Kerukunan Umat + Hikmah
Document Sample


Kerukunan antar umat beragama menurut pandangan Islam
Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna “baik” dan “damai”.
Intinya, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat”
untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran (Depdikbud, 1985:850) Bila
pemaknaan tersebut dijadikan pegangan, maka “kerukunan” adalah sesuatu yang
ideal dan didambakan oleh masyarakat manusia. Namun apabila melihat kenyataan,
ketika sejarah kehidupan manusia generasi pertama keturunan Adam yakni Qabil dan
Habil yang berselisih dan bertengkar dan berakhir dengan terbunuhnya sang adik yaitu
Habil; maka apakah dapat dikatakan bahwa masyarakat generasi pertama anak
manusia bukan masyarakat yang rukun? Apakah perselisihan dan pertengkaran yang
terjadi saat ini adalah mencontoh nenek moyang kita itu? Atau perselisihan dan
pertengkaran memang sudah sehakekat dengan kehidupan manusia sehingga
dambaan terhadap “kerukunan” itu ada karena “ketidakrukunan” itupun sudah
menjadi kodrat dalam masyarakat manusia?.
Pertanyaan seperti tersebut di atas bukan menginginkan jawaban akan tetapi hanya
untuk mengingatkan bahwa manusia itu senantiasa bergelut dengan tarikan yang
berbeda arah, antara harapan dan kenyataan, antara cita-cita dan yang tercipta.
Manusia ditakdirkan Allah Sebagai makhluk social yang membutuhkan hubungan dan
interaksi sosial dengan sesama manusia. Sebagai makhluk social, manusia
memerlukan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,
baik kebutuhan material maupun spiritual.
Ajaran Islam menganjurkan manusia untuk bekerja sama dan tolong menolong
(ta’awun) dengan sesama manusia dalam hal kebaikan. Dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan umat Islam dapat berhubungan dengan siapa saja tanpa batasan ras,
bangsa, dan agama.
A. Kerja sama intern umat beragama
Persaudaraan atau ukhuwah, merupakan salah satu ajaran yang mendapat perhatian
penting dalam islam. Al-qur’an menyebutkan kata yang mengandung arti persaudaraan
sebanyak 52 kali yang menyangkut berbagai persamaan, baik persamaan keturunan,
keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Ukhuwah yang islami dapat dibagi kedalam
empat macam,yaitu :
- Ukhuwah ’ubudiyah atau saudara sekemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah.
- Ukhuwah insaniyah (basyariyah), dalam arti seluruh umat manusia adalah
bersaudara, karena semua berasal dari ayah dan ibu yang sama;Adam dan Hawa.
- Ukhuwah wathaniyah wannasab,yaitu persaudaraan dalam keturunan dan
kebangsaan.
- Ukhuwwah fid din al islam, persaudaraan sesama muslim.
Esensi dari persaudaraan terletak pada kasih sayang yang ditampilkan bentuk
perhatian, kepedulian, hubungan yang akrab dan merasa senasib sepenanggungan.
Nabi menggambarkan hubungan persaudaraan dalam haditsnya yang artinya ”
Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti satu tubuh, apabila salah satu
anggota tubuh
terluka, maka seluruh tubuh akan merasakan demamnya. Ukhuwwah adalah
persaudaraan yang berintikan kebersamaan dan kesatuan antar sesama.
Kebersamaan di akalangan muslim dikenal dengan istilah ukhuwwah Islamiyah atau
persaudaraan yang diikat oleh kesamaan aqidah.
Persatuan dan kesatuan sebagai implementasi ajaran Islam dalam masyarakat
merupakan salah satu prinsip ajaran Islam.
Salah satu masalah yang di hadapi umat Islam sekarang ini adalah rendahnya rasa
kesatuan dan persatuan sehingga kekuatan mereka menjadi lemah.
Salah satu sebab rendahnya rasa persatuan dan kesatuan di kalangan umat Islam
adalah karena randahnya penghayatan terhadap nilai-nilai Islam.
Persatuan di kalangan muslim tampaknya belum dapat diwujudkan secara nyata.
Perbedaan kepentingan dan golongan seringkali menjadi sebab perpecahan umat.
Perpecahan itu biasanya diawali dengan adanya perbedaan pandangan di kalangan
muslim terhadap suatu fenomena. Dalam hal agama, di kalangan umat islam misalnya
seringkali terjadi perbedaan pendapat atau penafsiran mengenal sesuatu hukum yang
kemudian melahirkan berbagai pandangan atau madzhab. Perbedaan pendapat dan
penafsiran pada dasarnya merupakan fenomena yang biasa dan manusiawi, karena
itu menyikapi perbedaan pendapat itu adalah memahami berbagai penafsiran.
Untuk menghindari perpecahan di kalangan umat islam dan memantapkan ukhuwah
islamiyah para ahli menetapkan tiga konsep,yaitu :
1. Konsep tanawwul al ’ibadah (keragaman cara beribadah). Konsep ini mengakui
adanya keragaman yang dipraktekkan Nabi dalam pengamalan agama yang
mengantarkan kepada pengakuan akan kebenaran semua praktek keagamaan
selama merujuk kepada Rasulullah. Keragaman cara beribadah merupakan hasil dari
interpretasi terhadap perilaku Rasul yang ditemukan dalam riwayat (hadits).
2. Konsep al mukhtiu fi al ijtihadi lahu ajrun(yang salah dalam berijtihad pun
mendapatkan ganjaran). Konsep ini mengandung arti bahwa selama seseorang
mengikuti pendapat seorang ulama, ia tidak akan berdosa, bahkan tetap diberi
ganjaran oleh Allah , walaupun hasil ijtihad yang diamalkannya itu keliru. Di sini perlu
dicatat bahwa wewenang untuk menentukan yang benar dan salah bukan manusia,
melainkan Allah SWT yang baru akan kita ketahui di hari akhir. Kendati pun demikian,
perlu pula diperhatikan orrang yang mengemukakan ijtihad maupun orang yang
pendapatnya diikuti, haruslah orang yang memiliki otoritaskeilmuan yang
disampaikannya setelah melalui ijtihad.
3. Konsep la hukma lillah qabla ijtihadi al mujtahid (Allah belum menetapkan suatu
hukum sebelum upaya ijtihad dilakukan seorang mujtahid). Konsep ini dapat kita
pahami bahwa pada persoalan-persoalan yang belum ditetapkan hukumnya secara
pasti, baik dalam al-quran maupun sunnah Rasul, maka Allah belum menetapkan
hukumnya. Oleh karena itu umat islam,khususnya para mujtahid, dituntut untuk
menetapkannya melalui ijtihad. Hasil dari ijtihad yang dilakukan itu merupakan hukum
Allah bagi masing-masing mujtahid, walaupun hasil ijtihad itu berbeda-beda.
Ketiga konsep di atas memberikan pemahaman bahwa ajaran Islam mentolelir adanya
perbedaan dalam pemahaman maupun pengalaman. Yang mutlak itu hanyalah Allah
dan firman-fiman-Nya,sedangkan interpretasi terhadap firman-firman itu bersifat
relatif. Karena itu sangat dimungkinkan untuk terjadi perbedaan. Perbedaan tidak
harus melahirkan pertentangan dan permusuhan. Di sini konsep Islam tentang Islah
diperankan untuk menyelesaikan pertentangan yang terjadi sehingga tidak
menimbulkan permusuhan, dan apabila telah terjadi, maka islah diperankan untuk
menghilangkannya dan menyatukan kembali orang atau kelompok yang saling
bertentangan.
B. Kerja sama antar umat beragama
Memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat tidak
selalu hanya dapat diharapkan dalam kalangan masyarakat muslim. Islam dapat
diaplikasikan dalam masyarakat manapun, sebab secara esensial ia merupakan nilai
yang bersifat universal. Kendatipun dapat dipahami bahwa Isalam yang hakiki hanya
dirujukkan kepada konsep al-quran dan As-sunnah, tetapi dampak sosial yanag
lahirdari pelaksanaan ajaran isalam secara konsekwen ddapat dirasakan oleh
manusia secara keseluruhan.
Demikian pula pada tataran yang lebih luas, yaitu kehidupan antar bangsa,nilai-nilai
ajaran Islam menjadi sangat relevan untuk dilaksanakan guna menyatukan umat
manusia dalam suatu kesatuan kkebenaran dan keadilan.
Dominasi salah satu etnis atau negara merupakan pengingkaran terhadap makna
Islam, sebab ia hanya setia pada nilai kebenaran dan keadilan yang bersifat universal.
Universalisme Islam dapat dibuktikan anatara lain dari segi, dan sosiologo. Dari segi
agama, ajaran Islam menunjukkan universalisme dengan doktrin monoteisme dan
prinsip kesatuan alamnya. Selain itu tiap manusia, tanpa perbedaan diminta untuk
bersama-sama menerima satu dogma yang sederhana dan dengan itu ia termasuk ke
dalam suatu masyarakat yang homogin hanya denga tindakan yang sangat mudah
,yakni membaca syahadat. Jika ia tidak ingin masuk Islam, tidak ada paksaan dan
dalam bidang sosial ia tetap diterima dan menikmati segala macam hak kecuali yang
merugikan umat Islam.
Ditinjau dari segi sosiologi, universalisme Islam ditampakkan bahwa wahyu ditujukan
kepada semua manusia agar mereka menganut agama islam, dan dalam tingkat yang
lain ditujukan kepada umat Islam secara khususu untuk menunjukan peraturan-
peraturan yang harus mereka ikuti. Karena itu maka pembentukan masyarakat yang
terpisah merupakan suatu akibat wajar dari ajaran Al-Qur’an tanpa mengurangi
universalisme Islam.
Melihat Universalisme Islam di atas tampak bahwa esensi ajaran Islam terletak pada
penghargaan kepada kemanusiaan secara univarsal yang berpihak kepada kebenaran,
kebaikan,dan keadilan dengan mengedepankan kedamaian.;menghindari
pertentangan dan perselisian, baik ke dalam intern umat Islam maupun ke luar.
Dengan demikian tampak bahwa nilai-nilai ajaran Islam menjadi dasar bagi hubungan
antar umat manusia secara universal dengan tidak mengenal suku,bangsa dan
agama.
Hubungan antara muslim dengan penganut agama lain tidak dilarang oleh syariat
Islam, kecuali bekerja sama dalam persoalan aqidah dan ibadah. Kedua persoalan
tersebut merupakan hak intern umat Islam yang tidak boleh dicamputi pihak lain,
tetapi aspek sosial kemasyarakatan dapat bersatu dalam kerja samayang baik.
Kerja sama antar umat bergama merupakan bagian dari hubungan sosial anatar
manusia yang tidak dilarang dalam ajaran Islam. Hubungan dan kerja sama ydalam
bidang-bidang ekonomi, politik, maupun budaya tidak dilarang, bahkan dianjurkan
sepanjang berada dalam ruang lingkup kebaikan.
ref : Buku Agama & Etika
Analisis Tentang Kerukunan Umat Beragama
Oleh: Drs. Irwansyah, M.Ag
Mahasiswa Prog. S3 Agama dan Filsafat Islam
PPS IAIN Sumatera Utara – Medan
Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna “baik” dan “damai”.
Intinya, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat”
untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran (Depdikbud, 1985:850) Bila
pemaknaan tersebut dijadikan pegangan, maka “kerukunan” adalah sesuatu yang
ideal dan didambakan oleh masyarakat manusia. Namun apabila melihat kenyataan,
ketika sejarah kehidupan manusia generasi pertama keturunan Adam yakni Qabil dan
Habil yang berselisih dan bertengkar dan berakhir dengan terbunuhnya sang adik yaitu
Habil; maka apakah dapat dikatakan bahwa masyarakat generasi pertama anak
manusia bukan masyarakat yang rukun? Apakah perselisihan dan pertengkaran yang
terjadi saat ini adalah mencontoh nenek moyang kita itu? Atau perselisihan dan
pertengkaran memang sudah sehakekat dengan kehidupan manusia sehingga
dambaan terhadap “kerukunan” itu ada karena “ketidakrukunan” itupun sudah
menjadi kodrat dalam masyarakat manusia?.
Pertanyaan seperti tersebut di atas bukan menginginkan jawaban akan tetapi hanya
untuk mengingatkan bahwa manusia itu senantiasa bergelut dengan tarikan yang
berbeda arah, antara harapan dan kenyataan, antara cita-cita dan yang tercipta.
Agama Apakah yang Dianut Nenek Moyang Kita?
Penganut agama samawi, yakni Yahudi, Nasrani dan Islam mempercayai bahkan
mungkin telah menjadikan bagian dari sendi-sendi keyakinan yang utama, bahwa
masyarakat manusia ini berasal dari nenek moyang yang satu yakni Adam. Umat Islam
(sebahagian) menyebutnya sebagai “nabi”, yaitu “nabi Adam”, dimaksudkan adalah
sebagai nabi yang pertama dalam rentang keyakinan bahwa ada paling kurang 25
orang nabi dan rasul yang dipercayai mayoritas umat Islam. Kepercayaan tersebut
didasarkan kepada ayat-ayat kitab suci al-Quran yang menyebutkan nama-nama
dimaksudkan. Menurut penelitian terhadap istilah nabi dan rasul dalam al-Quran, tidak
didapati informasi bahwa ayat al-Quran mengatakan bahwa Adam adalah seorang nabi
atau seorang Rasul. Demikian pula ketika meneliti istilah Adam dalam al-Quran tidak
juga diinformasikan bahwa Adam adalah seorang nabi atau seorang rasul. Kerenanya
kenabian dan kerasulan Adam dalam Islam adalah merupakan pemahaman belaka,
atau merupakan tafsir terhadap ayat-ayat kitab suci al-Quran tentang Adam. Al-Quran
juga tidak menjelaskan tentang apakah Adam manusia pertama atau bukan manusia
yang pertama, sehingga hal ini merupakan bahan polimik diantara ilmuan muslim.
Demikian juga al-Quran tidak menjelaskan apakah Adam itu seorang “Bapa” atau “laki-
laki” sehingga pasangannya adalah seorang “Ibu” atau “wanita”. Istilah “Hawa”
sebagai pasangan atau “istri” Adam tidak pula didapati dalam ayat al-Quran. Namun
demikian umat Islam sangat toleransi dalam berbagai pendapat dan interpretasi
mengenai hal itu. Misalnya ada yang berpendapat bahwa Adam dan Hawa (dalam
tradisi Kristen disebut Eva) bukan manusia pertama, dan tidak berada di surga tetapi
di bumi ini. Belakangan ada juga didengar informasi bahwa ada yang berpendapat
bahwa Adam itu bukan sebutan untuk “seorang laki-laki”, tetapi “seorang perempuan”.
Demikian seterusnya para pemikir muslim berkelana dengan pendapatnya, termasuk
soal apa “agama” nenek moyang kita itu. Yahudikah?, Nasrani atau Kristenkah?,
Islamkah?, Hindukah?, Budhakah? Agama Kepercayaankah?
Bagi mayoritas masyarakat muslim yang mempercayai bahwa Adam adalah “nabi” dan
“rasul” yang pertama, dan Muhammad bin Abdullah adalah “nabi” dan “rasul” terakhir,
mereka berpendapat bahkan meyakini bahwa “agama” nabi Adam tentulah “Islam”.
Mereka berkeyakinan bahwa dari sejak nabi Adam sampai nabi Muhammad sama
“agama”nya yaitu Islam. Pengertian “Islam” dimaksudkan adalah “tauhid”. Pernyataan
bahwa “agama” manusia adalah “sama” dalam masyarakat muslim difahami bahwa
sama-sama men”tauhid”kan Allah. Akan tetapi ada yang aneh dengan keyakinan
mayoritas masyarakat muslim itu, yakni mengapa belakangan terkesan bahwa
pengertian “Islam” hanya untuk agama nabi Muhammad saja. Selintas diteliti bahwa
al-Quran menyebut agama Ibrahim dan Ya’cub besereta keturunannya adalah Islam
(Q.S. al-Baqarah: 132), agama nabi Yusuf adalah Islam (Q.S. Yusuf: 101), dan lagi pula
istilah ”Islam” dalam al-Quran muatannya adalah “nilai” bukan “institusi” atau
“lembaga”. Hal ini difahami mengingat kata “Islam” dengan derivasinya tidak pernah
disebut sebanding dengan kata Yahudi dan Nasrani sebagai sebuah institusi (agama
yang terlembaga). Ketika al-Quran menyebut Yahudi dan Nasrani, juga Shobiin,
digunakan istilah allazîna âmanû (orang-orang yang beriman) misalnya dalam Surat al-
Baqarah ayat 62.
Dalam ayat tersebut al-Quran menyebut allazîna âmanû (orang-orang yang beriman)
kepada pengikut nabi Muhammad, untuk membedakannya dengan penganut Yahudi,
Nasrani maupun penganut agama “non-samawi” (shôbiîn).). Jadi sebutan “Islam”
dalam surat Ali ‘Imran ayat 19: “Inna al-dîna ‘inda Allahi al-Islâm (agama yang diterima
oleh Tuhan hanyalah Islam)” bukanlah hanya untuk agama yang dibawa nabi
Muhammad saja, tetapi agama yang dibawa oleh semua utusan-Nya. Akan tetapi
mayoritas umat Islam memahami ayat “Inna al-dîna ‘inda Allahi al-Islâm (agama yang
diterima oleh Tuhan hanyalah Islam)” dengan tanpa menerjemahkan kata Islam
kedalam bahasa Indonesia (bagi muslim Indonesia) sehingga melekatlah faham
eksklusifis di kalangan mayoritas umat.
Kembali kepada agama nenek moyang kita, bahwa Adam dalam al-Quran diceritakan
sebagai makhluk Tuhan yang langsung memperoleh bimbingan, ilmu dan petunjuk dari
Allah. Malah hubungannya dengan Tuhan demikian dekat, Allah memberi ilmu kepada
Adam tentang “nama-nama” sesuatu, yang karenanya ia dihormati dan dilebihkan dari
para malaikat sekalipun (al-Baqarah ayat 31). Oleh Allah, Adam dibebani peraturan
dan undang-undang (al-Baqarah ayat 35); Adam melanggar peraturan karena lupa dan
lalai serta tidak mempunyai kemauan yang kuat untuk melaksanakan peraturan itu
(Thaha ayat 115), kiranya kelanggengan merasakan nikmat hidup dan harapan akan
kekuasaan, membuat Adam tak kuat dan akhirnya terpedaya oleh “rayuan setan”
(Thaha ayat 20), akhirnya iapun “durhaka” kepada Allah yang menciptakannya, karena
melanggar peraturan dan rambu-rambu Tuhan (Thaha ayat 121). Namun al-Quran
menceritakan bahwa Adam pun bertobat, lalu Allah menerima tobat Adam (al-Baqarah
ayat 37).
Dari kisah di atas, difahami bahwa sesederhana apapun, Adam telah mempunyai
“agama”, karena beliau sadar betul bahwa ada Tuhan yang menciptakannya, ada
komitmen untuk melaksanakan peraturan dan undang-undang Tuhan, ada
pelanggaran terhadap peraturan akibat kelalaian, ada klaim “durhaka”, tetapi ada juga
konsep “pertobatan”. Hal ini memang menjadi kemestian bagi semua “agama” yang
dianut oleh anak cucu Adam sampai hari ini, baik ia Yahudi, Nasrani, Islam, maupun
agama non-samawi (shôbiîn), yakni Hindu, Buddha, dan lain sebagainya.
Agamakah Penyebab Ketidakrukunan ?
Judul buku Perang Suci Atas Nama Tuhan: Dalam Tradisi Barat dan Islam (terjemahan
dari: The Holy War Idea in Western and Islamic Tradition) karya James Turner Johnson
(1997) dan Berperang demi Tuhan: Fundamentalisme Dalam Islam, Kristen, dan
Yahudi (terjemahan dari: The Battle for God) karya Karen Armstrong (2000), dan judul
lain yang senada dengan itu, menjadi indikator bahwa ada kaitan antara
“ketidakrukunan” dengan “agama”. Namun untuk menjawab pertanyaan apakah
agama sebagai penyebab ketidakrukunan, sulit juga, karena relatifnya batasan
pengertian “agama” bagi masing-masing penganut agama. Misalnya saja ketika
melihat kasus “Palestina”, sebahagian masyarakat Islam di Indonesia menyikapi hal
itu sebagai perang agama (antara Yahudi dan Islam), sehingga melahirkan sikap
antipati kepada Yahudi dan simpati kepada masyarakat Palestina, bukan hanya
sampai disitu, malah umat Islam (terutama mahasiswa), berdemo menentang
siapapun yang memihak kepada Yahudi, sehingga Amerika menjadi sasaran karena
dianggap berada di belakang Yahudi dalam kasus “Palestina”.
Di Indonesia, salah seorang yang pernah mendapat serangan kemarahan mereka
adalah Gusdur, karena mengungkapkan keinginan membuka hubungan diplomatik
dengan Yahudi. Gusdur pun mendapat tantangan keras karena keinginannya itu. Hal
ini terjadi di kalangan masyarakat seagama terlebih lagi di kalangan masyarakat yang
berbeda agama. Padahal, Palestina sama sekali tidak identik dengan Islam, karena
ternyata penduduknya terdiri dari berbagai penganut agama, termasuk Kristen. Semua
mereka sama-sama ikut berjuang melawan Israel.
Ini merupakan sebuah contoh saja, betapa beragamnya defenisi yang dibuat orang
tentang agama, khususnya Islam. Terkadang perbedaan persepsi dikalangan
masyarakat penganut agama yang sama terhadap “agamanya” bukan hanya
mempersulit merumuskan jawaban dari pertanyaan di atas, -bahkan mungkin mencari
jawaban itupun tidaklah begitu penting-akan tetapi hal itu selalu menjadi penyebab
ketidakrukunan dikalangan masyarakat seagama.
Beberapa hal yang mungkin menyebabkan kita tidak rukun adalah:
1. Di Indonesia, kasus ketidak rukunan antar agama terjadi antara Muslim dan Kristian
lebih mengemuka dibanding antara Muslim dengan masyarakat Hindu dan Budha atau
antara Kristian dengan agama lainnya.
2. Sebagai agama yang serumpun dengan agama Islam, agama Yahudi tidak ada
penganutnya di tanah air, tetapi issu ketidak rukunan kaum Mulim dengan Yahudi
menjadi issu yang mengalihkan perhatian sehingga kasus Muslim dan kristian
terabaikan sebagai kasus utama yang mesti didiskusikan menyangkut ketidak rukunan
umat beragama di Indonesia.
3. Di kalangan Muslim baik kelompok intelektual maupun kelompok non intelektual
masing-masing mempunyai persepsi terhadap gerakan kristian yang dipandang
sebagai pemicu ketidak rukunan.
4. Di kalangan masyarakat non intelektual berkembang faham bahwa non Islam
termasuk Kristian adalah orang kafir, tersesat dan bila mati pasti masuk neraka.
Pandangan ini tentu bukan semata-mata berasal dari mereka sendiri, tetapi hasil
pengetahuan mereka yang juga tentunya berasal dari tunjukan guru-guru agama,
pengkhotbah atau ulama senior dan terakhir mungkin pula berasal dari para
intelektual Muslim sendiri. Seandainya faham semacam itu berasal dari kalangan
ulama atau intelektual Muslim tentulah hal itu berasal dari keyakinan teologis akibat
dari pemahaman terhadap sumber dasar ajaran Islam itu yakni Al-Quran. Misalnya
dalam al-Quran ada ayat yang mengungkap “Bahwa agama yang di sisi Allah adalah
Islam”. Penjelasan eksklusif terhadap kata “Islam” inilah yang membuat kesan bahwa
umat Islam adalah umat yang istimewa dalam pandangan Tuhan. Apalagi ditambah
dengan faham bahwa kitab suci Al-Quran adalah kitab terorisinil dibanding kitab suci
semua agama yang ada di dunia ini. Sejalan dengan itu ada lagi pemahaman bahwa
al-Quran adalah kitab terakhir dengan Muhammad sebagai utusan Tuhan terakhir,
bertugas sebagai penyempurna kitab2 sebelumnya termasuk kitab suci umat Kristian;
dan lain sebagainya…Padahal di kalangan intelektual Muslim yang terhitung moderat
juga mengalami krisis kecurigaan kalau tidak dapat dikatakan ketidak percayaan
terhadap Kristian berkaitann dengan Missi yang di arahkan kepada masyarakat yang
sudah memeluk agama terutama Islam, padahal kenyataan ini bertentangan dengan
substansi hukum kita yang di dalamnya memelihara kerukunan. Perkawaninan pria
Kristian dengan wanita Muslim yang kemudian berujung dengan ikutnya si wanita
beserta anaknya ke agama suami atau ayahnya juga menjadi bahan ketersinggungan
masyarakat Muslim sungguhpun ia di golongkan kepada Muslim intelektual. Banyak
cara lain yang dilihat sebagai kekalahan mayoritas terhadap minoritas ini yang menjadi
pemicu ketidakrukunan.
Kompleksitas permasalahan ini mendorong kita untuk menerangkan lebih dalam
sejumlah pertanyaan, antara lain:
1. Mengapa perlu rukun ?
2. Mengapa umat beragama yang perlu rukun ?
3. Bagaimana umat beragama menerjemahkan kerukunan?
4. Bagaimana kaitan kerukunan dengan “berperang demi agama”?
5. Bagaimana kaitan kerukunan dengan tingkat pemahaman umat beragama terhadap
agamanya?
6. Bagaimana kaitan kerukunan dengan tingkat pengamalan umat beragama terhadap
agamanya?
7. Bagaimana kaitan kerukunan dengan politisasi agama? Atau agama politis?
Agama Nasrani merupakan salah satu diantara tiga agama besar (Yahudi-Nasrani-
Islam), yang oleh beberapa penulis diidentifikasi sebagai agama yang berasal dari nabi
Ibrahim. Menurut Peters (1984:3) ketiga agama dimaksud disebut agama kitabiyah
(scriptural religions) karena mempertahankan wahyu dalam bentuk tulisan: “the
sacred writings”, “the scripture” or “the book”. Dan penganut masing-masing agama
tersebut diistilahkan dengan ahl al-kitâb (people of the book). Akan tetapi
kenyataannya, hanya orang Islam yang memanggil pengikut agama Yahudi dan
Nasrani sebagai ahl al-kitâb. Sementara tidak didapati informasi bahwa penganut
Yahudi dan Nasrani menyebut penganut agama selain agama mereka sebagai ahl al-
kitâb (lihat misalnya, Nurcholish Madjid, 1995:71-2)
Konsep ahli kitab dalam Islam dipandang unik. Sebutan ahli kitab kepada Yahudi dan
Nasrani dalam al-Qur’an dianggap sebagai suatu kejadian luar biasa dalam sejarah
agama-agama. Dengan konsep ini Islam merupakan ajaran yang pertama sekali
memperkenalkan pandangan tentang toleransi dan kebebasan beragama kepada
umat manusia (Cyril Glasse, 1971:27).
Toleransi dan kebebasan beragama menurut al-Qur’an mungkin memerlukan telaahan
secara serius dan mendalam, namun secara simplistik dapat dikatakan bahwa konsep
tentang toleransi dalam al-Qur’an tentulah bukan hanya memuat nilai “kebebasan”
yang terlepas dari nilai-nilai moral, karena elan dasar al-Qur’an adalah moral (Fazlur
Rahman, 1968:36). Moral dalam bertoleransi menurut al-Qur’an metilah dalam
kerangka bimbingan ilahi yang mengarah kepada pencerahan dan tegaknya tatanan
kehidupan yang damai, selamat dan sejahtera.
Analisis Terhadap Pemikiran Kerukunan
Semakin hari, pemeluk agama semakin merasakan bahwa hubungan mesra dengan
pemeluk agama lain, merupakan suatu hal mendesak untuk dilakukan, maka dialog
dan bersikap toleran merupakan suatu unsur penting yang harus ada. Dengan
demikian, makna “dakwah” atau “missi” perlu diredefenisi. Dakwah atau missi bukan
lagi dimaksudkan untuk mengajak orang lain agar pindah dari satu agama tertentu
kepada agama lain, tetapi bertujuan untuk meningkatkan keyakinan, penghayatan dan
pengamalan terhadap agama yang dianutnya. Dakwah (missi) dapat diarahkan kepada
peningkatan nilai-nilai kemanusiaan.
Bahwa redefenisi terhadap dakwah (missi) merupakan salah satu upaya untuk
menghilangkan pertentangan antara dakwah (missi) dengan sikap toleran dan dialog,
adalah suatu harapan yang probabiliti dapat diwujudkan. Akan tetapi suatu kenyataan
dalam sejarah agama-agama, bahwa tujuan dakwah (missi) selalu saja menciptakan
suasana intoleransi. Harun Nasution, menyebutnya dengan istilah “niat baik yang
berujung pada intoleransi”. Namun dibanding dengan agama Nasrani (Kristen),
intoleransi Islam terhadap pemeluk agama lain lebih kecil dibanding intoleransi
terhadap golongan-golongan Islam yang dipandang menyeleweng. Paksaan bagi orang
non-Islam secara massal boleh dikatakan tidak ada. Perluasan daerah Islam ke luar
semenanjung Arabia memang terjadi dengan peperangan, tetapi pemeluk-pemeluk
agama lain, terutama Yahudi dan Nasrani (Kristen), di daerah-daerah itu tidak dipaksa
untuk masuk Islam. Sejarah dakwah Islam sebagai yang diungkap oleh Arnold (1864-
1930), menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah Islam selalu didukung oleh situasi
dan kondisi eksternal, sehingga unsur internal – misalnya sikap intoleransi – dapat
ditekan. Faktor eksternal ini dapat dilihat, misalnya ketika penyebaran Islam di Persia,
dakwah Islam di kalangan bangsa Mongol, India, dan lain sebagainya. Faktor eksternal
ini tidak hanya terdapat pada masa setelah Nabi wafat, karena dakwah pada masa
Nabi Muhammad Saw. juga didukung oleh faktor luar. Keberhasilan dakwah Nabi
bukan hanya karena keagungan ajaran yang dibawanya, tetapi juga tidak terlepas dari
watak orang Arab yang menginginkan perubahan dan pembaruan serta kondisi dunia
Timur yang lemah dan dekaden. Dakwah Nabi di kalangan orang Yahudi Madinah
ketika itupun justeru didukung oleh faktor eksternal. Hal ini dapat menjadi indikasi
bahwa Nabi tidak melanggar rambu-rambu toleransi; yakni tidak memaksa orang lain
untuk masuk ke agama Islam.
Catatan:
Tulisan ini telah diterbitkan dalam buku: Konsep Kerukunan Hidup Umat Beragama,
Prof.Dr. H. M. Ridwan Lubis, dkk (editor), Bandung: Ciptapustaka Media, dan direvisi
kembali untuk kebutuhan blog ini.
Referensi:
1. Al-Qur’an
2. Cyril Glasse. 1971. The Concise Encyclopedia of Islam. San Fransisco: Herper).
3. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
4. Fazlur Rahman. 1968. al-Islam. Newyork: Anchor Books
5. F. E. Petress. 1984. Children of Abraham: Judaism, Chrstianity, Islam. New
Jersey: Princeton University Perss
6. Ismail Raji al-Faruqi. 1991. Trialogue of The Abrahamic Faiths. Herndon Virgina,
USA: The International Institute of Islamic Tought.
7. Nurcholish Madjid. 1995. Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan
Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah. Jakarta: Paramadina
8. Saiful Mujani (ed). 1995. Islam Rasional: Gagasan Pemikiran Prof. Dr. Harun
Nasution. Bandung: Mizan.
9. Thomas. W. Arnold. 1990. The Preaching of Islam: A History of the Propagation
of the Muslim Faith. Secon Edition. Delhi: Low Price Publication
10. Lathrop Stoddard. A.M, Ph.D. 1922. The New World of Islam. London: Chapman
and Hali; LTD
Radikalisme Agama dalam Perspektif Kerukunan Antar Umat Beragama
By. Fahad Farid
Direktur Bidang Litbang Dakwah
Bakornas LDMI PB HMI
Agama menjadi sebuah wahana untuk dibenarkannya melakukan tindakan kekerasan
terhadap penganut agama lain adalah sebuah tren yang terjadi sejak zaman dahulu
sekali. Penggunaan tindakan kekerasan oleh penganut suatu agama atau suatu
mazhab tertentu dalam agama terhadap penganut agama lain atau penganut mazhab
tertentu lainnya dalam agama adalah bisa dikatakan sebagai praktek-praktek jahiliyah
atau primitif yang masih dilakukan oleh orang-orang yang tidak berakal di zaman
modern ini. Ingatlah manusia-manusia ”besar” atau tokoh-tokoh dunia di bidang
kemanusiaan yang sukses dalam perjuangannya dan mempengaruhi sekian juta
pemikiran manusia saat ini adalah manusia-manusia yang menjauhi apa yang disebut
penggunaan tindakan kekerasan untuk pengakuan atau membenarkan apa yang
diperjuangkannya. Siapa yang tidak mengenal perjuangan Mahatma Gandhi di India
dalam memperjuangkan kemerdekaan India. Betapa dia mampu menjadikan
perdamaian dan sikap anti kekerasan sebuah senjata ampuh untuk memperjuangkan
nasib orang India saat itu. Lalu, Martin Luther King dalam memperjuangkan
persamaan hak dan kedudukan orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat. Apa dia
menganjurkan sebuah kekerasan untuk memperjuangkan hal tersebut. Jawabnya
adalah tidak dan terbukti apa yang dia perjuangkan mampu membuahkan hasil saat
ini. Tidak lupa, kita refleksikan perjuangan dari sang tauladan, sang junjungan, dan
sang pemimpin, Nabi Muhammad SAW. Pernahkah terlintas dalam Sirah Nabawiyah
(Kisah Rasul) yang kita baca saat ini, Muhammad SAW menganjurkan sebuah tindakan
kekerasan untuk membenarkan apa yang diaajarkan. Dalam perang-perang yang
dijalani umat muslim pun dalam masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW adalah
dalam rangka mempertahankan diri dari serangan-serangan kaum yang menolak
ajaran Islam. Islam dalam penyebarannya pun lebih mengutamakan perdamaian
daripada jalan peperangan, seperti halnya kisah antara kekuatan Islam di bawah
kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dengan utusan dari kerajaan di daerah Najran
yang menganut agama Nasrani yang mana jalan keluar yang diambil adalah Islam
menghargai keberadaan mereka, memberi kebebasan mereka dalam beragama,
bahkan melindungi mereka bila mendapat serangan dari luar dengan syarat bahwa
kerajaan di daerah Najran yang menganut agama Nasrani tersebut membayar pajak
kepada kekuatan Islam sebagai bentuk pengakuan kekuasaan Islam dan biaya untuk
melindungi mereka. Tetapi, pada intinya jalan perdamaian disini lebih dipilih
ketimbang jalan kekerasan. Oleh karena itu, sebagai manusia yang berakal apakah
kita lebih merasa pintar dan bijak daripada tokoh-tokoh dunia tersebut yang notabene
menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam sejarah dunia, dengan membenarkan
kekerasan sebagai panglima terdepan dalam mempengaruhi orang lain. Apalagi dalam
hal beragama, seringkali agama sebagai sesuatu yang bersifat sakral, suci, dan
menganjurkan kebaikan dijadikan alat untuk dibenarkannya melakukan tindakan
kekerasan kepada umat lainnya oleh golongan-golongan tertentu hanya untuk diri
mereka diakui sebagai sang benar. Dapat kita lihat betapa menyedihkannya kelakuan
pejuang-pejuang di Irak saat ini yang mengatasnamakan dirinya sebagai pejuang
ISLAM, tetapi ternyata melakukan pembantaian, pembunuhan, dan manipulasi
terhadap saudara-saudara mereka sendiri yang mana setanah air, senegara, dan
bahkan seagama pula. Hati iblis mereka yang dibalut topeng ISLAM rupanya tidak puas
kalau mereka tidak dikatakan yang paling benar. Bisa kita lihat bagaimana
pertentangan Sunni-Syiah di Irak dalam memperebutkan supremasi, Fatah-Hamas di
Palestina yang tidak pernah bisa dewasa dalam memperjuangkan negara dan rakyat
Palestina dari cengkeraman negara Israel. Praktek-praktek radikalisme agama seperti
itu ternyata tidak dapat mewujudkan kesuksesan apa sebenarnya yang mereka
perjuangkan, seperti halnya di Irak dan Palestina, lagi-lagi yang diuntungkan adalah
negara-negara yang menindas mereka dan mereka tertawa terbahak-bahak melihat
umat Islam sangat mudah untuk dipecah-belah seperti itu hanya untuk masalah-
masalah yang tidak esensiil. Kita lihat masyarakat Irak, mereka berani membunuh
saudara mereka sendiri yang mereka anggap kafir, sedangkan dahulu mereka
hanyalah ayam-ayam pengecut yang tidak berani sama sekali menghadapi atau
melawan rezim tirani yang bengis pimpinan Saddam Husein. Kalau tidak Amerika
Serikat yang turun tangan menyerbu Irak, maka bisa jadi Saddam Husein akan terus
memimpin Irak sampai saat ini. Tetapi lihat, apa yang dilakukan tokoh-tokoh dunia
yang telah ditulis di atas, mereka sangat mencintai dan mengasihi saudara dan rakyat
mereka bahkan mencintai dan mengasihi orang-orang di luar mereka walaupun
berbeda agama, ras, dan budaya, tetapi mereka tidak kenal takut dalam menghadapi
orang-orang yang menindas mereka, mengambil hak-hak saudara mereka, dan
menzalimi rakyat mereka. Perdamaian, kasih-sayang, dan cinta melahirkan dan
menimbulkan keberanian dan kekuatan, sedangkan kebencian, kekerasan, dan
kedengkian melahirkan dan menimbulkan ketakutan dan kebodohan.
Radikalisme agama dan paham tertentu tidaklah menghasilkan apa-apa selain
kebrutalan dan dari kebrutalan tersebut akhirnya melahirkan ketidakproduktifan.
Ketidakproduktifan inilah yang harus kita hindari sejauh-jauhnya apabila kita mengaku
manusia yang berakal karena kehidupan manusia adalah kehidupan yang mempunyai
peradaban dan peradaban selalu berkembang dari waktu ke waktu dan
perkembangan tersebut lahir dari manusia-manusia produktif yang selalu berkarya
atau dengan kata lain adalah manusia-manusia yang mempergunakan akalnya.
Radikalisme agama yang berujung pada kekerasan pastinya akan menimbulkan
ketidakpuasan pada kelompok lainnya yang akhirnya akan timbul saling balas-
membalas. Kalau sudah terjadi seperti itu, maka kapan manusia atau masyarakat
tersebut memikirkan dan berkarya untuk kemajuan peradaban masyarakatnya. Di era
saat ini, nilai-nilai intelektualitas haruslah dikedepankan. Nilai-nilai intelektualitas
adalah nilai-nilai yang didasarkan pada studi ilmiah, argumentatif, dapat
dipertanggungjawabkan. Apabila kita merasa paham kitalah yang benar, maka
kedepankanlah nilai-nilai tersebut dan jauhilah pemaksaan apalagi kekerasan.
Biarkanlah orang lain yang menilai apakah kita pantas diikuti atau tidak lewat
argumentasi-argumentasi kita yang ilmiah, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Peradaban pun akan terus berkembang dan produktif apabila kita mengedepankan
nilai-nilai intelektualitas dalam mempengaruhi pemikiran orang lain dan masyarakat
keseluruhan. Masih segar dalam ingatan kita betapa luar biasanya seseorang yang
bernama Syech Ahmad Deedat dalam membuktikan bahwa ajaran Islamlah yang
paling benar. Pembuktian tersebut dilakukannya lewat diskusi-diskusi, ceramah-
ceramah, dan debat-debat ilmiah dengan para pendeta Kristen di forum-forum
perguruan tinggi dan lainnya. Bahkan, para pendeta dan intelektual Kristen pun sangat
menghargai akan kejeniusannya dan penguasaan bahasa Ibrani serta Injil yang sangat
baik dibanding pendeta Kristen sendiri. Orang seperti itulah yang membuat agama
menjadi produktif dan diakui kebenarannya. Manusia seperti Syech Ahmad Deedat
tidak lantas membuat sebuah milisi atau kekuatan bersenjata untuk melakukan
kekerasan dan pemaksaan untuk mengakui bahwa Islamlah yang benar, tetapi cara-
cara intelektuallah yang dia pilih.
Manusia diberikan akal oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk berpikir dan belajar dari
pengalaman bagaimana penggunaan kekerasan dan mengklaim dirinya yang paling
benar adalah bukan solusi untuk memecahkan masalah, terlebih masalah
kebangsaan. Sudah banyak peristiwa di dunia yang memperlihatkan hal tersebut dan
kita harus belajar untuk memahaminya. Dalam konteks kebangsaan saat ini, kita
setidaknya bersyukur bahwa ternyata bangsa Indonesia belum terlalu terjebak dalam
tindakan-tindakan kekerasan atas nama agama yang mengakibatkan konflik horizontal
di masyarakat walaupun indikasi-indikasi ke arah sana tetap ada, tetapi kedewasaan
masyarakat Indonesia masih mampu setidaknya meredam dan meminimalisir hal
tersebut. Konflik-konflik horizontal di maluku dan di daerah-daerah lainnya yang
pernah terjadi, tidak lagi terulang terjadi saat ini. Kondisi seperti ini harus terus
disikapi dan diamati agar konflik-konflik horizontal yang banyak dilatarbelakangi oleh
alasan agama tidak terjadi lagi. Pensikapan tersebut adalah dengan terus
menciptakan suasana kerukunan antara umat beragama yang kondusif dengan
melakukan cara-cara komprehensif dalam memusnahkan paham-paham radikalisme
agama yang cenderung kepada kekerasan. Harus diciptakan stigma bahwa
radikalisme agama adalah musuh kerukunan antar umat beragama. Masyarakat
dipersilahkan untuk menjalankan dan fanatik kepada agamanya bahkan dilindungi
tetapi haruslah mengedepankan nilai-nilai toleransi, perdamaian, persaudaraan
dengan yang lainnya. Islam pun mengajarkan hal seperti, dapat dilihat dalam sejarah
bagaimana umat Islam hidup dengan penuh toleransi dengan penganut agama lain di
Mekkah dan Madinah pada zaman kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.
Pensikapan yang dibahas di atas adalah juga menjadi tugas Pemerintah bahkan
Pemerintahlah yang harus terdepan karena sebagaimana Pasal 29 ayat 1 UUD RI
1945 disebutkan bahwa ”Negara Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” yang mana
menegaskan bahwa negara ini adalah bukan negara sekuler sehingga Pemerintah
dalam hal-hal yang penting dan bersifat ketertiban umum dapat mengatur kehidupan
beragama masyarakatnya. Tetapi, yang menjadi masalah saat ini juga terkadang
Pemerintah salah kaprah dalam menerapkan dan mengintrepretasi agama, khususnya
di era otonomi daerah ini dimana Pemerintahan Daerah mendapatkan keleluasaan
sekali dalam merancang peraturan-peraturan daerahnya. Pada kasus di beberapa
daerah ternyata masih ada saja perda-perda yang mana mungkin daerah tersebut
cukup kental dalam nuansa dan tradisi ke-Islam-annya dan kepala daerah serta para
anggota DPRDnya adalah dari golongan-golongan yang Islamis, maka dibuatlah perda-
perda yang katanya berspiritkan agama dalam hal ini Agama Islam tetapi sangat
konyol dan malahan membuat masyarakat tidak nyaman. Inilah mungkin bentuk-
bentuk dari radikalisme agama baru yang mana aparatur Pemerintahan juga terjebak
di dalamnya dimana mereka merasa yakin bahwa dengan dibuatnya perda-perda yang
berlandaskan agama atau dalam bahasa saat ini dinamakan perda syariat akan
menciptakan ketertiban dalam masyarakat. Tetapi, bukannya menciptakan ketertiban
malahan membuat resah masyarakat, padahal belum tentu agama mensyariatkan
seperti itu. Oleh karena itu, kembali ditekankan nilai-nilai intelektualitas sangat penting
dalam hal menciptakan ketertiban, kerukunan antar umat beragama dan perdamaian.
Boleh-boleh saja membuat perda yang berlandaskan ketentuan agama, tetapi
haruslah dibuat konsepnya dan diuji secara akademis dengan teliti dan hati-hati
dengan mempertimbangkan unsur filosofis, yuridis, dan sosiologis oleh tim ahli yang
terdiri dari pakar-pakar hukum agama, pakar-pakar hukum umum, pakar-pakar ilmu
sosial, dan pengamat sosial-kemasyarakatan sehingga rancangan perda yang
dihasilkan benar-benar berkualitas dan berdaya-guna diterapkan di masyarakat.
Dengan adanya perda-perda agama yang berkualitas, maka kerukunan antar umat
beragama tetap dapat tercipta walaupun mungkin perda yang dibuat mengacu pada
salah satu agama tertentu.
Kesadaran dari Pemerintah adalah hal yang sangat diperlukan sekali dalam hal ini
sehingga Pemerintah mampu mentransformasi kesadaran tersebut menjadi kesadaran
masyarakat sehingga masyarakat dengan sendirinya berkeinginan untuk menciptakan
suasana damai dalam sebuah bingkai kerukunan antar umat beragama.
Mengembalikan Kerukunan Umat Beragama
oleh: Budhy Munawar-Rachman
(Staf Pengajar Universitas Paramadina Mulya Jakarta)
Dalam tahun-tahun belakangan ini semakin banyak didiskusikan mengenai kerukunan
hidup beragama. Diskusi-diskusi ini sangat penting, bersamaan dengan
berkembangnya sentimen-sentimen keagamaan, yang setidak-tidaknya telah
menantang pemikiran teologi kerukunan hidup beragama itu sendiri, khususnya untuk
membangun masa depan hubungan antaragama yang lebih baik--lebih terbuka, adil
dan demokratis.
Kita semua tahu, bahwa masalah hubungan antaragama di Indonesia belakangan ini
memang sangat kompleks. Banyak kepentingan ekonomi, sosial dan politik yang
mewarnai ketegangan tersebut. Belum lagi agama sering dijadikan alat pemecah belah
atau disintegrasi, karena adanya konflik-konflik di tingkat elite dan militer.
Tulisan ini tidak akan membahas latar-belakang ekonomi, sosial, dan politik dari
kehidupan antaragama di Indonesia belakangan ini--yang memang sudah banyak
dianalisis--tetapi justru ingin kembali ke pertanyaan dasar: Adakah dasar teologis yang
diperlukan untuk suatu basis kerukunan hidup beragama?
Pertanyaan ini penting, karena selama ini teologi dianggap sebagai ilmu dogmatis,
karena menyangkut masalah akidah, sehingga itu tidaklah perlu dibicarakan--apalagi
dalam hal antaragama. Sehingga terkesan teologi sebagai ilmu yang tertutup, dan
menghasilkan masyarakat beragama yang tertutup. Padahal iklim masyarakat global
dan pascamodern dewasa ini lebih bersifat terbuka dan pluralistis.
Eksklusif atau Pluralis?
Memang, dalam sejarah telah lama berkembang doktrin mengenai eksklusivitas
agama sendiri: Bahwa agama sayalah yang paling benar, agama lain sesat dan
menyesatkan. Pandangan semacam ini masih sangat kental, bahkan sampai
sekarang, seperti termuat dalam tidak hanya buku-buku polemis, tetapi juga buku
ilmiah.
Rumusan dari Ajith Fernando, teolog kontemporer misalnya masih menarik untuk
diungkapkan di sini. Katanya "Other religions are false paths, that mislead their
followers" (Agama lain adalah jalan sesat, dan menyesatkan pengikutnya). Ungkapan
Ajith Fernando ini memang sangat keras dan langsung tergambar segi
keesklusivitasannya. Dan yang menjadikan kita kaget adalah Kitab Suci ternyata
dianggapnya membenarkan hal tersebut.
Pandangan eksklusif seperti itu memang bisa dilegitimasikan--atau tepatnya dicarikan
legitimasinya--lewat Kitab Suci. Tetapi itu bukan satu-satunya kemungkinan. Sebagai
contoh, dalam tradisi Katolik, sejak Konsili Vatikan II (1965), sudah jelaslah bahwa
pandangan menjadi sangat terbuka ke arah adanya kebenaran dan keselamatan
dalam agama-agama non-Kristiani.
Karl Rahner, teolog besar yang menafsirkan Konsili Vatikan II, merumuskan teologi
inklusifnya yang begitu terbuka, kira-kira dengan mengatakan. "Other religions are
implicit forms of our own religion" (Agama lain adalah bentuk-bentuk implisit dari
agama kita). Tulisan Karl Rahner mengenai ini dibahas dalam bab "Christianity and the
Non-Chrisitian Religions" dan "Observations on the Problem of the 'anonymous
Christian'," dalam bukunya Theological Investigations, vol. 5 dan 14.
Dalam pemikiran Islam, masalah ini juga terjadi secara ekspresif. Walaupun dalam
Islam sejak awal sudah ada konsep "Ahl al-Kitab" (Ahli Kitab) yang memberi kedudukan
kurang lebih setara pada kelompok non-muslim, dan ini dibenarkan oleh Alquran
sendiri, tetapi selalu saja ada interpretation away--yaitu suatu cara penafsiran yang
pada akhirnya menafsirkan sesuatu yang tidak sesuai lagi dengan bunyi tekstual Kitab
Suci, sehingga ayat yang inklusif misalnya malah dibaca secara eksklusif.
Perspektif Baru
Kembali pada teologi eksklusif di atas, begitulah, kita baik kaum Muslim maupun umat
Kristen telah mewarisi begitu mendalam teologi eksklusif yang rumusan inti ajarannya
adalah--seperti ditulis oleh filsuf agama terkemuka Alvin Plantiga--"the tenets of one
religions are in fact true; any propositions that are incompatible with these tenets are
false" atau John Hick, "The exclusivivits think that their description of God is the true
description and the others are mistaken insofar they differ from it."
Karena pandangan tersebut, maka mereka menganggap bahwa hanya ada satu jalan
keselamatan: yaitu agama mereka sendiri. Pandangan ini jelas mempunyai
kecenderungan fanatik, dogmatis, dan otoriter!!!
Oleh karena itulah diperlukan suatu perspektif baru dalam melihat "Apa yang
dipikirkan oleh suatu agama, mengenai agama lain dibandingkan dengan agama
sendiri" Perspektif ini akan menentukan apakah seorang beragama itu menganut
suatu paham keberagamaan yang eksklusif, inklusif atau pluralis. Apakah ia seorang
yang terbuka atau otoriter?
Menganut suatu teologi eksklusif dalam beragama bukan hal yang sulit. Karena secara
umum, sepanjang sejarah sebenarnya kebanyakan orang beragama secara eksklusif.
Kalau ukurannya adalah Konsili Vatikal II, maka baru sejak 1965 lah secara resmi ada
usaha-usaha global untuk memulai perkembangan teologi ke arah yang inklusif.
Dan baru belakangan ini saja berkembang teologi yang lebih pluralis--yang lebih
merentangkan inklusivitas ke arah pluralis dengan menekankan lebih luas sisi yang
disebut paralelisme dalam agama-agama--yang digali lewat kajian teologi agama-
agama.
Teologi pluralis melihat agama-agama lain dibanding dengan agama-agama sendiri,
dalam rumusan: Other religions are equally valid ways to the same truth (John Hick);
Other religions speak of different but equally valid truths (John B Cobb Jr); Each religion
expresses an important part of the truth (Raimundo Panikkar); atau setiap agama
sebenarnya mengekspresikan adanya The One in the many (Sayyed Hossein Nasr). Di
sini jelas teologi pluralis menolak paham eksklusivisme, sebab dalam eksklusivisme
itu ada kecenderungan opresif terhadap agama lain.
Teologi Agama-Agama
Di antara perkembangan baru mengenai teologi pluralis ini, sekarang berkembang
suatu cabang ilmu yang disebut teologi agama-agama (theology of religions). Kita perlu
memperhatikan perkembangan baru ini, karena dalam teologi ini termuat suatu
pijakan modern dalam membangun kerukunan hidup beragama: Suatu pijakan yang
berangkat dari kesadaran pentingnya memperhatikan pluralitas dari dalam teologi itu
sendiri.
Dewasa ini penerimaan atas pluralisme tidak bisa hanya didasarkan atas kesadaran
bahwa kita ini adalah bangsa yang majemuk dari segala segi SARA-nya, sebab kalau ini
pijakannya, maka kita sebenarnya berangkat dari kenyataan sosial yang
terfragmentasi (terpecah-pecah)--yang karena itu diperlukan pluralisme sebagai cara
untuk menghindari kefanatikan, jadi fungsinya hanya sebagai a negative good.
Padahal kebutuhan sekarang bukan hanya karena fakta sosiologis saja, tapi bisakah
paham pluralisme itu dibangun karena begitulah faktanya mengenai Kebenaran
Agama, bukan hanya karena fakta sosialnya! Pluralisme adalah bagian dari--seperti
sering dikatakan Prof Dr Nurcholish Madjid--"pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-
ikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bonds of civility).
Nah, persis sejalan dengan kebutuhan itu, teologi agama-agama bisa menjelaskan
alasan teologisnya mengapa suatu agama perlu masuk dalam dialog antar-agama,
yang didalamnya akan didalami bersama partner dialog, "a new depths of
understanding of God's saving ways". Di sini teologi agama-agama akan
mempersiapkan komunitas beragama dalam kepemimpinan teologis dalam memasuki
dialog antaragama itu.
Ini penting sebab sekarang diyakini diktum: Those who know only their own religion,
know mone. Those who are not decisively committed to one faith, know no others. To
be religious today is to be interreligious! Jika diktum ini sudah diterima, akan lebih
mudahlah memasuki dialog antaragama dan selanjutnya segi teologisnya, yang dari
sini pemerkayaan iman akan sangat dimungkinkan. Usaha-usaha besar pencarian
"Etika Global" dari agama-agama yang populer sejak Sidang Parlemen Agama-agama
(1993), menurut saya akan jauh lebih mendasar jika berangkat dari dialog teologis,
yang meneguhkan sikap paralelisme itu--yang mengekspresikan kesadaran "Satu
Tuhan, dalam banyak jalan".
Saya ingin menutup artikel ini dengan kutipan dari ajaran Sufi. Para sufi tidak saja
menegaskan kesatuan wahyu, tetapi juga menganggap diri mereka sendiri sebagai
pelindung Islam dan pelindung agama-agama lain. Pemimpin Sufi seperti Jalal al-Din
Rumi, misalnya melukiskan pandangan pluralisnya dengan menggunakan gambaran
berikut.
"Meskipun ada bermacam-macam agama, tujuannya adalah satu. Apakah Anda tidak
tahu bahwa ada banyak jalan menuju ka'bah?...OLeh karena itu apabila yang Anda
pertimbangkan adalah jalannya maka sangat beraneka ragam dan sangat tidak
terbatas jumlahnya; tetapi apabila yang Anda perimbangkan adalah tujuannya, maka
semuanya terarah hanya pada satu tujuan."
Akhirnya dalam spirit kesatuan inilah, kita menghargai keberbedaan. Perbedaan
agama-agama ini harus dikenal dan diolah lebih lanjut, karena perbedaan ini secara
potensial bernilai dan penting bagi setiap orang beragama dalam pemerkayaan
imannya.
Kebangsaan dan Kerukunan Antar Umat Beragama
A. Kebangsaan Indonesia
Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia memang baru dinyatakan pada 17
Agustus 1945. Namun proses untuk menuju pada hari proklamasi itu sudah dilalui
cukup lama dan panjang. Proses nasionalisme Indonesia itu dapat diruntut dari
berdirinya organisasi kebangsaan dengan didirikannya organisasi Boedi Oetomo, pada
20 Mei 1908. Kemudian diikrarkannya Soempah Pemoeda tahun 1928, sangat
menentukan arah perjuangan untuk mencapai proklamasi itu.
Dari peristiwa sejarah nasional itu, kita dapat mengerti bahwa kebangsaan Indonesia
tidak serta merta muncul namun bagaimana proses melampaui berbagai perbedaan
suku, ras, agama dan antar golongan itu dapat dilalui untuk mencapai tujuan
kemerdekaan suatu bangsa, yakni Bangsa Indonesia yang merdeka. Hal ini juga bisa
dilihat para tokoh kemerdekaan Indonesia yang juga mempunyai perbedaan suku, ras,
agama dan golongan.
Agama Kristen yang banyak disangka sebagai agama yang dibawa para penjajah,
sebenarnya juga mengalami proses yang sama dengan agama-agama lainnya yang
dipeluk oleh bangsa Indonesia. Kalau kita lebih teliti membaca peninggalan sejarah
kita, agama Kristen sudah mempunyai pemeluk yang orang asli Nusantara sejak
jaman Majapahit, artinya sebelum para penjajah dari Eropa membawa kekristenan ke
Nusantara, para pemeluk agama Kristen sudah berusaha hidup di tengah-tengah
kehidupan saudara sebangsanya yang berbeda keyakinan. Sehingga tidak ada alasan
bagi pemeluk agama Kristen untuk tidak hidup rukun dengan berbagai pemeluk
agama lainnya. Apalagi kalau yang diteladani pemeluk agama Kristen adalah Yesus
Kristus dan para muridNya.
Yesus Kristus yang hidup di tengah-tengah bangsa Yahudi, ternyata selain memiliki
nasionalisme bangsa Yahudi, Yesus juga mengajarkan dan hidup rukun dengan suku
bangsa) yang biasanya dikucilkan atau dijauhi oleh bangsa Yahudi umumnya, misalnya
cerita tentang perempuan Samaria.
Namun hal ini bisa menjadi sulit bagi para pemeluk agama Kristen di Indonesia yang
merasa diri paling benar dalam penafsiran Kitab Suci Agama Kristen. Karena
semangat mengabarkan Injil yang begitu besar sehingga yang mendapat perhatian
hanya bagaimana menjadikan semua bangsa murid Yesus, sehingga ajaran-ajaran
Yesus tentang hidup damai dan rukun sebagai bangsa yang memiliki berbagai
perbedaan, sering tidak mendapat penekanan.
Kebangsaan Indonesia bagi pemeluk Agama Kristen seharusnya dihayati sebagai
menjadi garam dan terang dunia, sebagaimana yang diajarkan Yesus Kristus untuk
menjadi berkat bagi semua orang. Kebangsaan Indonesia tentu tidak hanya menjadi
tanggung jawab pemeluk agama Kristen. Setiap warga negara Indonesia seharusnya
mempunyai tanggung jawab menghayati Kebangsaan Indonesia dalam hidup sehari-
hari dalam rangka mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
B. Pluralisme sebagai dasar Kerukunan Antar Umat Beragama
Dalam sejarah kekristenan di dunia ini, ternyata tidak mudah bagi para pemeluk
agama Kristen sejak dari perkembangannya untuk menghayati hidup rukun di tengah
kemajemukan umat beragama di dunia ini. Butuh waktu yang lama dan panjang untuk
bisa memahami bahwa kemajemukan itu tidak dapat dihilangkan sekalipun seluruh
dunia mengetahui siapa Yesus Kristus itu. Sejarah membuktikan bahwa kekristenan
yang disebarkan dari Timur Tengah ke Eropa bahkan ke seluruh dunia, tidak menjamin
semua orang Kristen di dunia ini benar-benar telah meninggalkan kemajemukannya.
Orang Kristen di Afrika jelas tidak bisa disamakan seluruhnya dengan orang Kristen di
Amerika, bahkan orang Kristen di Asia juga tidak bisa disamakan begitu saja dengan
orang Kristen di Australia sekalipun jaraknya dekat. Sehingga dapat dirumuskan
bahwa kemajemukan itu adalah fakta yang tidak dapat dihilangkan.
Fakta inilah yang oleh para ahli agama Kristen di dunia ini, perlu mendapat perhatian.
Karena jika hanya menggunakan satu sudut pandang saja dalam mengabarkan Injil,
tentu yang terjadi justru kekristenan tidak dapat menjadi berkat bagi semua orang.
Para ahli tersebut antara lain Alan Race, Ken Gnanakan, Gavin D’Costa, Paul F. Knitter,
Hans Küng, dan yang lainnya. Sekalipun tidak semua orang Kristen di dunia ini
mengenal mereka dan menyetujui tulisan mereka, namun sebagian besar umat Katolik
dan Protestan di dunia ini mulai dengan serius mempraktekkan hasil studi para ahli
tersebut. Apa yang diajarkan mereka ?
Secara sederhana dapat disampaikan bahwa tidak dapat dipungkiri adanya
kelemahan manusia dalam menafsirkan ajaran Yesus Kristus oleh para pemeluknya,
sehingga menimbulkan tiga pengelompokan cara pandang orang Kristen terhadap
kemajemukan agama di dunia ini, yakni kelompok Ekslusif, Inklusif dan Pluralis.
Yang pertama disebut adalah kelompok Eksklusif. Kelompok ini menganggap bahwa di
luar Yesus Kristus tidak ada keselamatan lain, artinya orang yang tidak memilih Yesus
Kristus itu sebagai Juruselamatnya tidak selamat baik di dunia ini maupun setelah
mati. Sehingga mereka wajib mengabarkan Injil (Berita Sukacita) Yesus Kristus kepada
orang-orang tersebut, sampai orang-orang itu mengimani Yesus sebagai
Juruselamatnya, apapun resikonya.
Berikutnya adalah kelompok Inklusif. Kelompok orang Kristen ini menganggap bahwa
di luar Yesus Kristus tetap ada jalan keselamatan lain, tetapi bagi dirinya jalan
keselamatan yang paling benar adalah dalam Yesus Kristus. Sebenarnya dalam
kelompok inipun masih dapat dibagi dua kelompok lagi, yakni kelompok yang tetap
mengabarkan Injil pada orang yang belum kenal Yesus Kristus dengan tujuan formal
yakni menambah jumlah orang Kristen sekalipun tidak terlalu memaksa, biasa disebut
kelompok inklusif-eksklusif. Dan satunya adalah kelompok yang tetap mengajarkan
Injil tanpa memedulikan apakah orang itu menjadi Kristen atau tidak, yang penting ikut
bersama-sama menghadirkan damai sejahtera di bumi ini, kelompok ini biasa disebut
inklusif-pluralis.
Kelompok yang terakhir adalah kelompok pluralis. Kelompok orang Kristen ini
menganggap di dalam agama-agama selain Kristen sebenarnya sudah ada ajaran
Yesus Kristus, sehingga tidak perlu lagi mengabarkan injil. Bahkan identitas sebagai
pemeluk agama Kristen dianggap tidak penting lagi, karena yang penting adalah tetap
menghargai kemajemukan dan tetap bekerjasama melakukan kebaikan di dunia ini.
Secara jumlah pengikut dari masing-masing kelompok ini belum ada data yang
membuktikan lebih besar yang mana jumlah pengikutnya. Namun dalam kehidupan
sehari-hari dapat dilihat dari buah atau hasil cara hidup mereka sehari-hari. Sejauh ini
kelompok inklusif masih menjadi pilihan yang lebih bisa diterima hidup di tengah-
tengah dunia ini. Namun kelompok inklusif ini masih perlu melengkapi diri dengan
pemahaman pluralisme yang baik. Karena seringkali kelompok kristen pluralis
disamakan dengan pluralisme, maka perlu dijelaskan perbedaanya. Pluralisme tidak
hanya ada dan dimiliki oleh kelompok Kristen pluralis tadi. Pluralisme adalah paham
atau ajaran yang menghargai kemajemukan agama dan lainnya, karena mempunyai
dasar pemahaman yang sama bahwa Tuhan yang menciptakan dunia ini adalah Tuhan
yang mempunyai kasih untuk seluruh ciptaannya tanpa membedakan apapun.
Dengan paham ini, tentu kita koreksi dan hilangkan kejelekannya, artinya dengan
pluralisme yang baik, kita dapat membangun kerukunan antar umat beragama di
dunia ini. Karena pada hakekatnya perbedaan itu tidak dapat dihilangkan.
C. Kekristenan di tengah bangsa Indonesia
Dari penjelasan di atas, sekalipun tidak mungkin untuk mengajak semua orang Kristen
di Indonesia untuk menjadi seorang Kristen yang sama pemahamannya dengan kita
semua, tentu tidak ada salahnya jika kita saat ini bisa menilai kekristenan mana yang
cocok di tengah bangsa Indonesia ini. Kalau semua anak bangsa Indonesia setuju
untuk mempertahankan kerukunan antar umat beragama, maka orang Kristen yang
merupakan bagian dari bangsa Indonesia perlu memiliki pemahaman kemajemukan
yang bertujuan untuk membangun kerukunan antar umat beragama di Indonesia.
Artinya kekristenan yang cocok hidup di tengah Indonesia ini adalah yang tidak
eksklusif, sehingga ada proses belajar dan dialog dengan saudara sebangsa dan
setanah air yang berbeda agama dan keyakinannya.
Dari berbagai dialog yang terjadi, ternyata tidak jarang dapat mengikis kecurigaan dan
kesalahpahaman yang selama ini terjadi. Misalnya, semula banyak orang mengira
kalau umat Katolik itu menyembah patung sehingga dianggap sebagai kaum kafir,
namun setelah mendapat penjelasan bahwa patung itu sebagai sarana membantu
konsentrasi dalam menyembah Tuhan, maka kecurigaan dan penghakiman itu bisa
dihindari. Demikian juga prasangka dunia internasional terhadap umat Muslim di
Indonesia dapat dihilangkan dengan penjelasan yang dilandasi saling menerima satu
dengan yang lain.
D. Ajakan
Kekristenan di Indonesia yang pluralistik sekalipun, tentu tidak dapat berbuat apa-apa,
tanpa kerjasama dan dukungan dari seluruh komponen bangsa. Oleh karena itu,
dengan segenap kerendahan hati, mari merespon ajakan untuk kita semua, bahwa
hidup sebagai bangsa Indonesia yang sedang mengalami berbagai keadaan seperti
selama ini, sangat membutuhkan pemahaman dan praktek hidup yang dilandasi
pemahaman kemajemukan yang baik sebagai dasar kebangsaan dan hidup rukun
antar umat beragama. Biarlah dengan kekuatan itu kita dapat segera keluar dari
keadaan yang selama ini banyak membawa penderitaan saudara sebangsa dan
setanah air Indonesia ini.
Tuhan memberkati
Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah
Hikmah Sore: Memahami Ujian Hidup
Kamis, 10 Maret 2011, 16:21 WIB
Oleh: Armand M Saputra
Fitrah hidup manusia akan selalu dihiasi kesedihan dan kesenangan. Menyikapi keadaan
yang demikian tentunya membutuhkan kecerdasan mental supaya menghasilkan pola sikap
dan pola tindak yang berkualitas untuk kebaikan di masa yang akan datang.
Dalam pandangan Islam bencana dan nikmat merupakan ujian hidup yang diberikan Allah
Azza wa Jalla sebagai pembelajaran agar manusia selalu mawas diri menjaga predikat
mahluk yang diberikan kemuliaan. Ujian hidup pada hakikatnya bertujuan untuk
menghasilkan nilai-nilai kepantasan diri supaya manusia memiliki pribadi yang paripurna
seperti pribadi Rosulullah SAW.
Pencapaian pribadi paripurna hanya dapat diraih melalui proses ujian yang bertahap sesuai
dengan kapasitas, dinamis dan berkelanjutan sehingga berakhir pada satu titik yaitu
kepantasan diri mendapatkan kebahagiaan hakiki.(bahagia dunia dan akhirat).
Tidak semua manusia bisa menempatkan diri sebagai pribadi yang pantas mendapat
kebahagiaan salah satu penyebabnya adalah pola pandang yang salah tentang ujian hidup
itu sendiri. Banyak manusia menganggap bahwa ujian hidup hanya dalam bentuk musibah
yang buruk-buruk semata padahal nikmat yang baik-baik pun sebenarnya bentuk lain dari
ujian hidup.
Dengan persepsi yang keliru mengakibatkan dangkalnya nilai hikmah yang bisa diambil
dari setiap ujian hidup yang menimpa akibatnya tidak ada pembelajaran nilai untuk
meningkatkan kualiatas iman dan amal. Padahal Allah Azza wa Jalla menghendaki dengan
ujian hidup manusia berada pada jalan kebenaran agama, jalan yang diridha-Nya, jalan
yang menempatkan manusia pada posisi kemuliaannya. Yaitu manusia yang berguna bagi
manusia lain, manusia yang tidak melupakan Tuhannya, manusia yang taat kepada
perintah-Nya, manusia yang selalu menjauhi larangan-Nya itulah yang dimaksud dengan
jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang diberikan Kebahagiaan hakiki.
"Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada
orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka
dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk, agar mereka kembali kepada
kebenaran" (QS Al Araaf: 168)
*) Ketua Departemen Ibadah dan Dakwah DKM Al-Munawaroh Kertabumi, Kabupaten
Karawang
Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah
Hikmah Pagi: Menjadi Mulia Tak Perlu Menunggu
Kaya
Jumat, 11 Maret 2011, 07:28 WIB
Oleh: Ratna Utami
Ini sebuah kisah nyata: ada dua orang wanita yang tinggal serumah. Keduanya selalu
menyisihkan sebagian harta yang dititipkan Allah pada mereka dengan cara berinfak. Hal
ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Tetapi tunggu, ulama tersebut
melanjutkan kisahnya.
Siapakah kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu? Mereka bukanlah anak dan ibu
atau kakak beradik. Lalu, siapakah gerangan mereka? Keduanya tak lain adalah seorang
majikan dan pembantunya.
Tanpa diketahui oleh masing-masing, sang pembantu selalu menyisihkan rezeki yang
diperoleh setiap kali menerima gaji, demikian pula dengan sang majikan. Secara logika kita
pastinya berfikir bahwa penghasilan sang majikan lebih besar dari sang pembantu, maka
infaknya pun tentu akan lebih besar. Sang pembantu, berapalah ia mampu infakkan, apalagi
harus berbagi dengan kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya.
Namun, Allah mempunyai matematika lain. Dengan gaji tak seberapa plus dipotong infak,
ia hidup cukup. Anak-anaknya bersekolah sampai jenjang tertinggi.
Tentu saja bagi orang beriman yang mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi
rezeki, tak kan pernah heran atau terlontar tanya seperti demikian. Karena sudah jelas
tercantum firman-Nya dalam Alquran:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang
menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan
bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 261).
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan
meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan
(balasannya) bagi mereka, dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS Al-Hadid:
18)
Demikianlah, Allah telah banyak menunjukkan salah satu contoh kekuasaan-Nya melalui
kisah serupa. Sebagai sebuah pelajaran supaya cukuplah Allah tempat kita menyandarkan
keyakinan sepenuhnya atas rezeki yang diberikan-Nya. Di samping itu kita tidak perlu
merasa khawatir untuk bersedekah atau menginfakkan sebagian rezeki yang Allah titipkan
tersebut karena janji Allah pastilah benar adanya. Kita pun tak perlu menunggu menjadi
orang kaya untuk berbagi rezeki demi mendapatkan kemuliaan di hadapan-Nya.
“.... Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang
paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal.”(QS Al Hujuraat [49]:13).
Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah
Hikmah: Menyikapi Nikmat Dan Musibah
Ahad, 13 Maret 2011, 09:38 WIB
Oleh: Muhammad Fatih mfatih9596@yahoo.com
"Maka, nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?" (QS Ar-
Rahmaan: 13)
Ayat itu diulang sebanyak 31 kali dalam Surah Ar-Rahmaan. Kerap membuat siapapun
tertegun membacanya. Betapa kita, sebagai makhluk-Nya, terkadang terlalu sombong untuk
sekadar mengucapkan 'terima kasih' kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT.
Sudah banyak sekali nikmat yang sudah Dia berikan. Namun, kita malah tidak bersyukur
kepada-Nya. Bukankah Allah SWT telah berfirman: ''Dan, Dia telah memberikanmu
(keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan, jika kamu
menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya,
manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).'' (QS Ibrahim [14]: 34).
Sudah banyak sekali nikmat yang Dia berikan. Nikmat mencicipi manisnya iman, nikmat
menghirup udara segar, dan sebagainya.
Allah telah memberi iming-iming yang menggiurkan untuk hamba-hamba-Nya yang
bersyukur, dan ancaman untuk hamba-hamba-Nya yang kufur, seperti yang termaktub
dalam Surah Ibrahim ayat 7: “''Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan,
jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.''
Maka, syukurilah nikmat yang datang pada kita. Jangan kita terlena hingga kita lupa dan
mengklaim itu adalah hasil jerih payah kita sendiri, tanpa menganggap Allah sebagai Maha
Pemberi. Karena, sikap seperti itu dapat menjerumuskan kita kepada kekufuran terhadap
nikmat Allah.
Bila hal yang diatas berhubungan dengan pemberian yang sesuai dengan keinginan kita,
lalu bagaimana dengan pemberian yang tidak sesuai dengan keinginan kita? Terkadang
kita, sebagai manusia, mengeluhkan atau tidak mensyukuri pemberian Allah SWT yang
tidak sesuai harapan kita. Padahal, kita tidak tahu kalau itu sebenarnya baik untuk kita. Kita
hanya terus menyalahkan keputusan-Nya. Tidak adillah, tidak baiklah, atau keluhan-
keluhan lainnya terus meluncur dari lisan kita. Jarang kita melihat sisi positif dari
pemberian itu. Padahal, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita.
Oleh karena itu, ketika ditimpa suatu musibah, janganlah cepat-cepat mengeluh. Lihatlah
sisi positifnya. Berpikirlah bahwa Allah sayang kepada kita, karena Allah ingin segera
menghapus dosa kita lewat ujian itu.
Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah berupa rasa lelahnya
badan, rasa lapar yang terus menerus atau sakit, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan
masa sekarang, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa lalu, gangguan orang lain
pada dirinya, sesuatu yang membuat hati menjadi sesak sampai-sampai duri yang
menusuknya melainkan akan Allah hapuskan dengan sebab hal tersebut kesalahan-
kesalahannya” (HR Bukhori no 5641, Muslim no . 2573).
Begitu juga ketika keputusan Allah tidak sesuai harapan kita. Mungkin itu adalah untuk
kebaikan jangka panjang kita. Ingatlah, Allah memberikan apa yang kita PERLUKAN,
bukan yang kita HARAPKAN, karena bisa jadi apa yang kita harapkan justru
mendatangkan mudharat bagi kita.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah: 216)
Perpisahan dengan orang-orang yang kita cintai, penyakit yang menggerogoti tubuh
kita, merupakan beberapa ujian yang perlu kita ambil sisi positifnya. Jangan kita terus
mengeluh dan mengeluh. Karena, tak ada gunanya juga terus meratapi nasib. Sesekali,
beranikan diri kita untuk mengambil sisi positif dari itu semua. Karena, di balik semua
kejadian, pasti ada hikmahnya. Wallahu a’lam.
Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah
Hikmah: Ujian Itu Mendewasakan
Senin, 14 Maret 2011, 10:22 WIB
Oleh: Rizki Adawiyah *)
“Sungguh, besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu
kaum..Allah pasti mengujinya…." (HR Tirmidzi)
Kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang menuju sebuah kesempurnaan keabadian.
Dalam perjalanan panjang ini sudah dapat dipastikan tidak mungkin akan lurus saja tanpa
adanya tikungan dan hambatan. Pastinya perjalanan ini sulit lagi berat. Jalannya berliku,
kadang menurun dan mendaki. Itulah ujian. Fitrah dari sebuah kehidupan.
”Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, "Kami telah
beriman, sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabuut: 2)
Setiap kali kita memasuki babak baru kenaikan tingkat di sekolah atau di dunia kerja,
pastinya ada tes atau ujian yang harus kita lalui terlebih dahulu. Ujian tersebut bisa berupa
tulisan maupun lisan yang pastinya akan menyita banyak tenaga dan pikiran kita. Belajar,
bekerja, berpikir bagaimana agar dapat melaluinya dan mendapatkan hasil terbaik guna
kelancaran sekolah atau pekerjaan. Maka begitu pula dengan kehidupan ini. Di tiap fasenya
ada ujian-ujian yang harus kita lalui sebagai syarat kenaikan tingkat untuk mencapai
derajat taqwa yang lebih tinggi lagi.
Ujian tentunya bertingkat sesuai dengan kualitas iman seseorang. Semakin tinggi tingkatan
imannya, semakin berat pula ujiannya. Sebaliknya, rendahnya tingkatan iman seseorang,
tentu saja ujiannya pun akan lebih ringan. Dalam hal ini Rasulullah saw pernah
menggambarkan tingkatan ujian itu sebagai berikut : ”Tingkat berat - ringannya ujian,
disesuaikan dengan kedudukan manusia itu sendiri. Orang yang paling berat menerima
ujian adalah para Nabi, kemudian orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka
berurutan secara bertingkat. Orang diuji menurut tingkat ketaatan kepada agamanya. Jika ia
sangat kukuh kuat dalam agamanya, diuji pula oleh Allah sesuai dengan tingkat ketaatan
kepada agamanya. Demikian bala dan ujian itu senantiasa ditimpakan kepada seorang
hamba sampai ia dibiarkan berjalan dimuka bumi tanpa dosa apapun.” (HR. Tirmidzi)
Dalam salah satu ayatnya, Allah juga berfirman: “Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al Baqarah: 286).
Begitulah karakteristik ujian. Maka yakinlah bahwasannya ujian hanyalah skenario yang
dibuat oleh Allah untuk menyeleksi hamba-hamba-Nya. Sebagai sebuah batu loncatan
untuk menuju taraf keimanan yang lebih tinggi lagi. Bahwasannya ujian merupakan cara
Allah untuk mendewasakan hamba-hambaNya. Maka yakinlah;
“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh sesudah kesulitan itu ada
kemudahan..”
Wallahu'alam.
*) Penulis adalah Mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, FITK, UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta dan juga Sekbid Kaderisasi LDK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Get documents about "