwah wathaniyyah wa al-nasab (persaudaraan sebangsa dan seketurunan) dan
ukhuwah fī dīn al-Islĕm.

Dalam Islam sudah ditegaskan bahwa keberadaan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ditujukan
demi kesejahteraan dan keselamatan seluruh umat sekalian alam. Kata Islam sendiri yang berasal dari
bahasa Arab berarti tunduk, patuh, selamat, sejahtera, dan damai. Maka, agama Islam mengajarkan
umatnya untuk selalu menegakkan perdamaian di dunia, sehingga persaudaraan dapat terjalin dengan erat.

Dalam Alquran sudah ditegaskan, bahwa Islam diturunkan untuk perdamaian, rahmat bagi seluruh mahluk
di muka bumi. Sebagaimana Allah swt berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya:107)

Islam juga mengajarkan bagaimana menghadapi perpecahan dan segala perselisihan yang bermaksud
memecah belah umat. Sejak zaman Rasul pun Islam selalu mendapat pertentangan dan serangan dari
musuh-musuh Islam. Rasulullah SAW seringkali difitnah dan dimusuhi, namun beliau tetap istiqamah
menjalankan syariat dari Allah SWT.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat
dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An
Nahl:125).

Sesungguhnya, kebenaran sejati hanya milik Allah SWT.
Memudarnya Teladan di Negeri Ini
Jumat, 31 Agustus 2012, 13:00 WIB

                                         REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Imam Suprayogo

                                         Imbauan, perintah, instruksi, dan khotbah tentang pentingnya
                                         kerukunan telah sering disampaikan kepada masyarakat. Tetapi,
                                         yang lebih dari itu semua adalah contoh atau teladan yang nyata.
                                         Contoh dimaksud mesti datang dari para pemimpinnya, baik
                                         pemimpin formal maupun nonformal. Teladan itulah yang
                                         rupanya mulai memudar di negeri ini.

Melalui media massa atau jejaring sosial, dengan mudah kita dapatkan informasi tentang konflik yang
terjadi di kalangan pemimpin bangsa ini. Berbagai persoalan bangsa diselesaikan secara terbuka lewat
konflik, perseteruan, saling curiga, tuduh-menuduh, saling menjatuhkan antarsesama, dan lainnya. Bahkan,
melalui caranya sendiri, di antara mereka menghina sesama dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Mereka
berdalih, di zaman demokrasi yang terbuka semua itu adalah hal yang wajar.

Orang tua pada zaman dulu, sekalipun tidak berpendidikan tinggi, memiliki kearifan yang tinggi. Mereka
menganggap dalam kehidupan sosial selalu membutuhkan contoh atau teladan. Tidak boleh dalam
keluarga, apalagi komunitas yang lebih luas, bila tak memiliki orang-orang yang bisa dijadikan teladan.

Karena itu, agar kesalahan sang teladan itu tidak diketahui orang lain dan anak-anaknya, maka mereka
akan menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikannya. Orang pedesaan di Jawa menyebutnya
nunggu sepining gegodongan runtuh. Artinya, pembicaraan penting yang dikhawatirkan akan melahirkan
dampak negatif, hendaknya disampaikan dengan hati-hati dan tak boleh ada orang lain mengetahuinya.

Hal itu bertolak belakang dengan keadaan sekarang. Penyelesaian problem, baik yang berat dan apalagi
yang ringan, justru diselesaikan secara terbuka, dan bahkan disiarkan langsung melalui media massa.
Orang yang berselisih dipertontonkan di muka umum, tidak terkecuali perselisihan di antara para
pemimpin bangsa yang seharusnya menjaga kehormatannya. Akibatnya, rakyat menjadi tahu dengan jelas,
siapa lawan siapa, karena konflik dilakukan secara terbuka.

Dalam keadaan seperti itu, rasanya memang agak sulit menjadikan bangsa ini benar-benar bisa hidup
damai, tenteram, saling menghargai, menghormati dan memuliakan. Masing-masing saling membidik dan
menjatuhkan.

Gejala lain yang juga sangat memprihatinkan adalah nafsu untuk menguasai dan menenggelamkan
kelompok lain. Padahal, kita dikenal sebagai bangsa yang majemuk (plural) dengan beragam suku bangsa,
etnis, bahasa, adat istiadat, dan agama. Mestinya perbedaan itu tidak dijadikan alasan untuk meninggalkan
atau menjatuhkan pihak lain.

Karenanya, para pemimpin bangsa ini harus memberi contoh terbaik untuk menyatukan semuanya.
Mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu padu menjaga kedamaian dan keamanan. Manakala ada
persoalan maka diselesaikan dengan cara dialog dan tabayun (kroscek).

Jika memilih pejabat maka ukurannya adalah keluasan wawasan, ilmu, profesionalitas, integritas, dan
bukan atas pertimbangan asal-usul dan kesa maan organisasi, aliran, dan semacamnya. Segala perbedaan
harus ditinggalkan. Para pemimpin harus mampu mengayomi betapa pentingnya kebersamaan dan
kerukunan itu. Rakyat membutuhkan keteladanan dari pemimpinnya untuk hidup rukun. Wallahu a’lam.
Empat Pangkal Kebahagian Hidup
Sabtu, 01 September 2012, 07:45 WIB

                                           REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr A Ilyas Ismail

                                           Pada suatu hari, para sahabat sedang duduk bersama Nabi
                                           SAW. Tiba-tiba terdengar seperti bunyi lebah di sekitar wajah
                                           Nabi. Lalu Nabi menghadap kiblat dan mengangkat kedua
                                           tangannya, seraya berdoa, “Ya Allah, tambahkan kami dan
                                           jangan Engkau kurangkan. Muliakan, jangan Engkau hinakan.
                                           Berikan, jangan Engkau halangi. Prioritaskan, jangan Engkau
                                           abaikan.”

Para sahabat pun bertanya-tanya, apa gerangan yang telah menimpa Nabi SAW? Rasulullah SAW
menjelaskan bahwa baru saja turun wahyu kepada beliau. “Siapa bisa menegakkannya, ia bakal masuk
surga.” Lalu beliau membaca ayat, “Qad aflaha al-Mu`minun” sampai ayat ke-11 surah al-Mu'minun.
(HR Tirmizi dan Ahmad dari Umar bin Khattab).

Dalam kisah ini, terlihat dengan jelas bahwa para sahabat sangat antusius menyimak dan mendengarkan
wahyu Allah. Mereka siap siaga menerima perintah. Keadaan mereka, demikian komentar Sayyid Quthb,
mirip prajurit yang setiap saat siap siaga menerima perintah sang komandan.

Menurut Nabi SAW, ayat-ayat dari surah al-Mu`minun itu merupakan kunci atau jalan keberuntungan
(thariq al-falah). Dalam 11 ayat tersebut terkandung setidak-tidaknya empat prinsip nilai yang menjadi
pangkal kebahagiaan.

Pertama, prinsip iman (akidah). Keberuntungan diberikan Allah SWT hanya kepada orang-orang yang
beriman. Namun, iman di sini, seperti dikemukakan Sayyid Quthb, bukan hanya kata-kata (kalimatun
tuqal), melainkan kebenaran (haqiqah) yang memiliki tugas-tugas (dzatu takalif). Komitmen yang kuat
kepada kebenaran disertai tindakan nyata, inilah iman yang sebenarnya.

Kedua, prinsip ibadah dan amal saleh yang ditunjukkan melalui ibadah shalat dan zakat. Shalat dan zakat
merupakan bentuk taklif dari iman. Shalat bersifat vertikal dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Zakat berdimensi sosial dan memperkuat hubungan dengan sesama manusia. Dalam konteks ini, shalat
menjadi pembuka semua ibadah (ayat ke-2) dan menjadi penutupnya sekaligus (ayat ke-9).

Ketiga, prinsip moral dan akhlak karimah yang ditunjukkan dengan sikap tepat janji, memelihara
kehormatan diri, dan menjaga amanah. Dalam Islam, moral (akhlak) menjadi bagian integral dari iman.
Rasul bersabda, “Manusia yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling mulia akhlaknya
(ahsanuhum khuluqan).” (HR Tirmizi).

Keempat, prinsip disiplin dalam bekerja, sehingga produktif dan kompetitif. Orang yang beruntung adalah
orang yang mampu menghindarkan diri dari kesia-siaan (al-laghwu). Menurut pakar tafsir Zamachsyari,
lagha berarti sesuatu yang tak bernilai (ma la ya`ni-ka) atau yang tak masuk hitungan (ma la yu`taddu bih)
baik berupa kata (laghw al-kalam) atau perbuatan (laghw al-`amal).

Disiplin kerja dilakukan dengan memanfaatkan seluruh waktu untuk kebaikan dan amal saleh. Mereka
tidak pernah menyia-nyiakan waktu, tetapi mengelolanya (time management), bahkan menguasai (time
mastery) dengan sebaik-baiknya.

Inilah jalan keberuntungan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. “Mereka itulah orang-orang yang akan
mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Mu`minun [23]:
10-11). Wallahu a`lam.
Strategi Memerangi Kemunkaran
Sabtu, 01 September 2012, 18:01 WIB
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

                                              Islam menjadikan "amar makruf nahi munkar" sebagai kewajiban
                                              dasar yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim sesuai dengan
                                              kadar kemampuannya masing-masing. Bahkan kedua spirit
                                              tersebut menjadi asas keutamaan, sumber kebaikan dan ciri
                                              khusus umat Islam yang membedakannya dari umat manusia
                                              lainnya.

                                           Allah SWT berfirman, "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan
                                           untuk manusia, yang menyuruh kepada yang makruf dan
mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: 110).

Dalam kaitannya dengan amar makruf (menyuruh kepada kebaikan), hampir semua kalangan mengetahui strategi
dan prinsip yang harus diterapkan. Diantaranya metode penyampaian yang baik, tidak menyakiti pihak lain,
menjauhkan diri dari isu SARA, dan melakukan perdebatan dengan kepala dingin (QS. An-Nahl: 125).

Namun, dalam kaitannya dengan nahi munkar (mencegah kemunkaran) tidak semua kalangan memahami syarat-
syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan tindakan. Padahal, pemenuhan syarat-syarat tersebut berkaitan
erat dengan hasil yang akan di dapat, khususnya agar tindakan mencegah kemunkaran tidak melahirkan
kemunkaran baru yang lebih besar, tidak menimbulkan tindakan balas dendam, dan tidak dikecam pihak lain
karena dipandang sebagai tindakan yang tidak memiliki dasar kuat (illegal).

Dr Yusuf Al-Qardhawi mensyaratkan beberapa hal dalam pelaksanaan nahi munkar sebagaimana tersebut dalam
hadis shahih riwayat Abu Said Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa di antara kalian melihat
suatu kemunkaran, maka hendaklah merubahnya dengan tangan (kekuasaan)nya. Barang siapa tidak mampu
melakukannya, maka hendaklah merubahnya dengan lisannya. Barang siapa yang tidak mampu melaksanakannya,
maka hendaklah merubahnya dengan hatinya. Yang terakhir itu adalah iman yang paling lemah."

Pertama, hendaknya kemunkaran tersebut disepakati kemunkarannya. Artinya kemunkaran yang diperangi masuk
dalam kategori perbuatan haram, bukan makruh atau meninggalkan yang sunah/mustahab.

Kedua, hendaknya kemunkaran tersebut nyata dan kasat mata. Adapun seandainya kemunkaran tersebut
tersembunyi dari pandangan manusia, maka dilarang memata-matainya dengan berbagai alat dan perangkat apa
pun, karena Islam hanya membolehkan pemberian sanksi terhadap munculnya kemunkaran yang nyata dan kasat
mata, bukan yang tersembunyi.

Ketiga, memiliki kemampuan (kekuatan) yang diyakini dapat membasmi (memerangi) kemunkaran dengan mudah
dan elegan. Kekuatan di sini berarti fisik dan nonfisik serta berwenang atau memiliki otoritas dalam melakukan
tindakan memerangi kemunkaran.

Keempat, tidak ada kekhawatiran bahwa kemunkaran yang diperangi akan melahirkan kemunkaran baru yang
lebih besar sehingga menyebabkan fitnah, pertumpahan darah, merugikan pihak lain, makin tersebarnya
kemunkaran, menimbulkan kekacauan dan kerusakan di bumi.

Ibnu Qayyim meriwayatkan bahwa suatu hari Ibnu Taimiyah RA berkata, "Pada masa pendudukan pasukan Tartar
(Mongolia), aku bersama para sahabatku berjalan melewati kumpulan masyarakat yang meneguk minuman keras
dengan nyata. Sebagian sahabatku mencela tindakan tersebut dan hendak melarangnya, namun aku mecegahnya
kukatakan kepada mereka, ‘Sungguh, Allah SWT mengharamkan minuman keras karena ia dapat membuat orang
lupa kepada Allah dan lupa shalat. Adapun pasukan Tartar itu dengan meminum khamr justru membuat mereka
lupa dari membunuh manusia, menawan orang dan merampas harta. Maka biarkanlah mereka’."

Demikian penting landasan ilmu pengetahuan dalam "amar makruf nahi munkar" sehingga tindakan mulia
tersebut tidak semata-mata bertumpu pada hasil, melainkan juga bertumpu pada kemaslahatan yang lebih besar
dan tidak munculnya kemunkaran baru yang lebih dahsyat. Wallahu a'lam.
Inilah 3 Tipe Orang Beragama
Minggu, 02 September 2012, 09:25 WIB
                                              REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhbib Abdul Wahab

                                              Sangat disayangkan kekerasan atas nama agama kembali
                                              terjadi. Kali ini di Sampang, Madura, pada bulan yang
                                              belum terlalu lama berpisah dari Ramadhan. Syawal yang
                                              bernuansa silaturahim dan saling memaafkan, tiba-tiba
                                              berubah menjadi pertumpahan darah, pembakaran
                                              rumah-rumah, pengusiran, dan tindakan brutal.

                                                Rasul bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sebelum
beriman, dan kalian tidak dikatakan beriman sebelum saling mencintai. Maukah aku tunjukkan suatu
ajaran yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian." (HR
Muslim dari Abu Hurairah).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa beragama dengan damai (salam) dapat membuahkan sikap saling
mencintai. Saling mencintai merupakan salah satu bukti keimanan seseorang. Dan, iman mengantarkan
pada surga.

Menurut Ibnu Sina, ada tiga tipe orang beragama. Pertama, beragama ibarat relasi buruh-majikan atau
budak-tuan. Budak atau buruh akan melakukan pekerjaan apabila ada instruksi atau perintah dari sang
majikan. Orang yang beragama seperti ini baru sebatas melakukan kewajiban agama. Keberagamaannya
bergantung pada orang lain atau lingkungan, tidak dilandasi kesadaran personal, kemandirian, dan
kebutuhan spiritual-internal.

Kedua, beragama ibarat relasi pedagang-pembeli. Keduanya sama-sama mencari untung; pedagang
menginginkan laba besar, sementara pembeli menghendaki harga semurah-murahnya. Beragama tipe ini
cenderung pamrih, riya, dan melihat situasi dan kondisi yang menguntungkan dirinya jika melakukan
kewajiban beragama.

Baginya, amal sosial harus mempunyai nilai publikasi, pencitraan, subjektivifikasi, bahkan legitimasi
untuk kepentingan subjektifnya. Padahal, setelah kepentingannya tercapai dan kekuasaan politik direbut,
pada umumnya agama dipinggirkan, kalau tidak dilupakan.

Ketiga, beragama ibarat relasi ibu-anak. Hanya, sang ibu rela mengandung, mempertaruhkan nyawa saat
melahirkan, membesarkan, memberi perhatian, dan mendidik kita semua pasti bukan karena pamrih,
melainkan karena cinta.

Kekuatan cinta mengalahkan segala macam penderitaan. Beragama dengan cinta tidak hanya dilandasi
ketulusan dan kejujuran, tetapi kesediaan untuk menerima, berbagi, berkomitmen, dan rela berkorban
demi masa depan yang lebih baik.

Cinta ibu kepada anaknya adalah cinta sejati, sehidup semati. Beragama yang sejati pasti dilandasi cinta
Ilahi dan cinta terhadap sesama. Jika Allah yang paling dicintainya, mestinya seseorang tidak dengan
mudah menumpahkan darah terhadap manusia yang diciptakan oleh-Nya dengan penuh kasih sayang.

Beragama dengan cinta membuahkan sikap dan perilaku "sami'na wa atha'na" (mau belajar, terbuka,
dan selalu taat), serta toleransi. Menurut al-Ghazali, cinta karena Allah dan mendapatkan cinta-Nya
merupakan tujuan akhir pendakian maqam demi maqam dalam rangka pendekatan diri kepada Allah.

Jika cinta karena Allah dalam beragama itu sudah dapat diaktualisasikan, nicaya Muslim akan selalu
rindu (syauq) bila tidak berkomunikasi dengan-Nya. Hatinya selalu tergerak untuk membasahi lisannya
dengan zikir kepada-Nya dan menghiasi perilakunya dengan amal yang diridhai Allah. Wallahu a'lam.
Memelihara Spirit Ramadhan
Senin, 03 September 2012, 06:01 WIB
                                           Oleh: Naharus Surur

                                       “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang
                                       menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat
                                       menjadi cerai-berai kembali, kamu menjadikan sumpahmu
                                       sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu
                                       golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang
                                       lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu.
                                       Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya
kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS: 16:92)

Ada yang terasa hilang seusai Ramadhan meninggalkan kita bersama. Ada banyak kenangan indah
selama Ramadhan dalam beribadah kepada Allah SWT begitu mudah kita jalankan, padahal di bulan-
bulan lain begitu sulit dijalankan.

Seperti bangun malam dan menyisihkan sebagian harta untuk diberikan pada orang lain sebagimana
dalam firman Allah di bawah ini: “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk
Tuhan mereka. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan/menginfakkan (hartanya), mereka tidak
berlebihan dan tidak kikir, dan adalah di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS:25: 64 dan 67).

Banyak pelajaran dapat dipetik dari ibadah Ramadhan yang baru saja kita lalui bersama di mana kita
berharap agar semangat beribadah selama Ramadhan terus bergelora sepanjang tahun hingga bertemu
Ramadhan berikutnya.

Di mana, pelajaran-pelajaran tersebut, antara lain, pertama, semangat beribadah mahdah, baik yang
wajib maupun sunah (shalat, puasa, zakat, infak, zikir, tilawah, dan sebagainya). Ibadahi-badah ini
dengan mudahnya kita bisa lakukan dengan kualitas dan kuantitas yang sangat baik.

Apakah semangat ibadah ini hanya bisa dilakukan dengan mudahnya hanya pada bulan Ramadhan?
Ternyata tidak, karena Allah menyiapkan waktu sepanjang masa ini untuk digunakan beribadah kepada-
Nya, kapan pun dan di mana pun. Sangatlah salah orang yang beranggapan seperti itu.

Kedua, semangat berdisiplin dalam menjalankan semua aktivitas. Ini terkait dengan berbagai aktivitas,
baik yang terkait dengan ibadah mahdah mau pun ibadah ghaira mahdah (muamalah). Selama
Ramadhan terbiasa berdisiplin dengan tak melanggar hal-hal yang membatalkan puasa. Nilai-nilai positif
ini harus mampu diterapkan dalam kehidupan nyata selama setahun ke depan.

Ketiga, semangat berbagi harus mampu dilakukan tidak hanya selama Ramadhan, tetapi harus mampu
diterapkan sepanjang tahun. Karena, berbagi harus menjadi bagian dari kehidupan kaum mukmin
sepanjang tahun, bukan kebiasaan tahunan, terutama saat bulan Ramadhan saja. Kaum dhuafa selalu
ada sepanjang tahun sehingga membutuhkan kepedulian dari para aghniya sepanjang waktu pula.

Keempat, semangat bersilaturahim yang selama Ramadhan dilakukan dengan intens melalui berbagai
aktivitas, seperti buka bersama yang dilakukan oleh semua kalangan, baik oleh individu maupun
organisasi. Juga aktivitas lain, seperti tarawih, tadarus, ataupun sahur bersama. Inilah spirit Ramadhan
yang harus mampu kita aplikasikan sepanjang tahun. Wallahu a’lam.
Menjauhi Sikap Malas
Selasa, 04 September 2012, 07:14 WIB
                                         REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yusuf Assidiq

                                         ''Seandainya...'' Kata ini begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari. Disadari atau
                                         tidak, sebagian besar orang boleh jadi biasa mengucapkannya, ''Seandainya aku
                                         melakukan begini, tentunya begini dan begini, tidak begini...''

                                         Nabi Muhammad SAW ternyata tak menyukai umatnya mengumbar kata-kata
                                         ''seandainya''. Bahkan, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda,
                                         ''Sesungguhnya, kalimat lau (seandainya) membawa kepada perbuatan setan.''

Syekh Shaleh Ahmad asy-Syaami, menjelaskan, kata ''seandainya'' tidak membawa manfaat sama sekali. Menurutnya,
meskipun seseorang mengucapkan ungkapan itu, ia tidak akan mampu mengembalikan apa yang telah berlalu, dan
menggagalkan kekeliruan yang telah terjadi.

Syekh asy-Syaami mewanti-wanti bahwa ungkapan 'seandainya' bisa berkonotasi sebagai angan-angan semu, dan sesuatu
yang tidak mungkin terjadi. ''Sikap seperti ini adalah sikap yang lemah dan malas,'' ujarnya.

Bahkan, kata dia, Allah SWT pun membenci sikap lemah, tidak mampu, dan malas. Dalam hadis dinyatakan, ''Allah SWT
mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh, tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu
tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap 'cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik
pelindung.'' (HR Abu Dawud)

Sikap tangkas dan cerdas yang dimaksud, tutur dia, melakukan usaha dan tindakan-tindakan yang bisa membawa pada
keberhasilan meraih sesuatu yang bermanfaat, baik di dunia maupun akhirat. Ini, sambung Syekh asy-Syaami, merupakan
bentuk aplikasi terhadap hukum kausalitas yang telah Allah tetapkan.

Keutaman dari sikap tangkas dan cerdas yakni bisa menjadi pembuka amal kebaikan. Sebaliknya, sikap lemah dan malas,
seperti telah diingatkan Rasulullah SAW, hanya akan mendekatkan diri kepada setan.

''Sebab, jika seseorang tidak mampu atau malas melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya dan masyarakat sekitar, maka
ia akan selalu menjadi seseorang yang kerap berangan-angan,'' paparnya.

Perbuatan dan sikap semacam itu, selain kontraproduktif serta tidak akan membawa pada keberhasilan, juga sama saja
dengan membuka amal perbuatan setan karena pintu amal setan tidak lain adalah sikap malas dan lemah. Merekalah, tegas
as-Syaami, adalah orang yang paling merugi.

Mengapa dikatakan orang yang paling merugi? Sebab, sifat malas dan lemah merupakan kunci segala bencana. Seperti
misalnya, perbuatan maksiat sudah pasti terjadi karena lemahnya keimanan dan ketakwaan seseorang sehingga berani
melanggar larangan agama.

Jadi, dia menambahkan, seorang hamba yang memiliki dua sifat tercela tadi, berarti ia tidak mampu melaksanakan amal
perbuatan ketaatan serta tidak bisa melakukan hal-hal yang bisa membentengi dirinya dari godaan perbuatan jahat maupun
maksiat.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Barri jilid XI menggarisbawahi, apabila penyakit hati itu telah menjangkiti manusia, maka
ia akan mulai mendekati larangan Allah. Dia pun menjadi enggan untuk bertobat.

Untuk itu, Nabi SAW memberikan tuntunan doa bagi umatnya agar terhindar dari dua jenis sifat tercela tadi. Rasulullah SAW
berdoa, ''Ya Allah, hamba meminta perlindungan kepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan.''

Cemas dan sedih, keduanya juga bersumber dari malas dan lemah. Karena, apa yang telah terjadi, tidak mungkin diubah atau
dihapus hanya dengan kesedihan, namun yang perlu dilakukan adalah menerimanya dengan kerelaan, sabar dan iman.

Demikian pula sesuatu yang mungkin terjadi di waktu mendatang, juga tidak mungkin dapat diubah atau dihapus hanya
dengan kecemasan atau kekhawatiran. Maka itu, seseorang harus selalu siap membekali diri dengan sikap-sikap yang baik
untuk menghadapi segala kemungkinan.

Oleh karenanya, Islam sangat menjunjung tinggi optimisme, kerja keras, dan berusaha sekuat tenaga. Jiwa seorang Muslim
sejati adalah yang meyakini bahwa rezeki Allah SWT sangatlah berlimpah, dan disediakan bagi siapapun yang mampu
menggapainya dengan semangat dan etos kuat.

''Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung.'' (QS al Jumu'ah [62] : 10)

Ada perbedaan antara harapan dan angan-angan. Harapan selalu dibarengi dengan usaha, sementara angan-angan atau
kemalasan hanyalah angan-angan kosong. Semoga kita dijauhkan dari sifat malas.
Redaktur: Heri Ruslan
Teman Terbaik di Tiap Keadaan
Selasa, 04 September 2012, 12:39 WIB
                                            Oleh: Ina Salma Febriani

                                            Ada pepatah yang mengatakan, sebaik-baiknya teman
                                            adalah buku. Mengapa demikian, sebab buku adalah jendela
                                            dunia dan membuka cakrawala. Dengan membaca, pikiran
                                            dan wawasan manusia menjadi terbuka.

                                        Dengan membaca pula, secara tidak langsung, siapa pun
                                        mereka—telah menjalani perintah pertama (wahyu) yang
                                        Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam Surah
Al-Alaq. “Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Menciptakan.”

Tiada tujuan lain dari perintah ‘membaca’ tersebut, selain Allah menghendaki agar hamba-hamba-Nya
terus mencari dan menambah ilmu pengetahuan sehingga menjadi Rabbani (ahli ilmu dan pengabdi Allah),
serta manusia tersebut menjadi cerdas.

Setidaknya ada beberapa kecerdasan yang harus terus diasah manusia. Baik kecerdasan emosi, intelektual,
juga spiritual. Jika buku sebagai ‘vitamin’ wawasan intelektual bagi manusia, maka manusia
membutuhkan vitamin lain untuk kondisi spiritualnya. Vitamin tersebut ialah dengan berdzikir.

Dzikir berasal dari kata ‘dza-ka-ra’ yang bermakna mengingat. Mengingat Tuhan dalam tiap keadaan
dapat kita lakukan dengan berdzikir. Allah pun banyak mengungkap ayat dzikir yang salah satu di
antaranya ialah pengujung Quran Surah Ali-Imran ayat 190-191.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-
tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka.”

Ayat tersebut diawali dengan keajaiban penciptaan langit dan bumi yang bagi orang-orang berakal,
sungguh semua ciptaan-Nya memiliki hikmah dan faedah. Hikmah dari penciptaan keduanya pun
menjadikan manusia senantiasa berdzikir dalam tiap keadaan, entah dalam keadaan berdiri, duduk
maupun berbaring hingga mereka merintih dan berdoa bahwa tiada yang sia-sia atas penciptaan alam lalu
berlindung pada-Nya atas siksa neraka.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah saw bersabda bahwa Allah berfirman, “Aku berdasarkan
prasangka hamba-hamba-Ku. Aku bersamanya jika ia mengingatku. Apabila dia mengingat-Ku, dalam
dirinya, niscaya Aku mengingatnya dalam diri-Ku...” (HR Bukhari Muslim).

Allah senantiasa mengingat kita, jika kita mengingat-Nya dalam tiap keadaan. Membesarkan Dzat-Nya
dan menyucikan asma-Nya. Adapun dzikir pilihan yang ringan dilafadzkan namun berat dalam timbangan
amal serta Allah suka terhadap lafadz itu ialah “Subhaanallahi wabihamdihi, Subhaanallahil ‘adzhim,”
(HR Bukhari Muslim).

Hidup, napas, dan usia adalah anugerah terbesar dari-Nya, sudah sepatutnyalah kita memanfaatkan setiap
desahan napas ini dengan bersyukur dan memuji dengan berdzikir pada-Nya.
Redaktur: Chairul Akhmad
Rezeki yang Tertahan
Rabu, 05 September 2012, 13:37 WIB
                                  Oleh: Abu Albi Bambang Wijonarso

                                      Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan
                                      pembagian rezekinya. Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-
                                      Nya, termasuk kita. Yang dibutuhkan adalah mau atau tidak kita
                                      mencarinya. Yang lebih tinggi lagi, benar atau tidak cara
                                      mendapatkannya.

                                    Rezeki di sini tentu bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan,
ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan kepada Allah dan
Rasul-Nya termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang dan lainnya.

Walau demikian, ada banyak orang yang dipusingkan oleh masalah pembagian rezeki ini. Dia merasa
rezekinya sedang seret, padahal sudah berusaha maksimal mencarinya.

Ada banyak penyebab, mungkin cara mencarinya yang kurang profesional, kurang serius
mengusahakannya, atau ada kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla menahan rezeki yang
bersangkutan. Setidaknya ada lima hal yang menghalangi aliran rezeki.

Pertama, lepasnya ketawakalan dari hati. Kita menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha,
namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal, Allah itu sesuai prasangka hamba-
Nya. “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”
(QS. Ath-Thalaq [63]: 3).

Kedua, karena dosa. Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad).

Ketiga, bermaksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Kecurangan dalam
mencari nafkah, entah itu korupsi, manipulasi, akan membuat rezeki kita tidak berkah.

Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak
berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia dan tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat
kepada Allah serta membawa penyakit. Bila kita telanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan
harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Keempat, pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Banyak aktivitas kita yang membuat
hubungan kita dengan Allah makin menjauh. Kita disibukkan oleh kerja, sehingga lupa shalat, lupa
membaca Alquran, lupa mendidik keluarga, lupa menuntut ilmu agama, lupa menjalankan apa yang Allah
dan Rasul-Nya perintahkan. Akibatnya, pekerjaan kita tidak berkah.

Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus
membuat kita semakin dekat pada Allah. Sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan.
Saudaraku, bencana sesungguhnya bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain. Bencana
sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah.

Kelima, enggan bersedekah. Siapa pun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya mampet.
Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan, serta pelipat ganda rezeki. Sedekah
bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh butir, yang pada tiap-tiap butir itu terurai seratus biji. Artinya,
Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. (QS al- Baqarah [2]: 261). Wallahu
a’lam.


Redaktur: Chairul Akhmad
Subhanallah, Wudhu Antarkan Bilal bin Rabah Menjadi Penghuni Surga
Selasa, 04 September 2012, 13:33 WIB

                                               REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Makmun Nawawi

                                               Seorang kiai melakukan perjalanan bersama santri-
                                               santrinya. Di tengah perjalanan, ternyata masuk waktu
                                               (Zhuhur). Kemudian sang kiai, yang selalu mempunyai
                                               wudhu, bertanya kepada para santrinya, “Apa kalian
                                               punya wudhu?”

                                               “Tidak, Pak Kiai,” jawab santri-santrinya.

“Wudhu saja kalian tidak punya, apalagi duit …,” seloroh sang kiai.

Canda yang dilontarkan sang kiai tentu bukan tanpa pesan, melainkan menyisipkan nasihat yang
menawan. Tidak hanya mempraktikkan gaya nasihat yang cair dan alami, tapi mencoba menggebah
motivasi dan menggugah logika santri-santrinya; santri jangan susah, maka raih peluang-peluang yang ada
di depan mata. Betapa banyak peluang dan hal-hal yang ringan dan gratis yang tersaji di hadapan mereka.

Sang kiai mengingatkan, kalau hal-hal yang ringan dan gratis saja para santri tidak punya, seperti wudhu,
bagaimana dengan hal lainnya yang harus dicari sedemikian rupa, misalnya duit atau kekayaan?

Pesan utama yang dipraktikkan sang kiai kepada para santrinya adalah bagaimana ia terus melazimkan
wudhu. Sebab, banyak keutamaan dalam wudhu. Seorang Bilal bin Rabah bisa menjadi penghuni surga
karena wudhu, bahkan kabar tersebut sudah ia terima sejak masih menjejakkan kakinya di muka bumi ini
alias masih hidup.

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah bertanya kepada Bilal ketika shalat Fajar, “Wahai
Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau amalkan dalam Islam, karena aku sungguh
telah mendengar gemerincing sandalmu di tengah-tengahku dalam surga.”

Bilal berkata, “Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling kuharapkan di sisiku, hanya aku tidaklah
bersuci di waktu malam atau siang, kecuali aku shalat bersama wudhu itu sebagaimana yang telah
ditetapkan bagiku.” (HR Bukhari).

Secara medis, sudah diakui bahwa wudhu bisa menghilangkan mikroba yang bersarang dalam hidung,
yang jika mikroba ini cepat menyebar dan berkembang-biak, akan menyebabkan munculnya berbagai
penyakit. Lebih-lebih kalau sampai ke tenggorokan, lalu masuk menerobos ke peredaran darah. Maka,
berbahagialah orang yang melazimkan diri berwudhu secara terus-menerus. Karena dengan istinsyaq
(menghirup air ke dalam hidung), lalu mengeluarkannya lagi, hidung bersih dari debu, kuman, dan bakteri.

Bahkan, Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater sekaligus neurolog berkebangsaan Austria,
memeluk Islam lantaran berhasil menguak keajaiban yang ada dalam wudhu karena mampu merangsang
pusat syaraf dalam tubuh manusia. Adanya keselarasan air dengan wudhu dan titik-titik syaraf menjadikan
kondisi tubuh selalu sehat.

Manfaat secara ilmiah dan medis ini hanya sebagian kecil dari berkah wudhu. Masih begitu banyak
hikmah lainnya dari amal yang ringan ini. Wudhu bisa menghapus dosa-dosa kecil dan mengangkat
derajat seseorang (HR Muslim).

Wudhu adalah tanda dari pengikut Nabi SAW (HR Muslim). Wudhu bisa mengurai ikatan atau jeratan
setan (HR Bukhari-Muslim). Wudhu adalah separuh dari iman (HR Muslim). Dengan wudhu, seorang
Muslim juga bisa meraih kecintaan dari Allah: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tobat
dan orang-orang yang bersuci.” (al-Baqarah: 222).

Redaktur: Heri Ruslan
Enam Keutamaan Silaturahim
Kamis, 06 September 2012, 16:29 WIB
                                           Oleh: Ruswanto

                                           Silaturahim merupakan salah satu kewajiban bagi setiap
                                           pribadi Muslim. Dalam Alquran, Allah menegaskan, “Dan
                                           bertakwalah kepada Allah yang kalian saling meminta
                                           dengan nama-Nya dan sambunglah tali silaturahim.’ (QS.
                                           An-Nisa [4]:1).

                                          “Sebarkanlah salam, sambunglah tali silaturahim, dan
                                          shalatlah ketika manusia tidur (tahajud) niscaya kalian akan
masuk surga dengan selamat.” Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga
pemutus tali silaturahim.”

Dalil-dalil di atas menunjukkan arti penting akan kewajiban silaturahim. Sebab, di dalamnya terdapat
banyak keutamaan dan keistimewaan. Di antaranya, pertama, dengan silaturahim, kita bisa saling
mengenal antara yang satu dan yang lainnya (QS Al-Hujurat [49]: 13). Dengan silaturahim, kasih sayang
dan kerja sama yang positif bisa diwujudkan.

Kedua, dengan silaturahim, persatuan dan kesatuan (ukhuwah Islamiah) akan dapat dibangun. Dengan
silaturahim, akan timbul rasa saling membutuhkan, solidaritas, dialog, pengertian, dan menguatkan
kerjasama dalam perjuangan yang kokoh.

Rasulullah SAW bersabda, “Tangan Allah berada di atas jamaah.” Dalam hadis lain dikatakan, “Persatuan
(al-jamaah) itu rahmat dan perpecahan (al-firqah) adalah azab.”

Berdasarkan hadis di atas, Allah SWT senantiasa akan menolong hamba-hamba-Nya yang senantiasa
bersatu dan menjauhkan diri dari perpecahan.

Hal ini terbukti dalam sejarah Islam ketika umat Islam bersatu, Allah menolong mereka hingga mampu
menguasai sejumlah wilayah bahkan mampu menundukkan dua imperium besar, yakni Romawi dan
Persia. Sebaliknya, pada saat umat Islam berpecah belah, terjadilah perang saudara dan saling membunuh
hingga merusak kekuatan Islam.

Ketiga, dengan silaturahim, berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat akan mudah diatasi. Baik
masalah ekonomi, pendidikan, kebudayaan, maupun lainnya. Keempat, silaturahim juga akan mampu
menyelesaikan berbagai persoalan horizontal yang terjadi di masyarakat.

Sebab, dengan mengedepankan kasih sayang, sikap emosional dalam diri umat yang bisa memicu
permusuhan dapat diatasi dengan baik. Dengan demikian, akar persoalan pun akan ditemukan dan bisa
diselesaikan dengan damai.

Kelima, dengan silaturahim, berbagai ide-ide dan gagasan yang brilian, inovasi-inovasi, program-program,
dan kegiatan-kegiatan yang positif juga bisa diwujudkan.

Ketika umat Islam berkumpul dalam kasih sayang dan semangat kebersamaan, akan muncul ide-ide
kreatif dalam memacu umat untuk mencapai kemakmuran bersama. Kondisi ini jauh lebih bermanfaat di
bandingkan sendirian. Dan sesungguhnya, kejayaan umat Islam di masa lalu berawal dari silaturahim.

Keenam, dengan silaturahim, akan banyak ilmu pengetahuan yang tersebar. Dengan demikian, akan
banyak pula ilmu dan wawasan yang bisa diserap darinya. Dari sini diketahui bahwa silaturahim menjadi
media menumbuhkan wawasan persatuan dan kesatuan.

Semoga kita semua diberikan kemudahan untuk senantiasa menyambung silaturahim demi memperkuat
ukhuwah Islamiah (sesama umat Islam), ukhuwah basyariah (kemanusiaan), dan ukhuwah wathaniah
(semangat cinta tanah air).

Redaktur: Chairul Akhmad
Hikmah di Balik Musibah Kekeringan
Jumat, 07 September 2012, 08:41 WIB
                                                       REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein

                                                       Lagi-lagi kekeringan. Sepertinya kekeringan di negeri ini telah menjadi
                                                       rutinitas tahunan yang dihadapi masyarakat. Bagaimana tidak, setiap
                                                       musim kemarau, sebagian besar wilayah di Indonesia dilanda kekeringan.
                                                       Begitu juga sebaliknya, setiap musim hujan, sebagian besar wilayah
                                                       Indonesia dilanda kebanjiran.

                                                       Kondisi ini pada dasarnya tidak luput dari prilaku manusia. Jika kita mau
                                                       kembali membuka kembali Alquran, tampak jelas bahwa bencana alam
                                                       dan krisis lingkungan akibat dari ulah merusak sebagian dari umat
                                                       manusia.

Kerusakan lingkungan telah lama disinyalir dalam Quran. Dalam sebuah ayat Allah berfirman,”Telah nampak kerusakan di
darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS Ar-Rum[30]:41).

Ayat ini secara eksplisit menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi disebabkan ulah tangan manusia. Bencana yang datang
silih berganti bukan fenomena alam. Akan tetapi karena prilaku merusak manusia sendiri yang telah merusak alam ciptaan
Allah.

Para pemikir Timur dan Barat kontemporer memandang masalah utama kerusakan parah Bumi akibat terjadinya pemisahan
serius antara sains dan dari spiritualitas dan nilai-nilai moral. Para pemikir menilai krisis lingkungan yang terjadi dewasa ini
menunjukkan bahwa sebagian besar negara-negara dunia dilanda problem nilai dan spiritualitas.

Fritjof Capra memandang krisis lingkungan bermuara pada kesalahan cara pandang manusia modern terhadap alam semesta.
Manusia modern pada umumnya masih menganut paradigma mekanistis dan reduksionistis terhadap alam semesta.

Implikasinya, alam sebagai objek yang selalu diekspolitasi secara berlebih. Oleh karena itu, pandangan manusia harus diubah
menuju paradigma yang holistik dan ekologis.

Bahwa merusak alam dan lingkungan merupakan perbuatan dosa dan pelanggaran karena mengakibatkan gangguan
keseimbangan di bumi.

Ketiadaan keseimbangan itu, mengakibatkan siksaan kepada manusia. Semakin banyak perusakan terhadap lingkungan,
semakin besar pula dampak buruknya terhadap manusia, termasuk akan berdampak kepada manusia yang tidak berdosa
disekitarnya.

Dalam Islam sudah sangat terang bahwa bumi, alam, dan lingkungan diciptakan Allah SWT bukan tanpa arti. Penciptaan alam,
lingkungan, bumi merupakan tanda keberadaan Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta. Sebagaimana firman Allah swt dalam
Alquran bahwa terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya di bumi ini.

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin,”(QS Adz-Dzariyat [51]:20).

Dalam Alquran, Allah menyatakan bahwa alam diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman,”Dan Dia
menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.

Sesungguhnya pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir,”(QS Al-
Jatsiyah [45}:13). Ayat inilah yang menjadi landasan teologis pembenaran Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam
untuk memenuhi kebutuhan manusia. Islam tidak melarang memanfaatkan alam, namun ada aturan mainnya. Manfaatkan alam
dengan cara yang baik (bijak) dan manusia bertanggungjawab dalam melindungi alam dan lingkungannya serta larangan
merusaknya.

Manusia sebagai khalifah (wakil atau pengganti) Allah, salah satu kewajiban atau tugasnya adalah membuat bumi makmur. Ini
menunjukkan bahwa kelestarian dan kerusakan alam berada di tangan manusia.

Kini manusia harus lebih ramah terhadap alam semesta melebihi sebelumnya. Untuk mewujudkan kedamaian dan
keseimbangan dengan lingkungan, manusia harus memiliki ikatan yang kokoh dengan pencipta alam semesta.

Orang yang mematuhi aturan ilahi, maka ia juga memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia dan alam semesta.

Merusak dan mencemari lingkungan menyebabkan terjadinya berbagai bencana seperi kekeringan saat ini. Untuk itu, Islam
mengharamkan setiap tindakan yang merusak alam. Dalam Islam, kerusakan lingkungan juga mengakibatkan kerusakan sosial
yang menyebabkan terjadinya perampasan terhadap hak jutaan orang. Saatnya menjaga kelestarian lingkungan.

Redaktur: Heri Ruslan
Menyegerakan Diri dalam Kebajikan
Jumat, 07 September 2012, 16:28 WIB
                                        Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA
                                        Dunia memiliki tiga waktu; kemarin, hari ini dan esok hari.
                                        Kemarin dan waktu lampau tidak akan pernah kembali lagi,
                                        sehingga kita tidak mungkin meraihnya.

                                        Hari ini adalah hadiah Tuhan, sehingga mereka yang pandai
                                        memanfaatkannya dengan mempertebal keimanan dan
                                        menyegerakan amal saleh tidak mengalami "opportunity lost".
                                        Sedangkan esok hari adalah rahasia Tuhan yang tidak seorang
pun mengetahuinya.

Sementara itu, umur manusia memiliki dua sifat: Pertama, ia tidak akan berjalan terus tanpa henti, baik
manusia sedang mengalami kesedihan maupun kegembiraan, sedang sehat ataupun sakit.

Kedua, umur yang telah lalu tidak akan pernah kembali lagi, sehingga penyesalan terjadi ketika
kesempatannya tidak terulang kembali.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka Allah SWT memberikan petunjuk-Nya agar manusia
menyegerakan diri dalam kebajikan sebelum disibukkan dengan banyak urusan, memanfaatkan umur,
masa sehat, masa jaya, masa muda, masa luang sebelum datang masa-masa kebalikannya.

Allah SWT berfirman, “Dan bersegeralah menuju kepada ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).
Dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas RA dikabarkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Manfaatkanlah
lima perkara sebelum datangnya lima: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, luangmu
sebelum sempitmu, mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum fakirmu.” (HR. Ahmad).

Sejarah mencatat bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki keutamaan di antara para sahabat lainnya
disebabkan dua hal: Pertama, senantiasa membenarkan Rasul. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW
memberinya gelar Ash-Shiddiq (orang yang selalu membenarkan kata dan ucapan Rasul SAW).

Kedua, senantiasa menjadi penyegera atau orang pertama dalam banyak hal. Oleh sebab itu, ia masuk
dalam kelompok perintis perjuangan pemula masa Rasulullah SAW yang dikenal dengan istilah As-
Sabiqun Al-Awwalun yang dijanjikan Allah masuk surga. (QS. At-taubat: 100).

Keutamaan memang milik orang-orang yang membenarkan bukan pada penyegeraan. Namun, Abu Bakar
memiliki keutamaan dan urgensitas karena membenarkan Rasul dan menyegarakan (menjadi yang
pertama) dalam banyak hal.
Menyegerakan atau menjadi yang pertama banyak hal menjadi perkara yang urgen karena memenuhi
kebutuhan, menentramkan dan memberikan kepastian. Sehingga membenarkan dan menyegerakan
merupakan gabungan dari sifat kemuliaan yang jika keduanya bersatu pada diri seseorang akan
melahirkan kesempurnaan.
Dalam hadis Ibnu Abbas, Rasulullah SAW menceritakan mengenai 70 ribu umatnya yang masuk surga
tanpa hisab dan azab neraka. Salah seorang sahabat bernama Ukasah bin Mahshan berkata, "Doakanlah
aku agar menjadi golongan mereka."

Rasulullah SAW menjawab, "Engkau bagian dari mereka."
Kemudian seorang sahabat lain berdiri dan berkata, "Doakan pula aku menjadi golongan mereka wahai
Rasul!"

Rasulullah SAW menjawab, “Ukasah telah mendahuluimu." (HR. Bukhari-Muslim).

Jawaban Rasulullah ini mengisyaratkan bahwa para penyegera atau menjadi yang pertama memiliki
maqam (tempat) yang berbeda dengan yang di belakangnya termasuk dalam masalah agama. Apalagi
semua orang mengetahui bahwa para penyegera dan menjadi yang pertama jelas berbeda kualitasnya
dengan yang bergerak lambat atau pemalas. Wallahu a'lam.


Redaktur: Chairul Akhmad
Tanda Orang yang Mengamalkan Ilmunya
Sabtu, 08 September 2012, 11:50 WIB
                                                 Oleh: Hannan Putra, LC
                                                 REPUBLIKA.CO.ID, Diantara tanda orang berilmu
                                                 yang benar adalah mengamalkan ilmunya dan
                                                 mendisiplin diri untuk mentaati apa yang diperintahkan
                                                 kepadanya. Orang-orang ini tidaklah termasuk mereka
                                                 yang disebut oleh Allah SWT dalam firman-Nya,
                                                 “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan
                                                 kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya
                                                 adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang
                                                 tebal.” (QS. Aljumu’ah: 5).

Firman Allah SWT, “Dan sesungguhnya Dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan
kepadanya.” (QS. Yusuf: 68) memiliki maksud bahwa seseorang akan melaksanakan apa yang
diketahuinya.”

Diriwayatkan juga bahwa Nabi SAW bersabda, “Kecelakaan bagi si corong perkataan dan mereka yang
tegak telinganya.” Maksudnya adalah kecaman kepada orang yang menyimak firman Allah tetapi tidak
mengamalkannya.

Abdullah bin Wahab meriwayatkan dari Sufyan, sesungguhnya Khaidir berkata kepada Musa AS, “Wahai
putra ‘Imran! Pelajarilah ilmu untuk diamalkan dan jangan mempelajarinya untuk diperbincangkan saja,
karena engkau hanya akan mendapat dosa dan kehancurannya sementara orang lain mendapat kebaikan
dan kesuksesannya.”

Ali bin Abi Thalib RA berkata, “Sesungguhnya manusia mulai tidak suka mencari ilmu karena mereka
melihat betapa sedikitnya orang yang memanfaatkan apa yang diketahuinya.”

Abu Darda’ juga mengatakan, “Hal yang paling kutakuti saat bertemu dengan Allah Ta’ala adalah bila
Dia bertanya engkau memiliki pengetahuan, namuan diantara pengetahuan-pengetahuan tersebut mana
yang engkau laksanakan?”

Hal paling baik dari suatu ucapan adalah pelaksananya, sedang hal paling baik dari suatu kebenaran
adalah yang mengutarakannya dan hal paling baik dari suatu pengetahuan adalah pembawanya.

Dalam kitab “Mantsur Al Hikam” disebutkan, “Seseorang dianggap tidak memanfaatkan ilmunya bila ia
tidak mengamalkannya. Sebagian ulama berpendapat: buah dari ilmu adalah pengamalannya sedang buah
dari pengamalan adalah jika diberi balasan.”

Ilmu berdering karena pengamalan, jika panggilan dijawab ia akan mendekat atau sebaliknya ia akan
pergi. Ilmu yang paling baik adalah yang bermanfaat sedang ucapan paling baik adalah yang dapat
mencegah perbuatan.

Ahli balaghah (sastra arab) juga mengatakan, “Kesempurnaan ilmu terletak pada penggunaannya dan
kesempurnaan pengamalan terletak pada penguasaan atasnya. Siapa yang menggunakan ilmunya tidak
akan kehilangan petunjuk dan siapa yang merasa kurang pengamalan tidak akan kehilangan arah.”

Orang-orang yang mengamalkan ilmunya tak kan memuji orang berilmu tanpa pelaksanaan. Juga
sebaliknya tidak memberi pujian orang yang melaksanakan sesuatu tanpa ilmu. Orang-orang ini berjalan
menuju kemuliaan dan menganggapnya sebagai tikungan mengerikan. Bagi mereka kelemahan paling
parah adalah kelemahan orang bijaksana.

Sebagaimana ilmulah yang merupakan motif bagi seseorang untuk mempelajari dan mengutipnya dari
orang lain maka pelaksanaan dan pengamalan ilmu itu bahkan lebih wajib sifatnya, dan seharusnya
menjadi motif utama perbuatan. Karena posisi amal berada di atas ucapan sedang posisi ilmu di atas posisi
amal. Wallahu a'lam.
Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Mengharap Berkah Allah
Sabtu, 08 September 2012, 18:23 WIB
                                      Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

                                      Berkah berarti selamat, tetap, langgeng baik, bertambah, tumbuh
                                      dan membahagiakan. Keberkahan datangnya dari Allah bukan
                                      dari manusia. Oleh karenanya, meminta keberkahan harus pula
                                      kepada-Nya, bukan kepada selain diri-Nya.

                                    Di dalam Alquran, Allah SWT telah memberikan keberkahan
                                    pada bumi, seperti tersebut dalam firman-Nya, "Dan Dia
menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia
menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya." (QS. Fushshsilat: 10).

Manusia pada umumnya hanya minta keberkahan kepada Allah SWT dalam masalah rezeki. “Ya Allah,
berikan kepada kami keberkahan atas rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami
dari siksa neraka.” (HR. Thabrani).

Padahal, keberkahan seharusnya diminta dalam segala hal, sebagaimana petunjuk Rasulullah SAW yang
mendoakan keberkahan bagi banyak sahabat-nya.

Tiba di suatu tempat, rumah, kota atau negara hendaknya seseorang berdoa, "Ya Tuhanku, tempatkanlah
aku di tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang Memberi Tempat." (QS. Al
Mukminun: 29).

Mendengar karib kerabat menikah, hendaknya kita memberikan ucapan selamat dengan mendoakan
keberkahan, "Semoga keberkahan Allah untukmu dan atasmu serta semoga kalian berdua dikumpulkan
dalam kebaikan." (HR. Abu Daud).

Bila Allah menganugerahkan keturunan kepada seseorang, hendaknya kita juga mengucapkan selamat dan
doa keberkahan, "Engkau telah berterima kasih kepada Yang Mahapemberi, keberkahan bagimu pada
pemberian ini, semoga anak itu mencapai dewasa dan kamu mendapatkan bakti darinya.” (Musnad Ibnu
Al-Ja’d).

Singkat kata, keberkahan merupakan doa dan permintaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Sebab,
Rasulullah SAW senantiasa mendoakan orang yang dicintainya dengan keberkahan, baik dalam masalah
umur, keturunan, rezeki, harta, tempat, pernikahan, kelahiran dan lain sebagainya.

Rasul SAW berdoa untuk Anas RA, “Ya Allah, berilah rezeki, harta dan keturunan dan berikan
keberkahan kepadanya.” (HR. Bukhari). Doa Rasul dikabulkan, sehingga Anas termasuk di antara kaum
Anshar yang paling banyak harta dan keturunannya.

Setiap orang tidak akan terlepas dari keberkahan yang datangnya dari Allah SWT semiskin apa pun
keadaannya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam mengisahkan cerita Nabi Ayyub AS, "Ya
Tuhan, aku tidak akan terlepas dari keberkahan-Mu." (HR. Bukhari).

Di dalam keberkahan terdapat makna keimanan dan kesyukuran, sehingga jika keberkahan diberikan
kepada seseorang maka rezekinya akan bertambah; keturunannya akan dijaga; fisiknya akan akan
dilindungi dan disehatkan; umurnya menjadi lebih bermanfaat; istrinya akan menyenangkan dan taat;
serta kehidupannya akan tenang, tentram dan bahagia. Maka di dalam setiap keberkahan senantiasa
teriringi empat sifat: kebaikan, kebahagiaan, tumbuh dan berkembang. Wallahu a'lam.




Redaktur: Chairul Akhmad
Berkah dan Balasan Sedekah
Senin, 10 September 2012, 06:25 WIB
                                          Oleh: Moch Hisyam

                                          Dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah
                                          haji, Abdullah ibnu Mubarak, ulama termasyhur abad ke-12
                                          (1118 M/797 H) singgah di Kota Kufah, Irak. Di kota itu, ia
                                          melihat seorang wanita sedang mencabuti bulu itik di tempat
                                          sampah.

                                            Dalam hatinya, Ibnu Mubarak merasa bahwa itik itu sudah
                                            mati dan telah menjadi bangkai. Ia pun menanyakan hal
tersebut kepada si. “Apakah itik ini bangkai atau sudah disembelih?”

Wanita itu menjawab dengan tegas bahwa hewan itu sudah menjadi bangkai dan ia akan tetap
mengambilnya untuk dimakan bersama keluarganya.

Karena tak ingin hal itu menimbulkan kemudharatan kepada wanita tersebut maka Ibnu Mubarak terus
menanyakan. “Bukankah Nabi SAW telah mengharamkan daging bangkai?” ujar Ibnu Mubarak. Namun
demikian, wanita itu tetap pada pendiriannya.

Ia pun membentak dan memerintahkan Ibnu Mubarak untuk meninggalkan dirinya dengan bangkai
tersebut. “Sudah, pergilah kau dari sini!

Tapi, Ibnu Mubarak tetap bertahan dan terus menanyakannya, hingga akhirnya wanita itu membuka
rahasianya. Wanita itu menjawab, “Aku mempunyai putra yang masih kecil-kecil, sudah tiga hari mereka
tidak makan, sehingga aku terpaksa memberi mereka daging bangkai ini.”

Mendengar jawaban sedih wanita itu, Abdullah bin Mubarak segera pergi kembali mengambil makanan
dan pakaian, yang diangkut dengan menggunakan keledainya. Kemudian, ia kembali ke tempat wanita itu.
Setelah bertemu muka, ia berkata, “Ini uang, pakaian, dan makanan. Ambillah berikut keledai dan segala
yang ada padanya!”

Kemudian, Ibnu Mubarak tinggal di kota itu karena waktu haji telah lewat. Akhirnya, ketika orang-orang
telah menunaikan haji pulang kembali ke negeri mereka, maka Abdullah pulang juga bersama mereka.

Setelah tiba di kotanya, orang-orang datang kepadanya sambil mengucapkan selamat karena telah
menunaikan ibadah haji. Tetapi, Ibnu Mubarak menjawab, “Tahun ini aku tidak jadi naik haji!”

Seseorang menegurnya, “Subhanallah, bukankah aku telah menitipkan uangku kepada Anda, lalu aku
ambil kembali di Arafah?” Yang lain berkata, “Bukankah Anda telah memberi minum di suatu tempat
dulu?” Sementara yang lain berkata pula, “Bukankah Anda telah membelikanku ini dan itu?”

Abdullah menjawab, “Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan, sebab aku tidak jadi naik haji pada
tahun ini.” Pada intinya, mereka yang menemui Abdullah ibnu Mubarak menyaksikan dirinya
menunaikan ibadah haji.

Pada malam harinya, di kala tidur, Abdullah ibnu Mubarak bermimpi. Ia mendengar suara gaib yang
mengatakan, “Hai Abdullah, sesungguhnya Allah telah menerima sedekahmu dan telah mengutus seorang
malaikat menyerupai dirimu untuk melaksanakan ibadah haji sebagai ganti dirimu!”

Kisah yang terdapat dalam kitab “An-Nawadir” karya Ahmad Syihabudin bin Salamah Al-Qalyubiy ini
memberikan pelajaran kepada kita untuk lebih mendahulukan membantu orang yang membutuhkan uluran
tangan, ketimbang melaksanakan haji berkali-kali. Apalagi bila hanya untuk memuaskan nafsu semata.
Wallahu a’lam.



Redaktur: Chairul Akhmad
Dikejar Bayang-Bayang
Senin, 10 September 2012, 12:38 WIB
                                  REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Prof Yunahar Ilyas

                                   Siang itu, Wahsyi begitu bersemangat dan ceria. Senyum terus
                                   tersungging di bibirnya. Janji Hindun, istri Abu Sufyan, selalu
                                   terngiang di telinganya: “Wahsyi, jika kau berhasil membunuh
                                   Hamzah, kau akan menjadi orang merdeka, sama dengan kami.”

                                    Wahsyi membayangkan, alangkah indah hidupnya menjadi orang
                                    merdeka. Dia dapat pergi semaunya, bekerja semaunya, istirahat
semaunya. Tidak seperti sekarang, semua serba tidak bebas.

Sebagai budak, dia harus patuh, apa pun keinginan sang majikan. Senyum Wahsyi semakin melebar
tatkala membayangkan dirinya suatu hari nanti duduk bersama di qahwaji dengan para bangsawan
Quraisy seperti Abu Sufyan. Hindun sangat dendam pada Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW.
Ayah dan saudara laki-lakinya gugur di tangan Hamzah sewaktu Perang Badar pada tahun kedua hijriah.
Makkah sedang mempersiapkan pasukan tiga kali lebih besar daripada pasukan Perang Badar untuk
menyerang Madinah.

Kekalahan dalam Perang Badar membuat kaum Quraisy terpukul. Lebih-lebih Hindun, dendamnya sangat
membara. Dia berharap dendamnya dapat dibalaskan oleh Wahsyi.
Wahsyi maju ke medan Perang Uhud dengan konsentrasi penuh mencari Hamzah. Dia ikuti ke manapun
Hamzah bergerak. Hamzah tidak menyadari hal itu. Hingga akhirnya, Wahsyi melemparkan tombaknya
tepat mengenai Hamzah. Paman Nabi yang gagah perkasa itu pun tersungkur, gugur sebagai syahid.
Wahsyi puas. Kemerdekaan sudah di depan mata.

Akan tetapi, begitu kembali ke Makkah, dia kecewa. Memang tuannya menepati janji. Dia dibebaskan
dari perbudakan. Tetapi, harapannya untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan para
bangsawan Quraisy tidak menjadi kenyataan. Pandangan terhadap dirinya tidak berubah, dia dianggap
masih kelompok kelas dua.

Sementara itu, keadaan terus memburuk bagi pihak Quraisy. Serangan tentara sekutu dalam Perang Ahzab
gagal total. Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslim berhasil menguasai Makkah. Wahsyi ketakutan.
Makkah sudah jatuh ke tangan kaum Muslim. Wahsyi khawatir Rasul SAW akan balas dendam. Oleh
sebab itu, dia segera melarikan diri ke Thaif.

Di kota yang berhawa sejuk itu, Wahsyi tetap ketakutan. Dia ingin menyeberang ke Habasyah, melarikan
diri jauh dari Muhammad. Seseorang teman menasihatinya: “Wahsyi, sebenarnya engkau hanya dikejar
oleh dosamu sendiri. Ke manapun engkau lari, bayang-bayangmu akan selalu mengikutimu. Lebih baik
engkau pergi menemui Muhammad, ucapkan dua kalimat syahadat dan minta maaf kepada beliau.”

Wahsyi segera menemui Nabi SAW dan menyatakan keislamannya seraya meminta maaf telah
membunuh Hamzah dalam Perang Uhud. Nabi meminta Wahsyi menceritakan secara detail apa yang
dilakukannya terhadap pamannya. Nabi tidak dapat menyembunyikan kedukaannya.

Terbayang kembali bagaimana paman beliau itu gugur. Nabi tidak akan membalas dendam. Beliau hanya
meminta Wahsyi tidak memperlihatkan wajahnya di hadapan Nabi. Wahsyi tetap merasa bersalah,
pikirannya belum tenang, sampai kemudian pada zaman kekhalifahan Abu Bakar, dia berhasil membunuh
Musailamah al-Kadzab, yang mengaku sebagai nabi dalam harbur riddah. Setelah itu Wahsyi tenang,
utangnya membunuh seorang pahlawan Islam terbayar dengan membunuh nabi palsu itu.
Redaktur: Heri Ruslan
Sebab-Sebab Turunnya Keberkahan
Senin, 10 September 2012, 21:10 WIB
                                            Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

                                            Keberkahan bukanlah pemberian Allah yang tiba-tiba dengan
                                            tanpa sebab diturunkan kepada seseorang. Keberkahan
                                            merupakan sesuatu yang senantiasa diminta dan harus
                                            diupayakan oleh setiap manusia kepada pemiliknya, Allah
                                            SWT.

                                         Di antara sebab-sebab turunnya keberkahan adalah: Pertama,
                                         mendasari keimanan dan ketakwaan dalam sebuah kegiatan
atau usaha. Allah SWT berfirman, "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96).

Kedua, beramal saleh dan berikhtiar memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan semua makhluk-Nya.
Allah SWT berfirman, "Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah
mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97).

Ketiga, memulai setiap pekerjaan dengan menyebut nama Allah karena pada hakikatnya Dialah
pemiliknya. Rasulullah SAW bersabda, "Berkumpullah kalian atas makanan dan sebutlah nama Allah,
maka Allah akan memberikan keberkahan pada kalian di dalamnya." (HR. Abu Daud).

Keempat, menyegerakan diri dalam kebaikan dan membuang rasa malas di pagi hari. Rasulullah SAW
mendoakan keberkahan bagi orang-orang yang menyegerakan diri dan bersemangat di pagi hari dalam
meraih sukses melalui doanya, "Ya Allah, berkahilah umatku yang (bersemangat ) di pagi harinya." (HR.
Abu Daud).

Kelima, berlaku jujur dan melayani pelanggan dengan baik dan ihlas. Rasulullah SAW bersabda, “Penjual
dan pembeli itu diberi pilihan selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya jujur dan menjelaskan
(kondisi barangnya), maka keduanya diberkahi dalam jual belinya. Namun bila keduanya
menyembunyikan dan berdusta, maka akan dihilangkan keberkahan jual beli keduanya.” (HR. Bukhari-
Muslim).

Pada tingkat tertentu, keberkahan tidak selalu bersifat definitif dalam arti selamat, tetap, langgeng, baik,
bertambah, dan tumbuh melainkan berati puas dan rela dengan pemberian dan pembagian yang diberikan
oleh Allah SWT. Dalam kategori ini orang-orang yang mendapatkan keberkahan juga merasakan hidup
dengan perasaan nyaman dan bahagia.

Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, Allah menguji hamba dengan pemberian-Nya. Barang siapa rela
dengan pembagian Allah terhadapnya, maka Allah akan memberikan keberkahan baginya dan akan
memperluasnya. Dan barang siapa tidak rela, maka tidak akan mendapatkan keberkahan.” (HR. Ahmad).

Semoga Allah SWT memberikan keberkahan terhadap rezeki, kediaman, keturunan dan semua anugerah
yang diamanahkan kepada kita serta memberi kekuatan untuk senantiasa taat menjalankan perintah-Nya,
menjauhi larangan-Nya dan melimpahkan kepuasan kepada kita atas pemberian-Nya. Wallahu a'lam.




Redaktur: Chairul Akhmad
Menyelami Nikmat Allah
                                                      Selasa, 11 September 2012, 11:34 WIB
                                                      REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Makmun Nawawi

                                                      Dikisahkan, suatu hari di sebuah negeri, matahari
                                                      tidak terbit. Para petani bangun pagi-pagi agar bisa
                                                      berangkat ke sawah dan ladangnya, namun keadaan
                                                      gelap gulita. Para pegawai dan pekerja pun
                                                      demikian, bangun sejak awal, agar mereka bisa
                                                      berangkat ke tempat tugasnya, namun kegelapan
                                                      benar-benar pekat. Hal yang sama juga menimpa
                                                      pelajar dan mahasiswa, di mana mereka tidak bisa
                                                      berangkat ke tempat studinya karena gelap begitu
mencekam.

Sepanjang hari itu, semua orang tidak ada yang melakukan aktivitas. Mereka semua menganggur dan
kehidupan pun terhenti. Keadaan benar-benar chaos dan kacau balau. Bayi-bayi, tubuhnya menggigil dan
lemas karena kedinginan. Kecemasan dan ketakutan menghantui semua orang.

Begitu tiba malam hari, bulan pun tidak tampak! Orang-orang pun semuanya berangkat ke tempat
ibadahnya, meneriakkan selawat dan menghamburkan doa. Mereka berteriak histeris seraya merunduk
berdoa agar matahari bisa kembali bersinar. Malam itu, tidak ada seorang pun yang bisa memejamkan
mata.

Keesokan harinya, saat pagi menjelang, ternyata matahari kembali bersinar dari orbitnya. Orang-orang
pun saling bersahutan mengekspresikan kegirangan yang tiada terperi. Sambil mengangkat tangan ke
langit, mereka pun tak henti-hentinya menggemakan puji syukur kepada Allah, seraya saling memberikan
ucapan selamat satu sama lain di antara mereka.

Kemudian, salah seorang bijak bestari di negeri itu pun berujar, “Mengapa kalian hanya bersyukur kepada
Allah lantaran terbitnya matahari di hari ini saja? Bukankah matahari itu bersinar setiap pagi (hari)?
Bukankah kalian tahu kalau kalian sudah mereguk beragam nikmat Allah sepanjang masa?”

Itulah sebagian watak asli sekaligus kealpaan dan kelalaian manusia, ketika mereka didera oleh berbagai
macam kesulitan dan kepanikan, baru mereka kembali pada Allah (an-Nahl [16]: 53), seraya mengakui
nikmat-Nya. Itu pun hanya terhadap sebagian kecil nikmat, padahal sudah teramat banyak nikmat Allah
yang dicurahkan padanya (Ibrahim [14]: 32-34), yang tanpa disadarinya.

Kita baru bisa menyelami nikmat Allah jika bertalian dengan hal-hal material atau yang kasat mata,
misalnya, diberikan harta melimpah, jabatan dan posisi yang enak, terbebas dari kecelakaan, lulus dalam
testing sekolah atau pekerjaan, dan pendamping atau pasangan hidup yang setia.

Padahal, nikmat Allah itu terus dikucurkan pada hamba-Nya di setiap tarikan napas mereka, yang
sekaligus menjadi penopang utama kehidupan mereka, tanpa mereka sadari. Misalnya, jantung yang terus
berdetak, napas yang terus menghirup udara bebas, mata yang bisa menatap, mulut yang bisa bicara,
hidung yang bisa mengendus rupa-rupa aroma, kuping yang bisa mendengar, kulit yang bisa merasakan
dingin atau panas, kita bisa tidur, terjaga, jalan ke mana suka, dan seterusnya.

Tidak cukupkah kita dengan gugahan Allah yang berkali-kali dalam surah ar-Rahman: “Maka nikmat
Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Maka, betapa lancungnya dan tidak etis sekali, jika kita hanya mau taat dan beribadah kepada Allah di
kala kita didera kesulitan dan menyimpan segudang keinginan.
Redaktur: Heri Ruslan
Sinergi Empat Tuntunan Ilahi
Selasa, 11 September 2012, 13:58 WIB
                                           Oleh: Ina Salma Febriani
                                           Memiliki akhlak mahmudah (akhlak baik), diperlukan niat
                                           teguh dalam hati serta usaha untuk mengisinya dengan ibadah
                                           yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

                                         Sebaliknya, memiliki akhlak madzmumah (akhlak buruk),
                                         terkadang lebih mudah dibandingkan dengan akhlak baik. Itu
                                         sebabnya mengapa Rasulullah bersabda surga itu dikelilingi
                                         hal-hal yang kurang menyenangkan—sebab, untuk
memperoleh surga, perlu usaha ekstra selama di dunia.

Mengerjakan seluruh yang Allah perintahkan dan menjauhiapa apa yang Allah larang. Di situlah letak
kesulitannya. Salah satu akhlak mahmudah yang Allah tuntun untuk kita ialah zuhud.

Definisi zuhud menurut Ibnu Abbas RA, terdiri atas tiga huruf yaitu Za, Ha, Dal. Za maknanya zaadun li
ma’aad, yaitu bekal untuk kembali ke akhirat, maksudnya taqwa. Ha maksudnya hudan li ad-diin, yaitu
petunjuk untuk mengikuti Islam. Dan Dal maksudnya dawaam ‘ala ath-thaa’ah, yaitu terus menerus dalam
melakukan ketaatan.

Ibnu Abbas juga menjabarkan pengertian lain dari zuhud. Za berarti tarku az-zinah, yaitu meninggalkan
kemegahan dan kemewahan. Ha maksudnya tarku al-hawaa, yaitu meninggalkan kesenangan dan hawa
nafsu. dan Dal maksudnya tarku ad-dunyaa, yaitu menjauhi duniawi.

Nabi Sulaiman dan Luqman pernah berkata, “Apabila berbicara itu perak, maka diam itu adalah emas.”
Maksudnya, apabila perkataan seseorang dalam kebaikan nilainya seperti perak, maka diam dari berkata
buruk nilainya seperti emas. Nasihat ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Berkatalah yang baik,
atau lebih baik diam!”

Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani, manusia itu terbagi menjadi empat. Pertama, Orang yang tidak punya
lisan dan hati. Inilah tipe orang durhaka, lalai, dan jahil. Kita dianjurkan menjauhi orang tipe pertama ini.

Kedua, orang yang berlisan namun tidak berhati. Kata-kata orang seperti ini mengandung hikmah, namun
ia sendiri tidak pernah mengamalkannya. Ia mengajak manusia untuk beriman dan beramal saleh,
sementara ia sendiri kufur dan menjauhi Allah.

Ketiga, orang yang memiliki hati namun tidak memiliki lisan. Ini adalah tipe orang mukmin yang
disembunyikan Allah dari pandangan makhluk-Nya. Allah membukakan mata hatinya agar ia dapat
melihat kekurangan dirinya, menerangi hatinya dan tidak banyak bicara. Sebenarnya dia adalah kekasih
Allah yang disembunyikan dalam pemeliharaan-Nya.

Keempat, orang yang mau belajar dan mengajar serta mengamalkan ilmunya, ia betul-betul mengenal
Allah dan memahami ayat-ayat-Nya. Allah memberinya ilmu yang tidak diketahui oleh orang-orang dan
Allah melapangkan dadanya untuk menerima bermacam-macam ilmu.

Pada intinya, zuhud bermuara pada sikap “menjaga diri”. Menjaga diri dari yang haram, syubhat, baik
yang besar maupun yang kecil. Zuhud akan melahirkan sikap wara atau hati-hati. Menunaikan semua
yang difardhukan baik yang mudah maupun yang sulit.

Sikap zuhud dan wara akan mewariskan taubat dan kembali ke jalan Allah sehingga hati dan perilakunya
akan beroleh penerangan dan terhindar dari kesyubhatan, terlebih hal-hal yang diharamkan.

Terakhir, ia akan menyerahkan sepenuhnya urusan dunianya kepada ahlinya, yakni pada Allah Azza wa
Jalla baik urusan kecil apalagi besar. Maka akan lahirlah sikap qanaah, yaitu menerima sepenuhnya apa
pun yang Allah anugerahkan padanya di dunia nan fana ini. Keempat sikap ini pada akhirnya bersinergi
dan menuntun kita untuk tetap berada dalam tuntunan Ilahi. Wallahu a’lam.


Redaktur: Chairul Akhmad
Subhanallah, Inilah Keutamaan Basmalah
Rabu, 12 September 2012, 10:56 WIB
                                                    Muslim Jepang tengah mengaji
                                                    REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Moch Hisyam

                                                    Dalam kitab an-Nawadir, karya Ahmad Syihabudin
                                                    bin Salamah al-Qalyubiy dikisahkan, ada seorang
                                                    Yahudi yang mencintai seorang wanita sampai
                                                    tergila-gila. Akibatnya, ia merasa makan dan minum
                                                    tak enak serta tidur tak nyeyak.

                                                   Akhirnya, ia menemui Atha' al-Akbar untuk
                                                   menanyakan jalan keluar atas kesulitan yang
                                                   dihadapinya itu. Atha' lantas menuliskan kalimat
basmalah (Bismillahir-rahmanir-rahim) di sehelai kertas, lalu berkata kepadanya. “Bacalah ini, mudah-
mudahan Allah SWT melalaikanmu dari mengingat wanita itu serta mengaruniakan wanita itu kepadamu.”

Setelah tulisan itu dibacanya, ia berkata, “Wahai Atha', aku telah merasakan manisnya iman dan telah
bersinar cahaya di dalam kalbuku hingga sekarang aku telah melupakan wanita itu. Ajarkanlah Islam
kepadaku.”

Maka, Atha' mengajarkan tentang Islam kepadanya. Sebab, keberkahan basmalah itu, ia pun masuk islam.
Keislaman orang Yahudi itu terdengar oleh wanita yang dahulu disenanginya.

Lantas wanita itu datang menemui Atha' dan berkata kepadanya. “Ya imam al-Muslimin, saya adalah
wanita yang disebutkan oleh lelaki Yahudi yang masuk Islam itu. Semalam saya bermimpi didatangi oleh
seseorang dan orang itu berkata kepada saya. “Jika Anda ingin melihat tempat Anda di dalam surga maka
menghadaplah kepada Atha', karena ia akan memperlihatkannya kepada Anda. Nah, sekarang aku telah
berada di hadapan tuan, maka katakanlah kepadaku, di mana surga itu?”

Atha' menjawab, “Jika Anda menginginkan surga maka Anda harus membuka pintunya terlebih dahulu,
baru memasukinya.” Wanita itu bertanya, “Bagaimana aku dapat membuka pintunya?” Jawab Atha',
“Ucapkanlah Bismillahir-rahmanir-rahim.”

Setelah wanita itu membaca basmalah, lalu berkata, “Wahai Atha', kurasakan ada seberkas cahaya
bersinar dalam kalbuku dan kerajaan Allah dapat kulihat. Ajarkanlah Islam kepadaku.”

Kemudian, Atha' mengajarkan Islam kepadanya. Berkat basmalah, wanita itu akhirnya masuk Islam. Lalu,
ia pulang kembali ke rumahnya. Pada malam harinya ketika tidur, ia bermimpi seakan-akan masuk ke
dalam surga, menyaksikan istana-istana dan kubah-kubah di dalamnya. Di antara salah satu kubah itu
terdapat tulisan; Bismillahir-rahmanir-rahiim, La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah.

Ketika wanita itu membaca tulisan tersebut, tiba-tiba terdengar suara mengatakan, “Wahai wanita, Allah
telah memberikan semua apa yang kau baca.”

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil kesimpuan bahwa basmalah merupakan salah satu dari inti
kandungan ajaran Islam. Hal demikian juga diungkapkan sejumlah ulama akan keutamaan basmalah.

Dengan membaca basmalah berarti kita menyadari akan kekuatan dan pertolongan Allah dalam setiap
aktivitas yang kita lakukan, juga menunjukkan akan kepasrahan dan ketidakberdayaan diri kita untuk
melakukan suatu kebaikan apa pun, kecuali atas pertolongan-Nya. Dan tidak dapat menolak sekecil apa
pun kemudaratan yang akan menimpa kita, kecuali atas pertolongan-Nya. Dan inilah inti dari ajaran Islam.

Karena kandungan maknanya seperti inilah yang menjadikan kalimat basmalah mengandung keberkahan.
Untuk itu, hayatilah maknanya dan bacalah setiap kali kita hendak melakukan pekerjaan, agar kita
mendapatkan keberkahan. Wallahu'alam.
Redaktur: Heri Ruslan
Memuliakan Perempuan
Kamis, 13 September 2012, 16:25 WIB
                                                REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustadz Toto Tasmara

                                                Ibu adalah sosok perempuan yang menjadi pusat
                                                kerinduan anak-anaknya yang cemas karena berpisah
                                                atau tersesat saat asyik bermain yang melalaikan. Seperti
                                                planet dan galaksi, mereka merindukan matahari.
                                                Bagaikan liku-liku perjalanan panjang, seperti sungai
                                                yang merindukan pertemuannya dengan samudra.
                                                Perempuan adalah samudra cinta, tempat segala resah
                                                dihapus damai dalam pelukannya.

Kaum perempuan adalah pepohonan yang rindang di padang gersang. Para musafir lelah melepas penat
didekap keteduhan bayangannya. Laksana bunga yang merekah, ia menebarkan wewangian pesona jiwa
yang menenteramkan.

Karena itu, jangan engkau rusak putik-putik bunga itu, karena mereka akan tersenyum membuka rahasia
keindahannya. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik di antara kamu sekalian adalah suami yang
menghormati istrinya.” Karena itu pula Rasul menyeru, agar setiap hati kaum pria memandang perempuan
yang akan mendampinginya sebagai istri sebagai amanah suci dari Allah.

Bila engkau menyia-nyiakan dan menzalimi istrimu, sesungguhnya engkau sedang menantang amarah
langit yang akan segera mengirimkan badainya. Merobek dan mencabik siapa pun yang menyakiti hati
perempuan ciptaan Ilahi yang paling lembut.

Jagalah hati dan lidah seorang istri, karena dalam getaran hati yang terucap maupun tidak, ada doa di
dalamnya. Karena perempuanlah, seseorang akan melambung-menjulang meniti karier dan menapaki
kehidupan mulia.

Tetapi, karena perempuan itu pula, manusia tersungkur hancur, menapaki rasa pedih dan kemudian
tersisih. Bagaikan samudera yang bergelora dan tak pernah kering, perempuan menjadi sumber inspirasi.
Pelengkap mimpi-mimpi para pecinta, goresan pena para pujangga.

Sering kali kita menyaksikan, betapa banyak seseorang sukses dalam kariernya karena ada hati
perempuan saleh yang senantiasa berdoa untuknya. Sebaliknya, betapa banyak manusia terjungkal dari
pendakiannya, karena ia telah menyia-nyiakan atau bahkan melukai sebongkah hati yang lembut dan
bersemayam di jantung perempuan.

Pada suatu saat ada seorang sahabat yang mengeluh karena semua anaknya terlahir sebagai perempuan
maka Rasul bersabda, “Jika ada yang mempunyai anak perempuan saja, kemudian ia memeliharanya
dengan sebaik-baiknya, anak perempuan itu akan menjadi penangkal dirinya dari api neraka.” (HR
Muslim).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda, “Samakan di antara anak-anakmu dalam hal pemberian.
Kalau sekiranya saya sendiri yang akan melebih-lebihkan, maka tentulah anak yang perempuan yang saya
lebihkan.” (HR Thabrani dari al-Khatib).

Maka, hormati dan berlakulah lemah lembut pada perempuan. “Jangan engkau paksa anak-anak
perempuan, mereka adalah bunga yang mahal harganya.” (HR Ahmad dan Thabrani). Dunia itu adalah
perhiasan, tetapi ada perhiasan yang paling mulia, yaitu perempuan yang dijaga dan menjaga diri
(salehah).

Tengoklah sejarah, betapa Islam menempatkan kedudukan perempuan sebagai makhluk mulia dan
memiliki peran sama pentingnya dengan kaum pria. Maka, tempatkanlah rasa hormat kepada perempuan,
jangan melecehkannya. Wallahu a’lam.
Redaktur: Heri Ruslan
Spirit Haji untuk Membangun Masyarakat Berakhlakul Karimah
Jumat, 14 September 2012, 04:00 WIB
                                    REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein

                                             Labaik Allahumma Labaik. Panggilan haji kembali tiba.
                                             Mulai 21 September 2012, jamaah Haji Indonesia mulai
                                             diberangkatkan ke tanah suci Makkah dan Madinah.

                                             Haji adalah momen yang mampu memberikan inspirasi bagi
                                             kemajuan kemanusiaan. Proses ini ditandai dengan jutaan
                                             manusia berbondong-bondong ke baitul Ka’bah, simbol
pemersatu umat Islam.

Dalam ritual haji, manusia diperlakukan secara sama dan adil, tanpa melihat ras, suku dan latarbelakang
dunia lainnya. Harkat dan martabat mereka sebagai manusia adalah sama. Hak dan kewajiban mereka
sebagai hamba juga sama. Tujuan dan arah perjuangan hidup mereka hakikatnya juga sama, yaitu
berusaha meraih kebahagiaan yang sejati abadi.

Itulah sesungguhnya yang menjadi hikmah dan tujuan utama di syariatkannya ibadah haji. Dalam bahasa
Alquran, hikmah dan tujuan ibadah haji - yang merupakan puncak tertinggi ajaran rukun Islam –
diungkapakan dengan istilah liyasyhaduu manaafi`a lahum, yaitu untuk “menyaksikan” kemanfaatan-
kemanfaatan duniawi dan ukhrawi (kebahagiaan sejati) yang mahadasyat yang akan terus mengalir dan
menjadi “milik” mereka yang berhasil menunaikan haji secara mabrur (QS. Al-Hajj 22:28)

Secara etimologis, sebagaimana dikemukan Ibn Mandzur dalam kitabnya, Lisaan al-Arab, kata hajj antara
lain berarti “menuju pada target tertentu” (al-qashd). Lebih spesifik lagi, al-Ishfahani dalam kitabnya,
Mufradaat Alfaadz al-Qur`aan, menjelaskan pengertian hajj sebagai “menuju kepada target tertentu untuk
dikunjungi” (al-qashd li al-ziyarah).

Dari situlah muncul istilah haji dalam Islam yang asal-muasalnya diambil dari kalimat hajj al-bait atau
“berkunjung ke baitullah”, yaitu kunjungan khusus ke Masjidil Haram dengan tujuan menunaikan
manasik haji (QS. Ali `Imran 3:97).

Ditilik dari segi filosofis makna kata (fiqh qiyaas al-lughah), kata hajj yang dibentuk oleh rangkaian tiga
huruf dasar haa`jiim, jiim pada hakikatnya menunjukan simpul makna dasar yang menggambarkan
“keberadaan sesuatu yang bisa dijadikan landasan, sandaran, atau fokus perhatian” (ma u`tumida`alaihi)
atau “berproses menuju landasan, sandaran, atau fokus perhatian” (al-i`timaad).

Misalnya, kata hujjah yang memiliki arti dasar argumentasi (al-daliil) atau bukti kebenaran (al-burhaan).
Begitu juga kata mahajjah yang berarti jalan terbuka yang arah-arahnya (al-thariiq al-jaaddah). Disebut
demikian karena jalan tersebut bisa dijadikan sandaran untuk sampai pada alamat yang dituju. Atau kata
hajj (al-syijaaj) yang memiliki arti memeriksa luka di kepala secara teliti, terfokus, dan penuh perhatian
untuk keperluan pengobatan serta penyembuhan.

Jadi, substansi haji adalah mencari dan mengukuhkan sandaran atau landasan yang hakiki bagi kehidupan
menuju kebahagiaan sejati yang merupakan fokus perhatian dan target pencarian yang dituju oleh seluruh
umat manusia.. Karena itu, banyak ulama menyebutkan, haji mabrur adalah yang disertai dengan tanda-
tanda ke-mabrur-an setelah berhaji, diantaranya akhlak dan amal perbuatannya menjadi lebih baik
daripada sebelumnya.

Nilai-nilai kemabruran haji akan membawa virus positif kehidupan masyarakat yang lebih humanis,
lebih berakhlak dan lebih beriman. Kita berharap, haji yang dijalankan para jamaah bukan sekadar haji
ritual, tetapi haji yang membawa perubahan. Hal itu pula dilakukan para jamaah haji di masa perjuangan
kemerdekaan. Bahwa nilai-nilai haji dari tanah suci menjadi spirit perjuangan melawan penjajahan kafir
(Belanda).

Kita menginginkan hal serupa, bahwa para jamaah nantinya bisa membawa nilai-nilai spirit keislaman
untuk menjadikan masyarakat yang berperadaban akhlak mulya dan selalu mendapat karunia dari Allah
SWT.
Redaktur: Heri Ruslan
Empat Tipe Manusia di Masyarakat
Jumat, 14 September 2012, 17:42 WIB
                                                  Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

                                                  Allah SWT menciptakan manusia dan memberinya peran
                                                  yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Semua
                                                  peran tersebut merupakan pilihan manusia dalam qadar
                                                  Allah.
                                                  Setiap manusia bebas memilih dan menentukan
                                                  perannya, namun masing-masing terbatas dengan
                                                  berbagai kondisi dan ketentuan yang melingkupi
                                                  dirinya sendiri.

                                                    Di dalam kehidupan masyarakat, ditinjau dari peranan
dan sifatnya, pribadi manusia paling tidak dapat dikategorikan menjadi empat tipe/kelompok:

Pertama, tipe orang-orang saleh (shalihun). Mereka ini rajin beribadah dengan mendirikan shalat, zakat,
puasa, haji dan ibadah sunah lainnya. Mereka memperoleh kebaikan yang agung dan berkah dunia-akhirat
atas apa yang mereka lakukan.

Akan tetapi orang-orang di sekitar mereka, termasuk para pendosa dan ahli maksiat tidak mendapatkan
manfaat dan tuntunan langsung dari orang-orang yang saleh secara pribadi ini karena kebaikan mereka
hanya terbatas bagi dirinya sendiri.

Allah SWT berfirman, "Dan kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya
ada orang-orang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian." (QS. Al-A'raf: 168).

Kedua, tipe orang-orang yang membangun agama (muslihun). Mereka ini adalah kelompok orang saleh
yang tergerak hatinya untuk menegakkan agama Allah dengan memperbaiki lingkungan sekitar dan orang
lain di luar dirinya agar mereka berada dalam ketaatan kepada-Nya.

Mereka ini memperoleh tempat mulia di sisi-Nya dengan berbagai daya dan upaya serta dakwah yang
dilakukannya. Para pendosa dan ahli maksiyat memperoleh manfaat dari kelompok ini sehingga mereka
mengetahui jalan untuk bertobat, petunjuk guna memperbaiki diri dan jalan terang menuju Allah SWT.

Sedangkan orang-orang mukmin di sekitarnya juga mendapatkan manfaat dari kelompok ini karena
keimanan mereka bertambah dan dapat mengupayakan diri menjadi orang yang lebih bertakwa dan
mendapat tambahan petunjuk-Nya. "Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri
secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Huud: 117).

Ketiga, tipe orang-orang yang rusak dan ahli maksiyat (fasidun). Mereka ini gemar melampaui batasan
dan larangan Allah, meninggalkan kewajiban dan perintah Allah serta tidak dapat mencegah perbuatan
yang melanggar agama. Jika kelompok ini berkehendak untuk bertaubat meninggalkan semua
kemaksiatan, maka mereka akan dekat kembali kepada kebaikan dan ampunan dari Allah SWT.

Keempat, tipe perusak (mufsidun). Mereka ini tipe yang paling berbahaya dalam masyarakat. Mereka
bukan hanya rusak secara moral, melainkan juga senantiasa berbuat kerusakan di muka bumi untuk
kepentingan diri dan kelompoknya.

Mereka juga menyebabkan orang lain melakukan kemaksiatan dan dalam perangkap setan serta bahagia
jika kemungkaran tersebar dalam kehidupan masyarakat. (QS. Al-Kahfi: 94).

Dari keempat tipe tersebut, tipe orang yang membangun merupakan tipe terbaik dan tipe perusak
merupakan tipe terburuk. Kedua tipe itulah yang saling berhadapan di dalam realitas kehidupan dan di
situlah peran para penyeru Allah dan tugas mereka untuk memperbaiki kualitas kehidupan. Wallahua'lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
Nilai Spiritual Shalat Istisqa
Sabtu, 15 September 2012, 18:01 WIB
                                                          Oleh: Muhbib Abdul Wahab

                                                          Kemarau panjang tahun ini dirasakan sangat panjang
                                                          oleh mayoritas rakyat Indonesia. Banyak wilayah di
                                                          Tanah Air yang mengalami kekeringan, kesulitan
                                                          mendapat air bersih, gagal panen, dan kebakaran hutan.

                                                          Cuaca yang sangat ekstrem ini tidak hanya
                                                          “mengganggu” ketahanan pangan nasional, tetapi juga
                                                          mengakibatkan melambungnya harga kebutuhan pokok.

                                                        Di sejumlah wilayah, banyak warga yang terpaksa harus
berjalan kaki berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan satu jerigen atau satu ember air bersih.

Islam merupakan agama rahmat bagi semesta raya (rahmatan lil alamin). Pada saat kita dilanda kemarau panjang,
kesulitan air (sumur, waduk, dan sungai yang mulai mengering) karena hujan telah lama tidak turun, Islam
mengajarkan umatnya untuk mendirikan shalat istisqa (meminta hujan). Nabi Muhammad SAW sangat
menganjurkan (sunah muakkadah) umatnya untuk melaksanakan shalat istisqa dalam situasi dan kondisi seperti
sekarang ini.

Sejatinya, shalat istisqa merupakan ibadah ritual yang mengajarkan pentingnya berdoa, memohon pertolongan,
dan meminta perlindungan ( iltija’) kepada Allah SWT. Kita diingatkan untuk bersandar dan menggantungkan
segala sesuatunya hanya kepada Allah sebagai penguasa alam semesta.

Shalat istisqa merupakan salah satu upaya (usaha) spiritual untuk mendapatkan “siraman air” dari langit. Shalat
istisqa juga untuk menjauhkan kita dari sifat sombong dan putus asa.

Salah satu doa yang diajarkan Nabi SAW dalam khotbah sebelum shalat istisqa adalah Allahumma isqina al-ghaitsa
wa la taj’alna min al-qanithin (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan dan janganlah Engkau jadikan kami
termasuk orang-orang yang berputus harapan).

Setidaknya, ada lima nilai spiritual dalam shalat istisqa. Pertama, shalat istisqa merupakan bentuk ittiba’
(mengikuti dengan penuh kesadaran hati) akan sunah Nabi SAW. Melalui shalat istisqa, kita diajarkan untuk
memohon langsung kepada Allah SWT.

Kedua, shalat istisqa merupakan realisasi pembuktian iman terhadap kemahabesaran dan kemurahan Allah
melalui doa. Melalui shalat istisqa kita dididik untuk meyakini sepenuh hati bahwa Allah itu mendengar keluh
kesah dan kesulitan kita. (QS Al-Baqarah [2]: 186).

Ketiga, shalat istisqa mendidik kita semua untuk memperbanyak zikir kepada Allah, beristighfar atas segala dosa,
sekaligus bertawakal kepada-Nya setelah mengoptimalkan usaha. Dengan shalat istisqa, kita mengharapkan
kemurahan dan kemahakuasaan Allah dalam menurunkan hujan.

Keempat, shalat istisqa mendidik kita untuk bersabar dan tidak mudah berputus asa. Kelima, shalat istisqa juga
merupakan pembuka pintu rahmat dari Allah SWT. Rahmat berupa air hujan yang kita mohonkan itu bukan hanya
untuk keperluan hidup manusia, melainkan juga untuk binatang dan makh luk lainnya.

“Ya Allah, siramlah (turunkan hujan) untuk hamba-hamba-Mu dan binatang-binatang- Mu, tebarkanlah rahmat-
Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang mati ini (akibat kekeringan).” Inilah doa Rasulullah SAW sebagaimana
diriwayatkan oleh Malik dan Abu Daud.



Redaktur: Chairul Akhmad
Kisah Menakjubkan dari Buah Kesabaran
Minggu, 16 September 2012, 05:43 WIB
                                                    REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Hannan Putra

                                                    Sedikit sekali orang yang bersabar dalam menghadapi
                                                    musibah dan memiliki keteguhan dalam menghadapi
                                                    penderitaan.

                                                    Andaikata seseorang memiliki kesabaran dan keteguhan,
                                                    maka dia akan cepat mendapatkan jalan keluar dari
                                                    musibah tersebut dan akan dekat kepada kebahagiaan.

                                                    Seorang sekretaris Abu Ja’far Al Mansur pernah dipenjara
selama 15 tahun.

Dia pernah berputus asa dalam mencari jalan keluarnya. Kemudian dia menulis surat kepada teman-temannya
untuk mengadukan lamanya penahanan dan semakin berkurangnya kesabaran.

Ternyata ia memperoleh jawabannya sebagai berikut, “Wahai Abu Ayub bersabarlah engkau dengan kesabaran
yang dapat menghilangkan penderitaan. Jika engkau lemah dalam menghadapi musibah tersebut, maka siapa
yang dapat menghilangkannya? Sesungguhnya orang yang telah membuat pengikat, maka dia akan mengikatnya
dengan ikatan kebencian, maka engkau dapat mensiasatinya. Bersabarlah engkau, karena kesabaran itu dapat
memberikan ketenangan. Mudah-mudahan musibah tersebut segera berakhir.”

Selanjutnya Abu Ayub menjawab balasan suratnya itu, seraya dia berkata, “Engkau menyuruhku bersabar, padahal
aku telah melakukannya, dan menasehatiku (dengan mengatakan) mudah-mudahan musibah tersebut segera
berakhir, padahal aku tidak mengatakan mudah-mudahan. Dan dia menempatkan pemilik ikatan musibah (orang
yang ditahan) pada tempat yang mulia, karena dia dapat mensiasatinya.”

Sebagian temannya berkata, “Setelah kejadian tersebut, Abu Ayub tinggal dalam penjara hanya satu hari,
kemudian dia dibebaskan secara terhormat.”



Redaktur: Heri Ruslan
Memetik Pelajaran Masa Lalu
Minggu, 16 September 2012, 12:01 WIB
                                                     Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

                                                     Allah SWT memerintahkan kita untuk memetik pelajaran
                                                     dari peristiwa yang telah terjadi melalui firman-Nya, "Maka
                                                     ambillah pelajaran wahai orang-orang yang memiliki
                                                     pandangan." (QS. Al-Hasyr: 2).

                                                  Orang-orang yang belajar dari kesalahan masa lalu, akan
                                                  mendapatkan pencerahan di masa mendatang. Prinsip ini
                                                  terjadi dalam kehidupan para Rasul yang diutus Allah ke
                                                  bumi. Semula, para utusan tersebut menggunakan doa
pamungkasnya dalam menyelesaikan aneka krisis berat yang dihadapi.

Nabi Nuh AS misalnya, menggunakan doa pamungkasnya untuk menenggelamkan kaum yang menentangnya.
Nabi Musa AS memanfaatkan doa pamungkasnya untuk menyelamatkan diri dari kejaran Firaun beserta bala
tentaranya.

Namun memasuki era Ibrahim AS, doa pamungkas para Rasul tidak lagi dipergunakan untuk membinasakan para
penentang, namun diserahkan urusannya kepada Allah SWT.

Perhatikanlah rintihan Ibrahim AS kepada Tuhannya pada saat ia mengalami kesulitan yang sangat berat, "Ya
Tuhan, berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia. Barang siapa mengikutiku, maka orang itu
termasuk golonganku, dan barang siapa mendurhakaiku, maka Engkau Mahapengampun, Mahapenyayang." (QS.
Ibrahim: 36).

Perhatikan pula rintihan Nabi Isa AS dalam sebuah doanya, "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya
mereka itu adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang
Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Ma'idah: 118).

Dua ayat terakhir memberikan kesan mendalam bagi Rasulullah SAW, sehingga pada saat membacanya beliau
menangis tersedu seraya berkata, "Umatku! Umatku! Umatku".

Rasul SAW mengulang bacaan kedua ayat tersebut dan kembali air matanya mengucur, sehingga Allah SWT
mengutus Jibril untuk menanyakan gerangan apa yang terjadi.

Setelah Jibril datang dan bertanya kepada Rasulullah SAW, beliau menjawab, "Umatku! Umatku! Umatku! Ibrahim
AS mengharapkan kebaikan bagi umatnya dan berdoa melalui ayat tersebut. Demikian pula Nabi Isa AS.
Bagaimanakah dengan umatku?" kata Rasulullah SAW sambil tetap menangis.

Jibril kemudian memberitahukan perihal tersebut kepada Allah SWT dan Allah memerintahkannya, "Wahai Jibril,
pergilah lagi kepada Muhammad dan katakan kepadanya, ‘Sungguh kami akan memuaskan umatmu dan tidak
akan menyakitinya untuk selamanya’.”

Demikianlah gambaran mengenai beban dan kesulitan yang dipikul Rasulullah SAW dalam upaya memelihara
kepentingan umat. Sehingga di dalam menyelesaikannya beliau telah mengambil pelajaran dari para rasul
pendahulunya dan berpikir demi dunia dan akhirat serta tidak ingin sekedar menyerahkan urusannya kepada
Tuhan, melainkan berupaya mendapat jaminan-Nya bahwa umatnya tidak akan mengalami kehancuran yang
besar dan dahsyat.

Oleh karenanya, ketika para sahabat di antaranya Umar bin Khatab bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai
mengapa beliau tidak menggunakan doa pamungkasnya di dunia, beliau menjawab dengan jawaban yang impresif,
"Aku menggunakan doaku (doa pamungkas) untuk kepentingan pemberian pertolongan (syafaat) bagi umatku,
nanti pada hari kiamat.”

Masya Allah, betapa jauh cara berpikir Rasulullah SAW. Cara berpikir yang didasari cinta murni kepada umatnya.
Cinta kemanusiaan sejati yang jauh dari kekerasan. Cinta kemanusiaan murni yang membentengi kepentingan
manusia dan menyelamatkan jiwa. Wallahu a'lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
Nabi dan Syuhada pun Cemburu
Senin, 17 September 2012, 06:01 WIB
                                               Oleh: Ina Salma Febriani

                                               Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya,
                                               di antara hamba-hamba Allah ada yang bukan nabi, tetapi para
                                               nabi dan syuhada cemburu terhadap mereka.”

                                               Ada sahabat yang bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasul?
                                               Semoga kami bisa turut mencintai mereka.”

Rasulullah pun menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah tanpa ada hubungan
keluarga dan nasab di antara mereka. Wajah-wajah mereka bagaikan cahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya.
Mereka tidak takut di saat manusia takut, dan mereka tidak sedih di saat manusia sedih.”

Kemudian Rasul pun membacakan ayat, ‘Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati’,” (QS. Yunus: 62).

Cinta dan benci adalah dua sifat fitrah yang senantiasa melekat dalam diri manusia, kapan pun dan di mana pun ia
berada. Kedua sifat tersebut merupakan karunia Allah SWT sejak manusia diciptakan. Cinta tidak selalu bermuatan
positif; demikian pula sebaliknya, benci tidak selalu bermuatan negatif, seperti yang dipahami dan dianggap
sebagian besar orang.

Dalam Islam, kedua kata yang berlawanan arti ini bisa sama-sama positif apabila disalurkan sesuai dengan aturan
Allah. Bahkan, cinta dan benci bisa menjadi ladang amal saleh kalau dikelola dengan baik dan sesuai dengan
aturan Islam. Sebaliknya, keduanya pun bisa menjadi bumerang buat kita, saat kita menyalurkan kedua perasaan
itu di luar syariat yang telah ditetapkan Allah.

Menurut Syekh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, cinta ialah perasaan sayang yang disertai mahabbah. Sedangkan benci ialah
kebalikannya. Seseorang bisa saja mencintai orang lain dengan perspektif abstrak; yaitu ‘cinta’ dengan tutur
katanya yang sopan, budi pekertinya, tata krama, juga etika bersikap terhadap sesama.

Sebaliknya, banyak pula seseorang yang mencintai pasangannya atau saudaranya karena faktor duniawi semata,
entah itu kecantikan, jabatan, kekayaan, materi yang melimpah, yang semuanya sungguh-sungguh bersifat tidak
kekal alias fana. Jika demikian adanya, siapakah yang harus kita cintai?

Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga hal yang siapa saja memilikinya, maka akan merasakan lezatnya keimanan.
Pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada apapun. Kedua, mencintai karena Allah. Ketiga, enggannya
untuk kembali bermaksiat, seperti tidak maunya ia dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari hadis tersebut, sekiranya ada benang merah yang dapat kita ambil bahwa yang layak kita cintai ialah orang-
orang yang jua mencintai Allah, yang melaksanakan syariat Allah, yang ikhlas beribadah di jalan Allah. Sedangkan
orang yang patut kita benci ialah—orang yang kafir terhadap Allah.

Dari kesimpulan tersebut, maka akan lahirlah keikhlasan hati untuk mencintai dan membenci karena Allah serta
keistiqamahan diri untuk tidak berbuat maksiat baik kepada Allah juga enggan menyakiti sesama. Pada akhirnya,
mencintai karena Allah, akan menghasilkan sebuah doa yang tulus, agar orang-orang yang kita cintai karena Allah,
senantiasa berada di jalan dan petunjuk Allah.

Sebab, jika kita mencintai seseorang karena perkara duniawi yang sifatnya sementara, maka Allah pun akan
melepaskan ikatan tersebut. Dia balikkan hati-hati yang tadinya saling mencintai, jadi memusuhi—karena
kekeliruannya sendiri.

Beda halnya dengan orang yang mencintai karena Allah, hatinya selalu tenang jika berada dengan orang yang ia
cinta, sebab yang dicinta senantiasa melakukan ibadah mahdzah dan ghairu mahdzah—sehingga, apa pun yang
terjadi—perpisahan maut sekalipun, ia akan tetap ikhlas dan yakin bahwa Allah akan mempertemukan dan
mengumpulkannya bersama insan dan orang-orang yang ia cintai selama di dunia. Seperti sabda Rasulullah di atas,
hingga para nabi dan syuhada pun cemburu. Wallahu a’lam.


Redaktur: Chairul Akhmad
Dihantui Bayang-Bayang
Selasa, 18 September 2012, 09:20 WIB
                                              Oleh: KH Yunahar Ilyas

                                              Siang itu, Wahsyi begitu bersemangat dan ceria. Senyum terus
                                              tersungging di bibirnya. Janji Hindun, istri Abu Sufyan, selalu
                                              terngiang di telinganya, “Wahsyi, jika kau berhasil membunuh
                                              Hamzah, kau akan menjadi orang merdeka, sama dengan kami.”

                                              Wahsyi membayangkan, alangkah indah hidupnya menjadi orang
                                              merdeka. Dia dapat pergi, bekerja, istirahat semaunya. Tidak
                                              seperti sekarang, semua serba tidak bebas.

Sebagai budak, dia harus patuh, apa pun keinginan sang majikan. Senyum Wahsyi semakin melebar tatkala
membayangkan dirinya suatu hari nanti duduk bersama di qahwaji dengan para bang sawan Quraisy seperti Abu
Sufyan.

Hindun sangat dendam pada Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW. Ayah dan saudara laki-lakinya gugur
di tangan Hamzah sewaktu Perang Badar pada tahun kedua Hijriah. Makkah sedang mempersiapkan pasukan tiga
kali lebih besar daripada pasukan Perang Badar untuk menyerang Madinah.

Kekalahan dalam Perang Badar membuat kaum Quraisy terpukul. Lebih-lebih Hindun, dendamnya sangat
membara. Dia berharap dendamnya dapat dibalaskan oleh Wahsyi.

Wahsyi maju ke medan Perang Uhud dengan konsentrasi penuh mencari Hamzah. Dia ikuti ke manapun Hamzah
bergerak. Hamzah tidak menyadari hal itu. Hingga akhirnya, Wahsyi melemparkan tombaknya tepat mengenai
Hamzah. Paman Nabi yang gagah perkasa itu pun tersungkur, gugur sebagai syahid. Wahsyi puas. Kemerdekaan
sudah di depan mata.

Akan tetapi, begitu kembali ke Mak kah, dia kecewa. Memang tuannya menepati janji. Dia dibebaskan dari
perbudakan. Tetapi, harapannya untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan para bangsawan
Quraisy tidak menjadi kenyataan. Pandangan terhadap dirinya tidak berubah, dia dianggap masih kelompok kelas
dua.

Sementara itu, keadaan terus memburuk bagi pihak Quraisy. Serangan tentara sekutu dalam Perang Ahzab gagal
total. Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslim menguasai Makkah. Wahsyi ketakutan. Makkah sudah jatuh ke
tangan kaum Muslim. Wahsyi khawatir Rasul SAW akan balas dendam. Oleh sebab itu, dia segera melarikan diri ke
Thaif.

Di kota yang berhawa sejuk itu, Wahsyi tetap ketakutan. Dia ingin menyeberang ke Habasyah, melarikan diri jauh
dari Muhammad. Seseorang teman menasihatinya, “Wahsyi, sebenarnya engkau hanya dikejar oleh dosamu
sendiri. Ke manapun engkau lari, bayang-bayangmu akan selalu mengikutimu. Lebih baik engkau pergi menemui
Muhammad, ucapkan dua kalimat syahadat dan minta maaf kepada beliau.”

Wahsyi segera menemui Nabi SAW dan menyatakan keislamannya seraya meminta maaf telah membunuh
Hamzah. Nabi meminta Wahsyi menceritakan detail apa yang dilakukan terhadap pamannya. Nabi tidak dapat
menyembunyikan kedukaannya.

Nabi tidak akan membalas dendam. Beliau hanya meminta Wahsyi tidak memperlihatkan wajahnya di hadapan
Nabi. Wahsyi tetap merasa bersalah, sampai kemudian pada zaman kekhalifahan Abu Bakar, dia membunuh
Musailamah Al-Kadzab, yang mengaku sebagai nabi dalam Perang Riddah. Setelah itu Wahsyi tenang, utangnya
membunuh pahlawan Islam terbayar dengan membunuh nabi palsu itu.


Redaktur: Chairul Akhmad
Cinta Kaum Dhuafa kepada Rasulullah
Selasa, 18 September 2012, 23:59 WIB
                                               Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA
                                               Menukil kisah dari Syekh Ahmad Abdul Rahim Abdul Bar dalam
                                               Ceramah Ramadhan Di Hadapan Raja Maroko (Durus Hasaniyah)
                                               dikatakan bahwasanya pada suatu malam, seorang perempuan
                                               tua menyenandungkan sebuah syair di sepertiga malam pada
                                               masa Khalifah Umar bin Khathab RA.
                                               Perempuan tua itu hidup sendirian dan tidak lagi memiliki sanak
                                               saudara di rumahnya. Umar bin Khathab yang sedang
                                               mengadakan inspeksi malam itu, melihat cahaya yang masih
                                               menyala dari rumah tersebut.
Umar mencoba mendekat dan sayup-sayup terdengar senandung syair merdu dari penghuni rumah itu. Umar
penasaran akan bait-bait syair yang dilantunkan dan mendengarkannya dengan seksama:

Kepada Muhammad terlimpahkan doa kebaikan
  Penghias orang-orang baik dan tuan orang-orang terpilih
Semoga rahmat senantiasa terlimpah kepadanya dari orang-orang baik lagi suci
  Sungguh engkau telah menjadi panutan yang menangis dalam kesepian
Aduhai betapa rambutku terus memanjang
  Dapatkah aku berkumpul dengannya yang menjadi kekasihku di rumah (akhirat)

Umar RA terperanjat mendengar lantunan syair indah ini yang tiba-tiba terasa telah melapangkan dadanya. Ia lalu
duduk di samping pintu rumah tersebut dan mendengarkan kembali lantunan syair yang didendangkan. Tidak
terasa, tiba-tiba Umar meneteskan air mata memaknai rangkaian syair kesedihan yang sekaligus mengandung doa
dan harapan tersebut.

Kepada Muhammad terlimpahkan doa kebaikan
  Penghias orang-orang baik dan tuan orang-orang terpilih

Penggunaan rangkaian huruf "ta" dan "ha" bertasdid (ketat) dan "ta" sukun dan "ha" bertasdid serta huruf-huruf
yang dipanjangkan dalam syair Arab tersebut merupakan aliansi terbuka yang merefleksikan gabungan antara
kesedihan hati dan kegembiraan.
Untaian syair tersebut berbeda dengan kata-kata Istri Firaun, yang bersedih di bawah ancaman cambuk dan bunga
api, karena paduan "tasydid, huruf "ta", dan "ha" yang terdapat di dalamnya merupakan aliansi tertutup, yaitu
aliansi kesedihan.
Istri Firaun berkata, "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan
selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (QS. At-Tahrim:
11).

Umar yang tak kuasa menahan tangis terpaksa berkata kepada perempuan tua itu di depan pintunya, "Teruskan!
Teruskan alunan syairmu, wahai saudariku".

Perempuan tua itu bertanya, "Siapa di situ?"

Umar menjawab, "Ini Umar bin Khathab, Amirul Mukminin.”
Perempuan tua itu melanjutkan pertanyaannya, "Apa yang Engkau inginkan?"
Jawab Umar, "Aku mendengar syair yang engkau lantunkan yang memuji dan mendoakan Rasulullah SAW,
masukkanlah nama Umar di dalamnya, jangan lupa Umar di dalam syair tersebut."
Lantas perempuan tua itu mengulang syairnya dan memasukkan nama Umar bin Khathab RA di pengujung
syairnya dengan menyatakan:

Dapatkah aku berkumpul dengannya yang menjadi kekasihku di rumah (akhirat)
  Dan Umar, berilah ampunan-mu wahai Tuhan Yang Mahapengampun

Ternyata lantunan syair tersebut bukan saja melapangkan dada Umar bin Khathab dan membuatnya terkesima,
melainkan menjadikan perempuan tua itu dapat menggembirakannya dari kesedihan; membebaskannya dari
keterasingan kesendirian; mendekatkannya pada pribadi yang dicintainya (Rasulullah SAW); menyelamatkannya
dari pikiran buruk setan, menyibukkan dirinya dalam kebaikan; dan mendekatkannya pada ketaatan dan rida
Tuhan. Wallahu a'lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
Hakikat Menyelami Nikmat Allah
Rabu, 19 September 2012, 17:42 WIB
                                                    Oleh: Makmun Nawawi

                                                    Dikisahkan, suatu hari di sebuah negeri, matahari tidak terbit.
                                                    Para petani bangun pagi-pagi agar bisa berangkat ke sawah
                                                    dan ladangnya, namun keadaan gelap gulita.

                                                    Para pegawai dan pekerja pun demikian, bangun sejak awal
                                                    agar mereka bisa berangkat ke tempat tugasnya. Namun,
                                                    kegelapan benar-benar pekat.

Hal yang sama juga menimpa pelajar dan mahasiswa di mana mereka tidak bisa berangkat ke tempat studinya
karena gelap begitu mencekam.

Sepanjang hari itu, semua orang tidak ada yang melakukan aktivitas. Mereka semua menganggur dan kehidupan
pun terhenti. Keadaan benar-benar chaos dan kacau balau. Bayi-bayi, tubuhnya menggigil dan lemas karena
kedinginan. Kecemasan dan ketakutan menghantui semua orang.

Begitu tiba malam hari, bulan pun tidak tampak! Orang-orang pun semuanya berangkat ke tempat ibadahnya,
meneriakkan selawat dan menghamburkan doa. Mereka berteriak histeris seraya merunduk berdoa agar matahari
bisa kembali bersinar. Malam itu tidak ada seorang pun yang bisa memejamkan mata.

Keesokan harinya, saat pagi menjelang, ternyata matahari kembali bersinar dari orbitnya. Orang-orang pun saling
bersahutan mengekspresikan kegirangan yang tiada terperi. Sambil mengangkat tangan ke langit, mereka pun tak
henti-hentinya menggemakan puji syukur kepada Allah, seraya saling memberikan ucapan selamat satu sama lain
di antara mereka.

Kemudian, salah seorang bijak bestari di negeri itu pun berujar, “Mengapa kalian hanya bersyukur kepada Allah
lantaran terbitnya matahari di hari ini saja? Bukankah matahari itu bersinar setiap pagi (hari)? Bukankah kalian
tahu kalau kalian sudah mereguk beragam nikmat Allah sepanjang masa?”

Itulah sebagian watak asli sekaligus kealpaan dan kelalaian manusia ketika mereka didera oleh berbagai macam
kesulitan dan kepanikan, baru mereka kembali pada Allah (An-Nahl [16]: 53), seraya mengakui nikmat-Nya. Itu
pun hanya terhadap sebagian kecil nikmat, padahal sudah teramat banyak nikmat Allah yang dicurahkan padanya
(Ibrahim [14]: 32-34), yang tanpa disadarinya.

Kita baru bisa menyelami nikmat Allah jika bertalian dengan hal-hal material atau yang kasat mata, misalnya,
diberikan harta melimpah, jabatan dan posisi yang enak, terbebas dari kecelakaan, lulus dalam testing sekolah
atau pekerjaan, dan pendamping atau pasangan hidup yang setia.

Padahal, nikmat Allah itu terus dikucurkan pada hamba-Nya di setiap tarikan napas mereka, yang sekaligus
menjadi penopang utama kehidupan mereka, tanpa mereka sadari. Misalnya, jantung yang terus berdetak, napas
yang terus menghirup udara bebas, mata yang bisa menatap, mulut yang bisa bicara, hidung yang bisa mengendus
rupa-rupa aroma, kuping yang bisa mendengar, kulit yang bisa merasakan dingin atau panas, kita bisa tidur,
terjaga, jalan ke mana suka, dan seterusnya.

Tidak cukupkah kita dengan gugahan Allah yang berkali-kali dalam Surah Ar-Rahman, “Maka nikmat Rabb kamu
yang manakah yang kamu dustakan?”

Maka, betapa lancungnya dan tidak etis sekali jika kita hanya mau taat dan beribadah kepada Allah di kala kita
didera kesulitan dan menyimpan segudang keinginan.


Redaktur: Chairul Akhmad
Hadapi Cercaan dengan Shalawat
Kamis, 20 September 2012, 14:24 WIB
                                               Oleh: Ina Salma Febriani

                                               Entah yang sudah ke berapa kalinya, umat Islam kembali
                                               menghadapi cobaan melalui penghinaan pada Rasulullah.

                                               Dicerca, dihina, dilecehkan, direndahkan, bahkan tindak kekerasan
                                               fisik dan verbal sekali pun adalah makanan sehari-hari Rasulullah di
                                               awal dakwah beliau.

Sebenarnya ada faktor lain yang menyebabkan mereka melakukan penghinaan tersebut—bukan sekadar benci
atau dendam kesumat. Tapi lebih dari itu, mereka sangat tahu betapa mulianya Rasulullah. Karena sangat
mengagumi Rasulullah, mereka tidak dapat mengekspresikan kekaguman tersebut. Maka dapat dimaklumi
mereka berbuat demikian.

Rasulullah SAW pun demikian, selalu membalas kejahatan dengan pengungkapan ampunan pada Tuhan, karena
kuffar Quraisy ‘belum tahu’ hakikat kebenaran. Rasulullah hanya berdoa, “Maafkan mereka ya Allah, karena
ketidaktahuan mereka.”

Ketidaktahuan itu muncul salah satunya karena di dalam hati mereka ada ‘penyakit’. Penyakit itu timbul karena
mereka yang ingkar dan dengki sehingga Allah mengunci hati mereka dan sulit menerima kebenaran. “Dalam hati
mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit mereka dengan apa yang mereka dustakan,” (QS Al-
Baqarah: 10).

Dari keingkaran tersebut, lahirlah sebuah godaan untuk mencerca, menghina dan melecehkan pemeluk agama
lain, motifnya memang berbeda-beda. Ada yang karena tidak suka bumi Allah ini dipenuhi oleh pemeluk Islam
yang kian hari makin banyak, ada pula yang ingin menghancurkan persatuan umat Islam yang satu dengan yang
lainnya.

Apa pun motif terselubung dari fenomena ‘pelecehan’ ini, Rasulullah hanya menganjurkan untuk melawan
perbuatan oknum yang tidak bertanggung jawab itu dengan pembuktian keimanan. Buktikan bahwa sedahsyat
apa pun agama, Nabi, ajaran Allah ini dihina, kita tetap teguh dan bersatu. Karena memang, jalan anarkistis justru
lebih merugikan umat Islam itu sendiri.

Dengan peristiwa ini, mungkin kita bisa memetik hikmah, antara lain, teguhkan dan kuatkan keimanan dan
persatuan kita di antara sesama umat Muslim—sebab sampai kapan pun, non-Muslim tidak akan pernah ridha
dengan agama Islam, hingga kita mengikuti kepercayaan mereka.

Hal ini telah Allah firmankan dalam Surah Al-Baqarah ayat 120, “Dan tidak akan pernah ridha kepadamu
(Muhammad) orang-orang Yahudi maupun Nasrani, hingga engkau mengikuti agama mereka…”

Kedua, biarlah Allah bertindak sesuai dengan kehendaknya, sebab Allah Mahamenghakimi dan Menghukumi
setiap insan yang berdosa, jika tidak di dunia—maka siksaan tersebut Allah tangguhkan di hari Kiamat kelak, saat
dimana kuffar memohon, memelas, meminta, mengemis, agar siksaan nan pedih dihilangkan darinya.

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. Mereka
berdoa, “Ya Allah, lenyapkanlah kami dari azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman. ‘Bagaimanakah mereka
dapat menerima peringatan, padahal mereka telah datang kepada mereka Rasul yang memberi peringatan
kemudian mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata, ‘Dia adalah penerima ajaran dari orang dan ia
adalah orang gila. Sungguh, jika Kami lenyapkan siksaan itu sebentar saja, pasti mereka akan (kembali) ingkar’.”
(QS Ad-Dukhan: 10-15)

Ketiga, rutinkan diri memberikan ‘hadiah’ untuk Rasulullah SAW dengan bershalawat kepadanya. “Sungguh, Allah
dan para malaikat bershalawat untuk Nabi, wahai orang yang beriman, bershalawatlah pada (Nabi) dan mohonlah
keselamatan dengan keselamatan sesungguhnya.” (QS Al-Ahzab: 56). Wallahu a’lam.


Redaktur: Chairul Akhmad
Berkah Basmalah
Jumat, 21 September 2012, 19:01 WIB
                                             Oleh: Moch Hisyam

                                             Dalam kitab “An-Nawadir”, karya Ahmad Syihabudin bin Salamah
                                             Al-Qalyubiy dikisahkan, ada seorang Yahudi yang mencintai seorang
                                             wanita sampai tergila-gila.

                                             Akibatnya, ia merasa makan dan minum tak enak serta tidur tak
                                             nyeyak. Akhirnya, ia menemui Atha’ Al-Akbar untuk menanyakan
                                             jalan keluar atas kesulitan yang dihadapinya itu.

Atha’ lantas menuliskan kalimat basmalah (Bismillahir-rahmanir-rahim) di sehelai kertas, lalu berkata kepadanya.
“Bacalah ini, mudah-mudahan Allah SWT melalaikanmu dari mengingat wanita itu serta mengaruniakan wanita itu
kepadamu.”

Setelah tulisan itu dibacanya, si Yahudi berkata, “Wahai Atha’, aku telah merasakan manisnya iman dan telah
bersinar cahaya di dalam kalbuku hingga sekarang aku telah melupakan wanita itu. Ajarkanlah Islam kepadaku.”

Maka, Atha’ mengajarkan tentang Islam kepadanya. Sebab, keberkahan basmalah itu, ia pun masuk Islam.

Keislaman orang Yahudi itu terdengar oleh wanita yang dahulu disenanginya. Lantas wanita itu datang menemui
Atha’ dan berkata. “Ya Imam Al-Muslimin, saya adalah wanita yang disebutkan oleh Yahudi yang masuk Islam itu.
Semalam saya bermimpi didatangi oleh seseorang dan orang itu berkata kepada saya, ‘Jika anda ingin melihat
tempat anda di dalam surga maka menghadaplah kepada Atha’, karena ia akan memperlihatkannya kepada anda.’
Nah, sekarang aku berada di hadapan Tuan, maka katakanlah kepadaku, di mana surga itu?”

Atha’ menjawab, “Jika anda menginginkan surga maka anda harus membuka pintunya terlebih dahulu, baru
memasukinya.”

Wanita itu bertanya, “Bagaimana aku dapat membuka pintunya?”

Jawab Atha’, “Ucapkanlah Bismillahir- rahmanir-rahim.”

Setelah wanita itu membaca basmalah, ia lalu berkata, “Wahai Atha’, kurasakan ada seberkas cahaya bersinar
dalam kalbuku dan kerajaan Allah dapat kulihat. Ajarkanlah Islam kepadaku.”

Atha’ mengajarkan Islam kepadanya. Berkat basmalah, wanita itu masuk Islam. Lalu, ia pulang kembali ke
rumahnya. Pada malam harinya ketika tidur, ia bermimpi seakan-akan masuk ke surga, menyaksikan istana dan
kubah di dalamnya. Di salah satu kubah itu ada tulisan; Bismillahir-rahmanir-ra hiim, La ilaha illallah, Muhammad
Rasulullah.

Ketika wanita itu membaca tulisan tersebut, tiba-tiba terdengar suara berkata, “Wahai wanita, Allah telah
memberikan semua apa yang kau baca.”

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil kesimpuan bahwa basmalah merupakan salah satu dari inti kandungan
ajaran Islam. Hal demikian juga diungkapkan sejumlah ulama akan keutamaan basmalah.

Dengan membaca basmalah berarti kita menyadari akan kekuatan dan pertolongan Allah dalam setiap aktivitas
yang kita lakukan, juga menunjukkan akan kepasrahan dan ketidakberdayaan diri kita untuk melakukan suatu
kebaikan apa pun, kecuali atas pertolong an-Nya.

Dan tidak dapat menolak sekecil apa pun kemudaratan yang akan menimpa kita, kecuali atas pertolongan-Nya. Dan
inilah inti dari ajaran Islam.

Karena kandungan maknanya seperti inilah yang menjadikan kalimat basmalah mengandung keberkahan. Untuk itu,
hayatilah maknanya dan bacalah setiap kali kita hendak melakukan pekerjaan, agar kita mendapatkan keberkahan.
Wallahu a’lam.


Redaktur: Chairul Akhmad
Menjaga Persatuan
Jumat, 21 September 2012, 23:50 WIB
                                         Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

                                         Allah SWT memerintahkan kaum Muslimin untuk bersatu menjadi umat
                                         yang kuat secara akidah dan berhubungan kemanusiaan atas dasar saling
                                         tolong menolong, bekerjasama dalam kebajikan dan menjauhkan diri dari
                                         meninggalkan agama Allah (QS. Ali Imran: 103).

                                         Persatuan tersebut didasari oleh sikap persaudaraan dan saling mencintai
                                         sesama muslim. "Sungguh, orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS.
Al-Hujurat: 10).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, "Kamu sekalian tidak akan masuk surga, sehingga (kamu) beriman,
dan kamu sekalian tidak beriman hingga saling mencintai." (HR. Muslim).

Atas dasar pemikiran tersebut, Allah SWT menetapkan beberapa syariat yang menjadi wahana kaum Muslimin
bersatu dan bekerjasama, semisal kewajiban shalat Jumat, ibadah haji, dua shalat sunah hari raya dan sunahnya
shalat berjamaah.

Hal tersebut antara lain karena di dalam persatuan terdapat kekuatan dan kemuliaan. Sedangkan di dalam
perpecahan dan persengketaan tersimpan kerapuhan dan kehinaan. Melalui kemuliaan, kebenaran akan menempati
posisi tinggi di dunia dan melalui kekuatan, kebenaran akan terjaga dari ancaman para perusak dan tipu daya para
penipu.

Allah SWT juga mencintai orang-orang beriman yang berjuang di jalan-Nya dalam satu kesatuan barisan, satu
pemikiran dan ketetapan hati yang sama, di mana jiwa mereka tidak terkena perselisihan dan barisan mereka tidak
tersentuh oleh benturan (QS. As-Shaff: 4).

Rasulullah SAW sendiri sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bersabda, "Orang beriman,
yang satu dengan lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain."

Dalam riwayat lain, "Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam sikap saling mencintai, lemah lembut dan
kasih sayangnya bagaikan satu anggota badan, apabila satu dari anggotanya menderita sakit, maka anggota yang
lain merasakan (pula) sakit dan demam." (HR. Bukhari-Muslim)

Sedemikian pentingnya menjaga persatuan, Rasulullah SAW telah memperingatkan kaum Muslimin akan bahaya
perpecahan dan perselisihan serta menjelaskan akibat dari keduanya, yang berupa kerusakan dan kehancuran.
"Janganlah kalian berselisih, karena orang-orang yang berselisih sebelum kamu nyata-nyata telah mengalami
kehancuran."

Di lain pihak, Alah SWT mewajibkan kaum Muslimin untuk segera mencari jalan keluar jika terdapat perselisihan
di antara mereka agar keburukan yang terdapat di dalamnya tidak tersebar luas. Allah SWT berfirman, "Dan apabila
dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya." (QS. Al-Hujurat: 9).

Dalam konteks tersebut, Allah SWT mengisyaratkan agar kaum Muslimin menjadikan takwa sebagai pegangan
utama, sehingga rahmat Allah sampai kepada mereka, karena mereka adalah orang-orang yang gemar berbuat
kebajikan (QS. Al-Hujurat: 10).

Kaum Muslimin tidak boleh membiarkan saudaranya berada dalam perselisihan, karena sebagai orang yang
beriman tidak akan sempurna keimanannya kecuali ia dapat mencintai saudara seimannya sebagaimana mencintai
dirinya sendiri.

Membiarkan perselisihan tanpa upaya menyelesaikannya akan menghasilkan keburukan dan akibat yang
fatal bukan saja bagi mereka yang berselisih, melainkan juga bagi seluruh umat Islam.

Orang-orang beriman juga tidak boleh menyepelekan perkara yang tampak sederhana dan tidak penting dalam
pandangan mereka, karena peperangan dimulai dengan kata-kata dan besarnya api bermula dari percikan kecil.

Demikianlah pentingnya memelihara persatuan dan kesatuan sehingga ia harus menjadi perhatian bersama kaum
Muslimin sebab merupakan salah satu kewajiban di antara berbagai kewajiban lainnya. Wallahu a'lam.


Redaktur: Chairul Akhmad
Membaca Hati
Minggu, 23 September 2012, 12:57 WIB
                                            Oleh: A Riawan Amin

                                            “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia
                                            telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
                                            Tuhanmulah Yang Mahamulia.” (QS [96]: 1-3).

                                            Setiap saat kita membaca banyak hal. Yang tertulis maupun yang
                                            tersirat. Dari membaca berita sampai membaca apa yang terjadi pada
                                            lingkungan kita. Namun, sering kita lupa membaca dan menyimak apa-
apa yang berlangsung di dalam diri kita.

Manusia diciptakan dari segumpal darah ('alaq) dan di dalam dadanya ada segumpal daging (mudghah). Kata Nabi
SAW, bila segumpal daging itu baik maka baik diri keseluruhannya. Namun, bila segumpal daging itu buruk, buruk
diri keseluruhannya. Itulah yang dinamakan hati.

Karenanya, bacalah setiap saat kondisi hati kita. Sedang was-waskah dia? Sedang gelisahkah dia? Sedang takutkah
dia? Sedang dengkikah dia? Iqra, iqra, iqra! Seperti penggalan lagu religi bertajuk “Jagalah Hati”: jagalah hati
jangan kau nodai, jagalah hati pelita hidup ini.

Kita tidak mungkin menjaga sesuatu yang tidak kita sadari keberadaannya. Karena itu, bacalah hati setiap saat, agar
kita sadar akan keberadaan dan aktivitasnya. Karena kondisi hati yang baik membuat diri menjadi baik
keseluruhannya.

Jika hati kita terasa bersih, bersyukurlah. Sebaliknya, jika hati sedang terasa buruk, akuilah sebagai amanah, akuilah
sebagai ujian, akuilah bahwa perasaan negatif hanyalah ilusi. Semata-mata kita yang membuatnya. Karena tidak
selayaknya makhluk Allah yang sempurna ini (“sempurna” dalam skala dunia) mempunyai jiwa yang tidak
sempurna.

Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS [95]: 4), dan meniupkan ruh-Nya yang mulia
kepada nenek moyang kita Adam, sehingga bersujudlah seluruh alam semesta kepada Adam. Jika bersih hati kita,
itulah fitrah. Jika kotor hati kita berarti ada dusta sedang berlangsung.

Kita sedang tidak menjadi diri sejati kita. Dan, harus ada ikhtiar yang kita lakukan untuk mengembalikannya
kepada fitrahnya. Dengan zikrullah, dengan berulang-ulang meyakinkan diri bahwa perasaan-perasaan kita-baik
yang nyaman maupun tak nyaman, semuanya adalah amanah sekaligus ujian. Dan, bahwa kalau tak nyaman berarti
kita sedang tak sesuai fitrah.

Maka, perlahan-lahan tapi pasti, kita sedang meninggikan ruh kita yang mulia di atas perasaan-perasaan kita. Dan,
meninggikan kehendak Allah di atas keinginan-keinginan kita. Jika tidak, alih-alih menjadi ciptaan paling mulia,
kita justru jatuh kepada derajat binatang ternak. (QS [25]: 43-44). “Sungguh berbahagia orang yang menyucikannya
(jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS [91]: 9-10).

Jika kita terus-menerus membaca hati kita dan membersihkannya, insya Allah kita akan sampai pada derajat jiwa
yang muthmainnah dan kelak kembali menghadap Allah dalam keadaan puas dan diridai-Nya. “Wahai jiwa yang
tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya, maka masuklah ke dalam golongan
hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS [89]: 27-30). Bacalah alam semesta, bacalah segala
yang baik-baik. Agar mulia, jangan pernah lupa setiap waktu, bacalah hati!

Redaktur: Chairul Akhmad
Tentang Kasyaf (2)
Senin, 24 September 2012, 06:15 WIB
                                             Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar*

                                             Abu Bakar bertanya, “Demi Allah sesungguhnya kami pun
                                             mengalami keadaan seperti itu?” Lalu, Abu Bakar berangkat hingga
                                             kami masuk ke ruangan Rasulullah, saat itu aku berkata, “Hanzalah
                                             menjadi seorang munafik wahai Rasulullah!”

                                            Beliau bertanya, “Apa yang terjadi?” Lalu, aku jawab, “Kami berada
                                            di samping engkau saat engkau menjelaskan kepada kami tentang
                                            neraka dan surga. Saat itu seolah-olah kami melihat surga dan neraka
dengan mata kepala sendiri. Namun, ketika kami keluar dari sisimu, kami tenggelam oleh urusan anak, istri, dan
hal-hal yang sia-sia, kami banyak lupa.”

Lalu, Nabi menjawab, “Demi Zat Yang Maha Menguasai jiwaku, seandainya kalian terus-menerus mengalami apa
yang kalian alami saat berada di sisiku dan terusmenerus berzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di
tempat-tempat pembaringan kalian dan di jalan-jalan yang kalian lalui. Hanya saja wahai hanzalah, itu hanya terjadi
sewaktu-waktu.” Beliau mengulang-ulangi perkataan ini tiga kali. (HR Muslim dan Tirmizi).

Dalam riwayat lain juga dijelaskan, sebagaimana diceritakan oleh Imam Bukhari dalam kitab Kitab “Jam’ul
Fawaid”. Imam Bukhari meriwayatkan dari Usaid bin Hudhair, ketika ia membaca Surah Al-Baqarah di malam hari,
sementara kudanya ditambatkan di sampingnya tiba-tiba kudanya meronta-ronta.

Ia menenangkan kudanya hingga tenang lalu melanjutkan bacaannya lagi, kembali kudanya meronta-ronta
kemudian kembali menenangkan lagi. Kejadian ini berulang tiga kali. Ia juga memperingatkan anaknya bernama
Yahya agar menjauhi kudanya agar tidak disakiti.

Usaid menengadah langit dan disaksikan ada naungan yang di dalamnya terdapat pelita besar. Ketika pagi tiba, ia
melaporkan kejadian ini kepada Nabi. Nabi berkata, ‘Bacalah terus (Alquran itu) wahai Usaid!’ diulangi tiga kali.
Aku juga menengok ke langit ternyata aku juga menemukan hal yang sama.

Nabi memberikan komentar, “Itu adalah para malaikat yang mendekati suaramu. Seandainya kamu terus membaca
(Alquran) keesokan paginya manusia akan melihat para malaikat yang tidak lagi menyembunyikan wujudnya dari
mereka.”

Ketiga hadis shahih di atas mengisyaratkan adanya penyingkapan (kasyaf), yaitu kemampuan seseorang untuk
melihat atau menyaksikan sesuatu yang bersifat gaib, seperti melihat, mendengar, atau merasakan adanya suasana
gaib. Apa yang disaksikan itu ber ada di luar kemampuan dan jangkauan akal pikiran manusia normal.

Kasyaf tidak hanya terjadi pada diri seorang nabi atau rasul yang dibekali dengan mukjizat, tetapi manusia biasa
yang mencapai maqam spiritual tertentu juga bisa menyaksikannya, walaupun sudah barang tentu, kapasitas kasyaf
tersebut berbeda dengan penyaksian yang dialami oleh para nabi atau rasul.

* Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah/Wakil Menteri Agama

Redaktur: Chairul Akhmad
Kisah Juru Damai
Senin, 24 September 2012, 06:31 WIB
                                      Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

                                      Dikisahkan bahwa orang-orang Yahudi yang menjadi musuh kaum
                                      Muslimin dan bangsa Arab sejak permulaan sejarah merasa terancam pasca
                                      bersatunya kaum Aus dan Khazraj di Madinah sejak kedatangan Rasulullah
                                      SAW.

                                     Sebagian mereka bahkan menyatakan marabahaya telah dekat jika kedua
kaum tersebut bersatu dalam kedamaian. Sebagian yang lain menyatakan tidak akan bisa hidup jika bangsa Arab
bersatu.

Hal tersebut karena peperangan antara kaum Aus dan Khazraj telah berlangsung sekitar 120 tahun, hingga
kemudian Allah melunakkan hati mereka dengan juru damai Islam, Rasulullah SAW.

Mereka berada di ujung api neraka disebabkan kemusyrikan dan kekufuran serta perselisihan di antara mereka,
sampai kemudian Allah SWT menyelamatkan mereka dengan memberikan petunjuk keimanan.

Hingga suatu ketika, salah seorang Yahudi duduk dalam satu majelis yang di dalamnya terdapat kaum Aus dan
Khazraj, seraya mengingatkan mereka pada peristiwa Bu’ats (hari terjadinya perang sengit antara Bani Aus dan
Bani Khazraj pada masa jahiliyah). Yahudi tersebut melantunkan syair-syair dengan maksud membangkitkan
kedengkian dan dendam di antara kedua kaum tersebut.

Dan tidak berselang lama, syair-syair tersebut telah berhasil memengaruhi jiwa kedua kaum, sehingga keduanya
mulai saling melakukan provokasi. Kedua kaum di Majelis tersebut bahkan sempat mengundang anggotanya untuk
bersiap-siap perang lengkap dengan senjatanya, sebagaimana yang terjadi pada masa jahiliyah.

Kemudian Rasulullah mendatangi mereka dan berkata, "Apakah kalian akan kembali ke zaman jahiliyah,
sedangkan aku berada di antara kalian?" Rasulullah SAW mengingatkan mereka bahwa orang-orang Yahudi tidak
senang melihat bangsa Arab bersatu.

Mereka menyebarkan fitnah agar bangsa Arab kembali kepada kekafiran dan berselisih sebagaimana yang terjadi
pada masa jahiliyah, sehingga kemuliaan dan kekuasaan tetap berada di tangan bangsa Yahudi.

Apa yang disampaikan Rasulullah SAW membuat kaum Aus dan Khazraj sadar dan saling menyesali perbuatan
mereka. Mereka meletakkan senjatanya sambil menangis dan berpelukan. Perdamaian antara kaum Aus dan
Khazraj tercapai dan lalu turun ayat Al-Qur'an, "Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai-berai..." (QS. Ali Imran: 103).

Betapa miripnya tahun ini dengan seribu tahun lalu, dan betapa miripnya masa kini dengan masa lalu. Demikianlah
bangsa Yahudi saat ini, tepatnya bangsa Israel atau kaum zionis di dunia, mereka meyakini bahwa tidak ada
kehidupan jika umat Islam dan bangsa Arab bersatu.

Persatuan kaum Muslimin membuat mereka tidak dapat tidur nyenyak, sehingga siang dan malam, sembunyi-
sembunyi maupun terang-terangan, mereka berupaya untuk menjadikan kaum muslimin berselisih agar mereka
mendapatkan keuntungan, kedudukan dan kekuasaan.

Maka lihatlah wahai kaum Muslimin dan bangsa Arab apa yang mereka lakukan dan mari merapatkan barisan
untuk selalu bersama dalam kesatuan serta berdoa kepada Allah SWT agar menyatukan barisan kaum Muslimin.
Maka setiap orang mukmin yang bertakwa, berpegang teguh pada agama Allah, melakukan perbuatan baik akan
menuai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Allah SWT berfirman, "Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan
pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97). Wallahu a'lam.


Redaktur: Chairul Akhmad

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:152
posted:9/27/2012
language:Malay
pages:41